"Kalian tahu? Sebenarnya dulu ia tidak begitu. Ia adalah anak yang benar-benar ceria. Sebelum sesuatu mengubahnya." ujarnya menimbulkan rasa penasaran.

Jungkook dan Yugyeom menatap Jimin dengan lekat, "Sesuatu?"

"Yaaah.. Kalian akan tahu nanti."

.

.

.

.

.

.

.

scavenged

.

.

notes: aku ganti ratingnya abisnya aku sadar mulai dari sini bakalan banyak kata2 dan umpatan yang kurang pantes buat rate T sih ya/?._.

dan kayanya ke depannya bakalan ada adegan anu(?) /dor

yassss, anticipated this, 'kay(?) /w\

.

.

.

.

Sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah besar yang terkesan megah dan mewah. Rumah ini dapat dikatakan sebagai rumah impian para gadis kecil karena tampilannya yang mendekati sebuah istana –meski si tuan rumah telah berkali-kali menyangkal bahwa rumahnya ini tidak sebegitu mewah seperti yang orang-orang katakan.

Seorang pemuda berpakaian seragam sekolah keluar dari dalam mobil. Ia melempar kunci mobilnya saat seorang pelayan menghampirinya. Tanpa berkata apapun, pelayan itu telah mengerti bahwa ia harus memarkirkan mobil ini pada tempatnya. Dan setelah membungkuk sedikit pada pemuda itu si pelayan bergegas memindahkan mobil.

Pemuda itu memiliki tatapan dingin yang terpatri di wajah datarnya. Tak memandang siapapun itu, ia selalu menatap orang-orang dengan tatapan khasnya.

Ia menggendong tasnya di bahu dan berjalan lurus menuju pintu. Setiap pelayan yang bertatap muka dengannya selalu berseru, "Oh, tuan muda, anda pulang cepat hari ini." dan lain-lain yang ia anggap sangat berisik.

Pemuda brunette itu memasuki rumah dan melempar tasnya ke sembarang arah. Ia melonggarkan ikatan dasi di lehernya dan membuka satu kancing atas seragamnya lalu merebahkan diri ke atas sofa.

Ia menatap langit-langit dan mengambil nafas, "Pulang pun tak ada gunanya," sebuah senyum getir terulas di bibirnya, "Eomma, sejak dulu kau selalu mengajakku jalan-jalan ke manapun aku mau. Kau tak pernah sekalipun meninggalkanku sendirian, kau tak pernah protes apapun keinginanku," pemuda itu berhenti sejenak, "Saat kau bekerja aku selalu menemukanmu sudah berada di rumah sebelum aku pulang," ia mengusap kasar kedua matanya yang memanas, "Apa sekarang kau lebih suka berada di atas sana dibanding bersamaku?"

Pemuda itu memekik selama beberapa detik. "F*ck, mengapa kau secengeng ini!" ia mengumpat dirinya sendiri dan menendang salah satu meja. "Damn that stupid a**hole shitty organization!" ia kembali kehilangan kendali atas dirinya.

Setelah beberapa menit, ia berhasil mengambil alih kendali dirinya. Ia selalu berakhir seperti ini saat dirinya tidak mengunjungi 'tempat pengalihan perhatian' yang biasa ia kunjungi di mana ia akan pulang sangat larut dan dirinya akan segera tertidur tanpa teringat kembali kenangan menyakitkannya.

Pemuda itu melempar tubuhnya ke atas matras dan menggunakan lengannya untuk menutupi wajahnya. Berusaha menjernihkan pikirannya, ia bergumam mengapa hari ini ia memutuskan untuk langsung pulang ke rumahnya?

Pikirannya melayang pada 'tempat pengalihan perhatian' itu.

"Tentu saja karena sebenarnya kau sama sekali tidak menginginkan untuk menginjakkan kakimu ke tempat itu."

"Apa yang kau tahu? Kau tidak mengerti apa-apa alasan mengapa aku pergi ke sana!"

"Tentu saja aku tahu! Aku adalah dirimu, Kim Taehyung!"

Taehyung, pemuda itu menghadapi perdebatan dengan dirinya sendiri di dalam otaknya. Ia menggeretakkan giginya, "Oh, diamlah!" ujarnya seraya mengacak surainya.

Tiba-tiba bayangan seseorang muncul dalam pikirannya.

"Oh, namaku Jungkook. Jeon Jungkook, sun–aah, hyung."

Apa?

Taehyung tersentak, ia bangkit dari posisi tidurnya.

Jeon Jungkook?

"Mengapa aku harus membayangkan bocah itu? Semua ini sudah terlalu memusingkan!"

Taehyung kembali mengacak surainya.

"Karena bocah itu sebenarnya menarik perhatianmu."

"Apa? Bagaimana bisa aku tertarik pada bocah yang baru pertama kali kulihat!"

"Ah, akuilah, bocah itu jauh lebih menarik dibanding para jalang di tempat–"

"Sial! Diamlah!"

"Aku adalah kau, ingat? Dan apa kau perhatikan wajah bocah itu begitu lucu saat ia terkejut dengan kehadiranmu. Dan, ooh, bibirnya nampak legit."

"AARGH!"

Taehyung menghabiskan harinya dengan perdebatan sengit antara dirinya dengan dirinya.

.

.

.

.

.

.

Jungkook tengah sibuk membalik-balikkan halaman suatu buku yang terdapat banyak tulisan di dalamnya. Bibirnya bergerak naik turun, dahinya berkerut, ia sedang berpikir keras.

"Thateu litteleu kideu jeomps –aah, sulit!" Jungkook menutup bukunya dan mengerucutkan bibirnya. Ia memang terkenal dengan kesulitannya mengeja kata-kata dalam bahasa asing.

