Chapter 9 : Neighborly or conjectural

Warning : AU, OOC, Typo (s)

Disclaimer : I do not own Naruto, but, I like eat Naruto only. Naruto is fishball, right? xD

.

.

.

Setelah keluar dari dalam ruang operasi selama berjam-jam, gadis berambut pirang itu langsung saja menuju bangsal yang berada di belakang rumah sakit itu. Beberapa menit yang lalu, Moegi mengiriminya pesan untuk bertemu di sana. Ino seharusnya tidak berada di sini sekarang. Ia seharusnya bertemu dan memberikan sebuah konsultasi kepada keluarga pasien tentang hasil operasi barusan.

Iya, Ino tahu itu adalah salah satu hal yang penting. Tapi, setelah mendengar kabar ini. Ia rasa ini jauh lebih penting.

"Bagaimana hasil rapatnya?" Ino langsung bertanya saat ia sudah berada di hadapan Moegi. Ia lupa melepas masker di tengah perjalanan tadi.

Moegi menoleh, ia sontak berdiri.

Sebenarnya selama lima jam di ruang operasi, Ino sedikit tidak tenang karena mendengar rapat beberapa jam yang lalu. Sayangnya ia tidak bisa hadir karena harus menangani seorang pasien.

"Sudah diputuskan, Ino-san."

Ino menyeka keringatnya. "Dari ekspresimu kelihatannya buruk sekali." Ia memegang tangan Moegi menyuruhnya ikut duduk bersama. "Aku sudah mengirim email kepada Sakura. hampir berpuluh-puluh kali. Tidak ada satupun jawaban darinya. Wanita sialan itu entah menghilang kemana. Ia menjadi pertanyaan bagi setiap orang." Ino hampir saja mengacak rambut frustasi kalau ia tidak ingat sedang menguncirnya pada detik ini.

"Tapi Kabuto tidak percaya ia menghilang. Mereka bilang Sakura mendapatkan kontrakkan kerja yang lebih baik, aku heran kedua orang tuanya kenapa menyembunyikan keberadaan Sakura sekarang."

"Entahlah. Mungkin ada sesuatu yang ditutupi. Jadi, apa yang mereka putuskan di rapat tadi?"

Moegi, menunduk, tampak raut kecewa di wajahnya. "Mereka sudah mengirimkan surat peringatan ke rumahnya untuk mencabut lisensi kedokteran dan juga ingin meminta tebusan ganti rugi atas kekacauan ini. Setidaknya Sakura pergi dengan memberikan rahasia dari semua komposisi makanan yang dia susun." Siapapun tahu, Rumah Sakit ini kehilangan sebelah kaki ketika Sakura mendadak menghilang. Itulah alasan kenapa uang ganti rugi di pertanyakan.

Ino melebarkan matanya. "Rumah Sakit ini berlebihan sekali!"

"Itu memang pantas dilakukan." Kabuto keluar entah darimana bersama asistennya—Sasame. Ia berjalan mendekat ke arah Ino dan Moegi dengan langkah yang lebar-lebar. Jas putih kedokterannya tampak lebih angkuh dari sebelumnya. Oh, Ino tahu, jas itu biasa dikenakan oleh kepala ahli gizi di rumah sakit ini, dan Ino tidak sedikitpun berniat untuk mengucapkan selamat dari pangkat baru yang dimiliki pria itu. Tsk, bukankah itu dulu adalah posisinya Sakura?

"Ini adalah rumah sakit umum, rumah sakit di bawah naungan pemerintah, bukan rumah sakit swasta. Ketika ada dokter yang sudah mengabdi di sini, tidak ada yang bisa mengundurkan diri dengan seenaknya."

Ino segera berdiri mensejajarkan jarak pandang mata mereka. "Tapi, kau tidak bisa langsung memutuskan apa yang sebenarnya terjadi padanya! Sakura tidak mungkin melakukan itu tanpa alasan yang jelas!"

Moegi kebingungan, ia hanya bisa menunduk dan menyaksikan adegan di depan mata yang mulai kacau itu.

