"Kita adakan tes marksmanship sekali lagi. Jika kau, Taehyung, bisa melewati tes tersebut maka kau bebas dari tuduhan,"

.

.

.

.

.

.

.

scavenged

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sosok pemuda berambut gelap terlihat tengah menggenggam kedua tangannya erat sembari menggumamkan sesuatu. Raut wajahnya menyiratkan sebuah kekhawatiran. Berkali-kali ia mengambil nafas dan membuangnya dengan berat. Ia juga tak bisa mengayal butiran peluh yang bertengger di pelipisnya, menandakan rasa gugup dan nervous yang amat sangat.

Seseorang di sampingnya hanya menatapnya dengan tatapan kasihan. Ia ingin sekali menenangkan pemuda di sebelahnya, namun ia menganggap satu-satunya yang dapat menenangkan pemuda ini hanyalah seseorang bernama Kim Taehyung kembali dengan keadaan selamat.

"Apa sih, yang kau pikirkan, Park Jimin?!" Jimin, pemuda itu mengusak surainya sembari meringis dan merutuki ucapan dirinya sendiri. Semenjak peninggalan Taehyung, apa pun yang mereka katakan dan lakukan hanya terkesan salah. Terlebih, jika menyangkut tentang Jungkook, pemuda di sebelah Jimin yang masih menundukkan kepalanya.

Apa yang Jungkook lihat sebelumnya benar-benar membuatnya dilanda kekhawatiran. Ia tahu betul arti tatapan Seokjin, sang kakak, sesaat sebelum membawa Taehyung, kekasihnya pergi. Tatapan itu jauh dari artian tenang.

"Jimin, ssh!" ucap Sungjae yang berada di seberang Jimin, menyuruh pemuda itu diam dan tidak berkata yang aneh-aneh tentang Taehyung.

Mereka; Jimin, Sungjae, Youngjae, serta Junhong masih setia menemani Jungkook di aula besar trainee. Menemani pemuda itu sampai sosok bernama Taehyung kembali.

Tak lama, nampak sosok Minwoo berlari tergopoh-gopoh disusul Sanghyun di belakangnya, menghampiri mereka. "Y-yeorobun!" dengan nafas yang tersengal, ia sampai ke meja para pemuda yang tengah menunggu itu.

Dengan segera, ia mendudukkan dirinya tepat di sebelah kanan Jungkook, yang harusnya menjadi tempat duduk milik Taehyung. Sedangkan Sanghyun menempati sebelah kiri Jimin.

"Aku mendengar desas-desus para trainee tentang Taehyung dibawa pergi oleh seorang mentor, benarkah itu?" tanyanya yang terdengar polos serta keingintahuan. Namun sayang, pertanyaannya malah menambah denyutan di dalam dada Jungkook.

Sontak, Jimin serta Youngjae meletakkan telunjuk mereka di atas bibir masing-masing, mengisyaratkan Minwoo untuk tidak bertanya seperti itu. Dengan respon lambat, Minwoo segera tersadar lalu meminta maaf, "A-aigoo! Mian, Jungkook-ah! Bukan maksud–" "–sudahlah, Minwoo-ya,"

Suara berat Sanghyun memotongnya agar Minwoo tidak kelepasan bicara semakin jauh. Pemuda itu meletakkan kedua tangannya di atas meja kemudian membawanya berpangku ke depan bibirnya.

"Sudah kuduga, jangan-jangan ini menyangkut masalah Taehyung dengan mentornya itu," di luar dugaan, Sanghyun bersuara yang mampu mengundang rasa keingintahuan dari pemuda di sekelilingnya. Termasuk Jungkook.

"S-Sanghyun-hyung, kau tahu sesuatu?" giliran Sungjae yang bertanya. Ia yang bernotabene seorang roommate Taehyung tak tahu menahu tentang apa yang menimpa teman sekamarnya dan sehatinya (itu menurutnya) itu.

Jimin menoleh menatap Sanghyun. Ia menenggak salivanya berat-berat.

Sanghyun nampak menghela nafas kecil, "Belum pasti, aku masih belum mengerti garis besarnya," ia nampak mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Ia melihat masih ada beberapa trainee yang bertahan di ruangan ini. Kebanyakan di antara mereka nampak masih membicarakan kejadian Taehyung barusan, walau ada juga yang terkesan tidak peduli.

Sanghyun menatap beberapa pemuda di depannya bergantian. Ia berhenti sejenak saat pandangannya mengarah pada Jungkook yang sekarang sudah mendongak dan membalas tatapannya.

Pemuda itu menggeleng lemah sembari menjawab tatapan Jungkook, "Tidak, Jungkook. Jika memang ada yang bisa menjelaskan alasannya, itu adalah Taehyung sendiri. Aku yakin ia pasti mau bercerita pada kalian," ujarnya bijak. Sanghyun merasa tidak memiliki hak untuk berbicara tentang masalah ini, karena ia pun sebenarnya tak mengetahui detil secara pasti.

Raut wajah Jungkook kembali berubah suram. Pemuda itu menenggelamkan wajahnya di atas pangkuan tangannya lagi. Minwoo yang berada tepat di sebelahnya secara refleks langsung mengelus surai Jungkook dan menggumamkan kata-kata penenang.

"Tenanglah, Jungkook-ah.." ujar pemuda kelahiran 95 itu dengan sangat pelan dan hati-hati. Sosok yang dielus olehnya hanya terdiam membiarkan dirinya menerima perlakuan seperti itu.

