Jungkook terkekeh dan hatinya merasa senang melihat senyuman Taehyung, "Memangnya kau sudah memintaku menjadi milikmu, hyung?"

"Okay then, be mine, please?"

Jungkook tersenyum manis padanya.

"Certainly, yes. Like I would say no to you."

.

.

.

.

.

.

.

scavenged

.

.

notes:

DOR!

boong deng, gaada notes wkwk~

.

.

.

.

.

"Eomma, eomma! Lihat, aku bisa membuat gelembung yang besaar–sangat besaar~!"

"Aw, berhati-hatilah dengan gelembungnya, Taehyung honey. Jangan sampai kena matamu, ne?"

Taehyung–berwujud anak kecil berusia 9 tahunan–menganggukkan kepalanya riang selagi mengaduk-aduk botol gelembungnya dan mengocoknya layaknya sebuah botol soda. "Pffhh.." bibir kecilnya berusaha meniup gelembung itu dan dirinya melompat-lompat gembira saat kembali berhasil membuat gelembung yang besar, "Berhasiil~~"

Bocah kecil itu menangkupkan sebuah gelembung yang paling besar ke dalam genggaman tangannya dan berlari kecil menuju sang ibu yang tengah berbicara dengan telepon.

"Mommy, I did this! Look, giant bubble!" Taehyung kecil menarik-narik ujung kemeja sang ibu dengan cengiran lebarnya yang tetap setia tergambar di wajahnya. "Maafkan sebentar Mr. Min, akan saya hubungi nanti," wanita itu menggenggam jemari kecil sang anak yang masih menarik-narik kemejanya dan meminta izin untuk menutup pembicaraan teleponnya. "Ne, anak lelakiku, Taehyung. Oh, ok, pasti, saya akan bertemu dengannya malam ini. Ne, dia bilang akan membawa serta anak lelakinya," wanita itu mengelus perlahan surai sang anak yang tengah mengerutkan bibirnya–menganggap sang ibu sedang mengabaikannya. "Tentu, Tuan. Saya pikir Taehyung akan senang mendapatkan teman baru dan–ah, tentu, kita akan membahas masalah itu. Ya, serahkan pada kami," dan dengan anggukan–yang tentunya tak akan bisa diilihat oleh si lawan bicara–wanita itu menutup teleponnya.

Sang wanita meletakkan ponselnya ke atas meja, dan beralih pada Taehyung, "Gelembung yang bagus, honey. Bagaimana kau bisa membuatnya?" tanyanya lembut sembari mengelus-elus kembali surai hitam sang anak. Taehyung, yang awalnya cemberut, perlahan tersenyum gembira, "Tak akan kuberi tahu rahasianya pada eomma!" ujarnya seraya menepuk-nepuk dadanya–tanda rasa bangga.

Sang ibu tertawa geli melihat kelakuan anak lelakinya yang nampak begitu bangga akan kemampuan meniup gelembungnya. Ia menepuk kepala sang anak sekali, "Bagaimana bila sekarang kita bersiap-siap?" ujarnya yang mengundang kerutan di dahi Taehyung, "Bersiap-siap? Kita akan pergi, ya?!" ekspresi wajahnya berubah gembira dan benar-benar excited. Sang ibu mengangguk, "Yep. Dan tebak dengan siapa kita akan bertemu?" wanita itu memberi ekspresi coba-tebak-kau-tak-akan-percaya pada sang anak, "Siapa siapa siapa, eomma?" bocah kecil itu mengepalkan kedua tangannya dan menggoyang-goyangkannya–tanda penasaran.

Wanita itu tersenyum sebelum menjawab, "Keluarga Jeon."

Kedua mata Taehyung melebar, mulutnya dibiarkan terbuka sempurna, setelahnya ia melompat sembari bertepuk tangan, "Yaay! Bertemu! Bertemu!" namun beberapa detik kemudian ia kembali menatap sang ibu, "Eeh, keluarga Jeon itu siapa memangnya eomma?" tanyanya polos.

