I do not own Naruto or any affiliates.

.

.

.

Saat berada di Hokaido, kehidupan Sakura kembali pada kebiasan-kebiasan sebelumnya. Seperti biasa, ia akan memainkan pianonya, merangkai bunga untuk menghiasi taman rumah dan melakukan yoga di bawah sinar matahari sebelum jam sembilan pagi. Ia melakukan semua itu seperti biasanya walau keadaan rumah sudah banyak berbeda.

Sampai saat ini, walau ia berada di sisi ibunya—hubungan mereka masih terasa kaku. Sakura harus selalu berkata formal di depan beliau. Ia hanya berharap seiring dengan berjalannya waktu—suatu hari ia akan menjalani kehidupan normal seperti antara hubungan ibu dan anak pada umumnya.

Hari ini waktunya ia berjalan-jalan ke luar rumah. Sudah lama sekali Sakura tidak menyusuri kota hanya sekedar untuk melihat-lihat pemandangan sekitar. Ia sedang berdiri di pinggiran sebuah danau yang keadaannya cukup ramai dikunjungi orang-orang—hanya sekedar berpiknik atau bersantai saja. Kalau saja hari ini hari libur, mungkin suasana akan lebih ramai lagi.

"Sakura, maaf sudah membuatmu menunggu!" Moegi dengan keringat yang membasahi poninya sudah berada di hadapannya.

Sakura menoleh, syukurlah jika Moegi akhirnya datang juga. "Tidak apa-apa, aku baru sepuluh menit di sini."

Kemudian mereka berdua memutuskan untuk menyewa sebuah perahu berkarakter bebek. Dengan berbekal pelampung yang terpasang di badan mereka, mereka terus mengayuh perahu itu dengan kedua kaki tanpa bantuan mesin tentunya. Kegiatan ini benar-benar lucu sekali. Umumnya adalah sepasang kekasih yang melakukan kencan di tempat seperti ini.

Setelah sampai ke tengah danau, mereka menghentikan kayuhan pada perahu. Sakura merasakan kakinya kram. Kayuhan perahu tentu tidak sama dengan sepeda. "Apa di sini tempatmu biasa kencan?" tebak Sakura yang membuat pipi Moegi menjadi merah.

"Yah, di sini kami mendapatkan situasi yang tenang. Lihat, tidak ada keributan atau suara lalu lintas, kan? Ketenangan seperti inilah yang aku suka."

Sakura mengangguk-angguk. Di antara mereka hanya ada genangan air dan angin sepoi-sepoi yang menyejukan. Moegi benar, di tengah danau adalah tempat yang terbaik untuk mencari ketenangan. "Aku tunggu surat undangan pernikahanmu kalau begitu."

Moegi berdecak. "Soal itu masih lama. Kau duluan saja biar kami bisa menyusul."

"Pacarku tidak ada di sini. Kadang aku berpikir, pada akhirnya kami tidak akan bisa bersatu." Sakura menghela napas pasrah. Hubungan jarak jauh itu benar-benar payah.

"Jangan berpikiran negatif," ujar Moegi. "Aku penasaran bagaimana fisik pacarmu itu."

Sakura terkekeh sendiri. "Hem, kau tidak akan bosan jika berada di dekatnya. Dan dia adalah orang yang sangat berjasa untukku."

"Wah, beruntung sekali!"

"Ngomong-ngomong ini sudah lewat sebulan tapi, pengumuman dari pihak rumah sakit belum ada ya?"

Wajah Moegi langsung berubah datar. Pasti ada sesuatu yang sudah disembunyikannya. "Sebenarnya pengumuman sudah keluar dari beberapa minggu yang lalu."

"Benarkah? Kenapa tidak memberi tahu? Hah, kau ini tega sekali!"

"Kami tidak ingin membuatmu kecewa."

Sakura menjitak kepala Moegi karena ia merasa kesal telah melewatkan hal ini cukup lama. "Aku tidak akan kecewa. Ayo, katakan!"

"Maafkan kami, Sakura. Sebenarnya hasil dari keputusan kau tetap diberhentikan dari rumah sakit sebagai pegawai negeri." Moegi melirik ekspresi Sakura—kalau-kalau ia langsung kecewa. Tapi ternyata tidak, ekspresinya biasa saja. "Tapi, mereka tidak akan mencabut gelar doktermu."

Sakura sudah menduga hal itu. Mau bagaimana lagi, ia sudah berusaha dan inilah hasilnya. "Oh ... ya sudah. Aku tidak masalah sih. Selain bekerja menjadi dokter aku punya pekerjaan alternatif lainnya."

"Memangnya apa?"

"Menjadi pengusaha. Hm, tentu aku tidak berniat akan membangun usaha properti seperti ayahku. Mungkin toko obat atau toko bunga. Ah, nanti aku pikirkan lagi," ujar Sakura berpikir sendiri. Kemudian Sakura teringat sesuatu, jika ia sudah diberhentikan katanya Moegi akan berhenti juga, kan? Ah, itu tidak bisa dibiarkan. "Hei! Jangan bilang kau sudah mengundurkan diri dari rumah sakit!"

"Itu terserah aku."

.

.

.

Waktu berjalan sangat cepat. Sakura tidak percaya, ia sudah melewati satu bulan tanpa bertemu dengan pria itu. Rasanya memang sangat menyesakan. Tapi, lama-lama ia yakin akan semakin kuat menghadapi ini.

Walau mereka berada di tempat berjauhan, terkadang Sakura melihat Naruto berjalan melintas di hadapannya sembari menampilkan cengiran dan menyapanya dengan gayanya yang khas. Dan ketika Sakura berada di depan pencucian piring, ia merasa Naruto tengah duduk di meja makan sedang menyantap masakannya tanpa menyisakan sedikit pun. Kebersamaan mereka terasa begitu cepat. Dari pertama kali Sakura memasakannya bubur daun bawang sampai hingga terakhir masakan yang disugguhkannya saat itu. Semua itu masih sangat teringat jelas.

Mendadak nada notifikasi line berbunyi dari ponselnya. Sakura segera mengelap tangannya untuk meraih ponsel yang ia letakan di atas meja makan. Sebuah pesan dari Naruto membuatnya mengulum senyuman lebar.

"Sekarang aku sedang berada di jembatan Taushubetsugawa, jemput aku soalnya di sini dingin sekali."

Sakura memiringkan kepalanya. Bukankah jembatan itu letaknya berada di kota ini? Itu berarti Naruto ada di sini sekarang. Tidak mungkin, kenapa mendadak seperti ini? Kenapa tidak mengabari dulu bahwa akan berkunjung? Yah, pasti Naruto hanya bercanda. Segera Sakura membalas pesan tersebut.

"Tidak lucu! Dan jangan bercanda. Memangnya kau tahu jembatan Taushubetsugawa?"

Tidak lama kemudian sebuah notifikasi line berbunyi lagi. "Aku punya waktu luang dan terdampar di sini. Memangnya sejauh apa sih Hokaido?"

