[REMAKE] Dating With The Dark by Santy Agatha
.
.
Main Cast:Luhan(GS), Oh Sehun.
Other Cast: Kris, Irene, etc.
Genre: Romance, Drama.
Rated:M
.
.
Don't Like, Don't Read
Sorry for Typo.
Happy Reading~
.
.
Chapter 16
.
.
Tao melihat semua adegan itu dalam diamnya ketika dia berjaga di depan pintu kamar rumah sakit Luhan. Kris bahkan melaluinya dan melangkah pergi dengan gusar, tidak menyadari kehadiran Tao di depan pintu.
Hal itu membuat benak Tao terasa sakit, ketika ada Luhan, Kris bahkan sama sekali tidak sempat meliriknya.
Dia menoleh kepada seorang agen yang menjadi temannya berjaga. Hanya ada satu orang untuk dicemaskan. Kris tidak bisa memberikan penjagaan penuh kepada Luhan karena atasannya tidak memberikan persetujuan kepadanya untuk terus menahan Luhan, jadi lelaki itu hanya mendapat izin menempatkan dua orang agen di depan kamar Luhan.
Dan tentu saja hal ini mempermudahnya untuk membebaskan Luhan. Instruksi dari Chanyeol sudah jelas, bahwa begitu Luhan sadar, dia harus mengatur pelarian Luhan.
Ada sebuah kejutan tentunya yang belum sempat dilaporkannya kepada Chanyeol dan tuan Sehun yang sekarang sedang memulihkan diri, bahwa ingatan Luhan sudah kembali. Perempuan itu sudah mengingat semuanya. Ini berarti semakin mempermudah tugasnya untuk melepaskan Luhan.
Tetapi informasi penting itu harus diberitahukannya lebih dulu, dan dia juga harus membuat pengakuan kepada Sehun, kalau dia benar-benar mencintai Kris, maka Tao harus mampu meninggalkan semuanya, dia tidak bisa terus bekerja untuk Sehun sekaligus mencintai Kris, itu sama saja dia melakukan pengkhianatan terus-menerus kepada kedua belah pihak.
Tao meminta izin kepada teman agennya untuk membeli kopi di kantin rumah sakit di lantai bawah, hari sudah beranjak sore dan dia melangkah turun dari lift lalu menyusuri koridor sepi rumah sakit. Setelah yakin situasi aman, Tao menelepon.
"Ya. Tao." Suara Sehun menyahut di sana, tenang dan dalam, sama sekali tidak tersirat bahwa lelaki itu sedang sakit karena tertembak.
"Situasi sudah siap untuk pelarian. Saya akan mengaturnya malam ini."
"Bagus." Sehun menggumam singkat, hendak mengakhiri percakapan, ketika Tao memanggilnya.
"Tuan Sehun, saya rasa saya perlu menyampaikannya kepada anda, ingatan nona Luhan sudah pulih. Mungkin karena benturan yang dialaminya ketika menyelamatkan diri dari Irene."
Jeda … jeda yang lama, entah kenapa Tao bisa membayangkan bahwa Sehun tertegun di seberang sana. Lelaki itu sangat memuja isterinya, dan kenyataan bahwa isterinya telah mendapatkan kembali ingatannya pasti merupakan kabar yang sangat menggembirakan.
Sehun berdehem, "Oke. Lakukan secepatnya, jangan sampaigagal, Tao." Suara Sehun tampak tenang, tapi Tao bisa menangkap ada luapan emosi yang bergejolak di dalamnya.
"Saya ingin menyampaikan satu hal lagi." Kali ini Tao meragu, sedikit takut, "Setelah misi ini, mungkin saya tidak akan mampu lagi melakukan pekerjaan untuk anda."
"Kenapa?" Sehun tampak bingung. Dan itu membuat jantung Tao berdegup ketika mengungkapkan pengakuannya.
"Saya mencintai Kris, Tuan Sehun, maafkan saya telah melibatkan perasaan pribadi dalam misi ini. Saya…. Setelah ini saya ingin menjalani hidup sebagai agen yang sebenar-benarnya dan mencoba mendapatkan hati Kris."
Hening lagi, lalu Sehun bergumam,
"Aku mengerti Tao. Terimakasih atas kesetiaanmu selama ini. Kau bebas setelah misi ini."
Pembicaraan itupun ditutup, dengan Tao yang merasa lega luar biasa.
.
.
.
"Semua baik-baik saja?" Kris menelepon, dia sedang mengantri di ruang tunggu dokter untuk pemeriksaan atas kondisinya. Seharusnya Kris menjalani rawat inap, tetapi dia menolak dan memaksa pulang. Luka ini sebenarnya tidak seberapa, tetapi entah kenapa sehabis pertengkarannya dengan Luhan tadi, Kris merasakan sedikit nyeri di sana, karena itulah dia menunda mengunjungi Luhan dan membuat janji dengan dokter pribadinya dulu di sebuah tempat praktek yang tidak jauh dari lokasi rumah sakit tempat Luhan di rawat, Kris memang sangat mempercayai dokternya ini karena dokter itu telah menangani semua lukanya selama dia bertugas menjadi agen dan menjalankan berbagai misi yang berbahaya. Mungkin tidak apa dia sedikit terlambat mengunjungi Luhan, lagipula Luhan ada dalam pengawasan agen-agen terbaiknya.
