Permainan tidak akan menarik jika Taehyung tidak benar-benar dituduh sebagai tersangka.

.

.

.

.

.

.

.

scavenged

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Malam sebelumnya.

.

.

DUK!

Bunyi benturan benda bulat besar dengan dinding bercat putih bersahut-sahutan di dalam sebuah ruangan besar. Benda bulat berwarna oranye yang besar dan kokoh nampak tengah dilempar-lemparkan oleh seorang pemuda yang sedang berbaring di atas ranjangnya yang berukuran besar.

Berulang kali ia melemparkan bola basket oranyenya sembari memasang ekspresi bosan. Hawa sejuk yang dikeluarkan pendingin ruangan merasuk ke balik kain yang dikenakannya dan ia mendesah sedikit.

"Lama sekali," ungkapnya sembari mengerutkan keningnya.

Seharusnya ia sudah melesat ke tempat pelatihan saat ini. Sang ayah telah memperingatinya jauh-jauh hari, jangan sampai ia menyia-nyiakan waktunya. Namun apa yang dilakukannya saat ini? Hari sudah menjelang malam, langit sudah mulai gelap, tetapi ia masih berbaring nyaman di atas ranjangnya.

"Si Namjoon itu melakukan apa sih.." lagi, ia hanya sibuk menggerutu. Sudah bosan dengan bola basketnya, ia meraih ponselnya dan mengutak-atik mencari kontak bernama Namjoon itu.

Belum sempat jarinya menekan tombol call, sebuah suara mengusik dari arah pintu kamarnya, "Maaf terlambat,"

Ia menoleh dan mendapatkan sosok pemuda tinggi tengah memasukki kamarnya sembari membawa sebuah kopor hitam. Ia kembali mengerenyit,

"Lama sekali, dan ada apa dengan kopor itu?"

Pemuda di hadapannya tersenyum kecil, "Mr. Min bilang ini untuk memancing seseorang bernama Kim Taehyung. Entahlah siapa dia,"

"Appa bilang apa?" pemuda seputih susu itu terhenyak mendengar pernyataan pemuda di hadapannya.

"Untuk memancing seseorang bernama Kim Taehyung. Beliau juga bilang bahwa nanti kita akan mengetahui maksudnya jika sudah bertemu dengan Taehyung itu." Jawabnya sembari menggoyang-goyangkan isi kopor. Terdengar suara seperti percikan air di dalamnya. Ekspresi kedua pemuda itu berubah horror,

"Ah, lebih baik tidak kugoyang-goyangkan.." ucap pemuda yang memegang kopor itu disambut dengan anggukan setuju pemuda di depannya.

Melihat ekspresi pemuda berkulit putih di depannya, ia berdehem sejenak, "Kalau begitu daripada sibuk memandangi kopor ini terus menerus lebih baik kau bersiap-siap, Yoongi-hyung,"

Yoongi, pemuda tersebut mengerut, "Heh, aku sudah siap sejak tadi. Menunggu pengawal setiaku yang bernama Kim Namjoon datang," ujarnya.

Namjoon tertawa renyah, "Baiklah, itu tadi di luar perkiraanku jika ayahanda Tuan memanggilku," "Hentikan penggunaan bahasamu itu. Hanya ada kita berdua di sini jadi jangan panggil aku dengan sebutan macam itu," potong Yoongi tidak terima.

Namjoon kembali menyeringai puas telah mengerjai teman semasa kecilnya. "Tak bisa karena ayahmu telah sangat berjasa dalam kehidupanku, hyung."

Sejenak suasana menjadi serius. Yoongi tahu bahwa jika Namjoon sudah mengaitkan tentang kehidupannya maka itu tak bisa menjadi bahan candaan. Ia menghela nafas dan menepuk pundak Namjoon.

"Keberadaanmu pun sungguh berarti bagi organisasi. Orang sepertimu tidak banyak di dunia ini, yang mampu mengemban tugas ganda sebagai seorang spy," ujar Yoongi sembari tersenyum tanda adoration pada Namjoon.

