DISCLAIMER : Shingeki No Kyoujin (ATTACK on TITAN) adalah milik Hajime Isayama. FF ini asli milik author : Wanda Therra Nova (Fanta).
Lagu yang saya "pinjam" disini dan saya jadikan inspirasi adalah lagu yang dipopulerkan oleh SM the Ballad, Miss U.

FF ini asli milik author : Wanda Therra Nova (Fanta).―

TITLE : Fallen Angel Eren

Pairing : Rivaille ( Levi ) & Eren Jaeger.

Genre : SHOUNEN AI, ONESHOT, Fantasy, Romance, Drama, Hurt.

Rated : T

Warning : EYD tak sempurna dimana-mana, bahasa kaku, dan masih banyak lagi. Mohon dimaklumi.
Flame Accepted, but the GOOD Flame, not the Bad ones.

.

.

Now playing : #SM the Ballad : Miss U

.

Fallen Angel Eren

Before in CHAPITRE 1

.

.

.

Sesosok manusia―dengan sayap putih di kedua tulang lengan di punggungnya yang seakan mendekap tubuhnya― meringkuk dengan ekspresi ketakutan di wajah manisnya sambil bersandar di tembok.

.

"Tuan bidadara, boleh aku tau siapa namamu?"

Secepat mungkin, bidadara itu menyembunyikan lagi wajahnya yang dipenuhi semburat merah kentara di balik pelukan Rivaille.

"E―eren…Jaeger…"

.

―Ah, tidak, tidak, tidak.

Ia yakin, ia masih normal.

Ia masih merasa "terangsang" saat melihat majalah dewasa yang dibawa Auruo secara sembunyi-sembunyi dari Irvine.

Tapi…

Perasaan macam apa ini ?

.

"Aku…Aku sudah mencoba mengecek dengan insting Dewi Peramal di Kahyangan Timur…Tapi ia bilang kalau kekuatan kahyangan Eren bisa saja ia redam dengan kemungkinan SENGAJA DILAKUKAN, sehingga sangat sulit untuk melacak dia berada dimana."

.

Eren… Eren-ku…Kau dimana ?
Meskipun kau ada di ujung dunia atau dimensi sekalipun…Aku akan terus mencarimu!

.

"Euh―… kalau kau tidak mau… kau juga tidak usah―…"

"―akan kuperlihatkan sosokku yang sebenarnya padamu. Hanya untukmu."

.

.

.

WELCOME IN CHAPITRE 2 –end-

.

.

.

"Euh―… kalau kau tidak mau… kau juga tidak usah―…"

"―akan kuperlihatkan sosokku yang sebenarnya padamu. Hanya untukmu."

.

Levi hanya bisa terdiam dengan mata yang menajam namun dalam hatinya, rasanya dalam hatinya ia ingin meledak.

Eren…dia ingin menunjukkan kekuatan dan sayapnya pada manusia―sepertinya ? ―pikirnya.

Memang ia terkadang ingin melihat sayap cantik Eren yang waktu itu terluka cukup parah, tapi ia tidak pernah bermaksud untuk memaksa…
"Eren, tidak perlu kalau kau tidak mau. Aku hanya ingin memastikan saja."

"Sebegitu inginnya-kah kau melihatku ke kahyangan lebih cepat ?"

"Ti―TIDAK. Aku ingin bersamamu, Eren, lebih lama―Tunggu, kau bisa bicara panjang lebar,Eren ?" mata tajam Rivaille menatap Eren yang sekarang menampakkan wajah terkejutnya.

Bagaimana bisa suara hati seorang bidadara didengar telinga manusia biasa ?!

Eren sedikit panik, bahkan ia menggenggam dadanya kuat dan erat.
Ia lalu menggeleng kuat.
Menolak kenyataan bahwa suaranyalah yang tadi bergema kuat di pendengaran Rivaille.

―"Jangan bohong padaku, Eren. Aku kenal baik dengan suaramu dari awal kita bertemu." Rivaille semakin memojokkannya di ujung adrenalinnya dengan suara alto dingin, membuat Eren gugup.

Rivaille tidak bisa dibohongi―bahkan oleh bidadara semacam Eren.

Eren hanya menunduk ketakutan; lalu mengangguk kecil. Ia terlalu takut dengan sisi dingin Rivaille.

Ia takut sekali…

"Suaramu―manis sekali. Sudah kuduga."

"―eh ?"

Rivaille tidak memarahinya.

Bahkan ia tersenyum lembut pada Eren. Menyamankan Eren dengan tatapan hangat gentleman miliknya.

"Manis. Suaramu, Eren. ―Aku suka suaramu."

Selalu saja, jantung Eren berdetak kencang saat kata 'suka' meluncur mulus dari belah bibir tipis Rivaille.

Eren hanya mampu membelalakkan matanya dengan wajah polos hamper menangis dan semburat merah manis tercetak jelas menggarisi wajahnya, membuat Rivaille sedikit merasa bersalah membuat suara sedingin tadi.

