Chapter 14

.

.

[Satu tahun sebelum kecelakaan Luhan dan ayahnya]

.

.

"Kenalkan ini Sehun, dia akan mengawal ayah." Profesor Kangin, ayah Luhan membawa lelaki tampan itu ke ruang tamu tempat Luhan sedang duduk dan membaca novel kesukaannya. Luhan terkesiap ketika melihat tamu yang dibawa ayahnya itu. Astaga! Lelaki itu sangat tampan, bagaikan ciptaan dewa, dengan mata gelap dan pekat serta garis wajah yang kuat, bagaikan dewa Yunani...

Lelaki itu mengulurkan tangannya dan Luhan langsung membalasnya dengan gugup, menciptakan senyum tipis di bibir lelaki itu,

"Saya Sehun. Atasan ayah anda yang juga atasan saya, menugaskan saya untuk menjaga profesor Kangin."

"Kenapa harus dijaga, ayah?" Luhan menoleh ke arah ayahnya sambil mengernyitkan keningnya, bingung.

Profesor Kangin melemparkan tatapan bingung ke arah Sehun, tetapi lelaki itu malahan memasang wajah datar, tidak mau membantu, membuat profesor Kangin sibuk sendiri memikirkan alasannya,

"Ayah sedang menangani proyek penting dan rahasia, sayang."

"Proyek rahasia?" Luhan masih mengerutkan keningnya, ayahnya adalah profesor di bidang matematika yang sangat ahli. Tetapi apakah ada sesuatu yang berhubungan dengan matematika yang bisa dianggap penting, rahasia dan membahayakan?

Sehun menatap Luhan yang tampak bingung, lelaki itu lalu memasang senyumnya yang paling manis.

"Apakah kau mau membantuku, Luhan? Aku agak kesulitan mengucapkan beberapa patah kata bahasa di sini, mungkin kau bisa mengajariku."

Lelaki ini memang bukan orang sini, dan logatnya terdengar sangat aneh. Dilihat dari mukanya yang klasik dan rambutnya yang kecoklatan, Luhan menebak kalau lelaki ini adalah orang Eropa. Wajahnya terlalu klasik untuk menjadi orang Amerika.

Sehun mengangkat alisnya dan melihat Luhan yang sedang mengawasinya,

"Aku berdarah campuran Korea-Italia, namun aku menetap di Italia." Gumamnya santai, seolah mampu membaca pikiran Luhan dan seketika itu juga membuat pipi Luhan memerah karena tertebak apa yang sedang dipikirkan oleh benaknya.

Ah, orang Italia. Pantas saja. Luhan menahan senyum,

"Aku akan membantumu." Jawabnya ramah, senyumnya begitu ceria membuat Sehun yang muram mau tak mau ikut tersenyum lebar.

Profesor Kangin melihat perubahan ekspresi Sehun yang menjadi hangat itu, dia melirik Luhan, puterinya yang sangat cantik dan bercahaya, yah siapapun orangnya biasanya mereka akan mudah luluh kalau sudah mengenal Luhan. Lelaki itupun dalam hatinya tersenyum, Luhan, anugerah terbesar dalam hidupnya. Dia sangat beruntung bisa memiliki putri seperti Luhan.

.

.

.

Ketika mereka sedang berdua di ruang kerjanya, suasana berubah menjadi sangat serius. Profesor Kangin duduk di sana, menatap dalam-dalam ke arah Sehun yang diam dan tenang, sungguh susah membaca ekspresi lelaki ini. Lelaki ini tiba-tiba dikirimkan oleh organisasi tempatnya menerima pekerjaan khusus, katanya untuk menjaganya, karena misinya berbahaya dan melibatkan perubahan dunia, tetapi Profesor Kangin bukan orang bodoh, dia tahu ada sesuatu yang aneh, yang direncanakan oleh orang-orang penting dalam organisasi berbahaya tempat dia bekerja sekarang.

Profesor Kangin mendesah dan menghela napas panjang, dia sebenarnya tahu bahwa menerima pekerjaan dari organisasi ini cukup berbahaya, misi organisasi itu bukanlah misi biasa, melainkan rencana menggulingkan kekuasaan di sebuah negara. Tetapi Profesor Kangin terjepit, dia terlilit hutang yang luar biasa besar, sebagai lelaki dia memang sangat jenius dan sempurna dibidang akademis, tetapi kejeniusannya itu membawa kelemahan pada dirinya, dia kecanduan berjudi. Berjudi membuat otaknya berputar, memikirkan rasio demirasio matematika dalam memperhitungkan kemenangannya, sayangnya, kepandaian analisa dan matematikanya tidak selalu membawanya kepada kemenangan. Dua bulan yang lalu, dia kalah berjudi dalam jumlah yang sangat besar. Begitu besarnya sampai jika seluruh hartanya dijual, tidak akan mencukupi untuk membayar hutang judinya.

Profesor Kangin putus asa, sampai akhirnya dia menghubungi organisasi itu, organisasi yang pernah menawarkan sejumlah uang yang cukup besar baginya, asalkan dia mau melakukan penelitian penting demi mencapai tujuan mereka. Deal kerjasama itu membereskan masalah hutang judinya, tetapi sekarang dia terikat perjanjian kerja dengan organisasi yang sangat berbahaya. Apakah pekerjaan ini akan membahayakan Luhan juga? Jantung Profesor Kangin berdebar, Luhan puteri kesayangannya, dia harus menjaga Luhan sebaik-baiknya.

"Puterimu sangat cantik dan baik hati." Sehun bergumam, dari tadi matanya menelusuri seluruh bagian ruangan itu, seperti kebiasaannya, memperhatikan sampai detail yang sekecil-kecilnya.

Profesor Kangin menatap lelaki di depannya itu, sikap Sehun tampak tenang, tetapi Profesor Kangin tahu, ada yang begitu kelam tersembunyi di sana. Lelaki ini berbahaya.

"Aku sangat menyayanginya." Dia lalu menghela napas panjang, memaksa Sehun memalingkan wajah kepadanya, "Apakah kau dikirim untuk membunuhku?"

Ekspresi Sehun tidak terbaca, dia hanya menatap Profesor Kangin dengan mata cokelatnya yang dalam,

"Kau seharusnya tahu, ketika kau mengikat perjanjian dengan organisasi itu, sama saja menyerahkan nyawa."

Jawaban tidak langsung. Tetapi Profesor Kangin mengerti apa maksudnya. Dia telah menjual nyawanya kepada organisasi ini. Segera setelah penelitiannya selesai, mungkin saja lelaki di depannya ini akan mencabut nyawanya.

"Apakah kau juga akan membunuh Luhan?"

Ada kilat di mata Sehun, tetapi dengan cepat lelaki itu menghapusnya, senyumnya adalah senyum muram yang menakutkan.

"Kita lihat saja nanti."

"Apakah kau bagian dari organisasi itu?" Profesor Kangin tidak mau menyerah meskipun Sehun sudah memberi isyarat tidak mau bercakap-cakap lagi.

Sehun menggelengkan kepalanya pelan, "Bukan. Aku hanya disewa untuk melaksanakan tugas." Matanya menyala, "Harga sewaku sangat tinggi, dan aku hanya mau menerima pekerjaan khusus."

Profesor Kangin menelan ludahnya, dia berdehem untuk mencairkan suasana menakutkan kental yang melingkupi mereka.

"Kau akan tinggal di sini?"

Sehun tersenyum, "Mungkin saja. Ini adalah tempat terbaik di mana aku bisa mengawasimu." Mata lelaki itu menatap ke luar, menerawang dan entah kenapa Profesor Kangin tahu, Sehun sedang memikirkan Luhan.

.

.

.

"Hai." Luhan menoleh dan tersenyum lebar ketika mendapati Sehun sedang berdiri di ambang pintu dapur, bersandar di sana dan mengawasinya. Rambut lelaki itu basah sehabis mandi, "Bagaimana istirahatmu? Kuharap menyenangkan setelah melalui perjalanan panjang dari Italia?"

Sehun melangkah memasuki dapur, dan duduk di atas kursi dapur, "Aku naik pesawat jet." Gumamnya singkat. Lalu menuangkan kopi kental dan hitam dari mesin pembuat kopi ke mug putih yang sudah tersedia di sana. Lelaki itu meneguk kopi harum yang masih panas itu dan kemudian mengangkat alisnya melihat Luhan yang sibuk dengan sesuatu di atas kompor, "Kau memasak?"