Setelah meraih beanie warna hitamnya, Yoongi melangkahkan kaki keluar dari kamarnya diikuti Namjoon. Bersiap melesat menuju tempat pelatihan di mana mereka telah ditunggu-tunggu oleh sekitar ratusan trainee.

Termasuk Kim Taehyung.

.

.

.

"Yuri-noona, kau sudah menunggu lama?"

Setelah melangkahkan kaki keluar dari kediaman megahnya yang masih bersinar terang dan dipenuhi oleh berbagai macam orang, Yoongi bertemu dengan seorang wanita bernama Kwon Yuri. Wanita yang sudah mengabdikan dirinya selama 11 tahun pada ayah Yoongi, Mr. Min. Sejak Yoongi masih seorang bocah kecil, dirinya telah akrab dengan Yuri, dikarenakan ketidakberadaan sosok ibu dalam hidup Yoongi dari umurnya yang masih sangat kecil. Mungkin terdengar klise, namun Yuri adalah sosok pengganti ibu sekaligus saudara perempuan bagi Yoongi.

Wanita cantik itu menggeleng pelan, helai rambut kuncir kudanya ikut bergerak, "Tidak, Yoongi-ah. Lagipula di sini ada Yongguk yang menemaniku ngobrol," ujarnya sembari menepuk bahu lelaki bernama Yongguk di sebelahnya. Lelaki itu langsung memberi hormat pada sosok Yoongi yang dibalas dengan kekehan pelan,

"Tak usah seformal itu, lagipula tak ada appa di sini. Biasa saja," ucap Yoongi sembari tertawa pelan pada Yongguk. Lelaki bersuara bass itu perlahan ikut tertawa bersamanya. Yongguk atau Bang Yongguk merupakan salah satu lulusan terbaik dari sekolah pelatihan sniper AR. Ia keluar sebagai seorang sniper handal yang sudah berkali-kali menerima misi tingkat A, yakni tingkatan misi paling berbahaya dan rahasia. Persentase keberhasilan misinya adalah 80%, di atas rata-rata yang semakin membuatnya menjadi salah satu orang andalan Mr. Min di dalam organisasi. Ia sudah menginjak tahun kelimanya sebagai anggota organisasi, tahun yang sama dengan Namjoon meski dirinya dan Namjoon terpaut jarak umur 4 tahun.

Setelah bercengkrama sedikit, Yongguk mengingatkan bahwa waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, dan mereka sebaiknya bergegas jika tak ingin terlambat.

Terlihat Yongguk membukakan pintu untuk Yoongi dan Namjoon yang mengikutinya, lalu Yuri yang masuk ke dalam kursi pengemudi karena ia adalah seorang pengemudi handal di dalam organisasi. Yoongi membuka jendelanya dan memberi titah terakhir pada Yongguk sebelum mobil hitam luxury mereka melesat.

"Tolong awasi ruang kerja appa, jangan biarkan seseorang memasukinya. Meski seorang maid sekalipun. Penggunaan M-21 diperbolehkan,"

Yongguk, sebagai seorang abdi setia menganggukkan kepalanya dan bergegas menuju ruang penyimpanan senjata untuk melaksanakan tugas.

.

.

"Yoongi, kau sudah makan?"

Yoongi yang sedang mengutak-atik ponselnya menjawab dengan gumaman 'hm' pada wanita pengemudi di kursi depan. Kedua matanya masih terpaku pada kumpulan pesan yang ia terima dari para bawahannya di tempat pelatihan.

Mobil hitam mereka melaju di jalanan kota yang masih cukup ramai. Terkadang mereka harus berhenti agak lama akibat kemacetan jalan. Yuri sudah mematok waktu satu jam untuk mencapai tempat tujuan, maka ia tanpa ragu menancap gas lebih cepat saat suasana jalan cenderung sepi.

Menjadi seorang wanita dengan naluri keibuannya, Yuri bertanya apakah dua pemuda di kursi penumpang telah mengisi perut mereka atau belum.

"Namjoon, bagaimana denganmu?" ujar Yuri lagi.

Namjoon yang tengah berkutat dengan laptopnya hanya berkata, "Huh?" lengkap dengan ekspresi bengongnya.

