"Taehyung, ada satu hal lagi yang ingin aku bicarakan," Jin kembali membuka suaranya. Ia menatap dalam pada manik Taehyung.

"Ne, hyung?"

"Do you mind having an army as your lover?"

.

.

.

.

.

.

.

scavenged

notes: sorry for not updating in such a long timeㅠㅠ

yap, dan di sini aku membawa apdet taraah(?)

btw, cuma mau bilang kalau sepertinya cerita ini(?) mainly focused on our cutie patootie Jungkook x3 but dont worry, the others would appear as well i'd give them more screen(?) time next lol

gamau banyak bacot, kupersembahkan aja ya(?) chapter 7ㅋㅋㅋ

enjoy~!

.

.

.

.

.

.

.

"N-ne, hyung?" Taehyung, dengan kening yang terkerut berusaha mengulang pertanyaan yang diutarakan oleh Jin. Sekelebat ia merasa blank dan kosong, padahal seharusnya ia dapat mengerti maksud Jin dengan baik.

Jin nampak menghela nafas, ia memutar otaknya mencari kata-kata yang lebih mudah untuk diungkapkan pada Taehyung. Sebelum Jungkook menyela, "Hyung, don't worry about that. Coba tebak, Tae-hyung juga akan ikut pelatihan itu!" dengan cengiran di wajahnya, Jungkook berucap sembari mengepalkan kedua tangannya tanda senang.

Kerutan di kening Jin semakin menjadi saat mendengar ucapan Jungkook, "W-what?"

Seulas senyum di bibir Taehyung turut serta menjawab kebingungan Jin. "Ya, hyung. Aku akan menjawab pertanyaanmu; bagiku tak masalah sebab aku pun akan menjadi seorang army,"

Cengiran di wajah Jungkook nampak enggan untuk sirna, remaja 17 tahun itu terlihat makin bersemangat untuk meyakinkan hyungnya akan ucapan Taehyung barusan. "Ne, ne, ne, hyung! Bukankah itu menyenangkan? Aku akan bersama dengan Tae-hyung!" rima suaranya semakin terdengar ceria.

Taehyung yang berada di sebelahnya tak mampu untuk menahan rasa gemas, ia menusuk pipi gembil Jungkook dengan jemarinya berulang-ulang sampai sang empunya pipi mengerutkan bibir padanya.

"Even worse.." dengan sekali lenguhan, Jin menyandarkan tubuhnya ke atas sandaran kursi dan menggigit bibir bawahnya sembari menggumamkan sesuatu.

"Uh? Kau mengatakan sesuatu hyung?" Jungkook mengabaikan celoteh Taehyung tentang betapa lucunya ekspresi wajahnya saat ini dan beralih menatap sang hyung. Ia tersenyum simpul begitu tatapannya bertemu dengan tatapan Jin. Namun tak lama kemudian, senyum itu hilang saat Jin tidak membalas senyumannya dan malah membalasnya dengan tatapan yang sedikit mengerikan.

"Salah satu kekhawatiranku," dengan tetap mempertahankan tatapannya pada kedua remaja di hadapannya, Jin kembali menggigit bibir bawahnya–sedikit ragu untuk mengungkapkan isi hatinya, "Kalian berdua tentu memiliki dan mengetahui tujuan memasukki pelatihan itu, bukan?"

Sedikit demi sedikit, kedua remaja itu mengerti maksud ucapan Jin. Tanpa perlu diucapkan secara langsung, Jin mengatakan bahwa ia merasa khawatir dengan proses pelatihan kedua remaja ini. Taehyung menjadi yang pertama membuka suaranya untuk menjawab Jin.

"Sejak awal aku sudah memiliki tujuan yang pasti dalam hidupku. Dan pelatihan sniper itu merupakan salah satu tujuan terbesar bagiku. Aku tak akan goyah dan tak ada satupun yang bisa meruntuhkan keyakinan hatiku akan hal tersebut. I promise, my own personal life and this sniper stuff would be parted." Untuk pertama kalinya, Jin mendapatkan pandangan serius nan tulus yang terpancar dari wajah seorang Kim Taehyung.

Sebelum Jin hendak merespon, Taehyung menambahkan, "Aku mengerti maksudmu, hyung. Kau mau bilang bahwa sniper, aku dan Jungkook, benar?" ia meninggalkan kata-kata yang terkesan misterius dan membingungkan layaknya komik detektif yang seringkali menjadi favoritnya saat waktu senggang.

Jungkook hanya bisa mengerjapkan matanya, ia masih terlampau kecil untuk mengerti sepenuhnya. Raut wajahnya jelas sekali memperlihatkan ekspresi bingung, tercengang, dan lost.

Pemuda tertua di antara mereka mengalihkan maniknya dari raut tulus Taehyung dan menundukkan kepala untuk mengambil nafas dalam. Setelah membuangnya, Jin mengambil masing-masing satu tangan Taehyung dan adiknya lalu membawanya ke dalam genggamannya.

"Pelatihan itu adalah pelatihan berat, bukan main-main. Kalian harus dengan besar hati meninggalkan apa saja yang menjadi beban pikiran, termasuk ini–asmara. Jangan jadi manja dan cengeng, apalagi kalian masuk ke dalam pelatihan yang sama. Jangan pernah jadikan alasan asmara di antara kalian sebagai tameng bagi kalian nanti,"

Raut wajah Jin memperlihatkan kecemasan yang amat dalam, terlebih saat dirinya beradu pandang dengan Jungkook. Ia mengencangkan genggaman tangannya.