Jungkook memendamkan kepalanya ke atas meja yang penuh dengan buku-buku, berharap otaknya dapat menyerap isi dari buku itu.

"Kook-ah, waktunya makan malam." suara dari Shin auntie memaksanya untuk berpisah sementara dengan buku-buku kesayangannya. Jungkook memekik riang karena ia akan segera berpisah dengan 'kekasih'-nya. "Kuharap saat aku kembali kalian membuat pelajaran ini menjadi lebih mudah. Ingat itu." ujarnya pada tumpukan buku, kemudian ia berlari kecil keluar kamarnya.

Such a kid.

Jungkook menuruni tangga dengan hati-hati, dulu ia pernah terpeleset dan jatuh dari tangga karena berlari terburu-buru. Rasanya menyakitkan, jadi Jungkook tak ingin lagi merasakan itu.

Kedua maniknya melihat sosok Shin auntie yang tengah menuangkan sup dari panci ke atas mangkuk. "Auntie!" Jungkook mempercepat langkahnya dan berlari menuju meja makan lengkap dengan cengiran di wajahnya.

"Well, well, mengapa kau terlihat ceria sekali? Ada hal yang menarik di sekolah?" wanita paruh baya yang tetap terlihat cantik di usia 40annya menangkap ekspresi riang dari Jungkook.

Jungkook menarik sebuah kursi dan duduk di atasnya. Ia menumpu dagunya dengan satu tangannya sambil menatap kegiatan yang dilakukan auntie-nya, "Eung? Hal yang menarik?" Jungkook memicingkan kepalanya seraya memasang ekspresi berpikirnya.

Sang auntie mengangguk sambil menaruh piring di hadapan Jungkook, "Ne. Karena kau tampak begitu ceria."

"Di sekolah ya? Hmm.." Jungkook meletakkan kedua tangannya dan melipatnya di atas meja. "Ah, ya, aku berteman dengan seorang teman dudukku yang sangat baik! Auntie harus bertemu dengannya! Dia benar-benar ceria, yah walaupun aku sedikit iri dengan tinggi badannya, dan dia juga menyenangkan!" Jungkook menatap wanita paruh baya itu sembari memberikan cengirannya, "Dan di hari pertamaku ini aku berkenalan dengan beberapa sunbae– o-oh.." ucapannya terputus saat ia mengucapkan kata 'sunbae'. Entah mengapa sosok sunbae-nya yang berambut cokelat dan memiliki tatapan menyeramkan itu terlintas di otaknya.

Sang auntie melepaskan apron yang dikenakannya dan melirik Jungkook, "Lalu?"

Jungkook merasakan kedua pipinya memanas.

"Aish, ada apa denganmu, Jungkook? Sadarlah!"

Jungkook menepuk-nepuk kedua pipinya, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya, "Ah, sudahlah! Mari makan!" serunya berusaha mengalihkan topik. Jungkook segera menyendok sebuah sup buatan sang auntie. "Mm, ini enak sekali, auntie!" pujinya seraya mengacungkan jempolnya pada wanita di hadapannya.

Wanita itu tertawa kecil melihat tingkah lucu pelajar 17 tahun di hadapannya. Ia duduk di seberang Jungkook dan mulai mencoba masakan buatannya. "Kau kan memang tahu kalau masakanku memang menandingi masakan restoran bintang lima." ujarnya.

Jungkook mencibir, namun setelahnya ia tertawa kecil, "Yeah, masakan auntie memang yang terbaik. Namun berhati-hatilah, karena sebentar lagi posisi itu akan direbut oleh Jeon Jungkook." Jungkook memeletkan lidahnya pada sang auntie.

Sang auntie mengerutkan dahinya, "Maksudmu kau ingin mengkopi resepku?"

"Tidak seperti itu, aku lah yang akan menjadi penerusmu! Karena auntie sudah tua!" Jungkook kembali tertawa dan mengelak saat sebuah sendok makan hampir mengenai kepalanya. "Yah, Jungkook! Auntie belum setua itu!"

Sejak anak-anak keluarga Kim dirawat oleh Nona Shin, mereka memang terbiasa untuk menggodanya. Namun wanita itu sama sekali tidak merasa keberatan, dirinya merasa senang sebab itu merupakan bentuk kedekatan dirinya dengan anak-anak itu. Anak-anak itu tidak pernah merasa canggung saat bersama dengan dirinya.

"Kook-ah."

Jungkook melirik ke arah sang auntie yang masih sibuk mengaduk-aduk makanannya, "Ne?"

"Tadi pagi Seokjin menelepon dan memberitahuku bahwa ia sedang berada di pelatihan dan tak akan pulang selama 5 bulan,"

Jungkook memotong ucapannya, "Baiklah." lalu melanjutkan makannya. Jungkook sudah terbiasa dengan kalimat itu selama beberapa tahun terakhir. Pertama kali saat dirinya berumur 13 tahun dan sang hyung mendapatkan pelatihan pertamanya, namun kali itu hanya berlangsung selama sekitar 2 minggu. Yang kedua, saat dirinya berumur 15 tahun dan kembali, sang hyung mendapatkan pelatihan, kali ini berlangsung lebih lama yaitu sekitar 8 minggu atau 2 bulan. Dan kali ini, hyung-nya mendapatkan pelatihan selama 5 bulan. Semua itu merupakan rangkaian pelatihan sniper. Dan Jungkook sangat mengerti hal itu.

"Bukankah itu bagus? Sebentar lagi Jin-hyung akan mendapatkan jabatan tertinggi." ujar Jungkook sambil tersenyum membayangkan hyung-nya.

