Syndrome

By: Kei Tsukiyomi

.

.

Author's note: Maaf kalau chap ini aneh.

Warning: AU, OOC, Typos, Gs for Hyuk, dll DLDR!

Disclaimer: Milik Tuhan YME.

Pair: Haehyuk

Happy read semua~

^-^v

.

.

.

Tunangan? Lelaki yang saat ini berbicara di telpon adalah tunangan Hyukjae? Donghae memang tidak sepenuhnya paham arti kata Tunangan, tapi ia mengerti satu hal. Tunangan berarti memiliki ikatan khusus dan mereka memiliki satu sama lain yang berakhir dengan pernikahan. Donghae tau karena beberapa saudaranya telah bertunangan.

Tidak! Hyukjae hanya miliknya! Hanya miliknya seorang.

Donghae bergerak gelisah dan menggelengkan kepalanya.

"Halo, Hyukjae?" suara Nickhun masih terdengar dan itu membuat Donghae semakin resah.

Hyukjae menggeliat pelan sebelum dengan perlahan membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah Donghae yang bergerak-gerak gelisah. Ia segera bangun dan mendudukkan dirinya.

"Hae," panggilnya pelan dengan suara serak khas bangun tidur. Hyukjae terkejut saat Donghae menoleh padanya dengan tatapan nyalang. Ada apa? Tunggu, yang dipegang Donghae itu I phonenya kan?

Donghae membanting I phone silver Hyukjae ke tepi tempat tidur dan tanpa basa-basi memeluk Hyukjae erat. Sangat erat.

"Hae kau kena-"

"Kau milikku Lee Hyukjae! Hanya milikku!" bisik Donghae tepat di telinganya. Suaranya tampak dingin dan tajam, membuat Hyukjae membeku seketika. Ada apa dengan Donghae? Pandangannya teralih pada I phonenya yang masih menyala. Dengan susah payah ia berusaha mengambil I phonenya karena pelukan Donghae sangatlah erat. Nomor tidak dikenal?

"Halo?"

"Halo Hyukjae-ssi kau tidak apa-apa?" suara lelaki?

"Maaf ini siapa?"

"Aku Nickhun, bukankah tadi aku sudah bilang padamu?" mata Hyukjae melebar. Nickhun? Jadi yang berbicara dengan Donghae adalah Nickhun?!

"Ni-Nickhun-sii ada apa menghubungiku?"

"Tentang pertunangan kita. Aku ingin membicarakannya denganmu, bisakah?" gadis itu menutup matanya. Oh Tuhan. Jangan bilang Donghae mendengar semua itu dari Nickhun. Sekarang ia mengerti kenapa sikap Donghae seperti ini.

"Maaf Nickhun-ssi nanti kuhubungi lagi." Tanpa basa-basi Hyukjae mematikan sambungan telponnya. Tak peduli reaksi Nickhun nanti.

"Ha-Hae…" tidak ada jawaban apapun. Hanya suara geraman rendah yang tertangkap indera pendengarannya. Bagaimana ini? Donghae tampak marah.

"Hae dengarkan aku. Dia bukan tunanganku Hae. Sudah tidak lagi, percaya padaku," pinta Hyukjae dengan ekspresi resah. Tangannya dengan gemetar mengusap punggung Donghae.

"Hae…" Hyukjae memekik saat Donghae mendorongnya hingga ia terbaring di ranjang dengan Donghae di atasnya. Memenjarakannya dengan kedua tangan di sisi kepalanya. Ia tidak berkutik saat melihat pandangan tajam penuh api amarah dari hazel Donghae.

"Hae…"

"Kau milikku! Hanya milikku!" Hyukjae menelan ludah gugup dengan jantung berdebar kencang. Ia harus apa? Ia harus cepat meredakan amarah Donghae atau ini akan berlanjut semakin buruk.

Dengan perlahan Hyukjae melingkarkan tangannya di leher Donghae dan mencium bibir tipis di depannya lembut. Hanya sebentar sebelum melepaskan dan mengecupnya lagi, begitu terus selama beberapa kali. Hanya itu yang terlintas di benaknya untuk meredakan amarah Donghae. Donghae menggeram pelan dan langsung mencium bibir Hyukjae dalam. Membawanya ke dalam ciuman yang menuntut dan bergairah. Hyukjae menutup matanya saat ciuman Donghae semakin intens dan berusaha menerobos masuk ke dalam mulutnya. Hyukjae mengijinkannya. Ia meremas rambut belakang Donghae saat dirasa ciuman itu begitu dalam dan memabukkan. Ia terengah saat Donghae melepas ciumannya dan berpindah ke lehernya. Memberikan kecupan-kecupan kecil. Membuat Hyukjae kembali menutup matanya.

"Haeh…"

"Kau hanya milikku Lee Hyukjae!" Hyukjae menatap mata Donghae yang masih menatap tajam padanya. Ia mengangguk dengan wajah merona.

"Iya, Hae. Aku milikmu. Hanya milikmu," ucapnya pelan dengan wajah memerah sempurna. Hyukjae tidak tau kenapa bisa menjawab seperti itu. Ia hanya mengikuti kata hatinya yang mengatakan dirinya milik Donghae begitupun sebaliknya. Donghae menciumi helai redbrown gadis di bawahnya dengan mata tertutup.

"Ya Hyukjae. Kau milikku. Akan selalu jadi milikku!" dan membawa gadis itu kembali dalam dekapannya. Hyukjae berusaha kuat untuk meredam debur jantungnya yang berkelotakan di katup. Seakan-akan ingin menyembur keluar. Paras cantiknya masih berhiaskan rona merah yang cukup pekat hingga ke telinga. Donghae yang seperti ini selalu berhasil membuatnya berdeba-debar.

Ah, Donghae. Sepertinya kau telah menumbuhkan benih cinta di hati Hyukjae yang kini mulai bersemi.

.

.

.

Hyukjae mengusap-usap lengan Donghae yang sedari tadi masih setia memeluknya erat tak mau melepaskan. Kini mereka berada di salah satu kafe untuk makan dan juga menunggu seseorang untuk Hyukjae. Sulit sekali membujuk Donghae untuk keluar dan pulang ke rumah. Setelah insiden kemarahan Donghae tadi pagi, lelaki itu tidak mau beranjak dari ranjang dan tetap memeluk Hyukjae. Setelah dibujuk sedemikian rupa akhirnya Hyukjae berhasil membawa Donghae keluar. Bagaimanapun ada suatu hal yang harus diselesaikannya sebelum kembali ke Paris.

