"Gaara! Kenapa kau menjadikanku anggota kick boxing?" Naruto memasukkan kedua tangannya ke dalam saku sweater hitam yang dipakainya seraya menghampiri Gaara si pemuda berambut merah yang tengah menyandarkan dirinya di bangku taman kampus. Naruto menatap kesal pemuda beriris jade tersebut. "Aku nggak punya waktu buat bergabung di sebuah organisasi kampus!"
Gaara menghela nafas seraya menyilang tangannya di dada-menatap acuh sahabat karibnya yang tengah uring-uringan. "Tenang Naru! Aku sengaja mendaftarkanmu agar kau bisa latihan di gym kampus!"
"Kenapa?" Naruto mendekat seraya duduk tepat disamping Gaara sambil menatapnya heran.
Gaara menatap Naruto penuh arti. "Kita bisa latihan di gym kampus gratis! Bukankah ini bagus untuk mengatasi keuanganmu yang menurun karena berhenti bekerja?" Sekilas Gaara menepuk bahu Naruto. "Selain itu juga, kau tak perlu latihan lagi sebelum pertandingan! Kau hanya perlu melakukan sedikit pemanasan saja."
"Aku mengerti." Naruto mengangguk seraya menghela nafas panjang. "Yaudah terserah deh!"
"Kalau begitu, ayo!" Gaara bangkit seraya meraih tangan Naruto dan menyeretnya agar mengikutinya.
"Haa-a?" Naruto mengimbangi langkah Gaara. "Kemana oy?"
"Tentu saja ke gym! Kita berkumpul mulai hari ini."
Susu Jeruk
Disclaimer © Masashi Kishimoto
Warning: AU, OOC, Sho-Ai, Typo(s), dll.
"Uzumaki Naruto." Naruto memperkenalkan diri dengan raut datarnya didepan para anggota klub kick boxing. "Yoroshiku."
Gaara yang berdiri disampingnya tersenyum ramah. "Aku Sabaku Gaara. Salam kenal."
"Osh! Mohon bantuannya!" Para anggota berseru dengan antusiasnya menyambut kedua anggota baru mereka.
Pemuda berperawakan ceking, bermata bulat dan beralis tebal-yakni sang Ketua Klub menghampiri Naruto dan Gaara seraya menatap semua anggota dengan tatapan penuh semangat. "Yosh semuanya! Ayo kita latihan!"
"BAIK!"
Para anggota yang tadinya berbaris mulai membubarkan dirinya dan melakukan latihan masing-masing. Ada yang angkat beban, berlari, sit-up, push-up, sampai menendang dan meninju samsak.
Gaara mengguncang bahu Naruto seraya memasang punch mitt di tangannya. "Ayo latihan! Jangan bengong aja!"
"Iya bawel!" Naruto memutar bola matanya-bosan. "Ngomong-ngomong mana pacarmu?" Naruto melilitkan hand wrap di tangannya seraya memasang sarung tinju.
Gaara mengangkat tangannya yang berselimut punch mitt alias sarung tangan berbentuk kotak yang tebal karena diberi bantalan busa-khusus melatih. "Shion sedang membelikan kita minuman."
"Oh."
Duakk!
Naruto meninju punch mitt dan memulai latihannya.
(눈_눈)
"Haa~ lelah banget!" Naruto membasahi rambutnya yang sudah berkeringat oleh air keran yang berjajar di belakang gedung kampus-lebih tepatnya di sisi lapangan sepak bola. "Dasar Gaara! Dia terlalu bersemangat-dari siang latihan terus. Aku lebih suka latihan pada malam hari seperti biasanya." Naruto memeras bagian depan kaosnya yang sudah basah oleh keringatnya sendiri-hingga mengekspos perut six pack-nya.
'Sudah hampir sebulan sejak pertama masuk di semester ini.' Naruto memejamkan matanya seraya menghela napas panjang-frustasi. 'Aku belum pernah saling sapa dengan Sasuke dan banyak mata kuliah yang tak kumengerti. Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus minta bantuan Shion dan Gaara yang sama bodohnya sepertiku?'
Cklek! Jepret!
'Hng? Suara apa itu?' Naruto langsung membuka matanya-mengalihkan pikiran dan pandanganya pada sumber suara. "Ah..." Naruto mematung menatap beberapa mahasiswi yang lewat tengah menatapnya takjub bahkan ada yang memotretnya. Naruto menggaruk kepalanya yang tak gatal seraya mengambil langkah seribu-kembali ke ruangan klub untuk mengganti pakaiannya.
