Ckit!
Pengendara ninja merah menghentikan motornya tepat disamping gadis berambut biru dongker yang tengah berjalan pelan.
"Hinata!"
Pengendara tersebut memanggil gadis ber-dress lavender tanpa lengan yang berjalan melewatinya. Dia membuka helm merah yang dipakainya—menampilkan pemuda pirang dengan setelan kaos orange dibalik jaket kulit hitam mengkilapnya serta celana jeans biru dan kets hitam yang menambah kemaskulinannya.
Gadis tersebut menghentikan langkahnya, melirik pemuda pirang yang tengah tersenyum lebar padanya. Dia menghentikan langkahnya. "Naruto-kun..."
Naruto turun dari motornya melihat mata gadis yang disapanya berkaca-kaca. "Kau kenapa?"
Hinata tersenyum pedih sambil menggeleng lemah.
"Berantem sama Kiba?"
Raut wajah Hinata sedikit merona.
'Jadi ingat masa lalu.' Naruto menghela napas panjang. Dia mengingat dirinya saat masih pacaran dengan Hinata, saat itu dia bersikap acuh dan tidak tahu karena kedekatannya dengan Shion membuat Hinata cemburu serta berpaling pada laki-laki lain. "Kalau ada masalah atau sesuatu yang mengganggumu lebih baik bicarakan padanya. Dia takkan mengerti kalau kau tak membicarakannya."
Susu Jeruk
Disclaimer Masashi Kishimoto
Warning: AU, OOC, Sho-Ai, Typo(s), dll.
"Hhhh~"
Pemuda berambut nanas melirik pemuda berkaos biru yang tengah duduk disampingnya—malas. "Kau kenapa Sasuke?"
"Nggak." Sasuke menyandarkan punggungnya di kursi panjang yang tengah diduduki olehnya dan kedua temannya. Dia menengadah, menatap langit dengan tatapan kosongnya. 'Sudah seminggu lebih aku dan Naruto tak saling bertegur sapa apalagi saling berbicara. Entah mengapa perasaanku tidak enak... apa aku terlalu kasar padanya?' Sasuke menggeleng cepat. 'Kenapa juga harus merasa bersalah! Bukannya aku harus bersyukur karena dia tak akan mengganggu lagi?!'
"Ehm!"
Sasuke melirik temannya yang berdehem melihat tingkah anehnya. "Ke-Kenapa Shikamaru? Kau flu?"
"Tingkahmu aneh." jawabnya malas.
"Aneh apanya?"
Shikamaru menghela napas panjang. "Ngelamun ditambah barusan... kau bicara terbata. Kau tidak pernah bicara seperti itu."
Pemuda berbadan tinggi dan besar yang duduk disamping Shikamaru menelan keripik kentang yang dikunyahnya seraya tertawa menggelegar. "Jarang banget liat kamu kaya gini."
"Kau benar Choji!" Shikamaru terkikik pelan.
"A-Apaan sih! A-Aku hanya lagi kurang fit aj—"
Sasuke menghentikan ucapannya menatap Naruto yang melewati mereka mengendarai ninja sambil membonceng gadis berhelm. Naruto memarkir motornya, gadis tersebut turun dari motor diikuti Naruto. Dia melepas dan memberikan helm yang dipakainya pada Naruto dihiasi senyuman manis, Naruto pun membalas senyumannya dengan senyuman kaku sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Grrt!
Sasuke mengepalkan tangannya, dia tak bisa melepaskan pandangannya dari mereka berdua. Dadanya sakit, dia merasa ada tangan tak terlihat yang tengah meremas jantungnya.
Melihat tingkah Sasuke yang menegang, Shikamaru mengikuti arah pandangan Sasuke. 'Hooo~'
"Areee? Gaara-kun, bukannya itu Naruto?"
Sasuke dan Shikamaru menoleh serentak menatap sumber suara. Terlihat gadis pirang tengah menggelayut manja di tangan pemuda berambut merah dengan mata panda.
