"Seminggu lagi," ia memberi jeda sejenak, kemudian tersenyum kemenangan. "Lalu aku akan bermain dengan Kim Taehyung itu."

.

.

.

.

.

.

.

scavenged

hey, I updated~!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

November, 6th. Partly sunny with intermittent clouds.

.

.

BANG!

Begitulah bunyi nyaring bersahut-sahutan pada siang hari saat matahari masih menunjukkan keeksisannya di langit luas. Seakan menjadi saksi bisu menyaksikan performa latihan dari ratusan trainee di tanah pertiwi. Mengagungkan besarnya kekuatan dan kecepatan revolver masing-masing dan kelincahan gerak-gerik tubuh mereka saat melewati ujian yang harus dilakukan.

Bola mata bulat nan indah milik seorang pemuda berusia 17 tahun bernama Jungkook turut mengikuti irama gerakan peluru dan target di depannya. Meskipun kedua tangannya sempat bergetar hebat kala ia menangkap pandangan dari sang kakak yang mengawasinya, ia tetap menyelesaikan ujiannya dengan cukup mudah.

Kakaknya?

Mundur dari beberapa jam yang lalu, seorang pemuda yang berada di usia dua puluhannya mendadak muncul di hadapan Jungkook dan membuat Jungkook hampir melompat dari barisannya saat melihat batang hidung pemuda itu.

"Students, ini adalah lulusan terbaik akademi periode yang lalu, Kim Seokjin. Beri apresiasi,"

Terdapat tiga pasang mata yang membesar saat mendengar nama itu. Tersebutlah Kim Taehyung, Park Jimin, dan Jeon Jungkook itu sendiri.

"…Hyung..?"

"Jeon Jungkook, fokus!"

Jungkook tersentak begitu mendengar titah mentornya yang membuyarkan lamunannya sejenak. Titah yang berasal dari Seokjin.

Jungkook buru-buru memasang kuda-kudanya kembali dan menatap lurus ke arah target yang bergerak oleh mesin. Target berbentuk bulat dengan bermacam poin tertulis di atasnya. Masing-masing poin berperan sebagai penilaian, poin tertinggi berada di posisi paling tengah dan paling kecil ukurannya. Trainee yang berhasil dengan mulus mendapatkan poin tertinggi itu tanpa kesalahan satu kali pun, berhak menyandang title sebagai 'best spotter' (seorang pendamping sniper yang bertugas menjadi 'mata', mengukur jarak target, mengamati tembakan dengan menyesuaikan bidikan sniper, dan pelindung tim).

Dua tembakan dilayangkan olehnya. Sebelumnya, ia kerahkan seluruh konsentrasi dan ia tumpu pada titik target yang ia hendaki, lalu Jungkook melepaskan dua tembakan sekaligus menuju titik terkecil dalam bidang target yang tengah bergerak.

BANG! BANG!

Kedua peluru tersebut menyesak dengan tepat di tengah-tengah target dan lubang hasil tembakan saling menimpa satu sama lain. Membuat dua poin sempurna untuk Jungkook. Lagi.

Pemuda itu terengah sesaat begitu mendapatkan hasil yang di luar perkiraannya. Ia tak sengaja menekan dua kali pada pelatuk M-4 miliknya. Keberadaan Seokjin menjadi faktor terkuat yang mendorongnya melakukan demikian.

Jin tengah menatap dengan penuh kekaguman apa yang dilakukan sang adik. Setelah cukup berpikir, ia menepuk pundak adiknya sambil berkata,

"Well played, Jungkook-ah,"

Kemudian memberi usapan kecil di atas kepala sang adik dengan dipenuhi rasa sayang. Mengundang senyuman kecil di bibir melengkung sang adik.

"Terima kasih, mentor!"

Bersamaan dengan bel tanda jeda berbunyi, kedua saudara itu tertawa bahagia.

"Seluruh mentor diperintahkan untuk kembali dan biarkan para trainee beristirahat." Gema dari mikrofon keras yang terdengar sampai seluruh penjuru wilayah pelatihan membuat Jin harus kembali ke dalam gedung. Ia tersenyum bangga pada sang adik,

"Sampai nanti, Kook," ujarnya sembari melambai pelan dan berbalik badan segera menuju ke dalam.

"Dah, hyung!" sedangkan Jungkook meletakkan senjatanya ke tanah dan membalas lambaian sang kakak dengan semangat. Kemudian ia menyeka bulir-bulir peluh yang singgah di pelipisnya.

