Taehyung menatap secarik kertas yang nampak telah diremas hingga tidak berbentuk. Ia membuka kertas itu dan dahinya berkerut saat didapatinya hanya kertas putih, kosong, tanpa tulisan apa-apa di atasnya.

Ia berpikir bahwa Jaekyung hanya sedang mengerjainya. Ia memasukkan kertas itu ke dalam saku hoodie-nya secara refleks dan segera melesat saat menatap jam dinding sudah menunjukkan pukul 7 malam.

.

.

.

.

.

.

.

scavenged

notes: chapter ini merupakan sebuah bonus(?) taekook's fluffy time~! (but this causes 'eneg' feels, bersiaplah untuk muntah(?))

sebenernya mau diskip juga gapapa sih(?), chapter ini permintaan maafku karena lama apdet :"D aim sorriiii, bermacam2 halangan melintang(?) /dor

tapi kalau mau bisa lebih jelas silakan dibaca, walaupun chapter depan lebih 'berarti' tapi chapter ini ada 'hint2-nya' /shot/ wkwk sekaligus buat para taekook shipper(?) dipersilakan meng-apa-apakan saya nanti jika ini membuat feels kalian sesuatu(?) entah seneng atau malah eneg(?) /dordor

but seriouslyyyyy, tangan ini tak mau berhenti ngetik sesuatu yang fluffy fluffy bikin eneg(?) :"DDD

dan ya, mudah2an chapter selanjutnya langsung aku post secepatnya (karena ini juga "semacam" bonus aja sih lol) tapi karena besok aku musti nganterin adek daftar kuliah + nyari kos2an(?) /malah curhat/ bisa jadi bukan besok dipostnya(?) melainkan lusa(?) /elah bahasanya/ wkwk

yaudah, enjoy~!

.

.

.

.

.

.

.

Malam itu terasa lebih dingin dari biasanya. Tiupan angin menembus kulitmu dan membuatmu harus menggigil karenanya. Orang-orang bergegas pulang ke rumah masing-masing, merasakan kehangatan dari penghangat ruangan maupun perapian mereka.

Taehyung menghentikan langkahnya saat ia tiba di depan rumah Jungkook. Ia memilih menggunakan transportasi umum daripada dengan mobil miliknya, selain ia sedang malas menyetir ia juga tak mau dipandang sebagai seorang 'tuan muda' oleh hyung-nya Jungkook nanti. Ia tak ingin membuat kesan 'tuan muda' itu padanya.

Nampaknya hoodie yang ia kenakan tak cukup hangat, beberapa kali ia harus meniup kepalan tangannya untuk menciptakan rasa hangat.

Pagar rumah Jungkook tidak terkunci, Taehyung segera memasukkinya dan menemukan sepasang sepatu yang ia yakini sebagai sepatu dari hyung-nya Jungkook. Ia menenggak salivanya berat, kemudian menyugesti dirinya bahwa ia mampu melewati tantangan ini.

Ia mengecek penampilannya beberapa saat sebelum menarik nafas dan menekan bel pintu.

Detik kemudian, pintu terbuka dan menampilkan sosok Jungkook yang langsung menyeringai lebar saat melihat dirinya.

"Good evening, babe."

"Evening, hyung," balas Jungkook. Ia mendekati Taehyung dan sedikit berjinjit untuk memberinya sebuah kecupan tepat di atas bibirnya.

Selepas kecupan itu, Taehyung terkekeh pelan di antara bibir Jungkook yang masih berada beberapa senti darinya, "Agresif," ucapnya.

Senyuman di bibir Jungkook semakin melebar, mengekspos giginya yang seperti kelinci, dan hal itu membuat Taehyung bertambah gemas.

"Kau tidak mempersilakanku masuk, hm?" Taehyung mengecupnya sekali lagi dan berkata dengan nada suara yang direndahkan.

Jungkook menyeringai jahil, ia meraih jemari Taehyung dan tersentak saat dirasanya jemari itu sangat dingin. "Ah, di luar sana dingin.. Cepat masuk, hyung." Jungkook menggenggam erat jemari Taehyung dan menariknya masuk ke dalam rumah setelah ia menggunakan kakinya untuk menutup pintu rumahnya.

Tepat di depan ruang makan, Jungkook berhenti. Ia berbalik menatap Taehyung dan jemari mereka yang masih bertautan, "Hyungie, apa sudah lebih hangat?" tanyanya lembut selagi ia meniup-niup jemari Taehyung dalam genggamannya.

