[REMAKE] Dating With The Dark by Santy Agatha
.
.
Main Cast:Luhan(GS), Oh Sehun.
Other Cast: Kris, Irene, etc.
Genre: Romance, Drama.
Rated:M
.
.
Don't Like, Don't Read
Sorry for Typo.
Happy Reading~
.
.
Chapter 9
.
.
Mandi?
Apakah maksud lelaki ini, dia akan mandi di sini. Bersama Luhan?
Wajah Luhan merah padam, selain karena uap hangat air mandinya juga karena perkataan Sehun yang seolah tidak peduli itu.
"Jangan kau kira kau bisa melecehkanku seenaknya!" Luhan memandang Sehun dengan marah, "Keluar!"
Tetapi rupanya kemarahan Luhan tidak mengganggu Sehun, lelaki itu hanya berdiri dengan nyaman di sana, tampak tidak peduli dengan ketelanjangannya, sementara Luhan semakin tidak nyaman, berusaha mengalihkan pandangannya dari bagian tubuh Sehun itu... dia tidak boleh melihat! Meskipun kemudian dia tidak bisa menahan diri dan menyadari bahwa lelaki itu sedang sangat terangsang! Oh Tuhan, apakah dia akan berakhir diperkosa di kamar mandi oleh Sehun?
"Tidakkah engkau tertarik untuk merasakan nikmatnya mandi bersamaku, Luhan? Aku akan memijat punggungmu." Lelaki itu malahan melangkah, mulai masuk ke dalam kolam mandi itu, membuat Luhan panik, dia langsung beringsut ke ujung yang paling jauh dari Sehun menyadari dilema yang dirasakannya, kalau dia berdiri, dia dalam keadaan telanjang bulat dan Sehun akan melihat semuanya...
Sehun makin masuk ke kamar mandi dan melangkah mendekat, membuat Luhan tidak bisa berpikir panjang, dia langsung berdiri, berusaha tidak mempedulikan ketelanjangannya dan hendak melompat dari kolam mandi itu dan melarikan diri. Sayangnya, Sehun lebih sigap, dengan cepat lelaki itu mencekal lengan Luhan dan kemudian menarik tubuh Luhan yang membelakanginya hingga punggung Luhan menempel di dadanya.
Luhan langsung gemetar ketika jemari Sehun mencekal kedua lengannya dengan mudahnya dan menjadikannya satu di depan tubuhnya. Sehun bisa dibilang memeluk Luhan dengan eratnya dari belakang. Seluruh punggung Luhan menempel ke bagian tubuh depan Sehun yang keras, dan Luhan bisa merasakan bagaimana kejantanan Sehun yang keras mendesak di lekukan panggul atasnya.
"Lepaskan aku." Luhan bergumam, berusaha menyembunyikan gemetar di suara dan tubuhnya.
Sehun yang berdiri di belakangnya menumpukan dagunya di puncak kepala Luhan, Luhan bisa merasakan lelaki itu tersenyum mengejeknya.
"Kita tidak perlu bertingkah seperti ini, Luhan... aku ingin memperlakukanmu dengan baik, seharusnya kau menerimanya begitu saja, dengan begitu mungkin aku akan mengampunimu."
"Kau mengejarku karena ingin membunuhku." Luhan menggertakkan giginya, "Kenapa kau tidak langsung membunuhku saja? Kenapa kau melakukan ini kepadaku? Kenapa kau menyekap dan melecehkanku?"
Sehun mengetatkan pelukannya, memastikan Luhan tidak bisa menggerakkan tubuhnya,
"Aku tidak ingin melecehkanmu." Lelaki itu menundukkan kepalanya dan kemudian bibirnya merayap ke samping kepala Luhan, Luhan bisa merasakan hembusan napas panas di sana, yang membuatnya meremang, sebelum kemudian bibir Sehun melumat telinganya, mengecup dan memainkan lidahnya di sana, penuh rayuan, "Aku cuma ingin memujamu."
Luhan langsung meronta, berusaha melepaskan diri dari pengaruh hipnotis rayuan Sehun. Tetapi lengan lelaki itu masih kuat memeluknya, membuatnya tidak berdaya.