"Permisi, Nona Lee Hyukjae." Perhatian Hyukjae teralih saat seorang lelaki tampan bertubuh tinggi dengan dimple smilenya berdiri di depan gadis itu. Hyukjae membalas senyumnya dan menyuruhnya duduk.

"Silahkan duduk Siwon-ssi." Siwon tersenyum pada Donghae dan dibalas tatapan tajam dan tidak suka darinya. Siwon mengernyit sebentar. Tak mau ambil pusing, Siwon segera duduk menghadap Hyukjae.

"Ini data-data yang anda minta nona." Siwon mengeluarkan map cokelat dan mengulurkannya pada Hyukjae yang langsung diterimanya. Membuka map itu, Hyukjae memperhatikan setiap detail data yang tertera dengan teliti, mengabaikan Donghae yang sedari tadi meminta perhatian.

"Hyukie…"

"Hm?"

"Hyukie…"

"Sebentar, Hae."

"Bagaimana, Nona, apa datanya sudah lengkap?"

"Ya, kurasa ini sudah lengkap. Terimakasih atas kerja kerasmu, Siwon." Hyukjae tersenyum manis dan itu semua mengusik Donghae. Kenapa saat Siwon yang bertanya langsung dijawab sedangkan ia tidak? Donghae menatap tajam Siwon. Hyukjae menoleh begitu mendengar geraman rendah Donghae. Bisa ia lihat hazel Donghae berkilat tajam menatap Siwon. Gawat, Donghae pasti tidak suka dengan keberadaan Siwon sekarang.

"Hae, ayo dimakan. Kau baru sembuh, aku tidak mau kau sakit lagi." Melihat puppy eyes yang sangat menggemaskan dari Hyukjae membuatnya merona. Donghae mengangguk dan mulai menyantap makanannya. Oh-oh, sepertinya bukan Donghae saja yang merona melihat aegyo Hyukjae. Siwon juga tampak memerah melihatnya. Untung saja Donghae tak memperhatikan.

"Sebenarnya data tersebut untuk apa ,nona?" Siwon membuka pembicaraan. Hyukjae tersenyum. Sebuah senyum misterius.

"Untuk memberi kejutan pada seseorang," jawabnya masih tersenyum misterius. Hyukjae menyeringai membuat Siwon sedikit bergidik.

"Kau mau makan bersama kami?" tawar Hyukjae kembali tersenyum manis. Siwon tersenyum malu. Ia ingin mengangguk.

"Hyukie. Ayo pergi." Donghae menarik tangan Hyukjae lembut untuk pergi. Siwon menatapnya tidak suka. Hyukjae tersenyum canggung. Tidak mau berakhir buruk dengan mengamuknya Donghae, Hyukjae segera mengambil tindakan.

"Err… Siwon-ssi sekali lagi terimakasih atas bantuannya. Aku sangat terbantu dan maaf sepertinya kita tidak bisa makan bersama. Aku harus ke suatu tempat sekarang. Sekali lagi terimakasih atas bantuannya." Hyukjae sedikit membungkukkan badannya.

"Ayo Hyukie." Donghae kembali menariknya untuk segera menjauh dari Siwon.

"Sekali lagi terimakasih ya," ucap Hyukjae agak keras karena tubuhnya sudah ditarik Donghae menjauh. Siwon menatapnya sendu. Ada kekecewaan saat tak bisa bedekatan lebih lama dari anak atasannya itu. Ia menghela nafas melihat punggung mungil Hyukjae yang semakin tak terlihat.

"Sepertinya cintaku bertepuk sebelah tangan."

.

.

.

"Hae, tidak sopan pergi begitu saja saat ada oranglain." Donghae memberengut mendengar teguran Hyukjae. Dia tidak suka Siwon.

"Hae, kau dengar aku?" tidak ada jawaban. Hyukjae menghela nafas. Hyukjae tau Donghae tidak suka dengan Siwon, terlihat dari sorot matanya. Tapi menurut gadis itu, sangat tidak sopan meninggalkan oranglain saat ada pembicaraan. Hyukjae berhenti melangkah dan berdiri di hadapan Donghae yang menunduk.

"Hae, dengarkan aku. Walaupun kau tidak suka dengan oranglain tapi kau tidak boleh memperlakukannya tidak sopan begitu. Ahjussi tidak pernah mengajarkan seperti itu kan?" Donghae tetap diam tak menjawab.

"Hae-"

"Aku tidak suka dia."

"Kenapa kau tidak suka? Siwon tidak berbuat hal yang buruk padamu dan padaku."

"Dia membuat Hyukie mengabaikan Hae. Hae tidak suka!" ucapnya dengan nada yang naik satu oktaf. Hyukjae menghela nafas.

"Maafkan aku. Aku bukannya sengaja mengabaikanmu. Maaf, Hae." Hyukjae mengerti. Ini bukan sepenuhnya salah Donghae. Dia juga bersalah di sini. Tanpa sadar mengabaikan Donghae saat memeriksa data yang didapatnya.

"Hyukie tidak boleh bicara dengannya lagi. Pokoknya tidak boleh!" bagaimana Hyukjae harus menjawabnya? Rasanya tidak mungkin kalau tidak bicara dengan Siwon karena Siwon adalah bawahan sekaligus salah satu kepercayaan keluarga Lee. Hyukjae sering berinteraksi untuk membahas perusahaan.

"Kenapa tidak boleh?" Hyukjae tersentak saat Donghae menatapnya tajam dan mendorongnya pelan ke sudut dinding rumah penduduk yang mereka lewati.

"Kau hanya milikku Hyukie. Hanya milikku!" Hyukjae menelan ludahnya gugup. Kenapa belakangan ini Donghae selalu membuatnya tak berkutik? Untung saja jalan yang mereka lewati kini sepi. Jadi tidak aka nada yang menatap mereka curiga dengan posisi yang bisa dibilang begitu intim itu.

"I-iya, Hae. Aku milikmu. Sekarang lepaskan aku, ne?" Donghae menurut. Ia menurunkan kedua tangannya yang sempat mengurung pergerakan Hyukjae. Sorot mata tajamnya juga sudah mulai mereda dan kembali seperti semula. Hyukjae mengusap pipi Donghae dengan lembut.

"Jangan khawatir, Hae. Aku akan selalu ada untukmu. Sekarang ayo kita pergi." Donghae tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi putihnya. Ia mengangguk semangat dan kembali menggenggam tangan halus Hyukjae.

