[REMAKE] Dating With The Dark by Santy Agatha

.

.

Main Cast: Luhan (GS), Oh Sehun.

Other Cast: Kris, Irene, etc.

Genre: Romance, Drama.

Rated: M

.

.

Don't Like, Don't Read

Sorry for Typo.

Happy Reading~

.

.


Chapter 3

.

.

Luhan berada di sebuah kamar, nuansa kamar itu berwarna keemasan. Sprei sutera yang lembut berwarna putih terasa begitu nikmat membelai kulitnya, dia mendesah dan menggeliat dalam kepuasan, hadiah dari tidurnya yang nyenyak

Luhan membuka matanya dan merasa bingung, kamar ini bukan kamarnya. Kamar ini begitu indah dengan nuansa putih dan keemasan, dan dia sama sekali tidak mengenalnya...

Dia semakin mengernyit ketika merasakan lengan kekar yang berat,melingkar di pinggangnya,

Lengan seorang lelaki?

Luhan berjingkat hendak duduk, tetapi lengan lelaki itu tetapi dominan.

Sedetik Luhan merasa sangat ketakutan, tetapi lengan itu bergerak naikdan jemarinya membelainya dengan lembut... lembut dan menggoda... salah satu ujung jemari lelaki itu menelusuri permukaan lengan Luhan dengan sentuhanseringan bulu, kemudian kepala lelaki itu menunduk dan menghadiahkan sebuah kecupan di pelipis Luhan.

Luhan mengernyit, berusaha melihat wajah lelaki itu, tetapi suasana kamar yang temaram membuat wajahnya samar-samar. Tiba-tiba saja tubuh lelaki itu sudah menindihnya, dan kemudian dengan gerakan mulus yang menggoda,seolah-olah dia sudah melakukan ratusan kali kepadanya, lelaki itu meluncurkan kejantanannya yang menegang keras dan panas, memasuki diri Luhan.

Luhan terkesiap sekaligus merasakan nikmat yang luar biasa, kenikmatan yang sangat lamadirindukannya, kenikmatan ketika tubuhnya menyatu dengan lelaki itu, merasakansensasi panas yang nikmat menjalari seluruh tubuhnya, kakinya dengan reflek melingkari pinggul lelaki itu sekuatnya, mendorong lelaki itu membenamkan dirinya semakin dalam ke dalam ke dalam dirinya.

Lelaki itu mengerang, erangan yang dalam dan parau, lalu menggerakkan tubuhnya, membuat Luhan terkesiap lagi ketika kenikmatan yang dalam itu menghujam tubuhnya, gerakan lelaki itu semakin cepat dan semakin menggoda,membuat tubuh Luhan semakin panas dan napasnya terengah.

Ada sesuatu yang akan meledak di dalam tubuhnya, seperti ombak bergulung semakin lama semakin cepat, napas Luhan semakin terengah panas, dan gerakan lelaki itu semakin cepat, semakin intens dan dalam, membawa Luhan semakin cepat menuju pelepasannya.

Luhan mengerang, merasakan kenikmatan itu meledak ke dalam tubuhnya, jemarinya mencengkeram punggung telanjang lelaki itu kuat-kuat. Punggung basah lelaki itu melengkung dibarengi dengan erangan dalamnya, ketika dia menenggelamkan dirinya semakin dalam dan menikmati pelepasannya sendiri, yang terasa begitu panas, menyirami tubuh Luhan, jauh di dalam sana.

Napas mereka terengah-engah. Lelaki itu masih menindih tubuhnya,sementara Luhan masih terbuai oleh sensai nikmat yang melingkupinya, sensai nikmat setelah orgasmenya yang luar biasa.

Lelaki itu lalu mengecup pelipisnya lagi, kemudian berbisik pelan ditelinganya, bisikan lembut yang seolah-olah dihembuskan dari kegelapan,

"Apakah engkau merindukanku, Luhan?"

...

Luhan terkesiap kaget dan langsung terduduk. Dia membuka matanya lebar-lebar dengan napas terengah-engah dan tubuh berkeringat.

Dia berada di kamarnya sendiri, yang gelap dan temaram karena masih dini hari... dan dia sendirian.

Mimpi itu tadi... Luhan menghela napas panjang. Oh astaga, kenapa dia bermimpi erotis seperti itu? Bercinta dengan lelaki yang tidak dikenalnya...dan sekarang dia merasakan pangkal pahanya lembab dan basah... pipi Luhan terasa panas sehingga dia merasa perlu menekannya dengan jemarinya.

Apakah dia menyimpan pikiran kotor di benaknya? Sehingga tanpa sadar pikiran kotor itu termanifestasi di dalam mimpinya. Oh astaga... Luhan merasa malu sekali.

Tetapi mimpi tadi terasa begitu nyata... dan bahkan masih meninggalkan jejak kenikmatan di dalam dirinya...