"Oh, manis sekali. Pembelaan dari seorang teman." Kabuto membetulkan letak kaca mata yang tidak sedikitpun melorot dari tempatnya. "Tapi sayang ya. Pelanggaran adalah sebuah pelanggaran. Sudah ada hukum yang bisa menegakkannya."

"Kecuali kalau ternyata Sakura-san sudah meninggal. Mungkin pihak rumah sakit tidak akan meminta ganti rugi atas semua yang dilakukannya." Sasame ikut menimpali membuat Ino kembali terduduk. Ia tidak memiliki kekuatan. Kedua dokter sialan itu benar.

Sakura, kau kemana bodoh!

.

.

.

Sakura kira Hinata yang telah memencet bel apartemen barusan. Hinata semenjak hari itu, ia tidak pernah kemari lagi. Sakura juga tidak tahu apa yang sudah terjadi. Dan sekarang ia boleh mengatakan; Naruto benar, Hinata akan berhenti dengan sendirinya ketika tanggal pernikahaannya sudah dekat. Dan Sakura secara diam-diam boleh bersyukur dalam hati.

"Kenapa hanya diam saja, aku tidak disuruh masuk?"

Sakura mengangkat wajahnya dari lamunan sesaat atas keterkejutan tamu yang tak diundang ini. "Tumben sekali mampir kemari. Ada apa?" Sakura melipat tangannya di depan dada.

"Aku hanya ingin mengatakan kalau aku akan pulang ke Hokaido malam ini. Apa kau mau ikut?"

Sakura hanya memutar bola mata bosan. "Hanya ingin berpamitan, kan? Kau tidak perlu mengajakku. Nanti kalau sudah waktunya, aku pulang sendiri, Gaara."

Gaara samar-samar mencium bau masakan dari dalam rumah. Jam-jam begini memang saatnya sedang makan malam. Sakura menyadari apa yang tengah berada di pikiran Gaara. Berhubung Gaara sudah cukup berbuat baik padanya, untuk kali ini ia akan mengizinkannya masuk (walau tanpa seizin sang empunya rumah).

"Ehm, kami sedang makan malam, kalau kau—"

"—tentu saja, terimakasih atas tawarannya." Gaara langsung menerobos masuk walau Sakura belum menyelesaikan kalimatnya. Ini adalah kali pertama ia memasukki apartemen tempat Sakura tinggal selama di Konoha.

Sakura hanya bisa mendesah dari tempatnya berdiri, kemudian ia menutup kembali pintunya. "Gaara, jangan bawa masuk sepatumu," larangan Sakura membuat Gaara mundur kembali ke tempat rak sepatu yang berada di samping pintu apartemen. Tanpa bicara Gaara hanya membuka sepatu—yang membuat Sakura terkikik geli dengan tingkahnya yang asal main masuk rumah orang saja.

"Ayo, silahkan masuk."

Untung saja Naruto tidak sedang mengunyah nasi—ia baru saja mencuci tangan dari wastafel—kalau benar dalam mulut pria itu ada sebuah makanan, Naruto bisa dilarikan ke rumah sakit karena tersedak.

"Sakura, kenapa ada dia di sini?"

"Hallo, tuan Uzumaki." Gaara menyapanya santai.

Sakura segera menarik salah satu kursi untuk Naruto duduki. "Silahkan duduk dulu." Ia hanya memberikan senyuman lebar—mengalihkan perhatian yang kelihatannya akan sedikit merepotkan ini.

"Oh iya, menu makan malam kita hari ini adalah kepiting saus tiram!" Sakura berjalan memutari meja untuk mencapai rak piring dan mengambil beberapa benda beling untuk di susun di atas meja. "Apa ada yang arlegi kepiting?"

Tidak ada jawaban di antara mereka berdua. Entah mengapa karena kehadiran Gaara di sini membuat Naruto harus membuang muka ke arah lain. Sakura hanya mencoba mencairkan keadaan yang mendadak kaku.