"Ayo, Hyukie~"

.

.

.

Ibu Hyukjae sedikit terkejut saat melihat ibu mertuanya berdiri tak jauh dari pintu kamar. Ibu Hyukjae tengah merapihkan kamar Hyukjae, anaknya saat ini. Membersihkan barang-barang buatan sendiri sejak Hyukjae kecil. Hyukjae itu anak yang sangat kreatif. Tak jarang barang-barang yang dianggap tidak berguna bisa menjadi prakarya di tangannya. Tak jarang juga barang-barang tersebut dihadiahkan untung dirinya dan sang nenek. Tapi seperti yang telah diduga. Sang nenek tak mau menerimanya karena menganggap barang itu sampah. Murahan.

"Ibu-ah maaf, nyonya besar sedang apa di sini?" ibu Hyukjae mendekat perlahan dan bertanya dengan nada lembut. Sang nenek tetap terdiam dengan pandangan fokus menatap barang-barang Hyukjae yang dia ingat pernah ditujukan untuknya. Tapi selalu ditolak mentah-mentah.

"Bocah tengik itu belum pulang juga?" tanyanya dengan wajah datar. Ibu Hyukjae tersenyum maklum. Sudah terlalu terbiasa mendengar panggilan itu yang disematkan untuk Hyukjae.

"Belum. Kemungkinan besok baru kembali ke sini." Sang nenek terdiam setelahnya.

"Ah, Nyonya, Hyukjae menitipkan ini padaku untuk diberikan untukmu." Ibu Hyukjae mengambil tas tangan yang cukup elegan dengan warna silver yang menambah nilai plus pada tas tersebut. Ibu Hyukjae sangat ingat dengan tas ini. Hyukjae membuatnya sendiri dengan susah payah. Selama ini barang pemberiannya selalu disebut sampah oleh nenek. Ia yang bersedih karena selalu mendapat penolakan mulai bertekad untuk membuat sesuatu yang berharga untuk neneknya. Hyukjae membeli bahan-bahan untuk pembuatan tas yang berkualitas bagus. Hanya bahan-bahannya. Setelahnya ia membuat sendiri tasnya. Dengan sepenuh hati berharap sang nenek akan menerima pemberiannya.

Sang nenek memandang penuh penilaian pada tas yang diulurkan padanya. Dengan ragu ia mulai mengambil tas tersebut. Membuahkan senyuman diwajah teduh ibu Hyukjae. Akhirnya ibu mertuanya mau menerima pemberian Hyukjae. Bolehkah ia berharap bahwa keadaan akan lebih baik lagi ke depannya? Mau membuka hatinya untuk Hyukjae saja sudah cukup untuknya. Dia tidak berharap lebih jauh lagi. Kebahagian anaknya adalah prioritas hidupnya.

"Nyonya ingin kubuatkan teh gingseng? Udara agak dingin sekarang." Ibu Hyukjae bertanya dengan siap menerima penolakan, tapi jawaban mertuanya membuatnya terkejut.

"Buatkan satu cangkir dan bawa ke ruang kerjaku. Jangan panggil aku nyonya lagi, menantu." Ibu Hyukjae menatap tak percaya pada mertuanya yang berlalu dari hadapan. Benarkah apa yang ia dengar barusan? Itu berarti… dirinya sudah diakui sebagai istri anaknya? Matanya berkaca-kaca. Tuhan, terimakasih atas segala penantiannya yang berbuah manis.

"Sayang, ayo makan siang bersama." Ibu Hyukjae menoleh pada suaminya yang baru memasuki kamar Hyukjae dan kini berdiri di depannya. Dengan segera ia memeluknya erat.

"Hei-hei, ada apa ini hm?" sang suami mengelus-elus punggung istrinya yang berada di pelukannya lembut.

"Nanti kuceritakan."

"Baiklah. Ayo kita makan dulu, sayang. Sekalian kita hubungi anak kita."

"Iya."

.

.

.

"Hyukie…"

Donghae menggenggam erat tangan Hyukjae dengan sedikit gemetar, tampak tidak nyaman dengan sekitarnya. Saat ini mereka berada di salah satu kantor hotel terkenal. Banyak yang melihat pada Donghae dengan pandangan mengerut. Membuatnya sangat tidak nyaman.

"Hyukie ayo pulang," Hyukjae mengelus-elus punggung tangan Donghae dengan senyuman di wajah manisnya.

"Tidak apa-apa Hae, ada aku di sini. Jangan takut."

"Hyukie, kau datang, nak?" Hyukjae tersenyum ke arah eommanya yang baru datang.

"Hai Donghae," sapanya hangat. Donghae hanya terus menunduk.

"Sesuai janjiku eomma. Aku datang hari ini."

"Ayo ke ruanganku, kita bicara di sana saja. Di sini tampaknya tidak membuat Donghae nyaman." Seulbi menatap para karyawannya yang sedaritadi melirik-lirik Donghae dan Hyukjae.

"Tidak apa-apa, di sini saja eomma. Lagipula aku hanya sebentar." Seulbi mengangguk.

"Baiklah, kalau begitu ada apa?"

"Sebelumnya bisa eomma panggilkan Jieun untuk kemari?" Seulbi mengangkat sebelah alisnya. Jieun? Untuk apa? Tak mau ambil pusing Seulbi memerintahkan karyawannya untuk memanggil Jieun yang bekerja di lantai bawah.

Tak berapa lama wanita itu muncul dan menatap terkejut ke arah mereka. Hyukjae menampilkan seringainya untuk Jieun. Ini saatnya untuk membalas perbuatan jahat wanita iblis itu.

"A-ada apa Sajangnim memanggil saya kemari?" tanyanya gugup.

"Nah Hyukie, Jieun sudah di sini. Sekarang kau mau bicara apa?" Hyukjae menyerahkan map cokelat yang sedaritadi dibawanya pada Seulbi yang menatap bingung padanya.

"Apa ini?"

"Bukti kebusukan Jieun," jawabnya kalem. Jieun membelalakkan matanya marah.

"Apa katamu?!" Hyukjae tersenyum manis membalasnya. Sedangkan Seulbi mengerutkan dahi. Dengan segera ia membuka map tersebut dan membaca dengan seksama data yang didapatnya. Seketika matanya membulat sempurna tanda terkejut. Senyum Hyukjae semakin mengembang.

