Hello, there.
I go by the name Park Jimin, nice to know you.
So now I'm telling you the story. Fasten your seatbelt and enjoy the trip with Jimin.
.
.
.
.
.
.
.
scavenged
[!] past child-abuse, mental issues, human-auction.
whaaa maap sekali lagi ini kenapa jadi sebulan sekali gini ya apdetnya wkwk maap ini murni sebuah ketidaksengajaan/? tugas lagi gila2an banget dan si bangtan juga gila ga ngasih napas sama sekali jadinya aku bentuknya udah kaya gini: O)—(
chapter ini mesti nyempil di sini ya biar ga bingung/? (semoga hehehee) kalau mau skip chapter ini ngga apa-apaa soalnya ini cuma plesbek si ndut jimin (lol) (akhirnya nemu ide masa lalu jimin :")) dan juga akan ada pengungkapan beberapa karakter(?)
ok, cekidot!
.
.
.
.
.
.
.
Jimin's pov.
.
.
"Ya, mengapa kau tak pernah mendengarkan perkataanku sekali saja?!"
"Aku lelah, biarkan aku istirahat."
"Yah! Kau selalu mengatakan hal yang sama! H-hey!"
Aku mengingatnya. Pintu kayu berwarna putih di hadapanku perlahan ikut merasakan rasa penat, takut, sedih, yang berkecamuk di dalam diriku. Aku yang tengah terdiam berdiri dari balik pintu di dalam kamarku. Lagi-lagi harus mendengar pertikaian mereka. Ini tidak terjadi satu-dua kali, aku bahkan tak bisa menghitungnya lagi. Wajahku tidak dapat lagi menampilkan ekspresi apa-apa–ini sudah terlalu sering terjadi.
Aku tak menyadari jika pintu kayu ini tidak tertutup semuanya, hingga akhirnya saat aku menengokkan kepalaku dari celah pintu aku bisa melihat apa yang terjadi di luar sana.
Lelaki berdasi dan memakai kemeja berwarna putih yang kupanggil sebagai ayah tengah menepis cengkraman seorang wanita yang kupanggil sebagai ibu. Tatapan lelaki itu mendelik tajam, penuh dengan amarah. Kedua kakiku bergetar melihatnya.
"Sudah kubilang aku lelah! Mendengarkanmu berceloteh seperti itu hanya membuat kepalaku semakin sakit!"
Ayah berteriak kepada ibu, ekspresi keduanya sama-sama menunjukkan kemarahan yang amat sangat. Kilatan kemarahan terpancar dengan jelas dari balik bola mata ayah, sementara ibu membalasnya dengan tatapan penuh tantangan, seakan menjawab arti dari tatapan ayah. Bulu kudukku selalu tergidik menyaksikan tatapan demi tatapan mereka.
"Lalu apa kau pikir aku juga tidak merasa lelah?! Harus terus menghabiskan waktu mengurus rumah tangga, keperluan rumah, serta bocah itu sementara kau bisa dengan enaknya menikmati dunia luar, begitu?!" ibu meluapkan seluruh kekesalannya pada ayah. Tanpa elakan, dadaku berdenyut saat mendengar ucapannya tentang 'bocah itu'. Sudah tentu yang dimaksudkannya adalah aku, diriku, Park Jimin.
Ugh yep, sedari dulu aku telah dikategorikan sebagai anak yang tumbuh besar dalam lingkungan keluarga yang kurang harmonis, boleh dikatakan demikian jika memang kategori tersebut benar-benar ada. Keluarga, orang tua, mereka ada, namun tak bisa kurasakan. Dalam artian, aku tak bisa merasakan makna sebenarnya dari 'keberadaan' mereka. Mereka ada, namun keberadaan mereka tak memberikan efek yang berarti dalam kehidupanku.
Aku memang tidak bernasib seperti anak-anak yang dibuang atau ditelantarkan, mereka mengurusku, memberiku tempat bernaung, membelikanku bermacam-macam kebutuhan, namun hati mereka tidak bersamaku.
Ditambah lagi dengan hubungan ayah dan ibuku yang jauh dari kata harmonis. Ayah, berpikir bahwa dengan adanya uang, uang, dan uang, segalanya akan selesai. Ia masih berpikiran kolot bahwa wanita dan anak-anak sudah merasa puas jika dirinya memberikan uang pada mereka. Kendati demikian, ibu memiliki pemikiran berbeda yang sedikit membuatnya mendalami sifat psikis manusia yang mana malah membuatnya terperangkap dalam pemikirannya sendiri. Ibu sangat mendambakan kehidupan sempurna, yang selalu ia idam-idamkan sejak dulu, lepas dari kenyataan bahwa dirinya pernah diperlakukan semena-mena oleh masyarakat dahulu. Hal ini mendorong dirinya untuk selalu meminta dan meminta pada ayah sampai akhirnya keduanya tak mampu lagi untuk menopang kehidupan rumah tangga mereka, seperti saat ini.
