[REMAKE] Dating With The Dark by Santy Agatha

.

.

Main Cast:Luhan(GS), Oh Sehun.

Other Cast: Kris, Irene, Jongin, etc.

Genre: Romance, Drama.

Rated:M

.

.

Don't Like, Don't Read

Sorry for Typo.

Happy Reading~

.

.


Chapter 12

.

.

Pertanyaan Kris terjawab ketika sosok perempuan muda, mungkin seusia Kris dengan pakaian yang sangat seksi turun dari tangga, langkahnya gemulai, dan dia melemparkan senyum genit ketika melihat Kris. Tanpa dinyana, perempuan itu mendekat ke arah Mr. Kyuhyun dan menggelayut manja di lengannya,

"Siapa yang mengganggu istirahat siang kita, sayang?" bibir indah perempuan itu yang memakai lipstick menggoda sehingga tampak basah dan berkilauan sedikit cemberut, matanya melirik ke arah Kris dan Tao, mempelajari.

Sementara itu Kris terperangah melihat pemandangan di depannya. Wanita itu masih muda, sementara usia Mr. Kyuhyun dua kalinya... tetapi melihat bahasa tubuh mereka, sepertinya mereka adalah sepasang kekasih...

Mr. Kyuhyun memandang ke arah Kris dan tersenyum sambil mengangkat bahu,

"Saya menyewakan rumah ini untuk Tiffany... kekasih saya. Sangat tidak memungkinkan aku mengajaknya tinggal bersama di rumah yang saya tinggali sekarang di negara ini." Mr. Kyuhyun mengedipkan matanya, "Anda tahu aku punya anak dan isteri di negara asalku."

Kris hampir saja ternganga kalau dia tidak segera sadar dan mengatupkan mulutnya. Tentu saja... pantas Mr. Kyuhyun menyewa rumah ini dan tidak meninggalinya, hanya mengunjunginya sewaktu-waktu, ternyata rumah ini digunakan untuk tempat tinggal wanita simpanannya.

Tiba-tiba saja Kris merasa hampa dan kecewa, dia berpikir ada titik terang dalam pencariannya, ternyata instingnya salah. Kris menghela napas panjang, tetapi tetap saja ada hal-hal yang perlu ditanyakannya, dia menatap Mr. Kyuhyun dengan tajam, mencoba mencari celah sedikit saja dari ekspresi sempurna dan tak bersalah yang ditampilkan oleh lelaki tua itu.

"Saya sedang melakukan pencarian atas seorang gadis... saya mendengar dia berkencan dengan salah satu pengawal anda."

Mr. Kyuhun mengerutkan keningnya, dia lalu terkekeh setelah mencerna kata-kata Kris, lelaki itu melemparkan tatapan mata geli dan mencemooh,

"Saya tidak pernah mencampuri kehidupan asmara para pengawal saya, kalaupun anda ingin mencari tahu tentang mereka, yang bisa saya lakukan untuk membantu anda hanyalah memberikan list data diri para pengawal saya." Ada nada serius di balik senyum ramah lelaki tua itu, "Saya akan menyuruh pengacara saya mengirimkannya kepada anda."

Kris menatap lelaki itu lagi dalam-dalam, tetapi memang ekspresi Mr. Kyuhyun tidak terbaca, entah dia memang benar-benar jujur, atau jangan-jangan lelaki itu sangat pandai menutupi perasaannya, Kris tidak tahu. Dia membuka mulutnya, hendak mencecar Mr. Kyuhyun dengan berbagai pertanyaan karena dia masih merasa mengganjal dan belum puas, tetapi kemudian Tao menyentuh lengannya lembut, dan ketika Kris menatap Tao, perempuan itu melemparkan tatapan memperingatkan tanpa kata.

Seketika itu juga Kris menyadarinya, dia hampir saja bertindak kelewat batas dan kalau dia meneruskan tuduhan-tuduhannya tanpa bukti, mungkin saja itu bisa menyinggung perasaan Mr. Kyuhyun. Lelaki itu tadi menyebut 'pengacaranya' pastilah bukan hanya kata-kata sambil lalu.

"Kalau begitu saya permisi dulu Mr. Kyuhyun." Kris menganggukkan kepalanya datar, "Maafkan atas gangguan dari saya di istirahat siang anda."

Mr. Kyuhyun menganggukkan kepalanya, lalu mengedikkan bahunya ke arah pengawalnya yang langsung mengiringi Kris dan Tao keluar dari rumah itu.

Segera setelah mobil Kris keluar dari pintu gerbang, Mr. Kyuhyun menelepon Sehun,

"Everything is Ok." Gumamnya pada Sehun.

.

.

.

"Bagus." Sehun bergumam dalam senyuman puas. Lalu menutup teleponnya dan memandang Luhan dengan tatapan tajam dan sensual, "Sampai di mana kita tadi? Ah ya…. Aku akan menyadarkanmu bahwa kau adalah milikku." Jemari Sehun bergerak perlahan dan membuka kancing kemejanya.

