Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : Last Chapter, Au, OOC, dan sorry for typo
Last Chapter : So, when we will get married?
"Jadi, kau adalah orang yang bertanggung jawab pada Sakura selama ini?"
Entah keberanian darimana, pada akhirnya Naruto dapat bertemu dengan Mebuki. Pria itu mengangguk mantap sebagai jawaban yang tidak main-main. Sorot mata yang tegas dan postur tubuh terlalu kaku menyiratkan bahwa dia terlampau serius. Tidak berlaku pada seseorang yang berada di depannya. Ia tidak mengeluarkan ekspresi berlebihan seperti apa yang Naruto bayangkan sebelumnya. Syukurlah, tidak ada ancaman, amukan atau lemparan barang seperti di sinetron-sinetron jaman sekarang.
Netra hitam bulatnya beberapa kali mengerjab. Sebelum sempat membalas perkataan lagi, wanita paruh baya itu menyesap teh yang tersedia di hadapan mereka. "Kelihatannya kau pria yang baik."
Naruto tersenyum canggung. Diam-diam ia bernapas lega. Pikiran negatif tentang apa yang sempat Naruto takutkan seketika lenyap. "Aku senang mendengar itu. Terimakasih."
"Maka dari itu aku sudah tahu maksud kedatanganmu kemari." Mebuki tersenyum hampir menyeringai. Sementara Naruto menatapnya tak percaya. Jangan bilang bahwa dia tahu Naruto akan— "Aku tahu, aku baru bertemu denganmu beberapa menit. Kemarin aku hanya pernah mendengar cerita tentangmu dari Sabaku no Gaara. Aku bisa melihat kau orang yang baik dan selalu serius jika menjalani sesuatu. Apa aku salah?"
Naruto mengaruk lehernya canggung, ia terlalu malu telah mendapat pujian.
"Jadi, kau tidak perlu meminta izinku untuk bersama dengan Sakura. Karena kau sudah mendapatkannya dari awal."
Apa semudah ini—semua orang di dunia ini mendapatkan restu? Naruto masih merasa tidak percaya. Semua rasa cemasnya dan rasa bersalah mendadak menghilang. Ada banyak sekali sebenarnya yang ingin ia sampaikan kepada wanita itu tapi sudah terurungkan karena melihat peluang bagus ini. "Aku pasti akan melindungi Sakura. Aku berjanji."
"Hm, hanya saja kalian tidak boleh memutuskan untuk tinggal di Konoha. Aku hanya punya Sakura. Tidak ada kerabat lain yang tinggal di kota ini untuk menemaniku hidupku. Aku juga tidak tahu sampai kapan aku bisa hidup."
Naruto tahu inilah salah satu masalahnya. Pekerjaan dan tempat tinggalnya tidaklah di sini. "Yeah, aku tidak bisa memisahkan Sakura dari sisimu tentunya, Mebuki-san."
"Terimakasih untuk pengertianmu." Kali ini bibir Mebuki tersenyum lebar. "Terimakasih juga sudah merawat Sakura selama ini. Mulai sekarang kau adalah bagian dari keluargaku. Kau bisa panggil aku ibu jika kau tidak keberatan."
"Ibuku pasti tidak akan cemburu jika sekarang aku punya ibu yang lain." Naruto tertawa pelan, ia tidak pernah sebahagia ini berbicara pada orang yang baru ia temui. Setelah obrolan singkat mereka, Naruto bertekad akan mempertanggungjawabkan apa yang telah ia katakan. Untuk melindungi Sakura selama sisa hidupnya.
.
.
.
Saat Naruto keluar dari ruang tamu kediaman Haruno, ia langsung pergi mencari Sakura. Wanita itu tengah menunggunya di taman belakang sembari duduk di atas ayunan. Sakura tidak berani bergabung ke pembicaraan mereka berdua karena ia tak percaya diri. Yang bisa ia lakukan hanya berdoa dan berharap dari sini.
"Naruto!" Sakura langsung berdiri dengan secercah harapan di wajahnya, seperti tengah menunggu pengumuman dari ujian nasional.
Naruto berjalan pelan mendekat ke arahnya dengan wajah yang datar. Melihat kedataran wajah pria itu membuat Sakura berspekulasi buruk. Apakah Naruto baru saja dicaci-maki, atau lebih parah dari itu, diancam, mungkin?