"Mana Shion?"
"Tuh!" Shion menunjuk Naruto yang tengah berjalan berdampingan meninggalkan lapangan parkir bersama Hinata. "Kenapa dia bersama Hinata? Bukannya mereka sudah putus?"
"Mungkin balikan lagi." ucap Gaara datar.
"Aku lapar, kantin yuk!" celetuk Choji.
Sasuke dan Shikamaru mengalihkan pandangannya pada Choji yang sudah menghabiskan cemilannya. "Oke."
Mereka pun bangkit dan pergi menuju kantin.
"..." Gaara menatap Sasuke dan kawan-kawannya yang berjalan menjauh seraya melirik kekasihnya. "Kau sengaja ya?"
Shion tersenyum penuh arti sambil mengacungkan dua jari tangannya–membuat lambang peace.
(눈_눈)
"Materi hari ini cukup sampai disini. Kita lanjut dipertemuan selanjutnya."
Ucapan dosen yang menutup kelas disambut dengan riuh. Dosen langsung keluar dari ruangan diikuti mahasiswa lainnya. Sasuke merapikan alat tulisnya sambil melirik Naruto yang tengah tidur dengan damainya. Kelas sudah sepi, hanya ada Sasuke dan Naruto. Sasuke menghela napas seraya menghampirinya.
"Nggh!"
Lengguhannya membuat Sasuke terkejut. Dia mengurungkan niatnya untuk membangunkan Naruto.
"Sasuke..."
"Apa?" tanya Sasuke refleks menanggapi igauan Naruto.
Naruto langsung mengangkat wajahnya dari meja sambil menatap Sasuke dengan tatapan yang terlihat terkejut.
"..."
Mereka diam saling menatap dan kemudian saling membuang muka. Sasuke melangkah melewati Naruto yang sedang membereskan isi tasnya. "Hey..."
Sasuke bisa merasakan Naruto menghentikan aktifitasnya dan menatap punggungnya–menunggu ucapan selanjutnya.
"Kau..." Lidah Sasuke terasa kelu, dia merasa sulit sekali untuk mulai bicara. "Um... maaf atas ucapanku..."
"Ya."
"Malam ini... aku kerumahmu... materi terakhir."
"Oke... kutunggu."
(눈_눈)
'Latihan kali ini benar-benar melelahkan.' Naruto berjalan ringkih melewati taman kampus. Pikirannya yang terasa penat membuatnya ingin segera pulang dan mengistirahatkan tubuhnya. 'Hm? Bukankah itu Sasuke dan teman-temannya? Ah aku lupa tanya jam berapa dia akan datang.' Wajahnya berubah menjadi sedikit memerah. 'Tadi aku terlalu gugup karena malu ketahuan mengigau nyebut namanya... lebih baik kuhampiri dan tanyakan!' Pemuda tersebut menghampiri tiga orang pemuda yang tengah berbincang di kursi taman.
"Sasuke, akhir-akhir ini kau terlihat aneh. Kau kenapa?"
Suara pemuda berperawakan tinggi dan besar membuat Naruto mengurungkan niatnya untuk menyapa mereka. Dia lebih memilih duduk diam menguping di kursi seberang mereka yang saling membelakangi dengan pohon sakura diantara kursi mereka.
"Dia sedang jatuh cinta, Choji."
Pernyataan datar pemuda berambut nanas membuat Naruto sedikit menegang dan menajamkan pendengarannya. Naruto tak mendengar Sasuke menanggapi ucapan mereka berdua sehingga membuatnya makin penasaran.
Choji menelan keripik kentangnya. "Benarkah? Siapa? Sakura atau Ino?"
"Aku tidak tertarik pada mereka." Sasuke menjawab datar—sedatar raut wajahnya saat ini dan yang pasti, Naruto tak dapat melihatnya.
