Peringatan : Typo (S), OOC, AU. Sedikit bumbu lebay dan drama XD
Disclaimer : Applied
...
Chapter 16 : Oh my Nutrient.
...
Ah, tenggorokan yang perih ini, seakan di dalam sana seperti sebuah sungai kering yang hanya ada batu-batu yang menyumbat aliran air. Ia butuh secangkir air putih hangat untuk menghilangkannya. Kepala terasa pusing dan juga berat ini. Serta pernapasan yang sedikit sesak.
Wanita pemilik surai merah muda itu mengerjabkan mata. Sinar matahari sudah menerangi kamar yang berukuran 2x3 ini. Yah, sudah pagi ternyata.
Mata emerald-nya mengamati kondisi dan bentuk bangunan yang berada di sekitarnya. Terasa tidak asing. Bahkan harum ruangan ini. Hm, harum coklat samar-samar yang terasa manis.
Sakura kembali menarik selimut hingga menutupi kepalanya. 10 menit lagi ia akan bangun, janjinya dalam hati. Namun, otaknya langsung menyadari sebelum 10 menit itu berjalan. Sakura langsung menibakkan selimut dan berangkat dari tempat tidurnya.
Saat wanita itu menoleh ke ambang pintu, jelaslah sudah ia berada di mana sekarang.
Naruto tengah berdiri di sana, dengan segelas cangkir berisi teh hangat ditangannya. Entah sejak kapan, Sakura tidak bisa segera menyadarinya. Astaga, ia baru ingat apa yang sudah terjadi semalam. Dan itu benar-benar memalukan.
...
Setelah perpisahaan yang terjadi di depan kantor Rutan, Sakura memutuskan untuk singgah ke sebuah bar terdekat. Di sana ia hampir meneguk lima botol berukuran sedang sake dengan bau yang benar-benar tajam. Setelah puas dan menjadi sangat mabuk, wanita sempoyongan itu menyetop sebuah taksi di pinggiran jalan tanpa berniat akan bersinggah kemana. Di dalam perjalanan, ia terus-terusan mengomel—berkata kasar yang seharusnya bukan bagian pekerjaan dari pak sopir untuk mendengarkannya.
"Nona, anda mau saya antar kemana?" tanya pak taksi dengan sedikit kecemasan dalam hatinya. Sudah hampir lima belas menit mereka berputar di jalan ini. Selama itu pula, pak taksi harus mendengar isi hati dari wanita itu. Punya penumpang mabuk itu sedikit merepotkan. Bisa saja ia melakukan tindakan yang kejam—seperti mencekik pak sopir dari belakang, dan menganggap dialah penyebab dari masalah ini.
"Apa kau sedang bertanya dimana aku tinggal?" Wanita itu tertawa dengan kerasnya. Bau alkohol dari tubuhnya menguar di sekitar sini. "Aku tidak punya tempat tinggal!" Detik ini ia malah menangis. Sepertinya ini akan memakan waktu. Pak sopir hanya berharap ia akan tetap membayar tagihan ongkos semahal apapun walau dalam keadaan tidak sadar.
"Kenapa di sini bau alkohol? Anda sedang mabuk ya, pak? Kita bisa ditangkap polisi kalau anda mengemudi dalam keadaan mabuk. Sini biar aku saja yang memegang setir!"
Sakura meraih bahu sopir itu. Pak sopir terpaksa harus menyentak tangannya agar tidak mengganggu konsentrasi menyetir. "Apa anda benar-benar tidak ingat nama komplek tempat tinggal teman atau kenalan anda jika anda tidak punya rumah?"
Tidak ada tempat lain yang bisa Sakura sebut kecuali letak apartemen Naruto. Segera saja pak sopir mengantarnya ke sana dan membawanya pada Naruto.
...
"Benarkah, kau tidak ingat apa yang sudah terjadi semalam?"
