Disclaimer: applied

Warning: AU, OOC, Typos.

Chapter 5: Siapa kau sebenarnya, Sakura?

.

.

.

Minggu kedua pengalaman Sakura sebagai pengurus rumah tangga tidak membuatnya sedikitpun kualahan. Ia senang melayani Naruto yang ternyata tidak begitu cerewet pada setiap masakannya. Naruto tidak pernah berkomentar negatif atau menyisakan makanan di dalam piring. Semua itu seakan membuat Sakura sangat merasa puas. Rasanya ia akan memasak terus dan terus sampai semua segala jenis masakan dibuatnya lalu dihabiskan oleh majikannya itu.

"Hari ini rencananya kau mau kemana?" Sakura lebih dulu menyelesaikan sarapannya. Sementara Naruto yang sudah menambah satu centong nasi lagi, belum menghabiskannya.

"Aku ingin di rumah saja. Soalnya ibu akan kemari hari ini."

"Ibu kandung?"

"Iya, memang ibu apa lagi?"

Mendengar kata ibu, rasanya benar-benar menakutkan bagi Sakura. Naruto menyadari ekspresi yang berubah dari wajah perempuan itu. "Bagaimana denganmu sendiri? Kalau ada seseorang yang ingin mengunjungimu tidak masalah kalau kau ingin membawanya kemari."

Sakura hanya menggeleng pasrah. Paling-paling hanya Gaara yang datang. Itu juga sangat tidak diharapkan sekali.

Naruto menghela napas melihat wanita itu tidak menjawab. Apa mungkin ia salah bicara? Mungkin juga kedua orangtuanya sudah tiada. "Maaf, aku tidak tahu kalau kau sepertinya tidak suka aku menyebut-nyebut keluargamu." Walaupun Naruto belum mengetahui yang sebenarnya ia sudah menyimpulkannya sendiri.

Sakura hanya menggeleng lagi. Mungkin sedikit cerita tidak masalah untuk saat ini. "Tidak apa aku hanya teringat dengan ibuku."

Ya, tentu saja setiap orang memiliki seorang ibu, Naruto tidak akan mempermasalahkan soal Sakura telah dibuang dari keluarganya, atau mungkin juga bukan karena hal itu. "Kau pasti merindukannya?"

Sebenarnya tidak, Sakura tidak bisa menanggapi kata-kata itu. "Ehm, aku memiliki ibu yang sangat anggun seperti ratu. Selalu menginginkan kesempurnaan. Saking ingin sempurnanya beliau ingin anaknya juga sempurna."

Naruto memandang lekat Sakura. Sempurna? Mungkin itu gambaran yang tepat untuknya sebagai seorang wanita. Selama ini sikap Sakura bukanlah seperti seorang gelandangan biasanya. Ah, tidak. Dikatakan gelandangan itu sungguh tidak pantas. Ia berwibawa dan mengerti dengan keadaan seperti apapun yang berada di sekitarnya. Analisisnya begitu meyakinkan.

Ia bisa membaca gerak-gerik orang yang kurang sehat. Contohnya seperti kemarin, ia tahu pria itu sedang keracunan, tanpa disangka ia juga bisa menyetir mobil, setiap obrolan dijawab dengan begitu elegan. Cara bicaranya bukan seperti wanita biasa. Ia tidak pernah asal bicara atau melantur yang membuat lawan bicaranya kebingungan seperti orang yang kurang pendidikan. Lalu masakannya, iya Naruto tahu semua jenis masakannya itu biasa, dan ini semua adalah menu-menu sehat yang sangat jarang ditemukan di rumah atau di restoran. Andai Naruto paham kalau jenis makanan yang dikonsumsinya adalah jenis masakan rumah sakit, mungkin ia akan ternganga lebar, hingga rahangnya terbuka dan susah untuk dikembalikan seperti semula.

"Lalu apa yang terjadi?"

"Menurutmu aku ini terlihat feminim atau tomboi?"

"Sedikit feminim."

"Aslinya aku lebih bersikap seperti laki-laki loh," sahut Sakura mengoreksi. "Sewaktu aku SMA, hanya rok sekolah yang aku punya. Setiap ibuku membelikanku bawahan rok, tidak sekalipun aku pakai."

