"Kim. Seok. Jin."

KLIK!

"Gotcha,"

"Panggil dia ke sini."

"Yep. Jung Hoseok."

.

.

.

.

.

.

.

scavenged

notes: banyak scene yang membutuhkan rating M (17+) harap pastikan bahwa umur anda mencukupi(?) bila tidak, lewatkan saja scene itu. terima kasih(?) /dor

.

.

.

.

.

.

.

"Jungkook-ah, what's wrong?"

Sosok wanita paruh baya yang tetap terlihat cantik di usianya yang terbilang sudah tidak muda menangkap ekspresi gelisah pemuda berumur 17 tahun yang sudah dianggapnya sebagai anaknya sendiri. Sejak tadi dirinya melihat anak itu tidak tenang dalam duduknya. Jungkook mengecek layar ponselnya berkali-kali dan menggerutu, seakan sedang menunggu sesuatu terjadi atau mungkin seseorang. Dan wanita itu mencoba menebak bahwa 'anak'-nya mungkin hanya sedang dalam masa pubertas.

Jungkook tertangkap basah sedang menggumamkan kata 'kenapa belum menghubungiku' oleh sang auntie yang sudah berada di belakangnya. Dengan tergesa-gesa Jungkook menyembunyikan ponselnya di belakang tubuhnya selagi ia membalikkan tubuhnya menghadap sang auntie. "A-ah, ti-tidak ada apa-apa, auntie!" ujarnya lengkap dengan cengiran gugupnya.

"Benarkah? Tapi kau terlihat sedang menunggu sesuatu," sang auntie berusaha menjulurkan kepalanya untuk menengok ke arah ponsel yang sedang disembunyikan oleh Jungkook. Jungkook nampak panik, ia menggoyangkan lengannya ke arah yang berlawanan dari sang auntie, "Y-yah, auntie! Lihat, masakanmu!" mendapatkan ide, Jungkook menunjuk ke arah dapur yang langsung disambut oleh pekikan dari sang wanita. "Astaga, masakanku!"

Jungkook menghela nafasnya lega. Ia berhasil lolos kali ini, namun sepertinya ia harus segera membicarakannya pada sang auntie. Ia bukan tipe yang gemar menyembunyikan suatu rahasia, terlebih pada orang-orang terdekatnya seperti keluarga.

"Uf, untunglah tidak terbakar. Come, Jungkook." sembari mengangkat masakannya dan menaruhnya di atas meja, wanita itu meminta Jungkook untuk duduk di atas kursi.

Jungkook menurut, ia meletakkan ponselnya di atas sofa dan segera mengikuti sang auntie ke ruang makan.

Wanita itu menuangkan sup miso yang menjadi kesukaan Jungkook dan hyung-nya ke atas mangkuk dengan hati-hati, "Kubuatkan kesukaan kalian," ujarnya sembari tersenyum. Awalnya, Jungkook begitu takjub dengan apa yang dihidangkan sang auntie–dirinya sudah lama tidak menikmati miso kesukaannya, namun segera ia mengerutkan dahi, "Eh? Kenapa tiba-tiba? Kupikir auntie hanya membuatkan ini saat ada sesuatu yang spesial?"

Sang auntie melepaskan apronnya lalu duduk di sebelah Jungkook, "Karena hari ini memang spesial," senyum terus terkembang di wajahnya.

Ia menangkap arti tatapan bingung dari Jungkook, ia tertawa sebentar, "Kook-ah, Seokjin akan kembali lusa, ia meneleponku siang tadi."

"Benarkah itu, auntie?!" kedua mata Jungkook membesar, mulutnya terbuka lebar, ia menatap sang auntie dengan penuh pengharapan.

Sang auntie mengangguk, "Tentu. Seokjin berhasil mengungguli para trainee lain, ia adalah peraih nilai tertinggi, jadi ia berhak untuk menyelesaikan latihannya lebih dulu daripada yang lain dan diperbolehkan untuk pulang," Jungkook melebarkan senyumnya.

Wanita itu mengelus kepala Jungkook, "Kau pasti bangga memiliki hyung yang berprestasi sepertinya. Bayangkan, dari sekian ratus trainee Seokjin berhasil mengungguli mereka." ujarnya yang disambut oleh tawa kecil Jungkook.

"Tentu saja! Jin-hyung adalah orang yang berbakat, auntie. Aku tidak heran bila ia berhasil menjadi pemenang!" Sang auntie tertawa kecil mendengarnya, "Tidak ada yang menang atau kalah dalam pelatihan itu, Jungkook-ah." ujarnya sembari mencubit perlahan hidung lucu Jungkook.

Setelahnya mereka kembali fokus pada hidangan makan malam mereka. Sesekali Jungkook mengoceh tentang Jin-hyungnya dengan wajah yang berseri-seri, membicarakan akan seperti apa Jin saat pulang nanti, apakah ia bertambah tampan, dan semacamnya.

Jungkook dikejutkan dengan dering ponselnya. "E-eep!" ia beranjak menuju sofa dengan tergesa, lututnya bahkan terkantuk dengan kaki meja makan. Sang auntie hanya menggelengkan kepala sembari berteriak 'hati-hati'.

Jungkook mengambil ponselnya yang masih berdering dan wajahnya perlahan memerah saat membaca nama yang tertera di layar ponselnya.