Oh, Sakura, ini benar-benar memalukan. Sakura hanya menggeleng tanda ia tidak mengingat semuanya. "Sepertinya aku benar-benak kehilangan kesadaran semalam." Sakura memegangi dahinya agar sakit kepalanya terlihat jelas sekali. Kemudian ia kembali merebahkan badan di atas kasur itu dan menarik selimut.
"Kau minum banyak sekali." Bau alkohol dari badan wanita itu benar-benar tajam sekali sampai pagi ini. Naruto meletakan cangkir yang ia pegang ke atas nakas. "Baiklah, istirahatlah dulu saja." setelah mengatakan itu, Naruto keluar dari kamar itu dan menutupnya.
Sakura langsung bangun dan meminum air teh hangat itu setelah ia merasa Naruto sudah benar-benar tidak ada di depan pintunya lagi. Hah, dengan begini tenggorokkannya sedikit tertolong. Tapi, bagaimana ini? Sakura memegangi kepalanya. Apa yang harus ia lakukan? Untung saja pria itu memberikan sedikit bantuan untuk dirinya saat ini—setidaknya ia tidak diusir secara halus lagi seperti semalam.
Sakura kembali memandangi isi dari dalam kamar ini. Jika dilihat-lihat, keadaan kamar ini tidak berubah sedikit pun dari saat ia terakhir pergi dari sini. Bahkan beberapa debu yang menempel di nakas tidak pernah dibersihkan.
Sakura segera berdiri menuju ke lemari pakaian. Ia membuka pintu lemari itu. Baju-baju yang tergantung di dalam sana semua masih miliknya. Tidak ada yang dibuang atau dihilangkan satupun dari sana. Ada apa ini? Kalau ia sudah punya pacar, seharusnya pacarnya membereskan semua barang-barang wanita yang ada di sini. Apa mungkin karena mereka berdua sama-sama sibuk? Lalu, keadaan apartemen juga. Ruang tamu dan seisi rumah tidak terlihat sedikit tertata. Seharusnya jika ia punya pacar sekarang, setidaknya pacarnya membantunya berberes—atau minimal menjenguknya untuk mengantarkannya sarapan.
Sakura jadi teringat sesuatu, ia segera mengecek laci dalam lemari itu. Ia penasaran, apakah kotak kecil bergambar strawberry yang tidak jadi ia buang kemarin masih ada di sana. Setelah Sakura mengeceknya, ia tidak percaya dengan isi laci itu.
Sekotak pengaman bergambar strawberry masih ada di sana.
...
Ada hal aneh yang terjadi di dalam apartemennya semalam. Dan pagi ini Naruto baru menyadarinya. Tempat tinggalnya mendadak bersih dan tertata rapi, apa sebelumnya Sakura sempat mampir dulu kemari untuk mengecek kondisi apartemennya? Mengapa wanita itu melakukan ini—padahal ia bukanlah siapa-siapanya lagi.
Naruto sadar, semenjak Sakura hadir di dalam apartemennya, membantu pekerjaan rumah, semuanya terasa ringan. Sampai ia harus mendadak kehilangan wanita itu. Dari situ Naruto merasa ia sudah bergantung kepada Sakura. Tidak ada seorang yang bisa menggantikan posisinya. Bahkan seorang pelayan yang lebih terpelajar dan lebih berpengalaman sekali pun.
Dari semua hal itu, Naruto sadar. Sakura tidak pantas menjadi pengurus rumahnya. Ia adalah seorang dokter dan memiliki urusan pribadi yang sangat penting—bahkan dirinya pun tidak harus membantu menanganinya. Seharusnya dari awal ia tidak bisa menaruh hati padanya, yang pada akhirnya ia harus tersakiti (lagi).
Tapi, setelah melihat kejadian semalam, saat wanita itu tengah mabuk dan tak berdaya. Naruto dapat melihat wajah frustrasi dari Sakura yang begitu polos. Melihat itu membuat Naruto merasa bersalah.