"Eren, kenapa kau menangis ? Kau tidak salah apapun, jangan menangis."

Rivaille mendekat kea rah Eren, lalu mengusap pelan pucuk kepala Eren. Membuat Eren semakin nyaman dengan sentuhannya.

Perlahan, sentuhan jemari besar Rivaille meniti di pipi bulat manis milik Eren. Begitu halus dan licin, membuatnya selalu ingin menyentuh kulit sempurna ini.

Dengan perlahan, diusapkannya ibu jemarinya pada garis air mata yang ada di kulit itu, berusaha menghilangkan sedikit kesedihan di hati sang bidadara yang ia buat tadi.

Rivaille tertegun. Pipi ini yang sering mengungkap jelas seperti apa perasaan yang melanda hati Eren, dan membuatnya sadar bahwa perasaan Rivaille saat mereka bertemu ternyata

"Tersenyumlah. Aku suka melihatmu tersenyum, Eren."

Mendengar Rivaille suka pada senyumnya, Eren lekas menghapus jejak air matanya―membuat Rivaille terdiam sejenak―lalu member senyum termanis yang ia punya pada manusia yang baginya sempurna di depannya.

"Hm… begitu. Kau cantik, sangat cantik."

perasaan mereka saling membalas.

Sejenak, mereka menikmati saat-saat hening damai mereka berdua.

Seperti kata orang, saat kita bersama dengan orang yang kita cintai, serasa dunia milik berdua.

"Eung―Rivaille…"

Suara manis kecil Eren membuat Rivaille tersenyum.

Ah, Rivaille sepertinya terlalu banyak tersenyum dari hari biasa.

"Kau…ingin lihat sayapku,"

Rivaille menghela nafas.

Diletakkannya kedua telapak tangannya di bahu Eren.

"Tidak perlu. Aku tidak mau memaksa―"

"―sekarang. Aku ingin Rivaille melihat sayapku."

Suara Eren sekarang terkesan menuntut. Rivaille sedikit terkejut.

"Baiklah."

Eren tersenyum lebar.

"Mendekatlah, Rivaille…"

Sebenarnya, Eren menyuruh Rivaille mendekat agar Eren bisa memegang tangan Rivaille, namun Rivaille reflex memeluk lembut Eren. Membagi kehangatan tubuh mereka berdua dalam satu dekapan manis.

Rivaille yangs memiliki tinggi sedikit lebih pendek, iseng melingkarkan tangan kirinya yang berbisep kuat pada pinggang berlekuk menggoda Eren dan menautkan tangan kanannya dengan jemari Eren, membuat Eren mendadak kaget dan gugup.

―Bahkan di kahyangan pun, tak ada seorang pun yang berani bersentuhan se-intim mereka sekarang.

Pemikiran Eren membuat wajahnya semakin memerah, dan ia berusaha menyembunyikannya dari Rivaille―walaupun Rivaille akan selalu berhasil membaca emosinya.

"Tu―tutup matamu. Kalau aku bilang sudah boleh membuka mata, kau boleh buka matamu, Rivaille…"

Rivaille mendengus geli mendengar nada gugup namun tegas di suara Eren.

"Iya…"

Eren berusaha menenangkan diri. Ia tidak mau terlihat seperti wanita di depan Rivaille.

Ia yakin―Rivaille sedang terkikik geli di dalam hatinya.

Ah, lupakan!

Fokus pada mantra!

Setelah sebait kalimat mantra diucapkan Eren dalam hatinya, perlahan Rivaille merasakan suhu tubuh Eren mendingin.

Terus, terus, terus… sampai sedingin Kristal es.

―Rivaille sedikit panik.

Digenggamnya kuat jari-jari tangan kanan Eren lebih erat―seakan jika dia melonggarkan atau bahkan melepas tangan, akan terjadi sesuatu pada Eren.

Namun bisa ia rasakan, di ujung jari Eren masih terdapat rasa hangat.

Lalu, perlahan… mata Rivaille yang tadinya menajam, membelalak tak percaya.

Dari tubuh mungil Eren, tepatnya di masing-masing tulang pundak belakangnya―tercipta sebuah gumpalan cahaya berbentuk bulu burung seputih salju.

Dengan cepat, gumpalan itu semakin bertambah banyak. Cahaya-cahaya lain itu datang dari mana, Rivaille pun tidak tahu, namun cahaya itu tiba-tiba muncul dari berbagai arah; mengelilingi mereka lalu bergerak bersatu untuk Eren.

Rivaille hanya bisa tercengang.

Eren yang sedang terdiam sambil memejamkan mata―pasrah―terlihat begitu cantik di depan matanya. Wajahnya terlihat membiarkan cahaya berpendar itu menyatu dengan tubuhnya, tak takut untuk melepas kendali semua keajaiban yang terjadi di tubuh bidadaranya.

