Warning : Semoga ada sisi romantis dari chapter ini, author punya alasan: karena sudah kelamaan jomblo. Biar jomblo yang penting bahagia, ya nggak? (maaf, dia kira ini sesi curhat apa?) warning yang sebenarnya: totally AU, Misstypes, fanfic datar, OOC for the both of chara, mainly Naruto Uzumaki and Sakura Haruno.

DISCLAIMER : Standard Applied.


Chapter 11 : Cohabitating Couple (Orang dewasa yang hidup bersama tanpa ada ikatan pernikahan)


.

.

.

"Sepertinya kau kelelahan, Sakura-chan. Apa kau ingin istirahat?"

Semenjak tadi malam, sufix –chan pada namanya seolah sudah biasa diucapkan. Ia tidak keberatan dipanggil dengan tambahan nama itu walau umurnya sudah hampir berkepala tiga. Naruto benar, ia sedikit kelelahan sore ini.

Semalam mereka menghabiskan waktu di atas perbukitan, hingga tidak sadar bahwa hari sudah hampir larut malam. Lalu, saat pagi-pagi sekali mereka harus segera pergi ke bandara untuk mengejar penerbangan pertama agar tidak ketinggalan pesawat. Saat tiba pada kota Kirigakure, Sakura memutuskan untuk mampir ke kediaman Namikaze terlebih dahulu, membersihkannya sebentar dan juga sempat membuatkan bento untuk Kushina. Jadi, Sakura memang tidak sempat istirahat.

Pada akhirnya Sakura hanya bisa menghela napas. "Aku tidak bisa beristirahat sekarang, kita hanya akan menjemput Kushina-san pulang ke rumah, kan? Kurasa tidak akan banyak memakan waktu."

Pada detik ini memang terhitung sudah tiga hari Kushina berada di rumah sakit. Ia berjanji, jika Naruto datang ia akan segera pulang saja ke rumah. Dari awal Naruto memang sudah curiga mendengar alasan ibunya diobname karena kehilangan nafsu makan. Apa lagi kalau bukan; mencari alasan saja untuk menyuruh Naruto pulang ke rumah.

Naruto menghentikan langkahnya, ia berniat akan mengajak Sakura berbalik arah menuju parkiran saja. "Kuantar kau ke rumah sekarang, lalu aku saja akan menjemput ibu sendirian. Dengan begitu kau bisa istirahat."

"Ya ampun, kau ini repot sekali. Sudah mau hampir sampai malah memikirkan rencana berbelit seperti itu." Sakura hendak melangkah lagi—seolah ia paling tahu di mana letak kamar tujuan mereka.

"Sakura-chan, aku tidak ingin kau sampai kelelahan dan sakit." Naruto meraih tangannya, membuat wanita bersurai merah muda itu menoleh dengan sebelah alis terangkat.

Sakura menarik lengannya dengan tenang, meyakinkan Naruto bahwa ia tidak akan segera kabur jika cengkeraman itu terlepas. "Aku tidak selemah itu, Naruto. Jangan cemaskan aku."

"Tapi, kau butuh istirahat."

"Cara pandanganmu berubah sekarang, ya?"

Kini alis Naruto yang terangkat tidak mengerti. "Aku hanya mencemaskanmu," akunya dengan kejujuran yang penuh.

"Terimakasih, tapi aku ini adalah pembantumu." Sakura menyatakan itu dengan tegas. Ia tahu, sikap Naruto dari awal sampai pada detik ini benar-benar sudah berbeda. Dimulai dari cara bicaranya, cara pria itu memandangnya dan bahkan cara ia memperlakukannya. Kalau saja mereka hanya sebatas kenalan, mungkin ini baik.

"Kau mengatakan itu seolah sedang merendahkan diri sendiri. Aku menyesal, ketika mengetahuimu adalah seorang dokter."

Sakura hanya tersenyum menanggapinya. Ah, beginilah cara pandang manusia. Selalu menghargai orang-orang yang memiliki sebuah jabatan. "Kalau begitu anggap saja aku hanya seorang pembantu."

Naruto tak suka keputusan Sakura yang terlontar ringan dari mulutnya. "Kalau begitu ketika kita kembali ke Konoha, semua pekerjaan rumah kita selesaikan bersama."

Sakura memiringkan kepalanya. Naruto itu lucu sekali memang. "Aku tidak suka keputusanmu."

"Kenapa?"

"Kau mengatakan itu seolah kita ini sepasang komunal." Kemarin ia sempat salah bicara dengan mengakui bahwa dapur apartemen adalah milik 'kita'. Lalu, detik ini, Naruto malah mengatakan hal itu. Seolah kebersamaan mereka itu sudah tercipta sejak lama dan ini sudah terbiasa.

