Disclaimer : Applied
Warning : AU, OOC, Typos, Fanfic datar bebas hambatan (?)
House of Nutrient
Chapter 12 : My Sweet Roommate.
.
.
.
Kalau boleh memilih, Sakura lebih baik segera melempar dirinya ke kasur. Memencet volume full pada AC—lalu tidur dengan tenang selagi Naruto pergi ke pesta pernikahan. Namun itu tetap hanyalah sebuah keinginan yang lewat.
"Aku tidak punya gaun, lebih baik aku tidak ikut." Keinginan sebelumnya hanya bisa Sakura lampiaskan pada sofa ruang tamu apartemen ini. Menyenderkan kepalanya agar aliran darahnya berjalan dengan baik.
"Ayolah, Sakura-chan. Hanya tidak punya gaun, kamu tidak mau menemaniku?" Naruto memohon dengan alis yang bertaut. Padahal agenda akhir pekan sudah tersusun dengan sempurna. Membeli kado Hinata, mengajak Sakura makan di luar, berkeliling di sekitar daerah Konoha, lalu berkunjung ke Kirigakure, semuanya sudah dijalani tepat pada waktunya. Lalu, kenapa pada agenda terakhir wanita itu malah tidak menyempurnakan susunannya?
"Apa kamu mau, aku pergi dengan seragam baby sister?"
Imajinasi Naruto langsung membayangkan Sakura tengah menggunakan seragam berwarna merah mudah sementara salah satu tangannya memegang botol susu. Baby sister kan pengasuh anak. "Baiklah, kita mampir ke butik dulu sebelum ke sana. Kurasa masih sempat karena sekarang masih jam lima."
Sakura menggeleng mantap. "Aku tipe orang yang susah memilih gaun, akan butuh waktu lama jika melakukan itu. Sudahlah, kamu pergi sendiri saja ya!" setelah mengatakan itu, wanita itu bergerak masuk ke dalam kamarnya.
Mungkin tidak usah datang saja sekalian.
Sebuah panggilan telepon menyita perhatian Naruto untuk memandangi layar ponselnya—dengan nama Tenten yang tertera di sana.
.
.
.
Mension Hyuuga sudah dipenuhi oleh beberapa mobil yang terparkir rapi. Orang-orang yang berjas formal dan bergaun anggun keluar dari tiap-tiap mobil. Dari pagi tadi, jalan raya yang berada di depan mension sedikit terganggu—karena begitu banyak mobil yang keluar masuk dari sana.
Siang tadi upacara pernikahan keluarga bangsawan sudah dilaksanakan. Sebagai seorang Hyuuga, mereka hanya akan menikah dengan Hyuuga pula, mereka tidak akan pernah melepas marga kebangsawanan sampai keturunan berapapun.
Hinata sudah mengetahui adat ini sejak lama, ia hanya bisa pasrah mendapati dirinya sekarang sudah menjadi seorang istri dari suaminya—Toneri Hyuuga. Padahal dulu Toneri hanyalah sepupu jauhnya. Ini benar-benar tidak masuk akal.
Kalau saja, kekasihnya yang dahulu bersedia membawanya kabur—meninggalkan keluarga ini. Hinata tidak akan berpikir dua kali untuk benar-benar melakukan itu. Jatuh cinta itu tidak mudah seperti para remaja SMA. Bukan hanya sekedar melihat dari fisik atau kebaikan hatinya. Ini menyangkut soal kenyamanan, kecocokan untuk membina suatu rumah tangga selama sisa hidupnya.
Toneri memasuki ruang ganti pribadi Hinata. Melihat suami Hinata tiba-tiba masuk ke sana, para penghias dan disainer yang berada di dalam keluar dengan tenang. Hinata masih bergeming di antara kedua kaca tinggi yang memantulkan lekukkan tubuhnya yang sempurna—tanpa cacat sedikitpun.
