Disclaimer : Applied
Chapter 13 : I Can't Believe
.
.
.
Pagi berikutnya seolah terasa sangat cepat. Hari-hari yang berlalu seperti ini rasanya hanya seberat kapas. Yang menjadi masalah terbesarnya saat ini hanyalah bagaimana ia bisa menyelesaikan semua pekerjaan tepat waktu, bagaimana kulit tangannya terjaga tanpa harus mengunjungi dokter spesialis atau rumah kecantikkan lainnya, dan apakah ia boleh untuk menemukan sebuah hubungan baru di sini?
Berkali-kali Sakura mencoba menyangkal itu bahwa dirinya bukanlah wanita yang pergi dari rumah hanya untuk mencari cinta sejati yang sesungguhnya. Itu kekanakkan sekali. Tapi, percuma, semua sudah terlambat. Perlahan ia mulai jatuh cinta dengan orang yang ia temui setiap harinya. Dan orang itu selalu membuatnya tersenyum, kesal, melupakan tujuan awal ia menginjakkan kaki di sini. Sampai pada detik ini. Bahkan ia lupa sudah merencanakan apa sebelumnya.
Mengingat semua hal itu membuat bibirnya membentuk senyuman tanpa sadar. Andai saja ada orang yang sedang mengawasinya detik ini, mungkin ia akan dikira agak bermasalah pada otaknya.
Sekali lagi, Sakura melihat jarum jam yang berada di dalam dapur ini. Hampir setengah delapan dan Naruto belum ke luar kamar juga. Sakura sudah mengetuk pintu kamarnya untuk mengajak sarapan bersama dari setengah jam yang lalu—tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Mungkin sedang agak bermasalah karena kejadian semalam? Mungkin juga tidak akan ke kantor hari ini atau bisa jadi sedang ingin berdiet. Setelah dipikir-pikir Naruto tidak pernah berdiet.
Sakura sudah tidak ada waktu lagi. Sebelum jarum jam benar-benar menunjukkan pukul setengah delapan tepat, ia harus sudah duduk di dalam bus. Matilah ia kalau harus sampai terlambat ke Puskesmas.
Sakura segera berdiri—memindahkan mangkuk bekas sarapannya ke tempat pencucian piring. Ia membiarkan sarapan bagian Naruto tetap di atas meja. Biar saja seperti itu. Syukur-syukur kalau mau dimakan. Tidak juga tak masalah. Menyebalkan sekali melihat tingkah pria itu seperti ini. Sakura terus-terusan menggerutu dalam hati.
Saat Sakura tengah mencuci piring, ia merasakan salah satu bahunya berat dan sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Entahlah, Sakura tak tahu sejak kapan pria itu sudah berada di belakangnya—memeluknya hangat membuatnya hampir memekik kaget.
Gerak tangan Sakura tengah menyabun piring terhenti. "Kukira kamu masih akan bersikeras di dalam kamar."
"Ternyata aku tidak akan bisa berlama-lama marah padamu," ujar Naruto dengan nada manja.
Sakura hanya tersenyum malu-malu. Godaan Naruto selalu berhasil untuk terdengar bagus. Padahal detik sebelumnya ia ingin sekali membuang semua makanan yang tersisa untuknya dan membiarkan Naruto kelaparan saja.
"Kalau begitu makanlah sarapanmu yang sudah dingin itu." Tangan Sakura kembali bergerak menyelesaikan pekerjaannya.
"Tapi, sepertinya kamu akan segera berangkat ke Puskesmas."
"Memang sudah waktunya."
Naruto meringis mendengar itu. Pria itu masih belum ingin melepasnya walaupun Sakura akan menaruh piring ke dalam raknya.
Sakura sedikit memiringkan kepalanya untuk melihat wajah pria itu saat ini. Wah, Naruto sudah rapi rupanya. Ia sudah siap dengan setelan jas kantor beserta harum parfum khas miliknya.
"Naruto?"
"Hem?"
Bel apartemen berbunyi mengurungkan Sakura akan mengatakan sesuatu.
"Ada yang ingin kamu bicarakan?"
"Tidak jadi. Siapa ya yang bertamu pagi-pagi begini?"
"Entahlah." Naruto melonggarkan pelukkannya, membiarkan Sakura berjalan ke arah pintu depan untuk menerima siapa tamu tersebut. Apakah tamu itu tidak tahu jam-jam begini adalah waktu berangkat kerja? Awas saja kalau bukan masalah yang penting.
