[REMAKE] Dating With The Dark by Santy Agatha

.

.

Main Cast: Luhan (GS), Oh Sehun.

Genre: Romance, Drama.

Rated: M

.

.

Don't Like, Don't Read

Sorry for Typo.

Happy Reading~

.

.


Chapter 2

.

.

Setelah insiden itu, Kris mengantarkan Luhan pulang, dan pada akhirnya setelah Luhan memaksanya dan meyakinkan bahwa dia baik-baik saja, lelaki itu mau meninggalkannya dan pulang.

Malam itu Luhan berbaring di dalam kegelapan, berusaha tidur tetapi matanya nyalang. Dia lalu duduk dan membuka laci di samping ranjangnya, di sana ada obat pil kecil di dalam botol kaca, obat penenang dari psikiaternya, dengan dosis kecil, hanya diminum kalau Luhan mengalami serangan panik akibat trauma kecelakaannya.

Dia sudah lama sekali tidak meminum pil itu...

Apakah sekarang dia harus meminumnya lagi? Ingatan akan kejadian direstoran tadi masih membuatnya mual. Rasanya begitu menyiksa ketika merasa ketakutan tetapi tidak tahu kenapa.

Luhan menghela napas panjang, menutup kembali laci itu dan berusaha melupakan niat untuk meminumnya. Dia sudah sembuh, dia tidak akan kembali lagi menjadi Luhan yang depresi dan didera ketakutan. Mungkin lilin itu hanya mengingatkannya pada sesuatu di masa lalunya, sesuatu yang mungkin sudah tenggelam dalam ingatannya sehingga tidak bisa dipikirkannya lagi.

Luhan akan berusaha supaya tidak dikalahkan oleh ketakutannya. Dia pasti bisa. Apalagi dengan hadirnya Kris dalam hidupnya yang membawa secercah cahaya baru bagi kehidupan Luhan.

Kris...

Tanpa sadar bibir Luhan mengurai seulas senyuman ketika mengingat makan malam mereka yang indah, yang diselingi dengan percakapan yang mengasyikkan, semuanya sempurna dengan Kris dan Luhan berharap akan selalu sempurna..

.

.

.

Pagi hari ketika Luhan memasak sarapannya, telur dan roti panggang, ponselnya berdering dan dia langsung mengangkatnya ketika melihat ada nama Kris di sana,

"Halo?" Luhan bahkan tidak bisa menyembunyikan senyumnya yang terurai yang terpantul dalam suaranya.

"Luhan, bagaimana keadaanmu?", suara Kris tampak renyah di seberang sana, membuat senyum Luhan melebar.

"Aku baik-baik saja, maafkan aku ya kemarin membuatmu cemas."

"Aku senang kau baik-baik saja." Kris berdehem sejenak, lalu berkata, "Aku mampir ke sana ya, kebetulan sekarang sedang di dekat rumahmu, kita berangkat kantor bersama."

Senyum Luhan melebar tanpa dapat ditahannya, "Iya, aku tunggu ya."

.

.

.

Setelah mematikan teleponnya, Kris menyetir mobilnya dengan sedikit lebih kencang, menuju ke arah rumah Luhan, impulsive memang. Tetapi reaksi Luhan kemarin membuatnya cemas, ada sesuatu di sana, Luhan sudah jelas-jelas ketakutan meskipun perempuan itu mungkin tidak menyadari kenapa.

Sudah tugas Kris untuk menjaga Luhan.

Dulu dia melakukannya karena memang pekerjaan, tetapi sekarang dia sadar. Ada perasaan yang terlibat, dan perasaan itu ingin memastikan bahwa Luhan akan selalu baik-baik saja.

Ponselnya berkedip-kedip lagi, membuat Kris meliriknya dia mengangkatnya dan berdehem lagi, mencoba menenangkan suaranya.

"Apakah ada tanda-tandanya?" suara di seberang sana tanpa basa-basi langsung bertanya. Tetapi memang tidak perlu ada basa-basi lagi, mereka harus mengatur percakapan seefektif dan sesingkat mungkin untuk menghindari bocornya informasi.

Kris tanpa sadar menganggukkan kepalanya meskipun menyadari bahwa orang di seberang sana tidak mungkin melihatnya, "Kemarin dia sangat shock, ada sesuatu aku yakin... aku akan berusaha mencari informasi."

