[REMAKE] Dating With The Dark by Santy Agatha
.
.
Main Cast: Luhan (GS), Oh Sehun.
Genre: Romance, Drama.
Rated: M
.
.
Don't Like, Don't Read
Sorry for Typo.
Happy Reading~
.
.
Chapter 1
.
.
-Empat bulan sebelumnya-
Luhan baru saja pulang dari kerja, dihempaskan badannya ke sofa coklat di tengah ruangan dirumah mungilnya. Sulur-sulur yang merambat di depan jendela menghalangi cahaya matahari jingga yang terpekur sebelum terbenam. Dipejamkannya kedua mata, lalu menghela napas panjang, berusaha untuk santai. Biarpun memejamkan mata, Luhan masih tersenyum, teringat Kris dan obrolan ringan mereka.
Kata Irene, Kris sebenarnya sudah mengincarnya sejak lama untuk didekati. Luhan termenung dalam senyuman yang tak kunjung hilang di bibirnya. Sejak pertama dia dikenalkan dengan Kris, salah satu karyawan baru di divisinya, dia langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Tetapi tidak disangkanya Kris mungkin menyimpan perasaan yang sama, hingga Irene mengatakan kepadanya.
Siang tadi, Kris tiba-tiba mendekatinya ketika Luhan sedang menuang air panas dari dispenser ke cangkir berisi kopi instantnya. Aroma kopi langsung menguar, memenuhi ruangan, menciptakan keharuman yang menyenangkan. Kris menyapanya biasa-biasa saja, dan Luhan sudah salah tingkah menghadapinya. Tetapi kemudian lelaki itu bertanya apakah Luhan ada kegiatan di akhir pekan ini –yang langsung dijawab Luhan bahwa dia tidak kemana-mana- Dan kemudian ajakan kencan itu datang. Kris mengajaknya ke sebuah acara pameran komputer di sudut kota. Bukan kencan dalam arti sebenarnya memang, tetapi bukankah ketika lelaki dan perempuan memutuskan untuk keluar bersama di akhir pekan... bisa disebut sebagai kencan?
Dan ternyata 'kencan' pertama mereka itu berakhir dengan sukses, ketika Kris tersenyum lembut di depan pintu rumah Luhan, dan mengucap terimakasih atas kebersamaan mereka di akhir kencan, Luhan membalasnya dengan senyuman. Senyuman yang dibawanya bahkan sampai menjelang tidur malam itu.
Kencan... Luhan membuka matanya dan menatap ke sekeliling ruangan rumahnya. Dia bahkan tidak pernah memikirkannya sampai akhir-akhir ini. Sejak kecelakaan yang menyebabkan ayahnya meninggal, Luhan mencoba menyibukkan diri untuk mengurus harta peninggalannya. Tetapi bisa dibilang pengacara ayahnya yang mengurusi semuanya, menjual semua kenangan indah itu, karena Luhan tidak mampu untuk sekedar melihatnya...karena dia terlalu lama tenggelam dalam kepedihan.
Sambil menghela napas panjang, Luhan berdiri, lalu melangkah ke dapur, menuangkan kopi dari mesin pembuat kopi ke cangkirnya, kopi itu sudah tidak panas lagi, karena itu adalah sisa dari kopi yang dibuatnya dipagi hari sebelum berangkat kerja. Tetapi Luhan masih bisa merasakan rasa asam khas kopi yang nikmat di sana. Dahinya mengernyit dan menghela napas, dia hampir-hampir bisa disebut kecanduan kopi. Pagi, siang dan malam... dia tidak bisa hidup tanpa menuang secangkir kopi untuk mengisi lambungnya yang kadang-kadang menolak dan berunjuk rasa dengan rasa perih yang menggigit disana.
Tetapi Luhan butuh membuka matanya. Sejak kematian ayahnya, Luhan hampir terlalu takut untuk tidur. Benaknya dipenuhi ketakutan, ketakutan yang dia tidak tahu karena apa...ketakutan itu seperti menyimpan rahasia gelap yang mengerikan. Membuat Luhan dipenuhi ketakutan setiap malam, takut kalau-kalau kegelapan itu menyergapnya ketika dia memejamkan mata.
