"JIMINNIE?! A-APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI?"

.

.

.

.

.

.

.

scavenged

[!] adegan kekerasan(?), kata-kata kekerasan(?)

Another update yuhuu~ as my apology ;_;

enjoy~

.

.

.

.

.

.

.

#taekookgariskeras (?) (tolong abaikan)

.

.

.

.

.

.

Semilir angin bertiup lebih kencang. Dedaunan terjatuh dari pohon dan terbawa angin dengan mudahnya. Selembar daun hinggap dan menempel di atas kaca sebuah jendela yang sedikit berdebu, namun tetap berkilat. Dari dalam kaca itu terlihat sekelompok besar orang tengah berkumpul di dalam suatu ruangan besar yang terkesan redup, pengap, dan dikelilingi beberapa orang berpakaian seragam putih bertampang bengis. Tatapan tajam dan intimidasi.

"Move, quicker!"

Seruan-seruan kerap terdengar dari seorang lelaki berusia sekitar 30an lengkap dengan kumisnya yang sedikit tebal. Ia tengah berjalan mengelilingi ruangan lengkap dengan gaya andalannya; kedua tangan disilangkan ke belakang, langkah yang mantap, mata elangnya yang tajam. Mengawasi jalannya sarapan pagi hari ini.

Sesekali lelaki itu mengangkat dagunya dan menggoyangkan jemarinya, setelah itu beberapa dari orang berseragam dan bertampang bengis itu akan melakukan sesuatu sesuai perintahnya. Seperti saat ini.

"A-ah," seorang lelaki berseragam menumpahkan kembali sup milik salah satu trainee dengan alasan; "Isinya terlalu banyak,"

Trainee yang malang itu hanya bisa menunduk sembari mengerutkan bibirnya. Padahal sup itu adalah sup miso kesukaannya. Ia menerima kembali mangkuk supnya dan berjalan perlahan menuju meja di mana teman-temannya sudah berkumpul menunggu dirinya.

Ia meletakkan piring sarapannya dan duduk di samping seorang trainee berambut pirang. Mengetahui raut wajahnya yang masam, trainee berambut pirang itu segera menukar mangkuk sup miliknya. Trainee malang di sampingnya tersentak, lalu berusaha protes,

"H-hyung, tidak perlu–" "Ssh, ini kesukaanmu kan, Jungkook,"

Dengan seulas senyum kecil di bibirnya, Taehyung–si rambut pirang–itu memotong segala protes yang ia yakini akan segera keluar dari bibir Jungkook di sampingnya. Menolehkan kepala kembali fokus pada santapannya Taehyung mengambil gelas air dan meneguknya dengan cepat. Memperlihatkan adam apple miliknya yang bergerak naik turun. Membiarkan Jungkook terperangah melihatnya.

Taehyung, menyadari dirinya sedang ditatap oleh Jungkook segera mengulaskan sengiran jahilnya, "Wae baby? Like what you see, huh?"

Jungkook merona dan segera menyikut lengannya, "Jerk,"

Taehyung terkekeh kecil, namun segera terusik dengan tubuh seorang Minwoo yang terdorong menubruk sebelah kanannya. Ia terkejut sedikit dan menangkap tubuh Minwoo yang hampir saja terjatuh menuju lantai yang dingin. "Y-yah?" serunya setengah kebingungan melihat Minwoo yang berusaha bangkit dengan oleng.

Jungkook serta beberapa orang di sekitarnya ikut menatap Minwoo yang nampak lemas. Terutama Sungjae yang berada di seberang Taehyung, ia segera menangkap satu lengan Minwoo dan menggeser duduknya agar pemuda itu bisa duduk di sebelahnya. "Minwoo-yah, gwaenchana?" tanyanya setelah berhasil menempatkan Minwoo di sebelahnya. Taehyung melepaskan genggamannya pada sebelah tangan Minwoo dan menatap pemuda itu dengan kerutan di dahinya.