Naruto sudah siap dengan kemeja kantornya. Jas abu-abunya, ia sampirkan di lengannya. Kemudian ia berjalan kembali ke arah pintu kamar Sakura dan mengetuknya perlahan.
Di dalam kamar, Sakura langsung gelagapan. Secepat mungkin ia kembali merebahkan badannya ke tempat tidur agar semua nampak alami seperti semula.
"Aku akan pergi ke kantor sekarang." Terdengar suara Naruto dari luar kamar. Sakura bernapas lega, untung dia tidak asal masuk saja. "Kalau kau sudah merasa baikan, makanlah sesuatu yang ada di kulkas ya."
"Terimakasih," sahut Sakura dengan suara seraknya. "Maaf merepotkanmu."
Tidak ada sahutan lagi dari Naruto, mungkin ia sudah bergeges ke luar rumah. Setelah ini Sakura harus segera membersihkan dirinya dan juga mengisi perutnya yang benar-benar terasa perih itu.
.
.
.
Setelah Sakura mendapati dirinya sudah kembali segar, ia mendadak memiliki sebuah rencana. Ia benar-benar penasaran dengan keseharian Naruto sekarang. Terutama penasaran dengan pacarnya. Normalnya, jika pasangan sedang bertengkar pada hari sebelumnya, mereka pasti akan bertemu pada jam makan siang pada hari berikutnya. Jadi, kalau hari ini Sakura sedikit memata-matai pria itu, kemungkinan besar ia akan bertemu dengan pacarnya.
Kini Sakura sudah berada di depan kantor Rutan. Namun, untuk masuk ke dalam bangunan tersebut, ia tentu tidak punya alasan yang pasti. Bisa-bisa ia hanya dilempar oleh petugas keamanan karena asal masuk saja.
Sakura melirik jam tangannya. Sudah hampir jam satu siang ternyata. Hah, dia melewatkan jam makan siang karena harus terlambat menunggu bis yang datang. Dengan begini sia-sia saja ia datang kemari. Kemungkinan besok ia harus segera pulang ke Hokaido. Ia tidak bisa lama-lama di sini karena ia tidak boleh seenaknya meninggalkan ibunya sendirian di sana (walau ibunya tidak meminta).
Sakura hampir saja putus asa. Tapi, mendadak semangatnya kembali ketika ia melihat Sai sedang keluar dari pintu depan. Entah kenapa sosok Sai sekarang mendadak seperti seorang malaikat bersayap lebar berwarna putih.
Sakura melambaikan tangan ke arahnya yang langsung dikenali oleh Sai.
...
"Kau keluar sendirian saja?" tanya Sakura setelah mereka sudah duduk di salah satu bangku di area taman kantor. Tempat inilah yang semalam membuatnya benar-benar menjadi wanita yang menyedihkan.
Sai meletakan dua buah cangkir plastik cup mango juice. "Ya, aku hanya ingin beli ini saja. Sementara yang lain masih sibuk di dalam ruangan."
"Kenapa mereka tidak keluar? Apa tidak ingin makan siang?" tanya Sakura penasaran.
"Maksudmu, kau bertanya tentang Naruto, kan?"
Sakura mengangguk malu-malu.
"Dia lebih suka makan di dalam kantor. Lagipula kantor kami memiliki ruangan khusus tempat santai jika ada pegawai yang malas keluar."
Sakura hanya berucap oh, soalnya Naruto tidak pernah bercerita tentang hal itu. "Apa dia tidak makan bersama pacarnya?"
"Pacar?" Sai hampir saja tersedak oleh mango juice-nya. "Aku hanya tahu dia baru berkenalan dengan seorang wanita kemarin."
"Benarkah?"
...