Tiba-tiba Luhan merasa haus, dia melangkah berdiri dan berjalan dengan hati-hati ke dapur, mengambil segelas air dari dispenser dan menegukkanya dengan rakus. Tubuhnya masih terasa menggelenyar, tak tahu kenapa.

Suara lelaki itu masih membayang jelas dalam mimpinya, serak dan menggoda dengan logat yang aneh dan khas...

Ya ampun, Luhan harus membuang pikiran-pikiran itu. Mungkin ini hanyalah manifestasi dari alam bawah sadarnya yang merindukan romansa.

Luhan mengisi gelasnya lagi kemudian meneguknya sampai habis, setelah itu dia termenung dalam kegelapan..

.

.

.

Ketika sedang jam istirahat di kantor, Luhan membuka-buka beberapa artikel menyangkut mimpi erotis yang dialami wanita. Ada sebuah artikel yang menarik perhatiannya. Bahwa kadangkala perempuan juga mengalami mimpi erotis akibat dorongan alam bawah sadarnya, hampir sama seperti mimpi basah pada laki-laki, hanya kalau mimpi basah pada laki-laki diakibatkan oleh pembuangan secara otomatis jumlah sperma yang seharusnya memang dikeluarkan secara berkala, mimpi erotis pada perempuan diakibatkan oleh pelepasan ketegangan seksual yang lama tak tersalurkan.

Andrea mengernyit dan membaca artikel itu semakin dalam.

-Pernahkah anda mengalami mimpi erotis? Para psikoanalisa percaya bahwa mimpierotis itu sesungguhnya adalah refleksi dari apa yang kita kagumi dan kitarasakah dalam kehidupan sehari-hari. Misalkan ketika kita merasa suka ataurindu kepada seseorang, maka otomatis orang itu akan hadir dalam mimpi kita.Ketika kita mengalami mimpi erotis maka imajinasi kita sedang terstimulasi,atau menurut Sigmund Freud, otak kita sedang menciptakan skenario untukmemuaskan hasrat dan gairah bawah sadar. Jika mimpi erotis anda melibatkanpenetrasi seksual, itu berarti dalam kehidupan nyata anda kurang mengalaminyaatau libido anda kurang mendapatkan pelampiasan. Pada kebanyakan kasus, mimpierotis adalah hal yang alami, bahkan perlu untuk memenuhi kebutuhan psikologissebagai manusia.-

Luhan menghela napas panjang dan mengulang membaca baris demi baris. Pipinya memerah ketika memahami bahwa mimpi erotisnya kemungkinan karena libidonya kurang mendapatkan pelampiasan... astaga... apakah dia mempunyai gairah yang tinggi tanpa sadar?

Selama ini seks tidak pernah menjadi hal penting dalam kehidupan Luhan, dia terlalu sibuk untuk memikirkan seks, karena itulah mimpinya yang semalam terasa aneh baginya, begitu jelas, begitu eksplisit. Lagipula kenapa dia bermimpi bercinta dengan pria asing? Di artikel itu dikatakan kalau biasanya mimpi kita menyangkut orang yang kita sukai atau orang yang kita rindukan. Bukankah kalau dia memang akan bermimpi erotis partnernya adalah Kris?

Pipi Luhan langsung memerah dan terasa panas, dia merindukan Kris... lelaki itu sudah keluar kota dari dua hari yang lalu dan jarang memberikan kabar, Luhan menahan diri untuk tidak menghubungi ponsel Kris terus menerus... tetapi memang kadang kala dia bertanya-tanya bagaimana kabar Kris, bagaimana kabar saudaranya yang sedang sakit itu, dan kenapa Kris jarang menghubunginya...

Sebuah tepukan di bahunya membuatnya menoleh dan tersenyum, Irene berdiri di belakangnya sambil mengangkat alis melihat layar komputer Luhan,

"Mimpi erotis?" suaranya tampak menahan tawa hingga Luhan setengah membalikkan tubuhnya dan memukul lengan sahabatnya itu supaya tidak menarik perhatian. Dengan malu Luhan menutup halaman artikel itu dan menyiapkan diri, Irene pasti akan banyak bertanya. Sahabatnya itu tak akan puas kalau belum mengejar informasi tentang hal yang sekecil-kecilnya.

"Kau bermimpi erotis?" Irene menarik kursi beroda dari meja sebelah yang kosong, saat ini jam istirahat dan banyak yang makan di luar sehingga suasana lengang. Syukurlah. Kalau tidak Luhan akan merasa sangat malu ketika Irene memekikkan kata 'mimpi erotis' tadi.

Luhan menatap Irene dengan pipi merona, "Aku tidak pernah mengalaminya sebelumnya." Bisiknya pelan.

Irene terkekeh, "Jangan bersikap seolah-olah itu dosa besar Lu, wanita normal boleh-boleh saja mengalami mimpi erotis."

"Tetapi aku tidak pernah berpikiran jorok sebelumnya, dan aku bermimpi dengan orang asing..."

"Kadang aku juga bermimpi berpasangan dengan artis-artis bule yang kekar dan tampan." Irene memutar bola matanya, "Mimpi itu adalah kebebasan imaginasi, kita tidak bisa mengaturnya Luhan."