"Bagus." Suara di seberang sana terdengar tegas, "Dan pastikan dia tetap aman. Kita sudah mengusahakan segala cara untuk menyembunyikannya, jangan sampai apa yang sudah kita lakukan ini gagal seluruhnya."

"Baik." Kris menjawab cepat dan teman bicaranya di seberang langsung memutus percakapan.

Lelaki itu lalu melajukan mobilnya ke rumah Luhan.

.

.

.

Luhan membuka pintu dengan ceria, dan tersenyum kepada Kris yang tersenyum manis di depan pintunya, lelaki itu mengangkat kantong kertas yang ada di tangannya,

"Donat dengan gula halus yang manis." Gumamnya sambil mengedipkan matanya, "Kuharap kau tidak sedang diet."

Luhan tertawa, "Kurasa aku rela mengorbankan segalanya demi sebuah donat di pagi hari." Dia membuka pintunya dan membiarkan Kris masuk, "Masuklah, aku sedang menyeduh kopi."

Kris mengikuti Luhan dan melangkah ke dapurnya yang mungil, hari masih pagi dan mereka bisa sarapan sejenak sebelum berangkat kantor. Dengan cekatan Luhan menuang kopi ke cangkir putih yang telah disiapkannya, harum aroma kopi menguar di udara dengan segera,

"Pakai gula atau cream?" Luhan bertanya pada Kris yang duduk di kursi makan dan mengamatinya sambil tersenyum manis.

"Jangan gula, satu sendok cream saja." Eric menunjuk ke kantong kertas berisi donatnya, "Aku sudah memberikan jatah gulaku di donat ini." Tawanya.

Luhan meletakkan cangkir kopi itu di depan Kris dan tersenyum manis lalu dia duduk di depan Kris, menghadap kopinya sendiri.

Kris mengeluarkan donat hangat dengan gula halus yang menggiurkan itu, meletakkannya di piring kosong yang ada di tengah meja, lalu mengambil satu dan menggigitnya dengan nikmat, setelah itu tersenyum menggoda kepada Luhan,

"Ayo cicipilah."

Luhan mengambil donat itu dan mencicipinya, agak kesulitan karena gulanya bertaburan di mulut dan dagunya, tetapi dia kemudian berhasil menggigitnya dan memutar bola matanya merasakan kenikmatan yang terasa lumer dimulutnya.

"Enak sekali." Gumamnya dengan mulut setengah penuh, sementara itu Kris mengamatinya dan tertawa geli,

"Ada gula di dagumu." Bisiknya lembut, mengulurkan jemarinya untuk mengusap ceceran gula halus itu di dagu Luhan. Sejenak tatapannya berubah serius, dan usapannya semakin lembut. Mereka saling bertatapan, seakan ada percikan perasaan yang mengalir di antara mereka berdua.

Kris yang sadar duluan, dia berdehem dan menarik jemarinya, lalu tersenyum dan menatap Luhan meminta maaf,

"Bagaimana kondisimu?" tanyanya lembut, mengalihkan suasana aneh yang melingkupi mereka berdua.

Luhan tahu bahwa yang dimaksud Kris adalah kondisinya semalam, dia menggelengkan kepalanya sambil menghela napas panjang,

"Kau pasti merasa aku aneh kemarin..." gumamnya pelan.

"Tidak, aku hanya merasa cemas." Kris menyela cepat, "Semalaman aku mencemaskanmu."

Luhan menatap Kris malu, "Aku... sebenarnya sejak kecelakaan itu...aku.. aku mengalami sedikit gangguan psikologis."

"Gangguan psikologis?" Kris mengerutkan keningnya.

"Itu istilah yang dipakai oleh psikiaterku, katanya aku mengalami trauma akibat kecelakaan yang menewaskan ayahku... aku... aku selalu mengalami ketakutan dan kengerian tanpa sebab, seakan aku takut pada bahaya yang bahkan aku tidak tahu bahaya apa. Tetapi aku sudah menjalani terapi dengan psikiaterku dan sudah sembuh...aku sudah lama tidak mengalami serangan panik dan kecemasan lagi, aku pikir aku sudah benar-benar sembuh..."