Sang auntie menatap Jungkook, anak itu terlihat sedang menggerutukan sebuah kata 'kenapa baru sekarang meneleponku'. Setelahnya ia nampak gugup, rona merah dapat terlihat jelas dari kedua pipinya. Lalu wanita itu kembali mendengar sayup-sayup kata 'that's so cheesy!' dan Jungkook yang mengakhiri pembicaraan dengan sebuah pout yang sudah terlukis di bibirnya.

Sepertinya sang auntie mengetahui apa yang sedang terjadi pada bayi kecilnya.

Jungkook kembali ke ruang makan setelah menyimpan ponselnya ke dalam kantung celananya, ia menarik kursinya dan kembali duduk di atasnya lalu kembali menikmati makanannya.

Sang auntie menatap Jungkook dengan tatapan curiga, namun ia segera menggantinya dengan tatapan yang lebih teduh, "Biar kutebak, tadi itu kekasihmu, 'kan?"

Jungkook terkejut, ia tersedak karena keterkejutannya, "Uhuk!"

Wanita di sebelahnya segera memberinya segelas air dan menepuk-nepuk punggungnya, "Aigoo, pelan-pelan, Kook."

Jungkook menenggak air dengan cepat, ia masih terbatuk-batuk. Dengan satu tangan menutupi hidungnya, ia menatap sang auntie sembari bergumam, "Mwoya, auntie..?"

Sang auntie kembali tersenyum, "Aku hanya bertanya, apakah yang meneleponmu tadi itu adalah kekasihmu?"

Jungkook tertunduk, masih menutupi hidungnya, ia merona, namun tak bisa menyembunyikan rasa gugup dan gelisahnya. Ia menelan salivanya dan menepuk dadanya perlahan untuk menormalkan deru jantungnya, "I-itu,"

"It's okay, Jungkook-ah," wanita itu kembali mengelus surai gelap Jungkook, "Sudah sewajarnya bagi anak seusiamu."

Jungkook menggigit bibir bawahnya, ia tidak yakin apakah setelah ini sang auntie akan tetap berkata 'sewajarnya'.

Sang auntie mengangkat wajah Jungkook dan kembali tersenyum, "Kapan-kapan bawalah dia ke sini. Undang dia makan malam di sini," wanita itu memberi jeda pada ucapannya karena ia melihat ekspresi Jungkook yang sulit diartikan.

Wanita itu mengacak rambut Jungkook, "Well, bayi-bayiku sudah tumbuh besar. Siapa yang sangka Jungkook kecilku sekarang sudah memiliki yeojachingu–"

"U-uhm,"

Sang auntie merasakan Jungkook menarik ujung dress-nya dan menggelengkan kepalanya. Kedua matanya membesar.

"N-namja..chingu..? Boyfriend?"

Jungkook menunduk, lalu menganggukkan kepalanya dengan tubuhnya yang gemetar.

Kedua mata wanita itu semakin membesar, mulutnya terbuka lebar, ia menatap Jungkook yang tengah menunduk dan memejamkan matanya. Jungkook sudah siap dengan segala kemungkinan yang akan menimpa dirinya. Apakah dirinya akan menerima tamparan, atau mungkin cacian dari sang auntie yang nampak jijik dengan pengakuan dirinya tadi? Apapun itu, Jungkook telah siap. Setidaknya ia merasa demikian.

"W-well, that's nice," Tanpa disangka, sang auntie kembali mengusap kepala Jungkook dengan kehangatan yang tetap sama seperti yang biasa diterima olehnya. Dengan ragu, Jungkook membuka kedua matanya dan menengadahkan kepalanya menatap sang auntie yang masih tersenyum.

Tanpa disadari, kedua matanya memanas.

"Hei, jangan menangis.. Tak apa, auntie ada di sini bersamamu, Jungkook-ah." Jungkook segera melesak ke dalam dekapan sang auntie dan membiarkan air matanya jatuh lebih banyak.

"A-aku pikir auntie akan membenciku.. Aku pikir auntie akan merasa jijik padaku.. Aku pikir auntie akan meninggalkanku," "Ssh, tidak ada yang akan meninggalkanmu, Kook. Aku di sini, tetap di sini." Wanita itu mengelus punggung Jungkook, berusaha menenangkan bayinya yang tengah menangis dalam pelukannya.

"Sudah, jangan menangis. Bukankah Jungkook sudah besar, eh? Big boys don't cry." wanita itu menangkup wajah Jungkook dan menyeka bulir-bulir air ata dari wajah memerah Jungkook.

Jungkook mengangguk sembari mengusap kasar air matanya, perlahan ia terkekeh kecil saat sang auntie mengusap-usap pipinya.

"Kau tahu? Sebenarnya dulu aku sempat memasangkan ayahmu dengan salah seorang rekannya, bahkan aku juga memproklamirkan sebagai shipper mereka," ujar wanita itu dengan tatapan serius yang membuat Jungkook kembali tertawa.

"Ayahmu memiliki perawakan yang sungguh maskulin, namun ia adalah seorang yang begitu penyayang. Karena itu aku memutuskan untuk memasangkannya dengan rekannya yang terlihat sungguh manis, lucu, namun berani, seperti dirimu," Jungkook mengerjap-ngerjapkan kedua matanya.

