Syndrome

By: Kei Tsukiyomi

.

^-^v

.

.

Author's Note: Maaf bila chap ini aneh dan membosankan. Mau kasih penjelasan sedikit. Maaf kalau chap-chap sebelumnya membuat bingung dan tidak nyaman. Di sini saya menggunakan kata "Ayah dan Ibu" untuk orangtua Hyukjae dan "Appa dan Umma" untuk orangtua Donghae. Saya sadar saat membaca chap sebelumnya kalau saya menggunakan kata yang tidak konsisten. Sekali lagi saya mohon maaf atas ketidaknyamanan ini.

Oh iya, di sini mungkin ada yang bingung Donghae kan idiot /ditendang/ kok gak kayak penyandang kebutuhan khusus yang lain sih, cenderung biasa aja. Gini, jadi Donghae di ff ini tuh penyandang retardasi mental tahap sedang. Jadi kalau komunikasi sih lancar-lancar aja, Cuma emang agak lambat dan sifatnya kayak anak kecil. Tau film india Koi Mil Gaya? Nah karakter Donghae kayak Rohit di film itu.

Jelas ya?

Yaudah langsung aja, happy read~

Warning: AU, OOC, Typos, GS, ini Cuma FIKSI, dll DLDR!

Pair: Haehyuk.

Disclaimer: Milik Tuhan YME.

^-^v

.

.

"Ibu aku pulang~"

"Jangan berteriak seperti itu, bocah! Kau fikir ini hutan?!" gadis kecil bernama Lee Hyukjae yang baru saja berteriak lantang di depan pintu yang terbuka lebar sontak terdiam mendengar sindiran sinis dari neneknya yang tengah menyeruput teh gingseng di sofa besar di ruang tamu tak jauh dari posisi Hyukjae. Gadis kecil itu mengusap pipinya dan menunduk malu.

"Maaf Nenek." Hanya tatapan sinis yang membalasnya.

"Hyukie sayang, kau sudah pulang nak?" suara halus yang menyapa indra pendengaran membuat Hyukjae menoleh dan tersenyum lebar memperlihatkan gusi indahnya. Kaki kecilnya berlari dan langsung melompat ke pelukan sang ibu dengan cekikikan ceria. Sang ibu tertawa halus begitu anak tersayangnya berada dalam gendongannya. Mencium pipinya, Hyukjae tertawa senang.

"Ibu aku punya sesuatu untuk ibu." Gadis kecil itu merogoh tasnya, mengacak isinya sebentar sebelum memperlihatkan pada sang ibu.

"Taraaa~ ini bunga untuk ibuku sayang~ tadi Hyukie membuatnya di sekolah bersama teman-teman," jelasnya dengan senyum yang tak pernah luntur dari wajah imutnya.

"Kau yang membuatnya? Untuk ibu?" Hyukjae mengangguk semangat.

"Terimakasih sayang." Ibu Hyukjae melihat prakarya anaknya dengan gembira. Itu sebuah bunga buatan yang terbuat dari sedotan dan bahan-bahan sederhana yang lainnya. Anaknya sungguh pintar. Dia sungguh bangga dengan anaknya. Hyukjae menggoyang-goyangkan kakinya meminta turun dan dituruti oleh ibunya. Kaki mungil Hyukjae melangkah mendekati neneknya yang memasang wajah datar. Dengan malu-malu Hyukjae mengulurkan tangannya yang memegang bunga buatan pada sang nenek.

"Ini untuk nenek. Kata ibu guru, aku harus memberikan bunga ini pada orang yang kusayang. Aku juga sayang nenek." Wanita berumur itu terdiam sejenak dengan bola mata sedikit melebar begitu melihat senyum gusi bocah kecil yang menyodorkan bunga berwarna putih padanya. Tampak begitu tulus. Ia memasang tampang datar dan segera berlalu dari ruangan dengan angkuh tanpa mengambil bunganya. Meninggalkan gadis kecil yang menatapnya berkaca-kaca.

"Hiks… nenek tidak sayang padaku. Nenek benci aku." Ibu Hyukjae segera berlutut di depan anaknya. Jemarinya menghapus airmata yang berlinang di pipi buah hatinya dengan lembut.

"Tidak begitu sayang. Nenek sayang padamu. Mungkin nenek tidak suka bunga berwarna putih. Lain kali coba buat sesuatu yang lain dan tunjukkan pada nenekmu. Mungkin beliau akan suka."

"Benarkah?"

"Iya, sayang. Nah sekarang ayo ganti baju dan kita makan."

"Baikk~"

Tanpa mereka sadari, sang nenek mendengarkan percakapan mereka di balik dinding dengan raut wajah datar dan segera berlalu dari sana.

.

.

Suara ketukan pintu menyadarkan sang nenek dari lamunan panjangnya. Ia alihkan pandangannya dari bingkai foto keluarga anaknya. Menemukan asistennya berdiri di ambang pintu.

