[REMAKE] Dating With The Dark by Santy Agatha
.
.
Main Cast:Luhan(GS), Oh Sehun.
Other Cast: Kris, Irene, etc.
Genre: Romance, Drama.
Rated:M
.
.
Don't Like, Don't Read
Sorry for Typo.
Happy Reading~
.
.
Chapter 7
.
.
Sehun ada di sana. Menatap dari kejauhan di dalam sebuah rumah yang tepat berada di depan rumah putih itu. Sehun memang sengaja membeli rumah ini jika saatnya tiba. Matanya terus menatap ketika Luhan memasuki rumah itu.
Dia tidak bisa menahankan apa yang bergejolak di benaknya dan memejamkan matanya. Akankah Luhan menyadarinya? Menyadari Sehun yang menunggu saat-saat ini tiba? Menunggu sekian lama dalam kegelapan untuk Luhan?
Matanya menyorot tajam ketika melihat pintu rumah itu terbuka dan Kris menggendong tubuh Luhan yang pingsan terkulai tak berdaya. Gerahamnya mengeras, menatap sosok Kris yang lengannya melingkari tubuh Luhan.
Tidak bisa dibiarkan... memang waktunya akan segera tiba.
.
.
.
Aroma kopi yang familiar menyentuh hidung Luhan, membuatnya mengerjapkan mata dan mengernyitkan keningnya, kepalanya terasa pening seperti dihantam sesuatu, dia membuka matanya dan menyadari bahwa dia berada di dalam kamarnya sendiri.
"Kau sudah sadar? Kau ingin secangkir kopi?" ranjangnya bergemerisik ketika Kris duduk di kaki ranjangnya, membawa secangkir kopi yang mengepul panas.
Luhan berusaha duduk pelan, dan menatap Kris yang tersenyum penuh rasa bersalah,
"Aku tidak tahu orang yang habis pingsan boleh minum kopi atau tidak." Kris menatap Luhan lembut, "Hanya saja aku tahu kau menyukainya."
Luhan mau tak mau membalas senyuman lembut itu, "Terimakasih." Bisiknya pelan ketika Kris menyodorkan cangkir kopi itu ke bibirnya, dia menerimanya dan menyesapnya pelan.
Rasa pahit bercampur manis yang tajam langsung mengembalikan kesadarannya, Luhan menyerahkan kembali cangkir kopi itu kepada Kris dan lelaki itu meletakkannya di meja kecil di dekat ranjang.
"Aku pingsan." Itu pernyataan, bukan pertanyaan.
Kris menganggukkan kepalanya, "Langsung pingsan setelah melihat lilin berwarna biru itu, sama seperti kejadian di restoran itu."
Luhan menghela napas panjang, kelebatan ingatan itu membuat jantungnya berdenyut pelan. Lilin berwarna biru sejumlah sembilan buah yang disusun setengah melingkar di dalam kamar rumah itu memang tidak menyala, berbeda dengan yang direstoran. Tetapi efeknya sama, menghantamnya sekeras badai.
Pertanyaannya... Kenapa?
Luhan mulai merasa pening karena tidak menemukan jawaban. Dengan lembut Kris mendorongnya kembali ke ranjang dan menyelimutinya,
"Jangan dipaksakan, kau akan ingat nanti, pelan-pelan ya, sekarang istirahatlah." Lelaki itu berdiri lalu membungkuk di atasnya, sejenak meragu, tetapi kemudian mengecup keningnya, membuat Luhan memejamkan mata.
Ketika Kris melangkah meninggalkan kamar itu, Luhan menatap nyalang ke langit-langit kamarnya, merasa bingung.
.
.
.
"Aku tidak tega melakukan ini kepadanya, sepertinya setiap dia berusaha mengingat, dia pingsan." Kris bergumam kepada atasannya melalui telepon.
Atasannya terdiam, tampak berpikir, kemudian berkata, "Kau harus membuatnya ingat, Kris. Hanya ingatannyalah yang bisa membantu kita menemukan "Sang Pembunuh". Kau tahu hanya Luhan dan ayahnyalah yang pernah bertatap muka dengannya. Ayah Luhan sudah meninggal, jadi hanya Luhan satu-satunya harapan kita."
