[REMAKE] Dating With The Dark by Santy Agatha

.

.

Main Cast:Luhan(GS), Oh Sehun.

Other Cast: Kris, Irene, etc.

Genre: Romance, Drama.

Rated:M

.

.

Don't Like, Don't Read

Sorry for Typo.

Happy Reading~

.

.


Chapter 15

.

.

"Anda belum boleh berdiri, Tuan." Chanyeol yang memasuki ruangan tempat Sehun dirawat di ruangan ekslusif di pulau Jeju itu mengernyitkan keningnya dengan cemas, "Jangan memaksakan diri dulu."

Sehun menghela napas panjang, "Kapan aku diperbolehkan keluar dari sini?" Ini terlalu lama, dia harus merenggut Luhan kembali. Perempuan itu tidak boleh terlalu lama di dekat Kris. Sehun takut segala informasi yang dilimpahkan Kris kepada Luhan akan membuat perempuan itu semakin jauh darinya. Kadangkala dia merasa cemas dan gusar luar biasa karena Luhan bahkan tidak bisa mengingatnya, suaminya sendiri.

"Anda harus sehat dulu, Tuan Sehun, ingat, semua rencana ini membutuhkan kesehatan anda. Apalah artinya anda berhasil nanti kalau anda sakit."

Chanyeol ada benarnya juga. Sehun menghela napas panjang,

"Apakah kau sudah memberi instruksi kepada Tao?"

Chanyeol menganggukkan kepalanya.

"Saat ini nona Luhan masih berada di rumah sakit. Anda tahu insiden dengan Irene melukai kepalanya, membuatnya tidak sadarkan diri. Segera setelah Luhan sadar, Tao akan bertindak."

Sehun mengernyitkan keningnya, menyesal karena Luhan harus menghadapi kengerian itu karena kelakuan Irene yang tidak diduga. Seharusnya Sehun bisa menduganya dari awal, tatapan memuja Irene kepadanya hampir seperti obsesi terpendam, dan obsesi yang tak terlampiaskan bisa meledak ketika sudah mencapai titik puncaknya, membuat Irene melakukan hal-hal yang tak terbayangkan. Sehun tidak mau bersikap kejam, tetapi dia tidak bisa menahan rasa leganya karena sekarang Irene sudah tidak ada lagi untuk mengganggu Luhan.

"Oke. Kabari aku lagi nanti." Gumam Sehun, setengah mengusir Chanyeol dari kamarnya. Pelayan muda itu tentu saja sudah mengerti isyarat tuannya, dia setengah membungkukkan badannya dan pamit mengundurkan diri, keluar dari ruangan.

Lama kelamaan, Sehun merasakan nyeri di dadanya, dia melangkah dan kemudian duduk di atas ranjang, benaknya berkelana membayangkan bagaimana Tao mungkin harus memaksa Luhan atau bahkan menculiknya untuk Sehun. Luhan masih belum mengingatnya, lelaki itu bahkan menembaknya untuk menyelamatkan Kris.

Perasaan cemburu membakarnya mengingat Luhan hampir saja membuka hatinya untuk Kris. Tetapi untunglah dia bisa menahan diri dan mencoba memaklumi semuanya, mengingat Luhan kehilangan ingatannya dan seluruh kenangannya tentang Sehun.

Tetapi bukankah jika cinta itu ada, maka akan selalu ada meskipun ingatan mereka hilang? Sehun telah memegang harapan itu sekian lama, terus menerus percaya bahwa meskipun Luhan tidak bisa mengingatnya, isterinya itu akan bisa mencintainya lagi. Sehun bertekad akan membawa Luhan ke Italia, ke rumah mereka tempat mereka menghabiskan masa bulan madu yang indah, sayangnya urusan surat-surat penting menahannya di negara ini, membuat semuanya tertunda sehingga Kris bisa merenggut Luhan kembali.

Kris. Mata Sehun meredup dengan marah, seharusnya Kris tahu bahwa Luhan adalah isterinya, dia yakin bahwa atasan Kris pasti sudah memberitahukan informasi itu kepadanya. Lelaki itu harusnya sadar bahwa tidak ada lagi harapan baginya untuk memiliki Luhan. Luhan masih isterinya yang sah, terikat resmi, miliknya seutuhnya.

Dia terkenang akan masa-masa bahagia itu, masa dimana hanya ada dia dan Luhan dan cinta yang luar biasa besar di antara mereka…..

.

.

.

[ Satu bulan setelah pernikahan ]

.

.

"Indah sekali." Luhan berseru bahagia melihat pemandangan didepannya, kemudian dia menoleh ke belakang ke arah Sehun yang berdiri dibelakangnya dengan senyum lembutnya. Satu bulan dalam pernikahan mereka gunakan untuk menjelajah kota Lucca yang begitu indah, penuh dengan peninggalan bersejarah abad pertengahan. Sebenarnya bisa dikatakan Luhan yang menjelajah sementara Sehun yang menemani. Tidak habis terimakasih Luhan atas kesabaran Sehun menemaninya, meskipun Luhan tahu, Sehun mungkin sudah bosan dengan seluruh tempat wisata di kota ini.

