[REMAKE] Dating With The Dark by Santy Agatha
.
.
Main Cast:Luhan(GS), Oh Sehun.
Other Cast: Kris, Irene, Jongin, etc.
Genre: Romance, Drama.
Rated:M
.
.
Don't Like, Don't Read
Sorry for Typo.
Happy Reading~
.
.
Chapter 13
.
.
"Anda harus turun nona Luhan. Tuan Sehun ingin menemui anda untuk makan malam di bawah." Chanyeol memasuki kamar dan setengah membungkukkan tubuhnya dengan formal kepada Luhan.
Luhan melemparkan tatapan gusar kepada lelaki itu, jadi karena itulah tiba-tiba saja tadi pelayan-pelayan datang dan membawakannya gaun cantik berwarna biru muda yang lumayan formal ini. Luhan terpaksa memakainya karena tidak ada gaun lain yang disediakan untuknya di ruangan ini.
"Aku tidak mau turun." Gumam Luhan keras kepala, tidak mau begitu saja membiarkan lelaki itu mendapatkan keinginannya.
Chanyeol menatap Luhan penuh spekulasi lalu mulai mengeluarkan pancingannya,
"Anda benar-benar tidak ingin keluar? Mungkin inisatu-satunya kesempatan anda untuk keluar dari kamar ini, apakah anda tidak merasa bosan? Dan saya juga cemas, kalau anda menolak ajakan makan malam tuan Sehun, beliau akan memutuskan untuk mengurung anda terus-terusan di kamar ini dan anda tidak punya kesempatan untuk keluar lagi."
Chanyeol ada benarnya juga. Luhan tercenung, dia bosan berada di dalam kamar terus-terusan, ketika menyekapnya, Sehun benar-benar kejam dan membiarkan Luhan benar-benar selalu berada di dalam kamar. Dan mungkin saja dengan keluar dari kamar ini, Luhan bisa mempelajari dimana sebenarnya dia berada.. Dia mendengar suara ombak, mereka berada di tepi laut. Hanya itu informasi yang Luhan punya.
Makan malam dengan Sehun mungkin tidak akan merugikannya, hanya akan sedikit menginjak harga dirinya.
Luhan menghela napas panjang dan menganggukkan kepalanya,"Baiklah, aku akan pergi makan malam sesuai kemauan Tuanmu."
.
.
.
Sehun tampak dingin dan formal duduk di kepala meja dan membisu, lelaki itu memakai pakaian hitam-hitam, tampak seperti pangeran kegelapan yang sedang muram.
"Duduk dan makanlah." Sehun melambaikan jemarinya dan pelayan yang siap sedia di situ langsung menarikkan kursi untuk Luhan,
Luhan duduk dan beberapa pelayan dari dapur langsung dating membawa nampan, mangkuk mungil di depannya dibalikkan dan pelayan itu menuangkan sup berwarna jingga ke sana.
"Itu sup lobster, kuharap kau menyukainya." Sehun sedikit tersenyum tipis, lalu menyantap sup itu dalam keheningan. Mau tak mau mengambil sendok dan mencicipi sup itu, menyadari bahwa sup itu sangat enak dan perutnya berbunyi... dia rupanya sangat lapar.
Dengan malu dia melirik ke arah Sehun, bertanya-tanya apakah lelaki itu mendengar suara perutnya tadi. Tetapi Sehun memasang wajah datar dan menyantap supnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Luhan menghela napas panjang dan melanjutkan menikmatisup-nya, beberapa kali dia mencuri pandang ke arah Sehun dan pipinya memerah. Lelaki ini sudah menidurinya, astaga... Luhan mengernyit dan tidak bisa menahan diri untuk mengutuki dirinya yang lemah karena begitu mudahnya larut dalam rayuan Sehun. Tetapi Lelaki itu adalah lelaki yang sangat ahli, dan Luhan hanyalah seorang perempuan yang tidak berpengalaman.
Luhan memutuskan dengan penuh tekad bahwa dia tidak akan jatuh lagi dalam pesona dan rayuan Sehun. Cukup sekali lelaki itu memperdayanya, mulai sekarang Luhan akan menguatkan diri. Sehun hanya bermimpi kalau mengira dia bisa memiliki Luhan lagi sesuai kemauannya.