"Mm," Taehyung mengangguk dan memperhatikan dengan seksama segala tindakan Jungkook. Ada perasaan hangat menyelimuti dirinya. Sangat hangat, Jungkook memang mampu mencairkan gunung es dalam dirinya.

"Jung–ah?" Jungkook terlonjak dan melepaskan genggamannya. Suara Shin-auntie membuatnya merasa gugup, pasalnya auntie melihat dirinya sedang bermesraan dengan Taehyung.

Wanita itu berdehem, sebuah senyuman–lebih mendekati seringai–terhias di wajahnya, "Ah, apa aku mengganggu?"

Taehyung, menjadi seorang gentleman segera membungkuk sopan padanya dan menggaruk belakang lehernya dengan gugup, "T-tidak, ma'am. Maaf atas kelancangan–" "Oh, tidak, tidak, jangan seperti itu." potong wanita itu dengan cepat. Ia berjalan mendekati Taehyung dan Jungkook yang tengah menunduk menahan semburatnya.

Wanita itu tersenyum hangat pada Taehyung yang jauh lebih tinggi dari dirinya, "Jungkook-ah, kau tak mau memperkenalkan kekasih tampanmu ini pada auntie? Apakah karena dia benar-benar tampan jadi kau ingin mendominasinya sendirian?" goda sang auntie yang membuat Taehyung kembali mengusap tengkuknya dengan amat gugup dan merasa malu akan pujian sang auntie.

"A-auntieee.." rengek Jungkook sembari menutupi wajahnya yang memerah.

Sang auntie tertawa melihat reaksi Jungkook yang lucu, ia mengusak surai anak itu, "Aww, my little baby is shy~ soo adorable," ujarnya.

"Auntiee.. I'm no longer a baby.." rengek Jungkook kembali, tanpa sadar ia memberikan sebuah pout miliknya pada sang auntie.

Taehyung harus memalingkan wajahnya sembari menekan hidungnya dan menahan semburat merahnya. Because Jungkook is just extremely adorable to make you snot-ing blood.

Setelah beberapa ocehan dari sang auntie yang kembali membuat pipinya memanas, Jungkook akhirnya berkata, "Baiklah, auntie. Aku perkenalkan Taehyung-hyung," Jungkook menyentuh lengan Taehyung dan Taehyung mendapatkan isyarat itu, "Evening, ma'am. Kim Taehyung, suatu honor berada di sini." ujarnya sembari membungkuk sopan pada sosok auntie yang terlihat sangat terpana pada dirinya.

"Aaand you are Jungkook's–" auntie memberi jeda untuk melihat ekspresi wajah kedua pemuda di hadapannya. Ia terkekeh saat Jungkook dan Taehyung merona bersamaan dan menghindari kontak mata satu sama lain.

"–prince charming."

Jungkook tersentak, "A-auntieee.. Enough already, stop it pleasee.." Jungkook tak dapat menahan kegugupan dan rasa malunya lebih lama lagi saat sang auntie memanggil Taehyung dengan sebutan 'prince charming-nya Jungkook'.

Wanita itu malah tertawa semakin geli, "Kau berpikir begitu juga 'kan, Taehyung? Bahwa Jungkook kecilku cukup pantas menjadi seorang putri yang akan diselamatkan oleh seorang pangeran sepertimu dari kurungan nenek sihir jahat dan–" "Auntieee..!"

Taehyung tertawa nervous, debaran jantungnya tak terkontrol dan ia pikir tuan putri Jungkook tidak buruk, malah akan terlihat sangat indah. Ia menggeram perlahan saat fantasi-fantasi liar mulai menjalar di dalam otaknya.

Sosok Jin yang secara tiba-tiba muncul di hadapan mereka membuat suatu keheningan.

Jin memberikan tatapannya yang tajam pada Taehyung selagi Jungkook berlari ke arahnya dan memberikan sebuah pelukan pada lengannya. Taehyung harus kembali menenggak salivanya dengan berat begitu beradu pandang dengan Jin.

"Hyung–" ucapan Jungkook yang tengah bergelayutan di atas lengannya segera terpotong oleh suara Jin yang terdengar serius, "Ini teman yang kau undang, Kookie? Dia sudah datang tapi kenapa kalian membuatnya dan diri kalian sendiri menunda makan malam? Nanti makan malam itu mendingin." dengan satu ucapan itu, Jin melengos bersama Jungkook dan membuat sang auntie sedikit gugup sebelum akhirnya mengajak Taehyung ke dalam ruang makan.

Di sisi lain berbagai macam hal tercampur aduk di dalam pikiran Taehyung. Ia harus berkali-kali mengambil nafas panjang dan mengingatkan agar dirinya tidak gugup.