"I-ini…"

"Benar Eomma. Itu bukti kebusukan rubah licik ini." Telunjuk Hyukjae mengarah pada Jieun yang mulai berkeringat dingin. Hyukjae sangat menikmati setiap ekspresi yang dikeluarkan wanita iblis ini. Donghae yang tidak mengerti apa-apa hanya tetap menggenggam tangan Hyukjae dan merapat padanya.

Hyukjae berbalik dan menatap semua karyawan hotel Seulbi dengan pandangan tegas.

"Mohon perhatiannya sebentar." Sontak semua karyawan yang berada di sana langsung memasang posisi siap mendengarkan.

"Kalian tentu kenal wanita yang berdiri canggung ini kan?" jari Hyukjae kembali menunjuk Jieun yang melotot padanya. Dia tidak peduli. Para karyawan mengangguk serempak.

"Bagaimana pendapat kalian tentang wanita ini? Jawab saja jangan takut-takut." Terdengar bisik-bisik dan saling sikut sebentar sebelum seorang wanita berambut hitam mulai berbicara.

"Jieun wanita yang baik, dia sering membantu pekerjaan kami, sikapnya pun sopan." Hyukjae menyunggingkan senyum remeh mendengarnya. Baik? Yang benar saja. Sepertinya mereka semua telah termakan tipu muslihat iblis wanita ini.

"Benarkah? Apakah membantu dalam bentuk mengerjakan laporan keuangan kalian?" wanita berambut hitam itu mengangguk.

"Bodoh sekali. Apa kalian tidak sadar kalau selama ini kalian telah ditipu mentah-mentah? Wanita ini telah memanipulasi laporan kalian dan mengkorupsi penghasilan hotel ini dalam jumlah banyak. Coba periksa sekali lagi laporan kalian. Bukankah belakangan ini laporannya selalu tidak balance dan malah merugi?" para karyawan itu sontak langsung memeriksa kembali laporannya.

"Be-benar," jawabnya dengan ekspresi terperangah. Mereka semua menatap tajam Jieun yang mulai ketakutan.

"Untuk lebih jelasnya, bukti valid sudah dipegang atasan kalian ini. Dan apa kalian bilang tadi? Baik?sopan? lihat ini!" Hyukjae segera mengambil I phone silvernya dan memutar video saat Jieun dengan mudahnya memaki oranglain tak bersalah bahkan orangtua sekalipun. Di video itu terlihat Jieun memaksa salah satu nenek-nenek untuk berdiri dari kursinya karena ia ingin duduk. Mereka semua menatap tak percaya video tersebut. Bagaimana mungkin wanita yang selama ini mereka anggap polos dan lembut bisa melakukan hal rendah seperti itu.

"I-Itu tidak benar! Video itu sudah dimanipulasi! Itu tidak benar!" jerit Jieun dan ingin mengambil I phone Hyukjae tapi kalah cepat.

"Kau mau mengambil I phoneku? Bukankah kau sudah punya banyak uang hasil korupsi?"

"Kau!"

"Apa? Kau bilang video ini hanya rekayasa? Silahkan panggil pakar IT untuk memeriksa video ini asli atau palsu. Aku menantangmu." Jieun tidak bisa berkutik karena video itu memang benar adanya. Bagaimana bisa wanita ini memilikinya? Sialan!

"Ah dan satu lagi. Eomma, ingat pembicaraan kita kemarin? Kau bilang ingin bertemu karyawanmu yang bernama Jieun tapi tidak jadi karena Jieun tidak datang?" Seulbi mengangguk dengan tatapan tajam tertuju pada Jieun.

"Dia datang, eomma. Tapi menemui oranglain. Dan kau tau apa yang dilakukannya?" hening sejenak tak ada yang bersuara. Mereka semua fokus menanti kelanjutannya.

"Dia berkhianat. Wanita ini menjual data-data penting hotel ini dan menukarnya dengan uang. Dia juga menjual beberapa asset hotel tanpa sepengetahuan siapapun. Bukankah Jieun itu iblis sejati?" Hyukjae tersenyum manis, nada bicaranya pun sangat tenang berkebalikan dengan ekspresi para karyawan dan juga Seulbi tentu saja. Mereka semua menatap tak percaya pada Jieun yang terdiam kaku di ujung sana.

"Dia bohong sajangnim. Dia bohong! Mana buktinya hah?! Kau yang iblis!" dengan tenang Hyukjae kembali mengutak-atik I phonenya dan menunjukkan video yang direkamnya tempo hari di taman hiburan bersama Donghae.

Skak mat!

Jieun tak bisa membantah apapun lagi karena semua bukti sudah didapat. Seulbi menatap marah saat melihat video tersebut dan tanpa aba-aba menampar keras Jieun hingga wanita itu jatuh terduduk.

"Kurang ajar! Berani-beraninya kau melakukan hal keji seperti ini! Kau ku pecat! Dan jangan harap masalah ini selesai sampai di sini saja. Kita akan bertemu di pengadilan." Jieun membelalakan matanya. Pengadilan? Dia akan berurusan dengan hukum? Tidak! Dia tidak mau!

"Sajangnim ku mohon jangan lakukan itu. Saya mengaku saya memang bersalah. Tolong maafkan saya. Jangan bawa masalah ini ke pengadilan. Saya mohon," pintanya dengan airmata yang mengalir. Sungguh, ia takut sekarang. Seulbi menatapnya dingin.

"Persiapkan dirimu untuk bertemu di pengadilan nanti. Cepat pergi dari sini!" para karyawan di sana berbisik-bisik dengan suara cukup keras hingga bisa di dengar. Mereka semua mencemooh Jieun. Wanita itu menatap Hyukjae marah. Ia bangkit berdiri di depan Hyukjae yang menatapnya dengan senyuman.

"Ada apa?"

"Kau! Kenapa kau lakukan ini?! Kau wanita iblis, busuk!" Hyukjae bertepuk tangan pelan.

"Well, kalian sudah dengar kan bagaimana wanita ini memaki seseorang yang tidak bersalah? Jadi sebenarnya siapa yang busuk di sini hm?" para karyawan di sana mengangguk serempak dan kembali mencibir pada Jieun. Hyukjae maju selangkah dan berbicara dengan suara rendah.

"Bukankah sudah kuperingatkan, jika kau mengganggu Donghae lagi kau akan mendapat balasan dariku." Jieun mengangkat tangannya bersiap menampar Hyukjae tapi tertahan oleh Seulbi yang menangkap tangannya dan mendorongnya hingga jatuh terjerembab. Donghae memeluk Hyukjae dari belakang dan menjauhkannya dari Jieun. Tak mau gadisnya terluka.

