Syndrome

By: Kei Tsukiyomi

.

Author's note: Maaf atas kengaretan ff ini yang kebangetan.

Coba dengerin lagu wrackin ball-nya yang sudah di cover Megan Nicole. Saya dengerin tuh lagu pas buat nih ff. atau dengerin lagu sedih fav kalian aja biar lebih ngena lagi #apasih.

Oh iya, saya ambil salah satu scene dari manga Ouran Koukou Host Club untuk chap ini :3

Saya merombak sedikit ff ini, yang tadinya di chap sebelumnya ada nama IU, saya ganti jadi Jieun di sini, karena lebih masuk ke cerita kalo pake nama itu hehehe…

Warning: AU, OOC, Typos, alur lambat, minim deskripsi. Ini hanyalah fiktif belaka. DLDR! Ini no edit! Sekali lagi NO EDIT!

Disclaimer: Milik Saya! #dirajamElf

Happy Read :D

^-^v

.

Chap 4: Destroyed.

Pernahkah kau merasa kehilangan? Kehilangan sesuatu yang benar-benar sangat berharga bagimu. Sesuatu yang bisa membuatmu mengorbankan apapun agar tak kehilangannya.

Rasanya sungguh menyakitkan bukan?

.

Donghwa masih berdiri di sana. Terdiam kaku di depan pintu kamar Donghae. Pandangan sendunya tertuju pada adik semata wayangnya yang tengah meringkuk di sudut kamar dengan lelehan airmata dan sebuah figura yang ia dekap dengan erat. Foto Hyukjae. Ia sangat tau itu.

Tidak ada isakan. Hanya airmata yang terus mengalir dari hazelnya. Pandangannya kosong menatap langit biru di luar jendela. Donghwa meremas dadanya pelan dan memejamkan matanya. Sungguh itu adalah pemandangan paling menyakitkan yang pernah ia lihat.

Terhitung sudah 5 bulan semenjak Hyukjae pergi dan beginilah keadaan Donghae. Ia menjadi jauh lebih tertutup. Donghae akan terlihat lebih hidup saat Hyukjae menghubunginya. Tapi saat ini Hyukjae jarang menghubunginya, mungkin masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya. Donghwa tidak bisa menyalahkan. Bahkan sudah seminggu ini Hyukjae tidak pernah menghubungi mereka. Ada apa sebenarnya?

"Hyukie… kapan kembali? Hae merindukan Hyukie." Ucapan lirih dari Donghae yang di dengarnya itu membuat airmata Donghwa jatuh seketika. Dilihatnya Donghae yang tengah mengusap pelan foto yang ada di dekapannya. Pandangan matanya sarat akan kerinduan yang membuncah. Penampilannya saat ini terlihat sangat menyedihkan. Menarik nafas pelan, Donghwa mulai beranjak masuk mendekati Donghae. Donghwa berjongkok dihadapan adiknya dan mengusap airmatanya.

"Hae, sudah waktunya ke sekolah." Perlahan hazel Donghae yang sedari tadi tertunduk mulai terangkat dan menatap manik Donghwa .

"Hyukie kapan pulang hyung?" Donghwa tertegun saat pertanyaan yang diucapkan adiknya dengan nada yang sangat lirih itu terucap. Dan lagi airmata yang mengalir deras itu terlihat langsung oleh Donghwa. Bisa ia lihat sebuah kehancuran jauh di dasar mata itu. Mata itu tidak lagi bersinar seperti biasanya. Sinar itu redup bersama kepergian jiwanya, Hyukjae. Donghwa meringis perih melihatnya.

"Secepatnya Hae, Hyukjae pasti secepatnya akan kembali. Percaya padanya." Ia dekap tubuh bergetar adiknya dengan erat, berusaha menyalurkan kekuatan yang ia miliki saat ini.

"Hae rindu Hyukie hiks…"

"Iya Hae, Hyukie juga pasti merindukanmu. Hyung akan mencoba menghubunginya lagi nanti."

"Hyukie…"

Donghwa menutup matanya, hatinya sesak melihat keadaan adik tersayangnya ini. Ia usap punggung Donghae. Tak sengaja matanya melihat kehadiran ayahnya yang berdiri di depan pintu tengah memperhatikan mereka dengan wajah sedih. Mr. Lee menghampiri mereka dan mengelus puncak kepala Donghae dan berucap, "DongHae, sudah siang. Hae harus sekolah. Kau sudah berjanji pada Hyukjae untuk berubah kan? Hyukjae pasti sedih jika melihat kau seperti ini." Donghae melepas pelukan kakaknya dan mengusap airmatanya dengan punggung tangannya. Ia menatap ayahnya dengan sendu.

"Kau harus membuktikan perkataanmu itu, agar Hyukjae segera kembali," ucap Mr. Lee dengan senyum hangat.

"Yang dikatakan appa benar Hae. Kau harus semangat." Donghwa ikut tersenyum dan mengacak rambut Donghae. Donghae terdiam sebentar dan kemudian mengangguk, membuat kakak dan ayahnya senang. Syukurlah.

"Ayo berangkat Hae." Donghwa menarik tangan Donghae agar berdiri dan menuntunnya keluar kamar dengan semangat. Mr. Lee hanya menatap punggung mereka hingga tidak terlihat lagi. Ia menutup matanya sebentar dan perlahan membukanya.

"Hyukjae, cepatlah kembali dan selesaikan urusanmu dengan nenekmu. Kami selalu menunggumu." Menghela nafas pelan, Mr. Lee mengikuti langkah anak-anaknya dan menutup pintu kamar.

^-^v

.

Paris.

Lee Hyukjae tengah terduduk di ruangan yang di penuhi puluhan berkas-berkas penting perusahaan yang harus diselesaikan secepatnya.

Ia menghela nafas lelah dan mengusap wajahnya kasar.