"Dibandingkan dengan sebutan komunal, sepertinya kita lebih cocok disebut sebagai Cohabitating Couple."

"Maksudmu, kita adalah orang dewasa yang hidup bersama tanpa menikah?" semburat merah tipis terlihat di kedua pipi Sakura. Terkadang jawaban Naruto dapat menyudutkannya dengan telak. Ia tidak memiliki jawaban untuk berkilah dari pelarian membahas hubungan yang mulai terbangun ini. Dan kalau dipikir-pikir, pendapat Naruto tidak juga salah.

"Memang kenyataannya begitu, kan—aw!"

Sebuah jitakkan adalah tanda bahwa Sakura ingin menghentikan imajinasinya yang akan melayang kemana-mana akibat mendengar kalimat Naruto. "Ini sudah hampir malam, bodoh. Ibumu pasti sudah menunggu!"

"Tapi, aku benar kan?"

.

.

.

Saat mereka berdua baru saja masuk ke ruang inap, Kushina langsung berseru semangat. "Lama sekali sampainya!"

Naruto menggaruk lehernya canggung. Ini semua karena banyak persiapan untuk menuju kemari. "Sepertinya ibu memang sudah sehat ya? Jadi, apa ibu sudah bersiap untuk pulang ke rumah?"

"Tega sekali kau berbicara seperti itu kepada ibumu." Minato menyahut saat keluar dari dalam toilet. Matanya langsung tersita pada sosok wanita yang mengekor di belakang Naruto. "Wah, Sakura-chan apa kabar?"

"Sakura saja yang ditanya kabarnya?" Naruto mencibir. Tetapi sayang sekali, tidak ada yang bisa mendengarnya.

"Kabarku baik-baik saja." Sakura membungkuk hormat, kemudian ia berjalan mendekat ke arah ranjang Kushina, menaruh bento yang ia bawa—yang sengaja dipersiapkan demi membangkitkan nafsu makan wanita berambut merah itu. "Bagaimana dengan kabar anda?"

Kushina melirik sebentar pada kotak bento berukuran sedang itu. "Lebih baik dari hari sebelumnya. Itu karena kalian kemari!" kalau saja selang infus tidak membatasi pergerakan wanita besurai merah itu, ia pasti akan melompat dan memeluk Sakura sampai terjatuh.

"Sakura-chan, kau tidak perlu berbicara formal seperti itu pada ibu," sahut Naruto disertai anggukkan dari Minato.

"Iya, tidak perlu seperti itu," timpal Kushina menyetujui. "Kau bisa panggil aku ibu."

"I-ibu?" Sakura membeo pada kata terakhir Kushina. Dari sudut matanya sekilas pipi Naruto bersemu merah mendengar ini. Apa yang ada di pikiran pria itu?

Baru beberapa menit mereka berada di sini sudah membuat Naruto was-was. Ibunya pasti berbuat di luar kendali: kalau tidak mempermalukan dirinya di depan Sakura, bisa saja bertingkah aneh seperti sebelumnya. Ah, dasar ibunya itu, memang seperti itu.

"Iya, benar. Kalau begitu kau panggil aku ayah sekarang!" Minato mendekat sambil berseru semangat. Naruto sebenarnya ingin berkomentar, tetapi ia belum mempunyai kata-kata yang pas. Lebih baik ia mengupas apel saja dan diam.

"Baiklah kalau begitu, ayah, ibu?" ujar Sakura ragu-ragu.

"Nah, begitu kan lebih baik." Kushina tersenyum lebar. "Ngomong-ngomong apa yang kau bawa ini?"

"Oh, ini. Aku sempat membuat risotto tadi di rumah. Apa ibu sudah makan malam? Aku juga membawakan untuk ayah."

"Belum," ujarnya terdengar mengenaskan. "Aku tidak ingin makan apapun. Tapi, tadi siang sudah makan beberapa kue dan buah-buah."

"Tidak makan nasi?"

"Kushina pasti muntah kalau makan itu," sahut Minato menimpali.

Beberapa detik Sakura terdiam, ia mengamati kondisi wanita itu. "Oh, kelihatannya ibu baik-baik saja. Badanmu juga tidak kelihatan begitu kurus. Mungkin memang selera nafsumu saja terganggu. Seharusnya dengan mengonsumsi vitamin atau obat nafsu makan ibu sudah bisa mengatasi itu."