"Hyukie jangan dekat-dekat dengannya. Nanti Hyukie dilukai. Hae tidak mau Hyukie terluka," bisiknya tepat di telinga Hyukjae yang memerah. Gadis itu mengusap-ngusap lengan Donghae dan mengangguk.

"Kenapa kau tidak tau malu? Kebusukanmu terungkap dan kau malah memaki oranglain? Ckckck memalukan!" Seulbi tersenyum remeh dengan tangan yang bersedekap. Hyukjae melepaskan pelukan Donghae dan tersenyum menenangkan saat ingin menghampiri Jieun. Ia berjongkok di depan Jieun dan memasang wajah datar.

"Mata dibalas mata. Gigi dibalas gigi. Perasaan baik dibalas perasaan baik. Perasaan buruk dibalas buruk pula. Itu saja." Seketika Jieun menangis meratapi perbuatannya. Ia menutup wajah dan terisak kencang. Donghae ikut menghampiri Jieun dan berjongkok bersama Hyukjae. Ia mengulurkan sapu tangan pada Jieun yang masih menangis.

"Noona jangan menangis. Ini, hapus airmata noona dengan ini." Jieun menatap Donghae dan sapu tangan berwarna biru di depannya dengan pandangan sulit diartikan.

"Kau lihat? Orang yang selama ini kau hina justru malah menawarkan saputangannya untuk menghapus airmatamu. Kuharap setelah ini kau mengubah cara berpikirmu dan mintalah pengampunan PadaNYA." Hyukjae mengambil saputangan biru itu dan menyerahkannya pada Jieun. Setelahnya ia bangkit berdiri dan menggengam tangan Donghae.

"Eomma aku pergi dulu, hanya itu yang ingin kusampaikan. Nanti kutelpon lagi." Seulbi mengangguk dan memeluk Hyukjae dan juga Donghae yang merasa kikuk. Tanpa kata lagi Hyukjae dan Donghae berlalu dari sana diiringi tatapan Jieun yang tertuju pada punggung mereka dengan sendu.

.

.

.

Nickhun menyandarkan punggungnya di dinding ruangan kerjanya. Ia kembali menatap pesan singkat dari Hyukjae yang berisi penegasan pembatalan pertunangan mereka. Ternyata memang tidak bisa. Nickhun meremas dadanya dan meringis perih atas patah hati yang dialaminya. Sakit sekali. Hyukjae adalah wanita pertama yang menarik perhatiannya dan ia harus menerima bahwa cintanya tak terbalas dan ia tidak bisa memaksakan perasaannya pada wanita itu.

"Hyukjae… "

.

.

.

Hyukjae menghentikan laju mobilnya di depan kediaman Donghae. Gadis itu membawa Donghae pulang dengan ia yang menyetir mobil yang dipakai Donghae kemarin. Hari sudah menjelang sore. Dan saat Hyukjae dan Donghae keluar dari mobil, Mr. Lee dan Donghwa juga Sora sudah berdiri di depan pintu menunggu mereka. Hyukjae memang mengirim kabar pada mereka saat ingin pulang. Tanpa basa-basi Mr. Lee memeluk Donghae dengan erat sedangkan Sora memeluk Hyukjae.

"Kau tidak apa-apa, nak? Astaga kau membuat appa khawatir. Hyukjae kau juga tidak apa-apa?" Hyukjae mengangguk pada Mr. Lee yang terlihat cemas. Ia melepaskan pelukan Sora.

"Kami baik-baik saja, Ahjussi. Tidak perlu khawatir." Mr. Lee menghembuskan nafas lega. Dia menepuk-nepuk pundak Donghae.

"Jangan lakukan itu lagi, nak. Appa mohon jangan lakukan itu lagi." Donghwa juga menepuk-nepuk pundak Donghae ringan.

"Benar, Hae. Kami semua khawatir pada kalian. Jangan lakukan itu lagi, mengerti?" Donghae mengangguk dengan wajah menunduk. Donghae merasa sedih telah membuat appa dan hyungnya khawatir. Donghwa mengusap kepala adiknya dengan sayang.

"Ahjussi, kalau begitu aku pamit dulu," ucap Hyukjae membuat mereka semua menatapnya. Gadis itu berniat beristirahat di rumah Sora. Lagipula banyak hal yang ingin diceritakannya pada kakak tersayangnya. Mr. Lee mengangguk.

"Baik-"

"Tidak boleh!" Donghae menarik tangan kanan Hyukjae erat, tak mengijinkannya beranjak sedikitpun. Hyukjae menatap hazel Donghae yang menatapnya tajam.

"Tapi Hae-"

"Hae bilang tidak boleh! Hyukie tidak boleh pergi!" sebenarnya Hyukjae berniat beristirahat di rumah Sora hanya sebentar sebelum malamnya kembali lagi ke sini. Bagaimanapun ia tau Donghae pasti tidak mau ditinggal. Lagipula besok ia harus kembali ke Paris. Hyukjae menatap Sora meminta pengertian dan Sora mengerti.

"Kau bisa menelponku nanti." Hyukjae mengangguk dan tersenyum manis pada Sora.

"Baiklah Hae, aku tidak pergi kemana-mana," ucapnya dan membuat Donghae tersenyum senang.

"Terimakasih Hyukjae." Mr. Lee menepuk kepala Hyukjae lembut.

"Aku tidak melakukan apa-apa. Nah ayo kita masuk." Mereka semua mengangguk dan masuk ke dalam rumah dengan senyum.

.

.

.

Hari sudah malam dan kini Hyukjae berada di kamar Donghae. Ingin membicarakan kepergiannya besok. Hyukjae tampak berdiri canggung dengan bibir bawah yang digigit karena gugup. Donghae menatap Hyukjae heran dari tempat tidurnya.

"Hyukie sini duduk. Kenapa berdiri terus di situ?" Donghae menepuk-nepuk tempat di sebelahnya, menyuruh Hyukjae untuk duduk. Gadis itu menghembuskan nafas pelan dan duduk di samping Donghae yang terus menatapnya intens. Bagaimana Hyukjae harus memulainya?

"Hyukie?" Hyukjae mengambil tangan Donghae untuk digenggamnya. Dengan perlahan Hyukjae menatap mata Donghae hanya untuk melihat refleksi dirinya dalam hazel itu.

"Hae… ingat pembicaraan kita kemarin malam?" Donghae tampak berpikir sebentar.

"Yang mana, Hyukie?" Hyukjae semakin menggigit bibir bawahnya resah. Ia tersentak saat jari Donghae menyentuh bibirnya.

