[REMAKE] Dating With The Dark by Santy Agatha
.
.
Main Cast:Luhan(GS), Oh Sehun.
Other Cast: Kris, Irene, etc.
Genre: Romance, Drama.
Rated:M
.
.
Don't Like, Don't Read
Sorry for Typo.
Happy Reading~
.
.
Chapter 11
.
.
"Kenapa kau menggangguku, Irene?" Sehun menatap marah ke arah Irene yang sekarang berdiri di depannya, masih berpenampilan seksi, kali ini berpakaian serba hitam, rok mini hitam yang pendek dan atasan ketat senada. Perempuan ini bebas keluar masuk rumah Sehun karena seluruh penjaga mengira dia adalah orang kepercayaan Sehun. Tetapi mulai saat ini Sehun memutuskan bahwa Irene hanya boleh masuk tanpa seizinnya, perempuan ini telah berani melanggar teritorial pribadinya dan mengganggunya.
Irene sendiri menatap Sehun dengan tatapan mata merayu, dia tidak peduli dengan kegusaran di mata Sehun. Ketika dia datang tadi, salah seorang pengawal mengatakan bahwa Sehun sedang berada di kamar tempat dia menyekap Luhan. Perasaan cemburu langsung membakarnya, membuat kepalanya panas dan hampir gila ketika membayangkan apa yang dilakukan Sehun berduaan saja dengan Luhan di kamar.
Dia tidak boleh membiarkan mereka berdua berasyik masyuk di dalam kamar! Dia tidak akan membiarkan itu terjadi. Sehun adalah miliknya dan Luhan harus menyingkir jauh-jauh. Dan kalau rencananya berhasil, sebentar lagi Luhan akan terpisah jauh dari Sehun.
"Aku tidak ingin kau bersama perempuan itu di dalam." Irene memajukan dagunya berani, "Kenapa kau menyibukkan dirimu dengannya Sehun? Dia perempuan tidak tahu terimakasih, seharusnya kau membunuhnya saja. Tidakkah kau lebih memilih bersamaku? Aku akan memberikan segalanya untukmu, Sehun."
Sehun langsung meradang melihat betapa tidak tahu dirinya Irene. Dia menatap Irene dengan pandangan jijik, memundurkan tubuhnya seolah perempuan itu adalah wabah,
"Aku tidak pernah punya pikiran sedikitpun untuk membuang waktuku bersamamu, Irene. Seharusnya kau sadar ketika aku mengungkapkan hal itu dengan halus, tetapi rupanya isyarat halus tidak berguna bagimu dan aku harus memperlakukanmu dengan lebih kasar, maafkan aku harus mengatakan ini, tetapi kau harus berhenti bersikap menjijikkan dan menggangguku."
Kata-kata kasar Sehun langsung membuat Irene pucat pasi, dia membelalakkan mata, luka yang dalam tampak di sana, tetapi kemudian Irene berhasil menguasai diri, dia malahan mendekati Sehun dan menyentuh lengan lelaki itu dengan menggoda,
"Sehun-ah, jangan menipu dirimu seperti ini, aku tahu beberapa kali kau melirik bagian tubuhku yang seksi ini, aku tahu kau seorang lelaki yang penuh gairah, dan mengingat sekian lama kau tidak melakukannya, kau butuh pelampiasan, dan aku ada disini, sangat bersedia menjadi pelampiasanmu."
Sehun menepiskan jemari Irene dari lengannya, dan ketika perempuan itu terus mendekatkan tubuhnya, Sehun mencekal dagu Irene dan merentangkan tangannya, mendorong perempuan itu menjauh serentangan tangan dengan jarinya masih mencengkeram dagu Irene,
"Aku bukanlah hewan..." desis Sehun, "Yang melakukan seks hanya untuk melampiaskan birahinya. Dan meskipun aku sedang bergairah..." tatapan Sehun menelusuri tubuh Irene dengan melecehkan, "Kau sudah jelas bukanlah perempuan yang kubayangkan untuk memuaskannya."
Dengan kasar Sehun melepaskan dagu Irene dan melangkah mundur, tatapannya penuh ancaman.
"Menjauhlah Irene, sebelum aku melakukan sesuatu yang akan membuatmu menyesal karena menggangguku." Sehun tidak main-main dengan perkataannya, dia akan membunuh Irene kalau itu diperlukan. Dan kemudian, setelah melemparkan pandangan jijik sekali lagi kepada Irene, Sehun membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi.