Pada akhirnya helaan napas pasrah keluar dari pernapasan wanita berambut merah muda itu. "Oh iya, aku belum memperkenalkan kalian secara resmi, kan?" Sakura berpikir, mungkin setelah mengenalkan mereka berdua kondisi akan jauh lebih santai, "Naruto, ini Sabaku no Gaara. Dan Gaara, ini Naruto Uzumaki." Tangan Sakura bergerak sesuai intruksi pengenalannya.

"Aku sudah tahu dengan dia," sambil menopang dagu Naruto menyahut acuh.

"Oh, tapi aku tidak tahu dengan kau." Gaara menyeringai. Membuat Naruto memutar otak, bagaimana cara menedangnya dari sini dengan segera. Kalau itu terjadi, Sakura pasti akan marah. Nah, jadi kesimpulannya bagaimana membuat Sakura tidak marah kalau ia menendangnya?

"Kalau tidak tahu kenapa tidak bilang salam kenal." Sembari menggerutu Sakura menarik salah satu kursi di antara mereka berdua dan duduk di sana.

"Bagaimana kalau bilang: sering-sering izinkan aku makan malam di sini?"

"Jangan menggodanya, Sabaku no Gaara." Sakura mengambil centong, mengisi nasi pada tiap-tiap mangkuk punya mereka. "Memangnya kau tetangga kami?"

"I am neighborly."

"No, you are conjectural." Sakura langsung menyodorkan mangkuk nasi ke arah Gaara biar dia diam saja.

Gigi Naruto mulai bergemelutuk. Dan ia baru bisa mengalihkan perhatian ketika satu mngkuk nasi berada di hadapannya.

"Baiklah, mari makan!"

Sembari memasukkan nasi ke dalam mulut. Dari sudut matanya Sakura melihat pergerakkan dua pria yang berada di kedua sisinya itu. Mereka akhirnya bergerak, mengambil sumpit dan mulai makan. Seperti anak kecil saja. Sakura tertawa dalam hati.

"Kurasa Naruto adalah salah satu pria beruntung di dunia dapat merasakan masakkanmu setiap hari," Gaara berkata setelah jeda beberapa saat di ruangan ini.

Mendengar itu Naruto tidak tahan untuk tidak berkomentar. "Tentu saja, kurasa orang lain pun akan sependapat padaku kalau tidak ingin kehilangan selera makan yang baik seperti ini setiap hari."

Gaara menyahut lagi, walau ia masih setengah mengunyah nasi. "Kurasa orang lain yang sedikit memikirkan kehidupan pribadi orang akan membuat sebuah pilihan yang bagus. Misalnya tidak menjadikannya sebagai pembantu dan memberinya semangat untuk kembali ke orang tua."

Sama halnya dengan Gaara, masih mengunyah nasi, Naruto terus menjawab perkataannya. "Dari awal dia sudah berada di sini. Tidak perlu memaksanya untuk pergi dari sini. Biarkan dia memilih saja kalau begitu."

Bola mata Sakura bergerak ke kanan dan ke kiri, mengikuti suara siapa yang terdengar. Mereka ini sedang membahas apa sebenarnya?

Gaara menandaskan isi cangkirnya sebelum kembali menjawab. "Seharusnya kau tahu mana yang baik dan yang mana buruk untuk dia."

"Baiklah apa ada yang mau menambah nasi!" Sakura langsung berseru mengunci kedua mulut yang entah mendiskusikan apa.

Gaara langsung menyodorkan mangkuknya yang nyatanya masih berisi setengah. Dan Naruto pun tak ingin kalah pula. Ia menyodorkan mangkuk beserta piring kepiting untuk di-refill keduanya. "Bagaimana, apa kalian tidak ingin berkomentar masakkanku kali ini?" Sakura berusaha membuka obrolan yang lebih santai dari sebelumnya.

"Seperti biasa, perfect!" Naruto berkomentar duluan.

"Lebih enak dari sebelumnya." Gaara menyeringai menang. Dengan mengatakan itu ia seperti merasa menang dan seolah kalimatnya mewakili—jauh sebelum kau merasakan masakannya, aku sudah lebih dulu loh!

Naruto hanya menggeram dalam hati, selanjutnya ia lebih memilih membungkam mulut sampai isi dalam mangkuknya sudah habis. Oh, makan dalam keadaan kesal itu tidak nyaman. Percayalah.