"Tapi, kau lebih baik memakai rok."

"Tapi jalanku tidak seanggun wanita."

"Yaaah, langkahmu agak besar." Naruto tersenyum mengingat cara jalan Sakura.

"Makanya aku tidak suka rok."

"Jadi, kau tetap memakainya kan?"

Sakura menggaruk pipinya yang tidak gatal. Bagaimana ya apa diceritakan saja semuanya? Walau begitu Naruto tidak terlalu bertanya-tanya tentang dirinya dua minggu ke belakang ini. "Karena terbiasa, makanya aku lebih suka rok sekarang. Semua itu berkat ibuku."

"Ternyata tidak buruk?"

"Ya, bukan itu saja. Aku punya cita-cita menjadi ahli gizi. Tapi, dia tidak suka. Harapannya ingin aku sekolah bisnis untuk meneruskan usaha keluarga."

"Bisnis? Kurasa itu sangat bagus." Ternyata mangkuk nasi Naruto sudah kosong. Ia hanya tinggal menegak habis air putih yang berada di depannya.

"Tapi, aku tidak ingin. Walau begitu aku sudah meraih gelar S1 kedokteran."

"Jadi, kau sudah tamat kuliah?" mata Naruto melebar mendengar itu. Nah, benar kan menurut pemuda itu, tidak sepantasnya ia bisa dikatakan gelandangan.

"Yang lebih buruknya, selama ini aku hanya memacari pria yang dikenalkan ibuku saja. Parahnya mereka semua tidak ada yang cocok denganku walau aku mulai bisa menyukai mereka."

Mendengar itu rasanya ada sesuatu yang aneh di perasaan Naruto. "Aku rasa ibumu hanya ingin yang terbaik."

"Bukan berarti yang terbaik itu selamanya baik, kan? Tidak ada kehidupan yang sempurna. Seharusnya ibuku mengerti kalimat itu." Sakura berdiri mulai membereskan piring-piring di atas meja.

"Jadi, kesimpulannya? Kau pergi dari rumah?"

Sakura tidak menyangka Naruto dapat menebaknya dengan tepat. "Iya, dan aku harus berterimakasih padamu karena sudah membantuku bertahan hidup."

Sakura berjalan menuju ke tempat pencucian piring. Membersihkan benda beling tersebut dari bekas makanan dan minuman. Naruto hanya melihat punggung Sakura yang bergerak-gerak sedang melakukan pekerjaan itu.

Walaupun Sakura sudah sedikit memberikan cerita mengenainya. Masih ada rasa penasaran yang lain ingin menggali lebih dalam tentang wanita itu. Kenapa saat ini Naruto ingin tahu lebih jauh lagi? Bukankah mereka hanya seseorang yang saling menolong seperti hubungan simbiosis mutualisme? Sejauh ini hanya itu yang diketahuinya.

'Siapa kau sebenarnya, Sakura?'

.

.

.

Kushina hampir pingsan ketika seorang wanita cantik yang membukakannya pintu. Bukan anaknya. Rasanya ia baru saja naik rolercoster yang begitu tinggi, lalu terjun ke bawah dan melewati pegunungan dan terakhir jatuh ke dalam laut dengan kuat.

Awalnya Sakura kira itu teman Naruto. Tapi, detik berikutnya ia ingat jika ibu Naruto akan berkunjung siang ini. "Selamat siang." Hanya kegugupan yang bisa diberikan Sakura.

.

.

.

"Ibu tidak menyangka pembantumu ternyata semuda itu, berapa umurnya?"

Baru saja Naruto menghidupkan laptopnya, Kushina mendadak masuk kamarnya dan menutup pintu.

"Menurut ibu?" sekarang Naruto lebih baik mematikan laptopnya dulu. Lalu mengajak ibunya keluar kamar. Tidak enak saja dilihat Sakura karena mereka lebih memilih di tempat pribadi.

"Dua lima?"

"Sebenarnya aku juga tidak tahu umurnya berapa." Naruto menutup kembali laptopnya.

"Ibu kira ia pacarmu."