Sang ibu tertawa kembali, anak lelakinya benar-benar membuatnya gemas. Ia mengetuk perlahan kening sang anak, "Nanti kau akan mengetahuinya. Dan juga kau akan mendapatkan teman baru, keluarga Jeon akan mengajak anak lelakinya nanti malam." jawabnya lengkap dengan senyuman lembutnya.

Dan dibalas dengan sebuah anggukan lucu dari sang anak.

.

.

.

.

"Taehyung-ah, tak perlu memakainya," Taehyung yang sedang duduk berselonjor kaki di ruang tengah merengek sedikit pada sang ibu yang datang dan segera melepas kacamata berbentuk bintang yang dipakainya. "Aah, waeyoong?" Taehyung berusaha menggapai kacamata itu yang telah berpindah tempat ke atas tangan sang ibu, "Tanpa memakai ini kau sudah terlihat tampan, my dear son." sang ibu mengacak pelan rambut Taehyung–berusaha mencari alasan agar sang anak berhenti merengek untuk memakai aksesoris yang aneh.

"Benarkah itu, eomma?" Taehyung menatap sang ibu dengan mata yang berseri-seri, khas anak-anak. Sang ibu mengangguk tanpa ragu, "Tentu saja." kemudian dirinya beranjak menuju kamar untuk mengembalikan kacamata aneh itu, 'Anak itu tentu menuruni sifat ayahnya, bukan? Tentu saja bukan sifatku.' gumamnya sembari terkekeh.

Tak beberapa lama setelahnya, Taehyung berteriak dari ruang tengah pada sang ibu yang berada di dalam kamar, "Eomma~! Ada telepon!"

"Coming~"

Setelah mendengar jawaban sang ibu, Taehyung menyampaikannya pada penelepon di seberang sana, "Tunggu sebentar ya, eomma sedang turun, Min-ahjussi." suaranya begitu menggemaskan dan mengundang siapa saja untuk mencubit pipinya.

"Okay, Taehyungie. Ahjussi akan menunggu."

Taehyung segera memberikan gagang telepon yang sedang dipegangnya pada sang ibu yang sudah berada di hadapannya. "Yeoboseyo? Ah, Mr. Min. Ada ap–"

Bocah kecil itu melihat raut wajah sang ibu yang berubah mengerikan. Seperti sedang melihat monster atau semacamnya. Taehyung sempat melongo melihat ekspresi sang ibu yang belum pernah dilihatnya.

"Bu-buruk sekali, T-Tuan.."

Taehyung dapat mengatakan ia melihat bulir-bulir keringat jatuh perlahan dari pelipis sang ibu. Ia merasa bingung, apakah sang ibu sedang sakit atau semacamnya.

"S-saya mengerti.. H-hal itu akan menjadi tanggung jawab saya seutuhnya, T-Tuan.. N-ne, a-anda bisa menyerahkannya pada saya.. Selamat malam, Tuan." setelahnya sang ibu meletakkan gagang telepon dengan raut wajah yang gelisah–benar-benar gelisah.

Baru saja Taehyung hendak bertanya pada sang ibu, "E-eomma, ada apa..?"

Tanpa menjawabnya, sang ibu segera mencabut kabel telepon, mematikan TV, menutup semua gorden, memanggil seluruh pelayannya. Semuanya ia lakukan dengan begitu tergesa-gesa, seakan-akan dirinya sedang dikejar oleh sesuatu.

Taehyung yang terlalu bingung hanya bisa terdiam menatap sang ibu yang secara tiba-tiba berkelakuan aneh. Dirinya menurut saat sang ibu memerintahkannya untuk duduk diam di atas sofa dan jangan lakukan apapun.

"Anda memanggil kami, ma'am?" para pelayan telah berkumpul di ruang tengah, raut wajah mereka juga tidak jauh berbeda dengan Taehyung. "Yeah, yeah. Apakah kalian sudah berkumpul semuanya?" wanita itu terlihat tengah menghitung jumlah pelayan yang telah berkumpul di hadapannya. "Nampaknya sudah, ma'am."