"Hoaaam." Shikamaru menguap lebar seraya mengeratkan jaketnya. "Kau lebih tertarik pada si pirang itu kan?"
"Siapa? Ino kah?" Choji sedikit antusias dengan pembicaraan karena keripiknya telah habis.
Shikamaru menggosok kelopak matanya. Dia benar-benar merasa mengantuk karena semilir angin sore yang terasa hangat menerpa tubuhnya. "Orang yang kumaksud itu Naruto."
"Eh?" Choji sangat terkejut mendengarnya. "Sasuke, kau tertarik pada sesama jenis?pada Naruto?"
"Ti-Tidak kok!" Sasuke membuang muka dengan wajah yang merona merah.
Shikamaru mendadak melek dan Choji mendadak kenyang melihat reaksi Sasuke yang tidak pernah mereka lihat. "Tapi rautmu mengakuinya."
"Be-Berisik!" Sasuke menatap kedua temannya kesal dan malu.
Choji menyandarkan tubuhnya ke bangku yang didudukinya. "Apa kau sudah mengatakannya?"
Wajah Sasuke sudah semerah tomat. "Ja-Jangan bercanda! Ba-bagaimana mungkin... bagaim–"
"Bagaimana apanya?" potong Shikamaru.
"Aku selalu dingin dan ketus padanya, bagaimana mungkin tiba-tiba bilang menyukainya? Aku sudah kasar dan mengatainya..." Sasuke menundukan wajahnya seraya menghela napas panjang. "...semua ucapanku malah berbalik padaku. Ini pasti karma."
Choji terperangah mendengarnya. "Kau benar-benar menyukainya ya... bagaimana bisa? Kurasa kalian tidak sedekat itu."
"Aku pun tidak yakin..." Sasuke mengangkat wajahnya, menatap Choji dihiasi senyum pedihnya. "...selama ini aku menyangkalnya. Tapi, setelah melihat dia berjalan dengan gadis lain apalagi berpacaran dengannya..." Sasuke kembali menghela napas untuk kesekian kalinya. "Aku benar-benar kesal."
Puk!
Shikamaru menepuk bahu Sasuke. "Fighting bro! Sampaikan perasaanmu!"
"Apa kalian tidak merasa terganggu jika aku suka pada sesama jenis?" Sasuke menatap Shikamaru dan Choji heran.
Choji menggeleng. "Tentu saja tidak. Kami akan mendukungmu. Kapan kau akan mengatakan perasaanmu padanya?"
"Bagaimana mungkin aku yang menyatakan cinta padanya!" Sasuke mengacak rambutnya frustasi.
Gret!
Naruto mengeratkan genggaman pada ransel orange-nya seraya bangkit dan berjalan menjauh tanpa menyapa mereka.
'Hm? Naruto...' Shikamaru tak sengaja melihat Naruto yang berjalan menjauh dengan telinga memerah. Dia memikirkan kemungkinan-kemungkinan apakan Naruto mendengar pembicaraan mereka atau tidak.
(눈_눈)
Naruto menghentikan langkahnya seraya menyandarkan punggungnya di dinding putih belakang gedung olahraga. Dia memegang pipinya yang menghangat karena merona merah. "A-Apa barusan itu? A-Aku nggak salah dengar ... kan?"
"Hei!"
Naruto menoleh pada suara yang terdengar familiar tersebut.
"Sa-Sasuke..." Naruto terperangah melihat Sasuke yang tengah berdiri didepannya dengan wajah yang tak kalah merah dari dirinya.
"Shika... tadi... melihatmu." Sasuke mengalihkan pandangannya. "Ka-Ka-Ka-Kau tidak mendengar pembicaraan kami kan?"
Naruto menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil nyengir kuda. "E-Etoo... maaf..."
Bluuush!
