[REMAKE] Dating With The Dark by Santy Agatha

.

.

Main Cast:Luhan(GS), Oh Sehun.

Other Cast: Kris, Irene, etc.

Genre: Romance, Drama.

Rated:M

.

.

Don't Like, Don't Read

Sorry for Typo.

Happy Reading~

.

.


Chapter 4

.

.

Kau amat sangat mengingatkanku kepada seseorang." Kalimat Jongin itu menggantung di udara, membuat Luhan mengerutkan keningnya.

Apakah maksud Jongin dia mirip seseorang yang dikenal oleh Jongin?

"Mungkin itu hanya kebetulan." Luhan menjawab, mencoba memberikan senyuman profesional meskipun dia gugup setengah mati.

Jongin mengamati Luhan lagi, lalu mengangkat bahunya, "Mungkin juga." Gumamnya. Lalu menganggukkan kepalanya dengan sopan dan melangkah pergi.

Sementara itu Luhan menatap Jongin sampai menghilang di balik pintu, dan tersenyum senang. Irene pasti akan histeris kalau tahu bahwa Jongin menyapanya.

.

.

.

Dan benar. Irene berteriak histeris ketika Luhan menceritakan sapaan Jongin yang terakhir tadi.

"Dia menyapamu? Dia benar-benar menyapamu?" Irene berucap dengan nada tinggi, hingga Luhan harus menyenggolnya karena semua orang di kantin itu menolehkan kepalanya kepada mereka.

"Dia bilang aku amat sangat mengingatkannya kepada seseorang. " Luhan merenung sambil menopang dagu, "Dan dia menekankan kepada kata 'amat sangat', bukan hanya biasa-biasa saja."

"Mungkin kau mirip dengan mantan pacarnya." Irene mulai berimajinasi, "Mungkin dia kemudian memutuskan mendekatimu, dan dalam waktu enam bulan Jongin di sini kau bisa mengambil hatinya, bayangkan seorang staff biasa bisa merengkuh hati orang dengan jabatan paling tinggi di perusahaan, itu seperti kisah Cinderella."

"Dan kisah Cinderella semacam itu kebanyakan sangat jarang terjadi." Sela Luhan cepat.

"Siapa bilang?" Irene tersenyum penuh arti, "Sangat jarang belum tentu tidak terjadi bukan? Apakah kau tahu siapakah Zhang Yixing, ibu dari Jongin dan isteri dari Kim Junmyeon? Dia dulu staff biasa di perusahaan Junmyeon, dan kemudian dia bisa menjadi isteri Kim Junmyeon."

"Dari kisah yang aku dengar, Kim Junmyeon sangat mencintai isterinya, dia yang dulu seorang playboy langsung bertekuk lutut." Luhan tersenyum, dia selalu senang membahas kisah percintaan bos mereka yang ada di kantor pusat, karena menurutnya kisah cinta itu luar biasa indahnya. Perkawinan mereka terbukti bertahan dengan kokoh dan menghasilkan dua anak yang luar biasa, Jongin salah satunya.

"Nah... mungkin saja Jongin akan mengikuti jejak ayahnya, mencintai perempuan biasa-biasa saja, alih-alih menikahi pacar-pacarnya yang model dan dari kalangan jetset itu. Mungkin saja kita bisa menjadi Yixing berikutnya."

"Jangan bermimpi." Luhan tersenyum, "Kim Jongin luar biasa tampannya, hingga hampir mendekati malaikat, hanya perempuan luar biasa yang bisa menjadi pasangannya." Luhan memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan dari pembahasan mereka tentang Jongin, karena kalau dibiarkan, Irene yang antusias tidak akan berhenti, "Aku akan menelepon Kris."

"Oh ya ampun, jadi belum kau lakukan?"

Luhan menghela napas panjang, "Belum. Tadi aku sibuk." Luhan berkelit, membuat Irene mencibir.

"Lakukan sekarang, sebelum kau berubah pikiran." Perempuan itu lalu berdiri, "Aku akan kembali ke ruangan, Mr. Jongdae sedang uring-uringan, bisa-bisa aku disemprot kalau tidak kembali ke kantor tepat waktu."