Setelah satu embusan nafas panjang, wanita itu membuka suaranya, "Baiklah, aku ingin kalian semua di sini. Tetap di sini. Kunci semua pintu dan jendela, tutup semua gorden, jangan biarkan siapapun masuk ke dalam rumah, jangan percaya pada siapapun yang ingin masuk ke dalam rumah,"

Seluruh pasang mata yang mendengar penuturan si wanita, melebar. Termasuk sang anak.

"Bisakah aku mempercayai kalian?" lanjut wanita itu pada para pelayannya–yang langsung direspon dengan anggukan serempak dari mereka.

Wanita itu menyambar jaketnya dengan terburu-buru, lalu mengambil tasnya yang sudah tersedia di atas meja, "Setelah ini aku akan pergi ke suatu tempat, jangan tunggu aku kembali, karena nampaknya aku tak akan kembali dalam waktu dekat,"

Tubuh kecil Taehyung tersentak, ia melompat dari sofa ke arah sang ibu, "E-eomma mau pergi ke mana..?! Eomma jangan tinggalkan aku..!" rengeknya dengan mata yang berkaca-kaca.

Sang ibu kembali menghela nafasnya berat-berat, ia melepaskan genggaman Taehyung pada jaketnya dan mengelus kepala anak itu, "Taehyung-ah, eomma harus pergi sekarang. Kau tetaplah jadi anak baik dan tinggal di rumah. Jangan khawatir, para hyung dan noona akan menjagamu di sini, benar 'kan?" wanita itu menolehkan kepalanya kepada para pelayannya yang menganggukkan kepala mereka.

"Selain itu, bukankah kau masih ada Jimin? Ajaklah ia main bersama agar kau tidak kesepian."

Bulir-bulir air mata mulai keluar dari kedua mata bocah kecil itu, ia mengangguk lemah, "Eomma harus cepat kembali.. Ne?" ujarnya lirih, ia menatap sang ibu dengan tatapan memelas dan tidak rela miliknya.

Sang ibu mengulaskan senyumnya, kemudian mengecup kening anak lelakinya, "Yaksok,"

Ia beranjak menuju pintu depan setelah mengambil kunci mobilnya, "Bye, Taehyung-ah." Taehyung melihat sosok sang ibu membuka pintu dan segera menutupnya–melarang siapapun untuk mengikutinya sampai pagar rumahnya.

Taehyung mendengar suara mesin mobil yang dinyalakan.

Perlahan dirinya tak dapat mendengar suara mobil itu.

Dan tak akan lagi mendengarnya hingga pada hari ulang tahunnya yang ke-18.

.

.

.

.

"Eum, jadi ia baru kembali saat ulang tahunmu yang ke-18, hyung?"

Jungkook memicingkan kepalanya sembari mengeratkan tautan jemarinya pada sosok di hadapannya yang tengah bercerita. Sosok itu terlihat menundukkan kepalanya dan menghela nafasnya, lalu mengangguk kecil.

"Eomma memang kembali," Jungkook merasakan tetesan air membasahi jemarinya, "Namun jiwanya tidak kembali." Dan tetesan air itu bertambah banyak selagi jemarinya digenggam kuat oleh sosok di hadapannya ini–Taehyung.

"H-hyung.." Jungkook menundukkan dan menyejajarkan kepalanya dengan Taehyung yang nampak sedikit bergetar. Genggamannya pada jemari Jungkook perlahan melonggar–menjadi sebuah kesempatan bagi Jungkook untuk menenangkan sunbae-nya ini.

Taehyung merasakan sebuah tangan lembut menyentuh pipinya. Mengelusnya perlahan, mengusap bulir-bulir air yang bertengger di ujung matanya, serta jejak bulir itu yang sempat turun dan meninggalkan bekas di kedua pipinya. Perlahan, Taehyung mengangkat kepalanya dan pandangannya bertemu dengan senyuman hangat Jungkook.

"Kau nampak jelek, hyung,"

Jungkook mendekati Taehyung, dan meninggalkan sebuah kecupan di atas pipinya, "Namun tetap menawan." Kembali, Taehyung harus menikmati senyuman itu dari bibir yang telah mengecupnya.