"Luhan..." tiba-tiba saja suara Sehun terdengar sedih, membuat Luhan tertegun. Lelaki itu menundukkan kepalanya, memeluk Luhan erat-erat dari belakang, dan menenggelamkan kepalanya di cekungan di antara leher dan pundak Luhan.
Luhan membeku dipeluk dengan penuh perasaan seperti itu, sehingga tanpa sadar dia terdiam dan membiarkannya. Sampai lama kemudian, Sehun mengecup lembut pundaknya dan melepaskan pelukannya.
"Mandilah." Lelaki itu menjauh, dari sudut matanya Luhan melihat Sehun meraih jubah mandi yang tersedia di rak samping kamar mandi dan mengenakannya, lalu tanpa kata, seolah-olah sudah menjadi kebiasaannya, dia melangkah pergi.
Luhan menghela napas panjang setelah pintu itu di tutup. Jemarinya memegang dadanya, berusaha menghentikan debaran di sana.
.
.
.
Sehun keluar dari kamar mandi itu dengan marah, marah kepada dirinya yang lemah, marah karena tidak mampu melaksanakan maksudnya. Dia masuk ke kamar mandi itu, telanjang, jelas-jelas untuk memaksa Luhan melayani nafsunya.
Sehun sangat bergairah ketika memasuki kamar mandi itu, membayangkan bagaimana paha Luhan akan terbuka untuknya dan dia bisa menenggelamkan dirinya dalam kehangatan yang manis tubuh Luhan, mencapai kepuasannya sendiri dan memberikan kepuasan untuk Luhan. Dia akan memiliki Luhan!
Tetapi kemudian, ketika dia memeluk Luhan dari belakang, merasakan seluruh tubuh Luhan gemetar dari ujung kepala sampai ke ujung kaki, Sehun tiba-tiba saja merasa luruh dan tidak mampu.
Itulah yang membuatnya marah, Luhan selalu berhasil membuatnya lemah bahkan ketika perempuan itu tidak menyadarinya.
.
.
.
Jongin yang sedang mengunjungi rumah Sehun duduk di ruang tamu yang mewah itu dan mengamati sekelilingnya penuh penilaian. Sehun kaya, tentu saja, dan ketika memilih rumah sebagai tempat tinggalnya, dia tetap saja menunjukkan selera tingginya.
Tak lama kemudian, Sehun keluar, tampak muram meskipun segar sehabis mandi, dia mandi di kamar mandi lain dengan marah dan masih mengutuk dirinya sendiri, rambutnya basah dan lelaki itu mengenakan kemeja sutera warna hitam yang dipadu dengan celana jeans warna senada. Penampilannya santai karena sedang berada di rumah.
Jongin melihat ekspresi wajah Sehun dan mengangkat alisnya,
"Kau sudah mendapatkan Luhan, dan ekspresimu tetap saja muram." Lelaki itu menggoda sahabatnya, membuat bibir Sehun menipis karena kata-kata Jongin tepat mengenai sasaran.
"Aku belum mendapatkannya." Sehun menyimpulkan sendiri. Tidak. Belum. Dia belum sepenuhnya mendapatkan Luhan. Perempuan itu sudah jelas tertarik kepadanya, tetapi rasa tertariknya itu tertutup oleh rasa takut dan waspada yang mendominasi, seluruh penjelasan Kris tentangnya kepada Luhan sudah pasti membawa pengaruh besar bagi pandangan Luhan kepada Sehun, perempuan itu ketakutan. Takut bahwa Sehun akan membunuhnya.
Sehun memandang jemarinya dan tercenung, Akankah dia membunuh Luhan dengan tangannya sendiri? Waktu itu gagal melakukannya... dan sekarangpun alasannya menyekap Luhan bukanlah untuk memperbaiki reputasinya?
"Aku kemari untuk mengabarkan bahwa semuanya sudah siap." Jongin bergumam, memecah keheningan karena Sehun hanya tercenung dan sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Sehun menganggukkan kepalanya, "Terimakasih, Jongin." Lelaki itu melangkah pelan menuju bar yang tersedia di sudut ruangan, menuang brendi tua berwarna keemasan dari botol ke dua buah gelas lalu membawanya kepada Jongin.