"Ada yang ingin kukatakan kepadamu." Tiba-tiba Sehun bergumam, menatap Luhan dalam, mereka sudah menyelesaikan menyantap sup itu, dan para pelayan mengambil mangkuk-mangkuk kotor mereka. Sekarang adalah jeda sebelum hidangan utama datang. "Luhan, mungkin kau merasa bingung selama ini... tetapi aku memang menyimpan rahasia tentangmu, rahasia yang kupikir akan kusimpan dan menunggu sampai kau mengingatnya sendiri. Tetapi semalam kau membiarkanku bercinta dengamu.." Sehun menatap Luhan dengan begitu intens, membuat pipi Luhan memerah, "Dan kupikir, aku tidak bisa menunggu lebih lama untuk mengungkapkan..."
"Kau bisa mengungkapkan apapun itu di penjara."
Sebuah suara lantang tiba-tiba terdengar dari arah pintu membuat Luhan dan Sehun menoleh bersamaan.
Luhan benar-benar terperanjat. Itu Kris. Lelaki itu berdiri mengenakan pakaian hitam-hitam dan menodongkan pistol ke arah Sehun. Kris! Apakah Kris datang untuk menyelamatkannya?
.
.
.
"Kris!" Luhan terkesiap seketika berdiri dari tempatnya duduk, menutup mulutnya karena kaget. Bagaimana Kris bisa sampai ke sini? Apakah memang benar Kris sedang mengusahakan segala cara untuk menolongnya? Dan tubuh lelaki itu basah kuyup, air tampak menetes-netes dari tubuhnya. Apa yang dilakukan Kris? Apakah lelaki itu habis berenang di laut?
Sehun sendiri dalam sekerjap mata tampak terkejut melihat Kris tiba-tiba muncul di sana, tetapi kemudian topeng ekspresi datarnya muncul dan menutupi semuanya, lelaki itu bahkan tersenyum sambil menatap Kris.
"Well... ternyata aku memang meremehkanmu, kau tidak sebodoh yang aku kira."
Kris menatap Sehun dengan marah dan waspada. Lelaki ini adalah "Sang Pembunuh". Tentu saja, penampilannya sangat gelap dan ada aura pekat yang melingkupinya, Kris cuma tidak menyangka bahwa "Sang Pembunuh" setampan ini. Dia pada mulanya berpikir bahwa "Sang Pembunuh" berwajah sangar, penuh tatto atau apapun itu yang menunjukkan bahwa dia lelaki kasar dan jahat. Tetapi yang berdiri di depannya adalah sosok lelaki elegan dengan ketampanan bangsawan yang khas dan pakaian rapi dan mahal. Kris melirik ke arah Luhan, tiba-tiba merasa ragu. Kalau "Sang Pembunuh" memang menginginkan Luhan, akankah Luhan menerimanya secara sukarela? Benak Kris dipenuhi perasaan cemburu.
Tiba-tiba saja Sehun berdiri dan melangkah mendekat, membuat Kris semakin waspada dan mengacungkan pistolnya.
"Jangan mendekat! Atau aku akan menembakmu."
"Atas dasar apa kau menembakku? Kau akan dituntut karena menembak warga negara asing yang tidak bersalah."
Kris mengernyitkan keningnya,
"Kau adalah "Sang Pembunuh", itu sudah cukup menjadi alasan untukku."
"Oh ya?" Sehun tersenyum mencemooh, "Apakah kau punya buktinya?"
Kris terpekur. Lelaki ini sangat licin. Pasti dia masuk ke negara ini sebagai pengusaha. Dan ya, memang Kris sama sekali tidak punya bukti bahwa lelaki di depannya ini adalah "Sang Pembunuh", dia menelan ludahnya, dan menatap Luhan sekilas lalu melemparkan tatapan menantang kepada Sehun.
"Kau menculik Luhan dengan paksa."
"Aku tidak memaksanya. Luhan milikku, dan aku berhak mengambil apa yang menjadi milikku, kau tentu sudah tahu itu." Tatapan mata Sehun tajam dan penuh arti, membuat napas Kris tersengal karena emosi, "Lagipula, semalam kami sudah saling memiliki, malam yang sangat indah dan memuaskan, benar begitu kan, Lu?" Sehun melirik penuh arti ke arah Luhan, sengaja membuat suaranya sensual hingga membuat Luhan benar-benar merona.
Semula Kris tidak percaya akan kata-kata Sehun yang sepertinya sengaja digunakan untuk memprovokasinya, tetapi kemudian lelaki itu melihat ekspresi Luhan yang merah padam dan tidak mampu membantah. Darah Kris bergolak, dia marah luar biasa, kurang ajar! Lelaki itu telah menyentuh Luhan-nya!