"Jangan!" Luhan membelalakkan matanya panik ketika Sehun melepaskan kemeja yang dikenakannya dan sekarang telanjang dada di depan Luhan, "Sehun! Kau tidak boleh melakukannya." Jemari Luhan menampik di depan tubuhnya, mencoba melindungi dirinya dari sentuhan Sehun, tetapi lelaki itu menangkap kedua lengannya, lembut tetapi kuat, jantung Luhan berdegup kencang, dia ada di atas ranjang bersama lelaki yang bertekad untuk memaksakan kehendaknya. Oh Astaga.. apa yang akan terjadi kepadanya? Apa yang harus dia lakukan untuk menyelamatkan diri?

"Aku sangat merindukanmu, Lu." Dengan cepat Sehun menarik tubuh Luhan dan mendekatkannya ke dadanya, sampai tubuh Luhan menabrak dadanya, lalu kepalanya menunduk dan bibirnya mencari bibir Luhan, ketika mendapatkannya dia langsung memagutnya dengan penuh gairah, melumatnya tanpa ampun hingga membuat Luhan megap-megap.

"Lepaskan...mmppphh..." Luhan tidak mampu berkata-kata lagi ketika bibir Sehun benar-benar menguasai bibirnya. Lelaki itu benar-benar tidak mau memberi kesempatan kepada Luhan untuk melepaskan diri, tubuh Luhan didekapnya erat-erat dalam pelukannya sementara ciumannya semakin dalam, semakin panas dan semakin bergariah.

Lalu Sehun setengah membanting tubuh Luhan ke atas ranjang dan menindihnya. Bibirnya masih memagut bibir Luhan, menahan seluruh erangan dan teriakan protesnya. Lama kemudian, ketika tubuh Luhan melemas dan Sehun bisa merasakan penyerahannya, lelaki itu melepaskan ciumannya dan menatap Luhan yang berbaring di bawahnya, napas mereka berdua sama-sama terengah-engah, tubuh mereka hampir merapat dengan dada telanjang Sehun menempel di tubuh Luhan.

Lelaki itu berdebar. Luhan menatap mata gelap Sehun dan menyadari bahwa lelaki itu masih menahan kedua pergelangan tangannya, dengan tubuh menindihnya. Debarannya terasa sampai ke dada Luhan... dan kejantanan lelaki itu sudah bergairah di bawah sana, mendesak di antara pangkal paha Luhan, membuat pipinya merona merah,

"Aku tidak akan menyakitimu, Luhan... tidak akan..." Bibir Sehun bergerak lembut dan mengecup dahi Luhan, mengirimkan sensasi seperti meremas jantungnya, bibir lelaki itu lalu turun dan mengecup alis Luhan, tak kalah lembut, lalu turun ke matanya, ke pelipisnya, ke pipinya, ke dagunya, ke rahangnya dan mengirimkan kecupan-kecupan kecil tanpa henti ke seluruh bagian wajah Luhan, jemarinya meraba dengan lembut, mengusap permukaan lengannya kemudian menuju ke payudaranya, menyentuhnya dengan remasan sambil lalu, mengirimkan percikan api ke seluruh tubuh Luhan.

Luhan merasakan tubuhnya melayang, antara mau dan tidak mau. Sensasi ini terlalu hebat untuk didapat perempuan yang tidak berpengalaman seperti dirinya, dia bingung.

Sehun sepertinya mengetahui kebingungan Luhan, dia mengecupi cuping telinga Luhan dan berbisik serak, penuh gairah,

"Lepaskan semua Luha, kau tahu kau menginginkanku, sebesar aku menginginkanmu." Logat Italia Sehun terdengar kental ketika mengucapkan rayuannya, karena gairahnya.

Luhan membelalakkan mata, dihantam oleh gairah yang sebelumnya tidak pernah dirasakannya, ketika Sehun meraih tangannya dan menempatkannya di bawah, di atas kejantannya yang begitu keras, siap untuk memiliki Luhan.

"Kau rasakan itu, sayang? Kau rasakan betapa aku menginginkanmu? Luhan... perempuanku, kau sudah membuatku menunggu begitu lama..."

Lelaki itu kemudian menurunkan gaun Luhan, masih dengan kelembutan yang menghipnotis, yang membuat Luhan hanya terdiam, menunggu dengan jantung berdebar dan perasaan penuh antisipasi.

Lalu giliran Sehun membuka celananya, menunjukkan keseluruhan tubuh telanjangnya yang bergairah, begitu kokoh dan mengeras untuk Luhan.

Luhan memalingkan mukanya, merasa malu dan bingung karena merasa begitu ingin tahu akan apa yang akan dilakukan oleh Sehun selanjutnya kepadanya. Luhan malu karena tidak mampu meronta lagi, gairah yang ditumbuhkan Sehun di dalam dirinya telah membuatnya terbakar dan ingin lebih lagi. Lelaki ini sangat ahli dalam mencumbu Luhan, mengenai titik-titik sensitif di dalam tubuhnya.

Ketika kemudian kejantanan Sehun yang begitu keras dan panas menyentuh pangkal pahanya, Luhan terkesiap, kaget karena sentuhan kulit itu terasa membakar di titik paling sensitif tubuhnya. Dengan panik Luhan berusaha mendorong tubuh kuat Sehun di atas tubuhnya, tetapi Sehun menenangkan Luhan, dengan bisikan-bisikan rayuan lembut di telinganya, dan usapan di buah dada dan lengannya.