"Apakah tidak ada puding pencuci mulut?" Gaara bertanya setelah ia mengakhiri makan malam dengan satu gelas air putih.

"Pencuci mulut ya? Di kulkas ada pai buah sarapan yang kubuat pagi tadi. Apa kau mau?"

"Boleh juga."

"Oi oi, seharusnya kau bisa membedakan kalau apartemenku ini bukanlah restoran."

Gaara menoleh kepada Naruto yang lagi-lagi memprotes saja. "Kalau kau sudah selesai makan kau boleh menonton televisi saja."

Sepertinya Gaara sedang terkena sindrom homesick, sehingga menganggap ini rumahnya sendiri. Atau sekalian menganggap Sakura adalah pembantunya sendiri.

"Kau—" deringan ponsel Naruto terdengar sampai ke dalam ruang makan—mengharuskan ia menunda perdebatan dan segera menuju letak ponsel itu sebelum sang penelpon marah karena terlambat mengangkatnya.

Sembari membuka kulkas mencari pai buah itu, Sakura menggeleng-geleng mendengar perdebatan mereka. Dari segi bagaimana pun mereka kelihatannya tidak cocok. Yang satu adalah kucing dan yang satu adalah seekor tafir yang dingin. Tafir dan kucing memang tidak tinggal dalam habitat yang sama, bukan?

"Ada masih banyak pai buah, mau aku bungkuskan sekalian?" Sakura melihat ada sekitar beberapa puluh di dalam nampan. Ia terlalu banyak membuatnya. Padahal yang punya perut dalam rumah ini ada dua orang.

"Boleh juga. Aku harus segera pulang sekarang."

"Kau akan naik apa pulang ke Hokaido?" sembari mengobrol, Sakura mulai memasukkan pai-pai itu ke dalam kotak bento berukuran sedang. Kebetulan Naruto punya beberapa kotak bento yang jarang sekali dipakai.

"Pesawat." Gaara melirik jam tangannya. Masih ada sekitar lima puluh menit lagi sampai waktu keberangkatan.

Kotak bento itu ia balut dengan kain kotak-kotak warna hitam sebelum menyerahkannya ke Gaara. "Sebenarnya kau kesini ada perlu apa? Jawab saja jujur."

"Ada beberapa kasus yang harus aku tangani." Gaara mengambil alih kotak itu. "Terimakasih atas cemilannya."

"Sama-sama." Sakura mengulum senyum sesaat. "Apakah salah satu kasus itu adalah tentang kaburnya anak gadis orang?"

Gaara mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam saku celana dan menaruhnya di atas meja makan, kemudian ia berdiri dari kursi berniat akan segera pulang. "Seperti yang kau ketahui. Sampai jumpa, Sakura." Setelah mengatakan itu ia pergi dari sana menuju ke pintu depan.

"Tunggu! Kenapa ponselmu kau tinggalkan?" Sakura segera meraih ponsel itu dan mengejar Gaara sampai ke pintu depan.

Gaara berbalik dan memberikan kerlingan mata yang menawan. "Kurasa kau butuh sebuah ponsel. Itu untukmu sebagai ucapan terimakasih atas makan malamnya dan juga," Gaara menggantungkan kalimatnya. "Selamat ulang tahun, Sakura."

.

.

.

"Hallo ayah, ada apa?" setelah pergi dari dapur dengan perasaan yang bercampur aduk, akhirnya Naruto mengetahui siapa yang menengahi perdebatan yang bisa saja terjadi di meja makan tadi.

"Kenapa nadamu terdengar begitu ketus sekali. Memangnya kau kesal kalau ayah sedang menelponmu?" dari seberang, tentunya Minato tidak menyukai nada anaknya.

Sebenarnya sih begitu, sebenarnya sih ia harus saling adu pukul di meja makan tadi. "Err.. aku sedang makan malam, ayah. Tapi hari ini tidak sebaik seperti biasanya."

"Memangnya ada apa?"

Kenapa ayahnya malah bertanya? Naruto tidak mungkin menceritakannya. "Hanya ada tafir liar yang masuk ke apartemenku."

