Syndrome

.

Chapter 3: The Beginning

Author's note: Maaf sebelumnya bila nunggu ff ini lama. Maaf juga bila ini aneh, saya sudah lama tidak mengetik lagi hehehehe~

Langsung saja, happy reading

Disclaimer: Mereka punya Tuhan YME dan diri mereka masing-masing.

Warning: AU, OOC, GS, Typo (udah pasti ada), dll

.

^-^v

.

Hirup pikuk bandara Incheon masih sama seperti biasanya.

Banyak orang berlalu lalang dengan membawa koper besar dengan jumlah satu ataupun lebih. Ada yang hanya sekedar mengantar pergi, ataupun yang ingin bepergian.

Salah satunya ialah Lee Hyukjae. Gadis manis itu tampak memaksakan senyuman kearah keluarga dan kerabatnya yang telah mengantarnya sampai ke bandara.

Pandangannya menyapu wajah-wajah yang ada di depannya yang tampak muram. Terutama ia, Lee Donghae. Yang sedari tadi memegang tangannya erat tak ingin melepaskan. Dipandanginya sekali lagi wajah-wajah yang akan sangat ia rindukan nanti. Di sana ada Mr. Lee, Donghwa, Sora, Luna, Bibi kepala maid, dan beberapa teman-temannya di sekolah khusus. Mereka semua tampak menyedihkan dengan airmata yang menggenang di pelupuk mata. Bagaimana ia bisa pergi?

Ia menarik nafas pelan dan kembali melihat kearah Donghae.

"Hae, jangan menangis lagi ne? kan aku sudah berjanji akan secepatnya kembali. Kalian juga, jangan memberikan tatapan seperti itu. Kalau kalian begitu, bagaimana aku bisa pergi?"

Donghae segera mengusap airmatanya dan menatap Hyukjae.

"Hae tidak menangis lagi kok."

"Lalu ini apa?" Hyukjae menghapus airmata yang membasahi pipi Donghae dan mengelusnya lembut. Ia tersenyum dan mencium kening Donghae.

"Hyukie~" dengan segera Donghae memeluk Hyukjae erat. Membuat semua yang melihatnya tersenyum sendu. Mr. Lee yang melihatnya menundukkan kepalanya. Donghwa merangkul ayahnya itu, mencoba memberi kekuatan.

"Donghae, kalau kau memelukku bagaimana aku bisa pergi?" Donghae menggeleng dan mempererat pelukannya.

"Jangan pergi. Hyukie harus tetap di sini hiks…" Hyukjae mengelus punggung Donghae.

"Hae~ hae kan sudah mengijinkan Hyukie pergi."

Tak lama dari itu terdengar pengumuman penumpang pesawat menuju Paris agar bersiap-siap. Mendengar itu, Donghae makin mengeratkan pelukannya.

"Hae, aku harus pergi." Dengan perlahan Donghae melepas pelukannya. Ditatapnya dalam manik Hyukjae dan dengan perlahan mulai mengikis jarak diantara mereka.

Cup

Donghae mencium bibir kissable Hyukjae lembut. Membuat Hyukjae dan yang lainnya terkejut bukan main. Hyukjae bahkan membeku ditempatnya. Setelah dirasa cukup, Donghae melepas ciumannya dan menyatukan dahi mereka. "cepatlah kembali."

"Do-Donghae ke-kenapa kau…" Hyukjae tak dapat berkata-kata lagi saking terkejutnya.

"Eh? Kenapa Hyukie?"

"Darimana kau belajar ini?"

"Hae melihatnya saat menonton drama dengan Luna Noona. Luna Noona bilang kita boleh melakukannya untuk orang yang kita sayangi. Hae menyayangi Hyukie, jadi Hae meniru drama itu," ucap Donghae kalem. Membuat Hyukjae melemparkan tatapan mematikannya pada Luna yang hanya memberi cengiran polos dan mengangkat jarinya membentuk tanda v. Mr. Lee dan Donghwa hanya geleng-geleng kepala melihatnya, sedangkan yang lain hanya tertawa.