Astaga berkas-berkas ini sangat banyak. Neneknya itu benar-benar berniat menyiksanya rupanya. Bahkan saat ia ingin bercengkrama dengan ibunya tercinta ia tidak diberi waktu. Ia menyenderkan punggungnya pada kursi dan berhenti sejenak dari pekerjaannya. Ia memandang langit biru dari jendela ruangannya, sesaat kemudian perhatiannya teralih pada foto di mejanya. Ia memperhatikan foto itu dengan ekspresi yang sulit diartikan. Itu foto keluarganya yang berada di Korea. Ada Sora, Mr. Lee, Donghwa, para maid di kediaman rumah Mr. Lee, teman-temannya di sekolah khusus, dan juga bocah dewasa itu, Lee Donghae. Yang tengah memeluknya erat seraya tersenyum lebar. Ia merindukan Donghae. Ia tau ia belum menghubungi pemuda itu. Bukannya tak ingin, tapi tak bisa. Neneknya memegang kendali penuh atas gerak-gerik Hyukjae, membuatnya menggeram marah. Tapi ia tau, ia tak bisa sepenuhnya benci pada neneknya itu. Bagaimanapun ia masih keluarganya. Teringat olehnya saat tengah bersantai di pelukan ibunya kemarin. Wanita paruh baya itu dengan senyum lembutnya memberi pengertian padanya saat ia mengeluarkan keluhannya terhadap sikap neneknya yang menurutnya sudah keterlaluan itu.

"Ibu, kenapa nenek sangat membenciku dan juga ibu? Maksudku, aku tau alasannya tapi selama ini aku sudah berusaha menyanggupi kemauannya dan selalu bersikap baik, tapi tetap saja sikapku ini tidak merubahnya. Ia masih saja membenciku." Ibu Hyukjae tersenyum lembut dan mengusap pipi anaknya dengan kasih sayang yang melimpah.

"Hyukie, jangan bilang begitu. Nenekmu itu sebenarnya sayang padamu, hanya saja kebenciannya pada ibumu ini yang menutup pintu hatinya. Kau tidak boleh membencinya. Kebencian tidak boleh dilawan dengan kebencian. Lawanlah dengan sikap baik dan penuh kasih sayang. Suatu saat nanti keadaan ini pasti berbalik menjadi lebih baik. Percayalah." Hyukjae menutup matanya saat merasakan kecupan di dahinya. Ia tersenyum manis ke arah ibunya dan mengeratkan pelukannya. Betapa bersyukurnya ia mempunyai malaikat ini di hidupnya. Entah apa yang akan terjadi bila ia tak memiliki ibunya ini. Mungkin ia tak akan menjadi Hyukjae yang sekarang.

"Aku sangat beruntung memilikimu sebagai ibuku."

"Ibu yang harusnya bilang seperti itu, kau permata ibu yang paling berharga. Maafkan ibu yang terus merepotkanmu dengan segala urusan ini. Kau seharusnya bisa hidup dengan bahagia, tapi malah tersiksa di sini." Sungguh, sebagai seorang ibu ia merasa gagal. Ia tak bisa membahagiakan anaknya. Dari lubuk hati terdalamnya ia ingin Hyukjae bebas. Tidak terkekang tanggung jawab yang sebenarnya miliknya. Ia mengusap wajah Hyukjae dengan sangat lembut penuh kehati-hatian.

"Jangan meminta maaf ibu, itu sudah kewajibanku. Aku akan berusaha menyelesaikan semuanya dan membawa ibu pergi dari sini." Ditatapnya ibunya dengan pandangan menenangkan. Membuatnya tersenyum hangat dan kembali memeluknya erat.

"Oh iya bu, saat keluar nanti aku ingin mengenalkan ibu pada Donghae." Ibunya mengerutkan kening tanda berpikir.

"Donghae yang sering kau bicarakan itu? Pemuda manis itu?" Hyukjae mengangguk semangat. Matanya berbinar cerah.

"Iya, Donghae yang itu. Ibu tau, aku sangat merindukannya. Aku ingin sekali menemuinya." Ibunya terkekeh pelan saat mendengar nada merajuk dari putrinya yang manis itu.

"Sepertinya kau sangat menyukainya hm?"

"Sangat, ia sudah kuanggap keluargaku sendiri."

"Kalau begitu cepat selesaikan pekerjaanmu dan kembali menemuinya. Semangat." Gadis manis itu tertawa riang dan mengecup pipi ibunya yang masih terlihat cantik itu.

"Doakan aku ibu."

"Doaku selalu menyertaimu nak."

.

Hyukjae tersenyum mengingat percakapan antara ia dan ibunya kemarin. Ah Donghae, gadis manis itu jadi sangat merindukanmu. Ia usap foto itu dan tersenyum manis. Bagaimana kabar bocah dewasa itu ya? Apa dia baik-baik saja?

Suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatian Hyukjae, ia menatap seorang lelaki yang tengah berdiri dihadapannya.

"Belum selesai dengan berkasmu nona Hyukjae?" Hyukjae mendengus ke arah pemuda itu. Ia taruh kembali foto itu di tempat semula dan menatap mata pemuda itu.

"Berkas sebanyak ini mana mungkin selesai dengan cepat tuan Cho Kyuhyun." Kyuhyun –pemuda tadi- hanya bisa tertawa mendengarnya. Ia berjalan ke arah Hyukjae dan mengacak rambutnya gemas.

"Ya! Apa yang kau lakukan? Aish rambutku jadi berantakan." Kyuhyun menyeringai melihat Hyukjae mempoutkan bibirnya imut.

"Kau terlihat lebih cantik jika seperti ini."

"Ya!"

"Hahaha… baiklah aku bercanda. Ayo makan siang, tinggalkan dulu pekerjaan tak pentingmu itu." Pemuda berambut ikal berwarna caramel dengan tinggi di atas Hyukjae itu menarik lengannya dan membawanya keluar ruangan. Hyukjae menurut, lagipula perutnya juga sudah berbunyi sedari tadi.

Tepat saat mereka akan keluar pintu langkah mereka terhenti. Pandangan mereka tertuju pada seorang yang berdiri angkuh di hadapan mereka di temani 2 orang pengawal.