Minato tampak berpikir dari seberang. Memangnya tafir benar-benar ada di lingkungan Naruto? Ngomong-ngomong rupa tafir itu seperti apa? Akhirnya terdengar tawa pecah dari seberang. "Selera humormu dari dulu memang bagus, nak!"

Orangtua mana seharusnya percaya dengan humor garing seperti itu. "Bagaimana kabar kalian di sana?"

Tawa Minato terhenti mendengar pertanyaan Naruto. "Sebenarnya ayah menelponmu karena ingin mengatakan sesuatu. Ibumu sedang berada di rumah sakit sekarang. Bukan penyakit yang serius sebenarnya. Kau tahu sendiri, kan? Ibumu suka berdiet."

"Jadi, ibu salah mengkonsumsi obat diet?"

"Tepat sekali! Obat diet dapat menyebabkan pengonsumsi kehilangan nafsu makan. Jadi, tiap kali akan memasukkan makan ke dalam mulut, ibumu selalu muntah. Baru beberapa jam yang lalu ayah mengantar ibumu ke Rumah Sakit. Dan sekarang dia sedang tertidur."

Beberapa saat ada rasa bersalah di hati Naruto, dalam keadaan seperti ini seharusnya ia berada di samping kedua orang tuanya, merawat serta melihat setiap kondisi di keluarganya. "Aku harap ibu cepat sembuh."

"Kau jangan berdoa saja."

"Memangnya apa yang bisa aku lakukan?"

"Ibumu berharap kau bisa pulang. Besok lusa adalah hari sabtu. Sabtu pagi kau bisa kemari dan minggu sore kau bisa pulang."

Naruto tampak menimang tawaran yang diberikan oleh ayahnya. Memang seharusnya begitu sih. Lagipula ia sudah lama tidak pulang ke Kirigakure. "Oh, baiklah kalau begitu."

"Anak baik, besok ayah akan segera pesankan dua tiket untuk kalian."

Sepertinya ada yang salah diperkataan ayahnya. "Kenapa dua tiket?"

"Kenapa? Kau tidak mau mengajak pacarmu kemari juga?"

"Maksud ayah Sakura?"

Oh, berarti ayahnya sudah ketularan ibunya yang mengira Sakura adalah pacarnya.

.

.

.

Naruto segera keluar dari dalam kamar untuk memberitahukan kabar bahwa ibunya sedang dirawat di rumah sakit. Ia penasaran, apakah Sakura akan menolak atau bahkan menerima ajakkan untuk membawanya ikut serta ke sana.

"Naruto, apa kau mau nomer telepon baruku!" Baru saja mereka berpapasan di ruang tengah, Sakura langsung berseru duluan. Matanya berbinar cerah sembari menunjukkan sebuah benda elektronik persegi empat. Wow, benda itu mengkilat.

Rasanya benda layar sentuh itu baru-baru ini diiklankan di televisi. "Boleh saja. Sejak kapan kau membelinya?"

"Aku tidak membeli ini. Gaara memberinya padaku."

Satu langkah yang diraih Gaara lebih unggul, pria itu memberi sebuah hadiah yang boleh terbilang highligh. "Kenapa kau tidak minta padaku saja kalau kau membutuhkan itu."

"Eh, barang seperti ini tidak bisa diminta kapan pun. Ia memberikanku ini dalam rangka ulang tahunku."

"Jadi, kau ulang tahun hari ini?" Naruto terkejut mendengar itu. Ini sebuah kesalahan, Gaara bukan mendahuluinya satu langkah lebih maju, kini yang benar adalah dua langkah besar di depannya.

Sakura menggaruk pipinya. Penjelasannya belum akurat. "Sebenarnya besok adalah ulang tahunku. Entahlah kenapa ia malah memberikan ini sekarang."

Naruto hanya bisa berbalik saja... entah bagaimana mengatakannya. Detik ini, ia benci melihat mata berbinar senang yang terpancar dari kedua emerald itu. Jadi, besok adalah ulang tahunnya? Apa yang harus ia lakukan sekarang? Tidak ada rencana sedikit pun yang terlintas. Ini terlalu mendadak untuk diketahui. Dan ada satu tujuan yang ia lupakan sebenarnya.