Yuri yang mencuri pandang dari kaca mobil hanya terkekeh pelan, "Apa kau sudah mengisi perutmu? Tugas yang akan kau jalankan selanjutnya pasti membutuhkan lebih banyak energi untukmu daripada Yoongi,"

"Noonaa.." terdengar protes yang dilayangkan Yoongi. Pemuda itu mengerutkan bibirnya seraya mendelik pada sosok Yuri.

Wanita berkuncir kuda itu kembali tertawa. "Oh, stop acting like a kid, boys," ujarnya sembari membelokkan kemudi mobil ke kiri. Memasuki wilayah yang sedikit gelap dari jalan biasanya.

Menyadari wilayah yang baru baginya, Yoongi mengalihkan perhatiannya dari ponselnya. Ia menatap ke luar dan mengerenyit begitu melihat wilayah yang tak dikenalnya.

"Noona? Jalan baru lagi?" tanyanya pada sosok Yuri yang sejak tadi terlihat ceria namun sekarang ekspresinya berubah lebih serius.

Namjoon yang berada di sebelahnya terlihat terus menengokkan kepalanya ke belakang. Ia mematikan saluran komunikasi di dalam mobil.

Melihat gelagat yang ditunjukkan kedua orang partnernya, Yoongi pun mengerti. Ia matikan ponselnya dan mulai berakting tidur. Suara gemuruh mesin mobil terdengar melewati mobil mereka di tengah jalanan sepi dan gelap. Hanya terlihat dua buah mobil yang berjalan melintasi jalanan.

Namjoon segera membuka kancing kemejanya dan melepaskan sweater hitam milik Yoongi setelah aba-aba dari Yoongi. Yuri yang berada di kursi depan segera menyalakan musik dan mengeluarkan botol vodka yang sudah dihabiskan setengahnya. Ia melepas ikatan rambutnya dan sengaja mengemudi layaknya orang mabuk.

Waktunya bertepatan dengan sebuah mobil silver melewati mobil mereka dan nampak sepasang mata mengawasi dari dalam mobil. Namun mata itu hanya mendapati pasangan gay yang tengah bertindak asusila di kursi belakang dan seorang wanita mabuk yang mengemudikan mobil.

Beberapa saat setelahnya, mobil itu melaju kencang meninggalkan mereka.

Setelah memastikan mobil tersebut lenyap, Yuri kembali ke dalam mode normalnya dan mengembalikan kemudinya ke bentuk asal.

"They're gone," ujarnya yang langsung dibalas dengan lenguhan dari dua pemuda di kursi belakangnya. Yoongi segera berdecih sembari meraih sweater dan mengenakannya kembali. Namjoon mengancingkan kemejanya dan kembali menyalakan saluran komunikasi. Sedangkan Yuri bersiul sembari menyimpan botol vodka-nya, seakan tak terjadi apa-apa.

"Wah, ide kalian tadi bagus sekali. Kalau aku yang lewat tadi pasti akan membuka jendela dan menyoraki kalian," celoteh Yuri pada akting yang dilakukan Yoongi dan Namjoon.

Kejadian barusan sudah biasa dihadapi oleh mereka jika bertemu dengan orang-orang mencurigakan yang mengikuti mereka. Mobil silver barusan sudah disadari oleh Yuri bahwa mobil itu mengikuti mereka sejak lampu lalu lintas yang pertama. Maka dari itu, ia membelokkan mobilnya ke arah kiri di mana jarang orang melintas dan bertindak seakan-akan mereka hanyalah kumpulan orang mabuk yang sedang mengendarai mobil. Berada di dalam organisasi elit memang selalu menimbulkan berbagai macam resiko.

Yoongi hanya menguap bosan dan Namjoon tertawa renyah sembari berkutat dengan laptopnya lagi. "Ide mendadak yang kebetulan kau sukai, noona," ujar Namjoon.

Yuri terkekeh, "Yup. Lain kali lakukan lagi,"

"I don't give a shit," ujar Yoongi selagi menyalakan ponselnya kembali.