Sang auntie mengangguk, "Yeah, dan Seokjin sudah mendaftarkanmu."

"Eoh? Jinjjayo?" Jungkook segera menatap wanita itu dengan mata yang berbinar dan mulut yang terbuka lebar.

Auntie-nya tersenyum, mengacak surai Jungkook dan mengangguk, "For real, Kook-ah."

Jungkook tertawa lebar, kedua tangannya ia angkat ke atas dan mengayunkannya beberapa kali, "YESSS!"

Sang auntie menatapnya sendu. Pikiran tentang Jungkook yang akan meninggalkannya juga ke dalam pelatihan itu terus terbayang di otaknya. Rumah ini akan terasa amat sepi tanpa kehadiran para malaikat itu. "Kau nampak senang sekali, Kook." Wanita itu mengulaskan senyumnya, berusaha tak terlihat sedih di hadapan Jungkook.

"Tentu, auntie! Aku tak perlu dilindungi lagi oleh Jin-hyung setelah ini karena aku akan bisa melindungi diriku sendiri!" jawab Jungkook, masih dalam euforia-nya.

Wanita itu menghela nafasnya pelan, ia menyadari bahwa Jungkook memang bukan tipe anak yang merasa senang bila ia terus-menerus dilindungi oleh orang-orang sekelilingnya. Jungkook bukan tipe yang ingin menyusahkan dan merepotkan.

"Kalau begitu habiskan makananmu dan kembalilah belajar."

"Aye, aye!"

.

.

.

.

.

.

.

.

Di tengah hamparan rumput dan bunga, berdiri seorang lelaki. Lelaki itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan kedua maniknya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru. Nampak pepohonan rindang ditemani hijaunya rumput yang menari-nari terkena sapuan angin dengan indah. Lelaki itu menarik nafasnya dalam-dalam dan mengembuskannya.

"Such a beautiful view, huh." gumamnya.

Ia meregangkan kedua tangannya dan merebahkan tubuhnya ke atas hamparan rumput. Kemudian ia menggunakan tangannya untuk menumpu kepalanya.

"How many I've killed today? Satu, dua, tiga," Lelaki itu menggunakan jemarinya dan menghitung sesuatu.

Menghitung jiwa-jiwa yang sudah pergi di tangannya.

"Yah! You forgot your revolver, silly." Seorang wanita berparas cantik tiba-tiba muncul di hadapannya dan menjatuhkan sebuah senapan bolt-action ke atas perut sang lelaki.

"Aw. Right, my Kitty." lelaki itu segera mengambil senapan itu dan mengusap-usapnya. Mengundang sebuah desisan dari sang wanita, "Kitty?"

Lelaki itu mengangguk, "Kitty dari Karabiner 98k, bagus bukan?"

Sang wanita memutar bola matanya seraya mengeluarkan senapan semi-otomatis yang ia bawa dari bungkusnya, "Kalau begitu ucapkan salam pada M1 Garand-ku, Mike." ujarnya dengan nada menantang.

Lelaki itu tertawa lepas. Kemudian ia mengesak rambut panjang si wanita, "Kau benar-benar tak mau kalah ya, Ms. Hwang." ujarnya di sela-sela tawanya.

Wanita itu mencibir, "Setidaknya aku bukan tipe orang yang mengklaim senapan seseorang setelah berhasil membunuhnya, Mr. Thai-prince." Ia memberi penekanan pada panggilan 'Thai-prince'.

"Hei, jangan salahkan aku jika aku memang berdarah Thailand," lelaki itu menurunkan tangannya dan kembali menyentuh senapannya, "Lagipula kitty benar-benar menarik perhatianku sejak pertama kali aku melihatnya dalam gendongan Chansung."

Wanita itu merebahkan kepalanya ke atas bahu si lelaki tiba-tiba, "Channie, my little kid." lenguhnya pelan.

"Apa kau menyesal kehilangannya, Tiffany?" tanya si lelaki dengan nada yang serius. Ia menatap wajah si wanita, Tiffany yang tengah tertunduk.

Tiffany menggelengkan kepalanya cepat, "Tidak sama sekali, Khun. Aku hanya ingin merasakan jadi dirimu yang melihat langsung ekspresi kesakitan Channie. Uh, membayangkannya saja aku berdebar-debar." ungkapnya sembari meletakkan kedua tangannya di atas dada, menandakan excitement-nya.

Nickhun, lelaki itu kembali terkekeh mendengar penuturan dari wanita-nya, "Yea, sayang sekali kau tidak ada di sana. Bayangkan wajah Channie yang tengah merintih kesakitan dan memohon untuk tetap hidup padaku," Tiffany terkekeh mendengarnya, "Dan juga ekspresinya saat aku mengambil Kitty." lanjut Nickhun dengan tetap tertawa.

"Yaah, benar-benar membuatku iri! Seharusnya kau bawa tubuh Channie dan biarkan aku melihat tubuhnya!" rengek Tiffany seraya memukul perlahan lengan kanan Nickhun.

"Byuntae." Nickhun mengetuk kening Tiffany yang kembali tertawa.

Selang kemudian, terdengar dering telepon dari dalam kantung celana Nickhun. Lelaki itu merogoh kantungnya dan segera mengangkat telepon, "Yeoboseyo?"

"..."

"Uhm."

"..."

"Jadi maksudmu teman-temanmu sudah meninggalkanmu?"

"..."

"Tak apa jika aku membawa Tiffany?"

"..."

"Tak perlu segirang itu. Baiklah, aku akan melapor sebentar pada big boss lalu kami akan tiba di sana 20 menit lagi."