... mungkin lebih baik ia pulang sendiri saja ke Kirigakure besok lusa.

.

.

.

Langkah Ino terhenti saat ia ingin keluar dari dalam rumah sakit. Kondisinya saat ini tidak terlalu sehat mengingat akhir-akhir ini ia selalu mengadakan operasi bedah ketika di malam hari. Dan ketika pagi, ia malah pulang ke rumah dengan kondisi setengah mengantuk tentunya. Ah, beginilah jadi dokter. Malam terkadang menjadi pagi dan pagi menjadi malam.

Ino memandang seorang pria berambut merah yang menghentikan langkahnya itu. Pria itu berwajah datar, ia juga tidak menyapa seperti orang lain ketika saling beradu pandang. Iya, Ino mengenalnya, hanya saja untuk saat ini wajahnya begitu serius.

"Ada apa, Gaara?"

"Ada yang ingin aku bicarakan. Ayo ikut aku dulu."

"Maaf, aku sibuk. Aku harus segera pulang." Ino berjalan cepat melewati Gaara yang belum bergeser sedikit pun.

"Ini tentang Sakura."

Mendengar itu langkah kaki Ino sontak berhenti. Ino mendesah panjang. Seharusnya ia pulang ke rumah dan segera tidur di bawah AC sekarang juga. Nanti malam akan ada jadwal operasi lagi. Seharusnya Gaara mengetahui itu. Dan seharusnya ia punya pikiran yang sehat untuk mengetahui keadaan itu.

.

.

.

Siang ini ketika Naruto baru saja memperlihatkan batang hidungnya, lagi-lagi ia menjadi santapan bully para bawahannya.

"Siapa sih yang memaksa Naruto minum? Dia terlihat amatir sekali!" Tenten berteriak dari meja kerjanya. Karena namanya yang disebut. Naruto langsung terlonjak. Dia berdoa semoga saja ketika mabuk dia tidak mengoceh hal yang aneh-aneh.

"Sayang sekali aku kemarin mabuk juga, jadi tidak bisa merekamnya." Sai menjawab dari meja kerjanya. Sementara Naruto pura-pura tuli.

"Apa? Kalian bilang Naruto minum? Pasti dia sangat stress sekali?" Chouji menimpali.

"Tentu saja, minggu ini kan, Hyuuga akan melangsungkan pernikahannya." Tenten berhasil mengambil perhatian Naruto dari kalimat terakhirnya. Naruto berdiri, niatnya sih mau kabur saja dari situasi ini. Ah, yang terpenting Tenten tidak tahu kalau Hinata akhir-akhir ini berada di dalam apartemennya.

"Kau datang kan Naruto?" Sai bertanya, membuat Naruto lebih baik duduk saja. Jangan kabur. Kalau dia kabur kemungkinan para pembully itu lebih heboh lagi.

"Tentu saja Naruto akan datang. Ia akan menunjukkan kepada semuanya, kalau ia sudah melangkah dari masa lalu."

Sai menyipit. Tenten agak keterlaluan.

"Ya, aku akan datang." Naruto mulai menyibukkan diri dengan layar laptopnya.

"Yang benar?" Tenten memutar kursi dengan ekspresi tertarik. "Aku bersedia menjadi temanmu untuk pergi ke sana."

"Tidak perlu, Tenten." Shino menimpali, membuat semua orang yang berada di sana menoleh ke arah dia. Shino berbicara? "Dia punya seseorang yang akan dibawanya."

"Bagaimana kau bisa tahu?" balas Tenten tidak percaya.

Shino tidak menjawab, ia menyuruh Tenten intropeksi diri. Bukannya Tenten selalu berkoar tentang Naruto? Terakhir kali yang didengarnya Naruto naksir dengan pengurus rumahnya yang berambut merah muda.

Naruto menghela napas. Apa sebegitu menariknya kehidupannya di mata mereka? "Shino benar, aku sudah punya teman yang akan kubawa."

