Syndrome
By: Kei Tsukiyomi
.
Disclaimer: Bukan milik saya.
Warning: AU, OOC, Typo, GS, Alur lambat, minim deskripsi. Ini hanyalah fiksi semata. DLDR!
Pair: Haehyuk.
.
Previous chapter:
"Ada apa nona?" Tanya maid yang sedari tadi bersama Hyukjae.
"Ini maksudnya apa?" tatapannya masih tertuju pada foto-foto di tangannya.
"Itu… sebenarnya… itu foto-foto calon tunangan anda nona. Tapi yang terpilih oleh Nyonya hanya foto yang diberi tanda ceklis saja," jelas maid itu takut-takut.
"Apa?! Tunangan?!"
^-^v
.
Tubuh Hyukjae kaku seketika dan otaknya serasa lumpuh sesaat. Ia memandang tak percaya foto-foto di genggaman tangannya.
Mengambil nafas pelan, ia mulai mendinginkan otaknya dan mulai mencerna informasi yang di dapatnya.
Jadi, ia mempunyai calon tunangan tanpa sepengetahuannya? Dan semua laki-laki yang ada di foto-foto ini adalah calon tunangannya, dan yang terpilih diantara mereka semua adalah Nickhun? Lantas kenapa ada foto Donghae di sini? Apa neneknya itu mengenalnya? Hyukjae memijit keningnya yang terasa seperti mau pecah. Ia meremas foto-foto yang ada di tangannya dengan kuat, emosinya meluap saat ini.
Bayangkan saja, sejak berada di Paris ini ia selalu di jejali dengan setumpuk kerjaan dengan waktu istirahat yang sedikit, pikirannya penat, belum lagi sang nenek yang terus menekannya. Waktu untuk bercengkrama dengan ibunya pun sedikit. Dan jangan lupakan tentang Donghae yang selama ini ia fikirkan juga.
Dan sekarang ia menemukan fakta bahwa ia dijodohkan?! Lelucon macam apa ini! Ini sama sekali tak ada dalam perjanjian. Neneknya itu sedang bermain api ternyata dengan Hyukjae. Hyukjae menyeringai, buku tangannya memutih karena terlalu erat mencengkram foto-foto itu, pandangannya nyalang menatap foto neneknya yang terpajang di dinding ruangan itu. Neneknya itu salah memilih target untuk bermain. Dia fikir Hyukjae akan dengan lemahnya menerima perjodohan ini? Jawabannya tidak! Kita lihat nanti siapa yang akan kalah. Tuhan mengajarkan untuk bersabar, tapi bukan berarti lemah dan tak berdaya menerima semuanya begitu saja. Semua butuh usaha. Dan itu yang akan Hyukjae lakukan.
"Di mana ne- ah Nyonya Lee sekarang?" maid yang sedari tadi tertunduk takut karena merasakan hawa dingin melingkupi nona mudanya itu tersentak kaget.
"Di-Di kamarnya nona."
"Tolong bilang padanya besok pagi aku meminta bertemu dengannya."
"Ba-baik nona, akan saya sampaikan."
"Terimakasih. Jaa, ini sudah malam, tidurlah." Hyukjae memberikan senyum manis pada maid yang ketakutan itu. Ia terkekeh pelan.
"Aigo unnie, kau tidak perlu takut begitu. Aku sedang banyak pikiran, tanpa sadar aura mengerikanku keluar hehehe…"
"Iya nona-"
"Sudah kubilang jangan panggil nona. Panggil Hyukie saja." Ia poutkan bibirnya imut tanda kesal. Membuat maid itu terkekeh.
"Iya Hyukie, kau juga tidurlah. Kau sangat membutuhkannya."
"Oke, kalau begitu ayo kita tidur." Dan merekapun melangkah meninggalkan ruangan itu. Hyukjae menghela nafas berat. Ia tak akan bisa tidur malam ini. Pasti. Bayangan Donghae yang menangis menjadi beban pikirannya saat ini.
.
Donghwa dan Mr. Lee masih setia berada di kamar Donghae yang tengah terlelap. Mereka sudah memanggil Dokter tadi. Setelah memeriksa dan memberinya obat, Donghae mulai tertidur. Walau sebelumnya ia masih menyebut nama Hyukie berulang kali dengan wajah tersiksa.
Mr. Lee mengusap kepala Donghae pelan dan memandangnya sendu. Ia selalu berdoa agar Donghae segera mendapatkan kebahagiaannya. Sudah cukup penderitannya selama ini. Semua ini salahnya, andaikan dulu ia bisa meluangkan waktunya untuk istrinya yang tengah hamil dan memanjakannya. Mungkin Donghae tidak akan menderita seperti sekarang.
Dulu, saat istrinya tengah hamil, ia sedang sangat sibuk dengan perusahannya yang mulai berkembang dengan pesat. Sehingga perhatiannya terbagi. Tentu ia masih memperhatikan istrinya, tapi sebagian besar waktunya ia habiskan di kantor. Dan Donghwa yang saat itu masih anak-anak tidak tau apa-apa.
Siang itu Mr. Lee tengah sibuk dengan segala urusan bisnisnya di kantor. Dia tidak bisa ikut menemani istrinya yang tengah hamil besar untuk pemeriksaan rutin ke dokter. Untunglah sang istri sangat mengerti dan dengan sukarela pergi sendiri ditemani Donghwa dan salah satu maidnya. Semua baik-baik saja sampai istrinya menghubunginya untuk membawakan bekal makan siang. Ia yang masih terfokuskan dengan berkas-berkas di hadapannya hanya meng-iyakan usulan itu dan langsung mematikan sambungan telfonnya. Ia terlalu fokus pada berkasnya tanpa menyadari kantornya ini sedang dalam masa pembangunan untuk memperbesar wilayahnya. Yang tentu saja banyak memakai alat-alat berat dan berbahaya bagi orang awam. Ia seharusnya melarang istrinya itu untuk berkunjung karena cukup berbahaya. Tapi ia terlalu disibukkan dengan berkas-berkas itu.
