Disclaimer : Applied

Warning : AU, OOC, typo(s)

Chapter 8 : Are you kidding me?

.

.

.

"Kasus dokter yang meninggalkan tugas beserta kontrak sedang marak dijumpai. Pasalnya mereka mungkin mendapatkan kontrak baru dari perusahaan yang lebih menjanjikan. Hal ini sudah ditanggapi oleh salah satu rumah sakit terkenal, yaitu rumah sakit umum Hokaido. Dalam hal ini pihak rumah sakit umum Hokaido berhak mencabut langsung lisensi kedokteran dengan persetujuan pemerintah. Sehingga dokter yang memutuskan kontrak secara sepihak, dapat diatasi dengan memberinya kartu merah."

Semisal Sakura sedang berada di dunia anime, mungkin kedua emerald-nya berubah jadi bulat putih dengan garis-garis hitam horizontal yang berada di dahinya, sementara mulutnya akan berubah menjadi persegi karena terkejut mendengar berita pagi-pagi ini. Ck, akhirnya ia mendapatkan kabar dari media elektronik itu tentang kondisi di seberang sana. Ini berlebihan. Jauh-jauh kemari hanya untuk membuat rumah sakit itu disorot di salah satu tv nasional? Oh, bukan seperti itu tujuannya kemari.

Sakura bergegas berdiri dari sana, pergi meninggalkan televisi yang masih menyala. Ia tidak mendengar panggilan dari Hinata yang menyuruhnya untuk sarapan dulu. Ah, gadis itu mana tahu beban yang ia bawa dari Hokaido.

"Selamat pagi, Sakura."

Sakura lupa. Apakah Gaara sekarang bekerja dengan perusahaan transportasi umum ini. Soalnya terkadang mereka selalu bertemu dalam halte bus.

"Ya, selamat pagi." Sakura mengambil langkah untuk duduk di samping pria berambut merah itu. "Sebenarnya kau tinggal di mana sih?"

"Ada banyak tempat yang bisa aku tinggali di sini. Bagaimana dengan kau sendiri, sudah memutuskan untuk pindah ke apartemen baru?"

Sakura hanya menggaruk lehernya kikuk. Walau Gaara awalnya tidak peduli dengan yang ada di apartemen Naruto, ujung-ujungnya ia akan menggali masalahnya juga. "Tidak jadi, aku butuh banyak uang kalau akan benar-benar pindah."

"Makanya pulang saja ke Hokaido."

Sakura menyipitkan matanya. Ah, memang benar tujuan Gaara kemari untuk membawanya pulang. Tapi untunglah tidak dengan cara yang kasar. Ia hanya akan menyinggung sesekali seperti ini. Ia melirik jam yang berada di pergelangan tangannya. Masih ada kemungkinan bus lewat sebelum pukul tujuh tepat. Syukurlah ia belum terlambat.

"Kau mau pergi kemana sekarang?" Gaara bertanya lagi.

"Tentu saja pergi bekerja."

"Seharusnya kau segera berhenti bekerja sekarang sebelum pihak Puskesmas menyadarinya."

Sakura menoleh cepat pada Gaara. Apa Gaara sudah mengetahui ini duluan—sebelum berita beberapa saat yang lalu muncul dalam siaran. "Apa yang sudah kau katakan tadi?"

"Ijazahmu akan mulai tidak berlaku lagi dalam tahun ini. Kau bekerja di salah satu rumah sakit ternama yang berada di bawah wewenang pemerintah. Mereka tidak akan main-main mencabut lisensi seorang dokter."

"Ini tidak mungkin."

Gaara mengedikkan kedua bahunya. "Ini kesalahanmu sendiri. Aku hanya mengingatkan."

Sakura tidak langsung percaya dengan apa yang Gaara katakan. Begitu banyak hal yang terjadi ketika ia sudah berada di tingkat sejauh ini. Kelihatannya ini mudah, tapi ia melupakan jabatan yang diraihnya hampir bertahun-tahun lamanya.

