[REMAKE] Dating With The Dark by Santy Agatha
.
.
Main Cast:Luhan(GS), Oh Sehun.
Other Cast: Kris, Irene, etc.
Genre: Romance, Drama.
Rated:M
.
.
Don't Like, Don't Read
Sorry for Typo.
Happy Reading~
.
.
Chapter 8
.
.
Sehun terus menghisap payudaranya, memainkan lidahnya dengan penuh perhitungan, menyentuh ujung payudara Luhan sehingga rasa panas itu semakin membakarnya. Tangan Luhan yang terikat di ujung ranjang menegang, menahan dorongan untuk meremas rambut gelap Sehun yang sekarang tenggelam di dadanya, tubuhnya melengkung menahan perasaan nikmat yang bertentangan dengan perlawanan kuat di dalam dirinya.
Luhan megap-megap, napasnya terengah-engah menahankan rasa ketika Sehun mencumbunya dengan begitu intim. Lelaki itu telah melakukan sesuatu yang begitu berani, sesuatu yang tidak pernah dibayangkan Luhan selain dalam mimpi-mimpi erotisnya yang aneh.
Sekarang Luhan berbaring di ranjang bersprei sutera hitam itu, telanjang bulat di balik selimutnya, kaki dan tangannya terborgol di ujung ranjang, membuatnya tak berdaya, sementara Sehun terus dan terus mencumbunya payudaranya tanpa belas kasihan, memainkan dadanya dengan sangat ahli hingga membuat Luhan amat sangat terangsang, dipaksa terangsang sampai kepalanya terasa pusing.
Lama kemudian, setelah puas, Sehun mengangkat kepalanya dan tersenyum tipis. Tubuh Luhan merona, tampak di sekujur kulitnya yang putih langsat, napasnya terengah-engah, sementara puncak payudaranya yang menjadi korban siksaan Sehun benar-benar mengeras dan tegak menantang, seolah-olah meminta disentuh.
Sehun menatap itu semua dan menggertakkan giginya sendiri untuk menahan gairahnya yang memuncak, membuat kejantanannya mengeras hingga terasa nyeri di balik jubah tidurnya.
Tidak. Sehun mengeraskan hatinya. Belum saatnya. Akan terlalu terburu-buru kalau dia melakukannya sekarang. Lelaki itu mengamati Luhan yang terus mengawasinya dengan tatapan berkabut sekaligus waspada, dan meskipun tak kentara, ada ketakutan di sana, di dalam tatapan mata Luhan, ketakutan yang bercampur dengan ketidakberdayaan.
Lembut Sehun mengulurkan tangannya dan menyadari bahwa Luhan langsung menegang, seperti hewan terluka yang tidak percaya kepada penolongnya. Tetapi yang dilakukan Sehun hanyalah menaikkan selimut sutera hitamnya, kembali menutupi buah dadanya.
Lelaki itu melirik ke arah lilin berwarna biru yang menyala di kaki ranjang, yang tidak mampu dilirik oleh Luhan karena membuat perutnya bergolak oleh sesuatu yang tidak mampu dikendalikannya.
"Apakah lilin itu mempunyai arti untukmu?"
Meskipun wajahnya masih merah padam karena malu bercampur berbagai perasaan yang tak mampu diungkapkannya, Luhan tetap menjawab dengan lantang.
"Lilin itu hanya mengingatkanku akan perasaan mual dan ketakutan. Kalau memang tujuanmu adalah untuk menyiksaku maka selamat, kau sudah berhasil melakukannya."
Sehun terdiam, dan menatap Luhan dengan pandangan dalam dan menusuk dari mata gelapnya yang berkabut, dia lalu mengangkat bahunya,
"Kau akan menyadari apa arti lilin itu untukmu nanti, Luhan."
Lalu tanpa berkata-kata lagi, Sehun membalikkan tubuhnya dan meninggalkan Luhan.
Luhan yang menyadari bahwa Sehun akan keluar dari ruangan, membiarkannya tetap dalam kondisi terikat mulai panik.
