Syndrome
.
Disclaimer: mereka milik Tuhan YME
Warning: OOC, Typo, GS, AU dll DLDR!
.
Chapter 2 : Moments.
Pernahkah kau berfikir dunia ini terkadang tidak adil?
Dunia ini sangat tidak adil padanya, pada Lee Donghae. Pemuda baik sepertinya kenapa harus mengalami keterbelakangan mental? Aku sangat menyayanginya. Saat melihatnya pertama kali kurasa aku sudah menyukainya. Wajah childisnya, senyum malaikatnya dan sikapnya yang manis sekali. Ku harap suatu saat nanti, ia bisa menemukan kebahagiannya.
.
Dewi malam telah turun dari singgahsananya, di gantikan mentari yang mengintip malu-malu. Waktu menunjukkan pukul 06.00. Seperti janjinya semalam saat menyanyikan lullaby sebagai pengantar tidur Donghae, Hyukjae tengah bersiap-siap mengunjungi Donghae sekarang. Dengan balutan kaus berwarna putih dengan cardigan hitam, dan kaki jenjangnya di balut jeans yang digulung. Jangan lupakan, sebuah jepitan bunga kecil menghiasi rambutnya yang di biarkan tergerai. Simple tapi manis, membuatnya semakin manis di lihat. Setelah berkutat dengan pekerjaan rumahnya, ia bergegas ke rumah Dongahe. Hyukjae tinggal sendiri di apartemennya, terkadang ia juga suka menginap di rumah kakaknya.
Angin sejuk menyapanya saat ia langkahkan kakinya keluar dari apartemennya. Menuju halte bus dengan earphone yang terpasang di telinganya. Membayangkan tingkah lucu Donghae sepertinya tidak buruk untuk membunuh waktu selama perjalanan bus yang dinaikinya. Saat duduk di bangku yang kosong, ia menopangkan dagunya dengan tangannya seraya menatap pemandangan di luar sana. Terkadang ia tertawa kecil mengingat Donghae. Membuat yang melihatnya menjadi gemas karena wajah imutnya bertambah semakin imut. Kalau ada Donghae, mungkin bocah dewasa itu tengah memeluknya sekarang. Masih segar di ingatannya, kejadian 2 minggu lalu. Saat ia dan Donghae tengah jalan-jalan untuk refreshing, sekalian membiasakan Donghae dengan dunia luar. Mereka pergi naik bus yang tidak terlalu ramai saat itu. Mereka banyak bercerita dan bersenda gurau, saat Hyukjae tertawa pelan, Donghae memeluknya, membuat Hyukjae tersentak kaget. Sewaktu ditanya kenapa, dengan imut dan polosnya Donghae menjawab, "Wajah hyukie saat tertawa sangat manis dan imut. Hae jadi gemas, makanya hae memeluk hyukie." Semburat merah tipis langsung menjalari paras manis yeoja itu saat Donghae memeluknya lebih erat.
Bus yang dinaiki Hyukjae berhenti, membuatnya tersadar dari lamunannya. Ia berdiri dan turun dari bus setelah sebelumnya membayar. Dalam 10 menit berjalan kaki, ia sudah sampai di kediaman keluarga Lee. Rumah itu terlihat sangat megah untuk di sebut tempat tinggal. Tak heran karena Mr. Lee adalah pemilik perusahaan besar di beberapa daerah dan sudah memiliki banyak cabang.
Setelah menekan bel, seorang maid membukakan pintu dan tersenyum kearah Hyukjae , "anda sudah datang nona Hyukjae? Silahkan masuk."dengan hormat maid itu membungkuk.
"Aish Luna Unnie, sudah kubilang jangan terlalu formal denganku. Panggil Hyukie saja ne." ia poutkan bibirnya imut, membuat beberapa pekerja di rumah yang melihatnya terkekeh pelan. Sedangkan Luna-maid tadi- mencubit pipi Hyukjae gemas.
"Ne, arraseo nona Hyukie chagi."
"Ya!"
Semua pekerja di sana tertawa melihat tingkah merajuk Hyukjae.
"Aigo, Hyukie kenapa cemberut begitu eh?" Hyukjae menoleh dan segera memeluk wanita paruh baya yang menjadi kepala maid disana.
"Ahjumma, Luna unnie menggodaku terus," adunya dengan nada merajuk.
"Habis kau paling enak untuk dibully sih," celetukan maid bernama Minnah mendapat deathglare dari Hyukjae.
"Kau sebut itu deathglare? Tidak ada seram-seramnya tau. Mana ada deathglare seimut itu." Hyukjae semakin mengembungkan pipinya kesal. Selalu begitu. Setiap ia datang kerumah ini pasti selalu digoda. Uhh…menyebalkan!
"Nona Hyukjae, anda mau minum apa?"
"Ya! Shindong ahjussi jangan ikut-ikutan menggodaku, kalian juga jangan tertawa!" tunjuknya pada sekumpulan pelayan dirumah itu. Ia mengerang frustasi karena terus digoda.
Jangan heran dengan suasana akrab yang tercipta diantara mereka. Semua orang yang berada dirumah Mr. Lee sangat menyayangi Hyukjae dan sudah dianggap keluarga sendiri. Apalagi sifatnya yang baik, ramah, ceria, mudah bergaul dan tidak suka membeda-bedakan menjadi nilai plus untuknya. Dan yang paling penting, Hyukjae sangat menyayangi tuan muda mereka, Donghae, dengan sangat tulus. Bukan hanya para maid dan pekerja lain yang menyayangi hyukjae. Mr. Lee bahkan menganggap Hyukjae sebagai anaknya sendiri, Donghwa menganggap Hyukjae sebagai noona terbaiknya.
Kalau saja keadaan Donghae tidak seperti ini, mereka sangat berharap Hyukjae bisa bersanding dengan Donghae. Menurutnya, mereka amat sangat cocok. Hanya Hyukjaelah yang mereka harapkan. Tidak ada yang lain. Karena kejadian yang sudah berlalu, wanita-wanita yang mendekati Donghae selama ini hanya menginginkan harta keturunan Lee tersebut, dan selalu berpura-pura baik didepan dan menghina dibelakang. Maka dari itu, mereka semua dan Mr. Lee sangat menginginkan Lee Hyukjae menjadi bagian dari keluarga mereka.