"Nenek."

"Mau ke mana kalian?" tanyanya dengan nada dingin. Kyuhyun memutar bola mata malas.

"Makan siang, apalagi? Sekarang sudah waktu jam makan siang." Sang nenek memandang tajam pemuda di hadapannya yang telah bicara tidak sopan padanya.

"Nenek mau ikut kami makan siang?" Tanya Hyukjae dengan senyum manis dan mendekati neneknya.

"Jangan mendekat, kotor. Aku tak sudi satu meja makan denganmu." Hyukjae terdiam di tempat dengan wajah yang tertunduk. Kyuhyun menggeram melihatnya.

"Lebih baik cepat kau selesaikan tugasmu itu. Jangan bermain-main dan membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna." Bersamaan dengan ucapan dingin itu, nenek Hyukjae berlalu dari hadapan mereka berdua. Kedua pengawal yang sedari tadi di sisi bosnya segera membungkuk ke arah Hyukjae dan berlalu pergi menyusul atasan mereka itu. Kyuhyun mendekati gadis bersurai redbrown itu dan memegang bahunya.

"Hyukie…" ia memandang sendu Hyukjae yang masih tertunduk. Hyukjae mengangkat kepalanya dan tersenyum riang pada Kyuhyun.

"Aduh aku lapar sekali, ayo cepat kita makan siang Kyu." Kyuhyun tersenyum saat Hyukjae menarik tangannya dan sedikit berlari ke arah kantin kantor. Hebat. Pengendalian diri gadis di hadapannya ini memang luar biasa. Tidak pernah ia melihat Hyukjae sedih saat berhadapan dengan neneknya yang bagaikan iblis itu. Betapa ia mengagumi sifat sepupunya ini.

"Biar aku yang traktir."

"Woah… kalau begitu siap-siap dompetmu akan terkuras sangat dalam hahaha…"

"Kalau uangku kurang aku tinggal meninggalkanmu untuk cuci piring."

"Yak! Aish."

"Hahaha…"

^-^v

.

Donghae tengah serius memperhatikan arahan dari para pembimbingnya di kelas. Ia sungguh-sungguh ingin membuktikan ucapannya pada Hyukienya.

'Hyukie, Hae akan berjuang. Saat Hyukie pulang, Hae pasti sudah berubah.' Tekadnya dalam hati.

Di sekolah khusus ini Donghae terus dilatih agar bisa berkontribusi pada lingkungan di sekitarnya. Dengan dukungan penuh dari keluarga dan juga latihan bersosialisasi dengan yang lain bukan hal mustahil bisa meningkatkan kemampuan motorik Donghae. Donghae juga diajarkan tanggung jawab, karena bila terlalu memanjakan tanpa membekali kemampuan apapun justru dapat menjadi boomerang bagi kehidupannya nanti.

Donghwa memperhatikan Donghae dari luar bersama Sora. Ia menghampiri Sora.

"Bagaimana Sora Noona?" Sora menghela nafas pelan dan memandang Donghwa dengan rasa bersalah. Ia mematikan panggilan telfon yang sedari tadi ia coba.

"Maafkan aku Donghwa, Hyukie masih belum bisa dihubungi sampai sekarang. Maaf." Donghwa menatap Donghae dari luar kelas dengan pandangan sendu. Ia sudah berjanji akan menghubungi Hyukjae untuk Donghae. Tapi bahkan telfon dari kakaknya pun tidak di angkat. Sebenarnya sesibuk apakah gadis itu?

"Semakin hari Donghae semakin terlihat murung. Dia sangat merindukan Hyukjae noona." Sora ikut menatap Donghae yang tengah serius belajar di dalam kelas itu. Ia mengerti, sangat mengerti. Tapi apa daya? Ia sudah menduga hal ini akan terjadi cepat atau lambat. Ini pasti ada campur tangan neneknya. Aish.

"Satu yang harus kau tau Donghwa. Hyukie tidak mungkin dengan sengaja mengabaikan kita terutama Donghae. Mungkin sekarang dia sedang sangat sibuk. Jadi percayalah." Manik Donghwa menatap langsung manik Sora. Bisa ia lihat sebuah kejujuran di sana. Ia percaya itu, sangat percaya. Hening sesaat di antara mereka hingga suara dering ponsel menginterupsi keheningan mereka.

"Hyukie?!" Donghwa ikut melihat layar gadget Sora. Terpampang nama 'Hyukie' di sana. Mereka kembali berpandangan.

"Cepat angkat Noona." Sora mengangguk.

"Hyukie~"

"Unnie, maaf baru menghubungimu. Nenek tersayangku itu sangat mencintaiku ternyata, hingga membuatku tidak punya waktu untuk memberi kabar ke sana." Sora terkekeh pelan mendengar nada merajuk yang manis itu. Ia bisa bayangkan sekarang mungkin adiknya itu tengah mempoutkan bibirnya. Pasti imut.

'Nenek?' Donghwa yang ikut mendengar hanya bisa mengernyitkan dahi tanda tak mengerti. Ia memang tidak tau alasan Hyukjae pergi. Yang ia tau, Hyukjae pergi karena ada masalah keluarga yang serius dan harus segera ditangani.

"Tidak apa-apa aku sangat mengerti, tapi Donghae tidak akan mengerti," ucap Sora lembut.

"Maaf, bukan maksudku tidak menghubunginya. Aku benar-benar tidak punya waktu. Nenek benar-benar mengawasiku. Sebentar lagi rapat pemegang saham akan berlangsung. Dan juga aku harus segera menyelesaikan perjanjianku dengan nenek supaya aku bisa membawa ibu keluar rumah itu." Terdengar helaan nafas lelah dari Hyukjae yang membuat Sora memasang tampang sedih.

"Maafkan aku tidak bisa membantumu. Aku benar-benar merasa tidak berguna." Manik Sora sudah berkaca-kaca, ia benar-benar menyesal tidak bisa membantu adiknya itu. Donghwa yang mendengarnya semakin tidak mengerti.