Kemudian Naruto memutuskan untuk duduk di meja makan dan menyantap sarapannya.
Saat Sakura membuka pintu itu, orang yang berdiri di depannya bagaikan seorang Shinigami yang tengah menatap ke arahnya dengan tajam. Bagaimana mungkin wanita itu dapat sampai ke sini?
"Ino?" Sakura tak percaya bahwa wanita itu benar-benar berdiri di hadapannya. Ini bukan mimpi karena ia baru saja bangun beberapa jam yang lalu. Tidak mungkin! Bagaimana bisa?
Wanita yang disebutkan namanya tadi tersenyum kecut seolah tidak menyangka dengan kondisi keadaan Sakura sekarang. Kepala gizi rumah sakit Hokaido kini hanyalah seorang pembantu di salah satu apartemen sederhana kota Konohagakure? Itu terlihat seperti mimpi buruk.
"Sudah cukup lama kita tidak bertemu, mungkin sekitar tiga bulan. Bagaimana kabarmu?"
Sakura bahkan lupa kapan semua ini telah dimulai. "Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja." Padahal ia dan Ino adalah teman lama. Entah mengapa detik ini rasanya berbeda. Untuk berbicara saja rasanya lebih baik menggunakan bahasa formal.
"Aku tidak akan mendengarkan penjelasanmu di sini. Jadi ..." Ino mengulurkan sebelah tangannya kepada Sakura. "Ayo kita pulang ke Hokaido sekarang."
Sakura tercengang beberapa saat. Sampai detik ini ia tidak sekalipun pernah berpikir untuk pulang bahkan dengan cara diseret paksa sekali pun.
Dari dalam dapur, Naruto merasa ada yang mengganjal. Sakura menerima tamu dan sampai sekarang ia tidak membawa tamu itu masuk ke dalam juga—jika benar itu tamunya. Karena penasaran, pria jabrik itu menyudahi sarapan dan bergegas ke luar.
Dari ruang televisi, Naruto bisa mendengar suara perempuan lain yang tengah berbicara kepada Sakura. Tapi, terdengar tidak bersahabat dan sedikit kasar.
"Kyaaa!"
Setelah mendengar teriakkan itu, Naruto segera berlari ke depan melihat apa yang ada di hadapannya. "Astaga, apa yang kamu lakukan, Sakura-chan?" Naruto belum mengerti ada masalah apa saat ini, antara Sakura dan wanita berambut pirang itu. Yang Naruto tahu, Sakura sempat mendorong Ino, membuat wanita itu mundur beberapa langkah.
Untung saja Ino memiliki keseimbangan tubuh yang bagus. Sehingga ia masih bisa menahan beban tubuh pada ujung hak sepatunya.
Sakura membuang mukanya ke arah lain.
"Apa anda tidak apa-apa? Ada apa ini?" Naruto segera membungkuk hormat sebagai permintaan maaf atas apa yang Sakura lakukan kepada Ino.
"Tidak perlu membungkuk seperti itu." tegur Sakura langsung pada Naruto. "Dia salah satu suruhan ibuku untuk membawaku ke rumah."
"A-apa?" Mata Naruto terbelalak. Ia segera menarik badannya dan mundur beberapa langkah—seolah baru mengetahui bahwa Ino adalah sarang virus yang mematikan. Huh? Sakura akan dibawa pergi? Hal ini sungguh mengejutkan.
Ino membungkukkan badannya kepada Naruto—membalas sikap hormat pemuda itu barusan. Dari tingkah laku pria itu dan Sakura sepertinya mereka bukanlah sebatas majikkan dan pembantu. Untuk sekarang, itu bukanlah hal yang penting bagi Ino. Yang terpenting adalah menyadarkan diri Sakura bahwa tempatnya bukanlah di sini.
"Aku tidak menyangka. Ada banyak hal yang sudah terjadi padamu semenjak kau hilang." Ino membuka suara lagi. Ia sudah kembali berdiri tegap seperti sebelumnya.
Sakura tidak berniat akan menjawabnya, karena seharusnya Naruto tidak mendengar percakapan hal seperti ini.