Hingga saat istrinya itu sudah sampai bersama Donghwa dan maidnya. Ia berjalan di pinggir karena takut Donghwa terkena benda-benda itu. Ia melangkah cukup hati-hati dengan Donghwa di depannya yang berlari kecil. Hingga ia melihat ada balok kayu yang jatuh dari atas ingin menimpa Donghwa. Tanpa sadar ia berteriak dan berlari mendorong Donghwa. Kakinya tergelincir dan jatuh dengan perutnya yang tertekan. Untung saja balok kayu itu tak mengenai ia dan Donghwa. Ia menjerit kesakitan dan meremas perutnya. Maidnya itu segera menghubungi Mr. Lee dan menelfon ambulans. Sedangkan Donghwa hanya bisa menangis memanggil-manggil ibunya. Mr. Lee berlari menghampiri istrinya dan segera membawanya ke rumah sakit. Saat itulah dunia Mr. Lee runtuh seketika. Istrinya harus segera melahirkan akibat benturan itu. Ia berjuang hidup dan mati saat melahirkan Donghae. Dan pada akhirnya ia harus mati meninggalkan seorang bayi mungil yang sebelumnya sudah ia beri nama Lee Donghae, karena pendarahan hebat yang dialaminya. Ia tersenyum lemah dan mengusap wajah bayinya dengan kasih sayang yang melimpah. Ia berucap dengan lirih, "Donghae, maafkan umma yang tidak bisa menemanimu. Jangan bersedih, masih ada appa dan hyungmu yang akan selalu menemanimu. Umma sangat menyayangimu nak, hiduplah dengan bahagia." Ia mengecup wajah Donghae dengan linangan airmata. Ia juga menciumi Donghwa dengan kasih sayang yang sama. Ia berpesan agar Donghwa bisa menjaga adiknya dan menjadi pemuda yang sukses dan bisa berbahagia. Ia menatap suaminya dengan lembut.
"Ini bukan salahmu. Aku tau kau menyalahkan dirimu sendiri. Ini takdir Tuhan, suamiku. Hiduplah dengan tenang dan jagalah anak-anak kita. Aku tau kau bisa menjadi appa yang hebat untuk mereka." Dan kecupan di kening itu menjadi perpisahan mereka. Perpisahan yang menjadi takdir buruk untuk Donghae ke depannya. Karena akibat benturan itu Donghae mengalami retardasi mental seperti sekarang.
Awalnya Donghae hanya mengalami retardasi mental dalam taraf ringan, ia masih bisa bermain dengan teman-temannya dengan normal. Ia hanya memiliki kelambatan dan juga gerak reflek yang kurang. Tapi dari situlah awal bencana untuk Donghae. Anak-anak yang biasa bermain dengannya mulai mengejeknya, mengatainya tanpa tau apa arti dan akibatnya yang ditimbulkannya. Orangtua mereka juga tidak mengambil tindakan apapun. Hanya membiarkannya. Tersenyum minta maaf di depannya dan menghina di belakang. Karena pengaruh lingkungan yang terus memojokkannya inilah yang membuat Donghae tertekan. Ia tidak lagi bermain dengan yang lainnya. Hanya terus berada di rumah, bermain dengan mainan robot-robotannya dan juga Donghwa. Hingga syndrome yang dialaminya meningkat hingga taraf sedang.
Akhirnya Mr. Lee memutuskan pindah rumah untuk menghindari kemungkinan terburuk bila keluarganya terus tinggal di sini. Donghae butuh suasana baru untuk memulai semuanya.
.
Donghwa terkejut melihat airmata yang mengaliri wajah ayahnya yang masih menatap Donghae yang terlelap. Ada kesedihan yang mendalam di mata itu.
"Appa jangan menangis." Mr. Lee tersenyum ke arah anak sulungnya yang tengah menatap khawatir kearahnya.
"Appa istirahat saja, biar aku yang menjaga Donghae."
"Tidak apa-apa, appa juga ingin menjaga Donghae."
"Hyukie…" perhatian mereka teralih saat mendengar gumaman pelan Donghae.
"Umma… Hyukie… Hae rindu." Mr. Lee dan Donghwa meringis perih mendengarnya. Setetes airmata jatuh dari wajah mereka berdua.
.
Paris.
Hyukjae tengah duduk tenang di ruangan kerjanya sambil menikmati cahaya matahari pagi yang menelusup melalui jendela ukuran besar di tempat itu. Seperti dugaannya semalam. Ia tidak bisa tidur memikirkan Donghae. Ia juga sudah memikirkan langkah untuk melawan neneknya itu. Ia sudah mendinginkan kepalanya dan menyusun rencana.
Bunyi pintu yang terbuka mengalihkan perhatiannya dari pikirannya tadi. Ia tersenyum melihat neneknya yang berdiri angkuh di hadapannya.
"Apa urusanmu hingga ingin menemuiku? Ku harap ini hal yang berguna sehingga tidak membuang waktuku." Hyukjae masih tersenyum dan berdiri menghampiri neneknya.
"Silahkan duduk nenek, kita bisa membicarakan ini dengan santai." Ia mempersilahkan neneknya duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan meja kerjanya.
"Tak perlu. Cepat katakan apa urusanmu?" Hyukjae tersenyum dan mengambil sebuah amplop yang berisi foto-foto laki-laki yang kemarin ada di meja neneknya. Kemudian meletakkan foto-foto itu di depan neneknya.
