Jeon Jinyoung profile description.
-No data.-
Ia menyeringai pelan.
"I know exactly who you are, Jeon Jungkook. And I will continue to observing more from you."
.
.
.
.
.
.
.
scavenged
feels like in the mood to keep continuing this story, so yeah, enjoy~
.
.
.
.
.
.
.
#taekookgariskeras (?) (tolong abaikan)
.
.
.
.
.
.
Kosong..
.
.
Sebelah kanan?
.
.
Kosong..
.
.
Sebelah kiri?
.
.
Kosong..
.
.
Depan?
.
.
Kosong..
.
.
Belakang?
.
.
Kosong..
.
.
Sesosok pemuda berambut pirang melangkahkan kakinya dalam sebuah hamparan pasir luas. Amat luas. Ia berjalan bertelanjang kaki dan menginjakkan panasnya pasir dengan kedua kakinya. Terdengar lenguhan nafas yang tak beraturan dari pemuda itu selagi ia terus berjalan tanpa arah.
Sejauh mata memandang, hanyalah hamparan pasir luas dan tak berujung yang terlihat. Hembusan angin menerpa wajahnya dan deburan pasir mengenai tubuhnya. Tubuh pemuda itu telah terselimuti pasir.
Pemuda itu menggunakan kedua tangannya untuk melindungi wajahnya dari hamparan pasir. Beberapa saat kemudian pandangannya menjadi buram.
Dan ia melihat bayangan sosok yang amat dirindukannya.
Seorang wanita, berambut hitam sebahu dengan senyum rectangle yang menyerupai dirinya.
Pemuda itu melebarkan kedua matanya tidak percaya dengan pemandangan di hadapannya. Ia menurunkan lengannya perlahan menjauhi wajahnya dan membuka mulutnya menjadi sebuah huruf 'o'.
"Eomma..?"
Suara bergetar miliknya hanya dibalas dengan sebuah senyuman dari sosok di hadapannya.
Pemuda itu menenggak salivanya berat-berat dan hendak berlari ke arah wanita itu sembari berteriak, "Eomma!" dan kedua maniknya terlihat berkaca-kaca.
"..Jangan lengah, Taehyung-ah.."
Dengan satu ucapan itu, sosok di hadapannya menghilang sebelum sempat pemuda itu menghampirinya.
Pemuda itu, Kim Taehyung.
"A-ah? Eomma? Eomma?!" Taehyung menoleh-nolehkan kepalanya, berusaha mencari sosok sang ibu yang telah menghilang.
"Taehyung,"
Ia dikejutkan dengan sebuah suara di belakangnya.
Dengan segera Taehyung menolehkan kepalanya dan menemukan sosok Jin tengah menatapnya dengan tatapan yang mengerikan.
"H-hyung?" ujar Taehyung dengan ragu. Ia merasa bingung mengapa Jin ada di tempat seperti ini.
"Jauhi adik kecilku,"
"Apa?"
Kedua manik Taehyung mengerjap-ngerjap bingung. Apa barusan Jin memintanya untuk menjauhi Jungkook?
Di luar dugaannya, Jin mendadak menggeram padanya, "Jauhi Jungkook! Kau hanya akan membawanya ke dalam bahaya! Tidakkah kau menyadari posisimu?!"
Taehyung yang terkejut hanya mampu mematung di tempat. Mendadak ia merasa tubuhnya bergetar. Sesuatu yang sangat ia takutkan akhirnya terjadi. Saat di mana Jin menyuruhnya untuk menjauhi Jungkook.
"Aku tak akan membiarkan adikku kembali ke masa-masa yang mengerikan! Aku tak akan membiarkannya kembali merasakan ketakutan terbesarnya!" Jin mengambil langkah mendekati Taehyung dan kembali menggeram padanya.
"Kau mengerti? Jauhi dia!" "..Aku menolak, hyung,"
Taehyung yang tengah menunduk perlahan mengepalkan kedua tangannya lalu beralih menatap dalam wajah Jin di hadapannya. Dengan perasaan yang berkecamuk ia membalas ucapan Jin, "Tidak ada yang dapat mengatur kehidupanku, meskipun itu dirimu sekalipun, aku tak akan menjauhi Jungkook,"
Jin segera memotongnya, "Kau itu sumber bahaya baginya!"
"Aku tidak bisa!"
Taehyung menggeretakkan giginya dan kepalannya semakin kuat.