"Dengar ya sekali lagi. Aku bukan suruhan ibumu. Bahkan berbicara dengan ibumu saja aku tidak pernah." Ino mendesah pasrah. Untuk datang ke sini cukup mengorbankan beberapa hal. Harus berusaha mencari alamat ini hingga sempat tersesat dan kehilangan arah. Dan setelah menemukan tempatnya, hasilnya sungguh sia-sia. Mungkin memang seharusnya Ino mendukung apa kemauan Sakura saja. Terserah temannya itu mau jadi apa nantinya.
"Terserah." Sahut Sakura acuh. Entah itu benar atau tidak. Yang jelas kemungkinan tentu ada kaitannya dengan ibunya sendiri.
Ah, jam kerjanya sudah terlewat. Ia tidak bisa untuk terlambat datang ke Puskesmas. Salah satunya hal yang ada hanyalah membolos bekerja. Semua ini gara-gara Ino menghambatnya.
"Oh baiklah. Aku akan pulang ke hotel saja sekarang. Untuk beberapa hari ini aku ada di kota ini. Jadi, kalau kau punya waktu ajaklah aku keliling di sini!" Ujar Ino ketus, seolah tawarannya itu sebuah ancaman.
Mendengar itu Naruto bersiaga berdiri tegap di depan Sakura seolah sedang melindunginya dari kejahatan para penculik. Bisa saja itu terjadi. Dan kemungkinan Ino tak pernah mendapatkan izin dari Naruto untuk pergi bersama dengan Sakura.
Baru setelah itu, Ino turun dari apartemen ini. Pergi meninggalkan mereka entah ke hotel mana dengan harga diri yang sedikit direndahkan.
Naruto belum bisa pergi bekerja sekarang. Kondisi Sakura saat ini sedikit memprihatinkan. Sebuah insiden kecil tadi sempat membuat wanita yang dicintainya itu sedikit gemetaran. Padahal Sakura sudah bersusah payah menyembunyikan ketakutannya itu dan menganggapnya bukanlah hal yang besar. Tetap saja, mata biru Naruto masih dapat melihatnya.
Mereka sudah mengetahui tempat ini, salah satunya jalan adalah menghibur Sakura. "Apa kita perlu pindah ke apartemen lain?"
"Tidak perlu. Aku tidak apa-apa. Itu bukan masalah yang besar," ujar Sakura berusaha santai seperti biasa. "Kamu pergilah bekerja. Jangan cemaskan aku."
"Bagaimana bisa aku tidak mencemaskanmu?" Naruto meraih kedua tangan Sakura lalu menggenggamnya. Ia berharap dengan begini gemetar dari badan Sakura sedikit teratasi. "Sakura-chan, kamu tidak perlu takut seperti ini. Ada aku yang akan melindungimu. Suatu hari kalau kamu siap pulang ke rumah, aku pasti akan di sampingmu."
Sakura menggeleng. "Tidak semudah itu, Naruto."
Naruto tersenyum lembut ke arahnya. "Ya, aku mengerti. Saat dimana kamu siap pulang. Kapan pun itu. Aku akan selalu berada di sisimu."
Mendengar itu Sakura langsung memeluk Naruto dengan erat, menyandarkan kepalanya pada dada bidang pria itu. Tangan Naruto naik mengusap kepalanya. Lebih berusaha menenangkannya agar lebih santai dari sebelumnya.
Sakura merasa beruntung ada seseorang yang dapat melindunginya dari kemarahan sang ibu kapan pun itu. Semoga selalu seperti ini. Setidaknya untuk saat ini walaupun ia tidak punya orangtua di sisinya, ia masih punya Naruto.
.
.
.
Sudah hampir larut malam suara Ambulan terdengar sangat keras memasuki kediaman Haruno. Begitu mendadak panggilan ini. Seorang pasien dengan kadar kesadaran yang hampir hilang harus segera ditangani secepatnya.
Penderitaan ini cukup beruntun. Setelah ia harus kehilangan anak satu-satunya yang entah pergi kemana—hingga sampai sekarang belum terdengar kabarnya. Dan kemudian sang suami pula yang sudah tidak bisa bertahan dengan kesehatannya.
Ya, Kizashi mencari Sakura hampir seluruh waktu yang dikerahkannya pada satu bulan terakhir ini. Ia sudah cukup lelah pergi ke beberapa kota untuk mengendus jejak putri kesayangannya itu—dan berujung dengan hasil yang sia-sia, mengakibatkan kondisi jantungnya semakin melemah.