Nampak dua orang pemuda bersenjata menuju ke arahnya. "Jungkookie," seseorang di antaranya yang bersatus sebagai kekasih Jungkook langsung memberinya senyuman maut. "Jungkook!" sedang yang satunya yang nampak paling pendek di antara mereka langsung bergelayut di tangan Jungkook.

"Ah, hai hyung," balas Jungkook dengan senyuman yang tak pudar dari wajahnya. Taehyung, yang sebelumnya hendak menggandeng lengan Jungkook merasa sedikit risih, "Jimin, lepaskan Jungkook," titahnya dengan penuh nada ketidaksukaan.

Hal itu malah mengundang seorang Jimin untuk menggodanya, "Kenapa? Jungkook saja tidak masalah," jawab Jimin sembari tersenyum jahil. "Kau tahu? Hubunganku dengan Jungkook tak kalah intim darimu," lanjut Jimin seraya berusaha mencium Jungkook. Hal tersebut memancing kemurkaan Taehyung.

"Yaahh!" ia segera mendorong tubuh Jimin menjauhi Jungkooknya. Lalu dengan posesif memeluk dan melindungi Jungkook dari terkapan Jimin. Sedangkan Jimin hanya tertawa puas karena berhasil mengerjai Taehyung. Jungkook sendiri hanya mampu merona sembari tertunduk malu dan terkadang terkekeh geli melihat kelakuan dua orang hyung-nya.

"Easy, easy, tak ada yang akan merebut Jungkook darimu, Tae," ucap Jimin masih di sela-sela tawanya.

Taehyung kembali mengeluarkan protes dan berdebat sejenak dengan Jimin. Sebelum suara perut Jungkook menggema.

"A-ah, mianhae.." Jungkook dengan malu menundukkan muka sembari mengusap perutnya dengan satu tangan. Taehyung dan Jimin menatap satu sama lain, lalu tertawa.

"Sorry, angel, kami membiarkanmu kelaparan. Ayo sekarang kita makan," ujar Taehyung sembari mengaitkan jemarinya dengan Jungkook. Lalu berjalan menuju ruang kantin meninggalkan Jimin yang sedang mengerucutkan bibirnya dengan sengaja.

"Angel? Ew, kau menjijikkan Taeee,"

.

.

.

.

.

.

"Jadi, Jungkook, kau mau menjelaskan kenapa kakakmu bisa ada di sini dan bahkan menjadi mentormu?" Jimin membuka percakapan setelah mereka bertiga menemukan tempat untuk makan siang mereka. Bersama Minwoo, Youngjae, Junhong, Sungjae, Jongup, dan (sangat mengejutkan) Sanghyun. Karena biasanya Sanghyun tidak ikut bergabung bersama mereka, membuat Jimin kembali penasaran, namun ia menyimpan rasa penasarannya untuk nanti.

"Eh? Mentornya Jungkook itu adalah kakaknya?" Youngjae ikut membuka suara selagi memindahkan paprika ke atas piring Junhong (Junhong: tidaaak, hyung!).

"Wow!" "Masa', sih?" "Hee? Kakak Jungkook?" "Benarkah?"

Begitu macam-macam reaksi yang diberikan oleh sisa pemuda itu. Taehyung yang duduk di sebelahnya menatap Jungkook yang terlihat sedikit ragu untuk menjawab. Pemuda itu memberi death glare pada Jimin karena telah membuat Jungkook harus meladeni pertanyaan-pertanyaan. "Wah, santai saja Kim Taehyung~" kata Jimin setelah dirinya mendapat tatapan mematikan itu.

Jungkook memainkan sendoknya di atas piring yang hampir setengahnya dihabiskan, lalu menggigit bibir bawahnya. Beruntunglah Kim Taehyung kuat iman (tidak, bukan saatnya).

"Aku tak begitu mengerti sejujurnya. Aku hanya tahu bahwa Jin-hyung memang menjadi lulusan terbaik dan mendapatkan hak khusus untuk mentoring, namun aku tak menyangka ia memilih untuk menjadi mentorku," jawabnya sembari menghela napas.

Anggukan dari teman-temannya menandakan bahwa mereka mengerti, namun kepribadian seorang Youngjae yang tidak bisa diam memunculkan satu pertanyaan,

"Apa bukan karena kau itu adiknya jadi kakakmu memilih menjadi mentormu?"

Setelahnya kumpulan koor pemuda 19 tahun berteriak, "Hyung!" dengan kompak pada Youngjae.

