Peringatan : Fanfic datar feel free (?) AU, OOC, typo(s)
Disclaimer : Applied.
Chapter 14 : Its Can Drug me Down.
.
.
.
Saat pintu ruangan sudah terbuka, satu persatu orang-orang bersergam formal itu keluar. Dari beberapa jam yang lalu, ruangan ini diisi dengan rapat yang dihadiri oleh beberapa staff pegawai. Dan hasil rapat tersebut benar-benar terdengar buruk.
Naruto tidak pernah merasa sekecewa ini. Ada banyak sekali protes yang ia dapat ketika rapat tadi berlangsung. Padahal ia yakin, perusahaan ini akan mendapatkan persetujuan surat kontrak dari pengusaha Sanghai sesegera mungkin. Ia sudah membuat atasannya kecewa dengan kinerjanya. Ia juga tidak menyangka sempat mendengar manajer mengatakan isi dari proposalnya tidak mungkin dapat menembus ke pasar Cina.
Tenten dan yang lain juga merasa kecewa, padahal sudah berusaha untuk semaksimal mungkin tapi, hasilnya masih menggantung hampir beberapa bulan seperti ini. Tidak banyak yang bisa mereka perbuat kecuali lebih banyak belajar untuk waktu yang akan mendatang.
Beberapa berkas sudah rapi dalam tas plastik, walau kecewa masih tetap butuh makan juga setelah ini. "Ayo, kita rayakan kebimbangan ini dengan makan bersama!" Tenten melebarkan cengirannya berharap atmosfir di sekitarnya sedikit membaik.
"Ok, aku mau ke kamar mandi dulu untuk mencuci muka." Sai langsung keluar duluan dari ruangan itu—diikuti dengan Chouji yang membawa beberapa berkas untuk dibuang ke dalam tong sampah.
"Kau duluan saja, aku akan menyusul," Naruto menyenderkan punggungnya ke kursi. Ia tidak pernah merasa seburuk ini selama bekerja di perusahaan Rutan, seolah dengan kegamangan ini karirnya akan terancam berakhir.
"Baiklah, kami tunggu di kantin ya." setelah mengatakan itu, Tenten keluar dari ruangan ini. Sementara Shino, ternyata sudah tidak terlihat lagi dari saat rapat sudah hampir selesai.
Naruto memijat dahinya frustrasi. Perutnya tidak terasa lapar tapi, ia tahu sel dalam tubuhnya tidak akan menolak untuk menyerap sari makanan.
"Sepertinya kau terlihat sedikit kelelahan."
Naruto mengangkat wajahnya. "Oh, Kakashi-san ..." Naruto langsung berdiri dari kursinya. Kepalanya sedikit membungkuk. "Maafkan saya atas semua ini."
"Tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Masih ada jalan lain untuk meraih kesempatan. Penolakan belum dilakukan secara resmi. Kita hanya digantung saja, seperti dipermainkan."
Kakashi tampak menghela napas. Naruto tahu, jika Kakashi gagal masuk ke pasar Cina dalam tahun ini, kemungkinan posisinya sebagai presedir akan segera digesar. Dan kemungkinan besar juga jabatan pria jabrik itu pun bernasib sama.
"Aku dengar akan ada rapat sekali lagi di perusahaan milik tuan Danzou."
"Ya, kau benar. Akan lebih baik kalau aku segera ke Sanghai untuk menghadiri rapat tersebut dan meyakinkannya."
"Saya tentu akan mendampingi anda untuk menghadiri rapat tersebut dan bekerja keras semaksimal mungkin untuk mendapatkan kesempatan terakhir," ujar Naruto sedikit lebih tenang. Oh, syukurlah kalau memang masih ada jalan.
Kakashi tampak tertawa pelan untuk membuat suasana tidak terlalu kaku. "Kau ini memang bersemangat sekali, ya? Kalau begitu, aku mengandalkanmu."
.
.
.
Sakura sudah tidak yakin, apakah ia masih seorang dokter pada hari ini. Kode etik tidak bisa diharapkan lagi dan ijazahnya akan menjadi kertas-kertas yang tidak berguna. Rasanya sedikit menggelikan. Menuntut ilmu tinggi-tinggi tapi tidak bisa menolong banyak orang.