"Apakah kau akan meninggalkanku dalam kondisi seperti ini? Tunggu dulu! Sehun! Sehun!" Luhan berteriak memanggil-manggil tetapi sepertinya lelaki itu tidak peduli dan dengan langkah tenang melangkah pergi, meninggalkan pintu itu terkunci di belakangnya dengan Luhan yang terikat sendirian di ranjang, bersama lilin yang masih menyala itu, membuatnya mual.
.
.
.
"Tuan tidak boleh menahannya terborgol seperti itu, dia akan memar dan pegal setengah mati nantinya." Chanyeol, tangan kanan Sehun sekaligus pelayannya yang setia mengernyitkan keningnya ketika melihat Sehun keluar dari kamar tempat Luhan dikurung dan menguncinya.
Sehun mengangkat alisnya. "Kenapa kau begitu peduli kepadanya, Chanyeol?"
Chanyeol langsung menatap tuannya itu dengan tatapan mata tajam dan penuh makna yang hanya bisa dimengerti oleh Sehun.
"Tuan tahu saya pasti peduli." Dia menatap tuannya dengan berani, tahu bahwa tuannya akan setuju dengan tindakannya, "Saya akan mengirimkan pelayan perempuan dan penjaga untuk membantu nona Luhan supaya dilepaskan borgolnya."
Sehun terdiam, tahu bahwa biarpun dia tidak mengizinkan, pelayan setianya yang keras kepala ini pasti akan tetap melaksanakan niatnya. Kadangkala Sehun berpikir bahwa Chanyeol tidak takut kepadanya, lelaki itu terlalu lama bersamanya untuk merasa takut.
"Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Tapi pastikan pengawal laki-laki itu tidak melihat apapun, biarkan pelayan perempuan yang membantu melepaskan borgolnya." Tatapan Sehun menajam, "Luhan telanjang bulat di balik selimutnya, dan kalau sampai pengawal itu mencuri pandang, bunuh dia."
Lalu dengan langkah lebar-lebar, Sehun meninggalkan pintu kamar itu dan melangkah menuju ruang kerjanya, dia mengangkat telepon di atas meja kerjanya yang besar dan menghubungi nomor yang sudah dihapalnya di luar kepala.
"Halo?" sebuah suara yang tenang menjawab langsung pada deringan pertama. Karena nomornya adalah nomor khusus yang mana hanya orang-orang tertentu yang bisa menghubunginya, jadi siapapun yang meneleponnya pastilah untuk urusan penting.
"Jongin." Sehun menyapa dengan tenang, menyebut nama rekan sekaligus sahabatnya ketika mereka pernah bertemu di masa lalu mereka ketika sama-sama berada di Jerman.
Sejenak hening di seberang sana lalu Jongin menyapa setengah terkejut,
"Sehun?" Lalu ada senyum dalam suara Jongin, "Kau menghubungiku akhirnya." Sudah lima tahun sejak Jongin memberikan nomor pribadinya ini kepada Sehun, tetapi kemudian Sehun sepertinya menghilang ditelan bumi, dan berapa lamapun Jongin menunggu, lelaki itu tak pernah menghuunginya lagi.
"Ya. Aku membutuhkan bantuanmu, Jongin. Aku harap tawaranmu waktu itu masih berlaku."
Jongin tercenung di seberang sana, masih merasa terkejut karena tiba-tiba saja, sahabatnya yang menghilang bagai ditelan bumi ini menghubunginya. Seharusnya Jongin tidak terkejut, dia tahu Sehun memiliki dua sisi kehidupan, yang satu sebagai seorang pengusaha yang sukses, lelaki dengan darah campuran Korea-Italia kaya pemilik berhektar-hektar area perkebunan yang begitu luas dan subur, dan yang lainnya adalah kehidupan misterius yang penuh bahaya.
"Masih." Jawab Jongin akhirnya, pada akhirnya dia harus membalas budi kepada Sehun dan Jongin tidak keberatan melakukannya, dia berhutang nyawa kepada sahabatnya yang satu itu. "Kapan kau ingin bertemu?"