Beberapa perawat membawa Kizashi naik ke atas brankar lalu mendorongnya masuk ke dalam Ambulan dengan cekatan.
Napas Kizashi tersengal. Dadanya benar-benar terasa sakit namun kesadaran masih bisa ia rasakan—sayup-sayup ia mendengar istrinya menangis di sampingnya dengan suara tertahan. Beberapa perawat duduk di samping istrinya. Mereka terlihat seperti malaikat—mungkin karena seragam putihnya?
Sakura.
Bisakah ia berjumpa dengan putri kesayangannya itu sebelum ia pergi dari dunia ini?
Mengetahui hal itu Gaara merasa bersalah. Ia sudah membuat sebuah kesalahan yang besar karena masih merahasiakan hal ini kepada Kizashi. Keberadaan Sakura bukanlah hal yang harus ia simpan sendiri untuk kebaikan wanita bersurai merah muda itu. Ini sebuah kebodohan. Seharusnya dari awal ia tidak melakukan ini.
Hanya satu yang akan Gaara lakukan, ia akan menelpon Yamanaka Ino.
.
.
.
"Naruto ... ini sudah hampir jam setengah tujuh. Aku belum membuat sarapan. Lepaskan aku, ok?"
Naruto menggeleng, ia bergumam mengatakan tidak, tidak dan tidak. "Aku ingin sarapan di sini," lagi-lagi nadanya benar-benar manja. Membuat Sakura harus mengakui kalau ia cukup menggemaskan dan sedikit—ehem hot, maybe?
Sakura berhati-hati meneguk ludahnya. Niat awal akan membangunkannya untuk segera bergegas bersiap bekerja malah terhambat di atas kasur berantakkan pria ini. "Tidak ada makanan di sini. Kamu akan ke kantor sebentar lagi."
"Jangan katakan soal kantor. Aku sedang pusing dengan pekerjaan akhir-akhir ini."
"Memang ada masalah apa?"
"Hm, ada banyak sekali data yang kacau. Kami harus menyusun dari awal laporan bulan ini."
Sakura sedikit mengangkat wajahnya, ia melihat Naruto ternyata masih tengah memejamkan matanya. Jangan-jangan pria itu mengigau.
"Kau hangat Sakura-chan." tanpa beban Naruto mengatakan itu dengan cengiran terlebar. Mungkin memang benar ia masih mengigau.
Wajah Sakura bersemu merah. Wajar saja badannya hangat karena Naruto begitu erat memeluknya. "Aku juga akan pergi ke puskesmas. Tolong menyingkir dulu ya?"
Naruto terus saja menggumamkan 'hmmm' entah ia berbicara apa. "Tugasmu sekarang tidak usah lagi berberes-beres. Tugasmu harusnya berada di sisiku selamanya."
Wajah Sakura semakin memerah mendengar itu. Apakah ini seperti sebuah lamaran? "Aku juga harus berberes, baka."
"Apa aku harus mendatangi rumahmu di Hokaido untuk meminta izin?"
"I-izin?" Sakura sudah merasakan detakan jantungnya yang lumayan kencang. Dengan jarak sedekat ini, ia yakin Naruto pasti akan merasakannya.
"Kamu mau menikah denganku?"
Mendengar itu dada Sakura terasa menghangat. Ia tidak pernah menyangka akan mendapatkan pertanyaan itu secara spontan dan dengan timing yang buruk. "Lamaranmu payah," desis Sakura sembari mengulum sebuah senyuman.
Naruto membalik posisinya. Wanita itu sempat memekik karena pergerakan mendadak dari pria itu yang membuatnya kini berada di bawah. Sementara selimut tebal Naruto tetap membungkus mereka walau agak sedikit berantakkan. "Hm ... berhentilah bekerja di Puskesmas. Untuk apa lagi?"
"Heh, kenapa begitu?"
"Aku tak suka kamu bekerja ..." Naruto membenamkan wajahnya ke persimpangan leher Sakura. Menghirup aroma khas dari tubuh wanita itu. Sakura merasa tergelitik. Napas Naruto benar-benar mengganggu aliran darah di bagian lehernya.
"I like you very much, Sakura-chan."
"Like you more."
.
.
.
Naruto harus lembur malam ini karena laporan yang kacau balau itu. Presentasi untuk rapat akhir bulan akan ada pada jumat pagi nanti dan devisinya belum merevisi semuanya. Ia berharap tidak mengecewakan atasan saja pada Jumat nanti.