Taehyung menyadari raut wajah kakak beradik ini segera berusaha mencairkan suasana, "Aku mengerti, hyung. Kau tak akan menerima laporan tentangku yang bertingkah tidak sesuai aturan. Adanya Jungkook tak akan membuatku manja dan cengeng, tentu aku tak bisa berbohong bahwa aku pasti akan lebih memperhatikannya dibanding yang lain. Namun percayalah, aku tak akan mempersulit Jungkook. We stand on different path, purpose and fate, nevertheless we pass it through together," di akhir ucapannya, Taehyung menekankan setiap kata untuk meyakinkan kedua saudara ini akan keyakinan dan keteguhan hatinya.

"..right, Jungkook?" ia menolehkan kepalanya untuk menatap Jungkook yang sedari tadi terdiam takjub mendengar penuturan kekasihnya.

"A-aahm, be-benar!" Jungkook mengerjap-ngerjapkan matanya dan mengangguk-anggukkan kepalanya–persis layaknya anak tk dan membuat Taehyung terkekeh pelan, "Hyung, kau percaya 'kan pada kami? Padaku? Aku tak akan bermanja-manja, aku pun mengerti dengan jelas tujuanku. Please, hyung, I do love him but we wont act such like a lovesick childish teenagers." lanjutnya.

Jin kembali dihadapkan dengan satu–bukan, dua remaja yang menatapnya dengan tulus dan keteguhan hati. Dan hal itu tak sanggup ditolak olehnya. Ia tak mampu menahan senyum puas dan bahagianya selagi dirinya mengacak-acak rambut kedua remaja di depannya. "You cuties. My little pies, have my bless and fully trust!" ucapnya yang membuat Jungkook memeluk tubuhnya erat.

"Yay, hyung! I love you soooooo much!" ujarnya sembari mengecup pipi hyungnya sekilas. Jin membalas pelukannya dan tertawa geli mendapatkan perlakuan manis dari adik kecilnya. "Lho, kupikir kau mencintai Taehyung," celoteh Jin yang membuat telinga Jungkook memerah.

"H-hyung!" rengek Jungkook sembari memendam kepalanya di atas ceruk leher Jin, merasa malu ketika mendengar suara tawa di belakangnya yang ia yakini sebagai tawa dari Taehyung.

"Ya, Jungkook, kupikir pun kau mencintaiku?"

"Hyung, stop!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"..sudah siap?"

Seseorang menyenggol siku Hoseok dan membuatnya harus kehilangan keseimbangan dan hampir menjatuhkan pad yang sedang digenggamnya.

Tiffany.

"Oh, noona." Hoseok membulatkan kedua matanya dan segera mengatur pad-nya dalam mode kunci.

Tiffany mengerutkan bibirnya, ia mengambil tempat duduk di sebelah Hoseok dan nampak penasaran dengan apa yang dilakukan Hoseok sebelumnya. "Apa yang sedang kau lakukan sebelumnya?"

Hoseok berusaha tidak melakukan kontak mata dengan Tiffany, ia mengusak surainya sedikit lalu menjawab setenang mungkin, "Tak ada yang khusus, hanya sedikit research tentang target," "Oh, putra Kim Yeongju?"

Nampak raut excited tergambar di wajah Tiffany. Ia semakin mendekatkan diri pada Hoseok.

"Ne. Dan juga sedikit tentang anak-anak dari inspektur Kim Kyujong," "Ooh? Kim Seokjin? Omo, pemuda itu sangat charming dan legit." Kembali, Tiffany memotong ucapan Hoseok dan menangkup wajahnya dengan kedua tangannya sembari membayangkan wajah seorang Kim Seokjin.

Hoseok mengerenyitkan keningnya, "Kau tahu tentangnya, noona? Pernah bertemu?"

"Of course, come on! Siapa yang tidak terpesona dengan wajah anak inspektur itu? Yaah, untuk pertama dan terakhir kalinya aku melihat anak itu hanya saat pemakaman inspektur bodoh itu. Dia berdiri dengan ditemani seorang bocah laki-laki yang kupikir adalah adik lelakinya?" Tiffany meletakkan telunjuk di atas dagunya, berusaha mengingat-ingat kejadian di mana dirinya serta Nichkhun menyamar menjadi salah satu bawahan inspektur Kim dan berbaur di dalamnya.

"Adik laki-laki? Oh, sepertinya benar, noona. Di website ini juga tertulis seperti itu," Hoseok membuka layar pad-nya dan kembali menjelajah sebuah situs yang menampilkan profil keluarga inspektur Kim. "Nah, told you so," ia menyodorkan pad-nya ke arah Tiffany dan mereka mendapatkan tulisan;

Jungkook (Kim) Jeon

September 1st, 1997

Currently a freshman in High School

Tepat di bawah profil milik Jin.

"Why does it have no photo?" kening Tiffany mengerut saat tak mendapati foto di dalam profil milik Jungkook. Jemarinya berkali-kali menyentuh layar dan mengetuk tombol refresh–berharap hal itu akan memunculkan foto Jungkook.