Kris menghela napas, menyadari kebenaran kata-kata atasannya. Tetapi melihat Luhan yang pucat dan begitu rapuh itu membuat hatinya sakit. Bagaimana nanti kalau Luhan menyadari kebenarannya? Sekarang Kris tidak boleh mengatakannya... tetapi pada saatnya nanti, Luhan akan tahu.. dan dia akan... hancur.
.
.
.
"Kami harus menjagamu, berbahaya kalau kau ada di rumah sendirian, "Sang Pembunuh" bisa datang kapan saja dan membunuhmu."
Luhan mengernyit mendengar perkataan Kris. Entah kenapa batinnya masih belum siap. Kemarin hidupnya baik-baik saja, tanpa kecemasan apapun, mulai menapak hidup seperti manusia biasa saja. Tetapi sekarang hidupnya dipenuhi kecemasan dan konspirasi rumit yang masih sulit dipercayainya, dan nyawanya terancam.
Kenapa hidupnya tidak bisa biasa-biasa saja seperti orang-orang kebanyakan?
"Kami akan memindahkanmu ke tempat perlindungan yang tidak terlacak, kau akan berada di dalam pengawasan kami, dua puluh empat jam." Kris melanjutkan ketika melihat Luhan tidak berkata apa-apa.
Luhan membelalakkan matanya, menatap Kris dengan marah, "Apakah kau akan membuat hidupku dalam penjara, Kris? Selalu dalam pengawasan hanya karena ancaman yang bahkan belum terbukti kebenarannya? Apakah kau akan merenggut kehidupan normalku ini dariku? Tidak!" Luhan menatap Kris penuh tekad, "Aku tidak akan membiarkan kau melakukan itu kepadaku!"
Kris menatap Luhan seolah kesakitan, "Ancaman itu benar adanya Luhan, kau dalam bahaya, bagaimana agar aku bisa membuatmu mengerti?" suaranya tampak frustrasi.
Tetapi Luhan memang tidak mau mencoba mengerti, dia tidak akan membiarkan Kris tiba-tiba datang kembali ke dalam kehidupannya dan merubah semua, apalagi setelah semua sandiwara palsu yang mengacak-acak seluruh perasaan Luhan. Luhan tidak mau menyerah lagi pada Kris dalam cara apapun.
"Aku tidak mau kau terus ada di sini mengawasiku. Aku ingin kau dan teman-temanmu pergi. Aku tidak butuh penjagaanmu!" Luhan mengangkat dagunya dan menatap ke pintu, "Silahkan, kau tahu dimana pintunya bukan? Atau aku harus mengantarmu?"
Kris terpaku mendengar pengusiran Luhan yang terang-terangan. Tetapi dia kemudian mengangkat bahu dan mendesah. Luhan pantas membencinya, apalagi setelah tahu bahwa alasan Kris mendekatinya dulu adalah demi pekerjaan, meskipun pada akhirnya Kris benar-benar memiliki perasaan kepada Luhan, perempuan itu tampaknya tetap tidak bisa memaafkannya.
Kris memutuskan akan memberi Luhan ruang sambil berharap pada akhirnya perempuan itu akan berpikiran panjang dan mau menerima keadaan ini. Sementara itu, dia dan rekan-rekannya akan terus menjaga Luhan diam-diam.
"Selamat tidur, Lu." Kris menatap Luhan dan tersenyum tipis ketika Luhan memalingkan muka dan tidak menjawab. Lelaki itu lalu membuka pintu dan melangkah pergi, meninggalkan kamar Luhan.
.
.
.
"Kau sakit, Lu?" Suara Irene di telepon tampak cemas, apalagi ketika mendengar suara lemah Luhan saat menjawab teleponnya.
Luhan mendesah, dia masih berbaring di ranjang, merasa tubuhnya lemas dan tidak enak. Ingatan akan lilin-lilin berwarna biru itu membuat dadanya sesak, karena itu Luhan berusaha menutup benaknya.