Shino masuk ke ruangan dengan santai. Mungkin ia baru saja pulang dari makan malam di kantin kantor ini dengan yang lain. Sementara Naruto membiarkan sel otaknnya berdenyut. Semua bawahannya makan malam. Ok, pekerjaan atasan memang yang paling berat.
"Naruto, ada yang mencarimu di bawah," beritahu Shino mendadak.
Oh, apa Shino sedang berbicara padanya? Kesadaran Naruto sudah mulai menipis. Sepertinya lembur hari ini cukup sampai di sini. "Siapa?"
"Seorang wanita cantik," entah mengapa ekspresi Shino terkesan menggodanya.
Kesadaran Naruto mendadak terkumpul lagi. Kemungkinan besar itu Sakura yang akan menjemputnya. Kalau benar Sakura menjemputnya kemari, kenapa tidak mengabari terlebih dahulu? Ok, pekerjaan memang cukup sampai di sini.
"Baiklah, sekarang giliranku makan malam kalau begitu." Naruto bergegas mematikan komputernya, membereskan handphone dan beberapa peralatan lainnya ke dalam tas.
"Apa dia pacarmu?" Shino bertanya lagi karena melihat kelakuan Naruto yang terlihat hidup.
"Mungkin lebih dari itu." sambil mengatakan itu Naruto tersenyum lebar. Kemudian ia berjalan di hadapan meja Shino. "Apa kau punya saran untuk makan malam kami sekarang?" walau Naruto tahu, saran Shino tak mungkin bagus, ia tetap berbasa-basi untuk bertanya.
"Berikan dia sebuah cincin?"
Naruto terdiam mendengar saran cemerlang Shino itu. "Astaga, kenapa aku tidak memikirkan hal itu?" Naruto ingin sekali membenturkan kepalanya ke meja dengan keras. Tadi pagi ia sudah berani bertanya hal serius kepada Sakura tanpa berpikir untuk membelikannya cincin. Semua ini gara-gara laporan yang membuat otaknya tidak bagus. Dasar laporan sialan.
"Terimakasih Shino, kau memang jenius!" Setelah mengatakan itu, Naruto keluar dengan sedikit tergesa—karena tidak ingin seseorang yang menunggunya menjadi bosan.
Pada kenyataanya Shino hanya memberikan ide yang biasa saja.
Sampai di ruang tunggu tamu, Naruto tak menemukan Sakura di sana, ia hanya melihat wanita berambut kuning yang dikuncir kuda, melambaikan tangan ke arahnya. Astaga, kenapa wanita itu malah ada di sini sekarang? Harusnya ia pulang saja ke Hokaido sana.
Jadi, bukan Sakura? Ternyata Sakura sudah mengambil alih semua pikirannya sehingga ia tak bisa memikirkan kemungkinan wanita lain yang tengah ingin bertemu dengannya.
Ino mengatakan ada hal yang ingin ia bicarakan sekarang. Hal penting yang berkaitan tentang Sakura. Awalnya Naruto sempat menolak dan mengatakan ini sudah malam, sudah seharusnya ia pulang saja. Tapi, wanita itu tetap bersikeras memaksanya untuk makan malam bersama di kafe terdekat.
Setelah mereka berdua sampai ke sebuah kafe terdekat. Naruto menyempatkan diri untuk mengirimkan Sakura sebuah pesan bahwa ia akan pulang sedikit telat malam ini. Tentunya ia akan tetap membutuhkan makan malam dari masakkan Sakura setelah pulang nanti.
"Astaga, aku nyasar beberapa kali mencari kantormu, untung saja kau belum pulang sehingga kita bisa bertemu sekarang," ujar Ino membuka obrolan ini duluan.
"Baiklah, katakan saja apa yang ingin kau bicarakan."
Ino belum memulai pembicaraannya sebelum dua cangkir kopi panas berada di hadapan mereka. "Sebenarnya aku ingin menemui Sakura. Tapi, aku teringat saat dia mendorongku dengan kasar." Ino memegang kepalanya, ia masih tidak menyangka diperlakukan seperti itu.
"Kurasa perlakuan itu memang pantas kau dapatkan," ujar Naruto dalam hati. Kemudian Naruto menyeruput kopinya dengan perlahan.