"Hei kalian, sudah-sudah, jangan menggodanya terus. Hyukjae-ah, Donghae masih tidur di kamarnya, kau langsung kesana saja." Para maid membungkuk hormat pada Mr. Lee yang sedang menuruni tangga. Hyukjae tersenyum manis dan sedikit membungkuk sebagai tanda hormat.
"Ne, kalau begitu aku permisi Mr-ah maksudku ahjussi." Mr. Lee tersenyum dan menepuk pelan kepala gadis manis itu.
"Kau boleh memanggilku appa kalau mau. Kajja bangunkan Donghae." Gadis itu mengangguk dan beranjak menuju kamar Donghae.
"Sungguh gadis yang sopan dan baik, aku berharap suatu saat dia bisa menjadi menantuku." Mr. Lee tersenyum tulus memandang punggung Hyukjae yang menjauh. Para maid yang mendengar itu ikut tersenyum dan mengamini harapan itu. Semoga saja.
.
Warna biru langsung menyapa indra penglihatan Hyukjae saat memasuki kamar Donghae. Terlihat sang pemilik kamar masih bergelung di tempat tidur. Ia tersenyum dan mendekati tempat tidur Donghae dengan perlahan. Saat ini, Donghae tengah tertidur sambil memeluk boneka nemonya yang berukuran medium dengan erat. Omo, neomo kyeoptaaa….
Sungguh, Hyukjae menjadi sangat gemas dengan Donghae. Hyukjae terus menatap wajah Donghae, terlihat manis sekaligus tampan disaat yang bersamaan. Tanpa sadar wajah Hyukjae memerah. Ia gelengkan kepalanya pelan.
"Donghae-ah irreona," ditepuknya lembut pipi Donghae berkali-kali.
"Hae-ah irreona." Sepertinya Donghae mulai terbangun, terbukti dari matanya yang mengerjab beberapa kali. Donghae bangun dan terduduk ditempat tidurnya. Mata hazel yang terlihat tajam, rambut yang acak-acakan, ditambah sinar matahari yang masuk melalui cela ventilasi jendela yang menyinari Donghae membuat Hyukjae tertegun. Tampan sekali. Sungguh, Donghae terlihat sangat mempesona. Aish, lagi-lagi wajahnya memerah. Donghae menatap Hyukjae dan tersenyum lebar.
"Hyukie~ Hyukie sudah datang? Hae sangat kangen Hyukie," ia rentangkan tangannya kearah yeoja manis itu, dan tanpa basa-basi Hyukjae mendekatinya dan memeluknya.
"Ne, aku sudah datang, aku juga kangen Hae." Donghae tersenyum dan menggosok-gosokkan wajahnya di bahu hyukjae. Tingkah childish yang sudah menjadi kebiasaan saat Hyukjae membangunkannya. Hyukjae tersenyum dan mengelus punggung Donghae.
"Hae bau~, Hae mandi dulu sana."
"Hae tidak bau kok, oke Hae mandi dulu ne." Donghae bangun dan melesat ke kamar mandi, sedangkan Hyukjae merapihkan tempat tidur Donghae.
.
"Noona mau masak apa?" Hyukjae menoleh dan mendapati Donghwa berdiri tak jauh dari tempatnya. Dengan senyum manis ia menjawab,
"Aku mau memasakkan masakan kesukaan Donghae. Tenang saja, aku juga membuatkanmu dan ahjussi Lee."
"Kau memang noona terbaikku~" Donghwa memeluk Hyukjae senang, hingga merasakan ada yang mencolek(?)nya dari belakang. Ia menoleh, "Kenapa Luna noona?" Luna-orang yang mencolek tadi- menunjuk kearah pintu dapur.
"Sebaiknya kau lepaskan pelukanmu, kau tak lihat adikmu cemburu melihatmu memeluk hyukie." Dilihatnya wajah Donghae yang menekuk kesal. Hyukjae hanya tersenyum melihatnya. Donghwa berfikir sebentar, tak lama sebuah seringai kecil bertengger diwajahnya. Well, sedikit menggoda adik tersayangnya sepertinya lumayan.
"Tidak mau, aku senang memeluk Hyukie noona seperti ini." Dieratkan pelukannya pada Hyukjae, membuat Donghae yang melihatnya menjadi marah. Didekatinya Donghwa dengan langkah yang dihentak-hentakkan dan wajah yang memerah-marah-.
"Hyung tidak boleh memeluk Hyukie, Hyukie itu milik Hae!" jeritnya seraya melepaskan tangan Donghwa dengan kasar. See? Sungguh menarik melihat Donghae seperti ini hehehe…
"Oke-oke, hyung tidak memeluk Hyukjae noona lagi," Donghwa mengangkat kedua tangannya-tanda menyerah- "Tapi Hyung tidak janji…" Donghwa langsung lari dan menarik tangan Luna yang sedari tadi menahan tawa.
"YA! Hyung tidak boleh memeluk HyukieKU!" Donghae berteriak marah pada kakaknya yang sudah tak terlihat lagi. Hyukjae mengusap punggung Donghae lembut, berusaha menenangkannya. Donghae menatap Hyukjae tepat dimatanya, tanpa basa-basi ia menarik Hyukjae kedalam pelukannya.
"Hae tidak suka Hyukie dipeluk orang lain, Hyukie itu milik Hae!" ucapnya tepat ditelinga Hyukjae, membuat yeoja itu menenggelamkan wajahnya di dada Donghae karena blushing. Jantungnya berdesir pelan tanpa sadar.
"Hae-ah bisa kau lepaskan pelukanmu, aku mau memasak." Donghae melepas pelukannya dan memberi jarak pada hyukjae. Hyukjae mengisyaratkan agar Donghae duduk saja di meja makan, tetapi Donghae menolak dan memilih berdiri disamping yeojanya.