"Kau mengalaminya juga?" Luhan menatap Irene penuh ingin tahu, membuat Irene tertawa.

"Kadang-kadang." Gumamnya sambil mengedipkan mata, membuat Luhan makin penasaran.

Luhan membuka mulutnya untuk bertanya lagi, tetapi ekspresi Irene berubah serius dan mengalihkan pembicaraan,

"Apakah kau tahu tentang bos besar yang akan datang?"

"Bos besar?" kali ini Luhan merasa bingung, dia sama sekali tidak pernah tahu informasi ini.

"Memang tidak disebarkan, aku tahu ketika mendampingi Mr. Jongdae meeting bersama direksi kemarin, mereka membahas akan kedatangan bos baru dari kantor pusat untuk meninjau selama beberapa waktu."

Perusahan mereka adalah perusahaan multinasional yang berkantor pusat di Jerman. Salah satu pemegang saham terbesar adalah pemegang tertinggi perusahaan dari Korea Selatan dari keluarga Kim. Dan perusahaan tempat Luhan bekerja adalah kantor cabang yang berlokasi di luar kota.

Luhan pernah mendengar kalau Kim Junmyeon, seorang pengusaha yang sangat disegani karena naluri bisnisnya yang selalu membawanya dalam kesuksesan, adalah orang nomor satu di perusahaan mereka di Korea Selatan.

"Apakah Kim Junmyeon yang terkenal itu yang akan datang?" Hati Luhan berdegup kencang, meskipun lelaki itu adalah bos tempat di perusahaan tempat dia bekerja, tetapi Luhan tidak pernah melihatnya secara langsung, dia hanya pernah melihatnya di artikel-artikel bisnis, yang menceritakan betapa jeniusnya Kim Junmyeon, dan dalam fotonya dia tampak sangat tampan meskipun usianya sudah setengah baya. Luhan mengagumi Kim Junmyeon apalagi dari artikel yang dibacanya, dia tahu bahwa lelaki itu adalah seorang family man, yang sangat setia kepada keluarganya.

Tetapi ternyata Irene menggelengkan kepalanya, "Bukan sang ayah yang akan datang, tetapi sang anak."

"Sang anak?" Luhan mengernyitkan keningnya.

"Ayolah, Lu, masak kau tidak pernah mendengar tentang Kim Jongin?"

Kim Jongin. Sang pangeran dalam dinasti keluarga yang terkenal itu. Luhan tahu, bahwa lelaki itu digambarkan sangat tampan seperti malaikat. Tetapi sepertinya sikapnya tidak setampan wajahnya. Lelaki itu dalam semua artikel digambarkan sangat kejam, keras kepala dan angkuh luar biasa, jauh sekali dari ayahnya yang terkesan bijaksana.

"Aku harus ke salon dan meng-highlight rambutku." Irene menepuk-nepuk rambutnya sambil tertawa, "Bayangkan bos yang setampan itu mengunjungi kantor cabang kita."

Luhan tersenyum miris, "Ku dengar dia seorang playboy."

"Tentu saja. Lelaki setampan itu haruslah menjadi playboy." Irene terkekeh geli, "Meskipun aku kurang yakin dia akan melirik pegawai-pegawai seperti kita mengingat pergaulannya di kalangan jet set. Tetapi setidaknya aku akan berusaha." Irene bergumam ringan lalu berdiri dari kursi putarnya, "Makan yuk, jam istirahat sudah hampir habis, aku lapar."

Luhan menganggukkan kepalanya, mengikuti langkah Irene menuju kantin kantor.

.

.

.

Ternyata malam ini Luhan harus lembur. Dia menghela napas panjang sambil berkali-kali menengok ke arah kiri, tempat dimana bus yang ditunggunya seharusnya muncul. Seharusnya bus itu sudah datang setengah jam yang lalu. Tetapi ini sudah hampir jam sepuluh malam dan bus itu belum tampak juga.

Suasana di halte bus itu gelap dan menakutkan, membuat Luhan merasa tidak nyaman. Dia memeluk tubuhnya sendiri ketika hawa dingin menerpanya, membuat bulu kuduknya merinding. Udara semakin dingin ketika rintik-rintik hujan mulai turun. Membuat Luhan semakin cemas. Dia bisa saja menunggu taxi. Tetapi bahkan di malam yang senyap ini tidak ada taxi lewat, sementara pengendara kendaraan hanya lalu lalang dengan jarang, sepertinya malam yang dingin dan hujan rintik-rintik membuat orang malas keluar rumah.

Lalu dari sudut matanya Luhan menangkap segerombolan orang berjalan kearahnya, ketika semakin dekat, Luhan cemas karena itu adalah segerombolan pemuda dengan dandanan tidak jelas, tindik di sana sini dan tato yang menghiasi bagian-bagian tubuh. Luhan beringsut mulai merasa tidak nyaman.