Karena dilihatnya Sakura membisu Gaara membuka suara lagi. "Apa kau sudah mengetahui bagaimana kabar tempat kerja lamamu?"

"Memangnya ada apa?" bahkan saat ini Sakura sudah melupakan tempat itu. Bagaimana mungkin? Tempat ia dengan sesuka hati melakukan uji coba semua masakan agar membuat pasiennya sehat. Ia rindu tempat itu.

"Karena kau mendadak menghilang, tempat itu sekarang menjadi begitu biasa. Dengar-dengar akreditas gizinya menurun." Gaara mengedikan bahu, bagaimana mungkin ia tahu semua hal.

"Tidak mungkin, rumah sakit umun Hokaido adalah yang terbaik. Semua kasus penyakit bisa teratasi."

"Ya, itu salah satunya. Tapi, belakangan ini para pasien tidak merasa lebih baik saat memakan menu masakan yang diberikan para perawat." Gaara menjelaskan.

"Memang ada apa? Aku yakin Kabuto bisa mengatasinya." Sakura menyebut salah satu rekan kerjanya yang lebih lama bekerja di sana.

"Tapi, tidak sama dengan penangananmu. Mereka hanya bisa menyediakan makanan yang tidak enak. Ya, hanya untuk orang sakit. Hanya itu yang berbeda dari sekarang di sana."

"Mau bagaimana lagi, pada dasarnya makanan sehat itu memang tidak enak." Sakura termenung sesaat. Lalu, mengapa juga ia harus peduli kalau nyatanya mereka sudah mencabut lisensi kedokterannya secara mendadak (ya, kalau memang benar itu terjadi). "Ya sudahlah, semua rumah sakit memiliki makanan yang tidak enak. Tidak ada salahnya."

"Bukankah kau sangat peduli dengan para pasien yang tidak memiliki nafsu makan? Makanya kau bertekad untuk membuat mereka memiliki selera makan dan meracik menu makanan sehat dan lezat."

Sakura mendadak heran. "Loh, bagaimana mungkin kau mengetahui itu?"

"Semua orang sudah mengetahui keinginanmu. Dasar bodoh."

Sakura menghela napas lagi, tidak disangka Gaara menggali keinginan lamanya semenjak kelas satu SMA. Itu adalah cita-cita terbesar yang sudah pernah ia gapai. Dan sekarang, semua itu seperti menghilang karena kesalahannya sendiri. Lalu sekarang apa yang harus ia lakukan?

"Ah, busnya datang, sampai jumpa, Gaara."

.

.

.

Setiap pagi seperti biasa, Kizashi selalu mengeluarkan isi dari dalam kotak surat yang berada di rumahnya. Isinya paling koran harian, surat dari perusahaan asuransi dan berbagai macam lembar iklan dari mini market terdekat.

Ada satu surat yang berbeda hari ini. Kizashi menariknya dan segera membaca siapa yang mengirimkan surat tersebut.

"Rumah sakit Hokaido, tempat Sakura bekerja?" sembari menenteng itu, ia kembali berjalan masuk ke dalam rumah, hingga sampai ke sebuah sofa ruang tamu, ia memutuskan untuk singgah di sana dan berkonsentrasi untuk membacanya.

"Sayang, sarapannya sudah siap, apa kau ingin segera makan?" Mebuki datang dari ruang tengah, ia segera menghampiri suaminya yang sedang sibuk dengan beberapa surat. Karena pertanyaanya tidak dijawab. Mebuki lantas menghampiri sang suami.

"Surat apa ini?" tanya Mebuki saat ia duduk di samping istrinya.

Kizashi segera melipat kembali surat tersebut. Ah, ia tidak perlu membaca sampai selesai. Yang pasti ia sudah tahu inti dari dalam sana. "Lisensi kedokteran Sakura dicabut. Ia sudah terlalu lama meninggalkan kontrak tanpa izin."