Kota Lucca ini memang sangat indah, alun-alun abad pertengahan, gereja kecil, galeri seni dan jalur berbatu berpadu selaras dengan kedamaian dan keramahan penduduknya. Setiap pagi, Luhan dan Sehun akan menentukan mereka akan kemana, mereka telah mengunjungi beberapa gereja yang dibangun di abad pertengahan, dan merupakan tempat bersejarag bergaya arsitektur Italia yang klasik dengan ciri khas koridor di lantai dasar. Salah satu yang pertama kali mereka kunjungi adalah gereja San Michele dengan Loggia, selain itu Luhan juga telah mengunjungi gereja San Pietro Somaldi, dan tidak lupa gereja San Frediano, atau Duomo yang menjadi rumah bagi patung karya Jacopo della Quercia Tomb of Illaria del Carretto di abad 1410.

Saat ini mereka berdua sedang salah satu sudut terbaik kota Lucca yakni Torre Guinigi di Via Sant'Andrea. Di tempat itu terdapat sebuah menara abad pertengahan dengan ek suci (hollyoak) kuno di atasnya. Luhan berdiri di atas dan menatap ke bawah, ke arah atap-atap rumah berwarna merah bata yang tampak sangat indah berpadu dari atas, rambutnya berkibar ditiup angin dan senyumnya mengembang cerah di bawah naungan rindangnya pohon ek yang begitu besar.

"Kau senang?" Sehun begitu bahagia bersama Luhan selama sebulan ini. Pernikahan ini benar-benar membawa kepuasan luar dalam untuknya, Luhan telah mengubah kehidupannya yang kelam dan muram menjadi penuh cahaya. Mereka selalu menghabiskan waktu bersama seakan tak terpisahkan, Sehun hanya meninggalkan Luhan sebentar untuk mengurus bisnisnya melalui telepon, untunglah dia memiliki pegawai tingkat tinggi yang bisa diandalkan untuk mengurus perkebunan anggur dan zaitunnya yang sangat luas. Biasanya setelah berjalan-jalan, mereka akan pulang dengan tubuh lelah tapi bahagia.

Lalu mereka akan mandi bersama, saling memijat di bawah guyuran air panas yang menyenangkan untuk kemudian bercinta dengan panas dikamar mandi. Malam-malam mereka bersama tidak kalah panasnya, mereka melewatkan hampir setiap malam dengan bercinta, memuaskan gairah yang seakan tidak pernah surut satu sama lain.

Sehun sangat puas dengan isterinya di atas ranjang sehingga tidak mungkin mampu melirik wanita lain. Begitupun dia menjadi sangat posesif kepada isterinya, melemparkan tatapan membunuh pada lelaki manapun yang berani melemparkan pandangannya kepada isterinya itu.

.

.

.

Mereka berdua baru sampai di rumah menjelang sore hari, dan memulai ritual yang menyenangkan dengan mandi bersama.

Dengan lembut Sehun melepaskan pakaian Luhan, satu persatu menahankan gairahnya, setelah Luhan telanjang bulat, Sehun melepaskan pakaiannya sendiri dan setelah selesai dia mendorong Luhan ke kamar mandi.

Air pancuran yang hangat langsung menyiram tubuh mereka, melemaskan otot-otot mereka yang kaku setelah petulangan seharian mereka yang menyenangkan.

Sehun mengusapkan sabun cair yang penuh busa kepunggung Luhan, memijitnya lembut, membuat Luhan tersenyum nakal ke arahnya, perempuan itu juga mengusapkan sabun ke dada Sehun yang bidang, mereka saling menyabuni, dalam keheningan yang penuh makna, hanya gemericik air yang menaungi.

Lalu setelah mereka selesai menyabuni dan membiarkan air menyapu busa-busa sabun di sekujur tubuh mereka, Sehun yang menahan diri seharian, langsung mengangkat sebelah paha Luhan, membuat perempuan itu membuka diri ke arahnya, di dorongnya tubuh Luhan dengan lembut supaya bersandar di marmer hitam kamar mandi, ditopangnya tubuh Luhan, dan kemudian kejantanannya yang sudah begitu keras dan siap, meluncur memasuki tubuh Luhan.

Mereka berdua mengerang bersamaan atas penyatuan tubuh mereka, Sehun menunduk dan mencium leher Luhan yang terdongak ke belakang, tangannya menyangga pinggul Luhan, dan sebelahnya lagi mengangkat tungkai Luhan, membuatnya semakin leluasa memasukkan diri dan bergerak dalam ritme teratur yang makin lama makin cepat. Napas mereka terengah, menimbulkan uap didinding kaca pancuran, tubuh mereka bergerak tanpa henti, mengejar gairah mereka yang ingin memuncak.

Sampai akhirnya dengan isyarat tanpa kata, Sehun mengajak Luhan mencapai puncak kenikmatan itu, ke dalam penyatuan yang luar biasa, penyatuan intim seorang suami dengan isterinya.