Setelah Ino meneguk sebagian kopinya ia mulai berkata lagi. "Aku bersyukur ternyata Sakura bertemu orang yang baik sepertimu, bukan bertemu dengan orang yang akan memanfaatkannya."
"Yah, begitulah." Naruto menggaruk pipinya karena mendapat pujian dari wanita itu. Mungkin berarti kalau Ino mendukungnya bersama dengan Sakura.
"Oh ya, ada yang ingin aku tanyakan padamu."
"Silahkan saja."
"Apa kau tahu siapa Sakura yang sebenarnya saat ia berada di Hokaido?"
Tentu saja Naruto mengetahuinya walau Sakura tidak menceritakan semuanya secara rinci. "Seorang dokter di salah satu rumah sakit ternama yang kabur dari rumah?"
Ino mengangguk-angguk. Walau jawaban Naruto kurang sempurna tapi masih bisa diterima. "Orang biasa menyapanya dr. Haruno. Ia adalah seorang kepala ahli gizi di rumah sakit umum Hokaido yang secara mendadak menghilang dari kota itu. Ia cukup populer dan menjadi inspirasi bagi mahasiswa kesehatan di Hokaido. Aku yakin kau suka menonton berita. Saat ia menghilang ia harus mendapatkan sanksi atas tindakkannya sendiri."
"Jadi, Sakura cukup populer?" Naruto sudah mengira ini dari awal saat ia mendengar berita di rumah orangtuanya. Tapi, ia masih belum tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi.
"Yah, kurasa masih populerlah aku. Ho ho ho ..." Ino membuat lelucon secara mendadak di tengah perbincangan serius ini.
Oh ayolah, Naruto hanya akan mengabaikan hal itu. "Lalu, sanksi apa yang ia dapatkan?"
"Satu bulan yang lalu ia dinyatakan kabur dari tugas wajibnya dan melanggar sumpah dokter. Pihak rumah sakit merasa kecewa karena sudah begitu percaya dan akhirnya terkhianati dengan kinerja dari dr. Haruno. Padahal penemuannya cukup bagus tentang seputar makanan rumah sakit dan asupan gizi para pasien." Raut wajah Ino terlihat serius.
"Semenjak ia pergi meninggalkan rumah sakit entah kemana, kondisi rumah sakit agak menurun. Akreditasi gizi juga menurun dan rumah sakit itu hanyalah seperti rumah sakit biasa. Tidak terasa spesial seperti sebelumnya."
Naruto menyimak cerita itu dengan seksama. Mendengar kebenaran rasanya sedikit menyesakkan. Ternyata Sakura menyimpan beban ini sendirian.
"Dan sanksinya dari semua perbuatan yang Sakura lakukan adalah lisensi kedokterannya akan dicabut. Makanya aku datang kemari untuk menyelamatkan itu, tapi dia malah mendorongku. Teman macam apa dia memperlakukanku seperti itu!"
"Apa Sakura sudah tidak peduli lagi dengan lisensinya?" tanya Naruto meyakinkan.
"Sepertinya begitu. Tapi, sudahlah. Itu urusan masa depannya. Tidak mau ya aku tidak memaksa. Asal dia tahu diri saja. Bahwa sekarang ia bukanlah dokter lagi."
Pelayan datang membawakan makanan pesanan Ino ke hadapan mereka. Naruto membiarkan Ino menyantap pancake saus apelnya dulu. Sepertinya wanita ini sedikit kelaparan. Sementara dirinya, tidak sedikit pun berniat memakan makanan yang berada di sana.
"Tapi, yang ingin aku katakan sebenarnya bukan itu," ujar Ino setelah ia selesai makan. Wanita itu meraih air putih lalu meneguknya sedikit. "Kali ini aku bergantung padamu. Aku berharap kau bisa membantuku demi Sakura dan keluarganya."
"Katakan saja, aku rasa aku bisa membantu."
Ino mengulum senyumnya. Pria di hadapannya ini benar-benar memiliki tekad yang cukup kuat untuk membantu Sakura. "Kemarin malam aku mendapatkan kabar dari seorang teman bahwa ayah kandung Sakura diobname di rumah sakit. Tentunya Sakura tidak mengetahui hal ini."
"A-apa?"
"Ya, kondisi keluarganya semenjak ia melarikan diri dari rumah cukup buruk. Aku tidak melihatnya langsung tapi aku mendengarnya. Aku harap Sakura segera pulang demi kesehatan keluarganya sendiri—kenapa tatapanmu begitu? Aku tidak berbohong!"