"Aku tidak apa-apa Irene, hanya sedikit kurang darah."
"Mau kucarikan darah?" Irene terkekeh, dalam keadaan cemas pun sahabatnya itu masih bisa bercanda, membuat Luhan tertawa.
"Ada-ada saja." Gumam Luhan dalam tawanya, tetapi kemudian dia menghela napas panjang.
"Kenapa Luhan?" Irene langsung bertanya. Sahabatnya itu memang mempunyai insting hebat dalam mendeteksi sesuatu yang tidak beres, dan kadangkala Luhan memang sulit menyembunyikan sesuatu darinya. Mereka memang baru mengenal sebentar, Irene adalah pegawai lama, dan ketika Luhan masuk pertama kali ke perusahaan sebagai pegawai baru, Irene yang pada dasarnya ramah dan baik menyapanya lebih dulu...dan kemudian mereka menjadi semakin akrab seiring dengan berjalannya waktu.
"Tidak... aku cuma sedikit pusing." Luhan tidak berbohong dia memang merasa pusing.
"Kau ingin aku ke sana?"
"Tidak! Jangan! Tidak apa-apa kok. Aku akan tidur saja dan beristirahat, besok pagi pasti sudah baikan"
Irene menghela napas panjang di seberang sana. "Oke. Kalau ada apa-apa beritahu aku, yah."
"Terimakasih, Irene." Luhan tersenyum sebelum menutup teleponnya. Dia bersyukur bisa memiliki teman seperti Irene karena sekarang dia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini.
.
.
.
"Tenanglah Kris, aku sudah mengirimkan agen terbaik untuk menggantikanmu mengawasi rumah Luhan, mereka ada di sana dua puluh empat jam, "Sang Pembunuh" itu tidak akan bisa lolos dari pengawasan mereka, Luhan akan baik-baik saja. Lagipula ini kan hanya semalam, besok kau sudah bisa kembali ke sana lagi dan mengawasi Luhan." Atasannya bergumam panjang lebar untuk menenangkan Kris, dia memang merasakan nada gelisah dalam suara Kris.
Kris menghela napas sambil memegang ponselnya. Lelaki itu melirik jam tangannya, sebentar lagi dia akan menaiki penerbangan terakhir menuju kantor pusatnya, tempat atasannya bertugas. Ada informasi penting dan pembahasan strategi yang harus mereka lakukan segera menyangkut beberapa misi.
Sebenarnya Kris tidak ingin meninggalkan pengawasannya atas rumah Luhan, tetapi atasannya meyakinkannya bahwa ini hanya semalam, dan seperti malam-malam yang lain, Luhan akan baik-baik saja. Tetapi bagaimanapun juga, perasaan tidak enak itu menggayuti benak Kris. Instingnya sebagai seorang agen terlatih seolah-olah menusuk-nusuk punggungnya dari belakang, membuatnya merasa tidak enak. Seperti ada bahaya yang mengintai dan semakin dekat...
Panggilan terakhir kepada penumpang terdengar dan Kris bergegas melangkah, sebelum dia mematikan ponselnya dia menelepon.
"Bagaimana?" tanpa basa-basi Kris langsung bertanya, tahu pasti bahwa orang di seberang sana tahu arti pertanyaannya.
"Semua OK." Jawab lawan bicaranya di ponsel singkat.
Kris menghela napas panjang, lalu memutuskan pembicaraan, dia menatap ponselnya, sejenak meragu, lalu menghela napas lagi dan mematikan ponselnya.
Luhan akan baik-baik saja. Kris meyakinkan dirinya dalam hati.
.
.
.
"Semuanya OK." Taecyeon bergumam tegas, karena dia tidak menemukan apapun yang mencurigakan dalam pengawasannya, nada suaranya meyakinkan, membuat Kris yang sedang meneleponnya di sana terdengar puas.
Setelah menutup telepon, dia tersenyum kepada Seunghyun –rekannya- yang ada di sebelahnya di dalam mobil itu,
"Kau mengantuk, ya." Taecyeon itu tersenyum kepada Seunghyun yang entah sudah berapa kali menguap di sebelahnya.