"Bisa tolong jelaskan apa maksudnya ini?" sang nenek menatap datar ke arah Hyukjae yang masih tersenyum tenang.
"Aku yakin kau sudah tau. Jadi apa yang harus ku jelaskan?" Hyukjae menghela nafas. Ia menatap mata neneknya yang terlihat tajam walaupun usianya sudah tak muda lagi.
"Apa maksudnya kau menjodohkanku, Itu tidak termasuk dalam perjanjian bukan? Dan apa kau mengenal Lee Donghae, kenapa ada fotonya di sini?"
"Aku menjodohkanmu untuk memperbesar perusahaan. Bila 2 perusahaan besar bergabung tentu akan memberikan banyak keuntungan bagi kedua belah pihak. Mengenai Lee Donghae, dia salah satu calon tunanganmu sebenarnya, tapi karena dia mengalami keterbelakangan mental aku langsung mengeliminasinya. Orang seperti itu hanya akan mencoreng nama keluarga," ucapnya dengan nada dingin dan pandangan yang menusuk ke arah gadis itu. Sejujurnya Hyukjae sangat marah saat neneknya ini menghina Donghae, tapi ia tahan emosinya itu.
"Bisa kau batalkan perjodohan itu? Karena aku menolak dari lubuk hati terdalam. Itu di luar tanggung jawabku, dan kau tidak berhak mengatur kehidupanku nenek," Jawabnya dengan senyum manis yang membuat neneknya muak. Neneknya berdecih dan mendongak angkuh.
"Sayang sekali aku tak berniat membatalkannya."
"Begitukah? Apa aku harus mengancammu?"
"Apa?!" Hyukjae terkekeh pelan dan berjalan mendekati neneknya.
"Sudah ku bilang bukan, itu di luar perjanjian kita. Tugasku hanya membuat perusahaanmu ini menjadi lebih maju lagi dan setelahnya aku bebas. Lalu kenapa kau melanggar perjanjian yang kau buat sendiri demi keuntunganmu?" sang nenek menggeram marah dan hampir menampar Hyukjae, tapi ditahannya. Ia menghembuskan nafas kasar.
"Batalkan pertunangan itu atau kau akan menerima berkas tentang kehancuran perusahanmu segera."
"Berani sekali kau!"
"Ini kehidupanku. Kau tidak berhak mengaturnya dengan seenaknya. Jangan pernah bermain api denganku, atau kau akan terbakar." Sang nenek terdiam kaku dengan wajah yang mengeras menahan amarah.
"Kalau kau melakukan itu akan kutarik semua investasiku dari perusahaan keluarga ibumu. Sehingga Ini bukan hanya tentang kau dan aku." Sang nenek tersenyum licik kearahnya dan di balas senyum manis dari Hyukjae. Jadi neneknya ini juga ikut mengancam? Baiklah, Ini saatnya membalas kearogansian neneknya itu. Dengan tenang ia menjawab.
"Kau fikir aku takut dengan ancamanmu? Kau fikir kenapa aku bertahan di sini? Itu karena aku dan ibuku masih menyayangimu. Bisa saja aku langsung pergi dari paris dan membawa ibuku tanpa mempedulikanmu." Sang nenek tersentak pelan dan memandang lurus padanya. Hyukjae kembali melangkah hingga tepat berdiri di hadapan neneknya. Ia tersenyum.
"Walaupun saat itu usaha keluarga ibuku sedang berada diambang kehancuran, bukan berarti kami tak mampu. Kau tau? Keluarga ibuku bahkan menentang keras keputusanku menurutimu untuk membantu usaha mereka. Mereka lebih memilih bangkrut tapi hidup tenang daripada usaha mereka maju tapi mengorbankan kebahagiaan orang lain. Aku dan ibuku berada di sini sesungguhnya bukan karena tergiur oleh pilihanmu, tetapi karena kami menyayangimu." Ia tersenyum lembut kearah neneknya yang masih mematung.
"Ibuku dengan lapang dada menerima semua makian kejammu terhadapnya dengan senyum tulus, padahal ibu dan ayah tidak melakukan kesalahan apapun. Mereka hanya jatuh cinta, mereka tidak menyakiti siapapun, bahkan juga dirimu. Kesalahannya hanya satu, karena ibuku bukan dari kalangan bangsawan yang bahkan tidak orang lain pedulikan kecuali kau seorang. Hanya kau yang menentang cinta mereka. Mengatas namakan ego di atas segalanya." Hyukjae menarik nafas pelan dan menghembuskannya perlahan. Ditatapnya neneknya itu dengan sendu.
"Tolong buka mata hatimu sedikit saja. Cinta mereka tidak melukaimu lantas kenapa kau masih mempertahankan rasa benci yang tidak perlu? Aku menyayangimu nenek, sangat. Walaupun sedari kecil kau terus mengacuhkanku tanpa aku tau sebabnya, mengucapkan kalimat yang menusuk hatiku padahal aku tak pernah menyakitimu. Kau tau? Ibuku selalu berkata padaku kalau kau sebenarnya menyayangiku, jadi aku tidak boleh membencimu. Ibuku menyuruhku agar selalu menyayangimu dan mendoakanmu. Ayah juga selalu meminta maaf padaku dan memintaku bersabar padahal ia tak salah apapun.
Hari ini aku ingin kau tau itu semua. Tolong fikirkan dan jangan lupakan untuk membatalkan pertunangan itu, aku tidak main-main dengan ancamanku. Aku ingin bebas. Tolong. Terimakasih atas waktumu nyonya, saya permisi pergi." Sebelum Hyukjae beranjak keluar ruangan itu, ia mencium pipi neneknya yang masih berdiri kaku dan bergumam pelan."Aku menyayangimu nenek."