"Aku tidak bisa jauh dari Jungkook,"
Tanpa ia sadari, sosok Jin di hadapannya perlahan mengarahkan sebuah senapan riffle ke arahnya. Dengan tatapan mengerikan, nafsu untuk membunuh, Taehyung menatap Jin dengan horror. Apakah Jin hendak menembaknya?
"Kalau begitu tak ada cara lain," Jin telah bersiap untuk menekan pelatuk.
Taehyung yang tak terlindungi apapun hanya dapat menatap Jin tidak percaya.
"T-tunggu, hyung!"
Tatapan Jin semakin mantap untuk menembaknya.
"Goodbye, Taehyung,"
.
.
.
"–Tae.. Taehyung!"
Jimin yang berada di seberang memanggil Taehyung yang sedari tadi bergerak tidak nyaman dalam tidurnya. Ia berusaha membangunkan sahabatnya di tengah malam di mana seluruh orang sedang tertidur.
Dengan satu senggakkan, Taehyung membuka kedua matanya. Ia nampak terengah-engah dan bulir peluh menghiasi pelipisnya. Ia segera bangkit dan berusaha menormalkan deru jantungnya. Jimin yang melihatnya mengerutkan kening, "Nightmare?"
Taehyung menatap Jimin dan menghela nafasnya panjang. Ia menempelkan satu tangannya ke atas kening dan kembali menghembuskan nafas lega. "The worst.. Ever," ujarnya sembari mengingat isi mimpinya barusan.
Mimpi.
Jimin menyibakkan selimutnya dan duduk menghadap Taehyung. Keduanya sama-sama berada di ranjang tingkat bawah dengan Sungjae berada di atas Taehyung dan Minwoo di atas Jimin. Menggunakan tatapan puppy setengah mengantuk miliknya, Jimin kembali tertarik dengan mimpi Taehyung, "Mimpi buruk seperti apa lagi?"
Pemuda di hadapannya tersenyum kecil, seakan sudah mengira mimpi seperti tadi akan menimpa dirinya, "Jin-hyung menembakku,"
Jimin mengerenyitkan keningnya, "Jin..? Jungkook's older brother?"
"Yeah," Taehyung mengangguk. Ia masih tersenyum getir. "Entah mengapa mimpi itu terasa begitu nyata,"
"Tae! Jangan berkata begitu, mana mungkin Jin-hyung menembakmu?" sanggah Jimin dengan cepat, tetap mengecilkan volume suaranya karena roommate lain tengah tertidur.
Taehyung hanya menjawabnya dengan hembusan nafas. Ia memijat pelipisnya. Sesuatu mengganggu pikirannya. Bukan hanya Jin, namun ucapan sang ibu dalam mimpinya terus terngiang-ngiang.
"Jangan lengah, Taehyung-ah,"
Apa artinya itu? Lengah terhadap apa?
Jimin yang masih menatap Taehyung perlahan menguap dan mengusap kedua matanya. "Uwoh, aku mengantuk,"
Taehyung melirik padanya dengan sebuah senyuman kecil layaknya saat dirinya melihat Jimin bertingkah lucu seperti biasa, "Tidurlah lagi, Jiminnie,"
"Kau juga, TaeTae," Jimin merebahkan tubuhnya dan menarik kembali selimutnya. "Jangan terlalu memikirkan mimpi itu, mimpi tidak memberi pengaruh yang amat berarti." ucapnya sembari memberikan cengiran lengkap dengan mata segaris miliknya.
Taehyung selalu merasakan sebuah perasaan nyaman saat melihat senyum seperti itu dari Jimin. Seperti dulu saat mereka masih kecil, Jimin selalu tersenyum seperti itu untuk menenangkan Taehyung saat ia jatuh dalam kesedihan akan sang ibu yang meninggalkannya. Dan Taehyung menyukai senyuman itu.
"Glad that you're here, Jiminnie," Taehyung ikut menarik selimutnya dan merebahkan tubuhnya menatap langit-langit ranjang tingkat di atasnya.
"Yeah, kau pasti tidak mengira bahwa aku bisa berada di tempat ini bersamamu dan Jungkook," Jimin sedikit terkekeh sembari mengatakannya.
"Tentu saja aku sangat terkejut, shortie," ungkap Taehyung lengkap dengan ejekannya.
Jimin mengerutkan bibirnya sedikit, "Aku memiliki alasan tersendiri memasuki pelatihan ini, just like you both guys,"
Mendadak suasana menjadi sunyi. Keheningan menyelimuti kedua pemuda yang masih terjaga ini.