Luhan sudah menghubungi psikiater yang merawatnya sejak kejadian kecelakaan itu, kata psikiater, rasa takut tanpa alasan yang dirasakan Luhan hanyalah efek manifestasi trauma atas kecelakaan yang menyebabkan dia terluka parah, dan menewaskan ayahnya. Psikiater itu merawatnya dengan baik, session demi session, sampai kemudian Luhan merasa dirinya sudah sembuh, bebas, dan bahagia tanpa ketakutan yang menghantui.
Sekarang semuanya sudah baik-baik saja. Luhan mendesah dalam keheningan. Dia sudah bebas. Sekarang dia bisa memulai hidup yang baru, bisa mencoba membuka hati dan jatuh cinta lagi.
Rasa takut itu sudah ditinggalkannya jauh-jauh. Dia bebas sekarang, tidak akan ada lagi kegelapan yang mengintai dan berusaha menyakitinya. Mungkin memang cahaya terang sudah memasuki kehidupannya. Luhan tersenyum, membayangkan jalan indah yang mungkin akan dilaluinya bersama Kris nanti.
.
.
.
Luhan duduk siang itu menghadap pot bunga yang tersusun rapi di teras cafe yang cukup ramai dengan pengunjung. Diliriknya jam tangan dipergelangan kirinya, masih 15 menit lagi sebelum orang itu datang. Disiapkan kembali beberapa surat perjanjian kontrak, dicek kembali beberapa helai materai yang akan diperlukan nanti.
It's all set, Luhan membatin.
Ini aneh, karena sang klien meminta penandatanganan kontrak di sebuah cafe eksklusif yang sangat privat, biasanya para klien memilih menandatangani kontrak di ruang rapat kantor pusat mereka yang sudah disediakan. Tetapi bagaimana pun juga, bosnya mengatakan bahwa ini adalah klien penting, dan apapun permintaannya sesulit apapun itu, harus dituruti.
Suara berisik di pintu membuatnya menoleh. Beberapa lelaki berpakaian hitam-hitam tampak memasuki ruangan, ekspresi mereka semua sama, datar dan kosong, membuat Luhan merinding. Dia memandang ke sekeliling dan terkejut, cafe itu beberapa saat tadi tampak cukup ramai, tetapi sekarang, tidak ada satu orangpun di sana, suasana cukup lengang dan tidak ada aktivitas apapun, selain beberapa orang berpakaian hitam-hitam yang terus menerus masuk, dan berdiri dengan kaku, hampir membentuk barisan, seolah-olah mereka memberi jalan untuk seseorang.
Satu.. dua ...tiga... Luhan menghitung jumlah orang-orang berpakaian hitam-hitam itu, seluruhnya ada dua puluh orang. Siapakah gerangan yang membawa dua puluh orang pegawai, memberi mereka pakaian yang sama dan membuat mereka memasang ekspresi sama?
Rupanya Luhan tidak perlu menunggu lama untuk menemukan jawabannya, dipintu, masuklah seorang lelaki tua, berpakaian putih-putih, sangat kontras dengan penampilan para pegawainya, dan langsung melangkah menuju Luhan.
Inikah klien penting mereka? Tiba-tiba Luhan gemetar karena meskipun sudah tua,lelaki itu masih menguarkan aura mendominasi yang sedikit menyesakkan dada.
Lelaki itu berdiri, mengamati Luhan lalu mengangkat alisnya.
"Nona Luhan?"
Tiba-tiba Luhan tersadar bahwa dia tidak sopan karena tetap duduk sementara sang klien penting masih berdiri di depannya. Dia langsung berdiri dan mengulurkan tangannya dengan sopan.
"Betul. Saya Luhan. Anda Tuan Cho Kyuhyun?"
Seulas senyum yang tak disangka muncul di bibir lelaki tua itu saat membalas uluran tangan Luhan, "Betul. Mari kita langsung bicarakan bisnis di sini."