"Sepertinya memang sengaja tidak disertakan, noona. Karena rasa penasaran yang amat sangat, aku mencoba membobol situs itu ataupun menjelajah di situs lain. Aku sudah mencobanya berkali-kali, namun sampai saat ini belum kutemukan foto dari anak kedua inspektur itu." ujar Hoseok, berusaha mengambil kembali pad miliknya sebelum Tiffany mengetuknya dengan keras dan merusakkannya karena rasa gemasnya.

"Blah, sok misterius," Tiffany menyibakkan rambut hitamnya dan menyisirnya ke belakang, "Ngomong-ngomong mengapa anak itu memiliki dua marga?"

Hoseok mendengus dan menatap lurus ke arah layar pad-nya, "Dalam catatan keluarga Kim disebutkan bahwa Kim Kyujong dan istrinya berpisah lalu Jungkook berada dalam naungan sang istri–karena itu marganya secara otomatis harus berubah menjadi Jeon. Jadi, ia tidak memliki dua marga, secara teknis ia memang bagian dari keluarga Kim namun marga yang dipakai dalam nama panjangnya adalah Jeon. Ini pengetahuan umum, noona," "Pfft, fuck that," Hoseok memutar bola matanya selagi Tiffany menggerutu.

"Hm, tapi yang kutahu istrinya sudah lama mati," "Yup, nampaknya Jungkook diambil dan kembali tinggal bersama." ucap Hoseok masih dengan kesibukannya menjelajah beberapa situs demi misi yang akan dijalankannya esok hari.

Tiffany mengangguk-angguk malas, "Tidak seruuu.. Padahal aku ingin lihat wajah Jungkook itu. Aih, apakah akan sama legit-nya dengan Seokjin," pekiknya riang sembari menghentakkan kakinya tanda excited.

Hoseok hanya mengulaskan senyum kecilnya. "Kau sendiri apa yang sedang kau lakukan di sini, noona? Bukankah seharusnya kau dan Khun-hyung menemani big boss pergi ke tempat klien?"

Wanita berambut panjang itu menoleh dan menatap wajah pemuda yang 10 tahun lebih muda darinya, "Ah, apa aku tak boleh mengunjungi junior favoritku yang akan menjalankan sebuah misi terpenting ini?" ujarnya sembari bernada imut.

Hoseok mendengus, ia tertawa perlahan yang terdengar sarkastik, "You can always see me, but please stop doing that thing," ujarnya tanpa melihat ke arah Tiffany.

Wanita yang memiliki eye smile itu mengerucutkan bibirnya, "Nichkhun said he loves it, why don't you either?"

"Because he's Nichkhun and I'm Hoseok,"

"Fine."

Pemuda berambut hazel itu kembali tertawa saat melirik Tiffany yang tengah melipat kedua tangannya dan sibuk menggerutu. Ia merasa heran dengan perubahan sikap yang dimiliki wanita itu saat dirinya tengah beraksi dan bersantai seperti sekarang–sangat jauh berbeda.

Kedua maniknya menatap sebuah artikel terbitan tahun 2004 pada tanggal 2 September yang memiliki judul dengan font hitam besar yang dicetak tebal beserta sebuah foto kejadiannya.

"Kecelakaan maut, menewaskan satu keluarga?"

Telinga sang wanita menangkap dengan jelas gumaman Hoseok, ia segera berseru, "Oh, artikel tentang keluarga Jeon!" ia menjetikkan jarinya dan tersenyum saat berhasil menebak.

Hoseok hanya bergumam 'hm' sebagai respon dan menyibukkan dirinya membaca isi artikel. "Walaupun sudah pernah membacanya namun artikel ini tetap menarik," ujar Hoseok sembari menaikkan ujung bibirnya. Tiffany mengangguk cepat. "Tentu!"

"Bukankah ini hasil kerja dari agen yang bernama Chansung?" ucap Hoseok sembari menjelajahi artikel itu lebih dalam.

"Yes. The way he aimed his gun and shot them right on their head is beyond compare.. Ugh! Kau membuatku merindukan Channie!" pekik Tiffany menyalahkan Hoseok.

Pemuda itu memilih untuk mengabaikan segala ocehan dari Tiffany. Ia merasakan dorongan yang amat kuat untuk menyelidiki tentang keluarga Jeon.

Beruntung, ia terlahir dengan IQ yang berimbang dan di atas rata-rata, memudahkannya untuk menyerap dan menggali segala informasi yang ia terima dengan baik.

Dan tujuan ia selanjutnya adalah mengulik informasi tentang keluarga Jeon.

...

...

...

...

...

...

...

It was sunny all day long. Warm breeze blasted everywhere, tickles each part of your skin.

Dan di sini kedua remaja itu berada. Perkemahan militer; pelatihan khusus sniper yang terletak beberapa mil dari ibukota dikelilingi dengan pepohonan dan hutan serta jauh dari keramaian. Yang mana membuat aura militer semakin terasa.

Begitu kaki mereka menginjakkan tanah, semuanya segera terasa seperti bau ke-militer-an yang sarat akan sikap disiplin, tegas, berwibawa, dan kuat. Hal tersebut tidak membuat kedua remaja ini merasa takut, mereka dengan jelas menampilkan reaksi yang benar-benar exciting dan anticipating.

Taehyung dan Jungkook berjalan turun dari mobil yang mengangkut mereka beserta para siswa lain yang juga mengikuti pelatihan. Mulai dari detik ini pun mereka sudah dikomandoi oleh seorang jendral.