Luhan mengangguk tetapi setelah Irene berlalupun, dia masih menekuri ponselnya dan memandanganya ragu.

Luhan merindukan Kris... dan jauh di dasar hatinya ada rasa sakit karena menyadari bahwa Kris tidak merasa perlu untuk menghubunginya. Bukankah kalau dia ada di benak Kris, lelaki itu akan menghubunginya dan memberi kabar?

Haruskah dia menelepon Kris duluan?

Luhan menghela napas panjang, kemudian jemarinya memijit nomor ponsel Kris, nomor yang amat sangat dihapalnya karena beberapa kali dia mencoba menelepon tetapi kemudian menahan dirinya.

.

.

.

"Halo?" Suara Kris diseberang sana menohok kerinduan Luhan, "Luhan?" lanjut Kris ketika melihat nomor peneleponnya.

Luhan tanpa sadar menganggukkan kepalanya meskipun Kris tidak bisa melihatnya, "Ya ini aku. Kau.. kau lama tidak ada kabar, aku mencemaskanmu, bagaimana keadaanmu, Kris?"

Hening agak lama, seakan Kris kehabisan kata-kata untuk menjawab.

"Aku baik-baik saja." Suara Kris tertelan dalam dan tampak sedih, membuat Luhan cemas.

"Apakah saudaramu baik-baik saja? Bagaimana kondisinya?"

"Saudara?" dari nada suaranya, Luhan menduga Kris sedang mengernyitkan kening di sana.

"Saudaramu... yang katanya sakit dan sedang kau tengok itu?" Tanya Luhan pelan, mencoba mengingatkan Kris, lelaki itu entah kenapa nada suaranya terdengar enggan dan tidak fokus, apakah telepon Luhan mengganggunya?

"Oh itu..." Kris menghela napas panjang, "Saudaraku baik-baik saja."

"Jadi dia sudah sembuh, syukurlah." Luhan ikut-ikutan menarik napas panjang, lega. "Jadi kapan kau pulang?" jawaban atas pertanyaan itu amat sangat diinginkan oleh Luhan, dia ingin Kris pulang... dia merindukan lelaki itu. Kebersamaan mereka selama beberapa lama itu telah mengisi kekosongan dalam hidup Luhan dan dia menginginkannya kembali.

Tetapi sepertinya jawaban Kris tidak sesuai dengan keinginannya karena lagi-lagi, Kris memilih tidak menjawab dan menciptakan suasana hening di antara mereka.

"Kris?" Luhan memanggil, memastikan bahwa sambungan telepon mereka baik-baik saja.

Lagi. Terdengar Kris menghela napas panjang, lalu lelaki itu menjawab, sebuah jawaban yang menyambar Luhan dengan menyakitkan, bagaikan sambaran petir yang tiba-tiba menyerangnya,

"Aku tidak akan kembali Luhan, tolong jangan menghubungiku lagi."

Lalu telepon diputuskan. Lama Luhan termenung dengan ponsel ditelinganya, menyisakan bunyi tut..tut.. tut yang konstan, yang bahkan tidak disadarinya.

Aku tidak akan kembali, tolong jangan menghubungiku lagi... Aku tidak akan kembali tolong jangan menghubungiku lagi... Aku tidakakan kembali...

Jawaban Kris itu terngiang-ngiang di benaknya, dan ketika akhirnya Luhan bisa menerima maksudnya, bibir Luhan bergetar dan matanya berkaca-kaca.

Apakah ini maksudnya Kris telah mencampakkannya? Mungkinkah kedekatan mereka selama ini tidak ada artinya bagi Kris? Mungkinkah Luhan yang terlalu memiliki mimpi romantis tentang Kris?

Tak dapat ditahankannya, air mata mengalir di pipi Luhan, dia meletakkan ponsel itu dan menggigit bibirnya.

Mungkin memang kisah cinta romantis bukanlah hal yang akan dialaminya. Mungkin Luhan akan selalu berakhir sendirian... tanpa siapapun yang mencintainya.

