[REMAKE] Dating With The Dark by Santy Agatha
.
.
Main Cast:Luhan(GS), Oh Sehun.
Other Cast: Kris, Irene, etc.
Genre: Romance, Drama.
Rated:M
.
.
Don't Like, Don't Read
Sorry for Typo.
Happy Reading~
Chapter 5
.
.
"Luhan?" Kris bertanya pelan ketika Luhan tak juga menjawab, menyadarkan Luhan dari keterkejutannya. Dia bahkan sempat menjauhkan teleponnya dari telinganya, menatapnya dengan tidak percaya. Masih diingatnya jelas kata-kata kejam Kris ketika memutuskan telepon waktu itu, bahwa Kris tidak akan kembali dan bahwa dia tidak ingin Luhan menghubunginya lagi. Tetapi kenapa sekarang, lelaki itu berubah pikiran lagi dengan begitu cepat?
Jauh di dasar hatinya Luhan ingin memberikan kesempatan kepada lelaki itu, lelaki yang sempat dia pikir bisa membuatnya membuka hatinya, berbagi perasaan dalam kisah yang romantis. Tetapi perlakuan Kris kepadanya kemudian, yang dengan entengnya menyuruh Luhan menjauh, membuat Luhan ketakutan, ragu untuk memberi kesempatan.
Bagaimana jika nanti ketika Luhan memberi kesempatan, pada suatu waktu lelaki itu tiba-tiba berubah sikap tak jelas lagi dan menyuruh Luhan menjauh? Akan dihancurkan bagaimana lagi hati Luhan?
"Kenapa kau menghubungiku lagi, Kris?" Suara Kris bergetar ketika berusaha berkata-kata, "Bukankah kau sendiri yang bilang supaya aku tidak menghubungimu?" Kepahitan terdengar jelas di sana, manifestasi rasa sakit Luhan karena perlakuan Kris kepadanya.
Tentu saja Kris bisa membaca kepahitan di suara Luhan, dia menghela napas panjang,
"Maafkan aku... waktu itu aku kalut, aku benar-benar terhempas ketika menyadari bahwa kau..." Suara Kris terhenti mendadak, seperti mobil yang direm tiba-tiba hingga menimbulkan suara berdecit keras. Membuat Luhan mengerutkan keningnya,
"Ketika menyadari bahwa aku apa, Kris?"
Hening. Sepertinya Kris kehabisan kata-kata di seberang sana. Lelaki itu mendesah,
"Bukan... aku salah bicara. Mengertilah, Lu, aku hanya sedang kalut waktu itu... aku aku putus asa... tetapi sekarang setelah aku menelaah semuanya, aku sadar bahwa yang kuinginkan hanya satu, aku ingin bersama denganmu."
Putus asa? Luhan mengerutkan keningnya, kenapa Kris terus-terusan bersikap misterius seperti ini? Entah firasat Luhan benar atau tidak, dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan lelaki ini.
"Luhan... apakah kau mau memberiku kesempatan lagi? Setidaknya untuk menjelaskan?" Kris bergumam ketika tidak ada tanggapan dari Luhan.
Luhan merenung lama, kemudian dia menghela napas panjang.
"Aku tidak tahu, Kris, akan kupikirkan nanti." Lalu Luhan memutus teleponnya tanpa menanti jawaban dari Luhan, dan tiba-tiba merasa bersalah karena ada sebuah kepuasan kecil karena telah sedikit membalas sikap kasar yang dilakukan Kris ketika menutup teleponnya waktu itu.
Hanya jeda sedetik setelah Luhan memutus telepon, telepon itu berbunyi lagi. Luhan bahkan tidak melihat nomornya, dia langsung menjawabnya dengan jengkel.
"Sudah kubilang aku akan memikirkannya dulu! Jangan paksa aku memberikan jawaban sekarang..."
Hening sejenak, lalu suara itu terdengar.
"Luhan?" Ada nada geli dari suara di seberang itu.
Luhan terperangah, mengenali suara yang dalam dan maskulin itu, dia menarik ponselnya dari telinga, dan melihat nomor yang berbeda di sana.
"Oh.. maafkan aku.. aku kira kau orang lain." Jawab Luhan kemudian dengan rasa malu.