Irene mengelus dagunya yang memerah karena cengkeraman Sehun dengan marah, matanya membara karena sakit hati, dan benaknya dipenuhi kebencian kepada Luhan. Sehun telah menolaknya dengan kasar, tetapi Irene tidak akan menyerah, dia yakin bahwa di dalam lubuk hatinya Sehun tertarik kepadanya, lelaki itu hanya sedang teralihkan perhatiannya karena kehadiran Luhan.
Luhan...
Dengan penuh kebencian, Irene menatap ke arah pintu besar yang terkunci, tempat Luhan terkurung di dalamnya. Luhan adalah pengganggu. Satu-satunya halangan bagi Irene untuk memiliki Sehun. Dan Luhan harus dilenyapkan!
.
.
.
"Saya mulai kuatir dengan keberadaan nona Luhan yang terlalu dekat." Chanyeol melirik ke arah layar-layar monitor yang menampilkan gambar-gambar dari kamera pengawas di rumah besar ini. Di salah satu layar tampak gambar di mana Irene masih berdiri dengan seluruh tubuh menegang di depan pintu kamar Sehun, menatap penuh kebencian ke arah sana.
Sehun juga menatap ke arah layar itu dan mengedikkan bahunya,
"Aku sudah berusaha menyadarkannya bahwa obsesinya kepadaku adalah harapan yang sia-sia, tetapi rupanya dia terlalu bebal untuk menerima kenyataan."
Chanyeol menganggukkan kepalanya dan menatap tuannya cemas, "Dia bisa membahayakan seluruh rencana."
"Maka suruh orang untuk mengawasinya, jangan sampai dia berencana sesuatu yang tidak kita ketahui."
Chanyeol menatap setuju, "Saya akan mengawasinya, saya berfirasat bahwa dia mempunyai rencana tidak baik."
Kemudian, di tengah keheningan yang tercipta di antara Sehun dan Chanyeol, suara telepon di meja itu berbunyi. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahui nomor telepon itu, dan hanya berita pentinglah yang boleh di sampaikan melalui telepon itu.
"Ya." Sehun menjawab telepon itu dengan singkat dan waspada.
"Tuan Sehun."
Itu suara Tao, salah satu anak buah Sehun, ahli menyamar dan memang sudah disiapkan sejak dini untuk menyusup ke agen pemerintah. Tidak pernah ada yang bisa menduga, bahwa Tao adalah agen ganda, dan perempuan inilah yang menjadi kunci penting langkah Sehun sehingga bisa lebih maju daripada Kris.
"Apakah saluran yang kau pakai aman?" Sehun masih waspada.
"Aman, Tuan." Suara Tao merendah, "Saya rasa tuan harus bergerak sekarang, Kris malam ini mengadakan rapat koordinasi mendadak dengan semua agen, saya rasa dia telah mendapatkan petunjuk yang menghubungkan Mr. Kyuhyun dengan Luhan, dia memerintahkan pengawasan atas semua properti yang disewa atas nama Mr. Kyuhyun, yang saya tahu, tempat anda sekarang masuk di dalam list yang Kris bicarakan."
Sehun mengernyitkan keningnya. Kenapa Kris bisa menghubungkan semuanya secepat itu? Dia pikir lelaki itu akan membutuhkan waktu lama untuk menghubungkan benang merahnya. Entah ini semua karena Kris tidak sebodoh yang Sehun pikirkan, atau karena ada pengkhianat di lingkup dalam Sehun... mata Sehun menyipit, mungkin saja firasat Chanyeol benar, bahwa Irene benar-benar telah melakukan sesuatu yang buruk.
"Okey. Siap. Terimakasih, Tao." Lalu dia menutup teleponnya dan menatap Chanyeol yang masih di sana, menatapnya ingin tahu.
"Keadaan darurat, jalankan rencana pembersihan." Gumam Sehun tenang, yang ditanggapi dengan anggukan kepala Chanyeol.
.
.
.
Di seberang sana, setelah menutup telepon, Tao menghela napas panjang dan menatap ke arah ke kantor tempat Kris mengadakan rapat penting bersama semua agennya, dia tadi pamit dengan segera untuk meninggalkan meeting. Tidak ada satu agenpun yang curiga karena dia pergi keluar mendadak di tengah meeting, malahan semua agen tampak mencemaskannya dan menyuruhnya pulang dengan segera. Tao memang telah menggunakan kepandaian beraktingnya untuk berpura-pura sakit dan izin meninggalkan meeting itu di tengah-tengah, di saat yang dia perkirakan sudah cukup untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Rupanya aktingnya berhasil, Tao tersenyum mengingat ekspresi cemas di wajah teman-teman agennya, dan terutama di wajah Kris. Tao senang Kris mencemaskannya.
