Seorang pemuda pirang jabrik menghentikan langkah kakinya didepan sebuah gang sepi nan gelap. Manik blue saphire-nya terlihat begitu keruh–menatap kosong jajaran toko yang sudah tutup.
"Naruto! Maaf telat, aku ketiduran!"
Naruto, si pemuda pirang tersebut mengalihkan pandangannya pada pemuda berambut merah yang sudah berdiri didepannya. "Nyantai aja Gaara..." Dia mengalihkan perhatiannya pada jam tangan kulit yang melingkar di tangan kirinya. "...masih jam 11."
Gaara memasukan kedua tangannnya kedalam saku jaket merahnya. "Ayo berangkat."
Naruto mengangguk sambil memasang hoodie jaket orange-nya seraya berjalan disisi Gaara.
Susu Jeruk
Disclaimer © Masashi Kishimoto
Warning: AU, OOC, Sho-Ai, Typo(s), dll.
"Gimana acara belajarmu?"
Setelah berjalan selama 10 menit dalam diam, akhirnya Gaara memulai percakapan–untuk mencairkan suasana.
"Haa?" Naruto menaikan sebelah alisnya. Bingung.
Gaara mendengus kesal, tidak suka dengan reaksi teman yang berjalan disampingnya tersebut. "Hari ini kau belajar bareng Sasuke yang kau taksir itu kan?"
"Entahlah." Naruto menggaruk kepalanya yang tak gatal seraya mendesah–gelisah. "Dia pasti tak mau mengajariku lagi."
Tep.
Gaara menghentikan langkahnya sambil menatap Naruto heran. "Kenapa? Kebodohan apa yang kau lakukan?"
"Udahlah jangan dibahas." Naruto mempercepat langkahnya meninggalkan Gaara yang masih menatapnya heran dan penasaran. Gaara mendecakkan lidahnya seraya berlari menyusul Naruto. Sekali lagi, mereka berjalan dalam diam.
Dengan tatapan kosongnya, Naruto menengadah menatap langit gelap. 'Aku bahkan tak tahu harus bagaimana jika bertemu dengannya.'
-Flashback Start-
"Akhirnya selesai juga!" Naruto menghela napas panjang seraya berbaring di lantai.
Sasuke melirik Naruto sambil mendengus pelan. "Kalau begitu aku pulang."
Naruto membatalkan niatnya untuk menggeliat lega, dia langsung bangkit dan menatap Sasuke heran. "Eh? Nggak dilanjut ke materi selanjutnya?"
"Nggak. Aku harus pulang. Ada urusan." Sasuke membereskan alat tulis dan laptopnya.
Naruto mengangguk mengerti. "Kapan pertemuan selanjutnya?"
"Nanti kuhubungi."
Naruto ingin mengeluh dan protes atas tanggapan Sasuke yang begitu datar, tapi sadar kalau dia tidak bisa menang dari pemuda raven galak yang disukainya ini. Naruto menggaruk pelipisnya sambil mendesah pelan. "Baiklah kutunggu."
Sasuke bangkit seraya menggendong tas ranselnya kemudian berjalan menuju pintu keluar–diikuti Naruto. Sasuke cukup terkejut ternyata Naruto mengikutinya sampai keluar, dia mengira Naruto hanya mengantarnya sampai pagar halaman rumah. "Mau kemana?"
"Aku antar kau sampai stasiun." Naruto tersenyum lebar seperti biasanya seolah kejadian sebelum belajar tidak pernah terjadi.
"Nggak usah!" Sasuke mendengus. Perasaannya tidak enak.
"Aku memaksa! Lagian aku juga harus belanja ke supermarket." Naruto mengeluarkan smartphone dari saku jeans-nya seraya menyalakan dan mengotak-atiknya sebentar. "Lihat! Baa-chan memintaku belanja." Naruto menunjukan pesan dari Tsunade yang berisi daftar belanjaan.
"Oh."