Dia hendak melangkah pergi ketika seorang lelaki dari gerombolan itu menyadari apa yang akan dia lakukan dan tiba-tiba memutuskan menghalangi jalannya. Luhan di hadang dari semua sisi, membuatnya bersikap defensif dengan memeluk tasnya di dadanya,

"Mau kemana nona malam-malam begini?" lelaki dengan tindik di hidung yaitu menatapnya dengan tatapan melecehkan, "Kau tidak mau menemani kami dulu?"

Luhan memelototkan matanya, berusaha tampak galak dan marah, dia hendak melangkah maju, tetapi lelaki itu menghalangi semua jalannya sambil tersenyum melecehkan. Teman-temannya di belakang Luhan tampak terkekeh menertawakan.

Luhan merasa takut, panik dan takut, gerombolan lelaki itu ada kira-kira tujuh orang. Suasana sangat sepi dan lalu lalang kendaraan sanga tjarang, kepada siapa dia bisa meminta tolong? Lagipula semua lelaki ini tampak jahat, bahkan ada beberapa yang menatap bagian-bagian tubuhnya dengan nafsuyang tidak disembunyikan.

"Nah, Nona... lagipula kau kan tidak bisa kemana-mana, ayo kau temani kami saja." Lelaki yang sepertinya pemimpin gerombolan itu tiba-tiba mencekal tangannya dengan kasar, membuat Luhan menjerit dan berusaha melepaskan cekalan tangan itu.

Semuanya tertawa melihat tingkah dan jeritan Luhan, seolah-olah menikmati melihat wanita meronta dan ketakutan.

"Lepaskan dia."

Sebuah suara dingin yang begitu tenang tiba-tiba saja terhembus dari kegelapan. Nadanya begitu intens dan mengancam, sehingga sang pemimpin gerombolan yang sedang mencekal tangan Luhan tidak bisa mengabaikannya begitu saja.

Mereka semua menoleh, begitupun Luhan, dan menemukan seorang lelaki bertubuh tinggi memakai mantel hitam yang membungkus tubuhnya, membuat kesan angkernya makin terasa, wajah lelaki itu tidak jelas karena tertutup bayang-bayang kegelapan dari pohon besar di samping dia berdiri.

"Bung! Carilah mangsa sendiri, jangan ambil gadis kami, kami yang menemukannya duluan." Lelaki pemimpin gerombolan itu rupanya memutuskan untuk menantang. Membuat Lelaki misterius bermantel hitam itu melangkah maju dan ketika mendekat, ekspresi wajahnya yang kejam rupanya berhasil membuat lelaki pemimpin gerombolan itu kecil hati karena pegangannya di lengan Luhan agak mengendor.

"Lepaskan tangan kotormu dari perempuanku." Lelaki misterius bermantel hitam itu bahkan tidak membentak, dia hanya mendesis pelan dan penuh ancaman. Tetapi bahkan Luhan yang bukan menjadi pusat ancaman lelaki itu merasa merinding ketakutan.

Demikian halnya pula dengan lelaki pemimpin gerombolan itu dan teman-temannya. Pada awalnya sepertinya dia memutuskan untuk melawan, tetapi entah kenapa kemudian dia memutuskan untuk menyerah, dilepaskannya cengkeraman tangannya di lengan Luhan dengan kasar,

"Silahkan ambil kalau kau mau!" serunya kasar, lalu terbirit-birit melangkah pergi diikuti oleh gerombolannya.

Luhan menarik napas lega melihat gerombolan itu menjauh, dia memijit pergelangan tangannya yang tadi dicengkeram dengan kasar, rasanya sakit dan sepertinya akan memar.

"Kau tidak apa-apa?" Nada suara lelaki itu tenang, membuat Luhan mendongakkan kepalanya seketika dan langsung bertatapan dengan mata cokelat yang gelap dan dalam. Lelaki di depannya sangat tampan dan jelas-jelas bukan orang sini, tetapi dia sangat fasih mengucapkan kata-kata dalam bahasa sini, hanya menyisakan sedikit logat yang malahan menimbulkan kesan misterius yang seksi.

Seksi? Andrea menggeleng-gelengkan kepalanya, ada apa dengan otaknya. Kenapa satu hari ini dia selalu menghubungkan segalanya dengan hal-hal mesum? Tetapi dia teringat apa yang dikatakan lelaki itu, dia tadi menyebut Luhan sebagai 'perempuanku' sungguh kata-kata yang menyiratkan arti dominan dan kepemilikan seorang lelaki, dan itu terasa sangat seksi ketika diucapkan. Luhan menghela napas panjang, tentu saja Luhan tahu bahwa lelaki itu tidak sungguh-sungguh dengan perkataannya, mungkin lelaki itu hanya ingin menegaskan maksudnya dan menggertak pemimpin gerombolan itu.

"Saya tidak apa-apa, terimakasih." Luhan memutuskan bahwa lelaki ini bukan lelaki jahat, dia tidak berusaha mendekati Luhan dan hanya menatapnya dari sudut yang agak jauh, "Kalau tidak ada anda yang membantu saya, saya tidak tahu apa yang akan terjadi kepada saya tadi."