Sehun terkekeh di seberang sana, "Siapa? Mantan pacar yang ingin kembali?" tebaknya, masih dengan nada geli yang terselip di sana.
Pipi Luhan merah padam mendengar tebakan Sehun yang hampir tepat itu, dia berdehem untuk membuat suaranya terdengar meyakinkan.
"Itu bukan masalah." Dia mengelak, "Mantelmu sudah selesai di laundry."
"Terimakasih." Lelaki itu menjawab cepat dengan sopan.
Luhan mengerutkan keningnya gugup, bingung harus berkata apa, "Apakah... apakah kau ingin aku mengantarkannya? Atau kau akan mengambilnya?"
"Aku akan mengambilnya." jawab lelaki itu tenang.
Tiba-tiba Luhan merasa curiga, "Kau sudah tahu alamat rumahku, ya." Lelaki itu bisa mengetahui nomor ponselnya tanpa dia memberitahunya, tidak menutup kemungkinan Sehun juga sudah tahu alamat rumahnya.
Sehun terkekeh, "Sudah kubilang aku punya banyak koneksi."
Luhan mau tak mau tersenyum mendengar nada pongah dalam suara lelaki itu. Ini adalah jenis lelaki yang selalu mendapatkan apa yang dia mau. Luhan harus berhati-hati, Oh Sehun terlalu mempesona, dan Luhan tidak mau dengan mudahnya jatuh ke dalam pesona laki-laki, tanpa tahu apa yang dihadapinya. Sudah cukup dia bertindak bodoh dengan terlalu berharap kepada Kris kemarin. Luhan tidak akan mengulanginya lagi, karena bahkan keledai yang selalu dipandang sebagai makhluk yang dungu pun, tidak akan jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.
"Jadi bagaimana caraku mengembalikan mantel ini?" tanya Luhan kemudian.
Sehun tampak berpikir, "Aku tidak akan berkunjung ke rumahmu. Itu mungkin akan terasa tidak nyaman bagimu karena aku tahu kau perempuan yang tinggal sendirian, dan kau tidak terlalu mengenalku. Bagaimana kalau kita makan malam bersama?" Lelaki itu menyebut nama sebuah restoran mewah di pinggiran kota.
Luhan tercenung, meragu, apakah ini ajakan kencan? Ataukah hanya perlakukan sopan biasa? Apa yang harus dia lakukan?
"Hanya makan malam formal untuk menghormati pertemanan kita." Sehun bergumam di sana, seolah mengerti keraguan Luhan, "Kuharap kau mau menerima undanganku. Anggap saja itu sebagai uang sewa mantelku."
Candaan lelaki itu berhasil membuat Luhan tersenyum, "Baiklah, aku mau." Mungkin ini memang kesempatan Luhan untuk bersantai dan berusaha melupakan Kris.
"Besok, kujemput jam tujuh malam. Terimakasih, Luhan." Dengan sopan Sehun menutup teleponnya.
.
.
.
Luhan sedang mengerjakan koreksian untuk klausul kontrak penting ketika dia melihat dari ujung matanya bahwa Jongin menghampirinya,
"Sibuk, Luhan-ssi?" lelaki itu menyapa santai.
Luhan mendongakkan kepalanya, dan mendesah dalam hati. Meskipun sudah melihat Jongin berkali-kali, tetap saja dia terkesiap ketika menatap langsung ke mata biru yang indah itu. Lelaki ini terlalu tampan dan berbahaya, makhluk seperti ini seharusnya tidak dibiarkan berkeliaran dan memangsa gadis-gadis yang tidak berdaya.
"Saya mengerjakan pekerjaan seperti biasa." Luhan mengernyitkan kening ketika menyadari bahwa Jongin seperti ingin menanyakan sesuatu, "Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.
Jongin menganggukkan kepalanya, "Setiap melihatmu, aku selalu berpikir kau sangat mirip seseorang... tetapi aku belum bisa menemukan kau mirip siapa."
"Mungkin hanya kemiripan biasa, katanya di seluruh dunia ini kita punya sembilan kembaran dengan wajah yang sama." Luhan tersenyum, mengamati Jongin yang tampak sangat penasaran.