Sekali lagi, Eren selalu pula berhasil membuat sebuah kekaguman dan ke-obsesi-an Rivaille padanya makin menguat.

Berlalunya detik demi detik, cahaya itu juga semakin lama semakin memformasikan bentuk mereka. Mengatur dan meraba-raba bentuk sayap Eren yang begitu indah, bagai menyusun puzzle rumit.

Rivaille hanya bisa menganga penuh kekaguman.

Sosok Eren yang sesungguhnya―yang selalu Rivaille kagumi dan inginkan, ada di depan matanya.

Dengan sayap terkembang bebas di punggungnya yang kecil, dan tubuh serta wajah berpendar putih semu. Menambah nilai estetik Eren di mata Rivaille.

Oh, Tuhan…

Belum sempat Rivaille menguasai dirinya dari rasa kagum yang meluap-luap, Eren mulai membuka matanya. Reflex, tangannya yang lemas, perlahan menggenggam balik erat tangan Rivaille.

Rivaille seketika menatap Eren dengan kekagetan dan dibalas dengan mata sayu sendu.

"Inilah… Aku yang sebenarnya…"

.

.

.

―"HAH!"

"Mikasa, ada apa ? Sebaiknya kita mencarinya di dimensi―"

Mikasa terdiam.

"Aku―merasakan…EREN!"

"Apa ?"

"EREN! Dia ada di dunia manusia!"

Armin menatap Mikasa tak percaya. Gadis itu bahkan memelototkan matanya, berusaha meyakinkannya kalau ia benar.

Bidadari muda ini―membuatnya terpojok dengan asumsi mustahil miliknya.

"Tidak, Mikasa. Kita sudah mencarinya di sana dan tidak―"

"TAPI AKU MERASAKANNYA, ARMIN! Eren…ERENKU ADA DISANA!"

Armin semakin tidak mengerti.

Barusan mereka mengelilingi dunia manusia, dan mereka tidak menemukan tanda-tanda Eren ada di dunia manusia, tapi kenapa sekarang―?

"Aku akan kembali ke dunia manusia. APAPUN YANG TERJADI."

"Mikasa―"

"Aku yakin dia ada disana. Firasatku tidak akan salah."

Armin menghela nafas panjang.

Sahabat sekaligus atasannya ini selalu membuat pergerakan tak terduga yang sebenarnya tidaklah merepotkan, namun tetap saja membuat siapapun cemas akan dirinya.

"Aku akan pergi bersamamu. Sementara pasukan langit lainnya akan kembali ke dunia kahyangan. Sebagai gantinya, jangan membuat pergerakan tanpa sepengetahuanku dan kau harus menyetujui apapun keputusanku. Kau mau, Mikasa ?"

Mikasa hanya mengangguk kecil dengan wajah datar.

"Demi Eren, bagiku itu bukan masalah."

"Bagus. Baiklah, kalian kembalilah ke posisi kalian di kahyangan. Awasi saja dari sana dan jangan lakukan pergerakan tanpa ada persetujuan dariku."

"―Tapi Armin…"

"Jean, tenang saja. Aku akan jaga diri." Senyuman melengkuk di bibir Armin.
Menenangkan.

"―Baik."

"Baik!"

"Armin, ayo."

Mikasa memacu kecepatannya sampai pada batas paling bisa tertolerir.

Eren…Aku akan menemukanmu!

.

.

.

Eren hanya tersenyum manis.

Ia membiarkan Rivaille menjelajahi tubuhnya dengan pandangan kekagumannya.

"Rivaille―"

Orang yang namanya disebut hanya menatapnya dalam dan jari-jarinya diarahkan kearah wajah malaikat Eren, menyibakkan poni-poni halus di dahi Eren, lalu menyusuri lekuk wajah Eren dengan jari-jari itu. Meresapi seluruh kecantikan Eren yang bisa ia jangkau dengan jari-jarinya.

Betapa sempurnanya Eren saat ini.

Tanpa ragu, Eren mendekatkan dirinya ke arah Rivaille; menyenderkan tubuhnya pada dada Rivaille dan direspon pelukan erat oleh Rivaille.

Sayap Eren dengan lembut menutupi tubuh mereka berdua dari dinginnya malam dan memberi kehangatan pada pelukan mereka.

Eren bisa merasakan, bahwa ia sudah terperosok terlalu dalam oleh manusia di depannya.

Terlalu dalam sampai ia nyaris tidak bisa melihat setitik pun cahaya yang ada berkilo meter di depannya.

―Begitu pula dengan Rivaille.

.

Cinta itu buta.

Dan akhirnya Rivaille tahu, mengapa orang-orang berkata demikian.

Ia merasakannya sendiri.

―Entah itu mereka berbeda.

―Biarpun mereka berkata bagai Langit dan Bumi.

―Jauhnya jarak status antara bidadara dan manusia.

Biarkan pemikiran itu menghilang sementara saja dan diganti dengan perasaan bahagia membuncah.