"Maaf nyonya. Keluarga tuan Horvejkul telah tiba. Mereka sudah menunggu di ruangan," ucap asistennya seraya membungkukkan sedikit badannya. Sang nenek hanya mengangguk singkat dan berjalan menghampiri keluarga yang sudah ditunggunya.

Senyuman hangat dari pria muda langsung menyapanya begitu memasuki ruangan. Itu Nickhun. Putra dari keluarga Horvejkul. Sebersit rasa tidak enak mulai menyapa hati sang nenek melihat senyum itu. Bagaimanapun tujuan ia mengundang keluarga ini adalah untuk sesuatu yang pasti akan menghancurkan hati sang pemuda. Tapi mau bagaimana lagi? Ia harus melakukan ini.

"Terimakasih karena anda sekalian sudah mau repot-repot memenuhi undangan saya." Mr. Horvejkul tersenyum ramah mendengar ucapan salah satu rekan bisnisnya itu.

"Sungguh tidak merepotkan. Jadi untuk apa anda mengundang kami ke sini? Apa ada sesuatu yang penting?"

"Sebelumnya saya ingin memohon maaf bila apa yang akan saya sampaikan cukup mengejutkan." Mereka semua terdiam dengan wajah serius, menanti ucapan sang nenek selanjutnya.

"Saya ingin membatalkan perjodohan Nickhun dengan Hyukjae cucuku." Sebelum semuanya terlambat.

.

.

.

"Ibu, kudengar kau membatalkan perjodohan Hyukjae dengan Nickhun, apa benar?" Mr. Lee –ayah Hyukjae- langsung bertanya saat masuk ke ruangan kerja ibunya. Ia bahkan tidak mau repot-repot mengetuk pintu karena benar-benar merasa penasaran. Wanita paruh baya itu mendengus begitu melihat putranya menerobos masuk tanpa permisi.

"Mana sopan santunmu, bocah!"

"Ibu sudahlah, jawab aku." Wanita itu terdiam sebentar sebelum menganggukkan kepalanya pelan.

"Benarkah? Kenapa?"

"Kenapa kau banyak tanya sekali?" ayah Hyukjae mengangkat sedikit alisnya. Kenapa ibunya bisa memutuskan hal besar seperti itu? Bukankah ia yang paling bersikeras dengan perjodohan ini? Walau saat itu ia sudah berusaha sekuat tenaga mencegah perjodohan itu tapi ibunya tetap pada pendiriannya. Sebenarnya ada apa?

"Ibu-"

"Kau cerewet sekali mirip dengan bocah itu." Lelaki itu tersenyum mendengarnya. Ah, mungkinkah ibunya ini sudah mulai membuka hatinya untuk menerima Hyukjae? Syukurlah.

"Wah ini pertamakalinya ibu berbicara seakan-akan dia anakku." Lelaki itu tersenyum bahagia melihat ibunya sedikit menegang mendengar ucapannya sebelum memasang tampang datar khasnya.

"Jika tidak ada lagi yang dibicarakan cepat kembali ke tempatmu dan suruh bocah itu segera pulang. Tugasnya menumpuk di sini." Lelaki itu tersenyum hangat menatap ibunya yang sudah disibukkan dengan berkas-berkas di tangannya. Doanya selama ini sudah dikabulkan oleh Tuhan. Ia sangat bersyukur. Walau masih belum menerima sepenuhnya, ayah Hyukjae yakin sedikit demi sedikit ibunya bisa benar-benar membuka hatinya untuk anak dan istrinya.

"Tadi Hyukie menghubungiku, dia titip salam untukmu, dia bilang 'aku sayang nenek'. Ah ini juga titipan dari istriku. Teh gingseng kesukannmu. Kalau begitu aku pamit dulu, ibu." Setelah meletakkan bungkusan teh pemberian istrinya, ia segera berlalu dari sana dengan hati yang senang. Meninggalkan sang nenek yang menatap teh itu dengan pandangan yang sulit diartikan.

.

.

.

Jantung Hyukjae berdebar kencang, semburat merah sangat terlihat di paras manisnya yang putih bersih, matanya menutup erat. Tak berani membuka mata karena merasa malu.

Saat ini bibirnya tengah dipangut dengan lembut oleh Donghae yang juga tengah menutup matanya. Mereka saling berpangutan dalam waktu yang cukup lama.

Gadis manis itu membuka matanya perlahan saat merasa Donghae sudah tidak menciumnya lagi. Ia menunduk malu saat melihat senyum Donghae yang begitu menawan. Donghae meraih dagu Hyukjae dan mengangkatnya.

"Kau cantik Hyukie."

Blush!

Wajah manis itu kian memerah mendengar ucapan itu dari bibir tipis Donghae. Ia sedikit mendorong dada bidang Donghae dan berdiri dengan kikuk. Astaga, jantungnya masih berdebar kencang saat ini. Ia melirik ke arah Donghae yang masih tersenyum padanya.