"Jangan digigit, nanti Hyukie terluka." Jantung Hyukjae semakin berdetak dengan cepat. Bahkan ia bisa mendengar suara detakkannya. Entah kenapa Hyukjae jadi merasa seperti seorang istri yang ingin mengakui kesalahannya pada suaminya. Hyukjae menggeleng pelan berusaha mengusir pikiran barusan.

"Hae… kau ingat pembicaraan kita tentang… kepergianku?" suara Hyukjae semakin mengecil diakhir kata. Pandangan Donghae menajam saat mengingatnya. Ia tidak mau diingatkan tentang kepergian Hyukjae kembali ke Paris. Tidak mau!

"Lalu?" Tanya Donghae dengan suara rendah sarat akan kemarahan. Hyukjae menelan ludah gugup.

"A-Aku… aku akan kembali ke Paris be-besok, Hae." Hyukjae menutup mata bersiap menerima amukan Donghae. Tapi hingga beberapa detik menunggu, tidak terjadi apa-apa. Hyukjae membuka matanya dan onyxnya langsung bertubrukan dengan hazel Donghae yang masih menatapnya tajam dan juga… terluka. Sungguh, lebih baik Donghae mengamuk seperti biasanya daripada diam seperti ini. Ini lebih menyakitkan dan Hyukjae tidak tau harus bagaimana.

"Hae… bu-bukankah kita sudah berjanji? Aku berjanji ini yang terakhir dan setelahnya aku akan selalu bersamamu." Donghae tetap terdiam dengan hazel yang terus menatapnya. Hyukjae kembali menggigit bibir bawahnya resah. Dan ia kembali dikejutkan dengan jemari Donghae yang menyentuh bibirnya. Menyuruh tanpa kata agar Hyukjae tidak menggigit bibirnya. Onyx Hyukjae mulai berkaca-kaca. Sungguh, sikap Donghae yang terus terdiam seperti ini membuatnya sesak. Kenapa Donghae tidak mengatakan apa-apa?

"Hae… katakan sesuatu. Kumohon…" Donghae menghapus airmata Hyukjae yang mulai membasahi pipinya dan mengusap-usap pipi putih itu sayang.

"Hae, aku berjanji akan kembali padamu." Donghae memajukan wajahnya dan menyatukan dahinya dengan Hyukjae yang masih berlinang airmata. Telaga cokelat miliknya memaku iris hitam Hyukjae.

"Jangan menangis, sayang. Cukup tepati janjimu untuk kembali padaku secepatnya. Hanya lakukan itu untukku." Suara Donghae mengalun tegas di telinga Hyukjae yang terpaku di tempatnya. Setelah bisa menguasai dirinya, Hyukjae mengangguk pelan.

"Aku berjanji, Hae." Mendengarnya, Donghae mencium kening Hyukjae lama dan membawanya dalam dekapan hangat. Hyukjae merasakan airmata jatuh di pipinya. Bukan airmatanya tapi airmata Donghae saat mencium keningnya tadi. Perpisahannya saat ini jauh lebih menyakitkan dari yang sudah-sudah. Gadis itu membalas pelukan Donghae tak kalah erat dan terisak di dada Donghae. Hyukjae semakin menenggelamkan wajahnya saat merasakan punggungnya diusap-usap dengan lembut.

Tanpa kata Donghae mengangkat Hyukjae dan membaringkannya di tempat tidur berseprai satin berwarna biru laut. Mengambil selimut untuk menutupi tubuh, Donghae kembali memeluk Hyukjae dan menciumi puncak kepala gadisnya berulang kali hingga mereka jatuh tertidur. Ditemani sinar rembulan yang bersinar lembut dan bintang-bintang yang bersinar terang.

.

.

.

Hari itu tiba. Hari di mana Lee Hyukjae harus meninggalkan Seoul dan kembali ke Paris. Hari ini seperti dejavu untuknya. Di mana keluarganya berkumpul di bandara untuk mengantarnya.

"Jangan bersedih seperti itu. Aku pasti kembali. Doakan aku agar cepat kembali bersama kalian," ucap Hyukjae dengan senyuman di wajah manisnya.

"Baiklah, aku tidak akan mengucapkan selamat tinggal karena aku pasti kembali ke sini. Jadi ayo tersenyum." Mr. Lee, Donghwa, Sora, Luna, dan beberapa maid lainnya berusaha tersenyum untuk Hyukjae. Tapi tidak dengan Donghae. Bocah dewasa itu masih terdiam dengan tangan yang masih erat memegang lengan Hyukjae.

"Jaga kesehatanmu, Hyukjae."

"Pasti, Ahjussi. Kalian juga harus menjaga kesehatan. Terutama kau, Hae." Hyukjae mengangkat dagu Donghae dan tersenyum lembut padanya.

"Kau harus tetap sehat, Hae. Kalau kau sakit-sakitan aku tidak mau pulang ke sini." Donghae tersentak dan segera memeluk Hyukjae.

"Jangan…, Hae janji akan menjaga kesehatan. Hyukie harus pulang," rajuknya manis. Hyukjae tertawa pelan dan balas memeluk.

"Bagus. Kalau kau bisa pegang janjimu aku pasti pulang."

Penerbangan Hyukjae sebentar lagi. Dengan berat hati gadis itu melepas pelukan Donghae.

"Aku harus pergi sekarang. Ingat janji kita. Kau harus terus belajar dan tunjukkan padaku saat aku kembali nanti." Donghae mengangguk. Ia mengelus pipi Hyukjae sayang.

"Aku berjanji akan sembuh, untukmu." Hyukjae tersenyum lembut.

"Akan kutagih janjimu." Semua yang mendengar percakapan Hyukjae dan Donghae hanya bisa tersenyum penuh haru. Donghae mengambil syal berwarna biru laut yang sedaritadi dibawanya dan memakaikannya pada Hyukjae. Ada tulisan kecil di ujung syal bertuliskan "HaeHyuk" dengan tanda hati kecil sebagai penghiasnya. Hyukjae tersenyum lembut melihatnya. Hangat. Syal ini begitu hangat di cuaca yang mulai memasuki musim dingin seperti ini.

"Terimakasih, Hae." Donghae mengangguk.

