Syndrome

By: Kei Tsukiyomi

.

.

Author's Note: Halo~ saya kembali membawa chapter pamungkas untuk ff ini. Semoga tidak mengecewakan.

Disclaimer: Milik Tuhan YME. Tapi Eunhyuk milik saya! :v

Warning: AU, OOC, Typos, GS for Eunhyuk. Dll DLDR! Ini NO EDIT!

Pair: Haehyuk

Rate: T+ atau M? baca saja. :v

Happy Read semua~

.

^-^v

.

.

.

Kancing kemeja terselip sempurna, mengambil blazer hitam yang tersampir di lengan kursi, dengan satu gerakan cepat memakainya. Membalut tubuh langsingnya dengan sempurna. Senyum puas terlukis di wajah ayunya begitu melihat refleksi diri di cermin.

"Sudah selesai. Tidak buruk ntuk hari ini." Jari jemari lentiknya menyisir pelan surai cokelat mudanya yang sedikit bergelombang. Memastikan penampilannya kini sudah terlihat sempurna.

"Hyukie, kau sudah siap nak? Ayo berangkat." Lee Hyukjae, gadis yang mematut diri di depan cermin tadi menoleh seraya tersenyum manis pada ayahnya yang berdiri di depan kamarnya. Hari sudah pagi di Paris. Hyukjae tersenyum senang dan dengan semangat menghampiri ayahnya untuk kemudian dipeluknya erat.

"Hei-hei, tumben pagi-pagi begini sudah memeluk ayah." Hyukjae terkekeh dan semakin mengeratkan pelukannya.

"Aku berdebar-debar, ayah." Lelaki paruh baya tersebut mengusap-usap puncak kepala anaknya dengan sayang.

"Ayah mengerti. Hari ini kan hari yang spesial untukmu. Ayah yakin kau pasti bisa, ayah percaya padamu." Hyukjae menutup matanya sejenak dan mengangguk, menikmati elusan sayang yang diberikan ayahnya. Begitu menenangkan. Rasanya Hyukjae tidak mau pergi.

"Ya, aku pasti bisa. Ayah tunggu sebentar ya, aku mau minta restu dulu dari ibu." Dan setelahnya Hyukjae melepas pelukannya dan berlari ke ruangan di mana ibunya berada. Lelaki itu hanya bisa tersenyum maklum. Tak terasa hari ini akan datang. Hari penentuan kerja keras Hyukjae selama 2 tahun ini. Ya, Hyukjae sudah 2 tahun tinggal di Paris demi menyelesaikan perjanjiannya dengan sang nenek. Dan hari ini Hyukjae akan memimpin rapat di mana banyak sekali pemimpin perusahaan jajaran atas dari berbagai Negara yang akan hadir. Melihat presentasinya. Jika hari ini Hyukjae berhasil maka perusahaan yang dibangun neneknya ini akan berada di puncak. Setara dengan perusahaan besar yang sukses di berbagai belahan dunia. Dan itu berarti perjanjian diantara Hyukjae dan neneknya akan berakhir. Berakhir dengan kemenangan Hyukjae.

Ayah Hyukjae tersenyum lembut mengingat setiap usaha yang dilakukan putrinya hingga bisa seperti ini. Sangat tidak mudah. Belum lagi menarik para pemimpin besar itu sangatlah sulit jika kau tidak memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Dan Hyukjae berhasil. Kerja kerasnya selama 2 tahun ini berhasil. Hanya tinggal satu langkah lagi yang menentukan akhir dari semuanya. Dia yakin putrinya akan berhasil dan tidak akan menggagalkan kesempatan emas ini. Dia sangat bangga pada anaknya.

"Ayah, ayo berangkat. Aku sudah meminta restu dari ibu~" Hyukjae tersenyum senang di depan pintu melambaikan tangannya. Menyuruh ayahnya untuk segera berangkat.

Putri kecilku sudah besar sekarang.

"Iya, tuan putri. Ayo kita menuju kereta kuda." Hyukjae tertawa mendengar ucapan ayahnya.

"Kereta kudanya akan bertahan sampai berapa lama? Aku tidak mau saat ingin pulang nanti malah menemukan labu dan tikus yang berkeliaran," ucap Hyukjae seraya menggandeng lengan ayahnya dan berjalan menuju mobil yang terparkir.

"Tenang saja tuan putri, kereta kuda ini sangat limited edition. Jadi tidak akan mengecewakanmu." Dan obrolan ringan sepasang ayah dan anak itu semakin berlanjut dalam mobil yang berjalan menuju kantor.

.

.

.

Tenang Hyukjae, kau pasti bisa.

Gadis manis itu berdiri di depan ruang rapat dengan gugup. Ia mengambil nafas dan menghembuskannya perlahan. Tangannya mengelus dadanya yang berdebar kencang. Di dalam sana sudah banyak para pebisnis handal dan juga sang nenek yang menunggunya.

"Kau pasti bisa. Ayah percaya padamu. Santai saja, jangan terlalu tegang." Hyukjae kembali mengambil nafas dan mengangguk pada ayahnya.

"Jika kau mulai ragu ingatlah Donghae yang menunggumu di Seoul." Ucapan ayahnya membangkitkan semangat Hyukjae. Bayangan wajah Donghae yang tersenyum terlintas di benak. Ya. Hyukjae harus berhasil. Dia akan kembali ke Seoul untuk bertemu Donghae kembali. Dia pasti bisa.

Donghae, doakan aku.

Dengan perlahan Hyukjae membuka pintu dengan jantung yang berdebar-debar dan masuk ke ruangan tersebut bersama ayahnya.

Berusaha agar kerja kerasnya selama ini berhasil.

.

.

.

Seoul.

Di ruang kerjanya Mr. Lee tampak memasang wajah serius dengan Donghwa yang duduk di hadapannya.

"Jadi hari ini penentuannya?" suara Donghwa memecah keheningan. Mr. Lee melihat anaknya sebentar dan mengangguk.

"Ya. Hari ini penentuan Hyukjae. Apakah berhasil atau tidak. Appa yakin dia akan berhasil. Kita doakan saja." Donghwa mengangguk. 2 tahun sudah berlalu. Banyak hal yang sudah terjadi. 2 tahun itu waktu yang cukup lama. Donghwa berharap Hyukjae segera pulang. Penantian Donghae dan juga mereka harus berbuah manis.

"Di mana Donghae?"

"Di tempat biasa, appa."

.

.

.

Hyukjae berjalan tergesa ke arah ruangannya dengan wajah sumringah. Mendobrak pintu dengan cukup kencang, gadis itu segera mengambil I phone silvernya untuk menghubungi seseorang.

Hyukjae menanti dengan sabar saat sambungan teleponnya belum tersambung. Ia menggigit ujung kukunya yang telah dipolesi cat kuku yang cantik dengan jantung yang berdebar kencang.

"Halo."

"Unnie!" sahutnya kelewat semangat.

"Hyukie? Bagaimana kabarmu?" Hyukjae tersenyum manis. Sangat manis. Dengan bersemangat ia menjawab.

"Unnie, unnie aku berhasil. Aku berhasil!" jeritnya senang dengan wajah sumringah. Hening sesaat hingga Sora mengeluarkan suaranya dengan terbata.

"Ka-kau apa?"

"Aku berhasil unnie. Aku berhasil memenangkan tender besar itu dan aku berhasil menarik para investor untuk perusahaan. Mereka mau bekerjasama. Dengan begitu perusahaan ini akan menjadi yang terbesar ketiga di asia. Aku berhasil," ucapnya riang dengan airmata kebahagiaan yang mengaliri paras cantiknya. Akhirnya. Setelah bertahun-tahun berusaha keras, Hyukjae bisa memetik penantiannya yang berbuah manis. Rasanya ia ingin menangis keras-keras dan juga berteriak lantang di saat yang bersamaan.. Sungguh, ia sangat lega sekarang.