"Apa kamu gugup?" Toneri mendekat ke arah Hinata. Sebuah senyuman ia berikan. Selama ini mereka tidak pernah saling bertegur sapa. Dan sangat disayangkan sekali, malam nanti akan ada yang namanya malam pertama bagi mereka.
"Aku hanya gugup saat upacara pernikahan. Aku rasa resepsi tidak semenegangkan tadi siang karena pestanya tidak terlalu formal." Akhirnya Hinata mengalihkan perhatiannya.
"Ya, kau benar." Toneri bergumam. "Aku harap pada akhirnya kamu bisa menerimaku sebagai suamimu."
Ah, apakah sorot mata gelap Hinata tidak bisa berbohong untuk menampilkan sebuah kebahagian pada hari ini saja?
.
.
.
Dengan sangat terhormat, Tenten mengacaukan segalanya. Naruto meminta sekertarisnya itu mampir ke apartemennya untuk meminjamkan beberapa gaun yang ia punya. Sialnya ketiga gaun yang dibawakan Tenten bukan tipe yang begitu feminim sehingga Sakura harus setuju mengenakannya—karena harus mengakui gaun itu simpel dan terlihat cantik sekali.
Sakura menoleh pada Naruto yang tengah mengemudikan mobil. Dari sini bentuk rahang Naruto begitu tampak tegas, dengan ditambah balutan jas formal berwarna coklat susu tua. Astaga, sejak kapan ia setampan itu? Sejak kapan ini semua terjadi, berada di dalam mobilnya bukan sebagai orang asing atau pembantu lagi?
"Kenapa kamu memandangiku terus? Apa aku tampan?" Naruto menyadarinya sudah dari beberapa detik yang lalu.
Sakura langsung kembali pada lamunanya. Astaga, ini sedikit memalukan. "Apa tidak boleh?" semburat tipis terlihat di wajah Sakura. Menyebalkan memang tertangkap basah.
Naruto tertawa pelan. Rasanya agak berbeda sekarang. Berdua bersama orang yang disayangi dalam satu mobil, tidak seperti pertama kali bertemu yang ingin sekali menendang wanita ini keluar dari sini. "Tentu saja boleh. Tapi, lebih baik pandangi aku saat tengah malam saja. Ha ha ha." Melihat ekspresi Sakura yang berubah persuasif, Naruto langsung menyangkal. "Aku bercanda."
Kemudian perhatian Sakura berada pada kaca mobil di sisinya. Jalan raya agak sedikit ramai pada malam ini.
"Tenang saja, kita hanya sebentar mampir ke pesta. Aku juga lelah, Sakura-chan." Naruto membuka suara lagi karena ia tahu kondisi fisik dirinya dan juga Sakura sudah tinggal seperempat.
"Lama juga tidak masalah."
"Aku hanya ingin melihat Hinata memakai gaun pengantinnya saja, setelah itu kita tidak perlu berada di sana lagi."
Sakura mengamati raut wajah Naruto dan juga inti dari kalimatnya. Apakah Naruto dahulu pernah membayangkan Hinata mengenakkan gaun pengantin—lalu di sampingnya pria itu mendampinginya? Dan malam ini, Naruto seperti akan membuktikan khayalannya itu.
"Aku pribadi, tidak akan pernah datang ke pesta pernikahan seorang mantan kekasih," Sakura mengutarakan pendapat yang tidak pernah Naruto tanyakan padanya. Hanya terlintas dan ia ingin Naruto tahu itu.
"Kenapa?"
"Sudah jadi mantan berarti masa lalu. Masa lalu tidak perlu dijumpai lagi. Karena masa lalu tetaplah masa lalu. Seperti aku sekarang ini."
Naruto menelan ludahnya, perkataan Sakura ini agak sedikit serius.
"Kecuali, kalau kamu ingin menunjukkan bahwa kamu bahagia hidup tanpa dia ..." entah mengapa suara Sakura terdengar sarkastik. Sepertinya ia memang tidak menyukai acara ini. "Atau kamu ingin menyaksikan pernikahan yang tidak diharapkan ini tanpa kamu di sampingnya. Yang mana tebakkanku yang benar?"