"A-ayo kita main di luar Hae." Donghae mengangguk antusias dan menarik lengan Hyukjae dengan semangat. Mereka keluar rumah dengan langkah yang riang. Membuat para maid yang sejenak menahan nafas melihat mereka berciuman menjadi tertawa kecil.

"Aigo, mereka pasangan yang romantis," ucap Luna gemas dan diangguki yang lainnya.

.

.

Setelah meminta ijin dari Mr. Lee untuk membawa Donghae berjalan-jalan, kini di sinilah mereka. Di salah satu taman hiburan yang kebetulan tidak begitu jauh dari kediaman Donghae. Kesehatan Donghae sudah mulai pulih, lagipula sedari tadi Donghae selalu merengek padanya untuk bermain keluar. Apa yang bisa ia lakukan selain mengiyakannya? Lagipula ia hanya sebentar di Seoul. Lusa ia harus kembali ke Paris. Hahh… mengingatnya membuatnya sedih. Hyukjae juga belum tau harus bicara apa pada Donghae mengenai kepulangannya sementara ini.

"Hyukie ayo naik itu." Hyukjae menoleh dan melihat apa yang ditunjuk Donghae. Sebuah bianglala berwarna hijau yang tengah berputar diiringi sorakan gembira anak-anak yang menaikinya. Hyukjae tersenyum dan mengelus kepala Donghae.

"Hae kau sudah bisa berhitung kan?" tanyanya membuat Donghae mengerutkan dahi bingung.

"Tentu saja sudah Hyukie. Hae sudah bisa berhitung, Hae sudah belajar dengan baik," bangganya dengan senyum lebar membuat gadis manis itu terkekeh.

"Aigo, Hae sudah pintar ternyata. Nah, sekarang coba kau hitung jumlah bianglala itu ada berapa." Donghae menatap bianglala yang sedang berputar itu serius. Ia mencoba menghitung tapi tak lama ia langsung menyerah.

"Susah Hyukie, bianglala itu sedang berputar." Hyukjae tersenyum melihat Donghae memasang tampang cemberut yang terlihat manis.

"Hae, ayo coba lagi. Lagipula bianglala itu berputarnya tidak cepat kan? Cukup lambat. Hae pasti bisa. Ayo konsentrasi, setelah itu baru kita akan menaikinya," bujuk Hyukjae dengan puppy eyesnya, membuat wajah Donghae merona. Dengan gugup ia kembali memperhatikan bianglala tersebut dan mulai memusatkan perhatian penuhnya untuk menghitung. Ia pasti bisa. Ia harus menunjukkannya pada Hyukjae. Hyukjae tersenyum lembut melihat Donghae yang tengah konsentrasi berhitung. Ini salah satu pelajaran untuk Donghae. Taktik yang sering digunakan para guru pada anak berkebutuhan khusus lainnya. Mengajak mereka belajar konsentrasi. Dampingi mereka kemanapun, turuti kemauan yang memang bagus untuk perkembangan mereka dan jangan lupa untuk tetap bertindak tegas. Latihan konsentrasi ini sangat baik untuk perkembangan para penyandang kebutuhan khusus. Di satu sisi mereka bisa bermain, di lain sisi mereka tetap mendapat pelajaran untuk perkembangan. Cukup sulit memang. Tak jarang banyak yang menyerah dan memilih bermain. Tapi jika dilakukan secara perlahan dan rutin, bukan tidak mungkin bisa meningkatkan kemampuan mereka.

"Hyukie, jumlah bianglalanya ada 10." Donghae dengan semangat menunjuk bianglala itu pada Hyukjae. Gadis manis itu menghitung dalam hati dan benar jumlahnya ada 10. Donghae sudah semakin pandai.

"Wah kau benar Hae. Hae pintar. Nah sekarang ayo kita naik bianglala itu." Donghae mengangguk dan mengenggam tangan Hyukjae erat.

Mereka banyak tertawa begitu menaiki wahana tersebut. Saat berada di pucak mereka melihat ke bawah dan mengarahkan telunjuk mereka ke segala arah. Memberitahu apa yang mereka lihat dengan senyuman riang di wajah.

.