Jongin menerima gelas itu dan mengernyit,
"Segelas brendi di siang bolong?" tetapi tak urung disesapnya minuman itu sambil mengernyit.
Sehun menyesap gelasnya,
"Agen itu, seorang agen yang sempat menyusup ke perusahaanmu demi mendekati Luhan, dia pasti sedang berusaha melacak jejakku. Rumah ini terlalu mencolok, karena itu aku memerlukan bantuanmu."
Jongin mengangkat bahunya, "Kris. Aku sudah melihat berkasnya di kantorku, penyamarannya sangat bagus hingga aku tidak menyangka bahwa dia seorang agen khusus. Kau tidak perlu khawatir Sehun, lelaki itu tidak akan berhasil melacakmu dan Luhan, mereka tidak akan bisa mengaitkanmu dengan keluarga Kim."
Sehun terkekeh, "Ayahmu pasti akan membunuhmu kalau tahu kau melibatkan diri ke dalam hal berbahaya seperti ini."
"Mungkin." Jongin tersenyum mengingat ayahnya yang luar biasa. Ayahnya adalah panutan, Jongin ingin menjadi seperti ayahnya di usia matangnya nanti, seorang ayah dan lelaki yang sempurna. "Tetapi kalau dia tahu aku melakukannya untuk menolong sahabatku, kurasa dia akan mengerti."
Sehun mengangguk dan tersenyum, "Kau beruntung memiliki ayah seperti dia." Lelaki itu lalu duduk di depan Jongin, "Jadi kemana aku bisa membawa Luhan?"
"Ke sebuah pulau." Jongin menyandarkan tubuhnya di sofa, tampak puas, "Pulau itu bukan milik keluargaku, tetapi milik keluarga Choi, mungkin kau pernah mendengarnya, Choi Siwon adalah sahabat ayahku."
"Aku pernah mendengarnya." Tiba-tiba wajah Sehun tampak misterius, "Sungguh suatu kebetulan."
Jongin menatap Sehun dengan bingung, "Kebetulan? Apa maksudmu?"
Sehun menggelengkan kepalanya, "Bukan apa-apa." Ada sebuah penyelidikan yang dilakukan Sehun berkaitan dengan keluarga Choi, tetapi penyelidikan itu masih mentah dan Sehun memutuskan untuk menyimpannya dulu sambil memastikan bahwa semuanya sudah bisa dibuktikan.
Lama Jongin menatap Sehun penuh ingin tahu, tetapi kemudian dia sadar bahwa tidak ada gunanya memaksa Sehun berbicara, sahabatnya itu selalu penuh rahasia, dan ketika dia memutuskan untuk berahasia, tidak akan ada apapun yang bisa memaksanya untuk berbicara.
"Kau bisa membawanya ke sana kapan saja, aku sudah meminjam pulau itu dari paman Siwon dan beliau mempersilahkanku menggunakannya sesukanya, pulau itu biasanya hanya dikunjungi setahun sekali ketika keluarga Choi berlibur. Jadi sekarang kau bisa leluasa menggunakannya."
"Aku tidak akan lama di sana." Sehun tersenyum, "Segera setelah seluruh persiapan beres, aku akan kembali ke Italia."
Ya. Sehun tidak sabar menunggu waktunya tiba, dan dia bisa kembali pulang...
.
.
.
"Kami sudah menyelidiki seluruh rumah di sekitar sini yang dibeli atas nama pengusaha asing, ada banyak sekali, tetapi kami sudah mengerucutkan hanya kepada rumah-rumah yang dibeli beberapa bulan terakhir." Tao, salah seorang anak buah Kris menatap atasannya itu dengan gugup, "Datanya terlalu luas, kami tidak tahu harus melacak nama siapa. Tanpa spesifikasi data yang pasti, kita harus melakukan pengecekan terhadap beribu-ribu rumah."