Luhan terkekeh, "Ya. Aku memasak. Jangan menertawakanku ya, rumah ini sangat jarang kedatangan tamu, apalagi tamu menginap. Jadi untuk saat istimewa ini aku akan mempraktekkan keahlianku memasak."

"Aku bukan tamu istimewa." Sehun mengerutkan keningnya.

Tetapi rupanya Luhan tidak mau di bantah, "Kau adalah tamu pertama yang menginap di sini setelah…" dahinya mengerut, berpikir, "Bahkan aku tidak ingat lagi kapan terakhir ada tamu yang menginap di rumah ini." Luhan tertawa, suara tawanya begitu renyah, ceria, dan mau tak mau mempengaruhi suasana hati Sehun yang biasanya muram lelaki itu tersenyum tipis,

"Jadi kau masak apa?"

Luhan mengedipkan sebelah matanya, "Rahasia." Gumamnya ceria.

.

.

.

Sehun ternyata seorang penyendiri. Luhan mengamati dalam diam. Sudah hampir satu bulan lelaki itu tinggal bersama mereka. Dia memang sepertinya melaksanakan tugasnya untuk mengawal ayah Luhan, karena lelaki itu hampir setiap saat berada di dekat ayah Luhan, bahkan di saat ayah Luhan keluar, lelaki itu ada di sisinya.

Tetapi kadangkala, Luhan merasa bahwa Sehun bukanlah pengawal biasa. Lelaki itu kadang terdengar menelepon dengan bahasa Italia atau bahasa Inggris kepada seseorang yang sepertinya anak buahnya. Luhan tidak mengerti bahasa italia, tetapi dia mengerti bahasa Inggris, dan kadang kala dia mendengar Sehun membahas tentang perkebunan dan perusahaannya.

Dari apa yang berhasil Luhan dengar, lelaki ini memiliki berhektar-hektar perkebunan yang sangat luar di Italia sana, itu berarti lelaki ini lelaki kaya.

Kalau begitu, apa yang dilakukan Sehun di sini dan mengerjakan pekerjaan sebagai pengawal?

"Jangan melamun." Suara itu tiba-tiba terdengar di belakangnya, membuat Luhan melonjak kaget.

Dia menoleh dan mendapati Sehun di sana, menatapnya dalam senyum misterius, dekat sekali di belakangnya. Luhan membalikkan tubuhnya mendadak dan menabrak Sehun, membuatnya terhuyung, untunglah Sehun memegang kedua pundaknya untuk menyeimbangkannya. Jemari Sehun terasa kuat dan panas, di kulitnya, tiba-tiba saja membuat Luhan meremang,

"Hat-hati." Sehun berbisik pelan, dengan tatapan intens dan aneh yang tidak di mengerti oleh Luhan.

"Terimakasih." Tiba-tiba saja Luhan merasa canggung, "Aku... eh.. aku akan kembali ke kamar."

Dengan langkah tergesa, Luhan menuju kamarnya, diiringi oleh tatapan tajam Sehun yang berdiri diam menatapnya sampai hilang dari pandangan.

.

.

.

Sehun duduk di kamarnya. Kamar ini berada tepat di seberang kamar Luhan, matanya mengawasi seluruh isi kamar. Yah, lumayanlah untuk rumah seorang profesor. Dia sebenarnya tidak terbiasa tinggal di kamar biasa seperti ini, apalagi di dalam sebuah rumah milik orang biasa. Kamar yang disiapkan bagi Sehun biasanya kamar terbaik di hotel berbintang lima.

Tetapi saat ini Sehun sedang menjalankan tugasnya. Yah. Orang seharusnya takut padanya, dia adalah seorang pembunuh bayaran yang sangat berbahaya, terkenal di dunia gelap sana sebagai pembunuh yang tak pernah gagal. Sebenarnya Sehun tidak pernah menganggap pembunuh menjadi kariernya, dulu hidupnya keras, karena dia adalah anak yang berasal dari panti asuhan dengan nama 'David Agosto', nama yang diberikan oleh ibu panti asuhannya karena mereka bahkan tidak tahu namanya ketika bayinya ditemukan menangis di depan pintu panti, hampir membiru karena udara luar yang dingin. Ketika remaja, Sehun meninggalkan panti asuhan, melarikan diri untuk hidup mandiri, tetapi kemudian dia terjebak di dunia gelap yang kelam, yang memberlakukan hukum rimba. Siapa yang paling kuat dia yang berkuasa.

Sehun dulu lemah, tetapi dia mempunyai semangat hidup yang kuat. Pada usia 13 tahun, dia diselamatkan dari rehabilitasi remaja oleh seorang lelaki penguasa yang sangat kejam, seorang lelaki yang sudah melihat potensinya dari kemampuan berkelahi alaminya. Lelaki itu adalah Cho Kyuhyun. Kyuhyun adalah seorang pengusaha setengah Korea dan setengah Amerika latin, yang sangat sukes dan menguasai dunia bisnis di Italia pada masa itu, kekuasaannya menyeluruh, sampai menjangkau ke dunia gelap yang pekat dan kejam. Kyuhyun menyelamatkannya ketika dia hampir mati, menjadi bulan-bulanan setiap hari, dihajar oleh kelompok remaja yang menguasai fasilitas rehabilitasi remaja itu, dia dibenci lebih karena sosoknya yang luar biasa tampan dan sikap angkuhnya yang mendorongnya tidak mau tunduk kepada pemimpin di dalam rehabilitasi itu, ketika Kyuhyun melihatnya dan menyadari potensinya, lelaki itu mengatur dengan segala koneksinya untuk mengeluarkan Sehun dari pusat rehabilitasi itu.

Sehun dididik oleh Kyuhun dengan sedemikian kerasnya sampai hampir menyerah dan ingin mati saja ketika dia menjalani malam-malam penuh darah dan olah fisik yang mengerikan. Pada awalnya dia dijadikan pengawal kelas rendahan di dalam kekuasaan Kyuhyun, sebagai tameng awal kalau terjadi baku tembak atau serangan dari musuh-musuh Kyuhyun, kemudian karena kemampuannya bertahan, Sehun terus dan terus naik hingga akhirnya menjadi orang kepercayaan Cho Kyuhyun. Sampai kemudian di suatu titik, Sehun bisa menjadi teman dan sahabat yang sangat dipercayai oleh Kyuhyun dan berganti nama menjadi Cho Sehun. Ada ikatan pertemanan yang janggal tetapi kuat di antara mereka berdua, Sehun tidak akan mengkhianati Kyuhyun, begitu juga sebaliknya.

Ketika itu Sehun baru tujuh belas tahun, tetapi pelatihan dan hidupnya yang keras itu telah membentuknya menjadi seperti sekarang, seorang pembunuh tangguh yang menakutkan bagi siapapun yang mengenalnya. Seorang pembunuh misterius yang selalu dikenal dengan nama "SangPembunuh"

"Sang Pembunuh" sangat ditakuti karena tidak pernah gagal dalam menjalankan misinya, sesulit apapun itu. Semua orang pasti mati kalau dia dikatakan menjadi incaran "Sang Pembunuh". Meskipun begitu hampir tidak pernah ada orang yang mengetahui identitas sebenarnya, Sehun tidak pernah menemui kliennya hingga tidak ada yang pernah tahu wajah aslinya. Dalam menutupi penyamarannya, dia tetap bertugas sebagai pengawal dan orang kepercayaan Kyuhyun, salah satu orang yang tahu identitas asli "Sang Pembunuh".

Dan tak disangkanya kemudian, seorang lelaki mencarinya, lelaki itu seorang pengacara yang mengatakan bahwa dia adalah pewaris darah 'Oh' yang hilang. Sehun ternyata adalah anak haram yang dibuang oleh ibunya, seorang pelayan yang dihamili oleh penerus utama keluarga 'Oh' yang berkuasa. Ayahnya, sang penerus keluarga laki-laki terakhir itu ternyata menderita sakit beberapa lama, yang menyebabkan dirinya impoten dan tentu saja tidak bisa menghasilkan keturunan. Hanya Sehun lah satu-satunya harapannya untuk meneruskan nama besarnya. Ayahnya kemudian menyewa detektif swasta untuk melacak Sehun dari panti asuhannya. Tentu saja dia tidak menyangka bahwa anak lelaki satu-satunya, yang dia hasilkan dari kesalahannya di masa muda, tumbuh menjadi seorang lelaki yang bergelut di dunia hitam.