"Move, move!" seorang lelaki, nampak pada usia 30annya tengah memberi aba-aba untuk pertama kalinya bagi para siswa yang turun dari mobil dan mengarahkan mereka untuk masuk ke dalam bangunan.

Mereka berjalan memasukki gerbang besar dengan sebuah tulisan tercantum di atas plang besar di dekatnya;

AR CORPS SCOUT SNIPER SCHOOL

Welcome to the AR's sniper school, dudes.

.

.

.

Sekolah sniper tentu memiliki lapangan yang besar–sangat besar untuk menampung semua siswa dan segala kegiatan yang ada demi menunjang pendidikan para siswa. Tak hanya satu, namun beberapa lapangan memiliki macam-macam peralatan yang diyakini akan segera dipergunakan untuk latihan para siswa. Bangunan sekolah bercat putih terbentang memanjang mengelilingi wilayah sekolah seluruhnya, dan masing-masing bangunan terhubung dengan lorong besar untuk menjembataninya. Bangunan yang paling besar dan panjang digunakan untuk asrama para siswa, dalam satu kamar mampu menampung 5-7 orang siswa dengan tempat tidur tingkat ala barak-barak tentara. What else can be expected from this?

Waktu menunjukkan tepat tengah hari. Dan saat itu baik Taehyung maupun Jungkook tengah menunggu pembagian kamar mereka.

Mereka berdiri dalam antrian panjang sejak 30 menit yang lalu dan sampai sekarang masih tersisa 4-5 siswa sebelum giliran mereka. Taehyung yang berdiri di depan Jungkook memperhatikan raut wajah masam dari Jungkook.

Dengan suara yang amat kecil–tentu tak ingin ada yang mendengarnya–ia bertanya, "What's wrong, babe?"

Jungkook yang tengah menunduk segera mendongakkan kepalanya begitu mendengar suara Taehyung. Ia mengembuskan nafasnya, "Ani, hyung. Tak apa," ujarnya sembari tersenyum.

"Heart's thumping much?" goda Taehyung sembari menyolek ujung hidung Jungkook. "Ssh, hyung, kau tak ingin orang-orang melihat kita dengan aneh, bukan," ucap Jungkook sembari memutar tubuh Taehyung membelakanginya dan kembali fokus pada antrian di depan yang tersisa satu orang siswa.

"Nama?"

"Kim Taehyung,"

"Oh, right. Kamar nomor 387. Telusuri lorong ini, lalu belok kiri dan kamarmu ada di sebelah kanan."

"Ok, thanks miss."

Setelah diberikan kunci, Taehyung beranjak menuju kamarnya. Namun tidak sebelum memberi sebuah wink dan bye pada Jungkook.

Taehyung melihat semburat di wajah Jungkook dan ia segera berlari kecil meninggalkan kekasih kecilnya yang masih menggerutu tentang tindakannya.

"Nama?"

"Jeon Jungkook,"

"God, you must be 'him'!"

Jungkook mengerjapkan matanya melihat raut wajah wanita di hadapannya yang langsung berubah dan ceria padanya.

"Adik kecil Seokjin, eh?"

Jungkook kembali mengerjapkan mata sembari ternganga, "Ba-bagaimana kau–"

"Ssh, Seokjin bilang jangan beritahu siapa-siapa dan tak boleh membocorkan identitasmu sebagai adiknya di sini. Nah sekarang kau bantu aku agar Seokjin tidak mengetahui bahwa aku mengetahui tentang dirimu, keep it as our secret, Jungkook-ssi,"

Pemuda raven itu hanya terdiam dan mengangguk patuh pada wanita di depannya. Sedangkan wanita itu nampak memindai sosok Jungkook dan tersenyum, "Kamar nomor 355. Telusuri lorong, belok kanan dan kamarmu ada di sebelah kiri," ujarnya sembari memberikan sebuah kunci.

"Uhm, thanks miss–" "Jinah. Im Jinah. Have a nice day!"

Jungkook hanya memberikan senyum groginya pada wanita bernama Jinah tadi.

.

.

.

Taehyung menjadi penghuni kamar yang ketiga datang setelah roommates-nya yang masing-masing bernama Yook Sungjae dan Moon Jongup telah berada di sana.

"Oh, hai! Kau pasti roommate baru kami untuk 2 minggu ke depan, Yook Sungjae!" sosok yang bernama Sungjae itu mengejutkan Taehyung yang baru saja tiba di depan pintu dan langsung disambut oleh celotehannya.

"A-ah, ye, Kim Taehyung."

Sungjae memberikan cengirannya pada Taehyung, lalu menariknya masuk ke dalam menemui seorang roommate lagi yang tengah terpaku menatap pemandangan dari jendela.

"Jongup-ssi, roommate yang baru, Kim Taehyung!" Sungjae segera menepuk pundak Jongup dan memberinya isyarat untuk berkenalan dengan Taehyung di belakangnya.

Jongup tersenyum, sangat lucu hingga matanya membentuk sebuah garis. "Moon Jongup, nice to meet you."

Taehyung tak dapat berekspresi lain selain sebuah tawa terlontar dari bibirnya, "Nado, Jongup-ssi. And it's really nice meeting your eyes."

Hanya dalam hitungan beberapa menit, Taehyung telah berhasil menjalin pertemanan dengan dua orang asing ini, Sungjae dan Jongup yang tertawa bersamanya setelah mendengar celotehan Taehyung.