Luhan menggelengkkan kepalanya dan mengusap airmatanya. Disingkirkannya seluruh pikiran yang menghancurkan hatinya itu. Tidak! Luhan tidak boleh menangis. Kalau memang bagi Kris dia tidak berarti, Luhan tidak akan membuang-buang air matanya untuk lelaki itu!

.

.

.

"Kenapa kau lakukan itu?" atasannya bergumam, mengamati Kris yang menutup pembicaraan dengan kasar. "Kau akan melukai hatinya."

"Itu lebih baik." Kris meringis, "Kurasa strategiku untuk mendekatinya salah, aku lebih baik mengawasinya dari kejauhan." Gumam Kris, menghela napas panjang lalu duduk merosot di kursinya, di depan meja kerja atasannya.

Atasannya, yang selama ini selalu menjadi lawan bicaranya ditelepon-telepon misteriusnya mengangkat sebelah alisnya,

"Kau bilang dulu, itu adalah salah satu cara yang efektif... menjadi orang yang paling dekat dengannya akan membuatmu lebih mudah dengannya, tentu saja dengan catatan bahwa kau bersikap profesional dan tidak melibatkan perasaanmu." Tatapan sang atasan berubah spekulatif, "Apakah kau telah melanggar peraturan itu?"

Kris meremas rambutnya gusar, "Aku merasa aku mencintainya. Aku merasaakan ada harapan untuk kami, nanti ketika semua permasalahan sudah dibereskan... tetapi berkas-berkas yang kau serahkan ini..." Kris mengernyit kepada berkas-berkas yang dihamparkan atasannya di mejanya. Atasannya memanggilnya kemari karena berkas-berkas ini, hasil penyelidikan mereka yang terakhir dan mengungkap sesuatu yang sama sekali tidak terduga sebelumnya.

"Berkas-berkas ini merubah segalanya?" atasannya melanjutkan, menatap Kris dengan menyesal, "Maafkan aku harus menghamparkan ini dihadapanmu."

Kris menghela napas panjang, tampak kesakitan, "Tak apa... setidaknya aku bisa mundur sebelum melangkah lebih jauh. Dan setidaknya, kita tahu arti dari simbol sembilan lilin berwarna biru itu." Sambil berusaha melupakan rasa sakit hatinya, Kris memajukan tubuhnya dan menatap atasannya dengan serius, "Jadi seluruh rencana kita harus dirubah, sang pembunuh bagaimanapun juga akan muncul."

"Ya. Aku yakin dia akan mengambil Luhan pada akhirnya. Dan Luhan tidakboleh diambil, tidak sampai kita memastikan tentang dugaan kita. Tugasmu adalah selalu siap sampai saat itu terjadi, jangan sampai lengah."

Kris tercenung. Dia tidak akan lengah. Meskipun sekarang hatinya terasa sakit, sakit luar biasa, bahkan hanya dengan membayangkan Luhan dia merasa dadanya diremas-remas menyakitkan. Kris bersumpah akan menyembuhkan hatinya itu dan menjalankan tugasnya tanpa perasaan lagi.

.

.

.

"Dia memang mengundurkan diri kemarin." Irene yang kebetulan bisa mengakses data karyawan membelalakkan mata tak percaya dengan data yang ditemukannya di komputernya. Luhan barusan menemuinya, dengan mata sembab meskipun tidak menangis lagi. Dan dari cerita Luhan, hanya ada satu hal, Kris mencampakkan Luhan setelah memberinya harapan, dan itu adalah satu hal paling tak termaafkan yang pernah dilakukan laki-laki kepada seorang perempuan.

Luhan mengamati layar komputer Irene, dan melihat nama Kris di sana. Mengundurkan diri dari kantor kemarin, dan efektif per tanggal satu.

Jadi itu maksudnya bahwa Kris tidak akan kembali? Bahwa lelaki itu meninggalkannya begitu saja, tanpa penjelasan?

"Kenapa dia melakukan ini kepadaku, Irene?" suara Luhan bergetar, membuat Irene mendengus karena sahabatnya dilukai.

"Karena dia lelaki bodoh dan pengecut." Irene bergumam ketus, "Jangan habiskan airmata dan hatimu untuk memikirkannya, Lu, hanya akan membuatmu sakit."