"Santai saja, Taehyung." satu tepukan pada pundaknya dari sang auntie memberikan tambahan kepercayaandiri dalam diri Taehyung. Ia membalasnya dengan senyuman, "Ne, ma'am,"

"Please just call me 'auntie'. Or maybe mom-in-law?"

"Soon-to-be." dan kemudian mereka tertawa bersama.

.

.

.

.

"Tae-hyung, kau mau bagianku? Aku sudah kenyang." Jungkook menaruh potongan daging ke atas piring Taehyung yang hampir bersih. Ia tahu bahwa Taehyung-nya adalah seorang big-eater, dan lagi ia amat menyukai daging maka sebagai kekasih yang baik Jungkook memberinya tambahan makanan.

"Ah, thanks Kookie." Taehyung yang tengah menggigit sepotong daging tersenyum menampilkan giginya pada Jungkook yang duduk di sebelahnya. Sedangkan Jin duduk di seberang Jungkook dan Taehyung dengan sang auntie yang duduk tepat di sebelahnya.

Kedua mata Jin memperhatikan gerak-gerik dua pemuda di hadapannya.

Bagaimana Jungkook terkekeh geli saat menatap Taehyung yang tengah menghabiskan makanannya dengan cepat. Bagaimana manik Jungkook menyipit dan bibirnya membentuk sebuah lengkungan yang manis saat Taehyung mengatakan sesuatu padanya–yang mana tak terdengar jelas oleh Jin apa yang mereka bicarakan. Bagaimana Jungkook terlihat amat perhatian dan dengan lembut menyeka noda makanan yang menghiasi bibir Taehyung.

Jin menghela nafasnya. Ia sudah bisa menebak jika Jungkook dan Taehyung adalah 'a thing'. Yang mengganggu pikirannya adalah ia merasa bahwa sosok Taehyung terlihat tidak asing bagi dirinya. Ia berusaha mengingat-ingat segala sesuatu yang terjadi setahun belakangan.

Jin membuka suaranya saat sang auntie membereskan makan malam mereka. "Jadi, katakan padaku Taehyung benar-benar seorang teman yang istimewa bagimu 'kan, Kookie? Karena aku belum pernah melihatmu semanis ini sebelumnya." ujar Jin sembari menumpu dagunya dengan kedua tangannya.

Jungkook dan Taehyung menundukkan wajah mereka bersamaan. Rasa gugup kembali menjalar pada keduanya. Mereka tidak menyadari segala tindakan touchy-touchy barusan, itu terjadi begitu saja, refleks.

Taehyung menggenggam tangan Jungkook yang tersembunyi di balik meja makan, memberinya sentuhan untuk menenangkannya.

"Sebenarnya kami bukan teman.. –" "Huh?"

Sang auntie yang tengah membersihkan peralatan makan ikut mencuri dengar. Diam-diam ia merasakan kegugupan yang sama dengan dua pemuda itu.

"We're lovers. Kami adalah sepasang kekasih."

Taehyung hitted that.

Jungkook bergerak gelisah dalam duduknya. Genggaman Taehyung pada tangannya semakin mengencang, seakan takut kehilangannya. Di sisi lain, Jungkook pun merasakan hal yang sama.

Keheningan melanda. Hanya suara pancuran air yang keluar dari keran wastafel dan suara gesekan spons dengan permukaan piring yang terdengar.

Sebelum akhirnya Jin berdengus, "Good to hear that from your own mouth, exactly what I needed," setelahnya ia tersenyum pada Taehyung yang mana membuat Taehyung ikut mengembangkan senyumannya. Ia mengguncangkan lengan Jungkook untuk membuat Jungkook menatap senyuman Jin.

Jungkook menengadahkan kepalanya saat Taehyung mengguncangkan lengannya, dan pandangannya bertemu dengan sosok Jin-hyungnya yang sedang tersenyum hangat seperti biasanya.

Jungkook tak dapat menahan senyuman bahagianya. "H-hyung," ia meraih jemari Jin dan menggenggamnya erat di atas meja makan. "H-hyung, terima kasih..! I love you so much!"

Jin terkekeh mendengar pernyataan adik kecilnya yang amat manis. "I love you too, baby," ia mengusap kepala adik kecilnya dengan penuh rasa sayang. "Tapi sepertinya sekarang aku akan punya saingan untuk mengucapkan 'I love you' padamu." goda Jin sembari menatap Taehyung yang segera mengusap tengkuknya dengan gugup begitu mendengar godaan Jin.