Ketika Kris memulai rapat rahasia itu dan membeberkan seluruh informasi yang didapatkannya, Tao benar-benar terkejut dan bertanya-tanya bagaimana bisa Kris menemukan benang merah untuk mencari keberadaan Sehun.
Dia sudah mengawasi Kris dan memastikan semuanya, seharusnya tidak ada yang terlewat olehnya…
Tetapi sekarang sudah terlanjur terjadi. Tao tahu dia harus memperingatkan Sehun, atasannya. Tao tentu saja sangat setia kepada atasannya itu, karena meskipun kejam, Sehun selalu berlaku baik kepada semua anak buahnya. Meskipun sekarang kesetiaan Tao sedikit ternoda oleh perasaan pribadinya yang bertumbuh begitu saja kepada Kris.
Tetapi tidak masalah, bukankah dengan melakukan ini dia bisa melakukan yang dikatakan pepatah, sambil berenang minum air? Sehun bisa mendapatkan Luhan sesuai keingingannya, dan dengan begitu, akan memuluskan rencananya untuk…. mendapatkan Kris.
Benaknya tiba-tiba saja membayangkan wajah Kris dan kekecewaan yang akan terpatri di sana ketika dia datang dan menemukan bahwa dia sudah terlambat. Kris pasti akan kecewa... tetapi mungkin hal itulah yang harus dialami oleh Kris.
Tao tidak mau Kris menemukan Luhan, dia tidak mau Kris berada di dekat Luhan lagi. Selama ini perasaannya telah terpendam begitu lama, mencintai atasannya itu diam-diam, menahankan sakitnya ketika menyadari bahwa Kris mulai melibatkan perasaannya dalam misinya menyangkut Luhan. Tao telah lama diam, tetapi sekarang dia tidak mau diam begitu saja. Luhan tidak boleh berada di dekat Kris. Luhan punya tempatnya sendiri, dan itu semua ada di bawah kekuasaan Tuan Sehun.
.
.
.
"Luhan." Sehun setengah berbisik, sedikit mengguncang bahu Luhan yang tertidur, "Bangun Luhan."
Luhan membuka matanya, membutuhkan waktu sejenak untuk mengumpulkan kesadarannya, dan ketika kesadarannya kembali dia terkesiap kaget mendapati Sehun membungkuk di depannya berselubung bayangan gelap yang membuatnya tampak seperti siluet yang menakutkan.
Dia hampir menjerit, tetapi Sehun menempatkan jemarinya di bibir Luhan,
"Ssstttttt..." Suaranya tajam, tegas dan tak terbantahkan, "Diam, jangan bersuara, kau akan ikut aku."
"Aku tidak mau." Luhan memekik, membuat Sehun langsung membekap mulutnya. Tetapi hal itu malahan membuat Luhan meronta-ronta, berusaha mengeluarkan suara jeritan protes. Dia tidak mau mengikuti kemauan lelaki ini, dia ingin pulang! Dia ingin lepas dari semua kepelikan ini dan kembali ke dalam kehidupan biasanya yang nyaman. Hidup tenangnya tanpa ada Oh Sehun di dalamnya!
Sehun sendiri merengut gusar karena Luhan terus menerus bergerak melawannya, dia menolehkan kepalanya ke arah Chanyeol yang dia tahu ada di sana, berdiri dalam kegelapan menatapnya,
"Chanyeol." Sehun mengucapkan isyarat tanpa kata ke arah Chanyeol, pelayan setianya itu langsung mendekat.
Sedetik kemudian, dengan ahli, Sehun menyentuh saraf di titik penting Luhan, membuatnya pingsan, tubuhnya langsung jatuh lemas, tenggelam dalam ketidaksadaran.
Sehun setengah menopang tubuh Luhan, lalu menatap Chanyeol yang berdiri di dekatnya.
"Siapkan dia. Aku sendiri akan bersiap-siap, ingat, tidak boleh ada seorangpun yang tahu tentang recana ini, kita harus sangat berhati-hati."