Sedangkan sisanya hanya membuang nafas berat setelah mendengar ucapan Sanghyun. Nampak sosok Youngjae yang biasanya adalah seorang talkactive menjadi diam, seakan harus memilah kata-kata yang akan diucapnya.

Begitu tangan Junhong hendak menyentuh pundak Youngjae, mendadak suasana menjadi lebih riuh dari biasanya. Para trainee berhamburan tergesa-gesa dan segera membuat barisan.

"Hey, dia datang. Cepatlah kalian juga!" salah seorang trainee bertubuh tinggi bernama Mingyu sempat berkata pada mereka sebelum dirinya menyusul trainee lain berbaris.

Sanghyun yang memiliki respon cepat langsung berdiri dan mengisyaratkan mereka ikut berdiri menggunakan kepalanya. Pemuda itu segera berjalan menuju barisan.

Jungkook yang juga telah bersiap berdiri memasang wajah blank miliknya. Ia menatap Minwoo dan bertanya, "Siapa yang datang, hyung?"

Minwoo menjawab sembari dirinya terus berjalan bersama Jungkook, "Anak dari Mr. Min, tuan muda Yoongi,"

Jungkook mengerjapkan kedua matanya selagi tangannya ditarik oleh Minwoo menuju sebuah barisan. Ia berbaris sejajar dengan Junhong di depannya yang bertubuh lebih tinggi, jadi ia harus berjinjit untuk melihat ke depan.

Saat ini seluruh trainee sudah berbaris rapi di tengah aula besar. Mereka disiapkan untuk menyambut kedatangan orang nomor dua paling berpengaruh di pelatihan ini. Beberapa dari mereka nampak tenang, namun tak sedikit yang memperlihatkan antusiasmenya.

Satu per satu para mentor berdatangan dan berbaris di hadapan mereka. Jungkook menatapnya, namun ia tak melihat sosok sang kakak. Ia mendengus kecewa sekaligus khawatir. Apa sebenarnya yang kakaknya lakukan bersama Taehyung?

Seorang mentor, yang pernah Jungkook tahu saat hari pertamanya dikumpulkan dan menjadi seorang trainee tiba-tiba maju ke depan dan mulai berbicara.

"Selamat malam semuanya," ucapnya lantang yang segera dibalas oleh barisan trainee.

"Kalian tentunya sudah mengetahui rencana kedatangan anak dari Mr. Min, bukan? Dengan itu, malam ini kalian dikumpulkan untuk menyambut kedatangan beliau yang sebenarnya mengalami delay selama beberapa jam dikarenakan suatu hal. Kalian adalah trainee yang berintelek, tentunya sebagai trainee kalian seyogyanya menyambut salah satu orang paling berpengaruh di dalam pelatihan," ujarnya lagi.

J-Hope, jika Jungkook tidak salah mengingat, adalah nama dari mentor yang sedang berbicara itu.

"Mobilnya sudah datang, persiapkan diri kalian. Dan ingat, behave," ujar J-Hope lagi dan segera berjalan menuju pintu untuk menyambut kedatangan Yoongi.

Mendadak, beberapa saat kemudian tubuh Jungkook merasa bergidik. Ia merasakan suatu aura berbeda tatkala sesosok pemuda terlihat berjalan memasuki ruangan. Aura yang membuatnya tegang, namun juga merasa aman.

Begitu sosok itu mulai bermandikan cahaya lampu, nampaklah sosok Min Yoongi secara keseluruhan. Rambut yang berwarna merah kelam, berpakaian santai lengkap dengan sweater hitam, converse, dan kedua tangannya yang dimasukkan ke dalam kantung celananya.

Di belakangnya nampak sosok lelaki tinggi, berpakaian lebih formal darinya, membawa sebuah kopor, dan keduanya terlihat seperti sosok yang mengintimidasi.

Segera setelah Yoongi memasuki ruangan, ia disambut oleh J-Hope dan keduanya nampak melakukan hi-five yang terkesan akrab. Senyuman mendadak terlukis di bibir tipis Yoongi begitu dirinya melihat sosok J-Hope.

Jungkook tak dapat mendengar dengan jelas percakapan yang terjadi antara dua pemuda itu. Ia begitu terkesiap melihat sosok Yoongi yang dipenuhi dengan pancaran aura. Aura seperti apa tepatnya Jungkook belum bisa menentukannya.

Matanya mengerjap-ngerjap saat memandang lekuk wajah Yoongi. Ia berhenti di kedua manik itu, seakan menemukan keasyikannya sendiri, Jungkook perlahan membiarkan dirinya tenggelam dalam pancaran kedua manik Yoongi. Tanpa sadar ia menjatuhkan dagunya perlahan dan membentuk bulatan kecil di bibirnya.

Yoongi mengedarkan pandangannya dengan mata sipit dan ekspresi datar namun terkesan tegas miliknya. Ia membiarkan sejenak Namjoon, sosok yang menemani dirinya tadi berbincang dengan J-Hope mengenai sesuatu di dalam kertas yang dikeluarkan J-Hope.

"Ini adalah tuan muda Yoongi, orang berpengaruh nomor dua di dalam pelatihan ini. Beri penghormatan!" titah J-Hope berbunyi nyaring dan membuat seluruh jajaran trainee membungkuk–memberi salam penghormatan pada Yoongi.