Mereka memang dipanggil untuk bertugas malam ini secara mendadak tanpa ada persiapan apapun, memang sudah tugas mereka untuk siap sedia kapanpun itu, tetapi Seunghyun tampaknya memang sedang benar-benar tidak siap secara fisik untuk berjaga malam ini, isterinya baru melahirkan dan seperti ayah baru lainnya yang baru membawa pulang bayinya, lelaki itu pasti kurang tidur.
"Kau bisa tidur dulu, aku akan berjaga." Taecyeon itu menawarkan dengan iba. Lagipula tidak ada salahnya menyuruh Seunghyun tidur sebentar karena malam ini tampak tenang dan tampaknya apa yang ditakutkan oleh Kris tidak akan terjadi, tidak akan ada penyusup, penculik atau bahkan "Sang Pembunuh" yang akan datang. Taecyeon itu mengusap pistol yang tersembunyi di balik saku jasnya, lagipula dia akan siap sedia menembak penjahat itu kalau dia berani-beraninya muncul.
Seunghyun menatap Taecyeon dengan penuh rasa terimakasih, "Mungkin aku akan tidur sebentar ya. Seperempat jam." Matanya tampak merah, dia benar-benar kurang tidur dan berjaga malam ini terasa sangat berat baginya.
Taecyeon menganggukkan kepalanya, menegaskan persetujuannya, "Tidurlah." Lelaki itu mengedarkan pandangannya keluar menatap ke arah rumah mungil Luhan dari jendela mobilnya. Dia akan berjaga di sini sementara Seunghyun tidur, nanti kalau Seunghyun sudah bangun, dia akan melakukan patroli ulang mengitari seluruh sisi rumah Luhan, memastikan tidak ada apa-apa.
Dalam sekejap terdengar suara dengkuran Seunghyun, membuat Taecyeon melirik dan tersenyum geli. Dasar. Rupanya Seunghyun itu sudah sangat mengantuk.
Malam makin larut dan Taecyeon tetap berjaga, berusaha menajamkan telinga dan pandangan matanya terhadap gerakan apapun yang sekiranya mencurigakan, meskipun suara dengkuran Seunghyun yang riuh rendah sedikit mengganggu konsentrasinya.
Lalu sebuah gerakan secepat kilat yang terlambat disadarinya membuatnya waspada. Sayangnya, dia lengah. Sebuah jarum suntik tiba-tiba melewati jendela yang terbuka itu, dipegang oleh tangan yang cekatan dan menancap di lehernya. Matanya seketika membelalak kaget sebelum akhirnya menutup, kehilangan kesadarannya.
Seunghyun yang masih tertidur pulas merupakan sasaran yang sangat mudah. Hanya beberapa detik untuk menyuntikkan obat bius itu dan membawanya tidur lebih dalam.
Sehun tersenyum sinis menatap dua agen yang sekarang tertidur pulas di dalam mobil. Mereka akan tertidur sampai pagi, tergantung bagaimana reaksi tubuh mereka akan obat bius itu. Minimal mereka akan terlelap beberapa lama dan membiarkan Sehun bergerak bebas, lelaki itu tidak butuh waktu lama, hanya beberapa menit untuk mengambil kembali Luhan.
Tubuh tinggi dan ramping Sehun melangkah tenang menuju rumah Luhan, menuju perempuan yang mungkin sekarang sedang tertidur lelap, tidak tahu bahaya apa yang akan mendekatinya.
.
.
.
Ketika malam itu bergayut, Luhan duduk termenung di atas ranjang, entah kenapa malam ini tidak seperti biasanya. Luhan merasa ngeri, rasa ngeri ini hampir sama dengan kengerian yang selalu menyerangnya di malam-malam dulu. Burung di pepohonan depan yang rimbut berbunyi-bunyi dengan suara menakutkan, mencicit seolah memberi pertanda.
Tetapi pertanda apa?