Naruto tidak menjawabnya. Sakura menyesal pernah menanyakan ini. Andai keduanya adalah benar, kemungkinan jauh di dalam lubuk hati Naruto, ia masih mencintai Hinata—tanpa ia sadari tentunya.
.
.
.
Saat masuk ke mension Hyuuga ini, Sakura hanya diam saja. Rasanya ada satu kekecewaan masuk ke dalam sini. Ia tidak berhak bangga karena berhasil merebut hati mantan kekasih dari mempelai perempuan di sini.
Untung saja acara resepsi malam hari ini bukanlah acara formal yang banyak mengundang para pejabat tinggi dan juga para orangtua. Rata-rata tamu yang hadir di sini wajahnya masih terlihat muda—sepertinya acara malam ini adalah perkumpulan para remaja dari teman-teman sekolah kedua mempelai.
Alunan musik dari biola mengudara di dalam mension ini, beberapa pasangan turun ke lantai dansa menikmati suasana dan juga aliran musik. Benar-benar pesta yang tenang, tidak seperti tipe pesta rakyat jelata dengan musik yang keras.
Tenten mendekat bersama Sai. Dalam sudut pandang Sakura, mereka sangat serasi. Yang satu sangat suka berceloteh. Yang satunya tinggal menimpali.
Taraa! Mereka adalah sepasang kekasih seperti kompor dan gas. Di mana ada Naruto, mereka akan mem-bully. Apalagi ada seorang wanita cantik di sampingnya.
"Ah, Sakura. Tidak menyangka kalau gaun itu sangat cocok denganmu. Aku suka kau memakainya."
"Terimakasih atas gaunnya." Sakura merasa malu harus bertemu dengan orang yang meminjamnya gaun. Ia benar-benar merasa sebagai gadis miskin yang tak punya apa-apa. Sakura hanya bisa membungkuk ke arahnya.
"Tidak perlu berterimakasih padanya, lagipula gaunnya nanti akan kuganti dengan yang baru," Naruto mencibir.
"Kalian ini serasi sekali ya?" ujar Sai dengan senyum tanpa ekspresinya.
Tenten tertawa. "Jangan malu-malu begitu Naruto. Aku doakan semoga kalian cepat menyusul Hyuuga ya!"
Naruto menggaruk lehernya canggung, sementara Sakura menghentikan seorang pelayan yang lewat untuk mengambil dua cangkir limun yang berada di nampannya.
Di salah satu sudut, Hinata melihat Naruto berdiri bersama rekannya. Wanita itu berjalan mendekat ke arah pria ini tanpa kesadarannya—meninggalkan beberapa teman perempuan yang sedang mengerumuninya.
"Selamat malam. Terimakasih sudah datang ke acara ini."
Tenten, Sai, Naruto dan Sakura langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Hyuuga-san!" Tenten membungkuk, Sai hanya tersenyum. Sementara Naruto menandaskan gelas limunnya dengan acuh.
"Kau meninggalkan mempelai pria?" Sai tidak melihat Toneri mendampingi Hinata di sampingnya.
"Dia juga sedang ada obrolan penting dengan teman lama. Aku pikir aku juga harus menemui teman lamaku."
Sakura memandang Hinata dari bawah kaki sampai ujung rambut. Ia benar-benar wanita bangsawan yang sempurna. Hinata menggunakan gaun bergaris leher sabrina, gaunnya hanya sebatas dengkul, sementara pita belakang sepanjang dua meter menyentuh tanah, membuatnya benar-benar sebagai putri. Apakah ini yang pernah Naruto bayangkan sebelumnya?
"Oh, jadi begitu." Tenten melirik Naruto dari ujung mata sekilas. "Padahal sebentar lagi kami akan menemukanmu duluan. Tapi, malah kami yang ditemukan olehmu. Ha ha ha. Selamat atas pernikahanmu ya Hyuuga-san!"