Ia melanjutkan membaca laporan yang berasal dari seseorang bernama 'J-Hope' yang ia dan ayahnya ketahui sebagai bawahan baru yang sangat berbakat dan setia.

.

.

.

.

.

.

.

.

Siang harinya.

.

.

BANG!

Suara nyaring dari senapan bersahut-sahutan di tengah lapangan luas ditemani terik matahari. Menyebabkan bulir peluh bergantian turun menghiasi wajah-wajah tampan nan kelelahan milik para trainee. Salah satunya Sanghyun.

Pemuda tampan nan bertubuh tinggi itu menyeka keringatnya begitu selesai melesatkan tembakannya pada sebuah target berwarna merah yang bergerak dengan mesin.

Lenguhan lelahnya masih dapat terdengar selagi ia mengusap keringatnya dengan handuk kecil miliknya. Ia mengistirahatkan dirinya di atas pijakan yang dibuat menonjol untuk tempat duduk para trainee, dan mengarahkan pandangannya pada sosok Taehyung yang berlatih tepat di sebelahnya.

Ia memerhatikan bagaimana pemuda itu nampak begitu serius namun juga terlihat santai. Bagaimana segala tembakan yang ia keluarkan mengenai tepat ke arah sasaran dan menambah poin untuknya. Bagaimana cepatnya ia mengisi ulang pelurunya dan mencoba menembak dengan satu tangan dan berhasil tepat sasaran dengan sempurna. Rasanya bila ada seorang sniper yang terlahir dengan bakat alami, maka bisa dibilang Taehyung lah salah satunya.

Tak peduli dengan jenis apapun senapan yang ia gunakan, Taehyung akan selalu mendapat poin tertinggi. Jikalau tembakannya meleset, peluru Taehyung tidak akan keluar dari lingkaran poin bernilai A sekalipun poinnya tidak bulat 100. Dengan kata lain, jika Sanghyun adalah seorang mentor maka persentase Taehyung dalam menguasai tembak-menembak adalah 95%, hampir mendekati sempurna.

Dirinya dikejutkan dengan kehadiran sang mentor, yang membawa dua botol minuman. "Ambil ini, dan beri temanmu itu yang satunya. Karena kalian sudah bekerja keras," ujar mentornya, "Dan oh, jangan sampai tertukar. Sebab minuman ini dari mentornya," sembari menepuk pundak Sanghyun lalu kembali pergi.

Tak merasakan kecurigaan apapun, Sanghyun yang memang sedang haus segera meneguk minumannya. Setelah merasa cukup, ia berjalan menghampiri Taehyung, teman yang dimaksud oleh sang mentor.

"Hei, Taehyung. Istirahat dulu," ujarnya pada Taehyung yang masih tenggelam dalam kegiatan menembaknya. Taehyung nampak sedikit tersentak dengan kehadiran Sanghyun, "Oh, baiklah.." walau ragu awalnya, Taehyung memutuskan untuk beristirahat sebab ia berpikir mungkin Sanghyun sedang ada perlu dengannya.

Mereka duduk bersebelahan dan sesekali Sanghyun memperingatkan Taehyung untuk menyelonjorkan kakinya agar sendinya tidak terikat.

"Kau tahu kau sudah bekerja keras," Sanghyun memulai pembicaraan yang sedikit mengherankan Taehyung. Seminggu ini ia mengenal Sanghyun sebagai pribadi yang cukup diam dan tidak banyak berkomentar selain pada Minwoo tentunya. Ia berdehem pelan untuk mencairkan suasana dan tersenyum renyah,

"Begitukah? Terima kasih, hyung." Jawabnya sopan.

Sanghyun mulai tertawa pelan, "Kita ini roommate, sudah seharusnya mengenal lebih dekat, bukan?"

Taehyung kembali harus tersedak. Ia merasa menemukan diri yang lain di dalam diri Sanghyun. Tak pernah ia mengira kata-kata tersebut akan keluar dari bibirnya.

"Kau benar, hyung," perlahan Taehyung membalas tawa Sanghyun. Cara yang cukup aneh untuk memulai jalinan persahabatan.

