Disclaimer : applied
Warning : AU, OOC, Typo(s)
Chapter 6 : Kau luar biasa, Sakura.
.
.
.
"Sakura, kami sangat terbantu atas kehadiranmu." Tenten berkata dengan wajah lega. Hampir saja kegiatan sosialisasi ini batal karena kekurangan orang. Kebetulan Shino sedang terkena flu sehingga harus izin dari beberapa hari yang lalu.
Sakura hanya tersenyum menanggapi itu. Lagipula semua ini juga berawal dari permintaan Naruto. Walau mendadak dan bukanlah pekerjaan wajib untuk seorang pembantu, Sakura harus memenuhinya. Pagi ini divisi dari pemasaran perusahan Rutan mengadakan sosialisasi langsung di lahan sawah. Sakura tidak menyangka akan berada di pinggiran Konoha pagi ini.
Awalnya Sakura tidak percaya jika di Konoha ada cukup banyak sawah yang terbentang, tetapi setelah mengikuti majikannya bertugas, ia boleh percaya. Pantas saja udara di Konoha berbeda dengan Hokaido
"Hitung-hitung menambah pengalamanku juga, sepertinya menyenangkan."
"Hm, sebenarnya kami memiliki anak magang dari universitas Konoha, kebetulan mereka sedang tidak hadir karena ada urusan di kampusnya. Jadi, Naruto memutuskan untuk memilihmu untuk menjaga stan kami." Tenten menjelaskan apa adanya. Sementara pihak perusahaan hanya ingin menerima laporan kalau kegiatan ini sukses. Mereka tidak perlu mengetahui ada orang luar yang sukarelawan membantu atau bagaimana.
"Iya, aku mengerti. Tugasku hanya menjaga alat-alat ini saja, kan?" Sakura melirik ke belakang—tempat stan berdiri. Di sana ada beberapa contoh alat keperluan persawahan.
"Terimakasih sebelumnya." Tenten membungkuk, tentu saja Sakura membalas bungkukan hormat dari dirinya. Setelah basa-basi yang cukup singkat ini, Tenten segera berlari ke tengah sawah memulai sosialisasi bersama yang lain.
Sakura hanya memandangi punggung Tenten yang mulai mendekat ke sebuah pondok rumah-rumahan di tengah sawah. Di sana sudah banyak para petani lokal yang berkumpul, ada juga ibu-ibu bertopi rajut yang terbuat dari rotan. Mereka kelihatannya sudah siap mendengarkan apa yang akan dibicarakan oleh divisi Naruto.
Sakura masih berdiri di sana. Ia melirik ke bawah—ke arah siring yang mengalirkan air dengan begitu deras. Di sini menyenangkan. Ia tidak menyangka hanya berdiri di pinggiran tanah yang cukup becek membuat hati begitu tenang. Rasanya di Hokaido ia tidak merasa setentram ini.
Suara pembuka sosialisasi mulai terdengar dari sini, Naruto yang memulai sosialisasinya lebih dahulu, sementara rekan yang lain menyiapkan alat dan beberapa gambar tentang persawahan. Sakura memandangi kegiatan Naruto dari tempatnya berdiri. Jadi, begini kegiatan yang dilakukan oleh majikannya itu. Bertemu serta berinteraksi dengan banyak petani. Bahkan di alam terbuka seperti ini.
Dari sini, Sakura bisa melihat sisi yang berbeda dari Naruto. Ia kelihatan lebih keren dari hari-hari yang biasa mereka lalui.
.
.
.
Selesai tanya jawab seusai sosialisasi yang memakan waktu hampir dua jam, Naruto langsung berlari ke arah stan, menghampiri Sakura.
"Hey, apa kau bosan?" Naruto memastikan keadaan pembantu terpelajarnya itu.
Sakura melebarkan senyumnya, ia menjawab dengan jujur. "Aku bahkan menikmati ini, semua brosur sudah aku bagikan. Ada beberapa ibu-ibu yang sepertinya ingin memulai cicilan membeli alat. Tapi, aku tidak mengerti untuk menjelaskannya. Aku hanya bilang kepada mereka, tunggu sampai salah satu dari kalian kembali ke sini."
Naruto bernapas lega, ia sempat mengira membawa Sakura ke sini akan membuat wanita itu menjadi sangat bosan. Syukurlah ternyata tidak. "Kalau masalah itu Sai yang mengurusnya."