Wajah Sasuke semakin memerah sampai keluar asap imaginer diatas kepalanya. "Lupakan! Tadi hanya bercanda! Anggap kau tidak pernah mendengarnya!" Sasuke berbalik dan berjalan cepat meninggalkan Naruto. Dia merasa sangat malu.
"Tunggu Sasuke!" Naruto mengejar Sasuke.
Grep!
Naruto berhasil menarik tangan Sasuke.
Sasuke berbalik dengan raut malu dan kesal. "Ap–"
Cup.
Naruto menempelkan bibirnya dibibir tipis Sasuke. Ciuman sekilas yang bahkan tidak sampai satu detik.
Sasuke menyusut bibirnya dengan punggung tangan sambil memelototi Naruto. "Ka-Kau—"
"Aku mencintaimu." Naruto memeluk Sasuke dan menyandarkan dagunya di bahu kiri Sasuke. "Jadilah milikku."
"..."
Sasuke terdiam.
"Sasuke?"
Naruto tak sabar menunggu jawabannya meski dia sudah tahu apa jawabannya. Dia ingin mendengarnya langsung.
"Hinata gimana?"
"Eh?" Naruto membetulkan posisi kepalanya dibahu Sasuke agar dapat memandangi wajah pemuda yang tengah dipeluknya erat.
"Kau punya pacar kan? Namanya Hinata kalau tak salah."
Naruto tersenyum kecil. "Dia hanya mantan."
"Kau masih berhubungan dengannya kan? Tadi aja boncengan." dengus Sasuke, tersirat nada tidak suka didalamnya.
Senyuman kecil Naruto berubah jadi senyuman lebar. "Kau pencemburu ya."
"Tch!" Sasuke tambah kesal. Dia mencubit pelan perut Naruto.
Naruto menghembuskan napas panjang membuat Sasuke sedikit merinding oleh napas Naruto yang menerpa leher dan tengkuknya. "Aku bertemu dengannya dijalan dan memberinya tumpangan karena tak tega melihatnya berjalan sendirian. Tak lebih."
"Lain kali biarin aja. Jangan ngasih tumpangan sama siapapun!"
"Siap laksanakan!" seru Naruto tegas.
"Hn."
"Jadi?"
"Jadi apa?" tanya Sasuke bingung.
"Apa jawabanmu?"
"Hah?"
"Jadilah milikku."
Sasuke mendesah pelan. "Itu bukan pertanyaan. Tapi..."
Gyuut!
Sasuke membalas pelukan Naruto erat. "Aku mengerti."
Naruto tersenyum lebar seraya melepas pelukan Sasuke. Dia meraih pinggang Sasuke seraya mendekatkan wajahnya dan melumat bibir lembut pemuda raven yang sangat disukainya. Sasuke memejamkan matanya seraya mengalungkan tangannya dileher Naruto–menikmati ciuman yang mulai menjadi liar dan panas.
Naruto melepas ciumannya tanpa melepas tatapannya pada wajah Sasuke yang sudah memerah. "Apa kau juga mencintaiku?"
"Hn." Sasuke menyusut saliva disudut bibirnya.
"Jawab yang jelas donk!" protes Naruto.
"Ya." Sasuke menatap Naruto dengan raut datarnya.
"Jawabanmu tidak meyakinkanku." Naruto mendengus kesal. "Katakan dengan jelas!"
"A-Aku..." Naruto menatap Sasuke berbinar-binar menunggu kalimat Sasuke selanjutnya dengan antusias. Sasuke membuang muka. "Mencintaimu!"
Gyut!
"Sial! Kenapa kau imut sekali?!" Naruto memeluk Sasuke erat.
Sasuke menggeliat kecil. "Sesak Naruto!"
(눈_눈)
Esoknya...
Gulp!
Shikamaru menegak teh manisnya. "Hee. Jadi sekarang kalian pacaran?"
"Ya." Naruto tersenyum lebar pada Shikamaru yang duduk didepannya sambil merangkul bahu Sasuke.