Sebuah senyum terulas dari bibir Taehyung. Jemarinya terangkat, dan mendarat di atas pipi gembil Jungkook lalu mencubitinya, "Sudah berani menciumku lagi, brat?" ujarnya dengan nada mengejek.

Jungkook mengerutkan bibirnya–suatu kebiasaan apabila seseorang mencubitinya–dan mengusap-usap pipinya yang telah memerah, "Uh, sakit sekali.." ujarnya sembari meringis kesakitan.

Kedua pemuda ini masih berada di dalam kamar–setelah insiden pengakuan yang dilakukan Jungkook agar Taehyung tidak berteriak padanya. Mengobrol, bersenda gurau, tanpa ada yang ingin beranjak terlebih dahulu meninggalkan tempat ini. Mereka masih merasa nyaman, dan ingin bersama berdua saja di dalam kamar ini. Jadi Jungkook bertanya kepada Taehyung mengapa sebelumnya dirinya berkata bahwa ia berbahaya–dan juga karena Jungkook ingin mengenal Taehyung lebih dekat–, dan setelah beberapa kali mengeluarkan tatapan memelasnya, Taehyung menyerah dan akhirnya menceritakan semuanya.

Termasuk pengakuan lain bahwa dirinya berencana balas dendam atas kematian sang ibu.

"Sebenarnya pekerjaan eomma tidak berbahaya, menurutku. Ia adalah seorang ilmuwan–tidak, ia bukan ilmuwan yang bekerja siang dan malam tanpa henti layaknya di komik," Taehyung menampik keyakinan Jungkook yang mulai menggambarkan sosok ibu Taehyung seperti di dalam komik.

"Namun semenjak ia bekerja untuk organisasi sialan itu.. Semuanya berubah," Jungkook melihat Taehyung menggeretakkan giginya.

"Di hari ulang tahunku yang ke-18 ibuku dibunuh dan akan kutemukan pembunuh itu walau nyawaku taruhannya." lanjutnya.

"Dibunuh..? Organisasi..? A-aku tidak terlalu mengerti, hyung.. Jadi maksudmu tentang ibumu kembali saat ulang tahunmu yang ke-18 itu dia dibunuh–" Taehyung memotong ucapan Jungkook dengan menempelkan bibirnya pada bibir Jungkook.

Jungkook, terlalu terkejut hingga kedua matanya benar-benar melebar, "Hy-hyu-hyung..?" Jungkook menutup mulutnya dengan refleks, tidak menyangka Taehyung akan menciumnya.

Tiba-tiba Taehyung menatap dalam kedua manik Jungkook, mencengkram bahunya, "Akhir tahun ini aku berencana masuk ke pelatihan sniper, kau tahu, untuk mengejar pembunuh eomma aku butuh kemampuan yang setara dengan penembak jitu. Dan menjadi sniper bukanlah pekerjaan yang aman, makanya aku berusaha menjauhkan diri dari siapapun agar tidak ada yang terancam bahaya karena diriku–termasuk dirimu,"

Jungkook kembali terkejut. Taehyung akan masuk pelatihan sniper seperti dirinya?

"Tapi melihatmu yang begitu ugh–menggoda membuat pertahanan diriku lemah, maafkan aku membiarkanmu masuk ke dalam kehidupanku–"

Kali ini, Jungkook memotong ucapan Taehyung dengan membungkamnya menggunakan bibirnya.

Bibir mereka bertemu selama tiga detik, dan hanya menempel.

Jungkook melepaskan tautannya perlahan, menatap Taehyung yang nampak terkejut seperti dirinya tadi–ia mengerjapkan matanya beberapa kali.

"Y-yang tadi itu untuk apa, Kook?"

Jungkook tersenyum, kali ini senyumannya benar-benar terlihat begitu tulus dan ada perasaan lega di dalamnya, "Kau tahu? Aku juga ingin berlatih menjadi sniper sepertimu, hyung."