Hyukjae menyentil dahi Donghae pelan dan berucap, "Jangan lakukan hal itu pada orang lain ya." Yang dijawab anggukan dari Donghae. Ia pun memberikan pelukan terakhirnya sebelum menaiki pesawat yang akan membawanya ke Paris itu.

"Donghae jaga kesehatan ya, kalau aku kembali aku ingin melihat Hae tersenyum, oke?" Donghae mengangguk pelan.

"Ahjussi juga jaga kesehatan ya. Terimakasih selama ini selalu memperlakukanku seperti anak sendiri. Aku sangat bahagia."

"Kau memang kuanggap anakku. Jangan bicara seperti itu, seperti kita akan berpisah selamanya saja. Cepatlah kembali untuk kami, terlebih untuk Donghae." Mr. Lee mengusap surai redbrown Hyukjae sayang dan mencium keningnya.

"Terimakasih Appa~" untuk pertama kalinya Hyukjae memanggil Mr. Lee dengan sebutan appa.

"Unnie jangan sedih ne, aku pasti akan sering menghubungimu. Tapi sesekali kau yang harus menghubungiku, agar tagihanku tidak membludak hehehe…"

"Kau ini…" Sora segera memeluk adik tersayangnya itu erat dan mengucapkan doa untuknya.

"Unnie, aku pasti akan segera menyelesaikan masalah itu dengan nenek, dan segera membawa umma kembali," bisiknya pelan pada Sora. Sora memejamkan matanya dan mencium kening Hyukjae.

"Ku doakan semoga berhasil."

"Donghwa, jaga Donghae dan appa untukku ya," pinta Hyukjae dengan senyum imutnya. Donghwa terkekeh sebentar dan mengangguk mantap.

"Pasti. Kau juga jaga kesehatan dan cepatlah kembali noona."

"Pasti."

Setelah memeluk keluarganya satu persatu, Hyukjae menarik nafas dan tersenyum lembut kearah mereka.

"Ku ucapkan terimakasih banyak kepada kalian semua yang sudah mengantarku. Jaga diri kalian, dan tersenyumlah. Aku pasti kembali. Doakan aku agar dapat cepat menyelesaikan urusanku di sana. Sampai jumpa lagi." Soora menatap adiknya dengan sendu. Satu yang ia tau pasti. Hyukjae tak akan bisa sering berkomunikasi dengannya bila ia sudah sampai di sana. Apalagi neneknya tak akan membuat ini semua menjadi mudah. Ia hanya bisa berdoa agar Hyukie benar-benar bisa menyelesaikan semua permasalahan di sana dengan baik. Ia menaruh harapan besar untuknya.

Donghae menarik ujung sweater yang dikenakan Hyukjae dan menatapnya sendu. Hyukjae menggenggam jemari Donghae dan perlahan melepasnya. Ia memberikan senyum menenangkan untuk Donghae. Dengan perlahan iapun beranjak pergi, meninggalkan kesedihan bagi keluarganya terlebih bagi Donghae.

"Sampai Jumpa."

.

Di dalam pesawat, Hyukjae terus memegang bibirnya dengan wajah merona. Hahh… Donghae, kenapa kau menciumnya? Itu kan first kiss Hyukjae. Tak lama rona di wajah Hyukjae menghilang digantikan raut sedih. Semoga saja ia benar-benar dapat dengan cepat menyelesaikan urusannya itu.

"Nenek, kita akan bertemu lagi."

.

.

Paris

"Nyonya, nona Hyukjae sudah sampai di kediaman ini." Seorang maid memberi laporan pada atasannya yang tengah meminum teh di tengah kebun yang rindang. Ia meletakkan tehnya dan memberi perintah tanpa menoleh.

"Suruh dia menemuiku sekarang."