Mendengar itu rasanya ia ingin bilang: boleh juga. "Apa ibu setuju kalau aku berpacaran dengan pembantuku?"

Kushina akhirnya memilih duduk di pinggiran ranjang Naruto. "Sebenarnya ibu tidak tega mengatakan wanita secantik itu sebagai pembantu."

Naruto terkekeh. Like mother like son. Apa yang dipikirkan ibunya memang pernah ia pikirkan. "Aku selalu menganggapnya teman."

Karena tidak ingin Kushina lebih penasaran, Naruto menceritakan semuanya dari awal pertemuannya sampai sekarang. Alasan mengapa Sakura bisa ada di sini semua terjadi begitu saja tanpa rencana.

Setelah mendengar cerita tersebut barulah Kushina keluar kamar lalu duduk di ruang tamu. Sakura mendekat membawakannya sebuah jus jeruk yang di dalamnya ada irisan tipis semangka kuning. Karena warnanya sama kuning, Kushina tidak menyadari ada campuran buah di dalamnya.

"Ini jus jeruk? Tapi buahnya tidak berasa jeruk?" kembali Kushina menyesap jusnya, ia heran. Padahal di pandangannya ia yakin itu jeruk beserta bulirnya. Saat lidahnya menyentuh buah yang berada di dalamnya, otaknya mengatakan bukan.

"Itu semangka kuning, bukan jeruk." Setelah mengatakan itu Sakura ikut duduk di hadapan Kushina. Tidak disangka, baru minum jus saja Kushina sudah dibuat terpukau. Ternyata apa yang diceritakan anaknya benar. Semua masakan atau minuman yang dibuat Sakura merupakan kejutan-kejutan yang tak terduga.

.

.

.

Makan malam kali ini Kushina benar-benar merasa kekenyangan. Sakura benar-benar telah menarik selera makannya yang mengatakan ingin berdiet. Karena Sakura menjamin masakannya kali ini tidak akan membuat tubuh gemuk. Kushina menandaskan setengah panci hangat sup tulang sapi dengan biji bunga matahari di dalamnya.

Sup tulangnya tidak begitu berminyak, karena minyak dari dalam tulang telah diserap oleh biji bunga matahari. Baru kali ini Kushina mengetahui hal itu. Selama ini ia selalu menahan untuk makan sup karena takut gemuk.

"Naruto!" Kushina menggenggam tangan Naruto mendadak. Naruto yang sedang menonton televisi bergidik ngeri. "Ibu setuju!"

"Apanya?"

"Kalau kau pacaran dengan dia."

"Ibu jangan bercanda!" bisik Naruto sembari menoleh ke belakang. Ia takut Sakura mendengar obrolan mereka.

"Ibu tidak bercanda. Lain kali ibu akan datang bersama ayah." Kushina benar-benar merasa takjub dengan Sakura.

"Ibu jangan berlebihan." Naruto memohon.

"Ibu juga tidak berlebihan, selain pintar meracik masakan, dia juga sangat sopan! Sepertinya dia memang bukan wanita biasa."

"Lalu dia siapa?" Naruto melepas genggaman tangan Kushina.

"Siapa yang peduli?!" Kushina menoleh ke arah dapur. Mungkin Sakura masih berada di dalam kamar mandi.

Naruto melirik jam dinding yang menunjukan pukul sembilan malam. Begitu banyak waktu yan mereka habiskan di meja makan tadi. Naruto tidak menyangka ibunya bisa senorak itu saat makan. Untung saja saat itu tidak sedang makan di luar. bagaimana tidak, Kushina tadi menghirup kuah sup dari dalam panci tebal itu.

"Jadi, mau kuantar untuk mencari hotel sekarang? Tidak ada lagi kamar kosong di sini." Naruto hanya mengingatkan.

Sementara Kushina terlihat tidak suka. "Aku ingin tidur di dalam sini!"

"Lalu ingin tidur dimana, ibu?"

"Biar ibumu tidur di kamarku saja," sahut Sakura saat dia keluar dari dalam dapur. "Baru saja aku mengganti sepreinya tadi pagi."

"Tidak apa-apa Sakura-chan, biar ibu tidur di kamar Naruto saja."