Sakura segera melepas celemeknya. Untung saja ia telah menyelesaikan semua urusan di dalam dapur, kalau tidak ia hanya akan meninggalkannya saja. Sakura segera berlari menuju kamarnya yang berada di lantai atas untuk mengambil jaket. Dengan langkah kilat ia sudah kembali ke bawah lagi.

Mebuki sedang duduk di ruang tamu dengan tenang. Sementara Sakura tidak mungkin hanya lewat serta mengabaikannya. "Ibu, aku keluar sebentar. Tapi, jika tidak memungkinkan aku pulang malam ini, aku akan menginap di rumah Ino," kata Sakura sedikit ragu. Napasnya sedikit tersengal karena selain sedikit gugup, ia juga tersengal akibat berlari di dalam rumah.

"Kalau begitu hati-hati dalam mengemudi," jawab Mebuki. Ia meneliti ekspresi Sakura yang tergesa-gesa dengan wajah berbinar. Apa dia ada kencan mendadak?

"Aku akan menjaga diri." Sakura sempat membungkukan badan tanda pamit—sebelum bergegas keluar dan masuk ke dalam Kei-car merahnya.

.

.

.

Sampai di sana Sakura segera memarkirkan mobilnya di pinggir jembatan. Ia segera keluar dari dalam dan berlarian menuju tangga. Ada sedikit rasa tidak percaya bahwa mereka akan bertemu sekarang. Awas saja jika ia tidak ada di atas sana. Sakura akan—

Langkah kaki Sakura terhenti. Di tengah dinginnya angin yang berhembus di atas jembatan ini, dari kejauhan ia melihat seorang pria yang sangat ia kenal sedang berdiri di pembatas jembatan. Kelihatannya ia sedang menikmati pemandangan malam di sekitar bawah jembatan Taushubetsugawa. Ia tampak kedinginan dari dalam balutan jaket tebalnya.

Sakura benar-benar merasa terharu. Ia bersumpah tidak ada lagi laki-laki yang dapat menyeimbanginya kecuali Naruto. Hanya Naruto takdirnya.

Pada akhirnya Naruto tersadar dan menoleh ke arah Sakura. Ia tersenyum hangat lalu merentangkan kedua tangannya lebar. Tidak butuh menunggu lama, Sakura segera berlari ke dalam pelukan Naruto. Membenamkan kepalanya ke dalam dada bidang pria itu—melepaskan setiap kerinduannya lewat beberapa langkah dari jarak yang ia ambil untuk dapat meraihnya.

"Kenapa kau tidak memberitahu kalau punya rencana untuk kemari, kau membuatku hampir jantungan." Hah, rasanya benar-benar hangat berada di dalam pelukan pria itu.

"Hm, aku merasa tidak percaya diri saja untuk datang kemari. Jika aku mengatakan rencanaku, mungkin tidak akan terlihat istimewah."

"Huh, aku ingin menangis rasanya!" Sakura sudah tidak bisa lagi membendung air mata. Ia sengaja mengusapkan wajahnya pada jaket lembut yang dipakai Naruto.

Naruto mengamati sekitar, walau tidak terlalu ramai mereka berdua akan tampak sangat mencolok jika Sakura menangis. "Ayo, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." Naruto segera meraih pergelangan tangan Sakura dan menyatukan jari-jari mereka.

Tapi, sebelum mereka berjalan beriringan, sepertinya ada sesuatu yang kurang. Naruto tidak melihat syal yang terlilit di leher kekasihnya itu. Mungkin, saking tergesa-gesanya ia lupa memakainya.

Naruto segera melepas syal yang ia pakai lalu mengenakan kepada Sakura. Dengan begini wanita itu akan tetap merasa hangat. "Selalu jaga kondisi kesehatanmu. Bukankah kau adalah seorang ahli gizi, eh? Dan sepertinya aku merasakan sesuatu saat aku memelukmu..." Naruto mendekatkan wajahnya ke telinga Sakura untuk berbisik. "Kau tampak lebih gemuk sekarang—aw!"

Naruto langsung memegangi perutnya akibat hantaman mendadak dari wanita itu.

"Aku memakai jaket tebal, bodoh! Lagipula aku selalu menjaga pola makanku. Tidak seperti kau!" karena kesal dibilang gemuk, Sakura berjalan mendahului Naruto untuk menuju tangga turun duluan. Mana ada wanita yang rela diberi tanggap seperti itu, apalagi setelah sekian lama tidak bertemu. Bodoh sekali!

"Sakura-chan, tunggu!"

.

.

.

Sakura tidak menyangka Naruto akan membawanya ke salah satu pusat perbelanjaan di Hokaido. Tadinya wanita itu mengira mereka akan kencan di tempat taman bermain atau duduk di salah satu bangku jembatan saja. Bertukar cerita sampai mereka harus mengakhirinya karena sudah larut malam. Lalu Sakura akan memutuskan untuk menginap di kost Ino dan keesokan harinya ia akan menyuruh Naruto berkunjung ke rumahnya.

Masih dalam keadaan bingung, Sakura hanya bisa melangkahkan kakinya mengikuti jejak Naruto. Masuk lift-keluar lift. Seolah pria itu sudah mengerti sudut-sudut bangunan ini. Sakura sedikit heran, apa pria itu pernah kemari sebelumnya? Lebih dari itu, rasa penasarannya jatuh pada mengapa mereka harus berada di sini? Mengapa tidak di tempat makan saja? (Sakura merasa mulai lapar lagi walau ia sudah makan sebelumnya).

Mereka berada di lantai dua sekarang. Pada lantai ini, barang yang tersedia dikhususkan untuk pakaian dewasa baik pria atau wanita. Tidak banyak orang-orang yang sedang berbelanja di sana. Mungkin karena sekarang bukan tanggal muda dan tidak ada juga edisi diskon besar-besaran.

Naruto menarik Sakura ke susunan gantungan baju kaos. Ia mengambil salah satu dan memandanginya sesaat. Motif garis horizontal hitam dan berlatar merah muda. Pria itu sangat suka motif simpel seperti itu. Sangat manis dan juga cuteeee untuk Sakura. "Sepertinya ini pas di badanmu." Naruto menempelkan baju itu ke depan Sakura. Memastikan ukurannya tidak kebesaran ataupun kekecilan.

"Apa-apaan kau ini?"

"Oh, cocok sekali." Kemudian ditaruhnya kaos tersebut pada keranjang belanjaan. Kembali tangan kanan Naruto mengapit salah satu tangan wanita itu. Mengabaikan pertanyaannya yang kebingungan tentang tujuannya ke sini. Sementara pada tangan yang lain Naruto memegang keranjang belanjaan.

"Hm, bagaimana dengan sepan levis?" Naruto menawarkan sembari berjalan menuju ke susunan celana.

"Kau mau mentraktirku dengan bebagai model pakaian?"

"Aku hanya ingin membuatmu bahagia saja." Tepat di depan susunan sepan jeans Naruto mengamatinya penuh seksama. Di antara mereka berdua yang paling antusias adalah Naruto. "Biar aku yang menentukan."