Saat ini, sambil menunggu antrian, Kris menelepon Tao untuk memastikan semua baik-baik saja.
"Semua aman, tidak ada siapapun yang mencurigakan di lorong, Kris. Kapan kau kemari?" Tao menyahut dengan suara biasa-biasa saja, tampak tenang, membuat Kris lega.
"Mungkin bisa satu atau dua jam lagi. Antrian cukup panjang, aku membuat janji mendadak tadi sore hingga berada di urutan nomor akhir."
Tao terkekeh, "Yang penting kau memastikan kesehatanmu dulu, Kris. Tenang saja, kami berjaga di sini."
"Oke. Baik-baik di sana, ya. Aku akan segera meluncur setelah pemeriksaan untuk menggantikan kalian berjaga malam di sana."
.
.
.
Setelah menutup pembicaraan, Tao menatap ponselnya dan merasakan sekali lagi getaran cemburu di benaknya. Dia tidak mungkin bias membiarkan Kris berjaga malam, menunggui Luhan semalaman di sini.
Dengan penuh tekad dia menoleh ke arah rekan agennya,
"Malam ini dingin ya… aku ingin sekali minum kopi lagi, apalagi aku sudah mulai mengantuk." Tao pura-pura menguap.
Agen rekannya itu tersenyum, "Mau kubelikan kopi?"
"Boleh, terimakasih." Gumam Tao sambil menganggukkan kepalanya.
Baru beberapa langkah agen itu berjalan, Tao mengejar dibelakangnya dengan langkah pelan dan ahli, seperti keahlian membunuh yang telah diajarkan kepadanya, dan kemudian menancapkan suntikan obat bius itu tepat dileher rekannya.
Tanpa sempat menoleh, tubuh Agen rekannya itu langsung rubuh ke lantai. Tao berdiri menatap rekannya dengan sedikit menyesal, mungkin badan rekannya itu akan sedikit sakit karena terbanting seperti itu, tetapi bagaimanapun juga Tao harus membuatnya tidur, tidak boleh ada saksi.
Dengan susah payah, Tao menyeret tubuh rekannya itu dan menyandarkannya ke tembok. Untunglah temboknya dekat dan tubuh rekannya tidak begitu besar, kalau tidak mungkin Tao akan pingsan karena harus melakukan hal ini. Dia menatap ke arah rekannya, sekarang rekannya tampak seperti penunggu pasien di rumah sakit yang tertidur pulas di lantai. Untunglah dilorong ini tidak terpasang kamera CCTV, jadi Tao bisa bergerak leluasa,
Dengan langkah pelan Tao memasuki kamar Luhan, perempuan itu masih duduk dengan mata nyalang, menahan tangisnya, dia mengangkat kepalanya ketika melihat Tao.
"Stt…" Tao berbisik lembut, "Saya bukan orang jahat, saya adalah anak buah tuan Sehun yang dikirim kemari untuk menyelamatkan anda."
Luhan terperangah, menatap tao dengan bingung. Benarkah? Dia melihat sendiri perempuan ini adalah agen yang dipercaya oleh Kris untuk menjaga pintu kamarnya sepagian tadi, sehebat itukah Sehun hingga bisa menyusupkan orangnya ke agen pemerintah?
"Anda harus mempercayai saya." Tao melihat keraguan dimata Luhan dan berusaha meyakinkan perempuan itu. Dia lalu mengeluarkan beberapa perlengkapan dari tas ransel yang selalu di bawa-bawanya, "Ini pakailah ini."
Luhan melihatnya, itu baju perawat dan sebuah wig dengan rambut pendek. Perempuan itu tidak main-main rupanya.
Dengan cepat, merasa gugup akan kesempatannya lari yang datang tiba-tiba, Luhan bangkit, sedikit terhuyung karena luka di kepalanya yang masih nyeri, tetapi Tao membantunya berdiri, perempuan itu membantuny amelepaskan infusnya, lalu memberikan pakaian itu pada Luhan. Setelah Luhan melepaskan pakaian rumah sakitnya, dan mengenakan pakaian perawat itu, Tao berdiri di belakang Luhan, lalu menggulung rambut Luhan dan memasangkan wig dengan potongan rambut pendek itu.
Dia menatap penampilan Luhan yang berbeda, dan tersenyum, "Sempurna." Desahnya puas. Lalu menghela Luhan sampai ke pintu kamarnya, setelah mengintip lorong khusus yang sepi itu, dan memastikan keadaan aman serta agen rekannya masih terkulai pulas sambil duduk di lantai bersandar ditembok, Tao menatap Luhan.