Yoongi membalasnya dengan anggukan kepala dan seutas senyum yang terlukis di wajahnya.

Sekilas, ia beradu pandang dengan Jungkook yang berbaris antara lima orang trainee darinya. Ia membiarkan penglihatannya jeda sejenak pada sosok Jungkook. Kedua mata sipitnya ia gunakan untuk memindai tubuh pemuda bermata bulat itu. Secercah, dirinya menerima dorongan untuk mengetahui namanya.

"Hei, siapa nama trainee yang matanya bulat dan berpipi gembil itu?" tanya Yoongi secara berbisik akhirnya pada J-Hope yang telah selesai berunding dengan Namjoon. J-Hope mengikuti pandangan Yoongi dan menangkap dua orang dengan pipi sedikit berisi, "Yang mana? Yang pendek atau yang sedikit tinggi di sebelahnya? Kalau yang pendek namanya Park Jimin," jawabnya.

Yoongi sedikit mendengus, "Bukan yang pendek, yang lebih tinggi itu yang tatapannya polos–eh sejak kapan kau perhatian sekali pada nama trainee?" lengos Yoongi tiba-tiba, sekaligus menyunggikan senyumannya.

J-Hope balas tersenyum penuh arti pada Yoongi, "My job," dan segera dibalas anggukan oleh pemuda itu. "Yang itu namanya Jeon Jungkook. Iya, dia seorang Jeon. Jeon. Jung. Kook," lanjutnya tanpa menghilangkan smirk di wajahnya.

Yoongi mengerenyitkan keningnya perlahan dan kembali menatap Jungkook dari kejauhan. "Menurut data informasi miliknya ia memakai marga sang ibu karena orang tua mereka telah bercerai, ia bebas memilih marganya karenanya ia tetap memakai marga 'Jeon'," lanjut J-Hope, kali ini memasang wajah biasanya.

Yoongi masih menatap Jungkook hingga membuat yang ditatap itu salah tingkah. Pemuda kecil itu menundukkan kepalanya, membiarkan Jimin menepuk-nepuk punggungnya untuk menenangkannya.

"Dan apa kau tahu siapa ayahnya?" ujar J-Hope sedikit misterius. "Siapa?" tanya Yoongi, terpancing.

"Mendiang Inspektur Kim Kyujong,"

Yoongi menyunggingkan senyumannya begitu mendengar nama tersebut.

"Oh, pantas saja aku tidak merasa asing dengan anak itu. Dia kah adik Seokjin?" tanya Yoongi lagi, kali ini ia memalingkan pandangannya dari Jungkook. Ekspresi lebih excited terlukis di wajahnya dibanding sebelumnya.

"Seokjin? Maksudnya Kim Seokjin peraih penghargaan best trainee angkatan lalu?" giliran Namjoon membuka suaranya, ia memang memiliki ingatan yang bagus sehingga menghafal tiap trainee yang pernah ia temui.

J-Hope nampak mengangguk-angguk kecil, kemudian ia memasang wajah sendunya, "Bocah itu anehnya memiliki kesan yang sama seperti adik kecilku. Aku seperti melihat dirinya di dalam sosok bocah itu," dengan suara yang sedikit rintih dan pelan.

Yoongi maupun Namjoon terdiam sejenak. Mereka mengetahui dengan jelas ke mana arah pembicaraan J-Hope akan pergi. Namjoon menyikut lengan pemuda itu dengan bercanda, "Cheer up, man. Kau akan segera mendapatkan jawabannya," ujar lelaki tinggi itu menghiburnya.

Nampak J-Hope mengulaskan senyum kecilnya. Ia hampir lupa tujuannya jika saja Yoongi tidak berceletuk, "Hei, mana si Lee besar itu? Mengapa cuma dirimu yang menyambutku, ngomong-ngomong?"

J-Hope memicingkan tatapannya dan merogoh sesuatu di dalam kantung jasnya. Ia meminta Yoongi segera mengikuti dirinya, "Lelaki tua itu sedang berulah, ikut aku, ada trainee malang yang menjadi santapan selanjutnya," tentu saja tak terdengar oleh siapa pun kecuali Yoongi dan Namjoon.

Sebelum pergi, Yoongi akhirnya berseru–memberi perintah bagi para trainee, "Penyambutanku sudah cukup, silakan kalian kembali melanjutkan aktivitas. Jika ada sesuatu yang ingin ditanyakan, tanyakan pada Namjoon, tangan kananku," serunya sembari memperkenalkan sosok Namjoon yang membungkuk hormat sebagai salam perkenalan.

Diikuti para trainee yang balas membungkuk, Yoongi mengangguk sekali lagi dan bergegas mengikuti J-Hope.

"Kau ambil alih," kodenya pada Namjoon yang menjawabnya dengan anggukan mantap.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kembali ke waktu normal.

.

.

Gerombolan Jungkook masih setia menunggu kepulangan Taehyung. Mereka berdiam diri di meja panjang dan sesekali gelisah. Namun saat ini Jungkook nampak memikirkan sesuatu semenjak kedatangan Yoongi tadi.

Youngjae yang tengah mengelus surai Jungkook berceletuk, "Memikirkan apa? Kelihatannya keras sekali berpikirnya," sontak, celetukannya mengundang rasa penasaran dari kawan-kawan yang lainnya.