Hyukjae tengah memotong sayur dengan telaten saat ini. Entah kenapa melihat Donghae yang terus menatapnya intens membuatnya gugup.
"Kenapa terus melihatku?" ucapnya tanpa berhenti mengiris sayuran. Donghae tersenyum childish, "Hyukie sangat manis, Hae sanggatttt suka."
Blush!
Wajah Hyukjae merona. Walaupun ia sering mendengar pujian seperti itu, entah dari Donghae ataupun yang lain, tetap saja ia malu.
"Aduh!" jari yeoja manis itu teriris pisau hingga mengeluarkan banyak darah.
"Hyukie, Hyukie tidak apa-apa?" Donghae berujar panic seraya memegang jari Hyukjae yang terluka. Dilihatnya Hyukjae yang tengah meringis perih. Belum sempat menjawab, Hyukjae dibuat tercengang oleh Donghae. Pasalnya, saat ini pemuda itu memasukkan jari Hyukjae kedalam mulutnya. Bermaksud membersihkan darahnya. Mata Donghae terpejam, membuatnya terlihat tampan. Wajah Hyukjae kembali memerah. Aish sudah berapa kali wajahnya memerah. Ia berdoa semoga ini tidak permanen.
"Ha-Hae…"
Donghae membuka matanya dan mengeluarkan jari Hyukjae. Dilihatnya yeoja itu dengan panik.
"Hyukie tidak apa-apa? Apa sakit?" ia tangkupkan wajah Hyukjae yang sedari tadi tertunduk agar menatapnya.
"Omo, Hyukie, wajah Hyukie panas dan memerah, Hyukie sakit? Hyukie istirahat saja ne?" tak taukah kau Hae, Hyukjae memerah begitu karena perlakuanmu. Hyukjae menggeleng pelan dan memegang kedua tangan Donghae yang berada diwajahnya.
"Aku tidak apa-apa Hae, tenanglah." Dilihatnya manik Donghae yang berkaca-kaca. Donghae mengalami retardasi mental ingat? Tak ayal perasannya seperti anak kecil yang akan menangis bila yang disayanginya terluka. Hyukjae mengusap pipi Donghae lembut seraya tersenyum hangat. Membuat Donghae perlahan tenang dan dapat mengontrol perasaannya.
Setelah itu, Donghae segera mengobati luka Hyukjae dan membantunya memasak. Merekapun tertawa bersama tak lama kemudian. Semua penghuni di kediaman Mr. Lee yang melihat kejadian itu tersenyum hangat pada pasangan yang mereka namai Haehyuk Couple itu.
Tak lama makanan sudah siap dan mereka beserta seluruh pekerja yang bekerja disana, makan bersama-sama. Saat makanpun suasana hangat dan ceria kembali muncul berkat kehadiran Hyukjae.
.
Langit yang cerah, angin yang berhembus sepai-sepoi dan tidak terlalu terik, sangat cocok untuk bersepeda. Ya, inilah yang dilakukan Donghae dan Hyukjae. Mereka bersepeda mengelilingi taman saat ini. Setelah sebelumnya Hyukjae meminta ijin kepada Mr. Lee untuk membawa Donghae jalan-jalan. Dan dengan senang hati Mr. Lee mengijinkan, bahkan Mr. Lee sempat ingin memberikan Hyukjae mobil untuk jalan-Jalan. Tapi Hyukjae menolak dengan sopan semua itu. Ia lebih memilih jalan kaki dan menikmati kebersamaannya dengan Donghae. Sebelum ia pergi nanti.
Donghae mengayuh sepedanya dengan santai, sedangkan Hyukjae duduk di depan Donghae sambil berbagi earphonenya dengan pemuda ini, menambah kesan romantis yang membuat orang lain yang melihatnya menjadi cemburu. Mereka mengira Hyukjae dan Donghae adalah sepasang kekasih. Tak sedikit juga yang tersenyum melihat mereka, karena mereka terlihat sangat serasi.
Hembusan angin yang menerpa wajah Hyukjae membuatnya menutup mata dan menyenderkan kepalanya di dada bidang Donghae. Menikmati alunan musik dan kebersamaannya dengan Donghae. Ia akan sangat merindukan moment seperti ini, yang tidak akan ia rasakan lagi saat ia pergi nanti. Tanpa sadar ia menghela nafas berat, membuat Donghae yang mendengarnya menoleh kearahnya.
"Hyukie kenapa?" Hyukjae mendongak keatas dan menatap Donghae sendu.
"Tidak apa-apa kok Hae." Ia menunjukkan gummy smilenya yang Donghae yakin itu tidak seperti senyumnya yang biasa, ada sebuah kesedihan yang tersirat di mata itu. Donghae terus menatap Hyukjae tanpa berhenti mengayuh sepedanya. Tanpa sengaja, sepeda yang dinaiki Donghae oleng karena menabrak bebatuan yang ada di depannya. Donghae kehilangan keseimbangan dan akhirnya mereka terjatuh di rerumputan.
Bruk!
"Aww..." Hyukjae meringis pelan karena punggungnya membentur tanah. Maniknya membola begitu ia membuka mata. Kini, tepat di hadapannya terlihat Donghae yang tengah menindihnya-karena jatuh tadi-.
"Hyukie tidak apa-apa?" Donghae menumpukkan berat badannya pada kedua tangannya yang kini berada di sisi kepala Hyukjae. Jarak wajah mereka tak lebih dari 5 cm, bahkan hidung mereka bersentuhan. Kedua iris itu bertubrukan, menciptakan friksi yang berbeda. Paras yeoja manis itu kembali memerah mendapati hazel Donghae menatapnya intens. Jantungnya berdetak lebih cepat saat ini.
"A-aku tidak apa-apa." Donghae bangun dari posisinya dan duduk di rerumputan taman itu. Hyukjae mengikuti langkah Donghae, ia mengusap helai Donghae dan tersenyum.