Sehun tersenyum, "Aku selalu yakin aku bisa mengandalkanmu, aku akan menghubungimu lagi nanti untuk membahas pertemuan kita." Gumamnya sebelum mengakhiri percakapan.
.
.
.
Di seberang sana, dalam ruangan kantor sementaranya ketika berkunjung ke kantor cabang, Jongin termenung sambil menatap ponselnya yang dia letakkan di meja kerjanya.
Oh Sehun... sang bangsawan muda yang ditemuinya tanpa sengaja ketika dia melanjutkan kuliahnya di Jerman, di kota kelahiran ayahnya. Waktu itu Jongin masih seorang pemuda yang mencari jati dirinya, menggoda bahaya merasa tidak pernah takut akan apapun. Lalu dia terlibat dengan sekelompok orang berbahaya yang mengancam nyawanya, sekelompok pengedar obat bius yang semula menganggapnya sasaran empuk, tetapi kemudian menyadari bahwa Jongin tidak bisa diajak kerjasama dan lebih baik dimusnahkan.
Jongin hampir mati disebuah tempat parkir yang gelap dan terpencil, tanpa ada harapan siapapun yang bisa menolongnya, dan mungkin dia tidak akan pernah hidup sampai sekarang, mati karena dipukuli habis-habisan oleh segerombolan orang yang memang dibayar untuk menghabisinya. Tetapi nasib berkata lain, kebetulan Sehun ada di sana, lelaki itu sedang ada urusan di area itu dan melihat ada seorang pemuda yang meregang nyawa karena dipukuli habis-habisan.
Tanpa pikir panjang Sehun menolong Jongin, bahkan pada usia mudapun, Sehun sudah memiliki kemampuan bela diri yang mematikan, dengan mudahnya dia menumbangkan semua orang itu, yang mungkin jumlahnya lebih dari tujuh orang. Lelaki itu lalu memanggul tubuh Jongin yang sudah lunglai dan memasukkan ke mobilnya, membawanya pergi.
Sehun membawa Jongin ke apartemennya di pusat kota dan ketika Jongin membuka matanya, itulah saat dia berkenalan dengan Oh Sehun.
Sehun mempersilahkan Jongin tinggal di apartemennya sampai lelaki itu sembuh, dan meskipun sikapnya begitu penuh rahasia, lelaki itu pada akhirnya bersedia menjadi teman Jongin. Keakraban mereka bisa dibilang aneh, karena mereka bukan jenis sahabat yang sering menghabiskan waktu bersama, sering saling berkomunikasi ataupun bertatap muka... walaupun begitu, Sehun akan bersedia melakukan apapun untuk menolong Jongin, demikian juga Jongin yang masih memiliki hutang nyawa kepada Sehun, sudah tentu dia akan melakukan apapun untuk menolong sahabatnya itu.
Tetapi Sehun bukanlah tipe orang yang membutuhkan pertolongan dan bukan jenis orang yang suka meminta tolong kepada orang lain...
Jongin bertopang dagu dengan bingung, merenung. Kalau sekarang Sehun sampai meminta tolong kepadanya, berarti sahabatnya itu benar-benar membutuhkannya.
Jongin akan melakukan apapun sebisanya untuk membantu.
.
.
.
Dua lelaki dengan jenis ketampanan yang sangat berbeda duduk berhadapan di sebuah bar yang sedikit remang dan eksklusif itu. Musik Jazz dimainkan di sudut ruangan dan orang-orang bertebaran di seluruh ruangan, kebanyakan duduk di depan bartender, memesan berbagai jenis minuman berstandar tinggi.
Bar ini adalah bar dan lounge kelas atas yang ada di lantai tujuh di sebuah hotel bintang lima di kota, mengkhususkan diri pada koleksi bir dan anggurnya yang paling lengkap, bar ini cukup diminati untuk pertemuan kalangan eksekutif muda dari penjuru kota.