(눈_눈)
Naruto membawa nampan berisi ramen miso dan sebotol susu jeruk. Dia berjalan mengitari jajaran meja yang hampir semuanya sudah penuh. "Hai." Naruto tersenyum pada pemuda berambut seperti nanas dan pemuda gendut yang tengah memakan ayam goreng dengan lahapnya. "Bolehkah aku duduk di sini?"
Pemuda rambut nanas tersebut menganggung acuh. "Silakan."
"Makasih." Naruto duduk didepan pemuda berambut nanas tersebut dihiasi senyuman penuh arti. "Kau Shikamaru kan? Aku dengar kau sangat pintar. Maukah kau membantuku belajar? Aku akan membayar biaya les-nya."
"Ya itu aku." Shikamaru melahap dango-nya. "Maaf, tapi aku tak membuka jasa les."
"Begitu... Sayang sekali." Raut Naruto berubah jadi terlihat muram dan kecewa.
"Betul sekali! Shika tak punya waktu meladeni orang bodoh sepertimu Dobe."
Naruto langsung menoleh pada suara baritone yang nyeletuk seenaknya. Melihat orang tersebut, raut Naruto berubah jadi senang campur kesal. "Teme! Sasuke!"
"Hoo. Aku tak menyangka kau tahu namaku." Sasuke tersenyum penuh arti-membuat temannya menatap aneh karena sangat jarang sekali melihatnya tersenyum. Sasuke duduk disamping Naruto dengan acuhnya. "Sekeras apapun kau berjuang, kau akan terus bodoh dan idiot."
"Cih!" Naruto mendecak kesal mendengar ucapan Sasuke. "Kalau gak niat ngebantu ya udah. Gak usah pake acara menghina segala kali!" Naruto meneguk susu jeruk seraya melahap miso ramennya-dengan kesal.
Sasuke membuka bungkus anpan alias roti isi selai kacang merah-nya. "Kalau kau membagi susu jerukmu padaku, dengan senang hati aku akan membantumu belajar."
"Serius?" Naruto menatap Sasuke penuh harap campur heran. "Aku sudah meminumnya loh."
Sasuke mengangguk acuh. "Hn."
"Aku mengerti!" Naruto langsung memberikan botol susu jeruknya. "Silakan."
"Hn." Sasuke mengambil susu jeruk tersebut seraya memasukannya ke dalam tas selempangnya. Shikamaru dan Choji hanya melongo melihat tingkah Sasuke. "Hei! Lihat itu!" Sasuke menunjuk gedung olahraga yang tak jauh dari kantin.
"Apa?" Naruto menatap lapangan yang ditunjuk Sasuke.
Dengan gesit Sasuke memasukan sesuatu ke dalam ramen Naruto. "Gak jadi. Udah ngilang."
"Kau gak lagi bicarain mahluk halus kan?" Naruto melotot-menatap Sasuke horror.
"Bukan. Cuma burung pipit yang udah terbang." Sasuke melahap anpan dengan tenangnya.
"Kirain apaan." Naruto mengaduk-aduk dan menyumpit ramennya seraya melahapnya.
Hap!
Wajah tan Naruto berubah menjadi merah menyala. "PEDAAAAS!" Naruto langsung mencari minumannya di meja, yang sudah raib entah ke mana. Dia langsung ingat kalau minumannya sudah diberikan pada Sasuke. "Sasuke, tolong kembalikan minumanku. Nanti akan kuganti dengan yang ba-"
"Nggak! Kau sudah memberikannya padaku!" Sasuke melipat tangannya dengan acuhnya.
"Naru!" Naruto menoleh pada gadis pirang yang tengah melambaikan tangan sambil memeluk sebotol sport drink. Gadis ber-dress selutut berwarna violet tersebut menghampirinya. "Kau nggak latihan?"
Syut!
Naruto merampas minuman yang ada di pangkuannya tanpa menggubris ucapannya. "Hei! Itu bukan untukmu!"
Gulp! Gulp! Gulp!
"Ah, leganyaaa~!" Naruto mengusap bibirnya setelah puas hampir menghabiskan air dalam botol 600ml tersebut.
"Hei! Kenapa kau meminumnya!" Gadis pirang tersebut berseru kesal sambil memasang raut super ilfeel. "Aku membeli air itu bukan untukmu!"