"Syukurlah kalau begitu. Ya kan Sasuke?" Choji tersenyum penuh arti.
"Hn." Sasuke melepas rangkulan Naruto yang terasa menganggu karena begitu mencolok.
"Oh! Ada saus tomat diwajahmu."
Slurp!
Naruto menjilat sudut bibir Sasuke sehingga membuat pemiliknya merona merah.
Pletak!
"Dobe! Usuratonkachi!" Sasuke menjitak Naruto–kesal.
Naruto tersenyum geli, Shikamaru memutar kedua bola matanya bosan, dan Choji hanya fokus pada katsudonnya.
Drrt! Drrt!
Naruto merogoh saku celana seraya mengeluarkan smartphone-nya. Dia membaca pesan tersebut seraya membalasnya.
"Siapa?" Sasuke sedikit penasaran.
Naruto kembali memasukan smartphone-nya. "Shion menyuruhku ke gym untuk latihan."
"Tch!" Sasuke berdecak kesal. "Bukannya kau akan pulang bersamaku."
Naruto menatap Sasuke heran. "Aree? Bukannya saat kuajak kau menolaknya?"
"Terserahlah!" Sasuke mendengus kesal seraya memalingkan wajahnya. "Kau lebih menyukainya kan."
Naruto menepuk keningnya. "Bukankah semalam sudah kujelaskan? Dia itu temanku dan dia juga udah punya pacar tahu!"
"Kalau dia gak punya pacar, pasti kamu pacarin kan?!" Aura cemburu Sasuke mulai menguar.
Naruto mendesah. "Sasuke! Harus berapa kali aku meyakinkanmu kalau aku hanya cinta kamu? Ayo temui dia! Aku akan mengenalkannya padamu!"
"Hey kalian!"
"Apa?" Naruto dan Sasuke menatap sengit Shikamaru yang mengganggu perdebatannya.
"Semalam kalian bersama?"
"Memang kenapa?" Naruto menatap Shikamaru heran.
"Dan tidak pulang?"
"Hn." jawab Sasuke datar.
Shikamaru menghela napas panjang. "Pantas saja kakakmu meneleponku. Dia bilang kau tidak pulang dan tak bisa dihubungi."
"Dia juga meneleponku." timpal Choji.
"Ah! Itu..." Sasuke menghindari tatapan Shikamaru.
"Dia menginap dirumahku."
"Eh?" Shikamaru menatap Sasuke yang sudah merona merah dan Naruto yang menatapnya polos.
"Kami–hmp!"
Sasuke membekap mulut Naruto. "Kami belajar bersama!"
Naruto melepas bekapan Sasuke seraya berdiri dan menggendong ranselnya.
Sasuke mendongkakkan wajahnya menatap Naruto heran. "Mau kemana?"
"Latihan."
"Tch!" Sasuke kembali merengut kesal.
Grep!
Naruto meraih tangan Sasuke. "Ayo! Kau juga ikut! Akan kukenalkan Shion dan pacarnya padamu."
The End
Nell Note:
Halo apa kabar? Maaf telat update karena saya lagi banyak urusan, makanya cerita ini alurnya kupercepat dan langsung kutamatkan. Tadinya nggak niat gitu loh! Mau ada konflik ala opera sabun gitu dengan ada saingan cinta. Hehehe. Mungkin untuk cerita lainnya juga bakal telat update. Sampai nanti!
Maaf jika banyak typo atau kata yang gak sesuai dll cz saya ngeditnya ngga terlalu di teliti karena pengen cepet di publish heheh
Thanks udah mau baca, baik itu yang meninggalkan jejak ataupun tidak. Special thanks untuk reviewer di chapter sebelumnya yakni: Hatsuki Anita Anti Mainstream, Habibah794, danielkeanumadegani, Kita Nakamura, Guest, what' up N, Sunsuke, Naminamifrid, Neriel-Chan dan ayatosakamaki123.