Napas Luhan terengah dan tubuh isterinya terkulai dalam pelukannya. Sehun mengecup puncak kepala Luhan dengan puas dan penuh rasa sayang. Kemudian membiarkan air hangat menyiram tubuh mereka, membersihkan semuanya. Setelah dirasa cukup, Sehun mengangkat tubuh Luhan keluar dari pancuran. Dia kemudian menurunkan Luhan dan meraih handuk, lalu menggosok lembut tubuh isterinya untuk mengeringkannya.

Luhan meraih tangan Sehun, dan meletakkannya dipipinya, tatapannya penuh cinta kepada suaminya itu.

"Aku merasa seperti di surga" bisikmya pelan, serak oleh cinta.

Sehun mengecup bibir Luhan dengan lembut, lalu memeluk isterinya erat-erat.

"Aku juga sayang, aku juga."

.

.

.

Tetapi pada akhirnya tiba saatnya Sehun harus menghadapinya, keadaan dimana dia harus mengungkapkan kenyataan kepada Luhan.

Suatu malam, setelah percintaan mereka yang hangat dan panas, Luhan bergumam setengah mengantuk.

"Aku ingin pulang dan menengok ayah." Luhan bergumam pelan, "Tadi aku menelepon ayah, dan suara ayah tampak lemah. Aku mencemaskan keadaannya."

Pulang ke rumah hanya akan membahayakan nyawa Luhan, dari laporan Kyuhyun, nyawa ayah Luhan masih terancam, apalagi lelaki itu sudah hampir memenuhi tenggat waktu untuk penyelesaian penelitiaannya. Order yang ditetapkan sudah jelas, bahwa Profesor Kangin harus dibunuh setelah penelitian itu selesai. Dan ketika "Sang Pembunuh" gagal melaksanakan tugasnya, maka disewa pembunuh lain untuk melakukannya.

Sehun harus menjelaskan semuanya kepada Luhan, supaya perempuan itu mengerti.

Dan malam itu, mengalirlah seluruh kisahnya, dari kisah masa kecilnya yang kelam selepas dari panti asuhan, hingga tempaan demi tempaan yang diterimanya, yang membentuknya menjadi pembunuh berdarah dingin, sampai dengan pengakuan ayah kandungnya bahwa dia adalah penerus keluarga Oh.

Sampai di situ, Sehun menatap Luhan, menanti reaksinya, dia akan siap kalau isterinya itu mungkin akan ketakutan kepadanya, atau bahkan membencinya, bagaimanapun juga, tangan Sehun sudah pernah berlumuran darah.

Tetapi nyatanya, Luhan malah memeluknya dan menangis, menyatakan simpati yang amat dalam kenapa Sehun harus mengalami semua kesakitan itu, dan begitu bersyukur karena sekarang bisa menjadi isteri Sehun, seseorang yang mungkin bisa meredakan seluruh kesakitan suaminya. Luhan ternyata benar-benar mencintainya, tidak peduli akan masa lalunya yang hitam.

Tetapi kemudian kecemasan Luhan memuncak ketika Sehun menceritakan tentang masalah yang melilit ayahnya, bahwa sekarang nyawa ayah Luhan sedang terancam.

Perempuan itu menangis, merengek, dan begitu bersedih, meminta pulang ke negaranya untuk menengok ayahnya. Semula Sehun bersikeras tidak mengabulkan keinginannya, mengatakan bahwa itu semua bias membahayakan nyawa Luhan, dan bahwa profesor Luhan sendiri yang meminta Sehun membawa Luhan jauh-jauh darinya untuk menyelamatkannya. Sehun tidak mampu mengatakan tentang penyakit kanker yang diidap oleh ayah Luhan, dia tidak mungkin menambah kecemasan isterinya itu, biarlah nanti profesor Kangin sendiri yang mengatakan kepada Luhan.

Pada akhirnya, Sehun menyerah, seorang lelaki yang begitu mencintai isterinya, hingga tidak mampu menolak keinginan isterinya yang dibarengi dengan kesedihan. Pada akhirnya dia setuju untuk mengantar Luhan pulang ke negaranya, dan kemudian, kalau Luhan berhasil membujuk ayahnya, mereka akan membawa profesor Kangin ke Italia.

Sebuah keputusan paling buruk yang pernah dibuat oleh Sehun, karena keputusan itu membuatnya kehilangan Luhan….

.

.

.

Begitu sampai di rumahnya, Luhan langsung menghambur memasukinya, mencari ayahnya. Dia menemukan ayahnya sedang menekuri kertas-kertas di meja kerjanya.

"Ayah!" Luhan berseru, membuat profesor Kangin mengangkat kepalanya dan menatap Luhan dengan terkejut. Hal itu wajar karena Sehun dan Luhan tidak memberitahukan kedatangan mereka kepada ayahnya.

"Luhan.." sang ayah bergumam, masih terpana, lelaki tua itu lalu menoleh ke arah Sehun yang berdiri di belakang Luhan dan meletakkan koper-koper mereka, "Kenapa kau ada di sini?"