"Ada apa?" ternyata orang yang disebut tadi sudah di belakang Naruto.
Sakura membungkuk hormat menyapa salah satu rekan Naruto.
Mata hitam Sai melirik ke arah Sakura. "Beruntung ada Sakura. Kalau tidak, kerjaan kita hari ini cukup merepotkan."
"Aku hanya melakukan apa yang aku bisa."
Mata Naruto menyipit. Ia tidak tahu ternyata Sai suka berbasa-basi dengan orang baru. "Lebih baik kau segera urus para petani yang tertarik dengan alat kita."
Sai tersenyum tanpa ekspresi seperti biasa. "Tenang saja, akan segera kuurus, aku sedang menunggu Tenten."
"Oh, ya. Ngomong-ngomong di mana dia?"
Dari pertanyaan barusan, jawaban langsung menghampiri mereka. Mereka bertiga sama-sama mendengar suara pekikan. Tidak salah lagi itu suara rekan mereka; Tenten.
Sai berbalik arah langsung berlari ke sana, kembali melewati jalan setapak becek di antara padi-padi yang mulai merunduk dan menghampiri orang-orang yang sudah berkerumun.
Dari sini Sakura sudah memiliki firasat buruk. Kemungkinan apa lagi kalau bukan sesuatu kecelakaan atau apa.
"Maaf permisi." Di antara para petani yang sudah berkerumun mengelilingi Tenten, Sai mencoba membelah kerumunan itu. Sudah ada seorang petani yang cukup tua di sana. Tangannya memegang rahang seekor ular kecil berwarna hijau. Berarti penyebab Tenten berteriak tadi gara-gara mahluk menggelikan itu.
"Dia digigit ular ini?" Sai bertanya kepada seseorang petani itu.
Setelah berhasil menangkap dan melepaskan mulut ular itu dari betis sebelah kiri Tenten, ular itu di masukan ke dalam sebuah karung. Untung saja ada seseorang yang cepat mengatasi ular itu.
"Aneh sekali, akhir-akhir ini memang banyak ular yang berkeliaran di sekitar lahan. Kami kira mugkin karena sarang mereka di hutan terendam banjir."
Sai mendengar ada yang berbicara seperti itu. Tapi, ia bingung mau berbuat apa. kepanikan bisa membuatnya mematung ternyata.
"Aku bawakan air untuk membasuh bekas gigitan ular tadi." Seorang petani perempuan menunduk dengan membawa seember kecil air—yang diambilnya dari siring.
"Jangan disiram air!"
Semua orang yang berada di kerumunan itu tak terkecuali Tenten dengan raut panik yang luar biasa menoleh ke sumber suara.
Dahi Tenten berkeringat tambah banyak, badannya masih gemetar. Dan tentu saja rasa perih di betisnya begitu nyata. Sakura menunduk—mensejajarkan badannya dengan Tenten, ia melihat bekas gigitan tadi yang terbentuk seperti hurup U. "Bentuk gigitan ini berarti jenis yang tidak berbisa, kan?"
"Iya, ini ular sawah hijau biasa."
Sakura menarik tubuh Tenten menyuruhnya duduk, meluruskan kedua kakinya tanpa berkata, rautnya begitu serius. Sementara Tenten hanya menurut saja. Gerakan Sakura terbilang cukup kasar. Tapi, semua itu penuh dengan tujuan. Jantung Tenten tidak boleh lebih rendah dari betisnya.
"Apa ada sapu tangan atau kain bersih?"
Untung saja salah satu petani di sana memilikinya. Sebelum Sakura menggunakan sapu tangan itu, ia melirik beberapa perhiasan yang dikenakan Tenten seperti cincin dan anting mas. "Maaf, aku harus melepas perhiasanmu."
Awalnya Tenten bingung mengapa Sakura mendadak melepas perhiasan yang dipakainya. Karena melihat Tenten masih diam saja. Sakura tentu harus memberi alasan. "Perhiasan yang melekat di badan saat terkena gigitan ular, dapat mengakibatkan pembekuan sel darah. Ada banyak sekali zat yang terkandung di sana, daripada zat itu ikut beredar melalui darah dan mendadak membeku sebelum tersaring oleh ginjal. Lebih baik perhiasan harus dilepas sebelum itu terjadi." Sakura melirik raut Tenteng yang tercengang, ia tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. "Tenang saja." Sakura menarik senyum menenangkan.
