[REMAKE] Dating With The Dark by Santy Agatha

.

.

Main Cast:Luhan(GS), Oh Sehun.

Other Cast: Kris, Irene, etc.

Genre: Romance, Drama.

Rated:M

.

.

Don't Like, Don't Read

Sorry for Typo.

Happy Reading~

.

.


Chapter 10

.

.

Irene yang sekarang berpenampilan berbeda dan tampak begitu seksi tersenyum puas,

"Dan kurasa aku pantas mendapatkannya, mengingat berbulan-bulan aku menyamar di kantor itu, berusaha menjadi sahabat dekat Luhan."

"Kau memang mengerjakan tugasmu dengan baik." Tentu saja Sehun juga menyadap seluruh pembicaraan Irene dengan Luhan, mengetahui bagaimana Irene berhasil menempatkan dirinya sebagai sahabat baik yang paling dipercaya oleh Luhan, tempat perempuan itu menumpahkan segalanya. Hal itu membantu Sehun untuk mengetahui kondisi hati Luhan dan juga perasaan Luhan yang terdalam.

"Dan kau menempatkan Luhan di kamarmu." Irene menatap tidak suka ke arah pintu itu, mengulang kembali komentarnya karena merasa sangat terganggu dengan kenyataan yang ada di depannya. Kamar Sehun adalah ruang pribadi yang tidak boleh dimasuki siapapun, tetapi Sehun malahan menempatkan Luhan di kamarnya... seharusnya Irene yang berhak memasuki kamar itu! Tidur di atas ranjang Sehun, menghirup aroma khasnya dan menikmati pelukannya!

Sehun menatap perubahan ekspresi Irene dengan tatapan mata menilai, kemudian memutuskan untuk menghempaskan perasaan perempuan itu, sebelum angan Irene mulai melambung dan membahayakan mereka semua.

"Tempatnya memang ada di situ, Irene." Gumamnya penuh arti, membuat wajah Irene pucat pasi.

Tetapi dengan segera perempuan itu menutupi perasaannya, tersenyum manis seolah-olah tidak mendengarkan kalimat Sehun barusan, dia menggayutkan dirinya di lengan Sehun dengan manja dan bergumam menggoda,

"Aku ingin makan malam yang enak malam ini."

.

.

.

Chanyeol membawa nampan berat itu, makan malam Luhan, dia melihat Luhan masih duduk dengan tegang, di sofa. Dengan tenang Chanyeol itu meletakkan nampan di meja, di depan Luhan,

"Anda sama sekali tidak berbaring dan beristirahat."

Luhan menoleh dan menatap Chanyeol, pelayan ini memang sepertinya ditugaskan untuk mengawasi dan mengurusinya karena selain para pelayan perempuan yang bertugas membersihkan kamar dan pakaiannya, hanya pelayan inilah yang selalu membawakan makanan untuknya. Luhan mengawasi lelaki dengan gurat-gurat yang dalam di wajahnya, lalu menghela napas panjang. Wajah lelaki ini tampak teduh, hingga mau tak mau ekspresi Luhan melembut,

"Bagaimana aku bisa beristirahat kalau aku tidak tahu dan terus menerus cemas akan apa yang akan terjadi pada diriku nantinya?"

Chanyeol berdiri di sana, ragu, dia melirik nampan makanan yang penuh itu dan berpikir bahwa mungkin Luhan juga tidak akan mau memakan makanan yang disediakan untuknya. Nampan-nampan yang kemarin dibawanya keluar, semuanya masih utuh, Luhan hanya minum dan tidak menyentuh makanannya, sepertinya mogok makan adalah salah satu bentuk pemberontakan Luhan sebagai protes atas perlakuan Sehun kepadanya. Luhan harus makan, dia akan membutuhkan segala kekuatan yang bisa diperolehnya nanti.

"Anda harus memakan makanan anda nona Luhan, anda akan membutuhkannya." Chanyeol meyuarakan pemikirannya, melihat Luhan menghembuskan napas enggan, "Tuan Sehun tidak akan melukai anda selama anda tidak berbuat hal-hal nekat untuk melarikan diri."