Sehun dan Jongin duduk berhadapan di sebuah sudut yang cukup sepi, jauh dari lalu lalang orang. Sudah hampir dua jam mereka duduk di sana. Jongin lebih banyak mendengarkan sedangkan Sehun bercerita.
Ketika Sehun menyelesaikan ceritanya, Jongin menyesap brendinya, brendi tua yang bagus, yang meskipun menimbulkan rasa menyengat dan membakar di mulutnya, tetapi langsung memberikan sensasi hangat dan nikmat yang diinginkannya.
"Aku tidak menyangka kau mempunyai jalan cerita yang sangat pelik... melibatkan salah seorang pegawaiku pula." Jongin menatap Sehun tajam, "Dan aku menyadari kau ada di ruangan meeting itu, berdiri diam sebagai salah satu pengawal Tuan Kyuhyun." Jongin menatap Sehun tajam, "Aku kaget sebenarnya, tetapi kemudian aku berpikir entah kau sedang dalam penyamaran atau apa karena kau bersikap seolah-olah tak mengenalku, jadi aku tidak mau merusak apapun rencanamu itu. Kupikir setelahnya kau akan menghubungiku. Tetapi ternyata tidak."
Sehun terkekeh, "Maafkan aku, aku terlalu fokus pada rencanaku sehingga melupakanmu."
"Hah... Kau hanya mengingat sahabatmu di saat kau membutuhkan." Jongin bersungut-sungut meskipun ada senyuman di mulutnya.
Sementara itu Sehun hanya tersenyum tipis, "Jadi kau mau membantuku?"
Jongin tercenung, "Aku tentu saja akan membantumu semampuku, meskipun aku tidak menyangka kalau untuk membantumu aku harus melawan pihak berwajib."
"Yang mereka inginkan hanyalah hasil penelitian ayah Luhan, mereka berpikir Luhan tahu sesuatu tentang sebuah penelitian yang belum selesai menyangkut mereka, dan mereka berpikir dengan menangkapku mereka bisa mengamankan Luhan di suatu tempat, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui... tetapi mereka salah, aku tidak akan semudah itu dikalahkan."
Jongin menatap Sehun dengan hati-hati, "Mengenai penelitian ayah Luhan itu... apakah kau masih terikat dengan organisasi yang menyewamu untuk membunuh ayah Luhan? Apakah sekarang kau menculik Luhan atas perintah mereka?"
Mata Sehun tampak berkilat dingin, "Tidak pernah ada yang bisa memerintahku, semua tahu itu. Ketika aku melakukan semua pekerjaan itu, aku melakukannya karena aku mau, bukan karena melaksanakan perintah mereka. Dan mengenai organisasi itu, permasalahan sudah selesai dengan kematian ayah Luhan, mereka memang menginginkan Luhan mati, tetapi setelah menyadari bahwa perempuan itu tidak tahu apa-apa, aku sendiri yang membuat mereka melupakan Luhan, toh mereka sudah mendapatkan hasilnya."
"Hasilnya?" Jongin menatap Sehun penuh ingin tahu, "Hasil yang bagaimana?"
"Kau pikir peristiwa unjuk rasa besar-besaran di sebuah negara yang heboh di berita beberapa waktu lalu yang pada akhirnya berhasil menurunkan presidennya secara paksa itu hasil dari penelitian siapa? Mereka menemukan pemicu sederhana yang tidak dipikirkan oleh siapapun dan berhasil mengolahnya menjadi sebuah bom besar yang menggerakkan semua orang untuk berunjuk rasa besar-besaran dan memberontak, memaksa presiden mereka untuk turun. Organisasi itu telah mencapai tujuannya, mereka sudah menempatkan presiden baru yang mereka inginkan, sesorang yang bisa mereka kelola seperti boneka, seseorang yang ada di pihak mereka, memungkinkan mereka untuk leluasa bergerak sesuka hati dan memperluas kekuasaannya."