Perlahan, dalam hati, mereka sama-sama mengikrarkan hal yang sama.

"Biarkan aku menjadi seseorang dalam hatimu yang sangat berharga dan ada di sisimu selamanya…
Selamanya, aku tidak akan melepasmu."

.

Sungguh, mereka berdua tidak ingin malam ini berakhir cepat.

.

.

.

Fallen Angel Eren

.

.

.

Sinar mentari lembut yang menembus kaca jendela dan gorden putih transparan yang melambai di kamar, membangunkan Rivaille yang tadinya terhanyut dalam alur mimpi.

Ketika ia menolehkan wajahnya ke samping kanannya, matanya menangkap jelas sosok bidadara manis yang tertidur dengan wajah polosnya―dengan tangan kanannya yang terpaut dengan tangan kiri Rivaille dan terkulai di dada bidang Rivaille.

Rivaille tersenyum sangat lembut.

Betapa sempurnanya pagi ini.

Tanpa melepas genggaman tangan mereka, Ia membalikkan posisi tidurnya yang tadi telentang menjadi miring ke samping kanan. Menghadap langsung pada sosok yang sanggup mencairkan dinginnya hati Rivaille.

Dengan pandangan lembut, dititinya seluruh permukaan kulit di wajah Eren yang tertidur pulas.

Rambut almond muda yang berkilau ditimpa cahaya sinar pagi.

Alis yang menghiasi matanya dengan lengkungan sempurna.

Bulu mata yang lentik dan panjang yang menambah sisi cantik Eren.

Mata yang jika membuka nantinya akan memperlihatkan sebuah warna laut yang luas, biru kehijauan yang mendamaikan―menghipnotis siapapun yang menatap mata itu.

Hidung mungil bangir yang bagai piramida sempurna yang ada di pusat wajahnya.

Garis bibir berbentuk hati, tipis, namun terlihat penuh. Berwarna merah ranum bagai apel―yang sangat menggoda Rivaille.

Kulit tan muda yang menyelaraskan nilai warna-warna menakjubkan yang ada di karya Tuhan di depannya dengan kehalusan yang melebihi pakaian piyama sutra mereka pakai saat ini.

Ia terus menjelajahi kontur wajah polos Eren dengan ibu jari dan telunjuknya, bagai memetakan setiap sentimeter kulit mulus itu.

Dari dahi… turun ke kelopak mata Eren yang terpejam. Lalu menjelajah pipi menggemaskan Eren yang sering dengan kentara merona alami lalu mengelusnya hati-hati dan penuh rasa kekaguman―betapa tak tercelanya Eren, piker Rivaille―.

Perlahan, jari-jari Rivaille terhenti di permukaan bibir kemerahan Eren yang sedikit membuka.

―Tidak pernah ia rasakan jantungnya berdebum kencang seperti ini sebelumnya.

Sungguh… Eren adalah karya seni paling sempurna yang pernah Rivaille lihat, sentuh dan rasakan.

― Rivaille memberanikan dirinya untuk sedikit lebih mengelus wajah Eren.

"Eren…Eren…Eren…"

Terus, ia mendaratkan berbagai sentuhan kecil nan lembut dari jarinya ke kulit wajah Eren.

Seakan terusik, Eren mengigaukan sesuatu yang membuat Rivaille tertegun.

"Ung―Ri…vaille…"

"Eren…"

Perlahan, kelopak mata Eren membuka―menunjukkan betapa cantiknya manik mata zamrud kebiruan indah pemiliknya.

Dan pandangan mereka saling bertemu.

"Selamat pagi, Eren…"

Rivaille kembali mengusap-usap rambut di pelipis Eren yang menjuntai nakal, seakan ingin menyentuh manic mata Eren―

― lalu memberinya ciuman dahi yang sangat lembut.

"Ri―Rivaille…"

Lagi, Eren merasakan perasaan kaget bercampur senang ini.

Ditatapnya mata Rivaille yang juga membalas tatapan matanya dengan penuh kasih. Tak percaya dan perasaan senang tak terkira memenuhi rongga dada mereka berdua.

Eren dengan sedikit gerakan teburu-buru, langsung memeluk tubuh pemuda manusia di depannya, sekali lagi merasakan kehangatan mereka bersatu dan saling berbagi.

Memejamkan mata seolah momen ini akan berlalu cepat jika mereka tidak meresapi sama sekali.

"Selamat pagi, Rivaille…"

Rivaille hanya tersenyum, lalu membalas pelukan Eren.

Entah kenapa ia merasa senang saat tubuh mereka bersentuhan seperti ini.

"Iya… Eren-ku sayang…"

.

.

.

Fallen Angel Eren

.

.

.

Pukul 9.00 pagi.

Eren masih terduduk di sofa sambil membolak-balikkan halaman buku geologi dan biosfer setebal kamus tanpa ada niat membacanya sedikitpun.