"..."

"Ne, I love you too."

Lelaki itu menutup pembicaraan teleponnya dan segera beranjak dari duduknya.

"Bambam?" Tiffany mengikuti yang dilakukan Nickhun-nya, ia menepuk-nepuk celana Nickhun yang dipenuhi debu.

Nickhun mengangguk seraya menautkan jemarinya dengan Tiffany, "Yah, siapa lagi adik kecil kesayanganku?"

Tiffany tertawa kecil, menampilkan eyesmile miliknya, "Yes! Kalau begitu cepatlah, aku rindu si kecil Bambam!" ujarnya riang dan menarik tangan Nickhun berlari bersamanya.

"You forgot your Mike, hon!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Kook, kira-kira buku tentang apa yang banyak terdapat gambar larva di dalamnya?"

Jungkook dan teman sebangkunya, Yugyeom, tengah berada di dalam perpustakaan sekolah. Jam pelajaran telah usai, namun mereka masih bertahan berada di sekolah karena tugas dari seorang guru sains mereka yang akhirnya didapatkan setelah seminggu menikmati sekolah tanpa tugas.

Jungkook mengerutkan keningnya, "Tentu saja biologi.. Eh, benar, kan?" jawabnya yang terdengar seperti pertanyaan balik pada Yugyeom.

"Ah, biologi! Benar!" Yugyeom menjetikkan jari dan melesat mencari buku biologi di antara ratusan buku yang tersusun rapi di atas rak.

Jungkook yang sedang berkutat dengan buku bertuliskan Physics: Basic 1 hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Yugyeom yang begitu hiperaktif.

Sejenak keningnya kembali terkerut, "Euuaaah, mengapa banyak sekali angka!" ia mengacak rambutnya penuh frustrasi, tanpa sadar bibirnya terkerut lucu. "Aku tak suka fisika," ia terus membalik-balikkan halaman buku itu, "Yeah, tak suka." lalu menutupnya dengan sebal.

"Tak boleh begitu, Jungkook."

Sebuah suara mengagetkannya. Jika ia tidak mengingat di mana ia berada, mungkin ia sudah berteriak karena keterkejutannya. "W-waah, sunb–ah, hyung!"

Kedua sunbae yang seminggu lalu dikenalnya berdiri tepat di hadapannya sekarang. Park Jimin dan–

Kim Taehyung.

Jimin mengisyaratkan Taehyung untuk duduk di sampingnya yang sudah duduk tepat di samping Jungkook. Dengan berdesis, Taehyung mendudukkan dirinya di sebelah Jimin. Ia berusaha tidak melakukan kontak mata dengan Jungkook, jika iya, yah, berbahaya.

"Gaah, kenapa harus mendatangi bocah ini?! Park f*cking Jimin!"

Jungkook menenggak salivanya dan berusaha mengontrol debaran jantungnya.

Eoh? Sepertinya ada yang salah dengan jantung Jungkook.

"A-annyeong, hyung. Sedang apa di sini..?" Jungkook menatap kedua sunbae itu atau lebih tepatnya ia hanya menatap ke arah Taehyung yang sama sekali tidak menatapnya.

Jimin mengeluarkan cengirannya lalu ia merangkul pundak Taehyung, "Si bodoh ini lupa memperbanyak materi pelajaran akibatnya saem menghukum kelas kami. Lalu kami berdua ditugaskan kembali untuk menyalin referensi dari buku-buku lain. Dan jadilah kami mendatangi perpustakarium–eh, apa namanya? Perpusatkaan?"

Ucapan Jimin begitu menggelitik Jungkook, ia tertawa kecil.

Sedangkan Taehyung akhirnya menolehkan kepalanya, menatap Jimin, "Kau pun sama bodohnya. Per-pus-ta-ka-an." ujarnya dengan mengeja kata 'perpustakaan'.

Jimin hanya tertawa bersama Jungkook, "Wah Tae bertambah pintar." Jungkook yang mendengarnya kembali tertawa sembari memegangi perutnya. Perdebatan dua pemuda yang lebih tua dua tahun di atasnya benar-benar merupakan hiburan baginya.

Taehyung hanya mendengus dan memutuskan untuk mengabaikan Jimin yang ia anggap benar-benar bodoh kali ini. Ia kembali berkonsentrasi pada buku catatannya dan melanjutkan menyalin sesuatu yang tadi sempat terhenti.

"Aih, sepertinya Tae sedang berusaha keras," Jimin menepuk-nepuk pundak Taehyung yang dibalas sebuah erangan dari Taehyung. "Kalau begitu aku juga." Jimin beranjak dari duduknya lalu berjalan menyusuri rak buku-buku. "Di mana aku harus menemukan buku itu ya.."

"Ah, hyung?" Jungkook berusaha memanggil Jimin untuk kembali, namun sunbaenya itu sudah terlalu jauh.

Jungkook menyadari hanya tinggal dirinya bersama dengan Taehyung sekarang. Dirinya dan Taehyung hanya dipisahkan jarak satu kursi, dan Jungkook dapat merasakan kedua pipinya memanas dan jantungnya kembali berulah. Jungkook buru-buru menampik perasaan aneh itu dan berusaha kembali fokus pada bukunya.

Sesekali ia mencuri pandang pada sosok Taehyung di sebelahnya, dan Jungkook menahan nafasnya mengagumi kesempurnaan wajah Taehyung dari samping.

"Uh, Taehyung-hyung benar-benar indaheeh, apa yang barusan kukatakan..?! Jeon Jungkook..!"