"Aku baik-baik saja, kajja kita bersepeda lagi." Gummy smile itu terlihat, membuat Donghae ikut tersenyum karenanya. Donghae kembali mengayuh sepedanya, kini dengan hati-hati.
^-^v
.
Hari semakin terik, Hyukjae memutuskan untuk makan siang bersama Donghae, Setelah mengembalikan sepeda yang ia pinjam dari taman. Mereka bergandeng tangan seraya mencari tempat yang nyaman.
Kling!
Mereka memasuki kafe yang bernama ELF Cafee. Tempat ini cukup nyaman, desain kafe ini sendiri sangat klasik dan moderen. Dengan dinding yang di lapisi warna aqua marine yang berkesan tenang, dan di ujung kafe ini terdapat panggung kecil yang biasa di gunakan untuk bernyanyi. Kafe ini sendiri juga tidak terlalu besar. Simple but comfortable.
"Selamat datang, anda ingin pesan apa?" Hyukjae tersenyum kearah waiters yang juga tersenyum kearahnya.
"Kau mau apa Hae?" Hyukjae menoleh kearah Donghae.
"Apa saja."
"Seperti biasa saja Victoria unnie." Victoria –waiter tadi- mengangguk singkat.
"Baiklah, untuk Hyukie dan Donghae yang bertambah manis akan kubuatkan yang spesial," ucap Victoria sembari mencubit pelan pipi Donghae. Victoria berteman baik dengan Hyukjae, ia sudah menganggap Hyukjae Dongsaeng sendiri. Ia juga sudah tau mengenai Donghae.
"Harganya juga spesial kan unnie?"
"Aish kau ini masih saja pelit."
"Hehehe... aku bercanda." Victoria mendengus pelan, tak lama ia pun tersenyum kembali.
"Jaa, kalian duduk saja, nanti akan kuantarkan pesananmu." Hyukjae mengangguk dan berbalik bersama Donghae untuk duduk. Banyak dari pekerja disana tersenyum kearah Hyukjae karena ia sering ke kafe ini dan sangat ramah. Hyukjae dan Donghae memilih duduk di kursi sebelah kiri dekat jendela.
"Hyukie mau minum? Aku ambilkan ne," Donghae bertanya pada Hyukjae yang tersenyum kearahnya. Kafe ini juga menyediakan Self service untuk minumannya. Jadi pengunjung bisa ambil sendiri.
Donghae beranjak bangun untuk mengambilkan Hyukjae air.
Brugh!
Tanpa sengaja Donghae menabrak seorang wanita sehingga wanita itu terduduk dilantai.
"aww..."
"Ah, Mianhae noona aku tidak sengaja," wanita itu berdecih dan bangun seraya berkacak pinggang.
"Kau tidak punya mata hah!" wanita itu berteriak kesal pada Donghae yang sedari tadi tertunduk.
"Mi-mianhae noona, jeongmal mianhae,"
"Maaf katamu? Enak sekali kau bilang maaf, badanku sakit tau, aish." Hyukjae berdiri dan menghampiri Donghae.
"Maaf nona , dia tidak sengaja." Donghae menengadahkan kepalanya kearah Hyukjae dan membuat wanita itu terkejut, begitupun Donghae.
"Kau, Donghae?"
"IU Noona?" wanita itu berdecih dan menatap Donghae jengah.
"Ternyata kau. Kau itu dari hari kehari semakin bodoh saja. Apa pengobatanmu tidak membuahkan hasil? Apa kau tak malu selalu saja menyusahkan orang lain dengan kebodohanmu?" ucapnya sarkasme dan dengan intonasi yang cukup tinggi sehingga pengunjung kafe itu memperhatikan mereka. Donghae yang sedih mendengarnyapun menunduk, berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis. Hyukjae mengenggam tangan Donghae lembut dan dibalas genggaman erat olehnya.
"Siapa Yeoja ini, pengasuhmu yang baru? Atau orang yang menginginkan hartamu? Cih yeoja rendahan!" suasana disana makin panas seiring perkataan IU yang semakin pedas. Hyukjae hanya tersenyum simpul menghadapinya.
"Berhentilah menyusahkan orang lain dengan keidiotanmu itu, Donghae! Penyandang retardasi mental sepertimu tidak pantas berada disini!" hardiknya kasar. Hyukjae mengenali wanita ini, ia salah satu wanita yang dulu mendekati Donghae dan hanya mengincar hartanya saja. Ia diberitau oleh Donghwa. Tangan yang Hyukjae genggam ini bergetar, ia tau, Donghae pasti sedang menangis saat ini.
"Kau itu tidak berguna, dasar idiot!" tatapan Hyukjae lurus mengenai manik IU. Memang sekilas tatapannya itu terlihat tenang, tetapi bila diperhatikan dengan seksama, mata itu menatap IU tajam dan marah.
"Sepertinya kau mempermalukan dirimu sendiri nona?" ucap Hyukjae.
"huh?"
"Kau wanita terpelajar, tetapi sepertinya kau tidak diajarkan sopan santun. Kau dengan mudahnya berteriak lantang menceritakan kekurangan orang lain. Apakah itu yang disebut pintar?" ucap Hyukjae santai. IU menatapnya marah.
"APA?!" teriaknya emosi.
"Sekarang katakan padaku apa itu definisi idiot yang kau ucapkan tadi."
"..."
"Kenapa? Kau tidak bisa menjawabnya? Aku tidak terima kau menghina Donghaeku seperti itu. Apa salah bila seseorang mempunyai kekurangan? Donghaeku memang memiliki kekurangan, tapi apa karena hal itu kita harus menghinanya, mengatainya, memojokkannya atau bahkan menjauhinya? Kalau ada yang menjawab 'Ya' aku akan dengan senang hati mengatakan kalau mereka itu idiot sejati." Pengunjung disana terperangah dengan ucapan Hyukjae itu. Sungguh wanita yang hebat.
"Apa alasanmu mengatainya idiot?"
"Karena dia memang idiot," IU menunjuk kearah Donghae dengan wajah kesal dan muak.