Taehyung membulatkan kedua matanya, membiarkan mulutnya terbuka lebar, menatap sosok pemuda di hadapannya dengan tidak percaya. Jungkook tertawa kecil melihat ekspresi Taehyung yang begitu lucu menurutnya, "Aku serius, hyung. Kita akan berlatih bersama! Bukankah itu menyenangkan?" ujarnya lengkap dengan cengiran khas anak-anak miliknya.

"Ke-kenapa kau juga ingin masuk?" tanya Taehyung yang masih menatapnya tidak percaya.

Perlahan senyum Jungkook memudar. Ia menundukkan kepalanya, memainkan jemarinya, "Aku ingin membalaskan dendam appa," ujarnya lirih. Kemudian ia mengulaskan senyuman kecilnya dan kembali menatap Taehyung, "Appa adalah seorang inspektur. Kami sama-sama mengerti jika pekerjaan appa berbahaya, namun kami tetap tak bisa menerima kematian appa, karena appa dibunuh oleh orang-orang jahat padahal appa tak punya salah apa-apa–um, begitu kata Jin-hyung jadi aku dan Jin-hyung sudah bertekad akan mengejar pembunuh appa." lanjut Jungkook.

Entah mengapa Taehyung merasa sangat gemas dengan penjelasan Jungkook yang terdengar begitu polos dan lucu. Ia kembali mencubit pipi Jungkook, "Ah, hyung! Sakit.." Jungkook meringis di kala Taehyung mencubitinya–lebih keras dibanding sebelumnya.

Taehyung sedikit terkekeh, ia mendekati Jungkook, menangkup kedua pipinya, dan mengecup keningnya. "Aku percaya kau dan hyung-mu itu bisa melakukannya," ia menggenggam jemari Jungkook–yang sudah memerah sempurna– "Jangan lupa, kau juga punya aku. Biarkan aku membantumu," lalu mengecupnya, "Itu dapat sekaligus mencari pembunuh ibuku. Deal?"

Jungkook merasakan cairan membasahi kedua matanya, ucapan Taehyung dan tindakannya barusan benar-benar melelehkan hatinya dan membuat ribuan kupu-kupu beterbangan dengan bebas di dalam perutnya. Jungkook segera memeluk Taehyung sebagai pengganti jawaban.

Taehyung tersenyum sembari mengelus punggung Jungkook yang sedang menenggelamkan kepalanya pada ceruk lehernya, "Hyung, kau sungguh cheesy..!" gumamnya–sedikit bersyukur karena Taehyung tak dapat melihat semburat merah di kedua pipinya.

"Ta-tapi aku, aku menyukaimu." lanjutnya sembari mengerucutkan bibirnya saat ia melepaskan pelukannya pada Taehyung.

Taehyung berencana kembali mencium plump milik Jungkook yang sedang mengerucut, namun dering ponsel Jungkook mengacaukan rencananya.

Taehyung menggeram, ia mencengkram rambutnya saat Jungkook mengeja nama 'Jimin-hyung' dan mengangkat telepon dengan tergesa-gesa, "Y-yeoboseyo, hyung?"

"..."

"A-ah, mianhae! A-aku lupa memberitahumu,"

"..."

"N-ne, ne, hyung.. Mian, aku merasa sakit perut jadi aku langsung pulang–tidak, tidak, aku tidak bertemu dengan Tae-hyung.." Jungkook berbohong pada Jimin di seberang sana setelah dirinya melihat Taehyung menggelengkan kepalanya dan menggumamkan sesuatu; jangan-katakan-kau-sedang-bersamaku.

"..."

"T-tapi sekarang aku baik-baik saja, hyung. Tak usah khawatir,"

"..."

"Tentu. Bersenang-senanglah dengan Yugyeom. Bye."

Taehyung mendengus saat Jungkook mengakhiri pembicaraannya dan menyimpan ponselnya ke dalam tasnya. "Kenapa dengan wajahmu, hyung?" Jungkook terkekeh melihat raut wajah masam Taehyung, ia menusuk pipi Taehyung dengan jemarinya–berniat menggoda sang sunbae.

"Si bantet itu, ia terlalu dekat denganmu. Merangkulmu dengan mudahnya, memanggilmu dengan panggilan yang manis, bahkan meneleponmu malam-malam hanya untuk bertanya keadaanmu." Taehyung mendecih setelah mengatakannya.