"Hyukie… astaga, selamat sayang. Selamat. Kau memang hebat. Aku bangga padamu." Di seberang sana Sora juga nampak meneteskan airmatanya. Ia menutup mata seraya mengucapkan rasa terimakasih pada Tuhan.

Terimakasih Tuhanku, Terimakasih.

"Aku… aku akan bicara dengan nenek setelah ini, aku akan membawa ibu bersamaku, aku… akan pulang." Hyukjae menangis tersedu, menutup mulutnya agar isakannya tak terdengar keluar walaupun percuma. Di balik pintu yang tertutup itu ayah dan ibunya bisa mendengar jelas setiap ucapannya bahkan tangisannya. Mereka ikut meneteskan airmata, terharu dengan setiap perjuangan puteri tercintanya selama ini.

"Apa kau ingin aku menemanimu? Aku akan memesan tiket sekarang juga."

"Tidak usah unnie, ayah dan ibu yang akan menemaniku. Unnie di rumah saja, tunggu kepulanganku." Suara Hyukjae terdengar lirih namun ada nada kebahagiaan terselip di sana. Ingin sekali Sora memeluk adik tersayangnya erat-erat. Menciumi wajahnya bertubi-tubi dengan rasa sayang yang melimpah. Betapa bersyukur dan bahagianya ia di berikan kesempatan menjadi kakak Hyukjae.

"Baiklah, aku akan menunggu kepulanganmu bersama semuanya." Hyukjae tersenyum lembut, mengambil nafas sejenak untuk menenangkan perasaannya.

"Bagaimana dengan Donghae? Beberapa bulan belakangan ini aku tidak menghubunginya karena benar-benar sibuk. Apa dia baik-baik saja?"

"Kau akan tahu nanti. Cepatlah pulang, kejutan menantimu di sini." Hyukjae mengernyit mendengar ucapan Sora yang terkesan menyembunyikan sesuatu darinya. Memangnya kejutan apa? Bagaimana dengan Donghae?

"Sudahlah kau akan tau nanti. Sekarang cepat selesaikan urusanmu dan pulanglah." Suara Sora menginterupsi lamunannya. Gadis manis yang sekarang mempunyai helai cokelat madu itu mengangguk.

"Baiklah, kalau begitu aku tutup dulu, nanti kutelpon lagi. Bye unnie." Sambungan terputus, hyukjae tersenyum lebar dengan pandangan optimis.

"Aku pasti pulang, Donghae."

.

.

.

"Tuan muda Lee, perwakilan dari SM Entertainment sudah tiba. Mereka ingin membicarakan kontrak sehubungan dengan anda yang menjadi komposer lagu artis mereka." Laki-laki berusia diawal 20 dengan surai brunette yang tengah duduk santai dengan sebuah figura foto di tangan menoleh sebentar dan kemudian mengangguk pelan.

"Aku akan segera ke sana." Butler tadi membungkuk dan segera berlalu. Laki-laki itu kembali mengamati figura di tangannya yang berisi foto seorang gadis tengah tersenyum manis. Mengelusnya lembut, ia menciumnya sebentar.

"Aku merindukanmu, cepatlah kembali sayang." Menaruh figuranya di tempat semula, laki-laki itu beranjak menuju ruangan di mana perwakilan SM menantinya. Merekrutnya menjadi komposer lagu.

.

.

.

Hyukjae berdiri tegak dengan wajah serius berhadapan dengan neneknya yang seperti biasa memandang datar padanya. Ruangan yang di penuhi berkas-berkas tersusun rapih di rak dan lemari kaca, cat berwarna putih membalut dinding, waktu menunjukkan pukul 3 sore. Setelah semua para petinggi dari perusahaan besar telah kembali sehabis rapat tadi, Hyukjae memutuskan pergi ke ruangan neneknya. Membicarakan perihal perjanjian mereka dulu.

"Jadi kau datang ingin menagih janjiku?" sang nenek melepas kacamata dan meletakkan berkas hasil rapat tadi. Mata tuanya yang masih terlihat tajam menatap Hyukjae. Memperhatikkan cucunya berdiri tegak menanti jawabannya. Berdiri dari kursinya, sang nenek berjalan menghampiri Hyukjae.

"Aku tidak akan melanggar janji yang kubuat. Kau sudah bekerja keras, aku hargai itu. Sekarang kau bebas. Tanda tangani semua berkas yang tersisa, setelah itu baru kau boleh pergi… bersama ibumu." Wanita tua itu terkejut saat Hyukjae memeluknya erat. Tak pernah ia duga Hyukjae akan memeluknya.

"Terimakasih nenek. Terimakasih. Aku bisa menyelesaikannya juga berkat didikanmu selama ini. Aku takkan pernah melupakan jasamu." Nenek itu terdiam mendengar ucapan Hyukjae. Untuk apa gadis ini berterimakasih saat dia justru selalu menghalangi kebahagiannya? Dengan ragu-ragu ia meletakkan telapak tangannya di punggung cucunya. Membalas pelukan.

"Cucu bodoh, untuk apa kau berterimakasih padaku?" tanyanya datar.

"Untuk semuanya, dan terimakasih… karena perlahan-lahan sudah menerima kehadiran ibuku sebagai menantumu." Tubuh wanita tua itu sedikit menegang. Hyukjae melepas pelukannya, tersenyum lembut.

"Kau tau nenek? Kita bisa menjadi keluarga yang harmonis sebenarnya, asal kita melepaskan semua ego yang membebani." Neneknya tidak menjawab, hanya melihat ke arah lain selain matanya.

"Aku, ayah, ibu, semuanya menyayangimu nenek. Apa kau menyayangi kami?" tidak ada jawaban tapi Hyukjae tau sebenarnya neneknya menyayangi mereka hanya saja tertutup rasa ego dan ambisi yang menutupi mata hati.

"Setelah menyelesaikan tugas akhirku, aku akan menetap di Seoul bersama orangtuaku. Kau bisa ikut denganku nenek." Hening sesaat, Hyukjae menunggu jawaban neneknya. Ia serius ingin mengajak neneknya, wanita tua ini pasti kesepian di Paris. Hyukjae tidak sejahat itu meninggalkannya sendirian.

"Tidak, aku tidak akan ikut. Aku tidak akan merusak kebahagiaan kalian lagi."

"Kau tidak seperti itu-"

"Sudah cukup aku menjadi penghalang kebahagiaan oranglain. Sesekali aku akan berkunjung tapi aku tidak akan tinggal bersama kalian. Pergilah, urusan kita sudah selesai. Selamat untukmu." Onyx Hyukjae mengikuti pergerakan neneknya yang berbalik memunggunginya. Dari luar wanita ini terlihat sangat angkuh dan arogan. Tipe seseorang yang tidak bisa didekati dengan mudah. Tapi Hyukjae tau sebenarnya neneknya mempunyai hati yang baik. Semua hanya butuh waktu untuk melihatnya.

"Aku sayang padamu nenek." Sang nenek menoleh hanya untuk mendapati Hyukjae yang berbalik pergi dari ruangannya.

.

.

.

Many things have changed except you and i

In a new start, worries often show in my eyes

It's tough isn't it, just like the candle that has melted small in front of us

Everything is like a dream

Snow white surrounding

Seems to have melted

Coldness that surronds me, don't know if my words of apology has made you cry

Snow that has covered footprints, I don't know the way back.