Salah seorang anak buahnya yang disusupkan ke dalam kantor tempat Kris bekerja telah memberikan informasi rahasia barusan, bahwa Kris mulai mencurigai motivasi Mr. Kyuhyun menjalin kerjasama dengan perusahaan yang kebetulan merupakan tempat Luhan bekerja. Dan saat ini dari hasil pencariannya, Kris telah berangkat bersama agen-agen paling kuatnya untuk datang dan mengawasi rumah ini.
Sebelum itu terjadi, Sehun harus membawa Luhan pergi dari rumah ini.
Sebelum pergi, Sehun menekan nomor Kyuhyun, Meskipun pertemanan mereka bisa dikapatan sangat kompleks, lelaki itu adalah mentor sekaligus temannya yang setia, dan Sehun akan selalu bisa mengandalkannya dalam kondisi seperti ini.
"Ada apa Sehun?" Kyuhyun mengangkat teleponnya, suaranya serak, seperti baru saja terbangun dari tidurnya.
"Aku membutuhkan bantuanmu lagi, Kyuhyun."
Sehun mengucapkan serangkaian instruksi. Setelah selesai, dia menutup percakapan dan senyum tipis terkembang di bibirnya, membayangkan betapa gusarnya Kris nanti ketika Lelaki itu datang ke rumah ini dan menyadari bahwa Sehun sudah selangkah lebih maju.
.
.
.
Jongin menerima telepon mendadak dari Sehun barusan dan setuju untuk menyiapkan semuanya meskipun lebih cepat satu hari dari yang direncanakan. Dia menutup teleponnya dan mulai menghubungi nomor yang sangat dihapalnya.
"Jongin." Suara di seberang sana terdengar dalam, suara yang sangat dikenal oleh Jongn.
"Paman Siwon. Maafkan saya menelepon selarut ini." Jongin merasa tidak enak, pasti dia telah mengganggu istirahat malam paman Siwon dan isterinya, tetapi dia harus melakukan pemberitahuan supaya tidak ada kesalahpahaman ke depannya, "Tamu saya membutuhkan pulau itu sekarang, untuk ditempati malam ini."
"Oke. Lakukan saja Jongin, pulau itu bebas digunakan selama musim ini, aku dan Heechul belum berencana mengunjunginya lagi."
"Terimakasih paman." Setelah mengucapkan salam dan sedikit berbasa-basi, Jongin menutup pembicaraan, kemudian dia tercenung. Memikirkan tentang paman Siwon, sahabat ayahnya yang sangat baik hati itu.
Jongin mengernyit ketika bayangan akan tragedi yang menimpa keluarga Choi terbersit di benaknya, dia sangat mengagumi kekuatan cinta Paman Siwon dan isterinya Heechul sesudahnya yang mampu bergandengan tangan dengan kuat, dan menghadapi seluruh cobaan yang menguras emosi itu. Kalau saja Jongin yang berada di posisi paman Siwon, dia pasti tidak akan kuat...
Tiba-tiba saja seberkas pengetahuan melesat dan menusuk ingatan Jongin. Jantungnya langsung berdebar.
Oh Astaga... sepertinya dia telah menemukan jawaban dari rasa penasarannya selama ini.
Jongin menyentuh dagunya dengan dahi berkerut, berpikir dalam,
Tetapi apakah itu mungkin? Bukankah itu terlalu kebetulan?
.
.
.
Mereka keluar dari rumah itu dalam kegelapan, dalam mobil hitam yang tidak kentara. Suarana sekitar perumahan mewah itu masih lengang. Sehun sendiri memangku Luhan yang masih pingsan dengan kepala di pangkuannya. Chanyeol ada di kursi depan, duduk di sebelah supir.
Jemari Sehun mengelus dahi Luhan dengan lembut, kemudian menundukkan kepalanya dan mengecup dahi Luhan pelan. Sebentar lagi mereka tidak akan hidup dalam pelarian lagi. Hanya tinggal sebentar lagi, setelah semua dokumen siap dan Sehun bisa meninggalkan negara ini dan kembali ke Italia.
Mobil-mobil lain yang juga berwarna hitam bergabung dari segala penjuru jalan, mobil-mobil itu dikendarai oleh pengawal dan orang-orang kepercayaan Sehun, meskipun begitu mereka tetap menjaga jarak agar iring-iringan mobil mereka tidak kentara.