Luhan menatap ayahnya dengan tegas,

"Sehun telah menceritakan kepadaku semuanya, ayah." Tatapannya menyayangkan, "Kenapa kau tidak menceritakan semuanya kepadaku? Mungkin kita akan bisa mengatasinya bersama, dan jangan pernah ayah berpikir aku akan mau-mau saja meninggalkan ayah menghadapi semuanya di sini. Ayah harus ikut denganku ke Italia."

Profesor Kangin masih tampak kebingungan, hingga Sehun harus memecahkan suasana.

"Beristirahatlah dulu Luhan, ini sudah larut malam, ayahmu pasti juga ingin beristirahat, kita bicarakan semuanya besok, ya."

Luhan tampak ingin membantah, tetapi kemudian dia melirik kearah ayahnya yang tampak begitu pucat dan lebih kurus. Apakah ayahnya sakit? Ataukah ayahnya terlalu banyak pikiran, dengan segala peristiwa yang mengancam nyawanya ini?

"Baiklah, aku akan istirahat dulu." Luhan tersenyum lembut kepada ayahnya, "Kita bicara lagi besok pagi ya, ayah." Dengan lembut Luhan mengecup kedua pipi profesor Kangin.

Sepeninggal Luhan, profesor Kangin menatap Sehun yang masih berdiri diam di sana.

"Kenapa kau menceritakan semuanya kepada Luhan?" professor Kangin tampak begitu cemas dan kebingungan.

Sehun menghela napas panjang,

"Puterimu itu begitu keras kepala, memaksa pulang ke sini untuk menengokmu, aku tidak bisa menyalahkannya karena memang kau adalah ayahnya, sudah sewajarnya dia begitu menyayangi dan mencemaskanmu." Mata Sehun menelusuri seluruh penampilan profesor Kangin, dan kemudian diateringat akan kata-kata Kyuhyun, matanya meneliti dan menemukan kebenaran pendapat Kyuhyun, Luhan sama sekali tidak mirip dengan ayah kandungnya, tidak ada ciri-ciri latin sama sekali di diri profesor Kangin, juga pada mendiang isterinya yang foto besarnya terpampang di ruang tamu, "Aku menceritakan semua kepadanya untuk mencegahnya memaksa pulang. Supaya dia tahu bahaya apa yang akan dihadapinya kalau dia pulang ke negara ini. Sayangnya aku salah duga, bukannya menahan diri, Luhan malah semakin memaksa untuk pulang karena mencemaskanmu. Kami akan membawamu ke Italia." Suara Sehun tajam, tidak terbantahkan.

Profesor Kangin tampak lunglai, menatap Sehun dengan sedih.

"Kau tahu itu tidak akan ada gunanya, kondisiku sudah begitu parah hingga umurku pun sudah bisa diperkirakan akhirnya, belum lagi aku terikat perjanjian dengan organisasi kejam yang akan membunuhku. Dengan membawaku ke Italia, itu berarti akan membawa bahaya kepada kalian karena pembunuh yang dikirimkan oleh organisasi itu akan mengejarku."

"Setidaknya Luhan akan berbahagia karena bisa merawatmu disaat terakhirnya." Sehun bergumam tenang, "Dan jangan lupa, aku adalah pembunuh terbaik dari semua pembunuh yang ada, aku tahu semua tekniknya, aku bisa melindungimu. Seharusnya kulakukan ini dari awal, sayangnya kemarin aku begitu fokus untuk menikahi Luhan, hingga melupakannya."

Profesor Kangin menghela napas panjang, menyerah atas kekeraskepalaan Sehun.

"Aku lelah, mungkin besok kita bisa bicarakan lagi." Gumamnya, memijit kepalanya yang mulai terasa nyeri.

Sehun menganggukkan kepalanya lalu mengundurkan diri dari ruangan itu tanpa kata.

.

.

.

Malam harinya, Sehun demam, dia yang sudah bertahun-tahun tidak pernah sakit parah itu harus tumbang karena demam Negara dengan cuaca yang tak stabil ini.

Tubuhnya panas tinggi dan tenggorokannya terasa sakit, dia kesulitan bangun dari tempat tidurnya keesokan harinya.

Mereka sebenarnya telah menyiapkan sembilan lilin biru yang menyala redup di dalam kamar, untuk mengenang keindahan lamaran yang diberikan oleh Sehun waktu itu, tetapi karena kondisi Sehun kurang baik, mereka tidak bercinta. Semalaman Luhan memeluk Sehun, berusaha meredakan sakitnya dengan kasih sayangnya, dinaungi oleh sembilan lilin biru yang menyala indah, dan mati di pagi hari karena kehabisan sumbunya.

Luhan tampak cemas di pagi harinya ketika Sehun mulai batuk-batuk, suara batuknya kering dan seakan menyakiti tenggorokannya, dia menyuapi Sehun dengan sup ayam yang dibuatnya sendiri, yang segera ditampik Sehun setelah suapan ke tiga karena perutnya terasa mual.

"Kau harus makan dan meminum obat demammu." Luhan memaksa, membuat Sehun mengerutkan keningnya, kepalanya terasa berkunang-kunang dan telinganya berdentam-dentam, menambah rasa sakit di sana.