"Di ujung lorong ini ada lift, yang kiri untuk pasien dan yang kanan khusus untuk dokter dan perawat, gunakan yang kanan. Turun ke basement langsung ke parkiran, di sana sudah menunggu seorang lelaki mengenakan jas hitam, penampilannya sama dengan pengawal Mr. Kyuhyun, ikut dia dan dia akan membawamu menemui Tuan Sehun."
Menemui Sehun. Jantung Luhan langsung berdebar kencang. Menemui suaminya…. Berarti Sehun masih hidup, dia selamat dari penembakan itu!
"Sebelum itu…." Tao mengeluarkan jarum suntik lain dari tasnya, "Gunakan ini kepadaku."
Luhan menatap ngeri ke arah jarum suntik itu, lalu melemparkan pandangan bingung ke arah Tao, dia tidak pernah menggunakan jarum suntik sebelumnya, bagaimana kalau dia melukai Tao?
"Tidak apa-apa, aku akan membimbingmu, aku bisa saja menancapkanya di lenganku dan melakukannya sendiri, tetapi itu akan mencurigakan, akan ketahuan kalau aku melakukannya sendiri, bukannya disuntik dan disergap. Kau bisa menyuntikkannya di leherku, di sisi ini." Tao menujukkan sisi lehernya kepada Luhan, "Ayo lakukanlah, setelah ini aku akan pingsan dan kau harus segera pergi dari sini."
Luhan sejenak ragu, tetapi tatapan Tao yang penuh tekad menguatkannya, dia menerima jarum suntik itu, dan mengikuti instruksi-instruksi Tao.
"Bawa jarum suntiknya setelah ini." Tao menyerahkan jarum suntik lain yang tadi dipakainya utuk menusuk agen rekannya, "Buang di tempat yang jauh." Sambungnya pelan, dan kemudian Luhan berhasil menyuntikkan obat itu ke leher Tao, dalam sekejap, tubuh Tao roboh dan merosot di dinding, tak sadarkan diri di lantai.
Luhan memasukkan jarum suntik itu ke saku pakaian perawatnya yang besar dan melangkah ragu, menundukkan kepalanya ketika menyadari ada cctv di depan pintu lift. Setelah memasuki lift, Luhan menghela napas dalam dan mengikuti instruksi Tao langsung menuju lantai Basement.
Ketika pintu lift terbuka, sudah menunggu seorang lelaki dengan jas hitam dan wajah datar, seperti yang dikatakan oleh Tao. Lelaki itu langsung mengangguk hormat padanya, Luhan berjalan di sisinya dan dalams ekejap, sebuah mobil besar berwarna hitam meluncur ke depan mereka.
Orang di sebelahnya membuka pintu dan mempersilahkan Luhan masuk, dengan gugup Luhan masuk di kursi belakang yang luas itu, sementara orang di sebelahnya menutupkan pintu mobil, lalu masuk ke depan, duduk di sebelah sopir.
Mobilpun meluncur pelan, membawa Luhan menemui Sehun.
.
.
.
Kris keluar dari ruang pemeriksaan itu dengan lega dokter bilang bahwa sudah biasa mengalami nyeri apalagi di sekitar luka jahitan akibat tusukan, dokter hanya menyarankan meminum obat penghilang nyeri kalau memang sakitnya tidak tertahankan.
Dia lalu melangkah menuju ke depan ruang praktek dokter itu dan men-stop taxi, Kris memang belum bisa membawa mobilnya sendiri, punggung dan lengannya masih nyeri dan berbahaya kalau dipakai menyetir.
Setelah menyebutkan nama rumah sakit tempat Luhan berada, Kris menelpon Tao lagi, memberi kabar kalau dia sedang dalam perjalanan, dan Tao bisa bersiap pulang karena dia akan menggantikannya.
Tapi telepon itu tidak diangkat…
Jantung Kris berdebar, dia mencoba beberapa kali dan menemukan kondisi yang sama. Dengan gusar, dia menelepon agen yang lain, yang menemani Tao berjaga di depan kamar Luhan.
Sama saja, tidak diangkat…
Firasat buruk langsung mencengkeram benak Kris, setengah berteriak, dia menginstruksikan kepada supir taxi supaya menambah kecepatannya.
.
.
.
Perjalanannya rupanya panjang, mobil itu membawa Luhan kebandara, dan kemudian diarahkan ke lorong khusus tempat sebuah jet pribadi menunggu.
Tanpa kata, Luhan menaiki pesawat itu, menunggu dalam menit-menit yang menyiksa sampai pesawat itu akhirnya mendarat di sebuah area landasan pribadi. Mobil sudah menunggu di sana, dan kemudian membawa Luhan melalui jalan-jalan yang sepi.
Malam sudah larut, tetapi kehidupan sepertinya tidak memisahkan diri di malam hari, masih banyak orang yang berkeliaran dan lalu lalang di jalanan, tampak begitu bahagia. Ketika melihat kekhasan yang ada di setiap sudutnya, Luhan sadar bahwa dia ada di pulau Jeju.