Youngjae terhenyak sembari berhenti menggigit dagingnya, "Apa?" dengan polosnya ia bertanya.

Sungjae menepuk keningnya tak percaya dengan reaksi Youngjae. Sementara Junhong dan Jongup menyembunyikan wajahnya akibat malu dengan sikap sang hyung.

Jungkook mengerjapkan matanya ketika mendengar pertanyaan Youngjae. Ia menatap pemuda 3 tahun lebih tua darinya, menghiraukan suara-suara lain. Beberapa saat kemudian ia tersenyum,

"Mungkin kau benar, hyung. Jin-hyung memilih menjadi mentorku karena aku adalah adiknya,"

Pemuda-pemuda di sekelilingnya menatap Jungkook tidak percaya. Taehyung hampir memotong ucapannya, "Jung–"

"Justru karena aku adalah adiknya, Jin-hyung ingin aku membuktikan bahwa aku tak terlihat lemah ataupun manja di hadapan mentorku sendiri. Ia sengaja menjadi mentorku untuk membuktikan pada semuanya bahwa aku tidak akan lemah hati dan tetap teguh meski mentorku itu adalah hyung-ku sendiri." Lanjut Jungkook panjang lebar yang menggugah hati pemuda-pemuda di sekelilingnya.

Taehyung menjadi yang pertama bereaksi, "Kau tidak lemah, dan kau berhasil membuktikannya," ujarnya sembari meraih kedua tangan Jungkook dan menggenggamnya erat. Nampak seberkas kilatan matanya yang berkaca-kaca setelah mendengar ucapan Jungkook yang begitu bijaksana.

Setelahnya Jimin berseru, "Benar, kau tidak lemah, Kook!" penuh dengan semangat. Disambut dengan teriakan koor Sungjae, Jongup, Minwoo, dan Junhong.

Sedangkan Youngjae masih menatap Jungkook yang sedang dikelilingi oleh para hyung-nya dengan mata yang berkaca-kaca.

"Jungkook," ucapnya memecah keramaian yang terjadi di sekitar Jungkook.

Youngjae tersenyum penuh rasa kagum pada Jungkook, lalu ia bergerak menghampiri pemuda bermata bulat itu. "Kau pure sekali, Jungkook," pujinya sembari merengkuh tubuh Jungkook dari samping. "Entah mengapa aku merasa sangat bangga padamu," pujinya lagi sembari mencubit pipi gembil nan menggemaskan milik Jungkook. "Uh, jadilah kekasihku,"

Mendadak, seorang Kim Taehyung dengan murka kembali menarik tubuh Jungkook menjauhi Youngjae, "Like hell, hyung," seakan memberi isyarat bahwa Jungkook adalah miliknya, ia memberi tatapan mematikan pada Youngjae.

Youngjae segera tertawa cukup keras mendapat reaksi lucu Taehyung. Kemudian ia ber-high five dengan Jimin, "Kau benar, Jimin, mengerjai Taehyung itu mengasyikkan!" ia tertawa bersama Jimin yang terlihat begitu terhibur dengan pemandangan di hadapannya.

Wajah Taehyung merona hebat, ia menyembunyikan rasa malunya di ceruk leher Jungkook sambil bergumam kata-kata umpatan untuk Youngjae dan Jimin. Jungkook ikut tertawa akan tingkah laku Taehyungnya yang sempat membuatnya merasa gemas.

Teriakan-teriakan dari Sungjae dan Jongup memperparah kondisi Taehyung. Pemuda malang itu terlihat semakin memerah, campuran antara rasa malu ataupun kesal. Jungkook yang merasa harus melakukan sesuatu membalikkan badannya dan berbisik di telinga Taehyung,

"Jangan khawatir hyung, aku hanya milikmu,"

Ucapan Jungkook memang menghangatkan hati Taehyung, namun malah menambah rona merah di seluruh wajahnya. Ia segera menolehkan wajahnya ke arah lain untuk menenangkan dirinya dari segala teriakan-teriakan teman-temannya. Jungkook yang merasa puas, teralihkan dengan canda tawa teman-temannya. Ia beralih dari menatap Taehyung.

Sementara Taehyung yang masih merona mendadak memikirkan arti keberadaan Jin di dalam pelatihan. Perlahan mimpi buruknya melintas di kepalanya. Mimpi saat Jin menyuruhnya untuk menjauhi Jungkook. Mimpi yang benar-benar membuatnya merasakan salah satu ketakutan terbesarnya.