Naruto tidak bisa protes karena ibunya mencubit kakinya tanpa sepengetahuan Sakura. sedangkan pria itu hanya bisa meringis sakit.

.

.

.

Kesimpulan yang didapat akhirnya: Sakura bersikeras tidur di ruang tamu, sementara ibu di kamar Sakura. dan Naruto masih di kamarnya sendiri.

Naruto merasa benar-benar gelisah untuk detik ini, sudah hampir setengah jam ia hanya berbaring saja tanpa berniat sedikitpun memejamkan mata. Berubah posisi ke kiri, ke kanan, terlentang, memeluk guling, semuanya bukanlah posisi yang menyenangkan untuk malam ini.

Naruto akhirnya memutuskan untuk duduk dan berdiri. Ia berniat membawakan selimutnya ke luar untuk pengurus rumahnya itu. Dengan mengumpulkan segenap keberanian, Naruto berdiri—mulai melangkah menuju pintu depan. Sebenarnya ia juga punya sedikit rasa gengsi untuk menghampiri wanita itu. Detik berikutnya Naruto malah mengurungkan niatnya. Ia kembali duduk di ranjang lagi.

Naruto berdiri lagi membawa selimut, apa yang dipikirkannya saat ini? Begitu salahkah kalau ia memberikan sedikit perhatian pada wanita itu? Tadi Sakura sempat menolak tawaran ibunya untuk memberikannya selimut. Bagaimana kalau tawarannya juga ditolak Sakura? Apa akan sememalukan itu?

Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya. Sejak kapan ia merasa benar-benar malu kalau harus memberikan perhatian pada wanita itu. Akhirnya dengan segenap keberanian yang dipaksakan—tentunya berbanding terbalik dengan harapan di posisi amannya—akhirnya Naruto keluar kamar. Dilihatnya Sakura masih sedang duduk menyesap teh dengan televisi yang menerangi sebagai cahaya ruang tamu.

Sakura menoleh karena menyadari Naruto keluar dari kamarnya. "Ada apa? Apa kau tidak bisa tidur?" Sakura meletakkan cangkir tehnya dengan perlahan.

"Yah, begitulah." Karena sudah tertangkap basah, lebih baik Naruto mendekatinya lalu duduk di sofa seberang tempat Sakura duduk.

"Kenapa televisinya tidak bersuara?" tanya Naruto sembari mengamati televisi yang saat ini hanya berfungsi sebagai penerangan saja.

"Karena aku takut mengganggu kalian. Lagipula filmnya ada subtitle. Aku masih bisa mengerti."

Naruto tidak mengerti film macam apa yang tengah ditonton oleh Sakura. "Oh ya, kau bisa menggunakan ini. Di sini dingin sekali."

Sakura melirik selimut yang dibawa Naruto. "Aku hanya butuh sweater dan kaos kaki saja. Sebentar lagi akan aku kenakan."

"Tidak apa pakai saja!"

Sakura tercengang karena Naruto bersikeras memaksanya. Mau tak mau ia mengambil alih selimut itu. "Terimakasih kalau begitu."

Sedikit perasaan lega karena tawaran Naruto diterima. "Aku tidak mau jika kau mendadak sakit karena kedinginan malam ini."

"Tenang saja, aku tidak selemah itu." Sakura malah memecah tawa pelan. "Terimakasih sudah begitu baik padaku, Naruto."

.

.

.

Setelah Naruto berangkat kerja pagi ini. Barulah ibunya segera berangkat ke airport. Sakura tidak lupa membungkuskan bento untuk perjalanan Kushina di dalam pesawat. Dengan senang hati tentunya Kushina menerima itu. Sebenarnya Naruto sempat minta dibawakan bento juga. Karena semua jatah diambil Kushina, maka tidak ada makanan yang tersisa.

Pagi itu di kantornya Naruto tidak sadar sedikitpun untuk tersenyum sendiri. Bahkan dengan jam pasir pemberian Chouji ia tersenyum senang. Hanya saja untuk dirinya sendiri ia bingung sedang memikirkan apa, seolah ia sedang melayang bahagia sangat senang karena mengkonsumsi obat adiktif.