Tatapan Kris berubah serius, "Dan kau merasakannya lagi semalam? Kenapa?"

Luhan memejamkan mata. Bayangan lilin berwarna biru yang memancarkan cahaya redup itu membuatnya ngeri, dia memegang belakang lehernya, tiba-tiba merasa begidik di bulu kuduknya.

"Ada meja kosong di rumah makan kemarin... aku.. aku tanpa sengaja memperhatikannya dan pemandangan di sana membuatku panik..."

"Pemandangan apa?"

"Pemandangan lilin-lilin berwarna biru yang dinyalakan dan disusun setengah melingkar... bahkan sebelum menghitungnya aku tahu berapa jumlahnya...entah kenapa." Luhan meringis, "Jumlahnya sembilan buah. Ditata dengan spesifik, dan pemandangan itu seakan menohok kesadaranku lalu memunculkan reaksi tak terduga... seperti yang kau lihat sendiri kemarin..."

"Dan kau tetap tidak tahu apa maksud dari sembilan lilin berwarna biru itu?"

"Tidak." Luhan menggelengkan kepalanya lemah, "Aku sudah mencoba mengingat apapun yang ada dibenakku yang bisa menghubungkan dengan lilin biru itu.. tetapi tidak ada memoriku yang bisa menghubungkannya. Aku hanya tahu aku merasa takut...merasa ngeri, semua perasaan yang tidak bisa kudefinisikan campur aduk di dalam benakku." Bagaimana menjelaskannya? Luhan tidak tahu, rasanya seperti jantungnya ditarik paksa dari rongga dadanya, menimbulkan rasa ngilu yang menyesakkan.

Kris menghela napas panjang, tampak berpikir, tetapi kemudian tatapannya melembut,

"Mungkin memang tidak ada hubungannya, hanya reaksi spontan yang membuatmu terkenang akan trauma akibat kecelakaanmu, siapa tahu... mungkin kau trauma akan warna biru atau apa." Dia tersenyum menenangkan kepada Luhan,"Yang penting kau sudah tidak apa-apa ya?"

Luhan menganggukkan kepalanya, sungguh berharap bahwa dia sudah benar-benar tidak apa-apa. "Iya. Terimakasih, Kris."

Kris melirik jam tangannya, "Kurasa kita harus segera berangkat kekantor." Ditatapnya Luhan dengan serius, "Kau tidak keberatan kalau nanti kita pulang kantor bersama-sama?"

Luhan tersenyum cerah, "Tidak. Aku tidak keberatan."

Bersama Kris terasa menyenangkan, kehadiran lelaki itu bagaikan obat yang membuatnya lupa akan perasaan takut yang menderanya.

.

.

.

"Lilin berwarna biru. Itu penyebabnya, dan jumlahnya spesifik ada sembilan buah." Kris bergumam kepada penelponnya. Dia berada di dalam ruang kerjanya yang tertutup rapat, dan tentu saja dia sudah memastikan tidak ada siapapun yang bisa mendengar percakapannya ini.

Lawan bicaranya di seberang sana terdiam, tampak merenung.

"Kau pikir itu adalah kode?" akhirnya dia bertanya.

Kris termenung sebentar, "Reaksi Luhan semalam luar biasa. Dia ketakutan dan dicekam teror, aku disana melihatnya. Dan lilin itu pasti berarti sesuatu, kalau tidak Luhan tidak akan bereaksi sekuat itu."

"Sang pembunuh sudah kembali". Suara di seberang tampak ngeri. "Itu pasti kode, yang khusus ditujukan kepada Luhan. Kita harus mencari tahu Kris, bagaimanapun caranya, kau harus mengorek informasi sedalam mungkin dari Luhan."

"Dia tampak ketakutan kalau aku membahas masalah ini. Bagaimana mungkin aku tega?" protes Kris.

Lawan bicaranya menghela napas panjang, "Aku tahu kau menyayangi Luhan, tetapi kau harus ingat prioritas kita, dan bukankah apa yang akan kita lakukan ini pada akhirnya untuk melindungi Luhan juga?"

Kris menghela napas panjang. "Aku tahu. Kita lihat saja nanti."

.

.

.