"Naruto..." Panggil Sakura lagi, kali ini dengan nada sedikit pelan hampir berbisik. "Apa yang sudah terjadi? Jika memang ada kendala maka aku yang akan berbicara dengan ibuku."
Sakura akan melangkah menuju ke dalam rumah tetapi Naruto langsung memegangi tangannya membuat perhatiannya kembali kepada pria itu.
Naruto hanya menggeleng. "Apa yang akan kau lakukan jika ibumu tak memberi izin?" Sebelah tangan yang bebas Naruto menarik dagu Sakura untuk mendongak ke arahnya secara lembut.
"Tentu saja aku akan berusaha meyakinkannya!" seru Sakura dengan tegas.
Naruto menyeringai lebar. Ia sedikit puas melihat reaksi Sakura jika saja ia tak berhasil berbicara pada ibunya. "Hm, good to hear." Dengan gerakan lembut Naruto mendekatkan wajahnya, mengeliminasi jarak di antara mereka. Membuat Sakura selalu terjerumus dalam aroma memabukan yang diuarkan oleh kekasihnya. Naruto merindukan sapuan hangat dari wanita itu.
Naruto hanya mengecup sudur bibirnya, tapi tubuhnya bergetar begitu saja. "Kau tidak perlu melakukan itu karena aku sudah mendapatkannya dari dulu."
Sakura melebarkan matanya sesaat—hanya sesaat yang langsung diganti dengan senyuman yang hangat. "Syukurlah." Saking senang, ia bahkan tidak peduli bahwa beberapa saat yang lalu Naruto berpura-pura murung, harusnya pria itu mendapat (minimal) satu jitakan karena membuatnya sempat merasakan kecemasan. Tangan gadis itu merayap mengalungi leher Naruto untuk memberikan kecupan balasan yang terlontar dengan hasrat yang begitu kuat.
Getaran yang menjalari tubuh Naruto membuatnya merasa lebih baik. Meluluhkan segala pertahanan tanpa ingat di mana mereka tengah berbagi ciuman, hingga kedua tangan kekarnya melingkar begitu saja di seputar pinggang Sakura untuk membawa wanita itu lebih mendekat.
Dan bibirnya menangkap bibir Sakura, membawanya ke dalam lumatan penuh perasaan yang menghabiskan waktu berpuluh-puluh detik. Naruto lupa sudah berapa kali ia mengklaim bibir Sakura hingga akhirnya ia tersadar bahwa harus memberikannya sesuatu.
Setelah mereka sama-sama melepaskan diri, Naruto merogoh sesuatu dari balik kantung celananya. "Jadi, kapan kau siap dengan pernikahan kita?" Naruto rasa ini adalah pertanyaan yang lebih cocok ketimbang 'will you marry me?'.
"Kapanpun kau mau." Sakura menatap haru ketika sebuah cincin disematkan pada jari manisnya. Cincin mas polos sederhana sebagai ikatan dari Naruto. Dia pantas bangga mendapatkan itu karena hanya dia satu-satunya yang akan memiliki pria itu.
"Kalau aku minta besok bagaimana?"
Sakura menunju bahunya pelan. Lagi-lagi selalu membuat lelucon yang tidak lucu. "Jangan bercanda. Memangnya pernikahan itu seperti acara meeting di perusahaanmu yang selalu mendadak?"
Naruto hanya terkekeh. "Tapi, Sakura, ada sesuatu yang harus kau tahu. Setelah kita menikah kita akan tetap terpisah, karena aku tidak mungkin akan membawamu tinggal jauh dari ibumu. Apa kau sanggup?"
Mata Sakura meredup. Ia tahu ini sedikit berat namun jika niat di dalam hatinya tulus, semua ini akan lebih ringan dari sebuah kapas. "Walaupun terkadang kita berjauhan, tentu ikatan kita tak kan terputus. Lagipula itu tidak akan berlangsung selamanya, kan? Siapa tahu ada lowongan yang lebih baik di sini dan kau bisa resign dari sana."