Mobil semakin lama semakin kencang, memasuki jalanan yang sepi, melalui persawahan dan kemudian jalanan yang penuh dengan pohon besar dikiri dan kanannya, mereka melaju ke daerah pegunungan yang sepi, lalu berhenti ketika memasuki pagar besar yang tinggi, yang membuka dan menutup secara otomatis ketika mobil mereka memasuki pekarangannya.
Ada sebuah rumah di sana, sebuah rumah besar yang tertutup pepohonan rindang sehingga tidak tampak mencolok berdiri megah di sana. Mobil itu berhenti di lobby dan pintu terbuka, lelaki berjas yang menjemputnya di lift tadi mempersilahkannya turun dengan hormat.
Begitu Luhan turun dan menatap pintu rumah itu, pintu itupun terbuka dan Chanyeol berdiri di sana. Kali ini Luhan mengenalinya, sebagai pelayan Sehun sekaligus sahabat Luhan yang ramah dan penuh kasih sayang.
"Chanyeol!" Luhan berseru tak bisa menahan perasaannya, dia menghambur ke pelukan lelaki itu dan Chayeol balas memeluknya dengan pelukan kasih sayang seorang Kakak kepada adik perempuannya.
"Saya mendengar ingatan anda sudah kembali." Mata Chanyeol tampak berkaca-kaca ketika melepaskan pelukannya dari Luhan.
Luhan menganggukkan kepalanya, dia ingin mengucapkan banyak kata-kata, mengucapkan semua yang tertahan di benaknya, dia ingin meminta maaf, ingin mencari Sehun, tetapi semua terasa menyesakkan dada dan malah membuat kalimatnya beku diudara. Chanyeol rupanya memaklumi keadaan Luhan, dia tersenyum dan menghela Luhan,
"Mari. Tuan Sehun sudah menunggu anda." Chanyeol belum mengatakan kedatangan Luhan ini kepada Sehun. Sehun memang sudah tahu kalau Luhan akan diantarkan kepadanya malam ini, dan sekarang lelaki itu sedang menunggu di dalam kamarnya dengan rasa tidak sabar. Sehun tidak tahu Luhan sudah ada di rumah ini, dan Chanyeol sengaja melakukannya untuk memberikan kejutan yang menyenangkan kepada tuan mudanya itu.
.
.
.
Apa yang ditakutkan Kris ternyata terjadi. Dia membeku dilorong yang sepi itu ketika menemukan kedua agennya duduk di lantai dengan kepala bersandar lunglai di tembok.
Setengah berlari tidak mempedulikan nyeri di punggungnya, Kris membuka pintu kamar Luhan dan jantungnya serasa diremas melihat kamar itu kosong. Kabel infus Luhan masih terkulai di sana menjuntai di samping ranjang, seakan mengejeknya.
"Sang Pembunuh" sudah mengambil Luhan kembali.
Bahu Kris lunglai, tahu bahwa dia sudah tidak bias mendapatkan bantuan apapun untuk mendapatkan Luhan kembali. Atasannya sendiri sudah dengan tegas mengatakan bahwa dia akan melepaskan Luhan berikut sang pembunuh.
Kris benar-benar telah kehilangan Luhan ….
Kris menghantamkan tinjunya ke tembok, melemparkan rasa frustrasinya kesana, dia mengerang karena marah bercampur sedih, tidak dipedulikannya rasa nyeri yang langsung menderanya akibat perbuatannya itu
Dan kemudian, setetes air mata mengalir di sudut mata Kris, air mata dari seorang pria yang patah hati.
.
.
.
Sehun membuka matanya dalam sekejap dan langsung waspada, dia rupanya tertidur cukup lama, mungkin karena pengaruh obat yang diminumnya, lalu tiba-tiba saja tanpa peringatan, handle pintunya bergerak dan seseorang masuk. Itu sudah pasti bukan Chanyeol ataupun anak buahnya yang lain, mereka pasti akan mengetuk sebelum masuk. Ruangan itu gelap, dan Sehun masih berbaring miring, berpura-pura tidur meskipun matanya terbuka nyalang. Jemarinya bergerak ke arah pistol yang selalu tersembunyi di bawah bantalnya, menanti dengan penuh antisipasi.
Dan kemudian ketika sosok itu mendekat, Sehun langsung duduk dan menodongkan pistolnya….. Mereka bertatapan dalam ruangan yang gelap dan remang itu, dan Sehun terpana.
"Luhan?" Suaranya serak, bingung dan terkejut atas kedatangan perempuan ini yang masih mengenakan kostum perawat yang aneh. Chanyeol sama sekali tidak menginformasikan kepadanya hingga Sehun berpikir Luhan akan dibebaskan tengah malam ini dan kemudian diantarkan kepadanya besok pagi. Tanpa sadar dia tersenyum menyadari bahwa Chanyeol sengaja memberikan kejutan kepadanya, dasar lelaki itu….