Scroll kebawah ada bonus cerita. :-)
v
v
v
Omake
Diatap gedung fakultas hukum yang tinggi, terlihat dua pemuda yang tengah duduk bersandar pada pagar besi sambil memandang langit cerah.
"Sasuke, nanti malam aku off. Kau ada waktu? Kita nonton bareng yuk! Aku baru saja membeli kaset film Boru-toh. Ah! Tentu saja aku ingin dinner ke restaurant yakiniku dulu! Sudah lama kita tidak makan bareng." Pemuda pirang jabrik memulai pembicaraannya tanpa melepas pandangannya dari gumpalan-gumpalan awan putih yang bergerak lambat.
Sasuke si pemuda raven menghela napas panjang. "Besok akhir bulan, aku mau bantu Itachi membuat laporan perusahaannya."
"Yasudah. Lagipula aku tak memaksa." Naruto tersenyum kaku. "Selamat membantu pekerjaan kakak tercintamu itu."
Sasuke melirik Naruto yang terlihat kecewa. "Jangan cemburu."
"Siapa juga yang cemburu!"
(눈_눈)
'Daripada ngelamun, mending ketempat Gaara.' Naruto mengeratkan jaket hitamnya sambil berjalan malas. Teringat ajakannya yang ditolak Sasuke, dia melirik restoran yakiniku. Naruto menghentikan langkahnya, terpaku menatap dua sosok yang hendak memasuki restaurant.
Pemuda bergaya rambut chicken butt berkemeja biru yang dilipat sampai siku tak sengaja melirik pemuda pirang yang tengah berdiri terpaku–menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia diam terpaku menatap Naruto yang menatapnya dengan pandangan yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
"Ada apa Sasuke? Ayo masuk!" Pemuda berambut nanas menarik tangan Sasuke memasuki restaurant tersebut.
(눈_눈)
Didalam restaurant, Sasuke duduk bersama teman-temannya yang lain. Walaupun suasana begitu riuh dan menyenangkan, Sasuke tak dapat menikmatinya karena ada yang begitu mengganggu pikirannya. Pikirannya terfokus pada seseorang yang baru saja dilihatnya. Naruto.
"Iya kan Sasuke?"
"Hn." Sasuke menyahut asal walaupun dia tak tahu apa yang dibahas dan siapa yang bertanya padanya karena dia tak memperhatikan apa yang dibicarakan teman-temannya.
Gluk! Gluk! Gluk!
Sasuke menegak sake-nya sampai habis. 'Kenapa dia tak menghampiriku dan mengomel? Kenapa dia tak mengatakan apapun? Sial! Kenapa dia menatapku seperti itu ... tatapan dan raut terluka.' Sasuke memijat pelipisnya yang berdenyut. 'Sial! Membuat perasaanku tak enak.'
(눈_눈)
Krieet
Naruto membuka gerbang halaman rumahnya seraya masuk.
"Haah! Gaara sialan! Lagi libur aja masih aja ngajak latihan dan sparring." Naruto berjalan malas menuju rumahnya. 'Eh?' mata Naruto melebar. Dia mempercepat langkahnya menghampiri seorang pemuda yang tengah meringkuk—tidur diteras depan pintu rumahnya. "Sasuke! Apa yang kau la–"
"Kau lama sekali..." Sasuke menatap Naruto dengan matanya yang masih belum terbuka sepenuhnya. "Aku sampai ketiduran."
"Haa?" Naruto menatap Sasuke yang masih linglung dan sedikit bau sake—heran. "Ha? Kau tak pernah bilang akan datang."
Sasuke tersenyum kecil. "Aku menunggumu."
"Ayo masuk! Udara malam sangat dingin." Naruto meraih tangan Sasuke. "Tuh kan! Bahkan tanganmu juga terasa dingin."
Sasuke bangkit seraya masuk kedalam rumah minimalis tersebut mengikuti Naruto keruang tamu.