Luhan bolak-balik memeriksa alarm pintunya, dan menghela napas panjang. Alarm sudah terpasang dengan sempurna, pintu sudah tertutup rapat dengan kunci dan gerendel terpasang. Tetapi kenapa dia tetap merasa takut?
Luhan masuk lagi ke kamar dan berbaring, menarik selimutnya sampai ke punggung. Seharusnya dia sudah merasa bebas, seharusnya dia tidak didera ketakutan lagi. Tetapi kenapa perasaan ini sama? Rasanya sama seperti dulu... jauh di masa lalu, dimana kenangan buruk menyeruak, kenangan yang sangat ingin dilupakannya.
Tiba-tiba terdengar suara keras di pintu belakang rumahnya. Luhan begitu terperanjat sampai terlompat dari tempat tidurnya. Jantungnya berdebar dengan keras, dia menatap ke arah pintunya dan meringis...
Apakah dia tadi lupa mengunci pintu kamarnya...? Apakah ada seseorang yang menerobos pintu belakangnya? Bagaimana kalau orang itu masuk ke kamarnya?
Pertanyaan-pertanyaan itu mendorong Luhan melompat panik, dan kemudian memeriksa kunci pintu kamarnya.
Terkunci...
Luhan menghela napas panjang, dan menyandarkan tubuhnya di pintu. Lama dia menunggu, mungkin akan ada suara-suara lagi diluar sambil menahankan debaran jantungnya yang membuatnya makin sesak napas.
Tetapi suasana sungguh hening, tidak ada suara apapun. Luhan bahkan merasa bahwa dia hampir mendengar debaran jantungnya sendiri yang berpacu dengan begitu kuatnya.
Apakah suara di pintu belakangnya tadi hanyalah halusinasinya?
Setelah menghela napas panjang, Luhan membuka kunci pintunya. Dia tahu bahwa dia telah melakukan tindakan bodoh seperti di film-film horor yang sering dilihatnya, mendengar suara aneh... bukannya lari dan bersembunyi tetapi malahan mendatangi bagaikan ngengat yang tertarik mendatangi api yang akan membunuhnya.
Rumah Luhan kecil sehingga kamarnya langsung mengarah ke ruang tamu yang merangkap sebagai ruang keluarga dengan TV besar mendominasi bagian tengahnya, lalu ada lorong kecil ke area dapur... dapur tempat suara itu berasal.
Luhan menyalakan lampu ruang tengah dan menghela napas panjang ketika menyadari bahwa tidak ada siapapun di sana. Jantungnya makin berdebar ketika menunggu melangkah ke arah dapur... di sana gelap dan pekat. Dengan hati-hati Luhan menyalakan saklar lampu tetapi langsung mengerutkan kening ketakutan ketika saklar itu putus. Lampu dapur tidak menyala dan Luhan mengernyit menyadari kegelapan di depannya. Tangannya meraba-raba mencari ponsel yang selalu tadi sempat dimasukkannya ke dalam saku piyama.
Dengan pencahayaan ponsel yang seadanya, Luhan melangkah maju memasuki area dapur itu. Cahayanya gelap dan remang-remang, membuat Luhan merasakan bulu kuduknya berdiri.
Tampaknya di dapur tidak ada siapapun. Tetapi kemudian mata Luhan terpaku pada sesuatu di dapur. Sesuatu yang membuat jantungnya berpacu cepat dan wajahnya pucat pasi. Sesuatu yang menguarkan cahaya lembut berwarna kuning redup terselubungi lilin yang berwarna biru.
Masa tenang kehidupannya sudah berakhir... impian untuk menjalani hari-harinya seperti orang biasa musnah sudah.
Luhan berpegangan ke dinding untuk menopang kakinya yang gemetaran, matanya menatap ke arah benda itu. Sebuah tanda... tanda yang samar-samar menyeruak ke dalam alam bawah sadarnya, menarik ingatan Luhan yang telah lama hilang dan mengingatkannya.
Seketika pengetahuan mendalam muncul di benak Luhan, membuatnya merasakan ngeri yang luar biasa. Lilin berwarna biru yang menyala itu adalah tanda, tanda yang ditinggalkan oleh sang pembunuh paling kejam yang dia tahu entah kenapa. Pembunuh itu sudah menemukannya.