Jimin yang sedari tadi berbaris di dekat Jungkook hanya menatap pemuda itu, ia tengah duduk menumpu dagunya dengan kedua tangannya yang dilipat di atas meja, terlihat mengantuk–tidak, Jimin tidak akan tidur sebelum Taehyung kembali.

"Tadi itu tuan muda Yoongi melihatku terus-menerus, kupikir jangan-jangan aku melakukan kesalahan.." jawab pemuda itu akhirnya. Youngjae yang mendengarnya segera mengusap bahu Jungkook, berusaha menyalurkan rasa tenang untuk pemuda itu.

"Kesalahan seperti apa? Kalian baru saja bertemu. Berhenti berpikir yang tidak-tidak, Jungkook," tanpa disangka, yang memberi respon adalah Sanghyun. Minwoo yang berada di sebelahnya pun terkejut mendengar kekasihnya itu menjadi sangat talkactive. Ia berasumsi bahwa Sanghyun terlalu banyak bergaul dekat Taehyung.

Sungjae membulatkan bibirnya dan mengangguk setuju, "Benar-benar, Kook. Sudah, jangan terlalu banyak berpikir, fokus saja pada Taehyung saat ini," ujarnya yang segera ditinju perlahan oleh Youngjae. "Aww!" rintihnya pelan.

Youngjae memberi tatapan mendelik pada Sungjae seolah berkata 'jangan-keceplosan-mengucap-nama-Taehyung'. Sungjae segera mengangguk kecil sembari mengusap bekas tinjuan Youngjae.

Jungkook yang nampak meletakkan kedua tangannya di atas meja berujar kembali, "Tidak hyungdeul, aku melihat tatapan teduh dari sosok tuan muda Yoongi itu. Awalnya memang kupikir aku melakukan kesalahan sebab tatapannya seperti menelanjangiku, namun lama-kelamaan aku menemukan sesuatu yang teduh di dalam tatapannya,"

Sontak, ucapannya itu mengundang tatapan heran kawan-kawan yang masih setia menunggu bersamanya. Dengan jahil, Sungjae berceletuk,

"Lebih teduh dari Taehyung?"

Lagi, Youngjae menjitak kepala Sungjae dan dibalas rintihan pemuda tampan itu.

Sejenak Jungkook merasakan rona di pipinya, namun ia segera menggantinya dengan tatapan sendu, "..Tidak, tatapannya berbeda," jawabnya perlahan, ia memendam wajahnya di antara kedua tangannya yang terlipat di atas meja.

Melihat itu, mereka semua terdiam dan berharap Taehyung segera kembali.

Tak lama, Jongup memekik saat kedua matanya menangkap sosok pemuda tinggi berjalan ke arah mereka.

"Ah, itu Tae–"

–ditemani dengan kakak Jungkook serta kedua orang paling berpengaruh, J-Hope dan Yoongi.

Tak ayal, para pemuda itu menolehkan kepala mereka dengan cepat dan segera membulatkan mata mereka. Terutama Jungkook, tubuhnya seketika bergetar saat melihat sosok kekasihnya pulang dengan dikawal sang kakak dan para pemimpin yang ia segani. Berbagai pemikiran meracau di otaknya, apa sebenarnya yang terjadi pada Taehyung? Apakah Taehyung melakukan kesalahan?

"Kookie," telinganya menangkap panggilan sayang yang berasal dari suara husky seseorang yang dicintainya, tanpa melihat sekeliling Jungkook segera berhambur ke dalam pelukan Taehyung. Ia memendam wajahnya di atas dada sang kekasih yang mengelus-elus surainya.

"Aku kembali, maaf sudah mengkhawatirkanmu dan yang lainnya," ujarnya tetap mengusap tubuh kekasih kecilnya.

Jimin pun segera melesat memeluk sahabat eratnya itu, ia bahkan mengepalkan tangannya kuat. "Kau senang sekali membuat kawan-kawanmu khawatir, Tae," ujarnya sembari meninju pelan lengan kurus sahabatnya. Sedangkan Taehyung hanya menjawabnya dengan kekehan pelan.

Jin, Yoongi, dan J-Hope yang melihat pemandangan hangat itu hanya bisa tersenyum pelan dan tak diketahui siapa pun. Apalagi Jin, ia sungguh menyesal telah membuat adik tercintanya mengkhawatirkan Taehyung. Namun apa daya, ia menerima laporan tak mengenakkan dari hasil tes kesehatan Taehyung dan membuatnya geram seketika lalu ingin sekali menyeret Taehyung–mempertanggungjawabkan perbuatannya. Akan tetapi, wajah sendu sang adik ternyata mampu mengalahkan seluruh egonya.

"Jungkook," suara Jin membuat Jungkook tersentak dan segera melepaskan pelukannya pada Taehyung. Ia tahu jika sang kakak memanggil namanya tanpa menggunakan embel-embel, maka ada hal penting yang harus ia dengarkan.

"Mianhae, hyung membuatmu khawatir lagi," ucapnya lembut, lalu merentangkan kedua tangannya untuk menerima pelukan dari sang adik.

Jungkook ingin sekali memeluk sang kakak, namun ia menatap Yoongi dan J-Hope bergantian, merasa takut jika dirinya terlalu akrab dengan sang kakak yang notabene adalah mentor.