"Pangeranmu datang menjemput." Irene mengedipkan mata sambil menyentuh pelan bahu Luhan sambil lewat, menyadarkannya dari berkas-berkas kontrak kerja yang diperiksanya. Luhan mendongakkan kepalanya dan senyumnya melebar ketik amelihat Kris bersandar di pintu masuk divisinya, menatapnya dengan senyuman lembut. Hari sudah sore dan para karyawan di bagian Luhan sebagian besar sudah pulang sehingga ruangan itu lengang, hanya ada satu atau dua orang yang masih menyelesaikan pekerjaannya, termasuk Luhan.

"Lembur?" Kris mendekat dan berdiri di sisi meja Luhan.

Luhan menggelengkan kepalanya, "Hanya menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai, berkas ini baru datang jam empat sore tadi dan aku harus memeriksannya karena besok kontrak ini harus sudah ditandatangani."

Luhan tersenyum meminta maaf, "Maafkan aku, mungkin ini butuh waktu beberapa lama...kalau... kalau kau ada acara yang lebih penting mungkin kau bisa pulang duluan."

Kris tersenyum, "Aku tidak ada acara apa-apa kok. Aku lebih senang duduk di sini dan menungguimu...sambil menatapmu." Kris menambahkan kalimat terakhirnya dengan nada penuh arti, membuat pipi Luhan memerah.

.

.

.

Mereka akhirnya pulang bersama ketika jam sudah menunjukkan pukul tujuhmalam,

"Kita makan malam dulu ya." Kris membelokkan mobilnya ke sebuah tempat makan yang cukup ramai, "Di sini ada nasi goreng seafood dan nasi goreng bistik yang cukup terkenal."

Luhan menatap tempat makan yang cukup sederhana itu, tetapi sepertinya makanan di sini cukup menjanjikan melihat banyaknya kendaraan tumpah disekitarnya dan banyaknya manusia yang mengantri di sana, entah di meja yang disediakan atau menunggu untuk membawa pulang makanannya.

Luhan turun dari mobil dan Kris menggandeng lengannya, beruntung ditengah keramaian pelanggan itu mereka masih menemukan tempat untuk duduk dua orang, Luhan memesan nasi goreng bistik sesuai dengan rekomendasi Kris.

"Nasi goreng bistik di sini istimewa, idenya adalah dengan membuat nasi goreng dengan citarasa manis yang dibantu dengan kacang polong yang khas dilidah, lalu di atasnya diletakkan sepotong besar daging bistik dengan bumbu khas berwarna kecoklatan dan berkilauan menggugah selera."

Kris memberikan gambaran dengan begitu menggoda sehingga Luhan merasakan air liurnya mulai mengalir di dalam mulutnya.

"Aku ... aku tidak terbiasa makan di luar, jadi aku tidak tahut empat-tempat makan enak di kota ini." Gumam Luhan malu-malu."

Kris tertawa, "Nanti akan kuajak kau berkeliling kota dan menjelajahi nikmatnya kuliner di kota ini."

Jantung Luhan berdebar, apakah itu berarti dia akan menghabiskan banyak waktu bersama Kris ke depannya?

Tiba-tiba ponsel Kirs berbunyi. Ekspresi lelaki itu tampak serius ketika menatap layar ponselnya, dengan canggung dia berdiri dan menatap Luhan dengan tatapan meminta maaf,

"Aku harus menerima ponsel ini di luar, di sini terlalu ramai. Tungguya." Kris menganggukkan kepalanya, lalu berdiri dan melangkah keluar dari tempat makan itu.

Luhan mengikuti kepergian Kris dengan matanya. Telepon itu tampak penting, mengingat perubahan ekspresi Kris tadi. Tetapi Luhan mungkin tidak ada kepentingannya untuk mencampuri urusan Kris, dia bukan siapa-siapa. Dia hanya berharap semoga tidak ada masalah buat Kris.

Beberapa lama kemudian, Kris kembali dengan senyumnya yang biasa. Luhan menghela napas lega, berarti telepon tadi tidak membawa masalah untuknya. Dan bersamaan dengan itu, dua piring nasi goreng bistik yang masih mengepul panas diantarkan ke hadapan mereka. Aromanya sangat menggugah selera, membuat Luhan tidak sabar mencicipinya.