"Hyukie mau minum? Biar Hae belikan, Hyukie tunggu saja di sini." Hyukjae mengangguk dan mendudukkan diri di bangku yang tersedia di sana begitu turun wahana tadi. Donghae tersenyum dan segera berlari menghampiri stand minuman yang tersedia. Hyukjae mengedarkan pandangannya mencoba mencari objek menarik sembari menunggu Donghae. Ia sedikit terkejut melihat seseorang yang sepertinya dikenalnya tak jauh dari posisinya. Hyukjae berdiri dan perlahan mulai mengikuti kemana orang itu melangkah. Itu Jieun. Wanita yang kini memakai coat cokelat dan topi berwarna serupa, belum lagi ia memakai kacamata. Seperti sedang menyamar saja. Tunggu, menyamar? Hyukjae merasa akan ada sesuatu yang didapatnya kalau terus mengikutinya. Jieun terus melangkah ke sudut taman yang agak sepi. Bisa ia lihat di sana berdiri lelaki paruh baya yang sepertinya tengah menunggu wanita itu. Hyukjae segera mengambil I phonenya dan merekam mereka berdua dari jarak yang cukup aman dan tak terlihat. Jieun tampak menyerahkan map cokelat pada lelaki itu. Lelaki itu mengeluarkan isi map tersebut dan tersenyum puas. Kemudian lelaki itu menyerahkan amplop dengan ketebalan yang cukup pada Jieun. Itu uang. Setelah terlibat sedikit percakapan mereka segera pergi dari tempat itu. Hyukjae masih memandangi mereka dan berpikir. Firasatnya mengatakan itu bukan hal baik. Ah, dia harus memberi perhitungan pada wanita iblis itu karena sudah membuat Donghae terganggu. Ia harus memikirkan langkah-langkahnya segera. Hyukjae sedikit tersentak begitu ada yang memeluknya erat dari belakang.

"Hyukie, syukurlah Hyukie ketemu. Hyukie darimana? Hae mencari Hyukie daritadi." Suara itu tampak bergetar, ada nada khawatir yang begitu kentara membuat Hyukjae segera berbalik. Mata Donghae tampak berkaca-kaca, ia jadi merasa bersalah karena pergi begitu saja.

"Maafkan aku Hae karena pergi tiba-tiba. Sungguh maafkan aku."

"Hae takut Hyukie pergi lagi. Hae tidak mau Hyukie pergi. Hyukie hanya boleh bersama Hae! Hyukie tidak boleh pergi lagi!" jantung Hyukjae terasa berdenyut nyeri mendengar ucapan Donghae. Apa yang harus ia lakukan? Memang ia akan pergi lagi secepatnya. Dengan cepat ia memeluk tubuh Donghae erat dan mengusap punggungnya.

"Maaf Hae. Hyukie janji akan bilang dulu pada Hae jika ingin pergi."

"Janji?"

"Iya. Ayo istirahat. Hae kan baru pulih, tidak boleh banyak bergerak dulu." Donghae mengangguk dan menarik tangan Hyukjae lembut ke tempat yang lebih teduh.

.

.

Hyukjae dan Donghae saling bergandengan tangan menuju tempat makan. Hari sudah siang, sudah waktunya untuk mengisi perut yang sedari tadi meminta perhatian.

"Hyukie, Hyukie duduk saja di situ biar Hae yang memesan makanannya." Hyukjae mengangguk dan duduk di kursi kosong yang masih tersedia di sana. Donghae segera berlalu begitu Hyukjae duduk sempurna untuk memesan makanan.

"Maaf apa anda sendiri? Kursi yang lain sudah penuh, boleh saya bergabung?" Hyukjae menoleh saat suara lembut mengalun di telinganya. Matanya membulat melihat siapa yang berdiri di sampingnya, begitupun dengan orang itu.

"Eomma."

"Hyukie kau kah ini?" Hyukjae berdiri dan segera memeluk wanita paruh baya yang tadi menyapanya.

"Iya ini aku eomma. Eomma apa kabar? Aku kangen~" ucapnya manja membuat wanita itu terkekeh dan mengacak pelan rambut Hyukjae.

"Baik, kau sendiri bagaimana? Bukankah kau harusnya berada di Paris? Omong-omong eomma juga kangen pada putri kecil eomma."

"Ceritanya panjang, ayo duduk eomma."

"Iya-iya."

Hyukjae sangat senang bisa bertemu kembali dengan wanita yang dipanggilnya eomma itu. Wanita bernama Kim Seulbi. Wanita yang menjadi istri pertama dari ayahnya hasil perjodohan sang nenek. Wanita cantik itu sungguh berhati mulia, dia tau lelaki yang dijadikan suaminya itu tidak mencintai dirinya. Seulbi mengerti karena ia pun tak mencintai suaminya. Semua karena paksaan dari orangtua masing-masing. Begitu tahu suaminya mempunyai kekasih hati sebelum mereka menikah dan mempunyai anak hasil buah cinta mereka, dengan lapang dada Seulbi melepaskan suaminya untuk bersama dengan orang yang dikasihinya. Dia tidak menaruh dendam apapun, justru ia bahagia karena suaminya itu telah mendapatkan seseorang yang pantas untuknya. Ia telah bertemu dengan ibu Hyukjae dan berbincang-bincang. Akhirnya setelah memikirkan semua dengan matang-matang ia menggugat cerai pada suaminya. Mengikhlaskan lelaki itu untuk bersama dengan cintanya.

Saat melihat Hyukjae kecil, Seulbi sangat senang. Ia menyayangi Hyukjae layaknya anaknya sendiri karena ia belum dikaruniai seorang anak. Hyukjae pun sangat menyayangi Seulbi, makanya dia memanggil wanita itu dengan sebutan Eomma hingga kini.

"Eomma kenapa bisa di sini, sendirian?" Seulbi menatap Hyukjae sambil tersenyum.