Naruto meringis. Sekali pun ia tak pernah membayangkan itu. Ia tipe orang yang setia bahkan dalam urusan pekerjaan. "Ya, kau benar. Kita tak akan tahu apa yang terjadi di masa depan. Jadi, berjanjilah untuk setiap hanya kepadaku, okay?" Naruto meraih kedua telapak tangan Sakura dan menggenggamnya erat.
Sakura mengangguk patuh. "Yeah, aku berjanji. Bagaimana dengan kau sendiri?"
"Aku akan selalu mencintaimu." Dengan kata terakhir Naruto menariknya ke dalam pelukan yang hangat. Sore itu, di langit mulai terlihat salju pertama turun. Ini menandakan bahwa musim dingin sudah tiba. Tampaknya akan tidak memungkinkan jika Sakura memakai gaun yang cukup terbuka pada hari pernikahan nanti. Mungkin Naruto akan mengizinkannya memakai kimono saja dan memilih adat Jepang agar semua terasa lebih tradisional.
Terimakasih sudah selalu berada di sisiku.
.
.
.
[end]
Err.. aku gak akan melakukan pembelaan diri deh soal kekurangan fanfic ini heheh
Makasih ya untuk 450 plus plus review dan 140 plus plus favers dan followers fanfic ini. Kalian luar biasa :D tanpa kalian aku mah apa atuh hihiih. Fanfic ini dirilis dari tanggal 27 September 2015 sampai 3 September 2016, butuh waktu satu tahun nyicil apdet ini. Kemarin emang sempat nyimpen filenya duluan sih sebelum waktu diapdet, makanya bisa selesai dengan cepat (setahun bagiku tergolong cepat mengingat fanfic multichapterku terakhir in progress selama lima tahun, gah)
Oh ya, aku merilis sebuah fanfic multichapt lagi dengan tema sedikit menyerupai HoN yang berjudul My Precious Assistant. Kalo punya waktu luang silahkan mampir yaaa…
Jika ada pertanyaan, feel free to ask me by pm dan review kalian yang masuk akan kubalas secepatnya.
All my love, amai.
EPILOG
.
.
.
Beberapa tahun kemudian.
Sinar matahari sudah merambat masuk melalui celah jendela berbordir tebal itu. Sakura bergeser di tempat tidur saat ia terbangun. rambut merah muda sebahunya beratus helas menutupi wajahnya. Ia membuka matanya perlahan sembari menyingkirkan surai pendeknya, sebagian cahaya memukul matanya yang tidak siap menerima asupan. Dia berada di kamar tidur yang akrab. Cat ruangan itu berwarna krim, di atas kepala ranjang ada sebuah lukisan pemandangan Hokaido pada malam hari. Beberapa poto frame juga berdiri di nakas samping kasur mereka.
Ia perlahan-lahan duduk untuk bersandar di kepala ranjang dengan dibantu sebelah tangannya. Matanya masih berat sekali mengingat semalam ia terlambat untuk tidur. Yeah, hanya gangguan biasa dari anak laki-lakinya dan sedikit godaan dari sang suami.
Sakura menatap seorang pria di sampingnya—yang dalam beberapa tahun ini menjadi orang yang pertama kali dilihat saat ia bangun pagi. Semenjak Naruto memutuskan untuk resign dari Rutan Konoha beberapa bulan yang lalu, menjadikan hubungan pernikahan mereka semakin mesra karena tidak ada lagi kendala dalam masalah jarak. Suami dan istri itu kan memang harusnya bersama-sama.
Sakura tersenyum pada pria itu. Ia memiliki kepala berambut kuning, kulit tan dan wajah tampan oriental. Pria yang damai dalam tidurnya. Wajahnya tampak begitu tenang yang jelas berbeda ketika ia terjaga. Sakura mengangkat tangannya dan membelai lembut pada pipi suaminya.
"Pagi yang indah." Sakura berkata ketika suaminya perlahan mengerjab. Mata biru Naruto menatap langsung ke mata hijaunya. Sakura tersenyum "Selamat pagi, Naruto."
"Selamat pagi mrs. Uzumaki."
Sakura tersipu dan main-main mendorongnya pelan. Ketika ia melihat ke arah jarum jam, ternyata hari sudah menunjukan pukul 06.30 pagi.
