Tak ada yang menyadari jika seorang Oh Sehun menyaksikan pemandangan di depannya dari awal hingga akhir lengkap dengan setetes air mata yang jatuh dari pelupuknya. Pemuda yang sedang berdiri menatap kedua sejoli dari balik jendela itu nampak begitu berantakan.
'Setidaknya, bolehkah aku tetap melindungimu, Jeon Jungkook?'
.
.
.
.
.
.
.
scavenged
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Matahari keluar dari peraduannya dan membiaskan cahaya sampai pada jendela berbingkai abu-abu yang terletak di lantai tiga sebuah bangunan putih besar. Seseorang membalikkan tubuhnya membelakangi jendela itu dan menaikkan selimutnya menjadi sebatas kepala–berniat melindungi wajahnya dari pancaran sinar matahari. Pagi telah menjelang.
Suara ketukan terdengar dari balik pintu, seorang wanita.
"Tuan muda, waktunya Anda segera bangun," Jinah, nama wanita itu.
Yang dipanggil Tuan muda hanya mengerut kening, ia sebenarnya sudah terbangun sejak bias matahari memasukki kamarnya. Perlahan bibirnya menggerutu.
"Sedikit lagi.. Biarkan aku tidur sedikit lagi," ucap Yoongi, sang Tuan muda tanpa berniat beranjak dari ranjang nyamannya.
Dari balik pintu nampak Jinah yang menghela nafas dan tersenyum kecil. Ia sudah hafal dengan kebiasaan Yoongi yang sedikit sulit untuk dibangunkan. Dan sepertinya tadi malam si Tuan muda bekerja keras lebih dari biasanya, hal itu akan menambah tingkat kesulitan untuk membangunkannya.
Jinah tersentak saat sebuah tangan menyentuh pundaknya. Sosok Namjoon yang masih berbalut kaus hitam serta celana panjang berbahan layaknya piyama mengisyaratkan wanita itu untuk mundur dari pintu.
Sepertinya lelaki itu punya rencana untuk membangunkan sang pangeran tidur.
Namjoon mengetuk daun pintu beberapa kali dan berucap sebuah kalimat,
"Yoongi-hyung, hari ini adalah tes marksmanship Taehyung, kau tentu tak ingin melewatkannya bukan?"
Tes marksmanship biasa dilakukan pada penghujung pelatihan, yaitu hari ini. Tes tersebut adalah sebuah tes keahlian menembak dengan menggunakan ukuran akurasi (Minute of Angle). Faktor yang sangat vital dalam tes ini adalah gravitasi bumi, karena meskipun peluru didorong dengan kekuatan yang besar dari dalam senapan, tetap saja arah bidikan akan berubah karena gaya gravitasi bumi menariknya ke bawah. Oleh sebab itu sniper selalu diajarkan untuk membidik sedikit lebih atas dari target, dan tes ini hanya dapat dilalui oleh orang yang bersih dari pengaruh narkotika. Jika Taehyung dapat melakukannya, tuduhan atas dirinya akan dihapuskan.
Sejenak Yoongi membuka kedua mata sipitnya. Ia membalikkan badannya kembali menjadi posisi terlentang. Kedua maniknya menatap lurus ke arah langit-langit kamarnya.
Benar. Ini adalah harinya. Gumamnya.
Pemuda bersurai blonde itu mengusap wajahnya dan hendak beranjak tanpa menjawab perkataan Namjoon. Ia berjalan menuju kamar mandi khusus dalam kamarnya sebelum ucapan Namjoon kembali terdengar dari luar.
"Ah, Jiae-noona semalam mengabarkanku katanya ia sudah tiba di bandara dan sedang menginap di mansion Myungeun. Perlukah kujemput?"