Ia bahkan tidak menaruh minat pada gambar yang ada tercetak di dalamnya, ia sudah sering melihat semua gambar itu dari dunia kahyangan.

Dengan bibir mengerucut kecil, ia meraih gelas besar berisi susu hangat yang dibuatkan Rivaille yang terletak di meja nakas sebelah tempat tidur Rivaille…―mereka.

Puas meneguk susu itu sampai habis, Eren lalu kembali berbaring di lembutnya kasur spons sambil memainkan kancing kemeja piyama putih kebesaran milik Rivaille yang melekat di tubuhnya.

Ia menunggu Rivaille pulang dari tempat kerja, dan itu membuat Eren harus bersabar sampai pukul 09.15

Ia bosan.

Ia jenuh.

Ia kangen Rivaille.

―Pipi Eren perlahan memerah.

"Ung~"

"Hung…"

"Eung~"

―Eren hanya berguling-guling gelisah sambil gemas memegangi kain kemejanya yang tipis bagai seekor anak kucing yang menunggu tuan tersayangnya untuk mengelus tubuhnya.

"Rivaille…cepat pulang… Eren kangen…" gumamnya dengan ekspresi memohon bagai anak kucing. Berharap―sangat― suaranya bisa didengar Rivaille.

Imut sekali, ya, Eren kita.

Dipandangnya seluruh ruangan apartemen. Sedikit berantakan, karena tadi Rivaille agak kesiangan.

―Kelihatannya mereka terlalu asyik berpelukan dan bermesraan, sampai lupa waktu.

Eren bangkit dari tempat tidurnya, lalu menyingsingkan lengan piyamanya.

Ia berpikir polos, jika ruangan Rivaille bersih saat dia pulang nanti, ia pasti senang.

Membayangkannya saja Eren sudah senang.

DEMI RIVAILLE!

"Tatakae!"

.

BRAK!

"EREN!"

.

Pintu yang terbanting kuat membuat Eren―

"Ah, Rivai―!"

terkejut.

.

"Eren!"

"EREN! Akhirnya!"

―Sebuah pelukan erat mendekap Eren.

Bukan … Bukan Rivaille.

Lengan ini, suara ini, aura tubuh ini―

.

Tidak mungkin

.

"Mi―kasa ?"

.

.

.

.

.

.

Tepat pukul 09.14.

Rivaille sedang berdiri dengan agak gelisah di dalam lift yang menanjak cepat menuju lantai atas tempat apartemennya berada.

Dengan sebuah kantong kertas tebal berisi beberapa macam bahan makanan untuk makan malam, Rivaille terlihat sedikit mengembangkan senyum tipisnya.

Sup kentang kental manis asin dengan aroma oregano yang khas―Eren pasti akan menyukai masakannya.

Mengimajinasikan wajah polos Eren yang merona dengan senyum sejuta volt mempesona, lalu memberi pelukan terimakasih padanya saja, Rivaille sudah semakin senang dalam hatinya. Ia tidak sabar bertemu dengan Eren di rumah.

Kangen.

Rivaille enggan mengakuinya, tapi ia harus tahu diri pada dirinya sendiri, kalau ia sedang kangen pada Eren―sampai-sampai deadline-nya yang bisa diselesaikan jam 10, selesai pada jam 8.45.

Kehadiran Eren ternyata bisa membelokkan sosok dingin Rivaille.

―Bahkan lihatlah, Rivaille semakin memperluas imajinasinya tentang Eren.

.

Beberapa langkah sebelum sampai di daun pintu, senyum kecil Rivaille akan imajinasinya tentang Eren perlahan memudar.

Memunculkan kerutan curiga di dahinya.

―Pintu apartemennya terbuka, sudutnya sekitar 10 derajat.

Eren tidak pernah berpergian sendirian tanpa dirinya.

Teman Rivaille datang berkunjung ? Tidak. Mereka biasanya akan memberitahu dahulu sebelum mereka berkunjung.

ADA ORANG YANG MASUK APARTEMENNYA―dan bukan tamu yang diundang.

Rivaille berjengit, dahinya semakin mengerenyit lalu mendekat perlahan kea rah apartemennya.

Ia melihat beberapa barang-barang hias di kamarnya, tergeletak di lantai dengan kacau.

Sangat kacau, bahkan sayup-sayup ia mendengar suara bentakan dari dalam apartemennya yang kedap suara…

"―Ayo, kita kembali Eren. Ibu dan Ayahmu mencemaskanmu."

"TIDAK! Mereka tidak penah peduli padaku!"

"EREN! KAU HARUS PULANG! DENGANKU, DAN ARMIN!"

"KUBILANG TIDAK, YA TIDAK! AKH―MIKASA!"

―Rivaille terhenyak.

EREN!?

.

BRAK!

.

Satu tendangan kuat membuka pintu apartemennya dengan kasar, dan suara bantingannya bergema kuat di lorong.

.

"EREN!"