(D&E Winter Love)

Hyukjae mendengarkan lagu yang mengalun dengan mata yang berkaca-kaca. Dirinya sedang menandatangani berkas-berkas yang tersisa, menyelesaikan pekerjaannya sebelum pergi nanti. Yang didengarnya barusan adalah lagu dari boyband favoritnya. Super Junior. Lagu berjudul Winter Love yang dibawakan sub unit Super Junior D&E.

Lagunya sangat menyentuh. Apalagi lagu ini juga dibawakan sebelum mereka berangkat untuk wajib militernya.

"Lagu ini kenapa menyesakkan sekali?" Hyukjae berucap lirih. Lagu tersebut menceritakan tentang sepasang kekasih yang harus berpisah disaat mereka masih saling mencintai. Entah kenapa Hyukjae merasa lagu ini juga cocok untuknya dan Donghae saat ini. Mereka terpisahkan ruang dan waktu.

Bagaimana kabar Donghae sekarang? Kenapa kakaknya tidak memberitahunya dan hanya menyuruhnya untuk segera pulang dan melihat sendiri keadaan Donghae? Semoga tidak terjadi hal buruk pada Donghaenya. Hyukjae menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran buruk yang melintas. Yang harus dilakukan sekarang adalah secepatnya menyelesaikan misi terakhirnya dan pulang menemui Donghae. Hyukjae mengambil pulpen, kembali meneruskan pekerjaannya ditemani lagu winter love D&E.

Omong-omong lagu, Hyukjae dengar kalau lagu ini dikomposeri oleh komposer muda. Sayang dia tak tau namanya. Ia jadi teringat Donghae. Donghae juga pandai membuat lagu. Hyukjae jadi semakin merindukan pemuda itu.

"Ayo semangat Hyukjae, setelah ini kau bisa pergi ke manapun," ujarnya menyemangati diri sendiri.

.

.

.

"Apa semua sudah lengkap? Tidak ada yang tertinggal kan?" Hyukjae menggeleng menanggapi pertanyaan ibunya. Sekarang ia berada di kamar, mengemasi barang-barangnya bersama ibu dan ayahnya. Hari ini tiba, hari di mana Hyukjae akan pulang ke Seoul. Ayahnya juga akan mengurusi perusahaannya yang ada di Seoul, jadi dia akan tinggal bersama Hyukjae dan ibunya.

"Sudah semua, bu. Ibu bagaimana?"

"Semua sudah diurus ayahmu." Hyukjae tertawa melihat ayahnya membawa koper besar sedang sang ibu tak membawa apapun di tangannya. Hyukjae melangkah maju, menepuk-nepuk punggung ayahnya.

"Ayahku yang malang. Bagaimana jika ayah membawakan koperku juga? Sebagai ayah dan suami yang baik. Laki-laki harus bisa menjadi panutan." Sepasang ibu dan anak itu tertawa melihat satu-satunya lelaki di antara mereka menekuk muka masam.

"Baik tuan puteri," jawab ayahnya sambil membungkuk hormat. Mereka kembali tertawa.

"Ayo cepat, ini sudah siang kita bisa ketinggalan pesawat." Hyukjae mengangguk, menyeret kopernya keluar. Berpamitan pada neneknya terlebih dahulu.

.

.

"Kau ingin berangkat sekarang?"

"Iya ibu, jadwal penerbangan kami sejam lagi." Hyukjae memperhatikkan saat ayahnya memeluk neneknya. Mengucapkan perpisahan. Bukan untuk selamanya, toh jika ingin neneknya itu bisa berkunjung ke Seoul. Ibunya juga maju, memeluk neneknya. Mengucapkan terimakasih dan juga salam perpisahan. Hyukjae senang neneknya sudah mulai luluh dan menerima ibunya. Tak ada ucapan kasar menusuk lagi yang keluar dari bibirnya untuk ibunya. Hyukjae bersyukur untuk itu.

"Hyukjae ayo beri salam pada nenekmu, nak." Ibunya memanggil dan Hyukjae menuruti. Ia maju dan memeluk erat neneknya.

"Terimakasih nenek, maaf jika aku merepotkanmu selama ini. Aku pamit pergi, tapi nenek bisa berkunjung kapanpun." Sang nenek hanya mengangguk. Begitu Hyukjae melepas pelukannya ia terkejut mendengar ucapan neneknya.

"Hati-hati… cucuku." Bukan hanya Hyukjae yang terkejut, ayah dan ibunyapun ikut terkejut. Setelah beberapa detik Hyukjae tersenyum. Sebuah senyum yang sangat manis dan tulus.

"Iya, aku akan berhati-hati. Jaga dirimu nenek, aku pergi."

"Kami pergi dulu, bu. Berkunjunglah, aku juga akan berkunjung menemui ibu." Dan merekapun pergi, menyisakan sang nenek yang menatap punggung mereka dengan mata yang berkaca-kaca.

.

.

.

Hyukjae merenggangkan tubuhnya, menghirup udara pagi yang bersih. Ia tersenyum bahagia. Pesawatnya sudah mendarat dengan selamat di bandara Incheon. Waktu menunjukkan pagi hari sekarang, Hyukjae sudah kembali ke Negara asalnya. Tidak ada yang tau tentang kepulangannya karena dia tak memberitahu siapapun. Ia ingin memberikan kejutan. Di belakang orangtuanya tersenyum memperhatikannya. Ikut senang melihat puteri kesayangannya bahagia.

"Baiklah nona, ayo kita pergi dan kejutkan mereka."

"Ayah dan ibu duluan saja, aku ingin ke suatu tempat."

"Mengunjungi Donghae?" wajah Hyukjae memerah. Kenapa ayahnya tau? Keduanya tersenyum menggoda padanya. Hyukjae mengusap pipinya salah tingkah.

"Su-sudahlah ayah dan ibu pulang saja duluan nanti aku menyusul." Orangtuanya tertawa. Mengusap kepala Hyukjae dengan sayang.

"Baiklah baiklah. Istriku, sepertinya puteri kita sudah dewasa. Kita hanya perlu menunggu keluarga Donghae melamar Hyukjae kita. Aku tidak sabar melihat mereka berdiri di altar, pasti sangat menggemaskan."

"Ayah!" ibu Hyukjae hanya bisa geleng-geleng melihat suami dan anaknya saling berkejaran layaknya anak kecil. Terkadang ada saatnya mereka menjadi childish seperti itu.

"Hei sudah. Ayo kita pulang."

.

.

.

Hyukjae menatap iba pada pemandangan di depannya. Dalam perjalanan menuju tempat Donghae ia melewati salah satu rumah sakit jiwa yang Hyukjae ingat tempat Jieun berada sekarang. Waktu terus berlalu tapi Jieun masih berada di sana. Ia memutuskan untuk mampir sebentar melihat keadaannya. Jieun di sana tertawa-tawa sendiri. Rambutnya acak-acakan dengan pakaian lusuh. Persis seperti orang gila pada umumnya. Wanita itu tertawa lalu detik berikutnya menangis tersedu. Berteriak kalau ia tak mau di penjara. Melempar-lempar makanan ke lantai dan memakannya detik berikutnya. Tanpa peduli kotor atau tidak. Hyukjae melihat seorang suster menariknya menjauhi makanan yang sudah tak layak makan itu tapi Jieun memberontak dan terus memakannya. Hyukjae merasa kasihan melihatnya. Andaikan dulu ia tidak jahat, mungkin wanita itu tidak akan seperti ini.

"Tuhan memang Maha Adil," ucap Hyukjae pelan. Ia berlalu kembali menuju mobilnya dan pergi ke tempat Donghae.