"Baiklah, aku harus pergi sekarang. Jaga diri kalian. Hae, jaga dirimu." Hyukjae mencium pipi kanan Donghae dan tersenyum sebelum melangkah mundur dan berbalik pergi. Meninggalkan Donghae untuk yang kedua kalinya. Tapi Donghae yakin gadisnya akan menepati janji mereka. Bahwa secepatnya Hyukjae akan kembali padanya. Dan Donghae juga akan menepati janjinya untuk sembuh hanya untuk Hyukjae.

"Appa, ayo pergi. Hae harus sekolah," ucap Donghae setelah punggung Hyukjae tak terlihat lagi. Mr. Lee cukup terkejut mendengarnya. Apa ia tidak salah dengar? Donghae mau sekolah di saat Hyukjae baru pergi? Bukan mengurung dirinya di kamar seperti waktu lalu? Apa yang sebenarnya terjadi pada Donghae? Bukan hanya Mr. Lee yang terkejut. Nyatanya semua orang yang mendengar ucapan Donghae juga cukup terbelalak.

"Kau yakin?"

"Iya. Hae harus sembuh. Hae akan membuktikannya pada Hyukie saat pulang nanti. Hae sudah janji." Seketika semuanya paham kenapa Donghae bersemangat ke sekolah di saat Hyukjae pergi. Dalam hati mereka mengucapkan terimakasih pada Tuhan karena sudah mengirimkan malaikat seperti Hyukjae untuk Donghae. Kalau Donghae tidak bertemu Hyukjae, entah akan bagaimana Donghae. Mungkin ia akan selamanya mengalami retardasi mental dan tidak menutup kemungkinan sindrom Donghae bisa meningkat ke tahap yang lebih parah.

"Baiklah, ayo kita pergi kalau begitu." Mr. Lee memberi isyarat untuk segera pulang. Dan semua mengangguk paham dengan senyum bahagia terpatri di wajah.

Terimakasih Hyukjae.

.

.

.

Persidangan tahap pertama sudah dilakukan. Dan Jieun diharuskan mengganti rugi pada pihak hotel dalam jumlah yang sangat banyak dalam jangka waktu singkat. Wanita itu frustasi. Ia mengacak-acak rambutnya seperti orang gila. Di tangannya terdapat map cokelat berisi lamaran pekerjaan. Ya, Jieun sedang mencari pekerjaan setelah di PHK. Tapi sedaritadi memasuki beberapa tempat kerja ia selalu ditolak.

Pandangannya teralih pada restoran tak jauh dari posisinya saat ini. Ia akan mencoba peruntungannya sekarang. Dengan langkah cepat ia memasuki restoran berdekorasi cukup mewah tersebut. Matanya berbinar senang saat melihat plang pencarian waiter/waiters. Ini kesempatannya.

"Permisi." Seseorang berseragam waiter yang berdiri tak jauh dari Jieun berhenti melangkah.

"Ya, ada apa?"

"Saya melihat ada lowongan pekerjaan di sini,apa saya bisa melamar pekerjaan?" waiter itu terdiam sebentar.

"Baiklah kau duduk saja di situ. Saya akan memanggil manager." Jieun tersenyum senang.

"Baik." Dan waiter itu segera berlalu, meninggalkan Jieun dengan perasaan senangnya. Tak lama waiter itu kembali bersama seorang wanita yang tidak dikenalnya dan 2 orang lagi yang membuatnya terkejut.

"Jadi kau yang mau melamar pekerjaan? Cih menyedihkan." Jieun berdiri dengan wajah marah dihina seperti itu.

"Apa maksudmu?!" yang berbicara tadi Jessica yang berdiri bersama Victoria dan Sungmin-Manager restoran-. Sungmin mengerutkan dahi.

"Kau kenal dia, Sica?"

"Tentu saja. Dia ini wanita busuk dan urakan," ucapnya dengan intonasi cukup keras. Berusaha agar para pengunjung di sana mendengarnya. Victoria menyeringai. Well, sekarang saatnya balas dendam atas perbuatannya pada Donghae di kafenya dulu. Dia dan Jessica sudah tau kronologis kenapa Jieun harus mencari pekerjaan seperti ini. Hyukjae sudah menceritakannya lewat Donghwa.

"Apa katamu?!" bentak Jieun tak terima.

"Ada apa ini sebenarnya?" Tanya Sungmin bingung dengan keadaan.

"Sungmin-ah, sebaiknya jangan terima wanita busuk ini. Kau tau? Dia ini dipecat dari pekerjaannya karena terbukti mengkorupsi uang di tempat kerjanya. Dan bukan hanya itu, dia juga terbukti menjual beberapa asset yang bukan miliknya. Berhati-hatilah, siapa tau kau korban berikutnya," jelas Victoria masih dengan seringai di wajah cantiknya. Jessica mengangguk mantap menyetujui.

"Benarkah?"

"Tentu saja."

"Mereka bohong! Aku tidak seperti itu!"

"Oh aku punya buktinya. Apa kau mau aku menunjukkannya pada semua orang di sini?" Jessica mengayun-ayunkan I phonenya. Memberi kode kalau semua data ada di I phonenya. Jieun menelan ludah gugup. Celaka.

"Semuanya dengar ini. Jangan pernah menerima wanita ini bekerja. Dia terbukti mengkorupsi di sebuah hotel dan dalam tahap persidangan sekarang. Jika kalian ingin selamat, hindari wanita ini. Saya serius." Jieun terbelalak mendengar ucapan Jessica barusan. Tega sekali wanita ini berbicara seperti itu di depan umum. Oh andai dia berkaca dulu juga pernah melakukan hal yang sama pada Donghae.

"Maaf saya tidak bisa menerimamu, nona," ucap Sungmin dengan pandangan curiga terhadapnya.

"Tunggu, nyonya. Tolong berikan kesempatan pada saya. Saya tidak seperti itu," pinta Jieun memelas tapi Sungmin tetap pada pendiriannya.

"Tidak nona. Tidak. Silahkan tinggalkan tempat ini," perintahnya tegas dan segera berlalu dari hadapan Jieun.

"Well, itu balasan dari kami. Bukankah sudah kubilang 'Tunggu pembalasan manis dariku'?" Jessica dan Victoria tersenyum manis dan mengikuti Sungmin masuk ke dalam. Meninggalkan Jieun dengan wajah memerah malu dan marah di saat bersamaan. Para pelanggan di sana menatapnya dengan pandangan meremehkan dan berbisik-bisik mencemoohnya. Membuat jieun tidak tahan dan segera berlari dari sana.

Well, hukum karma itu berlaku.

.

.

.