"Wow..." Jongin tampak benar-benar kagum, "Dan semua itu bisa terjadi hanya karena otak jenius ayah Luhan. Sekarang mereka sudah memetik keuntungan dari hasil penelitian ayah Luhan." Jongin menyimpulkan dan menatap Sehun dengan tatapan skeptis, "Sayang sekali semua itu dilakukan dengan mengorbankan nyawa Ayah Luhan..."
"Yah, sayang sekali." Mata Sehun dalam, menyimpan rahasia yang tak terungkapkan. Sebuah rahasia yang belum waktunya ia ungkapkan kepada siapapun.
.
.
.
"Bodoh!" Kris menggebrak meja dengan marah, dihadapan kedua agen yang sekarang duduk pucat pasi di ruangan yang biasanya dipakai sebagai ruangan interograsi itu.
Kabar itu bagaikan kabar buruk yang menyambar Kris dan langsung menghanguskannya. Taecyeon dan Seunghyun baru bangun dengan kepala pusing di pagi harinya, dan kemudian mereka menyadari bahwa Luhan sudah hilang!
Hilang! Astaga, berbulan-bulan dia menghabiskan waktunya untuk menjaga perempuan itu dan memastikannya aman, tetapi sekarang, hanya sehari ketika dia meninggalkan Luhan, "Sang Pembunuh" berhasil menculik Luhan dari balik punggungnya!
Bagaimana nasib Luhan sekarang tidak ada yang tahu. Kris meremas rambutnya dengan frustrasi. Masihkah Luhan hidup saat ini? Ataukah perempuan itu sekarang sudah menjadi mayat yang dingin, dibuang atau dikubur di suatu tempat yang tak terlacak?
Kris merinding membayangkannya, dia menggelengkan kepalanya tanpa sadar. Tidak! Selama belum ada bukti bahwa Luhan sudah meninggal, Kris akan selalu berkeyakinan bahwa Luhan masih hidup, lagipula berkas yang pernah ditunjukkan atasannya sedikit banyak memberi kepastian bahwa "Sang Pembunuh" mungkin tidak akan membunuh Luhan.
Matanya menatap nyalang kepadaTaecyeon an Seunghyun, dua agen yang sangat teledor hingga bahkan bisa dibodohi dengan mudahnya. Hanya agen bodoh yang bisa dibius oleh satu orang dalam waktu bersamaan. Mereka ada dua orang, demi Tuhan! Bagaimana bisa "Sang Pembunuh" seberuntung itu?
"Kalian katanya adalah agen terbaik di kota ini. Tetapi sekarang aku tahu bahwa kalian hanya sampah yang tidak becus!" Kris membungkukkan tubuhnya dan berdiri dengan kedua tangan bertumpu di meja, membuat matanya sejajar dengan Taecyeon dan Seunghyun yang duduk dengan kepala tertunduk itu, "Tugas kalian hanya menjaga perempuan itu, memastikan dia baik-baik saja sampai aku kembali. Terus mengawasi dan berusaha tidak terlihat. Itu adalah tugas yang paling mudah bagi seorang agen, dan pasti bisa dilakukan kalau kalian tidak teledor!" tatapan Kris berubah mengancam, "Kalau sampai terjadi sesuatu kepada Luhan, aku akan memastikan kalian langsung ditendang dari divisi ini dan tidak akan pernah bisa berkarier di bidang yang sama, selamanya!"
Setelah meneriakkan kalimat ancaman itu, Kris membalikkan tubuh, membanting pintu ruangan interograsi itu dan meninggalkan dua agen yang semakin pucat pasi itu di belakangnya. Benaknya berkecamuk, bingung.
Di mana dia bisa menemukan Luhan sekarang?
Dengan langkah lebar-lebar dia menuju ke ruang kerjanya dan menelepon atasannya, memberitahukan kabar terbaru,
"Mereka bahkan tidak mengingat apapun dan tertidur pulas sampai pagi." Kris tidak bisa menyembunyikan nada marah di suaranya ketika mengingat dua agen yang teledor itu.
Atasannya menghela napas di seberang sana.