"Dan bolehkah aku mengenal Jungkook lebih dekat,"

"What the—"

Sanghyun kembali tertawa, kali ini terlihat lebih lepas dari biasanya. Ia sudah mendengar dari Youngjae dan Jimin serta Sungjae bahwa Taehyung itu sangat asyik untuk dikerjai, apalagi tentang Jungkook.

"Yep, mereka benar tentangmu, Taehyung," ujarnya masih terkekeh pelan.

Taehyung merasa malu kembali masuk ke dalam perangkap jahil teman-temannya. Ia tak ingin kalah kali ini, ia memutar otak dan berceletuk, "Boleh saja asal kau biarkan aku menyentuh Minwoo,"

Kali ini giliran Sanghyun memasang ekspresi terkejutnya. Sementara Taehyung-lah yang tertawa menatap dirinya. "Poin untukku, hyung," ujarnya selagi menggoda ekspresi kaget milik Sanghyun yang nampak priceless.

"You've got me," Sanghyun kembali ikut tertawa bersama Taehyung. Benar-benar cara memulai persahabatan yang unik.

"Ngomong-ngomong tadi aku dapat ini," Sanghyun menyodorkan sebuah botol minuman pada Taehyung, "Minumlah,"

Raut wajah Taehyung berubah gembira, "Tahu saja jika aku sedang haus," ujarnya dengan kekehan pada Sanghyun. "Semua juga tahu jika kau berkeringat seperti itu," dan membiarkan kerongkongannya dibanjiri dengan air dingin yang membuatnya lega.

"Terima kasih, hyung," ujar Taehyung lengkap dengan senyumannya. Tidak, senyuman untuk Jungkook tentu berbeda dengan senyumannya untuk orang lain.

"Kembali,"

Kemudian dua pemuda itu melanjutkan bercengkrama hingga waktu pelatihan sesi 2 selesai. Tanpa ada satu pun dari mereka yang mengetahui bahwa minuman untuk Taehyung telah tercampur dengan serbuk heroin yang telah direncakan oleh sang mentor, J-Hope.

Reaksi yang ditunjukkan Taehyung juga tidak terlalu signifikan yang membuat orang-orang sekelilingnya menyadari bahwa Taehyung telah mengonsumsi sesuatu yang berbahaya, sehingga tak ada yang menganggapnya aneh.

Taehyung sendiri hanya bergumam dalam hatinya mengapa sebuah minuman mineral biasa terasa begitu candu bagi dirinya. Namun ia hanya menganggapnya sebagai bentuk haus dari dirinya.

.

.

.

.

.

.

.

.

Senja tiba, para trainee dikumpulkan di aula besar untuk sebuah pengumuman yang diadakan oleh komandan pelatih. Di setiap sisi terdapat penjaga dan para mentor yang berkumpul jadi satu.

Bola mata indah milik Jungkook menangkap sosok sang kakak dari kejauhan yang melambaikan tangan padanya sekilas. Jungkook mengulaskan senyumnya dan membalas lambaian sang kakak meski ia tak lagi melihat dirinya.

Tiba-tiba dirinya dikejutkan dengan gumaman suara bass yang menggelitik telinga kanannya, "Dapat sesuatu, sayang?" Taehyung, dengan kegemarannya mengejutkan Jungkook dari belakang.

Jungkook bergidik dan segera menjauhkan tubuh Taehyung dari dirinya, merasa malu akan tatapan orang-orang di sekelilingnya. Ia menunduk sembari berbisik pada Taehyung, "Jangan lakukan itu, hyung, di sini banyak orang.."

Taehyung terkekeh pelan sembari mengacak surai pemuda kesayangannya, "Baiklah, bunny," lalu ia memundurkan dirinya sedikit menjadi sejajar dengan Jimin di sebelahnya. Jungkook yang berada di depannya terlihat sibuk menyembunyikan wajahnya yang merona akibat panggilan sayang Taehyung padanya.

Taehyung kembali terkekeh melihat sikap Jungkooknya yang lucu. "Ya, masih saja begitu. Kontrol diri, Tae," Jimin menyikut dirinya perlahan lengkap dengan ekspresi mengejek miliknya.