Lelaki itu menganggukkan kepalanya, "Bukankah cukup berbahaya berdiri sendirian di sini saat sudah larut malam?"

Luhan tersenyum menyesal, "Ada pekerjaan lembur di kantor yang memaksasaya pulang paling malam dibandingkan yang lain... bus yang saya naiki biasanya sudah muncul beberapa waktu lalu, tetapi entah kenapa bus itu tidak datang...mungkin saya sekarang akan naik taxi."

Lelaki itu menganggukkan kepalanya, "Pastikan kau menaiki taxi yang aman." Dia lalu berdiri sejajar dengan Luhan, "Aku akan menunggu di sini sampai kau mendapat taxi."

"Oh." Luhan menatap lelaki itu dengan terkejut, meski ada kelegaan yang tidak bisa ditekannya ketika mengetahui lelaki itu akan menungguinya. Setidaknya dia bisa menunggu taxi dengan rasa aman dan tidak was-was kalau lelaki itu berdiri di sebelahnya. "Anda tidak perlu melakukan itu, mungkin ada keperluan lain yang lebih penting yang harus anda lakukan." Gumam Luhan berbasa basi.

Lelaki itu menampakkan senyum tipis di kegelapan, "Tidak ada kegiatan lain yang lebih penting yang perlu kulakukan."

"Oh." Luhan terdiam, kehabisan kata-kata, "Kalau begitu terimakasih."

"Sama-sama." Jawab lelaki itu datar, dan entah kenapa ada senyum tersembunyi di sana.

Mereka berdua berdiri dalam keheningan... entah berapa lama karena tidak ada taxi yang lewat. Rintik-rintik hujan semakin besar menerpa mereka, membuat mereka memundurkan langkahnya ke dalam naungan atap halte, mencoba melindungi kepala mereka, meskipun tubuh mereka tetap saja terkena terpaan air hujan. Luhan memeluk tubuhnya lagi dengan lengannya untuk melindunginya dari udara dingin yang menggigit, dan lelaki itu sepertinya menyadari kedinginan Luhan, karena tiba-tiba dia melepaskan mantel hitamnya yang tebal dan meletakkannya dengan lembut di bahu Luhan,

"Ini akan membuatmu hangat." Gumam lelaki itu lembut.

Luhan mendongakkan kepalanya, menatap mata lelaki itu, "Tapi kau akan kebasahan dan kedinginan."

"Aku seorang laki-laki, aku lebih kuat." Lelaki itu tersenyum lagi, kali ini lebih lebar, menciptakan perpaduan wajah yang sangat mempesona. Luhan baru menyadari betapa tampannya lelaki yang berdiri di sebelahnya ini, tulang rahangnya kokoh dan keras, dengan bibir tipis yang sedikit lancip di ujungnya,dan matanya tampak begitu tajam dan gelap, dilindungi oleh bulu mata panjang yang tak kalah gelap.

"Terimakasih." Bisik Luhan kemudian, tidak tahu lagi harus mengucapkan apa. Dia melihat lelaki itu menganggukkan kepalanya sambil lalu.

Dan kemudian mereka berdiri dalam keheningan lagi, dengan rintik hujan yang semakin deras menerpa mereka, tetapi kali ini ada kehangatan beraroma kayu-kayuan dan musk yang samar-samar... sepertinya berasal dari parfum lelaki itu.

Lalu di ujung jalan sana, seperti kedatangan penyelamat, taxi berwarna biru itu tiba-tiba muncul, Andrea langsung melambaikan tangannya dengan penuh semangat sehingga taxi itu menepi di depannya, dia mendongak dengan penuh syukur kepada penolongnya yang misterius,

"Terimakasih." Bisiknya pelan penuh perasaan.

Lelaki itu mengangguk, membukakan pintu taxi untuk Luhan, dan menunggu Luhan melangkah masuk dan duduk di dalam taxi.

"Hati-hati." Bisik lelaki itu dengan suara dalam, lalu menutup pintuTaxi itu. Luhan masih menoleh kebelakang, melihat lelaki itu masih berdiri dihalte itu, dengan latar belakang kegelapan, sampai kemudian lelaki itu hilang dari pandangan

Dan kemudian Luhan menyadari bahwa dia masih mengenakan mantel hitam lelaki itu.

.

.

.

Ketika Luhan sampai ke rumah, hujan telah turun dengan derasnya menghujam bumi dengan suara keras dan hempasan air yang bertalian dengan angin. Taxi itu berhenti di depan rumahnya, dan setelah membayar, Luhan berlari-larikecil menembus hujan menuju teras rumahnya. Seluruh kepalanya basah kuyup, tetapi tubuhnya terlindung oleh mantel tebal penolong misteriusnya tadi sehingga bisa tetap kering... meskipun mantel itu sekarang basah kuyup dan menetes-neteskan air ke lantai terasnya.