"Semoga kalian berbahagia." Tambah Sai.
Hinata menggumakan terimakasih, lalu pandangannya beralih ke arah Naruto dan Sakura. "Semoga kalian semua segera menikah."
"Aku yakin, Tenten dan Sai akan naik ke pelaminan terlebih dahulu," komentar Naruto berlelucon.
"Tidak." Sai menggaruk lehernya. "Kurasa Naruto-san dan Sakura-san lah yang terlebih dahulu."
"Sakura?" ujar Hinata tidak percaya. Bukankah ia adalah pembantunya? Kecuali jika alasannya adalah Naruto sangat frustrasi mungkin bisa diterima.
Dalam satu detik pandangan Naruto melirik ke arah Sakura. Wanita itu sibuk dengan gelas limunnya karena pertanyaan itu bukan bagiannya untuk menjawab. "Ya, dia pacarku."
Ada perasaan aneh yang mengalir ketika wanita bersurai indigo itu mendengar pernyataan Naruto. Pengakuan dari Naruto mengingatkannya pada banyak kejadian. Pernyataan itu sering ia utarakan kepada semua orang yang meraka temui. Tapi, sekarang itu tidak akan pernah terjadi lagi.
Dengan paksaan, Hinata menarik senyum tipis. "Se-semoga kalian berdua bahagia." Keringat tidak sehat perlahan mengalir dari dahi Hinata. Ini sedikit buruk.
"Selamat atas pernikahanmu," kali ini Sakura baru membuka suara. Ia akan merasa jahat jika hanya diam saja. "Semoga selalu bahagia."
"Terimakasih."
"Aku rasa di sini terlalu pengap, sebaiknya kami keluar dulu." Naruto berbalik membawa Sakura bersamanya, menuju ke luar ballroom mansion ini. Karena ia tahu, berlama di sini sungguh tidak baik. Wanita bersurai merah muda itu tidak memprotes, ia hanya mengikuti saran Naruto yang terlihat tak sopan.
Bagaimana pun Hinata tidak bisa mencegahnya. Ia hanya bisa mengeluarkan ekspresi datar yang sangat sulit sekali ditebak.
Ah, ia butuh istirahat sekarang juga.
.
.
.
"Apa yang kamu pikirkan?" akhirnya tangan Sakura terlepas, wanita itu menatap punggung Naruto dengan pertanyaan yang berputar pada otaknya. Tentang: apa benar Naruto tidak merasa bahagia melihat Hinata menderita—atau menunjukkan kalau pria jabrik itu sudah bahagia sekarang? Itu sombong sekali.
Diam-diam Naruto menghela napas, "Maafkan aku."
"Sebenarnya tidak sepenuhnya kamu salah." Yah, andai saja Naruto mengerti apa yang dirasakannya sendiri, mungkin Sakura tidak akan menebak-nebak. "Aku tahu kamu terlalu baik padaku. Apapun akan kulakukan untuk membalasnya. Tapi, untuk urusan seperti ini aku benar-benar tidak menyukainya."
"Dengar, Sakura! Aku tidak memanfaatkanmu. Semua ini..."
"Aku tidak bilang kamu memanfaatkanku." Dahi Sakura berkerut. Apa mungkin inikah yang sebenarnya?
Naruto tidak bisa menjelaskan apa yang ada di pikirannya. Saat ini hatinya begitu gelisah entah karena apa. Lalu, melihat wajah kecewa Sakura ada perasaan aneh yang menggelitik di hatinya. "Semua ini aku lakukan karena aku..." mencintaimu?
"Karena kamu sudah ditinggalkan?" Sakura tidak percaya mengatakan itu. Ia sadar, ada perasaan kecewa sekaligus cemburu yang mendatanginya. "Aku mengerti kok." Sakura mencoba tersenyum. "Jika seseorang sudah mencintai sesuatu, ia akan susah melepasnya kecuali jika orang itu sudah menyakitinya. Sementara Hinata, ia tidak sedikitpun menyakitmu. Ini terjadi karena bukan kehendak kalian."