"Tadinya eomma ingin bertemu salah satu karyawan eomma di sini, tapi dia tidak bisa datang."

"Siapa eomma? Karyawan di hotel eomma itu?" Seulbi mengangguk dan mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.

"Namanya Jieun. Belakangan ini kinerjanya mulai berkurang dan banyak masalah yang disebabkannya. Niatnya sekarang eomma ingin bertanya langsung padanya ada masalah apa hingga performa di tempat kerja menurun."

Jieun? Hyukjae melebarkan bola matanya. Tadi ia melihat wanita itu. Jangan-jangan…

"Eomma besok aku akan ke hotel eomma boleh? Ada yang ingin kuberikan pada eomma."

"Kenapa tidak sekarang?"

"Besok saja eomma." Aku harus mencari data dan bukti yang lainnya. Hyukjae merasa interaksi Jieun dengan lelaki paruh baya tadi bermaksud buruk bagi perusahaan eommanya ini. Ia harus menyelidikinya dan memberi pelajaran pada wanita itu.

"Hyukie…" Hyukjae mendongak melihat Donghae menatap Seulbi dengan pandangan ragu dan takut.

"Sini Hae." Donghae duduk di samping Hyukjae dan menata makanan di meja. Lengkap dengan susu stroberi untuk Hyukjae. Gadis itu tersenyum dan mengucapkan terimakasih yang dibalas senyum manis dari Donghae.

"Wah-wah siapa ini? Kekasihmu Hyukie?" wajah Hyukjae sontak memerah mendengarnya. Aduh, kenapa eommanya ini bicara seperti itu? Jantung Hyukjae jadi berdebar kencang.

"Ish eomma. Hae kenalkan ini ahjummaku tapi aku memanggilnya eomma, dan eomma ini Donghae-"

"Kekasihmu. Hai Donghae senang berkenalan denganmu, tolong jaga Hyukjae untukku ya?" Seulbi berkedip jahil pada Hyukjae yang sudah memerah sempurna. Gadis itu mempoutkan bibirnya sebal sedangkan Donghae terdiam tidak tau harus menjawab apa. Yang jelas ia pasti akan menjaga Hyukjae tanpa diminta.

"Heish terserah eomma saja."

"Haha… kau imut sekali Hyukie sayang." Dan siang itu mereka habiskan dengan canda tawa yang menghiasi. Seulbi juga tidak mau melewatkan momen menggoda putri kecilnya itu. Hyukjae sangat menggemaskan asal kalian tau.

.

.

.

.

Waktu telah menunjukkan pukul 7 malam.

Donghae tampak tertidur beralaskan paha Hyukjae dengan nyaman. Gadis manis itu juga tengah mengelus-ngelus kepala Donghae sayang di sofa ruang tamu kediaman Lee yang tampak tenang itu. Suara deru mobil yang berhenti di luar sana mengalihkan perhatian Hyukjae untuk melihatnya. Dilihatnya Mr. Lee yang sudah pulang kerja tengah memasuki kediamannya. Mr. Lee tersenyum begitu melihat pemandangan di hadapannya. Donghae yang tertidur di pangkuan Hyukjae. Hyukjae tersenyum pada Mr. Lee yang juga tersenyum padanya. Lelaki paruh baya itu duduk di sofa di hadapan Hyukjae dan Donghae.

"Donghae tidur?" tatapannya mengarah pada Donghae yang memejamkan mata dengan nafas yang terdengar teratur. Hyukjae menunduk melihat Donghae dengan senyum hangat. Tangannya kembali mengelus surai darkbrown Donghae sayang.

"Iya ahjussi. Mungkin kelelahan. Tadi aku sudah menyuruhnya tidur di kamar tapi dia tidak mau. Maaf aku sudah membawa Donghae sampai se-sore ini padahal dia baru saja pulih." Mr. Lee tersenyum melihat gadis ini menunduk.

"Tak usah minta maaf, Hyukjae. Malah aku harus berterimakasih padamu, berkat kehadiranmu Donghae bisa cepat sembuh dan kembali ceria sekarang."

"Aku tidak melakukan apa-apa Ahjussi, tidak usah berterimakasih seperti itu," ucapnya tidak enak. Perhatian mereka teralih pada Donghwa yang baru memasuki ruangan. Tampaknya baru pulang kerja juga. Donghwa merebahkan diri di sofa tepat di samping ayahnya setelah menaruh kunci mobil di meja.

"Kau darimana?" Donghwa menatap ayahnya dengan lesu. Tampaknya ia benar-benar lelah.

"Habis mengecek anak cabang perusahaan kita. Tak kusangka di sana akan menguras banyak tenaga." Mr. Lee terkekeh melihat anaknya, Hyukjae juga tersenyum melihatnya. Donghwa menghembuskan nafas lelah, matanya melirik pada Donghae yang sedang tertidur seperti anak kecil. Wajahnya tampak damai.