Yoongi, membaca arti tatapan Jungkook segera berkata, "Memang apa yang salah dari memberi hyungmu sebuah pelukan? Jin sudah bekerja keras, ia layak mendapatnya,"

Segera saja Jungkook mengulaskan senyum cerahnya begitu mendengar jawaban Yoongi. Ia langsung melesat ke dalam dekapan sang kakak. Jin memeluknya erat dan menyalurkan kehangatan khas seorang kakak pada Jungkook. Ia terus mengucapkan kata 'maaf' dan mengecup kepala adiknya dengan sayang.

Taehyung yang melihatnya hanya mengulaskan senyum tulusnya. Ia sungguh menyukai adegan kakak beradik yang harmonis seperti Jin dan Jungkook. Ditambah lagi, jika kekasihnya merasa senang.

Sedangkan sisa pemuda lainnya hanya menatap dengan bengong. Mereka tak mengira akan mendengar ucapan bijaksana seperti tadi dari sosok Yoongi. Mereka mengira bahwa Yoongi adalah sosok yang dingin, jutek, dan lain-lainnya sebab pemuda itu sedari tadi hanya bertampang datar.

Yoongi menangkap tatapan aneh dari sosok Jimin, ia mengenali Jimin sejak J-Hope mengucap nama pemuda itu. Masih bertampang datar, ia berujar, "Ada apa dengan tatapan itu?" ujarnya to the point.

Jimin mengerjapkan matanya begitu suara berat khas Yoongi menelusup telinganya. Suara Yoongi barusan juga membuat kawan-kawannya bergidik pelan, bahkan Sungjae sudah berkomat-kamit seperti: 'Matilah kau, Jimin,'

"Oh, m-maafkan saya, T-Tuan. Bukan maksud saya menatap Tuan seperti itu.." ujarnya dengan menundukkan kepalanya.

J-Hope tersenyum kecil mendengar respon Jimin yang nampak menggemaskan, takut-takut, dan lainnya. Tak ayal, Yoongi ikut tersenyum, bahkan terkekeh pelan mendapatkan respon Jimin yang menggelitik perutnya.

"Santai saja, apa kau takut padaku? Apa yang kau takutkan? Aku juga manusia sama sepertimu, hanya saja mungkin aku bernasib beruntung karena menjadi orang yang harus kalian hormati, bukan takuti, mengerti?" ujar Yoongi panjang.

Jimin segera mengangguk-anggukkan kepalanya, dan mendongak untuk menatap lawan bicara. Yoongi yang balas menatapnya tiba-tiba tersenyum kecil padanya. Hal itu membuat Jimin mengulaskan senyum balasan pada tuan muda itu.

"Oh, ya, kedatanganku bermaksud memberi sebuah pengumuman pada kalian selaku orang-orang yang paling dekat dengan Taehyung," ucap Yoongi setelah Jin dan Jungkook melepaskan pelukan mereka.

Jungkook mengerjap-ngerjapkan matanya saat Taehyung mendekatinya dan menggenggam jemarinya. Pemuda itu mengulaskan senyum teduhnya dan mengusap-usap jemari Jungkook, seakan memberi ketenangan pada apa yang akan didengar Jungkook setelah ini.

"Taehyung harus menjalani tes marksmanship sekali lagi untuk membuatnya bebas dari tuduhan obat-obatan terlarang,"

Sontak, seluruh mata yang berada di ruangan itu terbelalak. Tak lain halnya dengan Jungkook, pemuda itu seakan tidak mau percaya pada kata-kata yang keluar dari bibir Yoongi. Ia berontak, namun segera tertahan oleh genggaman Taehyung yang mengerat pada tangannya.

"Tae-hyung tidak mungkin seperti itu!" entah mendapat keberanian dari mana, Jungkook berteriak pada Yoongi. Taehyung dan Jin segera menahan Jungkook untuk berontak lebih jauh.

"Ssh, tenang dulu sayang," bisik Taehyung di telinga kanan Jungkook yang membuat pemuda itu merona perlahan dan mengurungkan niatnya untuk berontak. Jin yang berada di sebelah Jungkook hanya mengusap surai sang adik dengan lembut.

"Hasil tes membuktikan bahwa di dalam tubuh Taehyung terkandung obat-obatan yang dilarang di dalam pelatihan. Namun, ia masih mendapatkan kesempatan jika ia lolos dalam tes marksmanship nanti," lanjut Yoongi.

Jungkook maupun pemuda lainnya masih tidak percaya dengan pernyataan Yoongi. Mereka sangat tahu Taehyung, bahkan Sungjae, Jimin, Jongup selalu bersama pemuda itu 24 jam. Mereka tak habis pikir, bagaimana bisa Taehyung yang selalu bersama-sama mencuri waktu untuk mengonsumsi obat-obatan terlarang?

"Kalian ingin menyangkalnya pun percuma, kami memegang hasil tes kesehatan Taehyung," lanjut Yoongi lagi sembari mengeluarkan lembaran tes kesehatan bertuliskan nama Taehyung.

Taehyung hanya terdiam selagi terus mengusap jemari Jungkook. Sebetulnya ia ingin sekali merobek lembaran itu dan melemparkannya ke wajah Mr. Lee, orang yang bersikeras menuduhnya dan nampak sangat membencinya.

"Dengan lolos dari tes marksmanship, maka Taehyung tetap bisa meneruskan pelatihannya dengan membuktikan bahwa dirinya bersih. Jika ia gagal, tidak hanya dikeluarkan, namun kami akan mem-blacklist dirinya dan tak akan bisa mengikuti pelatihan lagi sepanjang hidupnya," kembali, Yoongi berujar panjang lebar sebagai perwakilan pemimpin organisasi yang memiliki kuasa penuh.