.

.

.

Hyukjae memarkirkan mobil audinya di depan gedung yang sudah lama tak ia kunjungi. Gedung untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Hyukjae yakin Donghae ada di sini. Jam belajarnya sudah dimulai. Dengan perasaan berdebar Hyukjae memasuki gedung itu, menuju kelas Donghae yang sangat dihafalnya. Tempat ini tak banyak berubah hanya warna catnya yang berganti. Sekarang gedung ini bercat biru muda dengan lukisan karikatur kartun-kartun lucu menghiasi dinding. Menambah kesan menyenangkan yang tercipta. Ide yang bagus, puji Hyukjae dalam hati. Ia terus melangkah memperhatikan sekitarnya hingga ia sampai di kelas Donghae. Ia mengetuk pintu yang terbuka, mengejutkan orang-orang di dalam.

"Hyukjae! Astaga kau kembali?" Sora dan Jessica yang bertugas di dalam ruangan terkejut melihat kehadiran Hyukjae yang tak disangka-sangka. Mereka berdua berlari memeluk Hyukjae erat. Gadis manis itu hanya tertawa, membalas pelukan kakak dan temannya.

"Kapan kau kembali? Kenapa tidak memberitahuku?" Sora melepas pelukannya. Cemberut pada Hyukjae.

"Aigo, jangan cemberut begitu unnie. Aku baru saja datang. Aku memang sengaja mengejutkan kalian."

"Dasar kau ini."

"Mana Donghae? Dia tidak ada di kelas?" Sora dan Jessica saling berpandangan sesaat sebelum tersenyum penuh arti.

"Dia tidak di sini lagi," ucap Jessica masih dengan senyum.

"Huh?"

"Dia sudah tidak di sini lagi, Hyukie," jelas Sora. Gemas dengan wajah bingung Hyukjae yang terlihat imut.

"Tidak di sini? Lalu di mana?" Sora memegang pundak hyukjae dan membaliknya. Mendorongnya keluar.

"Kau cari saja. Dia sudah tidak di sini, tapi beruntung hari ini dia akan berkunjung. Mungkin sebentar lagi datang. Sudah sana cari." Hyukjae semakin mengerutkan dahinya. Kenapa Sora dan Jessica sangat aneh hari ini? Sebenarnya ada apa sih? Tak mau ambil pusing, Hyukjae keluar kelas. Berjalan-jalan mengitari gedung mencari Donghae sesuai intruksi.

Dalam perjalanan pikiran Hyukjae penuh dengan Donghae. Seperti apa dia sekarang? Apa dia baik-baik saja? Apa dia makan dengan baik? Apa ada perkembangan? Hyukjae sangat merindukan Donghae. Sangat merindukannya. Ia ingin memeluk Doonghae lagi. Hyukjae terkejut saat sebuah lengan melingkar di pinggangnya. Memeluknya erat dari belakang. Ia ingin memberontak tapi terhenti saat mendengar suara yang begitu dirindukannya.

"Hyukie kau kembali?"

Donghae. Yang memeluknya kini adalah Donghae.

"Hae…"

"Aku merindukanmu Hyukie. Sangat merindukanmu," bisik Donghae lirih di telinga. Hyukjae memejamkan mata merasakan hembusan nafas Donghae menerpa telinganya. Ia berbalik hanya untuk terkejut melihat tampilan Donghae.

"Hae, kau… kau…" Donghae berdiri di hadapannya kini. Dengan kaus putih dan dipadukan dengan jaket kulit hitam. Rambutnya tertata rapih dengan poni diangkat. Membuat wajah Donghae semakin terlihat tampan. Tubuh Donghae juga berbeda. Kini Donghae mempunyai dada yang bidang, bahu yang kokoh, otot lengan yang menonjol dan punggung yang tegap. Donghae… terlihat sangat manly dan maskulin. Hyukjae tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Apa ia pergi terlalu lama hingga melewatkan begitu banyak hal?

"Hyukie…" bahkan suara Donghae terdengar lebih berat khas lelaki dewasa dan juga… seksi.

Blush

Wajah Hyukjae sontak memerah sempurna. Buru-buru ia alihkan matanya dari Donghae. Ia mendengar kekehan lelaki di depannya.

"Hyukie tak rindu Hae?" jantung Hyukjae berkali-kali lipat berdetak lebih cepat saat jemari Donghae memegang dagunya dan mengangkatnya. Mempertemukan dengan hazel Donghae yang menatapnya intens. Hyukjae tidak tau harus melakukan apa.

"Ha-Hae…"

"Hmm?"

"Ka-kau… tampak berbeda." Donghae tersenyum lembut, menangkup pipi Hyukjae dan mencium keningnya. Seketika Hyukjae membeku di tempat. Belum lagi Donghae menyatukan dahi mereka, mengelus-elus pipinya.

"Karenamu. Aku seperti ini karenamu. Bukankah sudah kubilang aku akan sembuh untukmu? Aku merealisasikannya, Hyukie. Aku sembuh karenamu." Onyx Hyukjae membesar, menatap tak percaya penuh keterkejutan. Benarkah? Benarkah Donghaenya sembuh? Ya Tuhan, apa ini mimpi?

Hyukjae bisa mencium aroma parfum yang dikenakan Donghae begitu lelaki ini memeluknya erat. Wanginya begitu maskulin dan menenangkan, membuat gadis ini memejamkan matanya. Menghirup wangi tubuh Donghae yang begitu dirindukannya. Hal sama dilakukan Donghae. Ia memeluk Hyukjae erat, seakan tak mengijinkannya kemanapun lagi. Seolah-olah menegaskan tempat Hyukjae adalah di pelukannya. Menghirup aroma stroberi yang menguar dari tubuh lembut gadisnya yang sangat dirindukan.

"Hae, benarkah ini kau? Benarkah kau sembuh?" Donghae menciumi puncak kepala Hyukjae berulang-ulang. Menyalurkan rasa rindunya yang membuncah keluar.

"Iya Hyukie. Ini aku Lee Donghae. Aku sembuh."

"Yang dikatakannya benar, Hyukie." Hyukjae menatap Sora yang berdiri di belakang Donghae yang masih tetap memeluknya.

"Sebenarnya tak ada kata 'sembuh' bagi penyandang kebutuhan khusus, yang ada hanyalah mereka bisa berhasil mengatasi dunia sosial mereka, berhasil fokus dan konsentrasi juga bisa berkomunikasi dengan baik. Donghae membuktikannya, Hyukie. Dia berjuang keras untuk melewati semua ujian itu. Dia terus mencoba dan mencoba hingga akhirnya berhasil. Donghae memang belum sembuh secara sempurna tapi seiring berjalannya waktu apalagi sekarang dia bersamamu, aku yakin dia akan lebih baik lagi," jelas Sora dengan pandangan yang lembut tertuju pada Punggung Donghae yang masih setia memeluk adiknya erat.

Mata Hyukjae berkaca-kaca mendengarnya. Benarkah itu? Benarkah Donghaenya sudah bekerja keras? Apa saja yang dilewatinya selama ini. Harusnya ia menemani Donghae, harusnya ia menggenggam tangan Donghae. Bukan melepasnya dan membuat Donghae berjuang sendirian. Ujian seperti apa yang diterima Donghae selama ini, seberat apa? Hyukjae tak sanggup membayangkannya. Ia mengeratkan pelukannya dan menangis tersedu di dada Donghae.