Luhan menghela napas panjang. Mudah memang untuk dikatakan, tetapi bahkan sampai beberapa jam lalu, Luhan masih tersenyum ketika mengenang kebersamaannya dengan Kris, dan sekarang dia dihadapkan dengan kenyataan yang bisa dibilang amat sangat menghancurkan hatinya. Luhan bahkan tidak henti-hentinya bertanya-tanya kenapa Kris melakukan itu kepadanya...

.

.

.

Jongin tampaknya akan menerima kedatangan tamu penting mereka, Cho Kyuhyun di ruangannya. Kabar itu berhembus karena sejak pagi tadi di kantor terjadi kesibukan, banyak orang lalu lalang menyiapkan segala sesuatunya.

Yah. Luhan masih teringat lelaki tua itu, yang membawa serentetan pengawal pribadi berpakaian sama dengan wajah datar yang sama seperti robot. Kontrak dengan Kyuhyun adalah kontrak yang paling sukses yang pernah dilakukanoleh cabang mereka, karena itulah kehadiran Kyuhyun di kantor ini untuk menemui Jongin sangatlah penting.

Mr. Minho, atasan langsung Luhan sendiri tampak begitu sibuk. Luhan melihat tubuh gempal lelaki itu mondar-mandir di dalam ruangannya, kadang kala sibuk menelepon seseorang, kadang kala tampak mencari-cari berkas. Sampai kemudian, lelaki itu keluar dari ruangannya,

"Luhan?" Lelaki itu memanggil, membuat Luhan seketika berdiri,

"Ya, Tuan?"

"Kemari sebentar."

Sambil merapikan roknya, Luhan melangkah dan memasuki ruangan Mr. Minho. Lelaki itu sudah duduk di balik mejanya dan mempersilahkan duduk ketika Luhan berdiri di ambang pintu.

"Duduklah." Mr. Minho masih tampak sibuk melihat berkas-berkasnya, lalu ketika Luhan sudah duduk dia menautkan jemarinya dan menopangkannya didagunya, "Kita kedatangan tamu penting hari ini..."

Luhan menganggukkan kepalanya, menunggu kelanjutan dari kalimat Mr. Minho yang menggantung.

"Dan kau dulu yang bertugas menemui Tuan Kyuhyun untuk penandatanganan kontrak, jadi aku pikir aku akan membawamu menghadiri meeting penting nanti siang."

Dia? Ikut ke meeting penting direksi?

"Baik, Tuan." Luhan menganggukkan kepalanya gugup. Sementara itu Mr. Minho tampak puas,

"Oke kalau begitu, siapkan berkas-berkas yang berhubungan dengan kontrak kerjasama kita dengan Tuan Kyuhyun, kita ke ruang meeting di lantai atas nanti jam dua siang."

Luhan sekali lagi mengangguk patuh, lalu berdiri dan berpamitan, melangkah kembali keluar ruangan. Beberapa langkah sebelum mencapai pintu, Mr. Minho kembali memanggilnya, kali ini suaranya terdengar ragu-ragu,

"Luhan?"

Luhan menolehkan kepalanya dan membalikkan tubuhnya, "Ada apa, Tuan?

Atasannya itu menatapnya ingin tahu, "Apakah kau mengenal Tuan Kyuhyun sebelumnya? Atau kau ada koneksi dengannya?"

Luhan mengernyitkan keningnya, pertanyaan apa itu? Dia langsung menggelengkan kepalanya,

"Tidak, Tuan, saya belum pernah bertemu dan mengenal Tuan Kyuhyun sama sekali sebelum penandatanganan kontrak itu."

Mr. Minho mengerutkan keningnya, membuat Luhan bingung, tetapi lalu lelaki itu mengibaskan tangannya, "Oke kalau begitu, pergilah."

Dan Luhan pun melangkah pergi, meninggalkan ruangan lelaki itu.