Saat Naruto sudah kembali dari WC untuk mencuci mukanya, ia melihat Tenten, Sai dan Shino masih duduk di depan ruangan pemasaran. Bukankah waktu makan siang sudah habis dan seharusnya mereka sudah berada di dalam?
"Kenapa kalian masih ada di sini?" tanya Naruto heran. Tidak biasanya saja mereka suka duduk di luar ruangan yang tanpa AC ini.
"Masuklah, kami sedang ingin duduk di sini saja," sahut Sai santai. Di tangannya ia sedang memegang sebuah majalah fashion.
"Heh, ngomong-ngomong aku tidak akan lagi mengenalkanmu dengan temanku," Tenten mengomel sembari memandangi kaca jendela—yang di luarnya hanya ada deretan parkiran mobil dan juga scooter.
Naruto menggaruk belakang lehernya. Sedikit banyaknya ia merasa tidak enak juga. Walau begitu, Naruto tidak memiliki keinginan untuk bertemu dengan Sara kembali. "Kalau begitu, tolong sampaikan maafku kepadanya ya."
Tenten memandangi kuku jari tangannya. Ah, tampaknya ia butuh ke salon sore ini. "Minta maaf saja sendiri. Lagipula sepertinya kau memang tidak tertarik. Masuklah saja ke ruangan, aku sedang tidak ingin berdebat."
Karena tak mau ambil pusing, Naruto langsung meraih gagang pintu dan membukanya. Setelah ia menutup pintu itu kembali, ia baru sadar ada seseorang yang tengah duduk di kursinya—yang sedang membelakanginya menghadap ke arah jendela. Oh, siapa lagi yang punya kepala berwarna merah muda. Kenapa bisa ia ada di sini sekarang?
Sakura langsung memutar kursi menghadap Naruto. "Kejutan! Aku sudah menunggumu!" ujar Sakura dengan senyum lebar di wajahnya. Rasanya ia sudah mempunyai kekuatan lagi telah mengetahui segalanya. Oh, terimakasih Tuhan.
"Kenapa ekspresimu seperti itu?" Sakura hanya melihat kedataran dari wajah Naruto. Mungkin, saking kagetnya ia tidak bisa berekspresi apa pun. Sakura tertawa sendiri, ia merasa geli dengan apa yang sudah ia lakukan.
"Selain pegawai, orang asing tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruangan ini. Aku heran saja." Jelas Naruto apa adanya.
Apa mungkin saat ini Sakura sedang mabuk lagi? Wajahnya terlihat cukup berbinar-binar.
"Ya, aku tahu. Tapi, temanmu yang memperbolehkanku masuk. Hanya 10 menit saja aku di sini, tidak akan lama." Kemudian Sakura berdiri dari kursi kerja Naruto. "Ayo, silahkan duduk di kursimu."
Naruto belum mau berjalan menuju ke meja kerjanya. "Apa yang membuatmu datang kemari?"
"Hm, apa ya? Ada banyak sekali pokoknya," jawab Sakura dengan suara riangnya—ia sepertinya benar-benar lupa apa yang sudah terjadi semalam. "Aku tahu, aku pantas mendapatkan hukuman kemarin. Tapi, aku benar-benar lega bahwa itu bukan pacarmu. Aku senang aku bisa melewati hukumanmu dengan baik. Jadi, sekarang aku sudah lulus, kan?"
Naruto hanya melongo sesaat. Dirinya saja tidak mengerti Sakura tengah membicarakan apa. Hukuman apa? Ia tidak sedang menerapkan itu padanya.
Respon Naruto berikutnya hanya tersenyum miring. Ia mundur satu langkah untuk meraih gagang pintu lalu membukanya kembali. "Silahkan keluar nona Haruno." Perintah Naruto ini membuat senyum Sakura luntur seketika. Apa-apaan pria itu? Hukuman apalagi kali ini?
Alis wanita itu mendadak bertaut. Wajah Naruto memang tidak terlihat sedang main-main. "Aku tidak akan keluar sebelum semuanya jelas!"