Sasuke kembali melanjutkan langkahnya tanpa protes. Dia lebih memilih diam tak mempermasalahkannya lagi.
Setelah setengah jalan berjalan dalam diam, Naruto meraba belakang saku jeansnya. "Ah!" Dia langsung menghentikan langkahnya dengan raut kaku.
Sasuke pun ikut menghentikan langkahnya. "Ada apa?"
"Dompetku ketinggalan." Naruto tersenyum kecut. "Maaf Sasuke, kau duluan saja ya."
"Hn."
Sasuke melanjutkan langkahnya sementara Naruto berlari kembali menuju rumahnya.
"Uchiha Sasuke."
Baru berjalan beberapa langkah, Sasuke sudah disapa oleh suara yang tidak dikenalnya. Dengan tenang dia menghentikan langkahnya seraya menoleh pada pemuda yang baru saja dilewatinya. "Siapa?"
Pemuda berambut silver tersenyum penuh arti menampilkan deretan gigi runcing yang tersusun rapi. "Kau Sasuke yang menolak Karin dan membuatnya sedih hingga dia lupa makan dan tidur kan?" Dia berjalan menghampiri Sasuke sambil berkacak pinggang. Tatapan matanya penuh intimidasi layaknya harimau yang ingin menerkam mangsanya.
"Karin?" Sasuke mengerutkan alisnya. Dia benar-benar tidak ingat dengan nama itu. "Siapa dia?"
Pertanyaan Sasuke membuatnya marah. Sangat. "Cih! Dasar bajingan! Sok banget kamu!"
DUAK!
Pemuda silver tersebut melayangkan tinjunya yang dengan mudah ditangkis Sasuke.
DAKK!
Sasuke merasa sesuatu menimpa kepalanya, dia pun jatuh tanpa kehilangan kesadarannya. Sasuke bangkit dan melihat ternyata ada orang lain selain si pemuda kurus berambut silver tersebut. Pemuda kekar berambut orange sambil memegang tongkat besi ditangannya menatap Sasuke sinis.
DUAKK!
Sasuke dipukul kembali tanpa sempat menangkis karena kepalanya terasa begitu berdenyut.
DUAKK!
Sasuke dipukul ketiga kalinya hingga ia terlempar cukup jauh kedalam gang yang gelap. Sasuke duduk sambil menyandarkan dirinya didinding gang. "Apa mau kalian..?"
Kedua pemuda yang berdiri didepan Sasuke tersebut tersenyum penuh arti. "Kam–"
"Kelihatannya kalian bersenang-senang? Boleh aku gabung?"
"Siapa?!" Kedua pemuda tersebut refleks terpekik sambil menatap siluet pemuda yang tengah berdiri depan gang.
Sasuke pun menengadah menatap pemuda tersebut. 'Naruto?'
"Jangan ganggu kami!"
Kedua pemuda tersebut menerjang pada pemuda yang mengganggunya.
DUAK! BUK! BUK! BUK!
Dengan mudah Naruto menghajar mereka berdua tanpa terkena pukul sekalipun. Merasa tak akan menang, mereka pun kabur. Naruto mengalihkan perhatiannya pada pemuda yang habis dihajar oleh kedua pemuda yang baru saja lari tersebut.
"Hei! Kau tidak ap–" Naruto tak melanjutkan ucapannya. Dia tercengang sekaligus terkejut. "SASUKE! APA YANG KAU LAKUKAN DISINI? KAU TIDAK APA-APA KAN?!" Naruto panik sendiri seraya mengulurkan tangannya. "Kau baik-baik saja?"
"Hn."
Sasuke meraih uluran tangan Naruto seraya berdiri dan tersenyum tulus. Senyum yang belum pernah dilihat Naruto. "Makasih Naruto."
Raut Naruto berubah tegang, wajahnya sedikit merona. Dia langsung melepas tangannya sambil membuang muka–membuat Sasuke heran. "Ti-Tidak masalah."
"Kau kenapa?" Sasuke menatap Naruto heran. 'Tingkahnya aneh.'