"Melihat mereka bekerja berdua benar-benar suatu kegemaran bagiku. Yah, sampai suatu saat rekan ayahmu itu menikah dengan seorang wanita yang–ugh, sungguh berpenampilan high class. Lalu setelah itu wush, tak terdengar lagi kabar mereka. Dan aku harus memendam rasa kegemaranku itu dalam-dalam," sang auntie mengetuk kening Jungkook perlahan, "Kemudian akhirnya kau membuat rasa itu kembali. Sungguh menyenangkan," ujarnya sembari tertawa kecil, meninggalkan tanda tanya besar pada Jungkook.

"Yah, kuakui sebagian besar kaum wanita tidak akan tahan untuk tidak berpikiran yang sama denganku, kau tahu?" Ia kembali tertawa kecil. Jungkook yang masih merasa bingung memutuskan untuk tertawa bersamanya. "Benarkah?"

Sang auntie mengangguk, sedetik kemudian ia menggenggam tangan Jungkook dengan pancaran penuh harap dari kedua maniknya, "Di antara kalian berdua, who's topping?"

Jungkook memicingkan kepalanya, tidak mengerti dengan apa yang ditanyakan oleh sang auntie. Ia mengerjapkan matanya–sungguh terlihat lucu dan menggemaskan, "Eh? Apa maksudnya, auntie?"

Sang auntie kembali dari alam bawah sadarnya, "O-oh! Tidak apa, Kook-ah, lupakan saja." Sadar bahwa perkataannya sudah begitu jauh, ia memberikan Jungkook sebuah cengiran dan kembali mengacak rambutnya yang disambut oleh rengekan Jungkook.

"Oh, ya, tawaran yang barusan masih berlaku, Kook-ah," ujarnya.

"Tawaran?"

"Yup. Lusa bawalah kekasihmu ke sini. Aku ingin tahu apakah ia pantas untukmu atau tidak–jangan mengartikanku lain, aku hanya ingin memastikan perasaannya terhadapmu,"

Jungkook membulatkan kedua matanya.

"Dan kurasa Seokjin juga ingin bertemu dengannya."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Cuaca benar-benar bersahabat siang ini. Semilir angin berhembus, menggelitik tubuh Jungkook yang tengah duduk bersandar di bawah pohon rindang yang terletak di taman belakang sekolahnya. Serakan buku turut menemani siangnya hari ini, mulai dari buku pelajaran literatur, sosial, sains, hingga logika.

Jungkook yang tengah duduk sembari meregangkan kedua kakinya, membalik-balikkan halaman sebuah buku bergidik saat embusan nafas menggelitik lehernya. Ia merasakan sepasang lengan melingkari pinggangnya, dan sebuah dagu tengah beristirahat di atas bahunya. Ia juga dapat mendengar sayup-sayup suara lagu yang berasal dari sebuah headset.

"Geli, hyung." ujarnya pada seseorang yang sedang memberinya sebuah kecupan di atas lehernya. Jungkook kembali bergidik, "B-bisakah kau hentikan itu, hyung? Kita masih berada di sekolah sekarang.."

"Mm," bukannya berhenti, orang itu malah menggesekkan hidungnya dengan leher Jungkook. Ia menyesap aroma tubuh Jungkook, "Mulai sekarang baumu akan sama denganku," ujarnya sembari mengendus leher Jungkook.

Jungkook tak dapat menahan gelinya, "Tae-hyung, kau bukan seekor anjing yang gemar memberi tanda pada apapun." ujarnya sembari menengokkan kepalanya dan wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.

Taehyung meniup wajah Jungkook dengan sengaja, "Kau memanggilku dengan embel 'hyung' atau hanya namaku?" tanyanya. Jungkook terkekeh, "Mungkin keduanya," Setelahnya Taehyung memendam kepalanya ke dalam ceruk leher Jungkook, kembali menyesap aroma tubuh Jungkook.

Jungkook menghela nafasnya sebelum menutup buku yang sedang dibacanya. Ia menyandarkan tubuhnya pada Taehyung yang sedang duduk bersandar di bawah pohon sembari memeluk dirinya dari belakang. Mereka meregangkan kedua kaki dengan kedua kaki Taehyung mengurung tubuh Jungkook. Jungkook membiarkan pelukan Taehyung mengerat, ia mengistirahatkan tubuhnya ke atas dada Taehyung dan mulai mengusap-usap jemari Taehyung yang melingkar di pinggangnya.

"Hyung," Jungkook memecah keheningan sementara mereka.

Taehyung yang memejamkan kedua matanya selagi mencium wangi rambut Jungkook bergumam, "Hm?"

Jungkook memainkan jemarinya–suatu kebiasaan bila ia sedang merasa gugup–, "Ma-malam ini maukah kau berkunjung ke rumahku?" jantungnya berdetak lebih cepat.

Taehyung membuka kedua matanya, ia menaikkan alisnya. "Ada apa? Ingin tidur denganku?"

Jungkook tersentak, wajahnya merona begitu mendengar penuturan Taehyung, ia memekik, "Hyuung!" Jungkook memukul paha Taehyung yang dijadikan sebagai tumpuan lengannya. Taehyung terkekeh, "Sorry. Jadi mengapa tiba-tiba?" ujarnya sembari mengusap jemari Jungkook dengan satu tangannya.

Jungkook menunduk, menggigit bibir bawahnya, merasa sangat gugup. "K-kemarin lusa aku sudah berkata pada auntie bahwa aku–ugh, memiliki seorang kekasih," Taehyung tersenyum jahil, "Oh, ya? Memangnya siapa kekasihmu itu?"