Beberapa detik Mabuki terdiam, tapi kemudian ada suatu pikiran yang menurutnya positif terlintas. "Itu bagus, ia akan sangat menyesal kabur dari rumah jika mengetahui hal ini."

Kizashi tidak terima mendengar perkataan itu. "Apa yang telah kau katakan? Kau kira kau pantas mengatakan itu?"

"Memangnya kenapa?"

Beberapa pelayan yang mondar-mandir di ruangan terdekat mendengar perdebatan ini. Ini kadang terjadi semenjak sang nona muda menghilang. Terkadang mereka memang saling menyalahkan.

"Ini kan salah Sakura sendiri." Mebuki berdiri dari duduk. "Dan salahmu juga selalu menuruti apa maunya. Dia jadi manja, kan?"

"Kurasa kau sendiri yang terlalu mengekang Sakura sehingga dia kabur dari rumah. Dia itu anak kita satu-satunya. Seharusnya kau mengerti keingin—" belum sampai ayah yang berumur lima puluh tahunan itu menyelesaikan kata-katanya, ia terbatuk-batuk hingga dadanya terasa sakit.

Mebuki mendesah panjang. Pagi-pagi cerah seperti ini bukanlah hal yang patut untuk dinikmati. "Aku yakin Sakura akan baik-baik saja." Mebuki kembali duduk di samping suaminya. "Lihat kondisi kesehatanmu, semakin hari semakin memburuk. Kau seharusnya tidak perlu mencemaskan ini."

Setelah beberapa detik sedikit mereda emosi, akhirnya Kizashi mampu mengontrol pernapasannya dengan baik.

"Kalau Sakura pada akhirnya berhenti sebagai dokter, sisi positif lainnya dia bisa meneruskan usaha keluarga kita. Jadi sekarang, kita harus tetap berusaha bersama menemukannya."

.

.

.

Sementara Naruto, bangun pagi kali ini benar-benar terasa berat. Setelah sekian lama tidak minum sake akhirnya Naruto meminumnya juga. Malam kemarin adalah pesta perayaan dadakan sebagai selamatan atas divisinya yang berhasil dalam pemasaran.

Padahal kalau boleh mimilih, ia lebih suka langsung pulang saja dan beristirahat. Tapi, ia harus ingat, ia adalah atasan dari divisinya. Mana mau bawahannya berpesta tanpa ia tentunya. Ia juga tidak bisa menghubungi Sakura dan memberitahu kalau akan pulang malam, karena ponselnya sudah kehabisan baterai duluan.

"Ah, kau sudah bangun rupanya."

Naruto menoleh, sesaat ia melihat kepala Sakura yang terjulur masuk ke dalam kamarnya. Tapi detik berikutnya ia sadar, bahwa Hinata yang berada di sana. Naruto ingin mengatakan sesuatu, tapi, tenggorokkannya benar-benar sakit. Bisa dijamin ia sedang panas dalam.

"Aku masuk ya?"

Naruto tidak menjawab tetapi Hinata tetap masuk. Ada satu rasa kecewa yang dirasakannya. "Aku tidak membuatkanmu bubur, aku tidak tahu ternyata kau sedang demam." Hinata duduk di sisi ranjang Naruto. Ia meletakkan nampan di atas pangkuannya. Nampan itu hanya berisi segelas susu putih dan roti tawar yang digoreng dengan telur dan mentega. Hanya sarapan pagi biasa.

"Apa kau baik-baik saja? Atau mau kutemani ke dokter?"

"Aku hanya butuh istirahat hari ini." akhirnya Naruto membuka suara, suaranya terdengar serak dan menyedihkan. Hinata baru bisa mengambil kesimpulan pagi ini bahwa semalam pria itu mabuk. "Aku ingin kembali tidur saja, Hinata, bisa kau keluar dari kamar ini?"

Mendengar itu mata gadis itu barkaca-kaca. Ini adalah suatu penolakan yang cukup halus bagaikan sebuah duri lancip yang tak terlihat. "Ba-baiklah, maafkan aku kalau begitu."