Luhan mengibaskan rambutnya yang basah dan berusaha mencari kunci rumahnya, dia ingin cepat masuk dan mengeringkan diri, mungkin sambil membuat secangkir susu cokelat hangat untuk diminum. Sebenarnya Luhan lebih memilih secangkir kopi, tetapi kopi membuatnya tidak bisa tidur, sementara Luhan harus tidur cukup malam ini.

Dia membuka pintu dan melangkah masuk, kemudian mengunci pintu di belakangnya. Dilepaskannya mantel yang sekarang berat dan basah karena hujan itu dan dipeluknya, aroma kayu-kayuan dan musk masih melingkupinya, membuatnya merasa nyaman.

Luhan berjalan ke arah dapur dan meletakkan mantel itu ke cucian. Dan kemudian dia menyadari bahwa dia tidak tahu apapun tentang penolong misteriusnya itu, bahkan namanya saja dia tidak tahu. Lalu bagaimana dia akan mengembalikan mantel ini? Mantel ini kelihatannya sangat mahal dan dijahit khusus. Luhan memang kurang mengerti merek pakaian laki-laki, tetapi dari sentuhan bahannya dan jahitannya, kelihatan sekali kalau mantel ini sangat mahal. Dan sekarang Luhan tidak bisa mengembalikan mantel itu.

Luhan merenung, lalu mulai begidik kedinginan hingga dia memutuskan untuk melupakan dulu masalah mantel itu, akan dia pikirkan nanti. Diambilnya handuk yang tersampir di sana, dan digosokkannya ke rambutnya yang basah. Mandi pancuran air hangat terasa sangat menggoda.

Luhan melepaskan semua pakaiannya, membiarkan semuanya jatuh ke lantai, dan melangkah telanjang ke arah kamar mandinya dengan pancuran air hangatnya.

Pertama kali air hangat itu terasa menyengat di tubuhnya yang menggigil kedinginan, tetapi kemudian setiap kucurannya seperti memijat tubuhnya, membuatotot-ototnya terasa lemas. Tak lupa Luhan mencuci pergelangan tangannya yang dicengkeram oleh pemimpin gerombolan tadi. Dia mengamati lengannya dan menemukan bekas merah di sana, sedikit perih, tetapi semoga saja tidak menjadi memar. Kalau sampai terjadi memar, Luhan harus menyiapkan baju lengan panjang untuk bekerja besok supaya memar itu tidak terlihat oleh orang lain.

Selesai mandi, Luhan mengenakan gaun tidurnya yang tersampir di lemari baju di luar kamar mandi. Gaun tidur itu bukan gaun tidur yang seksi, terbuat dari bahan katun yang nyaman berwarna hijau muda, dengan gambar bunga-bunga kecil di sakunya yang ada di bagian depan baju. Gaun tidur Luhan tidak ada yang seksi, toh memang tidak ada perlunya berpenampilan seksi sebelum tidur karena Luhan memang selalu tidur sendirian.

Luhan menguap menahan kantuk, tetapi tetap memutuskan untuk membuat secangkir susu cokelat hangat supaya perutnya tenang. Dia tidak sempat makan malam lagi, dan ini sudah terlalu larut untuk makan apapun. Secangkir susu cokelat hangat pastilah cukup.

Ketika cangkir berisi susu hangat itu sudah jadi, Luhan duduk di meja dapur dan meneguknya, dia merasa sangat mengantuk. Sangat mengantuk dan lelah. Luhan menguap lagi, dan merebahkan kepalanya di atas meja dapur. Lalu dia tertidur.

.

.

.

Sehun memutuskan untuk menarik kursi dan duduk diam mengawasi. Dia sekarang berada di dapur di dalam rumah Luhan yang bisa dia masuki dengan mudahnya.

Tadi dia mengira Luhan sedang tidur pulas di kamarnya, tak disangkanya perempuan itu malahan tertidur dengan posisi tidak nyaman di meja makan dapurnya dengan kepala tertelungkup di sana.

Sehun mengamati sejenak dan cukup yakin kalau Luhan tidak akan terbangun karena tampaknya tidurnya sangat lelap. Dia kemudian duduk dan mengamati Luhan, dalam cahaya lampu dapur yang remang-remang.

Tidak bisa menahan dirinya, jemarinya menyentuh untaian rambut Luhan yang halus, dan kemudian menundukkan kepalanya untuk menghirup aromanya, aroma shampoo strawberry di rambut yang masih setengah basah itu.

Sehun tadi mengikuti taxi Luhan pulang, menyuruh supirnya menunggu di sudut jalan ke rumah mungil Luhan sementara dia duduk diam di jok belakang dan menanti. Ketika dia yakin bahwa Luhan sudah tidur, Sehun menyelinap masuk, sebenarnya ingin meninggalkan pesan yang sama untuk Luhan dimeja dapurnya... sembilan buah lilin berwarna biru dengan cahaya remang-remang yang menyiratkan pesan penuh arti, dan dia lalu akan mengambil Luhan, dengan tenang dan cepat seperti biasanya ketika dia melakukannya kepada yang lain.