"Siapa bilang? Donghae itu pemuda yang luar biasa. Ia tahan menghadapi orang-orang yang memandangnya sebelah mata dan terus berjuang agar lebih baik. Ia dengan lapang dada menerima dirinya sendiri dengan keadaan seperti ini yang orang lain belum tentu bisa menerimanya. Apa kau masih menganggapnya idiot? Jahat sekali." Wanita itu menggeram marah pada Hyukjae, di dorongnya bahu Hyukjae kasar.
"Jangan sok suci kau, dasar penjilat!" Hyukjae hanya tersenyum mendengarnya.
"Ah, dan kau mengataiku apa? Menginginkan harta?" Hyukjae mengabaikan pernyataan Iu dan bertanya.
"Bukankah itu aibmu sendiri nona. Dulu kau mendekati Donghae dan berpura-pura menyanyanginya kan. Semua berjalan mulus sampai Donghwa mengetahui niat 'baikmu' yang hanya menginginkan hartanya saja." Perlahan Hyukjae mendekati IU yang memerah karena malu dan marah.
"Mr. Lee yang mengetahuinya kehilangan kepercayaannya padamu dan tak menerimamu lagi. Karena sakit hati dan tidak berhasil menjalankan rencanamu, lantas kau melampiaskan semuanya pada Donghae. Kau memakinya dan menceritakan kekurangannya pada semua orang, menyedihkan sekali dirimu nona. Apa kau masih punya muka untuk mengatai Donghaeku idiot sementara yang idiot disini adalah kau." Senyum kemenangan terpatri jelas di paras Hyukjae saat wanita dihadapannya ini tak bisa berkata-kata lagi. Jangan lupakan, aksen Hyukjae yang sangat tenang saat mengucapkan itu semua, membuat semuanya kagum pada pengendalian dirinya yang luar biasa.
"Psst... iya-ya, jahat sekali wanita itu."
"Beraninya mengatai pemuda manis itu, kalau ia yang berada diposisi pemuda itu, ia pasti tidak mau."
"Wanita rendahan."
Terdengar argumen-argumen dari beberapa pengunjung di kafe itu. Mendengarnya, IU menjadi kalap dan ingin menampar Hyukjae.
IU mengangkat tangannya untuk menampar Hyukjae. Belum sempat menampar ia merasa ada yang menyiramnya dengan jus.
"Hyo?" Hyukjae agak kaget dengan kehadiran Hyoyeon-sahabat dekatnya-.
Hyoyeon menumpahkan jus itu tepat di kepala IU.
"Gyaa... apa yang kau lakukan hah?!" Hyoyeon tersenyum menyeringai menatap IU.
"Itu balasan dariku karena mengatai Hyukie dan membuat Donghae menangis, kau tidak pantas berada disini, sebenarnya siapa yang rendahan disini hum?"
"Memangnya kau siapa hah?!" ia berteriak marah pada Hyoyeon.
"Aku pemilik kafe ini, any problem dear?"
"Kau... arghh awas kau!" IU menghentakkan kakinya keluar dari kafe itu dengan raut wajah yang sangat kesal.
"Pintu keluar ada di sana kalau kau lupa," Victoria ikut menimpali, karena tak ayal, ia juga cukup kesal dan marah pada wanita ini.
Hyoyeon mengarahkan jari telunjuknya pada IU yang sudah menjauh dan menyeringai.
"Ku tunggu kedatanganmu selanjutnya."
Hyukjae menatap Donghae dan menghapus airmata Donghae dengan jemarinya.
"Hei, sudah tidak apa-apa kok Hae, jangan menangis ne " Hyukjae tersenyum berusaha menenangkan Donghae. Namun Donghae tetap menunduk. Seorang pria paruh baya menghampiri Hyukjae dan Donghae. Ia menepuk pelan bahu Donghae dan tersenyum.
"Hei nak, sudah, tidak apa-apa. Jangan kau fikirkan omongan wanita tadi." Donghae menatap pria paruh baya itu dan memgangguk singkat.
"Iya benar, tetap semangat ne." Hyoyeon mendekati Donghae dan mengusap kepalanya.
"Iya, semangat ne, kami mendukungmu kok." Terdengar teriakan semangat untuk Donghae dari semua pengunjung kafe itu.
"Kau manis dan tampan, kyaa~" teriak yeoja-yeoja disana senang.
"Ini untukmu, jangan bersedih lagi nak." Seorang wanita paruh baya menghampiri Donghae dan memberikannya sebuah balon berbentuk hati berwarna biru laut, dengan senyuman.
"Kau tidak pantas bersedih untuk perkataan wanita tadi, kau itu hebat nak." Donghae tersenyum kearah wanita paruh baya itu dan menunduk hormat.
"Gomawo ahjumma." Hyukjae juga ikut tersenyum melihatnya, diusapnya pucuk kepala Donghae.
"Tersenyumlah, kalau Hae sedih, nanti Hyukie ikutan sedih," Hyukjae berpura-pura menampakkan wajah sedihnya kepada Donghae, membuat Donghae gelagapan.
"Hyukie jangan sedih. Nde, Hae tidak akan sedih lagi kok." Hyukjae tersenyum senang dan menarik tangan Donghae untuk duduk.
"Jaa, kalau begitu ayo kita makan."
"Ne "
.
(authors note : sebaiknya mendengarkan lagu yang sedih-sedih fav anda untuk menambah kesan dramatis part ini )
Hyukjae mengajak Donghae ke taman dan duduk dibangku putih yang tersedia disana.
"Donghae-ah aku ingin mengatakan sesuatu." Terdengar nada serius dari ucapan Hyukjae. Donghae menatap Hyukjae seakan mengisyaratkan untuk melanjutkan ucapannya. Hyukjae menatap Donghae cukup lama. Tuhan, sungguh, ia tidak sanggup untuk mengatakan kepergiannya pada pemuda yang disayanginya ini. Ia juga tidak tau harus mulai darimana. Menghela nafas dalam, iapun tertunduk lemah.
"Hyukie?"
"Ha-Hae, aku harus pergi." Suara lirih itupun keluar, mengundang tanda tanya pada pemuda ini.