Yoongi menghentikan langkahnya. Sebuah senyum tertahan dari bibirnya. Dengan cepat pemuda itu menyahut,
"Tidak. Akan kujemput Jiae sendiri. Aku siap dalam waktu satu jam,"
Setelahnya Yoongi segera melesat masuk ke dalam kamar mandi dengan sebuah cengiran terlukis di wajahnya.
Namjoon dan Jinah yang mendengar nada ceria dari ucapan Yoongi pun ikut serta menyunggingkan senyuman mereka. Pengaruh nama seorang Jiae memang cukup besar bagi sang Tuan muda. Terlebih, wanita itu sudah dua tahun lamanya tidak berada di sisi si Tuan muda. Dan mereka cukup tahu seorang Yoongi untuk diberikan kejutan seperti ini.
Yoongi tidak tahu mengapa selama hampir dua tahun lebih ini Jiae tidak pernah menghubunginya. Setelah wanita itu mengatakan bahwa ia lolos dalam seleksi penerimaan beasiswa untuk melanjutkan studinya di benua Eropa, belum pernah sekalipun ia bertukar kabar dengan sang Tuan muda. Terakhir kali hanya saat ulang tahun Yoongi pada bulan Maret dua tahun yang lalu.
Yoongi sempat berpikir jika dirinya adalah penghalang bagi Jiae untuk menuntut ilmu. Belum lagi, saat Yoongi berkata jujur jika ia sebenarnya mewarisi tahta kepemimpinan organisasi rahasia, pastilah membuat Jiae merasa tidak nyaman berhubungan dengannya.
Oh, ya, Jiae adalah kekasih lama Yoongi.
Benar sekali.
Seseorang yang bertahun-tahun telah mengisi hari-hari Yoongi sejak dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar. Namun sang Tuan muda itu tidak pernah menunjukkan kesedihan atau rasa rindunya pada wanita yang sudah dikencaninya lama. Ia sangat memahami kesibukan mereka masing-masing dan ia bukanlah tipe yang posesif. Jadi Yoongi menyerahkan seluruhnya pada waktu, biarkanlah waktu yang akan mempertemukan mereka kembali.
Seperti yang akan terjadi pada hari ini.
Tapi mengapa Jiae malah mengabari Namjoon dan bukan aku?
.
.
.
.
Manik sipit mengerjap beberapa kali, sebelah tangan terkebas dan menutup wajahnya pelan saat sinar mentari menusuk. Sebuah kuapan khas orang yang mengantuk teralun dari bibir tebalnya. Perlahan namun pasti, ia menyibakkan selimut putihnya dan menyisir surai legam miliknya.
Jimin menatap ranjang tingkat di seberang ranjangnya di mana seorang Taehyung masih terlelap di atasnya. Pemuda itu membuang nafas berat–menyadari jika hari ini merupakan hari penentuan bagi sahabat yang sudah dianggapnya sebagai saudara.
Ia dapat mendengar dengkuran halus yang dikeluarkan Minwoo dari ranjang atas. Berniat jahil, Jimin mengetuk bawah ranjang Minwoo yang membuat pemuda itu tersentak kaget. Minwoo melenguh pelan, menarik selimutnya dan berusaha terpejam. Namun kekehan Jimin malah membuatnya tak dapat kembali ke alam mimpinya.
"Ini masih pagi Jimin-ah!" eluh Minwoo dengan rambut tidur miliknya yang nampak lucu. Sedangkan Jimin masih terkekeh pelan di bawahnya.
"Kau tak ingin membangunkan pangeranmu?" tanya Jimin dengan niat menggoda sembari melirik ke arah ranjang tingkat yang ditempati Jongup dan Sanghyun di bawahnya.
Minwoo berdecak pelan, sesungguhnya ia merona mendengar godaan Jimin. Pemuda itu kembali merebahkan tubuhnya, "Kau saja yang membangunkan, dasar ibu-ibu,"
Ingin sekali rasanya Jimin tertawa kencang saat mendengar ocehan Minwoo yang mengatainya sebagai ibu-ibu. Ia memang terbiasa membangunkan teman-teman sekamarnya seperti ini, tingkahnya memang mirip seperti seorang ibu.