Jungkook kembali menepuk pipinya berulang-ulang dan memalingkan wajahnya dari Taehyung. Ia memaku pandangannya pada angka-angka di dalam bukunya dan mulai menggumamkan sesuatu.

Sedangkan Taehyung sendiri menyadari dirinya diperhatikan oleh Jungkook. Diam-diam ia merasakan sesuatu yang aneh dari dadanya.

Perasaan hangat.

"Yah! Kau lihat semburat merah dari kedua pipi bocah itu saat menatapmu? Sepertinya bocah itu menyukaimu!"

"Diamlah, sialan!"

"Ha! Kau tak pandai menyanggah perasaanmu sendiri!"

"Enyahlah!"

Kembali, perdebatan sengit antara dirinya terjadi. Taehyung memijat pelipisnya yang terasa amat pening. Ia sudah tidak bisa berkonsentrasi dengan apa yang menjadi pekerjaannya sekarang.

"Ya Tuhan, mengapa angka-angka ini susah sekali masuk ke kepalaku..!" Taehyung mendengar gumaman Jungkook. Dan di luar kehendak tubuhnya, ia mendekati Jungkook. Taehyung mengambil kursi di sebelah Jungkook dan duduk di atasnya. Hal ini mengundang keterkejutan bagi Jungkook.

"E-eh?" Kedua mata Jungkook melebar saat sosok Taehyung sudah berada tepat di sebelahnya dengan tetap memasang ekspresi datar.

Taehyung melirik sedikit ke arah Jungkook, "Wae? Apa sebegitu anehnya aku duduk di sampingmu?" ujarnya sarkastik.

Jungkook menggelengkan kepalanya pelan, tanpa sadar kedua maniknya menganggap bahwa lantai jauh lebih menarik daripada Taehyung, "A-ani, bukan begitu.."

"Jeon Jungkook, berhentilah bersikap menggemaskan!" pekik Taehyung dalam hatinya.

Taehyung merebut buku yang sedari tadi dibaca oleh Jungkook dengan tiba-tiba, menyebabkan Jungkook tersentak kaget, "H-hyung..?"

"Ssh. Akan kuberi tahu cara menghafalkan ini dengan mudah." Jungkook kembali harus melebarkan mulutnya mendengar penawaran Taehyung. Tentu saja dirinya merasa amat senang bercampur tidak percaya.

Taehyung kembali berucap, "Jangan berpikir macam-macam. Aku hanya tidak tahan dengan rengekanmu itu. Membuatku susah konsentrasi."

Jungkook menganggap ucapan Taehyung sebagai bentuk perhatian dari sang sunbae, walaupun terkesan sarkastik. Tanpa sadar, Jungkook menatap dalam-dalam pada kedua manik Taehyung dan tersenyum padanya, "Terima kasih, hyung."

Setiap kali Jungkook tersenyum, Taehyung selalu merasakan perasaan itu di dalam dadanya. Taehyung segera menampik, dan kembali memasang wajah datarnya. Ia tak boleh jatuh ke dalam pesona anak ini. Tidak boleh.

"Terserah."

.

.

.

.

.

.

.

Hari-hari Jungkook di sekolah menengah memasuki bulan kedua, dan ia sudah mendapatkan banyak teman. Bahkan beberapa sunbae sudah sangat akrab dengannya, termasuk Jimin dan Taehyung.

Ya, Taehyung.

Sebenarnya, sunbaenya itu selalu berusaha menghindari dan mengelak saat Jungkook menawarinya pulang bersama ataupun makan bersama dengan teman-temannya yang lain. Baik Jimin sekalipun tak mengetahui dengan jelas alasan Taehyung bertingkah seperti itu. Namun Jungkook tidak pernah menyerah, dan akan selalu menganggap Taehyung sebagai salah satu teman akrabnya.

Sore ini, Jungkook telah berjanji dengan Yugyeom dan Jimin untuk pergi ke game center. Dan tentu saja, Taehyung turut mendapatkan ajakan dari Jungkook.

"Ayolah, hyung. Kumohon." pinta Jungkook pada Taehyung yang masih terpaku di kelasnya. Kelas telah usai, dan hanya tersisa Jimin, Taehyung, serta dua hoobae yang menghampiri mereka ke kelasnya.

Taehyung mendesis, "Tak bisakah kalian pergi saja bertiga? Apa bedanya?" ujarnya sembari menatap Jungkook, Yugyeom, dan Jimin bergantian.

"Aku sudah mengatakannya tapi Kookie bersikeras mengajakmu, Tae." aku Jimin.

"Kookie?" Taehyung mengerutkan alisnya mendengar panggilan 'Kookie' yang begitu manis.

Jimin mengangguk dan mengeluarkan cengirannya, lalu merangkul pundak Jungkook yang menyebabkan hoobae-nya itu sedikit terhuyung, "Yep, Kookie! Manis, bukan?" ujar Jimin seraya mencubit pipi Jungkook.

Taehyung menggeretakkan giginya tak suka melihat perlakuan Jimin pada Jungkook.

"Baiklah, baik. Pergilah duluan. Aku menyusul."

Mendengar penuturan dari Taehyung, Jimin serta Yugyeom memekik riang, "Yaay! Kalau begitu sampai jumpa di sana Taehyungie!" Jimin mencubit kedua pipi Taehyung dan segera menarik lengan Yugyeom menjauh. "Yaah! Sial kau, Park Jimin!" Taehyung menggebrak mejanya dan menggunakan satu tangannya untuk mengusap-usap pipinya yang memerah akibat cubitan Jimin.

Jungkook masih berdiri di sana sambil berusaha menahan tawanya.