"Aku menyesal memberikanmu jam pasir itu," Chouji mendekati meja atasannya itu dengan sekantong kripik di tangannya. Dari tadi dilihatnya Naruto tengah memandangi jam pasir pemberiannya. Seolah dengan melihat itu sangat senang—sampai-sampai Chouji masuk ruangannya malah terabaikan.

"Maaf, ada apa ya?" Naruto baru sadar akhirnya.

Chouji mendengus. "Siang ini kita akan mengunjungi pabrik utama, aku hanya mengingatkan."

"Kenapa mendadak?"

Chouji mengerutkan alisnya. Pasti kepala Naruto sedang tidak beres. "Bukankah minggu lalu kau yang memberi jadwalnya?"

Naruto akhirnya mengingat keputusannya minggu lalu. "Maaf, aku melupakannya." Naruto menggaruk belakang lehernya tidak enak. "Ngomong-ngomong apa jam pasir ini ada jualnya di sini?"

"Tentu saja tidak ada. Kau mau beli lagi? Sudah kuduga kau pasti menyesal karena tidak membelinya kemarin."

Pandangan Naruto menuju ke benda berisi pasir itu. Warna pink-nya selalu mengingatkan Naruto pada sesuatu yang begitu membuatnya rindu. "Aku mau membeli warna pink satu lagi. Tapi, bagaimana ya?"

"Oh, kau bisa memesan via online. Mereka membuka toko dari instagram juga."

"Benarkah?"

.

.

.

"Jadi, Naruto memakan makanan ini setiap hari?" Minato hampir tidak percaya dengan masakan yang dibawa Kushina dari Konoha. Masakan itu hanya berupa nasi daging tumbuk dengan irisan wortel dan kacang polong. Hanya bento super biasa, berasa mentega, tapi ia yakin, istrinya tidak bisa memasak seenak ini.

Satu kalimat lagi, makanan sederhana tapi enak dan juga cocok di perutnya. Ia tidak menyangka bento yang hampir tiga jam berada di perjalanan masih sangat enak ketika dimakan.

"Bagaimana, apa kau sependapat denganku?" Kushina tersenyum lebar, mendapati suaminya menandaskan isi bento yang nyatanya hanya Sakura berikan kepada wanita itu. Walau Kushina tidak merasakan bento itu, tapi, melihat suami tercinta bahagia, ia tentu akan bahagia juga.

"Tentu saja. Pendapatmu, adalah pendapatku juga, sayang."

"Ah, suamiku! Jadi, kapan kita berdua mengunjungi mereka?"

"Kita terlalu mencampuri urusan Naruto."

Kushina langsung merubah ekspresinya menjadi tidak setuju. "Apanya yang mencampuri? Dia itu anak kita! Anak satu-satunya."

"Jangan marah begitu, aku hanya mengingatkan." Minato menarik cengirannya agar Kushina tidak jadi marah.

"Baiklah, setelah minggu ini, awal bulan mungkin kita akan segera kesana." Mendadak ide gila mampir ke pikiran wanita berumur hampir lima puluh itu. "Atau menyuruh mereka berdua kemari?"

.

.

.

Sore ini Naruto sedikit terkejut—nilai plusnya ia sempat terpesona karena medapati Sakura membukakan pintu dengan pakaian yang sedikit—ehem, beda dari biasanya. Biasanya Sakura hanya memakai celana sedengkul dan baju kaos, sore ini ia malah memakai maxidress yang membuatnya terkesan lebih ke arah 'wanita'. Dia cantik, yah walau harus Naruto akui cantik itu relatif.

"Kau mau makan atau mandi dulu? Keduanya sudah aku siapkan." Sakura mengambil tas yang dipegang Naruto agar pemuda itu sedikit terbantu.

Lagi, Naruto memandanginya dari bawah ke atas. Ia sempat berpikir yang tidak-tidak kenapa Sakura sedikit berdandan sore ini.

Menyadari itu Sakura langsung membuka suara. "Oh iya, aku akan keluar malam ini. Mungkin sebentar lagi."

"Kemana?"