Seluruh trainee tahu jika tes marksmanship adalah tes menembak jitu, yang mana jika seseorang berada dalam pengaruh obat-obatan, tak akan bisa melalui tes itu. Tak akan bisa menembak tepat sasaran dan tubuh mereka pasti akan mengerang meminta pasokan obat-obatan.

Dan kali ini Taehyung tertantang untuk membuktikan dirinya bersih dan bisa melalui tes tersebut dengan gemilang.

"Mengapa aku menceritakan ini pada kalian? Aku ingin kalian mengawasi dan menjaga Taehyung selama persiapan tes. Sebab bisa saja pemuda ini tiba-tiba overdosis. Jika itu terjadi, aku ingin kalian cepat melapor dan akan kumasukkan dia ke dalam ruang isolasi sampai penghakimannya tiba," ucapan Yoongi membuat para pemuda itu bergidik. Termasuk Jungkook, ia nampak pucat mendengar pernyataan Yoongi.

"Karena tak boleh ada yang bermain-main dengan organisasi ini," tutup Yoongi lengkap dengan tatapan seriusnya dan segera mengisyaratkan Jin dan J-Hope untuk pergi meninggalkan ruangan.

Jin segera melepaskan diri dari Jungkook, ia mengacak pelan surai sang adik dan tersenyum, "Jika Taehyung benar-benar tidak bersalah semuanya akan baik-baik saja," ujarnya. Dan dengan cepat ia mengikuti Yoongi dan J-Hope keluar dari ruangan.

"Kembalilah ke kamar kalian," titah Yoongi terakhir kali bergema ke seluruh ruangan, ia berkata tanpa menoleh ke belakang.

Meninggalkan para pemuda itu terdiam kaku.

Sungjae segera memeluk Taehyung dan mengumpat pada temannya itu, "Idiot, apa sih yang kau lakukan?" ujarnya tak bisa menyembunyikan kesedihannya.

Jongup mengikutinya dengan memeluk dua sahabatnya itu. Namun ia tak berkata apapun, ia biarkan emosinya tersalur pada Taehyung.

Sontak, tindakan dua orang sahabat Taehyung membuat tautannya dengan Jungkook harus terlepas. Taehyung membalas pelukan sahabatnya dan memejamkan kedua matanya.

Sedangkan Minwoo langsung tergerak meraih tubuh Jungkook dan memeluknya. Ia mengerti saat ini selain Taehyung, Jungkook juga membutuhkan support dari teman-temannya. Youngjae pun melompat dari kursinya dan segera mendekap tubuh Jungkook bersama Minwoo.

Sanghyun hanya berdiri mendekati Taehyung yang masih dalam pelukan erat dua sahabatnya. Ia sedari tadi berpikir kemungkinan yang terjadi pada Taehyung. Apa mungkin mereka tak menyadari tingkah laku aneh Taehyung? Apa mungkin mereka yang selalu bersama-sama Taehyung–terlebih Jungkook tidak tahu bahwa temannya itu merupakan seorang pecandu?

Junhong hanya membuang nafasnya berat dan memandang dua orang temannya yang sedang berada dalam pelukan. Ia pun sama bingungnya dengan Sanghyun, ia yakin jika Taehyung bukan tipe orang seperti itu. Mungkin memang Taehyung terkesan open-minded dan lain-lain, namun bukan menjurus ke sesuatu negatif terlebih yang dilarang oleh organisasi.

Jimin, tak bergeming dari posisinya. Ia tak tahu akan bereaksi seperti apa. Ia tak menyangka jika Taehyung, TaeTae yang sudah berpuluh tahun tinggal bersamanya akan mengalami hal seperti ini. Ia sangat mengenal Taehyung, mungkin lebih lama dari semuanya yang berada di sini. Dan ia berani bersumpah tak pernah sekalipun ia melihat Taehyung mendekati obat-obatan terlarang.

Mungkin, jika Taehyung pernah mencicipi minuman beralkohol dan mengisap rokok itu adalah hal yang benar. Akan tetapi, Taehyung telah menghentikkan kebiasaan buruknya semenjak kedatangan Jungkook dalam hidupnya.

Jimin pun mengetahui alasan Taehyung mencicipi minuman itu.

Taehyung membuka kedua matanya dan menepuk-nepuk tubuh dua sahabat yang memeluknya erat. "Kalian kenapa? Aku saja biasa saja. Sudahlah, aku pasti akan membuktikan kebenarannya," ujarnya perlahan lengkap dengan ekspresi sendu yang tak bisa disembunyikan olehnya.

"Super idiot, kami khawatir, tahu! Memangnya yang peduli pada dirimu itu hanya kau seorang?! Jangan berlagak kau bisa mengatasi semuanya sendirian!" pekikan Sungjae membuat Taehyung terbelalak.

Memang, selama ini dirinya cenderung menyembunyikan sesuatu dan menyelesaikannya sendirian. Perkataan Sungjae barusan menusuk hatinya. Ia mengepalkan kedua tangannya dan berusaha menghindari tatapan kawan-kawannya.

Sementara kawan-kawannya yang lain terdiam, mereka kompak merasa setuju dengan ucapan Sungjae barusan. Mereka menunggu reaksi Taehyung.

Jongup dan Sungjae sudah melepaskan pelukan mereka pada Taehyung. Kedua pemuda itu memaku tatapan mereka pada sosok sang sahabat yang masih terdiam tertunduk.