'Sebenarnya ada apa ini?'

"Eii Unnie jangan bilang begitu. Ini sudah tugasku. Lagipula selalu ada pengorbanan untuk sesuatu yang berharga kan?" Sora mengangguk yang tentu tidak bisa di lihat Hyukjae.

"Apa ada Donghae di sana? Aku ingin bicara dengannya."

"Ada, Donghae pasti senang kau menghubunginya." Baru saja Sora akan memanggil Donghae, terdengar suara dari sebrang telfonnya.

"Berhenti bermain-main dan cepat selesaikan tugasmu Lee Hyukjae." Nada suara itu terdengar sangat dingin. Sora membeku, Donghwa juga ikut terdiam karna merasakan nada dingin yang tak dikenalnya dari sebrang telfon itu.

"Nenek."

"Matikan telfonmu itu dan jangan membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna."

"Aku hanya menghubungi keluargaku, apa salah?"

"Itu hanya buang-buang waktu." Hyukjae menghela nafas. Ia tidak mau berdebat dengan neneknya sekarang. Ia lelah.

"Unnie nanti ku hubungi lagi." Dansambungan telfon itupun terputus. Meninggalkan Donghwa dengan penuh tanda tanya. Dan Sora yang memejamkan matanya erat.

"Noona… sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Donghwa ragu. Ragu karena takut menyinggung masalah yang pribadi, terlihat dari wajah Sora yang terlihat sedih. Donghwa mengalihkan pandangannya ke arah Donghae yang baru saja keluar kelas dengan tampang lesu.

"Hyungie apa Hyukie sudah bisa dihubungi?" tanyanya lirih saat sudah berada di hadapan kakaknya.

Donghwa menggigit bibir, tidak mungkin kan ia bilang barusan Hyukjae menelfon. Bisa-bisa Donghae semakin sedih karena Hyukjae tidak bicara padanya. Ia mengusap surai darkbrown Donghae sayang.

"Maaf tapi belum ada jawaban dari sana. Tenang saja, sebentar lagi mungkin Hyukjae noona akan menghubungimu." Donghae menunduk sedih dan berlalu dari hadapan Donghwa.

"Donghae kau mau ke mana?" tak ada jawaban dari Donghae, ia hanya terus berjalan.

"Biar ku temani dia, ku rasa kalian butuh waktu untuk bicara." Jessica yang baru keluar dari kelas menghampiri mereka dan berjalan mengikuti Donghae.

"Kau mau mendengar ceritaku?" Donghwa mengangguk pelan atas pertanyaan Sora itu.

"Kita cari tempat yang nyaman." Mereka berdua pun beranjak dari depan kelas itu dan berjalan menuju taman.

^-^v

.

Donghae terus berjalan dengan wajah tertunduk di pinggiran sungai tempat dulu ia pertama kali bertemu Hyukienya. Ia memandang sendu sungai itu. Mengingatkannya akan Hyukie yang sangat dirindukannya. Di belakang Donghae tampak Jessica yang selalu mengikuti dan menjaganya. Ia paham rasa sedih Donghae, bagaimanapun ia juga tau kedekatan Hyukjae dan Donghae yang bagaikan tubuh dan bayangan bila bertemu. Ia bersyukur Donghae masih mau ke sekolah khusus dan terus berusaha, walaupun yang biasanya di sertai senyuman, sekarang senyuman itu menghilang bersama kepergian Hyukjae.

Di tatapnya punggung yang terlihat sangat rapuh itu. Membuatnya merasa sedih.

"Donghae, ayo kita duduk dulu." Ditariknya perlahan lengan Donghae dan mendudukannya di bangku yang terletak di pinggir sungai itu. Ia tertegun begitu melihat wajah Donghae yang dipenuhi airmata.

"Hae rindu hyukie… Hae rindu Hyukie…" ucapan itu begitu lirih dan sangat menyayat hati bagi siapapun yang melihatnya. Termasuk Jessica. Ia hapus airmata Donghae dan mengusap punggungnya lembut.

"Donghae, Hyukjae juga pasti merindukanmu, jangan sedih seperti ini nanti Hyukjae juga ikutan sedih loh?" kekehnya pelan berusaha mencairkan suasana. Airmata itu masih mengalir meluapkan rasa rindu yang begitu membuncah. Ia hanya ingin bertemu Hyukienya, cintanya. Kenapa sangat sulit?

Jessica mencoba menahan airmatanya, ia juga sudah mencoba menghubungi sahabatnya itu, tapi tidak ada balasan. Awal kepergiannya dulu Hyukjae masih sering menghubunginya, tapi semakin lama semakin jarang. Apakah urusannya di sana sangat berat? Bisa ia lihat Donghae sangat menderita dengan kepergian gadis itu. Ia tatap Donghae dengan pandangan gamang.

"Jika kau ingin agar Hyukjae segera kembali, kau harus cepat berubah." Ucapan Jessica itu membuat Donghae menatap ke arahnya. Jessica tersenyum hangat dan mengusap kepalanya.

"Kau harus membuktikan kerja kerasmu. Saat Hyukjae pulang nanti kau harus membuktikannya." Yang bisa ia lakukan saat ini adalah terus memotivasi pemuda ini. Bila terus dalam keadaan seperti ini, bisa buruk bagi perkembangannya. Ia menyayangi Donghae selayaknya adiknya. Sudah banyak penyandang retardasi mental yang ia tangani selama ini, membuatnya amat sangat paham kondisi mereka. Tapi baru kali ini ia bertemu orang semacam Donghae. Pemuda ini polos, ceria, dan bersemangat untuk bangkit. Biasanya para anak berkebutuhan khusus seperti ini hanya tau bermain dan bermain. Tapi Jessica tau alasannya. Hyukjae. Gadis itu yang telah membangkitkan semangat Donghae dan memberinya pemahaman untuk lebih baik lagi. Tentu saja keluarganya juga berperan penting untuk itu. Tak ayal saat gadis itu pergi Donghae menjadi sangat terpuruk seperti ini.