"Tapi, kenyataannya ia tetap tidak bisa makan," jawab Minato.

"Oh ..." Sakura membuka kain pada bento itu. membuka tutupnya—memperlihatkan isinya yang berupa campuran nasi, sayur, daging dan komposisi lain yang tidak diketahui Kushina. "Apa ibu ingin mencicipi ini?" tanya Sakura memastikan. "Satu sendok saja dulu. Kalau tidak bisa tidak usah dipaksakan."

Awalnya Kushina ragu-ragu. Di hadapannya itu hanya sebuah bekal biasa seperti halnya nasi campur sayuran. Tetapi harum lembut nasi yang terbawa oleh dinginnya AC begitu berbeda. Sayang sekali, ia tidak memiliki rasa lapar untuk saat ini. "Sepertinya ibu ingin mencicipinya. Ibu juga sudah lama tidak mencicipi masakkan dari calon menantu."

Ah, Kushina bisa saja. Mendengar itu Naruto hampir tersedak buah apel.

Sakura hanya bisa mengulum senyum. Belum pernah ada orang yang berkata demikian selama ini. Dan itu cukup terdengar seperti bayangan masa depan. "Biar aku bantu menyuap." Sakura menyendokkan risotto dan mengarahkannya kepada mulut Kushina.

Mata emerald-nya mengawasi pergerakkan kunyahan Kushina dengan seksama. Dalam hal ini, memang ada perbedaan yang signifikan antara kunyahan orang yang benar-benar tidak memiliki nafsu makan, dan kunyahan orang yang memiliki nafsu makan.

Satu sendokkan dari suapan Sakura berhasil melalui tenggorokkannya.

"Ibu hanya harus memaksakan makanan masuk melewati tenggorokkan saja. Ibu tidak akan muntah jika menelan makanan yang memiliki kadar bau yang tidak tajam dan rasa yang tidak terlalu merangsang lidah."

Kushina terperangah. Ia bisa menelan nasi kembali dengan cukup mudah. "Kalau begitu ibu mau satu suap lagi." Kushina sudah membuka mulut. Seperti anak kecil saja.

"Wah, wah, melihat pemandangan ini jadi merasa berat mendengar bahwa kalian akan segera kembali ke Konoha besok," Minato berkata dengan penuh pengharapan.

"Kami sibuk ayah, besok harus menghadiri pernikahan Hinata. Sakura juga punya pekerjaan di Puskesmas." Naruto berkata sembari memasukkan potongan apel pada mulutnya.

"Ngomong-ngomong apa kau mencuci buah apelnya?" tanya Minato memastikan. Naruto selalu saja malas untuk mencuci buah apel ketika mengupasnya sendiri.

"Lagipula ini buah apel yang disediakan dari rumah sakit, kan? Pasti sudah dicuci sebelumnya," kilah Naruto.

"Dasar pemalas!" Kushina menimpali dengan mulut yang penuh risotto. Ini pertama kalinya Kushina menikmati makanan ini. "Oh ya, Sakura. rasanya seperti susshi ya?" ujar Kushina setelah otaknya mulai menyadari

"Mana? Ayah juga ingin merasakan!"

Sakura mengeluarkan satu bento lagi, memberikannya kepada Minato. "Rasanya memang seperti susshi, karena rata-rata bahannya adalah dari komposisi susshi. Biasanya jika tidak nafsu makan, mulailah mengonsumsi makanan lokal dulu."

"Ibu juga suka kok, risotto yang a la Italia." Kushina memajukan bibirnya.

"Kalau begitu, lain kali akan aku masakkan yang aslinya," jawab Sakura kembali memberikan suapan berikutnya.

"Wah, ayah jadi tidak sabar kalau begitu."

Sakura hanya tersenyum lebar melihat respon dari keluarga Naruto. Tidak terasa isi wadah bentonya sudah tinggal setengah. Oh, syukurlah.

.

.

.

Persediaan apel sudah dikandaskan Naruto tanpa sadar. Gara-gara ia salah tingkah sendiri melihat sikap orangtuanya menghadapi Sakura—melampiaskannya dengan menggigit apel ternyata mengurangi kadar salah tingkah. Kini, mereka berdua berjalan keluar rumah sakit untuk mencari beberapa buah-buahan.

"Kau yakin ingin ikut ke tokoh buah? Tokohnya cukup jauh loh." Masih dengan kecemasaan Naruto tentang keadaan Sakura yang mulai melemas—yang memang benar sudah kelelahan. Beberapa kali Naruto mendapatinya—wanita itu mencuri kesempatan untuk menguap saat berada di dalam ruang inap tadi.