Pintu itu tertutup. Meninggalkan sang nenek yang perlahan sudah terbuka pintu hatinya.
.
Hyukjae mendesah lega bisa mengeluarkan semuanya pada neneknya itu. Ia yakin kalau neneknya pasti akan membatalkan pertunangan itu. Sebenarnya ia tak mau menekan neneknya itu, bagaimanapun neneknya adalah orang yang harus ia hormati. Tapi ia harus mengambil tindakan tegas kali ini. Ia paling membenci bila kehidupannya diatur-atur seenaknya. Lagipula neneknya itu harus tau semuanya. Agar ia tak memendam kebencian tak beralasan itu.
"Hyukie~" hyukjae menoleh ke sumber suara yang memanggilnya. Ia tersenyum riang dan berlari dengan semangat ke arah seseorang yang memanggilnya.
"Ayah~"
"Aigo, putri ayah sudah besar rupanya. Maafkan ayah yang baru menemuimu sekarang, ayah sedang tugas di Negara lain." Ia usap pucuk kepala anaknya dan dan mencium keningnya sayang. Hyukjae terkekeh manis dan memeluk ayahnya dengan erat.
"Tidak apa-apa aku mengerti. Aku merindukanmu…" kini ayahnya yang terkekeh mendengar suara manja putrinya yang tengah memeluknya ini.
"Ayah juga sangat merindukan putri manis ini. Siang nanti mau makan bersama ayah?"
"Tentu saja mau."
"Baiklah, ayah harus bekerja dulu sekarang, nanti siang ayah akan ke ruanganmu." Hyukjae tersenyum senang. Ia beri gesture hormat pada ayahnya.
"Siap kapten."
"Kau ini. Selamat bekerja tuan putri."
"Selamat bekerja juga Yang mulia raja hahaha…" ayah Hyukjae hanya bisa geleng-geleng kepala melihat anaknya yang sudah berlari itu. Sifat kekanakannya itu belum hilang juga ternyata.
.
"Donghae ayo minum obatmu, nak." Mr. Lee terduduk di pinggir tempat tidur dengan Donghae yang berbaring membelakanginya memeluk erat foto Hyukjae. Airmata melingkupi wajahnya. Ia menangis tanpa suara. Mr. Lee terus berusaha membujuk anaknya itu untuk meminum obatnya, namun tak mendapat reaksi apapun.
"Donghae, demammu belum turun nak, jangan menyiksa dirimu sendiri seperti ini. Minumlah obatmu."
"Hyukie… Hyukie…" mendengar suara lirih itu Mr. Lee hanya bisa menghela nafas. Ia taruh obatnya di meja dan memegang dahi Donghae. Mr. Lee meringis. Suhu tubuh Donghae masih sangat tinggi, kalau seperti ini terus tidak baik untuk kesehatannya. Ia keluarkan handphonenya dan mencoba menghubungi Hyukjae, namun hanya suara operator yang terdengar. Mungkin gadis itu masih sibuk, nanti akan ia coba lagi.
"Donghae, appa keluar sebentar untuk mengambil makananmu. Istirahatlah." Setelahnya Mr. Lee keluar kamar Donghae. Ia berpapasan dengan Donghwa dan Sora Di tangga.
"Annyeong Mr. Lee saya ingin menjeguk Donghae." Dengan senyum ramah Sora membungkuk di hadapan Mr. Lee.
"Jangan seformal itu padaku, masuklah. Donghae ada di kamarnya." Mr. Lee tersenyum dan meneruskan langkahnya menuju dapur.
Donghwa masuk ke kamar Donghae dengan Sora di belakangnya. Mereka melihat Donghae sudah terlelap masih dengan mendekap foto Hyukjae. Sangat jelas terlihat jejak airmata di wajahnya. Donghwa menempelkan telapak tangannya pada dahi Donghae.
"Astaga suhu tubuhnya belum turun juga." Ia segera mengambil kompres yang berada di meja dekat tempat tidur adiknya dan memerasnya. Meletakkannya di dahi Donghae.
"Apa dia sudah minum obat?" Donghwa menggeleng dengan wajah lesu.
"Dia bahkan tidak mau makan. Hanya terus seperti ini saat ia sadar kemarin." Dilihatnya sang adik yang masih menggumamkan nama Hyukie dalam tidurnya. Wajahnya terlihat sangat tersiksa.
Untuk beberapa saat hanya ada keheningan di dalam kamar Donghae hingga suara dering telephone menyadarkan mereka. Itu sebuah video call dari Hyukjae. Sora segera mengangkatnya.
"Hyukie."
"Unnie bagaimana keadaan Donghae?" Sora mengarahkan handphonenya ke arah Donghae yang terlelap dengan wajah merah-karena demam- dan terus menggumamkan nama hyukie dengan mendekap fotonya. Airmata gadis itu jatuh melihat pemuda yang disayanginya dalam keadaan buruk seperti itu.
"Donghae," panggilnya lembut.
"Hyukie…" Donghae menjawab, tapi matanya tetap tertutup dengan keringat yang menetes di dahinya.
"Donghae…"
"Hyukie kapan pulang?" Hyukjae menutup mulutnya dengan punggung tangan dan menggeleng menahan tangis. Suara itu terdengar sangat lirih tapi ia masih bisa mendengar dengan jelas. Ia juga bisa melihat dengan jelas jejak airmata di wajah pemuda yang tengah terbaring memeluk foto itu. Betapa ia merasa sangat bersalah padanya. Sora dan Donghwa yang mendengarkan percakapan itu hanya bisa tertunduk.