Melihat itu, perlahan perasaan Tenten sedikit melega.
Baru setelah menjelaskan itu, tidak hanya Tenten, semua orang yang berada di sana baru mengerti. Para petani sebagian besar baru mengetahui ini. Mereka bersyukur dengan kedatangan orang-orang ini. Selain mendapati informasi seputar alat persawahan, mereka juga mendapatkan pelajaran dari Sakura.
"Selesai." Sakura mengakhirinya dengan mengikatkan sapu tangan pada bekas gigitan setelah membersihkannya. "Dari sini kita butuh satu jam lebih untuk ke rumah sakit. Tapi, sebelum itu, aku buatkan minuman jahe untukmu ya."
Dari senyuman terakhir Sakura, Tenten yakin ia bukan berhadapan dengan seorang pembantu rumah tangga yang biasa.
"Sakura itu pembantumu kan, Naruto?" pertanyaan Chouji ini lebih terdengar seperti ingin meminta penjelasan—apa benar ia seorang pembantu?
Sementara Naruto hanya memandang pertunjukan yang berada di depannya dengan pandangan yang sangat sulit sekali ditebak. Sedikit banyaknya ia juga terpukau dengan cara kerja Sakura yang bisa dibilang lebih—mungkin berpengalaman.
"Kau luar biasa, Sakura."
.
.
.
Sembari mengangkat pakaian di atap, Sakura membayangkan kejadian yang sudah dilewati beberapa minggu ke belakang. Kalau mau dihitung-hitung, mungkin ini sudah hampir satu bulan ia menghilang dari rumah. Ada begitu banyak kejadian yang sudah dialaminya. Kemarin adalah untuk pertama kalinya ia berkunjung ke lahan sawah. Ternyata di sana begitu menyenangkan.
Sakura bersyukur ternyata ular yang menggigit Tenten bukan jenis ular yang beracun. Kalau benar itu terjadi, mungkin ia akan nekat memberikan pertolongan pertama dengan menyayat luka tersebut dengan pisau dan mengadakan operasi kecil-kecilan. Sakura tertawa sendiri kalau sampai ia melakukan hal itu.
Selesai dengan pakaian, Sakura bergegas turun ke bawah. Lagi-lagi ia harus berpapasan dengan nyonya pemilik apartemen ini. Sakura langsung membungkuk hormat.
"Kebetulan sekali," ujar Shizuka ramah seperti biasa. "Ada paket yang datang untukmu. Sebentar ya."
Sakura belum mengerti perkataan nyonya itu. Shizuka berbalik arah seperti ada suatu barang yang terlupakannya. Karena tidak ingin ambil pusing, Sakura melanjutkan langkahnya kembali.
"Sakura," panggil Shizuka lagi untuk menghentikan langkahnya. Ternyata Shizuka sudah berada di belakangnya dengan membawa sebuah kotak dibungkus dengan kertas berwarna coklat. "Ini ada paket untukmu." Shizuka memberikan kotak itu kepada Sakura.
"Untukku?"
.
.
.
Sakura mengamati kotak tersebut dengan seksama. Tulisan di kartu ucapannya memang menunjukan namanya. Serta nama pengirim dari sebuah nama toko yang berada di Suna. Seingatnya, ia tidak pernah membeli barang online di sini. Atau ada seseorang yang mengirimkannya sesuatu?
Karena pikiran negatif Sakura tertuju pada ibunya, maka ia tidak mau membuka kotak tersebut. Takut-takut kotak itu salah alamat. Mungkin saja ada nama Sakura lain yang tinggal di apartemen ini, tapi nyonya pemilik apartemen ini bilang. Hanya dia yang memiliki nama Sakura di apartemen ini.
Naruto pulang, menghentikan kegiatan Sakura yang sedang memandangi kotak tersebut. Saat Naruto sudah masuk ke ruang tengah dan melihat kotak itu, ia bisa menebaknya. "Cepat sekali sampainya."
Sakura mengerti maksud Naruto. "Itu punyamu?"
"Iya, aku yang memesannya." Naruto mendekati sofa dan duduk di atasnya. Tangannya terulur untuk menimang kotak tersebut.
"Kenapa ada namaku di sana?"