Minwoo nampak sedikit pucat.

Minwoo meletakkan gelas airnya yang telah tumpah ke lantai akibat kejadian tadi dan mengangguk lemah, berusaha tersenyum pada Sungjae, "..I'm alright.."

Namun mata jeli Taehyung tidak dapat dibohongi, ia tahu Minwoo sedang berbohong. Ia memindai tubuh ramping Minwoo dengan cermat. Saat Sungjae merapikan surainya dan menampilkan kening pemuda itu, Taehyung dapat melihat bulir-bulir keringat di sana. Tempo lenguhan Minwoo juga menjadi lebih intens, sesuatu yang salah pasti terjadi padanya.

"..Ufh.."

Taehyung yang tengah tenggelam dalam sosok Minwoo melirikkan matanya dan melihat Jungkook mengusap pelipisnya. Lenguhan napasnya perlahan menyerupai Minwoo. Ia mengusap pelan lehernya dan mengeluarkan lenguhan berat lainnya. Taehyung bahkan mendengar hembusan napas yang lain dari biasanya.

They're dehydrating.

Taehyung menggeram pelan sembari menatap ke seluruh ruangan. Tak hanya Minwoo dan Jungkook, beberapa trainee lain juga nampak mengipas tubuh mereka, mengusap peluh di sekujur tubuh mereka, bahkan raut wajah mereka jelas sekali menggambarkan sebuah rasa tidak nyaman.

Taehyung menggeretakkan giginya saat dilihatnya taka da satu pun dari penjaga di sini yang mempedulikan hal itu.

"Jungkook, kau nampak lemas, eh? Sama seperti Minwoo," ucapan Jimin di sebelah Jungkook semakin memantapkan Taehyung.

Belum sempat Jungkook merespon ucapan Jimin, Taehyung nampak melepas satu sepatu yang dikenakannya dan tanpa aba-aba melemparkannya menuju kaca yang berada lumayan jauh darinya. Lemparannya tepat mengenai kaca itu dan membuatnya pecah berkeping-keping, menyebabkan suara pecahan yang keras.

Sontak tindakannya mengundang kehebohan dalam satu ruangan itu. Jungkook bahkan yang lainnya menganga tidak percaya dengan tindakan berani Taehyung. Berbagai perasaan bercampur dalam diri mereka, antara kagum, terkejut, dan ngeri.

Seorang lelaki berkumis tadi berjalan menghampiri Taehyung setelah beberapa penjaga lain membereskan pecahan kaca dan berteriak padanya, "You, bastard! Kau tahu apa yang baru saja kau lakukan, hah?!"

Taehyung, dengan sangat berani dan memasang wajah tak takut berdiri tegap dari kursi dan membalasnya, "We're fucking panting because of this fucking heated room and none of you fucking paying attention to this."

Lantas ucapan Taehyung membakar kemarahan di jiwa lelaki itu. Ia mempercepat langkah menuju Taehyung dan kembali berteriak padanya, "Damned Kim Taehyung! Watch your language toward us, your fucking guards here! And besides, this is what the room should be, none of you are allowed to doing fucking thing such as breaking the window and acting like a shit hero!"lengkap dengan ekspresi kebenciannya terhadap Taehyung.

Kerah bajunya dicengkram dengan kuat oleh lelaki itu dan ia menarik Taehyung menjauh dari meja. Tindakan itu mengundang teriakan dari Jungkook serta yang lainnya, "T-Tae-hyung!" kengerian dan kekhawatiran serta ketakutan menghiasi wajahnya.

Taehyung dengan cepat menampik cengkraman lelaki itu dan menepis lengannya, ia kembali menatap lelaki di depannya dengan tatapan mengerikan–persis layaknya tatapannya pertama kali pada Jungkook.