"Donghae cepat sembuh ya, maafkan aku hiks…"
"Donghae tidak mau makan, juga belum minum obat sedari tadi." Donghwa memberitahu keadaan Donghae seraya mengelus kepala adiknya itu.
"Astaga, dia belum makan?"
"Iya. Dia terus memanggil namamu noona." Hyukjae kembali menangis. Ingin sekali ia memeluk Donghae sekarang juga. Tapi itu mustahil.
"Donghae, Donghae kau dengar aku?" Donghae mengangguk pelan dalam ketidak sadarannya.
"Donghae makan ya, jangan lupa minum obat. Hyukie akan menangis kalau Donghae belum sembuh."
"Jangan menangis," gumam Donghae pelan. Ia bergerak-gerak gelisah dalam tidurnya.
"Donghae cepat sembuh ya." Hyukjae menggigit bibirnya, suaranya bergetar.
"Donghwa maafkan aku, karena aku Donghae jadi seperti ini." Donghwa mengambil alih handphone itu dan menggeleng. Ia tersenyum menenangkan.
"Ini bukan salahmu noona, sungguh. Jangan menyalahkan dirimu sendiri."
"Maafkan aku."
"Hyukjae ini bukan salahmu sayang." Sora menyela karena tidak tega melihat Hyukjae yang menangis saat ini. Ini bukan salahnya.
"Tolong jaga Donghae, aku akan berusaha secepatnya menyelesaikan tugasku di sini." Mereka berdua mengangguk.
"Pasti."
"Baiklah aku tutup dulu, nanti kuhubungi lagi. Donghae cepat sembuh sayang," ucap Hyukjae sebelum memutus telfonnya.
.
Hyukjae masih mendekap I phonenya di dada dan menggigit bibir bawahnya gelisah. Di fikirannya saat ini hanya dipenuhi oleh Donghae. Bagaimana kalau Donghae tetap tidak mau makan dan minum obat. Apalagi Jieun telah mengganggunya kemarin. Ia benar-benar ingin pulang ke Korea untuk bertemu Donghae.
Suara pintu terbuka menyadarkannya dari lamunan. Di lihatnya ayahnya tengah tersenyum ke arahnya.
"Mau makan siang? Ya walaupun ini masih jam 10." Hyukjae tersenyum sedikit terpaksa, karena masih memikirkan Donghae. Dan tentu itu di sadari ayahnya. Ia mendekati putrinya dan mengelus pucuk kepalanya.
"Ada apa?" mata hyukjae bergerak gelisah. Menimbang apakah harus bilang pada ayahnya atau tidak.
"Ayah… aku… aku ingin pulang ke Seoul sebentar, bisakah?" ditatapnya ayahnya dengan binar sendu dan tatapan yang sulit diartikan.
"Memang ada apa hum?" ia menggigit bibirnya.
"Donghae… Donghae dia… dia sakit dan dia sangat membutuhkanku. Keadaannya belum membaik saat ini. Bo-bolehkah aku menjenguknya, walaupun 1 jam pun tak apa." Ayahnya tersenyum lembut dan menepuk kepalanya. Ia tau siapa itu Donghae. Hyukjae sering sekali membicarakannya dengan nada riang dan bersemangat. Ia juga sudah tau tentang latar belakang Donghae.
"Pergilah, ayah mengijinkanmu. Masalah nenekmu biar ayah yang tangani. Donghae jauh lebih membutuhkanmu."
"Appa…" hyukjae tersenyum terharu mendengarnya.
"Ya, pergilah Hyukie, aku juga akan membantu paman mengurus nenek sihir itu." Hyukjae menoleh dan menemukan Kyuhyun tengah tersenyum padanya. Kyuhyun mengaduh pelan saat ayah Hyukjae menyentilnya karena mengatakan 'nenek sihir'. Membuatnya tertawa dan memeluk mereka.
"Ayah memberimu waktu 2 hari untuk bertemu Donghae. Bagaimanapun kau masih punya tanggung jawab di sini." Ayah Hyukjae berucap tegas dengan senyum wibawa.
"Siap kapten haha~."
"Sampaikan salamku pada Donghae ya Hyukie."
"Tentu Kyunie, pasti kusampaikan."
"Ayah juga titip salam pada menantu kesayangan ayah itu." Ayah Hyukjae tersenyum jahil saat wajah Hyukjae memerah.
"Ayah?! Apaan sih."
"Hahaha… kenapa mukamu merah hyukie?"
"Ishh Kyu…" Hyukjae merengek dan menghentakkan kakinya dengan wajah yang tertekuk lucu.
"Aigo~ sudah-sudah. Cepat sana pesan tiket pesawatnya." Hyukjae langsung mengeluarkan I phonenya saat mendengar ucapan ayahnya itu. Kyuhyun mendekatinya dan menutup layar I phone itu dengan tangannya. Ia tersenyum.
"Tak usah, aku sudah memesankan tiket pesawatmu saat aku mendengar percakapan kalian tadi. Penerbanganmu jam 11 ini." Hyukjae menoleh ke arah jam dinding di ruangannya. Matanya membulat.
Omo! Sudah jam 10.25. berarti waktuku tidak banyak. Aku juga belum bilang pada ibu, bagaimana ini." Hyukjae panik dan dengan brutal memasukkan barang-barangnya ke dalam tas. Ayahnya dan Kyuhyun hanya bisa terkekeh geli.
"Masalah ibumu biar ayah yang bilang, nanti kau telfon saja saat di perjalanan. Masalah pakaian, kau bisa memakai baju Sora di sana." Hyukjae menghentikkan gerakannya dan mengangguk. Ia memeriksa barang-barang pentingnya di dalam tas. Setelah merasa cukup, ia menghampiri kedua lelaki itu dan memeluknya.