"Sebenarnya ini memang aku berikan untukmu." Naruto mengendorkan ikatan dasi di lehernya. "Soalnya teman-teman di kantor akan mengejek kalau aku memesan ini atas namaku."
Semua rekan kerja Naruto mengira, ia ingin mengoleksi jam pasir tersebut. Padahal nyatanya ia akan memberikan kepada Sakura. Jadi, Naruto memutuskan untuk memakai nama Sakura sebagai pemesan jam pasir tersebut.
Naruto berdiri sembari berkata. "Anggap saja itu oleh-oleh dari Suna yang terlambat." Naruto berkata lamat-lamat kemudian ia malah teringat sesuatu. "Anggap juga sebagai ucapan terimakasih karena kau sudah membantuku kemarin di sawah. Dan juga menolong Tenten. Dia menitipkan kata terimakasih untukmu. Dia bilang berkat kau ia bisa bekerja hari ini."
"Oh, soal itu aku hanya melakukan apa yang aku bisa. Syukurlah kalau dia tidak apa-apa."
.
.
.
Setelah makan malam yang berlangsung sangat cepat. Akhirnya Sakura bisa mengakhiri rasa penasarannya pada isi kotak tersebut. Sebenarnya ia senang mendapatkan barang yang berada di dalam kotak ini, sekaligus merasa tidak enak, lagi-lagi Naruto berbuat baik padanya.
Segera saja Sakura membuka isi kotak itu dan menampakkan sebuah jam pasir berwarna kuning. Begitu indah, sampai-sampai Sakura merona melihat itu. Baru kali ini ia memiliki jam pasir. Selama hidupnya ia tidak pernah berniat sedikitpun untuk membeli barang tersebut.
Segera saja Sakura berlari ke luar kamar untuk mengucapkan terimakasih kepada Naruto. Yang kebetulan saat ini Naruto sedang menonton acara bola di ruang tengah.
"Naruto?" panggil Sakura.
Naruto menolehkan kepalanya menghadap pengurus rumahnya itu. Pandangan Naruto langsung tersita pada jam pasir yang berada di tangan Sakura. "Ternyata warna kuning ya, padahal aku memesan warna pink. Sudah kuduga memesan online selalu tidak sesuai."
Sakura menggeleng. "Kau kira aku suka warna pink?"
"Semua wanita suka pink."
Sakura tertawa. "Sebenarnya aku suka semua warna. Apalagi warna kuning."
"Benarkah? Kalau begitu baguslah."
"Terimakasih Naruto. Selama ini kau selalu baik padaku. Membuatku ingin segera mendapatkan pekerjaan." Sakura mengeratkan pegangannya pada jam pasir tersebut. Ia sudah punya niat untuk memberikan balasan pada Naruto. Tapi dengan apa? Pekerjaan saja ia tidak punya saat ini, apalagi uang untuk membelikan sesuatu untuknya.
"Maksudmu dengan mendapatkan pekerjaan bagaimana? Bukankah kau sedang bekerja padaku?"
Rasanya Sakura hanya memiliki alasan untuk berbalas budi menjadi pengurus rumahnya. Bukan sebagai mata pencarian. "Aku sudah mendapatkan ijazahku kembali. Aku mempunyai niat akan melamar pekerjaan."
"Ijazah?" Naruto mencoba mencerna kembali kata itu, entah darimana Sakura menemukan benda tersebut Naruto tidak tidak pernah mengetahui hal itu. "Dan meninggalkan tanggung jawabmu di sini?"
"Bukan seperti itu maksudku." Sakura hampir tidak mengerti dengan nada bicara Naruto. Terkesan marah?
"Aku harus bekerja juga di luar. Setidaknya jika aku membeli pakaian lagi aku tidak memakai sisa uang belanja. Atau membeli peralatan yang lain."
Naruto sendiri hampir tidak mengerti, mengapa ia mendadak melarang Sakura. Detik berikutnya ia mencoba meredakan emosinya. "Apa kau sudah mendapatkan pekerjaanmu?"
Sakura menggeleng pelan. "Aku baru memikirkannya. Dan baru ingin meminta pendapatmu. Aku tidak akan meninggalkan pekerjaan utamaku di sini. Maksudku aku hanya ingin bekerja sambilan di luar karena waktuku juga banyak kosong ketika pekerjaanku sudah selesai."