Salah satu bibir Sakura berkedut. Hell, ia tidak pernah dipilihkan baju oleh siapa pun. Ia selalu memilihnya sendiri karena selera fashion Sakura tidak seperti wanita lainnya. "Sudahlah, Naruto. Aku tidak butuh sepan. Lebih baik kita keluar saja dari sini. Aku ingin mengobrol banyak denganmu."

"Whoa, ini pasti keluaran terbaru! Ukuran apa yang biasa kau pakai?" Naruto menarik salah satu dari sepan-sepan yang berwarna biru pudar.

Dengusan bosan keluar dari pernapasan Sakura. Naruto malah mengabaikannya. Sudah lama tidak bertemu mengapa tingkah lakunya menjadi seperti ini?

Karena Sakura tidak mau menjawab, akhirnya Naruto memutuskan sendiri (lagi). "Sepertinya ukuran 29."

What the- bagaimana pria itu tau ukuran sepannya? Sakura ternganga.

Satu barang lagi yang masuk ke dalam keranjang belanja mereka.

Pada akhirnya Sakura membiarkan pria itu mau melakukan apa-whatever. Mengisi kantong belanja mereka dengan berbagai pakaian yang pria itu inginkan untuk dipakai pacarnya. Ini sudah hampir satu jam mereka berkeliling di lantai ini dan Sakura hanya bisa mendesah, melirik jam pada pergelangan tangannya, memandang malas pacarnya berkomentar tentang baju-baju yang mereka lihat dan rasanya Sakura ingin menggigit tangan pria itu biar berhenti.

Kalau tidak dengan rengekan Sakura, Naruto belum ingin berdiri pada antrian kasir. Dasar pacar aneh, padahal Naruto ingin melihat ekspresi semangat wanita yang dicintainya-sedang berbelanja-memilah milih pakaian dengan mata berbinar cerah- tapi ia malah ingin segera mengakhiri ini.

"Aku tahu pasti ada sesuatu yang sedang terjadi. Katakan ada apa?"

Salah satu alis Naruto terangkat. Apa berbuat baik kepada pacar memiliki maksud yang tersembunyi? "Hanya ingin membahagiakanmu." Bisik Naruto cukup dekat pada telinganya. Sebuah lengkungan puas terbentuk di bibir Naruto.

Sakura merasakan pipinya sedikit panas. "A-aku sudah bahagia dapat bertemu denganmu, bodoh! Itu saja sih." Sakura malah tergagap. "Dan aku tentu berterima kasih atas kebaikanmu telah mentraktirku. Tapi, bagiku ini aneh!"

Tangan Naruto menjelajar di sekitar pinggang Sakura, menariknya untuk lebih dekat-menghilangkan celah yang tersisa di antara mereka. "Aku minta maaf," katanya menyesal. "Aku hanya punya waktu malam ini untukmu," katanya lagi setengah berbisik.

"Apa?!" Respon Sakura sedikit berteriak. Sakura sudah menduga sebelumnya. Pasti ada sesuatu yang tidak baik. Sakura tersadar bahwa responnya sedikit berlebihan. Ia melirik ke kanan ke kiri memastikan orang-orang tidak memandang ke arahnya. Orang pasti mengira ia masih ingin berbelanja dan merengek pada pacarnya. "Dasar pembohon," bisiknya setengah berdesis.

Naruto mendesah penuh dengan penyesalan. "Sebenarnya aku mencuri waktuku dari pekerjaan untuk kemari. Aku hampir gila karena terlalu merindukanmu. Jadi, hanya ini yang bisa aku berikan untukmu. Meluangkan waktuku sebentar untuk membuatmu bahagia." Naruto menatap mata Sakura dalam walaupun mata wanita itu menyorotkan kekesalan.

Beberapa detik berikutnya mata emeraldnya melemah. Ia senang mendengar kalimat Naruto dan membenci keadaan yang sedang berlangsung.

Deheman dari penjaga kasir menyadarkan mereka berdua untuk melangkah maju. Sakura langsung tersadar dan melangkah ke luar antrian kasir. Ia meninggalkan Naruto yang tengah sibuk mengurus pembayaran belanjaan menuju ke salah satu kursi yang tidak jauh darinya.

Sakura melirik jam tangan, sudah hampir pukul sepuluh sekarang. Dalam beberapa puluh menit ke depan mereka mungkin akan mengucapkan kata perpisahan. Dan ini kelihatannya berat sekali untuk dilalui. Kalau begini pada akhirnya lebih baik mereka tidak pernah bertemu sekalian.

"Hei, ada tempat yang ingin kau kunjungi?"

Sakura mendongak dari lamunannya. Ternyata Naruto sudah selesai dan sekarang berdiri di hadapannya. "Tidak ada." Ia menggeleng. Kalau pun ada salah satu tempat yang menjadi tujuannya adalah apartemen Naruto yang berada di Konoha. Ia ingin kembali pada masa itu. Berdiri di depan kompornya, memasak masakan yang enak, lalu duduk di sofa ruang tamu sembari menonton acara televisi.

"Ingin makan es krim?" tawar Naruto lagi. Ia merasa bersalah membuat raut wajah wanita itu melemah.

Sakura menggeleng lagi. Kencan ini malah menjadi canggung dan tidak ada tujuan. "Kau menginap di mana malam ini, Naruto?"

"Hotel Classy yang tidak jauh dari pusat perbelanjaan ini. Sebelumnya aku pernah menginap di saja juga sewaktu ada perjalanan bisnis, aku juga penah mampir ke sini untuk berbelanja."

Sakura mengangguk mengerti, pantas saja Naruto seperti sudah familier menjelajahi tempat ini. "Aku akan mengantarmu ke hotel sekarang." Sakura berdiri perlahan.

Dahi Naruto berkerut. Apa ini berarti kencan mereka sudah selesai? Oh, hell, ia masih ingin melihat wanita itu tersenyum.

Karena aura tidak bagus dari Sakura, Naruto hanya menurut saja. Mereka langsung menuju ke lantai dasar ke tempat parkiran. Tidak ada kebahagian pada malam hari ini. Anggap saja ini mimpi, Sakura. Dan tidak pernah terjadi.

Sakura tidak membiarkan Naruto mengemudikan mobilnya. Ia memutuskan untuk menyetir sendiri dan membiarkan Naruto duduk diam saja di kursi lain. Tidak ada pembicaraan yang berarti selama di perjalanan, tidak ada pula kerlingan dari mata wanita itu untuknya. Sakura benar-benar menegangkan.

Mobilnya berhenti tepat di depan pintu utama hotel. Naruto segera mengendurkan safety belt yang melindunginya. "Bagaimana kalau kita turun dulu dan duduk di salah satu kursi restoran sambil minum teh?" Naruto berusaha mempertahankan kencan mereka yang akan berakhir sekarang. Hell, ia sudah jauh-jauh datang kemari dengan memanfaatkan weekend yang sebentar ini hanya untuk melihat pacarnya memberengut? Ayolah, ini tidak masuk dalam rencananya.