Selesailah sudah. Nyawa Luhan mungkin tinggal beberapa saat lagi. Matanya melirik ketakutan ke arah tanda di meja dapurnya.
Lilin berwarna biru itu... jumlahnya ada sembilan buah... diletakkan dengan rapi dan diatur indah di atas meja dapurnya, cahaya redupnya tampak kontras dengan ruangan dapur yang gelap gulita...
Lalu seperti muncul begitu saja dari bayangan gelap di belakangnya, jemari yang kuat tiba-tiba menyentuh lehernya dari belakang, lembut dan tenang. Luhan tercekat, tetapi tidak bisa memberontak, pada akhirnya yang bisa dilakukannya hanyalah memejamkan matanya.
.
.
.
Tanpa perlawanan yang berarti tubuh Luhan lunglai dalam pelukan Sehun, ada rasa sakit dan terkejut luar biasa di sana. Mata Luhan yang membelalak mengatakan demikian ketika menyadari bahwa Sehun yang ada di sana, hingga beberapa detik kemudian, mata Luhan kehilangan cahayanya, menutup dengan lemah, meninggalkan bercak gelap yang merintih tak bersuara disana.
Sehun, alih-alih melarikan diri terburu-buru mengingat ada dua agen yang mungkin bisa bangun kapan saja di luar, malahan dengan tenang mengangkat tubuh Luhan dengan kedua tangannya, ke sudut ruangan, ke bagian ruang tengah rumah berlantai kayu yang dipernis mulus itu.
Dia duduk di sana dan memangku tubuh Luhan yang lunglai tanpa daya, dibelainya rambut hitam panjang Luhan, diciuminya aroma leher perempuan itu. Sungguh diperlakukannya Luhan bagai kekasih tertidur yang akan ditinggal pergi diam-diam. Sorot mata Sehun adalah sorot mata kekasih, penuh cinta dan harapan yang meluap-luap.
Bukan sekali dua kali ini dalam tugasnya sebagai seorang pembunuh, Sehun membereskan seseorang yang lemah seperti Luhan, ia sering menyebutnya 'order kecil'. Cepat, mudah dan tak jarang korbannya cantik luar biasa, seperti apa yang dilihatnya sekarang pada diri Luhan.
Anehnya Sehun langsung menetapkan harga yang amat sangat tinggi untuk menghabisi Luhan. Tanpa alasan jelas, ia selalu bilang begitu kepada kliennya, karena tak mungkin mereka mengetahui bahwa Sehun memuja Luhan, butuh pengorbanan besar dari nurani untuk membunuh seseorang, tetapi bahkan ia akan mengorbankan lebih besar lagi untuk membunuh Luhan, satu-satunya wanita yang telah menyentuh hatinya.
Bibir Sehun menyentuh bibir Luhan, melumatnya lembut penuh cinta. Sebelum akhirnya gelap dan pekatnya malam yang semakin dalam, menelan mereka berdua.
.
.
.
Luhan terbangun dalam nuansa kamar remang-remang, temaram oleh cahaya lilin. Dia merasa pusing dan sedikit mual, lalu mengerjap-ngerjapkan matanya, merasa bingung dan kehilangan orientasi.
Ketika dia membuka matanya, dia menyadari bahwa dirinya berada di dalam sebuah kamar yang gelap pekat, hanya diterangi oleh cahaya lilin yang berkedip-kedip di kaki ranjang. Ingatan Luhan langsung berkelebat, ingatan di dapur yang menakutkan itu langsung membuatnya terperanjat dan terduduk dari ranjang itu, hanya untuk menyadari bahwa tangan dan kakinya terikat di kepala dan kaki ranjang.
Luhan menatap ketakutan, kedua tangan dan kakinya direntangkan masing-masing di kaki dan kepala ranjang dan masing-masing diikat dengan sebuah borgol!
Luhan semakin ketakutan ketika menyadari bahwa dia hanya terbungkus selimut sutera berwarna hitam yang ketika dia bergerak menggesek tubuhnya secara langsung, membuatnya sadar bahwa dia telanjang bulat dibalik selimut itu.