Luhan berdiri di sana, tampak ragu, menatap Sehun yang telanjang dada dan hanya menganakan celana piyama hitamnya, perban yang tebal mengikat di dadanya. Luka karena Luhan menembaknya…..
"Kau sudah ingat semuanya?" Sehun bergumam pelan, suaranya memotong kegelapan dan langsung menyambar tajam ke arah Luhan.
Luhan menelan ludahnya mendengar nada intim dan mendominasi khas suaminya itu.
"Sudah…" suaranya serak tertelan di tenggorokan.
Hening. Hening yang lama. Luhan masih membeku di sana, menunggu reaksi Sehun… lelaki itu pasti marah karena Luhan telah menembaknya, Sehun berhak marah….
"Kalau begitu, kenapa kau tidak kemari dan memelukku, isteriku?"
Kata-kata Sehun itu memecah kebekuan di antara mereka, Luhan langsung berurai air mata, menyerukan nama Sehun dan kemudian menghambur ke pelukannya.
Sehun yang duduk di pinggir ranjang langsung merengkuh tubuh Luhan yang jatuh berlutut di antara kakinya dengan tangan melingkar dipinggangnya dan kepala tenggelam di dadanya, berusaha untuk tidak mengenai perban di dada kirinya. Luhan menangis sejadi-jadinya dan memeluk Sehun erat-erat, sementara Sehun menenggelamkan kepalanya di rambut Luhan, menghirup wangi yang telah lama dirindukannya,
"Akhirnya kau pulang ke pelukanku, Isteriku." Bisiknya serak penuh rasa cinta.
.
.
.
Ketika Tao terbangun, dia mendapati dirinya ada di atas ranjang, dengan Kris duduk di sampingnya, lelaki ini mengamatinya dalam. Sejenak Tao kehilangan orientasi dimana dirinya dan apa yang sedang terjadi kepadanya, tetapi kemudian dia teringat lagi, dia menatap Kris dan menyadari bahwa mata lelaki itu sembab.
"Hai." Kris bergumam, "Aku mencemaskanmu karena kau sangat lama sadar. Agen rekanmu sudah sadar beberapa saat yang lalu."
Tao langsung teringat akan perannya, dia langsung duduk dan berpura-pura terperanjat,
"Apa yang terjadi Kris? Kenapa aku ada di sini… bagaimana dengan… Luhan! Bagaimana dengan Luhan?!"
Kris menatapnya dengan sedih, kemudian menggeleng,
"Kita kehilangan Luhan …."
"Oh Astaga…" Tao menutup mulutnya dengan jemarinya, "Maafkan aku Kris… aku tidak becus menjaganya, ini semua salahku…"
"Sttt…" Kris meletakkan jemarinya di bibir Tao dan tersenyum lembut, "Bukan salahmu, aku memang lalai dan juga aku tidak punya dukungan kekuatan lagi untuk menjaga Luhan, sehingga hanya bisa menempatkan dua agen. Seharusnya aku tahu, aku tidak akan bisa mempertahankan Luhan, "SangPembunuh" pasti akan melakukan segala cara untuk merenggut Luhan kembali…" Mata Kris tampak berkaca-kaca dan suaranya bergetar, lelaki itu kembali menahan tangis yang menyesak didadanya, "Maafkan aku…." Getaran suaranya semakin dalam, "Aku sudah melihat "Sang Pembunuh" dia lelaki yang sangat tampan dan sempurna, dan cintanya kepada Luhan luar biasa sehingga melakukan semua ini hanya untuk mendapatkan Luhan kembali di sisinya… aku sudah tahu aku tidak sepadan, aku akan selalu kalah jika disandingkan dengan "Sang Pembunuh"." Setetes bening mengalir dari sudut mata Kris, membuat Tao mendesah, dan kemudian tanpa berpikir panjang memeluk Kris.
Sejenak tubuh Kris menegang, tampak seperti akan menolak, tetapi lelaki itu kemudian lunglai dan menyerah. Bahunya terguncang ketika dia menangis di dalam pelukan Tao, tanpa malu melepaskan rasa sakit dan patah hatinya.
Sementara itu jemari Tao mengusap rambut tebal Kris dengan penuh rasa sayang. Bibirnya menyimpan senyum penuh makna.
Ketika nanti Kris sudah benar-benar melepaskan Luhan dari hatinya. Tao sudah pasti akan mudah memasuki hati Kris…sekarang yang bias dia lakukan hanyalah menunggu, menunggu supaya Kris menyadari betapa Tao mencintainya lalu membuka hatinya untuk Tao.
.
.
.
Sehun mendongakkan dagu Luhan yang masih menangis didalam pelukannya, lalu mengecupnya lembut dan penuh kerinduan, setelah itu bibirnya mengecup air mata Luhan, menghapusnya dengan bibirnya.
"Jangan menangis." Gumamnya parau, menahankan perasaannya sendiri. "Bagaimana luka di kepalamu?" dengan lembut lelaki itu mengecup lembut dahi Luhan yang masih di perban.