"Sedikit banyak ini kesalahanku, Kris, kalau aku tidak memanggilmu ke kantor pusat kemarin, kau pasti masih ada di sana untuk menjaga Luhan." Lelaki itu tercenung, "Tetapi kalau kau ada di sana, kau akan berhadapan langsung dengan 'Sang Pembunuh'... dua agen itu beruntung karena 'Sang Pembunuh' memilih untuk tidak mengkonfrontasi mereka dan malahan membius mereka, jadi mereka bisa selamat. Tetapi kalau kau yang berada di sana malam itu, Aku yakin kalau sang pembunuh akan mengkonfontasimu dan aku mengkhawatirkan keselamatanmu."
Mata Kris bercahaya sedikit marah,
"Aku pasti bisa menghadapinya, setidaknya kalau aku ada di sana, aku bisa mencegahnya membawa Luhan."
Atasannya mendesah, terdengar tidak setuju,
"Sudahlah, sekarang kita harus menemukan cara untuk menemukan Luhan, sebelum semua terlambat."
Kris mendengus setengah frustrasi, Luhan harus ditemukan. Kris akan menggunakan segala cara untuk mencarinya.
.
.
.
Luhan duduk kebingungan ketika menatap ke arah para pelayan yang membereskan kamarnya, mereka sedang membereskan tempat tidurnya jadi dia diminta duduk dulu di sofa yang ada di ujung kamar. Matanya berkali-kali melirik ke arah pintu. Semalam setelah Sehun pergi, seorang pelayan perempuan masuk dan melepaskan borgolnya, lalu memberikan sebuah jubah tidur untuk dipakai menutupi ketelanjangannya.
Luhan duduk dengan tidak nyaman di atas sofa, masih memakai jubah tidur yang sama dan masih telanjang di baliknya.
Apakah dia akan telanjang seperti ini terus?
Luhan mengernyit, dia merasa amat sangat tidak nyaman sekaligus malu. Dalam benaknya dia bertanya-tanya, sampai kapan Sehun akan menyekapnya seperti ini? Akankah dia bisa bebas, ataukah Sehun, sang pembunuh kejam itu akan membunuhnya pada akhirnya?
Seorang pelayan lain masuk, membawa setumpuk handuk dan pakaian, dia lalu mendekati Luhan,
"Silahkan anda mandi."
Luhan amat sangat lega mendengar perkataan pelayan itu, tubuhnya sudah terasa lengket, dan dia ingin memakai baju yang normal, bukan jubah tidur kebesaran yang hanya berguna untuk menutupi ketelanjangannya.
Dengan langkah hati-hati dia mengikuti pelayan itu, sambil berharap meskipun pada akhirnya sedikit kecewa karena ternyata kamar mandi itu ada di dalam kamar yang luas itu menutup kemungkinan bagi Luhan untuk keluar dari kamar itu. Kamar mandi itu tersembunyi di balik pintu yang berfungsi ganda sebagai rak buku di dinding. Ketika rak buku itu dibuka layaknya sebuah pintu, maka dibaliknya ada ruangan kamar mandi yang sangat luas dengan dominasi marmer hitam yang elegan. Luhan mengernyit menatap kamar mandi itu. Kamar yang dia tempati sekarang terasa sangat maskulin dengan dominasi warna coklat kayu-kayuan perabotannya dan warna hitam untuk sprei ranjangnya, dan bahkan sekarang kamar mandinya lebih maskulin lagi. Semuanya marmer berwarna hitam. Hiasan yang ada di sana hanyalah sebuah palem raksasa yang ada di sebuah sudut dekat jendela berkaca buram di dalam sebuah pot cokelat yang sangat indah, ada sebuah cermin yang sangat besar di sana, memanjang dari atap sampai ke lantai dan lebarnya hampir memenuhi dinding, cermin itu sekarang berkabut karena uap dari air panas yang memenuhi kolam mandi kecil yang juga terbuat dari marmer.