Lelaki itu menahan diri untuk memasuki Luhan, dia menundukkan kepalanya dan kemudian mengecup lembut puting buah dada Luhan, hanya kecupan sambil lalu, tetapi puting buah dada Luhan langsung menegang, seolah meminta lebih.

Sehun tersenyum tipis., kemudian memberikan apa yang diminta oleh tubuh Luhan kepadanya. Bibirnya membuka sedikit dan menangkup puting buah dada Luhan ke dalam kehangatan mulutnya, lidahnya mencecap, mencicipi tekstur lembut dari buah dada Luhan dan putingnya yang mengeras, dan kemudian tanpa peringatan, lelaki itu menghisap payudara Luhan, membuat Luhan mengerang tertahan dengan napas terengah dan jantung berdebar, merasakan sensasi berkunang-kunang di matanya, serta kenikmatan yang membakar di dadanya, mengalir ke pangkal pahanya, membuatnya membuka pahanya tanpa sadar dan menerima sentuhan kejantanan Sehun di sana.

Lelaki itu merasakan betapa panasnya kewanitaan Luhan, basah dan hangat, siap menerimanya, dengan lembut Sehun menekankan kejantanannya, berusaha tidak membuat Luhan terkejut, tetapi seperti sudah seharusnya terjadi, kewanitaan Luhan melingkupinya dengan hangat, seakan menghisapnya untuk terus masuk lagi ke dalam, mendorongnya untuk menekankan dirinya dalam-dalam jauh ke dalam kehangatan tubuh Luhan.

Sehun mengerang dan mencoba menahan dirinya, dia tidak boleh terburu-buru meskipun hal ini sudah dinantikannya begitu lama sampai membuatnya nyaris gila karena mendamba. Tubuh Luhan yang indah sekarang ada di bawahnya, pasrah untuk termiliki, dan Sehun sudah berada di ujung kesabarannya. Akhirnya, dengan erangan parau dalam upayanya untuk tetap bersikap lembut, Sehun mendorong dirinya, menguakkan kelembutan yang telah sekian lama didambakannya itu dan menyatukan tubuhnya dengan tubuh Luhan, sedalam-dalamnya,

Luhan terkesiap, mengerang dan mengangkat pahanya tanpa sadar melingkari pinggul Sehun, membuat lelaki itu leluasa menenggelamkan dirinya di sana.

Sejenak Sehun terdiam, menikmati kehangatan basah tubuh Luhan yang melingkupinya, memberikan kesempatan bagi Luhan untuk beradaptasi dengan tubuhnya, lalu lelaki itu menundukkan kepalanya dan matanya bersinar lembut ketika menemukan bagaimana mata Luhan bersinar takjub dan bingung. Mata Luhan yang besar menatap Sehun setengah panik, setengah terhipnotis.

Sehun lalu menundukkan kepalanya, mendekatkan bibirnya untuk mengecup kedua kelopak mata Luhan sehingga mata itu tertutup,

"Nikmati saja, sayang." Desis Sehun parau, lalu menggerakkan pinggulnya pelan, merasakan gairah yang luar biasa membakarnya atas sensasi yang membakarnya itu. Dia lalu menggerakkan tubuhnya lagi, menggoda Luhan, membuat jantung Luhan berdegup kencang dan nafasnya semakin cepat.

Tubuh dua anak manusia itu menyatu dalam gerakan-gerakan yang sudah ditakdirkan sejak manusia diciptakan di bumi ini. Gerakan penuh gairah, penyatuan diri untuk mencapai orgasme yang luar biasa.

Sehun mempercepat gerakan tubuhnya, merasakan kenikmatan itu datang dan membuat tubuhnya gemetar. Oh ya ampun, Luhan benar-benar luar biasa, perempuan itu membuatnya melayang. Sehun menatap Luhan, dan membuat perempuan itu membuka matanya,

"Tatap aku, sayang, tatap aku dan lihatlah betapa kau memberikan kepuasan kepadaku." Sehun mengernyit menahan dorongan kenikmatan yang berdentam-dentam di kepalanya, "Tatap aku Luhan..." Lalu Sehun mengerang dalam, mencapai orgasmenya yang sangat luar biasa.

Luhan mencoba mengikuti instruksi Sehun untuk menatapnya, tetapi ketika Sehun dihantam oleh kenikmatannya sendiri, Luhan pun ikut larut ke dalam orgasmenya yang luar biasa. Pelepasan itu terasa nikmat, membuat Luhan melayang dan memejamkan matanya, hanyut dalam ledakan orgasme Sehun yang terasa panas dan hangat, menyembur jauh di dalam tubuhnya.

Kemudian mereka terdiam, dengan tubuh Sehun masih menindih tubuhnya dan tungkai Luhan yang melingkari pinggul Sehun, napas mereka terengah-engah dan debaran jantung mereka masih berkejaran.

.

.

.