Setelah hasil tes DNA dipastikan, sang ayah memohon kepada Sehun untuk meninggalkan dunia gelap yang selama ini menjadi bagian hidupnya, dan masuk ke dalam keluarga Oh, menjalankan semua usaha dikeluarga mereka, dan Sehun menuruti permintaan ayah kandungnya itu. Bukan karena dia menyayangi ayah kandungnya, keberadaan ayahnya yang muncul tiba-tiba ketika dia sudah dewasa malahan memunculkan rasa pahit di hatinya, mengingatkannya betapa ibu kandungnya sendiri dulu membuangnya karena tidak mampu menanggung akibat affairnya dengan tuan muda keluarga Oh. Dari penyelidikannya, Sehun tahu bahwa ibunya bunuh diri, setelah melahirkannya, dia diusir dengan kejam karena dianggap merayu anak kesayangan keluarga Oh. Sehun mundur dari dunia gelap lebih karena ingin beristirahat. Tangannya berlumuran darah, dan nama keluarga Oh memberinya kesempatan untuk melarikan diri dan hidup normal seperti biasa.

Pada akhirnya, dia menerima warisan nama dari ayahnya yang meninggal tak lama kemudian karena penyakitnya, berikut juga warisan seluruh hartanya. Sehun benar-benar meninggalkan dunia hitam itu, membuang nama lamanya, dan menggantinya dengan Oh Sehun yang berkuasa, sang putera mahkota keluarga Oh yang sempat hilang begitu lama. Dan dia memastikan, tidak akan ada orang yang bisa menghubungkan Oh Sehun yang kaya dan berkuasa, dengan "Sang Pembunuh", hanya Kyuhyun dan orang kepercayaannya seperti Chanyeol yang tahu tentang rahasia masa lalunya.

Tetapi rupanya masa tenangnya tidak berlangsung lama, Kyuhyun, salah satu sahabatnya, di mana Sehun pernah berhutang nyawanya di masa lalu, ketika dia masih muda dan bodoh, meminta tolong padanya.

Entah kenapa Kyuhyun terlah terlibat hubungan rahasia dengan sebuah organisasi ekstreem yang merencanakan sebuah kudeta terselubung. Lelaki itu meminta tolong kepadanya untuk menjalankan sebuah pekerjaan kecil, menyangkut perjanjian kerjasamanya dengan organisasi itu. Kalau Sehun mau membunuh salah satu incaran organisasi itu pada waktunya, maka ketika seluruh rencana organisasi itu berhasil dan mereka bisa menguasai negara itu dengan kudeta, maka Kyuhyun akan dengan mudah memuluskan jalan untuk memperoleh jalan untuk perizinan tambang minyak buminya di sana.

Semula Sehun menolaknya, apalagi pekerjaan ini termasuk pekerjaan yang sangat remeh, bisa dilakukan oleh siapapun dengan level lebih rendah dari dirinya. Lagipula pekerjaan ini akan memaksanya meninggalkan masapensiunnya dari dunia kegelapan yang tenang, berkutat lagi dengan darah. Tetapi Kyuhyun memaksa, mengatakan bahwa hubungannya dengan organisasi ini adalah hubungan rahasia, yang tidak boleh diketahui siapapun selain orang yangdipercaya oleh Kyuhyun. Kyuhyun bersikeras tidak mau memakai orang lain selain Sehun, karena tidak ada orang yang lebih dipercayainya selain Sehun, tidak peduli seberapa remeh dan mudahnya pekerjaan ini.

Tugas ini sama sekali tidak ada untungnya baginya, dari segi material maupun kepuasan. Dia sudah tidak butuh uang, dan hasratnya membunuh sudah hilang. Tetapi dia punya hutang kepada Kyuhyun, hutang pertemanan kepada mentor sekaligus sahabatnya itu, hutang yang harus dibayar.

Maka berangkatlah Sehun ke sebuah negara yang tak lain juga merupakan negara asal ayah kandungnya, menjalankan tugas untuk membunuh korbannya, yang seharusnya mencoreng harga dirinya, karena kapasitas korban ini sangatlah mudah, seharusnya dilakukan bukan oleh pembunuh sekelas dirinya.

Sehun mengira ini semua akan berjalan mudah. Nyatanya tidak. Yang pertama, penampilannya sangat mencolok dan berbeda di negara ini, membuatnya harus sangat berhati-hati. Dia pada akhirnya memilih menghilangkan penyamaran, karena penyamaran tidak bisa dipakai di negara ini. Secara langsung dia menemui Profesor Kangin, dan mengatakan tujuannya untuk mengawal lelaki itu atas suruhan organisasi tempat lelaki itu mengadakan perjanjian kerja.

Tentu saja Sehun tidak pernah mengatakan secara langsung, bahwa sebenarnya dia menerima order untuk membunuh Sang Profesor dan puteri tunggalnya, segera setelah lelaki itu menyerahkan hasil penelitiannya yang sangat rahasia kepada organisasi itu.

Luhan. Sehun mengernyit. Ketika pertama kali melihat Luhan, dan senyumannya yang begitu ceria, dada Sehun terasa ditonjok, sebuah perasaan yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya. Ada kemarahan luar biasa dari dadanya, mengutuki kenapa gadis seceria dengan senyuman seindah itu harus segera berakhir nyawanya karena kebodohan ayahnya. Dan Sehun pula yang harus mencabut nyawanya! Kadang dia merasa jengkel melihat sang Profesor yang dengan bodohnya mempertaruhkan nyawanya, menjalin kerjasama dengan organisasi yang dia tahu sangat kejam dan berbahaya, serta melibatkan Luhan yang tidak tahu apa-apa.

Mungkin sang profesor mempunyai alasannya sendiri. Apapun itu…. Jauh di dasar hati Sehun, dia mencemaskan Luhan.

Luhan …. Perempuan itu selalu ada di benaknya, bahkan menghantui saat tidurnya, tubuhnya mungil dan menggairahkan, membuat Sehun merasakan gairahnya naik setiap melihatnya… ya Luhan dengan senyum cerianya telah menarik perhatian Sehun, menumbuhkan suatu rasa yang tidak pernah diberikan Sehun kepada perempuan manapun.

.

.

.

Sekali lagi tampaknya ada kesibukan di dapur, membuat Sehun mengerutkan keningnya. Dia sudah hampir dua bulan tinggal di rumah mungil ini dan merasakan perasaan yang aneh, seakan dia berada di rumahnya sendiri, dan seakan Luhan memang seharusnya berada dimanapun dia berada.

Sehun selalu menahan diri, meskipun kadangkala dia menatap Luhan dan merasakan gairahnya tiba-tiba naik. Kadang dia bergegas mandi air dingin untuk meredakan gairahnya, tersenyum masam dan berharap ini hanyalah salah satu efek selibatnya selama beberapa lama tanpa perempuan. Sehun semula berpikir dia akan merasakan gairah ini pada wanita manapun yang cocok dengan kriterianya. Tetapi ternyata tidak, banyak wanita cantik yang tentu saja bersedia memuaskan hasratnya, tetapi dia hanya ingin Luhan, dia tidak mau yang lainnya.

Dengan langkah tenang dan memasang ekspresi datar, Sehun melangkah memasuki dapur,

"Ada apa ini?" dilihatnya Luhan sedang mengiris sepotong besar kue bolu lemon berbentuk lingkaran dan meletakkannya diwadah kotak-kotak. Di kotak yang lain ada nasi, bulgogi, ayam panggang yang tampak lezat dan berkilauan karena sausnya, dan juga beberapa botol jus jeruk.

"Kita akan piknik." Luhan tersenyum lebar. "Hari ini cuacanya cerah sekali dan ayah setuju untuk piknik di tengah kebun teh di pegunungan, kau pasti suka Sehun, mungkin selama ini kau bosan disini, tapi aku jamin di kebun teh nanti, kau akan merasa nyaman."

Sehun hanya terdiam, mengamati Luhan yang tampak ceria, bersenandung sambil mengatur bekal-bekal pikniknya ke dalam tas berbentuk keranjang besar yang telah di siapkannya.

Piknik di ruangan terbuka, berbahaya. Apalagi Sehun mulai menemukan petunjuk bahwa beberapa agen pemerintah yang khusus melakukan maintenance terhadap hubungan luar negeri secara rahasia, mulai mengendus perjanjian kerjasama antara professor Kangin dengan organisasi asing tersebut. Tetapi sekali lagi Sehun melirik ke arah Luhan dan merasa tidak tega harus mengatakan bahwa seharusnya mereka tidak pergi piknik.

Yah… Sehun hanya harus mencoba tampil tidak mencolok, meskipun rasanya sulit mengingat penampilannya yang amat berbeda.