"Semuanya sudah jelas. Kau sudah tahu aku tidak punya pacar." Kata Naruto lagi. "Keluarlah, di sini bukan tempat untuk pertemuan urusan pribadi."
Wajah Sakura mendadak memerah karena emosi. Lagi-lagi ia harus diusir. Wanita itu segera berjalan cepat menuju ke arah pintu keluar. Mungkin kali ini ia juga salah karena menemuinya di dalam ruang kerja. Namun, untuk alasan apapun, Naruto benar-benar membuatnya marah karena merasa tidak dihargai.
Sakura menghentikan langkahnya tepat di depan Naruto. Ia menatap tajam mata biru pemuda itu yang sama sekali tidak memandangnya dengan penuh perasaan seperti sebelumnya.
Sakura merogoh tasnya, mencari-cari sesuatu di dalam sana. Saat ia sudah menemukan benda tersebut, ia segera melemparnya ke arah pria itu. "Ini, aku kembalikan padamu!" segera saja wanita itu keluar dari dalam ruangan—mengabaikan Sai dan yang lainnya masih duduk di koridor.
Oh, sepertinya sebuah pertengkaran sedang terjadi.
Sementara Naruto hanya bisa tertawa kecil melihat sebuah benda yang berhasil ia tangkap tadi. Pengaman bergambar strawberry. Ternyata Sakura tidak pernah membuangnya.
...
Sakura mengabaikan tatapan pegawai-pegawai yang dilewatinya. Sambil menunduk menyembunyikan air matanya ia berjalan cepat—sesegera mungkin untuk ke luar dari dalam kantor ini. Naruto benar-benar keterlaluan sudah memperlakukannya seperti ini. Ia sadar, ia memang sudah keterlaluan kemarin. Tapi, apa ia pantas mendapatkan balasan seperti ini? Apalagi yang bisa Sakura lakukan setelah ini?
Dasar pria brengsek!
Belum sampai wanita itu ke luar dari pintu utama kantor ini, seseorang menahan lengannya dan membuatnya berbalik untuk melihat siapa itu.
"Naruto ..." gumam Sakura sembari ternganga. Ia benar-benar tidak menyangka Naruto akan mengejarnya.
"Apa maksudmu melemparkan ini?" Naruto menampilkan kotak strawberry itu di hadapan Sakura. "Kau mau menggodaku?"
Mulut Sakura terbuka tanpa mampu mengatakan apapun.
"Ayo, bicara."
...
Kini mereka duduk saling berhadapan di salah satu meja kafe terdekat kantor Rutan. Sakura langsung memberikan penjelasan mengapa ia begitu dingin saat pertemuan mereka di depan pintu lift hotel kemarin. Ia sempat berpikir menyalahkan Naruto bahwa tidak segera memberitahu keadaan ayahnya. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, walau ia terlambat pulang, semuanya tampak berjalan dengan sempurna.
Ia juga sudah menceritakan apa yang dilakukannya sebulan ke belakang, dari saat pemakaman ayahnya berlangsung sampai ia memutuskan untuk kembali lagi kemari. Sesaat Naruto merasakan cemburu karena tidak ada ia di dalam ceritanya. Namun, Naruto harus mengakui, ia tidak akan mengerti harus melakukan apa jika ia ikut serta. Ia harus bisa berpikiran lebih dewasa menyikapi masalah ini. Ia benar-benar menyesal setelah mendengar cerita itu. Kondisi kehidupan wanita itu sekarang benar-benar dalam keadaan paling terpuruk.
"Aku benar-benar minta maaf," ujar Naruto sekali lagi. Wajahnya tampak meredup dan perasaannya benar-benar menjadi tidak nyaman. "Seharusnya aku tidak membuatmu menangis, Sakura-chan."
Sakura menggeleng. "Tidak, seharusnya akulah yang minta maaf. Aku selalu bertindak bodoh tanpa pikir panjang."