Sedetik kemudian seseorang datang dan berdiri di depan pintu. Lelaki dengan tatapan yang tak kalah mematikan dari Taehyung. "Um, hello,"

Lelaki itu mengeluarkan suaranya dan berjalan perlahan ke arah tiga pemuda yang baru saja menjadi teman akrab. Ia mengulaskan senyum kecilnya pada masing2 pemuda itu. Sungjae menjadi yang pertama mengulurkan tangannya untuk berkenalan pada lelaki itu.

"You must be the fourth roommate! Yook Sungjae!"

Melihat keceriaan Sungjae, Taehyung dan Jongup menatap satu sama lain sebelum kemudian mengikutinya.

"Kim Taehyung,"

"Moon Jongup,"

Lelaki itu menundukkan kepala dan kembali tersenyum, "Park Sanghyun."

.

.

.

.

"Hey, masuklah!" Sebuah suara ceria khas anak kecil menggelitik telinga Jungkook. Hampir beberapa menit dirinya berdiri di depan pintu, tak melakukan apapun selain mengedipkan matanya. Speechless.

Empat sampai lima tempat tidur bertingkat lengkap dengan bantal kepala serta selimut berwarna senada terletak dengan kokoh di dalam kamar ini. Sepanjang pandangannya, terdapat beberapa nakas di samping masing-masing tempat tidur dan tak ada yang lain. Kamar ini terasa begitu plain, kaku, dan tidak menarik–tipikal barak-barak.

"Junhong, temani anak baru itu ke mari,"

Tanpa kata-kata, pergelangan tangan Jungkook ditarik perlahan oleh seorang pemuda yang bertubuh tinggi dan nampak lucu. "A-ah–"

Setelahnya Jungkook disambut oleh sebuah senyuman dari pemuda lain yang tengah duduk di atas ranjang dan melambaikan tangan ke arahnya. "Annyeong!"

Jungkook mengerjapkan matanya beberapa kali, sungguh senyuman dan nada suara pemuda ini begitu riang dan membuat rasa gugup dalam dirinya perlahan memudar. Ia membalas sapaan pemuda itu, "A-annyeong," dengan seutas senyum kecil di wajahnya.

"Take it easy! Kita akan segera menjadi roommate selama dua minggu ke depan, kuharap kita dapat berhubungan dengan baik!" pemuda itu mengulaskan cengirannya dan bangkit berdiri lalu menepuk pundak Jungkook–yang sayangnya bertubuh sedikit lebih tinggi dari dirinya.

"N–ne.." Jungkook tak mampu berkata lain selain 'ne' dan tersenyum gugup. Rasa gugupnya masih tersisa dan mengalahkan rasa yang lain dalam dirinya.

"I'm Yoo Youngjae, by the way!" pemuda yang mengenalkan dirinya dengan nama Youngjae mengulurkan tangannya dan menyikut lengan pemuda tinggi di sebelahnya yang nampak terbengong-bengong. "U–uh? Oh, ya, namaku Choi Junhong." setelah Junhong memperkenalkan dirinya, Youngjae mengulaskan cengirannya kembali dan menunggu Jungkook membalas uluran tangannya.

Awalnya Jungkook merasa gugup dan nervous, namun setelah beberapa kali melihat senyuman Youngjae ia sedikit merasa tenang dan nyaman, "Jeon Jungkook," ucapnya, lalu membalas uluran tangan Youngjae dan tersenyum menampilkan deretan gigi lucu miliknya, "Senang berkenalan dengan kalian."

"Omo! You're so cute!" tanpa diduga, Youngjae memekik perlahan begitu melihat senyuman Jungkook dan bergerak mencubit pelan pipinya. "Hyung! You might scared him," Junhong menarik lengan Youngjae menjauhi pipi Jungkook dan berdesis melihat tingkah hyungnya.

"O-oh, gwaenchana Junhong-ssi," ujar Jungkook sembari mengusap pipinya dan meyakinkan dua orang roommate-nya bahwa ia seakan sudah terbiasa dengan segala cubitan.

Youngjae dan Junhong nampak memperdebatkan sesuatu seperti "Yah, bagaimana bisa kau menahan dirimu untuk tidak mencubit pipi Jungkook, eh? Anak itu benar-benar manis kau tahu? Ish–" "Ya, ya, hyung, tidak pada awal pertemuan, oke? Kau mungkin saja menakuti Jungkook. Ia memiliki pandangan yang pure dan innocent, membuatku tak tega untuk melakukan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman di hari pertama."

Jungkook hanya tersenyum kecil mendengar perdebatan di antara dua orang roommate-nya. Ia mulai bergerak untuk mengambil satu ranjang dan membereskan barang-barangnya–ia mengambil tempat tidur di bagian bawah karena ia takut akan terjatuh saat tidur. Such a kid.

Ia hendak memastikan sesuatu sebelum memutar otaknya,

Ugh, Junhong memanggil Youngjae 'hyung', apa itu artinya Youngjae juga adalah 'hyung'-ku?

Jungkook menenggak salivanya sebelum memanggil Youngjae, "U–uh, Y-Youngjae-ssi..?" ucapnya bernada sopan dan pelan.