Hinata menaruh nampan yang dibawanya ke atas nakas. Kemudian ia berdiri memperhatikan Naruto tengah membetulkan selimut. Seharusnya Naruto adalah pasiennya hari ini. Mengapa begitu susah memasuki posisi yang dahulu hanyalah sebagai miliknya.

"Oh ya, Hinata. Semalam siapa yang membuka kaos kaki dan juga dasiku?" Naruto baru menyadari ia masih menggunakan kemeja kerja dan juga celana panjang. Oh, seharusnya ia berganti baju dulu.

Hinata terdiam. Menyadari itu ia hanya merasakan sesuatu yang getir di dadanya. Sudah pasti yang melakukan ini semua adalah Sakura. Wanita itu ada di sini dua puluh empat jam dan ia sudah dikalahkan olehnya. Suatu pikiran lain muncul di benaknya. Apakah dengan ini ia harus benar-benar meninggalkan Naruto?

"Kurasa Sakura-san yang melakukannya." Hinata lupa, apakah bernapas itu sesulit ini. "Kurasa Sakura-san dapat menjagamu dengan baik." Hinata membungkukkan badannya "Selamat istirahat." Setelah itu ia pergi dari dalam kamar Naruto dan menutup pintunya—meninggalkan Naruto yang belum mengerti dari perkataannya barusan.

.

.

.

Satu hari terlewatkan pekerjaannya sampai jam dua belas siang. Baik, tidak terjadi apa-apa di tempat kerjanya tadi. Tidak ada surat yang mengatakan ia harus berhenti bekerja sekarang. Atau kepala Puskesmas mengatakan kalau ia tidak layak bekerja dimanapun.

Syukurlah tidak apa-apa. Ia tidak boleh langsung mencemaskan hal itu. Bisa saja berita itu adalah kesalahan atau telinganya butuh dipertanyakan ke dokter THT. Ah, mungkin juga ia lelah.

Sakura memutuskan untuk pulang saja ke apartemen dan mencoba apa yang Hinata masak siang ini. Biasanya Sakura tidak langsung memutuskan untuk pulang. Ia memilih untuk makan siang dengan pegawai yang lain, atau terkadang Gaara akan muncul dari dalam halte bus untuk menundanya pulang.

Sakura tidak perlu memencet bel lagi karena pintu apartemen tidak dikunci. Tumben sekali, ini terjadi. Saat ia masuk, wanita itu baru sadar ternyata tirai jendela tidak ada satupun yang dibuka. Lalu, tidak ada tanda-tanda seseorang yang tengah memasak atau bersuara dari dalam sini. Tadi pagi, ia yakin sekali Hinata sudah hadir di dalam dapur.

"Ya ampun, bisa-bisa tikus naik ke atas meja kalau begini." Sakura terkejut melihat makanan yang tersaji di atas meja tanpa penutup apapun. Ia segera mengecek kondisi makanan itu. Roti goreng telur yang sudah mendingin. Ini dimasak tadi pagi dan belum disentuh sampai saat ini.

Sakura segera menarik tirai, menyingkirkan makanan yang sudah tidak layak dikonsumsi lagi itu. Ia bergegas menuju kamar Naruto. Kemungkinan pria itu masih berada di dalam sana dan Sakura harus terkejut lagi mendapati Naruto tengah sembunyi dari dalam selimut.

"Apa sudah terjadi gempa bumi di sini?"

Telihat badan Naruto bergerak, ia sepertinya sempat mengganti baju tapi mengapa ia memilih piyama tidur? Ini kan masih siang. Ok, itu tidak masalah. Yang jadi masalah adalah kondisi apartemen ini seperti mati suri.

"Oh, Sakura. Selamat datang."

Sakura mengernyit mendengar suara parau dan serak dari kerongkongan pemuda itu. Didekatinya pemuda itu, insting dokternya keluar lagi. Telapak tangannya ia taruh di dahi pria itu. Sudah jelas... "Kau demam. Apa kau sudah makan?" Sakura yakin jawabannya adalah belum. Karena makanan yang berada di atas nakas itu sama halnya yang berada di atas meja makan. Sakura selalu merasa miris jika makanan terbuang. Kan sayang. Makanan adalah sumber kehidupan.