3 pasang mata―2 pasang mata yang asing menatap kaget pada Rivaille yang berdiri kokoh di samping daun pintu.

Rivaille membeku sedetik.

Eren dikepung oleh 2 sosok berpakaian putih dengan aura bukan manusia, seakan sedang memaksa Eren.
Dan Eren menatapnya dengan pandangan kaget dan ketakutan.

Mereka pasti sosok yang sama seperti Eren.

Bidadara berambut pirang dan Bidadari berambut hitam.

―dan Bidadari berambut hitam itu menatapnya dengan amat sinis dan merendahkan.

"Eren, jadi ini dia―manusia yang membuatmu yang tidak ingin kembali ?"

"RIVAILLE!" Eren menghiraukan pertanyaan bidadari itu, dan memberi tatapan ketakutan pada Rivaille.

―Mengatakan "Kau harus pergi dari sini!"

Rivaille tahu, hari ini akan terjadi dan dia tidak bisa melarang para utusan kahyangan itu untuk menjemput Eren. Tapi… bukankah itu artinya, ia tidak akan bisa lagi bertemu Eren…

―Selamanya ?

Rivaille mengepalkan tangannya erat.

"Ya. Aku manusia yang bersama dengan Eren."

Eren menatapnya kaget.

Terdengar sebuah tawa pecah.

Tawa kejam dari seorang bidadari.

"Kau―…" bahkan bidadara berambut pirang itu menatapnya kaget.

"Hahaha! Kau yang berani-beraninya membuat Eren tidak ingin kembali ?! Kau orang yang menjadi penyebab Eren ingin membuatnya menjadi manusia ?! Manusia macam apa kau ?!"

Manusia ?
Eren ingin menjadi manusia ?

"―Menjadi manusia…untukku ?" gumam Rivaille, dan menghujamkan tatapan tak percaya pada Eren.

Eren memalingkan wajahnya dengan gesture bersalah.

"Eren―DIA MILIKKU! MILIK KAHYANGAN! Beraninya…kau ingin merebut apa yang bukan dari duniamu!"

Rivaille hanya bisa terdiam.

Terlalu banyak… fakta yang tak bisa ia terima di akal sehatnya.

"MANUSIA APA KAU! MANUSIA BAJING―?!"

"MIKASA HENTIKAN!"

Suara terisak meggema di seluruh ruangan. Eren tidak mampu menahan lagi semua emosinya.

"Eren…"

Bidadara yang berada di sampingnya―Armin, memeluk pelan Eren.

"Eren, sudah jangan menangis…"

Bidadari bernama Mikasa itu menatap tak percaya pada sosok bidadara yang ia sayangi itu, "Eren, kenapa kau membe―"

"KAU TIDAK TAHU APA-APA!"

Pertama kalinya sejak mereka bertemu, Rivaille baru kali ini mendengar jeritan Eren yang emosional.

Dan… Eren berusaha melindungi Rivaille.

"―Eren…"

Mendengar namanya dipanggil oleh Rivaille, perlahan mata sayu sang bidadara berlukiskan zamrud menatapnya.

"Rivaille… dia yang menolongku! Dia yang mengajarkan banyak hal baru padaku! Dia baik dan pengertian! Aku…aku merasa dicintai dan dihargai olehnya…Tidak seperti kalian―di kahyangan aku diperlakukan seperti burung dalam sangkar! Tidak diizinkan untuk melakukan hal-hal yang kuinginkan… tidak bisa bebas―terkungkung dalam sangkar tak kasat mata bernama tahta kerajaan kahyangan…terikat dengan kalian― KAU TIDAK TAHU PERASAANKU SELAMA INI, MIKASA!"

Satu kalimat terakhir, sanggup membuat Mikasa terhenyak dan seluruh ototnya melemas.

Selama ini tanpa ia sadari, Eren selalu menyembunyikan kepahitannya―sendirian.

―Dan dengan manusia bernama Rivaille ini, Eren bisa merasakan apa yang dinamakan kebebasan, perasaan dicintai, diberi perhatian...

Hati dan logika serta keobsesifan Mikasa bertentangan.

Yang mana harus ia pilih…

Melihat Eren bahagia tanpa beban, walaupun itu artinya ia harus kehilangan Eren selamanya atau…

―seperti keinginannya dan seluruh penghuni kahyangan, ia harus menjemput Eren dan menjadikan Eren milikknya APAPUN CARANYA ?

.

"Eren."

Nada suara yang dingin khas Rivaille mengudara.

"Dan kalian berdua."

Sontak Armin dan Mikasa menoleh.

"Kalian sudah dengar, seperti apa perasaan Eren selama ini."

Mikasa menilik tajam mata Rivaille.

"Apa kalian masih akan bersikukuh membawa Eren kembali ?"

.

DEG!

.

Suara lembut Armin memecahkan ketegangan suasana, "Kami akan membawa Eren sementara―"

"Ya. Kami akan tetap membawanya kembali." Suara mendominasi Mikasa membuat Armin merasa keterlaluan.