Sepeninggal Luhan, Mr. Minho masih merenung bertanya-tanya dalam benaknya. Luhan tidak mengenal Mr. Kyuhyun sebelumnya dan tampaknya memang tidak ada sesuatupun yang bisa membuat mereka terkoneksi... tetapi masihdiingatnya dengan jelas waktu itu, Mr. Kyuhyun jelas-jelas meminta secara spesifik bahwa Luhan sendirianlah yang harus dikirimkan untuk penandatanganan kontrak di cafe itu... itu benar-benar permintaan yang sangat aneh, tetapi mereka menurutinya karena perjanjian dengan Mr. Kyuhyun amat sangat penting. Dan sekarang, melalui pesankhususnya, Mr. Kyuhyun mengatakan menginginkan Luhan hadir di dalam meeting mereka nanti...kenapa?

Mr. Minho merenung, berusaha memecahkan misteri itu, tetapi tetap saja dia tidak menemukan jawabannya.

.

.

.

Mereka berkumpul di sekeliling meja meeting yang sangat besar itu, menunggu kedatangan Mr. Kyuhyun yang sedang disambut oleh Jongin di lobby. Luhan duduk di sebelah Mr. Minho dan bertanya-tanya, apakah Mr. Kyuhyun yang eksentrik itu akan datang membawa sepasukan pengawalnya lagi? Sama seperti ketika di cafe waktu itu?

Pertanyaan Luhan langsung terjawab ketika pintu itu terbuka dan Jongin masuk bersama Mr. Kyuhyun. Dan... seperti yang dibayangkan oleh Luhan, beberapa pengawalnya, kali ini hanya sekitar delapan orang, tidak sebanyak ketika di pertemuan cafe waktu itu, dengan pakaian yang sama persis dan ekspresi datar yang sama, masuk dan mengikuti di belakangnya.

Semua anggota meeting itu saling melempar pandangan kaget karena lelaki itu membawa begitu banyak pengawal, sementara Luhan mengamati roman muka Jongin yang tampak setengah geli. Jongin dan Kyuhyun akhirnya duduk di kepala meja,

"Senang kita semua bisa berkumpul di sini, jadi mari kita mulai meetingnya." Jongin membuka meeting hari ini dan mulailah pembahasan ke hal-hal yang teknis menyangkut keputusan strategis perusahaan. Luhan semula bisa mengikuti, tapi lama-lama pembahasan berada di luar hal-hal yang dikuasainya dalam pekerjaannya sebagai staff, dia mencuri-curi pandang ke arah Mr. Kyuhyun, tetapi lelaki itu bersikap seolah tidak mengenalinya. Dalam hatinya Luhan merasa cemas kalau-kalau Mr. Minho menganggap bahwa kehadirannya di ruang meeting adalah hal yang sia-sia.

Luhan mencoba berkonsentrasi mengikuti pembicaraan tingkat tinggi itu, tetapi kemudian dia merasa dirinya sedang diawasi. Salah satu pengawal itu mengawasinya!

Luhan memberanikan diri untuk menatap ke arah pengawal Mr. Kyuhyun, dan seketika dia terkesiap, untunglah dia berhasil menahan diri tepat padawaktunya.

Salah satu pengawal Mr. Kyuhyun itu adalah penolong misteriusnya dimalam itu...

Luhan membelalakkan matanya mengamati lelaki itu, dan lelaki itu rupanya juga mengenali Luhan, seulas senyum muncul di bibirnya, dan dia mengedipkan matanya... mengedipkan matanya!

Sekarang di tempat terang Luhan bisa mengamati lelaki itu sepenuhnya,dan ternyata meskipun sama-sama berwajah dingin seperti pengawal yang lainnya, penolong misteriusnya tampak berbeda, dia begitu tampan dengan rambutnya yang dibiarkan menyentuh kerah, dan mata cokelatnya yang gelap. Wajahnya begitu klasik seperti lukisan dewa-dewa Yunani di masa dulu...

Lelaki itu tersenyum, menyadari sepenuhnya kalau Luhan mengamatinya dan mengagumi ketampanannya, dia menganggukkan kepalanya kepada Luhan dan tatapan matanya seperti sebuah janji. Luhan tiba-tiba teringat kalau mantel lelaki itu masih ada di rumahnya. Dalam hatinya dia berjanji kalau dia akan menanyakan nama lelaki itu nanti dan bagaimana cara menghubunginya, karena dia harus mengembalikan mantel lelaki itu.