"Aku tidak nafsu makan. Tumben sekali kau bertanya. Rasanya sudah lama tidak mendapatkan pertanyaan itu."

Sakura hanya mengulum senyum mendengar penuturan kata itu. Ia lebih baik segera ke dapur sekarang, membuat masakan baru setelah itu bertanya apa yang sudah terjadi sebelumnya.

.

.

.

Rasanya sudah cukup lama Naruto tidak makan masakan Sakura. Rasanya sudah lama sekali pula mereka tidak makan dalam satu meja. Wanita itu butuh tiga puluh menit lebih untuk membuat sup ayam dan juga acar. Sakura tercengang sesaat melihat nafsu makan Naruto yang begitu kuat. Tentu saja, biasanya kalau di dunia anime sang tokoh akan makan dengan mendekatkan mangkuk nasinya ke arah wajah dan dengan cepat ia menandaskannya lalu meminum kuah sup dari dalam panci langsung dengan begitu cepat.

Benar apa yang akan ditebak Sakura selanjutnya. Pria itu pasti akan tersedak dan terbatuk-batuk. Sakura bergegas mengambil air putih sembari menghela napas. Naruto seperti pasien anak-anak saja.

"Minumlah dulu."

Naruto segera meminum air di dalam gelas sembari mendengarkan Sakura mengoceh.

"Kalau sedang makan jangan terburu-buru seperti itu. Udara juga butuh masuk ke dalam paru-paru. Bisa-bisa epiglotis-mu akan terbuka kalau kau makan seperti itu. Apa kau mau nasi ini masuk ke dalam paru-paru?"

Mendadak pria itu bergidik ngeri dengan penjelasan Sakura. "Penjelasanmu mengerikan sekali."

"Memang itulah faktanya." Sakura terkikik geli melihat ekspresi ketakutan Naruto. Ya, setidaknya Naruto tidak kehilangan nafsu makannya siang ini itu sudah bagus. "Ngomong-ngomong kenapa apartemenmu hari ini menyedihkan sekali, kemana Hinata?"

Pertanyaan Sakura membuat Naruto menurunkan mangkuk nasinya kembali. "Entahlah, tadi pagi dia ada di sini. Apa kau tidak melihatnya?"

"Tadi pagi aku melihatnya. Mungkin dia ada kerjaan."

"Ya, mungkin. Aku juga tidak tega membiarkan dia bekerja secara suka rela di rumahku."

"Heh, aku juga sebenarnya tidak enak Naruto. Akhir-akhir ini tinggal di sini dan menganggur saja." Sakura mengakui hal yang ia rasakan sebenarnya.

"Sudahlah jangan dipikirkan. Ayo makan lagi. Selanjutnya aku akan makan dengan perlahan. Soalnya tadi aku lapar sekali makanya aku makan seperti orang kerasukan." Naruto meraih sumpitnya kembali dan mulai makan dengan santai.

"Masih mau makan? Kukira sudah kenyang."

"Entahlah, mengapa kalau masakanmu aku selalu mendapatkan nafsu makan lagi. Kau seperti memiliki sebuah sihir di setiap makanan yang kau masak,Sakura." Naruto berkata jujur sembari melebarkan cengirannya.

Sakura mendadak terdiam mendengar itu. Ada sebuah kalimat yang ia ingat tadi pagi.

"Bukankah kau sangat peduli dengan para pasien yang tidak memiliki nafsu makan. Makanya kau bertekad untuk membuat mereka memiliki selera makan dan meracik menu makanan sehat dan lezat."

Gaara benar, itu adalah impian semenjak dari SMA dan sampai sekarang. Hanya saja kini impian tersebut sudah ditinggalkannya atas kesalahannya sendiri. Apakah akhirnya akan begini—pada kenyataannya ia akan melupakan impian tersebut.