"Aku sudah cukup makan." Gumamnya keras kepala, dengan suara serak karena tenggorokannya terasa nyeri digunakan untuk batuk dengan begitu kuatnya. "Berikan obatku kepadaku."

Luhan menurutinya, memberikan segelas air putih dan obat yang segera diminum oleh Sehun. Obat batuk dan demam itu tentu saja membuat Sehun mengantuk, lelaki itu mengutuki dirinya yang lengah hingga bisa terserang penyakit ini, kemudian mencengkeram lengan Luhan kuat-kuat.

"Aku akan tidur dan beristirahat, dan ketika bangun aku akan baik-baik saja." Matanya menatap tajam dan dalam, "Jangan keluar dari rumah satu langkah pun ketika aku tidur, aku ingin kau selalu berada dalam jangkauanku sehingga aku bisa menjagamu."

Luhan menganggukkan kepalanya, lalu mengecup dahi Sehun yang panas.

"Tenang saja sayang, aku tidak akan kemana-mana." Diusapnya dahi Sehun dengan lembut sampai lelaki kesayangannya itu akhirnya tertidur pulas dengan napas teratur.

.

.

.

Luhan melihat stock obat di kotak obat dan mengernyit, persediaan obat demam di sana sudah habis, sementara Sehun sepertinya masih memerlukan meminum obat dua atau tiga kali lagi, demamnya masih tinggi dan suara batuk keringnya masih begitu kuat.

Luhan melihat ayahnya sedang membaca koran di ruang tengah dan memanggilnya,

"Ayah, bisakah kau mengantarkanku ke apotek di perempatan sana? Obat untuk Sehun habis, dia tidak mau ke dokter jadi aku memberikannya obat generik yang biasa ada di kotak persediaan kita."

Profesor Kangin menatap Luhan dengan ragu. Dia bisa saja menyetir mobil dan mengantarkan Luhan ke apotek di depan sana. Tetapi Sehun sedang lemah dan sakit, apakah bijaksana membawa Luhan keluar dari rumah sekarang?

"Kita seharusnya tidak keluar rumah tanpa Sehun." Gumam profesor Kangin akhirnya, mengingatkan Luhan pada bahaya yang tengah mengintai mereka.

Sejenak Luhan tampak ragu, tetapi kemudian dia mengambil keputusan.

"Kita harus membelikan Sehun obat, lagipula apotek itu berada di depan dekat pintu keluar kompleks perumahan kita, kita bisa langsung membeli obat dan kembali lagi ke rumah, bahkan Sehun mungkin tidak akan menyadari kalau kita pergi."

Profesor Kangin menatap Luhan dan menyadari kebenaran kata-kata puteri semata wayangnya itu, dia mengangkat bahunya dan kemudian meraih kunci mobilnya.

"Ayo kalau begitu kita segera berangkat sebelum Sehun bangun."

.

.

.

Mereka mengendarai mobil dengan pelan keluar dari kompleks perumahan, apotek itu sudah ada di depan mata. Sampai kemudian, sebuah truk besar tiba-tiba saja seperti kehilangan kendali, menerjang ke arah mereka berdua tanpa ampun.

Luhan berteriak, merasakan pedihnya ketika serpihan kaca menerpa kulitnya, dia masih meneriakkan nama ayahnya sampai kemudian kesadarannya tertelan oleh kegelapan yang pekat, menelannya mentah-mentah hingga kemudian dia tidak teringat apa-apa lagi.

Semua orang mengira bahwa ini kecelakaan biasa. Tetapi itu bukanlah kecelakaan biasa, kecelakaan ini sudah direncanakan untuk membunuh profesor Kangin dan puterinya, karena satu hari sebelumnya profesor Kangin telah mengirimkan berkas seluruh penelitiannya kepada organisasi asing tersebut, dan sekaligus menyerahkan nyawanya.

.

.

.

Ketika Sehun terbangun dengan demam yang sudah turun dan batuk yang sudah sedikit ringan, dia menyadari bahwa tidak ada orang di rumah, dia langsung merasakan firasat buruk yang melingkupinya. Dihubunginya beberapa koneksinya di negara ini, yah, Sehun telah menyiapkan diri, dia mempunyai beberapa koneksi yang berguna, yang tersebar di seluruh penjuru kota ini. Seketika itu juga dia mendapatkan kabar tentang kecelakaan itu.

Sehun langsung menuju rumah sakit seperti orang gila. Benaknya meneriakkan nama isterinya, mencemaskan isterinya.

Kalau sampai terjadi sesuatu kepada isterinya, Sehun akan memilih untuk mati saja!

.

.

.

Ketika sampai di rumah sakit, Sehun mendapati Luhan terbaring koma dengan luka di seluruh tubuhnya, luka yang paling parah ada dikepalanya, dan profesor Kangin tewas seketika dalam kecelakaan itu.

Sehun memandang dengan geram tubuh Luhan yang terbaring lunglai, marah luar biasa kepada pembunuh yang dikirimkan oleh organisasi itu. Benaknya membara, berani-beraninya mereka menyentuh isterinya!