Sambil melempar senyum gugup, Luhan membalas anggukan kepala lelaki itu, lalu mengalihkan pandangan, berusaha berkonsentrasi kepada pembahasan meeting yang sedang berlangsung itu. Tetapi kali ini rasanya luar biasa sulitnya, karena dia menyadari ada mata yang sedang mengawasinya tanpa malu-malu, mata penolong misteriusnya itu.

Meeting itu terasa begitu lama, hingga akhirnya Jongin menutup pembahasan. Mereka sudah menentukan langkah strategis untuk proyek berikutnya dan akan melaksanakan trial di lapangan dulu sebelum memutuskan sistem mana yang dianggap paling baik.

Jongin bersalaman dengan Mr. Kyuhyun, lalu lelaki itu mengucapkan salam dan berpamitan kepada semuanya. Dan kemudian lelaki itu pergi diikuti oleh pengawal-pengawalnya.

Luhan panik. Dia harus mengejar penolong misteriusnya itu, tetapi saat ini Mr. Minho atasannya belum juga beranjak pergi, dia masih membahas beberapa masalah dengan Jongin, amat sangat tidak sopan kalau Luhan berdiri duluan. Tetapi kalau Luhan tidak segera pergi dia akan kehilangan jejak penolong misteriusnya itu.

Lama Luhan menunggu, tetapi Mr. Minho tidak juga beranjak berdiri. Akhirnya Luhan nekat,

"Mr. Minho." Jantungnya berdebar karena menyela percakapan atasannya dengan pemimpin tertinggi mereka. "Saya...eh...saya perlu ke belakang."

Mr. Minho menganggukkan kepalanya, sementara Luhan merasa Jongin mengawasinya dengan tatapan mata tajam.

"Oke Luhan, kau boleh sekalian kembali ke ruanganmu, terimakasih atas kehadiranmu."

Seketika itu juga, sambil berpamitan tergesa, Luhan pergi dan meninggalkan ruangan meeting itu, tentu saja dia tidak kembali ke ruangannya,melainkan menuju lift dan cepat-cepat menuju lobby, berharap rombongan Mr. Kyuhyun belum pergi dari kantor itu.

Ketika sampai di lobby, dada Luhan langsung dipenuhi kekecewaan ketika menyadari suasana lobby yang lengang, rombongan Mr. Kyuhyun sudah tidak ada.

"Mencari siapa Luhan?" Yeri, resepsionis kantor yang ramah itu menyapanya. Kebetulan Luhan mengenal Yeri karena mereka sering satu bus dalam perjalanan pulang.

Luhan menatap keluar kantor dengan gugup, "Apakah rombongan Mr. Kyuhyun sudah pergi?"

Yeri menganggukkan kepalanya, "Mereka baru saja pergi." Senyumnya tampak takjub, "Aku bertanya-tanya apakah Mr. Kyuhyun itu punya begitu banyak musuh sampai-sampai dia merasa perlu untuk membawa pengawal sebanyak itu."

Yeri masih berkata-kata selanjutnya, tetapi Luhan sudah tidak mendengarkannya lagi, batinnya dipenuhi dengan kekecewaan... Rombongan Mr. Kyuhyun sudah pergi... dan penolong misteriusnya juga sudah pergi. Luhan mungkin membutuhkan keajaiban untuk bisa bertemu dengan lelaki itu lagi... atau mungkinkah lelaki itu akan menghubunginya nanti? Toh, dia sudah tahu kalau Luhan bekerja di kantor ini bukan? Luhan mencoba menghibur dirinya, tetapi tetap saja kesadaran bahwa begitu kecil kemungkinan untuk mengenal penolong misteriusnya membuatnya merasa kecewa. Setelah bergumam kepada Yeri bahwa dia akan kembali ke ruangannya, Luhan berjalan lunglai ke arah lift.

"Kuharap kau kemari untuk mengejarku." Suara lelaki itu membuat Luhan hampir terlompat kaget. Dia memekik dan menolehkan kepalanya, dan langsung menatap penolong misteriusnya, entah sudah berapa lama lelaki itu berdiri disana.