Hyukjae menutup sambungan telponnya dan terdiam dengan wajah berpikir. Saat ini gadis itu berada di ruang kerjanya di Paris. Setelah bercengkrama dengan orangtuanya, ia kembali ke rutinitasnya. Bekerja.

Tadi itu telpon dari Sora yang menginformasikan keadaan di Seoul. Dan yang cukup mengejutkannya adalah berita bahwa Jieun masuk rumah sakit jiwa karena depresi. Wanita itu mempunyai hutang pada hotel eommanya dengan jumlah yang sangat banyak, dan tidak ada satupun perusahaan besar ataupun kecil yang mau menerimanya bekerja. Dan itu yang membuatnya depresi hingga harus dilarikan ke rumah sakit jiwa.

Hyukjae merasa kasihan padanya. Tak menyangka balasan yang akan diterima wanita itu sungguh berat.

"Tuhan selalu adil pada hambanya," gumam Hyukjae pelan. Ia kembali memusatkan perhatiannya pada berkas-berkas yang harus diselesaikannya. Perhatiannya kembali teralih saat I phone silvernya bergetar. Sebuah panggilan masuk.

"Halo."

"Hyukie…"

"Hae?"

"Iya ini Hae. Hae rindu Hyukie, sangatt rindu…" Hyukjae tertawa pelan mendengarnya. Ia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya senyaman mungkin.

"Hyukie juga rindu Hae. Hae sedang apa?"

"Hae habis selesai belajar. Hae sudah berjanji pada Hyukie untuk lebih baik lagi. Hae akan membuktikannya pada Hyukie." Bisa Hyukjae dengar nada suara Donghae yang begitu tegas mengalun, membuatnya terharu. Ingin sekali Hyukjae memeluknya sekarang juga, tapi mustahil.

"Terimakasih sudah mau berusaha untukku, Hae. Aku sangat menghargainya. Teruslah berjuang, aku selalu mendoakanmu."

"Iya, Hyukie. Hae akan selalu berjuang untuk Hyukie." Hening beberapa saat hingga suara Donghae kembali terdengar.

"Hyukie…"

"Ya?"

"Kalau Hae sembuh, boleh Hae meminta sesuatu dari Hyukie?"

"Apa itu?"

"Maukah Hyukie menikah dengan Hae?" Hyukjae terbelalak mendengarnya. Apa? Ia tidak salah dengar kan? Donghae baru saja melamarnya?

"Hae… kau tau darimana kata-kata itu?"

"Dari Luna noona. Noona bilang, kalau kita mempunyai seseorang yang sangat disayang, kita harus melamarnya," jawab Donghae polos.

"Hae serius ingin menikah dengan Hyukie. Hyukie bagaimana?" Hyukjae terdiam dengan wajah merah padam. Walau mungkin saja Donghae tidak begitu memahami arti menikah, tetap saja namanya lamaran. Sekarang bagaimana ia harus menjawab?

"Hyukie?"

"Akan kujawab setelah aku kembali ke sana. Dan jika Hae sudah banyak berkembang, aku akan mempertimbangkan untuk menikah denganmu Hae." Mungkin jika ada yang mendengarnya bisa berpikiran kalau Hyukjae hanya main-main menjawabnya. Tapi tidak. Hyukjae serius menjawabnya. Dan Hyukjae berharap jawabannya ini bisa lebih memotivasi Donghae untuk lebih berkembang.

"Baik. Akan Hae tunjukkan kalau Hae bisa berkembang lebih baik lagi. Setelah itu Hyukie pasti akan jadi istri Hae." Wajah Hyukjae kembali merona mendengar nada optimis dari suara Donghae. Astaga, kenapa mereka bisa membicarakan pernikahan?

Suara ketukan di pintu membuat Hyukjae menolehkan kepalanya.

"Nona Hyukjae, rapat akan segera di mulai." Sekretarisnya membungkuk hormat padanya saat membuka pintu. Hyukjae mengangguk dan sekretarisnya kembali membungkuk sebelum menutup pintunya kembali.

"Hae, sudah dulu ya. Aku ada rapat setelah ini."

"Ne. Jaga kesehatan, Hyukie. Jangan terlalu lelah."

"Iya, terimakasih. Kau juga harus menjaga kesehatan. Aku tidak mau mendengar kabar kalau kau sakit." Hyukjae bisa mendengar tawa dari sebrang telepon, membuatnya tersenyum.

"Iya, Hyukie. Saranghae." Hyukjae terdiam sesaat dengan wajah merona sebelum dengan malu-malu menjawab.

"Na-Nado Saranghae." Dan sambungan itu terputus dengan debar jantung Hyukjae yang semakin cepat.

Hyukjae tersenyum dan segera beranjak menuju ruang rapat. Hyukjae akan berusaha menyelesaikan misinya dengan cepat. Ia akan kembali ke Seoul bersama ibunya. Hyukjae yakin. Gadis manis itu juga yakin kalau Donghae akan baik-baik saja di Seoul. Karena mereka sudah memiliki janji. Janji yang harus ditepati. Sebuah janji suci yang tanpa sadar sudah mengikat mereka dengan benang merah.

"Tunggu, Hae."

"Aku akan menunggumu, Hyukie."

.

.

.

To Be Continued.

.

Yuhuuu… saya kembali dengan update ff ini.

Sebelumnya saya ingin mengucapkan Minal Aidzin Wal Fa Idzin. Mohon Maaf Lahir Dan Batin.

Maafkan jika saya mempunyai kesalahan pada kalian semua.

Yosh chapter depan End pemirsah, End~~~

Terimakasih banyak bagi yang sudah mereview ff abal ini. Maaf tidak sebut satu-satu. Tapi percayalah review kalian sangat berharga bagi saya.

Jadi ayo review kembali. Dan saya mohon dengan sangat agar tidak mereview hanya dengan satu kalimat seperti, "Lanjut thor." "Next thor." Atau "Bagus thor." Karena jujur kalau mendapat review seperti itu membuat saya down. Saya sudah mengetik lanjutan ff ini dengan semangat tapi malah mendapat feedback seperti itu. Bukannya tidak menghargai, tapi adakalanya saya ingin tau pendapat readers semua mengenai cerita saya. Bagian mana yang disukai dll. Mohon dimaklumi.

Dan jangan panggil saya Thor. Panggil saja Kei biar lebih akrab. :D

Baiklah, sepertinya saya kebanyakan cuap-cuap.

Sekali lagi terimakasih atas semua dukungan yang ditujukan untuk ff ini. Saya sangat menghargainya.

Sampai jumpa di last chapter.

Bye~

Review?