Peringatan : author tidak menjanjikan kalian akan mendapatkan feel pada chapter ini. Maafkan soal typo yang selalu berhasil lolos, maka dari itu author akan menerima koreksi dari kalian XD

Disclaimer : Applied


Chapter 15 : Its can drug me down (2)

.

.

.

Sudah hampir berpuluh-puluh kali Naruto memencet tombol bel apartemennya, mengetuk pintu depan apartemen itu, masih belum ada jawaban juga. Sementara saat ia mencoba memanggil nomor ponsel Sakura, sambungannya tidak terhubung sama sekali. Naruto hampir saja membanting smartphone mahal itu—kalau saja bibi Shizuka tidak datang menghampirinya.

"Ini kunci apartemennya. Sakura menitipkan kepadaku." Wanita itu sedikit agak terlambat mengetahui kegaduhan yang dibuat Naruto siang bolong seperti ini.

Naruto mengambil alih kunci apartemen itu dengan ragu dari tangan Shizuka. Ternyata memang benar Sakura sedang tidak ada di dalam. "Ke mana Sakura pergi?"

"Apa Sakura tidak memberitahumu?"

Naruto benar-benar menyesal mendengar kejadian ini. Perjalanan bisnisnnya dalam beberapa hari itu tidaklah sia-sia memang. Tapi, semua itu sudah tidak berarti lagi ketika Sakura tidak berada di hadapannya. Ia marah pada semuanya. Pada dirinya sendiri, direktur Danzou dan pekerjaannya.

"Bahkan nomornya sudah tidak aktif lagi." Naruto mengacak rambutnya frustrasi. Sebisa mungkin ia tidak ingin menunjukkan rasa kecewanya di depan bibi Shizuka.

"Dia bilang hanya akan menginap di hotel World bersama temannya."

Apa yang Naruto takuti ternyata memang benar terjadi. Memangnya siapa lagi teman yang Sakura miliki di sini?

"Apa temannya berambut pirang?"

...

"Berkas-berkas ini aku dapat dari Moegi secara diam-diam." Sasuke mengeluarkan beberapa map dan menaruhnya ke atas meja. Setelah makan siang yang cukup kaku di antara mereka bertiga—bagi Sakura khususnya. Barulah sekarang giliran membicarakan rencana-rencana cemerlang dari pemuda berambut emo itu.

Sakura tahu, Sasuke adalah seorang pengacara yang profesional. Ia tidak akan pernah mengungkit masalah lain ketika sedang bekerja. Maka dari itu Sakura setuju untuk bertemu dengan pria itu. Lagipula kejadian di antara mereka berdua juga sudah cukup lama. Dan posisinya sekarang pria itu berniat untuk menolongnya, Sakura tidak mungkin secara mentah-mentah mengajukan penolakan.

"Berkas tentang apa ini?" tanya Sakura penasaran. Oh, ternyata Sasuke sudah siap dengan segala langkah-langkah mulusnya.

"Ini catatan riwayat saat kau bekerja di RS umum Hokaido. Tapi, sebelum menghadapi beberapa petinggi rumah sakit, kau harus lebih dulu pulang ke rumah. Jadi, sekarang waktunya kita membahas sikap permintaan maafmu secara hukum."

Sakura menelan ludahnya. Dalam kesempatan ini, memang terdengar cukup berlebihan. "Aku sudah memikirkan alasan saat aku bertemu kembali ke rumah semalaman. Aku juga sudah mempersiapkan diri untuk menatap mata orangtuaku dan meminta maaf."

"Oh, coba sebutkan apa yang sudah kau susun?"

"Aku akan mengatakan bahwa aku menyesal telah pergi dari rumah dan juga aku sangat merindukan mereka. Aku juga akan bersimpuh di depan ranjang inap ayahku untuk meminta maaf karena membuatnya menderita."

Sasuke tidak sedikit pun merubah ekspresinya. Wajahnya tetap datar, mungkin ia tidak terlalu setuju dengan apa yang Sakura pikirkan. Semua orang pasti mengeluarkan kata maaf—bahkan bersujud jika mengetahui dirinya bersalah.

"Mungkin Yamanaka Ino punya pendapat lain," sambung Sakura.

Ino yang dari tadi hanya diam di antara mereka akhirnya memiliki kesempatan untuk berbicara. "Sebenarnya aku punya rencana yang cukup gila. Aku berpikir bagaimana kalau kita merekayasa sebuah kecelakaan pada kendaraan yang kita tumpangi—sehingga mengharuskan kita semua masuk rumah sakit—"

"—lupakan ide hancurmu." Sasuke menyeruput kopi hitamnya yang masih tinggal setengah. Memang lebih baik Ino diam saja. Ino kebanyakan nonton sinetron mungkin.

"Ah, Ino. Idemu boleh juga. Dengan begitu aku bisa melihat apakah ibuku sedih atau tidak melihatku telah kecelakaan," ujar Sakura dengan nada bercanda. Sebenarnya ia juga tidak setuju dengan pendapat itu. Membuatnya menderita dengan mendapati luka-luka? Alih-alih berharap semuanya selesai. Ia malah menemui Kami-sama bukan ibunya.

"Aku yakin detak jantung ayahmu semakin melemah jika itu benar terjadi," ujar Sasuke dengan wajah serius.

Sepertinya membuat suasana di dalam ruangan hotel ini menjadi nyaman tidaklah mudah bagi Sakura.

...

Naruto sudah tidak peduli lagi untuk mengistirahatkan badannya di dalam kamar. Ia segera melajukan mobilnya menuju hotel World yang letaknya cukup jauh dari apartemennya.

Naruto berusaha untuk tenang. Mengambil napas dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan. Ia sudah tidak sabar lagi ingin segera sampai ke tujuannya dan menemukan Sakura di sana. Ia harus menemukannya sekarang juga apapun yang akan terjadi nanti. Wanita itu tidak boleh memperlakukannya seperti ini. Memutuskan komunikasi antara mereka dan secara mendadak menghilang tanpa mengatakan sepatah katapun. Ini benar-benar tidak adil.

Setelah sampai di depan hotel mewah itu, Naruto segera turun dari dalam mobil sedikit tergesa. Ia menyerahkan kunci mobilnya beserta selembar uang tips kepada pelayan yang berada di pintu depan. Tanpa berucap terimakasih, Naruto langsung menuju ke meja resepsionis untuk bertanya.

"Tolong beritahu aku, di mana kamar tamu yang bernama Yamanaka Ino." Napas Naruto tampak tersengal. Tatapannya bisa diartikan banyak hal; sedang marah, kesal dan juga lelah—membuat kedua wanita berpakaian formal di balik meja resepsionis kebingungan.

"Maafkan saya, tuan. Kami tidak dapat memberitahu tempat yang anda tanya barusan karena itu menyangkut tentang privasi dari tamu kami."

Seharusnya Naruto sudah mengira hal ini dari awal. Para pegawai hotel itu tidak akan pernah memberitahu nomor kamar dari tamu VIP. Oh, tentu saja Ino pasti memilih tinggal di kamar mahal.

"Baiklah, jangan salahkan aku, kalau aku harus mengetuk kamar VIP satu persatu dan membuat keributan." nada Naruto terdengar seperti ancaman. "Permisi!" Naruto langsung berbalik melangkah lebar-lebar agak sedikit berlari, tujuan berikutnya adalah pintu lift yang letaknya belum ia ketahui.

Kedua pegawai meja resepsionis itu langsung panik. Bisa jadi pria itu akan membuat onar di area kamar berkelas VIP. Salah satu dari mereka langsung mengangkat telepon untuk melaporkan hal ini sesegera mungkin.