Jongin menghela napas panjang, "Betul juga. Tetapi tetap saja mengganjal di benakku." Dia mengerutkan keningnya, "Aku akan mencari tahu nanti."
Lalu lelaki itu menganggukkan kepalanya dan melangkah pergi sementara Luhan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya menatap punggung Jongin yang berlalu.
.
.
.
"Sungguh aku iri padamu." Irene mengacung-acungkan sosis goreng yang di pegangnya ke arah Andrea, "Kau di sapa oleh Tuan Jongin, kau diajak makan malam oleh lelaki tampan yang menyelamatkanmu, hmmmm …seakan Tuhan menyediakan banyak penyembuh dari patah hatimu." Irene mengerutkan keningnya, "Aku bahkan belum punya pengganti dari patah hati terakhirku, sudah satu tahun sejak aku putus dengan pacar terakhirku dan bahkan tidak ada satu lelakipun yang mendekatiku."
Luhan terkekeh, " Jongin menyapaku bukan karena tertarik padaku, tapi karena dia merasa aku mirip dengan seseorang tetapi dia tidak bisa mengingatnya, dia terus-terusan mengatakan itu kepadaku."
"Wah." Irene mengangkat alisnya, "Sepertinya dia penasaran."
"Ya, dia bilang itu mengganjal benaknya dan dia akan mencari tahu." Luhan bertopang dagu, "Menurutmu aku mirip salah satu orang yang dikenalnya?"
"Aku dulu menebak kau mirip mantan pacarnya, tapi setelah dipikir-pikir, Kim Jongin memang berganti pacar seperti berganti dasi, tidak ada yang membekas di benaknya, jadi seharusnya dia tidak merasa ada yang mengganjal di hatinya ketika dia tidak bisa mengingat siapa orang yang mirip denganmu." Irene memasukkan sosis goreng ke mulutnya dan mengunyahnya dengan bersemangat, "Mungkin kau mirip salah satu keluarganya, mungkin neneknya, atau bibinya."
"Neneknya?" Luhan membelalakkan matanya, menatap Irene pura-pura tersinggung, membuat Irene tertawa terkikik.
.
.
.
Mereka berjalan menyusuri pertokoan itu, Luhan dan Irene memutuskan untuk ke pusat perbelanjaan dan membeli sebuah gaun. Karena Luhan tidak punya gaun untuk makan malamnya dengan Sehun nanti malam. Gaun terbagusnya menyimpan kenangan tidak menyenangkan, karena gaun itulah yang Luhan pakai untuk makan malam bersama Kris, makan malam pertama yang menyenangkan, yang membuat Luhan terpesona kepada Kris. Luhan tidak mau mengenakan gaun itu lagi, dan kemudian terkungkung dalam kesedihan dan kekecewaan.
Irene mengusulkan agar mereka mampir ke pusat perbelanjaan sepulang kerja, untuk memilih gaun yang sederhana tetapi elegan, dan Luhan menyetujuinya, mengingat selain gaun satu-satunya yang tidak mau di pakainya itu, di lemarinya hanya ada kemeja formal untuk bekerja dan rok kantoran, serta berbagai macam t-shirt santai dan celana jeans.
"Bagaimana kalau gaun kuning itu?" Irene menunjuk ke arah gaun berwarna kuning cerah yang dipajang di etalase.
Luhan melirik dan mengerutkan keningnya, "Entahlah, itu tampak terlalu cerah untuk dipakai makan malam... dan warnanya kurasa mengingatkanku pada tweety." Tweety adalah tokoh kartun berupa burung kecil berwarna kuning cerah.
Irene tertawa, "Seharusnya kau lebih berani, pilihlah warna-warna cerah dan lupakan warna-warna gelap yang penakut itu." Matanya menoleh ke barisan gaun-gaun di etalase, kemudian dia menunjuk lagi, "Yang itu?"
Kali ini pilihan Irene tidak salah, mata Luhan membelalak terpesona pada gaun itu. Sebuah gaun sederhana, satu potongan, dengan kerah berbentuk V dan aksen lipatan sederhana tapi elegan yang membungkus bagian dadanya. Bagian bawahnya melebar dan jatuh dengan indahnya sampai ke mata kaki, warna gaun itu lebih tepat disebut dengan warna magenta... tampak amat sangat indah tergantung di sana.