"Tapi, syukurlah. Kau bisa melewati semuanya dengan lancar. Aku harap pengumuman dari pihak rumah sakit akan terdengar baik."
"Terimakasih," ia meraih cangkir tehnya lalu meneguknya sedikit. Walau ia sudah menjelaskan semuanya dengan Naruto, dan pria itu sudah bisa menerimanya sekarang. Tapi, entah mengapa hubungan ini akan terasa sulit untuk dilanjutkan.
"Apa kau mencintaiku, Naruto?"
Naruto menarik salah satu sudut bibirnya untuk tersenyum. "Aku tidak akan semarah ini saat dicampakkan jika aku tidak mencintaimu."
Sakura mengerucutkan bibirnya. Kata 'dicampakan' terdengar sedikit menyinggung. "Aku senang mendengarnya. Tapi, sepertinya aku baru sadar aku tidak bisa selalu ada di sisimu untuk ke depannya." Helaan napas pelan terdengar dari tenggorokannya.
"Ya, aku tahu. Kita kan berada di dua kota yang berbeda." Naruto baru menyadari hal ini. Ia tidak mungkin memerintahkan Sakura untuk tetap berada di sisinya dan membiarkan ibunya sendirian di sana. "Tapi, aku bukan pria yang suka membangun hubungan jarak jauh sih."
Dahi Sakura berkerut. Padahal ia tidak masalah jika harus berhubungan dalam jarak yang jauh. Kenapa? Ia sudah percaya dengan pria itu. "Apa itu artinya memang tidak bisa melanjutkan hubungan kita?"
Naruto menghela napas cepat, seperti baru saja melepaskan sebuah beban. "Aku pria yang tidak bisa menahan rindu. Bagaimana jika aku ingin makan masakanmu? Aku pasti akan tersiksa."
"Lalu bagaimana? Pekerjaan dan ibuku ada di Hokaido? Dan pekerjaanmu juga ada di sini? Apa kau tidak ingin mencoba dulu untuk satu sampai dua bulan ini? Kita masih bisa saling mengunjungi," Sakura memberikan beberapa kemungkinan terbaik agar pria itu dapat setuju.
Beberapa menit Naruto tampak berpikir. Sebenarnya ini cukup berat baginya. Namun, ini-lah sebuah resiko yang harus mereka dapat pada akhirnya. "Baiklah, untuk beberapa waktu kita akan mencobanya."
Sakura langsung tersenyum lebar mendengar itu. "Tapi, besok sore aku harus segera pulang. Aku tidak bisa berlama-lama di sini. Tidak apa-apa, kan?"
Naruto berkata tidak masalah. Tapi, tentu saja sebuah dengusan terdengar dari mulutnya. Naif sekali.
...
Pada sore yang sama di kota berbeda, di Hokaido. Ino duduk di dalam kantin sembari menikmati segelas jus kiwinya. Sudah dua puluh menit ia menghabiskan waktu di tempat itu, ia tidak sendiri di sana, sebuah smartphone selalu menemaninya kemana-mana. Dengan begitu walau sendirian, ia tidak akan tampak kaku.
Semua suara voting sudah ia susun menjadi sebuah laporan. Dan laporan itu sudah ia serahkan kepada kepala bagian. Semoga ini tidak sia-sia.
"Apa kau tidak punya pacar duduk sendirian saja di sini?"
Ino langsung mengangkat kepalanya. Kegiatannya berselancar di dunia maya mendadak tertunda karena ada seseorang yang harus mengganggunya.
"Gaara ... bagaimana kau bisa ada di sini?"
Gaara belum menjawab sampai ia duduk tepat di hadapan wanita itu. "Kantin rumah sakit masih terbilang tempat umum, memangnya hal yang aneh aku ada di sini?"