"Aku mengerti, asal itu tidak merepotkanmu." Gumam Naruto setelah jeda beberapa saat.
"Tentu saja tidak! Percayalah, apartemen ini adalah tanggung jawab utamaku."
Sebenarnya kata-kata yang terakhir cukup meredakan emosinya. Walapun begitu, hanya senyuman paksaan yang bisa Naruto berikan sebagai ungkapan mengizinkan.
.
.
.
Setelah pekerjaan rumah selesai seperti mencuci baju dan merapikan dapur, Sakura harus keluar atas permintaan Gaara yang mendadak ini. Gaara tidak mengajaknya bertemu di restoran seperti biasanya. Ia hanya menunggu Sakura di taman yang terletak tidak jauh dari apartemen Naruto.
Sakura sebenarnya penasaran dimana pria berambut merah itu tinggal. Tapi, ia berusaha untuk tidak menaruh perhatian sedikitpun pada pria stoic yang bisa disebut aneh itu.
"Jangan memasang wajah menyebalkan seperti itu," ujar Gaara saat Sakura sudah berada di hadapannya. "Duduklah aku akan memberikanmu pekerjaan."
"Bagaimana kau tahu kalau aku sedang mencari pekerjaan?" Sakura duduk di bangku samping Gaara. Kebetulan jam-jam saat ini taman sedang sepi. Biasanya sore hari baru taman ini dikunjungi para anak-anak karena waktu sekolah telah selesai.
"Aku tahu, menjadi pembantu pasti membuatmu tertekan."
"Aku tidak pernah berpikir seperti itu!" sahut Sakura tidak terima. Bagaimana mungkin ia merasa tertekan dengan orang yang begitu baik padanya?
"Kalau begitu berarti kau tidak tertarik dengan pekerjaan yang kutawarkan."
Berhubung Sakura benar-benar membutuhkannya. Ia akan menahan Gaara untuk tetap di sini. "Aku ingin tahu dulu!"
"Baiklah, aku rasa kau tidak perlu menekan suaramu juga."
Mata Sakura menyipit protes, "oke," Sakura mulai menggumam. Padahal nada seperti itu bagi Sakura biasa saja.
"Ada lowongan di puskesmas sekitar sini. Aku yakin kau belum tahu."
Sakura merasa benar-benar terkalahkan oleh Gaara. Bagaimana mungkin pria tampan nan dingin itu mengetahui hal seperti ini darinya. "Herannya sih begitu."
"Waktu kerjanya dari jam delapan sampai jam dua belas. Hari sabtu minggu libur. Bagaimana apa kau tertarik?"
"Tentu saja!" Sakura merespon dengan penuh harapan. Pekerjaan dengan waktu yang sedikit memang adalah keinginannya untuk saat ini. Ia tidak perlu mengorbankan waktu dari pekerjaan balas budinya.
"Kau bisa datang sendiri ke puskesmas Konoha."
"Aku tidak menyangka kau sebaik ini. Bagaimana aku membalasnya? Mau kutraktir?"
Beberapa saat Gaara hanya memandangi wajah Sakura dengan pandangan datarnya. Sebenarnya ia tidak terlalu suka mengajak Sakura makan malam di luar. Karena tempat kencan yang paling banyak menghabiskan waktu adalah makan di sebuah restoran. Itulah mengapa Gaara kemarin-kemarin mengajak kencan di sana. "Mungkin mengundangku makan malam di apartemen majikanmu?"
.
.
.
Hari minggu, bagi Sakura bukanlah waktu bermalas-malasan. Seperti biasanya ia berjalan kesana-kemari, menyapu debu yang hinggap di sudut ruangan. Membersihkan gelas menggunakan lap pel khusus pada setiap beling agar kecantikan tetap terjaga. Tiap minggu juga ia bisa masuk ke ruang khusus Naruto membersihkan setiap jengkal kamar yang tidak terlalu besar itu.
Naruto dari tadi menungguinya selesai beres-beres. Ia ingin memberikan sesuatu kepada wanita itu. Beberapa menit kemudian Sakura tampaknya sudah menyelesaikan kamarnya dan ia sedikit membersihkan dirinya di kamar mandi.
"Naruto air ledeng tidak keluar dari semalam rupanya," ujar Sakura ketika sudah keluar dari dalam kamar mandi. Ia kemudian duduk di sofa bersama Naruto.