"Apa yang kau lihat?" desis Taehyung pada Jungkook yang tersenyum.

Jungkook menggelengkan kepalanya, "Ani. Aku senang kau ingin ikut, hyung," Jungkook melangkahkan kakinya mendekati Taehyung yang masih mengusap-usap pipinya. "Aku benar-benar senang," Jungkook menyentuh tangan Taehyung dan menjauhkannya dari pipinya. Jungkook tersenyum kembali, lalu ia menempelkan plump berwarna pink miliknya ke atas pipi Taehyung. Jungkook membiarkan kecupan itu selama beberapa detik dan akhirnya melepaskannya.

"See you, hyung."

Taehyung terpaku melihat sosok Jungkook yang perlahan menghilang dari pandangannya.

"Dia.. Menciumku..?" Taehyung mengusap pipinya yang baru saja bersentuhan dengan bibir Jungkook.

"Jungkook.." Taehyung terkulai lemas di atas kursinya dengan wajah yang menyamai warna bendera Jepang.

Dia benar-benar harus mendatangi 'tempat pengalihan perhatian' itu sekarang.

.

.

Jimin dan Yugyeom berjalan beriringan sambil sesekali bersenandung kecil. Sementara Jungkook berjalan di belakang mereka sambil sesekali menengok ke belakang.

Yugyeom yang menyadari Jungkook tertinggal jauh di belakang menengokkan kepalanya, "Kook! Ayo cepat!"

Entah mengapa, Jungkook merasakan sesuatu yang tidak beres. Instingnya mengatakan ia harus menunggu Taehyung dan menemuinya.

Jungkook menghentikan langkahnya dan mengeratkan ransel di punggungnya, "Yugyeom, Jimin-hyung, kalian duluan saja!" Tanpa mendengar jawaban mereka, Jungkook segera membalikkan badannya dan berlari kembali menuju sekolah.

Yugyeom dan Jimin menatap satu sama lain. "Jungkook!"

Tak sampai lima menit, Jungkook telah berdiri di depan gerbang sekolahnya. Ia merasakan nafasnya tersengal akibat berlari. Ia menyeka keringat yang turun dari pelipisnya sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Mencari sosok Taehyung.

Jungkook menangkap sosok itu dan hendak memanggil Taehyung sebelum ia menyadari Taehyung berbelok ke arah yang berlawanan.

"Eeh? Mau ke mana dia?" gumam Jungkook. Ia memutuskan untuk mengikuti Taehyung dari belakang tanpa sepengetahuannya.

Jungkook menjaga jarak sejauh kira-kira 7 meter dari Taehyung dan mengendap-endap berusaha tak membuat perhatian.

Taehyung nampak melepaskan dasinya terburu-buru serta jas seragamnya. Ia menyampirkan jas itu di bahunya dan membiarkan dasinya melingkar dengan asal di lehernya. Sementara tasnya kembali ia sangkutkan di atas bahunya.

"U-uwah.." Jungkook kembali terpesona dengan pemandangan punggung seorang Kim Taehyung yang begitu menarik perhatian kedua matanya.

Hari semakin sore, dan Taehyung telah sampai di suatu tempat. Tempat yang Jungkook pikir menyeramkan dan menakutkan.

Jungkook menyembunyikan dirinya di belakang sebuah mobil yang terparkir di depan tempat itu. Ia melihat Taehyung membuka pintu dan seorang lelaki tinggi besar menyambutnya. "Oh, lihatlah siapa yang datang? Kim Taehyung the lord!" ujar lelaki itu sambil tertawa.

"Shut your f*cking mouth, Seunghyun, dan biarkan aku masuk."

Seunghyun? Siapa itu? Jungkook kembali bergumam dan bertanya-tanya dalam hatinya.

"Of course, my little Tae. Apa yang kau inginkan? Minum? Atau sedikit 'pengalih perhatian'? Kebetulan kami kedatangan stok baru–"

Taehyung memotong ucapan lelaki itu dengan sebuah decihan.

Lelaki itu tertawa kembali, "Or maybe you wanna try that product. Marijuana? It gives pleasure!" Kembali berdecih, Taehyung mengabaikan lelaki itu dan menyeruak masuk ke dalam tempat itu.

"Hey, that was so polite, kid!" Lelaki itu berteriak pada Taehyung lalu menutup pintu.

Meninggalkan sosok Jungkook yang terkejut seakan dirinya melihat sosok hantu. Jungkook terkulai lemas dan membiarkan tubuhnya terperosot jatuh terduduk ke tanah. Percakapan Taehyung dengan lelaki itu barusan benar-benar membuatnya kacau.

"T-T-Taehyung-hyung.. T-tempat ini.." Jungkook menolehkan kepalanya dan kembali, dadanya serasa dihujani oleh beribu-ribu panah begitu melihat plang yang berdiri di dekatnya.

Kau telah datang ke tempat yang salah, Jungkook.

"T-tidak! Taehyung-hyung pasti dijebak oleh seseorang..! A-aku harus menolongnya!" Jungkook menormalkan deru jantungnya dan keluar dari persembunyiannya.

Tubuhnya membeku saat ia berdiri dan tiba-tiba sudah dihadangkan dengan beberapa wanita yang berpakaian seronok.

Jungkook bergerak mundur, namun para wanita itu malah menyeringai padanya. "Aww, he is so cute!" seorang wanita mendekatinya dan meraih dagunya.

Jungkook hendak menjauhkan tangan wanita itu dari dagunya, namun wanita lain mendekatinya dan mengelus pipinya, "Apa yang dilakukan anak manis di sini? Ini bukan tempat bermain mobil-mobilan."