"Aku tidak akan bisa melarikan diri dalam penjagaan seketat itu." Luhan mencibirkan bibirnya, "Kenapa tuanmu menyekapku seperti ini? Jikalau memang aku adalah kegagalan dalam reputasi membunuhnya, kenapa dia tidak langsung membunuhku saja?"

Chanyeol tercenung mendengar pertanyaan Luhan itu. Oh, dia sungguh ingin menjawab. Jawaban itu sudah terkumpul di ujung bibirnya, menunggu untuk dimuntahkan. Tetapi Tuan Sehun sudah memaksanya untuk bersumpah agar menutup mulutnya sampai waktunya tiba, dan Chanyeol tidak berani melanggar sumpahnya.

"Saya tidak bisa mengatakan apapun, yang pasti saya yakin anda akan baik-baik saja. Tuan Sehun akan memastikan anda baik-baik saja." Setelah mengucapkan kata-kata singkat itu, Chanyeol sedikit membungkukkan tubuhnya untuk berpamitan dan melangkah pergi.

.

.

.

Sehun mengajak Irene makan malam di sebuah restoran di pinggiran kota, ini merupakan restoran langganan Sehun dan merupakan pilihan yang tepat untuk mengajak Irene karena tempatnya yang cukup umum, sedikit ramai dan tidak ekslusif seperti ketika dia mengajak Luhan makan malam dulu.

Irene duduk dengan gaun merahnya yang seksi, menikmati pandangan dan lirikan kagum dari beberapa orang yang melewati mereka, dia melirik ke arah Sehun dan merasa sebal karena lelaki itu memasang ekspresi datar, bahkan sama sekali tidak ada pujian dari Sehun tentang penampilan mempesonanya itu,

"Jadi apa rencanamu nanti?" Irene menyesap minuman yang dihidangkan pelayan sebagai pendamping makanan pembuka mereka. Dia menatap Sehun tajam mencoba melihat sepercik emosi, sesedikit apapun itu yang bisa menggambarkan perasaan lelaki itu, tetapi sepertinya percuma, Sehun tetap saja tidak terbaca.

"Aku akan membawa Luhan ke tempat yang tidak bisa terlacak."

"Kemana?" Irene sangat ingin tahu. Dia ingin ikut kemanapun Sehun akan membawa Luhan, dia tidak boleh membiarkan sampai lelaki itu lepas dari genggamannya.

Tatapan Sehun menajam,

"Kau tidak perlu tahu."

"Tetapi aku selalu ada dari awal rencanamu, Sehun!" suara Irene meninggi, "Kau harusnya bisa mempercayaiku."

Sehun menatap Irene dan tercenung.

Mempercayai Irene? Meskipun memasang tampang datar seolah-olah tidak tahu, Sehun tahu bahwa Irene terobsesi kepadanya. Perempuan itu sudah tergila-gila kepadanya sejak lama, dihari ketika kakak Irene satu-satunya, keluarganya, meninggal karena sakit. Kakak Irene adalah salah satu pegawai dan sahabat Sehun ketika Sharon dan kakaknya masih tinggal di Italia, karena itulah ketika kakak Irene meninggal dan Irene sebatang kara di dunia ini. Sehun menawarkan diri untuk menanggung Irene, menjadikannya pegawainya dan menganggap perempuan itu sebagai adiknya.

Sayangnya Irene memiliki kesimpulan berbeda, dia mengira Sehun begitu karena ada hati dengannya, perempuan itu lalu menumbuhkan khayalan cinta yang tinggi kepada Sehun dan berusaha menarik perhatian Sehun.

Yang sudah pasti percuma. Karena pada waktu itu, Sehun masih setia kepada perempuan yang pernah melingkarkan cincin emas di jari manisnya, perempuan yang dulu pernah menjadi isterinya. Isteri yang sangat dicintainya. Irene seharusnya sadar bahwa bagaimanapun dia berusaha, Sehun tidak akan pernah mengalihkan hati kepadanya.

Kemudian karena membutuhkan bantuan, Sehun terpaksa menggunakan Irene untuk mendekati Luhan. Dengan bantuan kekuasaannya, Sehun yang mempunyai koneksi di bagian personalia, memasukkan Irene lebih dulu ke perusahaan itu, kemudian mengatur supaya Luhan juga masuk ke perusahaan itu. Irene berperan sangat bagus menjadi sahabat Luhan dan Luhan sama sekali tidak curiga.