"Tidak!"
Sasuke mencengkram kedua sisi ujung hoodie jaket Naruto sambil mengguncangnya kencang. "Bohong!"
"Aku tidak bohong!"
"Kau tidak menatapku saat bicara! Kau pasti menyembunyikan sesuatu dariku!" Sasuke mengeratkan genggamannya.
"Lepasin! Kau mau mencekikku hah?" Naruto merasa sulit bernapas.
Sasuke menatap Naruto tajam. "Aku takkan melepaskannya sampai kau mengatakannya."
"Baiklah! Baiklah aku akan mengatakannya!"
Sasuke melepas cengkramannya.
Naruto menarik napas panjang seraya menatap Sasuke intens. "Eto... Sepertinya aku menyukaimu Sasuke."
"Kirain apaan. Aku juga menyukaimu kok." Sasuke tersenyum kecil sambil mendengus pelan. "Shikamaru dan Choji juga sepertinya menyukaimu. Kalau kau ingin makan bersama kami, mereka pasti tak akan mempermasalahkannya."
"Bukan suka seperti itu..." Naruto mendesah sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. "...mungkin lebih tepatnya cinta." Naruto tersenyum kecut. "Maaf."
Sasuke berdecak kesal. "Berhentilah bercanda Naruto!"
"Aku tidak bercanda Sasuke!" Naruto mendorong Sasuke hingga menabrak dinding seraya melumat bibirnya. Sasuke mendorong Naruto agar melepas ciumannya–
Bukk!
–dan menonjok pipinya.
"Sekarang aku sangat membencimu!" Sasuke berjalan pergi meninggalkan Naruto yang menunduk termenung dengan pipi kiri yang memerah.
-Flashback End-
"Naruto, ayo masuk!"
"Ha?" Naruto memekik menatap linglung Gaara yang memecah lamunan kilas baliknya. "Ah! Maaf, ayo!"
Mereka berdua memasuki klub malam yang begitu berisik memekakan telinga. Naruto dan Gaara tak tertarik menikmati pemanadangan penari tiang berbaju minim yang sejak tadi mengedip menggoda, mereka berjalan acuh melewati kerumunan orang yang berjoget menikmati musik disko yang diputar DJ seperti orang gila–menuju lift khusus karyawan.
Piip.
Gaara menekan tombol lantai B2 yang berada dua lantai dibawah gedung klub malam dan hotel berlantai 15 tersebut.
Ting!
Pintu lift terbuka di sebuah ruangan yang penuh dengan loker dan jajaran kamar mandi. Naruto menghampiri loker nomor 10 disamping loker Gaara yang bernomor 9. Mereka langsung menanggalkan pakaianya meninggalkan celana boxer hitam saja. "Ayo."
"Ok."
Naruto memasang topeng kitsune yang dilengkapi rambut orange sepunggung seraya mengikuti Gaara yang sudah memakai topeng tanuki berambut coklat sebahu, mereka membuka pintu besi berwarna hitam. Pemandangan yang dilihatnya adalah puluhan manusia yang duduk mengelilingi sebuah ring arena bertarung sambil menikmati pertarungan yang sedang terjadi di sana. Suasana yang benar-benar riuh, ada yang teriak-teriak, lompat-lompat sampai memeragakan ala atlet petinju.
Dibalik topengnya, iris blue saphire Naruto menggelap dihiasi senyum lebar ala psikopat.
"Saatnya melampiaskan rasa penat."
(눈_눈)
Brukk!
"Argh sialan!"
Sasuke menjatuhkan dirinya di ranjang king size-nya. Dia merebahkan tubuhnya seraya menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Gambaran situasi sebelumnya tergambar begitu jelas dipikiran Sasuke hingga membuatnya semakin kalut.
Buk!
Sasuke menonjok guling yang terbaring disampingnya. "Semua ini gara-gara si dobe homo sialan itu! Sudah berapa kali dia menci-ci-ci-ci–"
Blushh!