"Baiklah, baiklah," ucap Taehyung yang masih tertawa pelan. Sanghyun yang berdiri di belakang Jimin hanya ikut menyeringai pelan mengamati kelakuan tiga pemuda lebih muda darinya yang ia anggap menggemaskan.

"Attention!"

Suara menggelegar nan mengejutkan milik sang komandan membuat suasana menjadi hening dan tertib. Sikap tubuh para mentor langsung menjadi sikap yang teratur dan rapi, diikuti dengan barisan para trainee.

"Sehubungan dengan waktu pelatihan yang sudah menginjak hari ke-7, atau setengah dari perjalanan, maka kali ini akan diadakan tes kesehatan untuk mengetahui perkembangan tubuh kalian. Saya tahu bahwa jadwal tes kesehatan bukanlah hari ini, namun ini adalah perintah. Jadi 10 menit dari sekarang kalian siapkan diri kalian dan berbaris sesuai kelompok lalu masuk ke dalam ruangan pemeriksaan sebanyak 5 orang per sesi. Paham?!"

Sahutan 'paham' menggema di seluruh ruangan. Beberapa dari trainee mengerutkan kening mereka. Seharusnya jadwal hari ini hanyalah persiapan sambutan kedatangan anak dari Mr. Min yang akan mengawasi pelatihan untuk seminggu ke depan. Namun mereka hanya mengedikkan bahu dan segera berbaris untuk memulai tes kesehatan.

Mereka terbagi dalam 2 kelompok, yakni sniper dan spotter. Tentu saja Taehyung dan Jungkook serta Sanghyun dan Minwoo harus terpisah, meski mereka ingin diperiksa bersama (Taehyung beralasan ingin melihat tubuh Jungkook yang mendapat cubitan protes dari Jungkook).

Akhirnya setelah menunggu selama kurang lebih 20 menit, giliran Jungkook pun tiba. Ia masuk berlima bersama dengan trainee lain yang ia tidak ketahui. Sebelumnya Taehyung sudah berkata jika pemeriksa itu bertindak macam-macam Jungkook harus meninju wajahnya. Jungkook hanya mengangguk sembari terkekeh pelan mendengar titah manis dari kekasihnya.

"Kau tidak terima sekali jika Jungkook-mu dipegang-pegang ya?" goda Sanghyun yang berbaris di belakang Taehyung.

"Bukan begitu, tak ada yang bisa menjamin jika yang memegang Jungkook bukan orang yang mesum,"

Sanghyun tertawa pelan, "Kalau kau bicara begitu kau yang terlihat seperti orang mesum tahu,"

Taehyung terhenyak, "Tidak!" Jimin dan Junhong yang mendegar obrolan ringan Sanghyun-Taehyung hanya ikut tertawa kecil. Terlebih Jimin, pemuda itu ikut menggoda Taehyung bersama Sanghyun dengan mengatakan bahwa Taehyung adalah seorang om-om mesum.

"Ah, Junhong, Jimin, Taehyung, giliran kalian." Taehyung yang tepat mendapat posisi kelima di sesi ini memasuki ruangan pemeriksaan bersama 4 orang trainee lainnya termasuk Junhong dan Jimin. Sedangkan Sanghyun masih harus menunggu di sesi selanjutnya.

Akhirnya kelima trainee itu melangkahkan kaki ke dalam ruangan. Ruangan yang berisi dengan peralatan medis mulai dari timbangan badan, ronsen tubuh, ranjang putih, berbagai macam stetoskop dan alat-alat lain yang sulit dijelaskan. Bau khas medis juga tercium dari dalamnya.

"Kim Taehyung? Silakan ke bagian ini," seorang dokter pemeriksa mengabsen nama mereka dan menyilakan para pemuda itu untuk menghampiri pemeriksa mereka masing-masing. Terdapat 5 orang dokter untuk masing-masing 5 trainee.

Taehyung menatap dokter di hadapannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Seorang lelaki paruh baya yang tidak mencurigakan sama sekali. Memegang data diri Taehyung dan sebuah pulpen serta stetoskop yang dilingkarkan di lehernya. Mengenakan jas putih khas dokter dan nampak begitu karismatik.