Kris menyetir mobilnya kebingungan dan menghela napas panjang berkali-kali, ketika berada di lampu merah, dia berhenti dan menoleh, menatap Tao yang berkali-kali mencuri pandang ke arahnya,

"Ada yang aneh, aku tahu, sepertinya ada yang disembunyikan di balik sikap ramahnya itu."

"Mungkin kau yang terlalu curiga, Kris." Perempuan itu menatap rekan agen sekaligus atasannya itu dengan tatapan mata penuh arti, "Dia hanyalah seorang lelaki tua yang genit."

Kris menelaah semuanya. Lalu sekali lagi menghela napas panjang, mungkin memang dia yang terlalu curiga, mungkin dorongan Kris untuk bisa menemukan Luhan, membuatnya memaksakan seluruh petunjuk yang ada.

"Kau benar, Tao. Maafkan aku... misi ini terlalu mempengaruhi emosiku."

Tao menatap Kris penuh pengertian, "Aku mengerti, Kris." Dan ketika memalingkan mukanya jauh dari pandangan Kris, Tao tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Kini semuanya beres, Kris tak akan pernah bisa menemukan Luhan. Dan ketika Kris bisa menerima kenyataan bahwa antara dia dan Luhan sudah tidak ada harapan, maka akan muncul kesempatan bagi Tao untuk menyusup ke dalam hati Kris. Tao bisa bersabar sampai saat itu tiba.

.

.

.

Irene marah luar biasa, dia datang ke rumah tempat Sehun menyekap Luhan, hanya untuk menemukan Mr. Kyuhyun yang ada di sana. Lelaki tua itu menatap Irene seolah ia adalah anak kecil yang bodoh,

"Sehun tidak ingin kau tahu apapun tentang rencanamu selanjutnya nak, dia sudah mencampakkanmu."

Irene mendengus marah, menatap Mr. Kyuhyun dengan panuh tuduhan, "Sehun tidak mungkin melakukannya!"

Kyuhyun menghela napas panjang dan mengibaskan tangannya,

"Pergilah Irene dan lakukan hal-hal yang mungkin lebih berguna daripada mengejar-ngejar Sehun, kau seharusnya sadar bahwa kau tidak akan mendapatkannya." Kyuhyun melemparkan pandangan jijik ke arah Irene, lalu berdiri dan meninggalkan Irene sendirian di ruang tamu itu, lelaki itu melangkah menaiki tangga diikuti oleh TTiffany, yang sekarang sudah tidak berpakaian seksi lagi. Perempuan itu adalah salah satu pengawal Kyuhyun yang membantu sandiwaranya untuk mengusir Kris beserta kecurigaannya dari rumah ini.

Sementara itu Irene memandang sekeliling dengan geram bercampur kemarahan, dia tidak akan membiarkan Sehun lepas darinya, dia tidak akan menyerah! Apapun akan dilakukannya untuk mendapatkan Sehun kembali dalam jangkauannya. Sehun miliknya! Irene tidak akan membiarkan siapapun merenggutnya darinya.

.

.

.

Luhan merasakan perasaan yang samar di tubuhnya, perasaan samar yang familiar sekaligus asing... rasa yang memenuhi pangkal pahanya...

Dia terkesiap dan langsung terduduk dari ranjangnya, tetapi usahanya tertahan oleh sebuah lengan yang melingkupi pinggangnya. Luhan menatap lengan itu, lalu menatap lelaki pemilik lengan itu dan terkesiap.

Astaga... ya ampun... Luhan berusaha mengumpulkan ingatannya, suatu hal yang sangat sulit dilakukannya ketika baru terbangun dari tidurnya.

Lelaki ini semalam telah berhasil merayunya, membuat Luhan menyerahkan dirinya! Tubuh Luhan gemetaran, merasa malu dan menyesal kepada dirinya sendiri, dia benar-benar seperti perempuan murahan, larut ke dalam rayuan lelaki ini dan menyerahkan tubuhnya!

Luhan bukan perempuan seperti itu! Dia perempuan baik-baik yang selalu ingin menjaga tubuhnya untuk suaminya nanti... dan sekarang, Oh Sehun telah merenggut semuanya!

Dengan kasar, terdorong oleh kemarahan dan kekecewaannya kepada dirinya sendiri, Luhan mendorong lengan Sehun yang masih melingkari tubuhnya dengan posesif, membuat lelaki yang masih terlelap dalam tidurnya itu menggeliat, merasa diusik dari kelelapannya.

Sehun membuka matanya, mengernyit sebentar karena sinar matahari sore sudah menembus tirai kamar itu, membuat matanya harus beradaptasi. Dia kemudian menolehkan kepalanya dan melihat Luhan sudah terduduk, dengan tatapan membara marah kepadanya.

Perempuan kecilnya ini siap meledak rupanya. Sehun tersenyum dan melemparkan tatapan mata menggoda, menelusuri tubuh Luhan,

"Selamat pagi, Luhan. Setelah sekian lama, akhirnya aku menemukan pemandangan yang sangat indah ketika aku bangun tidur."

Luhan mengikuti arah pandangan Sehun dan memekik ketika menyadari bahwa dadanya telanjang, bebas terbuka di bawah tatapan mata Sehun. Dengan panik, dia meraih selimut yang bergumpal acak-acakan di sekitar pinggulnya dan menaikkannya ke dadanya, usahanya itu malah membuat selimut yang sama yang ternyata juga menutupi bagian pinggang ke bawah Sehun tertarik dan membuka.