Sasuke langsung mengambil bantal seraya menenggelamkan wajahnya yang sudah memerah sampai mengeluarkan asap imaginer.
Tok! Tok! Tok!
Sasuke menarik napas panjang seraya menghempaskannya perlahan. Dia bangkit dan berdiri seraya menatap cermin yang menempel di lemari bajunya kemudian menepuk-nepuk pipinya agar terlihat seperti biasanya. Stoic.
Cklek.
Sasuke membuka pintu kamarnya, menampilkan pria tampan yang terlihat lebih tua darinya tengah–berdiri didepan pintu sambil tersenyum simpul. "Ada apa Itachi Nii-san? Ah! Maaf aku lupa membantumu mengerjakan laporan bulanan perusahaan."
"Sudah dibereskan oleh Deidara." Sang kakak tersenyum penuh arti. "Sepertinya kau sedang penat. Mau ikut ke tempat menarik?"
Sasuke menatap Itachi heran. "Kemana?"
"Kalau penasaran, ikuti aku."
Sasuke menghela napas panjang seraya mengikuti kakaknya.
Sasuke Point Of View: On
Setelah berkendara selama lebih dari 15 menit, Itachi memarkirkan mobilnya di sebuah parkiran hotel. Kami memasuki sebuah klub malam di lantai dasar hotel kumuh tersebut. Aku mengikuti Itachi yang berjalan menghampiri seorang bartender berambut orange dengan wajah penuh tindik.
"Kentang tua menyuruhmu menatap mataku."
Bartender tersebut tersenyum penuh arti menatapku dan Itachi. Dia menunjuk sebuah pintu menuju belakang panggung DJ. "Password dikonfirmasi. Silahkan masuk keruangan yang ada dibelakang panggung dan gunakan lift menuju lantai terbawah."
"Aku mengerti." Itachi tersenyum simpul seraya berjalan menuju ruangan yang ditunjuk sang bartender. Aku hanya mengikutinya dalam diam.
Ting!
Pintu lift terbuka.
Seperti yang Itachi katakan. Tempat ini seperti sebuah mini stadion dengan arena bertarung ditengahnya. Kami langsung duduk di kursi yang masih kosong yakni kursi di jajaran paling belakang.
Seperti kakakku, aku memperhatikan pertarungan yang tengah terjadi di arena. Disana ada dua petarung, yakni pria kekar berkulit coklat memakai boxer berwarna putih dan bertopeng putih dengan rambut sebahu yang ikal warna coklat, dan pria kurus tapi berotot berkulit tan memakai boxer berwarna hitam bemotif jeruk dan bertopeng seperti rubah dengan rambut orange yang panjang sepunggung.
Pria kekar tengah menginjakkan kaki kanannya di dada pria kurus yang tengah terlentang dibawah si pria kekar.
Aku melirik layar yang menggantung diatas arena, disana tertulis Tako VS Kitsune. Aku menggaruk daguku sambil menukik alisku menatap intens petarung bernama kitsune. "Kitsune? Kenapa aku merasa tidak asing dengan celana dalam–eh boxer motif jeruk yang dipakai si kitsune ini."
Kitsune yang terlihat kesakitan karena dadanya diinjak mulai melancarkan serangan balasannya. Tangan kirinya meraih kaki si kekar lalu mengangkat tangan kanannya–
Buakk! Krrak!
–kemudian memukul betis lawannya dengan sekuat tenaga hingga terdengar suara retakan tulang.
Petarung tako menjadi oleng. Kitsune langsung memanfaatkan keadaan ini dengan bangkit lalu menendang wajah bertopeng petarung Tako hingga ia terlempar ke pagar yang membatasi ring dan jatuh terduduk sambil batuk darah.
DOOOONG!
Bunyi goong begitu menggema di stadion tersebut menandakan petarungan telah selesai dan dimenangkan oleh petarung Kitsune. Setelah melambaikan tangannya pada penonton yang begitu riuh menyorakinya. Dia membopong petarung Tako keluar dari arena bersamanya.