"Donghae tampak bahagia. Terimakasih noona berkat kau Donghae bisa seperti sekarang." Hyukjae berdecak dan memasang wajah pura-pura kesal yang imut.

"Tidak ayah, tidak anak, kenapa selalu berterimakasih padaku? Aku kan tidak melakukan apa-apa," gerutunya imut. Mr. Lee dan Donghwa tertawa kecil melihatnya.

"Kau memang gadis yang baik hati." Mr. Lee mengusap kepala Hyukjae sayang dan diikuti oleh Donghwa.

"Benar kata appa, kau berhati mulia noona."

"Aish kalian ini, tatanan rambutku bisa rusak kalau kalian mengacak-acaknya begini." Hyukjae mengerucutkan bibirnya imut membuat kedua lelaki di sana terkekeh. Mr. Lee sedikit berdeham dan memusatkan perhatian pada Hyukjae.

"Bagaimana dengan nenekmu, Hyukjae?" Hyukjae mengerjap sedikit kaget. Kenapa Mr. Lee tiba-tiba bertanya seperti itu? Dengan kikuk ia menjawab.

"Beliau sehat, ahjussi."

"Kau tau aku tidak bertanya kesehatannya, Hyukjae." Hyukjae menunduk. Donghwa merasa atmosfir di antara mereka menjadi serius kalau tidak mau dibilang tegang.

"Sebenarnya aku berada di sini tidak lama ahjussi. Kepergianku pun nenek tidak tau. Perjanjianku dengan nenek belum tuntas dan aku harus segera kembali ke Paris secepatnya."

"Sudah kuduga."

"Kapan kau kembali noona?" Hyukjae menghela nafas berat dan sejenak memejamkan matanya.

"Lusa aku harus kembali ke Paris. Itu kesepakatanku dengan Ayah." Hyukjae meminta perpanjangan waktu satu hari lagi pada ayahnya sebelum kembali ke Paris dan untungnya diijinkan.

"Lusa?! Lalu bagaimana dengan Donghae?" Hyukjae menggeleng pelan dan tersenyum sedih. Ia pun tak tau harus bicara apa pada Donghae.

"Aku akan memberi pengertian pada Donghae."

"Aku juga akan membantu menjelaskan noona."

"Ku dengar kau juga akan ditunangkan?" Donghwa menoleh cepat pada appanya dengan mata membelalak terkejut.

"Tunangan? Apa maksudnya?!"

"Masalah itu-"

"Hyukie…" Hyukjae menoleh terkejut pada Donghae yang sudah terbangun dan menatap sedih ke arahnya. Astaga Donghae sudah bangun? Apa dia juga mendengar pembicaraan mereka? Mr. Lee dan Donghwa juga terlihat tegang melihat Donghae yang kini terduduk berhadapan dengan Hyukjae.

"Do-Donghae-"

"Apa maksudnya Hyukie? Hyukie akan pergi lagi? Meninggalkan Hae?" Hyukjae menggigit bibir bawahnya resah. Bagaimana ini? Apa yang harus dijawabnya? Waktunya sangat tidak tepat. Belum lagi melihat hazel itu yang kini sudah berkaca-kaca membuatnya semakin sesak.

Tuhan, bantu aku.

"Donghae a-aku…"

"Hyukie akan pergi? Tapi Hyukie sudah janji tidak akan meninggalkan Hae lagi. Hyukie sudah janji." Turun sudah airmata itu. Mengalir hingga menyentuh tangan Hyukjae.

"Donghae, Hyukjae memang akan kembali ke Paris tapi setelah itu dia akan kembali lagi ke sisimu. Jadi biarkan Hyukjae pergi menyelesaikan tugasnya," jelas Mr. Lee lembut berusaha memberi pengertian. Donghae menggeleng ke arah appanya dan bergumam 'tidak boleh'. Donghwa menatap sedih ke arah adiknya yang berurai airmata. Ia berharap Donghae tidak mengamuk lagi seperti kemarin.

"Hae…"

"Tidak boleh! Hyukie tidak boleh pergi!"

"Jangan seperti ini, nak."

"Tidak mau! Hyukie milik Hae! Hyukie tidak boleh pergi!" dengan satu gerakan cepat Donghae menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas meja dan mengangkat Hyukjae bridal style. Membawanya lari keluar rumah.

"Donghae! Astaga kau mau ke mana? Donghae!" kedua lelaki tersebut dengan segera ikut berlari mengejar Donghae yang membawa kabur Hyukjae. Donghae membuka pintu mobil dan segera masuk bersama Hyukjae yang masih berada di pangkuannya. Dan sesegera mungkin melajukan mobil dengan kecepatan tinggi meninggalkan rumahnya. Donghwa segera berlari menuju bagasi dan mengendarai motornya untuk mengejar Donghae.

"Hati-hati Donghwa." Donghwa mengangguk singkat pada appanya yang menatap cemas kemudian segera melajukan motornya.

.