Malam yang pekat dan jalanan yang sepi memudahkan perjalanan menuju bandara, ketika mobil berhenti, Chanyeol melangkah keluar duluan dari mobil dan mengambil kursi roda lipat di bagasi, Sehun kemudian keluar, dan meletakkan Luhan dari gendongannya ke atas kursi roda, tubuh Luhan terkulai di sana, dan kemudian tanpa kata, Sehun mendorong Luhan memasuki lobby bandara diikuti oleh Chanyeol dan orang-orangnya.
Mereka memasuki pintu samping, untuk area jet pribadi yang sudah menunggu di sana.
Di dekat landasan, Jongin telah menunggu, lelaki itu memakai mantel hitam yang tebal, karena angin begitu kencang berhembus, menggerakkan helaian-helaian rambutnya yang kecoklatan.
Lelaki itu melirik ke arah Luhan dan menatap Sehun, "Pesawat sudah menunggu, aku sudah mencoba membuat semuanya serahasia mungkin sehingga tidak terlacak."
"Terimakasih." Sehun menganggukkan kepalanya, "Kami akan berangkat sekarang."
Mata Jongin tidak pernah lepas dari Luhan, "Kapan kau berencana berangkat ke Italia?"
"Segera setelah seluruh dokumen beres, aku sudah membuatnya lebih cepat dari yang direncanakan, mungkin dalam dua minggu lagi atau kurang."
Jongin menarik napas panjang, "Aku harap aku bisa bertemu denganmu sebelumnya, ada yang ingin aku bicarakan, menyangkut Luhan."
Mata Sehun langsung menyambar Jongin dengan waspada. Dua lelaki tampan itu saling bertatapan dalam kediaman yang penuh makna. Sampai akhirnya Sehun mengangkat bahunya,
"Silahkan, Jong." Dia menepuk pundak sahabatnya itu, "Terimakasih atas bantuanmu, gerakanku agak terbatas di negara ini karena aku begitu berbeda dan mencolok di antara semuanya. Nanti kalau sudah di Italia, aku akan lebih leluasa karena berada di daerah kekuasaanku sendiri." Matanya menatap serius ke arah Jongin, "Kapanpun kau nanti ke Italia, kau bisa mencariku."
Jongin terkekeh mendengar kata-kata Sehun, dia mengangkat alisnya penuh arti,
"Tetapi bagaimanapun juga, kau sudah terikat dengan negara ini, Hun." Gumamnya dalam tawa, menyimpan makna yang mendalam.
.
.
.
Aroma wangi yang khas, membuat Luhan menggeliatkan tubuhnya, dia mengerjapkan matanya dan entah kenapa seluruh badannya terasa sakit, seperti habis melakukan perjalanan panjang.
Dia berada di atas ranjang... ingatan Luhan berusaha menelaah dan kemudian dia teringat betapa dia telah bergulat di atas ranjang mencoba melawan kehendak Sehun yang ingin membawanya ke suatu tempat. Dia ingat bahwa Sehun membekap mulutnya, tetapi setelah itu Luhan tidak ingat apa-apa lagi.
Jemarinya bergerak mengusap sprei di bawah tubuhnya dan Luhan menyadari bahwa kain sprei ini berbeda dengan yang bisanya. Luhan terkesiap dan membelalakkan matanya, mencoba menembus kegelapan yang melingkupi ruangan ini.
Ini bukan kamar tempat dia ditempatkan sebelumnya, ini kamar yang berbeda! Luhan terduduk dan menatap sekeliling, segera setelah matanya beradaptasi dengan kegelapan, dia bisa menatap sekeliling yang remang-remang.
Dia ada di mana lagi sekarang?
Luhan mulai panik, dia bangkit dari ranjang, samar-samar mendengar suara aneh di kejauhan, suara deburan ombak...
Suara deburan ombak? Berarti Luhan ada di tepi pantai? Dekat dengan lautan?
Tiba-tiba saja terdengar suara klik pintu yang terbuka, Luhan terlompat kembali ke ranjang, menarik selimut sampai ke bahunya dan berbaring dengan tegang, berpura-pura tidur.
Napasnya terengah, tetapi Luhan berusaha mengaturnya agar terdengar teratur. Dia memutuskan untuk berpura-pura tidur dulu agar bisa mengukur keadaan.
Pintu terbuka dan kemudian terdengar ditutup lagi dan dikunci. Langkah-langkah yang tenang mendekati ranjang, kemudian ranjang bergerak karena sosok itu duduk di tepinya, di dekat Luhan.