"Donghae maafkan aku. Maafkan aku yang tidak bisa bersamamu selama ini. Maafkan aku membuatmu berjuang sendirian. Maafkan aku..." Donghae mengelus-elus punggung Hyukjae dengan lembut, bibirnya tak berhenti memberikan ciuman di puncak kepala Hyukjae. Menenangkannya. Donghae tak suka tangisan Hyukjae. Donghae ingin Hyukjae selalu tersenyum untuknya.

"Sshh… Hyukie jangan menangis. Melihatmu menangis membuat hatiku sakit. Aku tidak apa-apa, kau tidak bersalah. Bukankah sudah kubilang aku akan membuktikannya padamu? Jangan menangis lagi."

"Hae… Hae…" Hyukjae terus menangis di pelukan Donghae, tak bisa menghentikan laju airmatanya yang berdesakan ingin keluar. Gadis itu tersentak saat Donghae merenggangkan pelukannya dan menciumnya tepat di bibir.

"Ups." Samar-samar ia mendengar suara Sora yang juga terkejut dan berikutnya suara langkah kaki yang menjauh. Meninggalkannya berdua bersama Donghae yang memejamkan matanya. Hyukjae juga memejamkan matanya begitu Donghae melumat bibirnya lembut, menghisapnya perlahan dan memberikan gigitan kecil yang membuat Hyukjae mengerang lembut. Donghae menjilat bibirnya dan Hyukjae membuka mulutnya. Mengijinkan lidah Donghae masuk mengeksplor gua hangatnya. Ia meremas lengan berotot Donghae saat intensitas ciuman mereka meningkat seiring remasan tangan Donghae terasa di pinggangnya. Begitu memabukkan. Ia begitu terlena dengan sentuhan Donghae hingga tanpa sadar ia membalas ciuman Donghae sama dalamnya. Pasokan oksigen menyapa, Donghae menghisap bibirnya kuat sebelum melepaskan tautan bibir mereka. Deru nafas mereka tersenggal, wajahnya memerah sempurna mengingat apa yang dilakukannya barusan. Donghae tersenyum, mengusap saliva di sudut bibir Hyukjaenya.

"Aku mencintaimu Hyukie. Sangat mencintaimu." Hyukjae tidak tau apa wajahnya bisa lebih memerah lagi atau tidak. Malu-malu ia menjawab.

"A-Aku juga mencintaimu, Hae." Gemas dengan wajah imut Hyukjae, Donghae kembali memenjarakan gadisnya dalam dekapan. Tak mengijinkannya pergi lagi kemanapun. Hyukjae hanya miliknya.

"Ayo kita pergi." Dan Hyukjae hanya bisa menurut saat Donghae menggengam tangannya erat, membawanya entah ke mana. Asalkan bersama Donghae Hyukjae merasa senang.

"Kuharap mereka bisa berbahagia setelah ini." Jessica mengangguk setuju dengan ucapan Sora. Mereka memperhatikan kedua sejoli itu dari kejauhan.

"Aku menunggu undangan pernikahan mereka secepatnya," celetuk Jessica dengan senyum menggoda. Sora tertawa.

"Kurasa harapanmu itu akan segera terwujud."

.

.

.

"Ini untukmu." Donghae mengulurkan es krim stroberi pada Hyukjae. Mereka ada di taman hiburan saat ini. Menghabiskan waktu bersama melepas kerinduan. Hyukjae menerimanya dan tersenyum manis.

"Terimakasih, Hae." Wajah Donghae sedikit memerah melihat senyum manis Hyukjae yang sudah lama tak dilihatnya. Betapa Hyukjae sangat cantik dengan gummy smile yang ia miliki. Menambah kesempurnaannya di mata Donghae.

"Hae, boleh aku bertanya?" Donghae yang sudah duduk di sampingnya mengangguk.

"Kau… bagaimana caramu melewati hari-harimu hingga bisa seperti ini? Kau tau, jujur saja aku sangat terkejut melihatmu yang sekarang ini." Ada rona merah menghiasi wajah manis Hyukjae saat memperhatikan wajah tampan Donghae, tubuh Donghae juga sangat bagus. Begitu manly dan kekar. Ia memalingkan wajahnya karena malu. Donghae tersenyum melihatnya. Ia menyadari Hyukjae yang salah tingkah. Hyukjae neomu kiyeowo.

"Aku hanya perlu memikirkanmu. Saat aku memikirkanmu semua menjadi lebih mudah. Kau yang membuatku berhasil." Hyukjae terperangah mendengar jawaban Donghae. Jawabannya terlihat sangat tulus dan jujur. Begitu besarkah pengaruh dirinya terhadap Donghae? Hingga Donghae berusaha sejauh ini. Hyukjae tau pasti telah banyak penderitaan yang dialaminya selama ia tak ada. Kenapa dengan mudahnya ia menjawab semua karena dirinya?

"Aku tak melakukan apapun, Hae. Aku bahkan meninggalkanmu selama 2 tahun. aku-"

"Shh… jangan katakan apapun. Percayalah ini semua karena kehadiranmu di hidupku. Kau membawaku pada cahaya. Kau mengajariku untuk tetap berjuang dan tak menyerah pada keadaan. Kau menguatkanku, Hyukie. Kau kekuatanku." Donghae menarik Hyukjae ke dalam pelukkannya. Merengkuhnya erat. Hyukjae membalas pelukannya tak kalah erat dengan mata berkaca-kaca. Ia merasa sangat berarti. Belum pernah ada lelaki yang memperlakukannya seperti Donghae. Membuat Hyukjae merasa begitu dicintai dan dipuja. Seakan-akan Donghae tidak bisa hidup tanpa kehadirannya. Membuat eksistensinya begitu berarti dan berguna di dunia ini.

"Hyukie?"

"Hmm?"

"Coba hitung jumlah bianglala itu ada berapa?" Hyukjae terkejut, mengikuti arah pandang Donghae. Seketika Hyukjae tertawa. Tawa bahagia. Yang ditunjuk Donghae adalah bianglala yang sama yang dulu pernah ia naiki bersama Donghae.

"Aigo, Hae sudah pintar ternyata. Nah, sekarang coba kau hitung jumlah bianglala itu ada berapa." Hyukjae mengucapkan kalimat yang sama yang dulu pernah ia ucapkan, menggoda Donghae

"Susah Hyukie, bianglala itu sedang berputar." Donghae menimpali dengan ekpresi yang sama persis diingatannya.

"Hae, ayo coba lagi. Lagipula bianglala itu berputarnya tidak cepat kan? Cukup lambat. Hae pasti bisa. Ayo konsentrasi, setelah itu baru kita akan menaikinya," bujuk Hyukjae dengan puppy eyesnya."

"Ada 10. Bianglalanya ada 10, Hyukie." Mereka tertawa bersamaan setelahnya. Donghae mengulurkan tangan yang langsung diterima Hyukjae. Dengan senyum bahagia mereka menaiki bianglala tersebut. Tertawa dan menunjuk ke segala arah dengan wajah sumringah.

.

.

.

Hyukjae merebahkan dirinya di tempat tidur. Melemaskan otot-otot yang menegang karena terlalu banyak melakukan aktivitas seharian ini. Hyukjae baru saja makan malam bersama keluarganya. Tentu ada Sora juga yang kini tinggal bersamanya. Menambah kebahagian Hyukjae. Senyumnya mengembang mengingat Donghae. 3 hari sudah berlalu dari hari ke pulangannya. Ia sudah mengunjungi Mr. Lee dan juga Donghwa. Mereka bahagia melihatnya kembali, begitupun Hyukjae yang bahagia melihat mereka kembali. Para maid bahkan memelukinya erat tak mau melepaskan. Saat mendapat deathglare dari Donghae baru mereka melepaskan pelukannya, itu juga terpaksa. Hyukjae ingin tertawa jika mengingat itu. Donghaenya masih sama seperti dulu. Kadang-kadang Donghae juga masih menunjukkan sikap childishnya, dan saat Hyukjae perhatikan Donghae masih belum terbiasa berbicara di depan banyak orang. Wajahnya terlihat agak kaku dan menegang berhadapan dengan orang banyak atau orang yang baru ditemuinya. Tidak apa-apa, semua butuh waktu. Hyukjae akan selalu ada di samping Donghae. Membantunya dan menggenggam tangannya erat.