Ino menopang dagunya dengan sebelah tangan. Misi mereka sudah selesai. Jadi, mau apalagi pria tidak punya alis itu di sini. "Jangan-jangan kau sengaja kemari hanya untuk bertemu denganku," goda Ino dengan seringai nakalnya. Jika dilihat-lihat pria itu tidak buruk juga. Ia punya pekerjaan yang bagus dan tubuh yang kekar.
"Kebetulan sekali, aku hanya sedang mengunjungi seseorang dan tidak sengaja bertemu denganmu."
"Siapa, pacarmu?"
"Kusebutkan juga kau tidak akan tahu."
"Oh, baiklah." Ino kembali mengisap jus lewat sedotan berwarna putih itu.
"Omong-omong, aku suka bekerja sama denganmu dalam misi kita kemarin, kau melakukannya dengan sangat baik."
Ino mengagguk, ia sangat suka mendengar kalimat Gaara. "Terimakasih atas pujiannya."
"Jadi, apa benar kau tidak punya pacar?"
Apa semenyedihkan itu dirinya saat ini tanpa seorang pacar. "Pacar? Apa itu? Hahaha."
Gaara memicingkan matanya. Lelucon Ino benar-benar terasa garing. Sepertinya ia punya trauma yang mengesankan tentang seorang pacar.
...
"Aku baru tahu, jika kasurmu benar-benar empuk." Sakura merebahkan badannya di samping tubuh Naruto. Wanita itu langsung mengambil posisi menghadap ke arahnya. Sehingga saat ini mereka sedang tiduran sembari berhadapan. "Dan juga bantalnya, nyaman sekali. Kenapa kau tidak memberikanku bantal senyaman ini?"
Naruto tersenyum, rasanya jadi berbeda karena malam ini Sakura berada di dalam kamarnya. "Karena kau tidak protes, makanya aku tidak memberikan bantal yang baru."
"Coba dari dulu aku tidur di dalam kamar ini saja kalau begitu." Sakura menggigit bibir bawahnya karena ia sedikit grogi dengan alasan yang erotis tentunya. Berdua di dalam kamar bersama pacarnya. Oh, sejak kapan Sakura menjadi genit seperti ini.
"Kau yakin kita harus tidur satu kamar? Aku tidak bisa menjanjikan bahwa malam ini adalah malam yang tenang."
"Sepertinya aku lelah sekali." Sakura berpura-pura menguap padahal jelas sekali ia belum merasa ngantuk.
"Baiklah, aku akan berbalik arah saja," Naruto langsung mengubah posisi tidurnya membelakangi Sakura.
Raut wajah Sakura mendadak berubah menyesal. Seharusnya ia jujur saja ingin menghabiskan malam ini sembari melepas kerinduan—arghh, kenapa otaknya mendadak menjadi mesum, Tuhan?
Sejujurnya Sakura tidak suka dibelakangi. Tapi, walau begitu punggung Naruto tidak buruk juga untuk dipandangi. Bahunya benar-benar lebar dan terlihat seksi. Ah, Sakura tergoda untuk memeluknya.
Naruto merasakan tangan Sakura meraba-raba punggungnya. Hah, wanita ini. Ia tidak suka digoda tapi suka menggoda. "Biarkan lampu tidurnya menyala atau aku tidak bisa menahan diri." Sebelah tangan Naruto menangkap tangan Sakura untuk menghentikan tangan jahil itu.
Sakura terkekeh geli, ia sedikit menggeser badannya mendekat untuk berbisik tepat di belakang telinganya. "Kau tidak ingin ciuman selamat tidur?"
Naruto menoleh dari balik bahunya, ia melihat Sakura sudah memejamkan mata sembari memajukan mulutnya. Jadi, siapa yang lebih liar sekarang di antara mereka?
Cup.
Sakura harus kecewa karena ia hanya mendapatkan ciuman sekilas di dahinya.