"Hae akan membuktikannya. Hae sudah berjanji pada Hyukie. Tapi Hae benar-benar merindukan Hyukie, Noona hiks…" sungguh, rasanya sangat menyesakkan. Ia ingin bertemu Hyukienya. Ia ingin memeluknya. Tapi kenapa kenyataan begitu kejam padanya. Apa salahnya? Ia tak pernah berbuat jahat, ia tak pernah meminta hal yang berlebihan, ia hanya ingin Hyukienya bersamanya. Kenapa Tuhan begitu kejam padanya.

"Apa Hyukie sudah tak sayang Hae? Kenapa Hyukie tak pernah menghubungi Hae lagi? Hae sudah menjadi anak baik, Hae tak pernah nakal. Hae… Hae ingin bertemu Hyukie…" krystal bening itu kembali turun dari hazel Donghae. Apa yang harus ia lakukan agar Hyukienya kembali?

Jessica meringis perih melihat airmata itu. Tangisannya seperti anak kecil yang tengah meraung mencari ibunya. Sangat menyedihkan dan menggetarkan hati. Ia peluk Donghae yang tengah terisak menggumamkan nama 'Hyukie' secara berulang-ulang.

"Hyukie selalu menyayangimu Hae, percayalah. Bersabarlah, Hyukie pasti kembali padamu."

"Hiks… Hyukie… Hyukie…" dan siang itu Jessica habiskan untuk menenangkan Donghae dan menghiburnya.

.

"Sebenarnya ada apa Noona?" Sora dan Donghwa kini tengah duduk di bangku taman. Melanjutkan pembicaraan mereka tadi. Sora memandang wajah Donghwa sendu. Sangat berat menceritakan tentang adiknya itu.

"Sebenarnya Hyukjae mempunyai urusan yang sangat berat di sana. Yang tadi berbicara di telfon dengan suara dingin itu neneknya. Dia yang membuat Hyukjae pergi dari sini."

"Neneknya? Bukankah itu nenekmu juga?" aneh sekali cara bicara Sora ini. Bukankah mereka adik kakak? Otomatis nenek Hyukjae juga neneknya kan? Sora memandang langit biru di hadapannya dengan pandangan menerawang.

"Bukan."

"Huh?"

"Neneknya itu sangat membencinya," lanjutnya masih dengan memandang langit biru.

"Kalau boleh tau memang kenapa?" Donghwa juga merasa penasaran karena ia juga mendengar sendiri perdebatan Hyukjae ditelfon tadi. Jelas sekali suara itu terdengar dingin.

"Hyukjae itu sebenarnya anak simpanan."

"A-apa?" terkejut? Sangat. Ia menatap Sora dengan tatapan tak percaya. Apa ini lelucon?

"Beberapa puluh tahun yang lalu kepala keluarga Lee meninggal dalam usia muda. Jadi Presdir Lee yang merupakan ayah Hyukjae harus menikah dengan pilihan ibunya agar bisa segera menjadi pewaris keluarga. Inilah yang di sebut pernikahan politik." Donghwa mendengarkan dengan seksama, tak mau terlewat sedikitpun.

"Tapi ayah Hyukjae, Presdir Lee yang saat itu ditugaskan ke Paris berjumpa dengan seorang wanita. Wanita itu dari kalangan berada tapi bukan bangsawan sepertinya. Lalu ia merasakan jatuh cinta yang sesungguhnya. Dan buah hati yang terlahir dari cinta mereka adalah Hyukjae." Hening sesaat, hanya ada suara angin yang menderu pelan di sekitar mereka. Donghwa masih menatap Sora dengan tatapan terkejut.

"Presdir Lee menggunakan alasan ini untuk menolak perjodohannya. Ia berniat membawa Hyukjae dan ibunya ke Korea. Tapi neneknya menentang keras. Di lain pihak sang nenek mulai kerepotan mencari pewaris keluarga Lee. Di saat itu ibu Hyukjae mulai sakit-sakitan karena daya tahan tubuhnya lemah, belum lagi perusahaan orangtuanya di ambang kehancuran. Lalu sang nenek mengajukan pilihan. "Kau bisa merasakan kehidupan yang bebas dari kesulitan uang, tapi sebagai gantinya Hyukjae harus tinggal di Paris dan mengurus perusahaan hingga berada di tingkatan atas." Tentu saja ibunya menentang keras karena ia begitu menyayangi putrinya, tapi dengan senyum lembut Hyukjae mengusap airmata ibunya dan mengatakan kalau ia akan mengambil tanggung jawab itu. Sebagai jaminan Hyukjae tidak macam-macam ibunya menjadi tahanan rumah Di paris." Donghwa mengusak rambutnya dan menggeleng tidak percaya. Manusia macam apa yang tega mengorbankan kebebasan orang lain hanya demi perusahaan? Ayahnya juga pengusaha, tapi tidak pernah memaksakan kehendaknya pada ia atau Donghae. Ia pribadi yang penuh kasih. Tapi nenek itu? Astaga. Bagaimana Hyukjae bisa menyembunyikan kenyataan pahit dengan senyum ceria itu?

"Kejam sekali."

"Berempati itu mudah, tapi Hyukjae beruntung menjadi dirinya." Donghwa melihat senyum tulus itu terukir di paras Sora. Ya, Hyukjae beruntung menjadi dirinya. Permasalahan hidup itu membuatnya menjadi pribadi yang dewasa dan anggun. Betapa mengagumkannya Hyukjae.

"Jadi sekarang Hyukjae tengah menuntaskan perjanjiannya dengan nenek itu. Kalau ia berhasil, ia bisa keluar dari rumah itu serta membawa ibunya dan kembali ke Korea. Tapi bila ia tak berhasil… mungkin ia akan selamanya berada di Paris." Bola mata Donghwa melebar sempurna. Apa katanya? Selamanya? Lantas bagaimana dengan Donghae?

"Apa?"