"Kurasa tidak perlu dibangunkan Sanghyun-hyung sudah bangun," ucap Jimin yang sedang melipat selimutnya dan menata ranjangnya menjadi rapi seperti sedia kala. Setelahnya terdengar suara dari sosok Sanghyun yang sudah menatap kedua pemuda itu dalam pose tidurnya. "Iya aku sudah bangun, terima kasih Jimin,"
Jimin terkekeh kembali. Ia memakai tudung hoodie-nya dan berniat mencuci wajahnya ke kamar mandi. Tanpa diketahui seorang pun, raut wajah ceria miliknya mendadak berubah drastis saat mengingat kembali malam di mana dirinya menjadi sosok penting dalam misi rahasia tingkat tinggi dari organisasi AR.
Ia menutup pintu kamar mandi dan menyandarkan tubuhnya. Menarik nafas dan membuangnya berat. Kepalanya menengadah ke arah langit-langit kamar mandi, pikirannya menerawang.
.
.
Eomma, mengapa aku harus menjadi saksi seperti ini?
.
.
Sosok sang ibu melintas dalam kepalanya. Ibu yang sedang tersenyum kepadanya dan memberikan pelukan hangat. Meskipun nyatanya tak pernah ia dapatkan semua itu.
.
.
Apakah ini takdirku? Bertemu Taehyung dan Nyonya Yeonju hingga akhirnya semua menjadi seperti ini?
.
.
Bayangan sosok sang ibu perlahan menggantikan senyumannya menjadi sebuah tatapan sendu. Ia tetap tersenyum, namun senyumannya menyiratkan sesuatu yang aneh.
.
.
Apa tidak sebaiknya aku tetap berada di pelelangan itu dulu? Apakah aku memang seharusnya menjadi bahan lelang saja seperti yang eomma dan appa inginkan? Jawab aku, eomma!
.
.
Jimin menggigit bibir bawahnya dengan kuat–menahan bulir air yang hendak keluar dari pelupuk matanya. Ia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat dan bersiap melayangkan tinjunya pada dinding kamar mandi.
Sebelum sebuah suara memecah kesedihannya.
.
.
"Aku mengandalkanmu, Park Jimin,"
.
.
Tuan muda.
.
.
Jimin membulatkan kedua matanya begitu suara sang Tuan muda bersarang di pikirannya. Ia menghempaskan kepalannya di udara dan merosot jatuh terduduk di balik pintu.
.
.
"Kau yang sangat mengenal Taehyung lebih dari siapapun bahkan dari kekasih kecilnya itu. Aku mohon–ah tidak, kami mohon bekerjasama lah dengan kami,"
.
.
Ia menundukkan kepalanya. Membayangkan sosok Taehyung yang menjadi pusat pembicaraannya dengan si Tuan muda itu semalam. Ia tidak bodoh, ia memang sangat tahu jika pekerjaan yang dilakukan Mrs. Kim itu mungkin berbahaya. Ia tahu bahwa Taehyung berniat mencari pembunuh sang ibu. Namun ia tidak pernah membayangkan akan seperti ini masalahnya. Dan dirinya sudah terlanjur turut masuk ke dalamnya.
.
.
"J-Hope yang kau kenal adalah seorang mentor dan sempat menjadi wakil komandan," ujar Yoongi setelah menyilakan Jimin dan seluruh orang di dalam ruangannya untuk duduk. Jimin menganggukkan kepala tanpa mencurigai apapun.
Sang Tuan muda nampak menggaruk tengkuknya perlahan saat melihat ekspresi Jimin yang membuatnya menjadi tidak tega untuk melanjutkan ucapannya.