Taehyung menjadi pemecah keheningan tersebut, "Ya, dan aku sudah tahu kau tak ingin memberitahuku alasannya," ujarnya tanpa menatap ke arah pemuda bermata sipit itu.
Jimin memutar tubuhnya menghadap langit-langit layaknya Taehyung, lalu memejamkan kedua matanya, "Yeah, bila sudah waktunya kau pun akan segera tahu."
Taehyung tersenyum kecil selagi menghela nafasnya, "Baiklah, Jimin,"
"Ngomong-ngomong, besok adalah pelatihan resmi kita yang pertama kali–" Jimin melirik ke arah Taehyung.
"–apa yang akan kau lakukan dengan rambutmu itu, Tae?"
Taehyung memegang helaian rambut berwarna pirang miliknya. "Akan kuurus."
Karena pelatihan bergaya militer seperti ini melarang rambut berwarna pirang ataupun warna terang lainnya.
"Oh, aku yakin kau berambut hitam akan benar-benar terlihat mempesona. Taruhan, Kookie tak akan sanggup berkedip saat melihatmu nanti," lanjut Jimin sembari terkekeh pelan membayangkan wajah Jungkook.
"Yah! Hanya aku yang memanggilnya Kookie," protes Taehyung childish.
"Pfft, possessive enough?" ejek Jimin yang segera dibalas dengan erangan tidak setuju milik Taehyung. Pemuda itu berdecih sembari membalikkan tubuhnya, hendak melanjutkan tidurnya.
"Whatever, night Jimin."
Jimin, tertawa penuh kemenangan, karena melihat sikap Taehyung yang menurutnya menggemaskan, membalasnya, "Yeah, night TaeTae."
.
.
.
.
.
.
.
"–Kook.. Jungkook?"
Seorang pemuda berbadan tinggi tengah mengguncang-guncang tubuh Jungkook yang masih terselimut. Dua orang pemuda di sebelahnya akhirnya turut membantu pemuda tinggi itu membangunkan Jungkook.
"Astaga, mengapa ia sulit dibangunkan?" pemuda bernama Youngjae menepuk pelan pipi Jungkook. "T-tapi oh, God, ia benar-benar terlihat cute dengan wajah tidurnya!" Youngjae melanjutkan sembari memekik perlahan melihat wajah tidur Jungkook.
"Hyung, sudahlah bangunkan dia," pemuda tinggi bernama Junhong nampak merengek pada Youngjae–sang hyung–agar membangunkan si sleeping beauty bernama Jungkook.
"Tapi lihatlah, aku beginikan anak ini tetap tidak terbangun! Ya Tuhan, imut sekalii.." Youngjae menekan-nekan pipi gembil milik Jungkook dan bocah itu tetap tidak terganggu tidurnya sama sekali. Dan Youngjae semakin gencar menyentuhnya.
Junhong menggeram selagi sang hyung masih saja bermain-main dengan Jungkook. Beberapa detik kemudian suara berat mengejutkan Youngjae,
"Youngjae-ya, hentikan, kita harus segera membangunkan Jungkook. Sebentar lagi presensi kita pertama kali, dan kau tak ingin terlambat, bukan?"
Orang itu adalah, Mino.
Mendengar titah dari Mino, Youngjae mengerutkan bibirnya sebentar dan menyibakkan selimut Jungkook lalu mengguncang tubuhnya lebih keras. "Jungkook-ah, bangun!"
Jungkook masih mengeluarkan dengkuran halusnya. Youngjae menepuk keningnya tidak percaya dengan kemampuan Jungkook untuk tidur.
Mendadak sebuah suara menginterupsi, "Apa yang kalian lakukan di sini?" dan membuat ketiga pemuda itu tersentak lalu menolehkan kepalanya ke sumber suara.
Oh Sehun.
"A-ah, ini, kami sedang membangunkan Jungkook.." jawab Youngjae, suaranya terdengar tidak stabil sebab pemandangan sosok Oh Sehun di pagi hari benar-benar membuat kedua mata harus mengerjap-ngerjap akan pancaran aura darinya. Metaphore.
Sehun tidak merespon, melainkan hanya menatap ke arah Jungkook. Kemudian ia melempar sebuah handuk kecil ke arah Junhong, "Mandilah, kau belum mandi, 'kan? Nanti bisa terlambat presensi," lalu tanpa melihat reaksi Junhong, ia menepuk pundak Mino, "Hyung barusan kudengar si resepsionis-noona mencarimu, sepertinya ingin bertanya tentang kelengkapan data milikmu," setelahnya ia beralih pada Youngjae yang tengah duduk di atas ranjang Jungkook, "Kupikir tadi Jongup dari ruang 387 memanggilmu, ia temanmu, bukan?"