Lelaki itu sangat tinggi, seperti yang diingat oleh Luhan, dan lebih tampan ketika dilihat dari dekat. Tiba-tiba pipi Luhan memerah, dia tidak tahu sudah berapa lama lelaki itu berdiri di sana, pasti dia melihat kalau Luhan mengejarnya dengan panik tadi.

"Ya... aku...aku mencarimu, mantelmu..." napas Luhan tiba-tiba terengah entah kenapa, "Mantelmu masih ada di aku."

Lelaki itu terkekeh, kemudian mengulurkan tangannya.

"Betapa tidak sopannya aku karena tidak mengenalkan diri waktu itu, aku Oh Sehun."

Luhan pernah mendengar salah satu keluarga penting berdarah campuran Korea-Italia yang terkenal dengan nama itu. Apakah Sehun salah satu diantaranya, ataukah kesamaan nama itu hanyalah kebetulan saja?

"Luhan." Luhan membalas uluran tangan Sehun dan kemudian merasakan lelaki itu meremas jemarinya dengan lembut, baru kemudian melepaskannya.

"Sungguh perjumpaan yang tidak disangka, butuh waktu lama untuk meyakinkan diri bahwa kau adalah perempuan yang kutolong waktu itu. Bagaimana keadaanmu?, kuharap perjalanan pulangmu waktu itu lancar." Sehun berbohong dengan lancarnya sementara matanya melahap keseluruhan diri Luhan dengan penuh minat. Untungnya dia berhasil menyembunyikan tatapannya itu dibalik ekspresi wajah datar dan tak terbaca.

"Iya... aku sungguh-sungguh tak menyangka." Luhan melepas senyumnya, tiba-tiba merasa takjub akan kebetulan itu, "Aku sangka aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi."

Sehun membalas senyumnya dengan senyuman tipis dan tak terbaca,"Kurasa kita akan sering bertemu nantinya, Luhan." Lalu lelaki itu melirik jam tangannya, "Aku harus pergi."

"Eh?" Luhan menatap Sehun yang sudah setengah membalikkan tubuhnya dengan bingung, "Tapi... tapi aku tidak tahu cara menghubungimu, aku harus mengembalikan mantelmu."

Lelaki itu menatap Luhan dengan tatapan misterius, "Aku yang akan menghubungimu nanti."

"Tapi aku belum memberimu nomor kontakku?"

Wajah lelaki itu sebelum membalikkan tubuhnya tampak penuh rahasia,

"Tenang saja, aku punya banyak koneksi. Sementara itu, usahakan jangan lagi menunggu kendaraan umum sendirian malam-malam."

Dan kemudian lelaki itu melangkah pergi keluar lobby, masuk ke dalam mobil hitam legam yang sudah menunggunya disana.

Sementara itu Luhan masih berdiri di sana, menatap hingga mobil itu hilang dari pandangan.

.

.

.

"Jadi kau ditolong oleh salah satu pengawal Mr. Kyuhyun? Sungguh kebetulan yang menyenangkan. Apakah dia tampan?" Irene langsung bertanya sambil mengunyah kentang gorengnya. Mereka memutuskan untun menonton film sepulang kerja tadi karena Irene ingin mendengarkan seluruh cerita tentang Jongin yang tampan, tetapi kemudian Luhan mengalihkan pembicaraannya dan mulai membahas tentang Oh Sehun.

"Dia sangat tampan, dan menyimpan aura misterius." Luhan menghela napas panjang, "Aku bersyukur lelaki itu kebetulan berada di sana waktu itu. Gerombolan berandal itu, sangat menakutkan, bahkan pemimpinnya sempat mencengkeram pergelangan tanganku dengan kasar, menimbulkan memar sesudahnya." Luhan menunjukkan bekas memar yang sudah memudar itu.

Irene ikut begidik membayangkan apa yang dialami oleh Luhan, "Besok-besok kalau kau sedang lembur pulang malam, telepon aku, dengan senang hati aku akan menemanimu, toh tidak ada yang bisa kulakukan di apartemenku sendirian."