"Maafkan aku, Naruto. Aku berencana menginap di kost Ino malam ini. Aku tidak enak hati jika aku pulang larut malam. Itu akan mengganggu jam istirahatnya." Sakura meraih tas untuk mencari ponselnya.

Naruto mengerti. Alasannya cukup masuk akal dan sangat bagus untuk diajukan sebagai penolakan.

"Jam berapa kau akan kembali besok?" Tanya Sakura sementara tangannya mencari kontak nama Ino.

"Pada penerbangan pertama, pukul enam pagi." Naruto melirik beberapa kantong belanjaan di kursi belakang. Barang-barang seperti itu tidak membantu sedikit pun.

"Aku akan menelpon Ino dulu." Ia meminta izin kemudian menempelkan ponselnya pada salah satu telinganya. Terdengar nada sambungan sampai beberapa detik yang akhirnya sambungan pun direspon.

"Ya, Sakura?"

"Ino, boleh aku ke apartemenmu sekarang? Ini sudah cukup larut, aku tidak enak pulang ke rumah, ibuku pasti sudah tidur. Aku tidak ingin membangunkannya." Sakura meminta sedikit berharap.

"Coba kau bilang dari sore tadi kalau begitu."

"Memangnya kenapa?"

"Aku sekarang sudah berada di Rumah sakit. Jika kau bilang dari beberapa jam sebelumnya aku akan meninggalkan kunci apartemenku di pot bunga."

Mata Sakura menyipit. Ino kelihatannya tidak bisa membantu. "Baiklah kalau begitu selamat bekerja. Jangan lupa minum kopimu agar tetap dalam keadaan semangat."

"Ah, Sakura, kau ini. Tapi, jika kau ingin mengambil kunci apartemen, kau bisa ke rumah sakit sekarang."

"Aku tidak ingin menampilkan wajahku ke sana."

"Oh, ayolah. Mereka terlalu munafik telah memberhentikanmu." Ino malah menggodanya dan itu membuat mood Sakura bertambah buruk. Terimakasih.

Bola mata Sakura berputar malas. "Baiklah aku akan menutup telepon."

"Tunggu dulu! Ngomong-ngomong kau darimana saja sampai selarut ini?" pertanyaan ini yang akan diutarakan oleh seorang teman yang merasa curiga. Sakura, keluar pada malam hari?

"Aku hanya keliling mencari angin!"

"Aku rasa kau tidak sedang sendirian, pasti kau sedang ken-"

"Baiklah Ino, aku akan menelponmu lagi nanti. Daaaah!" Setelah itu panggilan telepon terputus. Percuma saja menelponnya. Sedikitpun itu tidak membantu. Tsk!

Lalu kemudian apa?

Ragu-ragu Sakura menoleh ke arah Naruto. Pria itu sedang melipat tangannya di depan dada. Menunggu keputusan Sakura selanjutnya.

.

.

.

Mungkin ini lebih baik. Mengekori Naruto masuk ke dalam kamar hotel. Dengan begini mereka memiliki waktu yang cukup banyak untuk dihabiskan semalaman. Besok hari minggu. Seharusnya pria itu mengambil penerbangan pada malam hari saja. Sakura terus-terusan mengutuk pria itu dari dalam hati.

Seolah sudah tahu apa yang dipikirkan pacarnya, Naruto membuka suara. "Besok ada rapat penting yang harus dihadiri, makanya aku harus segera kembali. Aku sebenarnya ingin menghabiskan banyak waktu bersama denganmu, Sakura." Naruto membuka pintu kamar ruangannya dan mempersilahkan Sakura masuk. "Aku juga sebenarnya ingin segera bertemu dengan ibumu."

"Soal itu... Tidak perlu terburu-buru. Masih banyak waktu untuk berkunjung ke rumahku," jawab Sakura cepat. "Dan seharusnya aku yang meminta maaf pertama, karena tidak mengerti keadaanmu." Sakura baru menyadari sekarang tentang kesibukan Naruto. Seharusnya ia tidak menyalahkan pria itu dari tadi. "Maafkan aku..."

Naruto tertawa sesaat untuk menghilangkan kecanggungan. "Kau tidak perlu meminta maaf."

Sakura segera duduk di salah satu sofa yang berada di sana. Ruangan hotel ini tidak terlalu besar. Hanya ada satu tempat tidur dan satu set kursi tamu serta perlengkapan alat elektronik canggih lainnya.

Naruto mengambil salah satu tempat duduk di hadapan Sakura. Satu teko teh penuh sudah siap di hadapan mereka. Karena sebelum masuk kemari. Ia sempat memesannya di bawah. Segera Naruto memberikan sebuah cangkir di hadapan Sakura dan mengisinya tidak sampai penuh. "Silahkan diminum."

Kemudian Naruto mengisi cangkir bagiannya sendiri.

"Kenapa kau berlaku formal seperti itu?" Sakura mengangkat cangkir teh dari tatakannya lalu menyesapnya perlahan. Aroma mawar menguar dari kepulan asap tipis teh tersebut.

"Anggap saja itu pelayanan dariku," jawab Naruto setelah ia selesai meneguk teh bagiannya.

Sakura hanya tersenyum menanggapinya. "Aku tahu kau pasti lelah Naruto, kau bisa pergi tidur duluan kalau kau mau."

"Bukankah kau bilang ingin mengobrol banyak denganku?"

"Kau akan kembali besok pagi jadi kau harus segera istirahat. Sana, pergi tidur!"

Naruto menggaruk lehernya canggung. "Sebenarnya… aku sudah dari kemarin berada di sini. Ta-tadi juga aku sempat tidur siang."

Sakura hampir memuntahkan teh yang baru saja ia hirup ke muka Naruto. Ia terbatuk sesaat. "Kenapa kau tidak memberitahuku dari kemarin?!" ujarnya seperti penggugatan.

"Err... Aku hanya ragu saja."

"Alasan macam apa itu!" Memandangi sesaat cengiran tanpa dosa yang dikeluarkan pacarnya Sakura teringat sesuatu. Sakura merogoh ke dalam tasnya. Wajahnya merah karena marah mengetahui semua ini. Lelaki bodoh, sudah tahu hanya punya waktu sebentar ia malah menikmati waktu sendirian saat tiba ke sini sehingga mengurangi waktu kebersamaan mereka.

"Apa itu?"

Sakura membuka tutup teko dengan wajah tanpa dosa. Ia memasukan sebuah pil ke dalam teko itu dan menutupnya kembali. Tanpa permisi Sakura mengisi ulang gelas Naruto. Pria itu harus membayar karena telah memperlakukannya seperti ini.

"Ayo minum!"

Mata Naruto memicing. "Yang tadi itu obat apa? Katakan padaku!"

"Tenang saja." Sakura menuang kembali isi dalam teko ke cangkirnya pula lalu segera menyeruputnya. "Ini bukan racun kok!"

Dengan ragu Naruto meneguknya pula. Tidak ada rasa aneh setelahnya. Mungkin hanya vitamin tambahan.