Mereka akan segera mengetahui bahwa "Sang Pembunuh" sedang sangat marah!

Setelah mengecup jemari Luhan, Sehun berkonsultasi pada dokter yang menyatakan bahwa kondisi Luhan sudah stabil dan perempuan itu pada akhirnya akan terbangun dari komanya. Sehun kemudian menelepon Chanyeol dan Kyuhyun untuk mencarikan informasi tentang pembunuh yang disewa untuk melenyapkan profesor Kangin, setelah mendapatkan informasi yang cukup, dia menghubungi kepala agen pemerintah yang khusus menangani hubungan luar negeri.

Sehun harus menyelesaikan semua, demi keamanan Luhan. Organisasi itu tidak akan berhenti karena mereka mungkin menduga bahwa Luhan mengetahui tentang penelitian ayahnya. Sehun bisa saja mengamankan Luhan di italia, tetapi sekarang ini, ketika kondisi Luhan masih tidak memungkinkan, Sehun harus menghentikan semua ancaman yang mungkin akan menyerang isterinya. Dia sendiri yang akan masuk ke organisasi itu dan mengancam mereka kalau sampai berani menyentuh isterinya lagi. Dan tentu saja, dia akan menghabisi pembunuh manapun yang sudah membuat isterinya terbaring koma tak sadarkan diri seperti ini.

.

.

.

"Aku tahu kau juga mengincar profesor Kangin." Sehun bergumam pelan, "Dan saat ini agen-agenmu sedang berkeliaran di seluruh penjuru rumah sakit, menunggu Luhan sadarkan diri."

Kepala agen itu terdiam, tahu bahwa dia sedang berbicara dengan "Sang Pembunuh" yang sangat berbahaya, dia memutuskan hanya akan berbicara sesedikit mungkin untuk menjaga dirinya.

"Aku akan membunuh mereka semua yang terlibat dengan kecelakaan yang dialami isteriku, tanpa tersisa." Suara Sehun begitu dingin dan kejam, membuat sang kepala agen merasakan bulu kuduknya meremang.

"Kau ingin aku melakukan apa?" akhirnya Kepala agen itu berani berkata-kata.

"Aku ingin kau menjaga isteriku, aku tahu kau mempunyai agen terbaik untuk menjaganya. Dan dia adalah puteri dari profesor Kangin, orang yang aku tahu telah banyak berjasa atas penelitiaannya untuk menjaga pertahanan dan keamanan negara ini. Luhan adalah isteriku, aku akan pergi meninggalkannya untuk membalaskan atas apa yang berani-beraninya mereka lakukan pada Luhan, setelah itu aku akan kembali untuk mengambil Luhan."

Lalu telepon ditutup, membuat Kepala Agen itu ternganga mengetahui informasi bahwa Luhan adalah isteri dari "Sang Pembunuh."

Setelah telepon itu, Kepala agen langsung menyuruh anak buahnya menyebar, mencari informasi tentang lelaki asing yang dinikahi oleh anak profesor Kangin itu. Tetapi rupanya "Sang Pembunuh" sangat pandai menyamar. Dia pasti menggunakan nama lain dan berhasil menghindari seluruh kamera intelejen karena identitasnya sangat sulit terungkapkan. Pernikahan itupun entah kapan terjadinya, pasti dilakukan dengan diam-diam. Kepala agen itu menyesal telah mengendorkan pengawasan terhadap profesor Kangin selama beberapa bulan terakhir ini karena mereka menganggap tidak ada bukti yang mengarahkan kegiatan profesor Kangin yang membahayakan negara ini. Mungkin selama jeda kosongnya pengawasan mereka itulah, "Sang Pembunuh" masuk ke dalam kehidupan profesor Kangin dan puterinya.

Sayangnya, kepala agen itu kemudian mengambil keputusan yang melawan Sehun, segera setelah mengetahui kondisi aman, dia menyuruhs eluruh Agennya untuk memindahkan Luhan ke tempat tersembunyi dalam pengawasan di program perlindungan saksi. Luhan adalah orang terdekat ayahnya, dan kecemasan kepala Agen itu semakin besar ketika Luhan sadarkan diri dan ternyata mengidap amnesia.

Mungkin saja Luhan menyimpan rahasia besar tentang penelitian ayahnya yang bisa membahayakan keamanan negara ini, dan sampai ingatan Luhan kembali serta mereka bisa memastikan bahwa Luhan tidak menyimpan informasi penting apapun, mereka harus bisa menjaga Luhan di bawah pengawasan mereka dan menjauhkannya dari "Sang Pembunuh". Lelaki yang mengaku sebagai suami Luhan itu memiliki reputasi yang sangat berbahaya, jika Luhan sampai jatuh ketangannya dengan membahwa rahasia penting yang berhubungan dengan penelitian ayahnya, bisa-bisa hal itu akan mengancam keamanan negara mereka!