Lelaki itu duduk, sementara Luhan melirik orang-orang berpakaian hitam-hitam yang tetap berdiri tanpa ekspresi di sana, merasa terganggu dengan kehadiran mereka. Tetapi lelaki itu rupanya sudah terbiasa, karena dia langsung membuka percakapan ke arah bisnis,
"Seluruh kontrak sudah disiapkan?"
"Sudah." Luhan membuka map itu dan menyerahkannya ke lelaki tua itu. Mr. Kyuhyun langsung menerima dan memeriksa isinya, dahinya berkerut dalam ketika menelaah setiap klausul yang ada. Setelah lama, dia mengangkat matanya dan tersenyum.
"Bagus. Sesuai permintaan. Dimana saya harus tandatangan?"
Jantung Luhan yang sedari tadi menunggu dengan tegang langsung terasa lega, seolah napasnya meluncur dalam dan mengosongkan rongga dadanya. Dengan tangan agak gemetar, dia menunjuk ruang kosong yang sudah diisi dengan materai. Sebentar lagi tender untuk kontrak paling penting di perusahaannya akan ditandatangani.
Lelaki itu meraih pena emas dari saku jas putihnya dan kemudian dengan tenang dia menandatangani di tempat itu dan juga diseluruh bagian yang ditunjukkan Luhan, berkas asli dan beberapa salinannya. Setelahnya dia tersenyum, menyerahkan map kertas itu kepada Luhan, memasukan pena emas ke sakunya dan kemudian langsung berdiri.
"Senang berbisnis dengan anda, sampaikan salam untuk atasan anda."
Kemudian lelaki tua itu berbalik, melangkah meninggalkan Luhan yang masih termangu melihat langkah-langkahnya pergi. Para pegawainya yang berpakaian hitam-hitam langsung mengikutinya. Setelah semuanya pergi, cafe menjadi lengang, hanya Luhan yang duduk di sana. Bahkan para pegawai cafe seolah-olah lenyap ditelan bumi.
Luhan termangu, lalu mengemasi seluruh berkas penting itu, dan memasukkannya dengan teliti ke dalam map. Berkas ini sangat berharga dia harus menjaganya baik-baik dan memastikan tidak ada yang terlewat di sana. Setelah semuanya rapi, dia melangkah berdiri, menoleh ke kiri dan kekanan dengan bingung karena tak ada seorangpun di dalam sana. Kemudian setelah menghela napas panjang, dia meninggalkan uang di meja dan melangkah pergi.
Hatinya tenang dan lega karena sudah menyelesaikan tugas terpenting dari atasannya. Dia sudah tidak memikirkan lelaki tua itu lagi karena Luhan merasa dia tidak akan bertemu dengannya lagi.
Tidak disadarinya bahwa dia salah. Lelaki tua itu masih akan muncul dalam kehidupannya nanti di masa depan.
.
.
.
Kris mendekatinya siang itu dengan senyum lebarnya yang khas,
"Kudengar kau meng-goalkan kontrak kerja paling hebat tahun ini."
Luhan tersenyum malu-malu mendengar sapaan Kris itu. Semua orang memujinya, padahal yang dilakukannya hanya datang dan membawa berkas untuk ditandatangani seperti yang diperintahkan oleh atasannya. Dan Luhan sendiri menolak semua pujian itu. Goal atas tender besar itu bukan atas usahanya, melainkan atas usaha dari atasan-atasannya yang melakukan negosiasi dengan penuh upaya. Yang dilakukan Luhan hanyalah sentuhan akhirnya, menyiapkan semua kontrak dan suratperjanjian sesuai keahliannya, lalu memastikan bahwa itu ditandatangani.
"Itu semua bukan hanya karena aku." jawab Luhan manis, setengah malu-malu.
Kris tertawa mendengarnya dan mengangkat bahu, "Apapun itu, kau telah berhasil, dan kurasa kita pantas merayakannya."
"Merayakannya?"
"Ya. Kau dan aku, makan malam bersama."
"Makan malam bersama?"
Kali ini Kris tergelak geli, "Luhan, kau mengulangi setiap kata-kataku."
Pipi Luhan memerah, menyadari kekonyolan sikapnya. Tetapi Kris malahan tampak geli, dia mengedipkan sebelah matanya menggoda,
"Bagaimana? Mau makan malam bersamaku malam ini?"