Tetapi dia kemudian mengurungkan niatnya demi menatap Luhan yang terpejam dalam damai.

Bukan sekarang waktunya. Sehun menyimpulkan dalam hati. Gadis ini mungkin pantas menikmati hidupnya lebih lama... hidup yang diciptakan untuknya dalam drama penuh kebahagiaan dan mimpi bagi seorang perempuan.

Sehun berdiri, lalu mengangkat tubuh Luhan, yang lunglai karena pulasnya tidurnya, dan membawanya ke kamar. Dibaringkannya tubuh Luhan dengan lembut ke atas ranjang, layaknya seorang pangeran dalam adegan-adegan romantic puteri raja. Setelah itu diselimutinya tubuh Luhan, perempuan itu menggeliat sedikit, lalu setelah menemukan posisi yang nyaman, dia berbaring dengan tenang. Semakin terlelap dalam tidurnya.

Sehun berdiri di sana dan mengamati. Dorongan untuk mengambil Luhan terasa begitu kuat dan menyiksanya. Menyisakan kepahitan kental yang mendera jiwanya. Tetapi dia menahan diri. demi Luhan, agar perempuan itu bias menikmati hidupnya sedikit lebih lama lagi, sebelum Sehun memecahkannya menjadi hancur dan berkeping-keping.

.

.

.

Sinar matahari menyelinap melalui gorden warna peach di kamarnya, membuat Luhan menggeliat dan mengernyitkan keningnya, dia membuka mata dan setengah bingung menyadari bahwa dia berada di atas tempat tidurnya.

Kapan dia pindah kemari? Ingatan terakhirnya adalah meminum secangkir susu hangat di meja dapurnya, sepertinya dia tertidur di sana... ataukah dia salah... apakah saking mengantuknya Luhan tidak menyadari bahwa dia berjalan menuju kamarnya dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur?

Luhan lalu melangkah turun dari ranjang dan berjalan hati-hati menuju dapur. Dapurnya sepi, seperti biasanya, cahayanya masih remang-remang karena gordennya tertutup rapat. Luhan membuka gorden, membiarkan sinar matahari masuk, matanya menoleh ke arah gelas susu cokelat di mejanya yang masih setengah lebih, dibuangnya susu cokelatnya ke wastafel dan dicucinya gelasnya. Kemudian mata Luhan mengarah kepada mantel hitam itu, teringat akan kenangan semalam, sosok misterius yang ternyata membekas di benaknya.

.

.

.

"Pagi ini dia akan datang!" Irene menghampiri meja Luhan dan berbisik dengan bersemangat.

"Siapa?" Luhan mengerutkan keningnya, dia barusan memeriksa ponselnya dan tetap saja tidak ada pesan dari Kris, apakah Kris sebegitu sibuknya sampai tidak sempat mengabari dirinya?

"Kim Jongin." Irene benar-benar tidak bisa menyembunyikan antusiasmenya, "Apakah kau tahu dia baru saja putus dengan model Australia itu? Sekarang dia melajang."

Luhan terkekeh, "Sekalipun dia melajang, orang yang akan mengisi posisi pacarnya nanti pastilah bukan dari kalangan kita-kita." Gumamnya pelan.

Irene menganggukkan kepalanya setuju sambil ikut terkekeh, "Yah tetapi bagaimanapun juga aku bersemangat mengetahui bisa melihatnya secara langsung. Kau tahu, semua pemberitaan itu mengatakan dia sangat tampan... aku ingin melihat aslinya."

"Sepertinya aslinya juga sama tampannya." Luhan menghela napas panjang, lalu melirik ke ponselnya lagi.

Irene sepertinya menyadari ada yang mengganggu Luhan, "Kenapa, Lu?"

"Tidak apa-apa."

"Ah. Ayolah, aku melihat beberapa menit ini kau sudah beberapa kali melirik ponselmu? Aku kan sahabatmu, ada apa?"

Luhan mengangkat bahu, bersikap seolah-olah itu bukan masalah pelik, "Kris... dia tidak menghubungiku, ketika dia pertama pergi ke luar kota, dia masih mengirimiku pesan meskipun jarang, tetapi sudah dua hari ini dia tidak menghubungiku sama sekali."

Irene memutar bola matanya, "Kau tak perlu cemas Luhan, begitulah para lelaki. Lelaki tidak pernah menyadari pentingnya komunikasi. Bagi mereka, selama kau tidak menghubunginya, semua baik-baik saja, dan mereka merasa tidak perlu menghubungi. Berbeda dengan perempuan, komunikasi sangat penting. Mungkin kau bisa menghubunginya duluan?"

"Aku tidak mau terlihat terlalu bersemangat." Pipi Luhan memerah, membuat Irene terkekeh.

"Apakah kau akan menahan diri terus-terusan seperti ini? Bagaimana kalau Kris tidak menghubungimu sampai akhir. Kudengar dia mengambil hak cuti besarnya satu bulan penuh. Itu adalah jangka waktu yang lama."