Meskipun sebenarnya Sehun sedikit mencemaskan keselamatan Luhan ketika berada di dekat Irene, mengingat betapa terobsesinya Irene kepada dirinya.

Tetapi sekarang Sehun memutuskan bahwa mungkin tidak membutuhkan Irene lagi, keberadaannya apalagi bersama obsesinya mulai terasa mengganggu rencana Sehun. Siapa yang tahu apa yang akan dilakukan oleh Irene kepada Luhan nantinya?

"Jadi kau akan membawa Luhan kemana?" Irene tidak mau menyerah, menatap Sehun dengan tatapan mata penuh tekat. Dia akan mencari tahu bagaimanapun caranya, dan dia akan berusaha agar Sehun bersedia mengikutkannya dalam rencananya. Enak saja Luhan akan pergi berduaan dengan Sehun tanpanya!

"Aku tidak bisa mengatakan padamu." Tiba-tiba Sehun menyipitkan mata, menatap Irene dengan tatapan mata mengancam, "Mungkin lebih baik kau tidak bertanya-tanya lagi."

Irene langsung tertegun. Hatinya terasa sakit. Kenapa Sehun bersikap begitu kasar kepadanya? Apakah karena Luhan?

Irene menggertakkan giginya, selama ini dia mengikuti rencana Sehun, mendekati Luhan, berpura-pura menjadi sahabatnya, mengorek-ngorek informasi sekecil apapun dan memberikannya kepada Sehun, dan sekarang dia akan dibuang begitu saja?

Irene tidak akan membiarkan itu terjadi. Kalau dia tidak bisa memiliki Sehun. Maka tidak akan ada orang lain yang bisa!

.

.

.

"Kau akan membawanya besok?" Jongin duduk di rumah Sehun dan mengerutkan keningnya, "Kenapa begitu cepat? Bukankah rencananya masih minggu depan?"

"Aku punya firasat buruk." Sehun teringat pada Irene dan instingnya mengatakan bahwa dia harus segera memindahkan Luhan, dia sangat ahli membaca ekspresi wajah seseorang, dan instingnya mengatakan Irene merencanakan sesuatu yang buruk. Ditatapnya Jongin dengan tatapan mata menyesal, "Aku menyusupkan orangku ke perusahaanmu."

Jongin tampak tidak terkejut, "Hmm.. setelah Kris agen pemerintah juga menyusup ke sana, aku tidak terkejut kalau kau menempatkan orangmu di sana. Kau sengaja memilih perusahaanku bukan sebagai tempat Luhan bekerja?"

Sehun menganggukkan kepalanya, "Memang. Aku sengaja mengatur semuanya."

Jongin terkekeh, "Padahal akan lebih mudah kalau kau menghubungiku duluan dan menceritakan semuanya, aku bisa mengatur semuanya untukmu."

"Tapi kau nanti akan dicurigai."

Jongin menganggukkan kepalanya, sangat mengerti akan pertimbangan Sehun, "Kalau kau akan berangkat malam ini, aku akan meminta jet pribadi keluarga stand by di bandara nanti malam, mereka akan mengantarmu ke bandara di Jeju, bandara terdekat dari pulau, kemudian kau bisa melanjutkan perjalanan ke pulau dengan speed boat."

Sehun mengerutkan keningnya, "Aku akan membawa beberapa pengawal dan pegawaiku ke sana."

"Oke, aku akan menyuruh mereka menyiapkan beberapa speed boad untuk mengangkut semuanya, kalau masalah pelayan, kau tidak perlu cemas. Rumah Paman Siwon penuh dengan pelayan yang setia."

"Apakah mereka bisa tutup mulut?" Sehun tidak suka jika ada pelayan yang bergosip. Gosip bisa membahayakan untuk seseorang yang berada di posisinya.