Dan ketika Luhan mencicipinya, dia langsung tersenyum. Ya ini enak sekali. Daging bistiknya begitu lembut dan lembab, mungkin karena direndam cukup lama dalam bumbu bistik yang kental dan sangat berbumbu, dan daging bistik itu berpadu sempurna dengan nasi goreng yang dimasak dengan begitu enak.

Kris mengamati Luhan dengan penuh antisipasi, "Bagaimana?"

Luhan terkekeh, "Ini adalah nasi goreng paling enak yang pernah kumakan... dan juga bistik terenak yang pernah kumakan."

Kris terkekeh. "Nanti akan kuajak kau mencicipi makanan-makanan enak yang lainnya."

Luhan menganggukkan kepalanya, "Aku tidak sabar menantinya."

Mereka makan bersama dengan nikmat ditengah keramaian itu. Dan Luhan begitu bahagia sehingga dia melupakan ketakutannya pada lilin-lilin biru itu. Dia merasa tenang, merasa lepas tanpa ada beban.

Bersama dengan Kris terasa sangat membahagiakan.

.

.

.

"Dia seharusnya tidak pantas bersenang-senang seperti itu." Kyuhyun melemparkan foto-foto kebersamaan Kris dan Luhan ke meja Sehun.

Sehun hanya meliriknya sekilas, lalu menyandarkan tubuhnya lagi dikursinya dengan tidak peduli, lelaki itu mengangkat alisnya dan menatap Kyuhyun penuh arti,

"Kenapa kau tampak peduli sekali dengan Luhan, Kyuhyun? Aku mulai menduga kaulah yang terobsesi dengannya, bukan aku."

Kyuhyun menatap kaget dengan tuduhan Sehun, "Bukan begitu maksudku. Aku hanya merasa kau terlalu lama bertindak atas apapun yang sedang kau rencanakan itu."

Sehun menggelengkan kepalanya, "Aku tidak mungkin salah dalam penempatan waktu, Kyuhyun." Tatapannya menajam, "Dan aku harap kau menjauhkan tanganmu dari Luhan."

Kyuhyun melihat ancaman membunuh di balik tatapan mata Sehun, dia lalu mengangkat bahunya dan memilih mundur. Tidak ada yang berani menantang Sehun, hanya orang yang tidak sayang nyawa yang melakukannya.

"Oke." Kyuhyun memundurkan kursinya dan berdiri, "Anak buahku akan tetap melakukan tugasnya untuk mengawasi Luhan, hanya itu." Gumamnya sebelum melangkah pergi.

.

.

.

Sehun menyuruh supirnya menepikan mobilnya di sisi kiri trotoar, malam sudah menjelang dan udara dingin langsung menamparnya ketika dia membuka pintu mobilnya.

"Aku akan jalan dari sini, kau tunggu di sini saja." Gumamnya kepada supirnya.

Setelah itu Sehun melangkah menyusuri jalan di area yang dekat dengan tempat tinggal Luhan. Dia melangkah dengan tenang menelusup di antara banyaknya orang yang lalu lalang di trotoar jalan besar itu.

Sehun suka berjalan seperti ini begitu ada waktu, bersikap seperti orang biasa, menikmati berperan seperti orang biasa meski jauh di dalam hatinya dia sadar bahwa dia bukan orang biasa. Tangannya penuh darah... dan apakah sebentar lagi dia perlu menodai tangannya dengan darah Luhan?

Tubuh Sehun yang tinggi dan ketampanannya yang tidak biasa membuat banyak orang menoleh dua kali kepadanya, membuat Sehun setengah mencibir dibalik sikap acuh tak acuhnya. Penampilannya yang berbeda di antara semua orang ini membuatnya susah membaur. Dia tahu itu. Tetapi setidaknya Luhan tidak pernah waspada dengan kehadirannya, meskipun dia memastikan bahwa dirinya selalu mengawasi Luhan.

Luhan... satu-satunya korban yang tidak berhasil di bunuhnya. Namanya terkenal dalam dunia gelap sebagai pembunuh yang tidak pernah gagal. Semua orang yang pernah memakai jasanya, sangat mengandalkannya, dan kegagalannya membunuh Luhan bagaikan coretan merah didalam reputasi pekerjaannya.