Sebuah lenguhan panjang dan berat khas suara Taehyung mendadak menggema. Pemuda itu mendongak dan memasang ekspresi yang susah diartikan.

"Iya! Aku butuh kalian! Demi Tuhan, aku sangat bingung dan ingin sekali memecah kepala keparat itu saat ia menuduhku dan menatap seolah-olah aku adalah sampah!"

Tak disangka, akhirnya Taehyung mau mengungkapkan apa yang menjadi ganjalan dalam hatinya. Sungguh, ia hanyalah pemuda biasa yang bisa merasakan sakit layaknya pemuda lain. Belum pernah dalam hidupnya ia merasa begitu terhina.

"Apa sebenarnya yang kulakukan?! Pernahkah kalian melihatku melakukan hal yang aneh? Aku pun tidak tahu mengapa tubuhku mengandung obat-obatan sialan itu!" lanjut Taehyung yang masih berteriak mengeluarkan segala keresahan dirinya.

Memang, sedari tadi ia hanya mengeluarkan emosi saat berhadapan dengan lelaki tua yang sangat ia benci. Namun ia juga ingin berontak saat Yoongi mengatakan penghakiman tentang dirinya. Apakah dirinya sehina itu?

Sekelebat ia merasakan hangat di tubuhnya. Jungkook, kekasih kecilnya tengah memeluk dirinya dari belakang. Menyalurkan ketenangan dan rasa aman, Jungkook memendam kepalanya di atas leher Taehyung dan menyesap aroma tubuh pemuda itu.

Dengan suara yang sangat kecil Jungkook berbisik, "Tak peduli apa yang terjadi, aku menyayangimu, tenanglah.."

Menerima perlakuan manis dari sang manis kesayangannya, Taehyung meregangkan ototnya yang sedari tadi ia kerahkan untuk berteriak-teriak. Perlahan ia mengusap pergelangan tangan Jungkook yang melingkar di pinggangnya. Ia menolehkan kepala dan mengecup ujung hidung Jungkook yang bertengger di bahunya.

"..Maafkan aku, kau pasti takut melihatku tadi.." ujarnya lembut sembari membalikkan badan dan merengkuh tubuh Jungkook ke dalam pelukannya. Jungkook menggeleng pelan dan membiarkan dirinya menghirup aroma tubuh kesukaannya.

"Tak apa.. Sekarang kau tenanglah, hyung. Kami ada di sini untukmu.." ujarnya pelan seraya mengusap pipi Taehyung dan mendekati pemuda itu, menyatukan bibir mereka. Belahan daging kenyal berwarna merah itu menyatu sejenak dan saling melumat satu sama lain. Satu tangan Taehyung bergerak menuju tengkuk pemuda di hadapannya dan memegangnya–menahan posisi mereka.

Sontak, kiss scene itu membuat rona merah menjalar di pipi kawan-kawan mereka yang melihatnya. Ah, sepertinya Taehyung dan Jungkook tak menyadari jika mereka masih bersama kawan-kawan mereka.

Namun, tak ada yang berani menginterupsi kegiatan dua sejoli itu. Para pemuda itu membiarkan dua pasangan itu saling menenangi diri satu sama lain, dan mendapatkan waktu mereka bersama. Jadilah Sanghyun menarik Minwoo kembali ke kamar, Sungjae dan Jongup yang bergantian menepuk pundak Taehyung yang masih dalam pagutannya bersama Jungkook–mengisyaratkan bahwa mereka mendukung pemuda itu, Youngjae tersenyum pada Junhong dan segera kembali ke kamar mereka.

"Sudah mulai malam, jangan sampai masuk angin,"

Celetuk Youngjae lengkap dengan kekehan pelannya.

Dua sejoli itu tersenyum di dalam tautan mereka karena memiliki sahabat yang begitu baik dan pengertian. Tak disadari, cairan hangat perlahan melintas turun dari kedua mata tertutup milik Jungkook. Cairan hangat itu mengenai lapisan bibir Taehyung yang masih tertaut dengan milik Jungkook, segera pemuda itu melepas pagutannya karena mengecap rasa asin khas cairan tersebut.

"Kau menangis, sayang?" jemarinya bergerak mengusap bulir-bulir air yang hinggap di kedua manik indah kekasihnya. Jungkook yang tertangkap basah, segera menjauhkan tangan Taehyung dan menggeleng pelan, lalu menyeka air matanya dengan kasar.

"A-aku tidak apa-apa, aku h-hanya.." belum sempat Jungkook menyelesaikan ucapannya, Taehyung segera membawa tubuhnya ke dalam dekapan hangat.

"Menangislah jika itu membuatmu tenang. Aku senang, itu berarti kau sungguh mengkhawatirkan diriku," ujarnya sembari mencium puncak kepala sang kekasih yang sudah terisak di dekapannya.

"H-hyung, aku takut, aku takut mereka akan membawamu pergi dariku.. Hyung tidak bersalah, iya bukan?" ucapan kekasihnya yang terdengar bergetar membuat Taehyung meringis.

"Tidak, Kookie. Tak ada yang bisa memisahkanku darimu, hanya maut yang bisa," Taehyung mengelus surai gelap Jungkook, "Dan akan kubuktikan jika diriku bersih,"

Mendengar ucapan mantap Taehyung, Jungkook mengangguk-angguk dalam pelukannya dan menautkan jemarinya pada jemari Taehyung yang terlihat nampak sangat pas dengan jemarinya.