"Dijamin. Sebagian besar dari mereka adalah penduduk asli pulau itu, dan mereka menjadi pelayan turun temurun, beberapa di antaranya, ayah atau ibunya pernah menjadi pelayan di sana dan sudah pensiun, beberapa keluarganya merupakan pekerja perkebunan yang juga di miliki Choi Siwon di sana. Mereka sangat setia kepada paman Siwon, dan karena kau tinggal di sana sebagai tamu dari Choi Siwon, mereka akan setia kepadamu juga."

"Bagus. Terimakasih Jongin, suatu saat aku akan membalas bantuanmu ini."

Jongin menyandarkan tubuhnya di sofa dan terkekeh, "Kuharap sekarang kita sudah impas Sehun." Jawabnya dalam canda.

.

.

.

Kris dan teamnya sudah putus asa, mereka tidak bisa menemukan jejak Luhan di manapun, "Sang Pembunuh" tampaknya sangat licin dan ahli menyembunyikan diri sehingga mereka tidak bisa melacak keberadaannya. Dalam ruangan itu, Kris termenung dan meremas rambutnya frustrasi.

Alam bawah sadarnya bahkan sudah berpikir bahwa Luhan sudah mati... dibunuh oleh "Sang Pembunuh" yang tak punya hati.

Marah atas pemikirannya itu, Kris bangkit berdiri, meraih jaketnya dan mengenakannya, lalu melangkah ke luar. Dia butuh kopi, kalau tidak dia mungkin akan mati karena frustrasi. Dengan langkah panjang-panjang dia keluar dan melalui trotoar. Angin dingin langsung menerpa wajahnya, membawa uap air. Kris mendongakkan kepalanya ke atas dan melihat langit yang gelap dan mendung.

Sebentar lagi hujan. Benaknya berkelana sambil melangkah memasuki cafe yang menjadi langganannya, Cafe itu terletak di ujung jalan yang banyak dilalui orang sehingga cukup ramai, meskipun sedikit ramai dan sesak, tetapi cafe itu menyediakan kopi yang sangat enak, aromanya harum dan kental dengan cream nabati yang sangat cocok ketika dipadukan.

Kris memasuki cafe itu dan memilih tempat dudukn di ujung, dia memesan kopi yang selalu dipesannya, kopi robusta yang pekat, dengan cream tanpa gula. Setelah itu dia duduk dan menunggu.

"Hai Kris."

Kris langsung mendongakkan kepalanya, dan menatap sosok yang tiba-tiba saja duduk di depannya. Dia mengangkat alisnya,

"Hai Irene." Semula Kris hampir tidak mengenali irene karena potongan rambutnya baru dan di highlight merah, Irene tampak... berbeda. Dia berdandan dan berpenampilan seksi sangat berbeda dengan penampilannya di tempat kerja dulu.

"Tak kusangka akan menemukanmu di sini." Irene tersenyum manis, "Apakah kau tahu bahwa Luhan menghilang dari kantor? Perusahaan bilang dia tugas ke luar kota, tetapi aku meragukannya, ponselnya tidak bisa dihubungi."

Perusahaan bilang Luhan ke luar kota? Kris langsung waspada, bukankah sudah jelas Luhan hilang karena diculik oleh "Sang Pembunuh"? Kenapa perusahaan bisa menutup-nutupi hilangnya Luhan? Apakah ada orang dalam di perusahaan yang merupakan kaki tangan "Sang Pembunuh"?

"Mungkin saja Luhan sedang bersenang-senang dengan salah satu pengawal Tuan Kyuhyun yang tampan itu."

"Apa?" Kali ini Kris benar-benar fokus sepenuhnya pada Irene.

"Kau tidak tahu, ya?" Irene masih tetap tersenyum manis, "Setelah kau pergi, Luhan dekat dengan seorang lelaki yang ditemuinya tanpa sengaja pada suatu malam, dan sungguh suatu kebetulan lelaki itu adalah pengawal Tuan Kyuhyun, klien terpenting perusahaan kita, mereka bertemu lagi di salah satu meeting perusahaan, dan dari yang aku dengar mereka menjadi dekat." irene mengedipkan matanya, "Menurutku Luhan sedang menghabiskan waktu bersama kekasih barunya di sebuah tempat eksotis, dan karena lelaki itu pengawal Tuan Kyuhyun, bisa saja Tuan Kyuhyun memberikan bantuan pengaruhnya sehingga bisa membuat seolah-olah Luhan sedang tugas keluar kota." Irene memutar bola matanya, "Abaikan kata-kataku, mungkin memang imaginasiku yang berlebihan...aku mungkin terlalu cemas karena Luhan sama sekali tidak bisa dihubungi, aku ke rumahnya beberapa kali dan dia tidak ada." Wajah Irene tampak sedih.