"Hyukie mau pergi? Hae ikut ya," Hyukjae menatap sedih Donghae yang tengah tersenyum childish kearahnya. Bukan, bukan itu. Donghae salah mengartikan 'pergi' yang ia maksud. Hyukjae menggigit bibir bawahnya dan menggeleng.
"Bukan itu Hae, aku, aku harus pergi dari... Seoul." Ucapan telak yang membuat senyum Donghae musnah seketika.
"Pergi dari Seoul?" Hyukjae mengangguk pelan dan masih tertunduk dalam.
"Kenapa?" suara itu mulai terdengar gemetar dan lirih. Hyukjae mengangkat kepalanya dan menatap Donghae lembut.
"Ada suatu hal yang harus kuselesaikan , ini tidak main-main dan sangat penting Hae,"
"Hyukie mau pergi kemana?" hazel itu mulai berkaca-kaca, merefleksikan kesedihan yang mendalam. Hyukjae terdiam menatap Donghae dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Pa-Paris."
Tes!
Setetes airmata Donghae mengalir dari hazelnya, membuat hati Hyukjae mencelos. Airmata itu jatuh tepat mengenai tangan Hyukjae yang masih menggenggam jemari Donghae erat.
"Tidak mau hiks, Hae tidak mau Hyukie pergi, jebbal." Airmata itu tak terbendung lagi dan mengalir semakin deras.
"Hae-"
"Hyukie sudah janji tidak akan meninggalkan Hae."
Tes!
Airmata Hyukjae pun jatuh membasahi wajahnya begitu mendengarnya. Hyukjae menangkupkan wajah Donghae dengan kedua tangannya dan mengusap airmatanya.
"Kumohon jangan menangis Hae," Donghae menggeleng kuat dan menangis semakin pilu.
"Hyukie akan meninggalkan Hae, Hyukie jahat." Hyukjae menggeleng lemah dan menempelkan dahinya dengan Donghae.
"Jangan pergi. Hae janji akan menjadi anak baik, Hyukie jangan pergi ya?" Hyukjae menatap dalam mata yang sudah sembab itu dengan pandangan sedih. Tuhan, ini menyesakkan sekali.
"Hae, dengarkan aku. Keluargaku sangat membutuhkanku disana. Hae sayang keluarga Hae?" Donghae mengangguk pelan.
"Begitupun aku Hae, saat ini keluargaku sangat membutuhkanku, ku mohon ijinkan aku pergi ne?"
"Tapi Hyukie itu milik Hae. Hae juga membutuhkan Hyukie. Hyukie jangan pergi hiks." Airmata itu kembali turun, begitu menyayat hati bagi siapapun yang melihatnya.
"Hae..." Donghae memeluk Hyukjae sangat erat seakan takut bila dilepaskan tubuh ini akan menghilang. Airmata kembali menetes dari manik Hyukjae.
"Donghae?" tak ada jawaban, hanya terdengar isakan pilu dan bahu yang bergetar. Beruntung suasana ditaman itu sedang sepi, sehingga tak ada yang memperhatikan mereka. Cukup lama mereka terdiam tanpa sepatah katapun.
"Hyukie?"
"Hm?"
"Jangan pergi, Hae sayang Hyukie, jebbal jangan pergi." Hyukjae dapat merasakan pelukan itu semakin erat. Hangat tapi menyedihkan disaat yang bersamaan.
"Hae sayang Hyukie?" pertanyaan Hyukjae dijawab anggukan oleh Donghae.
"Hae percaya pada Hyukie?" Hyukjae kembali tersenyum saat Donghae kembali mengangguk. Hyukjae mengelus belakang kepala Donghae.
"Kalau begitu Hae harus percaya, jika aku pergi pasti akan kembali lagi." Donghae semakin menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Hyukjae dan mempererat pelukanya.
"Hae tidak mau, Hyukie tidak boleh pergi, nanti kalau pergi, tidak ada yang menemani Hae lagi hiks…"
"Siapa bilang saying, kan ada Lee ahjussi, Donghwa, para maid dan noona-noona yang ada ditempat belajarmu yang akan selalu menjagamu." Hyukjae melepas pelukannya walau agak susah karena Donghae memeluknya erat. Ia letakkan tangannya di dada Donghae dan tersenyum.
"Walaupun aku pergi, aku akan selalu ada bersamamu Hae. Disini, di hatimu. Percaya padaku Hae, aku pasti akan kembali lagi." Donghae menggenggam tangan Hyukjae yang berada di dadanya dan tertunduk.
"Hae takut, kalau Hyukie pergi tidak akan kembali lagi." Ucapnya lirih.
Cup
Hyukjae mencium kening Donghae lama, menyalurkan rasa kasihnya yang berlimpah untuk pemuda ini.
"Aku pasti kembali Hae, aku tidak mungkin bisa berpisah denganmu." Donghae kembali menunduk dan mengangguk pelan, mengisyaratkan bahwa ia mengijinkan Hyukjaenya pergi. Hyukjae terdiam saat Donghae mencium keningnya lembut dan memeluknya kembali. Hyukjae berniat melepas pelukannya untuk mengajak Donghae pulang, tetapi gerakannya terhenti saat Donghae menariknya dan memenjarakannya kembali dalam sebuah pelukan hangat.
"Hae…"
"Biarkan seperti ini, sebentar saja." Bisiknya tepat di telinga Hyukjae. Membuatnya kembali merona. Entah kenapa sikap Donghae yang seperti ini, membuatnya terlihat normal dengan remaja seumuran lainnya. Donghae kembali mengeratkan pelukannya, membuat tidak ada jarak lagi diantara mereka.
'Tuhan, kenapa jantungku berdebar-debar seperti ini?'
.
Sebuah mobil mewah baru saja berhenti tepat di sebuah rumah mewah. Sang pemilik keluar dari mobilnya. Ia pandang langit yang sudah senja. Ia edarkan pandangannya dan menemukan Hyukjae dan Donghae yang berada lumayan jauh dari tempatnya berada. Ya, orang itu adalah Mr. Lee yang baru saja menyelesaikan tugas kantornya. Di lihatnya Donghae yang bersandar dan menumpukkan kepalanya di bahu Hyukjae. Raut wajahnya terlihat lesu, dan Hyukjae yang mengelus kepala Donghae.