Ia membuang napasnya berat. Memutuskan untuk tidak menghancurkan atmosfer bahagia saat ini, ia melenyapkan semua kenangan mimpi buruknya. Ia kembali menatap Jungkook yang tengah bersenda gurau dengan Minwoo dan langsung meletakkan satu tangannya ke atas pundak Jungkook. Mengundang tatapan bingung dari sang empunya pundak.

"Hyung? Sudah kembali?" tatapan bingung itu terhapus dengan senyuman manis yang mampu mengalihkan perhatian Taehyung dari apapun. Dengan gemas Taehyung menjawab, "Kembali untukmu, baby,"

Ucapan Taehyung menyebabkan efek suara muntah pura-pura dari teman-teman di sekelilingnya. Terutama Sungjae yang berada di seberang Taehyung, "Ew, manis sekali sampai membuatku diabetes," lalu Jimin yang berada di sebelah Sungjae, "Cheesy, cheesy!" namun tidak bagi Jongup, Junhong, dan Minwoo. Mereka bertiga hanya kompak tersenyum-senyum melihat tindakan lovey dovey Taehyung. Dan tersenyum gemas melihat reaksi Jungkook yang menyembunyikan wajahnya dengan dua tangan sembari menyandar pada dada Taehyung.

Sementara Youngjae, "Oh, baby Jungkook! Daddy Taehyung!" pemuda itu terlalu hyper dan berseru semangat, membuat wajah kedua pelaku merah matang. "Sounds kinky,hyung!" tambah Jimin, yang membuat suasana lebih memanas.

Sedangkan seorang pemuda yang paling tua di antara mereka, Sanghyun, memilih untuk hanya diam dan memperhatikan mereka. Ia duduk tepat di sebelah Minwoo dan terkadang menggenggam tangan pemuda itu di balik meja. Menyebabkan semburat merah muncul di kedua pipi Minwoo. Beruntungnya, mereka duduk di posisi paling pojok dan tertutupi oleh kebisingan yang Jimin dan Youngjae lakukan. Namun gerak-gerik mereka nampaknya tercium oleh Youngjae yang duduk dipisahkan oleh tubuh Junhong di antara Minwoo dan Sanghyun (Youngjae menyesak di antara Jungkook dan Junhong sejak tadi ia memeluk tubuh Jungkook).

"Ya, Park Sanghyun-hyung dan No Minwoo! Jangan pikir aku tidak mengawasi kalian sejak tadi," seru Youngjae tiba-tiba lengkap dengan tawanya. Target ia selanjutnya setelah Taehyung-Jungkook nampaknya adalah Sanghyun-Minwoo.

"N-n-ne, hyung?" Minwoo nampak panik dan terbata-bata menatap ekspresi Youngjae. Pemuda itu membulatkan matanya menyaingi ekspresi terkejut Jungkook.

"Huh, aku tahu kalian itu ada apa-apanya," lanjut Youngjae sembari memasang mimik bak detektif. Ia mengusap hidungnya dengan telunjuk kanan dan hendak menaiki atas meja untuk mengungkap kebenaran di antara Sanghyun dan Minwoo (untung saja Jongup menghentikannya).

Sanghyun yang tetap berekspresi tenang akhirnya berbicara, "Oh, sudah tahu apa saja tentang kami?" ujarnya dengan menekankan kata 'kami'. Sontak, mengundang rasa keterkejutan dari yang lainnya.

Ditambah lagi saat Sanghyun dengan sengaja mengeluarkan tautan tangannya dengan Minwoo dari bawah meja ke atas meja. Bersamaan dengan smirk yang ia keluarkan tiba-tiba saat teman-temannya menatap tautan mereka tidak percaya.

"Aku tahu itu! Aku sudah tahu kalian memang ada sesuatu!" aku Sungjae dengan bersemangat seolah-olah dirinya adalah yang pertama kali mengetahuinya. "Sudah kuduga!" timpal Jimin. "Waaah.." komentar Jongup. "Terlihat cukup jelas," ungkap Taehyung.

Sementara Junhong dan Jungkook hanya mengerjap-ngerjapkan mata dan membulatkan bibir mereka. Nampaknya mereka berdua tidak tahu sama sekali.

Youngjae dengan berkobar-kobar berseru, "FINALLY!" seraya menggebrak meja dan membuat mereka menjadi pusat perhatian. "Aah, maafkan aku.." ujar Youngjae sembari menundukkan kepala dan mengecilkan volume semangatnya.