Jungkook kembali merasakan pergerakan kupu-kupu di dalam perutnya, Taehyung benar-benar seorang gembala kupu-kupu–pikirnya, "Don't tell me, did you jealous?"

Taehyung membeku, pertanyaan Jungkook benar-benar tepat sasaran.

"Did not."

"You did."

"Did not!"

"Did."

"You brat.."

Jungkook menertawakan ekspresi Taehyung saat dirinya berusaha menyangkal bahwa ia sedang merasa cemburu. Jungkook memeluk lengan Taehyung dan mengucapkan kata-kata yang membuat Taehyung benar-benar malas:

"Ceritakan padaku tentang hubunganmu dengan Jimin-hyung."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"KIIIIM TAAEEEEHYUUUUNG."

Taehyung yang tengah menyeruput minumannya di dalam kantin sekolah hampir menyemburkannya saat mendengar suara lantang menyerukan namanya. Ia terbatuk-batuk–sedikit tersedak minumannya, dan benar-benar mengutuk siapapun pemilik suara itu yang telah membuatnya menjadi pusat perhatian.

Mejanya digebrak oleh satu–dua orang yang salah satunya melipat tangannya dan satunya lagi yang menggebrak meja tengah menatapnya tajam.

"Ada perlu apa, Park Jimin dan Kim Yugyeom?" setelah menghela nafasnya, Taehyung memberi penekanan pada nama-nama dua pemuda yang telah berdiri di hadapannya.

"Hyung, kurasa kita harus tenang sedikit–maksudku, lihat, pandangan semua orang tertuju pada kita." Yugyeom mengedarkan pandangannya dan menepuk bahu Jimin–mencoba menenangkannya. "Oh, benarkah?" Jimin memasang tampang terkejutnya yang bodoh–menurut Taehyung–lalu membungkukkan badannya, "Jeoseonghamnida."

Taehyung hanya bisa memutar matanya, ia memang sudah mengerti dengan kebodohan Jimin namun kali ini Jimin benar-benar bodoh jadi ia memilih untuk tak ikut campur.

Setelah membungkuk beberapa kali dan orang-orang di dalam kantin sudah tidak mempedulikan mereka, Jimin dan Yugyeom segera mendudukkan diri mereka di kursi seberang Taehyung duduk–Taehyung sedang duduk dan menikmati minumannya sendirian di dalam kantin.

"Tae, kemarin malam saat aku menelepon Jungkook karena ia tidak kembali menyusul kami dan aku bertanya apakah ia bertemu denganmu–"

Taehyung menaikkan sebelah alisnya, sedikit bingung mengapa Jimin memberi jeda pada ucapannya.

Jimin mengerutkan dahi dan bibirnya, "–ia memanggilmu 'Tae-hyung'! Jelaskan, ada apa sebenarnya?" Jimin kembali menggebrak meja–yang langsung disambut dengan sebuah senggolan dari Yugyeom yang mengingatkannya agar tak menjadi pusat perhatian.

"Ha..? Aku tak mengerti maksudmu, bodoh." Taehyung menganga lebar, dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

Jimin mendesis, ia mengacak surainya sebentar sebelum kembali berseru, "Jungkook memanggilmu 'Tae' 'Tae-hyung' layaknya aku memanggilmu 'Tae'~! Bukankah yang memanggilmu begitu hanya aku, sahabat sejatimu? Dan panggilan itu merupakan panggilan sayangku untukmu, jadi–"

"Hentikan. B-o-d-o-h."

Taehyung merasa dirinya benar-benar malu dengan penuturan Jimin. Hell, dari mana teori panggilan sayang itu sebenarnya? Ia mendesis ke arah Jimin selagi terus menggumamkan kata 'bodoh' atau 'what the hell' padanya.

Sedangkan Jimin terlihat bingung–mengapa Taehyung mengatainya? Ia merasa tidak mengatakan hal yang salah, setidaknya sebelum ia melihat Yugyeom menepuk keningnya–tanda frustrasi. "Ah, hyung, ini tidak seperti skenario kita." ujar Yugyeom yang sialnya terdengar oleh Taehyung.