"Tapi, aku yakin, aku tidak mecintai Hinata lagi karena sebelum kamu datang padaku. Aku sudah berusaha membuang perasaan itu."
Sakura menaikkan bahunya. "Aku bisa melihat kalau kamu begitu membencinya sekarang ini." Sakura menerawang langit malam tanpa bintang yang bertabur di sana, rasanya berat untuk mengatakan kalimat yang selanjutnya. "Itu semua karena kamu sangat mencintainya dulu. Itulah mengapa aku tidak mau menghadiri acara mantan kekasih saat menikah."
Jeda beberapa detik di remang cahaya lampu halaman lahan parkir mansion ini. Membuat keadaan sekitar semakin membeku.
"Kita pulang saja sekarang, aku lelah."
Mereka mulai berjalan lagi menuju ke mobil milik Naruto. "Kalau kamu malas menyetir mobil biar aku saja yang lakukan," Sakura berseru santai.
"Oh ya, Sakura. Dengarkan aku sekali lagi. Aku sudah lama membuang perasaanku pada Hinata sebelum kamu datang. Jadi, kehadiranmu di pesta itu bukan karena aku ingin menunjukkan Hinata kalau—"
"—Kamu sudah menjelaskan itu sebelumnya, bodoh!" Sakura langsung memotong kalimatnya.
"Sekali lagi aku minta maaf."
Sebelah alis Sakura terangkat. "Kamu juga sudah mengatakan itu."
Naruto menelan ludah, otaknya masih memikirkan hal-hal yang tidak masuk akal. "Aku benar-benar tidak memanfaatkanmu." Naruto membentuk V pada kedua jarinya. Menandakan sebuah perdamaian.
Sakura menurunkan tangannya. Sebenarnya ia ingin terkekeh karena tingkah konyolnya sudah keluar lagi. "Kamu juga sudah mengatakan itu."
"Aku juga tidak bermaksud kalau aku memintamu menemaniku ke pesta itu untuk melihat bahwa aku sekarang bahagia tanpa dia."
"Tolong jangan meracau, Naruto!" Mata Sakura menyipit. Ia mulai bosan dengan ocehan yang berulang-ulang kali harus ia dengar.
"Sudah lama aku telah melepasnya. Bahkan selama ini aku tidak pernah memikirkannya."
Sakura hanya menghela napas pasrah. Terus saja bicara berulang, sampai mereka berdua di sini kehabisan napas. "Sekali lagi mengulang menjelaskan aku akan memberimu tinjuan." Sakura sudah mengepalkan tangan kanannya bersiap akan menyumpal mulut pria itu.
"Aku mencintaimu, Sakura-chan."
Sakura mendadak terdiam. Ia tidak bisa berkata apa-apa untuk memarahinya lagi—memberikannya kata-kata mutiara yang terdengar sehat. Padahal kenyataannya ia-lah yang butuh kata-kata baru.
"Kali ini aku tidak mengulang penjelasanku, kan? Atau mau aku mengulanginya lagi?"
Naruto ingin mendekatkan wajahnya ke wajah Sakura. Tapi, Sakura terlalu cepat mengartikanya. Wanita itu segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Naruto.
Rasanya ia tidak salah bicara lagi, kan?
.
.
.
Dalam ruangan kantor Naruto, kebetulan hanya Shino yang menemaninya. Sementara Tenten dan yang lainnya sedang rapat di ruangan lain. Dari tadi Shino memperhatikan pria berambut kuning itu. Ia seperti memikirkan sesuatu tetapi Shino yakin, bukan urusan pekerjaan yang sedang dipikirkannya.
"Hm, Tenten bilang, nanti malam akan ada acara minum-minum sebentar. Sepertinya aku tidak bisa ikut. Aku akan langsung pulang saja." Shino berkata sembari berjalan mendekat ke meja Naruto.