"H-hyuung.. Jangan main-main," rengek Jungkook sembari mengerucutkan bibirnya dan menggembungkan pipinya. Taehyung kembali tertawa, mengerjai Jungkook merupakan hobi barunya, "Oke, oke, lanjutkan." ujarnya sembari menusuk pipi Jungkook yang tengah menggembung.

Jungkook mengambil jemari Taehyung dari pipinya dan menggenggamnya erat, "Auntie mengundangmu untuk makan malam, kau tidak akan menolak dan menyakiti hatinya, 'kan?" tanyanya seraya menolehkan kepalanya dan memberi Taehyung puppy eyes miliknya.

Di dalam hatinya, Taehyung sedang menjerit melihat Jungkook yang begitu lucu, namun ia segera menutupinya dengan gaya yang dibuat-buat, "Tentu tidak, Kookie-yah." ujarnya sembari memiringkan kepalanya dan mengecup bibir Jungkook sekilas.

Jungkook yang merona tersenyum manis, ia kembali menyandarkan tubuhnya pada Taehyung, "You're the best, hyung." ujarnya sembari tertawa kecil yang terdengar seperti suara tertawa malaikat di telinga Taehyung.

Saat Taehyung hendak mengelus kepalanya, Jungkook menengadah, "Oh, ya, Jin-hyung juga akan datang malam ini. Katanya ia juga ingin bertemu denganmu, hyung." ujarnya ceria.

Mendadak tubuh Taehyung terdiam kaku. Kedua matanya membulat, adam apple milliknya bergerak turun dengan susah payah.

'Jin-hyung? Hyung-nya? Holy shit! Bagaimana bila nanti aku bertingkah aneh di hadapannya? Well, fuck, apa yang harus kupakai nanti malam? Bagaimana bila nanti hyungnya menganggapku sebagai seorang berandalan? Apa yang

"Hyung?"

Taehyung mengerjapkan matanya, dan segera disambut oleh Jungkook yang sedang menggoyang-goyangkan tangan tepat di hadapan wajahnya. "Gwaenchanayo?" tanya Jungkook, wajahnya menyiratkan kekhawatiran karena sosok Taehyung di hadapannya terdiam membatu.

"Y-yeah! Aku tak apa, Kookie-yah," Taehyung segera memberikan cengiran tanda tidak apa-apa miliknya pada Jungkook.

Seakan mengerti kata hati Taehyung, tatapan Jungkook melembut, ia meraih kedua tangan Taehyung dan menggenggamnya erat, "Jangan terlalu khawatir, hyung," Taehyung yang sempat terkejut oleh tindakan Jungkook, setelahnya mulai meregangkan otot-ototnya dan menenangkan dirinya. Setelah membuang nafasnya ia membawa genggaman tangan Jungkook tepat ke atas bibirnya dan mengecupnya.

Jungkook ikut tersenyum saat Taehyung mengangguk dan tersenyum padanya, "Aku akan bersamamu, apapun yang terjadi." ujarnya.

Taehyung terkekeh, "Apa tidak seharusnya aku yang berkata begitu?" Jungkook tertawa geli mendengarnya, ia menjulurkan lidahnya pada Taehyung–tanda mengejek, "Tidak, kau sudah terlambat." Taehyung yang gemas kemudian mengacak-acak surai Jungkook.

Jungkook merengek meminta Taehyung untuk tidak mengacaukan rambutnya yang sudah tertata rapi, ia meninju perlahan lengan Taehyung sembari merapikan rambutnya. "Ouch, apa ini? Si kecil Jungkook kenapa bisa bertenaga seperti seekor gajah?" Taehyung kembali menggodanya.

Jungkook kembali merengek, "Apa kau mau bilang kalau aku mirip seperti gajah? Kau menyebalkan!" ujarnya sembari melipat kedua tangannya dan membalikkan badannya. Taehyung menarik bahu Jungkook untuk kembali bersandar pada dirinya di sela-sela tawanya, "Yaah, mianhae." ucap Taehyung yang menumpu dagunya di atas bahu Jungkook, lalu ia mencuri kecupan dari pipi Jungkook.

Perlahan Jungkook merasa terbuai oleh perlakuan manis dari Taehyung yang selalu diterimanya, ia menggunakan satu tangannya untuk mencubit pipi Taehyung yang berada samping kepalanya. Sedangkan Taehyung mendengus dan tertawa kecil, membiarkan Jungkook mencubit pipinya.

"Hyung, ada yang terpikirkan olehku," Setelah puas mencubit, Jungkook kembali mengusap-usap jemari Taehyung yang berada di atas perutnya, beberapa kali ia bergidik saat embusan nafas Taehyung menyapu lehernya.

"Apa itu?"

Jungkook menatap lurus ke arah sebuah danau kecil yang terletak di dalam wilayah taman sekolahnya, "Uhm.. A-apa yang biasanya kau lakukan saat berkunjung ke 'tempat itu'? Maksudku, tempat yang waktu itu kau datangi saat aku membuntutimu," Jungkook memberi jeda untuk menenggak salivanya, "H-habis kupikir tempat itu menakutkan dan membuatku tidak nyaman–t-tapi tidak demikian saat aku bersamamu di sana."