Ketika Luhan mendongakkan kepalanya dia melihat pemandangan yang menakutkan itu terhampar di depan matanya. Tepat di meja besar yang menempel di kaki ranjang, sembilan lilin berwarna biru yang ditata setengah melingkar menyala temaram, menjadi satu-satunya pencahayaan di ruangan kamar yang lebar itu.
Luhan panik, dia berusaha menggerak-gerakkan tangan dan kakinya untuk melepaskan diri, tetapi percuma karena borgol besi itu begitu kuatnya. Pergelangannya mulai terasa sakit dan berbekas karena usahanya itu.
"Jangan melakukan sesuatu yang percuma, kau hanya akan melukai dirimu sendiri." Suara itu muncul dari kegelapan, membuat Luhan menolehkan kepalanya dan memucat, menyadari Sehun-lah yang berdiri di sana. Lelaki itu hanya mengenakan jubah tidur sutera hitam, yang membungkus tubuhnya dengan begitu pas, membuatnya tampak berbahaya. Segelas anggur ada di sebelah tangannya, dan Sehun menyesapnya dengan santai, sama sekali tidak melepaskan pandangan tajamnya kepada Luhan.
"Lepaskan aku." Luhan berusaha berani meskipun jantungnya berdebar begitu kencang. Disini, berbaring terikat dalam keadaan setengah telanjang dan tak berdaya, di bawah kekuasaan lelaki arogan seperti Sehun membuat tubuhnya mulai gemetaran, "Kenapa kau melakukan ini kepadaku?"
"Kenapa?" Sehun berdiri di sisi ranjang, lalu meletakkan gelas anggurnya di meja di samping ranjang, "Bukankah kau sudah mendengarnya dari Kris? Kau adalah satu-satunya korbanku yang pernah lolos, yang gagal kubunuh."
Lelaki ini adalah "Sang Pembunuh" yang dibicarakan oleh Kris. Sudah pasti. Luhan memejamkan matanya, merasakan penyesalan yang mendalam karena waktu itu dia tidak mempercayai dan meragukan Kris. Kalau saja waktu itu Luhan mengungkapkan kecurigaannya akan Oh Sehun kepada Kris, mungkin sekarang dia tidak akan berakhir di sini, tak berdaya dalam kekuasaan "Sang Pembunuh".
"Menyesal Luhan?" suara Sehun terdengar dalam dan menakutkan, membuat Luhan tidak berani membuka matanya, dia merasakan ranjang bergerak ketika Sehun duduk di sebelahnya. Luhan merasakan bulu kuduknya berdiri ketika tiba-tiba jemari Sehun menyentuh keningnya lembut, turun merayapi pipinya, membuat Luhan memalingkan mukanya berusaha menjauh.
Sehun terkekeh, "Kau tidak tahu berapa lama aku menunggu di sini Luhan, menunggu untuk menempatkanmu dalam posisi ini, terbaring dan tidak berdaya." Tiba-tiba lelaki itu merenggut dagu Luhan dan mengarahkannya ke arahnya, "Seperti kubilang, kau milikku, Luhan."
Luhan langsung membuka matanya, menatap Sehun dengan tatapan mata menantang,
"Apakah kau akan membunuhku?"
Sehun terkekeh, tetapi jemarinya yang menyentuh dagu Luhan melembut, merayapi bibir Luhan yang ranum.
"Menurutmu?" Mata Sehun mengikuti jemarinya, meredup ketika merasakan kehangatan dan kehalusan bibir Luhan di sana. "Sepertinya aku akan bersenang-senang denganmu dulu."
Lalu kepala lelaki itu menunduk, dan dengan jemari masih memegang dagu Luhan sehingga membuat perempuan itu tidak bisa memalingkan wajahnya, Sehun memagut bibir Luan dengan lembut dengan sepenuh keahliannya.