"Jadi, apa kau sudah paham dengan apa yang telah aku jelaskan?" Sasuke bertanya kepada Sakura untuk meyakinkan kemantapan hatinya. Setelah diberi sedikit nasihat dan berkosultasi padanya. Seratus persen keraguan Sakura sudah tidak terlihat.

"Ya, aku mengerti," Sakura menjawab dengan penuh percaya diri. Ia tidak menyangka ternyata Sasuke adalah pengacara hebat yang punya segudang saran-saran untuknya.

"Baiklah, kalau begitu waktunya kita check out sekarang. Apa kau ingin mampir dulu ke apartemen temanmu?"

Sakura hanya bisa menggeleng lemah. Ia tidak perlu mampir terlebih dahulu. Karena ia tahu, hari ini adalah kepulangan Naruto ke Konoha. Dan jika mereka sempat bertemu, Sakura takut ia akan menggagalkan niatnya untuk kembali ke Hokaido dengan alasan yang tidak bisa ia katakan. "Aku akan kembali lagi ke sini nanti. Lagipula tidak ada barang yang bisa aku ambil di sana."

"Aku sudah siap loh! Sudah lebih dari seminggu aku cuti dari kerjaan." Ino keluar dari dalam toilet. Make up-nya sudah rapi dan semua pakaiannya sudah ia bereskan masuk ke dalam kopernya. "Akhirnya kita pulang!" Senyum lebar Ino yang merasa telah mengakhiri misinya mendadak terhenti karena sebuah panggilan telepon.

"Oh, Gaara menelponku."

Sakura langsung menoleh ke arah Ino. Tanpa pikir panjang ia berdiri berjalan untuk meminta ponsel milik Ino. "Biar aku yang mengangkat teleponnya, aku ingin tahu kabar ayahku."

Ino segera memberi ponselnya tanpa harus mempertimbangkannya terlebih dahulu.

"Moshi-moshi." Sakura segera menggeser icon hijau pada layar sentuh itu.

"Oh, kau bukanlah Ino." Tentu saja Gaara tidak sebodoh itu untuk menebak siapa yang mengangkat telepon ini.

"Terimakasih karena kau sudah membocorkan tempatku berada sehingga teman-temanku bisa menemukanku. Kau bilang akan merahasiakan ini. Bagaimana kau ini? Tidak bisa dipercaya juga ternyata." Sakura hanya bercanda mengenai hal yang baru saja ia bicarakan. Tentu saja dari awal seharusnya ia sudah bisa menebak ini semua ulah Gaara. Satu sisi pria berambut merah itu menyebalkan dan di sisi lainnya ia juga peduli.

Beberapa detik tidak terdengar respon dari Gaara. Sakura langsung mengecek tampilan pada layar ponsel, apakah teleponnya masih tersambung?—iya, masih. Lalu, kenapa Gaara hanya diam saja?

"Hallo, kau masih di sana, kan?" tanya Sakura memastikan sekali lagi.

"Maaf ..." ujar Gaara pada akhirnya. Sebuah helaan napas terdengar. Begitu berat sehingga membuat Sakura bertanya-tanya, apa yang sudah terjadi sebenarnya.

"Gaara ..." panggil Sakura lagi dengan keraguan.

"Dengan sangat menyesal aku mengatakan ini, bahwa pemakaman Kizashi-san akan berlangsung besok lusa."

Mata emerald itu melebar. Telepon yang ia pegang jatuh ke lantai. Ia yakin, jantungnya saat ini sudah berhenti berdetak.

Ya, ini pasti lelucon ...

...

Ada yang bilang kalau anak perempuan lebih cenderung mirip dengan ayahnya. Tidak jarang pula ikatan antara anak perempuan dengan ayah lebih kuat daripada anak laki-laki. Bagi Sakura hal itu adalah hal paling benar yang ia percayai. Orang terdekat dalam hidupnya, yang telah ia berikan cinta pertamanya adalah untuk Kizashi.

Hari itu Kizashi mengajak Sakura melakukan olahraga yang terbilang cukup ekstrim, yaitu panjat tebing. Sakura sangat menyukai olahraga ini. Ia bisa menguras cukup banyak kalori dan keuntungan lainnya dapat menyatu dengan alam.

Hal-hal seperti itu adalah kegiatan rahasia yang meraka lakukan sebagai ayah dan anak. Kalau saja Mebuki tahu suaminya mengajak putrinya melakukan itu, ia pasti tidak terima.

Kadang Sakura memiliki alasan masih betah di rumah karena ia memiliki seorang ayah. Hanya Kizashi yang selalu mengerti apa keinginan dan ambisinya. Ayahnya itu, tidak pernah menuntutnya untuk melakukan sesuatu yang tidak ia suka.

Dan sore itu begitu menyenangkan, memanjat tebing sekitar lima belas meter dengan berbagai alat bantu keamanan yang sudah mereka siapkan jauh-jauh hari. Dari sini Sakura bisa melihat pemandangan di sekitar Hokaido, laut Hokaido yang cukup jauh pun bisa terlihat. Rasanya bahagia sekali dapat melihat dunia.

"Ayah butuh makanan sekarang, karena energi ayah sudah terkuras habis." Kizashi berbicara dari belakang badan Sakura. Matanya memicing karena silau matahari yang menerpa.

Sakura langsung berbalik menghadap sang ayah. Ternyata ia sudah melupakan sesuatu"Astaga, ayah! Bekal makanan masih ada di bawah!"

Kizashi langsung terduduk lesu. Anak perempuannya memang ceroboh. Kalau tahu begini ia saja yang memasukan kotak bento itu ke dalam tasnya. "Bagaimana ini, ayah sudah tidak punya kekuatan lagi untuk turun."

Kedua tangan Sakura mengatup sebagai isyarat permintaan maaf. "Jangan berlagak seperti kakek-kakek yang berada di panti jompo. Ayo, kita segera turun dan makan. Aku sudah masak enak."

"Pokoknya ayah sudah tidak kuat lagi!"

Sakura terkekeh geli. Ada-ada saja tingkah ayahnya itu. "Dah, aku turun duluan, ya?"

...

Semua kegiatan yang dilakukan bersama ayahnya tanpa sepengetahuan Mebuki tentunya. Ayahnya tidak bisa membelanya lebih jauh ketika Mebuki sudah bersikeras membuat sebuah larangan. Seharusnya ia tidak meninggalkan ayahnya pula untuk saat ini. Seharusnya semua tidak berakhir seperti ini.

Andai saja ia bisa pulang lebih awal. Ia pasti tidak akan mendengar kabar ini.

Wanita berambut merah muda itu tidak mengeluarkan ekspresi apa-apa. Ia bahkan tidak bisa menjatuhkan air mata lagi—bahkan tidak bisa mengatakan sepatah katapun.

Ia tahu, saat ini Ino sedang menuntunnya menuju keluar dari dalam hotel ini. Ino terus-terusan menggandeng lengan Sakura untuk membantunya berjalan. Terdengar juga kata-kata penenang dari Ino yang memang tidak ada gunanya. Karena percuma, Sakura sedang tidak bisa mendengarkan apapun.

Mengapa untuk ke luar dari dalam hotel ini begitu lama? Lobi hotel yang mereka lewati terasa jauh dan pengap. Kepalanya begitu pusing, ia merasa keseimbangan tubuhnya sudah mulai terkikis.

Tepat saat pintu lift terbuka, Ino yang lebih dulu terkejut. "Naruto?" ujarnya tidak percaya. Mata biru itu melirik ekspresi Sakura yang tidak sedikit pun memberikan respon.