"Tapi aku yakin pada Hyukie, aku sangat yakin dia akan berhasil. Kita hanya perlu berdoa dan percaya padanya." Ia tersenyum manis pada Donghwa yang masih menatapnya.

"Lagipula ia tak akan melanggar janjinya pada Donghae. Kalau ia berjanji akan kembali, ia pasti kembali." Donghwa tersenyum dan mengangguk. Ia mengenal Hyukjae cukup lama. Selama ini ia memang tidak pernah ingkar janji. Jadi ia percaya pada Hyukjae.

"Ayo kembali masuk, mungkin Donghae sudah kembali."

"Baiklah. Noona… terimakasih sudah menceritakan hal ini padaku." Sora terkekeh pelan dan mengusap bahu Donghwa.

"Sama-sama. Lagipula kau berhak tau. Kajja kembali."

^-^v

.

Mata Donghae masih terlihat sembab. Terlihat jelas ia habis menangis hebat tadi. Kini ia tengah berjalan kembali ke sekolahnya dengan wajah yang tertunduk. Hatinya masih sedih memikirkan Hyukienya. Jessica masih berada di sampingnya untuk menjaganya. Ia ikut menunduk sedih.

Brukh!

Donghae yang tengah menunduk tanpa sadar menabrak seseorang yang berada di depannya hingga terjatuh.

"Ya! Apa yang kau lakukan! Kau tidak punya mata hah?!" minuman yang juga tengah di bawa seseorang itu ikut terjatuh dan membasahi bajunya, membuatnya tambah murka.

"Mi-mianhae. Jeongmal Mianhae nona." Seseorang yang ternyata seorang gadis itu bangkit dan mendorong Donghae hingga tersungkur. Matanya membelalak begitu tau siapa yang menabraknya. Ini seperti déjà vu baginya.

"Lee Donghae? Kenapa aku bertemu denganmu lagi idiot, menyusahkan saja."

"Donghae kau tidak apa-apa?" Jessica segera membantu Donghae bangun dan menatap tajam gadis kasar di hadapannya ini.

"Apa kau lihat-lihat?" bentaknya kasar pada Jessica.

"Siapa kau?"

"Namaku Jieun dan aku punya urusan dengan si idiot ini." Tunjuknya pada Donghae yang menunduk takut. Jessica memandangnya marah. Apa-apaan gadis ini seenaknya memanggil Donghae idiot. Jessica memandang Jieun dengan tatapan dingin miliknya.

"Apa urusanmu dengannya gadis urakan?"

"Apa katamu?!"

"Kenapa?" Jessica tersenyum remeh ke arahnya , membuat Jieun menggeram marah.

"Ke mana perempuan yang dulu bersamamu Donghae? Kenapa ada perempuan lain lagi? Apa dia pergi meninggalkanmu huh?" Donghae tersentak, bahunya mulai bergetar. Ia menunduk semakin takut.

"Sudah kubilang kau ini sangat menyusahkan. Dia pergi meninggalkanmu kan? Memang tidak akan ada yang tahan denganmu idiot! Dia pasti lari dan tak akan kembali lagi." Donghae menutup telinganya dan menggeleng keras dengan airmata yang sudah jatuh.

"Tidak, Hyukie pasti kembali. Hyukie pasti kembali," lirihnya dengan linangan airmata. Membuat Jieun tersenyum senang akan reaksi Donghae.

"Memangnya apa yang dapat membuatnya kembali? Dasar bodoh. dia tak akan mau mengurusi idiot sepertimu haha…"

Plak!

Jessica menampar Jieun keras. Ia menggunakan seluruh kekuatannya untuk memukul perempuan jahat dihadapannya ini hingga tersungkur dengan darah di sudut bibirnya.

"Arrgghh! Apa yang kau lakukan hah?!" ia memegang pipinya yang terlihat membiru dan menyeka darah di sudut bibirnya. Rasanya sungguh sakit. Jessica memandangnya dingin dan menginjak badannya dengan satu kakinya. Membuat erangan kesakitan Jieun bergema di jalan yang sepi itu.

"Jaga mulut busukmu itu nona. Cepat minta maaf pada Donghae!"

"Tidak akan! Dia tidak akan kembali padamu Donghae!" Donghae semakin menutup telinganya dan menggeleng keras sebelum berlari dari hadapan mereka berdua.

"Donghae tunggu!" Jessica berteriak dan hendak mengejar Donghae. Tapi sebelumnya ia menendang perut Jieun dan berjongkok di hadapannya dengan senyum berbahaya.

"Urusan kita belum selesai nona, tunggu balasan 'manis' dariku." Ia menarik rambut hitam jieun kasar sebelum melepasnya dan berlari mengejar Donghae.

"Arrgg sakit. Dasar perempuan sialan! Donghae idiot sialan! Tunggu pembalasanku!" teriaknya keras.

.

Donghwa dan Sora menunggu Donghae dan Jessica yang belum kembali di luar kelas sambil mengobrol ringan seputar perkembangan Donghae. Tak lama Donghwa melihat Donghae yang tengah berlari ke arah mereka dengan Jessica yang berteriak memanggilnya dari belakang.

"Ada apa ini?" Donghwa dan Sora memutuskan ikut berlari mengikuti mereka. Pasti terjadi hal buruk.

"Sica ada apa?" Sora yang berlari di belakang bersama Donghwa bertanya pada gadis di depannya itu.

"Tadi kami bertemu dengan perempuan bernama Jieun, dia membentak Donghae dan bicara yang tidak-tidak pada Donghae." Jessica menjelaskan dengan nafas yang terengah-engah karena masih berlari. Ia sekuat tenaga mengejar Donghae yang masih berlari jauh di depannya.

Mendengar nama Jieun, emosi Donghwa naik, wanita itu selalu menganggu hidup adiknya. Ia harus memberi pelajaran yang yang menyakitkan untuk wanita itu. Harus!