"Akan kubunuh kau!" Kris menarik pelatuknya dan sedetik kemudian dengan kecepatan yang luar biasa, Sehun tiba-tiba sudah meloncat dan menerjang Kris. Lalu Sehun berhasil merenggut pistol itu dari tangan Kris sebelum lelaki itu sempat menembakkannya, dan melemparkannya jauh di luar jangkauan. Dua lelaki itu bergulat dengan kerasnya. Yang satu menghajar yanglain bergantian.
Sementara Luhan hanya berdiri kaku shock dan tidak bias bergerak melihat perkelahian yang brutal dan panas itu.
Tetapi rupanya, keahlian bela diri Sehun dengan tangan kosong memang lebih unggul. Dia mencekal lengan Kris dari belakang, wajah Kris sudah lebam-lebam dan bibirnya berdarah, sementara rambut Sehun yang biasanya rapi, berantakan dengan sedikit darah di ujung bibirnya.
Luhan menatap ke arah dua laki-laki itu dan membelalakkan mata. Tangan Sehun dengan sangat ahli, memposisikan gerakan berbahaya, mencengkeram leher Kris, tatapan matanya begitu kejam hingga matanya nyaris hitam. Lelaki itu memegang leher Kris yang tak berdaya dengan ahli, dia bisa mematahkan leher Kris dalam sekejap dan mencabut nyawanya, sedikit saja gerakan dari Kris, maka nyawanya akan melayang.
"Berani-beraninya kau kemari dan mencoba mengambil perempuanku!" Sehun mendesis marah, "Ucapkan doa terakhirmu karena aku akan membunuhmu."
Kris memejamkan matanya, tahu bahwa kematian sudah begitu dekat dengannya.
Tetapi kemudian terdengar suara tembakan yang begitu kencang. Dan kemudian Kris terlepas dari cengkeraman Sehun.
Kris membuka matanya, bingung, dan kemudian membelalakkan matanya kaget. Luhan sedang memegang pistolnya yang tadi terlempar, perempuan itu terengah-engah, tatapan matanya ketakutan di cekam teror, dan ketika Kris menoleh ke belakang, dia melihat Sehun terhuyung ke belakang sambil memegang dadanya.
Dadanya itu bersimbah darah, membuat wajah Sehun pucat pasi. Lelaki itu bahkan tidak mempedulikan Kris, dia menatap Luhan, yang masih menodongkan pistol di tangannya, dan ekspresi wajahnya begitu sedih, sedih luar biasa, hingga membuat siapapun yang melihatnya akan merasa seperti diremas jantungnya.
"Kau... menembakku Luhan? Sayangku?..." Kemudian tubuh Sehun rubuh di lantai tak sadarkan diri.
Luhan masih terpana akan apa yang dilakukannya, matanya nanar menatap tubuh Sehun yang tergeletak tengkurap di lantai. Tiba-tiba saja air matanya mengalir. Kenapa dia menangis? Luhan mengusap air matanya, bingung. Tadi dia melihat Kris hampir di bunuh dan dengan impulsif dia langsung mengambil pistol yang tergeletak di lantai itu dan menembakkannya ke arah Sehun ... dia sudah membunuh Sehun?
Kris mendengar suara berderap menuju ruang makan itu, para pengawal Sehun sudah berdatangan, mereka pasti tadi diperintahkan untuk menjauh dan menjaga privasi makan malam Sehun dan Luhan, tetapi sekarang mereka pasti sadar ada yang tidak beres ketika mendengar suara ledakan pistol di udara. Kris harus membawa Luhan pergi dari sini secepat mungkin sebelum para pengawal Sehun datang!
Dengan sigap, Kris menarik lengan Luhan yang masih terpaku, dia mengambil pistol di genggaman tangan Luhan dan kemudian mencekal lengan Luhan, setengah menyeret perempuan itu.
"Ayo! Kita harus pergi dari sini!"
Luhan mau tak mau mengikuti langkah Kris, kepalanya masih menoleh ke belakang, ke sosok lelaki berpakaian hitam-hitam yang terbaring tertelungkup tak berdaya.
Apakah Sehun mati...?
.
.
.
Angin laut yang dingin menerpa wajah Luhan, ketika Kris menyeretnya sambil berlari kencang. Para pengawal Sehun tentunya sekarang sudah tahu bahwa ada penyusup dan Luhan melarikan diri. Mereka sedang dikejar!