.

.

.

.

.

.

.

.

Di sebuah ruangan nampak tiga orang pemuda tengah berdiskusi. Salah satu pemuda yang bertubuh paling tinggi terlihat serius menulis sesuatu. Sesuatu yang nampak seperti hitung-hitungan rumit.

"Kalkulasi keberhasilan Taehyung,"

Pemuda tinggi itu menorehkan serbuk putihnya di atas papan tulis berwarna hijau.

"95%,"

"Jika keadaan angin memungkinkan, Taehyung akan menjadi trainee pertama yang lolos dengan persentase tertinggi sepanjang sejarah pelatihan,"

"Berapa persentase yang memungkinkan bagi pemuda itu untuk memecahkannya?"

"Up to 98%,"

Pemuda satunya yang sedari tadi hanya terdiam memandang kegiatan yang dilakukan dua pemuda yang notabene adalah sahabat lamanya mendadak menyunggingkan senyumannya.

Seorang pemuda berambut cerah mengintip senyuman temannya, ia mengerenyitkan dahi, "Ada apa, Hoseok?"

Pemuda yang dipanggil Hoseok itu meraih kopornya dan membukanya, lalu menyodorkan sebuah bungkusan kecil berisi serbuk.

"Akulah alasan Taehyung,"

Kedua pemuda di hadapannya menatap Hoseok dengan tidak percaya. Kedua mata mereka membulat lalu segera tertawa.

"Benar-benar cara kerja J-Hope. Busuk sekali kau telah menyeret anak itu ke dalam permainanmu?" ujar pemuda berambut cerah itu.

Hoseok, atau J-Hope hanya tertawa renyah. Ia memasukkan kembali bungkusan itu dan mengunci kopornya. "Tak sia-sia orang itu mengajariku, kan? Benar kan, Yoongi-hyung, Namjoon?"

Kedua pemuda yang bernama Yoongi dan Namjoon kembali terkekeh. Namjoon bahkan menggeleng-gelengkan kepalanya lalu meneruskan kegiatannya menorehkan kapur putih di atas papan tulis hijau itu.

"Lalu apakah kau sudah berhasil dalam kasus anak keluarga Jeon itu?" tanya Namjoon tanpa menoleh ke belakang, di mana Hoseok dan Yoongi berada.

Yoongi merebahkan tubuhnya ke atas ranjang putih miliknya dan tiga orang temannya. Ia melepaskan sepatunya dengan asal sehingga mengenai bokong Namjoon. "Sorry!" ujarnya mengejek.

Hoseok mengeluarkan pad kesayangannya dan membuka sebuah file. Senyuman puas tergambar di wajahnya, "Menurut kalian apakah aku harus mengirim foto Jungkook pada Tiffany-noona?"

Namjoon segera mencelos, "Untuk apa? Bisa-bisa Jungkook yang malang akan menjadi target jalang itu selanjutnya,"

Hoseok dan Yoongi tertawa semakin keras, "Aku hanya ingin melihat ekspresi ketakutan bocah itu,"

Namjoon melemparnya dengan sebuah penghapus papan tulis, tepat mengenai wajah Hoseok. "Kau terlalu lama bergaul dengan mereka," ujarnya sembari ikut tertawa keras.

Hoseok mengusap wajahnya yang terkena lemparan penghapus, lalu melempar benda itu balik pada Namjoon. "Aku hanya bercanda, lagipula satu-satunya yang ingin kuajak bermain hanyalah Kim Taehyung,"

Yoongi menaikkan alisnya sebelah saat mendengar ucapan Hoseok, "Sepertinya kau tertarik sekali pada putra Kim Yeongju itu,"

Namjoon meletakkan kembali kapur serta penghapusnya dan mendudukkan bokongnya ke atas ranjang miliknya, kemudian meregangkan ototnya. Ia ikut menatap Hoseok sembari melepas sepatu pantofel miliknya.

"Taehyung terlihat seperti diriku yang sangat ingin melindungi orang-orang yang ia cintai. Aku benci melihatnya, seakan bercermin pada diriku di masa lalu,"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Hai aku kembali~~~~~~

Huf, akhirnya perlahan menuju konflik(?)

Gimana, jadi jehop suga sama bang momon itu kira2 jahat apa engga?/?

Wkwkwk coba tinggalkan kesan kalian setelah membaca ini(?)

Terima kasih ya udah setia nongkrongin cerita ini dan menunggu aku apdet :') gak terasa udah setahun lebih ini cerita nangkring di ffn(?)

Aku gamau ngomong banyak, pokoknya stay tune! Aku gaakan ngecewain kalian yang udah nunggu, men-support, dan mungkin udah berekspektasi tinggi, maaf jika ekspektasi kalian mungkin belum maksimal aku wujudkan(?) /bows/

Terima kasih banyak buat support-nya untuk cerita2 aku~ /emot lope/ dan terima kasih untuk yang udah mau nunggu /emot lope lagi/

ok, tinggalkan jejak apapun untuk membuatku bahagia(?) dan apapun tanggapan kalian mengenai cerita ini khuhuhu

jika ingin berinteraksi(?) sama aku yuk monggo mampir ke akun twitter aku di: danmarked

critics/comments are warm welcomed, but please do not bash chara and or pairing, thx!

seeyou soon~!