"Selamat tidur Donghae," bisiknya lembut sebelum memejamkan matanya menuju dunia mimpi.

.

.

.

"Hyukie ayo bangun nak." Hyukjae menggeliat pelan merasakan elusan di pundaknya. Ia masih mengantuk, kenapa ibunya membangunkannya sepagi ini? Ini kan hari minggu.

"Hyukie ayo bangun nak."

"Eomma ini masih pagi, biarkan aku tidur sebentar lagi," bujuk Hyukjae dengan suara parau khas bangun tidur. Ibu Hyukjae menggeleng pelan melihat anaknya kembali menarik selimut, menenggelamkan tubuhnya.

"Kau harus bangun, Donghae sudah menunggumu di bawah." Mata Hyukjae terbuka dan segera terbangun. Menatap ibunya terkejut.

"Donghae?"

"Iya, Donghae datang bersama keluarganya. Cepatlah mandi dan gunakan pakaian terbaikmu."

"Memang kenapa?"

"Sudah jangan banyak tanya tuan puteri. Sekarang cepat bangun dan bersiap-siaplah. Kami menunggumu." Hyukjae masih belum sadar sepenuhnya saat ibunya mendorongnya pelan ke kamar mandi. Menyuruhnya bersiap-siap. Kenapa Donghae datang sepagi ini? Dan bersama keluarganya?

.

Hyukjae melihat bagaimana keluarganya mengobrol santai dengan keluarga Donghae saat menuruni tangga. Ibunya melihatnya dan melambai.

"Hyukie, ayo sini nak." Hyukjae duduk di sebelah ibunya. Menunduk malu karena mendapati semua mata tertuju padanya. Terutama Donghae yang terlihat jauh lebih tampan saat ini. Ia mengenakan pakaian formal. Kemeja putih dengan jas berwarna hitam. Membuat aura maskulinnya semakin menguar.

"Hyukjae, ayah Donghae ingin mengatakan sesuatu padamu." Hyukjae menengadah, melihat Mr. Lee yang tersenyum padanya. Donghwa juga tersenyum.

"Ada apa, ahjussi?"

"Hyukjae, kami datang kemari karena ingin berteriakasih padamu secara pribadi. Berkatmu Donghae bisa seperti ini sekarang."

"Aku tak melakukan apa-apa," jawabnya malu. Semua tersenyum padanya.

"Dan ada 1 tujuan lagi kenapa kami kemari. Hyukjae, kami datang ingin melamarmu untuk menjadi istri Donghae." Hyukjae terkejut. Sangat terkejut. Ia menatap Donghae yang tersenyum tulus padanya. Donghae melamarnya? Melamar untuk menjadi istrinya?

"Sudah kuduga ini yang ingin kau bicarakan." Hyukjae mendengar ayahnya berbicara. Menepuk pundak Mr. Lee dengan senyum mengembang. Ibunya mengelus pundaknya. Memberi semangat.

"Hyukie, kau ingat pembicaraan kita saat ditelpon dulu?" Tanya Donghae. Menatap lurus ke dalam onyxnya. Ingatan Hyukjae melayang pada saat Donghae menelponnya dulu. Saat… ia melamar Hyukjae. Astaga, jangan bilang…

"Aku kemari untuk menagih janjimu. Kau bilang akan mempertimbangkanku saat aku sudah berubah menjadi lebih baik lagi. Sekarang aku sudah sembuh. Aku ingin melamarmu kembali dengan cara yang benar." Donghae berlutut di depan Hyukjae. Tangannya menjulurkan sekotak kecil dan membukanya. Memperlihatkan cincin berlian yang begitu indah di dalamnya. Hyukjae menutup mulutnya terkejut.

"Maukah kau menikah denganku?" satu tetes airmata jatuh dari pelupuknya. Hyukjae menatap Donghae dengan pandangan yang sulit diartikan. Antara terkejut, bingung dan juga senang. Semua orang menatapnya menanti jawaban. Hyukjae menutup matanya, mengambil nafas dan menghembuskan perlahan. Ia tau jawabannya. Hatinya meneriakkan jawabannya dengan lantang. Hyukjae tersenyum dan berucap.

"Aku mau Hae. Aku mau menjadi istrimu." Gadis manis itu mengambil cincinnya. Memasang di jari manisnya. Seketika ruangan terasa ramai oleh tepuk tangan dan ucapan syukur. Donghae memeluknya erat, mengucapkan terimakasih berkali-kali di telinganya. Donghwa dan Sora dengan kompak mengambil foto dan merekam video moment membahagiakan tersebut. Menyimpannya sebagai memori tak terlupakan.

.

.

.

Hari tampak cerah, burung-burung berterbangan dengan riang menghiasi langit biru. Semua orang tampak berbahagia, kecuali satu orang. Hyukjae. Hyukjae sangat gugup sekarang. Hari ini adalah hari pernikahannya dengan Donghae. Bukannya ia tak bahagia, bukan! Ia sangat bahagia malah. Tapi ia sekarang diserang rasa gugup dan takut. Bagaimana jika ia tak bisa menjadi istri yang baik? Bagaimana jika terjadi hal yang tak diinginkan? Dan yang paling mengusik Hyukjae adalah, apa Donghae benar-benar mencintainya? Ia tahu itu konyol. Donghae jelas mencintainya, tapi berkat rasa gugupnya membuat pikirannya kacau.

"Hyukie kau sudah siap nak?" Ibu Hyukjae masuk ke ruangan Hyukjae. Tersenyum melihat anaknya begitu cantik dalam balutan gaun putih bersih dengan mahkota menghiasi rambut cokelat madunya yang tergerai indah. Cantik. Hyukjae terlihat cantik bagai bidadari. Menyadari ekspresi gugup Hyukjae ibunya tersenyum.

"Kau pasti gugup sekarang. Bertanya-tanya apakah semuanya tepat, apakah semua akan baik-baik saja, apakah dia benar-benar pasangan hidupmu. Iya kan?" Hyukjae mengangguk pelan. Ibunya mengelus rambutnya sayang. Menenangkannya.

"Itu wajar, sayang. Semua pasangan kekasih yang ingin menikah pasti memikirkan hal yang sama denganmu. Itu wajar. Yang perlu kau ingat adalah Donghae mencintaimu, sangat malah. Ingat bagaimana perjuangannya selama ini untukmu. Hilangkan semua pikiran buruk, semua akan baik-baik saja. Apa kau mencintai Donghae?"

"Ya…"

"Karena itu kau ada di sini untuk menikah dengannya, sayang. Semua akan baik-baik saja, percayalah. Donghae akan menjagamu selalu. Doa ibu dan ayah selalu menyertaimu. Jangan takut, kami selalu ada bersamamu." Hyukjae memeluk ibunya dengan erat. Begitu terharu dengan ucapan ibunya. Ya, semua akan baik-baik saja. Hyukjae harus percaya.

"Aku sayang ibu. Aku sayang kalian semua." Ibu Hyukjae tertawa lembut. Mengelus-elus punggung Hyukjae.