Youngjae yang tengah menertawakan sesuatu bersama Junhong menolehkan kepalanya dan tersenyum, "Ya Jungkook? Oh, tak perlu seformal itu, panggil saja 'hyung', aku yakin kau lebih muda dariku sebab tahun ini aku menginjak usia 20 dan ugh aku masih muda tentu saja!" Youngjae tak berhenti menambahkan kata-kata di belakang jawaban sebenarnya pada Jungkook dan hal itu sedikit membuat Jungkook merasa geli–hyung satu ini benar-benar gemar berbicara.

"Uhm, hyung, apakah aku boleh mengambil tempat di sini?" Jungkook mendudukkan dirinya ke atas ranjang yang telah dipilih olehnya dan menepuknya perlahan sebagai tanda pada Youngjae. Youngjae memicingkan kepalanya dan terkerut, "E-eh? Maksudmu? Kau tentu bebas memilih ranjangmu sendiri, Jungkook."

"A-aku tahu," Jungkook beralih menyentuh sebuah kopor hitam berukuran sedang dan menepuknya beberapa kali, "Ini kopormu, hyung? Jika iya, maka aku harus meminta izin padamu mengambil ranjang ini karena kau yang pertama kali menemukannya."

Youngjae membulatkan bibirnya tanda mengerti lalu menggelengkan kepalanya, "Aniya, itu bukan koporku. Itu milikku," ia menunjuk ke arah kopornya berada tepat di sebelah tempat tidur Jungkook.

Jungkook bergumam 'Aah, geurae..' lalu keningnya kembali mengerenyit, "Lalu siapa pemilik kopor ini, hyung?"

Youngjae nampak menggunakan telunjuknya untuk mengetuk keningnya–berusaha mengingat sebuah nama pemilik kopor itu. "Ah, ye, siapa tadi namanya?"

"It's 'Oh' something.." ucap Junhong, mengikuti gerakan Youngjae dan berpikir.

"Oh?" Jungkook mengerutkan keningnya.

"Yup. Pemilik kopor itu sedang tidur di sana, tepat di atasmu, Jungkook." "..Oh Sehun, hyung! Akhirnya aku ingat."

Jungkook tersentak, ia tidak memperhatikan bahwa ada seseorang yang tengah tertidur di ranjang atas. Dengan segera ia mendongakkan kepala dan melihat gundukan selimut tengah menyelimuti tubuh seseorang. Kedua matanya tertutup sempurna, dan Jungkook dapat mendengar suara dengkuran halus. Hidung mancungnya terekspos dengan bebas serta bibirnya yang sedikit terbuka. Pemuda itu memiliki jawline yang sangat sharp dan tajam, mengingatkan Jungkook akan sosok seseorang. –Kim Taehyung, his boy.

Jungkook menggelengkan kepala dan menepuk-nepuk pipinya, mengingatkan dirinya bahwa sekarang ini bukan saatnya untuk urusan asmara dan percintaan.

"Tak apa, Jungkook. Letakkan saja kopornya di samping nakas dan ia akan menyadarinya." ujar Youngjae menghamburkan lamunan Jungkook. "Um, ok." Jungkook mengangkat kopor–yang ternyata lumayan berat–dan meletakkannya tepat di tempat yang disarankan oleh Youngjae.

Setelah Jungkook membereskan barang-barangnya yang tentunya tidak bermacam-macam sebab mereka dilarang untuk membawa serta barang-barang yang tidak diperlukan selama pelatihan–termasuk alat komunikasi dan macam-macam gadget. Jungkook sendiri tidak mengalami kendala yang berarti, sebab menurutnya ketidakberadaan gadget dan alat-alat teknologi lainnya tidak terlalu mengusik kehidupannya. Yang dapat mengusiknya hanyalah bila Taehyung meninggalkannya dan tidak lagi menatapnya–

..tunggu, why does it have to be Taehyung again..

Jungkook menghampiri Youngjae dan Junhong sembari berdengus pelan dan mengerutkan bibirnya.

That damned hyung really screws my mindbut..I love him..

"Ya, Jungkook, mengapa terkerut begitu? Pissed off since having no gadgets here, eh?" Youngjae bertanya dengan sedikit menggodanya, sejujurnya yang merasa sebal dengan tidak adanya teknologi di sini adalah Youngjae, bukan Jungkook.

Jungkook menggelengkan kepalanya, "Aaani.." tanpa sadar ia menggunakan nada suara manjanya yang biasa ia gunakan ketika dirinya merasa rindu dengan sosok Taehyung dan–

..oh fuck you, Taehyung..

"That's it!" Youngjae kembali mencubit pipi gembil Jungkook yang membuat Jungkook tersentak kaget dan merasakan kedua pipinya memerah karena cubitan Youngjae.

"Hyung, aish!" Junhong mendesis dan berusaha menjauhkan tubuh Youngjae dari Jungkook–sebab ia merasa kasihan pada anak itu yang tengah merintih kesakitan.

Sebuah suara yang berasal dari ranjang di mana sosok Sehun berada terdengar. Ketiga pemuda itu menghentikan kegiatan mereka dan mengunci pandangan pada Sehun yang berada tepat di seberang. Sehun nampak menguap sedikit dan mengusap belakang kepalanya sembari bergumam,

"What a noise,"

Ketiga pemuda inosen itu mengerjapkan mata, lalu melihat Sehun menuruni ranjangnya dan mendelik sebentar pada masing-masing pemuda itu. Kemudian tak berapa lama, Sehun bergerak menuju jendela besar dalam kamar mereka dan mulai meregangkan ototnya.