Sanghyun terkekeh melihat tingkah laku Youngjae, namun segera terpotong dengan ucapannya, "Huh, akhirnya. Kalian pikir memang aku tidak tahu saat kalian sedang bermesra-mesraan di dalam kamar saat semuanya sudah tertidur?" pernyataan Youngjae membuat Sanghyun dan Minwoo tersentak. Minwoo merona kembali, sedangkan Sanghyun terlihat salah tingkah, "B-bagaimana k-kau bisa melihatnya?"

Jungkook dan Junhong bersahutan, "Benarkah, hyung?" lengkap dengan ekspresi lucu mereka.

Youngjae melipat tangannya dengan bangga berseru, "Tentu saja! Jangan kalian berani remehkan kemampuan seorang Yoo Youngjae," disusul dengan tawa puasnya.

"It's official! Official!" pemuda-pemuda itu saling bersahutan menggoda Sanghyun dan Minwoo dengan mengatakan bahwa hubungan mereka sudah resmi. Bahkan mereka bergantian memberikan selamat. Jimin dan Sungjae menjadi yang paling heboh dan berisik.

Setelah selesai dengan segala ucapan selamat, Sanghyun kembali berbicara, kali ini kepada Taehyung yang sedang menyuapi Jungkook dengan puddingnya, "Oi, Taehyung,"

Taehyung yang tengah menikmati suap-menyuap dengan Jungkook menjawab, "Ya?" dan mengalihkan perhatiannya pada Sanghyun yang tidak biasanya menyapa dirinya.

Sanghyun membantu Minwoo membuka bungkus pudding coklat (Minwoo merasa ingin menghabiskan puddingnya seperti Jungkook), "Waktu itu kau berkata bahwa kau mendapat mentor paling buruk. Apa kau punya pengalaman tidak enak dengan mentormu itu?" tanya Sanghyun.

Taehyung menghentikan aktivitasnya menyuapi Jungkook. Ia letakkan sendoknya dan memasang ekspresi yang sulit diartikan.

Di dalam pelatihan ini, mereka terbagi menjadi dua bagian, sniper dan spotter. Taehyung, Sanghyun, Jimin, dan Junhong berada di wilayah sniper. Sedangkan Jungkook, Minwoo, Sungjae, dan Youngjae di wilayah spotter. Wilayah keduanya terletak berjauhan. Minggu sebelumnya mereka telah disaring kemampuannya masing-masing. Dari hasil saringan tersebut didapatkan keputusan bahwa tim sniper adalah yang memiliki kemampuan menembak dan reaksi cepat, dan tim spotter adalah yang memiliki kemampuan penglihatan tajam dan tepat sasaran.

Kebetulan saat berlatih Taehyung berada tepat di sebelah Sanghyun, dan keduanya sempat mengobrol sedikit. Sanghyun mendengar gumaman Taehyung saat ia mengetahui siapa yang akan menjadi mentornya pertama kali.

"Memangnya siapa mentormu, hyung?" giliran Jungkook yang merasa ingin tahu.

Bahkan seorang Jimin ikut memasang wajah penasarannya.

Taehyung melenguh sejenak sebelum menjawab, "Ia mengenalkan diri dengan nama J-Hope, tapi kuyakin itu bukan nama sebenarnya,"

Jawabannya mengundang anggukan dari yang lain. Taehyung meneruskan ucapannya, "Pengalaman tidak enak, yah, ada. Waktu pertama kali kita dikumpulkan berbaris di lapangan, apa kalian ingat wajah seseorang yang menjadi wakil komandan sebelum komandan yang asli datang?" tanyanya.

Beberapa dari temannya mengerutkan dahi, mengingat-ingat siapa orang yang dimaksud Taehyung.

Sementara Sanghyun nampak menyadari sesuatu, "Oh, aku ingat. Waktu itu aku berbaris di belakangmu dan sepertinya kau sempat beradu pandang beberapa saat dengan orang itu, bukan?"

"Yeah. Tatapan orang itu sangat aneh dan mencurigakan, terlebih saat ia menatap Jungkook dan mengatakan sesuatu yang lebih aneh lagi. Jadi aku tak suka dengannya." Ungkap Taehyung.

"Mengatakan sesuatu yang aneh? Apa itu, Jungkook?" Sanghyun kembali dengan rasa penasarannya bertanya pada Jungkook. Kali ini pusat perhatian berpindah kepada Jungkook.