Naruto melirik ke arah Shino. Ah, ia baru teringat ada pesta minum-minum lagi malam ini. Bukan secangkir bir yang ia perlukan sekarang. "Aku juga akan langsung pulang saja, karena beberapa hari ini aku mondar-mandir ke luar kota. Kuharap mereka tidak memprotes."
Selanjutnya, Shino tidak mengeluarkan suaranya lagi. Ia berniat akan kembali ke meja kerjanya dan mengurus beberapa mobilisasi kru dan unit.
"Tunggu sebentar, ada yang ingin kutanyakan." Mungkin, berbicara dengan orang yang hemat kata seperti Shino kelihatannya lebih baik.
"Ya, silahkan."
Naruto menggaruk lehernya canggung. Yang akan ia tanyakan ini tentang Sakura. Walaupun mereka berdua pernah bertemu sekali, Naruto tahu, Shino tidak akan seheboh respon Tenten. "Bagaimana menurutmu dengan seorang wanita yang meragukan orang yang menyukainya? Maksudku, aku punya teman, dia punya roommate yang sudah seperti pacar. Ia merasa bahwa pacarnya itu tidak terlalu menyukainya karena pacarnya merasa temanku itu masih menaruh perasaan dengan mantan kekasihnya. Padahal nyatanya tidak. Kurasa saling mengungkapkan perasaan bukan salah satunya jalan—apa kau mengerti dengan pertanyaanku?"
Rangkaian pertanyaan Naruto sebenarnya sedikit berbelit. Namun lamat-lamat Shino mencernanya. "Kau yakin dia itu temanmu?"
"Iya, dia temanku." Naruto melebarkan cengirannya. Kelihatannya Shino sedikit curiga. Tapi siapa yang peduli? Kalau boleh jujur, Naruto tidak terlalu punya banyak teman di kota ini mengingat ia adalah anak rantauan.
"Apa temanmu dan roommate-nya sering berhubungan?"
"Maksudmu?"
Shino menaikkan bahunya acuh. "Selayaknya hal sepasang kekasih? Tidak mungkin kau tidak tahu."
Wajah Naruto bersemu merah. Tidak menyangka otak Shino sedikit licik juga. "Mereka tidak pernah melakukan itu."
Shino menyeringai. Ini seringai pertama kali yang pernah dilihat Naruto. "Kalau begitu aku punya saran, sepulang dari kerja suruh temanmu itu beli sekotak pengaman rasa strawberry di mini market terdekat. Aku yakin, setelah temanmu membeli barang tersebut, ia tahu akan melakukan apa selanjutnya."
Naruto menelan ludahnya—mati-matian tidak memperbolehkan otaknya melayang nakal. Bisa-bisa Shino langsung mengetahui kalau itu dirinya. "Bukankah itu kekanakkan sekali?"
"Yah, itu hanya saranku saja sih. Apakah benar pacarnya mencintai temanmu itu. Bisa dibuktikan lewat pengaman itu."
Ternyata berbicara pada Shino pun sama saja tidak membantu.
.
.
.
Naruto bersyukur saat ia pulang kerja, Sakura menyambutnya seperti biasa. Memberikannya pertanyaan familier berupa: Mau makan dulu atau mandi? Walau Sakura sudah tahu jawabannya adalah mandi terlebih dahulu, wanita itu tetap akan melakukannya.
Sebenarnya tidak ada masalah yang pasti di antara mereka berdua. Hanya saja bagi Naruto, sepertinya perasaan Sakura-lah yang belum terlalu jelas. Sudah baik, Sakura memiliki perasaan yang sama (dalam pengakuan gadis tersebut) mungkin hubungan ini masih baru. Jadi, apa salahnya mencoba pendapat Shino walau sedikit nekat?
Di kantong piyamanya, Naruto sudah membeli sekotak pengaman strawberry itu. Setelah pulang dari bekerja ia menyempatkan diri ke mini market terdekat dan berharap bahwa Shino tidak menangkap basah saat ia bertransaksi di sana. Sementara yang lain, kemungkinan masih sedang berpesta minum-minum sampai mabuk berat dan muntah.