Donghwa mempercepat larinya untuk mengejar Donghae dan dengan cepat ia bisa menarik Donghae. Ia terkejut mendapati Donghae dengan nafas memburu dan airmata yang masih mengalir. Kedua tangannya masih menutup telinganya. Ia selalu bergumam "Hyukie pasti kembali, hyukie pasti kembali." Dengan sangat lirih. Donghwa segera memeluk adiknya dan membawanya ke mobil. Membawanya pulang. Sora dan Jessica memutuskan ikut untuk berjaga-jaga bila terjadi sesuatu.

.

Paris

.

Hyukjae menatap terkejut figura foto keluarganya di Korea itu yang tak sengaja terjatuh dari tangannya. Figura itu retak, tepat dibagian foto ia dan Donghae. Ia meremas dadanya pelan. Ada apa ini? Kenapa ia merasa begitu gelisah. Pikirannya tidak tenang dan jantungnya berdegup kencang. Tiba-tiba ia teringat Donghae. Ada apa dengan Donghae? Apa terjadi sesuatu? Baru saja ia akan menghubungi Donghae, pintunya terketuk dari luar dan masuklah sekretarisnya yang membungkuk hormat.

"Maaf Nona Hyukjae, rapat akan segera di mulai." Hyukjae mengerang frustasi dan mengusap wajahnya kasar. Astaga, kenapa setiap ia ingin menghubungi Donghae selalu saja ada halangan. Ia hanya ingin memastikan keadaan Donghae dan mendengar suaranya. Ia menghela nafas pelan.

"Baiklah, aku akan segera ke sana." Sekretaris itu kembali membungkuk dan keluar dari ruangan. Setelah rapat ini selesai, ia harus menghubungi Donghae. Harus!

Ia memasukan I phone silver di tangannya ke dalam tas dan segera beranjak menuju ruang rapat.

'Semoga kau tidak apa-apa Hae.'

.

Rapat sudah selesai dengan presentasi sempurna dari Hyukjae. Banyak perusahaan maju yang hadir dalam rapat kali ini yang kagum dengan gadis itu. Tepuk tangan meriah dan pujian terus di terimanya sejak rapat usai. Hyukjae memang mempunyai bakat berbisnis dari ayahnya. Tak ayal rapat kali ini mendapat hasil yang memuaskan dan tentu saja keuntungan yang besar untuk perusahaannya. Hyukjae baru ingin menghubungi Donghae saat sebuah suara menyapanya.

"Anda sungguh hebat nona Lee, saya benar-benar kagum pada anda." Hyukjae tersenyum malu.

"Terimakasih tuan-"

"Panggil saja aku Nickhun. Tidak usah memakai bahasa formal padaku." Hyukjae tersenyum ke arahnya dan mengangguk. Orang di depannya ini adalah salah satu partner bisnis perusahaannya, Hyukjae ingat.

"Kalau begitu panggil aku Hyukjae, Nickhun ssi." Hyukjae mengeluarkan gummy smilenya yang manis, membuat Nickhun terpana sesaat. Hyukjae melambaikan tangannya ke wajah pemuda itu Karena melihat ia terdiam. Nickhun tersadar dan tersenyum kikuk ke arah gadis berambut redbrown itu dan mengusap tengkuknya malu.

"Maaf Nickhun ssi, aku harus pergi, sampai jumpa." Hyukjae tersenyum dan bangkit berdiri, ia melambai kearah Nickhun sebelum pergi. Nickhun terus memandang Hyukjae dengan pandangan kagum hingga gadis itu sudah tak terlihat.

"Calon tunanganku itu memang sangat manis," gumamnya pelan.

.

Ruangan itu porak poranda. Barang-barang itu tergeletak di bawah lantai. Banyak pecahan kaca yang berserakan. Di dalam kamar itu, Donghae terlihat kembali mengamuk. Ia membanting barang-barang dan terus menjerit pilu.

"Hyukie tak akan meninggalkan Hae, Hyukie pasti kembali," jeritnya dengan linangan airmata yang sedari tadi masih terus membasahi wajahnya. Ia melampiaskan amarahnya pada benda-benda di sekitarnya. Donghwa dan Mr. Lee berusaha menghentikannya dengan mencoba memeluknya.

"Hae ku mohon hentikan, tenangkan dirimu." Donghwa ikut menangis saat ini. Kenapa kejadian dulu terulang kembali. Bagaimana cara mereka untuk menghentikannya sedangkan tak ada Hyukjae di sini. Ia berusaha memeluk Donghae yang terus memberontak.

"Tidak mau! Hae mau Hyukie! Hyukie!" jeritnya keras dan terus membanting barang yang berada dalam jangkauannya. Mr. Lee menjauhkan barang-barang berbahaya dari Donghae dan membantu Donghwa menenangkan anak tersayangnya itu. Sungguh, rasanya sangat sakit melihat anaknya seperti ini. Kenapa Donghae selalu menderita? Kenapa Donghae tidak dibiarkan bahagia? Tuhan sungguh tidak adil padanya.

Sora dan Jessica yang berada di sudut ruangan berusaha menghubungi Hyukjae tapi tak kunjung mendapat balasan.

"Aish Hyukie tolong angkat hiks." Mereka juga ikut menangis melihat keadaan Donghae yang kacau seperti itu. Baru pertama kalinya mereka melihat Donghae mengamuk, karena saat di sekolah Donghae adalah pribadi yang ceria. Mereka terus berusaha menghubungi Hyukjae tanpa kenal lelah.

"Donghae, berhenti melukai dirimu sendiri, appa mohon nak." Mr. Lee terus memeluk putranya yang masih meronta.

"Hyukie… Hyukie…" bisa Donghwa rasakan suhu tubuh Donghae panas. Donghae pasti demam. Kalau seperti ini terus bisa gawat.

"Halo unnie, ada apa?"

"Ya Tuhan Hyukjae akhirnya kau mengangkat telfonmu." Sora mendesah lega mendengar suara adiknya yang menjawab telfonnya.

"Maafkan aku, tadi aku masih ada rapat. Ada apa?"