Sakura ingat. Ada banyak hal yang akan ia lakukan tapi masih belum bisa diwujudkan. Salah satunya adalah ingin berkeliling dunia. Ia ingin melihat isi dari seluruh penjuru di muka bumi ini, mendatangi tempat-tempat termiskin di dunia dengan tingkat gizi mereka yang sangat memprihatinkan. Mengumpulkan donasi dari seluruh dunia agar ia dapat membantu negara-negara miskin yang akan ia kunjungi tersebut.
Suatu perbuatan mulia. Tapi, tak akan berjalan dengan mudah jika ia bukanlah seorang dokter yang bisa dipercaya. Siapa yang akan memberikannya sumbangan kalau ia hanyalah wanita yang melalaikan tugasnya?
Hari ini Sakura sengaja datang ke Puskesmas tanpa seragam kerjanya. Ia hanya memakai rok pendek dan juga kemeja polos berwarna coklat untuk menemui kepala bagian.
"Permisi," Sakura masuk ke ruangan Tsunade, kebetulan orang yang dicarinya itu ada di dalam ruangannya.
"Oh, Sakura. Ada apa?" Tsunade heran kenapa Sakura tidak memakai baju seragam putih seperti biasa.
Sakura mengambil salah satu tempat duduk di hadapan meja kerja Tsunade. Ia menaruh sebuah amplop coklat ke atas meja itu. "Terimakasih sudah membiarkan saya bekerja di sini walau tidak lama, ada banyak hal yang sudah saya dapat dari pengalaman bekerja di sini." Sakura mulai berbasa-basi. "Hari ini saya mengajukan surat pengunduran diri. Saya harap anda menerimanya."
Alis Tsunade mengkerut. Ia tidak mengerti mengapa mendadak Sakura ingin berhenti bekerja. Jika dilihat dari kinerja, wanita itu tidak terlihat cukup kesulitan melakukan apapun tugas yang ia dapat.
Tsunade mengambil amplop itu, membuka isinya untuk dibaca sebentar. "Kenapa tiba-tiba memutuskan untuk mengundurkan diri? Padahal aku sangat menyukaimu bekerja."
"Maafkan saya. Saya tidak bisa mengatakannya karena alasan itu cukup pribadi."
Tsunade tampak menimang-nimang surat itu. "Kau tidak bisa berhenti tanpa memberikan alasan. Katakan saja, itu tidak akan membunuhmu, kan?"
Tidak ada jalan selain mengatakan alasan dadakan. "Saya akan menikah. Calon suami saya tidak suka saya bekerja." Wajah Sakura bersemu merah mendadak. Diimajinasinya tergambar wajah Naruto. Benarkah ia akan menikah? Sebenarnya ia masih belum percaya. Ah, tidak mungkin saja kalau ia mengatakan bahwa ia tidak pantas bekerja di bidang kesehatan lagi.
Tsunade langsung tertawa mendengarnya. "Ternyata masih ada ya laki-laki yang tidak suka pasangannya berkerja."
Sakura hanya bisa tersenyum malu-malu. Naruto adalah laki-laki yang berbeda dari laki-laki yang pernah ia temui selama ini. Ia memiliki sikap tanggung jawab dan sangat bisa dipercaya. Selama ini ia kira tidak akan ada laki-laki seperti itu.
"Memangnya kapan acara pernikahanmu?"
Sakura menggaruk pipinya—gerakkan canggung yang tanpa sadar ia lakukan. Sebenarnya mereka masih belum membicarakan hal itu secara rinci. "Saya pasti akan memberi kabar jika waktunya sudah tiba."
"Oh, begitu." Tsunade langsung menyimpan amplop coklat itu ke dalam laci mejanya. "Hanya itu alasannya kau berhenti bekerja?"
Sakura mengangguk. Dan kelihatan jelas sekali gerakkannya cukup terlihat ragu.
"Apa kau yakin?" tanya Tsunade sekali lagi. "Bukan karena kode etikmu dicabut oleh Departemen Kesehatan?"
Sakura langsung terdiam. Beberapa detik kemudian ia menarik senyum malu-malu. "Te-tentu saja, bukan."
.
.
.
"Ya, Naruto?" Baru saja Sakura keluar dari Puskesmas ia malah mendapatkan sebuah panggilan telepon.
"Kau ada di mana?" suara Naruto terdengar dari seberang sana.