"Itu tadi obat tidur bodoh. Hahahaha." Sakura tertawa dengan kerasnya. Astaga, ia ingin membuat Naruto ketinggalan pesawat karena terlalu lelap tidur.

Kali ini Naruto yang menyemburkan teh dari dalam mulutnya. "Sakura-chan..." ujarnya memohon.

Sakura meneguk habis isi dalam gelasnya. "Biar tidurmu nyenyak malam ini. Aku baik, kan?"

Satu desahan lolos dari pernapasan Naruto. Ia membuka resleting jaketnya lalu menaruhnya sembarang. Sakura mengamati pergerakan Naruto. Pria itu berjalan menuju ke tempat tidur. Melempar dirinya ke sana. Lebih baik ia segera tidur dan memasang alarm agar tetap tepat waktu.

Sakura menaikan bahunya. Memangnya siapa yang peduli ia akan marah? Kemudian ia berjalan menghampiri Naruto dengan wajah sumringah. "Lalu, apa yang kau lakukan sebelum bertemu denganku di sini? Melirik wanita lain?" Ia menempatkan tangannya di pinggang menuntut penjelasan lagi dari pria itu.

Naruto bangun dari tidurnya. Sebenarnya ia tidak ingin jujur mengenai ini. "Aku kemari secara mendadak karena salah satu orangtua temanku meninggal. Dia asli penduduk Hokaido." Naruto melirik sekilas Sakura. "Temanku sewaktu kuliah." Sepertinya semakin menjelaskan keadaan yang sebenarnya, situasi akan semakin rumit. "Jangan marah, kumohon…"

Sakura berdecak. "Apa susahnya memberitahuku dari awal!"

Naruto diam sesaat sebelum menjelaskan lagi. "Karena aku belum bisa bertemu dengan ibumu. Aku masih merasa bersalah."

Sakura langsung tersentak, Naruto merasa bersalah mungkin karena soal kematian ayahnya kemarin. Sakura menggelengkan kepalanya. "Baiklah, lupakan saja. Aku tidak marah lagi." Kaki Sakura mengetuk-ngetuk lantai kayu yang dipijaknya.

"Oh, sungguh?" Mata Naruto berbinar senang mendengar kalimat barusan. Sakura mengangguk lagi meyakinkan bahwa ia sudah benar-benar tidak marah. Naruto pada akhirnya menyeringai. "Kalau begitu kemarilah." Ia mengulurkan tangannya untuk disambut Sakura.

Sedikit ragu Sakura meletakan tangannya dan melangkah ke atas tempat tidur.

"Sakura..." Naruto melingkarkan lengannya di pinggang wanita itu, menghilangkan jarak yang tersisa. "Aku cinta kamu."

Itu... adalah satu kalimat yang ingin sekali Sakura dengar. Rona merah sudah pasti menjalar di wajahnya. "Naruto..." Sakura menatap padanya sedikit lama. Matanya perlahan meredup saat wajahnya semakin lebih dekat. Ia bisa merasakan napas di bibirnya. Jantungnya berpacu begitu cepat, dan mungkin Naruto bisa mendengarnya. "Aku juga mencintaimu," bisiknya dengan suara pelan sebelum pria itu mengklaim bibirnya.

Tangan Sakura memeluk leher pria itu memudahkan Naruto untuk mendorongnya, kedua mata mereka ditutup serentak. Bibir mereka tetap saling menekan, menikmati ciuman manis. Kemudian Naruto memulai untuk memindahkan bibirnya, mengubahnya menjadi ciuman lambat. Suara ciuman mereka terdengar di ruangan yang tenang di tengah-tengah deruan AC yang dingin ini. Ciuman Naruto bergerak ke pipinya, dan kemudian menempatkan ciuman kupu-kupu di lehernya. Tubuh mereka bergerak pada insting saat ia memiringkan kepalanya ke sisi lain untuk memberinya lebih banyak ruang. Saat Sakura merasakan hembusan napas panas di lehernya, ia tidak bisa menahan menggigit bibir untuk menghentikan erangan lebih dari ini.

Tuhan, ini sangat memalukan tapi hell, rasanya benar-benar baik.

.

.

.

Terbangun dengan mata yang berat, Sakura melirik ke kanan dan ke kiri. Pandangannya masih terlihat kabur dan ia memastikan dengan menepuk-nepuk bagian di sisinya. Kosong, tidak ada siapa pun. Sambil mengucek mata ia berusaha melirik jam dinding. Oh, ternyata sudah pukul sembilan pagi.

Pandangannya menyapu ke segala arah ruangan ini. Ya, ia masih berada di dalam hotel semalam. Dan kejadian itu benar-benar terasa nyata. Sakura kembali merebahkan badannya, mengambil sebuah guling lalu memeluknya sambil tersenyum. Walau bertemu hanya sesaat itu sudah cukup membuatnya bahagia. Pasti sekarang Naruto sudah sampai ke Konoha dan memulai kesibukan seperti biasa. Sakura harus tetap memberinya dukungan. Bagaimana pun caranya walau ia harus merasa kesepian.

Lebih baik ia kembali tidur satu atau dua jam lagi sebelum kembali ke rumah. Ini semua gara-gara obat tidur yang diminumnya sehingga membuat matanya tampak begitu berat.

Akhir-akhir ini ia selalu menyiapkan obat tidur dalam tasnya. Terkadang ia butuh tidur seharian untuk melepaskan rasa sedih. Menyedihkan memang, tapi tenang saja. Obat tidur yang dimilikinya mengandung takaran dosis yang rendah.

.

.

"Moshi-moshi," Sakura menjawab panggilan telepon dengan riang saat mengetahui panggilan itu dari siapa. Sebelah tangannya memegang telepon dan sebelah lagi mengendalikan stir mobil. Jalanan tidak terlalu padat siang ini karena jam makan siang para pegawai sudah lewat.

"Apa kau sudah kembali ke rumah?" Ada nada khawatir yang terdengar. Itu cukup membuat Sakura semakin melebarkan cengirannya. Perhatian yang tidak terlalu banyak, tapi begitu maniiis.

"Sekarang aku sedang dalam perjalanan mengemudi," ujar Sakura santai. "Apa rapatmu sudah selesai?"

"Aku baru saja keluar dari ruangan," balas Naruto biasa. "Soal pagi tadi… tolong, maafkan aku, Sakura. Aku terpaksa meninggalkanmu di dalam kamar. Aku tidak tega membangunkanmu karena aku lihat kau tampak lelah. Kau boleh menghukumku di lain waktu."

Sakura terkikik sesaat. Sepertinya itu lebih baik daripada ia harus terbangun dan menghalangi pria itu pergi. Ia pasti akan menjadi kekanakan dan merengek. "Lain kali biar aku yang ke sana, ok? Lagipula waktuku lebih banyak."

"Hm, aku belum mengizinkanmu kemari sebelum aku bertemu dengan ibumu."

"Memangnya kenapa?" Sakura memutar stirnya cukup kesulitan dengan sebelah tangan. Harusnya ia punya hetset menerima telepon mendadak saat mengemudi.