"H-hyuung.." Jungkook kembali merengek, ia memendam wajahnya ke atas meja dengan kedua tangannya yang digunakan untuk menumpu kepalanya. Jin kembali terkekeh melihat kelakuan adik kecilnya.

"Taehyung, tatap aku." titah Jin sembari mengeluarkan tatapan seriusnya pada Taehyung.

"A-ah, ne, hyung." Taehyung menelan salivanya dengan gugup dan memberikan tatapan balik pada Jin.

Jungkook menatap Taehyung dan Jin bergantian. Mendadak, atmosfer kembali menegang.

"Taehyung, apa kau yakin jika adikku Jungkook adalah benar-benar sosok yang kau cintai?"

Kedua mata Taehyung membesar.

Mengapa Jin menanyakan sesuatu yang sudah pasti? –menurutnya.

"Ya, aku belum pernah mencintai seseorang seperti ini sebelumnya,"

"You're both males,"

"I don't care. Maafkan aku jika ini mengganggumu, hyung, namun aku benar-benar tidak peduli. I really like your brother, I cherish him, I adore him, I love him."

Jungkook merasakan jantungnya berdebar amat kencang saat mendengar penuturan Taehyung. Taehyung nampak amat serius, penuh ketulusan dan keyakinan saat mengucapkannya. Mengakibatkan sesuatu beterbangan di dalam perut Jungkook.

Perlahan tatapan Jin melunak. "Aku mengerti, Taehyung. Aku tidak menentang hubungan kalian, sama sekali tidak. Jika memang Jungkook bahagia bersamamu, mengapa tidak? Pertanyaanku hanya untuk memastikan bahwa kau tidak bermain-main dengan adikku sebab aku tak ingin ia merasakan penderitaan lagi–..just in case," sadar akan ucapannya yang kelewat batas, Jin buru-buru memperbaikinya.

Hampir saja ia akan mengungkap luka masa lalu Jungkook.

Jin menepuk pundak Taehyung, mengisyaratkannya untuk rileks. "Tak perlu setegang itu, brother." Jin kembali menggodanya dengan sebutan 'brother'. Perlahan Taehyung merasakan kehangatan dari sosok Jin, perasaan yang sama dengan Jungkook. Dua bersaudara ini nampaknya memiliki aura kehangatan yang amat kuat.

Ia memberikan sebuah cengiran khasnya pada Jin, sebuah tanda jika ia merasa nyaman dengan seseorang itu. Jin hanya tertawa balik padanya.

Tiba-tiba seseorang menghempaskan dirinya ke atas tubuh Taehyung dan membuat Taehyung terkejut. That's Jungkook.

Jungkook memendamkan wajahnya ke atas dada Taehyung dan mencengkram kausnya. Taehyung merasakan cairan hangat membasahi kausnya, dan ia segera mengusap kepala Jungkook, "H-hei, Kookie?" ujarnya dengan lembut, amat lembut.

Suara isakan perlahan terdengar dari bibir Jungkook, ia tengah menggumamkan sesuatu di atas dada Taehyung, "..cheesy,"

Taehyung terkekeh mendengar gumaman Jungkook selagi dirinya terisak. Jungkook sangat menggemaskan.

"Hey, baby?" Taehyung menyentuh dagu Jungkook dan berusaha mendongakkan wajahnya di sela-sela kekehan gelinya. Dan ia kembali tertawa kecil saat melihat wajah Jungkook penuh dengan jejak air mata dari kedua mata bulatnya dan wajah yang merona. Bibirnya mengerucut saat Taehyung menertawakannya. Plainly adorable!

"Kenapa tertawa? Tidak ada yang lucu, kau idiot..! Cheesy Tae..!" Jungkook meninju perlahan dada Taehyung dan menyebabkan Taehyung memekik 'aw'. Namun karena segala protes dari Jungkook terdengar lucu, Taehyung terus tertawa.

Jungkook yang merasa kesal sekaligus malu, memukuli dada Taehyung berulang-ulang. Berharap Taehyung akan berhenti menertawakannya, sebab ia merasa amat malu.

"Hei," mendadak, Taehyung mencengkram kedua tangan Jungkook yang membuatnya berhenti memukul dadanya. Tatapannya berubah menjadi sebuah tatapan maut yang biasa ia perlihatkan hanya pada Jungkook–tatapan penuh concern, serius, dan ditemani dengan suaranya yang berat dan parau. Membuat siapa saja yang menatapnya dapat terjaring pesonanya–but unfortunately, that's only for his boy (maybe next time, girls!).