"Aku sedang berjalan di pinggiran trotoar. Oh, ya aku baru saja mengundurkan diri dari Puskesmas. Kau tahu, kepala Puskesmas menebak aku mengundurkan diri karena kode etikku ditarik." Sakura tertawa sendiri. "Aku tidak menyangka ia bisa menebak dengan tepat sekali."
"Dia tentu bisa membaca pikiran orang lain."
Sakura hanya bisa tersenyum sendiri. "Bagaimana denganmu sendiri, apakah semuanya berjalan lancar?"
"Akan kuberitahu jika kita bertemu nanti."
"Kau ini curang sekali."
"Hei, ngomong-ngomong. Kalau sedang menerima telepon di pinggir jalan, jangan menaruh teleponnya di telinga menghadap ke sisi jalan raya. Itu berarti kamu memberikan kesempatan untuk perampok melirikmu."
Sakura langsung menyadari bahwa ia menaruh ponselnya di sisi sebelah jalanan. Ia langsung merubah ke posisi telinga sebelahnya. "Bagaimana kau tahu?" mata emerald itu langsung melihat ke sekitar, mencari sosok Naruto yang mungkin saja sedang mengawasinya. Pandangannya berhenti pada sebuah mobil hitam yang terpakir tidak jauh dari halte bus. Oh, itu pasti mobil Naruto.
Sakura segera menghampiri mobil tersebut lalu mengetuk kaca pintunya. Perlahan kaca itu turun memperlihatkan sosok Naruto yang berada di dalam. Misterius sekali. "Sejak kapan sudah ada di sini?"
Naruto memberikan senyuman lebarnya. "Baru saja. Ayo, masuklah ke dalam."
Sakura segera masuk dan duduk di samping kursi Naruto. "Apa kamu sudah pulang dari kantor?" tangannya menarik safetybelt dan langsung memasang benda itu.
Naruto segera menghidupkan mesin mobil, menggerakkan tuas gigi lalu segera menyusuri jalan mengikuti arus mobil yang lain. "Sebenarnya aku memiliki perjalanan bisnis secara mendadak. Aku harus segera berangkat ke Cina sore ini."
Sakura tampak terkejut, namun ia tidak terlalu memperlihatkannya. "Kenapa bisa mendadak? Memangnya berapa lama kamu bertugas di sana?"
"Mungkin satu tahun." Naruto memandangi ekspresi Sakura dari responnya barusan. Wanita itu mendadak terdiam dan pandangannya mendadak terhenti ke arahnya. Sepertinya ia sedikit tak rela. "Aku bercanda, hanya tiga hari saja." Lucu sekali melihat ekspresi Sakura seperti itu yang tanpa sadar membuatnya tertawa pelan.
Astaga, Naruto memang pandai dalam bercanda. Sebuah pukulan ringan Naruto dapatkan di lenganya atasnya. "Jadi, sekarang tugasku adalah membantumu mempersiapkan barang-barangmu untuk berangkat?"
"Tapi, sebelum itu. Kita harus kencan dulu ke suatu tempat!"
.
.
.
Naruto memutuskan untuk mengunjungi taman bunga yang letaknya tidak jauh dari apartemennya. Sebenarnya ia ingin pergi ke taman bermain atau fun world yang berada di lantai atas gedung mall Konoha, namun ia tidak yakin memiliki waktu yang banyak untuk mereka habiskan.
"Wow, aku tidak menyangka ada taman bunga seluas ini di Konoha," Sakura dibuat merasa takjub dengan pemandangan sekitar area ini.
Tidak terasa mereka sudah menghabiskan waktu beberapa puluh menit dengan berkeliling di taman ini. Melihat berbagai bunga serta papan penjelasan yang berada di setiap arenanya. Ada banyak pelajaran langsung yang bisa didapatkan dari informasi setiap bunga. Seperti mengetahui beberapa bunga langka yang hanya bisa bertahan beberapa hari. Semua bunga itu cantik sekali dengan berbagai macam karakter yang mereka miliki.
Naruto mengambil sebuah tempat duduk yang di atas kepalanya kelopak bunga sakura sedang berjatuhan. Ada beberapa pohon sakura di sekitar kursi ini. Karena mereka datang pada hari biasa, maka kursi-kursi kosong masih banyak tersedia.