Taehyung menghentikan kegiatannya meniup-niup leher Jungkook, "Klise. Seperti orang kebanyakan. Drinking, smoking, cursing, fucking, drugs–" "A-apa?!" Mata Jungkook membesar, ia tersentak dari posisinya.

Taehyung terkekeh, "Tidak, Kookie. Aku tidak melakukan semua itu. Mungkin hanya minum–dan sedikit menghisap cigarette."

Jungkook mengerutkan bibirnya, "Kau minum dan merokok..?"

"Tidak terlalu sering," Taehyung tersenyum, "Ingin aku berhenti?"

Jungkook menatapnya dengan kening yang terkerut, "Tentu saja, itu tidak bagus untuk kesehatanmu, hyung," ujarnya kembali melipat kedua tangannya dan memasang ekspresi marah. Namun sedetik kemudian ia menyadari bahwa orang-orang yang sudah terlanjur candu tidak akan mudah untuk berhenti begitu saja, "Y-yah, setidaknya kurangi–"

"Oke."

Alis mata Jungkook terangkat, "Eh?"

Taehyung tersenyum kembali sembari mengetuk kening Jungkook dengan jemarinya, "Kubilang oke. Aku akan berhenti. Setelah hari itu aku tak pernah lagi berkunjung ke sana, kau tahu?" Ia menatap Jungkook yang sedang melongo. "Untuk apa aku ke sana jika aku bisa bersenang-senang denganmu?" lanjutnya sembari mencubit hidung Jungkook. Tak menghiraukan protes dari Jungkook.

"C'mere." Taehyung menepuk pahanya, mengisyaratkan Jungkook untuk melesak ke dalam dekapannya. Dan dengan sebuah pout di bibirnya, Jungkook segera melesat ke dalam pelukan Taehyung–

"Oh, itu dia mereka! Tae, Kookie!"

–dan mau tidak mau pelukan itu harus terlepas.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"K-Khun,"

Nampak seorang wanita tengah bergerak di atas sebuah ranjang usang yang berdecit di dalam kamar sempit dan gelap, nampak seperti gudang penyimpanan. Kedua tangannya telah terikat, pakaian atasnya telah dilucuti. Ia kembali menggeliat saat pakaian dalamnya dilepaskan dengan cepat.

Nichkhun, lelaki yang tengah menyetubuhinya menyeringai, "Diamlah, kau akan merasakan kenikmatan luar biasa." Setelahnya wanita itu mengangguk, menyerahkan seluruh tubuhnya pada Nichkhun, karena ia merasa percaya oleh lelaki itu.

Dari luar nampak sosok Tiffany sedang berdiri bersandar pada pintu gudang itu. Beberapa kali ia menggerutu sembari menatap cermin dan merapikan penampilannya.

"Eww, bisakah kau kecilkan suaramu itu, bitch?" desisnya saat ia mendengar pekikan wanita yang diyakininya sedang disetubuhi tanpa henti oleh Nichkhun selama beberapa jam. Tiffany memutar bola matanya saat pekikan itu kembali terdengar, "Baru segitu saja sudah berteriak-teriak," cibirnya kembali selagi ia menarik sebuah kotak dan mengistirahatkan tubuhnya di atas kotak itu.

Ia menendang-nendang kakinya dan mengerutkan bibirnya, "Lama sekali! Stupid Khun, aku 'kan juga ingin bermain," ia menopang dagunya dengan kedua tangannya, "Lihat saja, lain kali akan kubuat ia menunggu berjam-jam kali lipat!"

"Ms. Hwang?"

Tiffany dikejutkan dengan kehadiran sosok lelaki di hadapannya. Lelaki berambut gelap, memakai sebuah trousers hitam yang cocok dengan kemeja hitamnya, satu tangannya memegang sebuah ponsel sembari membandingkan wajah Tiffany dengan gambar di dalamnya.

"Oh, ya, itu aku. Tiffany Hwang," Tiffany memberikan senyum–nampak sedikit menggoda–, "Dan kau?"

Lelaki itu tersenyum lalu membungkukkan badannya sembari memperkenalkan dirinya, "Jung Hoseok. Big Boss told me to find you." ujarnya dengan sopan. Tiffany sedikit memiringkan kepalanya, "Hoseok? Jangan-jangan kau ini adalah–" "Exactly."

Hoseok melonggarkan kerah bajunya, "Kupikir kau sudah mendengar tentangku sebelumnya. Aku adalah orang itu,"

Tiffany bangkit dari duduknya, ia menyeringai, "Oh, jadi benar kau adalah agen rahasia itu?" Hoseok mengangguk.

"Daaan, kau akan menjalankan misi besar dari Big Boss, eh?"

Hoseok kembali mengangguk.

Tiffany berjalan mendekatinya perlahan. Ia menatap wajah Hoseok dalam-dalam, kemudian tersenyum menggoda, "Buktikan bahwa kau memang pantas."

Sebuah pisau lipat berkilau memperlihatkan ujungnya yang tajam di atas pipi Hoseok. Beruntung, ia sempat menyadari pergerakan Tiffany lalu ia memiringkan sedikit kepalanya ke arah kiri yang membuatnya terhindar dari irisan pisau itu.

Tiffany mendecih, "Wow, refleks yang bagus," pujinya dengan nada mengejek.