Ngomong-ngomong soal bir. Selama ini Naruto tidak pernah mengajak Sakura untuk minum bersama. Tapi, ia juga tidak tahu. Apakah Sakura mempunyai kebiasaan mengonsumsi minuman itu atau tidak. Sepertinya tidak. Karena selama ini Naruto tidak pernah melihatnya. Lagipula ia adalah seorang dokter. Ia pasti begitu menjaga asupan yang masuk ke dalam lambungnya.
Setelah makan malam yang menyenangkan selalu berakhir dengan duduk di depan TV bersama. Keadaan yang benar-benar menenangkan. Bahkan momen seperti ini—terdiam bersama sambil melihat televisi adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu bagi mereka.
Naruto meletakkan dua buah bir kaleng ke atas meja yang ia simpan di dalam kulkas. "Apa kamu mau minum ini, Sakura-chan? Kadar alkhohol bir ini cukup rendah loh."
Sakura meraih salah satu dari bir kaleng tersebut. "Sudah lama aku tidak minum." Terdengar bunyi suara gas yang dihasilkan dari mulut kaleng ketika kuncinya dibuka. Langsung saja bir itu diminumnya beberapa teguk kemudian ia taruh lagi sisanya di atas meja.
"Kukira kamu tidak suka minuman seperti ini." Kali ini giliran Naruto meneguk birnya dari mulut kaleng.
"Semua orang suka minum ini kok. Aku hanya minum sesekali saja asal tidak memabukkan."
"Oh, begitu."
Sakura menyandarkan kepalanya di bahu Naruto dengan santai. Sementara matanya tetap menatap layar televisi dengan seksama. Dari sini, Naruto dapat mencium aroma shampo pada rambut merah mudanya, menyimpan harum itu ke dalam memorinya.
Tangan Naruto terangkat membelai rambut wanita itu—perlahan. Kalau boleh jujur, Sakura menyukainya. Ia merasa nyaman diperlakukan seperti itu. Perlakuan pria itu cukup lembut juga. Apa ini yang sering ia lakukan pada—ah, seharusnya pikiran Sakura tidak ke arah sana. Ia hanya harus menikmati setiap momen itu tanpa memikirkan kemungkinan yang pernah terjadi.
Terhanyut suasana, kepala Sakura mendongak ke arah Naruto. Beberapa detik mereka saling tatap seolah sedang mengatakan sesuatu. Sakura menggeser posisinya. Tanganya menjalar bergerak ke sisi bahu Naruto untuk memeluknya. Sementara di pinggang wanita itu telah terlingkar lengan Naruto.
Mereka berbagi ciuman ringan. Beberapa detik, hingga napas mereka menghangat sendiri—membuat pipi beserta rongga dada terjalar panas.
Tidak sengaja tangan Sakura menyentuh saku yang berada di dada sebelah kiri Naruto. Di dalam sana seperti ada sebuah benda berbentuk kotak, mungkinkah kotak rokok? Sakura menarik mukanya. Memastikan benda dalam kantung Naruto yang ternyata sebuah kotak yang isinya bergambar strawberry.
What the fuck?
Ini sedikit menegangkan bagi Naruto melihat kejadian ini. Kalau bisa diulang waktunya. Ia taruh dulu saja kotak itu di dalam laci nakas di kamarnya.
"Bi-biar kujelaskan, Sakura-chan." Naruto sedikit tergagap mengatakan itu. Seketika wajahnya memucat dan ia siap mendapat tamparan bila perlu. Memang saran rekan kerjanya tidak ada yang bagus.
"Ini punyamu?" Sakura bertanya dengan raut tercengang—terlihat mengerikan di mata Naruto. "Untuk?"
"Jadi begini, tadi Sai—ah, maksudku Shino. Kamu tahu, pria pendiam yang berada dalam satu divisi denganku?"