Sisa pemuda itu tetap menganga sembari mengerjapkan mata.

Sosok Oh Sehun nampak begitu dingin dan cool dalam satu waktu. Dan membuat berbagai perasaan berkecamuk dalam diri mereka.

"A-apa-apaan..?!" pekik Youngjae pelan, tak ingin sosok yang dibicarakan mendengarnya. Dua remaja yang lebih muda darinya masih terdiam.

"Tidak berkenalan dengan baik, meninggalkan kesan pertama yang kurang mengenakkan juga, sejujurnya dia itu makhluk apa..?!" lanjut Youngjae sembari mendesis dan mengerutkan keningnya tanda jengkel.

"Mungkin ia hanya nervous di hari pertama.." "Blah," Youngjae menjulurkan lidahnya tanda tak setuju pada ucapan Junhong dan mengalihkan pandangannya dari sosok Oh Sehun.

"Kupikir camp ini akan menyenangkan.. But now I must deal with that ice boy!" erang Youngjae sembari melipat kedua tangannya dan mengerucutkan bibirnya.

Jungkook terdiam dan menghembuskan nafasnya berat. Yah, ia pikir bahwa orang-orang tentu memiliki sifat yang beragam, bukan?

Junhong yang mendengarnya segera menepuk pundak Youngjae, "Semuanya akan berjalan baik, hyung. Lihat, kita punya cutie Jungkook di sini! Whenever you feel upset, just look straight at his adorable feature." ujarnya sembari terkekeh kecil dan menerima sebuah protes dari Jungkook.

"Aih, hyung!" Jungkook sudah mengetahui bahwa Junhong berusia setahun di atasnya–baru saja ia mengetahuinya dan ia merasa senang akan memiliki tambahan hyung untuk dirinya.

Baru saja Youngjae hendak menjawab, sebuah suara dari arah pintu mengejutkan mereka.

"Mino-hyung!" Kembali, Youngjae yang kembali dengan raut cerianya menjadi yang pertama berlari ke arah seseorang yang berdiri di depan pintu sambil tersenyum cerah.

"Told you so."

.

.

.

.

.

Di waktu yang sama, kamar nomor 387 yang berisi empat pemuda charming mendadak terdengar lebih ramai semenjak kedatangan roommate mereka yang kelima dan keenam.

"Minwoo-ssi, you're really cute!" Sungjae terus berceloteh tentang keimutan wajah yang dimiliki oleh sosok No Minwoo yang baru saja tiba beberapa menit lalu dan segera akrab dengan empat pemuda itu.

"Indeed," Jongup mengulaskan eyesmile miliknya dan menatap kagum pada Minwoo yang tengah terkekeh kecil mendapat perlakuan manis. "Benar 'kan, Taehyung?"

Taehyung yang tidak terlalu memperhatikan Minwoo menaikkan sebelah alisnya dan bergumam 'uh?'. Lalu ia menatap Minwoo di hadapannya mulai dari kepala hingga ujung kaki.

He's cute but nothing compared to my Kookie.

"Uh-huh, kau tidak terlihat seumuran dengan kami. Dengan Sungjae dan Jongup maksudku, aku sih indeed masih terlihat seumuran denganmu." ujar Taehyung yang menerima sebuah jitakan dari Sungjae.

"Yah!" Sungjae melingkarkan lengannya ke atas leher Taehyung dan mulai mencekiknya main-main. Mereka berakting layaknya sepasang sahabat yang telah lama menjalin persahabatan sebab senyuman dan tawa yang terulas dari bibir keduanya menunjukkan kedekatan yang amat sangat.

Sedangkan Minwoo hanya tertawa kecil bersama Jongup melihat tingkah Sungjae dan Taehyung di hadapan mereka. Setelah beberapa saat, manik Minwoo menangkap sosok Sanghyun yang tengah berbaring di atas ranjangnya yang berada di sebelah Taehyung dan Sungjae berada dan menyandarkan tubuhnya di atas dinding. Kedua matanya tertutup, dan ia nampak tengah mendengkur.

Minwoo tersenyum pada dirinya dan mendekati sosok Sanghyun yang ia ketahui berusia 5 tahun di atasnya. Ia dapat mengamati bulu mata Sanghyun dari jarak ini dan entah mengapa ia merasa posisinya tidak keliru dan ia nyaman akan posisi mereka.

Minwoo menyentuh pipi putih Sanghyun dan melakukannya berulang-ulang, membuat sang pemilik pipi mengerang dalam tidurnya. Minwoo terlonjak kaget saat Sanghyun membuka kedua matanya–namun ia memilih untuk mengulaskan cengiran padanya.

"Uh, m-maaf mengganggu tidurmu, h-hyung," Minwoo mengusap tengkuknya grogi dan menundukkan kepalanya. Sanghyun hanya terdiam sembari menatap remaja di depannya.

"I'm sleepy,"

Minwoo kembali mengutuk dirinya yang telah mengganggu kedamaian tidur Sanghyun. "–Uh-oh, I'm really sorry.. Kau bisa melanjutkan tidurmu hyung, aku tak akan menggang–eeh?"

Tiba-tiba ia merasakan sepasang lengan melingkari pinggangnya dan membawa tubuhnya ke dalam dekapan sang hyung yang tengah memejamkan matanya. Minwoo mengerjap-ngerjapkan matanya dan perlahan rona merah menjalar di kedua pipinya. Mengapa Sanghyun mendadak melakukan hal ini padanya?