"Baik Nyonya." Maid itupun undur diri dan segera menjalankan perintahnya.

Tak lama kemudian, ia merasakan seseorang mendekat kearahnya.

"Lama tak bertemu nenek, syukurlah kau sehat-sehat saja," ucap Hyukjae seraya tersenyum. Sang nenek segera bangkit dari posisinya dan tak tersenyum kearah Hyukjae.

"Tak usah basa-basi, aku sudah menyiapkan dokumen-dokumen yang harus kau tangani setelah ini. Dan aku tidak mau ada kata gagal!" Hyukjae tersenyum kearahnya dan mengangguk.

"Bukankah aku selalu berhasil? Bagaimana kabar ibuku?"

"Kalau kau gagal aku tidak akan membiarkanmu kembali ke Seoul. Wanita rendahan itu juga akan merasakan akibatnya." Wajah Hyukjae berubah datar mendengar itu, matanya berkilat marah.

"Ku dengar kau masih bekerja di tempat berkumpulnya orang-orang idiot itu bersama kakakmu itu. Ku sarankan agar kau cepat berhenti dari sana. Keluarga bangsawan Lee yang kau sandang sekarang tak pantas bekerja seperti itu." Nenek Lee tersenyum sini dan meremehkan kearah Hyukjae.

"Jangan pernah menyebutnya idiot! Kalau kau melukaiku, aku masih bisa terima. Tapi bila kau masih melukai ibuku sekali lagi dan menyebut dia idiot aku tidak akan segan-segan untuk menghancurkan perusahaanmu ini."

"Kau berani mengancamku?"

"Kau mengangap ini sebagai ancaman? Baiklah, anggap saja ini sebagai ancaman pertama dan terakhirku. Aku tidak main-main. Saya permisi Nyonya besar, saya ingin menemui ibu saya." Setelahnya Hyukjaebergegas pergi dari sana. Meninggalkan neneknya dengan wajah merah menahan amarah.

"Dasar bocah tengik!"

.

Hyukjae berjalan dengan wajah memerah marah. Ia baru saja sampai, tapi nenek 'tersayangnya' itu sudah mengibarkan bendera perang padanya. Ia tau neneknya itu benci padanya, terlebih ibunya, ia selalu berusaha sabar dan menjalaninya dengan senyuman. Tapi hari ini tidak lagi, ia juga akan mengibarkan bendera perang untuk neneknya itu. Bukankah dia yang memulainya lebih dulu. Dari kecil ia sudah diacuhkan, ia bahkan tak tau apa salahnya. Hingga ibunya menceritakan kisahnya, barulah ia mengetahui alasan neneknya itu tidak suka padanya.

Ia berhenti berjalan dan membuang nafas berat, ia memegang kalung yang ada di lehernya dengan erat. Kalung berinisialkan H yang berarti Hae dan Hyukie pemberian Donghae.

"Ini tidak akan berjalan mudah. Tapi aku akan berusaha menyelesaikan semuanya saat ini. Hae, tunggu aku ya. Mungkin aku membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk ini." Ia mencium kalung tersebut dan membuka pintu yang ada di hadapannya.

"Umma~ aku datang."

"Hyukie sayang, kau datang nak." Sebuah pelukan hangat dan ciuman di kening ia dapatkan dari ummanya, membuat ia yang tadinya kalut menjadi tenang.

"Aku merindukanmu umma~"

"Nado sayang~"

.

Sudah seminggu sejak kepergian Hyukjae dan sejak saat itu pula keluarga Lee kehilangan senyum kekanakkan Donghae. Donghae jarang tersenyum, ia cenderung menjadi pendiam, persis seperti dulu saat sebelum bertemu Hyukjae. Donghwa tersenyum miris melihat keadaan adiknya yang tidak baik-baik saja itu. Tapi ia masih bersyukur karena Donghae masih mau ke sekolah Khusus yang ia tau itu permintaan Hyukjae sendiri untuk Donghae agar terus berjuang. Donghwa sangat tau Donghae menyayangi atau bahkan bisa dibilang mencintai Hyukjae. Perasaannyatulus, sangat. Ia bisa melihat kesungguhan didalam sorot mata itu.