"Terimakasih, ayah, Kyuhyun. Sampai jumpa 2 hari lagi hehe… bye~" bersamaan dengan itu Hyukjae sudah melesat keluar ruangannya dengan berlari. Ia tak mau ketinggalan pesawat. Untung saja jarak kantornya dan bandara cukup dekat. Kyuhyun dan ayah hyukjae hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Hyukjae itu.
.
15 menit perjalan menggunakan taksi sudah di lewati Hyukjae. Kini ia berada di bandara Charles de gaulle. Suasana di bandara itu cukup penuh tapi masih tergolong normal. Ia segera menuju pintu boarding saat mendengar pengumuman pesawat yang akan dinaikinya akan segera berangkat. Ia tersenyum senang.
'Donghae tunggu aku.'
.
Hari masih terlalu pagi di Seoul. Bahkan matahari masih terlihat malu-malu untuk menunjukkan cahayanya. Seharusnya di waktu sepagi ini suasana masih sepi. Tapi sepertinya itu tak berlaku di sebuah kediaman megah bernuansakan eropa ini. Tampak keributan di sebuah kamar yang dipenuhi warna biru itu. Barang-barang berserakan di mana-mana. Tempat tidur itupun tampak berantakan.
"Donghae ayo makan, jangan seperti ini terus. Nanti kau tidak sembuh-sembuh."
"Tidak mau! Hae tidak mau makan. Hae mau Hyukie!" jerit Donghae dan melempar barang-barang yang terjangkaunya ke arah Donghwa yang memegang piring makanan.
"Iya sayang, nanti hyung akan menghubungi Hyukie tapi kau makan dulu ya," pintanya memelas.
"Tidak mau! Hyukie… Hyukie…" Donghwa meremas rambutnya kasar. Bagaimana lagi caranya membujuk Donghae untuk makan? Demamnya belum turun sampai saat ini, keadaan itu bertambah buruk karena Donghae tidak mau makan dan minum obat. Adiknya itu tampak sangat pucat.
"Donghae ayo makan."
"Hyukie… Hyukie…" Donghae terus melempar barang-barang ke arah Donghwa dan terus menjerit.
.
Luna –salah satu maid di sana- segera berlari ke arah pintu saat mendengar suara bel. Begitu ia membuka pintu itu matanya membelalak. Ia menatap tak percaya pada seseorang di hadapannya ini.
"Hyukie, astaga. Kenapa kau bisa di sini?" Hyukjae yang saat ini berdiri di hadapan Luna, tersenyum. Wajahnya tampak lelah karena saat turun pesawat yang memakan waktu 12 jam itu ia langsung menuju kediaman Donghae.
"Ceritanya panjang. Di mana Donghae?" Luna menegang dan segera teringat keadaan tuan mudanya itu.
"Tuan muda Donghae mengamuk Hyukie, sekarang ia masih berada di kamarnya." Mendengar ucapan panik itu, Hyukjae langsung berlari menaiki tangga menuju kamar Donghae diikuti Luna di belakangnya. Ia langsung menuju pintu kamar Donghae yang terbuka. Ia berdiri mematung saat melihat barang-barang berserakan di lantai. Bisa ia lihat Donghae yang menjerit memanggil namanya dan terus membanting barang ke arah Donghwa. Tanpa basa-basi ia langsung berlari ke arah Donghae dan memeluknya dari belakang.
"Donghae hentikan, ini aku." Donghae tampak membeku sesaat dan langsung membalikkan badannya.
"Hyukie…" Donghae menangkup wajah Hyukjae dengan kedua tangannya dan menatap tidak percaya atas kehadiran gadis ini di hadapannya.
"Iya ini aku Hae." Tangis Donghae kembali pecah dan langsung memeluk Hyukjae erat.
"Hyukie… Hyukie… akhirnya Hyukie pulang. Hae rindu Hyukie." Hyukjae juga menangis dan membalas pelukan itu tak kalah erat. Bisa ia rasakan Donghae mencium pucuk kepalanya berulang kali.
Donghwa menatap tak percaya pada Hyukjae yang berada dihadapannya saat ini. Bagaimana bisa Hyukjae ada di sini dengan tiba-tiba? Ia memandang ke arah Luna yang mengangkat bahu padanya tanda tak tau.
"Donghae badanmu sangat panas, apa kau sudah minum obat?" Donghae menggeleng pelan dan menyusupkan kepalanya pada leher Hyukjae. Yang ia inginkan hanyalah Hyukjae. Ia tak butuh apa-apa lagi.
Hyukjae melepas pelukan erat Donghae perlahan dan mencium keningnya. Ia usap airmata Donghae dan tersenyum lembut. Senyum yang sangat dirindukan Donghae.
"Hae minum obat ya, tapi makan dulu. Biar kusuapi." Donghae kembali menarik pinggang Hyukjae dan memeluknya erat.
"Hae tidak mau makan. Hae hanya mau Hyukie." Ucapan Donghae di telinganya itu membuat wajah Hyukjae memerah.
"Jangan begitu Hae, kau harus makan dan minum obat agar cepat sembuh. Kalau Hae tidak sembuh nanti Hyukie sedih." Donghae mengeratkan pelukannya.
"Jangan sedih Hyukie, Hae mau makan kok. Hyukie jangan sedih ya?" ia tersenyum mendengar nada merajuk itu. Dilepaskannya pelukan itu perlahan. Ia melirik pada Donghwa yang masih menatap tak percaya ke arahnya. Ia tersenyum dan bergumam "Nanti kujelaskan," olehnya yang dijawab anggukan pada gadis manis itu. Hyukjae melihat makanan yang ada ditangan Donghwa. Pasti itu untuk Donghae. Tanpa menunggu lama ia menghampiri Donghwa dan mengambil piring yang penuh makanan itu.