Jungkook membulatkan matanya, tatapan Taehyung benar-benar membuat tubuhnya merasa lemas seketika. Walaupun ia sudah sering melihatnya, namun ia tetap tidak pernah mampu untuk menolak 'perasaan itu' dalam dirinya saat beradu pandang dengan Taehyung.

Taehyung perlahan mendekatkan wajahnya. Jungkook melakukan hal yang sama, sebab dirinya sudah terhipnotis dengan Taehyung.

Perlahan jarak di antara mereka semakin menipis. Jungkook bahkan dapat menghitung jumlah bulu mata Taehyung dari jarak ini.

Hanya tinggal sedikit lagi sampai hidung mereka bersentuhan dan–

"Ehem,"

–baik Jungkook maupun Taehyung terbelalak dan terlonjak dari posisi mereka.

"Yah, Seokjin-aaah.. Sedikit lagi!" sosok auntie yang tengah mengguncang-guncang tubuh Jin nampak sangat menanti-nanti 'adegan selanjutnya' dari kedua remaja di depannya. Ia tak dapat menyembunyikan ekspresi kecewanya pada Jin yang menginterupsi 'adegan' itu dengan deheman miliknya.

Jin terkekeh menatap dua remaja di depannya yang tengah tertunduk malu serta sang auntie yang memasang ekspresi kecewa, "Auntie, aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku tidak menginterupsi mereka. Kau tahu 'kan, remaja dan hormon mereka," ujarnya sembari menyeringai pada dua remaja yang semakin merona mendengarnya. "My baby Kookie is all grown up now, I'm kinda feel sad." lanjutnya sembari terkekeh kecil dan menatap adik kecilnya yang kembali mengeluarkan rengekannya seperti; 'h-hentikan, hyuuung..' dan 'hyuung, please stop it..!'.

Sementara Taehyung merasa geli mendengar seluruh rengekan Jungkook. Jungkook is really a whine baby. He felt a possessiveness towards Jungkook.

"Taehyung, ada satu hal lagi yang ingin aku bicarakan," Jin kembali membuka suaranya. Ia menatap dalam pada manik Taehyung.

"Ne, hyung?"

"Do you mind having an army as your lover?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

okey, potong di sini!(?) /shot

ayo silakan yang mau muntah /sodorin baskom/(?)

sesuai notes yang di atas, kuharap kalian mau menunggu chapter selanjutnya(?) c":

haaahhh..lumayan sebuah tantangan tersendiri(?) apa menurut kalian cara aku nulis agak aneh atau berlebihan atau malah bikin eneg(?) atau mirip jk. rowling(?) /dor /narsis level dewa/ hahaha just leave a comment XD

dan uhm aku masih menerima masukan tentang biodata(?) jimin, sejarah dan masa lalunya(?) wkwkwk kemarin aku baca ada yg saranin kalo jimin itu ehem2 sama tae(?) dan aku refleks setuju(?) /vmin shipper detected lol/ actuallyyyy i'm a 95 liners shipper too(?) ;;w;; tapi engga kok, emang dia itu temen sejatinya tae heheheheheh /hehehe sampe seterusnya/

buat yoongi sama namjoon pasti aku munculin, chapter depan yoongi akan muncul yeaaay XD dan buat namjoon sepertinya harus melewati beberapa chapter lagi, maafkan diriku :"

dan yoongi memegang peranan penting(?) wkwk eh tambah hoseok, chapter depan dia akan beraksi wuhuuuu(?) /heboh sendiri/

tenang, walopun ini bakalan banyak death chara(s) aku gaakan membiarkan mereka merana(?) /dor/ yah walopun ending yang agak ekstrim sebenernya bagus juga sih /dor/ okey, tinggalkan komen saja ya kira2 kalian enak yg mana :"D

tapitapitapi epep ini masih jauh dari kata ending(?) setengah jalan aja belom(?) /dor/ huhuhuhu kuharap aku ga ngebosenin kalian yaa :"

terakhir, aku sama adek tercintaku uchanbaek dan temennya buat satu blog, isinya macem2 epep yang dibuat sama kita :3 kalo sempet dan lagi iseng, mungkin kalian bisa mampir yaa ke sini .com makasih banyaaak /hugs kisses/

bagi yang mau nanya2 atau apapun, mau rikues(?) lagu dangdut koplo(?), mau sekedar 'hai' atau gila2 bareng(?) (atau mungkin mau kirim nasi bungkus buat aku) bisa menghubungi(?)ku di twitter: parkjams okeeyyy /winks/ /promosi tiada henti/

kindly do me the 3 big favors, favs/follow/review ;3 any critics/comments are warm welcomed & appreciated ;))

thank you ;3