"Apa kamu suka bunga, Sakura-chan?" Naruto bertanya karena melihat ekspresi Sakura yang sedikit antusias.
Sakura memutuskan untuk duduk di samping Naruto sebelum ia menjawab, "Tidak, ibuku yang sangat menyukai bunga. Makanya namaku diambil dari sebuah nama bunga." Sakura menengadahkan tangannya. Sebuah kelopak sakura mendarat di telapak tangan itu.
Mendengar Sakura menyebut-nyebut ibunya, perasaan Naruto berubah menjadi aneh. "Oh, benar. Kamu pernah mengatakan itu sebelumnya kalau tidak salah." Naruto kemudian berdiri. Ia harus membeli beberapa kaleng jus atas es krim untuk mereka nikmati bersama di sini. "Tunggu sebentar ya, aku akan segera kembali."
Sakura mengangguk. Ia terus mengawasi punggung Naruto berjalan agak sedikit tergesa ke luar taman sakura ini. Setelah punggung Naruto tidak terlihat lagi, pandangan Sakura teralih ke atas pohon. Bunga-bunga sakura yang berguguran ini, jika kelopaknya sudah habis—pohon itu butuh waktu lagi untuk menumbuhkan kelopak-kelopak penggantinya. Setiap tahun selalu seperti itu. Menumbuhkan bunga baru dan menggugurkannya hanya demi dinikmati oleh setiap manusia.
.
.
.
Dua kaleng jus jeruk dan dua es krim cup sudah berada di tangan Naruto. Sekarang ia sudah berjalan kembali menuju ke taman sakura.
Naruto teringat pertemuannya dengan Ino kemarin lusa. Ia tidak tahu apa yang bisa ia katakan kepada Sakura untuk sekarang. Membujuknya pulang tanpa dirinya, itu benar-benar tidak akan pernah terjadi.
Kaki pria itu sudah memasuki arena taman sakura. Dari kursinya Haruno Sakura sudah menyadari pria itu berdiri tidak jauh darinya. Wanita itu melambaikan tangannya sembari tersenyum untuk menyuruh Naruto segera mendekat.
Dengan melihat Sakura tersenyum, Naruto semakin bertambah berat untuk mengabulkan permintaan Ino. Menghela napas dalam akhirnya Naruto melangkahkan kakinya menghampiri Sakura.
"Terimakasih." Sakura menyambut es krim dari uluran tangan Naruto. Wanita bersurai merah muda itu langsung menyeruputnya. Rasanya manis sekali.
Beberapa detik mereka saling menikmati es krim masing-masing tanpa membuka sebuah obrolan. Sakura melirik ke arah Naruto. Ekspresinya jelas sekali sedikit kelelahan. Sepertinya pekerjaannya cukup memeras otak pria itu. "Wajahmu terlihat sedikit tertekan. Kenapa tidak coba bercerita kepadaku."
Naruto mencoba merubah mimik wajahnya agar nampak lebih baik. "Perusahaan kami seperti sedang dipermainkan, aku rasa ini berawal dari proposal yang telah kami susun."
"Aku rasa kalian sudah bekerja keras."
Naruto mengangguk. "Beberapa minggu yang lalu, direktur Danzou dari perusahaan Cina tertarik untuk menginvestasikan perusahaan kami ke pasar Cina. Divisiku bertugas untuk menyusun laporan itu berhari-hari. Namun, sampai sekarang ia malah tidak menepati janjinya."
"Wah, benar-benar pimpinan yang plin-plan memberi harapan kepada perusahaan orang." Sakura menggeleng-geleng mendengarnya. "Aku harap kunjungan kalian ke Cina nanti tidak sia-sia."
"Aku juga berharap begitu," ujar Naruto sambil tersenyum.
Sakura memberikan gerakkan semangat dengan mengepalkan kedua tangannya. "Naruto, fighting!"
Sakura memang yang paling pintar membuat Naruto tertawa. Rasanya kepenatan di dunia kerja sedikit berkurang. "Sebenarnya ada hal yang ingin aku bicarakan kepadamu."
"Apa? Katakan saja." Tidak terasa es krim Sakura sudah lebih dulu habis.
"Tidak, aku akan mengatakannya jika aku sudah pulang nanti saja."