Langkahnya memelan ketika dia berdiri di sisi pohon besar di trotoar yang tidak kentara, dan mengamati,

Luhan nampak baru keluar dari mobil Kris, lelaki itu membantunya keluar dari mobil dan menggandeng tangannya dengan akrab. Dan tatapan memuja yang dilemparkan Luhan kepada Kris tampak begitu jelas.

Perempuan itu sedang jatuh cinta rupanya...

Sehun tersenyum sinis, kehadiran Kris di kehidupan Luhan mungkin terasa sangat manis... tetapi Luhan tidak akan sadar, Sehun akan merenggut itu semua. Luhan mau tak mau harus menghadapi kepahitan, dengan kehadirannya nanti di kehidupan Luhan.

.

.

.

"Hadiah untukmu." Kris berdiri lagi di depan pintu masuk rumahnya malam itu. Menunjukkan kantong kertas misterius di tangannya.

Luhan tersenyum lebar, mereka telah begitu sering bertemu beberapa minggu ini, bahkan bisa dibilang hampir dua hari sekali Kris mengantarnya pulang ataupun berkunjung ke rumahnya dan membawakan makan malam untuk dimakan bersama.

"Masakan apa lagi ini?"

Kris mengedipkan sebelah matanya, "Ayo ke dapur."

Lelaki itu memasuki tempat tinggal Luhan dengan santai seakan sedang berada di rumahnya sendiri. Mereka langsung melangkah menuju dapur, dan Luhan menyiapkan piring.

Kris mengeluarkan kotak-kotak makanan dari dalam kantong kertas itu, dan menuangkannya dengan hati-hati ke piring.

Mata Luhan membelalak melihat makanan yang dituangkan Kris ke piring. Seekor ikan, ikan yang gemuk dan berdaging dengan saus kemerahan yang menggiurkan melumurinya.

"Ikan apa ini?

"Kita menyebutnya ikan ekor kuning, dengan saus khusus dari pembuatnya."

"Wow." Luhan mendekatkan dirinya dan langsung mencium aroma yang menggoda di sana, aroma pedas bercampur dengan bumbu dan rempah yang sangat menggoda. "Ikannya besar sekali."

"Ikan jenis ini memang berdaging tebal dan lembut. Ketika digoreng bagian luarnya akan renyah dan bagian dalamnya akan lumer di mulutmu." Kris mengambil garpu, memotong daging ikan itu, kemudian menusukknya dengan garpu, dioleskannya daging ikan itu ke bumbunya yang berlimpah melumurinya, lalu menyorongkan garpunya kepada Luhan, "Ini icipilah."

Sejenak Luhan terpaku. Dia tidak pernah disuapi sebelumnya seingatnya, dan perilaku Kris ini benar-benar menunjukkan keintiman tersendiri kepadanya. Luhan membuka mulutnya malu-malu dan Kris memasukkan ikan itu ke mulutnya.

Ketika merasakan kenikmatan masakan ini yang seakan meledak di mulutnya, Luhan langsung melupakan perasaan malu dan canggungnya. Dia mengunyah, tak bisa berkata-kata dan menatap Kris dalam senyuman,

"Wow... enak sekali." Gumamnya akhirnya, "Astaga enak sekali."

Kris terkekeh, "Aku akan mengajakmu ke tempat penjualnya langsung nanti, kau punya nasi kan, makan yuk."

Luhan mengambilkan Kris nasi dan kemudian mereka makan dengan akrab dimeja makan di dapur Luhan. Ini adalah jenis keintiman baru, keintiman yang baru kali ini berani dilakukan Luhan bersama orang lain. Kris seakan menjadi obat dari seluruh trauma dan ketakutan tidak jelas Luhan, bersama Kris, Luhan merasa menjadi orang normal yang bebas dari rasa takut dan teror yang seolah-olah selalu mengincarnya jauh di kegelapan sana.

"Terima kasih Kris." Luhan bertopang dagu dan tersenyum, menatap Kris yang sedang meneguk air putihnya. Kris meletakkan gelasnya dan tersenyum sambal mengangkat alisnya.

"Untuk apa?"

Pipi Luhan memerah malu-malu, "Karena begitu baik kepadaku."

Kris terkekeh, "Aku senang melakukannya." Lalu tatapan lelaki itu berubah serius, "Luhan, aku..."