Naruto bernapas lega saat berpapasan dengan Sakura di ambang pintu lift ini. Syukurlah mereka masih bisa bertemu. Ia langsung ke luar dari dalam lift dan membiarkan pintu lift itu tertutup kembali. "Sakura, aku benar-benar mengkhawatirkanmu."

Dalam sedetik Sakura melirik Naruto, kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah lain—seolah tidak mau menatap pria itu. "Minggir, aku mau pulang."

Naruto langsung tersentak mendengar nada tak bersahabat dari wanita yang ia cintai itu. Tiga hari mereka tidak bertemu dan sikapnya mendadak berubah seperti ini? Tentu saja Naruto langsung berpikir kedua orang yang berada di samping Sakura adalah penyebabnya.

"Apa yang sudah kalian lakukan pada Sakura?"

"Apa yang sudah kami lakukan?" Ino tidak terima mendengar kata-kata itu. "Hei, kalau saja kau menyampaikan pesanku lebih cepat untuk Sakura, ia pasti masih bisa bertemu dengan ayahnya!"

Dahi Naruto mengernyit. Ia langsung meraih bahu Sakura untuk menatap matanya. "Apa yang sudah terjadi Sakura, tolong katakan?!"

Sakura berpikiran, apa yang Ino katakan memang ada benarnya. Seandainya saja Naruto menyampaikan berita itu lebih awal ... ya, semua ini salahnya.

Sementara Sasuke lebih memilih diam dulu karena ia tidak tahu apa-apa tentang pria itu. Ia adalah kuasa hukum Sakura sekarang. Ia akan bertindak jika pria pirang itu melakukan hal yang sudah tak wajar kepada kliennya.

Dua petugas keamanan mendadak menghampiri mereka. "Maaf, anda tidak boleh membuat kekacauan," mereka berdua mengambil alih kedua tangan Naruto dan mengunci pergerakannya. Dalam situasi yang terbilang mendadak ini, membuat Naruto tidak sempat memikirkan bagaimana caranya mengelak.

"Hei, apa yang kau lakukan?!" Naruto tidak terima mendapati perlakuan seperti ini. Ia merasa tidak bersalah. Kenapa ia harus diamankan?

Melihat itu Ino langsung menutup mulutnya. Seingatnya ia tidak sempat memanggil petugas keamanan.

Seorang wanita berseragam formal mendekat ke arah mereka. Wanita itu adalah salah seorang yang bekerja di balik meja resepsionis tadi. "Maafkan saya, tuan. Anda tidak diperbolehkan asal masuk ke dalam ruang VIP dan mengganggu para tamu di sini." Ia membungkuk ke arah Naruto.

"Apa?" Naruto merespon tidak percaya. "Memangnya aku melakukan kegaduhan apa? Aku hanya ingin menemui mereka."

"Apa benar pria ini adalah kenalan kalian?" tanya sang respsionis meyakinkan penjelasan pria itu kepada ketiga orang di hadapannya.

Ino tidak segera menjawab, apalagi Sasuke. Mereka berdua tidak merasa mengenal Naruto jadi untuk apa mengakuinya. Mereka hanya bisa menyerahkan kepada Sakura untuk menjawabnya.

"Tidak."

Mata Naruto langsung membulat ketika mendengar jawaban dari Sakura. Ia tidak percaya bahwa Sakura telah mengatakan itu. "Sakura, apa aku pernah berbuat salah padamu sehingga kau mengatakan itu?!"

Sakura tidak menjawabnya bahkan memandangnya pun juga tidak.

"Jawab aku, Sakura!"

Dari jawaban singkat tersebut, itu menjelaskan bahwa pria pirang itu memang hanyalah pembuat onar di sini. Tanpa banyak bicara, kedua petugas keamanan itu membawa Naruto paksa menuju ke arah pintu tangga hotel ini. Naruto berusaha melepaskan diri walau perbuatan itu hanya hal yang percuma. Karena ia tahu, kedua petugas itu memiliki tubuh yang lebih besar darinya.


Ini adalah hari yang terburuk. Malam ini, pria pirang itu menghabiskan waktunya di kantor polisi dekat hotel World. Ia tidak menyangka akan dilemparkan kemari oleh kedua petugas sialan itu.

Oh, ini benar-benar hal yang gila. Untuk pertama kalinya Naruto melihat ekspresi dingin Sakura yang membuatnya benar-benar terasa asing. Ino bilang bahwa ia sudah melakukan hal yang buruk; tidak segera menyampaikan pesannya kepada Sakura. Memangnya apa yang sudah terjadi?

Seorang polisi di hadapannya terus-terusan mengintrogasinya. Naruto sudah memberikan data dirinya dengan lengkap tanpa sedikitpun berbohong. Ia juga memperlihatkan beberapa fotonya bersama Sakura sebagai bukti bahwa ia memang benar mengenal tamu yang menginap di hotel itu.

"Kalau memang kau mengenal mereka, mengapa mereka tidak mengakuimu?" Polisi itu bertanya lagi. Penjelasan dari Naruto sedikit tidak bisa dipercaya.

"Aku juga tidak tahu, mungkin aku memang sudah melakukan sebuah kesalahan." Naruto melirik jam dinding, ternyata sudah jam delapan malam.

"Oh, konflik anak muda." Polisi itu mengetik pada papan laptopnnya lagi, mencatat setiap jawaban dari Naruto. "Walau begitu jangan bertengkar di dalam hotel, apalagi area VIP. Kau akan membuat kegaduhan. Jadi, wajar saja kalau kau diamankan."

Naruto meniup ujung poninya yang tampak basah akibat berkeringat. Terserah pak polisi itu mau berkata apa, asal saja ia tidak masuk penjara. Dan soal Sakura? Ah, pasti wanita itu sudah pergi dari tadi. Meninggalkannya di sini sendiri (di dalam kantor polisi sialnya).

Bagus, suasana hatinya benar-benar buruk. Rasa kecewa ini lebih dari yang pernah ia alami. Ia sudah berpikir bahwa Sakura adalah yang terakhir dalam hidupnya. Bahkan sempat mempercayakan sepenuhnya pada wanita itu. Dan hasilnya benar-benar di luar dugaan. Semua ini semakin membuatnya berhasil menjadi seorang pecundang.

Setelah mendapatkan izin pulang, Naruto tidak langsung menuju apartemennya, kembali ke rumah tidak akan membuat keadaan semakin baik. Satu-satunya tempat yang bagus untuk dirinya hanya sebuah bar yang menyediakan minuman beralkohol—dengan dosis yang bagus untuk menghilangkan masalahnya.


Sudah terhitung tiga bulan ketika terakhir ia melangkahkan kaki pergi dari rumah besar ini. Keadaan yang berubah terlihat begitu banyak. Tanaman yang dipelihari Mebuki di sekitar halaman rumah itu tidak sesegar seperti sebelumnya. Tidak ada warna-warni bunga yang menghiasi halaman itu kecuali karangan bunga plastik—sebagai ucapan belasungkawa atas meninggalnya pemilik rumah itu.

Di sini begitu ramai. Orang-orang memakai baju berwarna sama, yaitu hitam.

Dengan langkah gontai, Sakura memasuki perkarangan rumahnya. Di sampingnya Sasuke berjalan tegap mendampinginya—menyaring setiap tatapan-tatapan orang-orang yang tertuju kepada mereka.

Orang-orang itu tengah berbisik.

Oh, Sakura Haruno akhirnya kembali. Ya ampun. Kemana saja dia selama ini? Kukira dia sudah ditelan bumi.

Kukira dia tidak akan pernah kembali.