Irene memang tinggal sendirian di kota ini, dalam sebuah apartemen, dia sepertinya kesepian karena katanya kedua orangtua dan seluruh keluarganya berada jauh di luar kota, Luhan sendiri adalah sahabatnya yang paling dekat, dan karena Luhan juga sebatang kara di dunia ini, mereka sering melewatkan waktu bersama-sama.

"Yah, dan aku belum mengembalikan mantelnya, tetapi dia bilang akan menghubungiku nanti." Luhan melamun, mengingat adegannya tadi siang dengan Sehun, sang penolong misteriusnya.

Irene langsung terkekeh, "Jangan-jangan mantel itu dijadikannya alasan untuk mengubungimu dan mengenalmu lebih dekat."

Luhan menggelengkan kepalanya, "Itu tidak mungkin. Lagipula lelaki seperti dia tidak akan melirikku."

"Kau terlalu memandang rendah dirimu sendiri, kau itu cantik, Lu, hanya saja kau tidak pernah menyadarinya."

"Tetapi sepertinya tidak ada minat lebih darinya untukku, kurasa dia hanya menginginkan mantelnya kembali." Luhan menghela napas panjang, "Lagipula aku tidak tertarik dengan lelaki manapun setelah kejadian dengan Kris."

Irene langsung menatap prihatin akan wajah Luhan yang muram, dia ikut menghela napas panjang,

"Aku ikut menyesal tentang Kris, tetapi lelaki seperti dia yang membuangmu begitu saja tanpa penjelasan tidak pantas dipikirkan, Lu, kau hanya akan membuang-buang waktumu."

Luhan menganggukkan kepalanya, "Aku mencoba kuat, tetapi sepertinya tidak semudah itu." Mata Luhan tampak sedih ketika kesakitan yang ditahankannya itu seolah menekan dadanya, "Tetapi aku akan berusaha. Apa yang dilakukan Kris kepadaku sangat kejam. Dan dia memang tidak layak untuk dipikirkan."

Bicara memang mudah. Luhan membatin dalam hatinya. Tetapi jauh di dalam jiwanya, masih menangis pedih. Pedih karena Kris menghancurkan hatinya begitu saja setelah melambungkannya sedemikian tingginya."

.

.

.

Luhan pulang ke rumah mungilnya dan langsung melangkah menuju dapur. Dia menatap mantel hitam milik Sehun yang tergantung rapi di sana, dekat mesin cuci, tadi dia sudah menitip untuk mengirimkan mantel itu ke laundry kepada tukang bersih-bersih rumahnya yang datang berkunjung secara rutin seminggu sekali.

Rupanya mantel itu sudah selesai di laundry dan sekarang tergantung dengan manis di sana. Luhan mendekatinya dan entah kenapa dia tidak bisa menahan diri untuk menelusurkan jarinya ke mantel itu.

Sayangnya proses laundry telah menghilangkan aroma kayu-kayuan dan musk yang melingkupi mantel itu. Berganti dengan aroma pengharum pakaian dengan nuansa bunga-bungaan.

Lalu seperti sudah diatur waktunya, ponsel Luhan berbunyi, dia mengernyit ketika mendapati nomor asing di sana. Luhan biasanya tidak pernah mengangkat nomor asing yang meneleponnya, tetapi dia mengingat kalau Sehun mengatakan akan menghubunginya. Luhan tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya, dia masih patah hati karena perlakukan Kris kepadanya, tetapi Sehun bagaimanapun juga seperti menebarkan aura magnet yang memaksa pikiran Luhan tertuju kepadanya. Apakah itu memang karena Luhan tertarik kepada Sehun sejak lelaki itu menyelamatkannya, ataukah hanya karena pelariannya akan sakit hatinya kepada Kris, Luhan tidak tahu.

Dengan penuh antisipasi Luhan mengangkat ponselnya, "Halo?"

"Luhan?" itu suara Kris, "Maafkan aku. Aku harap kau masih mau bertemu denganku, aku ingin menjelaskan semuanya."

Jemari Luhan yang memegang ponselnya gemetaran.

Kris! Kenapa Kris menghubunginya lagi?

.

.

.

TBC


Haaiiii~~ Minal Aidzin Walfaidzin semuanyaaaa~~

Gomawo buat yang sempetin baca dan review :*

See youuu~~