Luhan mengerang malu dan memalingkan muka, memejamkan mata dan merasakan tubuhnya merona dari ujung kepala ke ujung kakinya ketika menyadari bahwa meskipun sekilas tadi, dia telah melihat betapa kejantanan Sehun telah sangat bergairah dan keras, begitu siap...

Luhan mendengar Sehun terkekeh, menertawakan tingkah konyol Luhan, lelaki itu lalu berdiri, tidak mempedulikan ketelanjangannya, dan seolah makin geli melihat Luhan memalingkan muka sambil memejamkan matanya, tidak mau melihat,

"Kenapa harus malu, sayang?" Sehun yang berdiri di pinggir ranjang membungkuk dan meraih dagu Luhan yang terduduk di tengah ranjang sambil memeluk selimutnya di dadanya, " Apakah kau tidak ingat betapa semalam kau sangat menikmati memandang, menelusuri dan mencecap seluruh tubuhku?"

Wajah Sehun yang begitu dekat membuat Luhan membuka matanya dan langsung berhadapan dengan mata cokelat gelap yang indah itu. Luhan merasa amat sangat malu, dan dia semakin terkesiap ketika melihat bekas-bekas merah di pundak dan dada Sehun, lelaki itu mengikuti arah pandangan Luhan dan tertawa.

"Ya, sayang kau yang meninggalkan bekas-bekas ini di tubuhku. Luhan yang suci ternyata tak sesuci yang dikira, kalau saja kau mampu mengingat betapa bergairahnya kau dibawah tubuhku... kau pasti akan mengakui bahwa jauh di dalam sana, kau sangat menginginkanku untuk memuaskanmu." Sehun memaksakan Luhan mendekat dengan mencengkeram dagunya lembut, lalu lelaki itu mengecup bibir Luhan dengan menggoda.

"Kau milikku Luhan, dan akan selalu menjadi milikku, ingat itu." Dan kemudian sambil meraih celananya yang terlempar di lantai, beberapa meter dari ranjang, Sehun berjalan ke arah pintu, berhenti sejenak untuk memakai celananya, lalu tanpa menoleh lagi membuka pintu kamar, dan melangkah keluar serta menguncinya dari luar, mengurung Luhan kembali di dalam kamar.

Luhan tidak berani melihat Sehun sama sekali. Padahal tadi dia sudah bersiap untuk marah besar kepada lelaki itu, kalau perlu dia ingin menampar, memukul atau bahkan mencakar wajah yang sempurna itu sebagai pelampiasan kemarahannya karena telah diperdaya dengan rayuan lelaki itu. Tetapi sayangnya, ketika Sehun membuka matanya, lelaki itu langsung memancarkan nuansa arogan yang membuat siapapun lawannya tak berdaya, begitupun Luhan.

Kemudian kalimat Sehun terngiang di kepalanya,

Luhan yang suci ternyata tak sesuci yang dikira...

Luhan mengintip ke bawah selimutnya dan mengernyit. Tidak ada darah di sana, bukankah ini saat pertamanya? Bukankah sebagian besar perempuan mengeluarkan darah di malam pertama?

Tetapi memang Luhan pernah membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa tidak semua malam pertama harus berdarah, karena perempuan memiliki selaput dara yang berbeda-beda, ada yang elastis, ada yang tidak, ada yang pembuluh darahnya banyak ada yang tidak. Bahkan kadangkala proses penetrasi bisa saja tidak merobek selaput dara sepenuhnya. Di artikel itu dikatakan bahwa mengukur kesucian dengan darah di malam pertama adalah hal yang picik dan kuno.

Tetapi... bagaimanapun juga, bukankah meskipun jika tidak ada darah, setidaknya akan terasa sakit ketika tubuh seorang lelaki memasukinya pertama kalinya? Luhan mencoba menelaah tubuhnya dan tidak merasakan sesuatupun, semua terasa nyaman dan baik-baik saja...Ingatan erotis semalam membuatnya menggelenyar ketika mengenang betapa mudahnya tubuh Sehun meluncur masuk ke dalam tubuhnya, meski tahap pertama agak susah, tetapi kemudian lelaki itu bisa memasukinya dengan begitu dalam dan nikmat, tanpa ada rasa sakit sedikitpun.

Luhan memegang keningnya yang terasa pening, antara bingung dan putus asa. Ya ampun, apakah dia sebenarnya bukanlah perempuan suci pada saat kemarin Sehun membuatnya terpedaya? Kalau begitu? Sebelumnya Luhan pernah bercinta? Ataukah memang Sehun terlalu ahli dalam mencumbunya sehingga Luhan benar-benar siap dan tidak merasakan sakit sama sekali?

.

.

.

Kris tengah duduk di tengah kamarnya, merenung. Luhan. Nama itu berkutat terus menerus di dalam benaknya, membuatnya hampir gila memikirkan tentang Luhan.

Perasaan yang paling menyakitkan adalah ketika menyadari bahwa dia tidak berdaya untuk menemukan perempuan yang dicintainya. Dia mengangkat teleponnya dan menghubungi atasannya.