Kris menghela napas panjang, tiba-tiba saja ingin segera pergi dari tempat itu dan kembali ke kantornya, lalu menghubungi segala sesuatu yang berhubungan dengan Mr. Kyuhyun, Sharon tanpa sadar mungkin telah memberikan petunjuk penting bagi Kris, mungkin saja hal itu layak diselidiki, mungkin saja "Sang Pembunuh" ada hubungannya dengan Mr. Kyuhyun, dan mungkin saja lelaki misterius yang dikatakan sebagai pengawal Mr. Kyuhyun adalah "Sang Pembunuh" yang sebenarnya.

Dengan gelisah, Kris menyesap kopinya, lalu setengah membanting gelasnya ke meja, "Maafkan aku Irene, aku harus pergi."

Dan kemudian tanpa menunggu jawaban Irene, Kris meletakkan uang pembayaran di mejanya lalu bergegas pergi.

Sementara itu Irene menatap kepergian Kris dengan senyum licik dikulum di bibirnya yang berlapiskan lipstick merah menyala.

Sekarang tinggal menunggu saja. Irene berharap Kris segera menemukan Luhan, sehingga perempuan itu tidak bisa dekat-dekat lagi dengan Sehunnya. Dia bisa saja memberitahu Kris langsung, tetapi itu sama saja membuka penyamarannya sebagai kaki tangan Sehun, dan juga bisa membuat Sehun membencinya karena membuka mulut. Ini adalah cara terbaik. Irene tersenyum membayangkan kesempatan besar di depannya ketika Luhan sudah terpisah dari Sehun.

.

.

.

Yang dirasakan Luhan pertama kali adalah perasaan hangat dan jatuh cinta yang mendalam. Luhan tersenyum manis, menatap lilin-lilin berwarna biru yang menyala redup, jumlahnya ada sembilan buah dan diatur setengah lingkaran, tampak begitu indah.

Luhan mengernyit ketika menelaah perasaannya. Rasa yang dirasakannya bukanlah rasa takut yang membuatnya mual dan sakit... rasa yang dirasakannya adalah kebahagiaan...hampir mendekati euforia mendadak... kenapa bisa begitu?

Sebelum Luhan bisa mendapatkan jawabannya, tiba-tiba saja sosok Sehun sudah ada di sana.Lelaki itu menatapnya dengan tatapan mata redup yang khas dan dalam, tatapan mata penuh kesedihan.

"Apakah kau mengerti apa artinya itu?" Sehun mengedikkan dagunya ke arah lilin-lilin itu, dan tiba-tiba saja Luhan merasa sesak napas.

...

Luhan langsung membuka matanya, menatap langit-langit dan begitu tegang. Napasnya terengah dan dia merasa gelisah. Mimpi lagi, mimpi tentang Sehun lagi...

Ketika dia menolehkan kepalanya, Luhan tersentak mendapati Sehun ada di sana. Lelaki itu duduk di kursi yang diseret mendekati ranjang, termenung di sana dan tampaknya sudah lama menatap Luhan yang tertidur. Matanya tampak tajam, menatap dalam. Lelaki itu sepertinya sudah lama duduk di sana mengawasi Luhan.

"Mimpi buruk?" suara Sehun terdengar serak... dan lembut. Luhan mengernyitkan keningnya, semua informasi yang diberikan kepadanya menunjukkan bahwa lelaki ini sedang menargetkannya untuk menjadi korban berikutnya, tetapi sekian lama Luhan dalam tahanannya dan lelaki ini tidak segera membunuhnya. Apakah yang direncanakan oleh Sehun sebenarnya?

Luhan mengangkat tubuhnya hingga duduk di atas ranjang, beringsut sejauh mungkin dari Sehun, membuat lelaki itu mengangkat alisnya dan menatap Luhan penuh arti, tetapi tidak mengatakan apa-apa.