Kris menghela napas panjang, "Dan itupun belum tentu berhasil, bisa saja "Sang Pembunuh" membeli atau menyewa rumah atas nama orang lain, atau menggunakan orang local, sehingga kita tidak akan bisa melacaknya." Pandangan Kris menerawang, menatap foto samar-samar sang pembunuh yang dipasang di white board kantornya. "Oke Tao, kau bisa pergi. Kabari aku hasil penyelidikan team nanti."
Tao melempar pandangan penuh rasa kagum kepada bosnya itu sedetik sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan Kris. Kris adalah atasannya yang paling tampan, dan masih muda. Biasanya lelaki itu selalu tampak tenang dan terkendali, membuat Tao kagum. Tetapi sekarang lelaki itu tampak begitu gusar, seolah kasus ini telah begitu mempengaruhinya. Kenapa? Apakah karena perempuan yang dianggap sebagai kunci itu? Perempuan bernama Luhan?
Tiba-tiba Tao merasa cemburu sekaligus iri, dia belum pernah berjumpa dengan perempuan bernama Luhan itu, yang selalu menjadi pusat perhatian bagi misi mereka. Tetapi dia pernah melihat fotonya, Luhan perempuan yang cantik dan tampak lembut, dengan rambut panjang dan senyum yang menawan. Mungkin senyum itu pulalah yang membuat Kris begitu terpengaruh atas hilangnya Luhan.
Kris bukannya mencemaskan data penting yang mungkin ada di ingatan Luhan yang hilang, yang mungkin bisa jatuh ke tangan sang pembunuh, Kris sepertinya mencemaskan Luhan sendiri. Perempuan itu sepertinya telah mengambil hati atasannya.
Tao memegang dadanya yang berdenyut oleh perasaan yang mirip cemburu, kemudian dia menghela napas dan melangkah menjauh.
.
.
.
Perempuan itu mengoleskan lipstick merah menyala di bibirnya, menatap puas pada bayangannya di cermin. Dia tampak amat sangat cantik, seperti yang diharapkannya.
Dia sudah meng-highlight rambutnya menjadi berwarna kemerahan, dan membungkus tubuhnya dengan gaun merah yang sangat seksi. Semuanya serba merah, mengirimkan pesan tantangan kepada Sehun, menyiratkan makna bahwa dia menantang Sehun untuk memilikinya.
Oh Sehun adalah cinta sejatinya, satu-satunya lelaki sempurna yang dipujanya. Dia akan tetap memuja Sehun meskipun dia tahu bahwa lelaki itu saat ini sedang tidak fokus kepadanya. Sehun masih disilaukan oleh Luhan, tetapi dia yakin, akan ada saatnya dimana Sehun bisa menyadari kehadirannya dan kemudian memahami betapa beruntungnya diri Sehun, karena dicintai perempuan seperti dirinya.
Matanya bersinar marah ketika membayangkan Luhan, perempuan itu benar-benar merepotkan. Dia mau menerima tugas dari Sehun bukan karena ingin mendekatkan Sehun kepada Luhan, itu adalah hal terakhir yang diinginkannya! Dia melakukan semua ini lebih karena keinginannya untuk mengawasi Sehun dan mengetahui semua perkembangan terbaru menyangkut Luhan, dan jikalau dia menemukan bahwa Luhan akan terlalu dekat dengan Sehun, dia akan langsung bergerak untuk menjauhkan Sehun.
Sehun adalah miliknya dan akan selalu begitu, lelaki itu harus disadarkan bahwa tidak akan ada perempuan yang bisa mencintainya sedalam dia mencintai Sehun.
Sambil menatap dirinya sendiri di cermin untuk terakhir kalinya, perempuan itu tersenyum, membayangkan masa depannya yang indah, bersama lelaki yang dipujanya.
.
.
.
Ketika Sehun memasuki kamar itu, Luhan sedang duduk dengan tatapan mata menerawang, dia hanya mengangkat kepalanya sedikit ketika melihat Sehun, tatapan matanya, seperti biasa, tampak marah yang berlumur dengan ketakutan,
"Ada apa?"