"Apakah sama jauhnya dengan berjalan kaki dari halte menuju apartemenmu?"

Naruto tampak berpikir. Jarak dari apartemen yang ditempuh Sakura tiap pagi menuju halte kurang lebih 100 meter. Jarak yang cukup jauh jika seseorang harus berjalan ketika sedang terlambat bekerja. "Kurang lebih seperti itu."

"Kalau seperti itu tidak terlalu jauh." Sakura menghirup udara malam di luar Rumah sakit ini dalam-dalam, udaranya tidak terlalu dingin tetapi benar-benar terasa sejuk sekali. Mungkin karena kawasan bebas asap kendaraan dan rokok. "Aku sering berjalan jauh-jauh, dari satu kafe ke kafe yang lain. Sekitar 200 meter bahkan lebih."

Naruto bersiul mendengarnya.

"Dulu dalam satu minggu aku hanya punya waktu satu hari libur. Dalam satu hari kadang aku memanfaatkan waktu untuk mengunjungi kafe-kafe baru." Sakura melebarkan senyumnya, sementara imajinasinya melayang ke masa lalu. "Jadi, untuk mengantisipasi biar tidak kekenyangan, kami memutuskan untuk jalan kaki saja setelah makan."

"Memangnya kau biasa dengan siapa melakukan hal seperti itu?" Naruto merasa penasaran. Di pikirannya, apakah ia bersama Gaara? Atau kemungkinan pacarnya yang entahlah siapa saja itu. Yang pasti saat ini Naruto sudah merasa was-was takut cemburu duluan.

"Terkadang bersama teman, jika sama-sama sedang libur. Terkadang juga sendirian."

"Kalau begitu, kenapa kita tidak melakukan hal itu juga bersama? Kelihatannya menarik."

"Kau pasti akan bosan."

"Kurasa tidak jika bersamamu."

Tanpa sadar Sakura menghentikan langkahnya sendiri. "Kalau begitu, lain kali ayo kita lakukan bersama."

Naruto ikut menghentikan langkah kakinya pula, ia berbalik menghadap wanita itu dengan pandangan melemah. "Sakura-chan, terimakasih sudah memilih kota Konoha sebagai tempat barumu."

Awalnya Sakura tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Naruto. Namun, beberapa detik waktu berjalan akhirnya ia mengerti poin yang dimaksud oleh pria itu. Ia hanya menarik sebelah sudut bibirnya. "Aku tidak sengaja memilih kota ini. Lagipula untuk apa kau berterimakasih?"

Naruto menggeleng. Sakura salah, ia memang harus berterimakasih. Karena jika itu tidak terjadi, mereka tidak akan pernah bertemu. "Oh ya, maaf juga atas soal ibuku yang selalu mengiramu adalah pacarku."

"Tidak apa-apa, aku suka keluargamu." Untuk meyakinkan Naruto kalau ia bersungguh-sungguh mengatakan itu, Sakura dengan senang hati menarik kedua sudut bibirnya untuk tersenyum lebih lebar. Sesaat pria berkulit tan itu tersenyum melihat cengiran lebar Sakura, itu sudah seperti makrokosma saja.

"Lalu, apa kau juga suka aku?"

Alis Sakura terangkat, kemungkinan Naruto sedang membuat sebuah lelucon. Walau begitu, ia hanya bisa berkata jujur. "Aku juga menyukaimu."

Tidak ada kata terlempar setelahnya. Naruto masih tetap menatapnya lurus tanpa emosi yang meluap-luap, tidak pula terkejut dengan pernyataan dari Sakura, ia hanya bahagia karena mendengar itu. Sebuah ciuman singkat terjadi begitu saja di antara mereka berdua, cukup singkat tetapi Sakura terlihat seperti sudah siap. Sakura menundukkan wajahnya. Menghirup napas dalam-dalam agar sesuatu yang berdebar di dalam dadanya sedikit teratasi. Apa yang telah terjadi barusan itu—was abloom, absurdly of course.

Sebelum akhirnya ia mengangkat wajah, ia menyempatkan untuk menyelipkan poni panjang merah muda itu ke belakang telinga. "Sebaiknya kita segera ke tokoh buah sebelum turun hujan." Sakura menengadah memastikan langit yang ternyata memang tidak memiliki banyak bintang.

Naruto meraih tangan Sakura, menggenggamnya dengan erat. Tangan besar itu begitu hangat. Dapat melindungi tangan langsing miliknya. "Aku juga menyukaimu. Dan juga mencintaimu. Terimakasih sudah membalas ciuman singkat tadi. Aku anggap kau memang menyukaiku dan mencintaiku juga."