"Nanti kuganti, Shion!" Naruto menyusut tetesan air yang mengalir disela bibirnya.
Shion menghela nafas panjang. "Makan apa kau? Wajahmu sampai merah menyala dan matamu berair tuh!" Shion menyusut air yang mengalir di sudut mata Naruto.
"Ramenku terlalu pedas." Naruto mengibas-ngibaskan lengannya. "Sepertinya bibi kantin salah mendengar pesananku."
"Begitu." Shion mengangguk mengerti seraya memasang raut kesal. "Naruto! Berhentilah telat dan budayakan tepat waktu! Kau membuat Gaara sering uring-uringan! Terlambat itu gak baik! Jangan biasakan-"
Naruto mendengus kesal. "Berisik, Shion! Apa kau ibu mertuaku?!"
"Apa kau bodoh?" Shion menghela nafas panjang sambil memijat pelipisnya seraya menatap Naruto sinis. "Tak ada orang yang suka padamu karena sifatmu yang tak mau menerima apa yang dikatakan orang. Pantas saja kau tak populer! Dasar rambut acak-acakan!"
Twich!
Perempatan urat terukir di kening Naruto, dia benar-benar kesal mendengar ucapan Shion. "Dasar bodoh! Jika aku tak punya rambut yang mencuat kemana-mana, aku pasti sangat populer! Mungkin."
"Dasar pria menyedihkan! Kau menyalahkan semua hal pada rambutmu yang acak-acakan? Perbaiki sikapmu!" Shion berkacak pinggang-penuh intimidasi.
Naruto menggaruk kepalanya yang tak gatal-kasar. "Siapa yang menyedihkan? Orang menggunakan masalah mereka sebagai alat pendorong untuk jadi lebih baik tahu!"
"Berdebat denganmu takkan pernah berakhir." Shion menghembuskan nafas panjang. "Seharusnya kau gunakan mulutmu untuk menutupi kekurangamu itu! Sekali-kali kenapa kau tak memuji seperti bilang terimakasih atau kau terlihat cantik seperti biasanya agar banyak orang yang menyukaimu?!"
"Maaf saja ya! Mulutku hanya untuk susu jeruk dan ramen!" Naruto memeletkan lidahnya.
Shion memutar bola matanya-bosan. "Sudahlah jangan bahas itu terus! Ikut aku dan belikan aku minuman yang baru!" Shion berjalan mendahului Naruto untuk membeli minuman.
"Oke!" Naruto membetulkan posisi ransel orangenya seraya melirik Sasuke. "Sasuke! Kau satu punya hutang padaku!" Naruto berjalan menyusul Shion tanpa menghabiskan ramen-nya.
Greet!
Sasuke mengepalkan lengannya memperhatikan Naruto yang berlari menyusul Shion-dengan ekor matanya.
'Sialan!'
Shikamaru yang memperhatikan tingkah Sasuke menghela napas panjang seraya menghempaskannya perlahan. "Mendokusai."
(눈_눈)
Drrt! Drrt! Drrt!
Sejenak Sasuke menghentikan langkahnya seraya mengeluarkan smartphone dari tas-nya. Ia menatap pop up pesan dari nomor yang tak dikenal. 'Siapa?' Sasuke langsung membaca keseluruhan isi pesan tersebut.
'Kapan kau akan membantuku belajar? By Naruto.'
Sasuke mengernyitkan alisnya menatap pesan tersebut. "Dari mana si Dobe punya nomorku?"
"Aku yang memberikannya."
"Ha?" Sasuke menatap Shikamaru yang berjalan di sampingnya-heran.
"Kemarin aku bepapasan dengannya dan dia meminta nomormu." Shikamaru mendongkakkan kepalanya menatap langit biru sambil merasakan sensasi semilir angin yang menerpa wajahnya. "Tak apa kan?"
"Hn." Sasuke mengangguk seraya membalas pesan Naruto.
'Aku ada waktu jam 4 sore nanti. Dimana tempatnya sih terserah.'
Drrt! Drrt!
Selang beberapa detik, smartphone Sasuke kembali bergetar.
"Kalau begitu, temui aku di jembatan pertama kita bertemu."
Sasuke segera membalasnya dengan-'Oke.' seraya memasukan kembali smartphonenya.