"Pokoknya jangan kemari sebelum ibumu tahu kau harus mengunjungi siapa ke Konoha."

Sakura berpikir sesaat. Apa yang dikatakan oleh Naruto itu benar. "Baiklah. Jangan membuatku menunggu lebih lama kalau begitu."

"Aku tahu."

"Yeah, aku tahu kau sibuk. Aku akan menutup telepon."

"Yakin tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan?"

Sepertinya memang tidak ada lagi yang harus Sakura katakan. "Telpon aku lagi nanti, ok?"

"Hanya itu saja?" Naruto menunggu.

Sakura kembali tertawa pelan. Oh ayolah, ini seperti anak SMA saja. "I love you."

Walau Sakura tidak melihat, ia tahu Naruto tengah tersenyum. "Love you more..."

Sakura mengakhiri panggilan telepon dengan senyum lebar. Hari ini kelihatannya tidak terlalu buruk. Mungkin membuat cupcake adalah ide yang bagus untuk cemilan sore nanti.

...

Sakura sudah memikirkan beribu alasan ketika ia masuk rumah dan (kemungkinan) ibunya akan bertanya darimana dia semalam.

Menghadiri pesta ulangtahun teman (tidak akurat), menjenguk teman sakit (memang siapa yang akan menjadi korbannya), mengatakan sedang melayat teman meninggal? Hell, ia paling tidak bisa menyembunyikan ini. Apa baik ia mengatakan baru saja tidur di hotel dengan pacar? Ibunya akan berpikiran yang macam-macam.

"Sakura..."

Sakura hampir melompat ketika suara familier memanggil namanya. Ia baru saja akan mencapai tangga rumah saat ibu datang menghentikan langkahnya.

"Ibu, maaf aku terlambat pulang. Tadi temanku mentraktir ini dan-" Sakura menggaruk lehernya canggung. Kantung-kantung belanjaan yang cukup banyak ini memberikan penjelasan bahwa yang mentraktir bukanlah seorang wanita. Sakura mengutuk dirinya sendiri. Ia pasti terlihat murahan di mata ibunya.

Mebuki hanya memandangi Sakura sesaat bersama dengan kantung belanjaannya. "Kebetulan kau pulang, ada yang ingin aku bicarakan." Mebuki berjalan menuju ke sofa dan Sakura mau tak mau harus mengikutinya.

Sebuah buku tabungan di serahkan ke hadapan Sakura ketika mereka sudah duduk berhadapan. Sakura melirik itu sekilas kemudian pandangannya kembali pada ibunya. "Apa itu?"

"Bukalah."

Ragu-ragu Sakura mengulurkan tangannya untuk membuka buku kecil itu. Ia melihat deretan nominal cukup besar di dalamnya. Membuat matanya melebar sesaat lalu kembali seperti semula.

"Jumlah itu cukup untuk menunjang kehidupanmu sampai lima tahun ke depan tanpa harus kau bekerja. Aku yakin sebelum sampai lima tahun kau pasti sudah memutuskan untuk menikah," Mebuki menjelaskan sebelum Sakura mulai bertanya.

Tunjangan? Menikah?

"Itu adalah asuransi ayahmu yang baru saja keluar. Gunakanlah sebaik mungkin. Itu semua untukmu karena kau adalah pewaris sah dari keluarga ini."

"Tapi, aku masih punya ibu. Aku belum bisa mewarisi semua ini." Sakura mengutarakan pendapatnya. "Aku akan bertanya kepada Sasuke untuk ketentuan sebenarnya."

"Tidak perlu." Mebuki menghentikan Sakura yang akan berdiri dari tempat duduknya. "Aku yang menentukan jadi, semuanya ada padamu."

Sakura kembali menatap buku tabungan itu. Ibunya telah memberikan kepercayaan kepadanya dengan menyerahkan ini. "Tapi, ibu..."

"Ssshhh..." Kau tidak perlu menghawatirkan ini. Kau bisa mempergunakan sebagian untuk pesta pernikahanmu suatu hari atau menginvestasikan ke dalam perusahan apapun."

Pernikahan (lagi)? Apa ibunya menginginkan ia menikah dalam waktu dekat? Lalu dengan siapa? Ini berarti ia bebas memilih.

Sakura segera berdiri untuk menjangkau lebih dekat dan memeluk ibunya. "Terimakasih ibu. Aku sangat menyayangimu."

Mebuki tersenyum sembari menepuk-nepuk punggung anak wanita satu-satunya. Ah, Sakura sudah tumbuh besar menjadi wanita yang kuat sekarang. Dan wanita paruh baya itu sangat membanggakannya.

Keesokan harinya Sakura memutuskan untuk berkunjung ke apartemen Ino. Sambil bersenandung, ia melangkah menapaki tiap tangga satu demi satu sampai menuju ke lantai tiga. Ini melelahkan. Andai ada lift yang dapat membantunya, betisnya tidak akan setegang ini. Untung saja kamar Ino tidak terletak pada lantai lima.

Hell, Sakura pikir Ino tidak semiskin ini untuk mendapatkan apartemen yang lebih bagus. Ini semua karena temannya itu begitu boros dan selalu membeli makanan mahal setiap harinya. Ino memang begitu bodoh. Selera makannya cukup tinggi dan pilih-pilih. Mungkin lain kali Sakura akan membawakannya bekal makan siang saat akan berkunjung ke mari.

Sakura menautkan alisnya saat ia melihat dari kejauhan pintu apartemen Ino terbuka. Kelihatannya Ino sedang kedatangan tamu. Sakura harap ia tidak akan mengganggunya untuk saat ini.

"Gaara?" Sakura langsung menyerukan nama orang yang dilihatnya pertama kali saat mengintip ke dalam ruang tamu Ino.

"Sakura!" Ino tampak kaget beberapa saat. Wajahnya terlihat memucat seperti sedang tertangkap basah berselingkuh dengan pacar orang. Sementara Gaara tetap diam dan cool seperti biasa.

"Aku baru sadar ternyata kalian begitu akrab." Sakura menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.

"Sakura, ini tidak seperti yang kau pikirkan." Ino langsung berdiri ke depan Sakura, mengguncang bahu temannya itu agar percaya padanya. "Benarkan, Gaara?"

Sakura memicingkan matanya. Lalu melirik sekilas pada soft drink di atas meja di hadapan Gaara. Tampaknya mereka sudah cukup lama jika dilihat dari yang embun minuman kaleng yang sudah mencair—menciptakan jejak pada meja kaca itu.

"Sepertinya aku harus pulang saja dan tidak mengganggu kalian." Sakura akan berbalik tetapi pergelangan tangannya di pegang Ino.

"Katakan, apa yang membawamu kemari!" Ups, sepertinya Ino salah tingkah sendiri karena Sakura telah berhasil menggodanya.

Sementara Gaara hanya menggeleng pasrah melihat pemadangan di hadapannya. Dasar wanita.

...