"Ada apa dengan mereka?" gumam Mr. Lee, ada perasaan tak tenang dalam hatinya.
"Hyukjae, Hae kalian baru pulang?" Hyukjae sedikit tersentak kaget karena baru menyadari keberadaan appa Donghae.
"Iya ahjussi, maaf karena aku membawa Donghae sampa sesore ini." Bungkukan kecil ia berikan tanda meminta maaf dan tak enak pada Mr. Lee.
"Tak apa, tak usah minta maaf, asalkan Donghae bersamamu, aku merasa tenang." Sebuah usapan ringan pada pucuk kepalanya, diterima Hyukjae dari Mr. Lee. Manik pria paruh baya itu tertuju pada Donghae yang sedari tadi tak mengeluarkan suara dan semakin merapatkan dirinya pada Hyukjae. Tidak biasanya ia seperti ini.
"Ayo masuklah, kalian pasti lelah." Hyukjae tersenyum dan mengangguk.
.
.
Donghwa yang kebetulan berpapasan dengan Hyukjae dan Donghae di tangga hanya bisa mengernyitkan dahi melihatnya. Biasanya, saat pulang jalan-jalan dengan Hyukjae, Donghae akan menjadi hyperaktif dengan wajah sumringah. Tapi ini? Daripada terus kebingungan, ia memutuskan untuk bertanya.
"Hyukjae noona, Hae kenapa?" Hyukjae menoleh dan tersenyum lemah
"Tidak apa-apa Donghwa." Donghwa yang mengerti situasi tidak bertanya lebih lanjut dan membiarkan Hyukjae untuk mengantarkan Donghae ke kamarnya. Donghwa yang melihat appanya di bawah, segera menghampirinya.
"Appa, sebenarnya Donghae kenapa?" tanyanya langsung. Mr. Lee terdiam sebentar.
"Mungkin Hyukjae sudah memberitahu Donghae tentang kepergiannya. Kuharap Donghae akan baik-baik saja tanpa Hyukjae. Walaupun aku tidak yakin." Rasa resah masih meliputi hati pria paruh baya itu. Bagaimana dengan Donghae setelah ini? "Kenapa appa tidak menahan Hyukjae noona?" Mr. Lee menghela nafas pelan dan menatap anak sulungnya.
"Alasan kepergiannya kuat Donghwa-ah, bagaimanapun ia mempunyai kehidupan pribadi dimana kita tidak bisa memaksanya." Sejujurnya Mr. Lee juga merasa tidak rela bila Hyukjae pergi, ia telah menganggap gadis itu sebagai anaknya yang disayanginya. Dan terlebih, gadis itu menyayangi Donghae sepenuh hati tanpa ada maksud lain. Itulah yang membuat pemilik Lee Corporation itu kagum padanya. Tapi ia sadar bahwa Hyukjae memiliki kehidupan pribadi, ia tidak bisa terus mengurung Hyukjae untuk Donghae. Itu sungguh egois.
"Semoga saja Donghae tidak kenapa-kenapa." Dengan sebuah helaaan nafas, Mr. Lee kembali berjalan.
.
Hari sudah semakin malam dan sudah waktunya Hyukjae pulang. Gadis itu melirik kearah Donghae yang terus menggenggam tangan kanannya. Perasaan itu datang lagi. Sesak yang ia rasakan di dalam hatinya saat melihat Donghae seperti ini. Saat ini, ia tengah berada di kamar Donghae.
"Hae, sudah malam, Hae tidur ne," Donghae terdiam, membuat Hyukjae semakin resah.
"… tidak mau. Hae tidak mau tidur. Hae mau menemani Hyukie." Hyukjae menghela nafas pelan dan beralih menatap Mr. Lee yang berada disana juga.
"Donghae, ini sudah malam nak, segeralah tidur. Kau tak kasihan pada Hyukjae, ia terlihat lelah." Mr. Lee mengusap pucuk kepala anaknya. Tak enak juga saat melihat Hyukjae, ia Nampak lelah. Seharian berjalan-jalan tentu menguras tenaga.
"Hyukjae-ah, kau pulang saja, tak apa-apa,dan terimakasih sudah menjaga Donghae." Senyum kehangatan di berikan kepadanya dan dibalas senyum miris.
"Ne ahjussi." Ia berbalik menghadap Donghae yang masih terlihat murung.
"Hae, aku pulang dulu ne?" Donghae menggeleng sebagai respon.
"Hae kau tak boleh begitu. Hyukjae, aku akan menyuruh Donghwa untuk mengantarmu."
"Tidak usah ahjussi, kalau seperti itu malah merepotkan ahjussi dan Donghwa." Mr. Lee tersenyum.
"Tidak merepotkan, jaa pulanglah, ini sudah malam." Hyukjae mengangguk.
"Hae…" donghae menggeleng dan mengeratkan genggamannya pada Hyukjae. Mr. Lee menghela nafas berat.
"Donghae biarkan Hyukjae pulang, ini sudah malam, appa tidak pernah mengajarkanmu seperti ini kan?!" Mr. Lee melepaskan genggaman tangan Donghae dengan sedikit paksaan. Karena ia akui saja, genggaman itu sungguh erat. Hyukjae memandang sendu Donghae yang tertunduk. Ia berdiri dan pamit pada Mr. Lee.
"Ahjussi saya permisi dulu."
"Ne, biar aku antar."
Prang!
Baru sampai di depan pintu kamar Donghae, Hyukjae dan Mr. Lee dikagetkan dengan suara barang pecah, mereka menoleh seketika.
"DONGHAE?!" betapa terkejutnya mereka melihat Donghae membanting barang-barang di kamarnya. Donghae mengamuk lagi.