Apakah itu Oh Sehun?
Tanpa bisa ditahan, jantung Luhan mulai berdebar, dia ingin menahan debaran jantungnya itu, tetapi Luhan tidak bisa mengontrolnya, yang bisa dilakukannya hanyalah berdoa supaya sosok itu siapapun dia tidak menyadari bahwa Luhan sudah terjaga.
Jemari yang panjang dan kuat, tiba-tiba menelusuri pipi Luhan, begitu lembut, seperti perlakukan kepada sang kekasih. Tiba-tiba saja Luhan merasa nyaman, semakin nyaman ketika jemari itu mengusap dahinya, membelainya dengan penuh kasih sayang. Dia benar-benar menjadi rileks, debaran jantungnya merada berganti menjadi perasaan familiar yang menyenangkan... perasaan disayang dan dicintai.
Kemudian bibir yang hangat mengecup pipinya, lembut dan penuh sayang. Aroma jantan yang khas, kayu-kayuan bercampur dengan musk melingkupinya, dan sosok itu berbisik lembut,
"Lu... "
Debaran di dada Luhan kembali lagi mendengar suara itu, Itu adalah suara Oh Sehun. Dipenuhi oleh kerinduan yang mendalam berbalur dengan kesedihan yang tersembunyi. Kesedihan seorang kekasih yang telah sekian lama menahan rindu dan kesepian.
.
.
.
Kris mengawasi rumah mewah yang tampak lengang itu, sepertinya tidak ada sesuatupun yang aneh di sana, dia mengernyitkan keningnya. Tetapi dia berfirasat bahwa ada sesuatu di sini, dan frasatnya kadang kala tidak bisa disepelekan.
Sudah hampir empat jam, dari jam empat pagi dia mengawasi, dan dia mulai merasa lelah. Tetapi kemudian, duduknya tegak dan waspada, begitupun agen-agen yang berada di mobil lain yang diparkir di sisi lain dengan tak kentara. Dilihatnya sebuah mobil mewah berwarna hitam meluncur memasuki gerbang rumah itu. Mobil mewah itu tak sendiri, di belakangnya ada serombongan mobil lain yang mengikuti pelan.
Sepertinya itu Mr. Kyuhyun, lelaki itu memang terkenal suka membawa banyak pengawal kemana-mana. Sepertinya di usianya yang semakin tua, Mr. Kyuhyun mulai paranoid dengan keselamatan hidupnya.
Tanpa sadar Kris mencibir, buat apa hidup kaya kalau kemudian hanya dikejar oleh ketakutan?
Mobil itu memasuki gerbang diikuti mobil pengawalnya, lalu pintu gerbang tertutup dan suasana menjadi hening. Kris menunggu lama, tetapi kemudian dia memutuskan, mereka tak bisa menunggu terus-terusan seperti ini, mereka harus berbuat sesuatu.
Dia menelepon atasannya, mengkonfirmasikan persetujuan untuk mengunjungi Mr. Kyuhyun dengan berbagai alasan. Mr. Kyuhyun adalah warga negara asing, tindakan apapun yang sekiranya menyinggung dan tidak terbukti, bisa menimbulkan permasalahan internasional pada akhirnya. Kris harus benar-benar berhat-hati dalam melangkah. Atasannya pada akhirnya menyetujui langkah Kris, hal itu membuat Kris menghela napas lega.
Setelah menutup teleponnya, Kris menoleh kepada Tao yang dari tadi duduk di sebelahnya di dalam mobil itu.
"Bagaimana keadaanmu, Tao? Sakitmu sudah baikan?" Kris teringat Tao tampak begitu sakit ketika izin untuk meninggalkan rapat penting mereka kemarin, "Seharusnya kau tidak perlu masuk."
"Aku sudah baikan, sudah minum obat." Tao tersenyum, dia diinstruksikan untuk selalu mengawasi Kris, jadi pagi-pagi sekali dia datang dan memaksa Kris untuk ikut mengawasi, semula lelaki itu menolak mentah-mentah dan menyuruh Tao untuk pulang dan beristirahat, tetapi untunglah Tao berhasil meyakinkan lelaki itu bahwa dia sudah baikan.