Dia melangkah keluar dapur, dan berpapasan dengan professor Kangin, mereka bertatapan penuh makna.

"Kenapa kau menyetujui kegiatan piknik di luar itu?" Tatapan Sehun tampak mencela, "Kau tahu bukan bahwa itu berbahaya?"

Profsor Kangin tampak menyesal, "Aku tahu ini berbahaya, tetapi Luhan menginginkannya dan dia tampak sangat bahagia dengan rencana itu hingga aku tidak tega untuk mencegahnya."

Sehun mengamati profesor Kangin dan kemudian tersenyum pahit. Lelaki ini sama sepertinya, bersedia melakukan apapun demi mendapatkan senyum ceria Luhan.

.

.

.

Mereka memilih tempat berumput rendah di tengah kebun teh yang terbuka untuk umum, udara sejuk dan berangin, membuat Sehun meragukan acara makan siang di alam terbuka seperti ini. Dia melirik ke arah Luhan yang hanya mengenakan sweater tipis dan mengerutkan keningnya.

Tetapi bagaimanapun juga acara piknik ini sepadan, Luhan begitu ceria hingga matanya berbinar-binar dan pipinya bersemu kemerahan, tampak amat sangat cantik.

Meskipun udara dingin dan berangin, membuat rambut mereka berantakan, tetapi mau tidak mau Sehun menyukai acara ini, makanannya sangat lezat, dibuat sendiri oleh tangan mungil Luhan yang terampil.

"Ayo kita ke sungai, di belakang kebun teh ini ada sungai kecil yang mengalir, airnya bening sekali dan sedingin es." Luhan beranjak dengan bersemangat ketika mereka menyelesaikan makannya.

Sehun melirik ke arah profesor Kangin, lelaki tua itu tampak mengantuk dan menggelengkan kepalanya.

"Kalian saja yang ke sana, medan untuk pergi ke sungai itu terlalu berat untukku karena harus menuruni bukit yang licin. Mungkin aku akan menikmati udara dan tidur dulu."

Luhan mengalihkan tatapannya ke arah Sehun.

"Apakah kau mau menemaniku?"

Sehun masih menatap profesor Kangin, sambil mengernyitkan keningnya.

"Anda tidak apa-apa sendirian di sini profesor?" Sebenarnya Sehun ragu. Bagaimana kalau lelaki tua ini melarikan diri? Tetapi kemudian dia menghapus kemungkinan itu dari benaknya. Dia memegang Luhan, dan dia tahu profesor Kangin tidak akan pernah meninggalkan Luhan, lelaki itu terlalu mencintai puterinya.

"Aku akan baik-baik saja di sini." Profesor Kangin melemparkan tatapan penuh makna, tampaknya mengerti apa yang sedang berputar di benak Sehun.

Sehun akhirnya mengikuti ajakan Luhan menuruni bukit itu, menuju sungai yang katanya sangat indah.

.

.

.

Luhan berdebar, tentu saja, dibalik sikap cerianya sebernarnya Luhan merasa gugup kalau berada di dekat Sehun, lelaki itu memang jarang tersenyum dan selalu memasang ekspresi datar, tetapi kalau dia tersenyum meskipun hanyalah senyuman tipis ketampanannya makin luar biasa.

Yah, meskipun lelaki ini pada dasarnya luar biasa tampan, dengan wajah klasik ala bangsawan romawi jaman dahulu, dan mata cokelat gelap yang dalam.

Luhan melirik ke arah Sehun yang berjalan dengan tenang di sisinya dan berusaha menetralkan detak jantungnya.

"Dingin?" Sehun sepertinya mengamati Luhan, membuat Luhan mendongakkan kepala malu.

"Tidak, aku senang begini." Gumam Luhan dalam senyum. Dan kemudian tanpa disangkanya, lelaki itu melepaskan jaket warna cokelat gelapnya dan meletakkannya di bahu Luhan.

"Eh… tapi kau yang akan kedinginan." Gumam Luhan protes.

Sehun tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Tentu saja tidak, aku laki-laki aku yang lebih kuat."

Dada Luhan dipenuhi oleh perasaan asing yang belum pernah dirasakannya sebelumnya, dia menatap Sehun malu-malu dan tersenyum,

"Terimakasih, ya."

Sehun menganggukkan kepalanya lalu jemari kuatnya menggandeng Luhan menuju sungai.

Mereka sampai di tepian tebing yang tidak terlalu dalam, dan sungai itu ada di bawah, tampak bergemericik dengan aliran bening yang menyegarkan.

Sehun mengerutkan keningnya, menuruni lembah menuju sungai tidak akan menyulitkannya, tetapi tanah yang landai itu licin dan basah dengan lumpur di ujungnya, dia meragukan kalau Luhan bisa melaluinya, diliriknya Luhan yang mengenakan kemeja putih, celana pendek selutut warna hitam dan sandal datar… perempuan ini akan mengotori kemejanya yang putih bersih, gumamnya dalam hati.

"Kau bisa menuruninya?" Sehun mengangkat alisnya dan menatap Luhan yang tampaknya sangat bersemangat.

Luhan menganggukkan kepalanya, "Aku biasanya menuruninya sendiri, meskipun beberapa kali aku terpeleset dan berguling-guling di lumpur yang empuk itu." Gumamnya lucu, membuat Sehun tidak bisa menahan diri untuk terkekeh.

"Well, kalau begitu mari kita coba." Jemarinya menggandeng jemari mungil Luhan, mengajaknya menuruni tanah yang landai itu dengan hati-hati.

Mereka bergerak pelan, menyadari betapa licinnya tanah itu dibawah alas kaki mereka, hingga kesalahan sedikit saja bisa membuat mereka tergelincir ke bawah. Luhan tanpa sadar mencengkeram erat-erat jemari Sehun…. Tetapi tiba-tiba saja kakinya terantuk batu yang entah kenapa menyembul di balik lumpur, langkahnya terhuyung dan kemudian jatuh kehilangan keseimbangannya, membawa Sehun bersamanya.

Dengan cepat tubuh mereka berguling, dan baru berhenti setelah mencapai ujung lembah di tepi sungai. Tubuh dan pakaian mereka belepotan lumpur yang basah, bahkan ada beberapa di rambut dan wajah mereka.

Sehun yang bangun duluan duduk di atas lumpur dan mencoba membersihkan pakaian dan rambutnya, sebuah usaha yang sia-sia mengingat lumpur itu begitu banyaknya.

Sementara itu Luhan masih terengah karena berguling tadi, tetapi kemudian ketika melihat keadaan Sehun yang belepotan lumpur, dia tidak bisa menahan diri untuk tertawa. Bagaimana tidak? Sungguh pemandangan yang langka menemukan Sehun yang selalu tampil sempurna sekarang benar-benar dilumuri lumpur kecokelatan.

Tawanya membuat Sehun menoleh dan menatapnya dengan tatapan memperingatkan.

"Kenapa kau tertawa?"

Tentu saja tatapan memperingatkan itu tidak mempan untuk Luhan, dia terlalu geli hingga tawanya makin keras, lalu tawa itu menular, membuat Sehun tersenyum dan senyumnya melebar menjadi kekehan pelan, dia mengangkat alis dan memandang dirinya sendiri.

"Aku tidak membawa baju ganti." Gumamnya sambil melempar tatapan menuduh ke arah Luhan. Matanya menatap ke arah keindahan di depannya. Luhan yang cantik dan tertawa lepas, meskipun belepotan lumpur, tiba-tiba dada Sehun terasa hangat dan dia tidak bisa menahan diri.

Diraihnya Luhan ke dalam pelukannya dan diciumnya lembut. Semula Luhan terkesiap, matanya membelalak, tetapi Sehun sangat ahli, tahu bahwa Luhan tidak berpengalaman, di kecupnya bibir Luhan berkali kali dan kemudian dengan tanpa kentara dipagutnya lembut, seperti seorang kekasih yang mencoba meyakinkan pasangannya bahwa dia tidak akan menyakitinya.

Kemudian Sehun merasakan penyerahan diri Luhan dari matanya yang terpejam dan tubuhnya yang lunglai pasrah dalam pelukan Sehun, lelaki itu mengerang dengan perasaan memiliki dan memperdalam ciumannya, dengan lumatan penuh gairah yang tidak tertahankan lagi, dilumatnya bibir Luhan, dirasakannya kemanisan yang luar biasa dari bibir itu, dan kemudian lidahnya menelusup, menjelajahi seluruh bibir Luhan dan mengenalinya, dengan lembut tentu saja karena Sehun tidak mau Luhan lari ketakutan akibat gairahnya yang bergejolak.