Mata Luhan berbinar, dadanya terasa hangat, dia menganggukkan kepalanya dengan malu-malu, "Ya aku mau."
Rasanya hari itu Luhan seperti lahir kembali, yang semula selalu bersembunyi dalam kegelapan, sekarang ditarik menuju cahaya terang yang menyilaukan bersama Kris.
.
.
.
Luhan berdiri dengan gugup di depan meja riasnya, kebingungan. Dia sudah mencoba tiga macam pakaian dan entah kenapa tidak ada satupun yang terasa cocok untuknya. Yang sekarang dia pakai adalah gaunnya yang terakhir, berwarna ungu muda hingga nyaris putih, bagian atasnya sederhana, tanpa aksen, hanya sedikit kancing dengan warna ungu gelap yang membuatnya lebih manis, bagian bawahnya melebar, membuatnya tampak sangat feminim
Sepertinya gaun ini yang paling cocok. Luhan membatin. Dia tidak tahu kemana Kris akan membawanya makan malam, mungkin di tempat santai, tetapi bisa juga di tempat yang formal. Dimanapun itu, gaun ini adalah pilihan yang paling aman, mampu nampak formal sekaligus santai.
Setelah menyisir rambutnya, Luhan memakai sepatu berhak rendah warna putih miliknya, dan menatap dirinya di cermin untuk terakhir kalinya, sebelum meraih tas-nya dan melangkah ke luar kamar.
Tepat pada saat itu, bel pintu berbunyi.
Itu pasti Kris. Dengan riang Luhan melangkah bersemangat ke arah pintu, untuk kemudian langkahnya terhenti mendadak, entah kenapa merasa ragu. Luhan mengernyit dan mendesah jengkel, rasa takutnya ternyata masih tersisa,bermanifestasi menjadi rasa waspada dan curiga. Dia mengintip ke lubang pengintai di pintu, dan melihat Kris berdiri di sana. Luhan mendesah, dia kesal akan ketakutan bodohnya yang tidak beralasan ini. Setelah menghela napas panjang. Luhan membuka pintu dan berusaha tersenyum ceria.
Well, sebenarnya Luhan tidak perlu terlalu berusaha untuk ceria, senyum manis Kris ketika melihatnya, dan binar mata Kris yang menunjukkan pujiannya akan penampilan Luhan, membuat Luhan merasa tersipu dan bahagia, entah kenapa.
Kris berdehem dan mengangkat alisnya,
"Mungkin aku akan sibuk malam ini."
"Sibuk?" Luhan menatap Kris bingung.
Kris tersenyum penuh arti, "Aku akan sibuk mengusir lelaki-lelaki yang melirikmu dan mencoba mendekatimu karena penampilanmu ini sangat cantik." Kris mengedipkan sebelah matanya dan setengah membungkuk, "Terimakasih sudah mau makan malam bersamaku, Luhan."
Luhan tergelak mendengar rayuan Kris yang dibalut dalam canda itu. Ketika Kris mengulurkan tangannya dan mengajaknya memasuki mobil, Luhan mengikutinya dengan langkah ringan dan tanpa beban.
.
.
.
Ruangan itu tampak mewah, dihiasi oleh barang-barang berkelas,menunjukkan kekayaan pemiliknya, Oh Sehun yang sekarang sedang duduk di sebuah kursi besar. Wajahnya tampak muram.
"Well?" Kyuhyun yang duduk di depan lelaki berwajah murung itu, "Dia bahkan tidak mengenalimu ketika kau berdiri menyamar dan berpakaian serupa seperti para pengawalku."
Sehun mengangkat alisnya, ekspresi sinis yang menawan muncul dimatanya yang gelap pekat, dia setengah mendengus ketika berkata, "Aku memang tidak mengharapkan dia mengenaliku."