"Mudah-mudahan harganya tidak mahal." Luhan melirik jam tangannya, sudah jam setengah enam sore. Luhan berharap harga gaun itu cocok dan dia bisa membelinya lalu pulang untuk bersiap-siap. Sehun bilang akan menjemputnya jam tujuh malam.
"Ayo kita tanyakan." Irene mendahului Luhan memasuki butik itu.
Ternyata Luhan beruntung, gaun itu didiskon dengan harga yang cukup bagi dompetnya. Luhan mencoba gaun itu dan terpana melihat betapa cocoknya gaun itu dengan dirinya. Kulit Luhan yang indah dengan warna zaitun keemasan tampak berpadu dengan warna gaun itu.
Irene bahkan menatap Luhan dengan tatapan kagum dan penuh pujian.
"Siapapun yang makan malam denganmu, dia akan tergila-gila, kau sangat cantik, Lu."
Pipi Luhan memerah, "Ini hanya makan malam formal, aku tidak bermaksud membuat siapapun tergila-gila."
Irene terkekeh, "Yah siapa tahu, kadang kita tidak pernah menduga hati kita akan terkait kepada siapa bukan? Kuharap Kris melihat penampilanmu saat ini, dia akan menyesal pastinya."
Kris. Hati Luhan terasa pedih ketika nama itu disebut, lelaki itu belum menghubunginya lagi, mungkin dia sedang memberi waktu Luhan untuk berpikir. Tetapi Luhan masih merasa sakit hati untuk memikirkan akan bertemu dengan Kris lagi, dia menggelengkan kepalanya untuk membuang pikiran tentang Kris di benaknya, kemudian menghela napas panjang,
"Ayo kita bayar gaun ini." Gumamnya penuh semangat, menatap dirinya sendiri di cermin.
.
.
.
"Ini jas anda tuan." Chanyeol, pelayan pribadi Sehun yang berwajah datar menghamparkan jas Sehun di ranjang.
Sehun yang baru keluar dari kamar mandi menganggukkan kepalanya, lelaki itu sudah memakai celana jas dan kemeja warna hitam. Penampilannya luar biasa bahkan sebelum dia mengenakan setelan jas-nya.
Chanyeol mengamati Sehun dan bergumam, "Saya harap malam ini sukses."
Sehun tersenyum miris, "Aku harap juga begitu."
Nona Luhan pasti akan terpesona kepada majikannya ini. Chanyeol tidak sabar menunggu waktu dimana Sehun akan mengambil nona Luhan, dia berpikir bahwa majikannya ini sudah menunggu terlalu lama.
"Apakah anda akan mengambilnya sekarang?"
Sehun yang sedang mengancingkan manset kemejanya dan meraih jasnya menoleh dan menatap Chanyeol sambil mengangkat alisnya,
"Apa maksudmu?"
Chanyeol berdehem, "Nona Luhan."
Mata Sehun berkilat, "Aku akan mengambilnya saat dirasa sudah perlu, Chanyeol."
"Saya takut anda akan terlambat." Gumam Chanyeol hati-hati.
Sehun terkekeh dan menggelengkan kepalanya, "Aku tidak akan terlambat, percayalah, Chanyeol, aku tidak akan lengah sedikitpun."
Kemudian lelaki itu melangkah keluar, meninggalkan Chanyeol yang menatap punggung majikannya itu berlalu. Chanyeol merasa cemas. Sangat cemas, karena ini menyangkut Luhan, perempuan satu-satunya yang membuat majikannya gagal melaksanakan tugasnya. Luhan benar-benar membuat Sehun mempertaruhkan reputasinya. Dan menurut Chanyeol, Sehun harus segera mengambil Luhan sebelum terlambat.
.
.
.
Hampir jam tujuh malam ketika Luhan memasang gelang emas dengan hiasan kristal itu di pergelangan tangannya. Gelang itu ada di kotak perhiasannya dan Luhan tidak ingat kapan dia membelinya, gelang itu ada begitu saja di sana, hingga Luhan berpikir itu adalah salah satu benda warisan peninggalan ibunya yang telah meninggal yang disimpan ayahnya.