Kris membawa Luhan melewati semak-semak tinggi di bagian ujung pantai berbatu karang, yang jarang dilewati. Sebelum ke pulau ini, Kris telah mempelajari strukturnya dan tahu bahwa bagian di lokasi yang berbatu ini kemungkinan besar akan lepas dari pengawasan karena strukturnya tidak memungkinkan untuk melabuhkan perahu boat.
Tetapi Kris tidak habis akal, dia menambatkan jangkar kecil untuk boatnya yang ditinggalkannya sedikit ke tengah laut, di sudut yang gelap. Lalu dia berenang menuju pulau naik diam-diam ke daratan dalam kegelapan. Cara itu rupanya berhasil membuatnya sampai ke pulau tanpa ketahuan oleh siapapun bahkan hingga lolos bisa memasuki rumah. Sebenarnya Kris sendiri tidak menyangka dia bisa memasuki pulau itu semudah ini. Tetapi entah kenapa, penjagaan di pulau itu cukup sepi, hanya ada satu atau dia orang di depan. Rupanya lokasi pulau yang cukup terpencil membuat "Sang Pembunuh" lengah dan mengendorkan penjagaannya.
Kris menatap ke arah langit yang gelap pekat, dia beruntung karena hari ini tepat saat malam tidak berbulan, sehingga kesempatan Kris untuk tidak ketahuan sangat besar.
Mereka berdua berdiri di tepi pantai, Kris menatap Luhan dalam-dalam dengan penuh tekad. Perempuan itu menangis, apakah dia menangisi Sehun?
"Tahan napasmu. Kita akan berenang." Sebelum Luhan sempat menjawab, Kris menarik perempuan itu masuk ke air laut, dia berenang dibelakang Luhan, menghela perempuan itu ke arah perahu boat yang sudah menunggu, lalu menaiki perahu boat itu dan mengangkat Luhan Luhan dari lautan naik bersamanya.
Kris memejamkan matanya dan menghela napas panjang. Dia melirik ke arah pulau, ada cahaya senter begitu banyak yang di pancarkan dari sana. Para pengawal Sehun sedang mencari mereka ke seluruh bagian pulau. Kris harus membawa Luhan pergi dari sini sebelum mereka menyadari keberadaannya dan Luhan.
Kris menyalakan mesin perahu boatnya, suara mesinnya tertelan oleh deburan ombak yang kencang. Dia melajukan perahunya memutar arah, menjauhi pulau itu.
Lelaki itu melirik Luhan yang meringkuk di sudut perahu dan kemudian mengernyitkan keningnya. Dia lalu meraih ponselnya dan menelepon atasannya.
"Aku sudah menyelamatkan Luhan. Dia ada bersamaku sekarang." Gumamnya cepat.
Atasannya tampak terkesiap di seberang sana,
"Apa? Bagaimanabisa? Kapan? Kris! Kau tidak bergeraksendiri tanpa koordinasi bukan?!"
"Itu tidak penting." Kris mengeraskan suaranya, berusaha mengalahkan suara deburan ombak dan perahu boat yang memenuhi udara. Dia melirik dengan cemas ke belakang, ada nyala lampu berkelap-kelip yang mendekat di kejauhan. Sepertinya ada beberapa perahu boat yang mengejar mereka, jantungnya berdebar, dia harus cepat dan hati-hati, sekarang Luhan sudah bersamanya, Kris akan berusaha sekuat tenaga supaya mereka tidak bias mengejarnya, "Aku akan mendarat di pulau Jeju sebentar lagi, siapkan pesawat untuk membawa kami pulang di landasan yang biasa."
Tanpa menunggu jawaban atasannya, Kris menutup telepon lalu melajukan perahu boatnya sekencang mungkin.
.
.
.
Irene terlambat datang, dia menyaksikan detik terakhir itu, detik dimana Luhan yang bodoh itu mengacungkan pistolnya ke arah dada Sehun dan menembaknya. Irene begitu marah ketika melihat tubuh Sehun rubuh di lantai.
Kekasihnya... lelaki pujaannya, dan perempuan bodoh itu menembaknya begitu saja!
Ketika para pengawal Sehun datang, Irene menyembunyikan dirinya di kegelapan, dia tidak boleh ketahuan berada di sini. Tadi dia datang ke pulau ini menumpang perahu salah satu penduduk yang tidak tahu apa-apa dan mengatakan bahwa dia adalah tamu dan kekasih dari Sehun. Penduduk itu biasanya mengambil bahan makanan ke seberang setiap harinya, dan dia percaya akan perkataan Irene mengingat betapa 'wah' nya penampilan Irene waktu itu.