Tenten pura-pura memasang wajah kecewa. "Padahal aku ingin pergi denganmu."

Naruto mengabaikan suara-suara dengan ayunan pontang-panting yang jelas-jelas mengejeknya. Ia merasakan getaran di dalam saku, ada sebuah pesan yang masuk ke ponselnya.

Ayah sudah memesan dua tiket pesawat untuk keberangkatan besok pagi. Jangan sampai ketinggalan pesawat ya.

We always love you.

Soal kata 'we always love you' itu selalu ia dapat diakhir pesan kedua orang tuanya. Naruto selalu tersenyum membaca kalimat itu. Eh, tunggu dulu. Ayahnya sudah memesankan dua tiket untuk mereka besok nanti. Bagaimana mungkin ia tidak jadi membawa Sakura bersamanya?

.

.

.

"Ya, Hallo?"

Naruto tidak menyangka detik ini ia malah menelpon Sakura. Oh, rupa smartphone yang menempel di telinganya jadi terbayang. Dan itu membuat Naruto tidak langsung mengatakan soal ibunya tadi. "Aku penasaran kau sedang apa sekarang?"

Terdengar suara tawa pelan dari seberang. Apakah ini seperti pertanyaan seorang pacar saat masa-masa di SMA? "Aku sedang santai. Baru saja pulang dari Puskesmas. Bagaimana kau sendiri?"

"Sedang istirahat. Kau sudah makan?"

Ada apa ya dengan Naruto, kenapa mendadak manis begini? "Belum sih. Rencananya sebentar lagi akan segera masak. Eh, kau mau makan apa nanti malam?"

Pertanyaan yang mulai terdengar familier ketika Hinata sudah tidak ada lagi di antara mereka. Pertanyaan ini adalah sesuatu yang bisa membawanya ke posisi aman. Ia lupa, kapan terakhir ia makan malam di luar, bahkan ia sudah lama tidak mengkonsumsi makanan instan. Dan ia lupa kapan terakhir kali ia selalu ingin cepat pulang ke apartemen.

"Apa saja yang kau masak pasti aku makan. Tapi, sepertinya malam ini kita makan malamnya di luar saja."

"Memangnya kau mau kemana?" terdengar nada heran dari seberang.

"Bagaimana kalau kita pergi piknik ke luar, sekalian aku ingin mencari sebuah kado untuk acara pernikahan Hinata malam senin nanti."

"Oh, acara pernikahannya minggu nanti ya? Baiklah kalau begitu. Aku akan segera memasak untuk piknik kita nanti sore."

"Jam empat aku akan menjemputmu."

"Baiklah, sebelum jam empat aku akan sudah berada di lantai bawah apartemen."

Naruto tersenyum. Tapi, informasi yang seharusnya ia katakan malah belum ia pertanyakan. "Sampai jumpa, Sakura-chan."

.

.

Tsudzuku

.

.

.

Entahlah kenapa amai suka merumpamakan Gaara menjadi Tafir *kaburrrr eh balik lagi*

Dan terimakasih buat yang sudah membaca : Hikikaze naoe, Levio Kenta Uzumaki, Maple23, namikazehyunli, lora bozz 29, nami (ok, ini chapter 9-nya sudah diapdet. Makasih untuk reviewnya), Ae Hatake, asdf (Ya, wordnya emang dikurangi, makasih sudah RnR bang), IrfaanFanday, mikaze9930, Guest (Makasih atas sugestionnya. Aku belum bisa nulis yang lain sebelum cerita ini kelar. Rencananya juga akan nulis yang seperti itu :D), Sai Akuto, SR not AUTHOR, adityapratama081131, Fidyagami, yumi (Sasuke? Hm, kita liat aja ntar yak), Guest (wkwkw, minggu ini tetep apdet HoN, yang satunya mungkin bulan depan. makasih ya sudah RnR), ElleoraNS, and chibi si saku.

Okaay, makasih sudah memfavorite cerita ini, memfollow serta membacanya (amai harap kalian gak bosen ya ngikuti cerita ini) dan jangan lupa tinggalkan jejak.

Salam

-Amaira-