Dan yang bisa kulakukan hanyalah terdiam pasrah.
"Apa yang kau lihat?!"
Tubuhku terlonjak begitu mendengar sentakan dari ayah, ia menangkap basah diriku yang tengah mengintip pertikaian mereka dari balik pintu kamar.
Jemariku bergetar, mencengkram erat pada daun pintu, berusaha untuk menutupnya sebelum sepasang lengan besar menahan pintu itu untuk tertutup.
Itu lengan ayah.
"Kau tak seharusnya mendengar percakapan orang dewasa, anak muda," nada suaranya perlahan berubah menjadi suara yang paling kutakutkan.
Aku mengambil langkah mundur sembari memaku tatapanku ke atas lantai. I didn't even dare to look into his eyes. Sementara ayah semakin mendekatiku.
"Kau tahu apa yang sangat kubenci saat ini?" suara berat ayah semakin membuatku bergidik. Aku sudah bisa menebak apa yang akan terjadi setelahnya, sebenarnya. Namun sekuat tenaga aku berusaha menampik, mungkin saja kali ini ia berubah. Mungkin saja.
Aku segera menggeleng lemah, jika tidak segera merespon pertanyaannya aku tak tahu apa yang akan dilakukannya padaku.
Sekelebat kemudian kurasakan wajahku bergesekkan dengan lantai dingin di atas tempatku berpijak.
"It's your fucking face with that look!" bersamaan dengan teriakannya ayah mencengkram rambutku dan menubrukkan wajahku ke atas lantai.
He always like this to me.
"Hey, apa yang kau lakukan pada anakku?!" dengan rasa perih yang menjalar di sekujur wajah, aku mendengar teriakan protes dari ibu.
"Apa kau bilang?! Anakmu? Dia anakku!" ayah membanting wajahku kembali, "Dan aku bebas melakukan apa saja kepadanya!" dan lagi, ia membantingnya.
Kudengar langkah kaki terburu-buru yang kuakui berasal dari ibu. Kemudian sebuah tangan berusaha menarikku keluar dari genggaman ayah. "He is MY son! Jimin adalah darah dagingku! Aku yang melahirkannya! Kau sama sekali tak punya hak apapun terhadapnya!" ia berteriak pada ayah dan dengan gesit merebutku paksa darinya.
Aku merasakan cairan hangat mengalir dari hidungku, lengkap dengan rasa perih yang menguasai wajahku. Nafasku tersengal, kakiku gemetar dan tak mampu menopang tubuhku lebih lama. Seringkali aku mengecap rasa anyir darah dan asin dari air mata yang tercampur menjadi satu.
Berkali-kali aku meringis tertahan, tak ada lagi sepatah kata pun yang mampu keluar dari dalam bibirku. Berulang kali aku menggeram sembari mengusap cairan merah dari hidungku. Kudengar ayah kembali membuka suaranya.
"Tak punya hak? Kau pergunakan otakmu! Anak itu adalah hasil dariku, kau tidak lebih dari sekedar tempat titipan untuknya berkembang biak menjadi manusia!"
Kurasakan cengkraman ibu di atas bahuku mengerat, bahkan aku sempat meringis karenanya. Detik kemudian tubuhku terhempas ke belakang dan kulihat ibu menampar pipi kanan ayah dengan sangat keras. Aku tak dapat melihatnya namun kuyakini wajahnya nampak mengerikan.
"Kau masih saja memandang rendah wanita, huh?!"
Menarik napas pelan aku memaku pandanganku pada dua orang dewasa di hadapanku ini. Mereka nampak kembali bertikai. Ayah membalasnya dengan tamparan balasan pada ibu. Kudengar pekikan keluar dari mulut ibu bersamaan dengan geramannya.
"Kaisar pun mendidik istrinya seperti ini kau tahu?!" ayah mencengkram kedua bahu ibu dan mengguncangkannya–seakan mengingatkan kembali siapa yang berkuasa di rumah ini. Tubuh ibu terguncang dan ia berusaha melepaskan cengkraman ayah padanya. Ia kembali berteriak kata-kata umpatan pada ayah.