Di dalam mobil Hyukjae diam saja. Ia duduk di pangkuan Donghae dengan pemuda itu yang mengendarai mobil dengan pandangan nyalang. Hyukjae menyerukkan wajahnya ke leher Donghae dan mempererat pelukannya di leher Donghae. Ia hanya membiarkan Donghae membawanya pergi entah ke mana. Emosi Donghae tidak stabil. Percuma bicara apapun untuk saat ini.

"Hae… hati-hati…"ucapnya lirih di telinga. Donghae menggeram pelan dan memeluk pinggang ramping Hyukjae dengan satu tangan dan tangan yang lainnya dengan lihai mengendarai. Donghae pernah belajar mengendarai bersama Donghwa dulu dan ia bisa dikatakan cukup bagus dalam menyetir.

Cukup lama Donghae melajukan mobilnya hingga akhirnya berhenti. Donghae membuka pintu mobil dan kembali mengangkat Hyukjae yang masih menenggelamkan wajahnya di leher Donghae. Dengan tergesa Donghae menaiki tangga dan berhenti di depan sebuah pintu. Terdengar suara tombol yang ditekan beberapa saat dan pintu pun terbuka. Tanpa basa-basi Donghae masuk tak lupa menutup pintunya. Ia melangkah menuju kamar dan mendudukkan diri ditepi ranjang. Donghae mendekap Hyukjae erat enggan melepaskan. Hyukjae mengangkat wajahnya sedikit dan cukup terkejut begitu mengetahui Donghae membawanya ke apartemennya yang dulu.

"Hae…"

"Jangan pergi." Hyukjae terdiam mendengar suara baritone tepat di telinganya. Ia dapat merasakan pemuda ini mengeratkan pelukannya.

"Tidak akan kubiarkan kau pergi lagi dariku. Kau milikku!" suara itu lagi. Suara Donghae yang berbeda, yang dulu pernah didengarnya di telepon. Nada suara Donghae tampak berbeda dari biasanya. Suaranya jauh lebih berat penuh keseriusan. Hyukjae merenggangkan pelukannya dan menatap wajah Donghae yang menatapnya dengan tatapan tajam penuh keposesifan. Hyukjae menelan ludahnya gugup. Astaga, Donghae yang seperti ini membuatnya tidak bisa berkutik dengan jantung yang berdebar cepat.

Donghae mengelus pipi Hyukjae dengan tangan kanannya, hazelnya masih memenjarakan onyx di depannya. Tidak ada lagi wajah kekanakkan, tidak ada lagi senyum polos. Yang ada di hadapannya kini adalah wajah tegas dengan sorot mata tajam bagai yakuza marah. Donghae mendekatkan wajahnya dan menciumi helai rambut Hyukjae dengan mata terpejam.

"Kau milikku Hyukie. Kau tidak akan pergi kemanapun." Hyukjae membeku di tempatnya tak bergerak sedikitpun. Suaranya tercekat di tenggorokan tak mampu keluar. Sekarang Hyukjae harus apa? Dia tidak punya persiapan apapun dengan Donghae yang seperti ini.

"Ha-Hae…" tidak ada tanggapan, Donghae masih setia menciumi rambut Hyukjae yang beraroma stroberi, membuat Hyukjae semakin gugup dengan wajah merona.

"Hae…"

"Jangan pergi Hyukie," pintanya dengan suara rendah tepat di telinganya. Hyukjae sedikit meremang merasakan hembusan nafas Donghae mengenai wajahnya. Dengan keberanian yang ia kumpulkan Hyukjae menangkup wajah Donghae dengan kedua tangannya. Mata Donghae tampak berkaca-kaca. Gadis itu menghela nafas sebentar.

"Hae dengarkan aku. Maafkan aku, tapi aku memang harus kembali ke Paris." Donghae menggeleng dan secepatnya kembali merengkuh tubuh mungil gadis ini.

"Tidak boleh, Hyukie tidak boleh pergi meninggalkan Hae!"

"Hae ku mohon ijinkan aku pergi. Ayo kita buat perjanjian." Hyukjae merenggangkan pelukannya dan memegang kedua jemari Donghae erat. Ditatapnya hazel di depannya intens dan dibalas dengan hal serupa.

"Aku harus kembali ke Paris segera, tapi ini yang terakhir kalinya aku menetap lama di sana. Ini yang terakhir. Ijinkan aku menyelesaikan semua urusanku dan aku akan segera kembali padamu, Hae. Aku berjanji." Donghae menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Tidak mau. Donghae tidak mau kehilangan Hyukjae lagi. Donghae tidak mau Hyukjae pergi lagi dari hidupnya.

"Hyukie… Hae tidak mau Hyukie pergi hiks…"

"Hae jangan menangis ku mohon. Hanya sementara Hae. Dan ku mohon kau juga berjanji untuk selalu berusaha meningkatkan kemampuanmu. Ayo Kita sama-sama berjanji untuk saling menunggu satu sama lain. Untuk yang terakhir kalinya. Saat bertemu lagi nanti, itulah saatnya kita bersatu Hae. Aku tidak akan pergi lagi. Aku akan selalu bersamamu." Donghae terdiam melihat Hyukjae yang sudah berkaca-kaca saat mengatakannya. Haruskah ia melepaskan Hyukjae kembali?