"Aku tidak bisa menemukannya."

Atasannya terdiam sedikit lama sebelum bersuara, "Kau sudah berusaha, team kita akan terus mencari." Lelaki itu berdehem, "Aku hanya berharap ketika ingatan Luhan kembali, dia sedang bersama kita, bukan sedang bersama "Sang Pembunuh" itu."

Kris mengernyitkan keningnya, "Apakah bagimu yang penting hanya ingatan Luhan? Kenapa tidak memikirkan keselamatan Luhan?"

"Ingat Kris, jangan terbawa emosi dalam melaksanakan tugas ini, kau tentu ingat misi utama kita adalah menjaga Luhan sampai ingatannya kembali. Kita mencemaskan bahwa dia mengetahui sesuatu tentang hasil penelitian ayahnya yang mungkin membahayakan pertahanan dan keamanan negara kita. Sampai dengan saat ini kita belum pasti, karena itulah kita harus menjaga Luhan sampai ingatannya kembali dan kita bisa memastikan." Atasan Kris menghela napas panjang, "Hanya yang tidak terduga, "Sang Pembunuh" ini kembali dan mengejar Luhan."

"Dan Luhan bisa saja sudah dibunuh olehnya." Kris mengerang parau. Bagaimana mungkin atasannya menyuruhnya untuk tidak melibatkan perasaanya dalam hal ini? Bagaimana mungkin dia bisa melakukannya?

"Aku masih berharap dia hidup dan baik-baik saja. Ingat berkas-berkas yang kutunjukkan kepadamu itu? Sebuah catatan harian dari mendiang ayah Luhan yang selama ini kita rahasiakan? Kalau memang yang tertulis di sana benar, mungkin saja "Sang Pembunuh" tidak membawa Luhan untuk dibunuh."

Hati Kris semakin terasa sakit ketika mengingat terntang berkas yang ditunjukkan oleh atasannya dulu itu, berkas yang membuatnya mengambil keputusan impulsif menjauhi Luhan dan menyuruh perempuan itu menjauhinya dengan kasar pula. Sejak kelakuannya itu, dia tahu bahwa perasaan Luhan sudah tidak sama lagi kepadanya, Luhan kecewa dan kehilangan kepercayaan kepadanya. Kris mengerang merasa bodoh karena perasaan cemburunya malahan menghancurkan semuanya.

"Aku juga berharap begitu." Jawab Kris, meskipun hal itu terasa bagai buah simalakama bagi dirinya. Kalau "Sang Pembunuh" itu tidak mengambil Luhan untuk dibunuh... berarti dia akan mengambil Luhan untuk dimiliki...

.

.

.

Irene menatap ponsel di tangannya dan mengernyit dia sudah mencoba menghubungi nomor Sehun sejak tadi tapi nomornya tidak dapat dihubungi. Sejak pulang dari tempat Sehun dan menemukan bahwa Mr. Kyuhyun lah yang ada di sana, dan Sehun telah membawa pergi Luhan ke sebuah tempat yang tidak dia tahu, hati Irene terasa bergemuruh. Apalagi ketika dia melongok ke meja kerja Luhan yang selalu kosong, membuatnya merasa semakin terbakar.

Kemana Sehun membawa Luhan? Apakah dia membawa perempuan itu ke tempat eksotis di Italia? Tempat kelahirannya? Irene menggeram, seharusnya dia yang ada dibawa ke sana, menikmati percintaannya dengan Sehun. Seharusnya dia menyingkirkan Luhan dari awal, bukannya ikut membantu rencana Sehun untuk mendapatkan Luhan. Sekarang Sehun meninggalkannya begitu saja, menyakiti hatinya.

Benak Irene berputar, mencari cara untuk menemukan kemana Sehun membawa Luhan, dia akan mencarinya di perusahaan ini, perusahaan tempat dirinya disusupkan untuk bekerja dan menyamar serta mendekati Luhan dan menjadi sahabatnya.

Irene tahu pasti bahwa Sehun memiliki orang dalam di perusahaan ini, hanya saja dia tidak tahu siapa... tetapi Irene sudah menduganya, orang itu mungkin saja adalah Kim Jongin. Irene melangkah menelusuri tempat Kim Jongin berkantor sementara, matanya melirik dengan tatatapan penuh arti.

Sebenarnya dia sudah selangkah lebih maju, didorong oleh kecurigaannya, Irene sudah memasang penyadap di dalam ruangan kantor Jongin itu, tersembunyi dengan rapi di bawah meja Jongin….. penyadap itu bisa menangkap percakapan apapun di dalam ruangan itu dengan jelas. Sekarang yang bisa Irene lakukan hanyalah menunggu. Kalau dugaannya benar bahwa Jongin ada hubungannya dengan Sehun, dia pasti akan menemukan petunjuk keberadaan lelaki pujaannya itu.

.

.

.

"Kemana Bibi Heechul, paman? Kenapa beliau tidak ikut kemari?" Jongin duduk di sofa menghadap paman Siwon, sahabat ayahnya yang berkunjung ke kantor ditengah kunjungan liburannya bersama isterinya.