.

Donghae tengah berbaring di tempat tidurnya seraya menatap langit-langit kamarnya yang di hiasi pernak-pernik bintang-bintang yang dulu ia beli bersama Hyukienya. Wajahnya terlihat sendu. Sungguh, ia sangat merindukan Hyukienya itu. Kapan ia akan kembali. Sebuah nada dering Our Love dari Super Junior mengalun dari ponsel Donghae, menandakan ada yangmenelfon.

"Halo."

"Hae-ah…"

"HYUKIE? Ini Hyukie? Omo-omo, hyukie~ Hae sangat rindu Hyukie, jeongmal." Donghae bangun dari posisi tidurnya dan terduduk dengan sumringah bercampur sendu. Ia merindukkan Hyukienya, miliknya yang sangat berharga. Ia begitu gembira saat Hyukie menghubunginya.

"Ne Hae-ah, ini Hyukie. Hyukie juga sangat merindukanmu Hae."

"Kalau begitu pulang Hyukie, kembali ke sini, temani Hae main lagi." Ucapan itu terdengar lirih sarat akan kerinduan yang begitu mendalam. Hyukjae memejamkan matanya mendengar kalimat itu, mencegah aliran itu turun membasahi wajahnya. Ia menarik nafas pelan.

"Maaf Hae, aku belum bisa pulang sekarang, ku mohon mengertilah."

"Hiks… tapi sampai kapan hyukie? Ini sudah seminggu lebih. Hae benar-benar merindukkan hyukie, Hyukie cepatlah kembali hiks…" turun sudah . airmata itu turun membasahi wajah Hyukjae dan Donghae. Hyukjae sangat mengerti perasaan Donghae, ia juga merasakan hal yang sama. Terlebih Donghae jauh lebih sensitive. Ia pasti yang banyak terluka di sini.

"Hae, jangan menangis ne. Hyukie janji, secepatnya menyelesaikan urusan di sini dan kembali pada Hae."

"Hiks… Hyukie janji?"

"Ne aku berjanji. Dan hae juga harus berjanji pada Hyukie agar terus belajar dan berjuang. Pantang menyerah dan menjadi lebih baik lagi." Donghae mengangguk yang tentu tak dapat dilihat Hyukjae.

"Hae sudah berjanji pada Hyukie saat di bandara." Hyukjae terdiam di tempat, mengingat kembali ucapan dan raut wajah Donghae saat itu.

"Aku berjanji akan berubah untukmu. Aku akan sembuh saat kau pulang nanti. Hanya untukmu. Aku berjanji."

Hyukjae membeku seketika, begitupun dengan Donghwa yang berdiri di depan pintu kamar Donghae, berniat mengajak makan malam. Ia tergugu melihat adiknya. Sorot mata itu begitu tajam bagai Yakuza marah,tidak ada lagi aura kekanakan yang menguar, suaranya begitu tegas dan berwibawa, seolah kata-katanya akan benar-benar terjadi. Genggaman tangannya mengerat dan wajahnya sangat serius. Donghwa melihat itu semua, juga mendengar kalimat Donghae yang ia tahu itu untuk Hyukjae. Sebegitu besarkah arti Hyukjae untuk Donghae? Ini pertama kalinya ia melihat adiknya seperti ini. Ia mundur dan lekas pergi dari sana. Ia menahan air matanya keluar dan berdoa dalam hati

'Semoga Tuhan mengabulkan doamu, Hae.'

Di seberang sana, Hyukjae masih membeku. Ia tak melihat Donghae, tapi ia merasakan keseriusan dan ketegasan dari suara Donghae. Otaknya kosong untuk sesaat.