Tidak ada obrolan yang mesra antara Gaara dan Ino sesaat sebelum Sakura masuk ke dalam apartemennya. Ino hanya bercerita kepada Gaara tentang akhir-akhir ini ia merasa apartemennya sedikit aneh. Saat ia tidak bertugas pada malam hari, ia merasakan kegaduhan di atas kamarnya, seperti orang-orang berlarian. Kalau hanya mendengar cerita itu tidak menakutkan. Tapi jika merasakannya langsung Ino benar-benar tidak tahan.

Ino sudah menanyakan kepada tetangga di sampingnya tentang kegaduhan ini. Mereka juga mendengarnya. Tapi mereka tidak terlalu menghiraukan karena semuanya tampak baik-baik saja. Padahal ia tahu, pemilik kamar di atasnya selalu sibuk dan memiliki waktu bekerja hingga pagi hari seperti dirinya. Ia juga tahu salah satu tetangganya yang masih dalam kuliah semester akhir jurusan olahraga.

Ino ingin sekali mengintip ke atas saat kegaduhan mulai datang. Tapi, ia takut kalau-kalau mereka adalah makhluk halus yang menakutkan. Hell, Ino mulai masuk ke imajinasi gilanya.

"Jadi, kau meminta Gaara untuk menyelidiki ini?" Ujar Sakura tidak percaya. "Astaga Gaara, aku kira ini hanya kasus kacangan. Tidak harus dibuat serius," komentar Sakura membuat urat Ino menyembul. "Itu juga bisa berartinya bahwa kau butuh teman untuk tinggal bersama." Sakura menyeringai, menggoda Ino membuatnya merasa puas.

'Sakura, kau akan membayarnya nanti.' Ino menahan amarahnya untuk tidak mengeluarkan umpatan di hadapan Gaara. 'Fucking forehead, stupid ass, go fuck yourself. Atau i will kick your forehead and your ass.' Sebenarnya itu yang ingin ia semburkan.

Gaara melipat tangannya di depan dada bidangnya yang terbalut baju katun yang tebal. Wow, sudah jelas Ino pasti menggumi pahatan otot yang berada di balik kain katun itu. "Jika tebakan kubenar, aku rasa itu hanya ulah tetanggamu yang berlarian."

"Tidak mungkin!" Ino berseru. "Aku yakin sekali ini ulah maling yang mempersiapkan aksinya."

"Well, we will seen it." Gaara hanya memutar bola matanya bosan. Apapun yang Ino klaim, terserah. "Aku rasa Sakura sekarang memiliki keperluan denganmu. Kalau begitu aku akan pergi."

"Tidak perlu, Gaara." Sakura segera menghentikannya. "Kau boleh mendengarkannya."

Gaara kembali duduk di tempatnya seperti semula secara perlahan. Ia kembali melipat tangannya di depan dada. Hari ini ia suka posisi seperti itu.

"Memangnya ada apa, Sakura?" Tanya Ino. Tidak biasanya Sakura datang mendadak ke apartemennya. Biasanya ia akan menelpon dulu sebelumnya.

"Apa tidak masalah aku mengatakannya sekarang?" Dilihat dari kondisi serius masalah Ino, Sakura sedikit ragu untuk mengatakannya. "Ini mengenai asuransi ayahku yang sudah kudapat. Aku berencana untuk menginvestasikan ini kepada perusahaan saja. Tapi, aku tidak memiliki kantor. Apa ini bisa dilakukan secara formal? Lagipula aku kurang mengerti untuk mengurusnya."

Ino juga tidak terlalu mengerti soal itu, siapa tahu orangtuanya dapat membantu karena mereka bekerja di bidang tersebut. "Baiklah akan aku coba tanyakan dulu kepada ayahku. Aku harap ia bisa membantumu."

"Terimakasih, Ino. Tapi aku merasa tidak percaya diri." Ia menyisipkan poni panjang yang menjutai ke belakang telinga.

"Aku rasa kau tidak perlu menginvestasikannya," Gaara kemudian berkomentar. "Menurutku lebih baik kau membuka sebuah pabrik yang tidak pernah ada di negara mana pun."

Sakura memiringkan kepalanya. Menanti saran cemerlang Gaara selanjutnya.

"Maksudmu kau mengusulkan Sakura membuka pabrik olahan wig bewarna pink?" Usulan Ino terabaikan karena tidak membantu.

Gaara tidak mengeluarkan komentar lagi. Ia kemudian berdiri dan melangkah menuju ke pintu depan. "Aku akan kembali jika makan malam tiba. Sampai jumpa!"

Apa-apaan pria itu, memberi saran tetapi tidak diperjelas. Sakura melirik ke arah Ino. Itu artinya mereka berdua memiliki waktu yang panjang malam ini. Dan sebaiknya ia tidak harus mengganggunya sekarang.

...

"Selamat pak, mulai sekarang anda akan dipromosikan untuk naik jabatan." Kakashi mengulurkan tangan untuk menjabat Naruto dengan hangat.

Agak lama sambutan tangan itu dibalas karena (entah mengapa) Naruto merasakan keragu-raguan. "Terimakasih," balasnya pelan. Ia kembali menarik tangannya, lalu menempatkan ke dalam kantong sisi celananya.

Naik pangkat? Bukan sesuatu hal mengejutkan untuknya.

"Tingkatkan terus kualitasmu. Itu bisa menjadi contoh untuk yang lain." Kakasih menepuk bahu Naruto setelah itu ia berjalan melewatinya menuju ke ruangannya.

Sementara itu Naruto tetap mematung di tempat. Ia sudah tahu isu ini dari awal. Hanya saja hal ini terlalu cepat. Jika benar dalam waktu dekat promosi ini akan berjalan lancar... Itu artinya ia semakin bertambah sibuk. Dan itu juga berarti ia akan semakin sulit untuk bertemu dengan… Sakura. Desahan pasrah lolos dari pernapasannya.

"Hei, Naruto. Apa ada masalah?" Seseorang muncul dari belakangnya, menyapa secara tiba-tiba.

Tanpa meliriknya Naruto sudah tahu itu suara siapa, "sebelum masa promosiku tiba, apa boleh aku mengambil cuti sekitar dua hari, Sai?"

Sai mengernyitkan alisnya. Jangankan cuti, hari minggu terkadang mereka harus hadir. Pada akhirnya Sai hanya menaikan kedua bahunya. Ia tahu apa yang membuat Naruto minta waktu cuti secara mendadak. "Coba saja kalau kau ingin mendapat konsekuensinya."

...

Naruto kembali ke apartemennya. Seperti biasa dalam keadaan kondisi yang sangat lelah. Ia tidak pernah lagi pulang bekerja sekitar pukul setengah enam. Selalu melewati jam delapan malam. Ia mendesah lagi lalu menutup pintu apartemennya dan segera menuju ke sofa ternyaman di seluruh Konoha.

Ia mengistirahatkan badannya di sana, mengangkat kedua kaki ke atas meja. Tenang, kondisi rumah sudah tertata rapi sekarang. Naruto sudah memiliki pengurus rumah baru yang hanya datang diwaktu siang membersihkan seluruh sudut rumahnya. Orang itu adalah wanita berumur tiga puluhan. Ia sudah memiliki dua anak dan tinggal tidak jauh darinya. Atas bantuan darinya Naruto sedikit terbantu.