Jungkook menenggak salivanya, ia merasa amat ketakutan. Wanita satunya lagi menghempas tangan kedua temannya menjauhi Jungkook, kemudian ia menatap Jungkook yang tengah gemetar dari atas sampai bawah, "Well, kurasa tak ada salahnya mengenalkan tempat ini pada anak manis ini," ujar wanita itu sambil menyentuh hidung Jungkook.

"Let's go, noona akan mengantarmu ke dalam dan kita akan bersenang-senang." wanita itu meraih lengan Jungkook, dibantu oleh dua orang temannya.

"T-tidak! Le-lepaskan aku..!" Jungkook berusaha meronta namun usahanya gagal karena para wanita itu mencengkram lengan serta bahunya.

"Ssh, anak baik harus menurut." Para wanita itu memberi kedipan pada Jungkook yang semakin bergidik ketakutan.

Jin-hyung, tolong aku..!

.

.

"Lagi."

Taehyung meletakkan gelas kosongnya dengan keras ke atas meja. Seorang bartender yang nampak sudah akrab dengannya hanya menggelengkan kepalanya, "Itu sudah gelasmu yang kelima, Taehyung."

Taehyung sedikit menggeram, "Kubilang lagi!" ia memberikan tatapan membunuh pada si bartender.

Bartender itu menghela nafasnya dan meraih gelas Taehyung lalu mengisinya. "Kau benar-benar sedang kacau." ujarnya seraya menaruh gelas itu di hadapan Taehyung.

Taehyung segera menenggak minumannya dan meletakkan kembali dengan keras, "Heh, tau apa kau tentangku." Taehyung kembali menenggak minumannya.

Si bartender menyadari bahwa jika Taehyung sudah minum lebih dari enam gelas, itu akan membahayakan dirinya. Ia tidak mau Taehyung berakhir mabuk dan tidak sadarkan diri sampai besok pagi, jadi ia merebut paksa gelas dari genggaman Taehyung, "Sudah cukup." ujarnya keras.

"Yaah, Kim Himchan! Memangnya siapa kau berani melarang-larangku?!" pekik Taehyung seraya berusaha merebut gelasnya kembali.

"Kau benar-benar mabuk, Taehyung. Turuti perkataanku dan kau tak akan memuntahkan isi perutmu setelah ini." Himchan mengeraskan suaranya, toh suaranya juga tidak akan terdengar oleh orang-orang karena suara musik di sini jauh lebih keras.

Taehyung kembali mendesis tak setuju. Namun tak berapa lama telinganya mendengar suara yang sudah sangat dikenalnya.

"Ku-kumohon biarkan aku pergi.."

Taehyung menolehkan suaranya mencari sumber suara dan ia membulatkan melihat sosok Jungkook di tengah kerumunan para jalang –yah, Taehyung memanggil wanita-wanita di sini seperti itu.

"Jungkook?"

Himchan melihat Taehyung yang tengah menatap seorang bocah yang nampak ketakutan di tengah kerumunan para wanita. "Ada apa, Tae? Kau mengenal bocah–tunggu, seragamnya sama sepertimu–"

Tidak sampai satu detik, Taehyung telah melesat menuju ke arah Jungkook.

"Come on, cutie, don't be shy." satu wanita menyolek dagu Jungkook dan menyebabkan Jungkook kembali bergidik.

"Kau benar-benar masih sangat polos. Akan noona ajarkan suatu permainan menyenangkan padamu." wanita lainnya bergerak mendekati tubuh Jungkook dan mengelus leher Jungkook perlahan.

"Jangan mencuri start!" wanita lainnya mengumpat pada wanita itu.

Jungkook hanya menunduk dan berusaha menjauhkan dirinya dari para wanita ini. Ia bahkan berjanji akan selalu mengikuti perintah Shin auntie bila dirinya dapat keluar dengan selamat dari tempat ini.

"Bisakah kalian jauhkan tangan kotor kalian darinya?"

Sebuah suara mengagetkan Jungkook dan para wanita itu. Jungkook menengadahkan kepalanya dan ia menganga tidak percaya saat Taehyung sudah berada di hadapannya.

"Aww, Taehyungie, are you jealous?" seorang wanita menyentuh dagu Taehyung.

"Noonas will play with you too." seorang lagi menyelusupkan tangannya di sekitar leher Taehyung. Sementara Taehyung hanya terdiam sambil menatap wanita itu satu per satu dengan tatapan jijiknya.

"Lebih baik aku membersihkan kotoran manusia dibanding bermain dengan kalian para jalang." Dengan satu ucapan itu Taehyung segera menarik lengan Jungkook dan membawanya pergi.

"WHAAAT!"

Taehyung tak mempedulikan teriakan para wanita itu, ia terus berjalan menuju suatu ruangan sambil tetap mencengkram lengan Jungkook. Jungkook terdiam, ia merasa takut dengan semuanya.

Taehyung membuka pintu sebuah ruangan yang merupakan sebuah kamar dan membanting pintunya serta menguncinya. Ia menghempaskan tubuh Jungkook ke atas sebuah ranjang dan mulai berteriak padanya, "Kenapa kau bisa di sini, hah?!"

Jungkook tak pernah melihat Taehyung yang seperti ini sebelumnya. Ia berusaha menahan air mata yang hampir keluar dari kedua matanya, "H-hyung.. Ma-maaf, a-aku hanya.." ujarnya memberi jeda dengan gemetar.

"Ini bukan tempat untuk bermain, kau tahu?!" Taehyung kembali berteriak padanya. Wajahnya terlihat begitu frustrasi dan penuh kekhawatiran.

Jungkook hanya membalasnya dengan sebuah isakan.