"Hanya makan malam saja di sebuah restoran, mungkin juga di kedai kecil." Sebenarnya Sakura belum mengetahui kemana ia akan diajak pergi nantinya.

"Aku tidak tahu kalau kau punya gaun."

Sakura menunduk untuk melihat gaunnya. "Seseorang memberikan padaku, agar aku bisa memakainya malam ini."

Kecurigaan mulai mendatangi Naruto. "Dengan siapa kau akan pergi?" Kini mereka berdua sudah duduk di atas sofa.

"Teman lama," jawab Sakura jujur.

Tiba-tiba suara bel apartemen berbunyi. Sakura sudah bisa menebak siapa yang menekan tombol bel. Tanpa berbasa-basi lagi, Sakura bergegas menuju ke arah pintu depan.

Naruto penasaran. Siapa tamu yang akan datang sore-sore begini. Biasanya, tidak akan ada tamu yang mampir berkunjung kalau tidak menghubunginya terlebih dahulu.

"Sudah aku bilang tunggu saja di bawah, tidak perlu memencet bel apartemen orang," omelan Sakura terdengar sebelum Naruto melihat siapa tamu itu.

"Bagaimana kau bisa tahu aku sudah di bawah, kalau aku tidak bisa menghubungimu." Terdengar suara seorang pria dewasa juga.

Penasaran tambah membuat Naruto ingin mengetahui sosok itu. Sebenarnya hati Naruto sedikit bergejolak aneh ketika mendapati tamu yang memencet belnya itu.

Sakura meyadari Naruto di belakangnya, ia menoleh. Sedikit tidak enak diraut wajahnya. "Sepertinya aku akan pergi sekarang, sebelum jam delapan aku akan kembali."

Pria berambut merah itu menjulurkan kepala menatap Naruto datar. "Jadi, dia majikanmu?" tanyanya pada Sakura.

"Sudah jangan berisik!" Desis Sakura tidak suka.

"Baiklah, kami pergi dulu kalau begitu, majikannya Sakura." Gaara berbicara pada Naruto.

"Namanya Uzumaki Naruto." Sakura membenarkan.

"Ya, tuan Uzumaki, maksudku."

Naruto menelan ludahnya. "Jangan pulang kemalaman." Bodohnya si pirang, mengapa malah mengatakan itu? Sebenarnya ia ingin melarangnya dan berkata: Tunggu setelah aku selesai makan dan kau membereskan dapur. Atau jangan kencan di malam hari terlalu bahaya! Kalimat itu tidak ada haknya untuk ia ucapkan sayangnya.

"Aku dan Gaara hanya makan malam sebentar."

Jadi, namanya Gaara?

.

.

.

"Jangan memaksaku untuk memakan masakan korea. Aku tidak suka kimchi." Sakura tidak menyangka Gaara membawanya ke restoran korea. Padahal ia sudah membayangkan akan makan masakan Itali atau Arab. Keduanya adalah favorit si cherry.

"Kau pandai memasak, seharusnya kau meyukai semua jenis makanan." Gaara masih membalik daftar menu, rencananya selain memesan bulgogi, ia juga akan memesan sushi ala korea.

"Setiap orang tidak bisa menyukai segala hal walau itu adalah bidangnya. Lagipula di Rumah sakit tugasku bukan memasak." Sakura melirik daftar menu. Sepertinya bulgogi adalah pilihan yang tidak buruk, asal saja jangan ada kimchi.

"Ya, aku tahu."

Sakura tidak habis pikir, mengapa Gaara selalu saja berwajah datar dengan siapa pun. Wanita cherry itu penasaran bagaimana pacarnya menghadapinya. Tapi selama ini Sakura belum mengetahui siapa saja yang pernah menjadi pacarnya.

"Tugasmu hanya menyuruh orang memasak."

Sakura mengembangkan senyumnya. Betapa bahagianya memiliki profesi seperti itu. setelah mereka memanggil pelayan yang memakai pakaian adat korea dan memesan menu, mereka membuka obrolan lagi.

"Kau tidak rindu pada Hokaido? Tempatmu mengepakan sayap?" Gaara membuka obrolan.

"Bagaimana aku bisa merindukannya, kalau di sana ada seseorang yang menghambat sayapku."