Naruto menoleh sambil menanggalkan jaketnya sehingga menampilkan kaos orange bergambar kepala rubah. "Kau ingin minum apa? Yah walaupun hanya ada susu jeruk dan teh saja."
"Tak perlu, aku tidak haus."
"Kau masih linglung. Kau perlu minum dan cuci muka tuk menyegarkanmu." Naruto menyampirkan jaketnya di sofa. "Ngomong-ngomong, apa tak apa meninggalkan Shika—"
Tep! Brukk!
Sasuke memegang bahu Naruto seraya mendorongnya agar duduk di sofa.
Naruto menatap Sasuke datar. "Apa?"
Sasuke duduk dipangkuan Naruto, menatap penuh arti sambil menangkup wajah tan milik si pirang.
"Sasuke?"
"..."
Sasuke mendekatkan wajahnya kemudian menjilat bibir bawah si pemilik surai pirang seraya memagutnya dalam nan panas. Naruto memasukan lidahnya, mengabsen deretan gigi Sasuke seraya memeluk pinggangnya erat.
"Ngh.."
Sasuke memeluk leher Naruto hingga tenggelam menikmati pagutan mesra yang didominasi Naruto. Sasuke mengangkat wajahnya—melepas ciuman panasnya.
"Apa kau sadar apa yang kau lakukan?" Naruto mengusap saliva di bibir Sasuke.
Sasuke tersenyum penuh arti. "Entah."
Naruto membuka kancing kemeja yang dipakai Sasuke. "Aku sangat terkejut. Apa yang membuatmu datang kemari?" Naruto menciumi leher jenjang Sasuke, menghisap aromanya. "Setelah berkata bahwa kau mau membantu kakakmu membuat laporan, kau makan malam bersama temanmu, kau menungguku didepan rumah dan melakukan sesuatu seperti ini." Naruto menengadah–menatap Sasuke datar. "Apa yang sebenarnya kau inginkan?" Naruto kembali menciumi dan menjilati leher jenjang serta dada bidang Sasuke. "Sudahlah. Aku tidak benar-benar ingin tahu juga sih."
"Ngh.." Sasuke menjawabnya dengan desahan, menahan hasrat yang sudah tak bisa ditahannya.
Sasuke mendorong bahu Naruto agar kepalanya menjauh dari lehernya. Naruto menengadah menatap Sasuke dengan tatapan datarnya. Sasuke balas menatapnya, dia tahu, Naruto marah. Naruto tak pernah menatapnya datar, dia selalu tersenyum dan memancarkan aura hangat.
Gyuut!
Sasuke memeluk Naruto membuat Naruto terkejut. "Shikamaru datang ke rumah dan mengajakku ke restaurant yakiniku untuk merayakan hari ulang tahun perkawinan Asuma-sensei dan Kurenai-sensei. Tentu saja aku menolaknya, tapi Itachi tak sengaja mendengar pembicaraan kami dan menyuruhku pergi." Sasuke mengeratkan pelukannya. "Jangan melihatku dengan raut seperti itu! Kau membuatku tak bisa berhenti memikirkanmu."
Naruto mengusap punggung Sasuke kemudian melepas pelukannya. Dia menatap Sasuke yang wajahnya merona merah.
"...baiklah."
Brukk!
Naruto merebahkan tubuh Sasuke di sofa, menyilangkan jari-jari tangan miliknya dengan milik Sasuke. Naruto menyeringai seraya kembali menciumi tubuh atletis Sasuke yang terlentang pasrah dihadapannya. "Selain itu, kau yang pertama menggodaku. Maka dari itu, persiapkan dirimu."
Sasuke tersenyum kecil. "Aku tahu."
Malam ini menjadi malam yang panjang bagi Naruto dan Sasuke.
Omake End
Disini kan NaruSasu udah mahasiswa semester akhir, tentu aja udah boleh minum sake :-D