Luhan tercenung, lalu menatap Irene bingung, "Menurutmu pantaskah aku menghubunginya dan menanyakan keadaannya? Tidakkah aku terlihat terlalu mengejarnya?"

Irene menggelengkan kepalanya, "Dia mungkin akan merasa kau perhatian kepadanya, mungkin saja dia sedang sibuk merawat.. katamu saudaranya sakit bukan? Jadi dia tidak sempat menghubungimu duluan." Irene mendekatkan dirinya, "Sebenarnya sejauh mana hubungan kalian?"

Luhan menelengkan kepalanya, mencoba menelaah kedekatan mereka sebelum Kris pergi ke luar kota,

"Kami dekat, hampir setiap malam kami pulang bersama, makan malam bersama dan menghabiskan waktu bersama di akhir pekan."

"Semua itu hanya dalam beberapa minggu?" Irene tersenyum kagum, "Chemistry di antara kalian pasti sangat cocok. Dan selama itu dia tidak pernah mengatakan sesuatu yang lebih seperti mengucapkan cinta misalnya?"

Luhan menggeleng, "Tidak pernah, Kris selalu baik, lembut dan perhatian tetapi tidak lebih... dia.. dia mengecup pipiku ketika berpamitan akan ke luar kota."

"Mungkin dia memang bukan tipe orang yang terburu-buru." Irene melirik jam tangannya, "Sebentar lagi yang kita tunggu-tunggu akan tiba, barusan Mr. Jongdae terbirit-birit menjemput di bandara." Irene tersenyum lebar, lalu menepuk pundak Luhan sebelum berlalu, "Hubungilah Kris duluan, beranikan dirimu."

.

.

.

Dan Kim Jongin pun tiba di kantor mereka, dia akan berada di sini selama enam bulan, untuk mengevaluasi kantor cabang mereka. Sebuah ruangan paling besar sudah disiapkan untuknya, ruangan itu biasanya dipakai untuk pertemuan dan meeting kecil untuk tiga atau empat orang, dan merupakan tempat meeting paling ekslusif. Kim Jongin akan menempatinya selama dia berada di kantor cabang ini.

Luhan cukup beruntung karena atasannya merupakan salah satu yang berkedudukan tinggi di kantor cabang ini. Karena itulah, Kim Jongin sering mengunjungi ruangan atasan Luhan, membuat lelaki itu sering lalu lalang melewati meja Luhan. Hal itu membuat Irene sangat iri, sahabatnya itu berkali-kali mengirimkan sms dari ruang kerjanya di seberang lorong, mengatakan betapa beruntungnya Luhan.

Yah, kalau menikmati sebuah mahakarya Tuhan yang luar biasa bisa dianggap suatu keberuntungan, Luhan memang beruntung. Dalam satu hari ini, Jongin telah tiga kali melewatinya, meskipun sama sekali tidak melirik kepadanya.

Dan seperti yang selalu dikatakan oleh semua artikel tentang Jongin, lelaki ini memang sangat tampan, semuanya sempurna, dari pakaian yang membalut tubuhnya sampai warna matanya yang menakjubkan. Biru terang... sangat terang hingga hampir pucat.

Luhan menundukkan kepalanya pura-pura menekuri laptopnya ketika Jongin keluar dari ruang atasannya, lelaki itu pasti akan melewatinya seperti biasa, seperti yang telah dilakukannya sebelumnya.

Luhan menunggu langkah-langkah lelaki itu melewatinya kemudian akan mendongakkan kepalanya dan mencuri pandang diam-diam untuk diceritakan kepada Irene nanti. Tetapi kali ini lelaki itu tidak melewatinya, lelaki itu berhenti di depan Luhan, kemudian berdiri dalam keheningan mengamati Luhan,

Luhan mendongakkan kepalanya dan langsung bertatapan dengan mata biru yang indah itu. Dia menahan dirinya supaya tidak ternganga kagum akan ketampanan lelaki yang berdiri di depannya.

"Kau staffnya Mr. Minho?" suara Jongin mengalun tenang dan dalam, sangat cocok dengan penampilannya.

Luhan menganggukkan kepalanya gugup, "Iya, Saya asisten Mr. Minho. "Jawabnya cepat, tak tahu harus mengatakan apa lagi.

Jongin tetap berdiri di sana, menatapnya dengan mata birunya yang intens,

"Hmmmm... kau amat sangat... mengingatkanku kepada seseorang."

.

.

.

TBC


Fast update niihh :D

Yeiiyyy HunHan ketemuuu~~~~ Daaannn Jongin juga mulai muncul hihihihihiii :D

.

.

Okey, makasih buat yang udah ripiyu dan jangan lupa buat ripiyu lagi yaah readersdeul~~

TengKyu so much~~ Mumumumumu :*

.

.

Selamat lebaraannnn~~ Sorry ngucapin duluan yaaa ^^