Lama kemudian, ketika Sehun merasakan Luhan megap-megap akibat ciumannya yang terlalu dalam, dia melepaskan bibirnya. Kepala mereka masih beradu begitu dekat, napas mereka masih hangat dan menyatu, Sehun bisa melihat betapa bibir Luhan sedikit bengkak akibat ciumannya yang kuat. Lalu mata cokelat dalamnya menatap ke arah mata Luhan yang berkabut, membuat pipi Luhan bersemu kemerahan.

"Aku tidak akan minta maaf karena menciummu." Suara Sehun datar dan serak, "Karena aku sudah ingin melakukannya sejak lama."

Semu kemerahan di pipi Luhan makin nyata, jantungnya berdebar dengan kencangnya, oh Astaga! Sehun menciumnya! Lelaki itu menciumnya! Apakah itu hanyalah ungkapan gairah terpendamnya ataukah Sehun benar-benar tertarik kepadanya?

Mata Luhan mencoba menyelami mata cokelat Sehun yang dalam dan dia tidak menemukan jawabannya, tetapi kemudian bibir Sehun tersenyum tipis, lelaki itu tiba-tiba mengecup ujung hidung Andrea dengan saying.

"Kuharap kau tidak marah padaku."

Luhan tidak marah, bagaimana mungkin dia bisa marah? Perasaannya campur aduk dan tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, tetapi Luhan tahu pasti, 'marah' bukanlah salah satu di antaranya.

.

.

.

Sementara itu dari atas tebing, tanpa diketahui oleh dua sosok manusia yang berpelukan itu, profesor Kangin berdiri mengamati dengan bingung campur lega. Bingung karena rasa bersalahnya menyeruak, membiarkan Luhan jatuh begitu saja dalam pesona Sehun tanpa peringatan, tetapi sekaligus lega, lega karena Sehun tertarik kepada Luhan, kalau perasaan itu bisa tumbuh lebih dalam, itu mungkin bisa menyelamatkan nyawa Luhan, Sehun sudah pasti tidak akan membunuh perempuan yang dicintainya bukan?

Profesor Kangin rela melakukan apapun. Apapun, bahkan dengan taruhan nyawanya, asalkan Luhan bisa selamat.

.

.

.

Hubungan mereka berdua berubah sejak ciuman di tepi sungai itu. Luhan tidak menahan-nahan lagi rasa tertariknya yang bertumbuh dengan pesat kepada Sehun, begitupun sebaliknya, lelaki itu tidak bisa lagi menahan dirinya untuk menunjukkan rasa sayangnya kepada Luhan.

Mereka selalu menghabiskan waktu bersama, dan sangat menikmatinya. Kadang mereka hanya berdiam di rumah, tidak kemana-mana, duduk membaca dengan secangkir kopi panas di meja. Setelah lama, Sehun akan menarik Luhan ke dalam pelukannya dan menciuminya, lalu mereka akan bercumbu.

Tetapi rupanya Sehun masih menahan diri untuk melakukan sesuatu yang lebih. Luhan adalah perempuan polos yang belum berpengalaman, dan Sehun tidak mampu merusak kepolosan itu hanya karena ingin melampiaskan gairahnya.

Dia sudah memikirkannya sejak lama. Mereka memang baru bertemu sebentar, tetapi dorongan gairah mereka dan keterikatan di antara mereka begitu kuatnya, membuat Sehun yakin bahwa Luhan adalah tempatnya berlabuh.

.

.

.

Kemudian di suatu malam, ketika Luhan pulang dia menemukan ruangan begitu gelap dan pekat, dahinya mengernyit. Apakah mati lampu? Tetapi lampu jalanan menyala terang di sekeliling kompleks, berarti tidak mungkin mati lampu. Lagipula kenapa rumah begitu senyap, dimana Sehun dan ayahnya?

Luhan masuk ke ruang tengah, ruangan dengan karpet tebal dan sofa empuk, tempat dia sering menghabiskan waktu bersama Sehun, ruangan itu temaram, oleh cahaya lilin. Luhan melangkah semakin masuk ke tengah ruangan dan mendapati, pemandangan yang sangat indah dan mencengangkan.

Sembilan buah lilin biru yang diatur dengan posisi setengah melingkar, begitu indahnya menguarkan cahaya keemasan dengan nuansa biru, menimbulkan bayangan bergerak di seluruh ruangan yang temaram, membuat Luhan tersenyum.

"Kau menyukainya?" suara Sehun tiba-tiba terdengar dekat di belakangnya, membuat Luhan terlonjak kaget, dia menoleh dan mendongakkan kepalnya, menatap Sehun yang menatapnya lembut, cahaya lilin telah menciptakan siluet di sana, hingga membuat Sehun kelihatan misterius.

Luhan tersenyum, "Ini bagus sekali."

Sehun lalu menghela Luhan mendekati lilin-lilin itu, "Aku sebenarnya ingin membeli bunga mawar, sembilan tangkai bunga mawar untukmu, yang artinya 'saling mencintaiselamanya'. Tetapi kemudian aku melihat lilin biru ini, sangat indah, aku membayangkannya menyala di kegelapan, menyambutmu pulang, rasanya akan lebih romantis daripada ketika aku memberimu sembilan tangkai mawar merah." Ekspresi Sehun berubah serius, "Aku baru sebentar mengenalmu, tetapi aku tahu bahwa kau berbeda, Lu, kau memiliki hatiku begitu saja tanpa aku menyadarinya."

Luhan merasakan dadanya sesak. Terharu sekaligus bahagia, air mata menggenang di sudut matanya, membuatnya tidak bisa berkata-kata. Kalimat Sehun itu…. lelaki itu memang selalu bersikap lembut dan penuh sayang kepada Luhan, tetapi belum pernah satu ungkapan cinta pun terungkap, apakah ini… apakah ini adalah pernyataan cinta Sehun?

Lalu tiba-tiba saja, sebuah kotak beludru terbuka, dengan cincin emas yang berhiaskan berlian putih berkilauan di dalamnya ada di tangan Sehun,

Luhan menatap cincin itu, terpukau oleh keindahannya. Kemudian dia mengalihkan tatapan mata terkejut ke arah Sehun, ekspresi lelaki itu mengungkapkan maksudnya dan jantung Luhan berdebar kencang.

Apakah Sehun…..

"Luhan, maukah kau menjadi isteriku?"

Ucapan lamaran itu terucap dari bibir Sehun yang tipis dan indah, dengan suara serak dan penuh perasaan, membuat air mata Luhan membanjir. Dia menganggukkan kepalanya, tanpa pertimbangan apa-apa lagi. Yang penting adalah Sehun mencintainya, dan dia mencintai laki-laki itu. Perasaan mereka begitu dalamnya, dan mereka harus bersama.

"Ya Sehun, aku mau… aku mau…"

.

.

.

"Aku akan membawa Luhan ke Italia untuk menikah." Sehun bergumam pada tengah malam, setelah yakin bahwa Luhan terlelap dan tak akan bangun, dia menemui profesor Kangin yang masih mengerjakan penelitiannya di ruang kerjanya.

Profesor Kangin yang tadi setuju untuk sembunyi sementara diruang kerjanya sementara Sehun melamar Luhan, menganggukkan kepalanya dengan serius,

"Itu bagus." Lelaki tua itu lalu menghela napas panjang, "Kurasa kau tahu kenapa aku menyetujui pernikahan ini."

Sehun menganggukkan kepalanya, "Aku akan melindungi Luhan dengan nyawaku sendiri."

Wajah Profesor Kangin tampak sedih, menyadari kalau Sehun tidak mau membunuhnya, organisasi itu pasti akan mengirimkan orang lain untuk menghabisinya. Tetapi setidaknya Luhan tidak terlibat, setidaknya Luhan berada di tangan orang yang paling kuat untuk melindunginya, itu sudah cukup untuknya.

"Terimakasih Sehun, aku bersyukur Luhan akan menikah dengan seseorang sepertimu." Profesor Kangin mengucap restunya dengan lemah, merasakan sedikit pedih di dadanya karena Luhan, puterinya satu-satunya sebentar lagi akan dijauhkan dari dirinya.

.

.

.

Kemudian Sehun menelepon Kyuhyun dan menceritakan semuanya, membuat lelaki itu tercengang.