Melonggarkan dasi, ia mengambil sebuah ponsel dari saku jasnya. Saat ini ia sangat ingin mendengar suara ibunya.

"Hallo, ibu."

"Hei, Naruto. Bagaimana kabarmu hari ini?" Sapaan biasa yang sangat ia rindukan.

"Kapan berkunjung ke sini?" Rasanya ia ingin bertemu dengan ibunya.

"Kau jadi mudah merindukan ibu setelah Sakura sudah kembali ke rumahnya," oh, ibunya mulai lagi, menggodanya.

Naruto hanya bisa tertawa pelan. "Oh ya, bu. Dalam waktu dekat aku akan dipromosikan untuk naik jabatan."

"Wah, benarkah? Ini berita bagus. Ibu senang mendengar itu! Selamat ya kalau begitu."

"Ya, terimakasih. Tapi, entah mengapa aku menjadi tidak percaya diri setelah mendengarnya? Aku merasa tidak bisa melewatinya. Ini akan semakin berat."

Kalau Naruto bisa melihat wajah ibunya. Ia akan melihat kerutan pada dahi Kushina. "Kenapa kau jadi patah semangat seperti itu? Biasanya kau selalu bersemangat? Ibu tahu, mungkin karena tidak ada penyamangat dalam hidupmu."

Naruto menyandarkan tengkuknya pada sandaran sofa, ia menatap langit-langit. "Aku harus bagaimana?"

Kushina berdecak, "sepertinya kau harus memilih, ambilah langkah baru yang belum pernah kau jelajahi."

"Maksud ibu?"

"Kalau kau siap menikah, tunda dulu promosimu. Tapi, jika masih ingin berkarir, tundalah dulu yang satunya. Apapun yang kau pilih semuanya baik."

"Ibu..." Naruto menyerukan namanya hampir berbisik. Hanya ibunya penasehat terbaik di dunia. "Baiklah, akan kupikirkan lagi. Sekarang aku harus istirahat."

"Telpon ibu kapanpun kau butuh, ok?"

"Tentu saja." Setelah itu Naruto memutuskan sambungan teleponnya. Ia meletakan ponsel itu ke atas meja kemudian berjalan menuju ke kamarnya. Ia langsung meraba stop kontak yang letaknya berada di sisi pintu kamar. Cahaya langsung menerangi ruangannya. Tidak ada yang berbeda dari kamarnya kecuali semakin sepi saja. Kesepian itu memang menakutkan. Saat di tempat kerja ia tidak merasa seperti ini.

Kemudian Naruto berjalan menuju ke nakas yang terletak di sisi tempat tidur. Ia berlutut pada nakas itu untuk meraih laci dan menggesernya terbuka. Sebuah kotak beledu ia keluarkan dari sana. Beberapa hari yang lalu ia sempat membeli itu tanpa tujuan kapan akan menyerahkan kepada pemilik yang tepat. Naruto membuka kotak itu, menampilkan sebuah cincing sederhana tidak memiliki ukiran apapun. Hanya cincin mas putih polos yang sedikit mengkilat. Karena ia tahu, orang yang akan memakai ini memiliki selera yang buruk.

Naruto tersenyum sembari mengamati benda bulat tersebut. Kalau sudah dibeli tidak harus menunggu lama untuk menyerahkanya, kan? Sekali lagi ia menarik napas. Mungkin sekaranglah waktu yang tepat untuk membuat keputusan.

.

.

.

[…]

Whew! I'm back (actually i doubt i can back, i'm so sorry) I missed u guys. Its been long since i last updated. Forgive me for the late update. Gahahaha!

Thanks for your support and for sticking around. I wish i could reply to each of ur reviews like i did before but, im sure you all know the reasons. Your words and responses never fail to brighten up my day! You are all an inspiration for this fik and because of you i was able to continue and write more! Thank you so much!

Yeah, sebenarnya aku benci memotongnya di sini. Well, udah kepanjangan sih. Yes, aku tahu ini jauh dari kata sempurna. But i do my best. I still made Naruto (all of character) OOCnes all the way *pundung di pojokan*

Well, sekarang saatnya membahas beberapa karakter yang saya gunakan di sini :p

Sakura Haruno : As you know as, dia adalah pemeran utama wanita. Tinggi, cantik, smart, successfull in the beginning dan sedikit durhaka sama ortu *plak* karena durhaka tadi, dia kabur terus beberapa kesialan menghampirinya. Seorang dokter gizi yang pada akhirnya jabatannya diambil oleh orang lain atas kesalahannya sendiri. So, jangan durhaka sama orang tua yaaaa (ngaca woiiii)

Naruro Uzumaki : kenapa Naruto begitu giat di tempa kerjanya? As you know as Naruto bego dalam teori. Tapi, menang jauh pas dipraktik (sama seperti gue loh!) di kuliah dia nilainya kecil. Agak terlambat lulus tapi berusaha mendapatkan pekerjaan yang baik. Selain dapet pekerjaan yang cukup baik (walau gak membuat dia kaya raya) dia punya cewek cantik orang kaya. Dia kenal Hinata saat masih sama-sama kuliah. (Sisanya pikirkan sendiri deh hihi) pada akhirnya jatuh cinta sama Sakura yang awalnya ia tidak tahu siapa sebenarnya Sakura.

Sasuke : Hardcourt lawyer, cocky, bawel, tapi tampan. Dia akhirnya hidup menyendiri. Mungkin nanti ketemu cewek bawel dan akhirnya jatuh cinta gahahahha

Ino : Anak orang kaya tapi labil. Sudah sah jadi dokter bedah diusia 28 tahun. Suka makan makanan yang mahal kayak minum kopi seharga ratusan ribu atau masuk ke restoran yang baru buka. Dia juga suka motoin makanan sih ghaaaaa #kaburr

Gaara : Dia paling suka serial detektif Conan. 11 12 lah sama Shinichi Kudou xD kayaknya dia ngerasa cocok sama Ino. Kalau gak karena masalah Sakura mereka gak mungkin terlibat. Gaara suka cewek pintar, makanya dia suka sama Sakura awalnya. Tapi, dia bukan pria yang gigih untuk mendapatkan hati wanita. Hell, banyak kok cewek di luar sana yang pintar. Hehehe

Mebuki : Kalau di sinetron-sinetron, dia tipe ibu-ibu matre yang ketat mengaplikasikan peraturan di rumah tangganya. Korbannya ya anak semata wayangnya. Aslinya dia ibu yang baik. Keturunan Haruno emang berwatak kasar sih gaahahha *berlindung di dada Naruto* XD

Oke, sekian perkenalan beberapa karakter yang bisa kalian skip. Sekali lagi terimakasih sudah mengikutinya sampai sini. Tentu saja masih ada epilog di chapter 18 nanti. Then, saya akan menyelesaikan LMLYD. Yeah, mungkin sekitar 5-8 chapter lagi plus epilog. Gasp.

Review, review review.. don't forget about that! :D