"Jadi bagaimana sekarang?" Kyuhyun menatap Sehun dengan senyuman menggoda. "Gadis itu tidak menyadari betapa beruntungnya dia. Tidak ada yang pernah lolos dari targetmu, Sehun, kau adalah lelaki yang terkenal sebagai sang pembunuh berdarah dingin. Dia adalah satu-satunya manusia yang bisa membuatmu menghancurkan reputasimu : sebagai yang tak pernah gagal dalam melaksanakan misimu." Kyuhyun melemparkan pandangan memancing, "Akankah kau akan membiarkannya bebas dan tidak pernah tahu bahaya yang sedang mengintainya, ataukah kau akan menuntaskan tugasmu dan melenyapkannya seperti yang seharusnya terjadi?"
Sehun tidak terpancing tentu saja. Dia sangat mengenal Kyuhyun, lelaki tua itu adalah mentor sekaligus sahabatnya, Kyuhyun sangat suka memancing orang lain lalu menilai dengan ahli setelah melihat tanggapan orang itu. Hal itulah yang menyebabkan Kyuhyun sangat sukses dalam bisnisnya, dia punya kemampuan jenius untuk menilai orang lain sampai ke dalam-dalamnya. Karena itulah Sehun memasang ekspersi dingin dan tidak terbaca, bersikap sesantai mungkin.
"Waktunya akan tiba nanti." Gumamnya seolah tak peduli.
.
.
.
"Kau tahu, sudah hampir tiga tahun sejak terakhir kali aku berkencan dengan seorang gadis." Kris tersenyum lembut sambil menatap Luhan, mereka telah menyelesaikan makan malam di sebuah resroran elegan yang menyajikan menu-menu luar biasa nikmatnya. Lampu restoran ini sengaja didominasi oleh warna kuning hangat, dengan lantai dari panel kayu berwarna gelap yang menyatu dengan suasananya. Amat sangat indah. Luhan tidak pernah menyangka, kencannya dengan lelaki – sejauh yang dia ingat – bisa semudah ini.
Luhan tersenyum, menopangkan jemarinya dengan lembut di dagu, menatap Kris yang tampak sangat tampan dibawah cahaya temaram lampu. "Apakah kau tidak tertarik mengajak seorang pun sebelumnya?"
Kris menyesap minumannya, kemudian menatap Luhan penuh arti, "Aku kehilangan orang yang kusayangi, dan kemudian berusaha menyembuhkan jiwaku sendiri, ketika aku sadar, ternyata aku telah melewatkan banyak hal." Lelaki itu tampak sedih, "Tunanganku meninggal tiga bulan sebelum tanggal pernikahan kami."
Wajah Luhan memucat, "Maafkan aku."
"Jangan minta maaf, aku memang ingin bercerita." Kris menatap Luhan lembut, "Sekarang aku sudah berhasil mengenang sambil tersenyum, dan bisa melepaskan jiwanya untuk pergi dengan tenang, tanpa diberati oleh kesedihanku."
Luhan paham perasaan Kris. Di malam-malam sepi setelah penyembuhannya, ketika Luhan dihadapkan pada kenyataan bahwa ayahnya telah meninggal, Luhan selalu menangis dalam kepedihan di dalam kamarnya, meringkuk sendirian dalam kegelapan, dia saat itu yakin bahwa dia akan terus menangis, bahwa sakit ini tidak akan tersembuhkan, dan tidak mungkin waktu bisa menyembuhkan luka.
Tetapi waktu memang bisa menyembuhkan luka. Tuhan yang begitu mencintai manusia, telah menciptakan obat paling mujarab untuk menyembuhkan luka yang tertoreh dalam di hati manusia. Obat itu adalah 'waktu', sebuah obat ajaib yang bisa menyembuhkan pelan-pelan bahkan tanpa disadari oleh manusia itu sendiri. Tiba-tiba Luhan sudah bisa mengenang sambil tersenyum, seperti yang dikatakan Kris tadi, tiba-tiba ingatannya kepada almarhum ayahnya tidak terasa menyakitkan lagi.
"Aku pernah merasakan hal yang sama ketika ayahku meninggal," Luhan mendesah, "Dan aku bersyukur aku bisa mengenangnya sambil tersenyum."
Tatapan Kris tampak menusuk ke dalam, seolah berusaha menjangkau kedalaman jiwa Luhan,
"Apakah kau sangat menyayangi ayahmu?"