"Lain kali jangan memaksakan dirimu, oke? Kondisi tubuh kita yang paling penting, apalagi sebagai seorang agen kita harus siap sedia untuk menghadapi apapun yang mungkin terjadi." Kris tersenyum, dia sudah beberapa lama bersama Tao yang menjadi anak buahnya, meskipun bertubuh bak model dan wajahnya terlalu cantik, Tao ternyata merupakan salah satu anak buahnya yang paling kompeten dalam melaksanakan tugas. Pekerjaan mereka sudah membuat mereka begitu dekat, Kris menyayangi Tao tentu saja, perempuan itu sudah seperti adiknya sendiri.
Di lain pihak, Tao merasa dadanya mengembang hangat penuh rasa bahagia akibat perhatian dan kelembutan yang diberikan Kris kepadanya, benaknya berkelana membayangkan, seandainya Kris menjadi kekasihnya, dia tentu akan dihujani dengan lebih banyak perhatian dan kelembutan.
Tao menghela napas panjang, matanya bersinar penuh tekad. Semua hal dalam benaknya itu, membuatnya semakin bertekad untuk menjauhkan Kris dari segala sesuatu yang berhubungan dengan Luhan.
Kris sendiri masih mengawasi rumah besar itu beberapa lama, lalu dia mengambil keputusan,
"Oke. Sepertinya sudah saatnya. Kita akan mengunjungi Mr. Kyuhyun sekarang."
Tanpa menanti tanggapan Tao, Kris melajukan mobilnya dan mendekati pintu gerbang yang tinggi itu, di depan sana ada dua orang berpakaian khas pengawal Mr. Kyuhyun, jas hitam dan wajah datar tanpa emosi.
"Ada yang bisa saya bantu?" salah seorang pengawal sedikit menundukkan tubuhnya dan mengawasi Kris yang membuka jendela mobilnya dan duduk di balik kemudi.
Kris menunjukkan lencana agen pemerintahnya dan menatap pengawal itu dengan tatapan tegas.
"Aku tahu tuanmu ada di sini. Ini urusan pemerintahan. Katakan aku ingin bertemu dengannya."
Pengawal itu terdiam lama dan mengawasi Kris dalam-dalam, kemudian dia melempar pandang kepada rekannya yang langsung menelepon untuk menghubungi bagian dalam rumah. Sejenak kemudian, pengawal itu menganggukkan kepala kepada rekan pengawalnya, lelaki itu langsung bergerak memencet tombol, dan pintu gerbang itupun terbukalah. Kris melajukan mobilnya memasuki rumah mewah itu.
.
.
.
"Tidak saya sangka akan menerima tamu di sini, ada apa gerangan?" Mr. Kyuhyun, lelaki tua dengan rambut yang sudah berwarna putih itu melangkah menuruni tangga dan menyambut Kris yang berdiri waspada bersebelahan dengan Tao yang mendampinginya.
"Saya hanya melakukan pengecekan seperti biasa, Mr. Kyuhyun." Kris berusaha tampak datar, mengimbangi sikap ramah Mr. Kyuhyun. Lelaki ini tampak santai dan tidak menyembunyikan sesuatu, apakah firasat Kris yang salah?
"Saya belum berkenalan dengan anda." Mr. Kyuhyun tampak fasih berbahasa Korea meskipun logatnya terdengar sedikit aneh, lelaki itu mengelurkan tangannya kepada Kris yang langsung dibalas Kris dengan tegas,
"Saya Kris, dan ini rekan saya, Tao." Kris mengedikkan bahunya ke arah Tao yang berdiri diam sambil melipat tangannya, "Seperti yang saya katakan tadi, saya adalah agen pemerintah yang khusus mengurusi hal-hal yang berhubungan dengan pertahanan negara, menyangkut hubungan luar negeri." Kris menatap Mr. Kyuhyun dalam-dalam, "Saya hanya melakukan pengecekan rutin."
Mr. Kyuhyun mengangkat alisnya, "Pengecekan tentang apa?"
"Kami biasanya mendata properti setiap warga asing di negara ini secara berkala. Kami menemukan kejanggalan bahwa anda menyewa dua rumah besar secara bersamaan dan hanya menempati salah satunya, agen saya melapor bahwa rumah yang ini tidak dilaporkan sebagai kediaman tetap anda, anda menempati rumah lainnya di lokasi yang lain."