Melihat perubahan sikap Yoongi, Hoseok mengambil alih pembicaraan. Sembari mengetik sesuatu pada pad miliknya ia berujar, "Jimin-ssi, kau pernah dengar istilah double agent?"
Jimin mengerutkan keningnya. Ucapan Hoseok membuatnya terngiang pada film-film action yang pernah ia tonton.
"Maksudmu seperti yang ada di dalam film?" Jinah serta Namjoon tertawa pelan mendengar jawaban Jimin yang terkesan lucu dan polos. Tak pelak, hal itu membuat Yoongi ikut mengulaskan senyum kecilnya.
Sementara Hoseok hanya mengangguk semangat, nampaknya cara berpikirnya dan Jimin sangat cocok. Pemuda itu menunjukkan layar pad-nya yang tengah menampilkan pengertian dari double agent.
"Double agent, atau agen ganda adalah seseorang yang cenderung memata-matai sebuah organisasi sasaran atas perintah organisasi pengendalinya, namun kenyataannya ia setia pada organisasi sasarannya itu. Agen ganda bisa juga merupakan agen organisasi sasaran yang menyelusup ke dalam organisasi lain."
Jimin ternganga saat membaca penjelasan di dalam layar. Ia sudah bisa menemukan benang merah pada apa yang hendak diutarakan Hoseok selanjutnya.
"Apapun yang ada dalam pikiranmu itu benar, aku adalah seorang agen ganda yang ditugaskan menyusup ke dalam AR. Organisasi pengendaliku adalah LOT, yang merupakan rival besar AR. Aku sebenarnya hanya setia pada AR, dan nampaknya kesetiaanku hendak diuji dengan menjadikanku sebagai agen ganda,"
Dengan cepat Yoongi menyikut lengan Hoseok, "Kau terdengar mellow dan membuat AR nampak buruk menjadikanmu double agent." serunya tidak terima dengan nada gurauan.
Hoseok tersenyum kecil, "Tuan muda, kau tahu bahwa aku hanya setia padamu dan Mr. Min,"
"Hentikan, kau membuatku mual."
Hoseok tertawa kembali melihat tingkah manis Tuan mudanya. Apapun yang diucapkan Yoongi walau terdengar sarkastik hal itu merupakan hal manis bagi para 'bawahannya'.
Jimin nampak begitu bingung dengan semua pengakuan Hoseok padanya. Lantas, apa hubungan semua ini dengan dirinya? Apa untung dan ruginya bagi mereka membeberkan identitas Hoseok yang sesungguhnya pada Jimin? Memangnya Jimin ini siapa? Atau jangan-jangan mereka berniat ingin merekrut Jimin–
"Kau tahu, sahabat sejatimu adalah incaran LOT selanjutnya?" ungkap Yoongi secara tiba-tiba.
Jimin kembali mengerjapkan kedua matanya dan kembali membuka mulutnya lebar-lebar. Yang ia tahu dan pernah dengar, LOT adalah sebuah organisasi yang bergerak di bidang Ilmu pengetahuan dan militer. Namun organisasi itu menghalalkan segala cara demi mendapatkan yang mereka inginkan. Akan tetapi.. Apa hubungan semua itu dengan Taehyung–sahabat sejatinya?
Hoseok menghela nafasnya sejenak, "Kau mungkin bingung, tapi semua orang mengetahui jika ibu Taehyung, Kim Yeonju, adalah seorang ilmuwan ternama yang tewas di puncak karirnya. Kematiannya pun masih menjadi hal yang ganjil," ujarnya nampak lebih serius.
Jimin menenggak salivanya kuat-kuat saat Hoseok mulai membahas tentang seorang malaikat penyelamat hidupnya itu. Ia menganggukkan kepalanya sebagai sebuah isyarat untuk Hoseok melanjutkan kalimatnya.