"Kita harus bergegas sekarang, soalnya banyak sekali hal-hal yang masih belum dipersiapkan. Oh, aku tidak mau jika acaranya tidak akan berjalan lancar." Sakura segera menurunkan kakinya dari atas tempat tidur. Ia mengambil sebuah kemeja yang tergeletak begitu saja di lantai kayu kamarnya lalu menutupi tubuh atasnya yang tidak memakai apapun.
Naruto cemberut tapi ia tidak akan berkomentar apapun, ia sedikit kecewa sembari memandangi punggung istrinya menghilang dari balik pintu kamar mandi. Lebih baik ia kembali tidur barang lima sampai sepuluh menit saja karena rasa kantuk begitu menguasai syaraf-syarafnya.
.
.
.
Setelah Sakura selesai membersihkan diri, ia segera keluar kamar untuk melihat keadaan kondisi rumahnya. Dari lantai dua ini, ia bisa melihat beberapa balon-balon yang tertempel pada sudut-sudut ruangan. Beberapa bunga-bunga plastik juga menghiasi ruang tamunya. Kemudian pandangan Sakura tertuju pada dua buah meja panjang yang terletak sedikit jauh dari tangga. Meja itu masih kosong sekarang, mungkin sekitar setengah jam sebelum acara dimulai, meja itu baru akan diisi dengan berbagai minuman jus hasil buatannya sendiri (tentunya dibantu oleh teman-teman dan beberapa pelayan).
Sakura melangkah menuruni anak tangga. Pegangan pada tangga dihias dengan bunga mawar plastik yang merambat sampai ke bawah. Itu memberi kesan anggun dan menarik untuk ditelusuri. Melihat setiap hiasan ini, Sakura merasa kembali pada saat ia melangsungkan hari pernikahan bersama dengan Naruto. Setiap sudut rumahnya dipenuhi dengan bunga dan juga lampu-lampu hias dengan berbagai warna, bahkan kamar tidur mereka sudah menjadi seperti kamar seorang ratu.
Tapi, sekarang rumahnya dihias bukan untuk sebuah pesta. Walau begitu, ia rasa dekorasi ini tidak terlalu berlebihan walau hanya sebuah acara peresmian nama.
"Shinachiku, siapa yang memberimu es krim?" Sakura segera berjalan cepat ketika ia mendapati putra semata wayangnya melintas di hadapannya dengan membawa semangkuk kecil berisi es coklat. Sakura segera berlutut mensejajarkan tinggi badannya. "Ayo, berikan pada ibu." Sakura tak pernah mengizinkan putranya memakan itu.
Dahi bocah dua tahun itu mengerut. Dalam usia yang baru bisa memiliki keahlian berjalan, Shinachiku sudah bisa mengeluarkan ekspresi penolakan jika ia tidak bisa memenuhi permintaan dari siapapun. Ia menyembunyikan mangkuk es krim itu ke balik badannya.
"Heeh, kau tidak boleh makan itu. Kau itu mudah terkena flu." Sakura menarik tangan anaknya, memaksa untuk mengambil alih mangkuk es krim. "Minum susu saja ya?"
"Huaaaa..."
Sakura mendesah melihat anaknya mulai menangis. Kalau sudah begini ia selalu kebingungan untuk melakukan apa. "Oh, anak ibu." Sakura mengangkat Shinachiku ke dalam gendongannya. Semakin bertambah hari, ia merasa Shinachiku semakin berat saja. "Bagaimana jika kita menonton Doraemon?" pertanyaan Sakura tidak sedikit pun mengurangi tangis anaknya. Kadang Sakura berpikir, kesibukan pada kegiatan barunya selalu mengurangi jadwal bersama anaknya.
"Dia tidak suka menonton, Sakura." Mebuki mendekat karena ia mendengar tangis Shinachiku dari dalam kamarnya. "Dia akan suka bermain pou." Mebuki mengambil alih Shinachiku ke dalam gendongannya.
Tiga tepukan pelan pada bahu Shinachiku dari neneknya membuatnya terdiam. Sakura mendengus setengah cemburu. Anaknya selalu akan luluh bersama si nenek.
"Sakura-chaan, ibu dan ayahku sudah tiba!" Terdengar teriakan Naruto dari luar.
"Wah, untung saja mereka bisa sampai tepat waktu," Mebuki lebih dulu menanggapi.