"Maksudmu… kau akan membatalkan semua tugas itu karena kau jatuh cinta dengan anak perempuan si profesor?"

"Kau sudah mendengar sendiri tadi." Jawab Sehun tenang.

Kyuhyun tampak kehabisan kata-kata, lalu lelaki itu mendesah, masih tampak kaget.

"Apakah kau yakin, Sehun? Kau tidak pernah gagal dalam tugasmu sebelumnya…. Apalagi profesor dan puterinya ini adalah tugas yang sangat mudah… reputasi "Sang Pembunuh" akan tercoreng kalau itu terjadi."

"Aku tidak peduli dengan reputasi "Sang Pembunuh", dia sudah lama mati, kau tahu aku sudah membuatnya pensiun sejak lama, dan menjalani hidupku sebagai Oh Sehun. Hanya karenamulah aku mau membangunkan lagi "Sang Pembunuh", tetapi sayangnya aku tidak bisa melakukannya, Kyuhyun. Aku mencintai Luhan dan aku akan menjaganya."

"Bagaimana dengan sang profesor?"

Sehun menghela napas panjang, "Aku sudah menawarkan untuk membawanya ke Italia untuk melindunginya, tetapi dia menolak. Dia ternyata mengidap kanker hati, umurnya sudah tidak lama lagi, jadi dia pasrah menunggu apapun yang akan dilakukan oleh organisasi itu kepadanya, lagipula dia berpikir kalau dia ikut ke Italia, dia akan membawakan bahaya terus menerus kepada Luhan."

Kyuhyun tercenung, lalu menghela napas panjang, "Oke, mau bagaimana lagi. Kau sepertinya benar-benar serius dengan perempuan yang satu ini. Aku akan menginformasikan bahwa aku gagal melakukan yang mereka minta kepada organisasi itu, dan bersiap untuk kehilangan kesempatan besar membangun kilang minyakku di negara itu." Suaranya tampak mencela tapi tidak marah, malahan Sehun mendengar senyum di dalam suaranya, "Sebaiknya cepat kau bawa gadis itu pergi, Sehun, penelitian sang profesor sangat penting dan rahasia dan begitu aku menginformasikan kepada organisasi itu bahwa kau sudah melepaskan tugasmu, mereka akan berusaha mengirimkan pembunuh lain tanpa melalui aku, yang mungkin lebih kasar dan menggunakan cara rendahan daripada dirimu."

.

.

.

"Kenapa ayah tidak bisa ikut ke Italia untuk menghadiri pernikahan kami?" Luhan masih saja mengerutkan keningnya rupanya hal itu masih mengganjal di benaknya meskipun mereka telah melalui adu argumentasi dan penjelasan-penjelasan yang panjang sehingga menemukan kompromi, koper-koper sudah di packing rapi, dan mereka sedang menunggu taxi untuk mengantar ke bandara.

Profesor Kangin tersenyum lembut, mengecup dahi puterinya itu dan menggelengkan kepalanya, dengan sabar mengulang kembali alasan yang selalu didengungkannya kepada Luhan.

"Kau tahu ayah tidak bisa, ada pekerjaan yang mengharuskan ayah tetap tinggal. Lagipula kau bisa mengunjungi ayah nanti kalau sudah menikah." Profesor Kangin mengernyit dalam hatinya, memandang wajah Luhan dalam-dalam, puteri kesayangannya yang mungkin tidak akan bisa dilihatnya lagi.

Ada alasan lain lagi yang tidak diberitahukannya kepada Luhan, kondisi kesehatannya benar-benar sudah buruk sekarang, mungkin karena gaya hidupnya yang tidak sehat, membuat tubuhnya yang sudah menua tumbang oleh berbagai penyakit, terakhir dia meriksakan diri, dokter sudah mendiagnosis dirinya mengidap kanker hati. Yah, bagaimanapun juga umur manusia ada batasnya, setidaknya dia bisa meninggal dengan pengetahuan bahwa Luhan di jaga di tangan yang tepat.

Sebenarnya butuh waktu lama bagi Sehun untuk meyakinkan Luhan supaya mau meninggalkan ayahnya di sini untuk menikah di Italia. Luhan bersikeras mengajak ayahnya, bahkan dia meminta supaya mereka menikah di Negara ini saja sehingga tidak perlu meninggalkan porfesor Kangin. Ketika Sehun menyerah dengan kekeraskepalaan Luhan, profesor Kangin turun tangan, dengan kasih sayang seorang ayah, dia menerangkan bahwa ada pekerjaan yang tidak Bisa ditinggalkannya di sini, bahwa dia terlalu tua dan lelah untuk menempuh perjalanan jauh, bahwa dia akan baik-baik saja di sini selama Luhan berangkat ke Italia untuk menikah dan berbulan madu. Profesor Kangin menekankan bahwa setelah bulan madu mereka, Luhan dan Sehun bisa pulang lagi kemari, itu mungkin merupakan kebohongan putihnya pada Luhan karena jauh di dalam hatinya, profesor Kangin tahu bahwa Sehun mungkin tidak akan membawa Luhan pulang lagi, demi keselamatan Luhan. Pada akhirnya Luhan mau mengerti semua penjelasan profesor Kangin dan mau berangkat ke Italia bersama Sehun meninggalkan ayahnya di sini.

.

.

.

Taxi mereka datang, dan Sehun yang sejak tadi membisu, menyalami profesor Kangin dengan ekspresi datar,

"Semoga kau baik-baik saja profesor." Gumamnya tenang, penuh makna.

Profesor Kangin tersenyum, lalu tanpa di duga memeluk Sehun dengan cepat lalu menepuk bahunya.

"Jaga Luhan baik-baik." Pesannya.

Luhan menangis, memeluk ayahnya dan mencium ke dua pipinya, "Ayah jaga diri ya, segera setelah menikah, aku akan pulang lagi bersama Sehun." Bisiknya dengan berurai air mata, tidak menyadari bahwa Profesor Kangin melempar pandangan ke arah Sehun, pandangan penuh pengetahuan bahwa mungkin saja Luhan tidak akan pernah kembali ke negara ini.

.

.

.

Setelah menempuh perjalanan panjang, mereka mendarat dibandar udara internasional, mereka melanjutkan perjalanan menuju ke Tuscany, kawasan yang terkenal dengan perkebunan anggur dan zaitun. Meskipun lelah, Luhan sangat menikmati perjalanan itu dan merasa sayang jika sampai tertidur, dia sangat menyukai tempat, pemandangan, suasana, dan keindahan kota-kota kuno dan ladang bunga matahari damai dan tak berujung di pedesaan.

Sehun menjelaskan bahwa mereka sekarang berada di daerah antara Florence dan Siena yang juga mencakup wilayah anggur Chianti dan juga San Gimignano, di mana Sehun sendiri memiliki perkebunan anggur yang cukup luas di sana.

Mereka harus menempuh sekitar 80 kilometer lagi menuju ke kota Lucca, sebuah kota yang berada di atas sebuah dataran tinggi dengan pegunungan Alpen menjulang di atasnya.

Selama beberapa jam kemudian, Luhan akhirnya tertidur, dan baru terbangun ketika Sehun menyentuh bahunya dengan lembut, dia tertidur pulas di pangkuan Sehun.

"Kita sudah sampai di kota-ku." Gumam Sehun serak, menatap Luhan dengan tatapan mata dalam dan bergairah.

Luhan terpesona. Kota ini hampir seperti bayangannya ketika melihat acara-acara yang membahas wisata Italia di televisi, kota ini terkenal oleh dinding yang dulunya merupakan benteng pertahanan, peninggalan dari arsitektur kuno yang megah, dan juga peninggalan bangunan bersejarah lainnya.

Tempat tinggal Sehun sendiri merupakan sebuah kastil yang indah bercat putih bersih, menjulang di tengah dataran rumput dan warna oranye pepohonan menjelang musim gugur.

Mereka turun dari mobil dan beberapa pelayan pria langsung datang dan mengangkut barang-barang mereka.

Chanyeol sang pelayan utama berdiri menyambut di depan, menatap Luhan dengan senyum hangatnya.

"Selamat datang tuan Sehun, selamat datang nona Luhan." Lelaki itu membungkukkan badannya dengan hormat.

Sehun menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis,

"Apakah persiapan pernikahan sudah siap?'

"Semua sudah disiapkan tuan, berkas-berkasnya sudah diletakkan di meja anda oleh pengacara anda, besok dijadwalkan pernikahan jam sepuluh di sini."