Siwon tersenyum, menatap anak sulung dari Junmyeon sahabatnya yang tanpa terasa telah tumbuh menjadi lelaki dewasa yang tampan seperti ayahnya, hanya saja ketampanan Jongin lebih mencolok dibandingkan ayahnya, dengan wajah seperti visualisasi malaikat pada jaman Renaissance,

"Dia masih lelah setelah perjalanan. Mungkin nanti malam kita bisa makan malam bersama." Siwon menyebut nama hotelnya, meminta Jongin berkunjung setelah makan malam. "Heechul membutuhkan liburan ini, tempat ini tenang, dan kau tahu, setelah kejadian itu Heechul tidak pernah sama lagi."

Jongin menatap wajah Siwon yang sedih dan menganggukkan kepalanya. Dia tiba-tiba merasa sedih dan iba sekaligus. Kemudian dia menghela napas dan berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa muram, "Ide bagus, aku sedikit bosan menghabiskan malamku di kota ini, tidak banyak hiburan yang bisa didapat. Tetapi hal ini ada baiknya juga karena aku bisa memperoleh masa tenangku." Jongin mengedipkan matanya penuh arti kepada Siwon, membuat Siwon tergelak. Lelaki ini kelakuannya mirip dengan ayahnya di masa muda, pemain wanita. Tetapi Siwon tahu pria-pria seperti itu pada akhirnya akan berlabuh ketika menemukan wanita yang tepat.

"Kau bisa meminjam pulau pribadiku itu semaumu kalau kau menginginkan masa tenang.. Oh ya apakah tamumu sudah nyaman di sana? Kemarin kepala pelayanku di sana memberitahu bahwa tamumu sedikit membuat kehebohan karena dia datang dengan membawa pengawal-pengawal yang berjaga di sekeliling rumah." Siwon menatap Jongin dengan pandangan mata menyelidik, "Kau tidak sedang berurusan dengan mafia atau sejenisnya bukan? Karena ayahmu akan membunuhku kalau sampai aku meminjamkan pulauku untuk teman mafiamu."

Jongin tergelak, "Tenang saja paman Siwon, aku tidak sedang berurusan dengan mafia kok, aku sedang berurusan dengan sahabatku, yang sedang berusaha mendapatkan keinginannya"

Di luar, di ruangan lain, di mejanya sendiri, Irene mendengarkan seluruh percakapan yang terdengar jelas dari alat penyadapnya melalui earphone khusus di telinganya, dan tidak bisa menahankan seringainya. Dia sungguh beruntung.

Dengan tergesa Irene menyalakan komputernya, ini tengah hari, dan kebanyakan pegawai sedang keluar untuk makan siang sehingga suasana kantor sedikit lengang, Irene mencari di mesin pencarian dan memasukkan nama Choi Siwon. Lelaki itu cukup terkenal, jadi tidak menutup kemungkinan Irene bisa menemukan dimana pulau yang dimiliki oleh Siwon itu.

Gotcha!

Irene hampir tidak bisa menyembunyikan seringainya ketika sebuah cuplikan berita memuat tentang profil Choi Siwon, lelaki ini memiliki sebuah pulau kecil pribadi yang lokasinya dekat dengan pulau Jeju, dan bisa diakses dengan perahu boat.

Dengan cepat Irene langsung membuat panggilan ke agen perjalanan, "Halo saya ingin memesan tiket ke pulau Jeju, malam ini juga."

Setelah mengurus semuanya, Irene teringat pada Kris. Dia tidak mungkin datang ke sana sendirian dan mencoba merenggut Sehun, yang ada lelaki itu mungkin akan mengusirnya atau malah membunuhnya. Irene membutuhkan bantuan untuk memisahkan Luhan dari Sehun...

Dengan tergesa Irene langsung memencet nomor ponsel Kris yang tentu saja diketahuinya,

"Halo?" Suara Kris menyahut di sana, lelaki itu melihat nomor Irene dan mengernyitkan keningnya. Mereka dulu memang rekan sekerja dan saling bertukar telepon, tetapi tidak pernah sekalipun Irene meneleponnya sebelumnya.

"Kris? Ini Irene." Suara Irene terdengar setengah berbisik, "Kau ingat pertemuan terakhir kita kemarin dimana aku mencurigai bahwa Luhan bukannya pergi untuk tugas bisnis seperti yang dikatakan oleh atasan Luhan? Kurasa dugaanku bahwa Luhan sedang berkencan dengan lelaki eksotisnya betul, barusan tanpa sengaja aku mendengar percakapan Kim Jongin...

.

.

.

Sementara itu, di ruangannya, sepulangnya Siwon dari sana, Jongin langsung menelepon Sehun,

"Halo." Jawaban Sehun di seberang sana terdengar galak, sepertinya laki-laki itu sedang gusar.

"Hei.. hei.. ini aku jangan marah padaku, ada apa Sehun?" Jongin langsung menyahut dengan geli.