"Hyukie janji?" tanyanya lirih dan dibalas anggukan tegas dari Hyukjae.

"Aku berjanji, Hae. Ini untuk yang terakhir kalinya. Tapi Hae juga harus berjanji untuk selalu kuat. Hae harus tetap berjuang agar lebih baik lagi. Demi masa depanmu. Hae harus berjanji. Saat kita bertemu lagi nanti kau harus membuktikannya padaku." Donghae menyatukan dahi mereka dan menatap iris hitam Hyukjae penuh keseriusan.

"Aku berjanji padamu. Aku akan berubah untukmu. Aku akan sembuh untukmu. Hanya untukmu Hyukie." Dan dengan selesainya kalimat itu, Donghae meraup bibir tebal Hyukjae penuh kelembutan. Berusaha menyampaikan perasaannya pada sang terkasih. Hyukjae terkejut awalnya tapi tak berapa lama ia memejamkan matanya dan membalas ciuman Donghae untuknya. Waktu mereka tidak banyak. Biarkan Donghae sepuasnya mencium dan memeluknya saat ini, sebelum perpisahan menyambut mereka kembali.

.

.

Hyukjae tidur di pelukan Donghae malam ini. Beralaskan lengan Donghae sebagai bantalannya. Hyukjae sudah mengirim kabar pada Mr. Lee dan Donghwa agar mereka tidak usah khawatir. Mereka baik-baik saja, mungkin esok pagi baru akan pulang ke rumah. Hyukjae menatap wajah Donghae yang tertidur dengan pandangan sedih.

"Maafkan aku Donghae. Karena aku kau harus kembali merasakan kesedihan. Aku berjanji ini yang terakhir. Setelahnya aku tidak akan pergi kemana-mana lagi," ucapnya pelan tidak mau membangunkan Donghae. Hyukjae mendekat dan mencium kening Donghae dengan lembut.

"Aku menyayangimu, Hae." Setelahnya Hyukjae pun tertidur dalam dekapan hangat Donghae yang terasa menyakitkan karena mereka akan kembali berpisah.

.

.

.

Pagi itu Donghae terbangun lebih dulu dari Hyukjae. Donghae tersenyum melihat gadisnya masih berada dalam pelukannya. Tidak pergi kemana-mana. Sejujurnya Donghae takut bila melepaskan Hyukjae pergi lagi, maka kali ini Hyukjae tidak akan kembali. Kenapa gadisnya ini harus pergi lagi? Tak bisakah ia tinggal bersama Donghae? Atau mungkin selama ini Donghae merepotkan seperti yang Jieun katakan padanya kemarin? Tidak! Donghae tidak merepotkan. Hyukjae juga sudah menegaskannya kemarin.

Donghae sedikit tersentak saat mendengar I phone Hyukjae yang berada di meja dekat ranjang bergetar. Donghae segera mengambilnya dan melihat ada panggilan masuk dari nomor tidak dikenal. Donghae melihat Hyukjae yang masih terlelap dan memutuskan mengangkat telepon itu.

"Halo Hyukjae-sii, ini aku Nickhun. Maaf mengganggumu, di sana sudah pagi kan?" Donghae mengerutkan kening mendengar suara laki-laki dari seberang telepon. Donghae tidak bersuara tapi laki-laki yang mengaku bernama Nickhun itu terus saja berkicau.

"Maaf jika ini tidak sopan, tapi aku harus meminta kejelasan langsung darimu. Mengenai pertunangan kita." Mata Donghae membelalak sempurna mendengar ucapan Nickhun.

Tunangan?!

.

.

To Be Continued

Hai lama tak berjumpa~

Maaf bila update ff ini ngaret banget. Dan maaf bila chap ini gaje pake banget. Ingat ya ini Cuma cerita fiksi. Jadi kalo ada yang nanya "Kok Donghae begitu sih? Emang penyandang kebutuhan khusus bisa kayak gitu ya?" jawabannya gak! Sekali lagi ini Cuma fiksi dan hiburan semata. Tapi beberapa ada yang bener, contohnya cara penaganannya. Karena saya juga searching di mbah gugel :3

2 chapter lagi ff ini bakalan tamat. Doakan saya berumur panjang agar bisa menyelesaikannya.

Okeh, TERIMAKASIH BANYAK bagi yang sudah berpartisipasi dalam ff ini baik itu yang mereview, memfav, memfollow atau yang membacanya saja. Saya sangat menghargai dukungan kalian~ #tebarcium

Terakhir, silahkan di review agar saya bersemangat melanjutkan. Kritik dan saran sangat di terima untuk perkembangan saya. Tapi ingat, pakai kata-kata yang sopan okeh?

Sampai jumpa~

Ingat, review okhae?