Aku tak dapat menghitung rentang waktu antara teriakan ibu dan bunyi dobrakan pintu depan yang amat keras. Beberapa orang bertubuh besar dan bertampang seram sudah berada di depan kami. Wajah orang-orang itu sungguh menakutkan, aku menghitungnya ada sekitar 5-6 orang dengan janggut serta kumis yang dibiarkan tumbuh secara liar. Menatap ayah, ibu, serta diriku sembari memasang tatapan membunuh.
Kudengar ayah berseru, "Siapa yang mengizinkan kalian masuk?!" mendadak air wajahnya berubah menegangkan. Aku tak dapat melihat raut wajah ibu sebab ia masih memunggungiku yang tengah terbaring di atas lantai akibat rasa nyeri di tubuhku. Namun dapat kutebak ia ketakutan, punggungnya bergetar.
Dari dalam jajaran orang-orang menyeramkan bertubuh besar itu muncul seorang lelaki berjas hitam, dengan model rambut yang tampak sangat necis. Lelaki itu tersenyum aneh kepada ayah dan ibu lalu bertepuk tangan.
"Kurasa istri cantikmu ini mampu menjawab kebingunganmu, Mr. Park," lelaki itu tertawa menatap kebingungan di wajah ayah dan–raut wajah kepanikan di wajah ibu. Sekelebat ayah beralih menatap ibu yang tengah meremas ujung bajunya dan kepanikan masih terpampang di wajahnya.
"WHAT ARE YOU DOING?!" aku tak mengerti mengapa, namun setelah teriakan ayah yang menggema tubuhku terhempas dengan cepat dan dua orang bertubuh besar itu menyeretku dan memasukkanku ke dalam sebuah kotak.
"W-WHAA!" pekikku bingung saat merasakan nyeri di punggungku akibat lemparan mereka ke dalam kotak kayu itu. "H-HEY!" aku berusaha menahan tutup kotak itu dengan tanganku, namun usahaku sia-sia. Dengan satu gerakan pandanganku menjadi gelap, aku sudah terkurung di dalam kotak kayu ini. Aku terlalu bingung untuk mengatakan sesuatu. Otakku tak mampu mencerna kejadian ini. Hanya bias mengeluarkan beberapa sengalan.
Beberapa detik kemudian aku mendengar suara teriakan ibu. Sangat kencang dan nampak kesakitan. Secara refleks aku memukul dan menendang dari dalam, berharap kotak kayu ini akan hancur dan dapat mengeluarkanku dari dalam sini.
BHANG! BHANG!
Berulang kali aku menggedor-gedor dari dalam, namun setiap kali gedoranku itu hanya membuat teriakan ibu semakin terdengar memilukan. Dengan kepalan tanganku aku meninju dinding kotak kayu sekeras tenaga sembari akhirnya mengeluarkan seruanku, "EOMMA! APA YANG KALIAN LAKUKAN?!"
Bulir-bulir peluh penuh kecemasan dan rasa takut memenuhi pelipisku hingga sekujur tubuhku. Kepalan tanganku terasa licin, hingga seringkali tergelincir saat hendak meninju dinding kotak kayu. Tak habis akal kuputar badanku hingga kedua kakiku menghadap langit dan kuayunkan beberapa kali pada tutup kotak. Dengan menumpukan seluruh tenaga pada ujung kaki, kuharap usahaku dapat membuahkan hasil.
"Hey, hey, little bastard!"
Aku sempat terlonjak kaget saat mendengar suara menyeramkan dari luar sana. Segenap kekuatan kakiku menghilang tatkala mendengar beberapa ketukan keras, "Diam dan tenanglah di dalam sana!"
Ingin sekali aku berteriak padanya bahwa di dalam sini sangat gelap dan sedikit oksigen, sungguh terasa sesak dan panas. Aku hanya dapat melihat beberapa berkas cahaya dari dua lubang kecil di tutup kotak. Bagaimana mungkin aku bisa diam dan tenang?
"NO! NOT MY LITTLE JIMIN!"
Kembali aku tersentak ketika mendengar suara ibu meneriakkan namaku. Jantungku kembali berdetak cepat. Apa yang sebenarnya terjadi di luar sana?
"Bukankah kau sudah berjanji sebelumnya jika kau tidak bisa membayar maka anak lelakimu akan seutuhnya berada di dalam kekuasaan kami?"
DEG!
Jantungku berdenyut. Rasanya amat menyakitkan. Aku memang masih seorang bocah berumur 8 tahun namun pengalaman hidupku telah mengajarkanku menjadi anak yang sedikit lebih dewasa dibandingkan anak-anak lain yang hidup nyaman di balik penghangat mereka.
Perlahan kedua manikku membesar, kutempelkan telingaku pada dinding kayu untuk bisa mendengar percakapan mereka lebih jelas.