"Ha-hae…"

"Aku berjanji Hyukie."

"Hae…hiks…Hae…Hae…" Hyukjae tidak bisa berkata-kata lagi. Ia menangis memanggil-manggil nama Donghae. Ingin sekali ia memeluk Donghae saat ini juga, tapi itu mustahil.

"Hyukie?"

"Hae… hiks…Donghae…"

"Hyukie kenapa? Hyukie menangis? Uljimma ne?" Donghae panik mendengar suara isakan Hyukjae.

"Aku sangat ingin memelukmu Hae hiks…"

"Nado Hyukie, nado."

"Donghae… Donghae…."

Beberapa menit berlalu yang dilewati Hyukjae dengan tangisannya, Donghae hanya diam mendengar tangisan itu. Hatinya terasa ngilu mendengarnya. Sungguh ingin sekali Donghae memeluk Hyukienya itu dan tidak akan pernah ia lepaskan lagi.

"Hae, ini sudah malam. Hae tidur ne," ucapnya halus

"Tidak mau, Hae masih mau mendengar suara Hyukie. Hae tidak mau tidur."

"Nanti akan kuhubungi lagi Hae. Sekarang Hae harus tidur, akan kunyanyikan lagu untukmu."

Donghae menurut dan segera merebahkan dirinya di tempat tidur dengan ponsel yang masih ia dekatkan di telinganya. Dengan perlahan kegelapan mulai menyelimutinya. Sebelum ia jatuh terlelap, dengan sangat lirih ia berucap, "Hae mencintai Hyukie."

^-^v

.

Malam semakin larut. Udara pun terasa sangat dingin. Ditengah kesunyian yang merayap itu Donghwa keluar dari kamarnya menuju kamar adik tersayangnya.

Ia membuka pintu kamar yang tidak terkunci itu dengan hati-hati. Ia langkahkan kakinya menuju Donghae yang terbaring memunggunginya. Ia usap surai brunnete adiknya itu. Ia memegang dadanya pelan saat melihat bekas lelehan airmata Donghae di pipinya itu. Donghae terlelap dengan wajah sedih dan memeluk sebuah figura foto dengan sangat erat. Dengan pelan Donghwa menarik figura itu dan tak terkejut saat melihat foto Hyukjae di dalamnya.

"Hyukjae, kau harus tau seberapa besar cinta adikku untukmu. Jadi kumohon dengan sangat agar kau cepat kembali. Semoga urusanmu di sana cepat selesai. Ku mohon kembalikan keceriaan adikku. Hanya kau yang bisa." Satu airmata lolos dari pelupuk mata Donghwa. Ia sangat menyanyangi Donghae.

Ia mencium kening Donghae sayang dan berucap lirih.

"Semoga kau segera mendapat kebahagianmu Hae." Setelahnya ia mengembalikan figura itu ketempat semula dan beranjak pergi dari kamar Donghae.

.

"Tunggu aku Hae. Aku pasti kembali."

.

To Be Continued

Eaa… udah masuk konflik, tenang aja, ini gak bakal berbelit-belit kok.

Maaf karna update fict ini lamaaa banget #bow

Jujur saja, fict ini berat bagi saya. Tadinya agak mudah karna ibu teman saya kerjanya menangani anak berkebutuhan khusus seperti ini. Tapi setelah saya lulus, saya kehilangan kontak dengan teman saya. Jadi saya tidak bisa Tanya-tanya lagi u.u

Terimakasih banyak bagi yang sudah mereview fict aneh saya ini, terimakasih banyak.

Bagi yang menunggu kelanjutan fict ini, buang jauh-jauh harapan kalian agar ff ini update kilat. Mungkin update ff ini masih lama. Tapi pasti saya lanjutkan kok sampai end hehehe…

Saya harap masih ada yang nungguin nih ff hehehe…

Terakhir, silahkan tuangkan review anda sekalian untuk ff ini, terimakasih

_Salam hangat_