"Benarkah? Aku belum mengecek. Paling nanti sore baru keluar."
"Bagaimana kalau kutanyakan pada nyonya Shizuka saja?" Sakura berniat akan berdiri keluar tapi Naruto mencegahnya.
"Nanti saja, istirahatlah dulu," suruh Naruto yang membuat Sakura kembali duduk. "Ini untukmu, sepertinya aku melewatkannya dua hari." Naruto menggeser sebuah amplop kecil ke depan Sakura.
Raut muka Sakura tidak mengerti. Jangan-jangan saat Sakura bicara tentang pekerjaan tempo hari, Naruto malah berpikiran ia menagih gaji. "Maksudnya apa ini? Aku bekerja untuk membayar hutangku. Aku tidak bermaksud untuk meminta gaji."
"Sepertinya kalau aku memperkerjakanmu tanpa menggajimu, malah aku merasa seperti orang yang memanfaatkan tenaga orang."
Sakura tertawa canggung. "Tidak masalah, atau ini aku pergunakan saja untuk uang belanja apartemen ini?"
"Jangan menyuruh aku memaksamu untuk menerimanya." Naruto berkata dengan raut wajah serius. "Ambil saja, soal yang rumah sakit kemarin bukan apa-apa. Bukankah kau membutuhkannya?"
Sakura terdiam sesaat. Detik berikutnya ia mengangguk. "Sebenarnya aku berniat mencari pekerjaan tambahan karena ingin segera pindah dari kota ini."
Naruto menoleh cepat ia tidak percaya dengan perkataan Sakura barusan. "Kau sudah tidak betah?"
Sakura menggeleng meyakinkan. "Bukan begitu, kau tahu kan Gaara yang kemarin? Sebenarnya dia adalah detektif yang disewa ibuku untuk mencariku. Setelah menemukanku, aku tidak menyangka dia masih merahasiakannya."
Naruto merasa tidak percaya dengan apa yang dibicarakan Sakura. "Kenapa kau tidak bilang dari awal? Apa kau mempercayainya?"
"Awalnya aku tidak percaya. Tapi setelah itu, sampai sekarang buktinya aku aman-aman saja. Tidak ada sesuatu yang buruk terjadi." Sakura menyadari ekspresi Naruto yang kelihatannya kecewa. "Walau begitu aku tidak bisa mempercayai dia sampai akhir. Aku berniat ingin pindah tanpa sepengetahuan Gaara lagi ke kota lain, setidaknya sampai aku mendapatkan cukup uang untuk menyewa apartemen di sana."
Setelah perkataan Sakura yang terakhir, Naruto malah menyesal memberikannya uang. Kalau saja uangnya secepat itu dikumpulkan. Akan lebih cepat Naruto kehilangan—Ah, mengapa ia malah membayangkan itu? "Kemana kau akan pergi?"
"Aku belum menentukannya."
"Jadi, karena itu kau mau bekerja sambilan?"
Sakura mengangguk. "Oh ya, jadwal kerjaku hanya dari jam delapan sampai jam dua belas. Itu tidak akan terlalu menyita waktuku. Aku tidak menyangka bisa langsung diterima di Puskesmas itu."
Sakura menceritakan semua itu dengan biasa. Sementara Naruto, mengapa ia malah ingin melarangnya, ya?
.
.
.
Hari sudah sore, tapi air ledeng belum keluar juga. Sakura sudah tidak tahan lagi untuk berdiri di bawah pancuran. Rasanya debu yang menempel di badannya benar-benar abadi kalau sore ini ia tak mandi. Sakura sudah memutuskan untuk pergi ke pemandian umum. Sebenarnya ia tak tahu dimana letak pemandian itu di sini. Mungkin saja mengajak Naruto bersama kesana adalah ide yang bagus.
Hampir seharian setelah pembicaraan tadi pagi, Naruto tidak keluar dari kamar, mungkin ia sibuk menyelesaikan pekerjaan kantornya dan ingin tenang di dalam kamar. Sakura berpikir, apa Naruto tidak membutuhkan mandi?
"Naruto, kau sedang apa?" Sakura mengetuk pintu kamar Naruto. Mana mungkin hampir jam enam begini ia sudah tidur.
Tidak lama kemudian pintu terbuka. "Ada apa?"
"Air belum keluar juga, aku ingin ke pemandian umum. Kau mau ikut?"