(눈_눈)
Pemuda berkaos biru serta memakai celana jeans hitam-longgar tengah menopang dagu menatap aliran air di sungai bawah jembatan yang terlihat tenang. Angin sore yang menyejukan menerpa wajah dan helaian rambut chicken butt-nya.
'Kira-kira, apa yang terjadi pada ular itu ya?'
Puk!
Seseorang menepuk bahu pemuda tersebut hingga membuatnya refleks menoleh.
"Ehehe... Maaf aku telat, Sasuke. Apa kau sudah lama menungguku?" Pemuda pirang tersenyum lebar sambil mengeratkan jaket merahnya.
Sasuke menoleh-menatap pemuda pirang tersebut dengan raut datarnya. "Aku baru sampai, Naruto."
"Syukurlah kalau begitu." Naruto menghela nafas lega. "Di mana kita belajar? Bagaimana kalau kita ke rumahku? Soalnya dekat dari sini."
Sasuke mengangguk mendengar ajakannya.
"Ayo!" Naruto menepuk bahu
"Oke." Sasuke berjalan mengikuti Naruto dari belakang.
Setelah beberapa menit berjalan dalam diam, akhirnya Naruto dan Sasuke sampai di depan sebuah rumah tradisonal jepang yang minimalis. "Nah, di sini rumahku." Naruto mengeluarkan kunci dari saku jeans hitamnya seraya membuka kunci gembok pagar. "Ayo masuk!"
"Hn."
"Silakan duduk." Naruto mempersilahkan Sasuke duduk dengan menepuk-nepuk sofa depan televisi. "Bentar ya, aku ambil dulu minuman. Mau minum apa?" Naruto tersenyum kaku sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Nenekku sedang keluar kota, jadi hanya ada teh dan air putih saja sih."
"Gak perlu. Kita langsung belajar aja." Sasuke mendengus pelan seraya mengeluarkan laptop dari ransel hitamnya.
"Baiklah." Naruto duduk disamping Sasuke kemudian mengeluarkan laptop serta menyalakannya dan membuka sublime text-mengikuti yang dilakukan Sasuke.
(눈_눈)
Sasuke memijit pelipisnya-frustasi. "Naruto, aku tak menyangka kau benar-benar bodoh. Dobe benar-benar panggilan yang pas untukmu."
"Be-Berisik! Aku sudah berusaha sangat keras tahu!" Naruto menyandarkan dirinya di sofa. Mengistirahatkan punggungnya yang sudah sangat pegal.
Sasuke mendesah pelan sambil mematikan laptop-nya. "Kenapa kau sulit sekali mencerna apa yang aku ajarkan?"
Naruto memanyunkan bibirnya kesal sekaligus malu-menatap Sasuke yang tengah menutup laptopnya dan memasukannya ke dalam ransel hitamnya. "Mana mungkin aku ngerti pemrograman? Dulu aku sekolah di SMA teknik mesin-bukan komputer."
"Terserah. Aku sudah berusaha mengajarkanmu dasar-dasarnya." Sasuke menggendong ranselnya seraya bangkit-berdiri. "Sekarang aku mau pulang."
Grep.
"Tunggu!" Naruto meraih tangan Sasuke-menahan langkah si pemuda raven tersebut. "Kapan kita belajar bersama lagi?"
Sasuke memutar kedua bola matanya malas. "Aku diberi imbalan hanya sekali dan aku tak berniat membantumu."
"Eeh?! Kenapa?" Raut Naruto terlihat kecewa. "Aku akan membelikanmu susu jeruk lagi." Naruto mencoba membujuk Sasuke.
"Nggak butuh!" Sasuke hendak berjalan tapi tangannya masih tertahan oleh genggaman si pirang.
Naruto menatap Sasuke dengan tatapan memelas andalannya. "Kumohon Sasuke..."
Sasuke menghela nafas panjang seraya menghempaskannya-kasar. "Baiklah. Aku membantumu belajar, lima kali pertemuan saja."
"Baik!" Naruto sangat senang hingga senyumannya terlihat lebih lebar dari biasanya. Dia melepas genggamannya pada tangan Sasuke "Kapan kita belajar bersama lagi?"
"Besok."
Naruto langsung bangkit berdiri mendengar respon Sasuke. "Okay!" Naruto begitu antusias menanggapi ucapan datar Sasuke. "Besok langsung datang kerumah aja ya! Nggak perlu nunggu di jembatan."