"Ini hanya luka kecil, tidak apa-apa." Luhan menatap Sehun dengan sedih, menatap perban di dada Sehun,
"Aku menembakmu..."
"Kau waktu itu belum mendapatkan ingatanmu." Sekali lagi Sehun mengecup dahi Luhan dengan sayang, "Tidak apa-apa."
Mata Luhan berkaca-kaca, masih menatap perban itu,
"Rasanya pasti sakit sekali…."
"Tidak sesakit ketika aku menyadari bahwa kau kehilangan ingatanmu dan melupakan aku Lu, melupakan semua kenangan dan kisah cinta kita." Sehun menyela, berusaha membuat Luhan menghilangkan rasa bersalahnya, "Tetapi semua ini sepadan, kau sekarang ada dipelukanku, isteriku, milikku."
Bibirnya lalu memagut bibir Luhan, panas dan dalam penuh gairah terpendam dan rasa memiliki yang dalam, pusaran gairah langsung menghantamnya, menyadari bahwa yang ada di pelukannya ini adalah benar-benar isterinya, miliknya. Bukan sosok perempuan asing yang melupakannya, yang harus dipaksa untuk bercinta dengannya.
Luhan merasakannya, kerasnya kejantanan Sehun yang menekannya di sana, di perutnya, dia mendongak dan menatap Sehun dengan malu,
"Kau tidak boleh melakukannya, kau sedang sakit."
"Siapa bilang?" Sehun mengecup bibir Luhan dan menjulurkan lidahnya dengan menggoda, membelit lidah Luhan dan memberinya kenikmatan, "Aku ingin memeluk isteriku."
Sehun mundur dan membaringkan tubuhnya di ranjang, menatap isterinya yang masih menatapnya dengan ragu, jemarinya lalu terulur dan menarik Luhan,
"Sini. Naiklah ke atasku."
Luhan menatap Sehun takut-takut. Lelaki itu sudah sangat terangsang, mengingat begitu kerasanya tonjolan di antara pangkal pahanya, begitupun Luhan, gelenyar panas yang mengalir di kewanitaannya, berdenyut meminta diisi oleh suaminya itu tidak dapat ditahankannya, mereka sudah lama tidak berpelukan, melampiaskan kasih sayang mereka sebagai suami isteri. Tetapi kondisi Sehun... Luhan takut menyakiti Sehun.
Lelaki itu tersenyum menyadari keraguan Luhan, suaranya serak tetapi penuh makna,
"Aku tidak akan apa-apa sayang, luka ini tidak seberapa, bahkan tidak menyentuh organ vitalku. Aku pernah mengalami hal yang lebih buruk dari ini, sini, naiklah ke atasku." Gumamnya mengundang, menghapuskan seluruh keraguan Luhan.
Lelaki ini suaminya, kekasihnya. Pujaan hatinya. Mereka akan bisa bertukar kata-kata nanti, menceritakan semua hal yang terenggut dari diri mereka ketika Luhan kehilangan ingatannya, tetapi sekarang…. Luhan ingin memuaskan gairah Sehun, menebus kesakitan yang telah dilimpahkannya kepada suaminya, selama dia kehilangan ingatannya.
Dengan berani, Luhan menyentuh karet pinggang celana Sehun dan menurunkannya, membuat kejantanan Sehun yang begitu keras menahankan gairahnya, terbebas.
"Luhan?" Sehun tampak ragu, mengangkat kepalanya,
Tetapi Luhan menatap Sehun dengan penuh tekad, mengecup keindahan milik suaminya itu, membuat Sehun memejamkan matanya dan mengerang.
Belaian lidah Luhan dan panasnya mulutnya kemudian membuat Sehun meremas kain sprei keras-keras, menahan diri untuk tidak menekankan kepala Luhan semakin dalam melingkupi kejantanannya dan mengangkat pinggulnya melengkung ke atas.
Oh astaga, isterinya… gairah di kepala Sehun memuncak, luar biasa, matanya semakin gelap menahankan gairahnya, ketika kenikmatan itu hampir tidak tertahankan lagi, Sehun mengangkat kepala Luhan dengan lembut,
"Naik ke atasku sayang. Biarkan aku masuk."
Dengan lembut, Luhan yang sudah menelanjangi diri naik keatas Sehun, pelan-pelan, takut menyakiti suaminya yang masih terluka.
Kejantanan Sehun terasa begitu panas, berdenyut kuat, menyentuh pangkal pahanya, menimbulkan rasa menggelenyar yang basah di sana. Jemari Sehun membantunya, sehingga ketika Luhan menurunkan tubuhnya, Sehun meluncur masuk dengan mudah, menyatu dengan Luhan, membuat tubuh mereka berpadu saling mengerang.
Dan kemudian, dua anak manusia itu bergerak, berjalinan dengan indahnya, menuju puncak kepuasan mereka masing-masing. Kepuasan yang manis, nafsu yang didasari oleh cinta sejati.