Muka Sakura kembali bersemu merah. Naruto dapat melihat jelas hal itu karena ia tidak sempat membuang muka. Manis sekali. "Ya, kalau seorang housekeeping wajar saja bisa jatuh cinta dengan majikannya. Tapi, seorang majikan jatuh cinta kepada housekeeping itu hal yang mustahil," balas Sakura dengan nada candaan.

"Itu tidak mustahil, Sakura-chan." Entah sejak kapan ia suka panggilan dengan suffix -chan tersebut. "Sekarang aku malah menginginkan sesuatu," wajah Naruto berubah memelas.

"Apa memangnya?"

"Aku ingin lebih dari sebuah ciuman—"

bletak, "—Aku kan bercanda, Sakura-chan."

Sakura hanya tertawa pelan melihat itu.

.

.

.

"Dr. Haruno?"

Sakura menoleh, sebuah panggilan yang dulunya selalu terdengar familier. Semua orang memanggilnya seperti itu saat berada di dalam maupun di luar Rumah Sakit tempatnya bekerja. Ini seperti de javu.

"Ah, ternyata benar anda dr. Haruno Sakura. Aku kira bukan, aku langsung mengenalimu dari warna rambutmu," ujar seseorang itu saat sudah berada di hadapan Sakura.

Sakura melirik ke arah rambutnya yang benar-benar selalu menarik perhatian. "Maaf anda siapa?" Sakura hanya memerhatikan penampilan orang yang menyapanya di lobi rumah sakit ini. Pria itu memiliki tinggi badan 20 sentimeter lebih tinggi dari dirinya. Memiliki postur tubuh seperti atletis. Dan rambut yang diikat seperti berbentuk kuncup nanas.

"Shikamaru?" Sakura akhirnya bisa menebak. Membuat Naruto yang berdiri di sampingnya benar-benar merasa penasaran.

"Ahaha, ternyata anda masih mengingatku, mahasiswa yang pernah magang di rumah sakit Hokaido."

"Ya, itulah kau yang si jenius itu." Sakura tidak percaya akan bertemu dengannya di sini. "Jadi, kau sudah bekerja di sini?" Sakura melihat jas putih yang melekat pada badannya. Percaya atau tidak umurnya masih dua puluh dua tahun.

"Aku baru saja bergabung di sini sebenarnya. Bagaimana denganmu? Sedang mengunjungi orang di sini?" mata Shikamaru melirik ke arah Naruto.

"Ya, aku kemari hanya menjenguk ayah dan ibu Naruto." Sakura melirik ke arah Naruto, membuat Shikamaru mengerti siapa pemilik nama yang disebutkannya.

"Oh, begitu. Apa dia pacarmu?"

Naruto tidak menjawab, ia menanti jawaban apa yang akan keluar sendiri dari mulut Sakura.

Beberapa detik Sakura mencari jawaban yang pas dari pertanyaan Shikamaru. "I am his housekeeping."

Shikamaru ternganga tidak percaya atas apa yang telah ia dengar. Wajah Sakura tidak terlihat main-main saat mengatakan itu.

Sementara ekspresi Naruto sepertinya ada yang salah.

.

.

.

Tepat pada jam sembilan malam mereka pulang ke kediaman Namikaze. Untung saja Sakura sempat membersihkan isi dalam rumah tersebut. Mereka tidak memiliki pembantu dalam rumah tersebut. Sehingga siang tadi Sakura cukup kualahan membersihkannya. Ya ampun, rumah sebesar ini tanpa pembantu, apa jadinya? Tapi, jika dilihat dari sisi positifnya, memang tidak mudah mencari pembantu yang bisa dipercaya.

"Jika hari ini kami tidak datang, apakah ibu tetap akan pulang ke rumah?" Naruto bertanya ketika ia sudah keluar dari dalam mobil sedan milik ayahnya.

Kushina tertawa senang. "Memangnya salah meminta anak sendiri untuk menjemput orangtuanya pulang?"

"Huh, ibu ..." Naruto mendesis pada dirinya sendiri.

Minato tersenyum mendengar itu. Ia membukakan pintu rumah untuk istrinya masuk terlebih dahulu. Bahkan jika diajak mendaki sekarang, Kushina mungkin akan sanggup. "Walau begitu, ibumu harus segera tidur. Kalian berdua juga harus istirahat. Bukankah besok jadwal penerbangannya jam 12 siang?"

"Aku masih ingin menonton televisi." Kushina bergumam sembari menuju ke ruang tengah untuk duduk di salah satu sofa.