"Hn." Sasuke berjalan menuju pintu keluar diikuti Naruto, sebelum keluar. "Manfaatkan lima pertemuan kita dengan mata kuliah yang benar-benar tak kau mengerti."
"Siap!"
(눈_눈)
Ting! Tong!
"Cih! Kenapa tak ada yang menyahut?" Sasuke bergumam tak jelas seraya menggeser pintu rumah tersebut. 'Hm? Tidak dikunci.' Sasuke berjalan memasuki rumah tradisional yang minimalis tersebut. "Ojamashimasu."
Sasuke berjalan pelan memasuki rumah dan tertegun melihat Naruto tengah tidur di sofa. "Tch! Si Bodoh ini!"
Ragu-ragu, Sasuke duduk disamping Naruto. Dia menatap intens wajah tidur Naruto. 'Wah, rambutnya acak-acakan sekali.' Sasuke mengelus-elus rambut Naruto. Dia tersenyum kecil. 'Terlihat tajam dan kasar, tapi saat disentuh... sebenarnya sangat lembut.'
"Nnn?" Sasuke langsung menjauhkan tangannya dari kepala Naruto yang tengah melenguh pelan seraya membuka matanya perlahan. Dia menatap Sasuke dengan mata sayu-nya.
"Oh, kau di sini." Naruto bangkit, duduk disamping Sasuke. "Maaf aku tertidur."
Sasuke berdiri sambil melipat tangannya-menatap Naruto yang masih belum sadar sepenuhnya. "Cepat bangun! Hari ini kita akan membahas script hak akses dan validasi gambar."
Grep!
Naruto menarik tangan Sasuke hingga dia terhuyung-dan kembali terduduk disamping Naruto. "Hei! Apa ya-"
Cup.
Mata Sasuke melebar begitu bibir Naruto sudah menempel di bibirnya. Dia langsung mendorong dada Naruto agar menjauh darinya. Begitu berhasil menjauhkannya, Sasuke menutup bibirnya, wajahnya merona merah. "Naru-"
Grep!
Syuut!
Sebelum Sasuke sempat menyampaikan protesannya, Naruto kembali menarik tangan Sasuke yang menutupi bibirnya. Dia mendekatkan wajahnya pada Sasuke, kemudian menjilat bibir bawahnya. Tangan kiri Naruto yang bebas, ia pakai untuk mengelus leher Sasuke dan menariknya agar mendekat. Menatap sekilas wajah merona Sasuke yang menggoda, dia kembali memagut bibir pemuda raven tersebut.
Sasuke berusaha memberontak. Bukannya berhenti, Naruto malah semakin memperdalam ciumannya. "Nggh..." Permainan lidah mulai terjadi. Kelopak mata Sasuke terpejam perlahan, mulai menikmati ulah Naruto.
Naruto melepas ciumannya, kemudian menyibak jaket Sasuke. Ia pandangi leher orang yang belakangan ini memenuhi pikirannya. Dielusnya selama beberapa saat, lalu ia daratkan kecupan lembut di sana.
Mendapatkan kembali akal sehatnya, Sasuke menggeram kesal. Dia mendorong Naruto dengan kuat. "Berhentilah main-main, Naruto!"
Naruto menjauhkan dirinya. "Main-main?" Naruto tersenyum pahit seraya bangkit dan berjalan ke ruangan lain. "Aku itu serius denganmu."
Gumaman pelan Naruto tak terdengar Sasuke. "Hey! Mau ke mana?"
"Cuci muka."
Sasuke menutup bibirnya dengan punggung tangannya. Wajahnya merona merah sampai asap imaginer keluar dari kepalanya. "Sialan!"
'Apa yang baru saja si Bodoh itu lakukan padaku?'
To Be Continued
Nell Note:
Hallo apa kabar? Thanks udah mampir dan baca ceritaku. Ini ratingnya masih termasuk T kan? Lah kok nanya? ,
Thanks banget buat yang ninggalin riview di chapter sebelumnya yakni: dnya, Asia Tsuki No Hatsuki, agusgaga122, rena mitsouko, Hatsuki Shawn, Sunsuke, Namikaze Sora 10, puri-chan, Kyuufi No Kitsune, Hwang635, danielkeanumadegani, Guest, nicisicrita, Habibah794, Neriel-Chan.
-and Special Thanks buat Chic White yang mau bantuin saya edit cerita sederhana ini.