"Hah, kamu membuatku penasaran saja. Katakan saja sekarang tidak apa-apa."
Naruto menggeleng mantap. Ia belum bisa menyampaikan pesan dari Ino sekarang untuk Sakura saat ia akan menjalani perjalanan bisnis. Sakura harus bersabar sampai ia selesai menjalani tugasnya. "Berjanjilah terlebih dahulu bahwa kamu akan menungguku sampai aku pulang. Jangan pergi kemana-mana."
Sebelah alis Sakura terangkat. "Apa yang kamu bicarakan? Aku ini pengangguran sekarang. Memangnya aku harus pergi kemana?"
Baguslah kalau begitu. Ia bisa sedikit tenang meninggalkan Sakura sendirian di Konoha. Dan Naruto hanya bisa mengambil alih tangan Sakura ke dalam genggamannya.
.
.
.
Ini bukan kali pertama Sakura sendirian di dalam apartemen milik Naruto. Entah mengapa sekarang agak terasa sedikit berbeda. Padahal baru beberapa jam yang lalu Naruto meninggalkan apartemen ini. Tapi, mengapa malah terasa lama sekali. Detik ini Sakura menyesal telah menjadi pengangguran.
Dari tadi Sakura terus-terusan memandangi layar ponselnya. Naruto bilang ia akan segera menelponnya jika sudah tiba di Cina. Namun, sampai larut begini, ia tak kunjung juga mendapati panggilan telepon itu.
"Apa yang harus aku lakukan besok ya?" Sakura memikirkan rencana yang bagus untuk mengisi hari-harinya tanpa pria itu. Ia tidak bisa membayangkan jika benar Naruto pergi selama setahun ke negeri tirai bambu itu.
Mendadak suara teleponnya berdering. Sakura segera mengangkat telepon itu dengan semangat yang bagus.
"Moshi-moshi."
"Kukira kamu sudah tidur ..."
Sakura tersenyum sendiri mendengar suara Naruto dari seberang sana. Naruto berbeda negara dari tempatnya berada sekarang. Tapi, tetap terasa berada di sisinya—dekat sekali. "Bagaimana aku bisa tidur? Aku terus-terusan menunggu teleponmu."
"Itu berarti kamu merindukanku." Tebakan Naruto benar-benar tepat sasaran.
Sakura langsung membaringkan badannya ke atas kasur itu. "Sepertinya hanya aku yang merasakan itu."
"Oh, benarkah?" tanya Naruto meyakinkan. "Mulai sekarang katakan saja apa yang sedang kamu rasakan kepadaku. Jangan ada sampai yang terlewat sedikitpun. Baik sedih atau sedang bahagia."
"Baiklah." Sebenarnya Sakura sedikit kesal. Saat Naruto akan berangkat sore tadi, pria itu tidak mengijinkan untuk mengantarnya sampai bandara. "Kalau saja aku tadi bisa mengatarmu ke bandara, aku pasti akan memelukmu."
"Bisakah itu kudapatkan saat pulang nanti?"
"Kemungkinan tidak," ujar Sakura main-main.
Terdengar suara ringisan dari seberang. "Kamu tega sekali, Sakura-chan."
"Baiklah, ini sudah malam. Kamu harus istirahat."
Dengan sebuah ciuman jarak jauh, sambungan telepon pun terputus. Dengan ini Sakura baru bisa tidur dengan nyenyak.
.
.
.
Dua hari tanpa pria itu dan tanpa pekerjaan rasanya benar-benar bosan. Untung saja Naruto selalu menghubunginya lewat sambungan telepon. Membuat rasa bosan Sakura sedikit teratasi. Sampai sekarang Sakura masih penasaran, apa yang akan dikatakan Naruto kemudian. Awas saja jika hanya sesuatu yang tidak penting. Bisa dipastikan Naruto akan mendapatkan sebuah pukulan di kepalanya.
Saat Sakura baru saja turun dari apartemennya, ia melihat Ino berdiri di pintu utama. Wanita itu memakai kaca mata hitam sedang melangkah ke arahnya. Ya ampun, mau apa lagi teman lamanya ini?
"Oh, Sakura. Kemana pria pirang bodoh itu?" tanya Ino langsung saat ia sudah berada di hadapan Sakura.