.
.
.
"Ketika aku menatapmu dan kau tidak mengenaliku… seketika itu juga aku ingin merenggutmu paksa." Sehun mengelus Luhan yang bergelung telanjang dengannya di dada kanannya, mengecup puncak kepalanya lembut. "Tetapi kemudian aku menahan diri, kau tidak bersalah…."
"Kenapa ketika kau menemuiku, tidak langsung kau katakan saja bahwa kau adalah suamiku, Sehun? Kenapa kau menunggu begitu lama?"
Sehun menghela napas panjang,
"Kau bahkan tidak mengenaliku, aku meminta Kyuhyun untuk mengatur agar perjanjian kontrak perusahaan itu dilakukan di sebuah café dan aku berdiri di sana menyamar sebagai salah satu pengawalnya, kau bahkan tidak menyadari kehadiranku, matamu menatapku tetapi tidak ada pengenalan darimu." Jemarinya menelusuri pipi Luhan lembut, "Bagaimana mungkin aku tiba-tiba datang dan mengatakan semuanya? Sebanyak apapun bukti yang kepaparkan, aku yakin kau pasti akan lari ketakutan, tidak percaya kepadaku, sosok lelaki asing yang tidak ada dalam ingatanmu. Dan agen pemerintah waktu itu mengawasimu dengan ketat, mereka memberikan kisah untukmu, kisah yang kau percayai mau tidak mau karena kau kehilangan ingatanmu, kisah yang tidak ada aku didalamnya."
Luhan menatap Sehun pedih, "Maafkan aku Sehun, pasti masa-masa itu sangat menyakitkan untukmu."
"Tetapi semua sepadan." Sehun tersenyum puas, "Pada akhirnya aku mendapatkan kembali isteriku di dalam lenganku." Suaranya tiba-tiba berubah dalam dan sensual, penuh isyarat hingga Luhan melihat kebawah dan menyadari bahwa suaminya sudah begitu bergairah, mengeras lagi.
"Lagi?" Luhan menatap setengah tak percaya, percintaan mereka sebelumnya begitu intens dan kuat, membuat seluruh tulangnya serasa dilolosi. Tapi bagaimanapun juga, gairah Sehun yang begitu kuat, telah menyulut gairah Luhan, rasa yang khas itu muncul lagi, keinginan untuk saling memuaskan dan dipuaskan,
"Maukah kau menaikiku lagi, Mrs. Oh?" Mata Sehun begitu dalam dan penuh hasrat, meminta sekaligus menguasai.
Dan Luhan punmemberikan apa yang diminta oleh suaminya itu.
.
.
.
Keesokan harinya, Sehun memaksakan diri untuk makan malam di bawah meskipun Luhan melarangnya. Lelaki itu mengatakan dirinya sudah kuat, dan pada akhirnya Luhan menyerah atas kekeraskepalaan suaminya. Setelah makan malam, mereka duduk merapat di sofa dengan pencahayaan yang temaram, dari sembilan lilin berwarna biru yang diatur setengah melingkar di sudut kecil yang indah. Luhan menatap lilin itu, dan perasaan hangat membanjiri dirinya, membuatnya menyadari betapa besarnya cinta suaminya kepadanya.
"Entah kenapa dulu ketika melihat lilin itu, ketika aku masih kehilangan ingatanku, aku merasakan hentakan yang luar biasa, membuatku pusing, mual dan ingin pingsan." Luhan menatap Sehun penuh cinta, "Dulu aku mengira itu berhubungan dengan kenangan buruk, tetapi ternyata bukan… reaksiku itu mungkin karena hatiku mengingatnya tetapi otakku tidak mampu mengingat." Luhan bergelung semakin erat, dalam pelukan Sehun mata mereka sama-sama menikmati pemandangan indah itu.
Sehun mengecup pucuk hidung Luhan dengan lembut, "Dan aku memang tidak punya belas kasihan, memasang tanda itu dimana-mana, memaksa kau untuk mengingatnya."
Luhan terkekeh, "Kau memang lelaki pemaksa. Aku ingat setelah makan malam itu kau menciumku dan mengatakan bahwa kau akan memilikiku, seketika itu juga aku tersinggung, mengira kau menganggapku hanyalah sebagai sebuah piala."
Sehun tersenyum,
"Kau memang piala, tetapi bukan jenis piala yang kukejar hanya untuk mendapatkan kepuasanku sebagai lelaki. Kau adalah piala terindah, milikku yang berharga, tempat aku menyerahkan seluruh hati dan tubuhku. Kau adalah isteriku, yang amat sangat kucintai." Bibir Sehun menyentuh bibir Luhan dengan lembut, melumatnya penuh gairah, "Dan akan selamanya kucintai, seperti apa yang dilambangkan oleh sembilan lilin berwarna biru itu, Isteriku, yang akan kucintai selamanya."