Mr. Kyuhyun tiba-tiba saja terkekeh, membuat Kris menatap bingung dan jengkel atas reaksi tak terduga dari lelaki ini,
"Maafkan saya, bukan maksud saya tertawa." Mr. Kyuhyun masih saja tersenyum lebar, "Saya hanya sedikit kagum betapa rincinya penelitian yang kalian lakukan kepada saya." Lelaki itu lalu menatap ke arah salah seorang pengawalnya yang berdiri di dekat tangga, "Panggilkan Tiffany kemari, biarkan kami menjawab pertanyaan tuan Kris ini. Sehingga dia tidak bertanya-tanya lagi."
Pengawal itu mengangguk dan melangkah menaiki tangga, menghilang di ujung atas, sementara itu Kris mengerutkan keningnya, Tiffany? Siapa yang dimaksud dengan Tiffany?
.
.
.
"Aku tahu kau sudah bangun." Suara Sehun dalam, sedikit geli, membuat Luhan terkesiap dan tiba-tiba merasa malu karena ketahuan. Pipinya merona merah, untunglah mereka berada di kegelapan sehingga Sehun tidak akan bisa melihat Luhan merona.
Dengan pelan Luhan membuka matanya, menemukan sosok lelaki tampan itu duduk di tepi ranjangnya. Ruangan ini gelap, dan Luhan masih sedikit pusing karena tertidur entah berapa lama. Tetapi dalam kegelapan itupun dia menyadari betapa bayang-bayang bukannya membuat sosok Sehun menjadi menakutkan melainkan malah mempertegas garis wajahnya menjadi begitu tampan.
Sehun lelaki yang sangat tampan tentu saja, meskipun gelap, Luhan bisa membayangkan lelaki itu sedang menatapnya dengan mata cokelatnya yang dalam. Tiba-tiba benaknya berkelana mengingat perasaan terpesonanya ketika pertama kali bertemu dengan Sehun di jalanan yang gelap itu, saat lelaki itu menyelamatkannya dari gangguan para berandalan. Saat itu Luhan terpesona, pun ketika dia menemukan Sehun adalah pengawal Mr. Kyuhyun... dan sampai saat makan malam mereka yang menyenangkan, Luhan masih terpesona.
Tiba-tiba benaknya bertanya-tanya. Seandainya saja keadaan berbeda, seandainya saja Sehun bukanlah pembunuh menakutkan yang diyakininya dikirim untuk membunuh ayahnya dan dirinya, bisakah Luhan jatuh cinta kepada Sehun?
Luhan memejamkan matanya atas pengetahuan yang mendalam yang diakui oleh hatinya, tetapi ditolak oleh otaknya.
Ya... Dia bisa mencintai lelaki ini, seandainya keadaan berbeda...
Perasaan itu menakutkannya, membuat Luhan beringsut menjauh dari tepi ranjang dan menatap Sehun dengan waspada,
"Apakah kau akan memaksakan kehendakmu kepadaku?" Mata Luhan berputar ke sekeliling ruangan, mencari jalan menyelamatkan diri, atau setidaknya mencari alat perlindungan yang mungkin bisa digunakan untuk melindungi dirinya dari pemaksaan kehendak yang mungkin akan dilakukan oleh Sehun.
Sementara itu Sehun hanya diam, ketika dia berbicara suaranya terdengar geli,
"Apakah kau ingin aku melakukannya?"
"Tidak! Tentu saja Tidak!" Luhan langsung berteriak waspada, ketakutan. Lelaki ini tampaknya kejam dan suka bermain-main dengan korbannya sebelum melahapnya, Luhan harus berhati-hati.
"Percuma melawan Luhan, kau bahkan sudah menjadi milikku tanpa kau menyadarinya." Sehun menegakkan punggungnya dengan tegas, "Dan aku akan membuatmu menyadarinya, sekarang, di sini, tidak akan ada lagi yang bisa menghentikanku." Sehun mendekat, membuat Luhan panik. Tetapi kemudian ponsel di saku lelaki itu berbunyi, membuat wajahnya mengerut marah karena terganggu, ekspresinya berubah ketika melihat siapa yang menelepon,
"Ya?" diangkatnya telepon itu, menunggu kabar yang sudah di antisipasinya.
.
.
.
TBC
Aku tepat janji kan update seminggu 2x~~
Nahh di chapter ini sudah d elaskan siapa Tao sebenarnya~~
Dan jangan ada yang benci mbak Irene dong, dia cuma salah ambil peran aja di f ini :D
Sedikit bocoran, minggu depan Hunhan NC-an~~
Ditunggu saja yaahhh~~
.
.
Happy satnite guys
See you in next chapt~~