"Ada urusan apa kau mencarinya?" ujar Sakura berusaha biasa. Ia tidak tahu apa yang sedang Ino rencanakan selanjutnya.
Ino memiringkan kepalanya. Sakura benar-benar terasa asing sekarang baginya. "Pokoknya aku ingin menemuinya!" Ino langsung naik ke atas anak tangga melewati Sakura.
Wanita berambut merah muda itu segera menghentikan langkah Ino. Ada masalah apa sampai Ino bersikap seperti itu. "Dia tidak ada di atas, dia sedang melakukan perjalanan bisnis ke Cina!"
"Apa?" Ino langsung berbalik tidak percaya. Memang dari awal pria itu tidak bisa diandalkan. Seharusnya Ino tidak perlu repot-repot menemuinya beberapa hari yang lalu untuk meminta bantuannya. "Lalu, kenapa kau tidak segera pulang saja ke rumah!"
"Ke rumah mana?" tanya Sakura tidak mengerti.
Oh, dari ekspresi Sakura memang sebenarnya ia belum tahu apa-apa. "Sekarang kau harus ikut aku!" Ino langsung menarik sebelah tangan Sakura. Tapi, wanita itu tentu tidak bisa berdiam diri saja. Ia berusaha menyentakkan tangan Ino demi meloloskan diri.
"Ada apa denganmu, Sakura?!" teriak Ino di depan mukanya.
"Seharusnya aku yang bertanya ada apa denganmu." Sakura memegang pergelangan tangannya yang sempat terasa sakit.
"Naruto pasti tidak mengatakan pesanku untukmu." Ino langsung memeriksa tasnya untuk mengeluarkan ponsel layar sentuh miliknya. Ia terlihat mengotak atik ponsel itu dan ketika ia sudah mendapatkan sesuatu. Ia menunjukkannya ke hadapan Sakura.
Mata emerald Sakura melebar. Sebuah poto yang ditunjukkan oleh Ino mampu membuat detak jantungnya semakin berdebar.
.
.
.
Naruto merasa sedikit cemas karena sudah panggilan ke delapan Sakura tak kunjung mengangkat teleponnya. Ini sudah lewat jam tujuh malam. Sudah hampir empat jam ia tidak mendengar kabar dari wanita itu. Apa dia sedang berpergian ke suatu tempat? Tapi, bersama siapa?
Perasaan Naruto mendadak sedikit cemas. Ia harus berpikiran positif agar makan malam hari ini bersama dengan direktur Danzou tidak terasa canggung.
"Kenapa kau terlihat tegang?" ternyata Kakashi sudah melihat gerak-geriknya sedari tadi.
Naruto segera menyimpan ponselnya ke dalam saku jasnya. "Aku hanya takut bahwa jamuan makan malam dari direktur Danzou adalah ungkapan penolakkannya."
Kakashi mengangkat bahunya acuh. "Yang penting sudah berusaha. Biasanya jika dijamu di hotel mewah seperti ini, hasilnya akan baik pula."
Naruto hanya mencoba menarik senyumnya. Hasil apapun itu untuk keputusannya—sudahlah, tidak penting lagi. Ia hanya mencemaskan tentang keadaan Sakura untuk saat ini.
.
.
.
"Jadi bagaimana, apa kau menyesal telah mendorongku?" Ino melipat kedua tangannya di depan dada. Ia berdiri di depan Sakura yang terduduk sedang menundukkan wajahnya.
"Ya ... maafkan aku," jawab Sakura lemah.
"Lalu, apakah kau menyesal telah mengabaikanku?" tanya Ino lagi.
"Ya, aku benar-benar menyesal." Apapun yang Ino tanyakan, Sakura sudah tidak memikirkannya lagi. Ia hanya terus-terusan mendoakan kesembuhan ayahnya yang terbaring jauh di sana. Kalau pun Ino akan menamparnya pada detik itu, ia sudah tidak akan melawan lagi.
"Apa kau kecewa karena Naruto tidak mengatakan kabar ayahmu lebih dahulu?"
Sakura menggeleng. Ia mencoba mengambil sisi baiknya dari—mengapa Naruto tak menjelaskannya terlebih dahulu. Ternyata inilah yang akan pria itu sampaikan ketika ia sudah kembali ke Konoha lagi. "Kau tidak perlu membawa namanya."