Tanpa aba-aba, ia meninju perut Hoseok yang disambut dengan sebuah rintihan dari bibir sang lelaki. Hoseok yang sedang memegangi perutnya secara otomatis menunduk, dan menciptakan celah bagi Tiffany untuk menikamnya.

Tiffany melayangkan pisaunya ke udara dan bersiap untuk menusuknya. Namun tiba-tiba sesuatu menendang kakinya dan membuatnya kehilangan keseimbangan, ia terjatuh dengan posisi telentang. Pisaunya terlempar dan menimbulkan suara khas saat berbenturan dengan aspal.

"W-what?!" Tiffany segera menengadahkan kepalanya dan sosok Hoseok sudah berdiri di hadapannya dan menggunakan kedua kakinya untuk mengurung tubuh Tiffany.

Hoseok memain-mainkan sebuah senapan kecil tipe AO-222 di hadapannya, ia memutar-mutarkan senapan itu dan melempar-lemparkannya di udara sembari tersenyum kemenangan.

"M-my little Tomy!" pekik Tiffany sembari meraba tubuhnya, berusaha mencari senapan kecilnya, "Sejak kapan..?"

Hoseok terkekeh mendengar nama panggilan bagi senapan kecil itu, "Apa buktinya sudah cukup, Nona Hwang?"

Tiffany yang merasa sedikit kesal menggunakan kakinya untuk menendang area pribadi Hoseok yang sialnya terpampang jelas di atasnya. "OUCH!" Kesempatan Hoseok yang sedang merintih digunakan Tiffany untuk keluar dari kurungan dan berdiri sembari merebut senapan kecilnya.

"Kasar sekali, Nona." ujar Hoseok yang menahan sakitnya pada Tiffany yang tengah mengelus senapan kecilnya dan meletakkannya kembali ke dalam tempatnya. "Itu salam perkenalan dariku, little boy." ujar Tiffany lengkap dengan senyumannya. Ia memainkan rambutnya seraya mendekati Hoseok.

"Karena kau sudah berbaik hati datang dan menemaniku, bagaimana kalau memberimu hadiah?" Tiffany menyentuh kerah Hoseok dan memainkan jemarinya di sana. Ia menggigit bibir bawahnya–berusaha terlihat seatraktif mungkin, "Bagaimana menurutmu, little boy?" Ia memutari tubuh Hoseok dan sesekali menyentuh leher serta pundaknya.

Hoseok hanya tertawa, "Bukankah akan melanggar hukum jika kau bermain-main dengan little boy ini?"

Tiffany mengerutkan keningnya, ia menjauhkan tangannya dari Hoseok dengan ekspresi merendahkan, "Heh, kau tidak seru sama sekali. Bagaimana bisa Big Boss merekrut anak kecil seperti dirimu."

"N-NICHKHUN, STOP! K-KYAAH!"

Dua orang itu dikejutkan dengan teriakan wanita dari dalam gudang. Hoseok terlonjak, ia terlihat sedang mencari sumber suara. Tiffany yang menyadarinya segera berkata, "Nichkhun sedang bermain. Di dalam sana." ujarnya sembari menunjuk sebuah bangunan yang sudah tua dan reyot.

"Maksudmu Mr. Horvejkul?" tanya Hoseok memastikan.

Tiffany mengangguk tak acuh. Tak berapa lama, sosok Nichkhun keluar dari dalam gudang dengan seluruh pakaiannya yang bersimbah darah.

Hoseok membulatkan matanya, ia yakin bahwa darah itu masih baru.

Nichkhun menyeringai, "Mission accomplished," ujarnya sembari menjilat darah yang menghiasi ibu jarinya.

Tiffany memekik, "Yaah! Kenapa kau menyelesaikannya duluan?! Aku 'kan juga ingin mengiris tubuh jalang itu!"

Hoseok menatap pasangan itu yang tengah berdebat tak berkedip.

"Sorry, hon. Aku tak tahan untuk mengulitinya." Nichkhun tersenyum sembari mengusak rambut Tiffany yang dibalasa dengan sebuah 'hentikan itu!' dari Tiffany.

Mata Nichkhun menangkap sosok Hoseok, "Dan kau? Siapa anak kurus ini, hon?" tanya Nichkhun pada Tiffany yang tengah membungkus potongan daging yang diyakini sebagai potongan tubuh manusia.

"Oh, dia mainan baruku, Jung Hoseok."

Nichkhun mengetuk kepala Tiffany, dan Tiffany tertawa kecil. Kemudian ia mendekati Hoseok, "Hello Mr. Horvejkul. I'm the so-called agent, Jung Hoseok." Hoseok kembali membungkukkan tubuhnya.

Tiffany terkekeh, "Lihatlah, betapa sopan dan manisnya dia."

Nichkhun menolehkan wajahnya pada Tiffany, lalu kembali menatap Hoseok. "Well, salam kenal. Kuharap kau tidak mempermasalahkan bau anyir ini."

Hoseok terkekeh, kemudian menggelengkan kepalanya, "Tidak masalah, aku sudah terbiasa."

"Apa yang kau lakukan di sini?"

"Big Boss menyuruhku untuk menemuimu dan kau akan menjelaskan secara detil tugasku,"

"Oh, right. Kau nampak muda. Berapa umurmu?"

"20,"

"Keahlianmu?"

"Menyamar, stalking, dan mungkin sedikit jeet kuno do,"

"Interesting."