Sehun menoleh, menatap ke arah Luhan dan tersenyum meminta maaf,

"Maafkan aku atas pernikahan yang tergesa-gesa ini. Tetapi aku sungguh ingin menikahimu, dan tidak ingin diperlambat oleh urusan persiapan pesta dan yang lainnya. Kita bisa menikah dulu, diam-diam, rahasia. Dan kemudian menikmati bulan madu kita dalam ketenangan, setelah waktunya tepat, baru kita umumkan pernikahan ini dan kemudian merancang pesta yang sangat besar untuk merayakannya dan mengundang semua orang yang perlu diundang."

Luhan tersenyum, melemparkan tatapan mata memuja kepada Sehun.

"Aku tidak peduli dengan pesta. Aku ingin segera menjadi milikmu, Sehun."

.

.

.

Dan begitulah, dalam upacara pernikahan yang sederhana, mereka terikat sebagai suami isteri, hanya disaksikan oleh Kyuhyun, pengacara dan beberapa orang kepercayaan Sehun, lelaki itu melingkarkan cincin tanda kepemilikannya di jemari Luhan, dan kemudian mengecup pengantinnya.

Meskipun sederhana dan tidak dirayakan dalam keramaian, Luhan sangat bahagia, dia tampak begitu cantik dan berbinar-binar sehingga Kyuhyun pun menyenggol Sehun sambil mengamati Luhan.

"Tak heran kau begitu terpesona kepadanya, dia begitu cantik, dan kecantikannya seperti dewi Italia yang luar biasa." Kyuhyun menatap Luhan dan mengerutkan keningnya, "Dia tidak seperti penduduk lokal negara itu pada umumnya, tidakkah kau memperhatikan rambutnya, tekstur wajahnya dan warna kulitnya yang keemasan seperti zaitun murni itu? Aku merasa dia lebih mirip perempuan Spanyol dengan rambut hitam yang tebal dan bentuk tubuh yang mungil tetapi sintal itu."

Sehun mengamati Luhan dengan tatapan mata puas, mengagumi kecantikan isterinya, miliknya. Lalu dia melemparkan tatapan mata mencela kepada Kyuhyun.

"Kau berani-beraninya mengomentari bentuk tubuh isteriku?"

Kyuhyun tertawa, "Hei, aku memuji isterimu. Dia memang luar biasa cantiknya, apakah ibunya atau ayahnya mungkin keturunan Spanyol?"

Sehun mengernyitkan keningnya. Tidak. Dia melihat sendiri foto Profesor Kangin dan mendiang isterinya. Tidak ada sedikitpun terlihat ada darah asing mengalir di tubuh mereka. Tetapi kata-kata Kyuhyun ada benarnya juga, Sehun selama ini tidak pernah memikirkannya, tetapi jika dilihat dengan benar, Luhan benar-benar tampak berbeda dari kedua orangtuanya. Dia akan menyelidikinya nanti.

Nanti. Karena sekarang, waktunya dia memiliki isterinya.

.

.

.

Pesta sudah hampir usai, dan Sehun merangkulkan lengannya di pinggang isterinya, dengan bergairah dan penuh makna, hingga Luhan tersenyum malu-malu, lalu mengikuti Sehun dihela menuju kamar besar mereka yang telah disiapkan, meninggalkan para tamu di belakang mereka.

Kamar itu besar dan indah, cahayanya temaram, dan Luhan melihat satu-satunya cahaya itu berasal dari sembilan lilin biru yang diatur setengah melingkar dengan indahnya di sana. Matanya menoleh ke arah Sehun dan tersenyum haru, teringat akan kenangan indah ketika Sehun melamarnya dalam buaian cahaya temaram dari sembilan lilin biru yang indah itu.

"Sehun." Luhan mendesah ketika lengan Sehun melingkari pinggangnya dari belakang, lelaki itu menundukkan kepalanya dan mengecup sisi leher Luhan, membuatnya menggelenyar.

"Kau menyukainya?" Sehun berbisik serak, merasa puas ketika Luhan menganggukkan kepalanya, "Aku berharap ketika kau melihat lilin berwarna biru itu, kau akan selalu mengingat betapa aku mencintaimu Luhan, betapa aku sangat sangat menyayangimu dan ingin menjagamu selamanya."

Lelaki itu menurunkan gaun putih Luhan yang indah, yang khusus dipesan untuk pernikahan mereka. Kemudian mengecupi pundak Luhan dari belakang, membuat Luhan mendongakkan kepalanya, pasrah dah bersandar kepada Sehun, suaminya.

"Aku sangat ingin memilikimu. Kau membuatku hampir gila karena menahan gairahku, tetapi aku tidak ingin menodaimu, tidak sebelum kau resmi menjadi milikku." Sehun bergumam serak, mendongakkan kepala Luhan dari belakang, kemudian melumat bibirnya dari sana. Kecupannya lembut, penuh penghargaan, membuat Luhan merasa begitu dihargai, begitu dicintai sebagai seorang perempuan.

Jemari Sehun menyentuh buah dadanya yang hanya terlindung bra berwarna krem berenda yang mungil, karena gaun pengantinnya telah melorot sampai ke pinggang. Sehun membuka bra Luhan dengan lembut, lalu jemarinya menangkup payudara Luhan, memberikan kehangatan di sana sehingga tubuh Luhan menggelinjang atas sensasi pertama yang dirasakannya.

Luhan terkesiap ketika Sehun menggerakkan jemarinya sambil lalu namun penuh keahlian ke puting payudaranya, membuat puting itu menegang, menginginkan sentuhan lebih dan lebih lagi.

Dan Sehun memberikannya, jemarinya memilin puting Luhan dengan lembut, berhati-hati supaya tidak menyakitinya. Menikmati indahnya payudara isterinya yang begitu pas di tangannya.

Kejantanan Sehun menegang dan siap untuk Luhan, dia kemudian merengkuh tubuh mungil isterinya dan membawanya ke ranjang, dibaringkannya tubuh Luhan dengan lembut, lelaki itu setengah menindih Luhan, tangannya bertumpu pada tepi kepala Luhan, kepalanya menunduk dan menatap mata Luhan dengan mata teduhnya,

"Nanti rasanya akan sakit." Gumam Sehun dengan tatapan memperingatkan.

Luhan tersenyum, menatap wajah Sehun di atasnya, jemarinya terulur lembut dan membelai wajah Sehun, membuat lelaki itu menelengkan kepala dan mengecup jemarinya dengan mata terpejam.

"Tidak apa-apa." Luhan bergumam lembut, malahan membuat Sehun mengerutkan keningnya.

"Aku belum pernah bercinta dengan perawan sebelumnya, semua orang bilang rasanya akan sangat sakit bagimu." Sehun menundukkan kepalanya dan mengecup dahi Luhan dengan lembut, "Apapun yang terjadi sayang, kau harus tahu bahwa menyakitimu adalah hal terakhir yang aku pikirkan."

Lelaki itu lalu menunduk dan menghadapkan bibirnya ke bibir Luhan, dia mengecup kehangatan bibir Luhan dengan lembut, kemudian melumatnya, membuat Luhan melingkarkan kepalanya di sekeliling leher Sehun, semakin merapatkan lelaki itu kepadanya.

Bibir Sehun menjelajah, memberikan ciuman yang luar biasa lembut dan menggoda ke seluruh bibir Luhan, lidahnya berpilin dengan lidah Luhan, menggoda di sana, dan kemudian dengan sebelah tangannya, lelaki itu memelorotkan gaun Luhan yang sudah berada di pinggang, menurunkannya hingga menuruni pinggulnya, Luhan membantu dengan melemparkan gaun itu melalui kakinya.

Sekarang dia sudah berbaring, setengah telanjang dengan hanya mengenakan celana dalam krem berenda yang senada dengan branya yang sudah dibuang Sehun ke karpet tadi. Sehun menatap tubuh isterinya dan terpesona akan keindahan warna keemasan seperti zaitun di kulit isterinya. Jemarinya menelusuri di sana, kembali ke buah dadanya dan mencumbunya lembut, tangannya memilin puting payudara Luhan dan membuatnya mengeras kembali.

Lalu lelaki itu mendekatkan bibirnya, meniupkan uap napasnya yang hangat di puting itu, membuat Luhan tanpa sadar melengkungkan punggungnya dan meminta lebih, dan kemudian Sehun menjilatkan lidahnya menggoda di puting payudara Luhan, menimbulkan sensasi seperti tersengat listrik di sana. Luhan mendesah pelan, dan mendorong kepala Sehun makin mendekat, sampai kemudian lelaki itu menenggelamkan payudara Luhan ke mulutnya dan menghisapnya pelan.