Selama mereka tidak melempari Sakura dengan telur, Sasuke tidak akan bertindak. Hanya angin lewat, tidak perlu dipedulikan.

Sakura terus melangkah sampai ia memasuki ruang tamu rumah itu. Dan disitulah peti mati itu berada, di tengah-tengah ruang tamu ini—di keliling beberapa orang-orang yang tengah memanjatkan doa-doa kepadanya.

Sakura maju, ia tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang terheran-heran dengan spekualsi buruk mereka. Langkah kakinya berhenti tepat di depan peti dan tepat di samping seorang wanita yang sedang duduk di sebuah kursi kayu, bahunya terlihat bergetar.

Sakura langsung berlutut menghadap wanita itu. Air matanya ke luar tanpa ia sempat mengedipkan mata. Sakura membuka mulutnya dengan usaha yang keras, ia tahu suaranya akan bergetar. "Aku pulang, ibu ..."

Orang yang dipanggil ibu itu mengangkat kepalanya. Ia menoleh ke arah wanita yang memanggilnya ibu itu, "Sakura?" sebelah tangannya yang memegang saputangan melayang di udara. Beberapa detik ia tidak percaya dengan apa yang berada di hadapannya. Anaknya sudah pulang. Tapi, suaminya tetap tidak akan kembali.

"Bolehkah aku memelukmu?"

...

Dari jauh Gaara melihat adegan yang mengharukan itu sedang berlangsung. Di satu sisi ia terharu melihat Sakura pulang dan dapat memeluk ibunya. Di satu sisi ia telah menyesal, mengapa dari awal ia merahasiakan keberadaan Sakura kepada orangtuanya.

Di belakangnya, Ino dengan air mata yang berlinangan merasa sedih sekaligus bahagia melihat kejadian itu.

"Kepalaku akan pusing apabila ada seorang wanita yang menangis di dekatku," Gaara berujar tanpa menoleh ke belakang.

Ino langsung mendelik ke arahnya. "Kau melarangku untuk menangis? Aku ini sedang terharu tahu!"

Gaara menghela napasnya perlahan, "Kau semakin membuatku pusing saja." Setelah mengatakan itu, ia melangkah menjauh dari Ino entah mau kemana.

"Hei, kau seharusnya berterimakasih padaku, hiks!"


Pemakaman dilangsungkan dua hari kemudian. Beberapa kali Mebuki tampak terlihat akan merosot jatuh ketika peti turun ke dalam tanah. Sakura lebih memilih berada di dalam mobil sendirian, menghindari kesedihan yang semakin menjadi-jadi. Ia tahu, ia tidak akan kuat untuk menyaksikan proses pemakaman itu. Matanya sudah lelah menangis. Dan ia tahu, kesehatannya akhir-akhir ini sedikit menurun. Ia harus tetap menjaga kondisi fisik tubuhnya agar tidak menyusahkan banyak orang.

Saat ia melihat beberapa orang sudah kembali dari pemakaman, ia tidak menemukan ibunya sama sekali. Sakura segera turun dari dalam mobil untuk menghampiri kuasa hukumnya.

"Di mana ibu?"

Sasuke tampak mengecek arlojinya terlebih dahulu. "Dia dilarikan ke rumah sakit karena sempat pingsan."

"Apa?" ujar Sakura tak percaya. "Kalau begitu, kita harus segera menyusulnya."

"Tidak untuk sekarang," ujar Sasuke menghentikan langkah Sakura. "Biarkan ibumu tenang sampai aku memperbolehkanmu berbicara dengannya."

Mata Sakura seketika meredup. "Sepertinya keadaan rumah benar-benar sudah kacau. Aku yakin ada satu hal lagi kan, yang belum aku ketahui. Apa kau tahu itu, Sasuke?"

"..."

Mendadak Sakura memegangi kepalanya karena ia merasakan sebuah denyutan.

"Ayo, kita pulang dulu. Setelah kondisimu sudah lebih baik, kita akan membicarakan masalah pekerjaanmu setelah ini."


Sudah satu minggu Mebuki berada di rumah sakit. Selama itu, ia tidak membiarkan orang-orang menjenguknya termasuk Sakura. Ia tahu, saat ini Sakura tengah menyiapkan diri untuk berdiri di depan meja pengadilan kepala rumah sakit tempatnya bekerja. Ah, apa yang terjadi nanti, apakah Sakura dapat mempertahankan gelar dokternya dengan semua pembelaan yang ia punya? Ia akan menerima apapun keputusannya nanti.

Mendadak pintu ruangan inap Mebuki terbuka. Sakura dengan sebuah kotak bento di tangannya masuk ke dalam. Mebuki tidak tampak terkejut. Ia tahu, pada akhirnya Sakura akan tetap berusaha keras untuk datang dan melihat kondisinya.

Sakura membungkukan badannya sebelum ia menyeret sebuah kursi untuk duduk di sisi ranjang Mebuki. "Aku membawakan makanan kesukaanmu." Sakura membuka tutup bentonya dan memperlihatkan isinya, dorayaki. "Aku membuatnya sendiri."

Selama ini, Mebuki tidak pernah percaya apakah benar kata orang—setiap makanan yang dibuat putrinya akan meningkatkan nafsu makan saat sedang dalam kondisi sakit. Ia menyambut kotak bento itu untuk diambil salah satu isinya. Gigitan pertama tampak cukup terasa manis. Ketika ia sudah menelannya, ia merasa sedikit lebih baik. Ia dapat menelan makanan selain bubur selama menginap di rumah sakit ini. Mebuki kembali menggigit sisa dorayaki yang berada di tangannya. Apakah ini yang dinamakan kekuatan perhatian dari darah dagingnya sendiri?

Sakura menarik senyumnya dan bernapas lega. Kemudian Sakura membantu ibunya untuk mengisi air minum ke dalam gelas.

"Sebenarnya dari awal aku sudah tahu bahwa kau akan baik-baik saja selama tidak ada di rumah."

Sakura menyerahkan gelas itu kepada ibunya. "Ibu tahu dari Gaara?"

"Gaara tidak mengatakannya." Wanita separuh baya itu meneguk air putih dulu sebelum melanjutkan kalimatnya. "Gaara hanya bilang dia akan menetap di Konoha beberapa minggu secara mendadak, dia tidak menyuruh kami mengirimkan orang untuk mencarimu ke sana. Dari situlah, ibu sudah curiga awalnya. Tapi, ibu tahu. Kau pasti ada di sana dan kau pasti baik-baik saja."

Sakura menundukan kepalanya.

"Sementara ayahmu tidak bisa berpikiran tenang, dia terus gelisah. Berusaha mengerahkan orang untuk mencarimu ke mana-mana."

"Aku benar-benar minta maaf, karena aku ... ayah ..."

Mebuki menghela napasnya berat. Air yang berada di pelupuk matanya mulai menggenang. "Karena sibuk mencarimu. Ayahmu jadi kehilangan kendali urusan perusahaannya." Mebuki tentu tidak akan merahasiakan ini kepada anaknya. "Satu bulan yang lalu saham perusahaan ayahmu dicuri bawahannya. Ia sudah mencuri semua uang yang berada di dalam perusahaan itu dan membawa kabur entah kemana." Isakan terdengar dari pernapasan Mebuki.

Sementara perasaan Sakura semakin terpukul mendengar kabar ini. Begitu banyak hal yang sudah ia lewatkan selama ia tidak berada di sini.

"Yah, untuk sementara aktivitas di perusahaan itu harus istirahat dulu sampai ada sesuatu yang membangunkannya kembali." Mebuki menyeka air yang berhasil keluar dari sudut matanya. "Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan menghadapi ini."