"Mimpi apa?" Sehun bertanya lagi, dan hal itu membuat pipi Luhan merona. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa dia bermimpi mengalami perasaan euforia bersama Sehun bukan?

"Bukan apa-apa." Luhan merasakan keringat mengaliri dahinya, meskipun kamar ini berpendingin. Mimpi tadi rupanya telah sangat mempengaruhinya, entah kenapa.

Lilin berwarna biru itu... kenapa seolah-olah Luhan harus bisa mengingat apa maknanya? Dan apa hubungan ini semua dengan Sehun, lelaki itu pasti tahu sesuatu, pasti. Karena Luhan yakin bahwa Sehun lah yang telah meninggalkan tanda itu di mana-mana, di restoran waktu dia kencan makan malam dengan Kris, di dapurnya waktu dia diculik, dan di kamar ini ketika dia sadarkan diri pertama kali. Luhan harus bertanya kepadanya.

"Apakah arti lilin berwarna biru yang ditata seperti itu?" Luhan menyuarakan pemikirannya, menatap Sehun, setengah takut, setengah menantang. Lelaki itu seharusnya memberitahu Luhan apapun yang dia tahu. Luhan tidak akan berhenti bertanya sampai dia mendapatkan jawaban,

Sehun sendiri, tidak disangka malahan menatap Luhan dengan tatapan sedih.

"Kau tidak ingat?"

Luhan mengernyitkan keningnya. Ini hampir sama dengan mimpinya, Sehun menatapnya dengan tatapan sedih, membuat Luhan merasa bersalah, membuat Luhan merasa bahwa seharusnya dia tahu apa arti lilin-lilin itu.

"Aku mengalami amnesia, setelah kecelakaan itu." Mata Luhan menyipit, "Kecelakaan yang membunuh ayahku." Matanya menatap Sehun penuh tuduhan.

Tetapi rupanya lelaki itu tidak terpengaruh dengan tatapan mata Luhan, dia menatap perempuan itu datar,

"Amnesia. Yah, sayang sekali kau tidak bisa mengingatnya Luhan." Tiba-tiba jemari lelaki itu terulur, dan Luhan tidak bisa menghindar ketika lelaki itu meraih jemarinya dan mengangkatnya ke mulutnya, lalu mengecupnya lembut, "Kuharap kau bisa mengingatnya nanti."

"Aku tidak bisa mengingatnya karena aku amnesia" sela Luhan jengkel, "Katakan padaku apa arti lilin-lilin itu dan kenapa kau selalu menunjukkannya kepadaku? Apa maksudmu? Kau ingin menggangguku?"

Sehun menatap Andrea tajam, "Aku hanya ingin kau mengingatnya."

"Aku tidak bisa mengingatnya!" Luhan setengah menjerit, menatap Sehun dengan frustrasi.

Dan kemudian, tanpa disangkanya, secepat kilat Sehun mendorong tubuh Luhan ke atas ranjang dan menindihnya. Napasnya begitu dekat dengan Luhan, bibirnya ada di depan bibirnya, hanya berjarak beberapa inci, membuat Luhan gugup dan gemetar, kedua tangannya ada di samping kepalanya, masing-masing ditahan oleh Sehun. Tubuh lelaki itu menguncinya, kakinya menekan kaki Luhan, membuatnya tidak bisa bergerak.

"Mungkin aku akan membantumu supaya kau ingat." Lalu lelaki itu menundukkan kepalanya dan mencium Luhan.

Ciumannya selalu terasa seperti ini. Luhan setengah meronta, tetapi tidak berdaya ketika Sehun melumat bibirnya penuh gairah. Sehun selalu menciumnya tanpa peringatan dan efek yang dirasakan oleh Luhan selalu sama, seluruh tubuhnya menggelenyar, rasanya seperti aliran listrik yang merayap dari ujung kepala ke ujung kakinya, membuatnya gemetar dan meremang.

Lidah lelaki itu agak memaksa, menguakkan bibir Luhan sehingga terbuka lalu menyeruak masuk dan menjelajah di sana, membagi panas dan gairahnya yang menggoda lidah Luhan. Luhan sibuk menolak sekaligus menahan gairahnya. Oh astaga, dia hanyalah perempuan yang tidak berpengalaman, apa dayanya menghadapi lelaki yang sangat ahli mencium ini?