Setelahnya ketiga pemuda itu beranjak meninggalkan ruangan, Junhong pergi ke kamar mandi, Mino mencari sang resepsionis, dan Youngjae pergi ke ruang 387 menemui Jongup. Semuanya terlihat menuruti kata-kata Sehun.
Sehun menatap kepergian ketiga pemuda itu dengan raut wajah datar biasa miliknya. Perlahan bibirnya menyungging kecil, lalu ia beralih menatap Jungkook.
Something would happen..
Ia menduduki ranjang Jungkook tepat di posisi Youngjae barusan, dan tidak melepaskan pandangannya pada Jungkook. Ia menutup bibirnya dengan satu tangan, menutupi senyuman yang terulas di atasnya. Berkali-kali ia bergumam 'stupid' sembari merona pelan.
Blushing?
Sehun menolehkan kepalanya dan menenggak salivanya pelan. Lalu bergerak mendekati wajah Jungkook. Tepat di telinga, Sehun meniup pelan telinga Jungkook sembari berkata, "Wake up,"
Tindakannya mengundang tubuh Jungkook untuk bergidik akibat tiupan di telinganya. Perlahan ia membuka kedua matanya lalu mengerjap-ngerjapkannya. Sebuah lenguhan kantuk keluar dari bibir merahnya. Sehun sudah bangkit dari duduknya saat Jungkook membuka matanya pertama kali. Pemuda itu segera menjauhi Jungkook dan tak ingin Jungkook melihat wajahnya. Yang memerah.
Jungkook bangkit dari tidurnya perlahan dan mengusap-usap matanya, layaknya bocah kecil. "..Sehun-ssi?" ujarnya pelan saat menatap punggung Sehun.
"..hyung, sudah kubilang panggil saja 'hyung',"
Hanya itu jawaban yang didapat oleh Jungkook. Pemuda itu masih belum sadar sepenuhnya, ia hanya mengangguk kecil sembari sesekali menguap pelan.
Sehun melirik ke arah Jungkook dan menyesalinya, sebab Jungkook memberinya sebuah senyuman yang memamerkan gigi kelinci lucu miliknya.
Dan Sehun tak bisa lebih gila dari itu.
.
.
.
.
.
Seluruh trainee berkumpul di tengah lapangan besar dan luas. Ditemani dengan terik matahari pagi yang menyehatkan. Berseragam, terlihat sangat teratur, mereka berbaris tegap. Menunggu sosok komandan yang akan memulai presensi pertama kali.
Seorang pemuda berambut cokelat nampak mengitari para trainee satu per satu sembari mempelajari wajah mereka. Pemuda yang menjabat sebagai wakil komandan. Pemuda tempo hari saat insiden Taehyung memecahkan kaca yang mengurus trainee setelah kepergian sang ketua sebenarnya. A man who seems really interested in Jungkook.
Taehyung yang berbaris sejajar dengan Jungkook memberikan tatapan tajam miliknya pada wakil komandan berambut cokelat ini saat wakil itu berjalan melewati dirinya yang bertubuh lebih tinggi. Entah mengapa Taehyung menganggap tatapan wakil komandan ini sangat aneh, jadi ia memutuskan untuk mengekor ke manapun wakil itu pergi. Termasuk saat berada di depan Jungkook.
Pemuda itu menatap Jungkook dari atas hingga ke bawah, benar-benar teliti, tanpa meninggalkan satu inci dari tubuh Jungkook. Begitu Jungkook menatapnya dengan tatapan bingung khasnya, pemuda itu membalasnya dengan sebuah senyuman.
Dan lagi-lagi Taehyung harus mengerenyitkan keningnya karena senyuman pemuda itu benar-benar menyimpan sejuta keanehan.
"Jeon Jungkook, right?"
Jungkook mengangguk kecil, sedikit nervous, "N-ne,"
Pemuda itu tersenyum sekali lagi, lalu berjalan meninggalkan Jungkook, "May luck be with you,"
Meninggalkan Jungkook yang tercengang.
Pemuda itu kembali ke posisinya dan telah disambut oleh seorang lelaki berkumis. Lelaki yang amat dibenci oleh Taehyung.
"Good job, Mr. Jung. From now on I'll be taking the commandos, thanks for your work." ujar lelaki itu pada pemuda berambut cokelat yang dipanggilnya 'Mr. Jung'.