Luhan menatap dirinya sendiri di cermin dan menghela napas panjang. Tiba-tiba dia merasa sangat gugup. Aura Sehun mampu membuatnya begitu gugup dan salah tingkah, bahkan hanya dengan membayangkannya.
Sehun lelaki yang berbahaya tentu saja, Luhan mengerutkan keningnya, menyadari bahwa lelaki itu bekerja sebagai pengawal Mr. Kyuhyun yang banyak musuhnya. Tentu saja pekerjaan Sehun juga berbahaya.
Dia pasti pandai berkelahi. Luhan menarik kesimpulan. Teringat akan sikap kejam Sehun ketika mengancam gerombolan berandalan yang mengganggu Luhan waktu itu. Kalau saja waktu itu pemimpin gerombolan dan seluruh anggotanya itu memutuskan untuk menantang, mungkin Sehun akan mampu menghadapi mereka semua seorang diri.
Lelaki itu bukan lelaki yang biasa-biasa saja seperti lelaki impiannya. Luhan menginginkan kisah romantis yang biasa-biasa saja, dengan lelaki biasa, pekerja kantoran seperti dirinya. Lalu mereka akan menikah dan hidup berumah tangga seperti orang kebanyakan. Sesederhana itulah mimpi Luhan.
Suara bel di pintu mengalihkan lamunan Luhan tentang Sehun, dia menghela napas panjang sekali lagi untuk menenangkan dirinya, lalu melangkah ke arah pintu, mengintip dari lubang intip di atas pintunya dan membuka pintu itu ketika melihat bahwa Sehun lah yang berdiri di sana.
Sehun berdiri di sana dengan setelan jas malam yang sangat maskulin, dengan rambut yang disisir rapi ke belakang, penampilannya malam ini luar biasa. Membuat Luhan terpana.
Sementara itu, Sehun sendiri tampak kagum akan penampilan Luhan,
"Cantik." Bisiknya serak, penuh rahasia. Lelaki itu lalu mengedikkan bahunya ke arah mobil hitam yang sudah menunggu di tepi jalan, "Mari kita berangkat."
"Tunggu sebentar." Luhan berbalik dan mengambil mantel Sehun yang sudah disiapkannya, lelaki itu tidak berkata apa-apa, hanya menerimanya sambil mengangkat alis, lalu mengehelanya menuju ke mobil.
.
.
.
Restoran itu sangat indah dan bergaya, membuat Luhan merenung, mau tak mau pikirannya melayang kepada Kris, waktu mereka makan malam dulu, Kris juga membawanya ke sebuah restoran yang indah. Luhan tidak menyangka bahwa hanya dalam beberapa waktu, ada dua lelaki menawan yang mengajaknya makan malam. Meskipun lelaki yang satu sudah menyakiti hatinya, dan lelaki yang ini terlalu berbahaya untuk diharapkan.
"Apakah kau senang dengan suasananya?" Sehun yang duduk di depan Luhan tersenyum samar, mereka memesan makanan pembuka dan duduk menunggu, alunan biola terdengar samar-samar dari sudut, menambah syahdunya suasana.
"Senang sekali. Terimakasih." Luhan menatap mata gelap Sehun dan tiba-tiba merasa tenggelam di dalamnya. Ada sesuatu di sana, sebuah pesan yang tak tersampaikan, seolah-olah menunggu Luhan menyadarinya.
Makan malam benar-benar berlangsung formal seperti yang dikatakan oleh Sehun. Lelaki itu lebih banyak diam hanya mengatakan hal-hal penting, dan kemudian menikmati makanannya. Luhan sendiri tidak keberatan, suasana restoran ini begitu indahnya dan dia senang memandang sekeliling sambil menikmati alunan musik yang indah.
"Apakah kau memiliki orang istimewa sekarang ini?"
Sehun bertanya tiba-tiba membuat Luhan yang sedang menyuapkan makanannya tertegun.
"Orang istimewa?" Luhan bergumam seperti orang bodoh meskipun dia tahu persis apa maksud Sehun.