Taehyung yang kehilangan akal mencengkram bahu Jungkook dan menyebabkan Jungkook menatapnya ketakutan, "Jika kau pikir ciuman itu membuatmu bebas berada di dekatku kau salah!"

Ucapan Taehyung membuat sebuah keberanian muncul dari dalam diri Jungkook, ia menutup kedua matanya dan berteriak, "Aku menyukaimu, hyung!"

Taehyung membeku di posisinya begitu mendengar ucapan Jungkook.

Jungkook membuka matanya perlahan dan maniknya bertemu dengan manik Taehyung yang tengah memancarkan bayangan dirinya. "D-dan aku tak akan merasa takut di mana pun aku berada asalkan itu bersamamu, hyung.."

Taehyung melonggarkan cengkramannya pada bahu Jungkook dan ia berjalan mundur perlahan. Jungkook yang melihatnya berusaha mendekatinya namun Taehyung segera melarangnya, "T-tidak! Jangan! Jangan menyukaiku! Jangan mendekat! Berbahaya!" Taehyung menutup wajahnya dengan satu tangannya, ia menggelengkan kepala dan mengisyaratkan Jungkook untuk tetap berada jauh darinya.

Punggung Taehyung menabrak dinding, dan ia sudah tidak bisa pergi ke manapun. Jungkook melihatnya sebagai suatu kesempatan, ia terus berusaha mendekati Taehyung yang masih menutupi wajahnya.

"Hyung.. Kau tidak berbahaya, kau tahu?" Jungkook yang sudah berhasil mendekatinya berusaha menjauhkan lengan Taehyung dari wajahnya.

"Jungkook, kau tidak mengerti.." Taehyung berusaha menampik tangan Jungkook yang menyentuh lengannya.

Jungkook melihat pancaran kekhawatiran dari kedua mata Taehyung, pancaran yang berbeda dari yang pertama kali ia lihat. Bukan lagi sebuah pancaran balas dendam. Jungkook merasakansebuah dorongan untuk membawa Taehyung ke dalam pelukannya dan menenangkannya.

"Kalau begitu buat aku mengerti, hyung.." Jungkook kembali meraih lengan Taehyung dan berhasil menurunkannya dari wajah Taehyung.

"Aku hanya tak ingin membahayakanmu, Kook!"

Satu pekikan penuh ketulusan keluar dari bibir Taehyung. Ia menatap Jungkook dengan penuh kecemasan dan kekhawatiran. Jungkook membalasnya dengan tatapan bingung.

"Bisa kau jelaskan maksudmu, hyung? Jangan khawatir, aku sama sekali tak merasa adanya bahaya di dekatmu.." ujar Jungkook begitu lembut, sangat lembut dan mampu mencairkan hati Taehyung.

Tanpa menjawab, Taehyung segera memeluk tubuh Jungkook erat. Begitu erat hingga menyebabkan Jungkook sedikit tercekat. "H-hyung..?"

"Maafkan aku, aku sungguh tak bisa menahannya lebih lama.. Aku pun menyukaimu, benar-benar menyukaimu sejak awal pertemuan kita," ujar Taehyung yang tengah menyesap aroma tubuh Jungkook yang terasa seperti strawberry.

Jungkook merasakan dadanya bergemuruh kencang, namun ia menyamankan dekapannya pada Taehyung. "Benarkah, hyung..?"

Taehyung mengangguk di dalam pelukannya, ia sungguh merasakan sebuah kehangatan yang kembali ia rasakan. "Berjanjilah kau tak akan pergi dariku saat aku menceritakan yang sebenarnya padamu." pinta Taehyung dengan suara paraunya.

Jungkook merasakan sebuah kehangatan dari ucapan Taehyung, ia memberanikan diri untuk meminta sesuatu, "Asal kau juga berjanji akan mengatakan semuanya padaku."

Taehyung melepaskan pelukannya dan menatap Jungkook dengan sebuah senyum di wajahnya, "Belum beberapa menit kau menjadi milikku sudah berani meminta sesuatu, eh?" ujarnya.

Jungkook terkekeh dan hatinya merasa senang melihat senyuman Taehyung, "Memangnya kau sudah memintaku menjadi milikmu, hyung?"

"Okay then, be mine, please?"

Jungkook tersenyum manis padanya.

"Certainly, yes. Like I would say no to you."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

awww maaf aku buat cliffhanger(?) XD

dan yah, mungkin kalian pikirnya kecepetan si taekook jadian(?), tapi percayalah, aku udah mundurin satu chapter lho(?) tadinya mau di chapter kemarin tapi akhirnya gajadi XD emang aku pikir di chapter ini udah pas jadiannya(?), masih tersisa beberapa kapel lagi tenang saja XD /shot

kali ini sampai seterusnya aku gak buat preview yaah soalnya ternyata previewnya banyak gagal dan ga sesuai(?) /dor

daaan buat sone+hottest aku pinjem tiffany-nickhun-chansungnya yaa ;;^;; abisnya aku pikir seru aja kalo ada mereka/? dan yep, di mana ada nickhun kayanya ngepas banget kalo aku kasih bambam juga XD daaan himchan! wohoooo dia termasuk karakter lumayan di sini(?)

dan buat yang bingung sama kata2 kookie yang paling akhir maksud aku dia mau bilang gini "udah pasti yes. kaya gue bakal nolak lu aja" gituuu wkwk XD /shot/

okedeh, makasih buat semua yang udah baca+meninggalkan jejak, i love you guys tanpa terkecuali;******

press the fav/follow/review button if you guys interested~! any comments are warm welcomed & appreciated ;))

thank you 3