Selain itu sang Kepala Agen tiba-tiba saja ingin menangkap dan mengetahui identitas "Sang Pembunuh", kalau benar lelaki itu ingin menjemput Luhan kembali, maka makin besar kesempatannya untuk menangkap lelaki yang sangat ditakuti di dunia gelap itu. Kalau kepala agen dan anak buahnya bisa menangkapnya, bisa dibayangkan betapa besar prestasi mereka di dunia internasional. Tentu saja mereka kesulitan karena mereka tidak tahu seperti apa sang pembunuh itu, dan darimana asalnya, mereka tidak punya benang merah apapun, selain bahwa "Sang Pembunuh" dan Luhan terikat sebagai suami isteri, karena itulah Luhan akan dijadikan umpan, untuk menangkap dan memancing "SangPembunuh" yang sangat terkenal itu.

Maka diperintahkanlah agen-agen khususnya untuk terus mengawasi Luhan, Luhan mengalami hilang ingatan sebagian, dimana dia hanya kehilangan ingatan selama kira-kita setahun sebelum kecelakaan, selebihnya ingatannya baik-baik saja, perempuan itu bisa mengingat masa kecilnya, seluruh pengalamannya, tetapi ketika diminta mengingat tentang masa-masa setahun sebelum kecelakaan, Luhan mengalami pusing di kepalanya akibat trauma, kemudian dicekam oleh serangan panik dan teror yang menyengat, membuatnya harus diterapi oleh psikiater. Kondisi Luhan yang lupa ingatan memudahkan mereka untuk mengawasi Luhan tanpa disadari olehnya, sehingga lebih mudah untuk membangun cerita baru baginya, semua disiapkan untuknya dari rumah barunya, dan kehidupannya yang baru.

Yang perlu dilakukan oleh semua agen itu adalah menjaga Luhan untuk tetap dalam pengawasan mereka, dan kemudian ketika "Sang Pembunuh" datang, mereka harus menggagalkan dia mengambil Luhan dan menangkapnya.

Semua terasa begitu mudah. Kepala Agen itupun menugaskan Kris, anak buahnya yang paling kompeten untuk menjadi kepala team bagi misi mereka ini.

.

.

.

Sehun kembali dari luar negeri, setelah membalaskan dendamnya dengan mengabisi setiap orang yang terlibat dalam perintah untuk melukai Luhan, serta memberikan peringatan yang luar biasa menakutkan kepada organisasi asing itu untuk tidak main-main dengan "Sang Pembunuh".

Tetapi dia sudah menyadari bahwa dia berada dalam jebakan dengan Luhan sebagai umpannya. Hal itu membuatnya waspada dan tetap bersembunyi, sambil mencari informasi.

Dari salah satu anak buahnya yang disusupkan di agen pemerintah itu, Sehun mengetahui bahwa dia sudah diincar untuk ditangkap ketika dia menjemput Luhan nanti, bahwa isterinya itu mengalami hilang ingatan dan melupakannya.

Sehun memutuskan menahan diri pelan-pelan dan mengumpulkan kekuatan dia melatih pengawal-pengawalnya yang setia dengan kemampuan penyamaran dan bela diri yang mematikan untuk menjaganya, sebagaian menerima tugas untuk menyusup dan mengawasi Luhan.

Sehun harus mengambil kembali Luhan, bagaimanapun caranya. Semua rencana sudah disusun rapi, tinggal menunggu waktu yang tepat sampai dia bisa mengambil isterinya lagi.

.

.

.

[ Kembali ke masa sekarang ]

.

.

Kris menggebrak meja dengan marah, sedikit mengernyit karena luka tusukan dipunggungnya yang sekarang dibalut perban terasa nyeri. Luka itu, meskipun berdarah banyak ternyata tidak parah, mungkin karena tenaga Irene sebagai perempuan kurang kuat, membuatnya tidak bisa menusukkan pisau itu dengan dalam sampai menyentuh organ vital Kris.

"Apa maksudmu dengan melepaskan Luhan?" matanya membara menatap ke arah atasannya, sang kepala agen.

Atasan Kris mengangkat bahunya, "Ingatannya sudah kembali Kris, dokter kita sudah memeriksanya dengan teliti, semua tes sudah dilakukan, ternyata Luhan sama sekali tidak tahu menahu tentang penelitian yang dilakukan ayahnya. Dia aman untuk dilepas, dan tidak akan membahayakan keamanan Negara kita."

"Jadi kita akan melepasnya begitu saja? Seluruh usaha kita untuk menjaga Luhan selama ini sia-sia saja?"

Atasan Kris menatap Kris dengan tajam.

"Aku mencemaskanmu, Kris, kau tampaknya terlalu tenggelam dalam misi ini hingga mempengaruhi emosimu. Aku sudah memberikan berkas-berkas itu padamu, kau ingat? Catatan pribadi profesor Kangin yang kita sita, yang menyatakan bahwa Luhan adalah isteri dari "Sang Pembunuh", waktu itu aku berharap dengan melihat berkas-berkas itu kau bisa membunuh perasaanmu yang mulai tumbuh terhadap Luhan dan menjalankan tugasmu dengan profesiaonal tetapi rupanya kau malahan terlibat makin dalam."