Jungkook mengerutkan kening dan menjawab, "Uhm, kalau tidak salah ia hanya berkata 'kau Jeon Jungkook, 'kan?' dan 'semoga keberuntungan menyertaimu',"

Sanghyun yang mendengarnya ikut mengerenyitkan kening. Ia memasang ekspresi berpikirnya, "Langka sekali seorang wakil komandan menghafal nama seorang trainee yang baru masuk.." ujarnya.

"Yah, aku pun merasa curiga. Sebenarnya hari ini adalah hari ke-7 saat pertama kali aku memutuskan untuk mencari tahu tentang mentorku itu. Namun sampai detik ini belum menghasilkan apa-apa selain informasi bahwa ia adalah mentorku," lanjut Taehyung.

Mendadak, tubuh Jungkook bergidik begitu mendengar pernyataan jujur Taehyung. Entah mengapa ia merasa ada seseorang yang tengah mengulik-ulik informasi mengenai dirinya. Akan tetapi, perasaan itu tidak begitu menakutkan sehingga ia berpikir bahwa ini sekedar ketakutannya semata.

Perasaan aneh.. gumam Jungkook sembari memegang dadanya. Taehyung yang menyadari sikap Jungkook segera mengelus kepalanya memberikan ketenangan.

"Tak usah khawatir, tak ada yang akan membiarkanmu dalam bahaya, kupastikan itu," ujarnya, "Lagipula itu hanya dugaanku semata, belum tentu benar, Kookie.." ia memberikan satu kecupan penenang pada kening Jungkook yang dibalas dengan senyuman manis.

Hal tersebut kembali memancing kehebohan teman-temannya.

.

.

.

.

.

Di sisi lain, Jin tengah menuliskan sesuatu ke atas kertas laporan tentang anak didiknya di dalam ruangan yang berisi mentor-mentor lain. Ia sebagai mentor Jungkook harus menulis perkembangan anak didiknya, tanpa memandang status keluarga. Jin pun mengetahui kewajibannya, ia tak akan dengan sengaja menulis hal yang bagus-bagus pada laporan harian Jungkook. Meskipun adiknya sendiri, Jin tahu peraturan yang berada di pelatihan.

Seorang pemuda berambut coklat dan tengah memegang sebuah laporan bergerak mendekatinya. Pemuda itu duduk di sebelah Jin dan menyapanya,

"Hei, kudengar kau adalah Kim Seokjin?"

Jin menoleh dan menghentikan kegiatan menulisnya. Ia tersenyum dan menjawab, "Ya, benar. Biar kutebak, kau juga seorang mentor?"

Pemuda itu mengangguk sembari memberikan jabatan tangannya untuk disambut oleh Jin,

"Yeah, senang berkenalan denganmu. Panggil saja aku J-Hope,"

.

.

.

"J-Hope? That's ridiculous name, oppa!"

"Nah, Jung Yein, arti nama 'Hope' adalah 'harapan', itu berarti oppa akan menjadi sebuah harapan bagi keluarga kita, kau tahu itu?"

"Jadi, oppa adalah seorang harapan dari keluarga Jung, begitu?"

"Benar sekali, Yein-ah,"

"Tak perlu bicara begitu oppa sudah menjadi harapan untukku!"

.

.

.

.

"J-Hope? Nama yang unik," ujar Jin sembari terkekeh melihat senyum pemuda yang mengenalkan diri sebagai J-Hope tersebut.

Pemuda itu menyeringai, "Ya, nama itu mengandung arti yang berharga bagi adik perempuanku,"

Segera Jin merasa tidak enak hati, ia cepat-cepat berujar, "Oh, maafkan aku jika ucapanku menyinggung perasaanmu dan adikmu.."

Pemuda itu tertawa lagi, "Tak apa-apa, Seokjin-ssi," sembari memberikan senyumannya, "Sedang menulis penilaian, eh?"

Jin mengangguk begitu mendapat pertanyaan itu, "Ya, apa kau sendiri sudah selesai menulisnya?" dan tanpa mengurangi rasa hormat, Jin meneruskan menulis laporannya.

"Tentu, anak didikku benar-benar memiliki kemajuan yang pesat sehingga tak sulit menulis laporan tentang dirinya," jawab pemuda itu sembari membuka laporannya.

"Oh, ya? Siapa nama anak didikmu itu? Dan di bagian apa ia?" tanya Jin yang mendadak merasa penasaran.

Pemuda itu memperlihatkan profil anak didiknya pada Jin,

"Kim Taehyung, di bagian sniper,"

.