Dengan cepat, Taehyung menatap Jimin dengan tajam, "Jelaskan padaku, skenario apa maksudnya?"

Jimin, masih terlihat bingung, perlahan tersadar, "Aaah! Yugyeom, kenapa aku berkata seperti itu, ya?!" ia mencengkram kerah baju Yugyeom dan mengguncangkannya. "Aku tak tahu, hyuung!" Yugyeom yang malang berusaha melepas cengkraman Jimin.

Awalnya Taehyung merasa geram dengan Jimin, namun setelah melihat Jimin kembali bertingkah bodoh ia mengurungkan niatnya untuk mencekik Jimin, "Bodoh."

Jimin, yang akhirnya melepaskan cengkramannya pada kerah baju Yugyeom, berdehem sebentar untuk mengulangi ucapannya, "Yang mau kukatakan adalah.." tidak hanya Jimin, Yugyeom ikut menatap Taehyung dengan tajam.

Taehyung sedikit memundurkan kepalanya seraya membulatkan kedua matanya karena dua pemuda itu terlalu dekat dengannya.

"Oh, lihat, Jungkookie!"

Taehyung menolehkan kepalanya dengan cepat saat Jimin tiba-tiba meneriakkan nama Jungkook dan menunjuk ke suatu arah. Dan ia menggeram saat Jimin ternyata menipunya.

Sebelum sempat protes apa-apa, Jimin mendahuluinya, "Lihat? Kau langsung bereaksi begitu kusebut nama Jungkook. Apa yang terjadi antara dirimu dan Jungkook?!" kembali, Jimin menggebrak meja–kali ini Yugyeom mengikutinya.

Sang tersangka mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia menenggak salivanya berat, berharap dua pemuda di depannya tidak menangkap ekspresi gugupnya.

"Dasar bodoh."

Taehyung menenggak habis minumannya, dan tanpa ba-bi-bu ia beranjak pergi. Mengabaikan teriakan-teriakan protes dari dua pemuda di belakangnya.

"Kau mau pergi ke mana, hey, Taehyung!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hubungan Taehyung dan Jungkook sudah berjalan selama tiga bulan, dan selama itu pula mereka merahasiakannya. Selama itu pun Jimin dan Yugyeom gencar menginterogasi mereka berdua saat mereka tertangkap basah sedang berduaan.

"Aku hanya sedang membantunya belajar, bodoh." demikian yang selalu dijawab oleh Taehyung pada Jimin dan Yugyeom.

"Umm, aku hanya memintanya mengajariku, kalian 'kan tahu bahwa aku tak terlalu suka belajar hitungan." kali ini adalah jawaban Jungkook.

Baik Taehyung maupun Jungkook harus menyembunyikan semburat mereka di kala mengingat kegiatan 'belajar' mereka yang diselingi dengan lovey-dovey session. (30% belajar, 70% yang lain)

Sebenarnya, Jungkook mengerti alasan Taehyung menyembunyikan hubungan mereka. Sederhana, tak ingin mereka terancam bahaya.

Tak mengerti?

Oke, Taehyung dan Jungkook akan menjadi sniper nantinya. Berbagai macam bahaya akan mereka hadapi. Tentunya mereka tak ingin orang-orang di sekeliling mereka ikut terkena bahaya.

So they decided to keep their relationship as a secret. Sampai waktunya nanti tiba atau memang hubungan mereka akan terbongkar dengan sendirinya.

Masih tak mengerti?

Ok, biarkanlah mereka saja yang mengerti.

Ada suatu hari di mana Jimin dan Yugyeom menjebak Taehyung dan Jungkook dengan cara mengunci mereka di dalam ruang ganti gym. Setelah mengajak mereka berdua bermain basket, Jimin dan Yugyeom–entah bagaimana–mengunci mereka di dalam ruang ganti tanpa menyediakan baju ganti untuk mereka.