"Donghae ayo makan." Hyukjae menarik Donghae duduk di tepi tempat tidur yang dituruti pemuda itu. Ia mulai menyuapi Donghae dengan telaten. Donghwa yang melihatnya tersenyum lega dan beranjak dari kamar itu.
"Ku tinggal dulu sebentar noona dan terimakasih sudah datang ke sini." Donghwa membungkuk sekilas dan langsung keluar kamar itu dengan senyum yang mengembang. Hyukjae tersenyum dan kembali menyuapi Donghae yang terus memandanginya intens, membuatnya bersemu merah.
"Ada apa?"
"Wajah Hyukie pucat dan tampak lelah. Hyukie sakit?" Tanya Donghae dengan wajah khawatir. Hyukjae menggeleng pelan, ia mengusap pipi Donghae.
"Aku hanya sedikit kelelahan, aku tidak apa-apa kok." Donghae merebut piring di tangan Hyukjae dan menyendokkan sesuap nasi, mengarahkannya pada gadis itu.
"Kalau begitu Hyukie juga harus makan, biar Hae suapi."
"Eh? Tidak usah Hae, Hae saja yang makan."
"Tidak ada penolakan." Ingin sekali Hyukjae mencubit pipi Donghae karena melihat pelototan yang terlihat imut itu yang tertuju padanya. Bermaksud mengintimidasi.
"Aigo~ baiklah." Dan berakhirlah mereka dengan acara suap-suapan yang dipenuhi canda tawa. Hyukjae menyenderkan kepalanya pada bahu Donghae yang kini bersender pada kepala tempat tidurnya setelah selesai makan. Donghae juga sudah minum obat.
"Hae aku merindukanmu."
"Nado Hyukie, Nado…"
"Maafkan aku karena tidak menghubungimu seminggu terakhir." Hyukjae memeluk pinggang Donghae dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang pemuda itu. Ia benar-benar merasa bersalah. Donghae mencium pucuk kepala Hyukjae.
"Tidak apa-apa Hyukie, yang penting Hyukie sudah di sini. Jangan pergi lagi." Hyukjae menggigit bibir resah. Bagaimana caranya mengatakan pada Donghae ia hanya 2 hari berada di sini? Hyukjae memejamkan matanya sebentar. Yang penting Donghae sembuh dulu sekarang.
Hyukjae yang kelelahan akhirnya terlelap dalam pelukan Donghae tanpa sadar. Tentu saja, perjalanannya sangat menguras tenaga.
"Hyukie?" donghae mengernyit karena tak mendapat sahutan. Ia melihat Hyukienya yang tengah terlelap dengan senyuman yang menawan. Diangkatnya tubuh Hyukjae dan dibaringkannya di tempat tidur. Donghae ikut berbaring di sampingnya dan mengusap-usap kepala gadis itu. Ia mulai bersenandung seperti Hyukjae dulu yang selalu bernyanyi untuknya sebelum tidur.
.
Donghwa dan Mr. Lee berdiri di depan pintu kamar Donghae. Mereka tersenyum melihat pemandangan manis di tempat tidur itu. Di mana Donghae dan Hyukjae tengah terlelap dengan saling memeluk.
"Syukurlah Hyukjae datang di saat yang tepat." Mr. Lee menghela nafas lega dan mengusap dadanya. Hatinya yang diliputi kegelisahan sedikit demi sedikit sudah mulai terangkat berkat kehadiran Hyukjae.
Donghwa mengangguk menaggapi ucapan appanya itu. Ia masih tak percaya dengan kehadiran Hyukjae yang tiba-tiba seperti ini.
"Tapi Hyukjae pasti hanya sebentar di sini. Kita juga harus memberi pemahaman pada Donghae nanti."
"Benar juga. Eh? Tapi kenapa appa bisa tau?" tanyanya heran. Ia alihkan pandangannya pada appanya itu.
"Appa sudah tau semuanya. Mengenai latar belakang Hyukjae, neneknya, Sora dan juga kehidupannya. Ayah Hyukjae adalah teman dekat appa semasa SMA dulu." Donghwa menatap tak percaya pada appanya itu. Jadi appanya itu sudah tau semuanya dan ia tak diberitau sama-sekali?! Ia menatap jengkel pada appanya yang tengah tersenyum jahil itu.
"Kenapa tidak memberitahuku?"
"Kau tidak bertanya."
"Aish!" donghwa tampak berpikir sebentar dan kembali melihat appanya.
"Appa, kalau boleh tau Sora itu sebenarnya apanya HYukjae noona?" ya, pertanyaan itu yang masih menghinggapi pikirannya sampai saat ini. Ia belum sempat bertanya pada Sora karena keadaan Donghae saat itu. Mereka bukan saudara kandung kan?
"Sora itu sebenarnya anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan. Hyukjae dan ibunya dulu sering sekali mengikuti kegiatan sosial, salah satunya memberikan donasi pada panti asuhan yang membutuhkan. Di sanalah mereka bertemu Sora. Hyukjae kecil yang saat itu sangat menyayangi Sora sebagai kakaknya meminta kepada ibunya untuk mengadopsi Sora. Ibunya setuju karena ia juga membutuhkan seseorang untuk menjaga dan mengajak main anaknya karena tubuhnya yang mulai sering sakit-sakitan."
"Jadi Sora noona itu anak angkat?"
"Ya begitulah." Donghwa mengangguk mengerti atas penjelasan appanya itu. Ia tak pernah mengira demikian karena wajah Sora dan Hyukjae itu mirip. Hanya saja Sora terlihat dewasa sedangkan Hyukjae tampak manis dan imut. Benar-benar kenyataan tak terduga.