.

.

DEG!

Taehyung merasakan dadanya berdenyut tiba-tiba. Saat ini ia tengah dalam persiapan latihan sesi keduanya. Ia sedang memasang kembali rompi pengaman miliknya serta sarung tangan, sebelum dirinya dikejutkan dengan suatu perasaan aneh menyesakkan dadanya.

Ia berdiri dan merasakan deburan angin menyapu tubuhnya. Angin siang hari yang terasa lebih dingin, sebagai pertanda hujan akan turun. Ia gunakan telapak tangannya untuk meraih hembusan angin dan mengepalkannya. Memejamkan mata dan mengingat ucapan sang ibu di mimpinya,

"..Jangan lengah, Taehyung-ah,"

Membuka kembali kedua matanya, ia menjulurkan kepalan tangannya tinggi-tinggi tepat di bawah lingkaran matahari. Ia bersumpah dalam dirinya bahwa ia akan menjalankan apa yang sudah menjadi tujuan hidupnya.

.

.

.

"Woah, Taehyung?" kedua mata Jin menjadi penuh dengan kilauan. Ia merasa kagum dengan pencapaian yang berhasil dilakukan oleh (calon) adik iparnya itu. Ia memindai seluruh tulisan tentang prestasi Taehyung di dalam pelatihan. Tak sedikit nilai sempurna tertera di atasnya. Taehyung selalu menjadi salah satu best sniper atau bahkan nilainya hampir menjadi best trainee dan lulus tes markmanship (tes menembak jitu)yang dapat mengancam gelar lulusan terbaik milik Jin nantinya. Jin hanya merekahkan senyumannya, ia merasa tak salah dalam mengizinkan sang adik untuk bersama dengan Taehyung.

Sosok pemuda di hadapannya menatap Jin dengan tajam. Tanpa diketahui oleh Jin, pemuda itu mengetik sesuatu dari balik jubah hitamnya. Sebuah pad.

"Kau mengenal Taehyung?"

Jin mengangguk cepat, terbawa dengan suasana cerianya, "Yeah, pemuda ini adalah teman dekat adikku," dan segera menyesali ucapannya.

"Adikmu?" "–A-ah, tidak, maaf lupakan ucapanku," ujar Jin dengan gugup, sebab ia tak ingin ada orang luar yang baru dikenalnya mengetahui tentang Jungkook sebagai adiknya. Ia berusaha mengalihkan topik ketika dilihatnya wajah J-Hope yang menyiratkan kebingungan.

"A-ah, kudengar katanya hari ini anak dari Mr. Min akan datang? Benarkah itu?"

Pemuda di sampingnya menyeringai pelan sembari memasukkan pad-nya kembali, "Selain sebagai mentor aku sempat menjabat sebagai wakil komandan, menggantinya wakil yang minggu lalu sempat absen. Dan aku mengkonfirmasi kebenaran kedatangan tuan muda Min Yoongi malam ini."

Jin terhenyak, "Waah, seharusnya aku lebih sopan padamu, maafkan aku, J-Hope-ssi.." ujarnya sembari menunduk hormat dengan pelan.

J-Hope hanya tertawa renyah, "I have no problem with that,"

Jin menanggapinya dengan tawa gugup, lalu kembali fokus pada laporannya, "Kalau begitu aku harus cepat menyelesaikan laporan ini!"

Sementara J-Hope dengan sopan berkata, "Baiklah, aku permisi dulu, Seokjin-ssi. Sampai jumpa lagi nanti," sembari melambaikan tangannya sejenak, ia berbalik meninggalkan Jin.

Menuju asrama para trainee.

.

.

.

Pelatihan sesi kedua merupakan latihan bebas bagi para trainee, dan keberadaan mentor tidak terlalu dibutuhkan. Mereka akan diawasi langsung oleh komandan dan pasukannya sehingga membuat para mentor boleh beristirahat untuk hari itu.

J-Hope, atau yang sesungguhnya bernama Jung Hoseok tengah melonggarkan ikatan dasinya, mengeluarkan pad miliknya, menyimpan buku laporan Taehyung ke dalam saku jubahnya, dan berjalan menuju kamar asrama para trainee.

Selama perjalanan, ia tak bertemu dengan siapapun, sebab ia sudah menyesuaikan jadwal sepi orang-orang melintas. Paling tidak, hanya beberapa orang cleaning service yang mondar mandir di sekitar lorong, namun tak ada satu orang penjaga di sana. Ia melintasi koridor dengan mulus, tanpa mengundang kecurigaan dari cleaning service maupun housekeeper yang melintas di sekelilingnya. Kembali dengan kegiatan rutinnya, ia mengintai menuju kamar Taehyung.