"Tentu saja." Luhan tersenyum, "Dia ayahku... dan kami selalu berdua, ibuku meninggal ketika melahirkanku, aku tidak pernah bertemu dengannya, dan ayahku menyerahkan seluruh hidupnya untuk merawatku."
Kris menganggukkan kepalanya, lalu jemarinya meraih tangan Luhan dan menggenggamnya lembut, "Setiap orang pernah terluka. Tetapi manusia mempunyai kemampuan menyembuhkan diri, seperti kau dan aku."
Tatapan mereka berpadu dan entah kenapa Luhan merasa seperti berlabuh, dia merasa begitu tepat di sini, berdua bersama Kris, seolah-olah mereka memang diciptakan untuk bersama.
.
.
.
"Aku tidak sadar kalau sudah larut malam. Aku harus mengantarkanmu pulang sebelum kemalaman." Kris bergumam sambil melirik jam tangannya.
Mereka masih bercakap-cakap di restoran yang nyaman dan indah itu, memesan secangkir kopi dan bercerita tentang segala sesuatunya. Ada banyak sekali kemiripan Luhan dengan Kris, kadang membuat mereka saling terperangah, lalu tertawa bersama seolah-olah sedang menyimpan rahasia milik mereka sendiri.
Luhan melirik jam tangannya, sudah hampir jam 10 malam. Meskipun sudah malam, tampaknya suasana di dalam restoran tetap banyak orang, masing-masing tampak menikmati sajian makan malam yang nikmat, dan beberapa pasangan tampaknya sengaja datang larut malam, untuk menikmati hari, karena ini malam minggu. Restoran buka sampai tengah malam khusus di malam minggu untuk mengakomodasi pengunjung yang ingin menikmati suasana sampai larut bersama.
Semua orang tampaknya tidak peduli akan malam yang larut, seolah-olah tidak mau mengikuti sang malam yang mulai beranjak makin dalam... Luhan membatin sambil mengamati ekspresi para pengunjung restoran yang tampak segar dan ceria.
Dengan tatapan menyesal, Luhan berkata kepada Kris, "Aku juga tidak sadar kalau sudah malam, aku terlalu asyik menikmati percakapan kita." Gumamnya malu-malu.
Kris terkekeh, "Kapan-kapan kita harus melakukannya lagi, ini benar-benar menyenangkan." Lelaki itu setengah berdiri, diikuti oleh Luhan. Mereka berjalan bersisian, berdekatan. Dan ketika Kris menggenggam jemarinya, Luhan tidak menolak.
Sampai kemudian mereka melewati sebuah meja. Meja itu kosong. Tetapi ada lilin yang menyala, seolah-olah menanti seseorang. Dan di atas meja itu...
Wajah Luhan pucat pasi ketika perutnya bergolak luar biasa.
Di atas meja itu... ada tepatnya sembilan lilin berwarna biru yang disusun dengan sempurna dan cantik menguarkan cahaya redup yang romantis, seolah-olah seorang lelaki sedang menunggu di suatu tempat untuk memberikan kejutan kepada kekasihnya yang berbahagia di sana, siapapun perempuan itu pasti akan sangat senang melihat lilin biru itu diatur begitu romantis, menguarkan cahaya temaram yang menghangatkan hati.
Tetapi alih-alih senang dengan pemandangan yang tanpa sengaja dilihatnya itu, Luhan malah dihantam oleh perasaan yang tidak dapat dicegahnya. Lilin biru itu... pengaturan yang rapi itu... semuanya seolah memaksa Luhan untuk membuka kenangannya akan sesuatu... sesuatu yang gelap dan menakutkan. Luhan melawan rasa takut itu sehingga menimbulkan gelombang rasa mual yang luar biasa menyiksanya, tubuh Luhan limbung, membuat Kris terperanjat dan menahannya bingung,
"Luhan... Luhan? Kau kenapa?"