Tiba-tiba ponsel lelaki itu berbunyi. Memecah keheningan. Ekspresi Kris tiba-tiba saja berubah keras. Dia melihat ponsel itu kemudian menatap Luhan penuh permintaan maaf,

"Maaf aku harus mengangkatnya."

Lelaki itu beranjak dari tempatnya duduk dan kemudian dengan tergesa melangkah pergi, meninggalkan Luhan yang menatap sambil kebingungan.

Kenapa Kris tidak mengangkat telepon di depannya? Apakah itu sebuah telepon rahasia?

Luhan menghela napas panjang, ... mungkin itu urusan bisnis yang penting.

Sambil beranjak, dia membawa piring-piring kotor ke tempat cuci dan mencucinya. Setelah selesai mencuci dia menunggu, tetapi Kris tak kembali, Luhan melangkah hati-hati ke arah depan pintunya yang sedikit terbuka dan melihat Kris sedang bercakap-cakap serius di telepon sambil mondar-mandir. Ekspresinya tampak muram.

"Aku bisa mengatasi semua, semua di bawah kendaliku." Suara Kris begitu berbeda, dingin dan ketus. Lawan bicaranya tampak menyahut di sana, membuat dahi Kris semakin berkerut.

"Tidak. Aku tidak akan menjauh. Cara ini yang paling bagus untuk semakin mendekatinya. Jadi ketika bahaya itu datang aku berada di tempat yang paling dekat." Kris tampak terdiam. "Berkas tentang apa? Apakah kita melewatkannya? Kenapa kita tidak tahu hal sepenting ini sebelumnya?"

Luhan mengerutkan keningnya, berdiri di balik pintu dan kebingungan. Apa maksud perkataan Kris itu? Adalah hubungannya dengannya? Tetapi Luhan sama sekali tidak bisa menemukan benang merah apapun...

Tiba-tiba Kris melangkah ke arah pintu, masih sambil bercakap-cakap dengan lawan bicaranya. Luhan terloncat dan segera terbirit-birit melangkah menuju dapur, takut ketahuan kalau tadi dia sempat menguping pembicaraan Kris.

Ketika Kris melangkah masuk ke dapur lagi, Luhan berpura-pura mengelap lapisan keramik di sekitar bak cuci piringnya. Dia menoleh ke arah Kris dan tersenyum gugup.

"Sudah selesai menelponnya? Apakah ada masalah?"

Kris menghela napas panjang, "Hanya masalah keluarga. Ada saudaraku yang sakit."

"Oh ya Ampun, lalu bagaimana?" Luhan mengamati ekspresi Kris yang biasa, sepertinya lelaki itu tidak menyadari bahwa Luhan sempat menguping pembicaraanya.

"Aku harus ke luar kota sementara waktu, Lu. Dan mengambil cuti pekerjaan."

"Oh..." Luhan menatap Kris dengan prihatin, saudara Kris pasti sakit parah, "Berapa lama?"

"Aku tidak tahu Luhan, sampai... sampai semua beres." Tatapan lelaki itu begitu intens menatap Luhan yang berdiri di depannya, "Aku akan sangat merindukanmu ketika jauh darimu."

Pipi Luhan merona mendengar perkataan Kris, dia hanya bisa menganggukkan kepalanya. "Aku juga."

Kris tersenyum, lalu tanpa diduga lelaki itu meraih Luhan mendekat dan mengecup pipinya lembut.

.

.

.

Sehun sengaja melakukannya. Memamerkan beberapa kali kemunculannya secara mencolok di luar kota untuk memancing Kris supaya menjauhi Luhan. Kris ternyata memakan umpannya dan mengejar ke sana.

Mereka semua memang bodoh. Sehun mencibir. Karena itulah mereka tidak pernah berhasil menangkapnya.

Lelaki itu menatap jauh ke jendela dan merenung, apakah ini saatnya dia mendekati Luhan?

.

.

.

TBC


Happy Satnight all~~

Ada yang nanya ini happy ending apa sad ending, tenang ajaa~ Ini happy ending kok :D

Yaahhh walaupun di awal cerita kebanyakan nguras emosi, tapi gak usah khawatir yaa XD

Dan terima kasih yang udah mau baca sekaligus review~

See you in next chap~~~