"T-tapi J-Jimin.. D-dia anakku satu-satunya–"
"Tsk tsk, kontrak adalah kontrak, Mrs. Park,"
Aku tak mengerti kontrak yang dimaksud olehnya namun aku merasakan kotak kayu tempatku berada bergerak dan terangkat.
"T-tidak tidak tidak! JIMINNIE!"
Kotak kayu ini bergerak dan kuyakini menjauhi ibu dan ayah. Aku mulai merasa panik. Kugedor kembali dinding kotak dan berteriak, "EOMMA! APPA!"
Komplotan orang-orang ini membawaku pergi.
"JIMINNIE! JIMINNIE!"
Aku bersahut-sahutan dengan ibu, sebelum suara ibu perlahan mengecil dan aku semakin panik dibuatnya. Dengan mengerahkan tenaga terakhirku aku menendang, meninju, bahkan menghantamkan kepalaku sendiri pada seluruh kotak kayu sialan ini. Mengapa kotak kayu ini tak bergeming sedikitpun?
Air mata perlahan membasahi pipiku. Aku bahkan tak tahu ternyata aku masih memiliki pasokan air mata.
Seakan tak peduli dengan semuanya aku berteriak seperti orang gila. Berbagai kata mohon, meminta belas kasihan, hingga umpatan sudah keluar dari dalam bibirku. Namun nihil, mereka tetap membawaku pergi menjauh.
Pekikan kencang ibu tertutup dengan suara gemuruh besar yang entah mengapa mengunjungi wilayah ini. Pekikan itu seakan menjadi kali akhirnya aku mendengar suara ibu sebelum semua yang kudengar hanyalah suara hantaman dan bunyi pintu ditutup lalu suara deru mesin.
Mereka memasukkanku ke dalam sebuah truk container dan setelahnya membawaku pergi dari ibu dan ayah.
Untuk selamanya.
.
.
.
.
.
.
.
Aku mengerjapkan mataku beberapa kali.
Pancaran sinar matahari mengusik pandanganku dengan sinarnya. Aku menggeram sedikit dan menggerakkan tubuhku yang sedang terbaring di atas sebuah ranjang putih berukuran queen.
Ranjang putih?
Aku tersentak, dan segera bangkit dari tidurku. Mataku membesar, mulutku terbuka dan jantungku kembali berdetak cepat. Mulai memindai ke seluruh penjuru.
Mengapa aku berada di tempat seperti ini?
Aku bergerak menuju jendela kamar dan menjulurkan kepalaku ke luar jendela. Pemandangan pagi hari yang sungguh indah, ditemani dengan kebun luas yang dihiasi dengan tanaman indah.
Di mana aku?
Belum sempat melongokkan kepala, aku mendengar suara pintu dibuka oleh seseorang. Mudah sekali merasakan ancaman akhir-akhir ini, aku segera menolehkan kepala dan menemukan seorang bocah lelaki berambut gelap yang sepertinya seumuran denganku tengah menatapku dengan matanya yang membulat kemudian memberikan cengirannya yang membentuk sebuah rectangle.
"Eomma, dia sudah bangun!"
Tepat di belakangnya berdiri seorang wanita. Cantik, berambut sebahu, dan memiliki senyum yang sama seperti bocah lelaki itu.
Wanita itu menatapku dengan tatapan hangatnya yang entah mengapa membuatku merasakan sedikit ketenangan darinya. Bersamaan dengan itu si bocah lelaki turut tersenyum padaku.
"Selamat pagi, Jimin,"
.
.
.
.
"Silakan lewat sini,"
Berapa kalipun kata-kata itu kudengar aku sama sekali tak berniat untuk meresponnya. Siapapun yang datang, seperti apapun itu, sebaik apapun itu, aku tak berminat untuk mendongakkan kepalaku dan memasang wajah layaknya 'barang jualan' seperti yang mereka minta.
Biarkanlah 'barang jualan' lain di sekelilingku memasang wajah dan memohon untuk 'dibeli', aku tak tertarik untuk melakukannya.
Suara decitan pintu terdengar, seorang petugas masuk ke dalam dan menarik seorang dari kami keluar. Kemudian pintu kaca besar ini ditutup kembali. Meninggalkan beberapa helaan napas kekecewaan dari yang lain yang berharap akan 'dibeli'.
Jika tidak ada yang 'membeli' kami maka 'mereka' akan menganggap kami sebagai 'produk' gagal dan akan 'membongkar ulang' diri kami. Sungguh aku tak tahu siapa 'mereka' ini sebenarnya. 'Mereka' tak nampak seperti penagih hutang biasa.
DOK DOK DOK!