Luhan mengusap air matanya yang tiba-tiba saja mengalir, airmata bahagia. Semua kenangan di masa itu memang membawa kepahitan sendiri, mereka akan membahasnya nanti, menelaahnya dan mencoba menyembuhkan setiap luka yang tercipta, mengobatinya, bersama-sama dengan kekuatan cinta mereka.
Saat ini, Luhan merasa begitu bahagia, begitu lengkap, dia sudah menyatu dengan suaminya, Oh Sehunnya, lelakinya, miliknya yang sangat dia cintai.
Mereka memang pernah terpisah, perpisahan yang menyakitkan. Tetapi sekarang mereka sudah dipersatukan kembali, dan Luhan akan berusaha menjaga genggaman tangannya bersama Sehun menyatu, bersama-sama dan tidak akan terpisahkan lagi
.
.
.
"Kami akan segera pulang ke Italia." Sehun bergumam ditelepon kepada Jongin. Pada waktu Sehun tertembak dulu, Jongin langsung datang ke pulau itu, dan kemudian membawa Sehun ke rumah sakit, dia juga yang membantu pemindahan Sehun dari rumah sakit ke salah satu villa keluarga Kim di pulau Jeu. Setelah itu Jongin terpaksa pulang kembali karena urusan pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkannya. Dan juga ada satu hal yang harus dikerjakannya, penyelidikannya yang belum selesai menyangkut Luhan.
"Kapan?" Jongin sedikit terkejut, dia mengira bahwa waktunya masih banyak, tidak menyangka bahwa Sehun akan membawa Luhan pulang secepat itu.
"Segera. Surat-surat kami sudah beres besok pagi, kami akan mengatur perjalanan pulang." Sehun sangat menikmati menyebut dirinya dan Luhan dengan istilah 'kami', seolah-olah mereka satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Jongin tercenung, "Kau tahu kan penyelidikan yang pernah kitabahas itu?"
Sehun menganggukkan kepalanya, "Apakah hasil akhirnya sama seperti yang sudah kita duga?"
"Semuanya mengarah pada dugaanku. Aku akan menghubungi merekadulu untuk menjelaskannya dan kemudian menunggu hasil tes dan kemudian aku biasmengatur pertemuan itu. Kau mau menunggu bukan sebelum berangkat ke Italia?"
"Tentu saja. Apapun itu untuk menambah kebahagiaan isteriku." Gumamnya tenang sebelum menutup pembicaraan.
Dia lalu melemparkan tatapannya ke luar, benaknya berkelana. Kenyataan ini mungkin akan mengejutkan Luhan, mungkin akan menimbulkan rasa shock yang tidak tertahankan. Tetapi pada akhirnya nanti, Sehun yakin, Luhan akan sangat bahagia.
Saat itu, Luhan memasuki ruangan dan melihat Sehun sedang melamun sambil menatap ke luar jendela. Dengan lembut, Luhan memeluk Sehun masih berhati-hati agar tidak menyentuh luka tembak suaminya. Sehun sudah pulih seiring berjalannya waktu, tetapi Luhan benar-benar tidak ingin menyakitinya sekecil apapun, tidak setelah dia menembak suaminya dengan tangannya sendiri, meskipun itu tidak sengaja,
"Kenapa melamun?" bisik Luhan sayang, menenggelamkanwajahnya di punggung Sehun, menghirup aroma musk dan kayu-kayuan khas suaminya, aroma yang amat sangat disukainya.
Sehun mengambil jemari Luhan yang melingkari dadanya dan mengecupnya,
"Kita harus mengatur pertemuan Luhan, menyangkut masa lalumu. Aku tidak akan mengatakan apa-apa padamu sekarang, tetapi percayalah kau akan bahagia."
"Pertemuan apa?"
"Aku tidak bisa mengatakan sekarang. Nanti." Bisik Sehun serak, lalu membalikkan tubuhnya dan mengecup dahi isterinya. Meskipun Sehun ingin mengungkapkan semuanya kepada Luhan sekarang, tetapi dia merasa bukan haknya untuk mengatakannya. Biarlah mereka yang berhak yang mengungkapkan semuanya kepada Luhan, dalam pertemuan mereka nanti.
Luhan menatap Sehun setengah merajuk, membuat Sehun tertawa, lelaki itu lalu mengecup bibir isterinya dengan gemas,
"Siap untuk ke kamar sekarang?"
Pipi Luhan memerah,
"Sehun, ini masih pagi. Dan semalam kau melakukannyahampir tiga kali, belum tadi pagi ketika kita bangun dan juga di kamar mandi…."
Sehun terkekeh,
"Aku sudah memendam gairahku kepadamu sekian lama Luhan, dan aku ingin menebus semuanya." Dikecupnya leher Luhan menggoda, membuat isterinya itu menggelinjang, dan kemudian dengan penuh gairah dihelanya Luhan masuk ke kamar mereka.
Dua anak manusia yang penuh cinta, dipersatukan oleh cinta, pernah dipisahkan oleh keadaan, dan sekarang menyatu lagi dengan bahagia.
.
.
.
TBC