"Nah kita mulai dari pemeriksaan dasar. Tolong buka mulutmu,"

.

.

.

.

Sekitar dua jam setelah pemeriksaan kesehatan, waktu makan malam telah dilewati para trainee. Namun mereka sudah diberi waktu bebas, sehingga mereka bebas berada di wilayah mana pun. Termasuk gerombolan Taehyung dan kawan-kawan.

Mereka nampak sedang asyik bercengkrama dan saling bertukar cerita sebelum seseorang datang menghampiri.

Orang itu adalah Kim Seokjin.

Mata bulat Jungkook menatap sosok sang kakak yang berjalan menghampiri meja mereka. Ia hendak melambaikan tangan dan sumringah menatap kakaknya sebelum ia menyadari tatapan menyeramkan darinya.

"Kim Taehyung, ikut aku sekarang." Begitu ucapnya saat berhenti di hadapan mereka dan memberi titah pada Taehyung untuk ikut dengannya.

Jungkook dan yang lain memasang wajah bingung, ia hampir menahan Taehyung untuk pergi namun Taehyung menolaknya, "Tak apa, aku segera kembali," ujarnya sembari tersenyum pada Jungkook lalu segera berjalan mengikuti sang kakak.

Seteah kepergian Taehyung, Jungkook tak bisa berpikir apapun selain merasa khawatir. Ia tahu arti tatapan sang kakak. Dan tatapan itu berarti sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi.

.

.

.

"Kim Taehyung, kau terdakwa dalam kepemilikan dan penggunaan obat terlarang, yakni heroin. Hasil diagnosa menyatakan bahwa urinmu mengandung obat-obatan terlarang tersebut,"

Betapa terkejutnya Taehyung ketika ia memasuki ruangan kecil yang hanya dilengkapi dengan sebuah lampu penerangan mirip seperti ruang interogasi yang mana hanya ada dirinya dan sang komandan pelatih yang sangat ia benci saat Jin menyuruhnya memasuki ruangan itu.

Ia sungguh merasa aneh, bagaimana bisa dirinya dituduh menggunakan sesuatu yang belum pernah ia cicipi sebelumnya. Melihat raut wajah menuduh yang menjijikkan milik sang komandan, Taehyung memutuskan untuk membela diri.

"Jika benar aku adalah seorang pecandu mengapa aku sehat-sehat saja sekarang?" ujarnya lengkap dengan ekspresi pembelaan miliknya.

"Mana kutahu jika obat sialan itu terkandung di dalam tubuhku!" tak disangka, nada suara sang komandan berubah menjadi tinggi dan itu sungguh memancing kemarahan Taehyung.

Ia menggebrak meja dengan kedua tangannya, tanda perlawanan pada sang komandan, "Harusnya aku akan bertindak seperti orang sakau dan memohon-mohon pasokan obat padamu, pergunakan otakmu itu wahai tuan Lee yang bijaksana!"

Lantas, tindakan Taehyung mengundang amarah bagi sang komandan. Dengan cepat ia meraih kerah baju Taehyung dan hendak mencekiknya.

"Piece of shit! Akui saja kesalahanmu sebelum hidupmu kuakhiri di sini, bedebah kecil!" dengan seluruh amarah yang ia punya, komandan yang dipanggil sebagai tuan Lee itu meluapkan seluruhnya pada sosok Taehyung.

Sementara Taehyung menggeretakkan giginya dan mencengkram kedua tangan komandan itu dari lehernya. Mereka beradu tatapan mengerikan.

Jika saja kedatangan orang berpengaruh nomor dua di dalam pelatihan ini terlambat, mungkin sudah terjadi adegan baku hantam antara Taehyung dan komandan itu.

"Hei, ada apa ini?"

Suara Yoongi, orang berpengaruh nomor dua terdengar dari pintu depan. Membuat sang komandan terlonjak sangat kaget. Ia melonggarkan cengkramannya pada Taehyung begitu menolehkan kepala dan mendapati sosok Yoongi sudah berdiri di depan pintu dengan ekspresi anehnya.