Hoseok hampir sampai pada kamar bernomor 387 yang berisi enam orang termasuk Taehyung. Ketika hendak berbelok di tikungan menuju kamar, ia meihat seorang lelaki tinggi berkumis dan berwajah tidak mengenakan tengah memasuki kamar itu. Hoseok mengerutkan keningnya, ia yakin bahwa lelaki tersebut adalah Mr. Lee, salah satu tangan kanan dari Mr. Min, direktur utama organisasi AR.

Hoseok memutuskan untuk mengendap-endap dan mengintip ke dalam. Kemampuannya dalam mengintai memang tak perlu diragukan lagi.

Lelaki berkumis itu mengambil sebuah ransel dan membukanya. Kemudian Hoseok melihat lelaki itu memasukkan sebuah bungkusan berisi serbuk berwarna putih. Ia mendengar lelaki tersebut tertawa sembari berkata, "Kau akan hancur, nak," setelahnya ia segera melesat menyembunyikan diri setelah lelaki itu mengembalikan ransel kembali ke tempatnya. Lelaki itu menutup dan mengunci pintu kamar kembali dan segera pergi.

Beberapa saat setelah kepergiannya, Hoseok memutuskan untuk masuk ke dalam kamar dan melihat bungkusan di dalam ransel tersebut. Ia mengambil ransel itu dan membuka isinya. Dari tanda pengenal yang berada di dalam ransel, akhirnya ia mengetahui bahwa ransel itu milik Taehyung.

Hoseok berdecih, "Dasar rendahan," cibirnya pada lelaki berkumis tadi. Ia mengeluarkan bungkusan serbuk putih, yang ia yakini sebagai heroindan mengenakan sarung tangan sterilnya. Ia mengeluarkan plastik kecil dan mengambil sejumput serbuk dari bungkusan itu dan memindahkannya ke dalam plastik kecil miliknya.

"Ingin bermain kotor, huh? Sepertinya menyenangkan," gumam Hoseok sembari menyeringai pelan. Kemudian ia biarkan bungkusan itu berada di dalam ransel Taehyung, kembalikan ke posisi awalnya, dan menyimpan plastik kecil berisi heroin itu ke dalam sakunya.

Menutup dan mengunci kembali kamar itu, ia bersenandung kecil sembari bergerak menuju kamar petugas. Ia berniat menilik kamar si lelaki berkumis itu dan mencari barang bukti berupa obat-obatan terlarang. Ia meyakini bahwa lelaki berkumis itu telah berkhianat pada organisasi dengan sengaja membuat fitnah pada salah satu anak didiknya.

Namun permainan tidak akan menarik jika Taehyung tidak benar-benar dituduh sebagai tersangka.

Maka pada malam ini, Hoseok memutuskan akan memasukkan serbuk heroin yang berada dalam plastik kecilnya ke dalam minuman Taehyung.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Kim Taehyung, kau terdakwa dalam kepemilikan dan penggunaan obat terlarang, yakni heroin. Hasil diagnosa menyatakan bahwa urinmu mengandung obat-obatan terlarang tersebut,"

"Jika benar aku adalah seorang pecandu mengapa aku sehat-sehat saja sekarang?"

"Mana kutahu jika obat sialan itu terkandung di dalam tubuhku!"

"Harusnya aku akan bertindak seperti orang sakau dan memohon-mohon pasokan obat padamu, pergunakan otakmu itu wahai tuan Lee yang bijaksana!"

"Kita adakan tes marksmanship sekali lagi. Jika kau, Taehyung, bisa melewati tes tersebut maka kau bebas dari tuduhan,"

"Saya ingin penjaga sialan ini bertaruh jabatannya, Tuan Yoongi,"

.

.

.

.

.

.

Tbc

[ sassnorge]

Yeee hore aku kembali x"D

Yah…. Tak bisa berkata-kata lagi, moga2 masih ada yang inget sama cerita ini ya/?..

Guess who's next? Yeyeyeyeyaaaaay Suga the lorddddd(?)

ok, tinggalkan jejak apapun untuk membuatku bahagia(?) dan apapun tanggapan kalian mengenai cerita ini khuhuhu

critics/comments are warm welcomed, but please do not bash chara and or pairing, thx!

seeyou soon~!