Mau tak mau Sehun merasa geli akan sikap Luhan yang penuh antisipasi negatif terhadapnya, dia lalu bersandar di lemari tempat meletakkan berbagai hiasan di depan Luhan, tampak santai,
"Bisakah kau tidak berlaku defensif terhadapku, Luhan? Aku tidak akan melukaimu, belum akan." Tatapannya berubah menjadi berbahaya, "Meskipun tidak akan menutup kemungkinan aku bisa melukaimu kalau kau mencoba bertindak bodoh, melarikan diri misalnya."
Luhan menatap kesal ke arah Sehun, "Bagaimana bisa aku melarikan diri? Kau mengunci satu-satunya pintu jalan keluar dari kamar ini, dan jendela itu dipasang gerendel yang sangat besar." Luhan mendesah jengkel, "Aku tidak tahu kenapa kau mengejarku, mereka semua bilang ini ada hubungannya dengan ayahku, dan juga dengan reputasimu." Tiba-tiba tatapan Luhan menajam penuh kebencian ketika menemukan setitik kebenaran. "Apakah kau yang membunuh ayahku?"
Sehun memasang wajah datar tanpa ekspresi, menyandarkan tubuhnya dengan santai.
"Apakah menurutmu begitu?" Lelaki itu membalikkan pertanyaan Luhan dengan sebuah pertanyaan pula.
Napas Luhan mulai terengah ketika menyadari bahwa mungkin saja dia sedang berhadapan dengan pembunuh ayahnya!
"Kau yang membunuh ayahku, ya? Katanya kau disewa oleh organisasi jahat itu untuk melenyapkan ayahku."
Sehun tidak menjawab, hanya menatap Luhan dengan tajam,
"Itu yang mereka katakan kepadamu?" Lelaki itu tersenyum tipis, "Kalau begitu kau bisa mempercayai apapapun yang kau mau."
Luhan langsung meradang mendengar jawaban yang sangat tidak berperasaan itu, dia tanpa sadar melonjak dan menerjang Sehun.
Dengan marah dia melemparkan telapak tangannya, menampar pipi lelaki itu,
"Betapa kejamnya hatimu!" Mata Luhan mulai berkaca-kaca, menatap Sehun penuh emosi, "Kau membunuh orang tanpa hati, tanpa menyadari bahwa setiap orang punya kehidupan yang berhak dijalaninya! Manusia sepertimulah yang seharusnya mati! Bukan ayahku!" Dengan histeris Luhan memukul-mukulkan tangannya, menyerang Sehun, menampar sebisanya, tetapi Sehun menanggapinya dengan sangat dingin dan tenang, lelaki itu kemudian menggerakkan tangannya dan menggenggam pergelangan tangan Luhan dengan kedua tangannya.
"Order Kecil." Sehun bergumam parau, matanya berkilat, "Begitulah aku menyebutmu, kau adalah tugas yang paling mudah yang pernah kujalankan, aku meremehkanmu dan menganggapmu sambil lalu, bahkan dengan aku memejamkan matapun, aku pasti bisa menjalankan tugas itu." Mata Sehun tampak semakin pekat menatap Luhan, "Tapi aku salah, kau adalah tugas paling sulit yang pernah kujalankan, satu-satunya kegagalanku."
Tiba-tiba saja lelaki itu menarik tubuh Luhan yang masih terpana dan mencoba menelaah kata-kata Sehun, mendekatkan tubuh Luhan sehingga menabrak tubuhnya dan kemudian melumat bibirnya dengan penuh gairah.
Ciuman itu kasar, penuh dengan gairah yang sudah tidak ditahan-tahan lagi. Bibir Sehun melumat bibir Luhan tanpa ampun, tanpa ampun! Lelaki itu merenggut punggung Luhan, dan merapatkannya semakin rapat ke tubuhnya, Luhan merasakan tubuh Sehun yang keras dan kuat menekannya, membuat kehangatan tubuh masing-masing saling menembus dan menimbulkan gelenyar aneh dalam tubuh Luhan, gelenyar yang berusaha diusirnya sekuat tenaga.