Lelaki itu tersenyum, ada sedikit sinar di matanya,
"Ya, Orang istimewa, kau tahu, semacam kekasih atau calon suami mungkin?"
Luhan tertawa, "Mungkin dalam beberapa waktu yang lalu, tetapi tidak untuk saat ini."
"Maksudmu?"
Mata Luhan tampak sedih, dia menimbang-nimbang, ragu apakah harus berbagi kepada lelaki yang satu ini, bagaimanapun juga dia tidak terlalu mengenal Sehun bukan?
"Aku hanya sedang patah hati." Akhirnya Luhan bergumam, dengan makna tersirat, tidak mau menjelaskan lebih.
Sehun sepertinya mengerti, lelaki itu tidak mengejar lagi,
"Dia pria yang bodoh." Gumamnya tenang, lalu menyesap anggurnya.
Luhan hanya menganggukkan kepalanya samar, mencoba menghindari pembicaraan tentang Kris di meja ini. Tetapi kemudian tanpa sengaja matanya menatap ke arah cincin emas polos yang mencolok di jari manis Sehun. Entah kenapa dia melewatkannya, padahal cincin itu sangat mencolok melingkari jemari Sehun yang begitu maskulin.
Dan entah kenapa pemikiran bahwa cincin itu berarti Sehun sudah termiliki oleh seseorang membuatnya sedikit merasakan perasaan sesak di dadanya,
"Apakah... apakah kau sudah menikah?" Luhan akhirnya menyuarakan pertanyaan di benaknya, matanya melirik sekilas lagi ke arah cincin di jemari Sehun.
Sehun mengikuti arah pandangan Luhan ke cincinnya dan tersenyum miris,
"Maksudmu cincin ini?" Sehun menatap Luhan dalam-dalam, "Dulu aku pernah menikah."
'Dulu' dan 'pernah'. Luhan mencatat dalam hati. Apakah itu berarti dia sudah tidak menikah lagi sekarang, mungkin sudah bercerai... atau isterinya meninggal dunia?
Sehun sepertinya melihat rasa penasaran di mata Luhan, dia terkekeh,
"Aku tidak mau membahasnya di sini, sama seperti kau yang tidak mau membahas tentang patah hatimu." Gumamnya tenang, "Yang pasti aku bisa menjamin bahwa tidak akan ada yang terlukai atau patah hati ataupun pelanggaran aturan ketika aku makan malam denganmu saat ini."
Mungkin isterinya meninggal dunia, dan lelaki ini masih sangat mencintainya. Jadi untuk mengenangnya dia masih mengenakan cincin pernikahan itu.
Luhan merasa kagum, kalau benar itu yang terjadi, Luhan benar-benar kagum akan cinta Sehun yang ditujukan kepada isterinya itu.
"Dia pasti perempuan yang beruntung." Luhan bergumam pelan tersenyum ketika Sehun membalas senyumannya,
"Yah begitulah." Mata Sehun meredup, "Dulu aku juga lelaki yang beruntung."
'Dulu'. Sekali lagi Luhan mencatat pemilihan kata yang menunjukkan waktu masa lampau itu dalam kalimat Sehun.
Lelaki ini adalah lelaki yang masih mencintai sosok yang telah tiada, masih berjuang mengobati hati, gumamnya menarik kesimpulan. Well, mungkin makan malam mereka berdua bisa menjadi selingan pengobat hati bagi mereka. Luhan tak menampik, dia sangat menikmati makan malam ini. Dan dia sangat bersyukur bahwa dia menerima ajakan makan malam dari Sehun.
.
.
.
"Terimakasih atas makan malam yang sangat menyenangkan." Luhan bergumam penuh rasa terimakasih yang tulus ketika lelaki itu mengantarkannya sampai ke teras rumahnya.
Sehun hanya menganggukkan kepalanya tanpa berkata. Matanya menatap dalam, membuat Luhan merasa gugup.
"Kalau begitu ... aku masuk dulu." Luhan membalikkan tubuhnya setelah menganggukkan kepala salah tingkah.
"Luhan." Sehun tiba-tiba memanggilnya, jemarinya yang kuat memegang pergelangan tangan Luhan dan sedikit menariknya, membuat Luhan menolehkan kepalanya,
"Apa..."