"Oh, ya ibu." Naruto mengambil salah satu tempat duduk di hadapan Kushina, ia baru teringat sesuatu. "Sepertinya aku akan menginap di hotel saja malam ini. Apa ada hotel terdekat di sini?"

"Untuk apa kau melakukan itu?"

"Bukankah hanya ada dua kamar yang bisa dipakai dalam rumah ini?" Naruto sudah menyadari hal ini ketika baru tiba tadi pagi. Dan pilihan yang bagus adalah dengan menginap di luar atau tidur di sofa?

"Dua kamar itu kan sudah pas?"

Otak Sakura sudah mengerti dengan perkataan itu. Ia hampir saja tersedak ludahnya sendiri.

"Kau ini memang repot sekali ya? Kalian berdua kan bisa tidur di kamarmu dulu."

Naruto sudah ternganga dengan muka merah seperti kepanasan sendiri. Akhirnya Sakura angkat bicara. "Aku tidak masalah tidur di ruang tamu. Lagipula aku sudah biasa tidur di manapun, bahkan di dapur sekalipun."

"Tidak bisa!" Minato dan Kushina menjawab berbarengan.

"Kalau begitu aku saja tidur di sofa," akhirnya Naruto bisa berkata lagi. Benar-benar tidak bisa dibayangkan jika hal itu terjadi.

"Apa enaknya tidur di sofa?" Minato geleng-geleng tidak mengerti dengan keinginan Naruto dan Sakura.

"Oh iya, Naruto. Kau tahu kan kalau kamarmu itu selama ini tidak ada yang menempati. Rumah ini juga selalu sering kosong. Ibu takut kau akan mimpi buruk jika tidur sendirian."

Sakura melihat reaksi Naruto yang berubah pucat duluan mendengar itu. Ternyata pria itu penakut juga. Apa hubungannya jika rumah sering kosong dengan mimpi buruk? Kecuali jika rumah ini memang benar berhantu.

"Bagaimana Sakura-chan, apa kau tidak merinding mendengarnya?" Minato memancing perasaan takut Sakura. Andai saja pria itu tahu, jika antara kamar mayat dan ruang dapur Rumah Sakit Umum Hokaido hanya berjarak beberapa meter saja.

"Kurasa yang perlu bantuan adalah Naruto." Sakura mengangkat kembali tas besar (perlengkapan Kushina) yang sempat ia taruh di atas meja. "Ngomong-ngomong ini mau kutaruh di mana?"

.

.

.

"Sudah berapa lama kamarmu ini ditinggal?"

Naruto tampak berpikir. Semenjak tamat kuliah dan mencoba peruntungan ikut tes di luar kota, akhirnya ia memiliki pekerjaan di tempat lain. "Sekitar empat tahunan," ujarnya terdengar acuh.

Sakura melihat tingkah yang sedikit beda dari Naruto. Dari saat mereka masuk kamar bersama. Sakura sempat membersihkan kamar ini sesaat dari beberapa debu dan juga sarang laba-laba yang ada di langit-langit kamar. Pria itu dari tadi hanya diam saja. Ia malah pergi ke kamar mandi yang ada di dalam ruangan ini cukup lama. Sepertinya ia marah saat Sakura mengobrol sebentar dengan Shikamaru tadi.

"Baiklah, aku tahu kau sangat lelah, lebih baik kau segera tidur. Aku akan tidur di lantai saja."

Tangan Sakura langsung terlipat mendengar itu. Sementara ujung kakinya mengetuk-ngetuk lantai. "Apa ada yang salah dengan obrolan aku dan Shikamaru tadi?"

Naruto terdiam. Benar, ia sedikit tidak suka dengan jawaban terakhir dari Sakura yang mengatakan dirinya adalah seorang housekeeping. "Aku hanya ingin kau tidak menganggapku sebagai majikkan lagi."

Sakura naik ke atas ranjang. Ia langsung menempatkan diri ke sisi ranjang bagian arah dinding—mengosongkan sisi ranjang yang satunya untuk Naruto. Kemudian tangannya menepuk-nepuk badan ranjang yang sudah cukup berumur itu. "Kalau memang bukan majikkan, naiklah ke atas sini."

Wajah Naruto berubah merah. Apa-apaan cara Sakura yang terlihat sedikit—ehem—itu? Naruto berdehem agar tidak terlihat canggung. "Jadi, namamu Haruno Sakura?" Naruto akhirnya duduk di sisi ranjang yang ditepuk Sakura tadi.