"You son of bitch, my friends are suffering here–your student and most-guarded-people! Do you think I would fucking stay silent like an shitty oak not doing anything?" kembali, dengan sisipan umpatan-umpatan kasar miliknya ia berseru pada lelaki di depannya. Tak takut dengan apapun efek dari ucapannya.

Lelaki di depannya nampak menggeram kesal sembari mengepalkan kedua tangannya.

"Enough of this! Send him to the isolate room! Teach him some manners!"dengan satu titah, dua orang penjaga berseragam yang diketahui adalah anak buah lelaki itu bergerak cepat dan segera mengunci pergerakan Taehyung. Mereka nampak hendak menyeret Taehyung menuju ruang isolasi.

"Who do you think you are?!"seru Taehyung, ia nampak menampik dan melawan cengkraman dua penjaga berbadan besar itu dengan sekuat tenaga. Berbagai teriakan turut mendampingi usahanya, salah satunya berasal dari Jungkook yang berusaha membantunya namun dirinya terhalangi oleh seorang penjaga yang mencengkram lengannya dan membuatnya harus meringis kesakitan, menghalanginya membantu Taehyung. Begitu pun dengan teman-temannya yang lain, keberadaan penjaga-penjaga itu benar-benar meminimalkan ruang gerak mereka.

"Shut up, you little shit!" bentak lelaki berkumis itu pada pekikan Jungkook. Dan itu membuat amarah Taehyung memuncak. Noone could mess with 'his'.

Ia meronta dengan kuat dari cengkraman dua penjaga di sekelilingnya, tak mempedulikan beberapa pelintiran yang didapatnya dari usaha meronta. Ia hanya ingin lepas dan segera meninju penjaga sialan yang bermain-main dengan 'miliknya'.

"You said that you're a fucking guard?! Asshole! Let me go!" Taehyung mengeraskan teriakannya, suara baritone-nya terdengar begitu penuh dengan amarah. Seorang penjaga mencengkram surai pirang Taehyung dan membuat pemuda itu meringis. Seorang lagi menarik tubuhnya menjauh dari ruangan itu. Pekikan tidak terima dari Jungkook serta Jimin dan teman dekat Taehyung yang lain semakin terdengar keras. Bersamaan dengan erangan Taehyung.

Lelaki berkumis itu berjalan menghampiri Jungkook yang ia rasa sebagai pemilik teriakan paling menyebalkan. Ia menyuruh penjaga di depan Jungkook untuk menyingkir lalu segera menampar pipi kiri Jungkook untuk membuatnya diam, "I've said to shut up, you bitch,"

Jemari Jungkook bergerak perlahan ke atas pipinya yang memerah. Tubuhnya bergetar, cairan hangat telah bertengger di kedua maniknya.

Jimin dan lainnya menyaksikan pemandangan di hadapannya dengan ekspresi terkejut bukan main. Mereka terlalu terkejut bahkan untuk merespon. Tubuh mereka ikut bergidik serta pancaran bola mata yang menyiratkan ketidakpercayaan.

Air mata jatuh dengan mantap dari kedua manik Jungkook setelah suara geraman keras terdengar dari sosok Taehyung yang masih berkutat dengan cengkraman dua penjaga.

Taehyung, menyaksikan dengan kedua matanya saat di mana pipi seorang yang amat dicintainya ternodai oleh tamparan seorang bajingan. Rasa amarah kembali mendidih dalam dirinya, ia mengepalkan kedua tangannya dan bersiap akan menghabisi dua penjaga yang mencengkram dirinya lalu setelah itu ia akan menghabisi bajingan yang telah membuat malaikatnya menangis.

"What's going on here?"

Tepat beberapa detik sebelum hantaman Taehyung mengenai dua penjaga itu sebuah suara menghentikannya. Seluruh orang dalam ruangan itu menengok ke arah pintu di mana seorang lelaki tua sudah berdiri sembari melangkah masuk.