Irene melihat Chanyeol memeriksa Sehun, wajahnya tampak muram, lelaki itu lalu memberi isyarat kepada para pengawal untuk mengangkat tubuh Sehun yang lunglai. Bekas ceceran darah tertinggal dilantai tempat Sehun terbaring, membuat dada Irene sakit. Dia bahkan tidak bisa menyentuh dan memeluk kekasihnya itu di saat seperti ini.
Air mata mengalir di mata Irene, air mata kemarahan, kesedihan yang bercampur dendam membara. Dia akan menemukan cara untuk keluar dari pulau ini segera, dan dia akan mengejar Luhan.
Luhan harus menerima pembalasan setimpal karena telah menembak Sehun. Irene akan membunuh Luhan!
.
.
.
"Kau tidak apa-apa?" Kris membungkus tubuh basah Luhan dengan selimut, dia membawa Luhan ke rumahnya. Tubuh Luhan masih gemetar dengan tatapan mata kosong, perempuan itu shock.
Setelah mendarat di pulau Jeju, Kris membawa Luhan kelandasan milik pemerintah, sebuah tempat rahasia yang digunakan untuk keperluan darurat jika misi mereka mengharuskan mereka melarikan diri dengan cepat. Atasannya ternyata menanggapi dengan cepat laporan Kris, karena sebuah pesawat pribadi berlogo pemerintah sudah menunggu mereka di landasan. Kris membawa Luhan menaiki pesawat itu, dan mereka langsung di bawa pulang. Sepanjang perjalanan, atasannya menelepon, meminta Kris mempertimbangkan untuk membawa Luhan ke lokasi perlindungan yang tersedia, tetapi Kris bersikeras untuk membawa Luhan ke rumahnya. Rumahnya adalah tempat yang paling aman karena Kris paling mengenal seluk beluk rumahnya, juga setiap titik dalam pengamanannya. Lagipula Kris tidak mau menyembunyikan Luhan. Kalau memang Sehun mengejar dan ingin mengambil Luhan, maka mereka harus berhadapan secara jantan. Kalau tidak, dia akan terpaksa membawa Luhan terus menerus dalam pelarian. Atasannya akhirnya menyetujui kekeras kepalaan Kris, dengan berat hati tentunya, dia lalu mengatakan akan mengirim agen-agennya untuk menyusul dan menjaga rumah Kris.
.
.
Mereka menempuh perjalanan kembali ke kota ini dalam kebisuan. Sekarang sudah hampir satu jam sudah berlalu setelah mereka pulang, dan kondisi Luhan masih tetap seperti itu. Kris sendiri telah menghubungi anak buahnya, dan mereka telah menerima instruksi dari atasan langsung Kris untuk segera datang ke rumah Kris dan melakukan penjagaan ketat. Saat ini mereka semua sedang dalam perjalanan.
Luhan menatap ke arah Kris, berusaha memfokuskan pandangannya, tetapi air mata malahan mengalir deras dari matanya, bibirnya bergetar,
"Aku... aku membunuhnya..."
Kris menghela napas panjang, memeluk Luhan dengan lembut.
"Kau menyelamatkan nyawaku sayang, terimakasih, ya."
Tubuh Luhan lunglai dalam pelukan Kris, membiarkan lelaki itu membelai rambutnya. Luhan sendiri merasa begitu bingung akan perasaan yang berkecamuk di benaknya, masih teringat jelas ekspresi wajah Sehun tadi sebelum dia rubuh ke lantai. Kesedihannya itu... seakan-akan merenggut jiwa Luhan membuatnya ingin menangis meraung-raung tetapi tidak tahu kenapa...
Ponsel Kris tiba-tiba berbunyi, Kris mengerutkan keningnya dan mengangkatnya.
"Irene." Sapanya ketika mengetahui siapa yang meneleponnya.
Kris tidak tahu kalau Irene sekarang sudah sampai di bandara kota ini, dan sedang menunggu taxi untuk menuju ke tempat tinggal Kris.
"Kris." Irene membuat suara secemas mungkin, "Aku mendengardari Mr. Jongdae atasanku bahwa Kim Jongin sedang bergegas ke pulau Choi Siwon,ada tamunya yang tertembak, aku cemas sekali Kris, kau kan tahu aku mendugabahwa LuhanLuhan ada di pulau itu.. aku cemas kalau Luhan yang tertembak." Irene mengarang dan berakting dengan lancarnya, bagaimana pun juga, itu adalah keahliannya, bahkan supaya lebih meyakinkan, perempuan itu mulai terisak-isak, membuat Kris di seberang kehabisan kata-kata.