Jadi, perusahaan properti milik ayahnya sudah tidak ada lagi. Tentu saja dari semua itu ada pada kesalahan yang ia punya. Perlahan Sakura meraih tangan ibunya dan menggenggamnya. "Katakan, apa yang harus aku lakukan untuk menebus semua itu."

Beberapa saat Mebuki menatap tangan Sakura yang mengenggamnya. "Pilihlah sendiri apa yang bisa kau lakukan. Aku tidak bisa banyak meminta darimu, karena di luar ruangan ini Sasuke sedang mendengar percakapan kita. Ah, seharusnya Sasuke berdiri di sampingku untuk mengurus kebangkrutan perusahaan itu."

Sakura hanya kembali menundukkan kepalanya. Walau menyesal juga semua akan percuma. Seharusnya ia bangkit dan membangun sesuatu yang baru walau tidak sekokoh pada awalnya. Yah, Sakura yakin, ia pasti bisa.

...

Pagi ini dimulai dengan konsultasi bersama Sasuke di kantor pengacara. Ada banyak berkas-berkas yang harus Sakura pelajari di atas meja itu. Mulai dari catatan saat pertama kali Sakura lulus tes bergabung di bagian dapur gizi. Catatan ia mendapatkan beberapa penghargaan dari berbagai seminar yang pernah diadakannya. Sampai saat terakhir kali ia menginjakkan kaki di sana. Dengan membaca semua berkas itu, Sakura seperti membaca biograpi tentang dirinya.

Sakura tahu ia sudah lalai dalam bertindak. Sebuah kelalaian itu dapat melenyapkan karir yang sudah ia bangga-banggakan. Maka dari itu, berbagai upaya yang harus ia siapkan demi menghadiri konprensi pemulihan nama baik itu.

Tidak terasa sudah hampir satu jam Sakura sudah berada di sini. Ia melirik ke arah Sasuke yang dengan segenap hati terus memberikannya ocehan-ocehan saran yang sangat ia butuhkan. "Oh, ya Sasuke. Kau benar-benar sudah bekerja keras mengumpulkan semua berkas ini. Aku jadi bingung, dengan apa aku bisa membayar semua ini."

Sasuke tersenyum miring. "Tentu saja dengan uang."

Oh, ia lupa Sasuke tidak bisa membuat sebuah lelucon yang bagus. "Kau membuat keadaan semakin buruk, padahal kau tahu aku tidak punya uang."

Sasuke menyenderkan punggungnya pada sofa yang ia duduki. Dari tadi saat ia membaca, pinggangnya cukup tegang. "Jangan terlalu dipikirkan," ujar Sasuke. "Aku hanya merasa bahwa kepergianmu dari rumah sebagian adalah karena salahku."

Sakura kembali teringat kejadian saat mereka bertemu di sebuah kafe. Dan pada saat itu, Sakura memutuskan untuk berpisah lalu sempat terpuruk gara-gara hal itu.

"Maka dari itu, aku akan membantumu untuk menyelesaikan masalahmu." Sasuke kembali membaca berkasnya.

"Maksudmu, aku kabur karena aku putus denganmu dan ingin menghindari darimu?"

Kedua alis Sasuke terangkat. "Memang apa lagi?"

Sejak kapan pria itu memiliki tingkat percaya diri yang tinggi. Sakura tampak sedikit tak terima, tapi karena pria itu sudah membantunya—maka ia hanya bisa mengabaikannya saja. Lagipula semua ini gratis.

"Kau adalah orang yang selalu nekad, Sakura. Apapun bisa kau lakukan, bahkan menjadi pembantu," Sasuke berkata tanpa mengalihkan perhatiannya pada berkas yang sedang ia baca. Ia mulai membalik lagi halaman selanjutnya pada berkas itu. "Semua orang kadang berpikiran ingin menghilang atau mati saja dari dunia ini jika mereka sudah lelah walau masalahnya hanya hal yang sepele. Jadi, aku mengerti apa yang sudah kau alami."

"Baguslah kalau kau mengerti, ada banyak sekali faktor yang membuatku berpikiran untuk lari dari rumah, salah satunya ya aturan di rumah. Kau tahu, ibuku sempat akan menyuruhku menikah sebelum aku sempat pergi."

"Itu malah bagus."

Sakura mengerucutkan bibirnya. Sisi menyebalkan Sasuke sudah kembali terlihat.

"Halo semua, kami datang!" Mendadak Ino dan Moegi masuk ke dalam ruangan itu. Selain membawa berkas, mereka juga bawa sekotak pizza dan juga kopi. Untung saja mereka dapat mengakhiri obrolan yang menyebalkan antara Sakura dan Sasuke.

"Berkas apa lagi ini?" tanya Sakura ketika Moegi duduk di hadapannya.

"Oh, ini adalah selembaran kertas voting yang akan kubagikan besok." Moegi menaruh kertas-kertas tersebut ke atas meja. Di dalam kertas ada gambar Sakura dan kata-kata seperti: 'kami dukung dr. Haruno!', 'Jangan cabut lisensinya!' atau 'dr. Haruno masih berhak tetap bekerja!'

"Kau akan membanggikan ini kepada semua pegawai di rumah sakit?" tanya Sakura sembari mengamati kertas-kertas voting tersebut.

Ino langsung duduk di samping Sakura. "Tidak hanya pegawai, para pasien yang sudah mengenalmu akan bersedia memberikan suaranya untuk mendukungmu."

"Wah, seperti demo saja ya. Tapi, hanya berupa suara pemilihan seperti pemilu. Apa ini bisa bekerja?"

"Tentu saja bisa." Moegi membuka kotak pizza dan mengambil salah satu isinya. "Ayo, kita makan dulu!"

Sakura sangat senang mendengar itu. Teman-temannya berkerja keras untuk mendukungnya dengan melakukan apapun sampai melakukan hal-hal seperti ini. Dengan begini ia tidak boleh membuat mereka semua kecewa.

...

Hari itu tiba. Sakura sudah siap masuk ke dalam ruangan rapat di RS umum Hokaido dan menghadapi lima orang petinggi rumah sakit ini. Ino, Moegi dan Sasuke mengantarnya sampai ke pintu ruangan tersebut. Sementara teman-temannya yang lain, menanti di ruang masing-masing, berharap panggilan ketiga yang akhirnya bisa dihadiri Sakura akan berlangsung dengan lancar.

Sakura menghela napasnya perlahan. Semua akan baik-baik saja, Sakura. Ada teman-teman yang akan mendukungmu. Kau tenang saja. All is well. Sakura terus-terusan mengulang kata-kata itu di dalam benaknya. Ia tahu, ayahnya yang berada di surga pasti mendoakan yang terbaik juga.

Dengan percaya diri yang sedikit tidak bisa ia pertanggungjawabkan, Sakura melangkah masuk bersama kuasa hukumnya. Wanita itu segera mengambil kursi yang sudah disiapkan di depan kelima petinggi rumah sakit ini. Sementara Sasuke mengambil kursi yang cukup jauh darinya.

Sakura mengamati orang-orang yang berada di hadapannya. Dari kelima orang tersebut ia hanya mengenal dua orang saja. Dia adalah Kabuto dan Orochimaru, orang yang tidak pernah menyukai dirinya sedikitpun. Hah, sepertinya ini akan berat.

"Baiklah, Haruno Sakura. Dari tiga panggilan yang kami ajukan, kau akhirnya bisa datang pada panggilan terakhir ini."

Sakura mengangguk membenarkan. Ia melirik nametag yang berada di atas meja pembicara pertama, nama orang itu dr. Kurotsuchi. Sakura baru pertama kali ini melihatnya.