Sementara itu Sehun tercenung, dia benar-benar harus menjaga emosinya kalau berdekatan dengan Luhan, tetapi perempuan itu…. Oh Astaga, bahkan kenikmatan itu masih berdenyar di seluruh tubuh Sehun, kenikmatan ketika tubuhnya menyatu dengan tubuh Luhan, ketika dia membawa Luhan mencapai puncak kenikmatan bersamanya…. Penantiannya yang begitu lama telah terpuaskan seketika, tetapi kenapa Luhan bahkan tidak mampu menerimanya?

"Sehun?" Jongin bergumam lagi ketika tidak menemukan jawaban dari Sehun, membuat lelaki itu mengerjap, kembali dari alam lamunannya.

"Ya, Jong, ada apa?"

"Paman Siwon tadi kemari, dia bilang kau membuat kehebohan di sana karena membawa begitu banyak pengawal." Jongin terkekeh, "Aku harap kau tidak terlalu mencolok di sana, paman Siwon bahkan mengira aku sedang berurusan dengan mafia. Kau harus berhati-hati dengan penduduk di sana, bagaimanapun juga sekali waktu beberapa penduduk ada yang pergi dan pulang dari pulau Jeju untuk mengambil beberapa pasokan bahan pangan, kalau kau terlalu mencolok, mungkin saja para penduduk itu akan membicarakanmu dengan orang-orang di pulau Jeju dan kau bisa ketahuan."

Sehun mengernyitkan keningnya, "Jadi aku harus bagaimana?"

"Yah, mungkin kau bisa sembunyikan pengawal-pengawalmu itu, dan bertingkahlah seperti pengunjung pulau biasa yang datang berkunjung untuk berlibur."

Sehun tampak memikirkan usulan Jongin itu, dia lalu menghela napas dan menganggukkan kepalanya,

"Aku akan mengurangi beberapa pengawalku dan menyuruh mereka semua kembali pada Kyuhyun, kau benar, seharusnya aku tidak berlebihan dalam penjagaan dan membuat diriku mencolok, lagipula pulau ini adalah pulau terpencil, jadi kecil kemungkinan ada yang bisa masuk tanpa ketahuan."

.

.

.

Setelah menutup pembicaraan, Sehun memanggil Chanyeol yang segera datang menghadapnya,

"Instruksikan para pengawal untuk pulang ke Kyuhyun, tinggalkan dua atau tiga pengawal terbaik saja di sini."

Chanyeol mengerutkan keningnya, tidak setuju, "Maksud anda? Anda akan melonggarkan pengamanan di sekitar pulau ini?"

Sehun menganggukkan kepalanya,

"Kita terlalu mencolok dengan semua pengawal-pengawal itu, Chanyeol, sebagian penduduk bahkan sudah menggosipkannya hingga sampai ke telinga Choi Siwon. Aku pikir kita cukup dengan beberapa pengawal saja, lagipula ini pulau terpencil dan kecil kemungkinan akan ada orang yang tahu kita di sini."

Chanyeol terpekur, dan meskipun masih memendam rasa tidak setuju, dia menganggukkan kepalanya dengan patuh,

"Baik. Akan saya instruksikan kepada semuanya."

.

.

.

Begitu menerima informasi dari Irene, Kris langsung berkemas, dia memutuskan tidak akan memberitahu atasannya dan berangkat sendiri menjalankan misi menyelamatkan Luhan. Atasannya pasti akan menyuruhnya duduk dan mengadakan meeting dengan semua agennya untuk mengatur strategi, lagipula atasannya tampaknya tidak begitu peduli dengan keselamatan Luhan, yang dipedulikannya adalah informasi penting yang mungkin ada di ingatan Luhan yang hilang yang tidak boleh sampai bocor ke orang lain, apalagi ke tangan "Sang Pembunuh."

Mungkin malahan atasannya itu akan lega kalau Luhan terbunuh, jadi semua informasi rahasia yang mungkin ada akan lenyap selamanya bersama lenyapnya Luhan.

Kris menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir pikiran negatif itu. Dia harus bertindak sendiri sekarang, dengan cepat dan rahasia. Setidaknya kalau informasi dari Irene salah, dia tidak akan menuai kecaman dari atasannya, sama seperti ketika dia memimpin pengawasan dan penyerbuan ke rumah Mr. Kyuhyun yang ternyata membuatnya tampak bodoh dan memiliki kecurigaan yang tidak beralasan.

Akan sama kalau Kris menginformasikan tentang pulau yang dimiliki oleh Choi Siwon ini kepada atasannya, atasannya hanya akan menyuruhnya untuk bertindak tidak gegabah dan menyelidiki semuanya dulu pelan-pelan. Kris tidak mau menunggu. Dia punya firasat dan kali ini dia yakin, firasatnya pasti benar.

.

.

.

TBC


Sorry chap sebelumya aku posting ulang karena emang ada typo :D

Mohon maaf yaa semua~~

.

.

Yeiiyyy HunHan ~~

Sapa yang nunggu HunHan dari kemaren? Nah, udah terkabul kan?

Papih Siwon juga muncul di chap ini walaupun cuma dikit XD

.

.

Mbak Irene makin jahat duuhhh :(

Dan buat Chap depan itu bikin baper :D

Aku baca novelnya sampe nangis :'( *ga nanya*

.

.

Okey, cukup sampai disini~~

See you~~~