"Baiklah, aku akan segera keluar," balas Sakura setengah berteriak. Kemudian perhatian Sakura kembali kepada anaknya. "Shina-kun, ingin bertemu Kushina-obaachan dan Minato-ojiichan, kan?"
Shinachiku tidak merespon. Sebetulnya ia tidak terlalu akrab dengan kedua orangtua Naruto. Tapi, tak apa karena ia masih sangat kecil dan mereka juga jarang bertemu. "Ayo, jangan ragu-ragu." Sakura mengambil kembali anaknya dan segera berjalan menuju ke ruang tamu.
"Oh, sayangku, apa kabar?" Kushina langsung membuka tangannya lebar untuk menyambut menantunya ke dalam pelukan. "Wah, cucuku ternyata sudah besar." Tak lupa sebuah ciuman ia berikan kepada Shinachiku. Bocah itu tampak ketakutan.
"Dia agak sedikit pemalu," jelas Sakura sembari mengusap pelan kepala anaknya.
"Sakura-chan, dimana kita harus menyimpan ini?" Naruto mendekat kepada istrinya sembari membawa sebuah karangan bunga.
"Taruh di kamar saja, Naruto. Ngomong-ngomong itu dari ayah dan ibu, ya?"
"Kami hanya sempat membeli yang kecil." Minato menyahut dari belakang punggung istrinya. Sakura maju untuk memeluk ayah mertuanya itu. Ah, betapa ia merindukan mereka.
"Itu cantik sekali, ayah. Kalian seharusnya tak usah repot-repot."
"Tidak pernah repot jika untukmu." Minato tersenyum lebar. "Hallo, Shina-kun, mau ikut ojii-chan?" Minato sudah bersiap membuka tangannya tapi bocah berambut pirang itu semakin mengeratkan pegangan kepada Sakura. Tidak rewel selagi jauh dari Mebuki saja sudah baik. Dia kan anak nenek, bukan anak ibu.
Kemudian nona Mebuki keluar menyambut kedatangan sepasang suami istri yang selalu hangat itu, mempersilahkan mereka segera menuju ke kamar tamu untuk istirahat sebelum acara di mulai.
Jeda beberapa saat kemudian, Ino dan Gaara datang dengan membawa karangan bunga juga. Tampaknya kamar Sakura malam ini akan dipenuhi dengan berbagai macam ucapan selamat sukses dan bunga-bunga hias. "Semoga sukses ya, Sakura." Ino mencium ke dua pipi temannya itu. "Acaranya nanti siang, kan?"
"Yah," Sakura mengangguk. Sementara Shinachiku hanya memandangi gerak-gerik tamu ibunya itu. Hari ini ia tampaknya betah berada di dalam dekapan Sakura. "Terimakasih sudah membantu menghias daerah taman semalam. Dekorasi kalian begitu menakjubkan." Walau harus Sakura akui, dekorasi itu tak jauh berbeda seperti pesta pernikahannya—yeah, yang terpenting tak seperti pesta ulangtahun anaknya tahun kemarin itu sudah bagus.
"Itu karena aku dan Gaara sudah berusaha bersama! Iya, kan, sayang?" Ino tertawa bangga, sementara Gaara yang berada di sampingnya hanya menggaruk kepalanya acak. Istrinya kelihatannya senang sekali hari ini. Ia rasa, mereka tak banyak melakukan apapun semalam. Lagipula ada pegawai dari tempat pemasangan dekorasi yang disewa Naruto.
"Oh ya, ada kiriman bunga dari Sasuke di luar. Dia bilang tidak bisa datang," ujar Ino.
"Wah, aku harus berterimakasih padanya." Sakura mempersilahkan Ino dan Gaara duduk di kursi ruang tamu.
"Sakura-san," Moegi muncul dari pintu bagian belakang. Dari semalam ia menginap di sini untuk bantu menyukseskan acara Sakura. "Aku mau pulang dulu ya, nanti aku kemari lagi."
"Baiklah, jangan terlambat yaaa."
"Jangan lupa bawa Konohamaru kemari yaaa," Ino menyahut sedikit menggodanya, membuat pipi gadis itu memerah.
Karena Moegi sedang terburu-buru (sementara pacarnya sudah menunggu di depan), ia tak sanggup lagi membalas perkataan Ino. Moegi harus pulang karena ada dua ekor Persia yang menunggu untuk diberi makan.