"Selamat tidur, Sakura-chan." ujar Naruto yang diakhiri dengan menarik selimut untuk mereka berdua.
...
Sakura berjalan ragu untuk memasuki ruang tunggu stasiun kereta api. Di belakangnya Naruto mengantar wanita itu hingga sampai kemari. Sakura kembali berbalik menghampiri Naruto dengan raut wajah sedih. Waktu perpisahan sudah tiba dan ia sedikit tak rela. Sementara pria itu malah berwajah biasa saja.
"Aku akan menelponmu jika sudah sampai."
Naruto mengangguk. Padahal kalimat itu sudah diucapkan Sakura sebelum sampai ke stasiun ini. "Aku akan menunggu teleponmu."
"Aku akan sangat merindukanmu." Kalimat ini juga sudah diucapkan Sakura saat diperjalanan tadi.
Naruto tertawa sesaat. "Aku juga pasti merindukanmu, terutama masakanmu."
"Masakan, kan bisa aku kirimkan lewat paket kilat," seru Sakura. "Jangan berkencan dengan wanita lain. Jangan membawa teman wanita masuk ke apartemen, pokoknya jangan berselingkuh."
Naruto langsung menarik Sakura ke dalam pelukannya. Semua wanita sama saja, sama-sama cerewet, namun itulah bentuk kasih sayang yang mereka miliki. "Seharusnya itu adalah pesan untukmu. Bukankah kau banyak mempunyai teman pria apalagi yang berambut merah itu."
Tangan Sakura terangkat melingkari pinggang Naruto. Mereka berpelukan di antara lalu-lalang orang-orang di dalam stasiun ini. Beberapa orang ada yang memandangi mereka. Namun, Sakura tidak memperdulikan itu. Ia menyandarkan pipinya ke dalam dada pria itu. Hah, rasanya ia ingin mengurungkan kepulangannya saja. "Maksudmu Gaara?"
"Pokoknya dengan siapa saja. Oke?" Naruto melepaskan pelukannya karena kereta tujuan Hokaido ternyata telah tiba.
Dengan hati yang berat Sakura berjalan masuk ke dalam kereta. Ia langsung mengambil salah satu tampat duduk yang masih kosong. Orang-orang mulai memadati isi dalam gerbong. Ketika Sakura melihat ke luar jendela, ia tak menemukan lagi Naruto berdiri di tempat sebelumnya. Cepat sekali pria itu sudah memutuskan untuk pergi. Hah, melihat itu Sakura sedikit merasa kecewa. Apa bisa hubungan ini benar dilanjutkan?
.
.
.
[tbc]
Balas nonlog in:
Joyce, LF and banyu : ini sudah author apdet cepet ya. Thank you.
CAR : kwakakak, aku suka karma yang kamu tuliskan. Bener banget hoho. Thank you yak.
Guest : mengharukan tapi tidak ngenes ya? hihihi. Thank youu.
Hana : hoho, biar ada kesan ngenes aja sih wwww
AuthumnSpring98 : iya nih, tamatnya malah diundur. Aduh ceritanya emang less feel T.T tapi thank you yak.
Ara dipa : kenapa Gaara gak jadi lamar Sakura? Karena dia tahu Sakura gak bakal terima. Ragu aja gitu. Ok, kayaknya aku gak bisa ngirimin kamu pm ya. Thank you.
Guest : Wah, kalau itu terjadi berarti Naruto pendendem dong hihi jangan ya. Ok, thanks.
Asdf : wah kenapa banyak orang yang ngarep scene Naruto ngomong dia gak kenal aja terjadi sih hihihi thank you.
Wah, perkiraanku salah ya. Aku kira chapter ini bakal tamat wkakka gaktaunya pas kutulis ternyata panjaaang fufufu. Baiklah masih ada satu chapter lagi setelah mereka melewati masa-masa LDR dan pengumuman hasil dari keputusan tempatnya bekerja xD
Thank you.