Naruto menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia memang sempat berpikir bahwa Ino tengah mengarang cerita agar misinya berjalan lancar. "Baiklah, teruskan saja."
Ino mendengus. "Ayahnya divonis memiliki penyakit jantung sudah lama sekali. Kemarin malam ia mendapati serangan jantung dan masih berusaha untuk bertahan berharap agar bertemu dengan Sakura. Tidakkah kau tersentuh mendengar cerita ini dan membiarkan Sakura kembali ke Hokaido?"
Beberapa saat Naruto terdiam. Ia tengah menyusun rencana di dalam otaknya. "Baiklah, kalau begitu aku akan memberitahu Sakura untuk hal ini. Aku akan mengantarnya pulang."
"Kau tidak perlu mengantarnya pulang," potong Ino cepat. Sepertinya Naruto telah salah sangka dengan permintaannya. "Kau hanya harus membujuk Sakura agar mau kembali ke rumahnya. Kondisi keluarganya sedang kacau. Kau akan dipenjara jika berani menunjukkan batang hidungmu di depan keluarga mereka, tentunya dengan tuntutan kalau kau sudah melarikan anak mereka."
Naruto tertawa pelan mendengarnya. Itu tidak akan terjadi karena ia tidak pernah bermaksud jahat. "Jangan mencoba mengancamku. Orangtuanya tidak akan melakukan itu. Memangnya aku telah melakukan hal apa yang sudah merugikan Sakura?"
Ino memiringkan kepalanya. "Kau tidak tahu saja bagaimana pola pikir orangtuanya."
Kedua tangan Naruto yang berada di atas pahanya mengepal. Ya, memang ia tidak tahu apa-apa tentang kehidupan Sakura sebelumnya. Jadi, apa ada masalah kalau ia bermaksud menentang?
"Aku sudah berjanji kepada Sakura untuk menemaninya jika dia akan kembali ke rumah."
Pria itu cukup keras kepala juga. "Aku kasihtahu sekali lagi. Kau tidak perlu melibatkan dirimu sendiri. Jika kau sudah masuk penjara, Sakura akan lebih menderita lagi." Ino berdiri dari kursinya. Tidak ada jalan lain selain membungkuk di hadapan Naruto dengan tulus, bila perlu Ino akan bersujud di bawah kakinya. "Aku mohon, bujuk Sakura untuk pulang. Jangan libatkan dirimu ke sana karena kau hanya akan membuat keadaannya semakin kacau. Tolong mengertilah kondisi masalah keluarga orang!"
Permintaan Ino bukanlah hal yang mudah. Secara tidak langsung ia mengatakan—mungkinkah harus merelakan Sakura dari sisinya?
.
.
.
[tbc]
Sambil ngetik ini nonton K-drama lawas Personal Taste, dengerin sountracknya yang supeeer romantis. Kyaaa! Agak gak fokus sih karena ada oppa Min ho, wwwwww. Tapi, sayang sekali hanya bisa nonton pas akhir-akhir episode aja /cry/ Butuh kasetnyaaa /oot
Balesan nonlogin.
Guest, hana : ok, sudah tak lanjut yaaa.
EdyBrrr : wakakak, tapi kalo kepengenan gak disalurin kan gak enak xD
Guest : hm, sebenernya jadian gak jadianlah ya, soalnya cara orang dewasa itu terkadang gak perlu yang satu nembak yang satu nerima. Kalo tidak ada penolakkan berarti satu sama lain saling setuju. Karena mereka berdua di sini gak kepikiran untuk cari pacar. Ngerti kan? Nyehehhe. Salam hangat juga :*
Asdf : wakakka udah termasuk greget yak?
NenkcChubby : apanya ya neng yang pendek? Hahah, tapi makasih ya sudah repot-repot review nonlogin nih.
P teluan : iyaa, ntu masih lama. Thanks :D
CAR : yep, kita liat aja ya. Makanya pantengin terus hihihi.
Yuuki Namikaze : Eh, jangan dikunyah tuh hapenya. Kasiin amai aja XD
Hem, rencananya chapter 15 tuh udah tamat dan kayaknya bakal lebih panjang beberapa chapter deh. Konfliknya aja baru muncul nih Heheh semoga gak bosen ya?
Thanks for reading *tebar kissbye*