Kris mengerutkan keningnya lagi dan berpikir, Irene setahunya adalah sahabat Luhan yang paling dekat, dan tentu saja perempuan itu sangat mencemaskan Luhan. Kris tidak tega mendengar perempuan itu menangis terisak-isak, mungkin tidak masalah kalau dia memberitahukan keberadaan Luhan di rumahnya, dia bisa meredakan kecemasan Irene dan mungkin kehadiran Irene bisa menenangkan Luhan.
"Irene... aku tidak bisa menjelaskan semuanya secara terperinci... tetapi Luhan... Luhan sekarang berada di sini di rumahku, bersamaku."
"Benarkah?" Irene terpekik, "Biarkan aku bicara dengannya Kris, biarkan aku tahu dia baik-baik saja."
"Luhan sedang tidak bisa bicara." Kris melirik ke arah Luhan yang masih meringkuk dan terisak-isak di sofa, "Mungkin kau bisa kerumahku saja?" Kris memberitahukan alamat rumahnya kepada Irene.
Gotcha!
Irene menyeringai lebar. Jantungnya berdegup penuh antisipasi ketika taxinya datang, Irene memberikan alamat rumah Kris kepada supir, dan dia duduk dengan tidak sabar menunggu taxi sampai ketujuan.
Tunggulah Luhan, dewi pembalasan akan datang dan membunuhmu!
.
.
.
Kris menuangkan secangkir kopi kental hitam dari mesin pembuat kopinya. Aroma harum langsung menguar ke udara, memenuhi ruangan. Dia melirik ke arah Luhan, perempuan itu tadi menangis histeris, kondisinya sangat kebingungan sehingga Kris berpikir dia harus membawa Luhan ke psikiater, kejadian tadi mungkin terlalu mengguncang jiwanya.
Suara mobil terdengar di depan rumahnya, membuat Kris segera mengintip ke luar dengan waspada, dia mendesah ketika melihat Irene yang turun dari taxi itu.
Sebelum Irene mengetuk pintu, Kris sudah membuka pintunya dan menyambut Irene.
"Di mana Luhan?" Irene melongok ke dalam berusaha mencari, Kris memiringkan tubuhnya, membiarkan Irene masuk.
"Di sofa, dia tertidur setelah menangis lama."
Irene menatap Kris dengan bingung,
"Sebenarnya apa yang terjadi Kris?"
"Aku tidak bisa menjelaskannya kepadamu sekarang." Eric bergumam tegas, "Aku hanya berharap kau bisa menghibur Luhan."
"Tentu saja." Irene tersenyum, matanya melirik ke arah Luhan yang tidur meringkuk di sofa, dia mengguncang bahu Luhan lembut,
"Luhan...?" Irene berbisik, memanggil nama Luhan. Tubuh Luhan terguncang dan dia menolehkan kepalanya, matanya mengerjap, seolah tidak yakin.
"Irene?" bisiknya lemah, mengusap matanya
"Ini aku, Lu, kau baik-baik saja?"
Luhan langsung menangis lagi ketika melihat wajah sahabatnya itu, dia langsung memeluk Irene.
"Aku membunuh Sehun... aku..." suara Luhan tenggelam di dalam tangis sementara Irene memeluknya mencoba menghibur Luhan yang histeris.
Sementara itu Kris menatap mereka berdua dan mengangkat bahunya.
"Aku akan membuatkan kopi..." gumamnya membalikkan tubuh kearah dapur.
Baru beberapa langkah, tiba-tiba saja Kris tertegun oleh rasa nyeri dan panas yang menembus punggungnya, dia menoleh dan terkejut mendapati Irene berdiri di belakangnya dengan senyum bengis, tangan Irene memegang pisau, dan pisau itu sekarang menancap di punggungnya, berlumuran darah. Darahnya!
Kris hendak membuka mulutnya ketika pandangan matanya mulai berkunang-kunang, masih di dengarnya suara tawa terkikik Irene.
"Rasakan itu dasar agen bodoh! Berani-beraninya kau menggangu Sehun, kekasihku!"
Sehun adalah kekasih Irene?
Kris mengernyit ketika merasakan kesadarannya makin tenggelam akibat rasa sakit yang amat sangat di punggungnya, dia tersengal, berusaha mencari pegangan tapi terlambat! Tubuhnya rubuh di karpet, penuh darah. Irene membungkuk dan mencabut pisau itu dari punggung Kris, dan mengacung-acungkan pisau yang penuh darah itu kepada Luhan.