Seluruh diri Luhan gemetar akan ciuman Sehun yang membakar, lelaki itu melumat bibirnya, benar-benar melumatnya, seakan sudah sekian lama dia menanti untuk melakukan hal ini, tidak ada satu jengkalpun bibir Luhan yang terlewat oleh cecapan lidah dan bibirnya, kadang Sehun menyesap ujung bibir Luhan, kadang memberikan kecupan-kecupan kecil yang menggoda, kadang langsung memagut bibir Luhan dengan gemas, dan kadang lidahnya memilin lidah Luhan, mengajarinya cara memuaskannya dan membalas ciumannya.

Luhan merasakan kepalanya pening dan dorongan gairah itu menghentaknya, datang dari sensasi panas yang menyengat di pangkal pahanya, rasa yang tidak disangkanya akan muncul dari sana.

Oh Ya Ampun! Bagaimana mungkin Luhan bisa merasa bergairah atas cumbuan lelaki ini?

"Tidakkah kau ingat ini, Lu?" Sehun memiringkan kepalanya dan mendesah di telinga Luhan, lalu menggoda dengan memagut telinga Luhan, napasnya terasa hangat di sana, "Tidakkah kau ingat bibirku ini?"

Apakah ini berarti Luhan pernah bersama Sehun sebelumnya? Apakah ini berarti Luhan pernah bercumbu dengan Sehun seperti ini sebelumnya?

Mungkinkah itu...?

Tiba-tiba kelebat bayangan itu muncul begitu saja, dua tubuh yang menyatu. Sama-sama telanjang dan menyatu... dan itu adalah Luhan dan Sehun!

Luhan terkesiap dan berusaha meronta meskipun tangannya masih ada dalam cengkeraman Sehun, dia membelalakkan matanya ketakutan.

"Apa yang kau lakukan kepadaku? Apakah kau memberikan obat kepadaku dan membuatku berhalusinasi?"

Sehun tersenyum tipis mendengarkan perkataan Luhan,

"Berhalusinasi? Kenapa kau menuduhku seperti itu? Apakah kau tidak pernah berpikir bahwa 'halusinasimu' itu adalah sebuah kenangan?"

Luhan meringis. Kenangan? Bagaimana mungkin dia punya kenangan? Luhan tidak bisa mengingat, dia tidak bisa mengingat!

.

.

.

Sementara itu Kris menatap komputernya, semua data pemerintah tentang Cho Kyuhyun muncul di hadapannya. Lelaki itu datang ke negara ini satu tahun yang lalu, membawa nama besar perusahaannya yang membuat semua perusahaan berlomba-lomba untuk mendapatkan investasi darinya. Kemudian dia memilih bekerjasama dengan perusahaan milik Kim Junmyeon.

Kris tidak pernah menghubungkan hal ini sebelumnya, dia berpikir adalah wajar, Cho Kyuhyun memilih bekerjasama dengan perusahaan yang dimiliki oleh taipan kaya asal Korea-Jerman yang akhirnya memilih menetap di Negara ini bersama keluarganya itu. Perusahaan Junmyeon adalah salah satu yang paling maju dan potensial dibanding saingannya di bidang sejenis. Kris hanya tidak pernah menyangka bahwa seluruh keputusan ini berhubungan dengan Luhan.

Seharusnya dia mengingatnya, Luhan-lah yang meng-golkan tender Cho Kyuhyun... seharusnya dia sadar bahwa semuanya berhubungan.

Kris mengernyitkan keningnya ketika membaca informasi itu, Cho Kyuhyun telah menyewa properti atas namanya, di sebuah kompleks perumahan mewah yang dijaga ketat... padahal setahu Kris, Kyuhyun mempunyai rumah lain yang ditinggalinya selama berada di negara ini.

Memang tampaknya benang merahnya terlalu tipis, tetapi bagaimanapun juga, Ini patut untuk diselidiki, Kris akan segera mengkoordinasi orang-orang terbaiknya untuk mengawasi di sana, mencari keberadaan Luhan dan menangkap "Sang Pembunuh".