"Tidak perlu bagaimana? Dia orang yang menahanmu di sini! Rasanya aku ingin menendang tulang keringnya!" Ino mengomel sendiri karena ia geram dengan sikap dari pria jabrik itu. "Ah, tapi kau benar. Kita tidak perlu melibatkannya. Ibumu pasti akan membuat Naruto menderita jika mereka saling bertemu."
"Apa ibuku benar-benar akan melakukan itu?"
Ino mengedikkan bahunya acuh. "Entahlah. Kalau kau penasaran coba saja melibatkan dia."
Sakura kembali termenung. Memang seharusnya dari awal ia tidak membiarkan Naruto mengetahui masalahnya. Pria itu sudah begitu baik kepadanya. Ia tidak mungkin membiarkan ibunya bertindak kasar jika benar meraka akan bertemu.
"Jadi, bagaimana? Apa kau sudah siap pulang besok?"
"Aku belum siap." Sebenarnya Sakura ingin menunggu kepulangan Naruto terlebih dahulu. Tapi, ia yakin. Naruto pasti akan melibatkan dirinya. Dan semua itu akan membuat semuanya semakin kacau. Kalau pun ia pulang tanpa pamit dengan Naruto. Pria itu pasti akan merasa kecewa. Ah, kenapa malah semakin rumit seperti ini?
"Kau sedang memikirkan pria itu?" Ino menebak dengan tepat. "Tenang saja. Kau masih bisa menemuinya ketika masalahnya sudah selesai."
Perkataan Ino hari ini hampir semuanya masuk akal dan bisa diterima. Ini sedikit membuat hati Sakura sedikit lega mengenai sikap pria itu.
"Mau sampai kapan kau mengabaikan keluarga bahkan karirmu? Kau benar-benar bodoh."
Sakura merutukki dirinya sendiri. Ino benar, ia memang benar-benar bodoh. "Lagipula karirku memang tidak bisa diselamatkan lagi."
Ino mendesis. Ia langsung berjalan ke arah sebuah meja yang berada di dalam kamar hotel tempat ia menginap ini. Di atas meja, ada beberapa kertas dan juga sebuah amplop. Ino mengambil amplop putih tersebut dan menunjukkannya ke hadapan Sakura.
"Ini surat panggilanmu dari pihak rumah sakit. Kalau kau dapat menghadirinya sebelum akhir bulan ini, kau masih bisa memperbaiki namamu kembali walau kau sudah dipecat."
Beberapa saat amplop yang berada di tangan Ino membuat Sakura berpikir. "Aku tidak bisa memberikan pembelaan," Sakura benar-benar terlihat pasrah di hadapan Ino. Membuat Ino benar-benar terbakar emosi.
"Untuk apa ada profesi pengacara di dunia ini jika tidak bisa membela orang yang bersalah. Aku sudah memiliki seorang pengacara yang sukarela akan membantumu memperbaiki karir atau bahkan menghadapi ibumu."
Sakura mengangkat wajahnya. Ah, mengapa ia tidak pernah terpikir untuk menyewa pengacara demi melewati semua ini. "Siapa?"
"Sasuke Uchiha."
.
.
.
[tbc]
Soal kode etik, jujur saja saya tidak memiliki pengalaman di bidang kedokteran atau kesehatan. Tapi, teman saya bilang. Walau lulusan d3 jurusan kesehatan juga memiliki kode etik—yang apabila melanggar akan diberikan sanksi. Susah ya jadi dokter/bidang kesehatan? Maaf ya jika ada kejanggalan atau hal lain itu dikarenakan masih minimnya pengetahuan yang hanya bisa saya kembangkan lewat sebuah fanfic.
Dan sampe sini saya jadi terharu, reviewnya tembus lima puluh lebih untuk chapter kemarin *gelundungan* awalnya gak yakin bakal banyak yang respon, soalnya saya sengaja nggak terlalu nguras otak buat mikir diksi yang baguslah, kata-kata yang menyentuh atau semacamnya, karena yang sedikit nguras otak saya hanyalah kedua fanfic rate M saya mwahahahha.
Makasih semua atas dukungannya sampai sini. Makasih juga buat Guest-Guest yang banyak sekali ada di dalam kotak review.
Okay, sampai jumpa pada dua/tiga chapter terakhir untuk ke depannya.