"Tidak boleh, Hyukie tidak boleh pergi!" jeritnya seraya terisak dan terus membanting barang. Hyukjae dan Mr. Lee segera menghampiri Donghae .
"Donghae tenangkan dirimu nak." Mr. Lee memegang tangan Donghae yang tengah memegang gelas untuk dilempar. Hatinya serasa dilumuri racun melihat anaknya seperti ini. Bagaimana bila Hyukjae benar-benar pergi nanti?
"Hae jangan seperti ini, kumohon." Intensitas gelengan ia tingkatkan dan berusaha melepas genggaman ayahnya. Beruntung gelas itu sudah berhasil Mr. Lee amankan.
"Hae…"
"Hae tidak mau Hyukie pergi sekarang. Hae tidak mau, Hae tidak mau!"
Lagi, hal yang paling dibenci Hyukjae terlihat lagi. Airmata Donghae. Airmata yang menyayat hati itu kembali mengaliri paras Donghae. Hyukjae sangat membencinya, terlebih itu disebabkan olehnya. Ia merasa sangat bersalah.
Tuhan, kenapa bisa serumit ini?
Ia berusaha memeluk Donghae dan mengeratkan pelukannya. Donghae balas memeluk dan menyerukkan kepalanya di leher Hyukjae.
"Ne, aku tidak akan pergi sekarang, aku akan menemanimu. Ahjussi bolehkah aku menginap malam ini?" Mr. Lee segera mengangguk menyetujuinya..
"Tentu saja, akan kusiapkan kamar untukmu."
"Ah tidak perlu ahjussi, aku akan menemani Donghae disini dan menjaganya." Mr. Lee mengangguk paham dan melihat kearah Donghae yang masih memeluk Hyukjae sambil terisak.
"Tolong jaga Donghae, Hyukjae-ah." Gadis itu terdiam melihat sorot mata Mr. Lee yang terlihat sendu. Ia pasti merasa sedih dengan keadaan Donghae saat ini. Setelah mengatakan itu, Mr. Lee keluar kamar tersebut.
Hyukjae menoleh kearah Donghae, ia bisa merasakan pelukan itu makin mengerat.
"Hae jangan menangis lagi ne, aku kan ada disini." Ia usap pelan punggung Donghae, membuat pemuda itu merenggangkan pelukannya dan menatap Hyukjae dengan wajah dipenuhi airmata. Hyukjae tersenyum dan mengusap airmata Donghae.
"Wajah Hae jelek kalau menangis seperti itu, Hyukie tidak suka ah." Donghae merengut mendengar ucapan Hyukjae, membuat gadis itu tertawa pelan.
"Hae tidak jelek, Hae tampan."
"Ne, ne Hae tampan, ah ani, tapi sangaattt tampan." Dikecupnya kening Donghae dan menuntunnya kearah tempat tidur.
"Ini sudah malam, Hae tidur ne, aku tidak kemana-mana kok." Mereka duduk di tepi kasur dengan tangan Donghae yang masih menggenggam jemari Hyukjae.
"Hyukie janji tidak akan pergi? Hae tidak mau Hyukie pergi sekarang." Digoyang-goyangkan tangan Hyukjae sambil menunjukkan wajahnya yang memelas, membuat Hyukjae tersenyum.
"Ne aku tidak akan pergi. Hae tidur ne, aku akan menyanyikan lagu untukmu." Donghae mengangguk dan berbaring dikasurnya, hyukjae duduk di samping Donghae. Mengambil nafas, iapun menyanyikan lagu untuk Donghae seraya mengusap kepala Donghae lembut.
Hari semakin malam, membuat Hyukjae tanpa sadar tertidur masih dengan posisi terduduk.
Donghae membuka matanya perlahan, dilihatnya Hyukjae yang tertidur dengan wajah manisnya. Ia bangun dan duduk berhadapan dengan Hyukjae. Di genggamnya jemari Hyukjae.
"Hyukie… Hae tidak mau Hyukie pergi. Hae sayang Hyukie. Tapi Hyukie bilang, Hyukie pergi demi keluarga Hyukie," setetes airmata kembali mengaliri paras Donghae. Ia berbicara pelan, tidak mau mengganggu tidur gadisnya.
"Hyukie harus berjanji akan kembali pada Hae." Ia mencium kening Hyukjae, turun ke kedua matanya, hidung, dan berakhir mencium bibir kissable Hyukjae agak lama. Setelahnya, Donghae mengangkat tubuh Hyukjae bridal style dan membaringkannya dikasurnya. Donghae berbaring di samping Hyukjae, tangan kirinya memeluk pinggang ramping yeoja itu, sedangkan tangan kanannya ia jadikan bantalan untuk Hyukjae. Ia memeluk Hyukjae erat, membuat Hyukjae tanpa sadar menyusupkan kepalanya di dada bidang Donghae, mencari kenyamanan.
"Hae sayang Hyukie." Ucapnya lirih sebelum jatuh tertidur.
.
To Be Continued
Membosankan, kurang angst, dan sangat lebay. Yah saya tau itu semua ada di fanfict saya ini. Kalau mau dikritik silahkan saja, tapi jangan pakai bahasa kasar ya, saya cinta damai :Dv
MAAF, BERIBU MAAF KARENA UPDATE FICT INI SANGAT NGARET#bow
Saya punya alasan untuk itu, intinya, lappy saya rusak dan data belum dipindahin, dan saya kena WB.
Terimakasih banyak bagi yang sudah merieview, memfav, memfollow, dan me me(?) yang lain. Review kalian sangat berharga bagi saya, walaupun itu satu. Jadi, ayo review, biar authornya semangat ngelanjutin. Saya tidak mau munafik, saya membutuhkan review untuk melanjutkan ff ini :D#peace
Tuh, udah panjang kan?#nyengir
Alasan Hyukjae pergi, detailnya mungkin terkuak di chap depan muehehehe…
Hyukie suka Hae sebagai…. Nantikan di chapter selanjutnya hehe…
Sekali lagi terimakasih bagi yang menunjukkan apresiasinya untuk ff ini. :D
Review please?
Salam hangat.