"Sudah waktunya, tuan puteri." Hyukjae menoleh, mendapati ayahnya di depan pintu. Tersenyum lembut padanya. Ia mengusap airmata yang menggenang, tersenyum dan meraih tangan ayahnya.

.

Donghae di sana. Memakai tuxedo putih senanda dengan gaunnya. Terlihat sangat tampan dan juga gagah. Ayahnya menyerahkannya pada Donghae begitu sampai di altar.

"Jaga puteriku baik-baik. Jangan biarkan ia terluka sedikitpun. Bahagiakan dia." Rasanya Hyukjae ingin menangis mendengarnya. Setelah ini ia akan menjadi milik Donghae, bukan milik orangtuanya lagi. Tapi bagi Hyukjae ia masihlah milik orangtuanya juga.

"Aku berjanji akan membahagiakan Hyukjae." Donghae berucap tegas membuat Hyukjae merona.

Pendeta sudah mengambil posisi. Donghae memegang tangan Hyukjae erat.

"Lee Donghae, apa kau siap menjadi suami Lee Hyukjae baik suka maupun duka, sehat maupun sakit, hingga maut memisahkan?" Donghae menatap Hyukjae lembut dan berucap lantang.

"Ya aku bersedia."

"Lee Hyukjae apa kau bersedia menjadi isteri Lee Donghae baik suka maupun duka, sehat maupun sakit, hingga maut memisahkan?" Hyukjae tersenyum, menahan airmatanya yang berdesakan ingin keluar.

"Ya aku bersedia."

"Dengan restu Tuhan kalian sudah sah menjadi sepasang suami isteri. Kau bisa mencium pasanganmu." Semua kerabat yang menyaksikan bertepuk tangan dan berseru bahagia. Nenek Hyukjaepun hadir menyaksikan pernikahannya. Donghae mencium kening Hyukjae lama. Menyalurkan kasih sayangnya.

"Aku mencintaimu, istriku." Hyukjae tersenyum,menutup mata merasakan hembusan nafas Donghae yang menerpa begitu suaminya menyatukan dahi mereka.

"Aku juga mencintaimu, suamiku." Sorakan bahagia kembali terdengar saat Donghae mencium bibir Hyukjae. Tak ada yang lebih membahagiakan selain memiliki Hyukjae di hidupnya.

Kebahagiannya terasa lengkap sudah. Ia akan membahagiakan Hyukjae di sisa hidupnya hingga maut memisahkan.

Waktu terus berlalu, kini saatnya Hyukjae melempar bunga. Belasan wanita berbaris termasuk Sora dan Jessica. Mencoba peruntungan mereka. Hitungan telah dimulai, Hyukjae melempar bunganya. Ia segera berbalik melihat siapa yang mendapat bunganya. Semua mata tertuju pada… Sora. Sora juga tampak terkejut bisa mendapat bunga cantik ini.

"Wah Sora, sepertinya kau akan menyusul hyukie secepatnya," goda Jessica. Victoria, Hyoyeon, Luna, Sungmin dan beberapa orang lainnya tertawa menggoda.

"Ish kalian ini." Sora kembali ke tempatnya, berusaha lari dari godaan teman-temannya.

"Wah kau mendapat bunganya, sepertinya kau akan menyusul Hyukjae noona." Donghwa berdiri di samping Sora, membawakan minuman. Sora tertawa.

"Itu tidak mungkin, calon saja tidak punya," jawabnya dengan senyum lucu. Donghwa tersenyum.

"Bagaimana jika menikah denganku?"

"Eh?" Sora hanya bisa berkedip bingung mendengar ucapan Donghwa yang kini telah berlalu dari hadapannya.

Tadi itu… lamaran?

.

.

.

Hari sudah sudah menuju peraduannya. Menggantikan langit cerah dengan langit malam yang dihiasi bintang-bintang.

Hyukjae duduk dengan gelisah di tepi ranjangnya yang sudah berhiaskan kelopak mawar merah. Lampu kamar ini juga sudah redup, hanya ada cahaya dari lampu tidur. Membuat suasana menjadi remang. Ia semakin menundukkan kepalanya saat Donghae keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah basah.

Donghae tersenyum lembut melihat istrinya yang terus menunduk dengan jemari yang saling tertaut. Hyukjae gelisah. Ia tau. Dengan perlahan Donghae duduk di samping Hyukjae dan mengelus kepalanya dengan lembut sebelum memberikan kecupan hangat di kening istrinya. Donghae mengangkat dagu Hyukjae, membuatnya bisa melihat rona merah yang mempermanis parasnya.

"Jangan takut, baby." dalam hati Donghae juga berdebar-debar. Ini malam pertama mereka. Tapi ia tidak akan memaksakannya, Donghae akan dengan sabar menunggu hingga Hyukjae siap. Ia tidak mau menyakiti malaikatnya. Tidak akan.

Hyukjae menoleh ke arah Donghae dan seketika wajahnya bertambah merah. Astaga, kenapa lelaki berstatus suaminya itu mengenakan baju tidur dengan kancing yang terbuka seperti itu? Hyukjae bisa melihat secara jelas dada bidang dan otot perut Donghae yang tercetak sempurna. Dengan segera ia memalingkan wajahnya yang memanas. Donghae terkekeh.

"Hei, baby kenapa wajahmu merona? Aku bahkan belum melakukan apa-apa padamu," godanya dengan tatapan intens tertuju pada istrinya. Ia tertawa saat Hyukjae berbalik dan mencubit lengannya dengan bibir terpout sempurna.

"Ish kau ini." Donghae mengusap-usap puncak kepala Hyukjae sayang.

"Sudah, ayo tidur. Kau pasti lelah." Hyukjae menatapnya dengan pandangan tak biasa. Dengan ragu ia berbicara.

"Tapi Hae ma-malam ini-"

"Sstt… tidak apa-apa jika kau belum siap. Aku tidak akan memaksa. Aku juga tidak mau menyakitimu, baby." Hyukjae tersenyum penuh haru dan tanpa basa-basi memeluk Donghae erat. Perlahan, Hyukjae menggeser tubuhnya hingga duduk di pangkuan Donghae.

"Terimakasih karena sudah berusaha memahamiku. Aku… siap malam ini," ucapnya yakin. Walaupun rona merah tak hilang dari wajahnya. Donghae menciumi wajahnya.

"Kau yakin? Kita bisa melakukannya kapan saja, Hyukie."

"Aku yakin, Hae. Miliki aku seutuhnya." Tatapan Donghae berubah setelah mendengar kalimat Hyukjae. Terlihat lebih intens dan posesif. Ia kembali mencium bibir Hyukjae lembut.

"Baiklah jika itu maumu. Malam ini kau akan menjadi milikku seutuhnya. Begitupun aku, aku akan menjadi milikmu seutuhnya." Seusai mengucapkan itu, Donghae meraih bibir Hyukjae. Melumatnya penuh kelembutan. Memulainya secara perlahan. Donghae mengangkat tubuh Hyukjae keranjang dan menindihnya tanpa melepas tautannya. Erangan halus keluar dari bibir manis Hyukjae begitu ciuman suaminya turun menuju lehernya, menggigit dan menghisapnya. Meninggalkan tanda kemerahan yang tidak akan hilang beberapa hari. Satu persatu pakaian Hyukjae lepas dari tubuh mulusnya, hingga Donghae bisa melihat keseluruhan tubuh istrinya. Sorot mata Donghae membara dan Hyukjae membalasnya dengan tatapan malu yang begitu menggemaskan. Donghae melepaskan pakaiannya, hingga sama dengan Hyukjae. Memulai kembali sesi bercinta mereka yang begitu lembut dan memabukkan. Donghae mencium kening Hyukjae.