"Kami tahu, Jimin-ssi. Kami tahu siapa pembunuhnya dan mengapa wanita itu bisa terbunuh,"
Jimin tergelak dalam posisi duduknya. Ia tak bisa lagi menyembunyikan keterkejutannya. Pandangan matanya penuh dengan rasa marah dan kesedihan yang tercampur aduk. Tubuhnya mulai bergetar dan alis matanya menegang.
"Kau yang sangat mengenal Taehyung lebih dari siapapun bahkan dari kekasih kecilnya itu. Setelah kau mendengar semua ini aku mohon–ah tidak, kami mohon bekerjasama lah dengan kami. Karena kami tak ingin LOT bergerak lebih jauh lagi dan memakan korban lebih banyak lagi,"
Perkataan Yoongi membuat kehidupan seorang Park Jimin berubah selamanya.
.
.
.
.
.
Jungkook tengah memasukkan barang-barangnya ke dalam kopor hitam miliknya. Dengan cekatan ia mengambil beberapa aksesori kecil yang menghiasi meja serta nakas yang sudah digunakannya selama dua minggu di dalam barak. Tak lupa membetulkan kembali posisi bantal yang dipakainya di atas ranjang.
Beberapa kali pemuda itu mengembuskan nafasnya. Ia nampak tidak tenang, sesuatu tengah menggerogoti kepalanya. Dan nampaknya Youngjae paham apa sesuatu itu.
Youngjae mendudukkan dirinya tepat di sebelah Jungkook. Pemuda itu mengelus surai hitam Jungkook dengan perlahan–seakan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Jungkookie, berhenti bersikap seperti kakek-kakek begitu," ujarnya pelan. Ia dapat melihat senyuman kecil yang terulas dari bibir mungil Jungkook begitu mendengar ucapannya.
Pria kecil di sebelahnya menggenggam erat selimut putihnya dan mulai bergumam, "A-Aku merasa takut.. Tae-hyung yang akan menjalani tes namun aku yang merasa takut, hyung.." ujarnya sembari menunduk dan meremas selimutnya.
Youngjae mengeratkan pelukannya pada Jungkook tanpa berhenti mengelus surai pemuda yang lebih muda. "Tidak apa-apa, Jungkookie. Kau pantas merasa takut, tetapi kau juga harus percaya pada Taehyung," ujarnya pelan.
Jungkook, pemuda dalam pelukannya terdiam.
"Kau percaya kan jika Taehyung tidak bersalah?"
Jungkook segera merespon, "Aku benar-benar yakin Tae-hyung tidak mungkin seperti itu!" dengan mantap dan menggebu-gebu.
Yang lebih tua mengangguk seraya mengulaskan senyumannya, "Kami semua pun percaya. Oleh sebab itu kita harus memberi dukungan dan mempercayakan semua padanya, aku tahu Taehyung pasti mampu membuktikan bahwa ia bersih."
Mendengar ucapan penuh kasih sayang itu Jungkook mengangguk cepat dan tersenyum. Kemudian balas memeluk Youngjae sembari melayangkan ucapan terima kasih. "Hyung benar-benar yang terbaik,"
Youngjae hanya memekik girang saat Jungkook memberinya senyuman kelinci khasnya. Sungguh manis.
Sosok Sehun yang berdiri di balik pintu depan yang terbuka–baru saja Junhong dan Mino beserta Sehun keluar kamar, merespon panggilan dari bagian laundry yang membutuhkan beberapa pemuda tinggi untuk menolong mereka. Namun Sehun memutuskan untuk tetap tinggal karena 'tidak sengaja' menguping pembicaraan Jungkook dan Youngjae.
Ia menyandarkan diri ke atas dinding dan menyembunyikan dirinya dengan kedua tangannya yang terlipat di depan dada. Setelah mendengar kekhawatiran Jungkook, Sehun pun bertekad pada dirinya bahwa ia akan membuat pemuda yang ia cintai itu selalu bahagia.