Dan secepat dimulainya, secepat itu pula Sehun mengakhiri ciumannya, lelaki itu menjauhkan kepalanya, masih memeluk Luhan, napas keduanya terengah-engah dan mata mereka saling membakar, kemudian, lelaki itu melepaskan Luhan,
"Kita akan pergi dari sini segera." Gumamnya tenang. Kemudian melangkah ke arah pintu, "Bersiap-siaplah Luhan." Gumamnya sambil menutup pintu dan menguncinya dari luar.
Luhan ditinggalkan seorang diri di dalam kamar yang terkunci itu dalam kebingungan...
Pergi? Kemana? Akankah Sehun membawanya ke sebuah tempat terpencil, tempat dimana dia bisa dibunuh dan jasadnya tidak akan bisa ditemukan oleh siapapun?
Pikiran itu membuatnya ngeri...
.
.
.
Sehun bersandar di pintu kamarnya yang besar, pintu tempat Luhan terkurung di baliknya. Dia memejamkan matanya, merasakan bibirnya yang membara, dan meredakan gairahnya yang membuncah, merindukan sentuhan itu.
Hanya sebuah ciuman dan Sehun langsung tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri.
"Kau menyekapnya di dalam kamarmu."
Sebuah suara yang sangat familiar, membuat Sehun menoleh.
Wanita itu berdiri di sana, dengan gaun merah yang menonjolkan lekuk tubuhnya, buah dadanya hampir tumpah di belahannya yang sangat rendah, rambutnya yang baru di highlight kemerahan tergerai menyala dengan indahnya. Penampilan perempuan itu tampak sangat berbeda ketika dia menjalankan tugasnya dan memaksanya tampil sedikit sederhana. Sekarang perempuan itu benar-benar siap, tidak sedang dalam tugas dan berusaha berdandan secantik mungkin, demi lelaki yang dipujanya: Oh Sehun.
Sehun menatap perempuan itu dan mengerutkan kening, dia merasakan hasrat yang mendalam, perempuan itu jelas-jelas berusaha menggoda dan merayunya, Sehun bisa menangkap pandangan memuja yang dalam, tergila-gila. Well... kebanyakan perempuan memang menatapnya seperti itu, tetapi perempuan ini berbeda, dia perempuan yang berbahaya. Sehun harus berhati-hati kepadanya,
"Kenapa kau datang kemari?" Sehun memilih untuk tidak menanggapi perkataan perempuan itu, tentang dia yang menempatkan Luhan di kamarnya.
"Untuk menagih janjimu. Kau bilang kau akan mengajakku makan malam setelah kau berhasil menangkap Luhan."
Sehun mengangkat alisnya, tentu saja dia tidak pernah berjanji semacam itu. Tetapi perempuan ini dengan tidak tahu malu, sengaja mengatakan kebohongan ini di depannya, menantangnya untuk membantah. Sejenak Sehun berpikir untuk menolak mentah-mentah dan meninggalkan perempuan ini. Tetapi kemudian dia menelaah kembali, dia masih membutuhkan perempuan ini dan kesetiaan perempuan ini kepadanya masih diperlukan, lelaki itu lalu mengangkat bahunya dan tersenyum sinis,
"Kurasa kau akan mendapatkan apa yang engkau mau, Irene..."
.
.
.
TBC
Masihkah ada yang ngarep HunHan NC-an di chapt ini? Dan ternyata enggak :D
Nah ada cast baru tuh si baby panda~~ Dia disini jadi anak buahnya Kris yg suka sama si Kris :D
DAAAAAANNNNN sudaahhh ketebak siapa Irene sebenarnya kaaaannn?
Huuuu mbak Irene terobsesi banget ama Sehun :(
.
.
Makasih banyak yaa yang udah review, aku baca kok satu-satu review dari kalian. Tapi maaf ga bisa bales satu-satu :(
Aku juga bakal usahain update seminggu 2 kali soalnya sekarang lagi sibuk magang :D
Sekali lagi jangan panggil 'thor' yaa~~
Panggil unnie, saeng atau chingu saja~~
Thanks~~
See you~~~