"Dengan semua hormon remaja mereka aku yakin mereka tak akan sanggup menahan diri." ujar Jimin seraya menaikkan sebelah alisnya pada Yugyeom yang bertanya alasannya. Yugyeom terlihat excited, ia bertepuk tangan girang, "Woah, aku tak menyangka idemu benar-benar bagus, hyung!"

Dan rencana mereka berakhir dengan kegagalan, total.

"Kau pikir selama ini aku belajar taekwondo untuk apa?"

Jimin dan Yugyeom menganga lebar saat melihat sosok Taehyung keluar dari dalam ruang ganti–yang pintunya telah menghilang dengan Jungkook mengikuti di belakangnya, masih berpakaian utuh tanpa berantakan sama sekali.

Namun hal itu tidak menyurutkan semangat Jimin dan Yugyeom, semangat mereka untuk membongkar rahasia hubungan Taehyung-Jungkook semakin berkobar dari hari ke hari. Bahkan mereka telah membentuk komunitastersendiri bagi para siswa yang juga ingin menguak rahasia Taehyung-Jungkook.

"Heh, memangnya ada yang seperti itu?"

Taehyung sempat menanyakan komunitasyang dimaksud oleh Jimin suatu hari, dan segera dibalas dengan penuh semangat dan percaya diri olehnya, "Tentu saja! Diperuntukkan bagi siapa saja yang ingin menguak, membongkar, menjunjung tinggi kebenaran antara dirimu dan Jungkook!"

Dan kembali, Taehyung memutar bola matanya, menggelengkan kepalanya, merasa sangat lelah dengan tingkah laku sahabatnya ini. "Habisnya belakangan ini kau berubah. Aku sempat beberapa kali menyadari bahwa kau kembali menjadi Tae yang dulu saat bersama Jungkook," Taehyung melirik ke arah Jimin, "Tae yang ceria, yang lucu, dan yang perhatian." Jimin menarik nafas panjang lalu membuangnya.

"Aku tidak bilang itu hal yang buruk. Tapi mengapa kau tidak mengakuinya saja? Aku tak akan ribut-ribut begini jika kau langsung mengatakan yang sebenarnya–"

"Cukup, Park Jimin."

Setelah beberapa kali memutar otaknya, Taehyung kemudian menatap tajam ke arah Jimin, "Tak perlu selalu ikut campur urusanku–maksudku, aku tidak marah padamu, tapi kumohon, kali ini biarkan saja. Anggap saja bahwa aku memang setiap hari seperti ini." Taehyung mendekati Jimin, menepuk pundaknya–mengisyaratkan bahwa Jimin harus berhenti melakukan hal-hal yang tidak semestinya ia lakukan. Ia tersenyum.

Dan jauh di lubuk hatinya, Jimin merasakan bahwa Taehyung telah kembali menjadi Taehyung yang ia kenal selama 18 tahun.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Kim. Seok. Jin."

KLIK!

"Gotcha,"

"Panggil dia ke sini."

"Yep. Jung Hoseok."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

awww maaf cliffhanger lagi D"; /bows/

aku tahu, chapter ini pendek dan ngebosenin u_u lebih enak makan rendang daripada chapter ini /iyalah/ huhu maafkan aku yaa abisnya kalo aku gabungin takut kepanjangan + kecepetan + terburu2 + dll(?) D"; udah gitu lama lagi baru ngepost huhu ampun(?)

chapter ini drama/telenopela/sinetron banget gaksih(?) /dor/ tapiiii chapter depan aku udah buat kejutan/? semoga kalian bener2 terkejut/? o^o

dan juga chapter depan akang hosoq muncul yeaayyyyy aylopyuuuu kang(?);;v;; /abaikan, please/

btw, kira2 ada yang mau nyumbang tentang jimin? ehmmm aku agak bingung nentuin masa lalu jimin(?) dan juga sejarah kehidupannya(?) ;;_;; /jimin maafkan tante ya/

okedeh, makasih buat semua yang udah baca+meninggalkan jejak, i love you guys tanpa terkecuali;******

kindly do me the 3 big favors, favs/follow/review ;3 any critics/comments are warm welcomed & appreciated ;))

thank you ;3