"Sudah terhitung tiga bulan kau meninggalkan tugasmu dari rumah sakit. Selama itu, kami hanya mendengar bahwa ada masalah keluarga yang terjadi—sehingga kau pergi dari rumah dan meninggalkan kota Hokaido," pembicara yang bernama Killer Bee mengeluarkan suaranya.

"Ya, benar." Sakura membenarkannya lagi.

"Seharusnya kau dapat memikirkan, apa yang akan terjadi jika kau kabur dari rumah. Salah satunya kau telah melalaikan tugasmu," ujar Iruka salah satu pembicara yang berada di sana juga. Sakura hanya pernah bertemu dengannya sesekali.

"Ya, aku memang ceroboh sekali."

Kabuto menyeringai. Ia sempat tidak menyangka mantan atasannya itu akan hadir pada akhirnya. Kini giliran ia yang berbicara. "Sebenarnya tanpamu ada di sini, rumah sakit ini akan tetap baik-baik saja. Katakan saja bahwa kau akhirnya hadir kemari hanya tidak ingin lisensimu dicabut. Apa kau berpikir bekerja di sini bukanlah prioritas yang penting?"

Sakura mulai merasa gugup. Ia bahkan sempat lupa apa yang harus ia presentasikan.

"Silahkan mengajukan pembelaanmu, pegawai negeri dr. Haruno," ujar Orochimaru dengan sebuah senyuman miring. Sepertinya ia tampak senang sekali hari ini.

Sebelum Sakura berbicara, ia sempat menoleh ke arah Sasuke. Pria itu sekilas memberikan senyuman miring ke arahnya. Dalam hati Sakura tidak yakin akan mampu mengeluarkan suara—lalu, apakah saat ia berbicara kelima orang itu akan mendengarkannya?

"Saya memang melalaikan tugas sebagai dokter dan sebagai pegawai negeri pula. Dua jabatan itu seharusnya adalah prioritas utama saya." Sakura mulai berbicara dengan intonasi yang lambat dan berusaha tidak bernada keras. "Selama saya meninggalkan tugas tanpa izin, saya tidak melakukan hal-hal yang membuat rumah sakit ini merugi. Lagipula selama saya bekerja di sini, mengabdi di sini. Saya memberikan keuntungan yang bagus."

Dr. Kurotsuchi terlihat menopang dagu dengan sebelah tangannya—menyimak dengan seksama.

"Selama itu juga tidak ada catatan buruk yang saya buat. Jika benar saya harus kehilangan lisensi dan jabatan saya di sini. Saya yakin, kalian belum menemukan seseorang yang bisa menggantikan posisi saya."

Kabuto membetulkan posisi letak kaca matanya. Wanita yang berada di hadapannya itu benar-benar sombong sekali.

"Baiklah, kami akan memberikan keputusan akhir sampai dua minggu ke depan paling lambat. Tapi, anda tidak boleh berharap pada keputusan yang baik," ujar Iruka.

Sakura tahu, ia memang tidak boleh berharap banyak untuk dimaafkan. "Jika saya masih diberikan kesempatan, saya akan melakukan hal yang lebih baik untuk mengabdi di sini."

...

Setelah hampir satu jam berada di ruangan rapat itu, Sakura akhirnya keluar dari dalam sana. Moegi lebih dulu menghampirinya dan memeluk Sakura dengan kuat.

"Kalau kau dihentikan dari sini, aku harus menulis surat pengunduran diri segera!"

Sakura menepuk-nepuk punggung Moegi. "Keputusannya belum ada. Memangnya kau berharap begitu?"

Moegi menarik tubuhnya dan memandang wajah Sakura. "Jadi, keputusannya belum ada?" tanyanya polos, ia kira wajah Sakura yang masih pucat adalah jawaban yang buruk.

"Mungkin minggu depan, doakan saja aku masih punya harapan." Sakura menarik senyuman agar orang-orang di sekitarnya tidak mencemaskannya. "Ngomong-ngomong Ino kemana?"

...

Dalam kesempatan ini, Ino sedang berkeliling dengan dua perawat bawahannya membagikan selembaran kertas untuk semua orang yang berada di dalam rumah sakit ini. Kertas-kertas voting itu apabila sudah diisi, akan ia serahkan sebagai dukungan atas penolakan pemberhentian dr. Haruno. Biar petinggi rumah sakit ini tahu, bahwa kehadiran Sakura sangatlah penting di dalam rumah sakit ini.

"Terimakasih atas suaranya." Ino membungkuk saat seorang pasien pria muda di hadapannya mengembalikan kertas voting yang sudah ia tanda-tangani.

Pasien itu tersenyum di atas ranjang inapnya. "Sebenarnya aku tidak tahu dr. Haruno. Tapi aku dengar, ia orang yang hebat makanya aku mau memberikan suaraku."

"Sekali lagi terimakasih. Anda akan segera bertemu dengannya jika ia bisa kembali lagi bekerja di sini." Ino memasukan kertas itu ke dalam map plastik yang ia bawa.

"Ya, aku harap begitu."

"Baiklah, aku masih harus masuk ke kamar pasien yang lainnya untuk mengambil beberapa suara lagi. Semoga anda cepat sembuh, ya."

...

Sakura memutuskan untuk pulang ke rumahnya sendirian. Beberapa hari ke belakang, ia menginap di apartemen Ino bersama Moegi—dan jika ia sudah lelah untuk pulang, ia terpaksa tidur di kantor hukum milik Sasuke (bersama kedua temannya juga tentunya).

Awalnya Sakura tak mau pulang sendirian. Tapi, hari ini ia memang butuh waktu sendiri untuk masuk ke dalam rumah ini. Beberapa saat Sakura termenung di pintu depan. Ia melihat keadaan sekitar yang benar-benar berantakan. Oh, ia tahu. Beberapa pelayan dalam rumah ini sudah tidak ada lagi.

Dan sekarang saatnya ia membersihkan semuanya dengan kedua tangannya sendiri. Mulai dari menyapu lantai serta mengepelnya. Membenarkan posisi sofa dan menyusun bantal-bantal duduk. Membuang sampah ke luar rumah. Ah, Sakura hampir kelelahan membersihkan rumah sebesar ini sendirian. Untung saja ia punya talenta baru yaitu kekuatan beres-beres sebagai pembantu di tempat sebelumnya.

Di Konoha.

Mendadak Sakura teringat sesuatu. Benar, ada sesuatu yang memang ia lupakan saat berada di sini. Dia adalah pria yang sangat ia cintai. Naruto Uzumaki. Bagaimana kabar pria itu ya? Apakah ia baik-baik saja, apakah ia juga merindukan dirinya?

Sakura segera melihat tanggal. Sudah hampir satu bulan ia tidak mendengar kabar pria itu. Mendadak ia benar-benar merasakan rindu di dalam dadanya. Sayang sekali, ia lupa dimana ia menaruh ponselnya saat terakhir sempat ia memegangnya. Andai saja ia punya nomor telepon pemuda itu ...

Ting-tong.

Sakura segera berdiri untuk melihat siapa tamunya. Oh, sebenarnya ia hanya ingin sendiri hari ini. Kenapa ada seseorang yang harus mengganggunya? Menyebalkan sekali!

"Oh, Gaara. Silahkan masuk." Mereka berdua segera menuju ke ruang tamu dan duduk di atas sofa.

Setelah mereka duduk, Gaara hanya melihat raut kecemasan yang tersirat di wajah Sakura. "Ada masalah apa lagi?"