.
.
.
Shinachiku termasuk bocah yang susah makan. Kadang Sakura hampir kehabisan akal untuk menu makanan bocah itu setiap harinya. Shina lebih suka mengonsumsi biskuit—roti-rotian ketimbang bubur ataupun nasi. Apabila sudah menyangkut es krim atau cokelat, ia tak akan bisa berhenti untuk menelannya. Walau begitu masih ada cara lain untuk mengalihkan perhatian putranya agar dapat tetap mengonsumsi nasi dan sayur; dengan cara bermain sambil memberinya makan.
Sebentar lagi acara peresmian rumah gizi dimulai tapi puteranya masih belum juga menghabiskan makanannya. Sakura sudah membawanya ke taman belakang. Membiarkan ia mengunyah sembari duduk di ayunan. Tak ketinggalan beberapa mainan seperti robot dan juga pesawat terbang yang beberapa di antaranya sudah tercecer di dalam kolam renang dan pinggir-pinggir kolam.
"Ayo, satu suap lagi!"
Shinachiku menggeleng tak mau membuka mulutnya. Yeah, jelas saja. karena makanan di dalam mulutnya masih belum ia telan. Entah mau berapa lama bocah itu menyimpannya.
"Habis ini Shina-kun boleh main pou." kalau saja ibunya tidak membantu mengurus puteranya, mungkin Sakura sudah kualahan selama ini. Namun begitu, mengurus anak bisa menjadi hiburan tersendiri baginya.
"Sakura-chan, acaranya akan segera dimulai. Beberapa tamu dari departemen kesehatan sudah datang." Naruto mendadak muncul dari pintu dalam dan mendekat ke arah Sakura.
"Aku tak menyangka mereka akan datang lebih cepat." Sakura segera meletakan mangkuk yang ia pegang ke sebuah meja kecil di sisi kolam berenang. Ia merapikan bekas makanan anaknya dan juga cangkir susu ke dalam sebuah nampan. Paling-paling nanti ada pelayan yang akan membereskannya.
"Kau sedang gugup, Sakura?" Naruto memperhatikan pergerakan Sakura yang sedikit kaku.
"Apa begitu kelihatan?" Sakura balik bertanya untuk meyakinkan dirinya. Ia tahu, ia sedang gugup namun tak mau mengakuinya.
"Semuanya pasti akan berjalan lancar. Kau lihat kan, dari awal departemen kesehatan tidak mempersulitmu untuk meminta izin membuka rumah gizi ini."
Sakura mengulum senyumnya. Semangat Naruto selalu mematahkan semua ketakutan yang ia punya. "Kau benar, Naruto." Sakura membuka tangan untuk meraih suaminya ke dalam pelukan lalu mereka berbagi sebuah kecupan singkat sebagai penyemangat diri masing-masing.
"Getting lovey-dovey in the yard, you two?"
Sakura dan Naruto langsung menoleh dan mendapati Ino yang tengah berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat. "Ayolah, kau harus menggunting pita terlebih dahulu, Sakura." Setelah mengatakan itu, Ino berbalik kembali masuk ke dalam.
Naruto melepaskan diri dari Sakura dengan perlahan lalu perhatiannya jatuh kepada Shinachiku. Setelah ini peran Naruto akan menggendong putranya. "Ayo, kita tonton ibumu menggunting pita, setelah itu rumah kita akan berplang nama House of Nutrient secara resmi."
"Aus of nutyen!" Shinachiku mengulangi perkataan ayahnya sebisa mungkin. Naruto tertawa mendengar itu, tentu saja Sakura tidak bisa menyembunyikan sebuah senyuman yang lebar.
"Ayo, Sakura." Sebelah tangan Naruto yang bebas, menggenggam tangan Sakura untuk kembali ke dalam bersama-sama.
Apapun yang akan terjadi dikemudian hari, sesulit apapun rintangan dan perasaan gelisah yang akan datang, alasan Sakura akan tetap menjadi wanita yang kuat adalah hanya karena mereka berdua. Dua orang itulah yang menjadikan hidupnya terasa sempurna.
.
.
.
-Terimakasih sudah membaca-