"Maksudnya ibumu? Dia begitu karena memikirkanmu juga."

Sakura menopang dagu dengan tangan kirinya. "Awalnya aku berpikir begitu. Tapi, lama-lama pikiran positifku terlalu naif."

"Oh really?"

Beberapa menit kemudian pelayan datang membawakan menu pesanan mereka.

"Makan saja jangan banyak mengeluh."

Sakura hanya mendengus mencoba bulgogi yang dipesannya. Gaara juga memesan kimchi walau Sakura sangat anti dengan yang namanya sayur difermentasi dengan cabai. Itu terlalu aneh menurutnya walau sangat baik untuk perkembangan kulit.

Gaara tetap memaksa Sakura untuk mencicipi kimchi sekali lagi, wanita itu sempat menolak namun Gaara tetap memaksanya. Akhirnya satu iris sawi putih berasa pedas itu masuk ke dalam lambungnya.

"Lain kali aku ingin ke restoran Arab!" Sakura merasa sedikit sebal karena perbuatan Gaara.

"Lain kali berarti kau bersedia pergi kencan denganku?"

Sakura mendadak ingin memukul kepalanya sendiri karena tidak sengaja mengatakan itu. padahal niat awalnya hanya memenuhi permintaannya sekali saja. "Bukan begitu, maksudku—"

"Tidak apa, aku akan senang sekali kalau begitu."

Sakura mendadak tidak bisa mengatakan apapun.

"Dengan begitu aku bisa lebih dekat lagi denganmu."

.

.

.

Sakura tidak habis fikir, mengapa Gaara berbuat sampai sejauh ini. Iya, dia dulunya tidak seperti ini. Ia sangat dingin kepada Sakura dulu, bahkan saat reuni beberapa bulan yang lalu, Gaara tidak sedikitpun menyapanya. Tentunya mana mau Sakura menyapanya duluan. Dan malam ini pria itu bagai teman lama yang pernah akrab dengannya.

Oh, sejujurnya mereka berdua tidak pernah akrab walau hanya sebatas teman SMA seperti hubungan antara orang normal manapun.

"Ternyata kau sudah pulang. Kukira siapa yang masuk."

Sakura menoleh, ke arah Naruto, ada handuk yang melingkar di lehernya. Rambutnya masih basah. Mungkin ia baru saja mandi. "Apartemenmu tidak terkunci. Tidak biasa sekali."

"Sebenarnya aku tadi baru saja keluar membuang sampah. Mungkin aku lupa menguncinya kembali."

"Akan sangat berbahaya kalau kau tidak mengunci pintu. Lalu, kenapa kau membuang sampahnya? Biar aku saja yang membuangnya."

"Tidak apa, aku kira kau akan lelah setelah pergi kencan."

Kencan? Rasanya Sakura tidak menyebutkan Gaara teman kencannya sewaktu ia izin pergi. Sakura tidak mengambil pusing tentang pernyataan Naruto itu. Ia langsung berjalan menuju dapur untuk mengecek kondisinya. Dan ternyata, semua sudah dibereskan oleh Naruto. Ia tidak menyangka Naruto begitu baik padanya. Sedikit perasaan tidak enak menyelubungi hati wanita itu.

Ya. Bukan seperti ini hal yang seharusnya terjadi.

.

.

.

Tsudzuku

.

.

.

Terimakasih kepada : Hikikaze naoe, Sai Akuto, Guest (Hahahaks iyee nyempil dikit GaaSaku, harus relain dulu sampe beberapa chapt, ok, makasih ya atas dukungan), Namefrenz (apa?) , A zoldyck, Hyperblackhole, SR not Author, kiku (aaa, dapet pujian lagi xD makasih ya sudah RnR), Ae Hatake, elle ns (hoho gak akan didiscountinue kok makasih yaaa) , berry uchiha, MysteriOus Girl, Arata Aurora, iwan tazakka (siip), miiko mimi.

Wah gak nyangka, udah sampe chapter lima aja amai updet. Hem, perasaan mereka berkembang begitu perlahan, amai harap reders sabar menanti ya.

Thanks for reading. Need some supports from all readers, of course.