Tiffany yang telah selesai membungkus, menyeruak, "Sudah selesai perkenalannya? Sekarang kita harus membawa tubuh jalang ini. Dan mungkin Nichkhun harus mandi." ujarnya sembari berjalan meninggalkan dua pemuda itu.

Nichkhun tersenyum menatap punggung Tiffany, ia mengisyaratkan Hoseok untuk mengikutinya pergi.

"Kalau boleh tahu, siapa wanita yang kau bunuh itu?" tanya Hoseok di sepanjang perjalanan mereka. Kedua pemuda itu melangkah keluar dari sebuah pagar besi yang terhias dengan kawat duri bertegangan tinggi. Dengan mudahnya Nichkhun memasang kembali gembok pagar itu.

"Oh, dia Jaekyung. Seorang pelayan di kediaman ilmuwan kaya yang seksi dan cantik. Ah, sayang sekali ilmuwan itu sudah mati," Nichkhun terkekeh, "Masih teringat di kepalaku saat peluru Tiffany menembus kepalanya."

Hoseok memicingkan kepalanya selagi menunggu Nichkhun menyelesaikan pekerjaannya.

Nichkhun yang telah selesai menangkap ekspresi bingung Hoseok, "Kau tahu ilmuwan wanita bernama Kim Yeongju?" Hoseok nampak berpikir, kemudian ia mengangguk, "Sepertinya aku pernah mendengarnya, bukankah ia ilmuwan wanita nomor satu?"

"Yep. Mudah saja, Tiffany mengarahkan pelurunya menembus kepala wanita itu dan BANG! Ia mati."

"Mengapa ia dibunuh?"

"Karena dia bodoh, tak mampu menyelesaikan serum. Padahal, ia sudah diberi waktu selama 9 tahun. Bodoh, bukan? Ternyata ia bukanlah ilmuwan jenius seperti yang orang-orang kira."

Sejenak Hoseok kembali berpikir, "Apakah serum itu yang dimaksud? Karya Jeon Jihoon?"

Nichkhun mengangguk, "Setidaknya kabar yang kudengar demikian. Orang itu beserta keluarganya sudah mati,"

"Big Boss marah besar saat ia ditipu oleh Jeon Jihoon. Tak ada yang dapat menemukan serum itu, bahkan Big Boss sekalipun. Ia berkali-kali berusaha mengontak dan mengancam Mr. Min Junghwan–pemimpin dari organisasi AR yang merupakan organisasi menyusahkan–, sampai kami menggeledah markasnya namun hasilnya pun nol besar. Min Junghwan juga tidak mempunyai serum itu. Asumsi kami adalah Jeon Jihoon telah menyembunyikannya di suatu tempat dengan sempurna, dan tak ada yang tahu di mana ia menyembunyikannya. Min Junghwan merekrut Kim Yeongju untuk melanjutkan eksperimennya, menciptakan serum baru sebagai pengganti. Sayangnya Kim Yeongju tidak mampu dan Big Boss yang merasa kesal saat menculik Yeongju namun tak mendapatkan apa-apa memutuskan untuk membunuhnya." lanjut Nichkhun.

Hoseok mengangguk-angguk, "Tepat seperti yang kudengar dari Seulgi."

"Lalu apa hubungannya pelayan bernama Jaekyung tadi dengan cerita ini?"

Nichkhun menyeringai, "Karena kudengar pelayan itu adalah seseorang yang paling dekat dengan putera dari Kim Yeongju, kau tahu, Kim Taehyung. Berdasarkan infomasi, Jaekyung merawat Taehyung semenjak kepergian Yeongju. Dan apa yang akan kau lakukan bila kau ada di posisi Taehyung saat mengetahui seseorang yang merawatmu selama ini tiba-tiba menghilang?"

"Aku mungkin akan merasa down dan akan mencarinya,"

"Tepat. Big Boss mempunyai gagasan terbaru, ia berasumsi bahwa mungkin saja putera Kim Yeongju mengetahui informasi tentang keberadaan serum itu. Karena sebenarnya Jeon Jihoon dan Kim Yeongju berteman akrab."

"Kalau ternyata anak itu tidak mengetahui apapun?" tanya Hoseok saat mereka tengah menuruni sebuah bukit.

"Bunuh saja dia. Keberadaan organisasi tidak boleh diketahui oleh siapapun. Dan itu menjadi tugasmu, Hoseok."

Hoseok menaikkan sebelah alisnya, "Eh? Tapi yang kutahu tugasku adalah menangkap putera dari inspektur Kim Kyujong, Kim Seokjin."

Nichkhun menepuk pundak Hoseok, "Sepertinya kemampuanmu mencari informasi harus ditingkatkan. Putera dari Kim Yeongju, Kim Taehyung juga akan berada di pelatihan itu bersama dengan Kim Seokjin, dan Big Boss menyuruhmu untuk menyingkirkan Seokjin karena keberadaannya hanya akan menyulitkanmu untuk menangkap Taehyung. Kau awasi Seokjin, karena kudengar ia akan menjadi mentor di sana, lalu jebak Taehyung dalam perangkapmu dan seret ia ke hadapan Big Boss. Bila perlu, kau bisa menghabisi Seokjin,"

"Kau bilang hanya menangkap putera Kim Yeongju?"