"Donghae, Donghae mengamuk, ia terus memanggil namamu Hyukie hiks…"

"Berikan telfon ini padanya, cepat unnie." Sora bisa menangkap nada cemas itu, ia segera menghampiri Donghae.

"Donghae ini aku Hyukie." Donghae menghentikan rontaannya dan menoleh ke sumber suara.

"Hyukie… hyukie…" ia merebut ponsel itu dan menangis semakin keras begitu mendengar suara yang sangat dirindukannya.

"Kau kenapa Hae? Kenapa menangis?"

"Hyukie… Hyukie…"

"Ada apa sayang? Jangan menangis, atau aku akan ikut menangis." Hyukjae menahan sesak begitu mendengar suara isakan Donghae. Sebenarnya ada apa? Firasatnya benar ternyata, kalau terjadi sesuatu pada Donghae.

"Hyukie tidak akan meninggalkan Hae kan?"

"Tentu saja tidak Hae, tidak akan, dan tidak akan pernah!"

"Tapi Jieun noona bilang Hyukie akan meninggalkan Hae dan tidak akan kembali lagi hiks…" Donghae kembali meraung, airmatanya semakin deras mengalir. Membuat keempat orang yang mendengarkan interaksi mereka tertunduk menahan tangis.

'Jieun? Mau apalagi perempuan itu mengganggu Donghae,' geram Hyukjae menahan amarah.

"Jangan dengarkan omongan perempuan itu Hae. Kau percaya padaku kan? Aku pasti kembali untukmu. Aku berjanji."

"Kalau begitu pulang Hyukie, pulang hiks…"

"Maaf Hae, sekarang aku belum bisa pulang. Tapi aku pasti pulang Hae. Pasti."

"Hae sayang Hyukie, Hae butuh Hyukie, Hyukie cepatlah kembali…" bersamaan dengan itu tubuh Donghae jatuh seketika membuat Donghwa dan Mr. Lee menangkapnya cepat. Badan Donghae terasa sangat panas dan nafasnya memburu. Demam. Donghwa langsung membaringkan Donghae di tempat tidurnya.

"Tolong siapkan kompres." Jessica langsung menuju dapur dan menyiapkan keperluan untuk perawatan Donghae. Sementara itu Sora langsung mengambil alih telfonnya.

"Halo, Hae apa yang terjadi? Hae?" suara Hyukjae terdengar sangat panik.

"Donghae pingsan Hyukie."

"Apa?! Ya Tuhan, Donghae… Donghae hiks…" bisa sora dengar suara isakan di sana.

"Tenanglah Hyukie, kami akan merawatnya. Istirahatlah, ini pasti sudah sangat larut di sana. Nanti kuhubungi lagi jika Donghae sudah sadar."

"Tolong kabari aku se-segera mungkin unnie, terimakasih."

"Baik, sekarang ku tutup dulu telfonnya."

"Ne."

klik

.

Hyukjae masih memegang erat I phonenya dengan linangan airmata. Kenapa Donghae bisa sampai seperti itu? Ini salahnya. Seharusnya ia sering menghubungi Donghae. Bukan mengabaikannya seperti itu. Pekerjaan yang menumpuk membuatnya susah membagi waktu.

"Nona Hyukie anda kenapa?" salah satu maid di sana menghampiri Hyukjae dan mengelus bahunya. Maid itu terkejut sewaktu melihat Hyukjae berlinang airmata.

"Nona…" hyukjae segera menghapus airmatanya dengan punggung tangannnya. Ia tersenyum.

"Tidak apa-apa. Ada apa kau kemari?" maid itu terlihat ragu menyampaikan maksudnya melihat kondisi Hyukjae.

"Ada apa?" Tanya Hyukjae sekali lagi.

"Nyonya Lee meminta proposal hasil rapat tadi pada anda. Nyonya bilang letakkan di meja kerjanya saja." Hyukjae menghela nafas lelah.

"Baiklah, baru saja aku akan mengantarkan ini padanya." Hyukjae menunjukkan berkas di tangannya pada maid itu dan tersenyum kecil.

"Mari saya antar nona."

"Baiklah, ayo."

Tak lama mereka sampai diruangan nenek Hyukjae. Mereka langsung masuk karena sang nenek tidak ada di ruangannya saat ini. Hyukjae meletakkan berkas itu di meja kerjanya yang terlihat penuh dengan berkas-berkas lain. Ia sudah akan beranjak saat melihat sesuatu yang menarik minatnya. Ia mengambil sebuah amplop yang terisi berlembar-lembar foto. Ia terkejut melihat ada foto Donghae salah satunya.

"Apa ini?" ia juga melihat ada foto Nickhun dan beberapa foto pria muda yang tidak ia kenal. Bisa ia lihat ada tanda silang kecil di pojok atas di dalam foto-foto itu termasuk foto Donghae. Hanya foto Nickhun yang di beri tanda ceklis di pojok atas. Ia mengerutkan dahi bingung. Apa neneknya mengenal Donghae? Kenapa bisa ada foto Donghae pada neneknya?

"Ada apa nona?" Tanya maid yang sedari tadi bersama Hyukjae.

"Ini maksudnya apa?" tatapannya masih tertuju pada foto-foto di tangannya.

"Itu… sebenarnya… itu foto-foto calon tunangan anda nona. Tapi yang terpilih oleh Nyonya hanya foto yang diberi tanda ceklis saja," jelas maid itu takut-takut.

"Apa?! Tunangan?!"

To Be Continued

Udah panjang kan? Saya ijin tepar dulu karena saya selesai ngetik ini jam 12 malem :'D

Maaf bila chap ini gaje banget. Saya sudah berusaha.

Udah tau kan alasan Hyukjae pergi? Hehehe…

Mungkin chap selanjutnya bakalan lama. Terimakasih banyak bagi yang sudah mereview ff ini, maaf tidak saya sebut satu-satu. Tapi saya baca dan saya hargai kok sebagai penyemangat saya.

Terimakasih.

Review?

#dankemudiandiatepar