"―!"

"APAPUN CARANYA. Meski harus mati bertarung sekalipun."

Begitu dingin, suara Mikasa yang tegas dan telak memenuhi ruangan.

"MIKASA!"

"Mikasa! Kenapa kau tiba-tiba―kau berjanji untuk mengikuti apapun keputusanku!"

Mikasa menoleh kea rah Armin yang menatapnya bagai pengkhianat.

"―Tidak untuk kali ini, Armin. Eren harus kembali."

"TIDAK MAU!"

Penolakan terus dikumandangkan Eren dengan kuat.

Ia ingin bersama Rivaille…
Menghabiskan sisa umurnya dan berada di samping manusia itu selama mungkin

"Kenapa kau tidak mau mengerti, Mikasa !?"

Lengkingan suara Eren, bahkan tidak sanggup memecah kuatnya sifat dingin Mikasa.

"Tidak, Eren. Karena aku mencintaimu―dan hanya aku yang bisa memilikimu dan membahagiakanmu."

Egois…

"TIDAK!"

"―Hentikan!"

Rivaille kembali memecahkan peperangan antara Mikasa dan Erendengan suara bass memerintah.

"BIARKAN EREN MEMILIH! DIA INGIN BERSAMAKU ATAU KEMBALI PADA KALIAN!"

Mendengar keputusan Rivaille, sontak Mikasa semakin mempertajam pandangannya pada sosok Rivaille dengan tatapan bengis.

"DIA SUDAH PASTI MEMILIH BERSAMAMU!"

Hening.

"Karena itu… AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN EREN BERSAMAMU!" kemarahan Mikasa memuncak.

"AKU TIDAK AKAN MELEPASKAN EREN." ―Balas Rivaille telak.

Amarah Mikasa sudah tiba di batasnya!

"Berani-beraninya… AKAN KUBERESKAN KAU SEKARANG!"

"Akan kuterima apapun yang terjadi padaku, untuk mendapatkan Eren."

"KAU!"

"MIKASA!"

"Armin… pegangi Eren!"

"RIVAILLE, LARI―!"

Sebelum Eren menyelesaikan kalimatnya, Mikasa memotongnya dengan membangkitkan kekuatannya secara tiba-tiba. Ia adalah bidadari dengan tingkat kemampuan atas, dan ia takbisa dikalahkan dengan mudah begitu saja.

Bahkan beberapa saat, Rivaille dapat merasakan sebuah tekanan udara yang memaksanya terdorong ke belakang dan memasang kuda-kuda kaki lebih kuat dari sebelumnya. Diambilnya sebilah pedang kecil yang selalu terpajang di tembok kamarnya, dan diarahkannya ke bidadari itu.

Rivaille tahu ia tidak akan sanggup melawan seorang bidadari dengan kekuatan sebesar ini.
Terlalu mustahil bagi seorang manusia sepertinya.

Tapi, demi Eren. Demi cahaya-nya.

Akan ia lakukan, apapun itu.

Walau harus dengan mempertaruhkan nyawanya sekalipun…

.

Mikasa yang selama beberapa detik memejamkan mata, saat sudah merasakan kakuatan yang ia simpan keluar bebas, segera menatap nyalang Rivaille.

―Penuh kekejaman, kebencian, dan rasa iri mendalam terhadapnya.

Rivaille, ia memicu kekuatan kegelapan mengerikan sang bidadari.

Dan bidadari itu pun mengangkat lengannya, dengan angkuhnya menunjukkan jari telunjuknya kea rah wajah Rivaille.

Tampak sepercik cahaya kemerahan terlihat di ujung kukunya.

"Bersiaplah untuk KEMATIANMU sebentar lagi."

BZIIITT!

―dan cahaya mematikan itu menyerang Rivaille tepat, tak memberi korbannya kesempatan mempertahan diri apalagi menghindar ataupun melarikan diri.

Dengan kecepatan cahaya, kekuatan Mikasa menerjang tubuh manusia Rivaille, merobek dagingnya secara tak kasat mata, menyengat kuat bagai lebah yang marah pada syaraf-syaraf indera manusia itu …

―"UAAAAKKKHHH!"

…dan membuat tubuh itu terkulai dan tersungkur lemas dengan kelumpuhan indera sementara.

Satu serangan besar tanpa ampun dikeluarkan Mikasa.

"RIVAAAIILLLEEE!"

Pekikan ketakutan terdengar oleh Mikasa dari Eren yang ia lihat memandang sosok lemah yang tadi ia siksa dengan pandangan ketakutan dan rasa bersalah luar biasa.

Rontaan Eren membuat pelukan Armin melonggar, bahkan akhirnya terlepas, membiarkan Eren merangkak tertatih menuju Rivaille yang pingsan tak berdaya.

Mikasa menatap Eren dingin.