Suara Luhan terhenti ketika Sehun tiba-tiba membalikkan tubuhnya dan menariknya ke dalam pelukannya. Sebelah jemari Sehun yang bebas menarik kepala Luhan sehingga tertengadah, dan seketika itu juga, bibirnya melumat bibir Luhan dengan penuh gairah.
Luhan terkesiap, tak percaya akan diperlakukan seintim itu. Ini benar-benar hal yang tidak diduganya... apalagi Sehun bersikap begitu formal dan sopan sepanjang acara makan malam mereka.
Bibir Sehun terasa keras sekaligus hangat, melumerkan bibinya, Luhan merasakan gelenyar kecil yang menjalarinya setiap Sehun mencecap bibirnya dan menikmatinya. Salah satu lengan Luhan masih ada di dalam genggaman Sehun, lengan itu sekarang lunglai tak berdaya, pasrah dalam pesona gairah Sehun.
Kemudian lidah lelaki itu tiba-tiba menelusup dengan berani memasuki mulut Luhan, mencicipinya pelan-pelan, tetapi kemudian menelusuri seluruh mulutnya tanpa ampun, seakan lelaki itu benar-benar ingin menikmati setiap rasa bibir dan mulut Luhan.
Ciuman itu luar biasa intimnya karena mereka melakukannya dengan mulut terbuka. Dan Luhan... sejauh yang bisa diingatnya, dia tidak pernah merasakan sedekat ini dengan lelaki manapun sebelumnya, tetapi entah kenapa, dalam pelukan dan lumatan Sehun, dia merasa... pas. Rasanya seperti pulang ke rumah, rumah yang sudah lama tak pernah dikunjunginya, tetapi selalu dirindukannya, jauh di dalam hatinya.
Lama kemudian, Sehun melepaskan ciumannya, tatapannya berkilat penuh gairah, berapi-api melahap seluruh diri Luhan,
"Aku merasakannya sejak aku melihatmu." Bisiknya dengan suara serak. "Gairah yang meluap dan tak terhankan, membuatku lupa diri." Matanya menelusuri bibir Luhan yang terasa panas akibat ciumannya yang membara, jemarinya menelusuri lengan Luhan dengan sensual. "Aku menginginkanmu Luhan, dan aku akan memilikimu."
Sejenak Luhan terpaku. Klaim dominan lelaki itu yang diucapkan dengan begitu angkuh, bagaikan air es yang mengguyur kepalanya. Lelaki ini sepertinya hanya menganggapnya sebagai piala. Dia hanya terlarik kepada Luhan secara fisik, tanpa hati. Seharusnya Luhan menyadarinya sejak awal! Hanya itulah yang diincar oleh sebagaian besar laki-laki!
Dengan tatapan marah, Luhan membalas tatapan Sehun, mendongakkan dagunya tak kalah angkuh dan bergumam keras kepala.
"Kau tidak akan mendapatkanku Sehun kalau memang hanya kebutuhan fisik yang kau inginkan. Aku bukan perempuan murahan!" Seolah ingin melampiaskan kemarahannya, Luhan mengusap bibirnya bekas ciuman Sehun dengan punggung tangannya. Lalu dia membalikkan badannya dan masuk ke rumah, menutup pintunya dengan kasar, tepat di depan wajah Sehun.
Suara yang kemudian didengarnya, adalah suara tawa tertahan Sehun yang makin menjauh. Sialan! Lelaki itu menertawakannya! Apakah dia menganggap ketersinggungan Luhan atas sikap arogannya sebagai lelucon?
.
.
.
"Kenapa kau tidak mau menceritakan tentang kencanmu?" Irene terus menerus berusaha membujuk Luhan untuk menceritakan kencannya dengan Sehun semalam. Tetapi Luhan menolak untuk bersuara, bayangan akan ciuman Sehun dan kemudian klaim angkuh lelaki itu sesudahnya terasa sangat mengganggunya. Dia ingin melupakan semua itu, sungguh.
Tetapi semalam dia tidur dengan tubuh terasa panas, setiap teringat akan ciuman Sehun... bagaimana lelaki itu melumat bibirnya, bagaimana lidahnya...