Sriing!
'Sepertinya aku teringat sesuatu. Benar! Boxer itu adalah boxer yang dipakai Naruto. Aku melihatnya saat dia pergi ke kamar mandi untuk cuci muka dengan celana yang melorot memperlihatkan celana dalamnya.' Aku menepuk jidatku saat mengingatnya.
"...Naruto..."
Sasuke Point Of View: Off
(눈_눈)
Di kantin kampus yang sepi, Naruto tengah melahap miso ramen-nya perlahan. Dia terlihat tidak bersemangat. Hari ini dia tidak masuk kuliah karena datang ke kampus pada saat kelas sebentar lagi bubar.
Naruto mengalihkan pandangannya, sejenak dia terpaku menatap tiga pemuda yang tengah berjalan menghampirinya. Tidak! Lebih tepatnya terpaku menatap pemuda raven yang membawa sekotak jus tomat dan roti melon, dia berjalan diantara dua temannya. Dia duduk di meja tepat di samping Naruto dengan duduk saling membelakangi.
Naruto mendesah pelan. 'Kenapa aku berharap dia mau duduk semeja denganku, bukankah kemarin dia sudah mengatakan kalau dia membenciku.'
"Yo mandor pabrik!"
Naruto mengalihkan perhatiannya pada gadis pirang berdress krem yang sudah berdiri disampingnya ditemani sang pacar yakni sahabatnya sendiri yaitu Gaara. "Shion, aku sudah keluar dari pekerjaanku. Berhenti memanggilku seperti memanggil pria tua."
Shion si gadis pirang tersebut tersenyum lebar seraya duduk disamping Gaara yang duduk dihadapan Naruto.
Gaara menatap Naruto datar. "Kenapa kau tidak masuk kelas?"
"Aku nggak bisa tidur dan berakhir nonton Bluray DVD The Walking Dead Season 5 yang kemarin kita sewa." Naruto nyengir kuda seraya meneguk susu jeruknya.
Gaara hanya ber-oh ria seraya melahap nasi gorengnya, begitupula dengan Shion.
"Ne, apa yang akan kau lakukan jika tak sengaja menemukan majalah porno di kamar adikmu?" celetuk Shion ditengah kunyahannya.
Burb!
Naruto hampir memuncratkan ramen yang sedang dikunyahnya.
Uhuk! uhuk! uhuk!
Sedangkan Gaara terbatuk karena terkejut saat menelan Nasi gorengnya.
"Kenapa kau bertanya begitu? Bukannya kau tak punya adik?" tanya Gaara seraya meminum teh manis-nya.
Shion nyengir kuda menampilkan deretan giginya yang putih dihiasi potongan-potongan nasi dan cabe disela-sela giginya. "Lebih tepatnya sih, sepupuku."
Naruto meneguk susu jeruknya. "Ah! Maksudmu Konohamaru?"
Shion mengangguk mantap sambil menatap Naruto dan Gaara berapi-api. "Saat aku membersihkan kamarnya, aku melhat setumpuk majalah dewasa! Apa-apaan coba! Masih bocah aja kelakuannya udah gitu! Nah, apa yang harus kulakukan? Apa aku harus menegurnya?"
"Biarkan saja Shion."
"Aku setuju." Naruto menyetujui jawaban datar Gaara.
Shion menatap sahabat dan pacarnya heran. "Kenapa?"
Gaara menghela napas panjang. "Dia kan udah SMA. Pada usianya, dia memang lagi masa-masanya ingin tahu."
"Tapi–"
"Apa kau lebih suka dia telat puber? Dia akan berakhir menjadi om-om pedo yang suka loli dan sering update status di akun media sosialnya seperti status alay pake hashtag karungin loli, waifu loli dan sebagainya?" Naruto memotong ucapan Shion dengan pertanyaan retoris.
Shion menggeleng. "Tentu saja aku nggak mau dia seperti itu!"