Sehun akan ikut mengawasi tes Taehyung dan memastikan pemuda itu lolos tanpa satu gangguan pun. Dan ia tak akan segan-segan menyingkirkan siapapun atau apapun yang berniat untuk menghalangi sosok yang menjadi sumber kebahagiaan Jungkook, yakni Kim Taehyung.
Ia sudah bertekad dalam hatinya, meski harus mengorbankan segalanya ia tidak akan membiarkan Jungkook kehilangan Taehyung.
Sebab ia tahu kehilangan sesuatu yang berharga adalah hal yang sangat menyakitkan.
Sebuah senyum terulas dari bibir pemuda itu. Ia menggunakan sebelah tangannya untuk menutupi wajahnya yang mendadak terhiasi dengan bulir-bulir air mata. Bayangan seseorang menyelimuti pikirannya.
Luhan-hyung? Ternyata Jungkook lebih cengeng darimu. Tetapi ia membutuhkanku, bolehkah aku menolongnya? Setelah itu mungkin kau bisa menungguku di sana. Aku mungkin akan datang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Sedikit karena aku akan berusaha untuk fast update hehehe
Dan sengajaaa biar dibikin gantung dulu(?)
Apakah chapter ini sudah menjawab pertanyaan2 tentang mas hobi? XD
Lalu lalu aku mau nanyaaa untuk yoongi dan jimin, kalian lebih prefer siapa yang jadi top? Aku fleksibel, aku bisa top!yoongi atau top!jimin, cuma mau menyesuaikan sama selera kalian(?) dijawab yaa kutunggu jawabannyaa~
Oh iya, aku sekalian mau jawab beberapa pertanyaan yang masuk, cekidot!
Dari watermelon:
1. karena mereka masuk pelatihan gimana sekolah mereka? apa mereka cuti, ijin ato emang dapet keringanan dr sekolah?
Aku lupa ngasih latar waktunya ya wkwk maafkan dirikuuu, jadi ceritanya ini pelatihan kan cuma 2 minggu jadi aku bikin waktunya pas liburan semester di pertengahan tahun gituu~
2. masih bingung sama pihak yg baik sama yg jahat wkwkwkwk
Hayo pegangan sama aku/? Semoga di chapter ini bisa kejawab wkwkwk
3. waktu kecil jungkook itu hilang ingatan, trus gimana sama kode yg dulu d kasih tau ayahnya? dan selama itu apa jungkook nggak ngerasa beberapa ingatannya balik gitu? kayak sekelebat masalalu mungkin? Hehehehe
Nah.. nah nah inget ngga yaa/? Pernah dia tiba2 inget waktu liat koran yang dulu ituu. Tapi dia udah mutusin buat gak ngungkit2 koran itu lagi karena inspektur tewas D: nanti bakal dimunculin kok kalau jungkook tiba2 ngeliat sesuatu yang ada hubungannya, karena selama ini dia masih belum liat apa2 hehehe~
Dari jun:
1. mau nanya kira2 kaka ini bakal bikin sampe chapter berapa? masih jauh kan?
Nah ini aku pun masih ngawang2 mau sampe berapa :" /plak. Um sebentar lagi konflik muncul, dan planning sementara ini konflik langsung jadi konflik besar yang bisa aja langsung menamatkan cerita/?
Buat Sehun maafin aku kamu jadi keliatan ngenes di sini ;~; tapi aku butuh karakter ngenes(?) aku cinta Sehun banget kok, tenang saja ;-; nanti dia bahagia sama aku /gak
Ohhh btw, aku masih nyari2 latar belakang hidup namjoon/? Kalian punya saran? Heheheh :"3
ok, tinggalkan jejak apapun untuk membuatku bahagia(?) dan apapun tanggapan kalian mengenai cerita ini khuhuhu
thanks for reading you guys are amaaaazziingggggg
critics/comments are warm welcomed, but please do not bash chara and or pairing, thx!
seeyou soon~!