"Entahlah, sampai sekarang rasanya aku masih belum tenang. Mungkin karena takut mendengar pengumuman dari pihak rumah sakit." Sebenarnya Sakura hanya berbohong. Ia tidak memikirkan hal itu sebelumnya.

"Apapun hasilnya, semua akan baik-baik saja." Gaara mencoba menghibur.

Dengan susah payah Sakura menarik sebuah senyuman. "Menurutmu apakah ibuku akan menjual rumah ini? Kami tidak mungkin tinggal di rumah sebesar ini dengan kondisi kami yang sekarang."

"Kenapa kau selalu terlihat seperti orang miskin? Kau masih punya asurasi yang belum selesai diurus. Bagaimana kalau kau buka restoran atau kedai kopi setelah uang asuransimu keluar?"

"Aku tidak berhak dengan uang itu." Sakura mengedikan bahunya pasrah.

"Jadi, apa kau punya rencana untuk ke depan? Apakah ingin berlibur ke tempat yang tenang? Kembali ke Konoha terlebih dahulu?"

Sakura langsung terdiam. Bagaimana bisa Gaara menebak dengan benar apa keinginannya untuk saat ini.

Karena Sakura hanya diam saja, Gaara berbicara lagi. "Apa aku salah bicara?" Gaara memasukkan tangannya ke dalam saku jaket yang ia kenakan. Sebenarnya ada sesuatu di sana. Ada sebuah kotak kecil beledu berwarna merah cabai—yang di dalamnya ada sebuah cincin berlian. Untuk Sakura.

Dan sepertinya ia tidak memiliki waktu yang bagus untuk ia serahkan.

"Hm, aku akan mengambilkan kopi untukmu. Tunggu sebentar ya?"


Secangkir kopi panas diletakan Tenten ke atas meja Naruto. Dengan cengiran kaku Tenten duduk di hadapannya. Pria pirang itu serius sekali menghadap layar leptop. Apa lehernya tidak kaku seperti itu terus sepanjang hari?

"Ada apa?" Naruto melirik cangkir kopi itu yang isinya masih mengepul. Bau kopinya sungguh menggoda.

"Untukmu. Lembur hari ini tentu butuh kopi," jawab Tenten dengan senyuman yang lebar. Pasti ada sesuatu.

"Terimakasih." Naruto langsung meraih cangkir tersebut lalu menyesapnya perlahan. Kemudian pandangannya kembali ke layar leptop.

"Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan."

"Katakan saja," ujar Naruto tanpa mengalihkan perhatiannya.

"Ada seseorang yang ingin sekali bertemu denganmu. Dia temanku yang berpapasan dengan kita saat di bar beberapa hari yang lalu. Apa kau ingat?"

"Tidak."

Tenten mengerucutkan bibirnya. Akhir-akhir ini pria itu memang menyebalkan sekali. Mungkin karena Sakura sudah mendadak menghilang dari rumahnya (dengar-dengar sih). Karena jika menyebut nama wanita itu di hadapannya, membuat mood-nya akan buruk satu minggu penuh. "Ya, sudah. Aku katakan kau punya pacar saja ya, biar dia tidak memaksaku terus."

Naruto tahu, ia tidak boleh menolak orang-orang yang kelihatannya tertarik padanya. Ia harus mengakhiri semua ini atau ia akan terpuruk terus selamanya. Tentunya Naruto bukan pria bodoh yang rela dicampakan. "Baiklah, aku akan berkencan dengannya."

Tenten kembali menampilkan cengirannya. "Kalau begitu, izinkan aku mengatur kencan buta kalian."


Dengan izin dari ibunya, akhirnya Sakura tiba kembali di hadapan pintu apartemen milik Uzumaki Naruto. Ya, di Konoha. Tentu saja ia merahasiakan hal ini dari semua teman-temannya, karena kali ini adalah urusan pribadinya yang sangat penting—yang tidak boleh diikut campuri oleh siapapun.

Sakura tahu, jam sembilan pagi adalah jam kerja pria itu. Pasti tidak ada orang di dalam sana. Ia sengaja datang pagi-pagi ke sini dengan keberanian yang penuh. Sebenarnya Sakura merasakan sedikit ketakutan dalam hatinya. Dan pria itu tentu saja berhak untuk marah atau memaki dirinya jika mereka bertemu nanti. Ah, Sakura harus menyiapkan mental yang kuat.

Sakura sengaja menemui bibi Shizuka beberapa saat yang lalu, ia meminta kunci duplikat apartemen pria itu dengan sedikit paksaan. Ia bersyukur bibi Shizuka masih mau membantunya setelah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Sakura masuk ke dalam apartemen itu. Keadaan di sini benar-benar sepi. Tirai-tirai jendela masih belum dibuka. Apakah memang kebiasaannya seperti ini sebelumnya? Sakura berjalan melangkah ke arah kamarnya. Bahkan ia tidak mengunci kamarnya sendiri.

Sakura langsung menutup mulutnya ketika ia membuka pintu kamar pria itu. Astaga, berantakan sekali. Apa ia tidak mencari pembantu lain setelah Sakura pergi meninggalkannya?

Baiklah, sekarang waktunya bersih-bersih di dalam apartemen ini. Naruto pasti merasa terkejut setelah pulang nanti.

...

Sudah lewat jam enam malam tetapi Naruto belum pulang juga ke apartemen. Apakah ia sedang lembur? Kemungkinan juga begitu. Sakura sudah lelah menunggunya di rumah. Makan malam sudah ia siapkan dari tadi walau ia tidak tahu apakah Naruto akan memakannya.

Sakura segera berdiri dan meraih tasnya. Ia harus ke kantor Naruto untuk menemuinya sekarang.


Sebenarnya Naruto punya jadwal lembur malam ini. Karena ia punya janji kencan buta, ia harus izin sebentar untuk menemuinya. Sebenarnya kencan di kafe adalah tempat terbaik untuk awal perkenalan. Berhubung ia punya waktu hanya dalam setengah jam, jadi ia tidak bisa berkencan di luar kantor.

Tempat yang dipilihkan Tenten adalah taman kantor mereka. Di sana ada kursi-kursi dan beberapa meja duduk untuk tempat pertemuan di luar ruangan. Pada malam hari tempat ini sepi. Walau begitu, tempat inilah yang paling dekat untuk kencan pertama mereka.

Naruto sudah menyiapkan dua cangkir kopi untuk mereka nanti. Saat ia sudah sampai ke taman itu, tidak ada seorang pun di sana. Mungkin teman kencannya mendapati sedikit kendala untuk sampai ke sini. Tak apalah, lebih baik menunggu daripada ditunggu.

Naruto segera mengambil salah satu bangku di sana. Ia mencoba mengingat-ingat wajah teman Tenten yang diketahuinya bernama Sara itu. Naruto benar-benar tidak ingat wajah wanita itu. Ia hanya berharap wanita itu adalah wanita yang terakhir yang akan ia kenal nanti.

Pria itu memutuskan untuk menyesap kopinya lebih dulu karena ia merasa bosan. Ia ingin menanyakan apakah Sara benar akan datang atau malah tak jadi. Sepuluh menit lagi, wanita itu tak muncul, Naruto akan kembali ke ruangannya saja.

Naruto merasakan seseorang berdiri di sisinya. Saat ia mengangkat wajahnya, wanita berambut merah muda tengah menatapnya balik. Sakura Haruno tengah berada di hadapannya. Apakah wanita yang akan ditemuinya adalah Sakura? Hah, Tenten pasti bercanda.