Sakura menggeleng. Ia tidak pernah ingat rekan Naruto kecuali Tenten dan Sai.
"Dia menitipkan barang ini kepadaku—bukan, dia menyuruhku membeli ini karena ..." Naruto belum mendapatkan jawaban yang pas untuk berkilah. Ia mengusap wajahnya frustrasi melihat kejadian yang tidak pernah terbayangkan seperti ini.
Jangan ada pertengkaran setelah ini, hanya itu saja yang ia harapkan.
"Karena apa?" Sakura bertanya lagi.
Baiklah, saharusnya ia memang jujur saja sekarang. Daripada ia meracau tak jelas dan menyesal untuk selamanya. "Karena aku menginginkamu, Sakura-chan. Ya, karena itu!" akhirnya Naruto mengatakannya dengan pasrah. Terserah Sakura akan menganggapnya apa—lewd atau lebih buruk dari itu juga tidak masalah. Tapi, itu semua kenyataannya. Thanks God. Setidaknya sampai detik ini mukanya belum ditampar.
Sakura tertawa pelan. "Astaga, aku benar-benar shock melihat ini." Sakura tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.
"Maafkan aku." Naruto menunduk pasrah. Apalagi melihat ketawa Sakura yang seperti tengah mengejeknya. Padahal ini terbilang hal yang normal. "Kalau begitu kembalikan kotak itu."
Sakura tidak berniat akan mengembalikannya. Ia masih saja tetap memegang benda itu. "Untuk apa aku kembalikan ini kepadamu?"
"Biar aku buang saja."
"Aku saja yang membuang sendiri. Biar bisa kupastikan benda ini benar-benar lenyap."
"Sepertinya kamu tidak menginginkanku." Mulut Naruto mengerucut. Rasanya kecewa menyadari hal ini.
"Huh?" wajah Sakura sontak memerah. Pertanyaan macam apa itu? "Aku hanya tidak suka jika terburu-buru. Itu saja." Semoga kalimatnya ini bisa membuat otak Naruto berpikir positif.
"Oh, baiklah." Satu kecupan Naruto daratkan pada dahi Sakura. "Selamat malam kalau begitu."
Sepertinya ada yang marah di antara mereka.
.
.
.
[tbc]
Lucu sekali ya apa yang saya pikirkan pada chapter ini (lucu dalam artian apa dulu?) xD dan ratenya masih tetep T kok. Sebenarnya sedih loh, mengetahui kita akan menikah dengan orang yang tidak kita cintai—contoh lainnya sedih juga ditinggal nikah mantan dengan alasan bukan karena dia selingkuh. Tapi, karena aturan keluarga—stop, curhat! oTL.
Terimakasih para pembaca dan pereview kemarin.
Hikikaze naoe, Guest007 (makasih) , miez kiichi heafy madep (sudah next ya), elleoraNs (Wah, terimakasih. Walau datar masih ada aja yang suka XD), lora bozz 29, Deri Vlady, lutfisyahrizal, Geki Uzumaki, Guest (terimakasih), SR not AUTHOR, Awim Seluja, ara dipa, Guest(haha, perumpaan kamu boleh juga, makasih ya) , Ae Hatake, berry uchiha, AutumnSpring98, Haru no Hira (oh, terimakasih atas tanggapannya), FoxyNamikaze07, Indah wd, asdf, NenkcCubby, adam muhammad980, namikazehyunli, Rizka scorpiogirl, Senju-nara shira, amie haruno 995, balay67, Blank55 (nextnya sudah ya?), Chev Malakian D, Menma (untuk sekarang MinaKushi tidak dibahas lagi wkeke, perasaan OOC banget ya mereka. Btw makasih banyak yuaaach), Justice drAgon, dandidandi185, Azuma Sarafine (masak dengan orang yang dicintai masih dianggap pembantu xD makasih atas tanggapannya), uzuna akira.
Silahkan memberikan kritik atau pendapat untuk chapter ini biar lebih baik untuk nextnya XD
Thanks for reading.