.
"Kenapa memelukku terus Hae?" Hyukjae yang baru saja menghubungi Sora, terkekeh pelan pada Donghae yang sedari tadi terus mengikutinya dan memeluknya dari belakang. Donghae memberikan cengiran childishnya dan menggosok-gosokan wajahnya pada punggung Hyukjae.
"Hae kan masih kangen Hyukie~" Hyukjae mengusak rambut Donghae gemas. Syukurlah demam Donghae sudah turun dan semakin terlihat sehat saat ini.
"Hyukie juga masih kangen Hae kok hihi…" Donghae mengeratkan pelukannya dan menggoyang-goyangkan tubuh mereka berdua ke kanan dan ke kiri dengan riang. Membuat para maid yang menyaksikan mereka tersenyum bahagia.
"Aigo, akhirnya Haehyuk couple bersatu kembali. Aku sangat terharu." Luna mengusap matanya yang sudah berkaca-kaca dengan saputangan. Maid lainnya mengangguk meng-iyakan.
"Syukurlah Hyukie cepat kembali di saat yang tepat." Luna mengangguk ke arah Minnah.
"Ku harap tidak akan ada kesedihan lagi untuk tuan Donghae." Ucapan Shindong langsung di amini oleh yang lainnya.
.
"Hyukie~ Hae membuat lagu lagi untuk Hyukie." Donghae menyodorkan buku tulis yang sudah terisi coret-coretan yang tengah ia pegang itu pada Hyukjae.
"Benarkah? Mana-mana?" Hyukjae melihat buku itu lembar per lembar.
"Ini Hyukie~"
"Haru? Judulnya Haru?" Donghae mengangguk semangat. Tulisan di buku itu masih terlihat berantakan. Tidak ada not, hanya kata-kata yang belum selesai sepenuhnya tapi sudah terlihat. Donghae pandai membuat lagu dan ia akan dengan cepat menemukan nada untuk lagunya dan menyanyikannya di hadapan Hyukjae. Walaupun selama ini lagunya hanyalah lagu amatir dan terkesan seadanya. Tapi Hyukjae sangat senang saat Donghae dengan penuh semangat selalu mencoba membuat lagu untuknya. Itu sangat berharga.
"Itu lagu untuk Hyukienya Hae."
"Terimakasih banyak Hae. Aku sangat menyukainya. Belajarlah lebih giat lagi agar kau bisa menjadi lebih baik lagi. Aku percaya suatu saat kau bisa mencapai tujuanmu dan mendapatkan kebahagiaan yang melimpah."
"Kebahagiaan Hae adalah Hyukie." Donghae kembali memenjarakannya dalam pelukan hangat yang menuntut. Menghirup wangi rambut Hyukjae yang memabukkan.
"Hyukie wangi stroberi, Hae suka." Hyukjae makin menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Donghae.
"Hyukie saranghae~" Hyukjae tersentak dan langsung mendongak menatap Donghae.
Cup~
Donghae yang gemas langsung mencium bibir gemuk di depannya. Ia memejamkan matanya dan memperdalam ciumannya. Ia hanya mengikuti instingnya. Hyukjae melebarkan bola matanya. Ia tak mampu bergerak, ia serasa lumpuh. Menatap Donghae yang memejamkan matanya. Yang ia tau pada akhirnya ia memejamkan matanya dan membalas ciuman Donghae tak kalah lembut.
Membiarkan perasaan mereka mengalir begitu saja.
Apapun yang terjadi ke depannya biarlah terjadi. Mereka akan menghadapinya dengan hati yang kuat dan keikhlasan di setiap langkah mereka.
Sebelum badai menghadang pasti akan ada suasana tenang sebelumnya. Yang harus mereka lakukan adalah mempersiapkan segala sesuatunya sebelum badai itu datang.
To Be Continued
.
Hai~ akhirnya saya bisa update kilat juga. Ini kilat loh bagi saya.
Sedih deh karena ff ini sepertinya kurang banyak yang minat, yah memang ff ini gaje banget sih ya #pundungdipojokan
Ini udah ada fluffnya kan? Kasian kemaren Dongek saya siksa ampe sedemikan rupa :v
Tapi chap depan saya siksa lagi :v
Cuma mau kasih info, menurut pengetahuan saya yang cetek dan hasil ubek-ubek mbah gugel, penyandang kebutuhan khusus seperti ini biasanya jenius di suatu bidang tertentu dan kebanyakan di bidang non akademis. Jadi jangan heran kalau Donghae di sini pinter buat lagu. Karena biasanya tingkat kreatifitas penyandang syndrome ini lebih tinggi. Dan saya pernah baca di blog kalau pernah ada anak yang 'sembuh' dari syndrome ini dan dia jadi jenius. Serius saya pernah baca begitu #apasih.
Alurnya masih membingungkan kah? Sama, saya juga bingung :v
Mungkin 2 chapter lagi ff ini bakalan di en alias the end. Untuk chapter selanjutnya bakalan masih sangat lama. Saya mau istirahat dulu dan fokus cari kerja, mohon di maklum. Itu juga kalau ada yang nungguin nh ff sih.
Terimakasih bagi yang sudah setia mereview ff abal ini, review kalian penyemangat saya. Apalagi kalau reviewnya panjang, duh saya girang banget.
Okeh sekian cuap-cuap gak penting saya. Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya. Kalau masih ada yang kurang jelas silahkan pm saya :D
Saya mau baper-baperan lagi karena suami saya a.k.a Eunhyuk mau pergi sementara :'( #ditabokJewels
Bye~
Review?