"Ah, iya. Namaku Haruno Sakura. Salam kenal ya?" Sakura melebarkan cengirannya.

"Lalu, apa lagi yang kau sembunyikan dariku tentang dirimu?"

Sakura terlihat berpikir. Memangnya ia sudah menyembunyikan apa dari Naruto? Rasanya tidak ada hal yang banyak ia sembunyikan. "Memangnya apa yang ingin kau ketahui tentang Haruno Sakura?"

"Kalau bisa semuanya ..."

Sakura memutar bola matanya. "Semuanya hanya masa lalu. Aku sudah ada di Konoha dan kau yang sudah memungutku sekarang. Kurasa kita tidak perlu membicarakan hal-hal yang sudah kutinggalkan di sana."

Detak jantung Naruto mendengar itu sedikit tidak waras.

Tetapi dengan santainya Sakura merebahkan diri di sampingnya. "Aku lelah," wanita itu malah menguap lebar sembari memeluk sebuah guling besar. "Ngomong-ngomong aku tahu tentang dirimu walau kau tidak pernah membicarakannya, Naruto."

"Benarkah?" Naruto tertarik untuk mendengarkannya. Kemudian ia merebahkan diri juga di sana.

"Kurasa kau menyukaiku karena kau baru saja putus dengan Hinata." Terdengar kekehan kecil dari mulut wanita itu. Sementara mata lelahnya mulai mengatup.

Dahi Naruto berkerut. "Maksudmu aku menjadikanmu sebuah perlarian?"

"Ehm ..." Sakura bergumam tanpa bersuara.

"Tapi, jujur saja. Aku menyukaimu bukan karena aku akan ditinggal nikah atau karena melihatmu adalah seorang dokter yang pintar memasak." Naruto berkata dengan dibalas deheman Sakura (lagi). "Yang aku rasakan adalah, ketika aku lelah saat pulang bekerja, ada kau yang meringankan lelah itu. Ketika aku ingin menghabiskan waktu untuk mengobrol, ada kau yang menjadi lawan bicaraku. Dan ketika aku mulai bosan dengan sesuatu. Pasti ada hal yang baru kau tunjukkan." Pria itu mengatakannya tanpa ragu. Ini terdengar gombal. Tetapi ia berharap Sakura tidak menilai ke sana. "Bagaimana dengan perasaanmu sendiri?"

Sakura membuka matanya. Silau lampu di langit-langit sedikit memberatkan kelopak mata. "Aku rasa semua itu terwujud karena kita sering bersama. Karena kebersamaan itu sepertinya aku juga akan sulit untuk menghentikannya. Seolah itu adalah sebuah keharusan untuk tetap tinggal bersamamu." Ia menutup katanya dengan sebuah senyuman. "Aku juga mencintaimu, Naruto."

.

.

.

Sakura bersyukur hari ini ia bisa bangun pagi. Semalam sebenarnya adalah ide yang cukup gila untuk setuju tidur bersama dengan Naruto. Dengan sedikit melawan rasa gugupnya, akhirnya Sakura bisa tidur nyenyak di atas rasa lelahnya seharian.

Aroma teh sudah menguar dari dalam gelas yang ia isi dengan air panas. Di atas meja makan sudah tersedia beberapa sandwich berisi daging asap yang ia siapkan untuk sarapan pagi.

Suara televisi dapat wanita itu dengar dari dalam dapur. Di ruang tamu, kedua orangtua Naruto sudah duduk di sana. Keadaan seperti ini benar-benar atmosfir yang nyaman. Seolah seperti inilah gambaran masa depan yang ia idamkan.

Dalam beberapa detik ada sebersit rasa rindu pada kedua orangtuanya sendiri. Jahatkah dia sudah meninggalkan kedua orangtua hanya demi sebuah kebebasan semata?

"Sakura-chan?"

Sakura menaruh teko yang berisi air hangat itu terlebih dahulu sebelum menoleh. "Naruto, kau baru bangun?"

"Maafkan aku, aku kesiangan." Rambutnya terlihat sedikit berantakkan. Tapi, kelihatannya ia sudah mencuci muka. "Seharusnya aku membantumu menyiapkan sarapan." Omelnya pada dirinya sendiri.

"Untuk apa kau repot-repot membantuku?"

Naruto melipat kedua tangannya di depan dada. Kakinya mengetuk-ngetuk lantai dapur ini tanpa membuat suara. Memberikan waktu kepada otak Sakura untuk mencerna maksud perkataan pria itu sendiri.