"Silahkan anda berendam dulu, saya sudah menyiapkan airnya." Sang pelayan setengah menghela Luhan ketika dia hanya berdiri dengan ragu menatap kolam mandi kecil berbentuk segi lima yang mengepulkan uap hangat nan menggiurkan. Seluruh tubuh Luhan terasa kaku, mengingat dia diborgol terentang sekian lamanya di ranjang. Mandi berendam terasa sangat menggoda untuknya sekarang.
Pelayan itupun meninggalkannya dan menutup pintu kamar mandi dari luar. Luhan melepas jubah tidurnya dan meninggalkannya begitu saja di lantai, dia melangkah pelan mendekati kolam mandi itu, dengan hati-hati mencelupkan kakinya ke sana. Hangatnya pas dan terasa menyenangkan. Luhan menenggelamkan kakinya semakin dalam, dan pada akhirnya melangkah memasuki kolam mandi itu.
Ketika dia berdiri, tinggi airnya hanyalah sebetisnya. Luhan lalu duduk bersandar di salah satu dinding kolam yang nyaman, membenamkan tubuhnya sampai sebatas leher. Dia telanjang bulat tetapi uap air hangat itu menyembunyikannya.
Luhan membasahi rambutnya dan bersandar lagi, lalu memejamkan mata, menikmati bagaimana air hangat itu melemaskan otot-ototnya yang tegang. Kemudian tanpa sadar dia teringat betapa kemarin, Sehun telah melumat buah dadanya... matanya terbuka dan dengan gugup dia membasuh buah dadanya, pipinya memerah berusaha mengusir bayangan bagaimana mulut Sehun menangkup buah dadanya, terasa membakar dan bagaimana kemudian lelaki itu menghisap dadanya...
Luhan memejamkan matanya rapat-rapat, berusaha mengusir sensasi panas yang mulai merayapi tubuhnya karena bayangan terlarang yang tak mau pergi itu. Dia tidak menyadari bahwa ada seseorang yang masuk ke dalam kamar mandi itu dan mengawasinya. Ketika Luhan menyadarinya, semua sudah terlambat.
Di sana, berdiri di depannya, adalah Oh Sehun. Telanjang, dengan keindahan tubuh layaknya patung dewa- dewa Yunani...
Luhan terkesiap, dan langsung merapatkan paha telanjangnya dengan lengannya langsung menutup buah dadanya. Dia menatap marah kepada Sehun,
"Apa yang kau lakukan di sini?" Luhan membentak, ingin berteriak, tetapi yang berhasil dikeluarkannya hanyalah suara tercekik kecil, seperti tikus yang mencicit ketika terdesak oleh kucing besar yang lapar.
Sehun hanya berdiri di sana, tidak peduli dengan ketelanjangannya dan menatap Luhan dengan geli.
"Ini di kamar mandi, tentu saja aku akan... mandi..."
.
.
.
TBC
Cieeee HunHan ga jadi nc-an~ Sehunnya ga tega tuhhhh~
Hayooo siapa yang kemaren nebak Jongin satu komplotan sama Sehun?
Dan tebakannya salaaahhh~~~
Jongin disini cuman temen lama Sehun, dia ga ada sangkut pautnya sama rencananya Sehun and dia juga baru tau rencana itu, yahh well sebenernya ga bisa di bilang 'ga ada' sihh, buktinya si Jongin ngasi tempat buat persembunyian HunHan ntar..
Dan satu lagi, sebenernya di novel aslinya peran Chanyeol itu 'pelayan tua' nya si Oh Sehun. Tapi aku nge-remake kalo umurnya si Chanyeol ga terpaut jauh ama Sehun, anggep aja sama kayak selisih umur asli mereka (2th). Aku ga tega bikin karakter bang ceye jadi tua :( Terlalu ganteng soal'e ^^ Dan biar ga terlalu sama aja kayak novel aslinya :D
Duuhh ini kalimat terpanjangku kayaknya XD
Udah dulu yaaa~~
Big Thanks buat yang udah review~~
See you~~