Atasan Kris menghela napas panjang lalu melanjutkan kalimatnya, "Aku tahu semua ini terjadi karena kesalahanku, terlalu ambisius ingin menangkap "Sang Pembunuh", pada akhirnya aku sadar, dia hanya seorang lelaki yang menginginkan isterinya kembali. Toh, sekarang kita sudah tahu bahwa Luhan sama sekali tidak tahu tentang penelitian yang dilakukan ayahnya, Negara kita sudah aman, rahasia tetap tersimpan rapi. Kita tidak berhak memisahkan dua orang yang saling mencintai. Lagipula "Sang Pembunuh" tampaknya sudah meninggalkan dunia gelapnya sejak lama. Dia tidak berhubungan dengan pertahanan dan keamanan negara kita, dia bukan ancaman buat kita. Aku sudah melepaskan ambisi pribadiku untuk memperoleh pujian dari dunia internasional dengan menangkapnya dan membuka identitasnya. Kuharap kau melakukan hal yang sama denganku Kris, melepaskan Luhan dan membiarkannya pulang kepada suaminya."

Wajah Kris pucat pasi mendengarkan kata-kata atasannya itu. Dia bisa memahami apa yang ingin disampaikan atasannya itu kepadanya, tetapi benaknya masih tidak bisa menerimanya. Luhan pernah begitu dekat dengannya, mereka pernah bersama dan menumbuhkan rasa. Dia tidak bisa melepaskan Luhan begitu saja!

Apalagi membiarkan Luhan kembali ke tangan pembunuh kejam dengan ekspresi gelap dan dingin yang mungkin sekarang sudah mati tertembak oleh Luhan itu!

.

.

.

Luhan tidak mungkin pergi begitu saja, dia dijaga ketat oleh dua agen yang ada di depan pintu kamar ruangannya di rumah sakit ini. Dia harus pergi dari rumah sakit ini… dia harus mencari tahu tentang Sehun… oh apakah dia membunuh Sehun? Apakah mungkin Sehun masih bias diselamatkan?

Luhan menangis setiap saat ketika mengingat Sehun, suaminya, pujaan hatinya. Bagaimana perasaan Sehun waktu itu ketika berbicara dengan Luhan dan bahkan Luhan tidak mengingatnya sama sekali? Luhan pasti telah sangat menyakiti hati Sehun.

Dan kemudian yang paling parah, dia menembak Sehun untuk menyelamatkan lelaki lain. Perbuatannya tidak dapat dimaafkan. Sehun pantas membencinya untuk semua hal ini. Tetapi masihkah dia mempunyai kesempatan untuk meminta maaf kepada Sehun? Tuhan… betapa Luhan berharap dia masih punya kesempatan.

Tak berapa lama kemudian, Kris memasuki ruangan itu, menatap Luhan dengan tatapan nanar. Lelaki itu agak tertatih-tatih dan Luhan melihat perban di balik kemejanya yang terbuka, perban itu membungkus punggung sampai ke bahunya, itu bekas luka tusukan Irene kepadanya. Luhan memejamkan matanya, mengingat Irene, salah satu agen itu telah memberitahunya bahwa Irene tewas tertembak….. Irene sahabatnya…. Dengan sikap yang sangat bertolak belakang kemarin. Luhan masih belum mampu menerima kenyataan akan diri Irene yang sebenarnya. Benarkah dia anak buah Sehun? Benarkah dia menyimpan cinta terpendam yang begitu dalam kepada Sehun?

"Bolehkah aku pergi?" Luhan bertanya dengan penuh harap, memohon kebaikan hati Kris.

"Kau akan pergi kemana? Menemui orang jahat itu? Apakah kau pikir dia masih hidup setelah kau menembaknya" tanya Kris dengan dingin.

Mata Luhan langsung menyala, marah atas kata-kata kejam yang digunakan Kris untuk suaminya.

"Dia bukan orang jahat! Dia suamiku! Dan dalam hatiku aku yakin dia belum mati"

"Dia adalah "Sang Pembunuh" yang sangat kejam, dan kalaupun dia belum mati, aku akan menangkapnya. Kau adalah orang yang mengetahui identitas aslinya, aku akan membuatmu bicara, lalu aku akan menangkap "SangPembunuh"", desis Kris dengan marah, diluapi oleh perasaan cemburu melihat Luhan, perempuan yang dicintainya begitu membela lelaki lain.

"Aku tidak akan bicara Kris, kau boleh melangkahi mayatku dulu." Luhan setengah menggeram, menatap Kris dengan marah.

Kris mendengus kesal, lalu membalikkan tubuhnya.

"Kita lihat saja nanti." Gumamnya gusar, menatap Luhan kejam, "Dan jangan harap kau bisa melarikan diri dari sini, kau dikawal ketat, kalaupun orang jahat itu berusaha mengambilmu dari sini, aku akan memastikan dia ditembak ditempat oleh agen-agenku." Setelah melemparkan ancaman itu, Kris keluar dan membanting pintu, meninggalkan Luhan yang terperangah akan sikap kejam Kris, dan kemudian menangis.

Tangisan putus asa dari seorang perempuan yang dipisahkan dari belahan jiwanya.

.

.

.

TBC