Sebuah potret wajah terlintas dalam benaknya. Ia malah terbayang dengan paras ibunya, walau beliau selalu memberikan tekanan, bagaimanapun juga ia adalah wanita yang melahirkannya. Semua ini tidak akan terjadi kalau ibunya tidak begitu memegang kehidupan Sakura.

"Sakura, apa aku salah bicara? Kenapa kau menangis?"

Sakura tersentak langsung mengelap air matanya. Entah sejak kapan air mata itu mengalir dengan mudahnya tanpa ia ketahui.

"Ada apa?"

Sakura tidak tahu harus berkata apa, ia tidak bisa berbohong kepada Naruto dan tidak bisa mengatakan yang sebenarnya telah terjadi. "Aku hanya merindukan tempat kerja lamaku. Aku tidak menyangka akan keluar dari sana dengan cara seperti ini..." Sakura bergumam, ia tidak berani menatap Naruto. Ia bisa saja terlihat lemah, menumpahkan air matanya yang begitu deras untuk saat ini.

Raut ekspresi Naruto melemah. Ia mengerti perasaan wanita itu. Sama seperti halnya yang kadang merindukan kedua orang tuanya yang jauh di sana. "Apa kau ingin kembali kesana?"

"Tidak akan ada alasan untuk aku kembali. Aku tidak mau bertemu dengan ibuku lagi."

"Kenapa?"

"Karena aku tidak ingin."

"Mau sampai kapan kau meninggalkan ibumu?"

Sakura menghela napas terlebih dahulu. "Mungkin sampai beliau meninggal, aku baru akan kesana." Apa yang dikatakan Sakura benar-benar kelewat batas. Walau mulutnya berkata seperti itu. Tapi, air matanya rasanya ingin keluar terus.

"Kau tidak perlu mengatakan itu."

Tanpa Sakura sadari ia sudah berada di dalam pelukkan Naruto. Postur tubuh bidang Naruto, menenggelamkannya ke dalam dada pria itu. Sakura menyandarkan kepalanya di bahu Naruto. Bolehkah ia bertumpuh pada pria itu? Bolehkah bahu ini menjadi sandarannya untuk saat ini?

"Maaf, sepertinya aku sudah kelewatan..." Sakura mengatakan itu dengan sangat lirih. Suaranya sudah memberat dan cairan di dalam hidung memberatkannya untuk bernapas. Ia benar sungguhan terisak.

"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja."

Ya, semua akan baik-baik saja. Mungkin.

.

.

.

Tsudzuku

.

.

.

*Epiglotis : lipatan otot yang menutupi pintu masuk laring selama menelan sehingga mencegah makanan masuk ke dalam paru-paru.

Sorry ya updetnya lama kali ini. Amai baru sadar sudah tiga mingguan mwahaha. Oke, makasih buat readers yang sudah membaca di chapter kemarin :

The KidSNo OppAi, Puterateluan, Andy Hay (makasih atas reviewnya. Maaf ya apdetnya telat), asdf (huee darimana kamu kira saya adalah seorang akang. Ok, makasih review kamu), SR not Author, Sai Akuto, Kei Deiken, IrfaanFanday, Ae Hatake, Stanlic, caklaura bozz19, berry uchiha, kuuderegirl3, A zoldick, Guest(awas, nabrak loh balaph hahaha), adityapratama081131, mikaze9930, Yuuki Namikaze, ran(hallo ran, makasih ya say udah baca. Naruto emang perfect XD), CherryFoxy13, hana (oke, hana. Makasih atas reviewnya), Rizka scorpiogirl, chibi si saku, ElleoraNS, hikikaze naoe, and linnap.

Oh ya, satu lagi. Chapter ini sengaja pendek karena sampai sini emang. Chapter depan akan ada obrolan antara Naruto dan Gaara. Lalu Ino muncul (spoiler dikit ya) dan ada yang bisa menebak siapa mempelai pria Hinata di chapter selanjutnya nanti?

Akhir kata. Review?