Naruto tahu, ia sedang tidak bermimpi. Ia pernah mengalami hal ini sebelumnya—bertemu dengan wanita yang sedang tidak ingin ia jumpai. Dan kejadian ini terulang lagi. Ia hanya bersikap datar saja. Bersikap apa adanya. Lagipula ia sudah tidak pernah berharap lagi akan bertemu dengan wanita itu.

"Apa kabar?" sapa Sakura sebelum ia mengambil tempat duduk yang seharusnya milik wanita yang sedang ditunggu Naruto.

Naruto berusaha tidak penasaran kenapa bisa ada wanita itu di sini. "Aku baik-baik saja. Kau sendiri, apakah baik-baik saja juga?"

Sakura menjilat bibirnya agar tidak tampak kering di udara malam yang cukup dingin ini. "Bagaimana mungkin aku bisa baik-baik saja." Sakura sempat bersyukur akan bertemu Naruto secepatnya. Tidak menyangka bahwa pria itu akan duduk di luar kantor pada jam seperti ini. Ia mengira mungkin pria itu sedang mencari angin.

Naruto hanya kembali menyesap kopinya. Ia tahu pergerakan wanita itu tampak kaku dan ragu-ragu. Mungkin saja ia sudah tahu letak kesalahannya. Syukurlah, itu berarti membuat Naruto tidak perlu membahasnya lagi. "Sebenarnya aku duduk di sini ingin menemui seseorang. Bisakah kau segera berpindah tempat sebelum ada kesalahpahaman di sini?"

Sakura segera mengangkat wajahnya, dalam beberapa detik ia tercekat. "Jadi, kau sedang ingin berkencan?" ia melirik sebuah cangkir plastik kopi yang masih tertutup. Kopi itu menjelaskan semuanya—memang dari tadi ia sedang menunggu seseorang. "Aku tidak akan berpindah tempat!" Sakura menegaskan alisnya. Hatinya tampak marah dan sedikit tak terima. Apa Naruto pria seperti itu? Bisa dengan cepat menemukan wanita yang baru.

Astaga, Naruto merasa pundaknya mendadak berat.

"Naruto, maaf ya aku terlambat."

Sebuah suara membuat mereka berdua menoleh. Di samping meja mereka Sara sudah berdiri dengan jaket tebal yang membungkus badannya. Sara melirik ke arah Sakura sesaat. Kemudian ia kembali menatap Naruto seolah bertanya—siapa dia? Bukankah kita akan berkencan, mengapa kau duduk bersama seorang wanita?

Sebelum Naruto lebih dulu menjelaskan, Sakura malah angkat bicara. "Tunggulah sepuluh menit lagi, ini masih giliranku. Aku belum selesai berkencan dengan priamu," ujar Sakura kepada Sara, sementara tatapannya berpusat pada pria itu.

"Apa?" ujar Sara tak percaya. Ia tidak menyangka akan begini jadinya. "Aku tidak tahu kau punya banyak janji kencan rupanya." Sara segera berbalik melangkah meninggalkan mereka dengan cepat. Terlihat sekali raut kecewa yang ada di wajah wanita itu.

"Sara, tunggu dulu! Biar aku jelaskan!" Naruto segera berdiri berusaha mengabaikan Sakura yang matanya mulai berkaca-kaca. Jadi, rasanya seperti ini diabaikan. Hebat sekali pria itu. Dengan sangat mudah sudah melupakannya.

Sakura segera berdiri pula. Ia tidak boleh berpasrah membiarkan Naruto mengejar wanita yang bernama Sara itu. Sakura terus mengikuti arah kaki Naruto sampai menuju ke luar area taman ini. Langkah kaki Sakura berhenti cukup jauh di belakang Naruto. Sementara Sara sudah pergi dengan taxi bersamanya. Pria itu tampak kecewa sekali, ia mengusap wajahnya frustrasi dan sedikit tidak enak hati telah menyakiti wanita yang baru ia temui malam ini. Pasti Tenten akan marah mendengar hal ini.

Sakura segera mengusap air matanya saat Naruto mulai menyadari keberadaannya. Pria itu melangkah ke arahnya dengan wajah yang ditekuk. Sakura baru kali ini melihat ekspresi Naruto yang benar-benar menakutkan itu. Rasanya benar-benar aneh.

"Apa dia pacarmu?" tanya Sakura sekali lagi saat Naruto sudah ada di hadapannya.

"Ya, dia pacarku." ujar Naruto hanya berbohong, sementara napasnya agak sedikit tersengal. Ia berharap dengan jawaban seperti itu Sakura tidak akan pernah muncul lagi di hadapannya.

Sakura tampak menggigit bibirnya. Rasanya ia ingin segera menangis meraung-raung di sini. "Kenapa kau bisa secepat itu bisa punya pacar?" suara Sakura mulai bergetar. Ia berusaha berdiri kuat-kuat agar tidak merosot jatuh.

Naruto berusaha mengabaikan tatapan memelas Sakura yang benar-benar ia benci. Ia benci melihat wajah seperti itu, yang dapat membuat hatinya sedih. "Sakura-chan, aku senang bisa bertemu denganmu lagi sekarang, namun sayang waktunya benar-benar tidak pas."

"Aku minta maaf!" sela Sakura cepat. "Maafkan aku atas semua apa yang sudah aku lakukan! Aku tahu, kemarin aku salah telah meninggalkanmu, aku benar-benar emosi kemarin—"

Naruto mencoba untuk tersenyum. Memaafkan itu adalah hal yang mudah baginya. Tapi, untuk mengulangi hal yang sudah membuatnya terjatuh, tentu tidak termasuk dalam kamus besarnya. "Aku tidak marah padamu. Lagipula sepertinya aku yang salah soal kemarin. Jadi, lupakan saja. Dan aku harap kejadian tadi adalah yang terakhir kau lakukan kepadaku."

Kedua tangan Sakura terkepal, ingin rasanya ia menampar pria itu dan berlari dari sini jauh-jauh. Nadanya lembut tapi perkataannya benar-benar menusuk.

"Kau menginap di hotel mana? Aku akan menelpon taxi untukmu, Sakura."

.

.

.

[tbc]


Sebenernya ini porsi untuk dua chapter sih. Tapi, ya udahlah aku jadii satu aja hohoh.

Oh ya, sepertinya nama Sasuke agak sensitif ya bwahahah. Semua langsung berpikir akan ada pihak lain lagi. Ya, enggaklah. Harga diri Sasuke gak akan serendah itu. Sudah dicampakan Sakura di awal masa mau ngejer lagi. Dan saya berpikir, apalah kaitannya chapter satu jika Sasuke tak dimunculkan lagi. Jadi, amanat yang saya tulis buat kalian adalah: buatlah hubungan yang baik dengan mantan. Karena suatu hari kalian bakal butuh dia juga walau kalian benci dia XD *plak*

Balesan review non login.

Wahyukhalil3 : huahah kalo kamu merasa hurt, berarti feelnya dapet ya *ngarep*

Guest : hiks makasih sudah mejadikan saya author fav kamu huaaaaa *nangisbombai*

Red hawk, Guest : thanks for reading.

Asdf : kenapa bang? Jangan gitu dong, si Sasuke baik kok XD

CAR : Yep, kemungkinan chap 16 adalah ending dan ditambah satu chapter epilognya

Guest : Kenapa Sasuke yang dipilih? Biar greget aja *dilempari tomat* mauuu xD

Nagasaki : Loh, kenapa pikiran kamu kalot?


Pasti ada readers yang berpikir, wah tambah ribet nih cerita. Kita liat aja apa yang ada di chapter depan nanti ya. Jeng, jeng, jeeeng *lebai*

Baiklah semua, thanks for reading ya. Kalau ada satu-dua yang mau dikomentar silahkan tulis saja.