Naruto mengangguk sambil menunjuk wajah Shion. "Makanya biarin aja dia! Asal jangan terlalu tenggelam dalam pergaulan yang salah seperti minuman keras, narko–"
"Naruto, ada yang ingin kubicarakan denganmu."
Naruto tak melanjutkan ucapannya. Dia menengadah menatap Sasuke yang sudah berdiri disampingnya sambil menatapnya tajam. "Ada apa?"
"Ini tentang..." Sasuke mendekatkan wajahnya ke telinga Naruto. "–kitsune."
Mendengar bisikan Sasuke, hati Naruto mencelos, dia langsung menegak habis susu jeruknya seraya menggendong ranselnya dan berlari kecil mengejar Sasuke yang sudah keluar dari area kantin.
"Tunggu Sasuke!"
Sasuke menghentikan langkahnya didepan gedung kesenian yang begitu bising oleh orang-orang yang tengah latihan alat musik dan membiarkan jendela ruangannya terbuka. Dia menatap Naruto penasaran. "Petarung kitsune.. apa itu benar-benar kamu?"
Naruto menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Ano.. bagaimana kau bisa tahu?"
"Rahasia." Sasuke tersenyum penuh arti. "Kau tahu apa yang akan terjadi jika sampai pihak kampus mengetahuinya? Minimal kau akan di drop out. Sayang sekali bukan? Padahal sekarang kau sudah semester akhir."
Naruto menatap Sasuke setenang mungkin. "Apa yang kau inginkan?"
"Berhentilah menggodaku, dasar homo!" Sasuke menatap Naruto penuh intimidasi. Dia terihat begitu kesal.
Naruto mengangguk pelan. "Aku mengerti."
"Eh?" Sasuke sedikit terkejut dengan reaksi Naruto. Jauh didalam hatinya, dia ingin reaksi lebih.
"..."
Naruto menunduk menatap sepatu kets hitamnya sendiri. "Sebenarnya aku memikirkan ucapanmu semalam. Maaf! Aku benar-benar minta maaf..." Naruto mengangkat wajahnya seraya menatap Sasuke sambil tersenyum kaku. "Aku begitu menyukaimu sampai aku tak bisa mengendalikan diriku. Aku sadar, rasa suka ku membuatmu menderita... karena itu, aku menyerah."
Mendengar ucapan lirih Naruto, Sasuke merasa ada yang meremas jantungnya dan entah mengapa perutnya pun terasa begitu nyeri. Naruto berbalik memunggungi Sasuke.
"Soal kitsune, sebenarnya aku tidak begitu peduli kau mau menyebarkan atau melaporkannya, karena salah satu dosen lah yang memberitahuku tentang lowongan kerja disana." Naruto berjalan meninggalkan Sasuke yang berdiri mematung menatap punggungnya.
"Semudah itu menyerah..." Sasuke menutup wajahnya yang sudah memerah. "...dasar egois."
To Be Continued
Nell Note:
Halo apa kabar? Hisashiburi :D
Maaf telat banget updatenya cz sebenarnya cerita ini ada di flashdisk dan flashdiskku hilang (huhuhu.. padahal udah tamat loh disana).
Karena itulah, aku jadi males lanjutin... tapi aku nggak enak sama reader yang udah baca dan nunggu lanjutan ceritanya, makanya aku buang jauh-jauh writer block yang melanda dan menulis ulang chapter ini walaupun pasti rada beda sama yang pertama kehapus (disini juga mungkin banyak typo dan amburadul cz belum sempat edit lagi).
Kuharap kalian menyukainya, sampai nanti di chapter depan. ^_^
Terimakasih udah mau baca cerita ini, baik yang ninggalin jejak atau nggak.
Special thanks buat reviewer chapter sebelumnya yakni: puri-chan, danielkeanumadegani, Neriel-chan, Sunsuke, Habibah794, Komozaku Natsuki, Hatsuki Anita Anti mainstream, Lady Spain, Kita Nakamura dan poh.
Thanks banget, review kalian adalah semangat nulisku. :D