"Aku baru saja selesai mandi."
Sakura melirik rambut Naruto yang masih agak basah, benar juga. Tapi, darimana air yang ia dapatkan? "Bukannya tidak ada air?"
"Di kamar mandiku masih penuh. Tidak usah ke pemandian, tempatnya cukup jauh dari sini."
Ah, benar juga. Hari ini Sakura belum masuk ke kamar pribadi Naruto. Jadi, ia tidak tahu kalau di sana masih tersimpan banyak air. "Tapi aku ingin mandi."
"Pakai saja air yang ada di dalam."
Sakura mengerti, ia langsung berbalik mengambil peralatan mandi beserta handuk. Sementara Naruto kembali duduk bersandar di atas ranjang dan melanjutkan membaca berkas tentang laporan dari timnya kemarin.
Beberapa menit kemudian Sakura masuk kamarnya, Naruto sengaja tidak menutup pintu untuk mempersilahkan wanita itu masuk sendiri, "permisi."
"Pakai saja tidak apa-apa." Sahut Naruto dari atas kasurnya.
Sakura mengangguk kemudian ia berjalan menuju pintu kamar mandi. Ini adalah pertama kalinya ia masuk kamar Naruto saat ada orangnya di dalam.
Naruto sedikit melirik Sakura sampai tubuh wanita itu menghilang dari dalam pintu kamar mandi. Mendadak mata Naruto masih terpaku pada pintu kamar mandi itu. Bukan, ia tidak terpukau pada sebuah pintu, ia hanya membayangkan isi kamar mandi yang berada di dalamnya—yang biasa ia pakai setiap hari.
Hanya sebuah kamar mandi kecil yang memiliki satu bak yang tingginya delapan puluh senti dan lebar kamar mandi satu kali dua meter. Hanya untuk satu orang saja yang bisa masuk.
Bayangan Sakura hadir dalam kamar mandi itu. Ia menaruh peralatan mandinya di atas bak, lalu membuka atasannya. Naruto bisa membayangkan saat Sakura mulai melepas satu persatu pakaiannya dan menaruhnya di gantungan pintu dulu.
Kalau saja ada salah satu rekannya yang menangkap basah ekspresi wajahnya saat ini. Mungkin Naruto sudah ditertawai sepanjang hari. Naruto segera menepis pikiran kotor yang dimiliki setiap pria itu. Ia langsung merebahkan badannya di atas sana.
Ia tidak habis pikir dapat membayangkan hal sekotor itu pada Sakura. Tapi, dengan membayangkan saja ia cukup bahagia. Namun untuk detik ini pikiran kotor lainnya yang datang. Ia malah membayangkan sedang berguling bersama Sakura saat ini. Kalau saja benar Sakura berada di sampingnya, tidur di atas ranjangnya. Mungkin sesuatu yang lebih tidak masuk akan terjadi sekarang juga.
Arrrghhh! Sepertinya ia sudah gila. Karena tertarik untuk membayangkan itu. Naruto mengacak rambutnya frustasi. Lalu sekarang apa? Keinginan ini cukup berlebihan. Bagaimana mungkin ia bisa melepaskan Sakura suatu hari nanti, kalau sudah begini jadinya.
Ia butuh pembantu—untuk saat ini kata itu yang diyakininya.
.
.
Tsudzuku
.
.
(A/N)
You are awesome, Sakura-chan!
Kyaaaaaaa. Itu... itu kata-kata Naruto saat Sakura selesai memimpin operasi pengangkatan racun pada Kankuro gara-gara Sasori. Kyaaaa! Bagian itu sumpah keren banget. Makanya amai masukin scane ini. Luar biasa awesome xD *mulai deh lebainya*
Oke, makasih buat yang udah mereview: zowell81, adityapratama081131, A zoldyck, nandasetiawan0, HyperBlack Hole, Sai Akuto, MysteriOus Girl, Meichan (ini amai sudah apdet cepat ya untuk kamu. Makasih RnRnya), miiko mimi, Ae Hatake, EllaoraNS, Guest (pepatah yang bagus, amai baru denger. Makasih ya say), berry uchiha SR not Author, Arata Aurora, caklaura bozz19, ohssarang, Yuu Na (hallo Yuna, hahah makasih atas tanggapannya, menambah semangat aja hehhe terimakasih juga atas sarannya).
Terimakasih sudah membaca.