"Hei, Lee, apakah itu adalah seorang trainee?" lagi, Yoongi membuka suaranya. Ia menatap sosok Taehyung yang masih berada dalam cengkraman si komandan. Dan ia dapat menyimpulkan bahwa Taehyung adalah seorang trainee dari pakaian yang dikenakannya. Dan adegan seorang komandan mencekik seorang trainee bukanlah tindakan yang wajar.

"T-tuan muda Yoongi! S-selamat datang, maaf saya tidak tahu jika anda sudah datang.." ucap si komandan dengan gugup dan melepaskan Taehyung.

Yoongi berdesis pelan, "Ya, ya, bukannya aku tidak merasa puas sebab yang menyambut hanyalah wakilmu dan kau memajukan tes kesehatan para trainee. Dan ditambah pemandangan yang kulihat, apa ini?"

"Bajingan kecil ini adalah seorang pecandu, tuan. Kita tak bisa membiarkan seorang pengonsumsi narkotika ada di dalam pelatihan ini!"

Ucapan sang komandan dibalas dengan geraman tak terima dari Taehyung.

"Apa ada bukti?"

Sang komandan dengan cepat mengeluarkan hasil tes kesehatan Taehyung yang tertulis bahwa tubuh pemuda itu positif mengandung obat-obatan terlarang.

Yoongi menelaah data tes kesehatan Taehyung dan menatap sosok Taehyung berulang kali. Ia bergumam, 'Oh, jadi inilah sosok Kim Taehyung itu,' dan dirinya menyeringai sedikit.

Ia memandang komandannya dan Taehyung secara bergantian, 'Ini menyenangkan sekali,' pikirnya lagi.

"Baiklah kau benar, pemuda ini memang terbukti,"

"Benar 'kan yang kukatakan, tuan-"

"Namun apakah yang akan orang-orang katakan jika organisasi AR adalah sekumpulan manusia tak berhati? Kau lihat, kandungan yang terdapat di dalam tubuhnya kecil sekali, hanya berkisar antara 4-8 %. Sesungguhnya ia tak bisa dikatakan sebagai seorang pecandu," lanjut Yoongi.

"T-tapi tuan! Bukankah organisasi ini adalah organisasi yang tak akan memaafkan perlakuan melenceng yang akan membawa nama buruk bagi organisasi?" masih saja sang komandan itu bersikeras.

"Kita adakan tes marksmanship sekali lagi. Jika kau, Taehyung, bisa melewati tes tersebut maka kau bebas dari tuduhan," ujar Yoongi sembari menatap Taehyung dengan tatapan tantangan.

Taehyung merasa sesuatu di dalam dirinya aktif saat beradu pandang dengan sosok Yoongi. Maka tanpa ragu ia berkata;

"Saya ingin penjaga sialan ini bertaruh jabatannya, Tuan Yoongi,"

.

.

.

.

.

.

Tbc

[twt: danmarked]

*Umur Yuri sengaja ditambahkan demi kelancaran cerita(?)

*M-21 = jenis senapan yang hanya digunakan oleh sniper di saat tertentu

Oke.. maafkan diriku baru update /bows/ karena sesungguhnya kemalasan ini menghantui /gak/

Coba ditebak lagi kira2 yoongi itu di pihak mana(?)

Btw mas lider kita muncul juga yeay~ XD

Dan mohon maaf kalau aku banyak pake istilah inggris2 gitu soalnya apa daya aku mau pake bahasa koriya tapi gabisa :" /dor/ jadi boleh anggep aja istilah inggrisnya itu sebagai bahasa koriya oke X"D terima kasih/?

Sekalian minal aidzin ya kawan2ku semua n(_ _)n ff akan lanjut sehabis lebaran karena aku mudik huhuhu :" have a nice holidaaay~

ok, tinggalkan jejak apapun untuk membuatku bahagia(?) dan apapun tanggapan kalian mengenai cerita ini khuhuhu

critics/comments are warm welcomed, but please do not bash chara and or pairing, thx!

seeyou soon~!