Ketukan keras pada pintu kaca membuatku terhenyak, seorang petugas dengan wajah paling kubenci menatapku tajam dan mulai menyuruhku untuk melakukan sesuatu agar dapat 'terjual'.
Aku memalingkan wajah dan berpura-pura tak mengerti akan ucapannya. Persetan dengan hal ini. Bongkar ulang saja aku.
Kulirik sedikit padanya dan dapat kutebak bahwa ia sedang menggeram dan ingin sekali memukulku. Aku hanya memberinya tatapan balik sebagai tanda bahwa aku tak takut dengan ancamannya.
Ia hendak membuka pintu dan menarikku keluar sebelum seorang wanita menyentuh bahunya. Ia tersentak, namun membungkuk hormat pada wanita itu. Mereka nampak berbincang sebentar. Dari segala tingkah laku 'barang jualan' lain di dalam ruangan ini dapat kusimpulkan bahwa wanita ini adalah calon pembeli selanjutnya. Dan nampaknya sudah menjadi pembeli tetap di sini.
Aku melihat wanita itu memandangi kami secara bergantian. Ia mengulaskan senyuman yang amat menawan. Hampir saja aku terjatuh ke dalam senyuman itu jika saja aku tidak mengingat bahwa semua orang di sini adalah monster.
Namun ketika wanita itu beralih menatapku, ia tersenyum. Lebih menawan. Dan rasanya sangat hangat di dalam dadaku. Sejenak kurasakan dadaku bergetar melihat senyumannya.
Rasanya seperti melihat senyuman seorang ibu.
Suara decitan pintu tak membuatku melepaskan tatapan pada wanita itu. Hingga akhirnya tanganku tertarik dengan paksa keluar dari dalam ruangan. Sempat aku menggeram untuk kebebasan sebelum aku berhenti tepat di hadapan wanita tadi.
Aku mengerjap-ngerjapkan kedua mataku sembari mendongak untuk menangkap wajah wanita ini. Ia bergerak perlahan dan berjongkok untuk menyamakan tinggi kami. Kurasakan jemari halusnya mengusak rambutku dengan sayang sebelum berujar,
"Siapa namamu, nak?"
Aku tidak menjawabnya dengan segera, melainkan fokus menatapnya. Sedikit tak percaya dengan apa yang dilakukan wanita–monster ini padaku.
Namun kalimat wanita ini selanjutnya mematahkan asumsiku tentang monster kepadanya.
"Jangan khawatir, mulai hari ini anggaplah aku sebagai ibumu."
Kim Yeongju, adalah nama wanita itu.
.
.
.
.
.
.
"Jadi eomma mengambil Jimin dari tempat adopsi?"
Aku melirik sedikit pada bocah lelaki di sebelahku yang sedari tadi menempel padaku. Rangkulannya tak sedikitpun ia lepaskan padaku. Harus kuakui aku sedikit merasa tak terbiasa dengan perlakuannya namun aku tak bisa protes apapun saat kulihat wajah berseri-serinya.
"Ne, Taehyung-ah," wanita–penyelamatku itu mengusak rambut Taehyung–bocah lelaki itu dan kembali mengetik sesuatu pada laptop-nya. "Ah, kau harus bersikap baik padanya, oke? Jimin adalah saudaramu juga, honey." Lanjutnya sembari membetulkan letak kacamatanya.
Taehyung, yang berada di sampingku mengangguk-anggukkan kepalanya dengan semangat. Nampaknya wanita itu sengaja berbohong pada Taehyung tentang identitasku, namun aku pun setuju dengannya. Aku hanya mengangguk lemah saat Taehyung mengenalkan dirinya padaku,
"Hai, namaku Kim Taehyung! Senang berkenalan denganmu, kuharap kita bisa menjadi teman baik!" ujarnya sembari mengeluarkan cengiran khasnya.
Mendadak darahku berdesir saat melihat cengirannya.
Sheesh.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Oke silakan timpuk saya/?
Hyaaaaaaaa mianhae baru kesampean publish/? ;;; biasalah banyak job (baca: nyuci ngepel nyapu/?) wkwkwk
Untuk menebus kesalahan/? saya, habis ini bakalan aku penuhi semua rikuesan pairing kalian yuhuuu~ dan itu bakalan 2k words ke atas tenang saja/?
ok, tinggalkan jejak apapun untuk membuatku bahagia(?) dan apapun tanggapan kalian mengenai cerita ini khuhuhu
critics/comments are warm welcomed, but please do not bash chara and or pairing, thx!
(pojok twitter: sugarnim, yok mari kita menjadi teman~ /emot lope lope/)
seeyou soon~!