"Karena kudengar Seokjin sudah mencium keberadaan organisasi ini."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bel pintu depan berbunyi. Jungkook yang tengah membantu merapikan meja makan tersentak, ia buru-buru berlari ke arah pintu dan merapikan penampilannya sebelum membuka pintu.

"Jungkookie!"

Seorang lelaki dengan senyum manis berdiri di hadapan Jungkook, ia merentangkan kedua tangannya.

"HYUNG!" Jungkook memekik gembira, ia segera melesat ke dalam pelukan sang hyung, Seokjin.

"Aigoo.. Hyung sudah pulang, Jungkook." ujar Jin sembari mengelus rambut Jungkook perlahan. Adik kecilnya nampak tersenyum lebar dalam pelukannya, "Ah, hyung, aku merindukanmu!" Jungkook menggesekkan kepalanya dalam pelukan Jin, menandakan bahwa ia benar-benar merindukan sosok hyung-nya itu.

Teriakan Jungkook mengundang sang auntie untuk menghampiri mereka di pintu depan. "Ah, selamat datang, Seokjin-ah." ujar wanita itu sembari mengusak rambut Jin yang nampak kemerahan. Jin terkekeh mendapat perlakuan dari sang auntie.

Tak lama, sang auntie kembali menyeletuk, "Jungkook-ah, jika kau tidak segera melepaskan pelukanmu Seokjin tak akan bisa masuk ke dalam rumah." Dan hal itu membuat Jungkook tersentak lalu segera melepaskan pelukannya. "Hehe, maaf, hyung." ujarnya sembari mengeluarkan cengirannya. Jin tertawa kecil sembari mencubit pipi adik kecilnya, "Sekarang ayo kita masuk."

Jungkook mengangguk, lalu menggandeng lengan Jin yang sedang menarik koper hitamnya masuk ke dalam rumah.

.

.

.

.

.

"Noona?"

Taehyung yang tengah merapikan rambutnya memanggil sang noona, seorang pelayan yang sangat dekat dengannya–dianggapnya sebagai sosok ibu.

Tak mendapatkan balasan, Taehyung meraih hoodie-nya dan keluar dari kamarnya. Ia menghentikan salah satu maid-nya yang sedang menyapu lantai, "Di mana Jaekyung-noona? Aku akan keluar ke rumah seorang teman."

Maid itu menjawab, "Oh, saya tidak melihatnya semenjak siang tadi, tuan muda."

Taehyung mengerutkan keningnya. Ia berjalan menuju pantry, berharap akan menemukan Jaekyung di sana. Tidak biasanya Jaekyung meninggalkan rumah tanpa berkata apa-apa padanya dan pergi selama ini.

Taehyung telah sampai di pantry, dan seorang butler bernama Doojoon yang telah setia bekerja di kediamannya selama 10 tahun memberikan sebuah kertas kecil padanya. "Jaekyung menitipkan ini padaku, tuan muda." Setelah mengatakan itu, Doojoon membungkuk dan melanjutkan pekerjaannya.

Taehyung menatap secarik kertas yang nampak telah diremas hingga tidak berbentuk. Ia membuka kertas itu dan dahinya berkerut saat didapatinya hanya kertas putih, kosong, tanpa tulisan apa-apa di atasnya.

Ia berpikir bahwa Jaekyung hanya sedang mengerjainya. Ia memasukkan kertas itu ke dalam saku hoodie-nya secara refleks dan segera melesat saat menatap jam dinding sudah menunjukkan pukul 7 malam.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

yaaaay aku muncul kembali XD

ini, abis baca chapter ini kira2 nangkep ngga jalan ceritanya?(?) yang kemarin2 sempet aku buat jadi rahasia kira2 sekarang udah mulai cerah belum?(?) apa jangan2 makin eneg(?) wkwk

mungkin ya (mungkin) chapter ini adalah chapter terakhir buat kalem2 dan seneng2(?) /ngga juga/ soalnya chapter depan anak2 itu masuk pelatihan yeaaayyy XD /berisik/ /shot

dan maaf yaa aku banyak pake tokoh2 lain dan mungkin aku semena-mena sama tokoh di sini yang ternyata adalah bias kalian T_T sungguh, aku tak bermaksud(?) /bows/ kali ini muncul Jaekyung Rainbow sama Doojoon Beast, ohiya Seunghyun yang waktu itu ketinggalan aku sebutin hwhwhw itu maksudnya Choi Seunghyun alias TOP Bigbang XD /fangirling started(?)/

btw yang tentang chimchim(?) jimin aku masih menunggu ada yang rela menyumbangkan idenya lagi(?) wkwk /segitu buntunya tentang jimin/ makasih buat yang udah nyumbangin ide;** yang belum aku harap mau membantuku menyumbangkan ide c"; wkwk

BTWWWWWWWWW MV TEASERNYA DONG HAHAHAHAHAHAAH RAMBUT TAEHYUNG HAHAHAHAHAHAHAH—tapi tetep cakep /dor/ /denial(?)

okedeh, makasih buat semua yang udah baca+meninggalkan jejak, i love you guys tanpa terkecuali;******

kindly do me the 3 big favors, favs/follow/review ;3 any critics/comments are warm welcomed & appreciated ;))

thank you ;3

*jeet kuno do: sebuah aliran bela diri yang dibuat dari campuran beberapa bela diri

*maid: pelayan wanita

*butler: pelayan lelaki