Gairah yang luar biasa pekat langsung menyelubungi Luhan, menimbulkan rasa aneh di pangkal pahanya. Tanpa sadar membuatnya mengangkat pinggulnya untuk semakin mendekatkan diri pada Sehun, mendekatkan diri pada kejantanannya yang makin terasa keras, mendesakkan diri ke pangkal paha Luhan.

Sehun lalu membuka dasi dan kemejanya, dan melemparkannya begitu saja ke karpet. Tubuh mereka yang telanjang berpadu, dada mereka bersentuhan, kulit dengan kulit, panas dengan panas, gairah dengan gairah, menimbulkan sensasi aneh yang menyelimuti Luhan, dia menggeliatkan tubuhnya, tidak tahu sensasi itu sebelumnya, hanya tahu bahwa dia ingin dipuaskan, entah dengan cara apa.

Lalu Sehun menurunkan celananya sekaligus, dan membuat Luhan terkesiap melihat kejantanan Sehun yang sudah siap untuk dirinya. Tatapan mata Sehun tajam agak berkabut oleh gairah, dia mengetahui Luhan sedikit ketakutan, dan lelaki itu lalu mengecup ujung hidung Luhan.

"Kau akan bisa menerimaku, Sayang." Ciumannya turun ke leher, ke bahu dan ke payudara Luhan, menghadiahi setiap bagian tubuh Luhan dengan kecupan sayang. Lalu lelaki itu mengecup perutnya dan menyentuhkan lidahnya lembut, menimbulkan rasa panas dan menyengat di sana.

Dengan jemarinya, Sehun lalu menurunkan celana dalam Luhan, hingga bergulung sebelah pahanya dan berdiam di sana. Luhan memekik ketika Sehun membuka pahanya dan mencoba menutup pangkal pahanya, merasa malu luar biasa, tidak pernah sekalipun ada lelaki yang berbuat seintim ini dengannya.

Tetapi Sehun malahan mengecup lembut jemari Luhan yang menutup pangkal pahanya dan menyingkirkan jemari Luhan itu, senyumannya kepada Luhan benar-benar intens dan penuh rasa memiliki.

"Aku suamimu." Hanya satu kata, cukup satu kata untuk menunjukkan betapa Sehun memiliki setiap jengkal tubuh Luhan, membuat tangan Luhan lunglai, pasrah di samping tubuhnya, dan membiarkan Sehun menunduk, lalu mengecup kewanitaannya dengan lembut.

Luhan mengerang, meremas seprei dalam genggaman tangannya ketika kecupan Sehun di kewanitaannya makin intens, lelaki itu benar-benar menikmati seluruh sisi kewanitaan Luhan, mencumbunya, mencecap setiap rasanya dengan lidahnya yang hangat, dan ketika menemukan titik kecil disana, lelaki ini memberikan seluruh perhatiannya membuat Luhan tidak bias menahan erangannya, merasakan sensasi melayang akibat cumbuan Sehun dititik paling sensitif tubuhnya, titik yang bahkan tidak diketahuinya sebelumnya.

Luhan sudah basah, panas dan siap. Sehun tahu itu. Dia kemudian menaikkan tubuhnya, setengah ragu apakah Luhan benar-benar siap menerimanya untuk memasukinya. Disentuhkannya kejantanannya di sana, membuat Luhan mengerang, menatap mata Sehun dengan ketakutan yang dalam.

Sehun menatap Luhan dengan tajam, mereka saling bertatapan, dan kemudian Sehun menyatukan tubuh mereka, membuat Luhan mengerang karena rasa sakit yang amat sangat menyengatnya di bawah sana, jemarinya mencengkeram pundak Sehun dengan kuat, hampir mencakarnya.

Merasakan betapa kencangnya kewanitaan Luhan, Sehun mengerang, napasnya terangah dan kepalanya menunduk, hidungnya menempel dihidung Luhan, tatapannya lembut penuh cinta.

"Tahan sayang." Dan kemudian, dengan satu hentakan tanpa ampun, Sehun menyatukan keseluruhan dirinya ke dalam tubuh Luhan, membuat perempuan itu memekik keras, menahan sakit dan perasaan aneh yangmenyeruak di dalam dirinya.

Mereka terdiam dengan napas terengah, saling bertatapan. Sehun memberikan kesempatan kepada Luhan untuk menyesuaikan diri dengannya, dan ketika dirasakan betapa tubuh Luhan telah santai menerimanya, Sehun menarik tubuhnya pelan-pelan membuat Luhan mengernyitkan keningnya.

"Sakit, ya." Sehun berbisik lembut, mengecup pelipis Luhan, mengecup hidungnya dan kemudian mengecup kernyitan di dahinya, berusaha menghilangkannya.

Luhan mengehela napas panjang, sedikit nyeri dan tidak nyaman di bawah sana, tetapi kesadaran bahwa tubuhnya telah menyatu dengan tubuh Sehun dan dia telah termiliki oleh lelaki itu membuat dadanya mengembang penuh cinta, dia tersenyum kepada Sehun, senyum yang sangat mempengaruhi lelaki itu karena membuatnya tidak bisa menahan diri lebih lama. Tubuhnya bergerak semakin lama semakin cepat, membawa Luhan melewati batas yang tidak pernah berani dilompatinya sebelumnya. Rasa sakit dan pedih itu berbaur dengan kenikmatan, membuat Luhan melayang, tubuhnya mengikuti ritme tubuh Sehun sampai kemudian lelaki itu mengerang dalam-dalam karena kenikmatan tak tertahankan yang menghujani tubuhnya, menyatukan dirinya sedalam mungkin, dan kemudian mencapai puncak pelepasannya, membawa Luhan bersamanya.

Rasanya luar biasa nikmat, seperti dilemparkan ke dalam sumur yang sangat dalam dan nikmat penuh dengan stimulasi di setiap saraf tubuhnya. Darah Luhan berdesir oleh derasnya aliran kenikmatan yang memenuhi setiap pembuluh darahnya, dia mengerang ketika mencapai orgasmenya, mengangkat pinggulnya menerima tubuh Sehun yang menghujamnya sepenuhnya dan merasakan pelepasan lelaki itu yang hangat dan panas jauh di dalam tubuhnya. Sehun rebah di atas Luhan, dengan tetap menahan diri agar tidak menimpakan berat tubuhnya kepada Luhan, matanya menatap Luhan dalam, mereka saling tersenyum penuh cinta, kemudian Sehun bergumam serak.

"Isteriku, aku akan mencintaimu selamanya. Kehidupan mungkin hanyalah sebuah perjamuan dan kematian adalah hidangan penutupnya, tetapi aku berjanji kepadamu, aku akan terus mencintaimu hingga kita menikmati hidangan penutup kita." Sebuah janji yang diwakili oleh sembilan lilin berwarna biru yang menyala redup menerangi ruangan.

Lambang janji cinta Sehun kepada Luhan.

.

.

.

[ Kembali ke masa sekarang ]

.

.

Luhan membuka matanya dan terkesiap menatap bingung pada ruangan di sekelilingnya. Bau obat yang kuat dan seluruh dinding bercat putih membuatnya tahu dia sedang berada di mana.

Ada infus di lengannya, dan ketika meraba kepalanya, ada perban di sana, terasa sedikit nyeri ketika disentuh. Jantung Luhan bergolakcepat dan air matanya mengalir dengan derasnya.

Dia sudah ingat semuanya…..

Semuanya dari awal sampai akhir, dari pertemuan pertamanya dengan Sehun sampai perpisahannya akibat kecelakaan itu. Dan kemudian Luhan teringat ekspresi sedih Sehun ketika dia menembaknya. Ekspresinya begitu terluka meskipun lelaki itu memanggilnya 'sayang'.

Luhan menangis keras-keras penuh penyesalan, menyadari bahwa dia telah menembak suaminya sendiri. Menyadari bahwa dia mungkin telah membunuh suami yang amat sangat dicintainya.

Oh Sehun adalah suaminya, belahan jiwanya yang selama ini terpisah jauh karena keadaan.

.

.

.

TBC

Hai hai haiiiii~~~

Udah tau kan makna lilin itu?

Duuhhh jadi pengen dilamar kaya gitu *abaikan daku*

.

.

Yeeesss Luhan udah inget semuanyaaaaa~~~

Huuu jadi sedih kan bunda T.T makanya jangan asal nembak bun :D

.

.

See you in next chap semuanyaaaahhh~~~