"–H-h-hyung..?" "Ssh, kau bilang aku bisa melanjutkan tidurku. Dan karena kau sudah mengganggu tidurku, kau harus menjadi selimutku, Minwoo-yah,"

Minwoo kembali merasakan darahnya mengalir tepat di atas kepalanya dan berdesir lebih cepat. Perasaan aneh menyelimuti dirinya dan suatu backflip serta summersault bergantian muncul dari dalam perutnya. Suara berat dan serak dari Sanghyun–mungkin disebabkan oleh rasa kantuk–membuatnya tak mampu berbuat apa-apa selain melemaskan ototnya dan membiarkan hyungnya melakukan apapun yang ia mau.

Perlahan ia merasakan kantuk mulai menjalar sebelum sebuah suara dari Taehyung mengagetkan keduanya.

"JIMINNIE?! A-APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI?"

.

.

.

.

.

.

.

.

[a lil spoiler for the next chapter!]

"We're fucking panting because of this fucking heated room and none of you fucking paying attention to this."

"Damned Kim Taehyung! Watch your language toward us, your fucking guards here! And besides, this is what the room should be, none of you are allowed to doing fucking thing such as breaking the window and acting like a shit hero!"

"You son of bitch, my friends are suffering here–your student and most-guarded-people! Do you think I would fucking stay silent like an shitty oak not doing anything?"

"Enough of this! Send him to the isolate room! Teach him some manners!"

"Who do you think you are?!"

"Shut up, you little shit!"

"You said that you're a fucking guard?! Asshole! Let me go!"

.

.

.

"What's going on here?"

"Sajangnim! Siswa sialan bernama Kim Taehyung ini berani melawan peraturan dengan memecahkan jendela mengatakan bahwa ruangan ini sangat panas dengan mulut sialannya yang tidak berhenti mengumpat!"

"Kau juga jaga ucapanmu, Mr. Lee."

"Ugh, maaf, sajangnim."

"Lagipula benar apa yang diucapkan olehnya, ruangan ini terlalu panas, bukankah akan membuat para siswa tidak nyaman? Buka jendela atau hidupkan pendingin ruangan,"

"T-tapi sajangnim, itu melawan peraturan! Dan juga akan memanjakan siswa–"

"Aku tahu apa yang kukatakan. Lagipula anakku Yoongi juga pasti akan mengatakan hal yang sama. Dan, oh, ia sedang dalam perjalanan ke sini. Pastikan kalian tidak mengacaukan segalanya,"

"T-Tuan Muda Yoongi.."

"Oh, ya, lepaskan cengkraman kalian pada siswa Taehyung itu. Justru kalian harus bersikap baik padanya."

.

.

.

"I know exactly who you are, Jeon Jungkook. And I will continue to observing more from you."

.

.

.

"Kim Taehyung, kau terdakwa memiliki dan menyimpan sejumlah besar marijuana dalam kopormu."

"The fuck? Apa kau kembali mencari kesalahanku, eh penjaga terbaik-sepanjang-masa?"

"You fucking addicted kid! Benda terlarang itu ditemukan dalam kopormu dan kau masih mengelak?!"

"Jika benar aku adalah pecandu mengapa aku sehat-sehat saja sekarang? Harusnya aku akan bertindak seperti orang gila dan meraung-raung meminta pasokan obat-obatan itu. Kau pergunakan otakmu itu, penjaga-terbaik-sepanjang-masa."

"That's it! You and your fucking bitch mouth!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

yahahahaha heboh banget kayanya ya spoilernya lol

SUDDEN APPEARANCE FROM NANA AS&OC, JONGUP YOUNGJAE & ZELO BAP, SUNGJAE BTOB, SEHUN EXO, THUNDER MBLAQ, MINWOO BOYFRIEND, MINO WINNER BECAUSE THEY ARE JUST MY BAAAEEESSSS /screams lol sorry/

aku sengaja bikin momen Thunder-Minwoo di sini aaaw tiba2 aja lho terbesit(?) ide begitu XD iseng lho bikin kapel thunderxminwoo like aaawww dont you think they''d make a cute couple lol

maaf bagi yang ngga suka atau gimana, skip aja bagian itu ya(?) :"3

dan juga aku sengaja (sedikit banyak) (lol) nambahin umur tiffany, nichkhun, dan lain2 biar bisa pas sama cerita /w

yahahahaha (lagi) aku udah lama bgt ga apdet dan skrg malah dipotong lagi ya chapternya :"D abisnya ternyata waktu lagi nulis tuh ide ngalir dan malah sedikit melenceng dari yang sudah direncanakan(?) tapi ngga keluar konteksnya sih x"D

mudah2an lanjutannya bisa cepet aku post yeay (kuliah ini membunuhku ugh)

okedeh aku gamau bacot banyak, sampai ketemu lagiii seeyah!

psst, follow me on twitter: parkjams ㅋㅋㅋ /shamelessly promoting/

kindly do me the 3 big favors, favs/follow/review ;3 any critics/comments are warm welcomed & appreciated ;))

thank you ;3

*side charas: snsd, 2pm, got7, red velvet, bigbang, bap, btob, mblaq, boyfriend, rainbow, exo, after school / orange caramel, winner, and many more in the future~!