Pemuda itu membungkuk hormat pada si lelaki sembari berkata, "Thank you, sir. I'll be on my position now." Dan setelahnya berjalan menjauhi barisan kembali ke dalam bangunan.
"Perhatian, murid-murid!" dengan beberapa tepukan lelaki berkumis itu mengambil alih komando dan membuatnya menjadi pusat perhatian.
"Mulai dari detik ini aku adalah komandan kalian dalam pelatihan. Pelatihan ini terbagi menjadi tiga bagian. Di mana bagian pertama hanya memakan waktu sekitar dua minggu, yaitu sekarang," ujarnya dengan suara lantang.
"Pagi hari hingga matahari berada di tengah adalah waktu latihan sesi pertama. Berlanjut dari setelah istirahat siang hingga matahari tenggelam adalah sesi kedua. Dari tenggelamnya matahari adalah waktu berakhirnya latihan. Hal ini akan berlanjut hingga kurun waktu dua minggu, harap perhatikan dan pahami baik-baik. Tidak ada perilaku manja dan curang dalam pelatihan ini. Bagi yang terbukti melakukannya akan dikenakan sanksi. Paham?"
Para trainee serempak menjawab. Dan entah mengapa Taehyung merasakan tatapan si komandan itu tertuju padanya. Sangat tajam. Setelahnya ia bersumpah melihat sebuah seringai tantangan dari komandan itu. Taehyung menggeram penuh rasa benci padanya. Ia mengumpat perlahan mengapa orang macam itu harus menjadi komandannya?
"Latihan akan segera dimulai, move move! Pemanasan terlebih dahulu, ikuti gerakan instruktur!"
Mengesampingkan egonya sementara, Taehyung memutuskan untuk fokus pada pelatihan pertamanya.
.
.
Dari kejauhan nampak sosok pemuda berambut cokelat tengah menatap ke arah barisan trainee yang sedang melakukan pemanasan. Lengkap dengan sebuah pad kesayangannya yang menampilkan sebuah tulisan dengan judul 'Jeon's kid observation, day 1'.
Maniknya menatap sosok pemuda yang tengah bergerak mengelilingi lapangan bersama dengan trainee lainnya. Bagaimana pemuda itu terengah, menyeka keringatnya, mengembungkan pipinya, menghela nafasnya, semua itu tercatat dengan rapi di dalam pad miliknya.
Nampaknya ia menemukan spot terbaik di mana tak ada seorang pun yang melihat. Dan ia bisa dengan bebas melakukan observasinya.
Sebuah getaran mengejutkannya. Ia menatap ponsel miliknya dan sebuah pesan bertuliskan;
Hoseok-ah, bagaimana?
-Tiffany
Pemuda itu menatap pad lalu ponselnya bergantian. Dengan cekatan ia mengetik jawaban.
Aku tengah dalam observasi, noona. Nanti kuhubungi lagi.
Setelahnya ia kembali menatap sosok Jungkook yang tengah tersenyum malu dengan sosok Taehyung di hadapannya. Ia berasumsi bahwa saat ini kedua pemuda itu tengah bercengkrama sebab Jungkook menundukkan kepala dan berusaha memalingkan wajah dari Taehyung. Setelahnya Jungkook berlari meninggalkan Taehyung menuju Jimin yang sudah tertawa-tawa. Sekelebat ia mengingat warna rambut Taehyung kemarin dan sekarang berubah, mungkin itu sebabnya. Karena Taehyung nampak begitu breathtaking dengan rambut hitam miliknya.
"Anak lelaki Yeongju itu selalu berada di dekat anak lelaki Jihoon, dan anak itu selalu memberiku tatapan mematikan, membuatku sulit mengamati anak lelaki Jihoon." gumamnya sembari kembali mengutak-atik data tentang Jungkook miliknya.
"Seminggu lagi," ia memberi jeda sejenak, kemudian tersenyum kemenangan. "Lalu aku akan bermain dengan Kim Taehyung itu."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Yep aku tak punya kata2 yang ingin disampaikan selain terima kasih sudah membaca~! /bows/
ok, tinggalkan jejak apapun untuk membuatku bahagia(?) dan apapun tanggapan kalian mengenai cerita ini khuhuhu
critics/comments are warm welcomed, but please do not bash chara and or pairing, thx!
(pojok twitter: sugarnim, yok mari kita menjadi teman~ /emot lope lope/)
seeyou soon~!