Luhan yang menatap seluruh adegan itu dari sofa memekik kaget, dia terpaku di tempat duduknya, matanya membelalak menatap Irene yang memegang pisau berlumuran darah, dan kemudian berpaling ke tubuh Kris yang sekarang terkulai di karpet.
"Irene?" Luhan menatap Irene dan kemudian baru menyadari perbedaan yang ditemukannya di dalam penampilan Irene itu. Irene berpenampilan lebih mencolok dan menggoda... benarkah ini Irene yang sama?
Irene sendiri menatap Luhan dan tersenyum keji.
"Aku akan membunuhmu Luhan..."
"Irene?" Luhan bergumam gugup, beringsut dari kursinya ketakutan ketika Irene melangkah semakin mendekat. "Irene? Ada apa?'
"Ada apa?" Irene mulai tertawa, "Seharusnya kau sadar Luhan, bahwa aku tidak pernah benar-benar menjadi temanmu. Aku mau mendekatimu atas perintah Sehun!"
Apa? Luhan berteriak dalam hati, kesadarannya kembali ketika menerima tatapan membunuh dari Irene. Jadi selama ini Irene hanya menyamar? Apakah Sehun yang mengirim Irene kemari untuk membunuhnya?
"Kau perempuan yang tidak tahu terimakasih, Sehun begitu baik, begitu tampan dan dia harus terikat padamu, perempuan lemah yang sama sekali tidak berharga."
"Terikat padaku?" Luhan sama sekali tidak mengerti maksud perkataan Irene, apakah Irene mengira Luhan mengikat Sehun karena dia adalah satu-satunya korban yang gagal dibunuh oleh Sehun?
"Kau masih tidak ingat, ya?" Irene tertawa cekikikan, tawa yang aneh karena matanya bersinar kejam, "Betapa menyedihkannya kau Luhan, aku berani bertaruh bahwa kau akan menyesal setengah mati kalau kau ingat. Dasar perempuan bodoh, demi membela lelaki yang tak berguna itu kau malahan menembak suamimu sendiri!"
Menembak suaminya? Tetapi Luhan menembak Sehun... apa maksud Irene dengan suaminya?
"Ya, perempuan bodoh! Itulah kenapa Sehun tidak bias melepaskanmu, itulah kenapa Sehun begitu terikat kepadamu. Kau adalah isterinya! Isteri yang tidak tahu terima kasih karena melupakan suaminya begitu saja! Kau tak pantas untuk Sehun, aku akan membunuhmu!"
Dengan gerakan cepat, Irene menyerbu Luhan, dengan pisau berdarah masih teracung di tangannya. Luhan melompat menghindar, melompati sofa itu sehingga sofa itu jatuh terguling bersamanya, menimpa kepalanya dalam benturan yang cukup keras.
Kepala Luhan berputar-putar benaknya melayang. Isteri Sehun...? Dia isteri Sehun? Bagaimana bisa? Kenangannya kembali kepada makan malam mereka dahulu, ketika melihat cincin emas yang melingkar dijari Sehun...
...
"Apakah... apakahkau sudah menikah?" Luhan akhirnya menyuarakan pertanyaan di benaknya, matanyamelirik sekilas lagi ke arah cincin di jemari Sehun.
Sehun mengikuti arah pandangan Luhan ke cincinnya dan tersenyum miris,
"Maksudmu cincinini?" Sehun menatap Luhan dalam-dalam, "Dulu aku pernah menikah."
...
Dulu aku pernah menikah... apakah maksud Sehun, dia menikah dengan Luhan? Tetapi kapan? Bagaimana bisa? Kenapa Luhan sama sekali tidak mengingatnya?
Tiba-tiba Luhan merasa cairan panas mengalir dari dahinya kematanya, dia mengambil cairan itu dengan jemarinya dan menatapnya. Cairan itu berwarna merah, itu darah... kepalanya berdarah! Menyadari itu Luhan merasa pandangannya mulai berkunang-kunang, kesadarannya semakin lama semakin hilang...
Sementara itu Irene berdiri dengan napas terengah, menatap Luhan yang terkulai dengan sebagian tubuh tertindih sofa yang terbalik,
Ini adalah pembunuhan yang mudah. Seharusnya Irene melakukannya dari dulu, mengusir pengganggu ini, melenyapkan Luhan dari muka bumi ini. Selamanya!