Luhan hampir kehilangan kesadarannya atas rasa nyeri yang seakan merobek kepalanya, dia melirik ke arah meja kosong dengan lilin biru itu, dan rasa mual kembali bergolak di dalam dirinya, "Aku ingin keluar dari sini." Wajahnya pucat pasi, membuat Kris panik, untunglah lelaki itu memilih menuruti apa yang dimaui oleh Luhan, dengan lembut tetapi kuat, dia setengah menopang langkah lemah Luhan keluar ruangan.
Ketika berada di luar restoran, berhadapan dengan udara segar yang dingin dan menampar pipinya, Luhan menghirup napas-dalam-dalam, menghembuskannya beberapa kali untuk kemudian melepasnya lagi. Dia menahan rasa mual di perutnya, dan mengernyit.
Sementara itu Kris menatap kernyitan Luhan dan tampak makin cemas,
"Kau kenapa, Luhan? Apa yang bisa kulakukan? Apakah kau mau segelas air?"
Luhan menggelengkan kepalanya, "Tidak." Jemarinya yang lemah mencekal lengan kemeja Kris yang sudah akan berbalik masuk ke restoran, "Tolong.. tunggu sebentar lagi, aku akan baikan, jangan tinggalkan aku."
Kris menatap Luhan dalam, lalu menghela napas panjang, dipeluknya Luhan dengan sebelah lengannya, membiarkan perempuan itu bersandar di sana, "Jangan cemas, aku ada di sini." Bisik Kris lembut, membuat perasaan hangat mengaliri dada Luhan, dia bersandar sepenuhnya di tubuh kokoh dan hangat Kris, menikmati kehangatan yang menyebar di sana.
Setelah menghela napas panjang untuk kesekian kalinya, Luhan memutuskan bahwa dia sudah merasa lebih baik. Dia mendongakkan kepalanya, dan matanya bertemu langsung dengan mata Kris yang bening, "Terimakasih. Sepertinya aku sudah enakan."
Kris langsung memeluknya erat, "Sama-sama Luhan, apakah kau benar-benar sudah tidak apa-apa?"
Luhan menganggukkan kepalanya dengan lembut, melepaskan diri dari topangan tubuh Kris.
"Iya. Kita bisa pulang sekarang, mungkin tekanan darahku turun tadi jadi aku sedikit limbung, tetapi sekarang aku sudah tidak apa-apa."
Kris mengamati Luhan dengan teliti, seolah-olah tidak yakin, tetapi lelaki itu kemudian tersenyum lemah dan menyerah, dia cukup bijaksana untuk tidak mengkonfrontasi Luhan di saat perempuan itu sedang lemah, masih banyak waktu nanti untuk menanyakan kondisi Luhan yang sebenar-benarnya. Sekarang dia harus mengantarkan Luhan pulang supaya bisa beristirahat.
"Ayo, kita pulang," dengan lembut Kris menghela tubuh Luhan kembali kedalam pelukannya, dan mereka melangkah menuju mobil mereka.
.
.
.
Sementara itu, Sehun yang dari tadi berdiri di salah satu sudut yang tak kentara terkekeh geli melihat kejadian itu.
Tadi dia iseng. Memasang lilin biru itu, hanya untuk melihat sejauh mana hal itu akan mempengaruhi Luhan.
Ternyata hasilnya luar biasa.
Sehun tersenyum simpul, pada saatnya nanti, Luhan akan tahu, apa yang sudah dia lewatkan selama ini, dan sampai hal itu terjadi, Sehun akan menunggu... dengan perasaan tidak sabar.
.
.
.
TBC
Haii~~
Chapter 1 sudah update~~
Makasih buat yang sudah sempat ngebaca and review ff ini
Sebenernya sih saya ragu mau remake novel ini, tapi karena jalan ceritanya yang bagus jadi saya putuskan buat remake dan ganti castnya jadi HunHan~~
Untuk awal chapter jangan berharap ada HunHan moment yaa :D Dan disini Sehun masih penuh misteri, buat yang udah baca novelnya pasti sudah tau 'rahasia' dibalik seorang Oh Sehun, tapi jangan pada dibocorin yaa~~ kasian buat yang belum baca, ntar bukan kejutan lagi dong~~
Okey, see you next chapt~
Please, review juseyo~~~