.

.

.

"Aku pernah mengecupmu di sini." Sehun meraih jemari Luhan dan mengecupnya lembut, membuat sekujur tubuh Luhan menggelenyar. "Dan juga di sini." Lelaki itu kemudian membalikkan telapak tangan Luhan, mengecup pergelangan tangannya dan kemudian bibirnya merambat naik, ke bagian dalam siku Luhan, dan sekali lagi menghadiahinya dengan kecupan lembut.

Luhan mengernyit, dia berusaha meronta, tetapi Sehun masih menahannya dengan tubuhnya, tangannya yang sebelah juga masih di cengkeram oleh lelaki itu sehingga seluruh usaha Luhan tidak ada gunanya.

"Jangan meront, Lu, aku tidak mau menyakitimu." Sehun berbisik dengan suara rendah, membuat Luhan menahan gerakannya, gemetar.

"Jangan sentuh aku." Luhan bergumam sambil mengernyit, "Kau tidak boleh melakukannya."

"Siapa bilang?" Sehun mengecup dagu dan rahang Luhan dengan menggoda, suaranya misterius, tatapannya menggoda, "Aku bisa melakukan apapun yang aku mau padamu, Luhan." Bibir Sehun mulai menyentuh bibir Luhan, napasnya terasa hangat, dan Luhan tahu bahwa Sehun akan menciumnya dalam sedetik...

Kemudian tiba-tiba pintu kamarnya diketuk, membuat tubuh Sehun menegang. Matanya berkilat marah dan bibirnya membeku hanya satu inci dari bibir Luhan.

Dia menarik kepalanya dan menatap ke pintu dengan geram, merasa tidak senang atas gangguan yang tidak menyenangkan di saat yang tidak tepat itu,

"Siapa itu?"

Jawaban dari pertanyaan itu berasal dari sebuah suara yang mengejutkan membuat Luhan mengernyitkan keningnya dan mendesah karena terkejut, merasa mengenali suara itu.

"Ini aku. Ada hal penting yang ingin kukatakan."

Sehun yang mendengar suara Irene, tak kalah terkejutnya, tidak menyangka bahwa Irene akan seberani itu mengambil resiko untuk membuka kedok penyamarannya sendiri di depan Luhan.

Dan yang paling membuat Sehun geram adalah karena Irene begitu beraninya mengganggu saat-saat pribadinya bersama Luhan. Perempuan itu mulai menjadi pengganggu dalam rencananya, bahkan Sehun mulai merasa menyesal karena melibatkan Irene dalam rencananya untuk Luhan. Selama ini Sehun masih menoleransi Irene karena masih menghormati mendiang kakaknya yang merupakan sahabat Sehun. Tetapi rupanya sekarang Sehun harus bertindak tegas.

"Siapa itu?" Luhan bergumam bingung, lalu ketika dia benar-benar yakin akan pendengarannya, dia mengalihkan tatapannya dari pintu ke arah Sehun dengan bingung, "Siapa itu?" ulangnya bingung. Astaga… suara itu mirip suara Irene!

Sehun menatap Luhan datar, "Aku harus pergi, nanti kita akan melanjutkan ini, Luhan." Suaranya penuh peringatan.

Kemudian dengan gusar, Sehun bangkit dan melepaskan tindihannya dari tubuh Luhan, lalu berdiri dan tanpa kata maupun penjelasan kepada Luhan, lelaki itu melangkah meuju pintu dan keluar dari kamar itu.

Luhan langsung terduduk, menatap ke arah pintu tempat Sehun pergi. Lelaki itu tidak menjawab perkataannya, mungkinkah itu tadi suara Irene? Tapi bagaimana mungkin? Mungkin itu hanyalah salah satu pegawai Sehun yang suaranya mirip dengan Irene.

Luhan menghela napas panjang, berusaha mengusir pikiran-pikiran aneh yang menghantuinya.

.

.

.

TBC


Greget banget yaa sama Irene. jahat banget dia disini T.T

Daaaannn masih banyak kejutan yang lainnya dari cerita ini, ditunggu saja yaahhh~~

.

.

Jangan pernah bosen buat ngasi review ya :*

Gomawo~~