"Oh?" Sakura baru mengerti. Itu tandanya Naruto tak ingin menempatkan Sakura lagi sebagai pembantu. "Jika aku bisa lebih cepat bekerja dan membuatmu gagal membantuku, Itu semua salahmu sendiri." Sakura hanya menyeringai geli. "Ah, setelah sarapan kita harus segera berbenah untuk pulang. Lebih baik kau segera mandi dan bersiap."

"Sakura-chan ..." nada Naruto terdengar merengek.

Sakura mengangkat nampan yang berisi beberapa cangkir teh dan berjalan menuju pintu dapur. Belum sampai ia keluar dari dalam dapur ini, kakinya malah mundur selangkah. Naruto melihat ekspresi aneh Sakura dengan sesuatu yang didengarnya dari luar dapur.

Dari dalam televisi, sebuah siaran berita yang melaporkan bahwa sebuah Rumah Sakit—yang Naruto tidak terlalu jelas mendengar namanya—menyebutkan bahwa telah kehilangan seorang dokter yang dapat membuat sebuah perubahan dari dalam Rumah Sakit tersebut.

"Ya ampun, dokter ahli gizi itu tega sekali ya, tahu-tahu menghilang padahal benar-benar diharapkan untuk bekerja sama dengan Rumah Sakit itu," komentar Kushina dari ruang tamu yang masih dapat mereka dengar dari dalam dapur.

"Padahal ia berbakat. Kadang-kadang jika orang sudah merasa hebat ia malah keluar sendiri dari dalam perusahaan. Apa dia tidak tahu jika mencari pekerjaan itu susah?" ujar Minato menimpali.

"Dan kedua orangtuanya bilang bahwa anaknya menghilang dari rumah. Melarikan diri entah kemana. Pasti dia punya masalah yang berat, atau dia tidak pernah bersyukur dengan bakat yang ia punya?"

"Hah, ada-ada saja ya, sayang?"

Sakura masih bergeming di ambang pintu dapur. Wajahnya mendadak kaku dan ia seperti seekor tikus yang baru saja terkena jebakkan lem yang lengket. Naruto dapat melihat itu. Pasti ada kaitannya dengan Haruno Sakura.

.

.

.

[tbc]


Hallo, terimakasih untuk yang mereview kemarin : Maple23, lora bozz 29, Dirly698, Guest (hohoh, terimakasih sudah RnR), Arata Aurora, Ae Hatake, ara dipa, IrfaanFanday, adam muhammad 980, boy (pffft, kali ini apdetnnya cukup lama, sory yak XD apakah chap ini sudah romantis hehem?), ElleoraNS, namikazehyunli, berry uchiha, SR not AUTHOR, Justice DrAgon, Guest (akakka, emang ada gak ya kehidupan nyata kayak mereka? Terimakasih sudah membaca), hikikaze naoe, kiutemy, amie haruno (wah, terimakasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca), Zii mawar choklat, Yuuki Namikaze, Rizka scorpiogirl, manlyBastard (hallo, makasih sudah membaca sebelumnya, Man *bingung mau panggil apa* aku suka banget kok komentar kamu, buat aku punya imajinasi lain*?* kalau menurut aku pribadi yah, aku punya feelnya saat Naruto jatuh cinta ke Sakura aja. Tapi, aku juga berusaha ngerasakan jatuh cintanya Sakura ke Naruto), Zhai19, asdf (wakakak, tumben ngaku senyum baca fanfic ini :p), FoxyNamikaze07, nslover (hallo, terimakasih sudah membaca haha aku suka pendapat kamu, ikuti terus ya ceritanya kalau begitu), Azuma Sarafine (Wah, dijadikan fav story ya? hihihi, iya makasih ya semangatnya. Sangat membantu sekali dalam pengerjaannya :3), haru no hira (Iya, ini sudah tak lanjut)

Maaf ya, jika ceritanya memang datar-datar aja dari beberapa chapter ke belakang hahah khusus untuk fanfic ini memang begitu kok, baru deh chapter depan ada beberapa masalah. Dan itu juga gak gede-gede amat. Semoga readers masih mau mengikuti ceritanya.

Oh iya, sedih rasanya jika mengingat saya gak bakal nemuin Maple23 aka Airin lagi berucap dalam kotak review HoN ini (soalnya dia sempet janji bakal review terus sih XD) Saya sudah kehilangan dia. Dan sangat menyesal sekali jika saya tidak mengabulkan keinginanya untuk menyelesaikan fanfic ini sesegera mungkin :') ini sudah hampir satu bulan kamu pergi ya, sayang. Dan chapter ini aku persembahkan untuk kamu, Airin.

-Thanks for reading-