Tangannya teracung mengambil ancang-ancang untuk menancapkan pisaunya sedalam mungkin ke punggung Luhan yang tak berdaya...
Lalu suara tembakan itu terdengar, langsung menembus punggung Irene tepat masuk ke jantungnya, hingga tubuh perempuan itu tersentak, dia menoleh ke belakang dan membelalakkan matanya kaget, tidak menyangka bahwa dirinya akan tertembak.
Tao berdiri di sana, dengan beberapa agen. Dialah yang menembak Irene.
"Ta..." Irene mengenal Tao sebagai salah satu anak buah Sehun yang disusupkan ke kantor pemerintah tempat Kris berada, dia hendak menyebut nama Tao, tetapi lidahnya kelu, sekujur tubuhnya kaku dan mati rasa, kesadarannya makin lama-makin hilang.
"Semua sudah selesai, Irene." Tao bergumam, menatap dingin tubuh Irene yang langsung tumbang dan kehilangan nyawa.
Beberapa agen langsung memeriksa Irene, memastikan bahwa dia benar-benar mati. Sementara itu Tao langsung berlari ke arah Kris yang terkulai bersimbah darah di karpet, dia memeriksa nadinya dan memejamkan matanya penuh syukur, Kris masih hidup, Syukurlah... untunglah Tao datang tepat waktu. Chanyeol meneleponnya tadi, menginformasikan bahwa Luhan dibawa kabur, Sehun tertembak, dan para pengawal kehilangan jejak di pulau Jeju. Beberapa saat setelahnya, atasannya menelepon meminta mereka semua bersiap ke rumah Kris untuk melakukan penjagaan karena Kris sudah mendapatkan Luhan. Tao langsung menghubungi Chanyeol untuk melaporkan perkembangan terbaru itu, lalu dia bergerak dengan beberapa agen, mendatangi rumah Kris untuk melaksanakan tugas, meskipun dia membawa misi pribadinya: Luhan tidak boleh bersama Kris, demi kebaikannya, Luhan harus kembali kepada Sehun.
Sayangnya Tao melupakan Irene, wanita psyco yang sudah menjadi rahasia umum begitu tergila-gila kepada Sehun. Tao tidak menyangka Irene akan senekat itu mengejar Luhan, dan melukai Kris.
Tao menatap ke arah Kris. Darah Kris sangat banyak, nyawa Kris masih terancam karena dia kehilangan banyak darah. Tao memandang paramedis yang menyusul di belakangnya dan memandang dengan cemas ketika mereka memeriksa Kris, kemudian mengangkut tubuh Kris untuk dibawa ke ambulans.
Tao menolehkan kepalanya menatap Luhan yang juga pingsan dan sedang diperiksa oleh paramedis.
Dia menghela napas panjang. Luhan harus baik-baik saja, karena dia adalah isteri dari tuan Sehun, tuan besarnya.
.
.
.
Sehun yang baru saja sadarkan diri, duduk di atas ranjang putih itu, menatap tajam ke arah Chanyeol yang sedang menerima telepon dari Tao. Chanyeol tampak bercakap-cakap dengan serius, kemudian dia menutup teleponnya dan menatap majikan yang sudah ia anggap adik ini.
"Semuanya beres."
Sehun memejamkan matanya, merasakan kelegaan yang amat sangat membanjiri tubuhnya.
Semalaman dia tidak sadarkan diri karena pistol yang menembus dadanya. Peluru itu hanya beberapa inci dari bagian vital tubuhnya, meleset sedikit saja dan mungkin Sehun tidak akan bisa diselamatkan, sekarang peluru itu sudah dikeluarkan.
Luhan menembaknya untuk menyelamatkan Kris. Jantung Sehun terasa berdenyut, rasa sedih bercampur cemburu menggelegak dalam jiwanya. Luhan... isterinya yang telah melupakannya sejak kecelakaan itu.
Tidakkah dia tahu betapa Sehun mencintainya? Betapa sehun rela melakukan segalanya demi perempuan itu?
.
.
.
TBC
Duuhhh syedih akutu :'(
Greget akutu T.T
Sekarang sudah tau kan siapa Luhan bagi Sehun, dan siapa Sehun bagi Luhan?
Yang tebakannya benar congrats yaaaa~~ Ayo sini dapet pelukan dari aku atu-atu :D
.
.
Chapter depan flashbacknya HunHan yaa~~
Gomawo yang udah baca dan meninggalkan jejak~~~
Luvyu~~~~