"Apa kau siap?" tanyanya khawatir akan melukai Hyukjae. Hyukjae menggeleng, tersenyum manis pada Donghae. Mengelus pipinya dan mengusap keringat di dahi suaminya.

"Aku siap. Miliki aku Donghae." Donghae menggeram, mencium bibir Hyukjae dan perlahan-lahan memasuki istrinya. Memulai penyatuan. Keduanya mendesah, menyerukan nama pasangan masing-masing saat puncak kepuasan menghampiri. Menghantarkan mereka pada pusara memabukkan. Deru nafas mereka saling bersahut-sahutan, saling berbagi senyum manis pelengkap kebahagian mereka. Donghae kembali mencium kening Hyukjae.

"Aku mencintaimu Lee Hyukjae."

"Aku juga mencintaimu Lee Donghae." Dan setelah itu mereka kembali berbagi ciuman hangat, memulai penyatuan hingga bunga tidur menghampiri.

.

.

.

"Hyukie kau tidak boleh banyak bergerak, istirahat saja."

"Tapi ibu, aku hanya ingin menyiram bunga."

"Tidak-tidak, kau tidak boleh melakukan pekerjaan berat. Biar yang lain saja yang mengerjakannya." Hyukjae mempoutkan bibirnya imut. Selalu saja begitu, saat ia ingin bekerja keluarganya tak pernah membarkannya. Begitu juga dengan suaminya yang kini sedang bekerja di SM Entertainment sebagai composer lagu. Hyukjae baru tau setelah mereka menikah. Donghae menceritakan semua hal padanya. Hyukjae bahagia, sangat bahagia mendengarnya. Donghaenya memang sangat hebat. Dan Hyukjae cukup terkejut begitu mengetahui lagu Winter Love D&E kesukaannya ternyata ditangani oleh Donghae. Luar biasa. Siapa tau nanti Hyukjae bisa bertemu idolanya, Super Junior melalui suaminya, pikir Hyukjae senang.

Kembali ke pokok permasalahan. Hyukjae bosan tidak melakukan apa-apa, melakukan ini tidak boleh, itu tidak boleh. Memangnya kenapa? Toh pekerjaannya tidak berat. Hanya memasak untuk suaminya yang tidak dilarang.

"Kau sedang hamil sayang. Jadi kau harus banyak istirahat. Kau harus menjaga kandunganmu." Suara ibunya terdengar, Hyukjae meringis. Ya, ia memang hamil. Tapi baru 1 bulan. Ia masih bisa melakukan aktivitasnya seperti biasa. Kenapa mereka berlebihan sekali. Nampaknya 'usaha' Donghae setiap malam berbuah manis. Tidak membutuhkan waktu lama dirinya mengandung anak Donghae sekarang. Ia merona saat bayangan malam panas mereka terlintas begitu saja di ingatannya. Aish, kenapa juga ia malah mengingatnya disaat seperti ini? Hyukjae menggeleng pelan, mengambil kotak bekal makanan untuk dibawa pada suaminya.

"Ibu aku mengantarkan makan siang dulu untuk Donghae," ucapnya agak keras pada ibunya di lantai 2. Tanpa membuang-buang waktu ia melaju ke gedung SM entertainment.

Hyukjae melangkah ringan memasuki gedung, menuju ruangan Donghae. Selama perjalanan ia bertemu banyak artis asuhan agensi besar ini. Hyukjae mengetuk pintu, begitu mendengar seruan dari dalam yang menyuruhnya masuk. Hyukjae membuka pintu dan seketika membeku melihat siapa yang sedang bersama suaminya. Itu Leeteuk Super Junior. Idolanya. Walau bukan bias utamanya seperti D&E, tetap saja Hyukjae mengidolakannya. Leeteuk tersenyum padanya dan mengulurkan tangan.

"Halo kau pasti istri Donghae kan? Perkenalkan, aku Leeteuk Super Junior." Hyukjae terdiam dengan bibir yang sedikit terbuka. Leeteuk melambaikan tangannya di depan wajah Hyukjae.

"Halo nona."

"Ah maaf. Iya, saya istri Donghae, Lee Hyukjae. Salam kenal." Leeteuk kembali tersenyum, memperlihatkan senyum angelicnya yang mempesona.

"Kau agak mirip dengan Eunhyuk. Ah aku jadi merindukannya, aku akan mengunjunginya di militer sore ini. Sampai nanti nona, semoga kita bertemu lagi." Leeteuk berlalu dari hadapan mereka dngan mata Hyukjae yang mengikuti. Ia tersentak saat Donghae menarik tangannya, mendudukkannya di pangkuannya. Tatapan matanya tajam. O-oh, ini tidak baik.

"Kenapa memandangnya terus seperti itu? Suamimu ada di sini."

"Maaf, kau tau kan aku mengidolakan Super Junior dan ini pertamakalinya aku bertemu langsung dengannya. Jangan cemburu begitu, aku mencintaimu." Mendengar kata cinta yang terlantun dari bibir manis istrinya amarah Donghae luluh. Ia mencium Hyukjae dan menggigit hidungnya gemas hingga Hyukjae memekik.

"Ish Hae."

"Kau bawa apa?"

"Aku membawakan makanan kesukaanmu. Chicken doritang."

"Suapi."

"Dasar manja." Hyukjae mencibir tapi tetap bersiap menyuapi. Donghae menutup mulutnya begitu Hyukjae mengulurkan sesendok makanan.

"Kenapa?"

"Suapi dari mulut, Hyukie."

"Yah! Dasar pervert." Donghae tertawa dan memeluk gemas Hyukjae. Menggoyangkan kanan-kiri.

"Bagaimana bayi kita?" Hyukjae tersenyum saat Donghae mengelus perutnya sayang.

"Baby baik-baik saja, daddy." Hyukjae menirukan suara anak-anak, membuat Donghae tersenyum senang.

"Baby pintar. Mommy menjagamu dengan baik hmm?" Hyukjae tertawa begitu Donghae menciumi wajahnya, membuatnya geli.

"Aku mencintaimu Hyukjae. Sangat mencintaimu. Tetaplah bersamaku."

"Aku juga mencintaimu dan ya, aku akan selalu bersamamu." Mereka berbagi senyum bahagia. Menyempurnakan kisah cinta mereka.

Akan selalu ada kemudahan di balik kesukaran. Akan selalu ada hasil yang baik dari setiap pengorbanan. Seperti kisah Donghae dan Hyukjae, berawal dari penderitaan yang mendera, mereka menjalaninya dengan hati yang ikhlas dan terus berusaha. Dan Tuhan menjawab setiap doa-doa mereka. Kebahagiaan menanti di ujung kesukaran. Semua ada timbal baliknya.

Dan inilah akhir kisah mereka.

Bahagia selamanya.

.

END

.

Maaf jika untuk chapter akhir ini lama dan tidak memuaskan. Saya sudah berusaha semampu saya. Dan maaf jika banyak kekurangan dalam ff ini, saya masih dalam proses belajar. Saya harap kalian semua suka dengan ending cerita ini.

Sejujurnya, saya gak rela ff ini end mwahahaha…

Ok, terimakasih banyak bagi yang selama ini selalu setia menunggu update'n saya, setia mereview, dan mendukung saya. Saya cinta kalian :* #ciumkalian

Silahkan berikan review, agar saya tau pendapat kalian seperti apa. Dan saya mohon agar tidak mereview dengan satu kalimat. Tolong hargai saya yang sudah susah-susah mengetik dan mikirin plotnya. Be a good reader.

Terimakasih semuanya~~

Sampai jumpa lagi.

Bye~