Jimin mendapatkan kesadarannya dan segera merengkuh Jungkook yang masih terisak pelan, mengusap surainya, mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja yang dibalas dengan isakan pelan Jungkook. Perlahan Sungjae, Minwoo, Youngjae, yang berada paling dekat dengan dua pemuda itu turut mendekati Jungkook dan memastikan pemuda itu baik-baik.

Taehyung menggeram pada sosok lelaki tua yang semakin mendekatinya, berdecak karena lelaki ini mengganggu apa yang seharusnya ia lakukan. Namun tanpa sepengetahuannya, lelaki berkumis sialan yang tadi menampar Jungkook nampak memasang wajah ketakutan melihat lelaki tua di hadapannya.

Lelaki tua itu berjalan melewati Taehyung dan melirik sebentar pada pemuda itu sembari tersenyum kecil yang hanya diketahui oleh mereka berdua. Seketika Taehyung merasakan sebuah suara 'klik' dalam kepalanya, ia perlahan menjadi tenang, membulatkan mata dan bibirnya lalu bergumam;

"..Could it be..Mr. Min..?"

"Sajangnim! Siswa sialan bernama Kim Taehyung ini berani melawan peraturan dengan memecahkan jendela mengatakan bahwa ruangan ini sangat panas dengan mulut sialannya yang tidak berhenti mengumpat!" ujar lelaki berkumis saat lelaki tua itu berhenti di hadapannya dan memasang wajah seolah-olah berkata jelaskan-padaku-apa-yang-terjadi.

Lelaki tua itu melirik sedikit ke arah Taehyung yang masih berada dalam cengkraman dua orang penjaga. Ia berkata, "Kau juga jaga ucapanmu, Mr. Lee."

Seluruh trainee melihat lelaki berkumis itu menunduk pelan dan meminta maaf pada lelaki tua di depannya, "Ugh, maaf, sajangnim."

Lelaki tua di hadapannya hanya tertawa kecil sembari berkata 'nah, nah,'. Kemudian ia kembali berujar setelah menatap Jungkook dalam rengkuhan Jimin yang nampak ketakutan, "Lagipula benar apa yang diucapkan olehnya, ruangan ini terlalu panas, bukankah akan membuat para siswa tidak nyaman? Buka jendela atau hidupkan pendingin ruangan," lelaki itu bertingkah seolah dirinya merasa kepanasan dengan melonggarkan kerah kemejanya sembari memindai seluruh ruangan dan memasang ekspresi panas.

"T-tapi sajangnim, itu melawan peraturan! Dan juga akan memanjakan siswa–" "Aku tahu apa yang kukatakan. Lagipula anakku Yoongi juga pasti akan mengatakan hal yang sama. Dan, oh, ia sedang dalam perjalanan ke sini. Pastikan kalian tidak mengacaukan segalanya," lelaki tua itu memotong protes yang dilayangkan oleh lelaki berkumis itu. Setelahnya ia kembali tersenyum, membuat lelaki tua itu bergidik kembali mendengar nama Yoongi.

"T-Tuan Muda Yoongi.." lelaki berkumis itu berdecak pelan dan mengepalkan kedua tangannya saat mengucap nama Yoongi. Entah apa maksud dari semua itu, yang dapat dijelaskan sekarang hanyalah raut wajah lelaki berkumis itu yang jauh dari kata 'tenang'.

Lelaki tua itu bergerak mendekati Jungkook yang kembali merasa takut saat seorang asing mendekatinya. Lelaki tua itu terkekeh sedikit sebelum mengacak surai gelap Jungkook dengan perasaan yang sudah lama tak pernah dirasakan oleh Jungkook.

Perasaan hangat layaknya seorang ayah.