"Eren. Itulah yang harus diterima orang kejam dan kotor yang akan menghalangimu―"

―"RIVAILLE BUKAN ORANG SEPERTI YANG KAU KATAKAN!"

Eren memeluk tubuh Rivaille erat dengan berurai bulir air mata yang menderas di pipinya.

Terkaget,ia merasakan jantung Rivaille yang berdetak lemah.

"Eren…"

"KENAPA KAU MEMAKAI KEKUATAN SEBESAR ITU PADA RIVAILLE!?"

"DIA PANTAS―"

"―DIA ITU MANUSIA BIASA! DIA BISA MATI, MIKASA!"

Bentakan Eren sukses membuat Mikasa membungkam.

Mikasa mengeratkan genggaman telapak tangannya, membuat buku-buku jarinya memutih dengan rasa dendam dan iri tak tertahankan.

"Manusia itu…ingin merebutmu dariku…"

Eren tertegun merasakan udara yang memberat oleh aura Mikasa.

"PEDULI APA KAU SOAL AKU! AKU HANYA MENCINTAI RIVAILLE―DAN AKU BUKAN MILIKMU, MIKASA!"

DEG!

Mikasa―sudah tidak bisa menerima kalimat apapun yang keluar dari bibir Eren―tidak tahan dengan segalanya.

"Aku…AKU TIDAK PEDULI!"

"MIKASA!"

"AKU AKAN MEMBUATMU JADI MILIKKU SEORANG, EREN!"

"APA!?"

"BAHKAN KALAU HARUS MELANGGAR KAHYANGAN DAN MEMBUNUH MANUSIA BRENGSEK INI!"

ZRAATTTSS!

Dengan satu serangan kuat namun tak terlalu berbahaya, Mikasa menjauhkan Eren dengan paksa dari Rivaille yang tersungkur dengan mengarahkan serangannya kepada Eren. Membuat Eren menjauh terpental 5 langkah dari Rivaille.

Armin yang panik, berusaha menolong Eren yang tubuhnya sedikit melemas akibat serangan bidadari itu.

"Mikasa…Apa yang kau lakukan!?"

Bahkan Armin menatap tak percaya pada serangan mendadak Mikasa.

"Kita dilarang melukai manusia secara berlebihan apalagi sampai membu―!?"

"―bunuh."

Mikasa sudah gelap mata.

"―manusia ini harus mati."

Ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

..

"BUNUH!"

.

Lagi.

Mikasa menyiksa tubuh tak berdaya Rivaille.

.

Eren terpaku.

Zamrudnya menatap nanar sosok yang paling dicintainya―disiksa di depan matanya sendiri.

Dan demi dirinya.

.

Aku sudah merebut kebahagiaan Rivaille.

Seandainya saja, aku tidak pernah ada di dalam dunia manusia.

Seandainya saja, waktu itu aku segera melarikan diri kembali.

Seandainya saja, ―aku tidak jatuh hati pada Rivaille.

Seandainya saja, semuanya bisa diputar ulang bagai kaset pita hitam.

Rivaille tidak akan menderita.

.

―… Apa yang bisa kulakukan untuk menghilangkan penderitaanmu, Rivaille…?

.

Eren… aku mencintaimu.

.

Eren, aku akan menjadikanmu milikku.

.

Eren, hanya aku… hanya aku yang bisa memilikimu dan membahagiakanmu.

.

Eren, aku tidak akan melepaskanmu.

.

Akan kulakukan apapun untukmu.

.

Tubuh Rivaille mengejang penuh sakit, gemetar penuh dendam. Tubuh manusianya hampir remuk redam.

.

Airmata dari manik Jade berlingkar kuning samar menetes.
Ini waktunya giliran untuknya yang berkorban.

.

.

.

Fallen Angel Eren

END of CHAPITRE 2

.

A/N : Hampir 2 tahun lebih, saya nggak lanjutin fanfic ini dan sekarang saya memberanikan diri melanjutkan cerita Fallen Angel. Well, I think am a loser, get upset just because some shitty comments and reviews about my other fics. But, it affects me a lot. Now I am back, to do what I have to do and I am back because all of your lovely review that gimme strength to come back. Thankyou for your Supports!

Mungkin kalau kalian bingung, saya mau jelaskan, :

itu seorang wartawan, so that's why he brings camera every-fucking-where. And he is about 16-17, he is kinda genius, y;know.

itu… well he is so beautiful as always and so innocent. If you wanna see what is my imaginations about face of Eren (in my mind), you can see my profile picture hahaha it takes 2-3 hours to make it

And the ending…. WELL I DUN WANNA TALK ABOUT IT Kalau kalian nonton MVnya itu, yang MISS U, ya hampir begitulah Tapi beda looh a llitle bit surprise for ya!

Dan sebagai akhir shitty-note ini, do read and review babe, and I will update this old fics until the 3rd chapitre, ya akhirnya Thanks a lot !

BROFIST~