Astaga. Luhan mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Sepertinya dia telah berubah menjadi perempuan mesum, hanya dengan satu kali ciuman.
Lelaki itu benar-benar berbahaya, Luhan seharusnya sudah tahu dari awal, dan dia bermain api karena mencoba. Tetapi itu semua karena Sehun menyebarkan daya tarik yang tidak bisa Luhan tolak, membuat Luhan seperti ngengat yang tertarik pada cahaya lilin, dan kemudian tanpa sadar membakar dirinya sendiri sampai hangus.
"Luhan." Irene mulai merajuk, "Ayolah, cerita padaku, kau tahu bukan aku sangat penasaran. Apakah kencannya sukses? Apakah dia merayumu?"
Luhan menghela napas panjang, menyerah untuk memberikan jawabannya kepada Irene.
"Kencannya menyenangkan, kami makan malam di sebuah restoran mewah... makanannya enak. Kemudian ketika dia mengantarkanku pulang, dia menciumku setelah kami mengucapkan selamat tinggal di teras."
"Dia menciummu?" Irene berteriak begitu kencang, hingga beberapa orang yang berada di ruangan itu menoleh, membuat pipi Luhan memerah karena malu.
"Jangan keras-keras." Luhan berbisik malu, "Ya, dia menciumku."
"Berarti dia memang merayumu!" Ada kilat aneh di mata Irene, tetapi kemudian ekspresi Irene berubah girang, "Wow! Luhan kau sangat beruntung, dari ceritamu, Sehun sangat tampan dan dia menciummu! Itu berarti dia mungkin punya perasaan lebih kepadamu."
Luhan menggelengkan kepalanya, berusaha memadamkan antusiasme Irene.
"Tidak. Dia mungkin menyukaiku, tetapi bukan menyangkut perasaan. Dia hanya menyukaiku secara seksual, hanya fisik belaka."
Irene menatap Luhan seolah Luhan aneh, "Bukankah itu bagus? Banyak pasangan bahagia yang dimulai dari ketertarikan fisik."
"Tetapi dia arogan, dia bilang dia menginginkanku, dan dia akan memilikiku." Sela Luhan berusaha menjelaskan kemarahannya kepada Sehun.
"Wow." Reaksi Irene benar-benar di luar harapannya, "Luar biasa, benar-benar lelaki impian, aku memimpikan ada lelaki yang mengucapkan hal seperti itu padaku, dengan dominan. Pasti akan terdengar seksi dan menggetarkan."
"Itu sama saja merendahkan perempuan." Luhan mencibir, menggeleng-gelengkan kepalanya melihat cara pandang Irene, "Aku tidak mau memberi kesempatan pada lelaki yang menganggap perempuan hanya sebagai piala dan pemuas nafsu."
Ya. Luhan sudah memutuskan. Tidak ada kesempatan untuk Sehun. Meski hatinya bergetar karena lelaki itu, bukan berarti dia akan tunduk di bawah kekuasaannya seperti perempuan dimabuk cinta yang murahan.
.
.
.
Ketika Luhan sampai di depan rumahnya, dia tertegun karena menemukan Kris berdiri di sana. Mereka bertatapan. Dan meskipun kemarahan serta kekecewaan masih memenuhi benak Luhan, dia menahankannya. Matanya menelusuri lelaki itu dan menyimpulkan bahwa Kris tampak lebih kurus.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Luhan bergumam datar, kesakitan masih tercermin di matanya. Hatinya masih terluka dan berusaha menyembuhkan diri, Luhan tidak siap ketika harus menghadapi Kris secara langsung seperti ini….
.
.
.
TBC
Disini ada yang main EXORun gak?
Sumpah yaaa sebel banget sama stage 40, si sehun kalo gak kebakar yaa jatoh -_- kan kasian biasku gak kinclong lagi :D
Ahhh sudahlah, aku cuman sedikit curhat aja :D
Btw, jangan panggil 'thor' yaaa, aku gak sekuat dan sehebat 'thor' kok :))
Buat yang diatas 96L boleh panggil saeng, yang di bawah 96L panggil aja unnie, dan yang seumuran panggil aja chingu ^^
Udah dulu yaaa, makasih buat yang review dan sempetin baca~~
See you in next chap...