Jungkook mengerjapkan matanya begitu mendapat perlakuan hangat tersebut. Ia mengusap rambutnya saat lelaki tua itu melepaskan sentuhannya. Namun mengetahui bahwa lelaki tua ini dipanggil 'sajangnim' yang artinya lelaki tua ini mungkin adalah orang besar yang berpengaruh, Jungkook merasakan kepalanya tertunduk oleh dorongan tangan Jimin yang membuat mereka menunduk hormat pada lelaki tua itu. Dengan cepat Jungkook mematuhi tindakan Jimin dan menundukkan kepalanya. Sedangkan trainee lain mengikuti mereka dengan cepat. Terkecuali Taehyung, yang masih speechless dan berada dalam dunianya sendiri saat melihat sosok lelaki tua itu.

Lelaki tua itu tersenyum dan balas memberi hormat. Setelahnya ia berjalan kembali menuju pintu depan sembari mengecek ke arah jam tangannya.

"Anakku akan segera tiba, aku pergi menyambutnya," ujarnya sembari menengok sekali lagi pada trainee dalam ruangan itu. Segera diikuti oleh lelaki berkumis barusan.

Ia kembali berpapasan dengan Taehyung yang masih menatapnya dengan intens. Kali ini ia berjalan melewati Taehyung tanpa melihat pada pemuda itu. Namun sebelum keluar dari ruangan ia berkata seolah tidak melupakan Taehyung yang masih kesusahan dalam cengkraman;

"Oh, ya, lepaskan cengkraman kalian pada siswa Taehyung itu. Justru kalian harus bersikap baik padanya."

Dengan satu seruan itu Taehyung terbebas. Ia segera sadar dan berlari menghampiri Jungkook. Sedangkan dua penjaga berbadan besar itu berjalan mengikuti sang lelaki tua. Tanpa ada yang mengetahui, lelaki tua itu tersenyum saat berhasil membebaskan Taehyung. Ia mendenguskan napasnya lalu berjalan lebih cepat meninggalkan ruangan.

Para trainee kembali fokus dengan apa yang mereka kerjakan setelah aba-aba dari seorang lelaki yang diketahui sebagai 'wakil' dari lelaki berkumis. Lelaki bersurai coklat dan memiliki tubuh layaknya seorang ahli martial arts.

Lelaki itu memaku tatapannya pada sosok Jungkook yang tengah berada dalam pelukan Taehyung.

Jungkook yang tersenyum lega saat Taehyung kembali dan memeluknya.

Jungkook yang mengangguk kecil saat Taehyung bertanya apakah ia baik-baik saja.

Jungkook yang tertawa kecil saat Jimin berkata bahwa ia menenangkan Jungkook pada Taehyung dan membuat dua pemuda itu berdebat menjadi seseorang yang paling membuat Jungkook merasa tenang.

Jungkook yang mengerjapkan matanya saat Taehyung dan Jimin berebut menyuapinya.

Jungkook yang–

Sangat mendekati ciri-ciri Jeon Jinyoung yang tewas dalam kecelakaan mobil 10 tahun lalu.

Tanpa ada yang menyadari, lelaki itu mengeluarkan pad miliknya dan membuka sebuah tab bertuliskan;

Jeon Jinyoung profile description.

-No data.-

Ia menyeringai pelan.

"I know exactly who you are, Jeon Jungkook. And I will continue to observing more from you."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Yaaaaak! Buat yang nanya kenapa spoiler di ch.7 ga sama kaya di ch.8 karena aku nyisipin masa lalu jimin sebentaran(?) dan alesan kenapa jimin bisa ada di pelatihan juga bakal ada di ch. Depan yaaak wkwkw /ah bilang aja lu gaada ide, Ya/ /dor

Coba tebak lelaki bersurai coklat itu siapa(?) yang bener aku kasih hadiah ciom(?) /gak/ kkk

ok, tinggalkan jejak apapun untuk membuatku bahagia(?) dan apapun tanggapan kalian mengenai cerita ini khuhuhu

critics/comments are warm welcomed, but please do not bash chara and or pairing, thx!

(pojok twitter: sugarnim, yok mari kita menjadi teman~ /emot lope lope/)

seeyou soon~!