Luhan terkesiap, tidak bisa menghindar karena ketika dia mencoba menggelengkan kepalanya, cengkeraman Sehun di dagunya terasa begitu kuat dan menyakitkan. Pada akhirnya dia menyerah merasakan bibir kuat Sehun melumat bibirnya penuh gairah.
Ini hampir seperti sama persis seperti mimpinya... bibir Sehun terasa sama, kuat tetapi lembut dan panas ketika menyatu dengan bibirnya, membuatnya mengerang antara ketakutan dan menahan gairah. Lalu lidah lelaki itu menyelinap dengan ahli, memilin lidahnya dengan panas. Ciuman itu lama dan begitu sensual, sehingga ketika Sehun melepaskan bibirnya Luhan terengah dengan wajah merah padam.
Senyum Sehun tampak puas, matanya menatap Luhan dengan penuh gairah.
"Kau benar-benar perempuan yang menggairahkan." Ketika mengatakan itu, bibirnya tersenyum sensual dan suaranya serak. "Aku sangat ingin menidurimu sampai kau tidak bisa berjalan."
Lelaki itu sangat vulgar dan menakutkan, tetapi entah kenapa kata-kata Sehun malahan membuat tubuh Luhan menggelenyar oleh perasaan asing yang merayapi tubuhnya. Apakah Luhan bergairah kepada Sehun? Bagaimana mungkin dia bisa merasa bergairah kepada pembunuh yang bisa membunuhnya kapan saja?
"Lebih baik kau bunuh saja aku." Luhan bergumam pedas, menutupi rasa malunya karena bergairah atas ciuman lelaki itu. Tetapi rupanya kata-katanya malahan membuat Sehun geli, lelaki itu melirik ke arah puting payudaranya yang menegang, tidak bisa disembunyikan oleh selimut sutera tipis yang menutupi payudara telanjangnya. Dengan menggoda Sehun melewatkan jemarinya sambil lalu di sana, menyentuh puting Luhan dengan gerakan seringan bulu di sana. Membuat puting itu langsung berdiri menegang, lebih keras dari sebelumnya.
Sehun mengangkat alisnya, menatap wajah Luhan yang merah padam, dan karena tidak tahan dengan tatapan Sehun yang penuh penghinaan itu, Luhan memalingkan mukanya. Seandainya saja tangannya tidak terborgol, Luhan pasti sudah menampar Sehun sekeras mungkin.
"Mulutmu bisa berbohong dengan pedas, tetapi tubuhmu tidak akan bisa sayang." Tiba-tiba saja jemari Sehun menurunkan selimut Luhan di bagian dada, membuat Luhan panik, Luhan meronta berusaha mencegah apapun yang diniatkan oleh Sehun, yang sama sekali tidak digubris oleh lelaki itu.
Jemari Sehun menarik selimut itu sampai ke bawah payudara Luhan, dan payudara Luhan langsung terpampang jelas dihadapan Sehun, dengan puting yang menegang keras, dan warna pucat payudaranya yang begitu kontras dengan selimut sutera hitamnya. Dan kemudian kepala Sehun turun, dengan bibirnya yang panas menuju ke payudaranya...
Nafas Sehun terasa hangat di dekat payudaranya, lelaki itu sengaja membuka bibirnya meniupkan uap panas yang mau tak mau membuat payudara Luhan semakin menegang dan nyeri oleh antisipasi. Kemudian tanpa ragu-ragu, bibir Sehun mengecup ujung puting payudaranya dengan lembut, membuat Luhan tidak bisa menahankan erangannya. Mata Sehun terus mengawasi Luhan, ada senyum di sana ketika menyadari betapa Luhan sudah luluh di dalam godaan cumbuannya.
Kemudian, tanpa peringatan, bibir Sehun mengangkup payudara Luhan dan menghisapnya lembut, sangat lembut dan sangat menggoda hingga Luhan terkesiap sekaligus merasakan seluruh tubuhnya dijalari oleh perasaan panas yang luar biasa, membakar dirinya kuat-kuat.
.
.
.
TBC
Eaaakkkkkk bersambung dulu yaaahhh~~ :D
Hayolohhh Sehun mau ngapain Luhan? XD
See you in next chap~~
